CARA MENENTUKAN JENIS LEUKOSIT PADA IKAN by MartinMuhAlHilal

VIEWS: 364 PAGES: 7

CARA MENENTUKAN JENIS LEUKOSIT PADA IKAN

More Info
									            CARA MENENTUKAN JENIS LEUKOSIT PADA IKAN

                                     A. Tujuan khusus

1. Menentukan jenis leukosit yang ada dalam beberapa spesies ikan
2. Mengetahui jenis leukosit pada beberapa spesies ikan


                                    B. Tinjauan Pustaka

            Berdasarkan granula spesifik pada sitoplasmanya seperti dilihat dalam mikroskop
   cahaya, sel-sel darah putih digolongkan dalam 2 kelompok ; granulosit dan agranulosit.
   Leukosit juga dapat dibagi dalam sel-sel polimorfonuklear dan monokuler, dipandang
   dari morfologi inti, selain itu mereka dapat digolongkan sebagai sel-sel mieloid atau
   limfosit tergantung dari asalnya.(Lois, C and Jose 1980).

            Sel darah putih (leukosit) mempunyai dua kelompok utama, yaitu agranulosit dan
   granulosit. Tipe agranulosit yaitu sel darah putih yang terdiri dari sebuah inti yang
   sederhana dan sitoplasmanya yang bergranuler. Granulosit mempunyai jumloah antara
   4-40 % dari keseluruhan sel darah dan mempunyai deameter antara 24-53 mikron
   (Lagler 1977)

            Tipe agranuler dapat dibedakan lagi menjadi limfosit, trombosit dan mesofit.
   Limfosit berfungsi untuk pembentukan antibodi tubuh dalam sistem kekebalan tubuh.
   Trombosit adalah sel darah putih yang berperan dalam proses pembekuan darah dan
   monosit bersifat makrofage. Monosit ini mempunyai jumlah paling banyak dalam sel
   darah putih dengan bentuk oval dan berisi inti tunggal yang besar (Nesser 1958).

            Berdasarkan penyerapan terhadap warna, granular dibedakan menjadi neutrofil,
   acidofil dan basofil. Neutrofil dan acidofil mempunyai fungsi menyerang bakteri
   maupun benda asing lainnya, sedangkan basofil belum diketahui secara jelas (Effendie
   1974)

                                     C. Alat dan Bahan

1. Alat :

   1. cawan porselin
   2. pipet tetes
   3. mikroskop
   4. hand counter
   5. gelas penutup
   6. gelas preparat
2. Bahan :
   a. darah dari beberapa spesies ikan:
      1) Bawal (Pampus chinnensis)
      2) Lele (Clarias sp.)
      3) Nila (Oreochromis niloticus)
      4) Karper (Cyprinus carpio)
   b. ethyl diamin tetra asetat (EDTA)
   c. methanol
   d. cat giemsa
   e. aquadest


                                    D. Cara Kerja

1. Mengambil sampel darah masing-masing spesies ikan dengan menggunakan spuit.
2. Menaruh sampel darah ke dalam cawan porselin yang telah dibubuhi EDTA
3. Meneteskan sampel darah pada gelas preparat kemudian ratakan, kemudian
   mengeringkan gelas preparat
4. Menggenangi dengan methanol selama 5-10 menit, kemudian buang kelebihan
   methanol
5. Menggenangi dengan cat giemsa selama 2,5 menit, kemudian mengeringanginkan
   gelas preparat.
6. Membilas gelas preparat dengan aquadest, kemudian mengeringanginkan gelas
   preparat
7. Mengamati gelas preparat di bawah mikroskop
                                E. Hasil pengamatan

             Ikan                          Jenis leukosit            Dominan
Nila (Oreochromis nilaticus)   Monosit, neutrofil, limfosit,    Monosit
                               polimorfonuklear leukosit,
                               eusinofil leukosit
Karper (Cyprinus carpio)       Monosit, trombosit, neutrofil,   Monosit
                               limfosit, polimorfonuklear
                               leukosit.
Lele(Clarias sp.)              Limfosit, monosit,               Limfosit
                               polimorfonuklear leukosit,
                               neutrofil dan trombosit
Bawal (Pampus chinnensis)      Monosit, limfosit, trombosit,    monosit
                               neutrofil


                                   F. Pembahasan

     Pengamatan jenis leukosit pada beberapa spesies ikan menggunakan nahan-bahan
seperti EDTA, cat giemsa dan methanol. EDTA dibubuhkan pada sampel darah agar darah
tidak mudah menggumapal,. Methanol dipergunakan setelah sampel darah diletakkan pada
gelas preparat yang telah dikeringkan, berfungsi agar leukosit dalam sampel darah tidak
mudah hilang atau terlarut apabila dibilas dengan air. Hal tersebut disebabkan karena
methanol tidak larut dalam air. Sampel darah yang telah diberi methanol direndam
beberapa menit ke dalam cat giemsa agar berbagai bentuk leukosit granular dapat mudah
teramati di bawah mikroskop, dengan demikian sel darah putih yang mempunyai inti
(granular) dapat mudah dibedakan bentuknya dengan yang (agranular) tidak berinti
(Murwantoko 2005).

     Leukosit adalah korpuskula yang berfungsi dalam sistem pertahanan tubuh terhadap
adanya serangan penyakit dan zat toksin yang masuk kedalam tubuh suatu spesies.
Leukosit terdiri dari beberapa bentuk sel yang masing-masing memiliki fungsi yang
berbeda-beda tergantung lingkungan, daya tahan dan daya serang. Leukosit diproduksi
pada saat terserang penyakit dan menghasilkan antibodi serta diproduksi dalam jumlah
sedikit untuk mengangkut lemak di dalam tubuh (Anonim 2002).

     Menurut Fradson (1996), masing-masing bentuk sel leukosit memiliki fungsi yang
berbeda-beda serta diproduksi dalam kondisi yang berbeda pula. Berikut merupakan fungsi
bebrapa jaenis leukosit, antara lain :

1. Neutrofil mengandung granula yang memberikan warna indeferent yang tidak merah
   ataupun biru. Hal tersebut merupakan urutan pertama yang menempati sistem
   pertahanan melawan infeksi, yaitu dengan cara migrasi ke daerah yang sedang
   mengalami infeksi tersebut, menembus dinding pembuluh dan menerkam bakteri untuk
   kemudian dihancurkan.

2. Eusinofil yang dikenal dengan nama asidofil yang nampak sebagai granula yang
   berwarna merah terdapat dalam sitoplasma. Sel-sel ini pada umumnya berjumlah tidak
   banyak, tetapi dapat meningkat dengan adanya penyakit tertentu, seperti adanya infeksi
   oleh parasit. Eusinofil juga bersifat amuboid dan fagositik.

3. Basofil mengandung granula yang berwarna biru. Basofil mengandung heparin (anti
   koagulasi) dan histamin. Diperkirakan juga bahwa basofil adalah prekusor bagi most
   cell. Keduanya (most cell dan basofil) melepaskan histamin disamping sedikit
   braddikimin dan serotanin.

4. Limfosit memiliki ukuran dan penampilan yang bervariasi serta mempunyai nukleus
   yang relatif besar yang dikelilingi oleh sejumlah sitoplasma. Fungsi utamanya adalah
   respon terhadap antibodi yang sirkulasinya berada di dalam darah atau pengembang
   imunitas (kekebalan) seluler.

     Trombosit berfungsi dalam proses pembekuan darah dan mencegah hilangnya cairan
tubuh pada kerusakan dibagian permukaan tubuh. Pembekuan darah ikan berlangsung
lebih cepat karena disebabkan oleh adanya pertambahan trombosit yang terjadi pada
regenerasi darah. Monosit sel-sel darah putih yang menyerupai neutrofil bersifat fagositik
yaitu memiliki kemampuan untuk menerkam material asing sepaerti bakteri. Monosit
merupakan sel-sel dangan perkembangan semi akhir yang dalam waktu atau keadaan yang
tepat akan berkembang sebagi sel dewasa dari sistem fagosit (Nabib dan Pasaribu 1989).
     Leukosit merupakan bagian darah yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh
terhadap adanya serangan kuman maupun zat-zat yang bersifat racun dan dapat masuk ke
dalam tubuh. Beberapa faktor yang mempengaruhi perbedaan jenis leukosit antara spesies
ikan yang satu dengan spesies ikan lainnya adalah jenis ikan, tingkat kesehatan ikan dan
kondisi lingkungan sekitarnya. Masing-masing jenis dari leukosit mempunyai fungsi dan
peranan yang berbeda-beda, dengan demikian masing jenis leukosit dapat dijadikan
sebagai parameter untuk mengukur tingkat kekebalan pada tubuh ikan. Berikut merupakan
pembahasan per spesies :

1. Nila (Oreochromis niloticus)

         Jenis sel darah putih yang terdapat pada Nila yaitu monosit, neutrofil, limfosit,
   polimorfonuklear leukosit, eusinopil leukosit. Jenis leukosit yang paling dominan
   adalah monosit, hal tersebut disebabkan karena Nila dalam kondisi sehat, monosit pada
   ikan sangat penting untuk memakan zat-zat asing yang masuk kedalam tubuh dan
   memberikan informasi tentang serangan penyakit kepada leukosit sehingga monosit
   diperlukan dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan bentuk lainnya dalam
   kondisi sehat.
2. Karper (Cyprinus carpio)

         Karper mempunyai beberapa jenis leukosit yaitu monosit, trombosit, neutrofil,
   limfosit, polimorfonuklear leukosit. Jenis leukosit yang paling dominan adalah
   monosit, hal tersebut disebabkan karena monosit sangat penting dalam kekebalan tubuh
   alami yang dapat memakan secara utuh (fagositik) benda-benda asing maupun penyakit
   seperti bakteri sehingga jenis monosit tersebut diperlukan dalam jumlah banyak pada
   ikan dengan kondisi sehat
3. Lele (Clarias sp.)

         Jenis sel darah putih yang terdapat pada Lele yaitu Limfosit, monosit,
   polimorfonuklear leukosit, neutrofil dan trombosit. Jenis sel darh putih yang dominan
   pada Lele tersebut adalah limfosit. Hal tersebut disebabkan karena Lele dalam kondisi
   sakit sehingga limfosit diproduksi banyak untuk dapat merespon terhadap antibodi
   yang sirkulasinya berada di dalam darah atau pengembang imunitas (kekebalan) seluler
   untuk menyerang penyakit atau benda asing yang masuk ke dalam tubuh Lele tersebut,
   selain itu, Lele dapat mampu hidup diperairan yang memiliki kandungan oksigen
   sangat rendah dan perairan yang berkualitas buruk karena kisaran toleransi terhadap
   lingkungan sangat lebar, dengan demikian lele membutuhkan antibodi yang lebih kuat
   yaitu dengan memiliki lebih banyak jenis sel darah putih limfosit untuk dapat bertahan
   dari serangan penyakit yang berasal dari lingkungan tempat hidupnya.
4. Bawal (Colossoma macropomum)

         Bawal mempunyai beberapa jenis leukosit yaitu monosit, limfosit, trombosit,
   neutrofil. Jenis leukosit yang paling dominan adalah monosit. Hal tersebut disebabkan
   karena monosit sangat penting dalam kekebalan tubuh alami yang dapat memakan
   secara utuh (fagositik) benda-benda asing maupun penyakit seperti bakteri sehingga
   jenis monosit tersebut diperlukan dalam jumlah banyak pada ikan dengan kondisi sehat
     Masing-masing spesies memiliki leukosit dengan bentuk yang bermacam-macam.
Bentuk yang paling dominan terdapat pada beberapa spesies ikan juga berbeda-beda. Hasil
pengamatan memperlihatkan bahwa bentuk leukosit yang dominan pada Nila, Bawal, dan
Karper adalah monosit. Hal tersebut disebabkan karena monosit pada ikan sangat penting
untuk berfungsi untuk memakan zat-zat asing yang masuk kedalam tubuh dan memberikan
informasi tentang serangan penyakit kepada leukosit sehingga monosit diperlukan dalam
jumlah yang lebih banyak dibandingkan bentuk lainnya pada ikan dengan kondisi yang
sehat. Bentuk leukosit pada Lele yang dominan adalah limfosit. Hal tersebut disebabkan
karena Lele dalam kondisi sakit sehingga limfosit diproduksi banyak untuk dapat
merespon terhadap antibodi yang sirkulasinya berada di dalam darah atau pengembang
imunitas (kekebalan) seluler untuk menyerang penyakit atau benda asing yang masuk ke
dalam tubuh Lele tersebut.



                                       G. Kesimpulan

1. Jenis leukosit pada beberapa spesies ikan sebagai berikut :
   a. Nila (Oreochromis niloticus) : monosit, limfosit, neutrofil, polimorfonuklear
       leukosit, eusinofil leukosit.
   b. Karper (Cyprinus carpio) : monosit, trombosit, limfosit, neutrofil, polimorfonuklear
       leukosit
   c. Lele (Clarias sp.) : limfosit, monosit, polimorfonuklear leukosit
   d. Bawal (Colossoma macropomum) : monosit, trombosit, neutrofil, limfosit.
2. Bentuk leukosit yang dominan pada ikan yang sehat yaitu monosit dan bentuk leukosit
   yang dominan pada ikan yang sakit adalah limfosit.
3. Jenis leukosit yang terdapat pada bebrapa spesies ikan berbeda-beda, hal tersebut
   disebabkan beberapa faktor antara lain jenis ikan, tingkat kesehatan ikan dan kondisi
   lingkungan sekitarnya.


                                DAFTAR PUSTAKA
Afandi dan Ridwan, 1993. Iktiologi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat
     Jendral Perguruan Tinggi Pusat Antar Universitas. Ilmu Hayat. Institut Pertanian
     Bogor. Bogor

Anonim, 2002. Penyakit ikan. Laboratorium Ilmu Hama dan Penyakit Ikan. Universitas
    Gadjah Mada. Yogyakarta.


Effendie, M. I. 1974. Fish Biology (terjemahan). Edisi ke-4. Corespodense Course Center.
     Dirjen Perikanan-Departemen Pertanian. Jakarta


Frandson, R. D., 1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi ke-5. Gadjah Mada University
     Press. Yogyakarta.


Lagler, K. F. 1977. Ichtiology: The Studi of Fishes. John Willey and Sons. New York


Lois, C. J. and Jose, C., 1980. Histologi Dasar (terjemahan) Edisi 3. Penerbit Buku
      Kedokteran EGC. Jakarta Utara.


Nabib, P. dan F. H. Pasaribu, 1984. Patologi dan Penyakit Ikan. Bioteknologi. Institut
     Pertanian Bogor. Bogor


Nesser, H. M. 1985. An Introduction of Vertebrata Anatomy. Eight Print. Inc

								
To top