perbedaan penentuan awal puasa by ruliyah

VIEWS: 45 PAGES: 2

More Info
									                               Perbedaan Penentuan Awal Puasa

Perbedaan penentuan awal puasa – perbedaan awal puasa yang terjadi di Indonesia untuk
beberapa organisasi keagamaan memang tidak bias dihindarkan. Perbedaan itu lebih karena
perbedaan metode yang digunakan dalam penentuan awal dan akhir bulan hijriyah; setidaknya
dapat dilihat dari dua organisasi muslim terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan
Muhammadiyah.

NU dalam menentukan awal bulan Qomariyah (Hijriyah) pada awalnya hanya menerapkan
metode rukyatul hilal, namun dalam perkembangannya juga mengkombinasikan dengan rukyat
berkualitas dengan dukungan hisab yang akurat sekaligus menerima kriteria imkanur rukyat. NU
telah melakukan redefinisi hilal dan rukyat menurut bahasa, Al-Qur’an, As-Sunnah dan menurut
sains sebagai landasan dan pijakan kebijakannya dalam penentuan awal Ramadhan, dan jatuhnya
hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Nu akan menentukan bulan baru manakala bulan baru yang
terlihat setelah terbenamnya matahari setinggi 2 derajat, bila tidak maka bulan akan digenapkan
menjadi 30 hari.

Di pihak lain, Muhammadiyah lebih cenderung menerapkan penentuan awal bulan menggunakan
metode hisab, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan proses rukyat. Hal ini beralasan
bahwa berdasarkan perkembangan iptek dan pola kehidupan masyarakat maka pelaksanaan
rukyat dilakukan dengan menggunakan hisab. Dengan metode hisab dari Muhammadiyah ini
maka dianggap sudah memasuki bulan baru manakala sudah dapat dilihat wujudul hilal atau
nampaknya bulan baru setelah terbenamnya matahari.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang mana Muhammadiyah meskipun sudah
menentukan awal bulan lebih dahulu namun tetap mengikuti sidang isbat yang diselenggarakan
Kementerian Agama dengan beberapa organisasi muslim, tahun ini Muhammadiyah tidak akan
mengikuti sidang isbat. Din Syamsudin yang merupakan Ketua Umum PP Muhammadiyah telah
menjelaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya telah mengajukan surat yang intinya tidak akan
mengikuti proses sidang isbat, karena mereka beranggapan bahwa dalam sidang isbat tidak ada
diskusi dan musyawarah dan lebih merupakan pikiran-pikiran subjektif pemerintah. Selain itu,
pihaknya juga telah menentukan awal bulan puasa tahun ini yang diperkirakan akan jatuh pada
20 Juli 2012. (baca: viva.co.id)

Mediasi LAPAN dalam perbedaan penentuan awal puasa

Masih segar dalam ingatan saya akan sidang isbat yang dilaksanakan menjelang Idul Fitri 1433
H yang dilaksanakan di gedung Kementerian Agama antara MUI dan beragam organisasi islam
yang ada Indonesia. Ada dua hal yang membuat saya tertarik untuk akhirnya membuat tulisan
ini:

Pertama, sidang yang diselenggarakan di Jakarta ini terlihat bertele-tele. Ada beberapa hal yang
mungkin tidak perlu dibicarakan dalam pertemuan itu. Mengapa saya menganggap ini bertele-
tele? Bila kita menilik alasan bahwa rapat yang disiarkan langsung oleh sebagian besar televisi
nasional ini disaksikan oleh seluruh warga muslim yang ada di Indonesia. Warga dari seluruh
pelosok negeri dan dari berbagai macam organisasi muslim yang menantikan keputusan
Kementerian Agama tentang kapan hari raya Idul Fitri. Sidang ini baru selesai sekira di beberapa
wilayah di Indonesia barat sudah melewati waktu Isya’, lebih-lebih bagi mereka yang tinggal di
wilayah Indonesia tengah dan timur. Apalagi sebelumnya PP Muhammadiyah telah menentukan
terlebih dahulu kapan hari raya Idul Fitri jatuh semenjak awal bulan puasa tahun lalu.

Dengan molornya pengumuman ini, saya mengkhawatirkan akan terjadinya gesekan-gesekan di
masyarakat grass root yang kadang kurang pandai menyikapi apa itu perbedaan. Mereka yang
berada di masyarakat bawah mudah untuk tersulut provokasi manakala ada perbedaan yang
menyangkut organisasi atau kelompok yang mereka ikuti. Namun, syukur Alhamdulillah. Apa
yang saya sempat saya cemaskan ini tidaklah terjadi.

Kedua, salah seorang perwakilan dari LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional)
yang mengikuti sidang isbat tersebut mengungkapkan bahwa lembaganya bersedia untuk
menjadi mediator dalam hal perbedaan penentuan awal puasa dan memberikan ruang diskusi
seluas-luasnya sehingga semua organisasi muslim yang ada di Indonesia ini sepakat dengan
adanya satu tanggal yang sama untuk awal puasa, idul fitri, atau pun idul adha. Dengan hal ini
kesamaan tanggal ini harapannya akan terjadi harmonisasi seluruh warga muslim dengan
beragam organisasi muslim yang mereka ikuti. Selain itu, sisi perekonomian pun akan tetap
lancar dengan jadwal cuti yang tidak dibedakan oleh karena perbedaan tanggal tersebut.

Namun, setelah hampir satu tahun hal itu berlalu, saya tidak pernah mendengar kabar akan
adanya pertemuan dan diskusi yang digagas oleh LAPAN tersebut. Dan perbedaan penentuan
awal puasa yang sudah pasti akan semua umat muslim Indonesia hadapi di bulan Ramadhan
1434 H kali ini pun tidak bisa terhindarkan lagi. Saya hanya bisa berharap bahwa perbedaan
penentuan awal puasa ini akan menjadi spektrum warna dari keindahan keragaman yang
memang diperbolehkan dalam Islam sendiri dan menjadi unsur demokrasi yang mendewasakan
seluruh warga baik muslim atau pun non muslim akan makna perbedaan. Dan, mungkin saya
tidak perlu khawatir akan terjadinya ketidakharmonisan dalam bentuk perselisihan, ancaman, dan
kekerasan yang diakibatkan oleh adanya perbedaan penentuan awal puasa ini.

								
To top