Docstoc

Laporan Proyek Akhir

Document Sample
Laporan Proyek Akhir Powered By Docstoc
					   PERANCANGAN MESIN PEMOLES KULIT
                   PROYEK AKHIR


Diajukan Kepada Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta

            Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

 Guna Memperoleh Gelar Kewenangan Tambahan Ahli Madya

           Program Studi Pendidikan Teknik Mesin




                           Oleh :

                      Gustus Tricahyo

                        05503241026



     PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK MESIN

                    FAKULTAS TEKNIK

          UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

                            2012
             HALAMAN PERSETUJUAN


                     PROYEK AKHIR

                 PERANCANGAN
              MESIN PEMOLES KULIT


                       Disusun oleh :



                 GUSTUS TRICAHYO
                    05503241026


Diajukan Kepada Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta
           Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
            Guna Memperoleh Gelar Ahli Madya
                Program Studi Teknik Mesin




                                           Yogyakarta, 1 Mei 2012
                                            Dosen Pembimbing,




                                               Widarto, M.Pd
                                        NIP : 19631230 198812 1 001




                             ii
                        HALAMAN PENGESAHAN


                              PROYEK AKHIR


               PERANCANGAN MESIN PEMOLES KULIT


                                Disusun Oleh :
                              Gustus Tricahyo
                                05503241026
TELAH DIPERTAHANKAN DI DEPAN DEWAN PENGUJI PROYEK AKHIR
     FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA,
                        PADA TANGGAL 15 MEI 2012
              UNTUK MEMPEROLEH GELAR AHLI MADYA




                             DEWAN PENGUJI
Jabatan                  Nama Lengkap                   Tanda tangan      Tanggal
1. Ketua Penguji        : Widarto, M.Pd                 ………….......       …….....
2. Sekretaris penguji   : Dr. Mujiyono                  ………….......       …….....
3. Penguji Utama        : Dr. Yatin Ngadiyono           ………….......       …….....




                                                Yogyakarta, 15 Mei 2012
                                                Dekan Fakultas Teknik
                                                Universitas Negeri Yogyakarta




                                                Dr Moch Bruri Triyono
                                                NIP. 19560216 198603 1 003




                                          iii
                 SURAT PERNYATAAN KEASLIAN




Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Proyek Akhir ini tidak terdapat karya

yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar Ahli Madya atau gelar lainnya di

suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya

atau pendapat yang pernah ditulis oleh orang lain, kecuali secara tertulis diacu

dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.




                                               Yogyakarta, 1 Mei 2012

                                                  Yang menyatakan,



                                                  Gustus Tricahyo
                                                 NIM. 05503241026




                                       iv
                       MOTTO


             Tidak ada orang yang sempurna
                        Tetapi
                 Selalu ada orang lain
               Yang menyempurnakannya




Kejarlah yang PASTI namun jangan lupakan yang MUNGKIN




                          v
                          PERSEMBAHAN


Laporan proyek akhir ini kupersembahkan untuk :
1. Tuhan Yesus dan Bunda Maria atas berkat dan jalan yang diberikan

2. Bapak dan Ibuku, terima kasih atas untuk doa yang tiada henti
   terpanjatkan dan segala pengorbanan yang tak sanggup ku balas.

3. Tim Proyek Akhir “great team, great jobs”

4. Teman - temanku, trimakasih atas dukungannya.




                               vi
            PERANCANGAN MESIN PEMOLES KULIT
                             oleh : Gustus Tricahyo
                               NIM 05503241026

                                  ABSTRAK
        Proyek akhir ini bertujuan merancang mesin pemoles kulit. Mesin ini
berfungsi untuk memoles kulit. Kulit yang digunakan adalah kulit yang telah
disamak untuk selanjutnya sebagai bahan pembuatan ikat pinggang dengan ukuran
bahan baku kulit yaitu lebar 50 mm dan panjang minimal 260 mm dalam satu kali
proses pemolesan.
        Langkah perancangan mesin pemoles ini dimulai dari (1) menentukan
service yang akan diberikan, (2) observasi yang dilakukan di daerah industri kulit,
(3) identifikasi kebutuhan, (4) perancangan komponen mesin (5) membuat gambar
rancangan mesin pemoles kulit secara lengkap.
        Berdasarkan hasil perancangan yang telah dilakukan, dihasilkan gambar
kerja yang berisi informasi antara lain: daftar bahan, dimensi, tanda pengerjaan,
dan angka kekasaran. Gambar kerja tersebut terdiri dari beberapa komponen
utama yaitu: rangka, poros, roda engkol, dan komponen penggerak pemoles yang
disajikan dalam lampiran. Mesin Pemoles Kulit memiliki spesifikasi yaitu tinggi
mesin 1039 mm, panjang mesin 587 mm, lebar mesin 212.5 mm, menggunakan
motor listrik 0,5 HP dengan putaran maksimal 1425 rpm. Sistem transmisi yang
digunakan menggunakan pulley dan sabuk-V. Pulley yang digunakan berukuran 2
inchi, 5 inchi dan 10 inchi. Sabuk-V pertama yaitu sabuk-V tipe A33 panjang 838
mm dan jarak sumbu poros 272 mm, sedangkan sabuk-V kedua menggunakan tipe
A47 panjang 1194 mm dan jarak sumbu poros 573 mm. Poros yang digunakan
untuk mentransmisikan daya dan putaran berukuran 30 mm dan 15 mm dengan
panjang 300 mm. Harga jual mesin yaitu Rp. 2.600.000,00



 Kata kunci : kulit, pemoles, kulit yang telah disamak




                                        vii
                            KATA PENGANTAR
       Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus, yang telah

melimpahkan     berkat.   Sehingga   laporan   Proyek   Akhir   dengan   judul

“PERANCANGAN MESIN PEMOLES KULIT“ dapat terselesaikan dengan

baik serta berjalan dengan lancar.

       Dalam penyusunan laporan proyek akhir ini tidak terlepas dari bantuan,

dorongan, arahan dan bimbingan dari berbagai pihak. Dengan ini penulis ingin

mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:

   1. Dr. Moch Bruri Triyono selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri

       Yogyakarta.

   2. Dr. Wagiran selaku Ketua Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Universitas

       Negeri Yogyakarta.

   3. Widarto, M.Pd selaku Dosen Pembimbing Proyek Akhir atas segala

       arahan dan bimbingannya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan

       ini.

   4. Nuchron, M.Pd selaku Dosen Pembimbing Akademik atas segala arahan

       dan bimbingannya selama masa studi di Universitas Negeri Yogyakarta.

   5. Tim Penguji Proyek Akhir, atas koreksi perbaikan dan sarannya.

   6. Seluruh Staf Pengajar, Karyawan dan Teknisi Bengkel Pemesinan,

       Fabrikasi dan Laboratorium.

   7. Bapak, Ibu serta semua Saudara atas do’a dan dorongan semangat

       sehingga dapat menyelesaikan Proyek Akhir ini.




                                      viii
   8. Rekan satu tim Proyek Akhir, yang selalu mampu bekerja sama demi

       terselesaikannya proyek akhir ini.

   9. Sahabat-sahabat angkatan 2005, atas konsultasi, dorongan, bantuan dan

       dukungannya.

   10. Semua pihak yang telah membantu, yang tidak dapat kami sebutkan satu-

       persatu.

   Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan proyek akhir ini masih

jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat

membangun demi kesempurnaan laporan ini sangat diharapkan. Semoga laporan

ini bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca semuanya.



                                             Yogyakarta,   April 2012

                                             Penyusun




                                        ix
                          DAFTAR ISI



JUDUL ……………………………………………………………………….                i
HALAMAN PERSETUJUAN ………………………………………………           ii
LEMBAR PENGESAHAN …………………………………………………           iii
PERNYATAAN KEASLIAN ………………………………………………          iv
MOTTO ...............…………………………………………………………….    v
PERSEMBAHAN ... …………………………………………………………. vi
ABSTRAK …………………………………………………………………... vii
KATA PENGANTAR ………………………………………………………. viii
DAFTAR ISI …………………………………………………………………             x
DAFTAR TABEL …………………………………………………………… xiv
DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………….. xv
DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………….... xvi
BAB I PENDAHULUAN
      A. Latar Belakang ………………………………………………….     1
      B. Identifikasi Masalah ……………………………………………  2
      C. Batasan Masalah ……………………………………………….     3
      D. Rumusan Masalah ……………………………………………..     3
      E. Tujuan …………………………………………………………           3
      F. Manfaat …………………………………………………………          4
      G. Keaslian Gagasan ………………………………………………     4

BAB II PENDEKATAN PEMECAHA MASALAH
        A. Kajian Singkat Produk …………………………………….......          6
        B. Tuntutan Alat Dari Sisi Calon Pengguna ………………………     7
        C. Analisis …………………………………………………………                      7
        D. Morfologi Alat ………………………………………………….                 10
        E. Gambaran Mesin ……………………………………………….                  14
           1. Gambaran Teknologi ……………………………………….              14
           2. Cara Kerja Mesin …………………………………………..              15
           3. Langkah Pengoprasian Mesin ………………………………          15
        F. Identifikasi Analisis Teknik yang Digunakan Dalam
           Perancangan ……………………………………………………                    16
           1. Teori Desain Perancangan ………………………………….          16
           2. Pemilihan Bahan ……………………………………………                17
           3. Motor Listrik ……………………………………………….                19
           4. Sabuk V …………………………………………………….                    19
           5. Poros ……………………………………………………….                     24


                               x
           6. Bantalan ……………………………………………………                                                                     27
           7. Analisis Ekonomi …………………………………………..                                                               28
BAB III KONSEP PERANCANGAN
        A. Diagram Alir Proses Perancangan …………………………….                                                         35
        B. Pernyataan Kebutuhan ………………………………………...                                                              42
        C. Analisis Kebutuhan …………………………………………….                                                                43
           1. Standar Penampilan ………………………………………..                                                              43
           2. Target Keunggulan Produk ………………………………..                                                           44
        D. Pertimbangan Perancangan …………………………………….                                                             44
           1. Pertimbangan Teknis ……………………………………….                                                              44
           2. Pertimbangan Ekonomi …………………………………….                                                              44
           3. Pertimbangan Ergonomis ………………………………….                                                             45
        E. Keterbatasan-Keterbatasan …………………………………….                                                            45
        F. Tuntutan Perancangan …………………………………………                                                                46
           1. Tuntutan Konstruksi ………………………………………..                                                             46
           2. Tuntutan Ekonomi ………………………………………….                                                                47
           3. Tuntutan Pemeliharaan dan Perawatan …………………….                                                     47
           4. Tuntutan Keselamatan ……………………………………..                                                             48
           5. Tuntutan Pengoperasian ……………………………………                                                             48
           6. Tuntutan Fungsi ……………………………………………                                                                 48
BAB IV PROSES, HASIL DAN PEMBAHASAN
        A. Proses Perancangan Mesin Pemoles Kulit                               ………………….                        50
        B. Kapasitas Mesin ………………………………………………..                                                                 52
        C. Perancangan Motor Listrik …………………………………….                                                            52
        D. Perancangan Sistem Transmisi …………………………………                                                           52
        E. Perancangan Ukuran Sabuk V ………………………………                                                              55
        F. Poros ............................................................................................   58
        G. Konstruksi Rangka ……………………………………………..                                                                64
        H. Roda Engkol …………………………………………………....                                                                  64
        I. Analisis Ekonomi……………………………………………….                                                                  65
        J. Hasil dan Pembahasan …………………………………………                                                                66
        K. Uji Kinerja ……………………………………………………..                                                                   68
        L. Kelebihan dan Kelemahan Mesin Pemoles Kulit                                       …………               68
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
        A. Kesimpulan …………………………………………………….                                                                     71
        B. Saran ……………………………………………………………                                                                        72
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………..                                                                          73
LAMPIRAN …………………………………………………………………                                                                              74




                                                         xi
                                         DAFTAR TABEL


Tabel 2.1 Tuntutan perancangan Mesin Pemoles Kulit ……………………                                              9
Tabel 2.2 Matriks morfologi Mesin Pemoles Kulit ………………………..                                             11
Tabel 2.3. Spesifikasi Mesin Pemoles Kulit ……………………………….                                                13
Tabel 2.4. Penggolongan bahan poros ..............................................................      25
Tabel 4.1. Penentuan harga mesin ....................................................................   65




                                                    xii
                                     DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Mesin Pemoles Kulit ……………………………………….......                                              14
Gambar 2.2. Klasifikasi bahan teknik ............................................................   17
Gambar 2.3. Penampang sabuk-V ...................................................................   20
Gambar 3.1. Diagram alir proses perancangan menurut Pahl dan Beitz …… .                             36
Gambar 3.2. Elemen dasar dalam perencanaan simultan .................................               37
Gambar 3.3. Langkah-langkah perancangan produk .....................................                41
Gambar 4.1. Diagram alir proses perancangan Mesin Pemoles Kulit .............                       50
Gambar 4.2. Sistem transmisi Mesin Pemoles Kulit ……………………….                                         53
Gambar 4.3. Diagram alir perencanaan sabuk-V ...... .......................................         55
Gambar 4.4. Gambar sket transmisi …………………………………………                                                  56
Gambar 4.5. Ilustrasi gaya yang bekerja pada poros atas akibat adanya
            sabuk V kedua ………………………………………………..                                                      60
Gambar 4.6. Ilustrasi gaya yang bekerja pada poros atas akibat adanya
            roda engkol …………………………………………………..                                                       60
Gambar 4.7. Pembebanan pada poros atas …………………………………                                                60
Gambar 4.8. Roda engkol Mesin Pemoles Kulit .............................................           65




                                                  xiii
                                     DAFTAR LAMPIRAN


Lampiran 1. Gambar kerja Mesin Pemoles Kulit …………...………….…..... 75
Lampiran 2. Tabel baja konstruksi umum menurut DIN 17100 ................... 99
Lampiran 3. Faktor-faktor koreksi daya yang akan ditransmisikan ............. 100
Lampiran 4. Faktor koreksi transmisi sabuk V .............................................. 101
Lampiran 5. Faktor koreksi K θ ....................................................................... 102
Lampiran 6. Daerah penyetelan jarak sumbu poros .......................................              103
Lampiran 7. Panjang sabuk-V standart ..........................................................      104
Lampiran 8. Harga kekerasan dan angka kelas kekasaran ...........................                    105
Lampiran 9. Suaian untuk tujuan-tujuan umum sistem lubang dasar                        ........      106
Lampiran 10. Lambang-lambang dari diagram aliran ....................................                107
Lampiran 11. Foto Mesin Pemoles Kulit .........................................................      108
Lampiran 12. Kartu bimbingan Proyek Akhir .................................................          109
Lampiran 13. Rekap daftar hadir praktek mengerjakan Proyek Akhir .......... ..                       110




                                                  xiv
                                    BAB I

                                 PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
          Saat ini kemajuan teknologi dalam dunia industri semakin pesat dan

   canggih. Untuk memperlancar suatu proses produksi guna meningkatkan

   produktifitas di dalam dunia industri, sering diperlukan suatu alat bantu

   berupa mesin/alat produksi.

          Setelah penulis melakukan pengamatan pada dunia industri, khususnya

   industri kecil kerajinan kulit di wilayah Yogyakarta, didapatkan bahwa

   industri kulit di Yogyakarta ini memiliki prospek yang baik. Industri kulit

   menghasilkan bermacam-macam produk, seperti sepatu, tas, jaket, dan ikat

   pinggang, Dalam pembuatan ikat pinggang pengrajin masih menggunakan

   metode tradisional, terutama dalam proses pemolesannya. Alat-alat yang

   digunakan   mayoritas   masih    menggunakan   sistem   manual      dengan

   menggunakan tenaga manusia dalam pemolesannya.

          Penggunaan tenaga manusia sebagai sumber tenaga pemoles membuat

   waktu yang dibutuhkan menjadi relatif lama. Sehingga kapasitas produksi

   tidak dapat mencapai hasil yang maksimal. Untuk menghasilkan produk dalam

   jumlah yang banyak untuk memenuhi pesanan, penggunaan tenaga manusia

   tersebut masih kurang memenuhi kualitas maupun kuantitas produksi dalam

   memenuhi kebutuhan konsumen.

          Penulis mencoba merancang mesin pemoles kulit yang nantinya

   diharapkan akan dapat mempermudah dan mempercepat proses produksi ikat



                                      1
                                                                             2




   pinggang. Dengan adanya mesin ini diharapkan mampu meningkatkan hasil

   produksi baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

          Mesin yang dibuat ini terdiri dari beberapa komponen yang mendasar

   yaitu : rangka sebagai penyangga mesin, motor listrik sebagai sumber tenaga,

   transmisi pulley yang telah ditentukan perbandingannya, roda engkol yang

   berfungsi sebagai pengubah gerakan berputar menjadi gerakan maju-mundur

   secara resiprokal, dan lengan ayun yang berfungsi untuk menggerakkan

   pemoles. Dikarenakan putaran pada sabuk-V dan pulley masih terbilang

   kencang, maka diperlukan penutup/kesing untuk sabuk-V dan pulley.



B. Identifikasi Masalah

          Berdasarkan latar belakang masalah yang ada, dapat diidentifikasi

   beberapa masalah. Adapun masalah-masalah tersebut:

   1. Bagaimana perancangan rangka utama pada mesin pemoles kulit?

   2. Bagaimana perancangan transmisi untuk mesin pemoles kulit?

   3. Bagaimana perancangan rumah pemoles, lengan ayun dan roda engkol?

   4. Bagaimana perancangan meja untuk tempat kulit diletakkan?

   5. Bagaimana proses dan urutan pembuatan rangka utama pada mesin

      pemoles kulit?

   6. Bagaimana proses dan urutan pembuatan poros transmisi pada mesin

      pemoles kulit?

   7. Bagaimana proses dan urutan pembuatan rumah pemoles, roda engkol dan

      lengan ayun?
                                                                           3




   8. Bagaimana proses dan urutan pembuatan penutup sabuk-V dan pulley

      pada mesin pemoles kulit?

   9. Bagaimana proses pengujian mesin pemoles kulit untuk mengetahui

      kinerja dari alat/mesin?



C. Batasan Masalah

          Dengan memperhatikan beberapa permasalahan di atas, maka masalah

   akan dibatasi pada desain transmisi dan ukuran untuk sabuk-V, menentukan

   diameter poros transmisi dan harga jual mesin pemoles kulit. Pembatasan

   masalah ini dimaksudkan agar pembahasannya lebih rinci dan terfokus.



D. Rumusan Masalah

          Berdasarkan batasan-batasan masalah yang ada, maka rumusan

   masalah yang dapat diambil dari perancangan mesin pemoles kulit adalah

   sebagai berikut :

   1. Bagaimanakah desain transmisi dan ukuran sabuk-V mesin pemoles kulit?

   2. Berapakah diameter poros transmisi pada mesin pemoles kulit?

   3. Berapakah harga jual mesin pemoles kulit?



E. Tujuan

   1. Menentukan desain transmisi dan ukuran sabuk-V mesin pemoles kulit

   2. Menentukan diameter poros yang dipakai pada mesin pemoles kulit.

   3. Menentukan harga jual mesin pemoles kulit.
                                                                             4




F. Manfaat

          Manfaat yang dapat diperoleh dari laporan proses pembuatan mesin

   pemoles kulit ini antara lain:

   1. Manfaat bagi mahasiswa

      a. Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Ahli Madya (D3) Teknik

          Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.

      b. Dapat menerapkan ilmu yang telah diterima di bangku kuliah ke dalam

          bentuk praktik langsung pembuatan suatu alat.

      c. Meningkatkan daya kreativitas, inovasi, dan keahlian.

      d. Menambah pengetahuan tentang cara merancang dan menciptakan

          suatu karya teknologi.

      e. Meningkatkan kedisiplinan dan kerjasama antar mahasiswa.


   2. Manfaat bagi lembaga pendidikan

      a. Menambah pembendaharaan alat yang sudah ada.

      b. Sebagai bahan kajian untuk mengembangkan teknologi yang lebih

          maju dan berdaya guna.



G. Keaslian Gagasan

             Mesin pemoles kulit sebenarnya sudah ada di pasaran tetapi penulis

      mencoba merancang mesin pemoles kulit yang lebih efisien untuk

      memoles kulit dan disesuaikan dengan kebutuhan. Modifikasi yang

      dilakukan pada bagian bentuk dan bahan konstruksi rangka maupun bagian

      lain yang digunakan. Mesin yang telah ada mempunyai bentuk dan bahan
                                                                     5




yang dibuat dengan cara pengecoran. Mesin pemoles kulit yang dibuat ini

memiliki bahan dan konstruksi rangka dengan bahan plat sehingga lebih

praktis dan mudah untuk dipindah. Selain itu, penulis juga ingin

meminimalkan biaya pembuatan mesin pemoles kulit sehingga nantinya

harga jual mesin pemoles ini tidak terlalu mahal.
                                      BAB II

                PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH



A. Kajian Singkat Produk

          Mesin pemoles kulit adalah alat yang digunakan untuk memoles kulit,

   pada proses finishing pembuatan ikat pinggang. Mesin pemoles kulit ini

   mempunyai sistem transmisi berupa 4 buah pulley yang terhubung dengan

   sabuk/belt dan poros yang menghubungkan antar tingkatan juga sebuah roda

   engkol. Gerak putar dari motor listrik dengan pulley I ditransmisikan ke pulley

   II, kemudian dari pulley II ditransmisikan ke pulley III dengan menggunakan

   poros. Putaran dari pulley III ditransmisikan ke pulley IV dengan sabuk-V,

   putaran pada pulley IV ditransmisikan ke roda engkol dengan menggunakan

   poros. Roda engkol ini berfungsi untuk mengubah putaran dari rotasi menjadi

   bolak-balik. Roda engkol ini disambungkan dengan plat yang di ujungnya

   terdapat pemoles yang akan bergerak bolak-balik. Bila motor listrik

   dihidupkan dengan cara menekan tombol on/off, maka poros akan berputar

   kemudian putaran ditransmisikan oleh belt untuk menggerakkan roda engkol

   sehingga pemoles dapat bergerak maju-mundur untuk memoles kulit yang

   telah disiapkan di meja pemoles.

          Mesin ini mempunyai kecepatan putaran pada roda engkol sebesar 114

   rpm. Sehingga gerakan pada pemoles yaitu 1,9 kali gerakan maju-mundur

   selama satu detik.




                                        6
                                                                                7




B. Tuntutan Mesin dari Sisi Calon Pengguna

           Di kalangan industri kecil pengrajin kulit, terdapat berbagai macam

   bentuk alat untuk memoles kulit. Sistem kerja alat-alat tersebut banyak yang

   menggunakan tenaga manual. Proses kerja dengan menggunakan alat yang

   demikian membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga. Proses pemolesan ini

   dapat lebih efisien apabila menggunakan tenaga penggerak berupa motor

   listrik. Apabila menggunakan penggerak berupa motor listrik, mesin akan

   dapat bekerja secara kontinyu dan waktu yang dibutuhkan dapat lebih cepat.

           Adapun tuntutan-tuntutan yang diharapkan dari mesin tersebut antara

   lain:

   1. Ukuran mesin yang tidak terlalu besar;

   2. Memiliki fungsi lebih dari mesin yang sudah ada di pasaran;

   3. Mudah dalam penggunaan dan perawatannya.

   4. Dapat diaturnya meja pemoles sehingga tekanan pada saat pemolesan

       dapat diatur.



C. Analisis

           Mesin pemoles kulit merupakan alat yang digunakan untuk memoles

   kulit. Mesin ini diharapkan mampu bekerja secara optimal dan dapat

   meningkatakan efisiensi pemolesan kulit. Mesin pemoles ini mempunyai

   sumber tenaga berupa motor listrik yang memiliki daya 250 watt dan putaran

   1425 rpm dan menggunakan sistem transmisi belt dan roda engkol. Transmisi

   belt berfungsi untuk memindahkan putaran dan mereduksi putaran agar
                                                                            8




kecepatannya dapat lebih kecil. Pemoles dapat bergerak maju-mundur yang

dihubungkan dari roda engkol oleh lengan ayun. Meja pemoles dapat diatur

tingkat tekanannya terhadap pemoles dengan menginjak pedal yang terhubung

dengan mekanisme pegas.

       Secara garis besar pertimbangan dalam merancang mesin pemoles

tersebut berdasarkan pada:

1. Secara teknis alat harus dapat dipertanggungjawabkan, dalam hal ini

   meliputi:

   a. ukuran alat/mesin tidak terlalu besar sehingga memungkinkan untuk

       dipindah;

   b. alat/mesin mudah dioperasikan dan mudah dalam perawatan dan

       perbaikannya;

   c. konstruksi alat/mesin harus mampu bekerja sesuai dengan fungsi

       utama alat/mesin.

2. Secara ekonomi menguntungkan (ekonomis), hal ini terakait dengan:

   a. daya motor relatif kecil sehingga dapat menekan penggunaan listrik;

   b. penggunaan mesin ini dapat menyingkat waktu produksi sehingga

       proses produksi kulit polesan dapat lebih optimal.

3. Secara sosial dapat diterima oleh masyarakat (pengguna), hal ini berkaitan

   dengan:

   a. mesin pemoles kulit ini merupakan hasil pengembangan dari alat yang

       mulanya berukuran besar dan mahal kini menjadi relatif lebih kecil dan

       murah, sehingga nantinya mesin ini mampu diterima oleh masyarakat
                                                                                      9




             untuk menggantikan alat/mesin yang telah ada tanpa mengubah fungsi

             utama dari alat yang terdahulu;

         b. mesin ini juga harus memiliki konstruksi yang benar-benar aman

             digunakan, sehingga tidak membahayakan pengguna dan lingkungan

             di sekitarnya.

             Berdasarkan hal-hal di atas maka spesifikasi yang dibuat harus

      memiliki persyaratan yang terdiri dari dua kategori yaitu keharusan dan

      keinginan. Berikut ini adalah daftar spesifikasi dari alat yang dimaksud :

       Tabel 2.1. Tuntutan perancangan Mesin Pemoles Kulit

           Tuntutan                                                                 Tingkat
No.                                               Persyaratan
          Perancangan                                                              Kebutuhan
1.       KINEMATIKA           Mekanismenya mudah beroperasi                            D
                              1. Lebar sekitar 250 mm                                 D
                              2. Panjang sekitar 587 mm                               D
2.        GEOMETRI
                              3. Tinggi bekisar 989 mm                                D
                              4. Dimensi dapat diperkecil                             W
                              1. Menggunakan tenaga motor                             D
3.          ENERGI
                              2. Dapat diganti tesnaga penggerak lain                 W
                              1. Mudah didapat                                        D
                              2. Murah harganya                                       D
                              3. Baik mutunya                                         W
4.        MATERIAL
                              4. Tahan terhadap korosi                                D
                              5. Memiliki umur pakai yang panjang                     D
                              6. Mempunyai kekuatan yang baik                         D
                              1. Nyaman dalam penggunaan                              D
5.        ERGONOMI            2. Tidak bising                                         D
                              3. Mudah dioperasikan                                   D
                              1. Petunjuk pengoperasian mudah dimengerti              D
6.          SINYAL
                              2. Petunjuk pengoperasian dalam bahasa Indonesia        D
7.      KESELAMATAN           1. Konstruksi harus kokoh                               D
                                                                             10




                          2. Bagian transmisi harus terlindungi                D
                          3. Tidak menimbulkan polusi                         W
                          1. Dapat diproduksi bengkel kecil                    D
8.        PRODUKSI        2. Biaya produksi relatif rendah                    W
                          3. Dapat dikembangkan kembali                       W
                          1. Biaya perawatan murah                             D
                          2. Suku cadang mudah didapat                         D
9.       PERAWATAN
                          3. Perawatan mudah dilakukan                         D
                          4. Perawatan secara berkala                         W
                          1. Mudah dipindahkan                                 D
10.       MOBILITAS
                          2. Tidak perlu alat khusus untuk memindah            D


      Keterangan :


      1. Keharusan (Demands) disingkat D, yaitu syarat mutlak yang harus

         dimiliki mesin bila tidak terpenuhi maka mesin tidak diterima.

      2. Keinginan (Wishes) disingkat W, yaitu syarat yang masih bisa

         dipertimbangkan keberadaanya agar jika mungkin dapat dimiliki oleh

         mesin yang dimaksud.



D. Morfologis Alat

             Berdasarkan analisis mesin di atas maka jelas bahwa mesin yang akan

      dirancang adalah mesin yang akan digunakan untuk memoles kulit yang dapat

      bekerja secara kontinyu dan dapat memoles kulit dengan kekuatan yang

      berbeda. Sehingga mampu untuk mengoptimalkan proses pemolesan kulit.

      Mengacu pada proses diatas, maka secara fungsional alat ini memiliki

      komponen sebagai berikut :

      1. Profil rangka mesin
                                                                                    11




2. Penggerak

3. Sistem transmisi

4. Pengubah arah gerakan

5. Meja pemoles


       Berdasarkan data di atas maka didapat gambaran komponen yang akan

membentuk mesin pemoles kulit yang sedang dirancang. Dengan demikian

maka dapat disusun suatu skema klasifikasi yang disebut matriks morfologi,

dan lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.2 dibawah ini :


Tabel 2.2. Matriks morfologi Mesin Pemoles Kulit

             Sub                           Varian yang mungkin
 No.
         Komponen                1                    2                     3



        Profil rangka
  1.
            mesin

                               (pipa)            (profil L)            (profil U)



  2.
          Penggerak

                           (Motor torak)       (Engkol manual)       (Motor listrik)


            Sistem
  3.
           transmisi
                              (Pulley)        (Roda gigi payung)   (R.gigi lurus)
                                                                           12




         Pengubah
4.
        arah gerakan


                         (plat eyser)         (Pulley dan plat)




           Meja
5.
          pemoles


                           (dengan pijakan)   (tanpa pijakan)


        Berdasarkan tabel matriks morfologi mesin pemoles kulit yang

terpilih adalah sebagai berikut:

1. Profil rangka dipilih varian kedua yaitu profil L (besi siku) kerena selain

     lebih ringan, besi profil L mudah untuk dirangkai pada saat pembuatan

     rangka mesin.

2. Penggerak utama dipilih varian ketiga yaitu motor listrik ½Pk dengan

     putaran 1425 rpm.

3. Sistem transmisi yang dipilih yaitu pulley dengan sabuk-V. Penggunaan

     sabuk-V untuk menghubungkan dua pulley yang berdiameter berbeda

     dimaksudkan untuk merubah kecepatan putaran pulley.

4. Pengubah gerakan putaran yang digunakan dengan menggunakan model

     roda engkol sehingga arah putaran dapat diubah menjadi gerakan maju

     mundur secara resiprokal.
                                                                                  13




      5. Meja pemoles dipilih dengan bentuk dan diberikan pir sehingga meja

          dapat dinaikkan dan diturunkan dengan pedal.


              Dari hasil pemilihan varian di atas untuk rangka siku dipilih dengan

      ukuran 40x40x4 mm. Pulley yang digunakan sebanyak empat buah dengan

      diameter 2 inchi untuk pulley pertama, 2 inchi dan 5 inchi untuk pulley

      kedua dan ketiga, dan diameter 10 inchi untuk pulley keempat. Data lebih

      lengkap lihat Tabel 2.3.

     Tabel 2.3. Spesifikasi Mesin Pemoles Kulit


No.       Nama Bagian            Ukuran            Bahan            Keterangan

1.      Motor listrik              -                  -             250 watt
                                                                    1425 rpm
2.      Bantalan            Ø 12 mm                   -             3 buah
                            Ø 15 mm                                 2 buah
                            Ø 30 mm                                 2 buah
3.      Pulley              Ø 2 inch                                2 buah
                            Ø 5 inch              Aluminium         1 buah
                            Ø 10 inch                               1 buah
4.      Kerangka mesin      587x212.5x                              Profil siku
                            1039mm                                  4x4x4mm
5.      Poros transmisi     Ø 15 mm                 ST 37                 -
        bawah
6.      Poros transmisi     Ø 30 mm                 ST 37                 -
        bawah
7.      Poros pijakan       Ø 19 mm                 ST 37                 -
        tumpuan
8.      Roda engkol         Ø 250 mm          eyser tebal 10 mm           -
                                                                                    14




9.     Lengan ayun               500 x 37 x          Plat eyser
                                 3.5 mm
10.    Lengan penggerak          402 x 37 x          Plat eyser
                                 3.5
11.    Sabuk-V                   A 33                  Karet               Tipe A
                                 A 47
12.    Casing                           -      Plat eyser tebal 0.8 mm          -
13.    Meja Pemoles                            Plat eyser tebal 3.5 mm



E. Gambaran Mesin

     1. Gambaran Teknologi

                                                                            2


                1


                                                                    3

                                                                       4
                        6
                    7                                              5
                    8
                    9



                10
                11
                    12                              14
                            13
                              Gambar 2.1. Mesin pemoles kulit
                                     Keterangan gambar
                        1. Rangka mesin               8. Poros tengah
                        2. Lengan                     9. Roda engkol
                        3. Lengan Ayun                10. Pulley 2 in
                        4. Pemegang pemoles           11. Poros bawah
                        5. Meja pemoles               12. Pulley 5 in
                        6. Pulley 10 in               13. Casing pulley
                        7. Casing pulley              14. Motor listrik
                                                                        15




2. Cara Kerja Mesin

        Cara kerja mesin pemoles kulit ini adalah ketika motor dinyalakan

   maka mesin akan mulai bekerja. Motor listrik dengan pulley I berdiameter

   2 inchi berputar dan akan diteruskan menggunakan sabuk-V ke pulley II

   dengan ukuran 5 inch, kemudian putaran pada pulley ini akan memutar

   juga pulley III yang saling terhubung dengan poros. Putaran pada pulley

   III akan diteruskan ke pulley IV dengan sambungan berupa sabuk-V.

   Kemudian putaran pulley IV ini diteruskan ke roda engkol dengan

   perantara sebuah poros. Roda engkol disini berguna untuk mengubah

   putaran dari berputar menjadi gerakan bolak-balik untuk menggerakkan

   lengan pemoles.

3. Langkah Pengoperasian Mesin

        Langkah-langkah pengoperasian mesin pemoles kulit ini adalah

   sebagai berikut:

   a. Siapkan bahan baku kulit      yang sudah diolah sebelumnya agar

      memiliki tingkat kelenturan yang sesuai dengan kebutuhan.

   b. Letakan kulit pada pemegang kulit di tumpuannya.

   c. Hidupkan motor listrik dengan menekan tombol ON pada saklar

      mesin.

   d. Ketika mesin hidup, maka lengan ayun akan bergerak secara resiprokal

      dengan kecepatan 2 gerakan bolak balik selama satu detik.

   e. Penekanan pada kulit dapat dilakukan dengan cara menginjak pedal

      pada tumpuan.
                                                                           16




      f. Setelah proses pemolesan selesai, matikan mesin dan ambil kulit dari

         pemegangnya.

F. Identifikasi Analisis Teknik yang Digunakan dalam Perancangan

   1. Teori Desain Perancangan

           Perancangan adalah kegiatan awal dari suatu rangkaian dalam proses

      pembuatan produk. Tahap perancangan tersebut dibuat keputusan-

      keputusan penting yang mempengaruhi kegiatan-kegiatan lain yang

      menyusulnya (Dharmawan, 1999: 1). Sehingga sebelum sebuah produk

      dibuat terlebih dahulu dilakukan proses perancangan yang nantinya

      menghasilkan sebuah gambar skets atau gambar sederhana dari produk

      yang akan dibuat. Gambar skets yang talah dibuat kemudian digambar

      kembali dengan aturan gambar sehingga dapat dimengerti oleh semua

      orang yang ikut terlibat dalam proses pembuatan produk tersebut. Gambar

      hasil perancangan adalah hasil akhir dari proses perancangan dan sebuah

      produk dibuat setelah dibuat gambar-gambar rancangannya dalam hal ini

      gambar kerja.

           Perancangan dan pembuatan produk adalah dua kegiatan manunggal,

      artinya rancangan hasil kerja perancang tidak ada gunanya jika rancangan

      tersebut tidak dibuat. Sebaliknya pembuat tidak dapat merealisasikan

      benda teknik tanpa terlebih dahulu dibuat gambar rancangannya

      (Dharmawan, 1999:2). Mengenai gambar rancangan yang akan dikerjakan

      oleh pihak produksi berupa gambar dua dimensi yang dicetak pada kertas

      dengan aturan dan standar gambar kerja yang ada.
                                                                              17




   2. Pemilihan Bahan

             Perancangan suatu elemen mesin mempunyai beberapa aspek yang

       harus diperhatikan. Salah satu aspek tersebut adalah pemilihan jenis bahan

       teknik yang akan digunakan. Pemilihan bahan untuk elemen atau

       komponen sangat berpengaruh terhadap kekuatan elemen tersebut.

             Penentuan bahan yang tepat pada dasarnya merupakan kompromi

     antara berbagai sifat, lingkungan dan cara penggunaan sampai dimana sifat

     bahan dapat memenuhi persyaratan yang telah ditentukan (Amstead,

     1995:15).

     Klasifikasi bahan teknik terlihat seperti di bawah :




                       Gambar 2.2. Klasifikasi bahan teknik

     Pemilihan suatu bahan teknik mempunyai beberapa aspek yang benar-benar

memerlukan peninjauan yang cukup teliti menurut Amstead (1995:15).

Peninjauan tersebut antara lain :

           1) Pertimbangan bahan meliputi :

                 a) Kekuatan

                 b) Kekerasan
                                        18




    c) Elastisitas

    d) Keuletan

    e) Daya tahan terhadap korosi

    f) Daya tahan fatique

    g) Daya tahan terhadap panas

    h) Muai panas

    i) Sifat kelistrikan

    j) Berat jenis

    k) Sifat kemagnetan

2) Pertimbangan Ekonomi, meliputi :

    a) Ketersediaan barang

    b) Waktu pengerjaan

    c) Biaya pengerjaan

    d) Biaya sambung

    e) Biaya pemesinan

    f) Harga bahan

3) Pertimbangan Fabrikasi, meliputi :

    a) Mampu cetak

    b) Mampu mesin

    c) Mampu tempa

    d) Mampu tuang

    e) Kemudahan las

    f) Perlakuan panas
3. Motor Listrik

   Motor listrik merupakan suatu peralatan listrik yang berfungsi mengubah

   energi listrik menjadi energi mekanis (Berahim, 1994: 3). Berdasarkan

   input arus, motor listrik dibagi menjadi dua jenis yaitu motor arus searah

   (DC) dan motor arus bolak-balik (AC).

        Jenis motor listrik yang digunakan pada mesin pemoles kulit ini

   yaitu motor listrik jenis motor induksi satu fasa. Konstruksi dari motor

   induksi terdiri dari stator merupakan bagian motor yang diam, rotor

   merupakan bagian motor yang berputar, celah udara merupakan ruangan

   antara stator dan rotor (Berahim, 1994:121).

4. Sabuk-V

        Sabuk-V merupakan sabuk yang tidak berujung dan diperkuat

   dengan penguat tenunan dan tali. Sabuk-V terbuat dari karet dan bentuk

   penampangnya berupa trapesium. Bahan yang digunakan untuk membuat

   inti sabuk itu sendiri adalah terbuat dari tenunan tetoron.

        Penampang pulley yang digunakan berpasangan dengan sabuk juga

   harus berpenampang trapesium. Pulley merupakan elemen penerus putaran

   yang diputar oleh sabuk penggerak.

        Bagian sabuk yang sedang membelit pada pulley mengalami

   lengkungan sehingga lebar bagian dalamnya akan bertambah besar

   (Sularso, 2002:163). Gaya gesekan yang terjadi juga bertambah karena

   bentuk bajinya yang akan menghasilkan transmisi daya yang besar pada

   tegangan yang relatif rendah.
                                                                     20




     Adapun bentuk konstruksi macam-macam penampang sabuk-V yang

umum dipakai terlihat pada Gambar 2.3.




                    Gambar 2.3. Penampang sabuk-V

                           (Sularso 2002: 164)

Pemilihan penampang sabuk-V yang cocok ditentukan atas dasar daya

rencana dan putaran poros penggerak. Daya rencananya sendiri dapat

diketahui dengan mengalihkan daya yang akan diteruskan dengan faktor

koreksi yang ada. Lazimnya sabuk tipe-V dinyatakan panjang kelilingnya

dalam ukuran inchi. Jarak antar sumbu poros harus sebesar 1,5 sampai dua

kali diameter pulley besar (Sularso, 2002:166).

     Sudut lilit atau sudut kontak θ dari sabuk pada alur pulley

penggerak harus diusahakan sebesar mungkin untuk mengurangi selip

antara sabuk dan pulley dan memperbesar panjang kontaknya.

     Transmisi sabuk dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu sabuk

rata, sabuk dengan penampang trapesium, dan sabuk dengan gigi.

Sebagian   besar ransmisi sabuk menggunakan sabuk-V karena mudah

pemakaiannya dan harganya yang murah. Kelemahan dari sabuk-V yaitu

transmisi sabuk dapat memungkinkan untuk terjadinya slip. Oleh karena
                                                                                                    21




itu, maka perencanaan sabuk-V perlu dilakukan untuk memperhitungkan

jenis sabuk yang digunakan dan panjang sabuk yang akan digunakan.

        Perhitungan yang digunakan dalam                      perancangan sabuk-V antara

lain:

a. Daya rencana (P d )

    Pd = f c x P         (Sularso, 2002:7) ................................................. (1)

    Keterangan:

    P = daya (kW).

    P d = daya rencana (kW).

b. Momen rencana (T 1 ,T 2 )

                               Pd
    T1 = 9,74 × 10 5 × (          ) (kg.mm)        (Sularso, 2002:7) ................... (2)
                               n1

                              Pd
    T2 = 9,74 × 10 5 × (         ) (kg.mm)         (Sularso, 2002:7) ................... (3)
                              n2

    Keterangan:

    P d = daya rencana (kW).

    n 1 = putaran poros penggerak (rpm).

    n 2 = putaran poros yang digerakkan (rpm).

c. Tegangan geser yang dizinkan ( τ a )

                σB
    τa =                     (Sularso, 2002:8) .............................................. (4)
           ( Sf 1 × Sf 2 )

    Keterangan :

    σ B = tegangan tarik (kg/mm2).

    Sf 1 = faktor keamanan.
                                                                                                          22




    Sf 2 = faktor pengaruh alur pasak.

d. Diameter lingkaran jarak bagi pulley (d p ,D p )

    D p = d p × i ................................................................................. (5)

    Keterangan:

    d p = diameter jarak bagi pulley kecil (mm).

    D p = diameter jarak bagi pulley besar (mm).

    i    = perbandingan putaran.

e. Diameter luar pulley (d k ,D k )

    d k = d p + 2 × 4,5          (Sularso, 2002:177) ...................................... (6)

    D k = D p + 2 × 4,5          (Sularso, 2002:177) ...................................... (7)

         5
    d B = d s1 + 10              (Sularso, 2002:177) .................................... (8)
         3

         5
    D B = d s2 + 10              (Sularso, 2002:177) .................................... (9)
         3

    Keterangan:

    d k = diameter luar pulley kecil (mm).

    D k = diameter luar pulley besar (mm).

    d B = diameter naf pulley kecil (mm).

    D B = diameter naf pulley besar (mm).

f. Kecepatan sabuk (v)

             d p n1
    v=                   (Sularso, 2002:166) ............................................. (10)
         60 × 1000

    Keterangan:

    V = kecepatan pulley (m/s).
                                                                                                      23




   d p = diameter pulley kecil (mm).

   n 1 = putaran pulley kecil (rpm).

g. Putaran sabuk < putaran poros, baik.

         d k + Dk
h. C −            >0            (Sularso, 2002:177) .................................... (11)
             2

   Keterangan:

   C = jarak sumbu poros (mm).

i. Panjang keliling (L)

                 π
    L = 2C +       (Dp + d p ) + 1 (Dp − d p )2              (Sularso, 2002:170) .... (12)
                 2              4C

j. Nomor nominal sabuk-V: No.13-168

k. Jarak sumbu poros (C)

    b = 2L − 3,14(D p + d p ) ................................................................ (13)


          b + b 2 − 8(D p − d p )
                                     2

    C=                                   (mm) (Sularso, 2002:170) ................ (14)
                       8

l. Sudut kontak ( θ )

                   57( D p − d p )
   θ = 180 −
                    C             (Sularso, 2002:173) ......................... (15)
    faktor koreksi (kθ ) = 0,99 



m. Jumlah sabuk (N)

            Pd
    N=                  (Sularso, 2002:173) .............................................. (16)
          Po .Kθ

   Keterangan:

   P d = daya rencana (kW).
   P o = daya yang ditransmisikan sabuk (kW).
   Kθ = faktor koreksi.
                                                                            24




5. Poros

           Poros merupakan salah satu bagian yang terpenting dari setiap

   mesin. Hampir semua mesin meneruskan tenaga bersama-sama dengan

   putaran utama dalam transmisi (Zainun, 1999:110). Adapun hal-hal

   penting yang perlu diperhatikan dalam perencanaan sebuah poros, yaitu:

   1) Kekuatan poros

             Poros transmisi mengalami beban puntir atau lentur maka

       kekuatannya harus direncanakan sebelumnya agar cukup kuat dan

       mampu menahan beban.

   2) Kekakuan poros

             Lenturan   yang   dialami   poros   terlalu   besar   maka   akan

       menyebabkan ketidaktelitian atau getaran dan suara. Oleh karena itu

       kekakuan poros juga perlu diperhatikan dan disesuaikan dengan

       mesin.

   3) Putaran kritis

             Putaran kerja poros haruslah lebih rendah dari putaran kritisnya

       demi keamanan karena getarannya sangat besar akan terjadi apabila

       putaran poros dinaikkan pada milai putaran kritisnya.

   4) Korosi

             Poros-poros yang sering berhenti lama maka perlu dipilih poros

       yang terbuat dari bahan yang tahan korosi dan perlu untuk

       dilakukannya perlindungan terhadap korosi secara berkala.
                                                                                        25




5) Bahan poros

       Poros yang biasa digunakan pada mesin adalah baja dengan kadar

    karbon yang bervariasi. Adapun penggolongannya dapat dilihat pada

    Tabel 2.4.

                    Tabel 2.4. Penggolongan bahan poros

                         Golongan                  Kadar C (%)

                    Baja lunak                          -0,15

                    Baja liat                         0,2-0,3

                    Baja agak keras                   0,3-0,5

                    Baja keras                        0,5-0,8

                    Baja sangat keras                 0,8-1,2

                                               (Sularso, 2002: 4).

     Poros yang umumnya meneruskan daya melalui sabuk, roda gigi, dan

rantai akan mendapatkan beban puntir dan lentur sehingga pada

permukaan poros akan mengalami tegangan geser (Sularso 2002: 17).

Perhitungan yang digunakan dalam merancang poros utama yang

mengalami beban puntir dan beban lentur antara lain:

a. Menghitung daya rencana

    Pd = f c .P (kW )           (Sularso, 2002:7) .............................. (17)

   Keterangan:

   P d = daya rencana (kW).
   f c = faktor koreksi.
   P = daya nominal (kW).
                                                                                                   26




b.Menghitung momen yang terjadi pada poros

                       Pd
    T = 9,74 × 105                         (Sularso, 2002:7) .............................. (18)
                       n1

   Keterangan:

   T = momen rencana (kg.mm).
   n 1 = putaran poros (rpm).

c. Mencari tegangan geser pada poros

        16T
   τ=             (G. Niemann H. Winter, 1990: 45)…....................... (19)
        πd 3
   τ           = tegangan geser (kg/mm2).
   T           = momen rencana (kg.mm).
   d           = diameter poros. (mm)

d.Mencari tegangan geser yang diizinkan

    τ a = σ B (Sf1 × Sf 2 )                (Sularso, 2002:8) .............................. (20)

   Keterangan:

   τa         = tegangan geser yang diizinkan (kg/mm2).
   σB         = kekuatan tarik (kg/mm2).
   Sf 1, Sf 2 = faktor keamanan.



e. Mencari tegangan yang terjadi pada poros

            (
   τ max = 5,1 d s 3   )    (K m M )
                                       2
                                           + (K t T )
                                                        2
                                                            (Sularso, 2002:7) ............ (21)

   Keterangan:

   τ max   = tegangan geser maksimal (kg/mm2).
   ds      = diameter poros (mm).
   Km      = faktor koreksi momen lentur.
   M       = momen lentur (kg.mm).
   Kt      = faktor koreksi momen puntir.
   T       = momen puntir (kg.mm).
                                                                                                27




      Faktor koreksi momen lentur mempunyai ketentuan yaitu untuk poros

      yang berputar dengan pembebanan momen lentur tetap, besarnya

      faktor K m = 1,5. Poros dengan tumbukan ringan K m terletak antara 1,5

      dam 2,0, dan untuk beban dengan tumbukan berat K m terletak antara 2

      dan 3 (Sularso 2002: 17).

   f. Menentukan diameter poros

                                              1
             5,1                                3
       ds ≥        (K m M ) + (K t T ) 
                            2             2
                                                      (Sularso, 2002:18) ............... (22)
             τa                        

      Keterangan:

      Km = faktor koreksi momen lentur.
      M = momen lentur (kg.mm).
      Kt = faktor koreksi momen puntir.
      T = momen puntir (kg.mm).

6. Bantalan

          Bantalan merupakan elemen mesin yang mampu menumpu poros

   berbeban,    sehingga        putaran       atau        gerakan      bolak-baliknya      dapat

   berlangsung secara halus, aman, dan panjng umur (2002, 1997:103).

   Bantalan harus cukup kokoh untuk memungkinkan poros serta elemen

   mesin lainnya bekerja dengan baik.

          Adapun jenis-jenis dari bantalan dapat diklasifikasikan sebagai

   berikut :

   1) Atas Dasar Gerakan Bantalan Terhadap Poros.

      a. Bantalan luncur (Sliding Contact Bearing)

      b. Bantalan gelinding (Rolling Contact Bearing)
                                                                             28




   2) Atas Dasar Arah Beban Terhadap Poros.

      a.      Bantalan radial

      b.      Bantalan aksial dan

      c.      Bantalan khusus

           Pemasangan bantalan poros diantara poros dan dudukan bertujuan

   untuk memperlancar putaran poros, mengurangi gesekan dan mengurangi

   panas serta menambah ketahanan poros. Syarat bantalan poros harus

   presisi ukuran yang tinggi sehingga tidak kocak dalam bekerja.

7. Analisis Ekonomi

            Analisis ekonomi merupakan salah satu bagian dari pertimbangan

   dalam perencanaan sebuah produk yang berupa mesin. Pertimbangan

   tersebut     dipengaruhi     oleh   biaya-biaya   yang   dikeluarkan   selama

   menghasilkan produk.

   a. Biaya

                 Biaya dalam arti luas adalah pengorbanan sumber ekonomi

       yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau yang

       kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Sedangkan biaya

       dalam arti sempit adalah pengorbanan sumber ekonomi untuk

       memperoleh aktiva.

                 Biaya    digolongkan      dengan     berbagai   macam     cara.

       Penggolongan biaya ditentukan atas dasar tujuan yang hendak dicapai.

       Biaya dapat digolongan menurut :
                                                                       29




1) Objek pengeluaran

   Objek    pengeluaran    merupakan     dasar    penggolongan      biaya.

   Misalnya biaya gaji dan biaya asuransi.

2) Fungsi pokok dalam perusahaan

   Biaya menurut fungsi pokok dalam perusahaan terbagi menjadi

   tiga,   yaitu: biaya    produksi,   biaya     pemasaran   dan    biaya

   administrasi. Biaya produksi adalah biaya-biaya yang terjadi untuk

   mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual.

   Contoh: biaya bahan baku, biaya karyawan, biaya bahan penolong.

   Biaya    pemasaran     adalah   biaya-biaya     yang   terjadi   untuk

   melaksanakan kegiatan pemasaran produk. Contoh: biaya iklan,

   biaya promosi, biaya angkutan. Sedangkan biaya administrasi

   adalah biaya-biaya untuk mengkoordinasi kegiatan produksi dan

   pemasaran produk. Contoh biaya personalia, biaya akuntan dan

   biaya foto kopi.

3) Hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai

   Berdasarkan hubungannya, biaya dibagi menjadi dua golongan,

   yakni: biaya langsung dan biaya tidak langsung. Biaya langsung

   adalah biaya yang terjadi yang penyebab satu-satunya karena ada

   sesuatu yang dibiayai. Biaya tidak langsung adalah biaya yang

   terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai.
                                                                 30




4) Perilaku dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan

   Berdasarkan    perilaku   dalam   hubungannya     dengan   volume

   kegiatan, biaya digolongkan menjadi tiga, yaitu: biaya variabel,

   biaya semivariabel, biaya semifixed, dan biaya tetap.

   a) Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah

      sebanding dengan perubahan volume kegiatan.

   b) Biaya semivariabel adalah biaya yang berubah tidak sebanding

      dengan perubahan volume kegiatan.

   c) Biaya semifixed adalah biaya yang tetap untuk tingkat volume

      kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan

      pada volume produksi tertentu.

   d) Biaya tetap atau fixed cost adalah biaya yang jumlah totalnya

      tetap dalam kisar volume kegiatan tertentu.

5) Jangka waktu manfaatnya

   Berdasarkan jangka waktu manfaatnya biaya dapat dibagi menjadi

   dua, yaitu: pengeluaran modal dan pengeluaran pendapatan.

   Pengeluaran modal adalah biaya yang mempunyai manfaat lebih

   dari satu periode akuntansi. Pada saat terjadi dibebankan sebagai

   harga pokok aktiva. Sedangkan pengeluaran pendapatan adalah

   biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntansi

   terjadinya pengeluaran.

       Pembuatan suatu produk terdapat dua kelompok biaya yaitu

biaya produksi dan biaya non produksi. Biaya produksi merupakan
                                                                    31




   biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pengolahan bahan baku menjadi

   produk. Sedangkan biaya non produksi seperti pemasaran dan

   administrasi. Biaya produksi membentuk harga pokok produksi yang

   digunakan untuk menghitung harga pokok produk. Kemudian biaya

   non produksi ditambahkan pada harga pokok produksi untuk

   menghitung total harga pokok produk.

b. Metode Penentuan Harga Pokok Produk Berdasarkan Pesanan

          Penentuan harga pokok produk berdasarkan pesanan (full

   costing) dilakukan dengan mengumpulkan biaya-biaya produksi

   pesanan tertentu dan harga pokok produksi persatuan dihitung dengan

   cara membagi total biaya produksi pesanan dengan jumlah satuan

   produk pesanan yang bersangkutan. Sebuah perusahaan dengan proses

   produksi berdasarkan pesanan memulai proses produksi suatu produk

   berdasarkan spesifikasi yang ditentukan oleh pemesan. Biaya produksi

   pesanan yang satu dengan pesanan yang yang lain akan berbeda sesuai

   keinginan dari pemesan. Harga jual yang dibebankan pada pemesan

   sangat ditentukan oleh besarnya biaya produksi yang akan dikeluarkan

   untuk memproduksi pesanan tertentu.

          Harga jual produk yang dipesan oleh pemesan, terkadang

   sudah terbentuk di pasar. Hal tersebut menjadikan manajemen untuk

   mengambil keputusan menerima atau menolak pesanan. Manajemen

   memerlukan informasi total harga pokok pesanan. Informasi total

   harga pokok pesanan memberikan perlindungan bagi manajemen agar
                                                                                             32




   dalam menerima pesanan tidak mengalami kerugiaan. Tanpa memiliki

   informasi yang lengkap, manajemen tidak dapat mengetahui laba.

c. Neraca Ekonomi

          Selain biaya-biaya yang akan dikeluarkan selama proses

   pembuatan     menjadi         produk,       dalam        analisis      ekonomi          juga

   diperhitungkan mengenai neraca ekonomi. Hal-hal yang terdapat

   dalam neraca perusahaan antara lain BCR (Benefit Cost Ratio), BEP

   (Break Event Point).

   1) BCR (Benefit Cost Ratio)

               BCR atau Benefit Cost Ratio merupakan perbandingan

      antara hasil yang dipresentasikan dengan biaya modal sebagai

      indikator diterima atau tidaknya investasi yang dijalankan dalam

      suatu usaha. BCR lebih dari satu maka investasi yang ditanamkan

      menguntungkan (Saputro, 1993:66).

               Menurut Budiono (1993:73), perhitungan BCR dapat

      dihitung dengan rumus :

                Penerimaan
       BCR =                 ............................................................. (23)
               Biayaproduksi

   2) BEP (Break Event Point)

               BEP atau Break Event Point adalah suatu keadaan dimana

      penghasilan dari penjualan hanya cukup untuk menutup biaya baik

      yang bersifat variabel maupun yang bersifat tetap atau hanya

      mampu menutup biaya produksi dan biaya usaha yang diperlukan

      dalam menjalankan kegiatannya. BEP menunjukkan jumlah laba
                                                                                                   33




       sama dengan nol atau jumlah penghasilan total sama dengan biaya

       total (Partadiredja, 1996:48).

                BEP bermanfaat untuk menetapkan penjualan minimal

       yang harus dipertahankan agar tidak rugi dalam menjalankan

       kegiatan produksi dalam biaya tetap maupun biaya variabel

       tertentu (Saputra, 2000:34). Perhitungan BEP dapat dilakukan

       dengan rumus :

                  TFC
        BEP =           ........................................................................ (24)
                    TVC
                 1−
                     TR

       Dimana: TFC = Total Fixed Cost

                  TVC = Total Variable Cost

                   TR = Total Revenue (Pendapatan)

d. Pendapatan

            Berdasarkan produk yang terjual, diperoleh pendapatan.

   Pendapatan merupakan selisih antara output (penerimaan) yang

   diperoleh dari penjualan hasil produksi dengan input (biaya) yang

   dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk.

            Menurut Budiono (1993:81), jumlah pendapatan yang diterima

   oleh perusahaan dapat dirumuskan sebagai berikut :

   Pendapatan = Total output – total input .......................................... (25)

            Pendapatan merupakan selisih antara output (penerimaan) yang

   diperoleh dari penjualan hasil produksi dengan input (biaya) yang

   dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk (Saputra, 2000:47).
                                                             34




      Pendapatan sangat dipengaruhi oleh input dan output. Input

merupakan faktor yang dapat digunakan untuk menghasilkan sebuah

produk yang dapat memuaskan kebutuhan atau keinginan manusia.

Sedangkan output dalah hasil produksi total sumber daya yang

digunakan dalam usaha ekonomi.
                                   BAB III
                        KONSEP PERANCANGAN



A. Diagram Alir Proses Perancangan

          Diagram alir adalah suatu gambaran utama yang dipergunakan untuk

   dasar dalam bertindak. Seperti halnya pada perancangan diperlukan suatu

   diagram alir yang bertujuan untuk mempermudah dalam pelaksanaan proses

   perancangan.

          Metode    perencanaan    dan    perancangan    merujuk   dari     metode

   perencanaan    menurut Pahl dan Beitz (Dharmawan,1999:22) yang terbagi

   menjadi empat tahap, yaitu:

   1. Perencanaan dan penjelasan tugas

             Tahapan     pertama    ini    meliputi     pengumpulan       informasi

      permasalahan dan kendala yang dihadapi serta dilanjutkan dengan

      persyaratan mengenai sifat dan performa tuntutan produk yang harus

      dimiliki untuk mendapatkan solusi.

   2. Perencanaan konsep produk

             Perencanaan konsep produk berguna untuk memberikan beberapa

      solusi alternatif konsep produk selanjutnya dievaluasi berdasarkan

      persyaratan teknis, ekonomis, dan lain-lain. Tahapan ini dapat diawali

      dengan mengenal dan menganalisis spesifikasi produk yang telah ada.

      Hasil analisis spesifikasi produk dilanjutkan dengan memetakan struktur

      fungsi komponen sehingga dapat disimpulkan beberapa varian solusi

      pemecahan masalah konsep produk.

                                     35
                                                                                                                                                                                      36



                                                                                       Tugas
                                                                              pasar, perusahaan, ekonomi




                                                                                                                                                   Penjelasan Produk
                                                                                                                                                   Perencanaan dan
                                                                          P erencanaan dan Penjelasan Tugas
                                                               Analisis pasar dan keadaan perusahaan
                                                               Mencar i dan memilih ide pr oduk
                                                               Memf ormulasi usulan produk
                                                               Penjelasan tugas
                                                               Mengembangkan daftar persyaratan


                                                                                  Daf tar Persyaratan
                                                                                  (Spesifikasi Pr oduk)
Informasi perbaiki daftar persyaratan hasil umpan balik




                                                                                                                                                          Perancangan Konsep Produk
                                                                         Mengembangkan Solusi Utama
                                                               Mengidentifikasi masalah-m asalah penting
                                                               Menentukan struktur f ungsi pr oduk
                                                               Mencar i prinsip-prinsip kerja pr oduk
                                                               Membentuk beberapa alter natif produk(var ian)




                                                                                                                       Peningkatan dan Perbaikan
                                                               Evaluasi terhadap kr iter ia teknis dan ekonomis


                                                                                     Konsep Produk
                                                                                       (solusi)

                                                                        Mengembangkan Struktur Produk
                                                               Menentukan bentuk awal, memilih material, perhitungan
                                                               Memilih layout awal yang terbaik
                                                               Memperbaiki layout
                                                               Evaluasi terhadap kr iter ia teknis dan ekonomis




                                                                                                                                                        Perancangan Produk
                                                                                     Layout Awal


                                                                           Menent ukan St ruktur Produk
                                                                Menghilangkan kelem ahan dan kekurangan
                                                                Cek kalau- kalau ada kesalahan
                                                                Persiapan daf tar kom ponen awal dan dokumen
                                                                Pembuatan dan susunan produk


                                                                                     Layout Akhir
                                                                                                                                                       Perancangan Detail


                                                                        Menyiapkan Dokumen Pembuat an
                                                               Mengembangkan gambar atau daftar detail
                                                               Menyelesaikan instr uksi-instruksi pembuatan
                                                               Periksa sem ua dokumen


                                                                                   Dokumen Produk


                                                                                         Solusi

                                                          Gambar 3.1. Diagram alir proses perancangan menurut Pahl dan Beitz

                                      3. Perencanaan produk

                                                                  Perencanaan produk memerlukan beberapa pertimbangan untuk

                                                           menentukan keputusan atau solusi setiap proses perencanaan. Berdasarkan

                                                           kasus masalah yang dihadapi yaitu perencanaan produk mesin pemoles
                                                                         37



kulit, pendekatan konsep yang digunakan adalah      perencanaan produk

dengan perencanaan simultan atau perencanaan dengan pendekatan proses

produksi.

       Konsep perencanaan simultan terdapat empat elemen utama, yaitu:

fungsi, bentuk, material, dan produksi. Fungsi merupakan elemen penting

diantara keempat elemen perencanaan simultan.
                                    Bentuk


                                    Fungsi


                     Material                    Produksi

                        Produksi= manufaktur + merakit

            Gambar 3.2. Elemen dasar dalam perencanaan simultan

Langkah untuk perencanaan produk terdiri dari sembilan langkah, yaitu:

a. Mencari produk jadi yang tersedia di pasar

             Memilih dan memakai komponen yang telah tersedia di pasar

   atau produk khusus (special product) adalah jauh lebih murah daripada

   merancang, mengembangkan dan membuat komponen sendiri, seperti:

   bantalan, mur dan baut. Alternatif memilih produk jadi yang tersedia

   untuk memenuhi fungsi komponen merupakan solusi penting

   perencanaan produk untuk menghemat waktu dan biaya produksi.

b. Memilih material dan teknik produksi

             Memilih material dan teknik produksi merupakan alternatif

   kedua perencanaan produk jika produk jadi hasil konsep produk tidak
                                                                      38



ditemukan di pasar. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan pada

proses pemilihan material dan teknik produksi adalah:

1) Kuantitas produk yang harus dibuat

   Faktor tersebut merupakan pertimbangan proses produksi. Jika

   produk yang dirancang hanya sebuah, maka perlu dihindari

   penggunaan tooling atau alat produksi yang mahal harganya.

2) Pengetahuan tentang penggunaan material pada aplikasi terdahulu

   Informasi    pemakaian     material     serupa   merupakan      faktor

   pertimbangan proses produksi terkait pada bagaimana teknik

   produksi material yang baik, sifat dan kinerja material terhadap

   beban yang diderita.

3) Pengetahuan dan pengalaman

   Pengetahuan dan pengalaman yang terbatas akan berpengaruh pada

   keterbatasan pemilihan material dan teknik produksi pula, oleh

   karena itu perlu didukung dengan literatur aplikasi material.

4) Syarat-syarat teknis tentang material

   Syarat-syarat teknis tentang material merupakan pertimbangan

   yang dapat membatasi pemilihan material dan teknis produksi.

   Solusi untuk memenuhi syarat-syarat teknis material dapat

   dipecahkan dengan mementingkan esensial fungsi produk.
                                                                      39



   5) Faktor ketersediaan

      Faktor ketersediaan material merupakan hambatan utama setiap

      perencanaan, oleh karena itu beberapa alternatif pemilihan material

      maerupakan solusi penting perencanaan produk.

c. Mendalami keterbatasan ruang

          Salah satu persyaratan teknis perencanaan produk adalah

   batasan-batasan ruang yang ditempati produk. Batasan-batasan ruang

   merupakan dasar pembuatan gambar layout yang berfungsi sebagai

   referensi batas dimensi produk atau komponen.

d. Mengidentifikasi komponen-komponen produk

          Identifikasi komponen-komponen produk berfungsi untuk

   memisahkan beberapa komponen hasil sketsa konsep produk.

   Pemisahan      komponen-komponen         produk      bertujuan   untuk

   mempermudah proses pemilihan material dan pembuatan komponen

   yang sulit berdasarkan fungsi komponen.

e. Mengembangkan interface atau titik kontak antara dua komponen

          Mengembangkan interface berfungsi untuk mengantisipasi

   interferensi atau gangguan proses perakitan.

f. Memberi bentuk

          Proses pemberian bentuk diharapkan menghasilkan produk

   yang memenuhi tuntutan produk, seperti kuat, stabil, korosi dan aus

   yang terjadi dalam batas yang diijinkan, dan lain-lain.
                                                                          40



g. Evaluasi

          Evalusi produk dilakukan pada proses perencanaan produk

   bertujuan untuk mendapatkan ketelitian yang lebih baik. Pada langkah

   evaluasi    dikumpulkan      informasi    yang   lengkap   agar   dapat

   dibandingkan dengan syarat-syarat pada spesifikasi perancangan. Tiga

   hal pertimbangan hasil evaluasi, yaitu:

   1) Hasil evaluasi baik, sehingga produk hasil rancangan telah siap

       ditinjau ulang bersama produk hasil rancangan alternatif lainnya

       atau dilanjutkan pada perencanaan detail.

   2) Hasil evaluasi tidak memenuhi syarat sebagai produk bermutu,

       sehingga perlu dikembalikan pada tahapan sebelumnya untuk

       ditinjau kembali sehingga diperoleh konsep produk yang lebih

       baik.

   3) Hasil      evaluasi   perlu   perbaikan   berdasarkan   kekurangan-

       kekurangan yang ditemukan pada proses evaluasi. Perbaikan terdiri

       dari dua jenis, yaitu: perbaikan material dan atau cara

       pembuatannya dan perbaikan bentuk produk atau komponen

       produk.

h. Perbaikan material dan cara produksi

          Langkah perbaikan ini bertujuan untuk mendapatkan produk

   yang lebih baik atau memenuhi syarat mutu evaluasi,seperti kekuatan

   bahan atau kualitas dan efisiensi hasil perencanaan proses produksi.
                                                                                                           41



    i. Perbaikan bentuk

                                              Langkah perbaikan bentuk berfungsi untuk menghilangkan

                                       interferensi gangguan atau memperbaiki kinerja produk hasil evaluasi

                                       dengan cara merubah ukuran hingga mengganti bentuk komponen.

    Berdasarkan keterangan di atas, kesembilan langkah perancangan produk

    dapat digambarkan dalam diagram alir seperti terlihat pada Gambar 3.3.



                                                               Konsep produk



                                                     1. Mencari produk jadi yang tersedia



                                                   2. Memilih material dan teknik produksi



                                                      3. Mendalami keterbatasan ruang
Perancangan konsep produk (feedback)




                                                  4. Mengidentifikasi komponen-komponen



                                                        5. Mengembangkan interface
                                                                                              Menetapkan
                                                                                             assemblies dan
                                                                                             komponen baru
                                                            6. Pemberian bentuk



                                                                 7. Evaluasi                  Peninjauan
                                                                                              rancangan


                                                     8. Perbaiki material & cara produksi



                                                              9. Perbaiki bentuk


                                               Gambar 3.3. Langkah- langkah perancangan produk
                                                                           42



   4. Perencanaan detail

             Perencanaan detail merupakan hasil keputusan perencanaan

      berdasarkan beberapa tahapan sebelumnya. Luaran atau hasil akhir dari

      tahapan ini adalah gambar rancangan lengkap dan spesifikasi produk untuk

      pembuatan yang biasa disebut dokumen pembuatan produk.

             Setiap tahapan proses perancangan berakhir, hasil tahapan

      selanjutnya tersebut menjadi masukan untuk tahapan selanjutnya dan

      menjadi umpan balik tahapan sebelumnya. Sebagai konsep utama

      perancangan metode tersebut, bahwa hasil setiap tahapan dapat berubah

      setiap saat berdasarkan umpan balik yang diterima dari hasil tahapan-

      tahapan berikutnya.



B. Pernyataan Kebutuhan

         Kulit banyak digunakan oleh manusia. Di daerah Yogjakarta

  khususnya kerajinan kulit telah menjadi mata pencaharian bagi para

  penduduknya. Penggunaan kulit ini juga beragam, seperti sebagai ikat

  pinggang, tali tas, tali pada jaket dan pakaian.

         Besarnya minat akan kegunaan kulit ini membuat perajin harus

  mengoptimalkan produksinya. Namun untuk saat ini kebanyakan para

  pengrajin masih menggunakan alat pemoles yang masih sangat sederhana dan

  menggunkan sumber tenaga manusia, hal ini membutuhkan suatu alat pemoles

  yang lebih praktis, efisien namun tetap dapat menghasilkan produk yang
                                                                              43



   berkualitas. Sehingga kebutuhan akan alat/mesin yang mampu bekerja secara

   optimal sangat diperlukan untuk mencukupi kebutuhan gerabah tersebut.

            Pembuatan mesin pemoles kulit ini merupakan suatu inovasi dari alat

   pemoles yang telah ada dengan bentuk yang besar dan lebih berat. Alat

   pemoles ini digerakkan oleh tenaga motor sehingga mampu bekerja secara

   kontinyu. Selain itu dapat menghemat tenaga manusia sehingga tidak cepat

   lelah.

            Mesin pemoles kulit ini dirancang untuk memberikan kemudahan dan

   meningkatkan efektifitas pada proses pemolesan kulit. Perputaran telah

   disesuaikan dengan kapasitas penggunaan dan kekuatan dalam pemolesan

   dapat diatur. Oleh karena itu, alat pemoles kulit ini diharapkan mampu

   mempermudah serta mempercepat proses produksi kulit polesan.



C. Analisis Kebutuhan

   1. Standar Penampilan

               Mesin pemoles kulit ini mempunyai konstruksi yang telah

       disesuaikan dengan kenyamanan dan keamanan dalam pengoperasiannya

       bagi pengguna, yang telah dimodifikasi dari alat/ mesin yang sudah ada.

       Sistem kerja mesin yang menggunakan penggerak motor listrik membuat

       kerja lebih ringan. Selain itu ukuran mesin yang tidak terlalu besar yaitu

       tinggi 989 mm, lebar bawah 740 mm dan lebar atas 250 mm yang

       membuat mesin ini mampu dipindahkan dengan mudah.
                                                                           44



   2. Target Keunggulan Produk.

             Sasaran keunggulan yang ingin dicapai dari alat pemoles kulit ini

      adalah :

      a. Proses pembuatannya dapat dikerjakan dengan mudah.

      b. Pengoperasian mesin mudah, hanya dengan memencet tombol pada

         mata kontak mesin dapat berjalan.

      c. Pemeliharaan dan perawatannya mesin cukup mudah.



D. Pertimbangan Perancangan

   1. Pertimbangan Teknis

      Pertimbangan teknis dalam hal ini lebih dititikberatkan pada :

      a. Kemudahan dalam pengoperasian alat.

      b. Pemasangan dan pembongkaran yang relatif lebih mudah

      c. Bahan yang digunakan mudah didapat.

      d. Konstruksi yang kuat untuk menambah umur alat.

      e. Penggerak menggunakan motor listrik dengan transmisi berupa Pulley,

         sabuk V, dan poros.

   2. Pertimbangan Ekonomi

             Pertimbangan ekonomi pada pembuatan alat pemoles kulit ini

      dititikberatkan pada pemilihan bahan yang digunakan. Bahan-bahan yang

      digunakan relatif murah harganya dan mudah untuk mendapatkannya.

      Sehingga akan meminimalkan biaya pembuatan mesin.
                                                                              45



               Bahan-bahan yang digunakan antara lain, Mild Steel (ST-37)

       berupa profil siku 40 x 40 x 4mm, plat strip 40 x 4mm dan plat eyser 0,8

       mm, dan plat eyser 2 mm untuk kesing tutup pulley dan sabuk V.

   3. Pertimbangan Ergonomis

               Pertimbangan ergonomis dalam pembuatan alat pemoles kulit ini

       adalah sebagai berikut :

       a. Proses kerja alat ini mudah dilakukan tanpa membahayakan pemakai

            maupun yang lainnya.

       b. Ukuran mesin yang tidak cukup besar (1000mm x 500mm x 650mm)

            sehingga tidak membutuhkan tempat yang luas dan memungkinkan

            alat mudah untuk dipindahkan.

       c. Ukuran dari mesin pemoles kulit ini, juga didesain sesuai dengan

            posisi operator yang bekerja didepan mesin. Sehingga diharapkan akan

            membuat nyaman bagi pekerja yang menggunakan alat ini.



E. Keterbatasan-Keterbatasan

            Sebagai alat yang dibuat dengan pengalaman yang sedikit dalam

   membuat serta merancang mesin dan pembuatannya pun mengandalkan

   mesin-mesin konvensional, maka alat ini memiliki keterbatasan-keterbatasan

   baik dari segi teknis pembuatan maupun pengoperasiannya.

            Hal-hal yang menjadi keterbatasan mesin pemoles kulit tersebut antara

   lain :
                                                                              46



   1. Karena menggunakan motor dengan putaran 1425 rpm membutuhkan

      banyak sekali komponen transmisinya untuk mengurangi putaran agar

      tidak terlalu cepat. Hal ini menyebabkan efisiensi alat berkurang.

   2. Komponen-komponen yang dibuat masih belum sesuai dengan ukuran

      yang dikehendaki karena keterbatasan alat.

   3. Kulit yang dapat dipoles adalah kulit dengan lebar 50 mm, meja ini bisa

      digunakan untuk pemoles kulit yang digunakan untuk bahan baku

      pembuatan ikat pinggang ataupun tali.

   4. Perawatannya harus bersifat rutin, terutama pemberian pelumas pada

      pertemuan antara dua bagian yang terdapat bearing untuk membantu

      gerakan yang lebih lancar.



F. Tuntutan Perancangan

   1. Tuntutan Konstruksi

      a. Mesin pemoles kulit ini dapat dibongkar dan dipasang dengan mudah.

      b. Perakitan rangka menggunakan sambungan las, rangka ini dibuat agar

          tidak mudah bergerak karena tersusun oleh besi siku dan rangka

          mampu menahan getaran yang dihasilkan dari motor penggerak yang

          berputar 1425 rpm dengan daya sebesar 0.5 PK.

      c. Penggunaan roda engkol yang berguna untuk mengubah arah gerakan

          dari   putaran    menjadi   gerak   maju-mundur      resiprokal   untuk

          menggerakkan lengan pemoles.

      d. Kekuatan pemolesan dapat diatur sesuai dengan kebutuhan.
                                                                        47



   e. Dapat dilakukan pembersihan tanpa harus membongkar rangka secara

      keseluruhan.

   f. Bantalan mampu menahan putaran poros dengan baik sehingga poros

      dapat berputar dengan sempurna.

2. Tuntutan Ekonomi

          Alat pemoles kulit dengan penggerak motor listrik dan kombinasi

   transmisi sabuk-V dan roda engkol diharapkan mampu menghasilkan

   waktu yang lebih singkat. Alat ini juga dibuat dengan bahan-bahan yang

   lebih mudah didapatkan. Selain itu biaya yang dikeluarkan dalam

   pembuatan maupun perakitannya dapat terpenuhi dari hasil produksi alat

   tersebut.

3. Tuntutan Pemeliharaan dan Perawatan

          Pemeliharaan dan Perawatan mesin pemoles kulit ini cukup

   mudah. Setelah pemakaia, pembersihan cukup dilakukan di meja pemoles

   dan bagian lainnya. Hal tersebut untuk menghindari timbulnya korosi pada

   bagian-bagian alat.

          Sering lakukan pelumasan pada sistem transmisinya baik itu pada

   bearing-bearingnya.   Pelumasan   pada   bearing   dimaksudkan     untuk

   mengurangi gesekan sehingga akan lebih tahan lama. Selain itu pelumasan

   juga akan mengurangi suara bising yang ditimbulkan oleh gesekan.

          Ada 3 macam perawatan yang paling utama, yaitu :

   a. Kebersihan,

   b. Pelumasan, dan
                                                                       48



   c. Inspeksi.

          Waktu yang dibutukkan untuk melakukan pemeliharaan dan

   perawatan mulai dari pemeriksaan bulanan hingga harian. Dari

   pengecekan kinerja alat sampai dengan kebersihan alat.

4. Tuntutan Keselamatan

          Konstruksi mesin pemoles kulit ini didisain sesuai dengan posisi

   kerja yang aman dan nyaman, sehingga keselamatannya bisa terjamin.

   Komponen-komponen yang membahayakan pengguna seperti sabuk-V

   tertutup dengan casing mesin.

          Selama proses produksi mesin pemoles kulit, tidak menimbulkan

   hal-hal yang berbahaya. Gerakan pada lengan pemoles didesain dengan

   kecepatan 2 kali pergerakan maju-mundur sehingga benda yang diletakan

   di meja pemoles tidak mengalami gesekan yang cepat sehingga tidak

   membahayakan pekerja atau orang-orang disekitar alat.

5. Tuntutan Pengoperasian

          Pembuatan     mesin      pemoles   kulit   ini    mudah   dalam

   pengoperasiannya. Untuk menghidupkan motor listrik hanya dilakukan

   dengan menekan tombol ON. Ketika tombol ON di tekan motor listrik

   sudah menyala dan berputar. Maka putaran pada mesin listrik

   tertransmisikan ke pulley-pulley yang dihubungkan dengan belt.

6. Tuntutan Fungsi

          Mesin pemoles kulit ini diorientasikan untuk para pengrajin dan

   industri kecil. Penggerak mesin pemoles kulit ini menggunakan motor
                                                                    49



listrik dengan kombinasi transmisi sabuk-V dan roda engkol. Oleh karena

itu mesin pemoles kulit ini diharapkan mampu mengasilkan produk dalam

jumlah yang besar dalam waktu yang relatif cepat.

       Putaran dari alat ini juga lebih stabil jika dibandingkan dengan

putaran alat yang menggunakan sumber tenaga manual.           Sehingga

diharapkan akan menghasilkan produk yang lebih berkualitas jika

dibandingkan dengan alat yang menggunakan tenaga konvensional.
                                         BAB IV

                    PROSES, HASIL, DAN PEMBAHASAN



A. Proses Perancangan Mesin Pemoles Kulit

         Proses perancangan Mesin Pemoles Kulit, mempunyai langkah-langkah

   perencanaan yang dapat digambarkan seperti diagram alir pada Gambar 4.1.
                                              Mulai

        Service : Memoles kulit dengan ukuran lebar 50 mm dan panjang minimal 260 mm

                                             Observasi :
   1. Bahan baku kulit : kulit sapi, domba, kambing
   2. Setelah penyamakan memerlukan proses pemolesan agar kulit menjadi lebih mengkilap
   3. Dibutuhkan mesin untuk memoles kulit untuk mempercepat pekerjaan


                                           Kebutuhan :
   1. Kulit yang telah diproses hingga penyamakan
   2. Ukuran kulit dalam satu kali proses pemolesan yaitu mempunyai lebar 50 mm dan panjang
      minimal 260 mm.
   3. Gaya gesekan yang dibutuhkan dalam proses pemolesan yaitu sebesar 15 N
   4. Proses pemolesan dilakukan dengan gerakan linear maju mundur.
   5. Kecepatan gerakan pemoles dalam satu periode pemolesan yaitu 2 kali gerakan linear maju
      mundur.
   6. Panjang langkah gerakan linear pemolesan adalah 200 mm


                                          Perancangan :
   1. Beban yang dibutuhkan untuk memoles akan diperoleh dari gaya sumber tenaga yaitu
      motor listrik.
   2. Putaran motor listrik dirubah menjadi gerakan linear maju mundur dengan menggunakan
      roda engkol.
   3. Motor listrik yang digunakan untuk mendukung gaya gesek pemoles sebesar 15 N dan
      putaran 114 rpm adalah motor listrik dengan daya 0.5 HP dengan putaran 1425 rpm.
   3. Hubungan motor listrik dengan roda engkol menggunakan sistem transmisi pulley dan
      sabuk-V untuk mengubah putaran mesin menjadi 114 rpm
   4. Untuk meletakkan sistem transmisi dan mekanisme pemolesan dibuatlah rangka mesin
      pemoles kulit.


                                               Hasil:
   Hasil dari perancangan adalah gambar rancangan Mesin Pemoles Kulit dengan komponen
   seperti: roda engkol, sistem transmisi, poros transmisi, lengan pemoles, meja benda kerja dan
   rangka mesin yang disajikan pada lampiran.


                                              Selesai
          Gambar 4.1. Diagram alir proses perancangan Mesin Pemoles Kulit
                                            50
                                                                           51



     Perancangan ini dimaksudkan untuk membuat suatu produk yang dapat

digunakan untuk memoles kulit sebagai bahan baku industri ikat pinggang

maupun tali pengikat. Kulit yang akan dipoles dengan produk ini adalah kulit

sapi, kulit kambing juga kulit domba yang telah selesai diproses hingga proses

penyamakan.

     Ukuran kulit yang dapat dipoles mempunyai lebar 50 mm dan panjang

minimal 260 mm dalam satu kali proses pemolesan tetapi mesin ini dapat

memoles kulit dengan panjang yang tak terbatas. Gaya gesekan yang

dibutuhkan dalam pemolesan yaitu sekitar 15 N, dengan kecepatan dalam satu

periode yaitu 2 kali gerakan maju mundur dalam satu detik. Satu periode

pemolesan adalah satu kali gerakan linear maju dan mundur pemoles dengan

panjang langkah sebesar 200 mm.

     Motor listrik akan dipilih sebagai sumber tenaga yang akan digunakan

dalam perancangan mesin. Motor listrik yang digunakan mempunyai daya 0.5

HP dan putaran 1425 rpm. Sistem transmisi pulley dan sabuk-V digunakan

untuk menghubungkan motor listrik dengan roda engkol sehingga putaran

mesin menjadi 114 rpm. Rangka mesin dibuat sedemikian rupa untuk

meletakkan motor listrik, sistem transmisi dan komponen pemoles juga dibuat

meja pemoles yang akan digunakan untuk menempatkan kulit yang akan

dipoles.
                                                                             52



B. Kapasitas Mesin

        Mesin pemoles kulit ini dirancang untuk memoles kulit dengan ukuran

   lebar maksimal 50 mm dengan panjang minimal 260 mm dalam satu kali

   proses pemolesan akan tetapi mesin ini dapat memoles kulit dengan panjang

   yang tak terbatas. Gaya yang bekerja dalam pemolesan yaitu 15 N.



C. Perancangan Motor Listrik

        Penggunaan motor listrik dalam mesin ini adalah penting. Motor listrik

   yang dibutuhkan pada mesin ini akan bekerja sebagai penggerak lengan ayun

   yang diharapkan dapat bergerak secara bolak –balik sebanyak 2 kali dalam

   satu menit. Maka motor listrik yang digunakan untuk mesin pemoles kulit ini

   merupakan motor listrik dengan daya ½ HP dengan kecepatan sebesar 1425

   rpm yang akan ditransmisikan dengan menggunakan pulley dan kemudian

   roda engkol.



D. Perancangan Sistem Transmisi

        Mesin pemoles kulit ini memiliki sistem transmisi yang terdiri dari

   pulley dan sabuk V, serta roda engkol. Motor listrik yang digunakan adalah

   motor listrik dengan putaran 1425 rpm. Namun karena putaran maksimal dari

   motor terlalu tinggi maka dilakukan reduksi menggunakan sistem transmisi

   sehingga kecepatannya menjadi 114 rpm.

        Mekanisme sistem transmisi mesin pemoles kulit ini adalah putaran

   yang dihasilkan oleh motor listrik akan di teruskan ke pulley I berdiameter 2
                                                                          53



inch ke pulley II berdiameter 5 inch dengan sambungan berupa sabuk-V.

Putaran pulley II ditransmisi dengan menggunakan poros ke pulley III dengan

ukuran 2 inch. Sabuk-V digunakan untuk mentransmisikan putaran dari pulley

III ke pulley IV dengan ukuran 10 inch. Putaran pada pulley IV diteruskan ke

roda engkol dengan menggunakan poros secara langsung. Roda engkol

digunakan untuk mengubah gerakan rotasi menjadi gerakan linear.


                                                                      1




                                         11
                                                                  2
           8

                                                              3


           9
                                                      4



                                                          5

          10                                      6
                  12                          7

           Gambar 4.2. Sistem transmisi Mesin Pemoles Kulit

Keterangan gambar
1. Lengan                                  7. Pulley 5”
2. Lengan ayun                             8. Pulley 10”
3. Roda engkol                             9. Sabuk V
4. Motor listrik                           10. Pulley 2”
5. Pulley 2”                               11. Poros
6. Sabuk V                                 12. Poros
                                                                             54



     Sistem transmisi dengan menggunakan pulley dan sabuk-V diharapkan

dapat menurunkan putaran motor listrik menjadi 114 rpm sehingga

perhitungannya adalah :

a.   Rangkaian sistem transmisi sabuk-V pertama

     D 1 = 2 inchi (pulley yang terdapat pada motor listrik)

     D 2 = 5 inchi (pulley II)

            D1            2
     n1 =      × n motor = × 1425 = 570rpm
            D2            5

     Putaran masih terlalu cepat sehingga dibutuhkan transmisi kembali guna

     menurunkan putaran pulley.

b.   Rangkaian sistem transmisi sabuk-V kedua

     D 3 = 2 inchi (pulley III)

     D 4 = 10 inchi (pulley IV)

            D3                   2
     n2 =      × n poros bawah = × 570 = 114rpm
            D4                  10

     Putaran pada pulley IV sudah cukup sehingga dapat ditransmisikan ke

roda engkol dengan menggunakan poros. Sehingga jumlah gerakan bolak-

balik yang terjadi pada lengan pemoles adalah :

Jumlah gerakan bolak-balik = Besar putaran / 60

                                  = 114 / 60

                                  = 1.9 kali gerakan dalam satu detik nya.
                                                                                      55




E. Perancangan Ukuran Sabuk-V



                      START                                      a


                                               Perhitungan panjang keliling, L (mm)
                     Perhitungan
                 perancangan Poros
                  (n1,P, Pd, fc, T, d)          Nomor nominal dan panjang sabuk
                                                  dalam perdagangan, L (mm)
                    Pemilihan
                 penampang sabuk
                                                   Jarak sumbu poros, C (mm)

                                                              Dp − d p
                Diameter minimum                                 C
                   pulley, dmin                         Sudut kontak, θ (o)
                                                        Faktor koreksi, Kθ


        Diameter Lingkaran
                                                 Kapasitas daya transmisi dari satu
        Jarak Pulley dp, Dp (mm)
        Diameter luar pulley dk, Dk (mm)                  sabuk P0 (kW)
        Diameter naf dn, Dn (mm)

                                                         Daerah penyetelan
                                                        jarak poros ΔC, ΔCt
                Kecepatan sabuk, v
                                                        Penampang sabuk
                                                    Panjang keliling, L (mm)
                                                   Jarak sumbu poros, C (mm)
                        v : 30                   Daerah penyetelan ΔC, ΔCt (mm)
           >
                                                 Diameter luar pulley dk,Dk (mm)

                          ≤
                                                              STOP


                          a                                    END


                     Gambar 4.3. Diagram alir perencanaan sabuk-V
                                                                         56



     Dengan perancangan perhitungan sabuk V seperti diatas, selanjutnya

adalah melakukan perhitungan sebagai berikut:




           Dk
                                                              dk




                                       C


                       Gambar 4.4. Gambar sket transmisi
Keterangan :
C = jarak sumbu poros
D k = diameter luar pulley yang digerakkan
d k = diameter luar pulley penggerak


1.   Perancangan sabuk-V

     Transmisi sabuk-V kedua merupakan sabuk-V yang digunakan untuk

menghubungkan pulley III dengan pulley IV. Sabuk-V ini digunakan untuk

mereduksi putaran pada pulley III sebesar 570 rpm yang akan disebut sebagai

n 1 menjadi 114 rpm pada pulley IV yang akan disebut sebagai n 2 .



a. Daya (P)     = 0.5 HP

                 dikonversikan dalam kW dengan dikalikan 0.735 menjadi

                = 0.367 kW
                                                                      57



b. Daya rencana, Pd = f c xP

                          = 0,6 x 0.367 kW

                          = 0,22 kW

c. Pada transmisi ini menggunakan d p = 50.8 mm,D p = 254 mm

d. Kecepatan sabuk-V

           πd p n 1
    v=
          60x1000

          3,14 x50.8 x570
      =
             60 x1000

      = 1.52 m/s

e. Dari perhitungan kecepatan sabuk-V diatas maka dapat disimpulkan

   bahwa kecepatan sebesar 1,52 m/s termasuk dalam nilai yang baik,

   dikarenakan 1.52 m/s < 30 m/s.

f. Panjang keliling sabuk L (mm) dapat diketahui dengan persamaan sebagai

   berikut :

                π
    L = 2C +      (d p + D p ) + 1 (D p −d p )2
                2               4C

   Dimana C adalah jarak antara sumbu pulley = 573 mm

                      3,14                  1
    L = 2x573 +            (50.8 + 254) +       (254 − 50.8) 2
                        2                 4x573

    L = 1174,477 mm

g. Nomor nominal sabuk-V : no. 47, L = 1194 mm.

h. ΔC i = 25 mm, ΔC t = 40 mm
                                                                             58



  i. Sudut lilit atau kontak θ dari sabuk-V pada alur pulley penggerak harus

      diusahakan sebesar mungkin untuk memperbesar panjang kontak antara

      sabuk dan pulley. Gaya gesekan berkurang dengan mengecilnya θ

      sehingga menimbulkan slip antara sabuk dan pulley. Jika jarak poros

      pendek sedangkan perbandingan reduksinya besar, maka sudut kontak

      pada pulley penggerak akan menjadi kecil.

      Besarnya sudut kontak sabuk-V dengan pulley adalah sebagai berikut :

                    57(D p − d p )
       θ = 180° −
                         C

                    57(254 − 50.8)
       θ = 180° −                  =
                         573

           = 159.780

  j. Faktor koreksi daya Kθ = 0.94

  k. Kesimpulannya sabuk-V yang dipakai adalah tipe A no 47 dengan panjang

      1194 mm jarak sumbu poros 573+40 mm
                                   − 25 mm




F. Poros

      Poros bagian atas merupakan bagian dari transmisi poros yang berfungsi

   mentransmisikan putaran dari pulley ke roda engkol. Sebelum merencanakan

   poros yang perlu diketahui terlebih dahulu adalah gaya-gaya yang terjadi pada

   poros seperti pembebanan pulley penggerak, maupun berat dari poros itu

   sendiri. Poros didukung oleh dua buah bantalan yang terletak pada ujung-

   ujung poros. Panjang poros yang direncanakan yaitu 300 mm. Putaran poros

   akibat transmisi sabuk-V adalah 114 rpm pada roda engkol dan 570 rpm dari

   pulley IV.
                                                                               59



     Diketahui data - data sebagai berikut :

a. Panjang poros            = 300 mm

b. Bahan poros              = ST 37 dengan kekuatan tarik( σ B ) = 37 kg/mm2

c. Daya yang ditransmisikan adalah :

     P = 0.5 HP

       = 0.367 kW

d. Putaran pada poros bawah (1) n1             = 570 rpm

e. Putaran pada poros atas (2) n2              = 114 rpm

f. Faktor koreksi f c       = 0,6

     Dari data-data tersebut digunakan untuk menghitung besar diameter poros

yang akan digunakan.

1.   Daya rencana, Daya rencana,

      Pd = f c xP

         = 0.6 x 0,367 kW

          = 0,22 kW

2.   Momen rencana (T)

                      Pd
      T = 9,74x10 5
                      n2

                         0,22
          = 9,74 x10 5
                         114

          = 1879,65 kg.mm

3.   Gaya beban pada pulley dan roda engkol

     Gaya pembebanan yang bekerja pada poros bawah ditimbulkan adanya

satu transmisi pulley dan roda engkol, Besarnya gaya-gaya yang ditimbulkan

adalah sebagai berikut:
                                                                          60



a.     Gaya pada pulley dan roda engkol

       Besarnya gaya yang ditimbulkan oleh sabuk kedua (menghubungkan

poros bawah dengan poros atas)                           F1
                                                                   V1
     102 xPd
F1 =
       v1

       102x0,22
F1 =
         1,52

F1 = 14,76 kg

                                Gambar 4.5. Ilustrasi gaya yang bekerja pada
                                poros atas akibat adanya sabuk-V kedua

Sedangkan gaya yang ditimbulkan oleh gerakan dari roda engkol

       102 xPd                                        F2
F2 =                                                           V2
         v2

       102x0,22
F2 =
         1,19

F2 = 18,85 kg
                               Gambar 4.6. Ilustrasi gaya yang bekerja pada
                               poros atas akibat adanya roda engkol


b.     Gaya-gaya yang bekerja

       Arah-arah gaya yang bekerja pada poros dapat digambaran sebagai

berikut:
                                              77.5

                                 145
               77.5                                  D
                                         C
                                             VC       VD
                      B
           A              VB


           VA             Gambar 4.7. Pembebanan pada poros atas
                                                   61



  Gaya reaksi yang terjadi adalah :

∑H = 0

∑V = 0
     VA - V B - V C + VD = 0
     14,76 - V B - V C + 18,85 = 0
     V B + V C = 24,62 + 31,46
     V B + V C = 33,61
∑M c = 0
     V A x 77,5 - V B x 145 - V D x 77,5 = 0
     14,76 x 77,5 - V B x 145 - 18,85 x 77,5 = 0
     1.143,9 - V B x 145 - 1.460,87= 0
    V B = 1.143,9 - 1.460,87
                145
    V B = 2,18 kg ( )
maka,
V C = 33,61 - V B

   = 33,61 - 2,18

   = 31,43 kg ( )



 Mb = Vb . l

 M b = 2,18 x 77,5

 M b = 168,95 kg.mm



 Mc = V c . l

 M c = 31,43 . 77,5

 M c = 2435,825 kg.mm
                                                                           62



      M total = M b + M c

      M total = 168,95 + 2435,825

      M total = 2604.775 kg.mm



4.   Bahan poros

     Bahan poros pada mesin pemoles kulit ini menggunakan ST 37 dengan

kekuatan tarik( σ B ) = 37 kg/mm2. Dalam perencanaan sebuah poros harus

diperhatikan tentang pengaruh-pengaruh yang akan dihadapi oleh poros

tersebut. Adapun pengaruh tersebut diantaranya adalah konsentrasi tegangan,

kekasaran permukaan. Untuk memasukkan pengaruh-pengaruh tersebut, maka

dalam perhitungannya perlu diambil faktor yang dinyatakan sebagai Sf 2

dengan harga sebesar 1,3 sampai 3,0. Diperlukan juga memasukkan faktor

keamanan untuk bahan yaitu Sf 1 dengan nilai 6. Besarnya tegangan geser yang

diijinkan τ α (kg/mm2) dapat dihitung dengan :

                     σB
          τα =
                 ( Sf1 xSf 2 )

                37 kg / mm 2
           τa =
                   (6 x 2)

              = 3,08 kg/mm2

     Beban yang bekerja pada poros pada umumnya adalah beban berulang.

Berdasarkan macam beban serta sifatnya, maka dipakai suatu rumus dengan

memasukkan pengaruh kelelahan karena beban berulang. Faktor tersebut

adalah K t untuk momen puntir. Sedangkan untuk momen lentur yang tetap

dipakai faktor K m     .   Besarnya K t yang dihasilkan harus lebih kecil dari
                                                                                  63



tegangan geser yang diijinkan (τ α) ). Faktor K m yang diambil adalah 2.0 dan

faktor K t diambil 1,8.



5.   Diameter poros

     Diameter poros dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

                                                      1
                 5,1                                  3
          d s ≥   ( K m M ) 2 + ( K t T ) 2 
                 τ 
                 α                          

                                                                          1
                 5,1                                                      3
          d s ≥        (2.0 x 2604,775 ) 2 + (1,8 x1879,65) 2 
                 3,08                                         

                [
          d s ≥ (1,65) 4817147.04 + 31855639.1                ]   1
                                                                      3




          d s ≥ [(1,65)9654,18]
                                       1
                                           3



                           1
          d s ≥ 15929,4        3



          d s ≥ 24,36 mm

     Untuk menyesuaikan besarnya bantalan yang tersedia di pasaran, maka

diameter poros dibuat dengan ukuran 30 mm. Maka tegangan geser maksimal

pada poros adalah

                  16
         τ=            3
                         ( K m M ) 2 + ( K t .T ) 2
               3,14 xd s

                  16
         τ =            3
                          (2 x 2604,775) 2 + (1,8 x1879,65) 2
               3,14 x30
                                   2
         τ = 1,82 kg/mm
                                                                                64



G. Konstruksi Rangka

        Kekakuan dan kekokohan kerangka dapat ditambah dengan cara

   pengelasan dan pembautan. Ada dua tipe sambungan las, yang paling umum

   adalah 45 ˚ dan sudut takik. Dalam perencanaan konstruksi rangka mesin

   pemoles kulit ini menggunakan sambungan las tipe sudut, karena lebih mudah

   dan hasilnya lebih kuat. Selain itu, dilihat dari segi etestika, sambungan sudut

   mempunyai nilai keindahan yang lebih tinggi.

         Beban akibat beban yang diterima kurang dari 40 kg, beban poros

   kurang lebih 1,5 kg. Berat pulley dan sabuk–V kurang lebih 2 kg. Berat motor

   kurang lebih 10 kg. Sedangkan berat piringan kurang lebih 0,5 kg. Batang

   yang digunakan pada rangka ini adalah besi siku ST 37 ukuran 40 x 40 x 4

   mm dengan kekuatan tarik maksimal 37 kg/mm2.



H. Roda Engkol

         Roda engkol adalah bagian dari mesin pemoles kulit yang berfungsi

   untuk mengubah gerakan pada mesin. Dari putaran 360o menjadi gerakan

   bolak balik yang disambungkan dengan lengan Putaran pada roda engkol yaitu

   114 rpm. Kemudian gerakan berubah menjadi gerakan resiprokal bolak –

   balik dengan dihubungkannya lengan pada roda engkol. Gerakan resiprokal

   ini sebanyak 1.9 kali gerakan dalam waktu satu detik.

         Roda engkol ini dibuat dari plat eyser diameter 250 mm dengan

   ketebalan 10 mm. Pemilihan bahan-bahan tersebut dimaksudkan agar roda
                                                                                           65



     dapat di tambahkan bantalan pada satu bagian untuk menghubungkan lengan

     dengan roda.




                           Gambar 4.8. Roda engkol Mesin Pemoles Kulit


I.    Analisis Ekonomi

           Penentuan harga mesin pemoles kulit dapat dilihat pada Tabel 4.1.

     Penentuan Harga Mesin.

     Tabel 4.1. Penentuan harga mesin

                           Macam                               Mesin
     Macam Biaya                             Bahan (Rp)                   Tenaga (Rp)   Jumlah
                          Pekerjaan                            (Rp)
 A. Biaya Desain    Survey                             0        50.000         20.000     70.000
                    Analisis                           0        50.000          30000     80.000
                    Gambar                        70.000        30.000         50.000    150.000
                                                                          Jumlah         300.000


                                                       Biaya              Biaya
                              Macam
     Macam Biaya                                     Pembelian           Perakitan      Jumlah
                             Komponen
                                                       (Rp)                (Rp)

 B. Biaya            Motor listrik                         350.000              5.000     355.000
    Pembelian        Pulley tunggal 2.5” (2 bh)             30 .000             5.000      35.000
    Komponen
                     Pulley tunggal 5”                      25.000              5.000      30.000
                     Pulley tunggal 10”                     50.000              5.000      55.000
                     V-Belt A 35                             8.700              3.000      11.700
                     V-Belt A 46                            12.000              5.000      17.000
                     Plat L (4x4x1.8)                      360.000             30.000     390.000
                     Mur dan baut                           48.000              4.000      52.000
                     Bearing (4 buah)                      100.000             10.000     110.000
                     Cat dan poxy                           27.000             30.000      57.000
                     Tiner                                  22.000              5.000      27.000
                     Lem besi                               17.500              4.000      21.500
                     Elektroda                              43.700                  -      43.700
                     Amplas                                  6.000              5.000      11.000
                                                                      Jumlah            1.215.900
                                                                                       66




                                                Bahan         Bahan      Tenaga
 Macam Biaya            Macam Elemen                                                Jumlah
                                                Baku         Penolong     Kerja
C. Biaya          Rangka                        300.000             0      70.000     370.000
   Pembuatan      Dudukan motor                  15.000             0      20.000      25.000
   Komponen       Telapak kaki                    5.000             0      10.000      15.000
                  Poros horizontal               20.000             0      30.000      50.000
                  Poros vertical                 20.000             0      30.000      50.000
                  Poros pulley ganda             10.000             0      15.000      25.000
                  Piringan                       92.500             0      15.000     107.500
                  Meja bahan                    150.000             0      20.000     170.000
                  Casing                        100.000             0      30.000     130.000
                  Pijakan                        20.000             0      15.000      25.000
                  Dudukan bearing vertikal       30.000             0      30.000      60.000
                  Kawat pengait                   1.500             0       4.000       5.500
                                                                        Jumlah      1.033.000

D. Biaya Non Produksi            Biaya Gudang (5% x C)                                51.650
                                 Pajak Perusahaan (5% x C)                            51.650
                                 Jumlah                                              103.300

E. Laba yang Dikehendaki                                                             235.250
                                 10% x (A+B+C+D)
F. Taksiran Harga Produk
                                  (A+B+C+D+E)                                       2.587.750



        Bila laba dari penjualan mesin yang dikehendaki adalah Rp. 235.250,00

   atau 10% dari semua biaya yang dikeluarkan, maka harga jual mesin pemoles

   kulit adalah sebesar Rp 2.587.750,00 atau dibulatkan menjadi Rp

   2.600.000,00



J. Hasil dan Pembahasan

   1. Poros

               Poros yang digunakan pada mesin pemoles kulit ini terdiri dari 2

       poros yaitu poros bawah, dan poros atas. Bahan poros yang digunakan

       adalah ST 37. Poros atas mempunyai panjang 300 mm dengan diameter

       30 mm dan poros bawah mempunyai panjang 300 mm dan diameter 15

       mm.
                                                                             67



2. Transmisi

           Sistem transmisi yang digunakan pada mesin ini adalah mereduksi

   putaran dengan pulley. Putaran motor listrik direduksi dengan transmisi

   pulley dengan perbandingan 2 : 5. Setelah itu, putaran direduksi dengan

   perbandingan 2 : 10 dengan menggunakan transmisi pulley yang kedua.

   Maka hasil akhir putaran yang terjadi pada poros utama adalah 114 rpm.

           Permasalahan yang dihadapi adalah terlalu besarnya putaran yang

   harus    direduksi   sehingga   menyebabkan    komponen         pulley   yang

   dibutuhkan mempunyai ukuran yang cukup besar, untuk mereduksi

   putaran tersebut . Hal tersebut menyebabkan besarnya biaya yang harus

   dikeluarkan serta berkurangnya efisiensi dari mesin tersebut.

           Plat sebagai dinding penutup belt dan pulley yaitu menyesuaikan

   dari ukuran kontruksi pulley. Bahan yang digunakan adalah plat eyser

   tebal 0,8 mm. Seluruh badan mesin ditutup dengan casing termasuk pada

   bagian-bagian transmisi sehingga bahaya dapat dicegah. Ukuran dari

   casing menyesuaikan rangka. Konstruksi casing menggunakan baut untuk

   mengikatnya dengan rangka

           Permasalahan yang dihadapi adalah dalam hal pemasangan casing

   ini menggunakan baut sehingga pada waktu pemasangannya kepala baut

   akan tertinggal diluar casing yang membuat kurang indah jika dilihat dari

   segi estetika.
                                                                              68



   3. Aspek finansial

                Dana yang digunakan untuk pembuatan Mesin pemoles kulit ini

        totalnya mencapai Rp. 2.352.500,00. Harga tersebut belum termasuk

        biaya perawatan dan biaya bila terjadi kerusakan. Keuntungan yang

        diinginkan dari penjualan mesin adalah 10% dari keseluruhan biaya, yaitu

        sebesar Rp. 235.250,00. Jadi harga jual untuk mesin pemoles kulit ini

        adalah Rp 2.600.000,00.



K. Uji Kinerja

        Setelah dilakukan uji kinerja dari mesin pemoles kulit dapat disimpulkan

   bahwa mesin belum dapat bekerja maksimal sesuai dengan harapan. Dari hasil

   analisis yang telah dilakukan, penyebab kurang maksimalnya Mesin pemoles

   kulit adalah tidak optimalnya struktur bentuk dan mekanisme meja pemoles.

   Dan juga dalam pembuatan pengunci kulit yang kurang bagus dan mudah

   digunakan.



L. Kelebihan dan Kelemahan Mesin Pemoles Kulit

        Mesin pemoles kulit ini memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan

   dengan mesin pemoles kulit yang telah ada, yaitu ;

   a.    Konstruksi yang mudah untuk dibuat dan bahan mudah didapatkan.

         Rangka merupakan konstruksi yang di las. Bukan menggunakan bahan

         rangka hasil pengecoran.
                                                                           69



b.     Karena menggunakan sumber tenaga motor listrik sehingga putaran yang

       dihasilkan akan kontingu atau tetap. Sehingga akan menghasilkan

       produk kulit yang sesuai.

      Setelah dilakukan pengujian terhadap fungsi dari mesin pemoles kulit ini

ternyata masih memiliki beberapa kelemahan-kelemahan diantaranya:

1. Sistem Transmisi

     Pada sistem transmisi mesin pemoles kulit ini masih memiliki beberapa

     kelemahan yaitu:

     a. Sabuk V terlalu panjang, sehingga efisiensi mesin berkurang.

        Untuk kelemahan-kelemahan ini dapat diperbaiki dengan cara

        melakukan modifikasi rangka mesin sehingga belt dapat diperpendek.

     b. Suara yang bising pada roda engkol ketika mesin bergerak.

        Kelemahan ini dapat diminalisir dengan melumasi bagian bearing yang

        terdapat pada roda engkol.

2. Mekanisme meja pemoles yang kurang bagus, mengakibatkan pemolesan

     kurang maksimal.

3. Tidak mampu memoles kulit dengan lebar yang lebih dari 50 mm.

4. Aspek Finansial / Ekonomi

     Faktor penjualan atau penerimaan pasar yang paling utama adalah harga,

     kualitas dan manfaat. Berdasarkan hasil analisis konstruksi mesin pemoles

     kulit telah didapatkan bahwa kualitas mesin baik karena telah memenuhi

     nilai keamanan. Kekurangannya adalah pada efektifitas penggunaan yang
                                                                  70



berhubungan dengan kualitas dan harga yang cukup mahal. Dua

kekurangan tersebut dapat diperbaiki dengan cara:

    a. Meningkatkan analisis beberapa komponen untuk mendapatkan

       bahan yang murah namun berkualitas.

    b. Mengurangi waktu dan biaya produksi dengan modifikasi beberapa

       komponen disesuaikan faktor ketersediaan.
                                        BAB V

                             KESIMPULAN DAN SARAN



A. Kesimpulan

         Proses perancangan dan pembuatan hingga pengujian mesin pemoles kulit,

   dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Mesin pemoles kulit menggunakan sistem transmisi pulley dan roda engkol.

     Sistem transmisi ini mereduksi putaran dari 1425 rpm pada motor listrik

     menjadi 114 rpm pada poros engkol. Putaran yang dihasilkan oleh motor

     ditransmisikan oleh sabuk V tipe A 33 dengan pulley ukuran 2 inchi ke pulley

     II dengan diameter 5 inchi. Poros bawah mentransmisikan putaran dari pulley

     II dengan pulley        III dengan diameter 2 inchi. Sabuk V tipe A 47

     menghubungkan pulley III dengan pulley IV yang mempunyai diameter 10

     inchi. Poros atas mentransmisikan putaran dari pulley IV ke roda engkol.

     Sabuk-V pertama tipe A33 mempunyai panjang 838 mm dan jarak sumbu

     porosnya adalah 272 mm. Sabuk-V kedua tipe A47 mempunyai panjang 1194

     mm dengan jarak sumbu porosnya adalah 573 mm.

  2. Mesin memiliki dua poros yaitu poros atas berdiameter 30 mm dengan

     panjang 300 mm dan poros bawah berdiameter 15 mm dengan panjang 300

     mm. Bahan yang digunakan adalah baja dengan tipe ST-37 dengan kekuatan

     tarik ( σ B ) = 37 kg/mm2 .

  3. Biaya yang dikeluarkan untuk proses pembuatan mesin pemoles kulit adalah

      Rp. 2.352.500,00. Laba yang dikehendaki dari penjualan mesin adalah 10%



                                         72
                                                                                73




     dari biaya yang dikeluarkan, maka laba penjualan yaitu Rp. 235.250,00. Harga

     jual mesin pemoles kulit kepada konsumen yaitu Rp 2.587.750,00 atau

     dibulatkan menjadi Rp 2.600.000,00.



B. Saran

            Perancangan mesin pemoles kulit ini masih jauh dari sempurna, baik dari

     segi kualitas bahan, penampilan, dan sistem kerja/fungsi. Oleh karena itu,

     untuk dapat menyempurnakan rancangan mesin ini perlu adanya pemikiran

     yang lebih jauh lagi dengan segala pertimbangannya. Beberapa saran untuk

     langkah yang dapat membangun dan menyempurnakan mesin ini adalah

     sebagai berikut :

     1. Untuk menghasilkan efisiensi mesin yang lebih besar dibutuhkan sistem

           transmisi yang lebih sederhana dan efisien.

     2. Meja pemegang kulit atau bahan perlu diubah dengan mekanisme yang

           lebih baik agar pemolesan dapat lebih baik dan maksimal.
                            DAFTAR PUSTAKA



Amstead, B.H, (1981). Teknologi Mekanik, alih bahasa : Sriati Djaprie, Jakarta,
        Erlangga.

Berahim, Hamzah. 1994. Teknik Tenaga Listrik. Yogyakarta: Andi Offset.

Boediono. 1993. Ekonomi Mikro. Yogyakarta:BPFE. UGM

Harsokusoemo, Darmawan. (2000). Pengantar Perancangan Teknik. Jakarta :
        Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.

Pardjono dan Sirod Hantoro. 1991. Gambar Mesin dan Merencana Praktis.
        Yogyakarta: Liberty

Partadiredja, A. 1996. Pengantar Ekonomika. Yogyakarta: Fakultas Ekonomi
         Universitas Gadjah Mada. cetakan ke-9.

Saputro, A. 2000. Anggaran Perusahaan. Yogyakarta: Fakultas Ekonomi Universitas
         Gadjah Mada. Jilid kedua, cetakan ke-10

Sato, Takesi. 2000. Menggambar Mesin Menurut Standar Iso. Jakarta: Pradnya
        Paramita

Shigley, E. Josep dan Mitchell, D. Larry. (1984). Perencanaan Teknik Mesin. Jakarta:
         Erlangga.

Sularso, Kiyokatsu Suga. (2002). Dasar Perencanaan Dan Pemilihan Elemen Mesin.
         Jakarta: Pradnya Paramita.

Zainun, Achmad. 1999. Elemen Mesin 1. Bandung : Refika Aditama.




                                          73
74
                                                                             99




     Lampiran 2. Tabel Baja Konstruksi Umum Menurut DIN 17100.

Simbol     No.      Jenis baja     Kadar C                    Kekuatan
dengan     bahan    Menurut        (%)        σ B sampai    σ s min   δ5          HB
grup                EURONORM       ≤          100 mm                  min
kualitas            25                                     (N/mm 2 )   (%)
                                             Ø(N/mm 2 )
St 33-1    1.0033   Fe 33-0        -          340…390      190       18      -
St 33-2    1.0035   -                         340…390      190       18      -

St 34-1    1.000    Fe 34-A        0,17       330…410      200       28      95…200
           1.0150

St 34-2    1.0102   Fe 34-B3FU     0,15
           1.0108   Fe 34-B3FN

St 37-1    1.0110   Fe 37-A        0,20       360…440      240       25      105…125
           1.0111

St 37-2    1.0112   Fe 37-B3FU     0,18
                    Fe 37-B3FN


St 37-3    1.0116   Fe 37-C3       0,17

St 42-1    1.0136   Fe 42-A        0,25       410…490      250       22      120…140
           1.0131

St 42-2    1.0132   Fe 42-B3FU     0,25
           1.0134   Fe 42-B3FN

St 42-3    1.0136   Fe 42-C3       0,23

St 50-1    1.0530   Fe 50-1        0,25       490…590      290       20      140…170

St 50-2    1.0532   Fe 50-2        0,30

St 52-3    1.0841   Fe 52-C3       0,2       510…610       350       22      -

St 60-1    1.0540   Fe 60-1        0,35      590..710      330       15      170…195

St 60-2    1.0572   Fe 60-2        0,40

St 70-3    1.0632   Fe 70-2        0,50      690…830       360       10      195…240
     G. Niemann H. Winter, 1990: 96.
                                                                  100




Lampiran 3. Faktor-faktor Koreksi Daya yang Akan Ditransmisikan

   Daya yang akan ditransmisikan                        fc
 Daya rata-rata yang diperlukan                       1,2-2,0
 Daya maksimum yang diperlukan                        0,8-1,2
 Daya normal                                          1,0-1,5
Sumber : Sularso, 2002:7
                                                                                                                                       101




Lampiran 4. Faktor Koreksi Transmisi Sabuk V

Mesin yang digerakkan                                                            Penggerak
                                                                                 Momen punter puncak 200%        Momen punter puncak > 200%
                                                                                 Motor arus bolak-               Motor arus bolak-balik
                                                                                 balik(momen normal, sangkar     (momen tinggi, fasa tunggal,
                                                                                 bajing, sinkron), motor arus    lilitan seri), motor arus searah
                                                                                 searah(lilitan shunt)           (lilitan kompon, lilitan seri),
                                                                                                                 mesin torak, kop[ling tak tetap
                                                                                 Jumlah jam kerja tiap hari      Jumlah jam kerja tiap hari
                                                                                   3-5         8-10      16-24     3-5         8-10        16-24
                                                                                   jam         jam        jam      jam         jam          jam
                                                     Pengaduk zat cair, kipas
                                                     angina, blower(sampai
Variasi beban
                              sanagt kecil




                                                     7,5 kW) pompa                 1,0          1,1       1,2      1,2         1,3           1,4
                                                     sentrifugal, konveyor
                                                     tugas ringan
                                                     Konveyor sabuk(pasir,
                                                     batu bara), pengaduk,
Variasi beban kecil




                                                     kipas angina(lebih dari
                                                     7,5 kW), mesin torak,         1,2          1,3       1,4      1,4         1,5           1,6
                                                     peluncur, mesin
                                                     perkakas, mesin
                                                     percetakan
                                                     Konveyor (ember,
                                                     sekrup), pompa torak,
Variasi beban




                                                     kompresor, gilingan palu,     1,3          1,4       1,5      1,6         1,7           1,8
                              sedang




                                                     pengocok, roots-blower,
                                                     mesin tekstil, mesin kayu
                                                     Penghancur, gilingan
                      Variasi beban




                                                     bola atau batang,
                                                                                   1,5          1,6       1,7      1,8         1,9           2,0
                                                     pengangkat, mesin pabrik
                                             besar




                                                     karet (rol, kalender)
Sumber : Sularso, 1997:165
                                                                              102




Lampiran 5. Faktor Koreksi K θ

       Dp − d p        Sudut Kontak puli kecil θ ( o )   Faktor Koreksi K θ
          C
        0,00                        180                         1,00
        0,10                        174                         0,99
        0,20                        169                         0,97
        0,30                        163                         0,96
        0,40                        157                         0,94
        0,50                        151                         0,93
        0,60                        145                         0,91
        0,70                        139                         0,89
        0,80                        133                         0,87
        0,90                        127                         0,85
        1,00                        120                         0,82
        1,10                        113                         0,80
        1,20                        106                         0,77
        1,30                         99                         0,73
        1,40                         91                         0,70
        1,50                         83                         0,65
Sumber : Sularso, 1997:174.
                                                                          103




Lampiran 6. Daerah Penyetelan Jarak Sumbu Poros

  Nomor       Panjang Keliling    Ke sebelah dalam dari     Ke sebelah luar
  Nominal          Sabuk           letak standart ∆C t     dari letak standart
   Sabuk                                                      ∆C t (umum
                                                           untuk semua tipe)
                                 A     B    C     D    E
   11-38          280-970        20   25                           25
   36-60         970-1500        20   25   40                      40
   60-90         1500-2200       20   35   40                      50
   90-120        2200-3000       25   35   40                      65
  120-158        3000-4000       25   35   40     50               75
Sumber : Sularso, 1997:174
                                                                 104




Lampiran 7. Panjang Sabuk-V Standart

Nomor nominal        Nomor nominal     Nomor nominal   Nomor Nominal
(inchi) (mm)         (inchi) (mm)      (inchi) (mm)    (inchi) (mm)
  10     254           45    1143         80   2032      115   2921
  11     279           46    1168         81   2057      116   2946
  12     305           47    1194         82   2083      117   2972
  13     330           48    1219         83   2108      118   2997
  14     356           49    1245         84   2134      119   3023
  15     381           50    1270         85   2159      120   3048
  16     406           51    1295         86   2184      121   3073
  17     432           52    1321         87   2210      122   3099
  18     457           53    1346         88   2235      123   3124
  19     483           54    1372         89   2261      124   3150
  20     508           55    1397         90   2286      125   3175
  21     533           56    1422         91   2311      126   3200
  22     559           57    1448         92   2337      127   3226
  23     584           58    1473         93   2362      128   3251
  24     610           59    1499         94   2388      129   3277
  25     635           60    1524         95   2413      130   3302
  26     660           61    1549         96   2438      131   3327
  27     686           62    1575         97   2464      132   3353
  28     711           63    1600         98   2489      133   3378
  29     737           64    1626         99   2515      134   3404
  30     762           65    1651        100   2540      135   3429
  31     787           66    1676        101   2565      136   3454
  32     813           67    1702        102   2591      137   3480
  33     838           68    1727        103   2616      138   3505
  34     864           69    1753        104   2642      139   3531
  35     889           70    1778        105   2667      140   3556
  36     914           71    1803        106   2692      141   3581
  37     940           72    1829        107   2718      142   3607
  38     965           73    1854        108   2743      143   3632
  39     991           74    1880        109   2769      144   3658
  40    1016           75    1905        110   2794      145   3683
  41    1041           76    1930        111   2819      146   3708
  42    1067           77    1956        112   2845      147   3734
  43    1092           78    1981        113   2870      148   3759
  44    1118           79    2007        114   2896      149   3785

Sumber : Sularso, 1997 : 168.
                                                               105




Lampiran 8. Harga Kekerasan dan Angka Kelas Kekasaran
               Harga kekasaran R a
                                       Angka kelas kekasaran
                      (µm)

                       50                      N12
                       25                      N11
                      12,5                     N10
                       6,3                      N9
                       3,2                      N8
                       1,6                      N7
                       0,8                      N6
                       0,4                      N5
                       0,2                      N4
                       0,1                      N3
                      0,05                      N2
                     0,025                      N1

             Takeshi Sato, 1992: 186
                                                                                                106




Lampiran 9. Suaian untuk Tujuan-Tujuan Umum Sistem Lubang Dasar

 Lubang                                Lambang dan kwalitas untuk poros
  dasar         Suaian longgar              Suaian pas                     Suaian paksa
          b    c d e        f        g    h js k       m n         p      r    s     t      u     x
 H5                                  4    4 4     4    4
 H6                                  5    5 5     5    5
                              6      6    6 6     6    6     6     6
 H7                     (6)   6      6    6 6     6    6     6     6      6     6     6     6     6
                        7     7      (7) 7 7      (7) (7) (7) (7)         (7)   (7)   (7)   (70   (7)
 H8                           7           7
                        8     8           8
                        9
 H9                     8                 8
               9 9      9                 9
 H 10     9 9 9
Sumber : G. Takeshi Sato, 2000:130
                                                                           107




Lampiran 10. Lambang-lambang dari Diagram Aliran

 Lambang              Nama                        Keterangan
              Terminal          Untuk menyatakan mulai (start), berakhir (end)
                                atau behenti (stop)



              Input             Data dan persyaratan yang diberikan disusun
                                disini



              Pekerjaan orang   Di sini diperlukan pertimbangan-petrimbangan
                                seperti pemilihan persyaratan kerja, persyaratan
                                pengerjaan, bahan dan perlakuan panas,
                                penggunaan fakor keamanan dan factor-faktor
                                lain, harga-harga empiris, dll.
              Pengolahan        Pengolahan dilakukan secara mekanis dengan
                                menggunakan persamaan, tabel dan gambar.



              Keputusan         Harga yang dihitung dibandingkan dengan harga
                                Patoka, dll. Untuk mengambil keputusan



              Dokumen           Hasil perhitungan yang utama dikeluarkan pada
                                alat ini



              Pengubung         Untuk menyatakan pengeluaran dari tempat
                                keputusan ke tempat sebelumnya atau berikutnya,
                                atau suatu pemasukan ke dalam aliran yang
                                berlanjut.

              Garis aliran      Untuk menghubungkan langkah-langkah yang
                                berurutan



Catatan: Y = ya; T = tidak
                                        108




Lampiran 11. Foto Mesin Pemoles Kulit

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:352
posted:8/3/2012
language:Malay
pages:98