Docstoc

EKOSISTEM SUNGAI

Document Sample
EKOSISTEM SUNGAI Powered By Docstoc
					                               EKOSISTEM SUNGAI

                                 I. PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
     Kata ekologi berasal dari bahasa Greek : oikos dan logos. Oikos jika diartikan dalam
bahasa Indonesia berarti “rumah”, sedangkan logos artinya “ilmu”, sehingga secara bahasa
ekologi didefinisikan sebagai studi atau telaah tentang hubungan organisme atau kelompok
organisme dengan lingkungannya. Istilah tersebut pertama kali diperkenalkan oleh seorang
biolog Jerman, Ernst Haeckel pada tahun 1896. Pengertian tersebut bermakna bahwa di
dalam suatu ekologi terdapat hubungan yang erat tentang faktor biotik dalam hal ini
seluruh organisme (komunitas) dengan faktor abiotik (lingkungan), sehingga menjadi satu
kesatuan yang utuh dan di dalamnya terdapat suatu siklus materi serta aliran energi.
     Habitat-habitat perairan dibagi dalam tiga kategori utama, yaitu sistem-sistem air
tawar, estuarin, dan kelautan. Walaupun habitat ait tawar merupakan bagian terkecil dari
permukaan bumi bila dibandingkan dengan habitat lainnya, habitat air tawar sangat penting
bagi manusia sebagai sistem pembuangan. Estuarin adalah zona peralihan dari air tawar ke
air laut, serta memiliki sifat yang unik. Samudra yang menutupi sebagian besar permukaan
bumi tidak hanya mengatur iklim bumi, atmosfer dan berfungsinya siklus mineral yang
utama, namum juga sebagai sumber utama makanan dan mineral.
     Sungai yang merupakan suatu ekosistem akuatik masuk ke dalam kelompok
ekosistem riverin (Ismail dan Mohammad 1992). Sungai merupakan ekosistem air tawar
yang bergerak satu arah (lotik), mendapat masukan unsur hara terutama dari kikisan tanah
daerah tepi sungai. Daerah tepi sungailah yang akan menentukan ciri khas dari suatu
sungai, misalnya daerah dengan kemiringan besar akan membuat kecepatan arus sungai
besar pula. Organisme yang hidup pada arus deras dan daerah lubuk (tidak deras) akan
berbeda satu dengan lainnya.
     Kemelimpahan atau densitas (kerapatan) suatu organisme dapat diartikan dengan
jumlah individu organisme tertentu pada suatu daerah dan waktu tertentu. Kerapatan
tersebut dipengaruhi oleh faktor kimia, fisik, dan biologik perairan habitat organisme itu
sendiri. Praktikum ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh faktor-faktor
tersebut terhadap kemelimpahan suatu organisme pada perairan sungai.
     Arus merupakan faktor pembatas terpenting pada ekosistem sungai. Besar tidaknya
kecepatan arus akan mempengaruhi biota perairan di sungai. Ekosistem sungai diisi oleh
berbagai macam kelompok organisme air antara lain neuston, plankton, nektos, bentos, dan
perifiton. Populasi organisme air tersebut sangat berbeda pada setiap daerah aliran sungai
mulai dari hulu sampai hilir, karena pengaruh berbagai macam faktor, termasuk di
dalamnya campur tangan manusia. Pencemaran misalnya, akan mempengaruhi kualitas air
sungai yang pada akhirnya akan mempengaruhi populasi organisme yang ada di sungai.


B. Tujuan
Ekosistem Sungai:
   1. Mempelajari karakteristik ekosistem sungai dan faktor-faktor pembatasnya.
   2. mempelajari cara-cara pengambilan data tolakukur (parameter) fisik, kimia, dan
       biologik suatu perairan.
   3. Mempelajari korelasi antara beberapa tolakukur lingkungan dengan komunitas
       biota perairan.
   4. mempelajari kualitas perairan sungai berdasarkan indeks diversitas biota perairan.
Estimasi Populasi Gastropoda :
   1. Mempelajari penerapan metode tanpa plot (plotless) untuk mengestimasi populasi
       gastropoda.
   2. Mempelajari korelasi antara beberapa tolakukur lingkungan dengan populasi
       makrobentos (Gastropoda).


C. Waktu dan Tempat
   Acara I “Ekosistem Sungai” dilaksanakan pada:
            Hari/tanggal   : Senin, 16 Maret 2009
            Pukul          : 13.30 – selesai
            Tempat         : Sungai winongo


   Acara II “Estimasi Populasi Gastropoda” dilaksanakan pada:
            Hari/tanggal   : Selasa, 17 Maret 2009
            Pukul          : 09.00 - selesai
            Tempat         : Laboratorium Ekologi Perairan Jurusan Perikanan Fakultas
                             Pertanian Universitas Gadjah Mada
                             II. TINJAUAN RUJUKAN


     Ekologi berasal dari bahasa Greek oikos yang berarti “rumah” dan logos yang berarti
ilmu, sehingga secara etimologi ekologi adalah ilmu yang mempelajari tentang organisme
di “rumah”nya. Secara umum ekologi didefinisikan sebagai studi tentang hubungan
organisme atau kelompok organisme dengan lngkungannya (Probosunu, 2004).
       Ekosistem adalah suatu interaksi antara komponen biotik dengan abiotik. Secara
umum, ekosistem dibedakan menjadi 2, yaitu ekosistem darat dan ekosistem perairan
(aquatik) (Anonim, 2000). Menurut Ismail dan Mohammad (1992) dalam Probosunu
(2004), ekosistem aquatik dapat dibedakan menjadi 5 macam yaitu :
1. Ekosistem marine (laut)
2. Ekosistem estuarin (muara)
3. Ekosistem riverin (sungai)
4. Ekosistem lakustrin
5. Ekosistem palustrin
       Ekosistem perairan dapat pula dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu ekosistem
air tawar dan ekosistem air laut. Ekosistem air tawar mempunyai ciri yaitu suhu tidak
mencolok, penetrasi cahaya kurang serta terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Macam
tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya adalah tumbuhan biji.
Hampir semua filum hewan terdapat di air tawar (Anonim, 2000).
       Air hujan yang jatuh ke bumi sebagian menguap kembali, sebagian masuk ke dalam
tanah, dan sebagian lagi mengalir di permukaan. Aliran air di permukaan ini kemudian
akan berkumpul lalu mengalir ke tempat yang lebih rendah dan membentuk sungai yang
akan mengalir ke laut (Anonim, 2005). Sungai yang merupakan ekosistem lotik, termasuk
ekosistem terbuka yang secara alami mendapat masukan unsure hara terutama dari kikisan
tanah sejak dari bagian hulu hingga hilir sungai (Probosunu, 2004). Air sungai mengalir
deras dimana aliran air dan gelombang secara konstan memberikan oksigen pada air. Suhu
air bervariasi sesuai dengan ketinggian dan garis lintang. Organisme sungai dapat bertahan
tidak terbawa arus karena mengalami adaptasi evolusioner, misalnya bertubuh tipis
dorsoventral dan dapat melekat pada batu (Anonim, 2000).
         Menurut Probosunu (2004), sungai dihuni oleh berbagai kelompok organisme air
yaitu:
1. Neuston      : Organisme yang aktif di permukaan air.


2. Nekton       : Organisme aquatik yang dapat bergerak atau berenang bebas.
3. Plankton : Organisme mikroskopik yang melayang-layang di dalam air.
4. Bentos       : Organisme (khususnya hewan) yang hidup/aktif di dasar perairan.
5. Perifiton    : Organisme yang hidup menempel pada benda atau organisme dalam air.
         Plankton dibagi menjadi 2 golongan, yaitu fitoplankton dan zooplankton.
Phytoplankton merupakan tumbuhan yang paling luas tersebar dan menghasilkan sekitar
50 % karbon yang dihasilkan oleh seluruh tumbuh-tumbuhan. Fitoplankton berukuran kecil
(mikroskopik), terapung-apung, mengandung klorofil dan menerima energi untuk
tumbuhnya melalui fotosintesis (Brotowidjoyo dkk., 1995). Fitoplankton mempunyai luas
permukaan yang lebih besar daripada daun yang memiliki ukuran massa yang sama,
sehingga kemampuan untuk menyerap sinar matahari untuk fotosintesis lebih besar.
Kerapatan klorofil pada fitoplankton juga lebih tinggi dibandingkan dengan daun tingkat
tinggi (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995). Zooplankton merupakan hewan yang bersifat
herbivor atau karnivor yang memakan          Fitoplankton atau zooplankton lain. Besar
zooplankton berkisar antara 20 - 500µ. Fitoplankton dan zooplankton hanya menempati
lapisan air yang mendapat cahaya matahari yaitu sampai sekitar kedalaman 100 m untuk
Fitoplankton dan 200 m untuk zooplankton (Brotowidjoyo dkk., 1995).
         Perairan sungai sebagai tempat hidup berbagai organisme harus memiliki kualitas
air yang cukup baik untuk kelangsungan dan keseimbangan interaksi yang terjadi dalam
ekosistem sungai tersebut. Menurut Purwakusuma (2005), kualitas air berhubungan dengan
kandungan bahan terlarut di dalamnya, dimana setiap mahluk hidup memerlukan
kandungan bahan terlarut yang berbeda. Contoh bahan terlarut yang wajib ada adalah
oksigen (O2), dan karbondioksida (CO2) bagi tumbuhan air, sedangkan bahan terlarut yang
berbahaya adalah amonia dan bahan-bahan logam berat.
         Beberapa parameter umum untuk mengetahui kualitas air suatu perairan menurut
Purwakusuma (2005) adalah :
1. Kesadahan
   Kesadahan merupakan penunjuk kemampuan air untuk membentuk busa bila
   dicampur dengan sabun. air dengan kesadahan rendah bias membentuk busa sabun
   bila dicampur dengan sabun, sedangkan air berkesadahan tinggi tidak bias berbusa.




2. Derajad keasaman (pH)
   Nilai pH dapat mengontrol tipe dan laju reaksi beberapa bahan dalam air. Ikan dan
   makhluk-makhluk hidup aquatik hidup pada variasi selang pH tertentu yang berbeda-
   beda untuk setiap spesies,sehingga dengan diketahuinya nilai pH dapat diketahui
   apakah air tersebut sesuai untuk menunjang hidup. Hal tersebut dikarenakan tidak
   semua makhluk hidup dapat bertahan dengan perubahan nilai pH. Fluktuasi nilaipH
   air sangat ditentukan oleh alkalinitas air tersebut. Alkalinitas tinggi menjadikan air
   mudah untuk mengembalikan pH-nya ke nilai semula, dari setiap gangguan terhadap
   perubahan pH.
3. Alkalinitas
   Alkalinitas menunjukkan konsentrasi basa atau bahan yang mampu menetralisir
   keasaman dalam air. Secara khusus, alkalinitas sering disebut sebagai besaran yang
   menunjukkan kapasitas pembufferan (sistem pertahanan dengan mengusahakan agar
   pH tidak berubah atau bila berubah terjadi secara perlahan) dari ion bikarbonat dan
   sampai tahap tertentu ion karbonat dan hidroksida dalam air. Ketiga ion tersebut
   dalam air akan bereaksi dengan ion H sehingga menurunkan keasaman dan
   menaikkan alkalinitas. Air dengan kalsium karbonat > 100 ppm disebut alkalin
   (beralkalinitas tinggi), sedangkan air dengan kalsium karbonat < 100 ppm merupakan
   air dengan tingkat alkalinitas rendah (air lunak). Penggolongan yang lebih spesifik
   lagi menurut Sastrawijaya (1991), yaitu air lunak (kisaran kandungan CaCO3 antara
   0-60 ppm), air agak keras (kisaran kandungan CaCO3 antara 61-120 ppm), air keras
   (kisaran kandungan CaCO3 antara 121-180 ppm), dan air amat keras (kisaran
   kandungan CaCO3 antara > 180 ppm).Umumnya lingkungan yang baik bagi
   kehidupan ikan adalah air beralkalinitas diatas 20 ppm.
4. Karbondioksida (CO2)
   Karbondioksida dalam air merupakan hasil respirasi ikan dan phytoplankton. Kadar
   CO2 > 10 ppm menunjukkan bahwa air bersifat racun bagi ikan. CO2 tinggi berarti air
   bersifat asam.
5. Suhu (temperatur) Air
   Kisaran suhu air untuk setiap ikan berbeda. Umumnya suhu rendah di bawah normal
   dapat menyebabkan ikan mengalami Lethargi, kehilangan nafsu makan, dan menjadi
   lebih rentan terhadap penyakit. Suhu tinggi menyebabkan ikan mengalami stress
   pernafasan dan bahkan dapat menyebabkan kerusakan insang permanen. Perubahan
   suhu secara mendadak dapat menyebabkan ikan shock.


     Kualitas air dapat pula diperkirakan melalui analisis biologi khususnya analisis
struktur komunitas bentos. Bentos hidup relatif menetap sehingga baik untuk dijadikan
petunjuk kualitas lingkungan, karena selalu kontak dengan limbah yang masuk ke
habitatnya yang berarti dapat lebih mencerminkan adanya perubahan faktor-       faktor
lingkungan dari waktu ke waktu, karena bentos terus-menerus terdedah oleh air yang
kualitasnya berubah-ubah (Oey et al, dalam Ardi, 2002). Diantara hewan bentos yang
relatif mudah diidentifikasi dan peka terhadap perubahan lingkungan adalah jenis-jenis
yang termasuk ke dalam kelompok invertebrata makro (Makrobentos) yang mempunyai
peranan penting dalam siklus nutrient di dasar perairan (Rosenbergh dan Resh, dalam Ardi,
2002).
         Praktikum Acara 3 tentang Estimasi Populasi Makrobentos (Gastropoda)
menggunakan Moluusca dari kelas Gastropoda. Gasropoda hidup di laut, air tawar, dan
beberapa hidup d darat. Terdapat 3 subkelas Gastropoda yaitu Prosobranchia, Pulmonata
dan Opisthobranchia (Suhardi, 1983). Prosobranchiata dan Opisthobranchia bernafas
dengan menggunakan branchia (insang) dan Pulmonata bernafas dengan menggunakan
pulmo (paru-paru). Pulmonata dapat bernafas dengan selaput (membran) tubuhnya pada
waktu berada di dalam air (Probosunu, 2004). Gastropoda umumnya herbivora, namun ada
pula yang bersifat karnivora, yang biasanya dilengkapi dengan racun pada gigi radulanya
yang dapat membuat pingsan dan bahkan membunuh manusia (Suhardi, 1983).
         Gastropoda sering disebut univalvia karena cangkangnya hanya terdiri atas satu
bagian. Bagian kepala jelas dengan adanya 11 atau 2 pasang tentakel, dan mempunyai 1
pasang mata di daerah kepala. Kakinya lebar, pipih dan datar yang berguna untuk merayap
atau melekat. Gastropoda bersifat ovipar. Larva trokofor dengan stadium veliger. Contoh
kelas tersebut adalah Lymnea sp. (Sugiri, 1989). Kehadiran dan kemelimpahan gastropoda
dipengaruhi oleh derajat keasaman (pH), kandungan karbonat, oksigen terlarut dan
makanan (Probosunu, 2004).
                             III. METODOLOGI


A. Metode
                                                              Bahan
  No             Parameter                Alat                                Metode
                                                              Sampel
   1    Fisika
        a. Suhu udara                 Termometer               Udara           Visual
        b. Suhu air                   Termometer            Sampel air         Visual
                                   Bola tennis meja,
        c. Kecepatan arus              roll meter,                              Float
                                                              Sungai
                                       stop-watch                             method


   2    Kimia
                                                              Sampel
                                     Botol oksigen,
        a. DO                                               air,MnSO4,
                                   erlenmeyer, kertas
                                                          reagen oksigen,     Winkler
                                   label, pensil, pipet
                                                          H2SO4, amilum,
                                   ukur, pipet tetes,
                                                             Na2S2O3.
        b. Derajat keasaman (pH)       pH meter             Sampel air,        Visual
                                     Botol oksigen,
                                                            Sampel air,
                                   erlenmeyer, kertas
                                                           indikator pp,     Alkalimetri
        c. CO2 bebas               label, pensil, pipet
                                                              NaOH.
                                    ukur, pipet tetes
                                     Botol oksigen,
                                   erlenmeyer, kertas
                                                            Sampel air       Alkalimetri
        d. Alkalinitas             label, pensil, pipet
                                    ukur, pipet tetes
   3    Makrobentos                 Plot kayu, sikat
                                                              Sample
                                   halus, kuas halus,                          Visual
                                                            gastropoda
                                        saringan
   4    Gastropoda                  Plot kayu, sikat
                                   halus, kuas halus,     Sumpil, kepiting     Visual
                                        saringan
B. Cara Kerja
1. Parameter Fisik
a. Suhu air

                              Ambil termometer



                            Celupkan ke dalam air



                            Biarkan selama 5 menit



                Baca skala termometer ketika masih di dalam air



                Ulangi sebanyak 3 kali di tempat yang berbeda


b. Suhu udara

                              Ambil termometer



                        Gantungkan pada suatu tempat



                            Biarkan selama 5 menit



                            Baca skala termometer



                  Ulangi sebanyak 3 kali di tempat yang berbeda
c. Kecepatan arus



                             Ambil meteran jarak



                     Tentukan jarak 10 meter dari hulu ke hilir



                             Ambil bola pingpong



               Lepaskan bola hingga jarak yang sudah ditentukan



                    Catat waktu tempuh bola setelah sampai



               Ulangi sebanyak 3 kali di tempat yang berbeda


Mengukur kecepatan arus aliran sungai
     s
V
     t
V = kecepatan arus (m/dt)
s = jarak yang sudah ditentukan (m)
t = waktu tempuh (dt)


2. Parameter Kimia
a. Derajat keasaman (pH)


                                      pH meter



                                      Sample air



            Bandingkan warna kertas pH tersebut dengan warna baku
b. Kandungan O2 terlarut (DO)



                   Ambil air kemudian masukkan dalam botol O2



                             Tambahkan 1 mL MnSO4



                             1 mL reagen O2 (diamkan)



                                  1 mL H2SO4 pekat



                                  50 mL erlenmeyer



                            3-4 tetes amilum         biru



                           Titrasi 1/80 Na2S2O3 (Nathio)



                                        Bening




Perhitungan DO :


1 ml 1/80 N Na2S2O3 = 0.1 mg O2/L
                           1000
Kandungan O2 terlarut           a  ( f )  0.1mg / L
                            50
(f) = faktor koreksi = 1
c   Kandungan CO2 bebas




                                     50 mL erlenmeyer




                                         3-4 tetes PP




        Pink: CO2 = 0                                        Bening




                                                        Titrasi 1/44 NaOH




                                                              Pink




Perhitungan CO2 bebas :


1 ml 1/44 N NaOH = 1mg CO2
                   1000
kandungan CO2           b  ( f ) 1mg / L
                    50
(f) = faktor koreksi = 1
d. Alkalinitas



                                          50 mL erlenmeyer




                                            3 tetes PP




                                          1/50 N H2SO4




                                            Bening (a)




                                            3 tetes MO




                                           1/50 N H2SO4




                                          Kuning jerami




                                                  
Perhitungan alkalinitas bikarbonat ( HCO3 ) :

                                         1000
                 Kandungan CO3                 c  ( f )mg / l....................( )
                                           50
                                           1000
                 Kandungan HCO3                  d  ( f )mg / l....................( y )
                                             50
       (f) = faktor koreksi = 1
3. Parameter Biologi

                            Pilih populasi gastropoda



                 Tentukan titik pengambilan cuplikan secara acak



                       Tancapkan tongkat ke dasar perairan



                     Cari gastropoda terdekat dengan tongkat



                 Catat jarak gastropoda terdekat dengan tongkat



          Hitung densitas gastropoda dari seluruh titik pengamatan


Densitas atau kepadatan plankton dinyatakan dalam satuan individu per volume liter
(individu/liter) yang diperoleh dengan menggunakan rumus :
          volumebotol          1
 D  a               
           volumeSR     volumesampelair
  D = densitas plankton (individu/liter)
  a = cacah individu plankton dalam SR
                       IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Terlampir
B. Pembahasan
1. Pembahasan per stasiun


Stasiun I
      Stasiun I memiliki suhu udara 29 0C. Keadaan ini dipengaruhi oleh keadaan
vegetasi sekitar yang banyak ditumbuhi oleh berbagai macam tumbuhan yaitu bambu,
pohon kelapa, mengkudu, pepaya, nangka, ketapang, pisang, dan juga semak belukar.
Dengan keadaan vegetasi seperti ini, menyebabkan suhu menjadi rendah. Keadaan ini
juga mempengaruhi suhu air yaitu 28 0C. Suhu air juga dipengaruhi oleh ketinggian,
kanopi, dan vegetasi sekitar.
      Kecepatan air pada stasiun ini adalah 0,31 m/s. Hal ini disebabkan karena
kondisi perairan pada stasiun ini adalah berbatu sehingga kecepatan air akan rendah.
Sedangkan debit air pada stasiun I adalah 0,071 m³/s. Hal ini dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti banyaknya sampah yang terdapat pada perairan ini. Semakin
banyak sampah, maka jumlah debit air pun akan semakin sedikit. Kemudian
banyaknya penggunaan/pemanfaatan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar.
      Membahas masalah kimiawi pada perairan, kadar oksigen terlarutnya adalah
4,48 ppm. Hal ini dipengaruhi oleh suhu air serta keanekaragaman hayati yang
terkandung di dalamnya. Sedangkan kadar karbondioksida (CO2) pada stasiun ini
adalah 8,13 ppm. Hal ini disebabkan pada stasiun I terdapat banyak sampah.
Perombakan bahan organik dari sampah akan mengasilkan karbondioksida. Jadi,
semakain banyak sampah yang ditemui pada suatu perairan, maka kadar CO2 akan
semakin tinggi pula.
      Alkalinitas pada perairan stasiun I adalah 54,3 ppm. Alakalinitas menunjukkan
tingkat kesuburan perairan. Besarnya alkalinitas sebanding dengan kandungan CO2
bebas menurut reaksi :
                                                   2
      CO2 + H2O ↔ H2CO3 ↔ H  + HCO3 ↔ CO3 + 2 H 
      Alkalinitas pada perairan ini tergolong rendah. Hal ini disebabkan oleh kadar
CO2 bebas dalam perairan yang cukup kecil. pH pada stasiun I ini adalah 6,9 karena
kadar CO2 yang cukup rendah. Hal ini juga disebabkan karena alkalinitas pada stasiun
ini cukup rendah sehingga air tidak dapat mempertahankan nilai pH nya.
     Kepadatan makrobentos pada stasiun I adalah 92 ind/m 2 . Lingkungan perairan
yang sudah cukup tercemar karena terdapat banyaknya sampah dan kegiatan yang
banyak menghasilkan limbah menyebabkan jumlah makrobentos yang ada menjadi
sedikit. Hal ini juga dipengaruhi oleh kadar O2 yang kecil serta tingginya kadar CO2
yang cukup tinggi pada perairan stasiun I. Diversitas makrobentos pada stasiun I yaitu
1,068. Hal ini dipengaruhi oleh kadar CO2 yang begitu tinggi. Semakin tinggi kadar
CO2, maka akan semakin besar pula diversitas makrobentosnya.


Stasiun II
     Stasiun II memiliki suhu air yaitu 27 0C. Keadaan ini dipengaruhi oleh keadaan
vegetasi sekitar yang ditemui banyak tumbuhan yang berfungsi sebagai kanopi. Hal
ini menyebabkan penetrasi cahaya matahari tidak begitu kuat sehingga akan
mempengaruhi suhu air menjadi rendah. Hal tersebut juga mempengaruhi suhu udara
pada stasiun II sehingga tidak begitu tinggi. Kecepatan air pada stasiun II adalah 0,45
m/s. Bercampurnya sampah yang terbawa arus dapat mengurangi kecepatan air. Pada
stasiun ini memang terdapat banyak sampah, sedangkan debit air pada stasiun II
adalah 1,08 m³/s. Hal ini juga dipengaruhi oleh kedalaman air, lebar sungai dan
panjang sungai.
     Kadar O2 pada stasiun ini adalah 6 ppm. Hal ini dipengaruhi oleh suhu air yang
cukup rendah dan juga keanekaragaman hayati yang cukup baik pada staiun ini.
Kadar CO2 pada stasiun ini adalah 7,1 ppm. Hal ini disebabkan karena banyaknya
sampah pada stasiun ini sehingga hasil dari perombakan bahan organik akan
menghasilkan banyak CO2. Semakin banyak bahan organik yang ada pada suatu
perairan, maka kadar CO2 juga akan semakin besar.
     Alkalinitas pada perairan stasiun II adalah 71,1 ppm. Alkalinitas menunjukkan
tingkat kesuburan perairan. Besarnya Alkalinitas pada suatu perairan, dipengaruhi
oleh kadar CO2 pada perairan tersebut. pH pada stasiun ini adalah 6,9. Hal ini berarti
sifat derajat keasaman perairan ini mendekati netral. Hal ini disebabkan karena
alkalinitas pada stasiun II ini tidak begitu besar. Sehingga air tidak cukup memiliki
kemampuan untuk mempertahankan nilai pH.
     Kepadatan makrobentos pada stasiun ini adalah 124 ind/ m 2 . Kepadatan
makrobentos dipengaruhi oleh kadar O2. Semakin tinggi kadar O2 suatu perairan maka
akan semakin besar pula jumlah makrobentos karena makrobentos memanfaatkan O2
untuk kegiatan respirasinya. Sedangkan diversitas makrobentos pada stasiun II adalah
yang terkecil antara stasiun I dan stasiun III yaitu hanya 0,5476. Hal ini disebabkan
rendahnya kadar CO2 pada perairan stasiun II ini. Sehingga hanya terdapat sedikit
makrobentos yang dapat hidup di perairan ini.


Stasiun III
     Suhu air pada stasiun III adalah 34 0C. Sedangkan suhu udara pada stasiun ini
adalah 33,7 0C. Nilai ini adalah yang tertinggi dibandingkan dengan stasiun lainnya.
Hal ini disebabkan karena kurang terdapat vegetasi sekitar yang berfungsi sebagai
kanopi sehingga penetrasi cahaya matahari begitu kuat sehingga akan menyebabkan
suhu air maupun suhu udara menjadi tinggi.
     Kecepatan air pada stasiun III ini adalah 0,175 m/s. Hal ini disebabkan karena
pada perairan stasiun III terdapat banyak sampah, baik sampah organik maupun
sampah anorganik. Hal ini mempengaruhi kecepatan air. Semakin banyak sampah,
maka kecepatan air akan semakin menurun. Debit air pada perairan ini adalah 0,252
m³/s. Hal ini disebabkan pada perairan ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat
sekitar unuk kegiatan mencuci baju, mandi dan juga kakus. Hal tersebut dapat
mempengaruhi besar kecilnya debit air pada suatu perairan.
     Kadar O2 pada stasiun III tergolong rendah. Hal ini disebabkan oleh tingginya
suhu air dan juga keadaan vegetasi sekitar. Pada stasiun III hanya terdapat sedikit
vegetasi. Tumbuh-tumbuhan yang banyak akan menghasilkan banyak O2 dari hasil
fotosintesis. Namun, karena pada stasiun III hanya terdapat sedikit tumbuhan, maka
kadar O2 pada perairan ini pun juga rendah. Kadar CO2 pada stasiun III adalah yang
tertinggi dibandingkan dengan stasiun-stasiun lainnya. Hal ini disebabkan karena
terdapat banyaknya sampah organik maupun sampah anorganik. Hasil perombakan
bahan organik akan menghasilkan CO2. Dengan banyaknya sampah, maka CO2 yang
dihasilkan dari hasil perombakkan pun akan semakin tinggi.
     Alkalinitas pada stasiun ini sangat tinggi, yaitu 98,5 ppm. Hal ini disebabkan
oleh tingginya kandungan CO2 bebas pada perairan ini. Tingginya nilai alkalinitas
menunjukkan bahwa kondisi perairan pada stasiun III adalah sangat subur. Dengan
nilai alkalinitas yang begitu tinggi, maka akan mempengaruhi nilai pH walaupun nilai
pH pada stasiun ini hanya mendekati netral yaitu 6,9. Alkalinitas pada stasiun ini
belum cukup untuk mempertahankan nilai pH nya.
      Kepadatan makrobentos sangat tinggi yaitu mencapai 220 ind/ m 2 . Nilai ini
adalah yang paling tinggi diantara stasiun-stasiun lainnya. Hal ini sangat bertentangan
dengan keadaan perairan pada stasiun III yang terdapat sangat banyak sampah baik
organik maupun anorganik. Hal ini mungkin terjadi karena pengambilan sampel pada
daerah yang cukup terbebas dari sampah. Diversitas makrobentos pada stasiun III
adalah 2,499. Hal ini terjadi karena kandungan CO2 pada stasiun III sangat tinggi
sehingga diversitas makrobentos pun tinggi.


2. Pembahasan Antar Stasiun


Kualitas Perairan
      Pada pengamatan suhu air, yang paling tinggi adalahstasiun III dengan suhu air
mencapai 34 0C. Hal ini disebabkan karena vegetasi sekitar yang terbuka. Memang
vegetasi pada stasiun III cukup banyak, namun tidak berfungsi sebagai kanopi
sehingga air mendapatkan penetrasi langsung yang begitu kuat dari cahaya matahari
sehingga suhu air menjadi tinggi. Suhu air terendah yaitu pada stasiun II dengan suhu
air 27 0C. Hal ini disebabkan karena vegetasi sekitar yang rindang dan dapat berfungsi
sebagai kanopi yang dapat menghalangi penetrasi cahaya matahari sehingga tidak
begitu kuat.
      Sama halnya dengan suhu air, suhu udara pada stasiun III adalah yang tertinggi
yaitu mencapai 33,7 0C. Hal ini juga disebabkan karena faktor yang sama dengan
pengamatan pada suhu air, yaitu keadaan vegetasi sekitar. Kecepatan air yang paling
tinggi adalah pada stasiun II yaitu 0,45 m/s. Hal ini disebabkan karena sampah yang
ada pada stasiun II tidak begitu banyak seperti pada stasiun III sehingga kecepatan air
pada stasiun III hanya 0,175 m/s karena aliran air terhambat oleh banyaknya sampah
yang ada juga bebatuan besar yang cukup mempengaruhi kecepatan air.
      Untuk pengamatan debit air yang paling besar adalah pada stasiun II yaitu 1,08
m³/s. Hal ini disebabkan karena stasiun II memiliki kedalaman yang lebih
dibandingkan dengan stasiun-stasiun yang lain. Selain itu, lebar sungai pada stasiun II
juga melebihi stasiun-stasiun yang lain. Sedangkan untuk debit air terkecil yaitu pada
stasiun I yaitu 0,071 m³/s karena kondisi perairan yang sempit serta keadaan perairan
yang tidak begitu dalam.
      Kandungan O2 terlarut yang paling besar adalah pada stasiun II yaitu 6 ppm.
Kandungan O2 terlarut berkaitan dengan debit air dan kecepatan arus. Untuk
kandungan O2 terlarut yang paling rendah adalah pada stasiun I. Hal ini disebabkan
karena pada stasiun I debit air sangat kecil dan juga kecepatan airnya tidak begitu
besar sehingga menyebabkan kandungan O2 terlarut pada stasiun I juga kecil.
      Kadar CO2 terendah terdapat pada stasiun II yaitu 7,1 ppm. Hal ini disebabkan
karena suhu lingkungan pada stasiun II sangat rendah dibandingkan dengan suhu
lingkungan pada stasiun-stasiun lainnya. Kadar CO2 tertinggi pada stasiun III yaitu 9
ppm. Hal ini disebabkan suhu air pada stasiun III sangat tinggi sehingga kadar CO2
juga menjadi tinggi berbeda dengan stasiun II yang hanya 7,1 ppm.
      Alkalinitas tertinggi yaitu pada stasiun III 98,5 ppm. Hal ini disebabkan karena
pada stasiun III kemampuan untuk menetralisir keasaman sangat baik. Sedangkan
pada stasiun I sangat rendah yaitu 54,3 ppm. Sedangkan untuk tingkat derajat
keasaman semua stasiun memiliki pH yang sama yaitu 6,9.
      Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, perairan yang paling baik yaitu
pada stasiun II karena suhu udara pada stasiun II sangat baik untuk hidupnya
organisme-organisme dan juga mengandung O2 terlarut yang tinggi serta tidak begitu
banyak terdapat sampah yang akan menghasilkan banyak CO2. Sedangkan perairan
yang terburuk kualitasnya adalah pada stasiun III karena pada stasiun III hanya
mengandung sedikit oksigen namun mengandung banyak CO2 bebas pada perairan
stasiun III.


Estimasi Gastropoda
      Estimasi gastropoda yang paling tinggi adalah pada stasiun II yaitu 117 ind/
m 2 . Hal ini disebabkan karena pada stasiun II memiliki kandungan O2 terlarut yang
sangat tinggi untuk menunjang aktifitas respirasi yang dilakukan oleh gastropoda
sehingga gastropoda dapat berkembang dengan baik pada perairan stasiun II. Selain
itu keadaan pada perairan stasiun II yang memiliki suhu yang tidak begitu tinggi serta
tidak terlalu banyak sampah, baik untuk kehidupan gastropoda.
      Sedangkan untuk estimasi gastropoda terendah yaitu pada stasiun I. Hal ini
disebabkan karena kandungan O2 terlarut pada perairan stasiun II yang sedikit
sehingga tidak dapat menunjang kebutuhan gastropoda untuk melakukan respirasi
sehingga gastropoda tidak dapat berkembang baik pada perairan ini. Selain itu, factor
suhu perairan pada stasiun II yang cukup tinggi serta kandungan CO2 yang cukup
tinggi mengakibatkan hanya jenis-jenis gastropoda tertentu saja yang memiliki
kisaran toleransi tinggi saja yang dapat hidup di perairan stasiun I.
                      V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. KESIMPULAN
1. Karakteristik ekosistem sungai adalah perairan yang tenang terlihat dari kecepatan
   arus yang cukup tenang. Karakteristik lainnya adalah berpasir dan berbatu.
2. Faktor yang menjadi pembatas pada ekosistem sungai adalah suhu, kecepatan air,
   debit air, O2 terlarut, CO2 bebas, alkalinitas, pH, dan jumlah kepadatan
   makrobentos.
3. Beberapa tolokukur yang dapat digunakan untuk mengetahui kualitas suatu
   perairan adalah tolokukur fisik, kimia, dan juga parameter biologi untuk melihat
   kepadatan makrobentos.
4. Kualitas yang kualitasnya baik adalah yang memiliki diversitas biota perairan
   yang tinggi.
5. Metode plotless adalah cara untuk mengestimasi populasi gastropoda tanpa
   menggunakan plot namun dengan menggunakan tongkat yang ditancapkan pada
   perairan dan dihitung populasi yang ada terdekat dengan tongkat tersebut.
6. Beberapa tolokukur yang mempengaruhi populasi makrobentos adalah kadar O2
   terlarut dalam air, kadar CO2 bebas, suhu, serta kandungan bahan organik.
                             DAFTAR PUSTAKA


Anonim.          2000.        Susunan        dan       Macam         Ekosistem.
   <http://bebas.vlsm.org/vl2/Sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi>.
Diakses       tanggal 3 Maret 2006.

Anonim. 2005. Sungai (River). <http//www.lablink.or.id/Hidro/Sungai/Air-
Sungai.htm>. Diakses tanggal 3 Maret 2006.

Ardi. 2002. Pemanfaatan Makrozoobentos Sebagai Indikator Kualitas Perairan
Pesisir.     <http//tumotou.net/702_04212/Ardi.htm>. Diakses tanggal 23 Maret
2006.

Brotowidjoyo, M.D., D. Tribawono dan E. Mulbyantoro. 1995. Pengantar
Lingkungan Perairan dan Budidaya Air. Liberty. Yogyakarta.

Isnansetyo, A. dan Kurniastuty. 1995. Teknik Kultur Phytoplankton dan Zooplankton.
    Kanisius. Yogyakarta.

Probosunu, N. 2004. Petunjuk Praktikum Ekologi Perairan. Laboratorium Ekologi
   Perairan Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta. Yogyakarta.

Purwakusuma, W. 2005. Air. <www.o-fish.com/Air.php>. Diakses tanggal 23 Maret
   2006.

Sastrawijaya, A.T. 1991. Pencemaran Lingkungan. Rineka Cipta. Jakarta.

Sugiri, N. 1989. Zoologi Avertebrata II. Lembaga Sumberdaya Informasi Institut
   Pertanian Bogor. Bogor.

Suhardi. 1983. Evolusi Avertebrata. UI Press. Jakarta.

Thomas, R.W. 1980. Chemistry 13-16. A.Wheaton Company, Ltd.

				
DOCUMENT INFO
Stats:
views:996
posted:8/3/2012
language:Malay
pages:22
Description: EKOSISTEM SUNGAI