Docstoc

Variasi Antar Individu Pada Ikan

Document Sample
Variasi Antar Individu Pada Ikan Powered By Docstoc
					                    Variasi Antar Individu Pada Ikan.
                             I . PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

     Makhluk hidup di dunia ini diciptakan sangat beraneka ragam dan sangat
banyak jumlahnya. Setiap organisme yang menempati suatu habitat tertentu pasti
memiliki ciri karakteristik yang beraneka ragam. Tentu saja antara satu individu
dengan individu yang lain masing-masing memiliki suatu perbedaan meskipun
perbedaan itu sangat kecil. Hal ini tentu membuat kita sedikit sulit untuk
mempelajari dan mengenal perbedaan pada organisme tersebut.
     Morfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk dan struktur luar tubuh
organisme. Keanekaragaman mudah diamati secara morfologik (dari luar) karena
sifat-sifat morfologi tersebut merupakan sekumpulan ciri karakteristik masing-
masing organisme. Adanya persamaan dan perbedaan ciri ini menyebabkan
organisme dapat dikelompokkan dalam takson-takson tertentu dan hal tersebut
menunjukkan adanya keanekaragaman dalam populasi.
     Pada praktikum kali ini akan diamati variasi antar individu pada spesies ikan.
Variasi antar individu pada spesies ini dapat terlihat jelas pada fenotipnya.Bentuk
dan struktur tubuh ikan yang diamati adalah panjang, tinggi, dan cacah
squamanya. Penulis mengharapkan dengan mengetahui perbedaan dan persamaan
tiap organisme terutama ikan yang sangat banyak jumlahnya dan beranekaragam
dapat dikelompokkan sehingga memudahkan kita untuk mempelajari dan
mengenal organisme yang ada serta mengetahui korelasinya dengan sifat yang
dimiliki organisme tersebut terhadap fenotipnya.


B. Tujuan
Tujuan dari diadakannya praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.      Mempelajari adanya variasi diantara individu
2.      Membandingkan sifat – sifat yang bervariasi tersebut pada beberapa
        spesies yang berlainan.
3.        Mempelajari korelasi antara beberapa sifat yang bervariasi tersebut.


C. TINJAUAN PUSTAKA
     Perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam individu-individu dengan spesies
yang sama disebut variasi individu (Probosunu, 2004). Variasi dapat terjadi secara
alami ataupun buatan. Variasi yang terjadi secara alami merupakan akibat dari
pengaruh adaptasi terhadap lingkungan, sedangkan variasi yang terjadi secara
buatan dapat disebabkan oleh peristiwa hibridisasi, mutasi, dan rekayasa genetika.
Sifat-sifat individu yang dapat dilihat dari luar (fenotip) ditentukan oleh faktor
genetik dan pengaruh lingkungan (Supeni, 1995).
     Praktikum Variasi Antar Individu ini menggunakan ikan tawes (Puntius
javanicus) dan ikan nila hitam (Oreochromis niloticus).
1. Ikan tawes (Puntius javanicus)
     Klasifikasi ikan tawes menurut Bleeker (1850) dalam Kottelat et al (1993):
Kingdom         : Animalia
Filum           : Chordata
Subfilum        : Vertebrata
Kelas           : Actinopterygii
Ordo            : Cypriniformes
Famili          : Cyprinidae
Genus           : Puntius
Spesies         : Puntius javanicus
     Bentuk badan ikan tawes pipih, berkepala kecil, dan mulutnya terletak di
bagian terminal. Bagian punggung ikan tersebut tinggi. Saat masih segar
berwarna putih keperakan, terkadang dengan sepuhan warna emas. Bagian sirip
dorsal dan sirip caudal berwarna abu-abu sampai abu-abu kekuningan. Sirip anal
dan sirip perut berwarna oranye cerah, dengan bagian-bagian ujung-ujungnya
berwarna kemerah-merahan. Sirip pectoral berwarna pucat sampai kuning cerah.
Lubang hidung ikan tawes sangat kecil (Kottelat et al, 1993).
     Ikan tawes merupakan ikan yang jinak dengan sifat makan herbivora, yaitu
memakan tumbuh-tumbuhan mulai dari derajat rendah sampai derajat yang tinggi.
Pakan buatan yang dapat diberikan sebagai pakan tambahan adalah dedak yang
telah dituang air panas. Ikan jantan dan betina dapat dibedakan. Ikan jantan bila
perutnya ditekan atau diurut perlahan dari arah kepala ke anus akan keluar cairan
yang berwarna keputih-putihan. Ikan betina bila bagian perutnya ditekan atau
diurut perlahan dari arah kepala ke anus akan keluar cairan yang berwarna
kehitam-hitaman. Perut ikan betina (indukan) lebih memuai daripada perut ikan
jantan (indukan) dan bila diraba akan terasa lebih lembek. Tingkah laku ikan
betina lebih jinak daripada ikan jantan (Sukma dan Tjarmana, 1984).
   Ikan tawes menjadi dewasa setelah berumur 12 bulan, dan dapat berkembang
biak secara alamiah di perairan yang terletak di daerah dataran rendah sampai
tempat setinggi 800 meter di atas permukaan laut, seperti rawa dataran rendah,
sungai dataran sedang, dan danau dataran tinggi (Anonim, 1982).
2. Ikan nila hitam (Oreochromis niloticus)
   Klasifikasi ikan nila hitam menurut Linnaeus (1758) dalam Trewavas (1983):
Kingdom       : Animalia
Filum         : Chordata
Subfilum      : Vertebrata
Kelas         : Actinopterygii
Ordo          : Perciformes
Famili        : Cichlidae
Subfamili     : Pseudocrenilabrinae
Genus         : Orechromis
Spesies       : Oreochromis niloticus
   Bentuk badan nila hitam pipih ke samping dan memanjang. Mata kelihatan
menonjol dan relatif besar, dengan bagian tepi mata berwarna putih. Linea
lateralis terputus dan dilanjutkan dengan garis yang terbelah lebih bawah
(Susanto, 1992). Ikan nila memiliki duri punggung 16-18 buah, duri punggung
lunak12-13 buah, duri dubur 3 buah, duri-duri lunak sirip anal 9-11 buah, dan
vertebrae 30-32 buah. Ciri yang paling jelas dari spesies tersebut adalah adanya
garis-garis tegak lurus pada sirip caudalnya. Tepi sirip dorsalnya berwarna abu-
abu atau hitam (Trewavas, 1983).
   Ikan nila hitam jantan dan betina dapat dibedakan. Lubang dubur ikan jantan
mempunyai papilla yang mengarah ke belakang dan memiliki 1 buah lubang
tempat pengeluaran air seni dan air mani, yang disebut lubang urogenitalia. Ikan
betina lubang pengeluaran air seni terpisah dengan lubang tempat pengeluaran
telur. Ikan jantan dewasa bagian bawah perut dan dagu terlihat berwarna gelap,
sedangkan pada ikan betina dewasa berwarna putih (Sukma dan Tjarmana, 1984).
   Nila hitam merupakan salah satu jenis ikan mouthbreeder, dimana telur-telur
ikan dierami dalam rongga mulut betina. Waktu pengeraman sekitar 2 minggu.
Anak yang menetas dalam rongga mulut masih diasuh selama beberapa hari,
sebelum dilepaskan untuk mulai mencari makan sendiri. Ikan nila hitam
berkembang biak setiap saat sepanjang tahun tanpa mengingat musim (Anonim,
1982). Ikan nila hitam dapat hidup di perairan berkadar garam antara 0-35 ppm,
mempunyai pH air 6-8,5 dimana pertumbuhan optimal terjadi pada saat air berpH
7-8. Suhu optimal bagi ikan tersebut antara 25-30°C (Suyanto, 1999). Ikan nila
hitam dapat hidup di daerah dengan ketinggian 0-1000 meter dari permukaan laut.
Ikan nila hitam bersifat omnivora (Rochdianto, 1991).
   Menurut Probosunu (2004), pendataan ukuran tubuh ikan dapat dilakukan
dengan sistem metrik, meliputi :
1. Panjang total atau panjang mutlak (total length)
   Jarak garis lurus antara ujung terdepan caput (kepala) hingga ujung terakhir
cauda (ekor).
2. Fork Length
   Jarak garis lurus antara ujung terdepan caput hingga ujung lekukan pinna
caudalis.
3. Panjang baku
   Jarak garis lurus antara ujung terdepan caput hingga ujung terakhir vertebrae
(pada pelipatan pangkal pinna caudalis)
4. Tinggi tubuh
   Jarak garis lurus antara pangkal pinna dorsalis (sirip punggung) hingga
pangkal pinnai        abdominales (sirip perut).
5. Penghitungan cacah squama (sisik)
   a. Penghitungan cacah squama pada linea lateralis (gurat sisi) dimulai dari
       squma dibelakang operculum hingga squama pada permulaan pangkal
       cauda.
   b. Penghitungan cacah squama di atas linea lateralis (gurat sisi) dimulai dari
pangkal pinna dorsalis dihitung miring ke bawah. Penghitungan cacah
squama di bawah linea lateralis (gurat sisi) dimulai dari permulaan pinnae
abdominales dihitung miring ke atas. Squama pada linea laterales tidak ikut
dihitung.
                            II. METODELOGI
A. Bahan
1. Ikan tawes (Puntius javanicus) 29 individu
2. Ikan nila (Oreochromis niloticus) 29 individu


B. Alat
1. Milimeter blok
2. Plastik transparan
3. Ember plastik
4. Jaring
5. Kertas
6. Penggaris
7. Pensil
8. Kalkulator
9. Komputer


C. Cara Kerja
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Meletakkan cuplikan ikan di atas millimeter blok yang telah diberi plastik
   transparan sebagai pelapis.
3. Mengukur beberapa tolok ukur pada seluruh anggota populasi cuplikan ikan
   (panjang     total, panjang baku, tinggi tubuh, serta cacah squama diatas,
   dibawa, dan pada linea    lateralis).
4. Mencatat dalam tabel semua pengamatan.
5. Mentabulasikan data yang diperoleh dengan membuat kelas interval.
6. Membuat grafik distribusi frekuensi.
7. Menganalisis data guna mencari bentuk dan keeratan hubungan antara
   panjang baku dan tinggi tubuh.
8. Membandingkan data spesies satu dengan yang lain dengan melihat nilai
   tengah dan          simpangan baku.
D. Waktu dan Tempat


   Praktikum ini dilaksanakan pada:
Hari/tanggal    : Senin, 6 Maret 2009
Waktu           : 13.30-selesai
Tempat          : Kolam percobaan Jurusan Perikanan UGM Yogyakarta
                 Laboratorium Ekologi Perairan Jurusan Perikanan UGM




                         III. Hasil dan Pembahasan


A. Hasil Pengamatan
                                   ( Terlampir )


B. Pembahasan
1. Pembahasan per spesies
 a. Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
   Korelasi antara panjang baku vs tinggi tubuh membentuk hubungan
berbanding lurus dengan persamaan y= 0,179x + 1,255 dan r= 0,523 yang bernilai
positif (r>0) serta mendekati 1. Hal tersebut berarti hubungan variabel semakin
erat ( saling berpengaruh ). Nilai Modus yang diperoleh 2,498 yang terletak pada
interval 2.36-2,75. Hal tersebut berarti jumlah ikan dominan pada interval ini.
   Nilai Mean yang diperoleh dari pengamatan ikan Nila adalah 2,475 yang
berarti dari hasil pengamatan tubuh ikan Nila adalah memanjang. Nilai uji
Thitung yang diperoleh adalah 0,118 sedangkan pada tabel diperoleh Ttabel
1,701. Hal ini berarti pertumbuhan panjang baku akan diikuti oleh pertambahan
tinggi tubuh ikan.
   Berdasarkan pengamatan dan dari hasil perhitungan maka didapat standar
deviasi yaitu 0,24. Dari 29 data yang diuji, nilai ukuran penyimpangan yang
diperoleh dari akar kuadrat dari rata-rata jumlah kuadrat deviasi antara masing-
masing nilai dengan rata-ratanya adalah 0,24.


 b. Ikan Tawes ( Punitus javanicus )
   Korelasi antara panjang baku vs tinggi tubuh ikan membentuk hubungan
berbanding lurus dengan persamaan y= 0,173x + 2,191 dan nilai r= 0,414 yang
bernilai positif (r>0). Hal tersebut berarti hubungan variabel semakin erat (saling
berpengaruh) yaitu pertambahan panjang ikan diikuti oleh pertambahn panjang
ukuran squama. Nilai Modus yang diperoleh adalah 2,692 yang terletak pada
interval 2,48-2,95. Hal tersebut berarti jumlah ikan dominan pada interval
tersebut. Nilai Mean yang diperoleh dari pengamatan ikan tawes adalah 2,694
yang berarti tubuh ikan memanjang.
   Nilai uji Thitung yang diperoleh adalah 2,363. Sedangkan nilai Ttabel adalah
1,701 ini berarti Thitung>Ttabel yang berarti terjadi korelasi Beda Nyata. Standar
deviasi yang diperoleh dari hasil pengamatan pada ikan Tawes ini adalah 19,308
hal ini berarti dari 29 data yang diuji, nilai ukuran penyimpangan yang diperoleh
dari akar kuadrat dari rata-rata jumlah kuadrat deviasi antara masing-masing nilai
dengan rata-ratanta adalah 19,308.


2. Pembahasan Antar Spesies
   Nilai Mean Ikan Nila adalah 2,475 sedangkan nilai Mean Ikan Tawes adalah
2,694. Hal ini berarti mean Ikan Nila<mean Ikan Tawes. Nilai Mean
menunjukkan bentuk tubuh ikan, sehinggs berdasrkan nilai mean tersebut, Ikan
Tawes memiliki bentuk tubuh yang cenderung memanjang, sedangkan Ikan Nila
bentuk tubyhnya cenderung agak meninggi. Dilihat dari standar deviasi kedua
spesies maka disimpulkan bahwa keanekaragaman populasi Ikan Nila lebih besar
daripada Ikan Tawes.
                               IV. Kesimpulan
1.populasi adalah kumpulan dari banyak individu dan didalam setip individu itu
 memiliki ciri khas pembeda antara individu satu dengan individu yang lainnya.
2.Setiap spesies pasti memilki sifat – sifat yang bervariasi diantara spesies yang
 lain, hal ini dapat dipengaruhi beberapa faktor seperti faktor umur, jenis
 kelamin, lingkungan, cara mendapatkan makanan serta adanya faktor genetika.
3.Hasil dari praktikum Ekologi perairan ini diperoleh nilai korelasi dan uji t dari
 beberapa sifat yang bervariasi sebagai berikut :
 a.Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
   Pada Ikan Nila diperoleh informasi PB vs T menghasilkan persamaan
   y= 0,179x + 1,255 dengan nilai r= 0,523 dan Thitung= 0,118
 b.Ikan Karper (Cyprinus carpio)
   Pada Ikan Tawes diperoleh informasi PB vs T mengahsilkan persamaan
   y= 0,173x + 2,191 dengan nilai r= 0,414 dan nilai Thitung= 2,363

				
DOCUMENT INFO
Stats:
views:165
posted:8/3/2012
language:Malay
pages:9
Description: Variasi Antar Individu Pada Ikan.