Tentang DO KRITIS

Document Sample
Tentang DO KRITIS Powered By Docstoc
					                                Tentang DO KRITIS

                                    A. Tujuan khusus

1. Mengetahui cara pengukuran DO kritis.
2. Membandingkan DO kritis pada beberapa spesies ikan


                                  B. Tinjauan Pustaka

     Oksigen perairan merupakan salah satu daya dukung lingkungan. Daya dukung
lingkungan adalah kemampuan alami habitat untuk mendukung kehidupan di dalamnya
secara normal, sehingga semkain tinggi kandungan oksigen terlarut di perairan maka daya
dukung hidupnya semakin tinggi (Rifai 1982). Kandungan oksigen terlarut tidak
selamanya mempunyai nilai yang tinggi, sehingga pada saat tertentu akan mengalami nilai
terendah jika di perairan tersebut tidak adanya keseimbangan ekosistem serta daya dukung
lingkungannya rendah, selanjutnya dengan kondisi perairan tersebut akan menyebabkan
kadar oksigen suatu perairan akan bernilai sangat rendah atau kritis (Cholik 1981).
     Kadar DO kritis merupakan kondisi ketika konsentrasi oksigen terlarut turun sampai
tingkat paling rendah dan menyebabkan ikan tidak dapat mempertahankan kelangsungan
hidupnya. Kadar DO kritis berbeda nilainya untuk setiap spesies, yang mengambil oksigen
langsung dari udara (air breather fishes) lebih tahan terhadap kadar oksigen yang rendah
daripada ikan yang mengambil oksigen dari air.(Lagler 1977).
      Harga DO air berbanding lurus dengan kualitas air. Air yang kadar DO-nya tinggi
maka kualitasnya baik, sedangkan air yang tercemar mempunyai kadar DO rendah, karena
oksigen yang terdapat dalam air akan digunakan oleh bakteri yang menguraikan zat
pencemar (Surakitti 1989). Konsumsi oksigen bagi ikan menurun bersamaan dengan
menurunnya kandungan oksigen. Jumlah terkecil oksigen terlarut dimana ikan dapat hidup
sangat berhubungan dengan oksigen yang digunakan oleh ikan didalam respirasi dan
spesifik bagi setiap ikan (Nikolsky 1963).
     Konsentrasi oksigen terlarut yang dibutuhkan suautu spesies ikan untuk hidup layak
adalah kurang lebih 5 mg/L. Nilai ini akan beragam tergantung pada spesies ikan, ukuran,
aktivitas, keadaan nutrisis, suhu, dan faktor-faktor lainnya (Boyd 1990). Semakin besar
ukuran ikan maka kebutuhan oksigen epr satuan beratnya akan tinggi. Hal tersebut
disebabkan karena oksigen yang dibutuhkan tersebut digunakan untuk aktivitas
metabolisme tubuh ikan, demikian juga untuk ikan-ikan pelagis atau permukaan yang
memiliki daya renang cepat, akan mengkonsumsi jumlah oksigen lebih banyak
dibandingkan dengan kondisi ikan pada waktu istirahat. Hal tersebut disebabkan oleh
energi yang digunakan pada dua kondisi tersebut sangat berbeda (Royce 1984)
     Ikan mempunyai tingkat tekanan oksigen kritis. Hal tersebut disebabkan oleh daya
ikat haemoglobin terhadap oksigen jika kadar karbondioksida dalam perairan meningkat.
Tekanan tersebut dapat dikendalikan intensitas pergerakan air di sekeliling insang,
kemampuan haemoglobin        dalam mengikat oksigen, kecepatan darah yang dibawa ke
insang dan intensitas metabolisme oksidatif pada tingkat sel (Lagler 1977)
     Kandungan oksigen terlarut kritis perairan akan mempengaruhi jumlah oksigen yang
digunakan oleh ikan dalam respirasi dan spesifik ikan, sehingga akan timbul kemudian
organisem konforimer oksigen, yaitu organisme perairan yang mampu menyesuaikan
metabolisme dan konsumsi oksigen terhadap jumlah oksigen yang tersedia di perairan.
Terdapat pula organisme non-konforimer, yaitu organisme yang frekuensi nafas dan aliran
air pada insangnya tidak dapat menyesuaikan dengan turunnya kadar oksigen di perairan
(Spotte 1970).
     Ikan dapat hidup secara normal pada kandungan oksigen terlarut 5 ppm, akan tetapi
kandungan oksigen terlarut perairan mencapai 0,3-1,0 ppm saja, maka ikan masih dapat
bertahan hidup, namun pertumbuhannya dapat terhambat. Batas toleransi ikan dengan
kandungan oksigen terlarut diperairan adalah 3 ppm dengan kandungan karbonmonoksida
terlarut lebih dari 25 ppm (Fardiaz 1992)


                                   C. Alat dan Bahan

1. Alat :

   a. tabung respirometer
   b. stopwatch/arloji
   c. timbangan ohaus
   d. erlenmeyer
   e. gelas ukur
   f. pipet ukur
   g. pipet tetes
   h. botol oksigen


2. Bahan :
   a. beberapa spesies ikan, masing-masing dua ekor :
      1) Bawal (Pampus chinnensis)
      2) Udang galah (Macrobrachium rosenbergii)
      3) Lele (Clarias sp.)
      4) Nila (Oreochromis niloticus)
      5) Karper (Cyprinus carpio)
   b. larutan MnSO4
   c. larutan reagen O2
   d. larutan indikator amilum
   e. larutan H2SO4 pekat
   f. larutan Na2S2O 1/80 N
   g. aquadest


                                    D. Cara Kerja

1. Menimbang berat ikan.
2. Memasukkan sebagian air dan ikan dalam respirometer.
3. Mengalirkan air masuk ke dalam respirometer dan pada saat yang bersamaan
   mengukur DO awal dari cabang saluran air masuk yang lain.
4. Membuang gelembung air dalam respirometer dan menstabilkan aliran air yang masuk
   dan keluar.
5. Menghitung debit air keluar dari respirometer dengan menggunkan gelas ukur.
6. Menghitung retention time yaitu volume respirometer/debit.
7. Mengukur DO akhir sesuai dengan retention time yang terjadi.Menutup saluran air
   yang masuk dan keluar
8. Mengukur DO kritis setelah ikan menunjukkan gejala kematian. Mengukur DO kritis
   dengan cara sebagai berikut :
   a. Mengambil sampel air dengan botol oksigen, diusahakan jangan sampai terbentuk
       gelembung udara.
   b. Menambahkan i ml reagen oksigen dan 1 ml MnSO4, kemudian menggujok dan
       didiamkan sampai mengendap.
   c. Menambahkan 1 ml H2SO4 pekat kemudian menggojok sampai homogen.
   d. Mengambil 50 ml sampel air pada botol oksigen dengan gelas ukur ke dalam
       erlenmeyer.
   e. Menambahkan 2-3 tetes indikator amilum, kemudian menitrasi dengan 1/80 N
       Na2S2O3 hingga warna biru menjadi bening.
   f. Mencatat titrasi yang diperlukan sebagai = a ml.
   g. Menghitung kadar DO kritis menggunakan rumus :
                     1000                    2
       DO kritis =        x a x f x 0,1 mg O
                      50                       L


                                   E. Hasil pengamatan

 No        Spesies          Ulangan        Berat    DO Awal     DO Akhir   DO kritis
                                         Ikan (g)
  1      Udang Galah           1           17,1           7       6,76        2,7
                               2           20,0          6,9      6,4         1,4
  2          Nila              1           41,3          8,84     4,4         1,4
                               2           39,8          9,2      3,8         1,8
  3         karper             1           41,5           7       6,6         2,2
                               2           47,5          9,24     6,4         1,2
  4          Lele              1           38,5          3,14     1,34       0,75
                               2           32,3          3,14     1,86        0,9
  5         Bawal              1           58,6          7,2       6          1,2
                               2           46,7          6,66      6          1,4



                                      F. Pembahasan

      Praktikum fisiologi hewan air untuk menentukan DO kritis dilakukan dengan
menguji beberapa spesies yaitu Udang galah, Nila, Karper, Lele, dan Bawal. Masing-
masing spesies tersebut dihitung kadar DO kritis-nya, faktor-faktor yang mempengaruhi
DO kritis tersebut serta akan dibandingkan antar spesies. Kadar DO kritis tiap spesies
diukur dengan menggunakan tabung respirometer.
1. Bawal (Colossoma macropomum)
         Bawal yang dipergunakan dalam praktikum sebanyak dua ekor. DO kritis pada
   bawal I yaitu sebesar 1,2 ppm dengan berat 58,6 g serta bawal II sebesar 1,4 ppm
   dengan berat 46,7 g. DO kritis per satuan berat tertinggi terdapat pada bawal II dan
   terendah pada bawal I. Hal tersebut disebabkan karena berat bawal II lebih ringan, ikan
   dengan berat lebih ringan (berukuran kecil) membutuhkan oksigen lebih banyak
   dibandingkan dengan ikan berukuran besar yang dipergunakan untuk pertumbuhan dan
   aktivitas metabolismenya yang cepat sehingga ikan dengan ukuran lebih kecil akan
   lebih cepat mencapai DO kritis, yaitu kadar oksigen minimum yang mengakibatkan
   ikan bawal tidak dapat hidup. Tingginya DO kritis pada Bawal II memperlihatkan
   bahwa toleransi terhadap kandungan oksigen terlarut minimum lebih rendah
   dibandingkan dengan Bawal I. Hasil akhir pengamatan menunjukkan bahwa Bawal
   saat mencapai DO kritis mengalami perubahan kondisi fisik antara lain warna tubuh
   lebih pucat, gerakan operculum yang lebih cepat, pembuluh-pembuluh darah yang ada
   pada sirip-sirip ikan dan daerah sekitar kepala semakin jelas, berubahnya warna insang
   yang semakin pucat, serta warna mata yang semakin buram (tidak cerah).
2. Udang galah (Macrobrachium rosenbergii)
         Kadar DO kritis Udang galah I yaitu sebesar 2,7 ppm dengan berat 17,1 g dan
   Udang galah II sebesar 1,4 ppm dengan berat 20 g. DO kritis per satuan berat tertinggi
   terjadi pada Udang galah I. Hal tersebut disebabkan karena berat Udang galah I lebih
   ringan (berukuran lebih kecil) sehingga membutuhkan oksigen untuk petumbuhan dan
   metabolismenya yang cepat lebih banyak, dengan demikian akan mencapai DO kritis
   lebih cepat. DO kritis tersebut merupakan kandungan oksigen terlarut yang sangat
   rendah sehingga Udang galah yang mempunyai DO kritis yang tinggi per unit berat
   tubuhnya maka Udang galah tersebut tidak tahan terhadap kondisi DO perairan yang
   rendah. Ciri-ciri Udang galah saat mencapai DO kritis antara lain, gerakan semakin
   tidak lincah, warna tubuh lebih pucat, keseimbangan tubuh semakin berkurang.
3. Lele (Clarias sp.)
         Lele yang dipergunakan dalam praktikum ada dua ekor. DO kritis pada Lele I
   yaitu sebesar 0,75 ppm dengan berat 38,5 g serta Lele II sebesar 0,9 ppm dengan berat
   32,3 g. DO kritis per satuan berat tertinggi terdapat pada lele II dan terendah pada lele
   I. Hal tersebut disebabkan karena berat lele II lebih ringan, ikan dengan berat lebih
   ringan (berukuran kecil) membutuhkan oksigen lebih banyak dibandingkan dengan
   ikan berukuran besar yang dipergunakan untuk pertumbuhan dan aktivitas
   metabolismenya yang cepat sehingga ikan dengan ukuran lebih kecil atau berat ringan
   akan lebih cepat mencapai DO kritis, yaitu kadar oksigen minimum yang
   mengakibatkan ikan lele tidak dapat hidup. Tingginya DO kritis pada Lele dengan
   berat lebih ringan memperlihatkan bahwa toleransi terhadap kandungan oksigen
   minimum lebih sempit dibandingkan dengan Lele dengan berat yang lebih besar. Ciri-
   ciri Lele saat mencapai DO kritis antara lain warna tubuh lebih pucat, gerakan
   operculum yang lebih cepat, pembuluh-pembuluh darah yang ada pada sirip-sirip ikan
   dan daerah sekitar kepala semakin jelas, berubahnya warna insang yang semakin pucat,
   serta warna mata yang semakin buram (tidak cerah).
4. Nila (Oreochromis niloticus)
        Kadar DO kritis Nila I yaitu sebesar 1,4 ppm dengan berat tubuh 41,3 g dan Nila
   II sebesar 1,8 ppm dengan berat tubuh 39,8 g. Terlihat dari hasil pengamatan kadar DO
   kritis per satuan berat tertinggi pada Nila II dan terendah pada Nila I. Hal tersebut
   disebabkan karena nila II mempunyai berat tubuh yang lebih ringan yaitu 39,8 g
   dibandingkan nila I yang bertubuh lebih berat yaitu 41,3 g. Ikan dengan berat tubuh
   lebih ringan (berukuran lebih kecil) akan membutuhkan oksigen yang lebih banyak
   dibandingkan dengan ikan bertubuh lebih besar atau lebih berat karena oksigen pada
   ikan bertubuh kecil atau berat ringan dipergunakan untuk pertumbuhan dan
   metabolismenya yang lebih cepat sehingga Nila II akan mencapai DO kritis lebih cepat
   karena oksigen lebih cepat habis digunakan sampai batas toleransi tertentu untuk nila
   tetap dapat hidup, dengan demikian toleransi Nila II terhadap kandungan oksigen
   minimum lebih sempit dibandingkan dengan Nila I. Hasil akhir pengamatan
   menunjukkan bahwa Nila saat mencapai DO kritis mengalami perubahan kondisi fisik
   antara lain warna tubuh lebih pucat, gerakan operculum yang lebih cepat, pembuluh-
   pembuluh darah yang ada pada sirip-sirip ikan dan daerah sekitar kepala semakin jelas,
   berubahnya warna insang yang semakin pucat, serta warna mata yang semakin buram
   (tidak cerah).
5. Karper (Cyprinus carpio)
        Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh bahwa kadar DO kritis pada Karper I
   yaitu sebesar 2,2 ppm dengan berat tubuh 41,5 g dan Karper II sebesar 1,2 ppm dengan
   berat 47,5 g. Kadar DO kritis per satuan berat tertinggi terdapat pada karper I dan
   terendah pada karper II. Hal tersebut disebabkan karena Karper I memiliki berat tubuh
   (ukuran tubuh) yang lebih kecil daripada Karper II. Ikan dengan berat tubuh lebih
   ringan (berukuran lebih kecil) akan membutuhkan oksigen yang lebih banyak
   dibandingkan dengan ikan bertubuh lebih besar atau lebih berat karena oksigen pada
   ikan bertubuh kecil atau berat ringan dipergunakan untuk pertumbuhan dan
   metabolisme tubuhnya sehingga Kaper I akan mencapai DO kritis lebih cepat karena
   oksigen lebih cepat habis digunakan sampai batas toleransi tertentu untuk karper tetap
   dapat hidup. Hasil akhir pengamatan menunjukkan bahwa Karper saat mencapai DO
   kritis mengalami perubahan kondisi fisik antara lain warna tubuh lebih pucat, gerakan
   operculum yang lebih cepat, pembuluh-pembuluh darah yang ada pada sirip-sirip ikan
   dan daerah sekitar kepala semakin jelas, berubahnya warna insang yang semakin pucat,
   serta warna mata yang semakin buram (tidak cerah).
     Berdasarkan hasil pengamatan memperlihatkan bahwa DO kritis pada masing-masing
spesies berbeda-beda. Kadar DO kritis per satuan berat tertinggi pada spesies Udang galah
yaitu 2,7 ppm dan 1,4 ppm dan terendah terdapat pada Lele yaitu 0,75 ppm dan 0,9 ppm.
Udang galah mempunyai DO kritis tertinggi terlihat dari udang tersebut lebih awal
memperlihatkan tanda-tanda kematian. Udang galah mempunyai kadar DO kritis per
satuan berat tertinggi disebabkan karena kisaran toleransi terhadap kandungan oksigen
terlarut di perairan lebih sempit dibandingkan dengan spesies lainnya (kebutuhan oksigen
dalam metabolisme relatif tinggi), selain itu Udang galah tidak memiliki alat pernafasan
tambahan yang dapat membantu dalam respirasi dengan mengambil oksigen yang ada di
udara apabila kadar oksigen terlarut di perairan menipis. Lele memiliki kadar DO kritis per
satuan berat paling rendah disebabkan karena kisaran toleransi lele terhadap kandungan
oksigen teralarut yang sedikit sangat lebar, selain itu Lele memiliki alat pernafasan
tambahan yaitu berupa arborescent yang mampu mengambil oksigen langsung dari udara
apabila kandungan oksigen terlarut di perairan menipis.
     Terdapat beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi kadar DO kritis antara lain
yaitu suhu dan pH (derajat keasaman). Menurut Fardiaz (1992), suhu perairan yang tinggi
akan menyebakan metabolisme hewan air meningkat sehingga laju konsumsi oksigen per
satuan berat semakin cepat dan akan mencapai DO kritis lebih cepat pula. Hal tersebut juga
berlaku untuk sebaliknya. Derajat keasaman atau pH perairan yang asam memperlihatkan
bahwa jumlah karbondioksida dalam air tinggi yang mengakibatkan air menjadi bersifat
asam, menurut reaksi sebagai berikut :
          CO2 + H2O            H2CO3
Karbondioksida yang tinggi memperlihatkan bahwa metabolisme ikan tinggi yaitu
mengambil oksigen dan mengeluarkan CO2 tinggi yang akan berakibat pada laju konsumsi
oksigen yang lebih tinggi, dengan demikian hewan air akan mecapai DO kritis lebih cepat.
pH perairan yang basa menandakan bahwa kadar oksigen tinggi karena kelarutan oksigen
dalam perairan dapat menyebabkan air bersifat basa. Hal tersebut memperlihatkan bahwa
metabolisme ikan rendah dengan mengambil oksigen dan menghasilkan karbondioksida,
terlihat dari kadar oksigen dalama air yang masih banyak, dengan demikian laju konsumsi
oksigen rendah serta DO kritis akan dicapai dalam waktu yang relatif lambat pula (Cholik
1991).


                                    G. Kesimpulan

1. DO kritis merupakan kandungan oksigen terlarut diperairan yang sangat rendah
   sehingga ikan tidak dapat hidup lagi.
2. DO kritis dipengaruhi oleh berat ikan, toleransi terhadap kandungan oksigen minimum,
   pH dan suhu
3. Kadar DO kritis masing-masing spesies sebagai berikut :
   a. Udang galah (Macrobrachium rosenbergii) yaitu 2,7 ppm dan 1,4 ppm.
   b. Nila (Oreochromis niloticus) yaitu 1,4 ppm dan 1,8 ppm.
   c. Karper (Cyprinus carpio) yaitu 2,2 ppm dan 1,2 ppm.
   d. Lele (Clarias sp.) yaitu 0,75 ppm dan 0,9 ppm.
   e. Bawal (Colossoma macropomum) yaitu 1,2 ppm dan 1,4 ppm.
4. Kadar DO kritis tertinggi pada Udang galah karena toleransi terhadap DO terlarut
   sempit dan tidak memiliki alat bantu pernafasan serta membutuhkan oksigen yang
   banyak dalam metabolismenya (laju konsumsi oksigen tinggi).
5. Kadar DO kritis terendah pada Lele karena toleransi terhadap DO terlarut lebar,
   mempunyai alat bantu pernafasan (aborescent) serta membutuhkan oksigen sedikit
   dalam metabolismenya.
                                  DAFTAT PUSTAKA

Anonim, 2002. Petunjuk Praktikum Ilmu Hama dan Penyakit Ikan. Jurusan Perikanan.
    Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Boyd, C. E. 1990. Water Quality management and Aeration In Shrimp Farming. Pedoman
    teknis dan Pengelolaan Perikanan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan.
    Sipil. Jakarta

Cholik. 1981. Pengendalian Kualitas Air Kolam. Dirjen Perikanan. Jakarta.
Fardiaz, S. 1992. Polusi Air dan Udara. Kanisius. Jakarta
Lagler, K. F. 1977. Ichtiology: The Studi of Fishes. John Willey and Sons. New York.
Nikolsky, G.V., 1963. The Ecology of Fishes. Academic Press. London and New York.
Rifai, S. U. 1982. Biologi Perikanan I, Edisi I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
      Jakarta

Royce, W. F. 1984. Introduction of The Prectice of Fisheries Science. Academic Press,
    Inc. Florida

Spotte, S. 1970. Fish and invertebrate Culture Water Management and Closed System.
     John Willey and Son’s, Inc. New York

Surakitti, 1989. Kimia 3. Intan Pariwara. Solo.

				
DOCUMENT INFO
Tags: Tentang, KRITIS
Stats:
views:167
posted:8/3/2012
language:Malay
pages:9
Description: Tentang DO KRITIS