Docstoc

BUDI PEKERTI MATA PELAJARAN WAJIB DISEKOLAH

Document Sample
BUDI PEKERTI MATA PELAJARAN WAJIB DISEKOLAH Powered By Docstoc
					           BUDI PEKERTI MATA PELAJARAN WAJIB DISEKOLAH



        Cerdas secara intelektual merupakan tuntutan dan harapan setiap orang untuk
mencapai cita-cita agar kelak sukses dan berhasil. Kesuksesan dan keberhasilan itu akan
mengangkat Prestige seseorang bila mampu menggunakan kecerdasan secara utuh dan
seimbang dalam kehidupan bersosial dan bermasyarakat. Namun ternyata kecerdasan
intelektual itu bukan satu-satunya pengantar keberhasilan dalam mencapai kesuksesan
hidup   seseorang.   Daniel   Goleman    mengatakan     kecerdasan    intelektual   hanya
menyumbang 20 persen keberhasilan seseorang dan 80 persen disumbang oleh
kecerdasan lain.
                                          ***
        Sekolah adalah “lumbung” generasi cerdas secara intelektual yang menjadi
generasi penerus berkembangnya sebuah bangsa. Bagi siswa, disamping tempat menuntut
ilmu, sekolah juga merupakan tempat tinggal kedua setelah rumah. Seiring dengan
semakin pesatnya perkembangan teknologi dan budaya membuat siswa jaman sekarang
kehilangan jati diri sebagai masyarakat intelektual yang turun beberapa tingkatan (level)
lebih rendah derajatnya karena dikaburkan oleh tingkah laku yang tidak sesuai secara
norma atau aturan sosial. Tingkah laku yang tidak sesuai itu disebabkan bermacam-
macam faktor lingkungan diantaranya keluarga dan sosial.
        Keluarga akan membawa pengaruh yang besar pada diri anak, sebab keluarga
merupakan cerminan kebiasaan anak dalam melakukan tingkah laku yang positif dalam
berinteraksi dengan lingkungan, salah satu contoh kebiasaan berpamitan atau bersalam
saat kembali kerumah atau saat akan meninggalkan rumah, anak akan melakukan hal
yang sama sebagai akibat sebuah kebiasaan yang dilakukan dirumah dengan anggota
keluarganya, begitu juga sebaliknya. Dilingkungan sosial perkembangan anak memang
banyak dipengaruhi oleh teman sebaya, sebab anak lebih banyak berada diluar rumah dari
pada berkumpul dengan keluarga. Hal ini menyebabkan semakin menipisnya nilai-nilai
budi pekerti atau moral dalam diri anak tersebut. Anak akan menganggap itu baik bila
lingkungan sebayanya mengatakan baik, anak akan merasa “berpengaruh” dalam
kelompoknya apabila ia berhasil melakukan tindakan menyimpang. Tindakan ini akan
terus berlanjut sebagai akibat dari eksistensi anak dalam kelompoknya dan berimbas pada
lingkungan disekolahnya.
       Berawal dari melanggar tata tertib sekolah hingga berkacak pinggang bila
berbicara dengan guru, anak akan selalu mengembangkan pengaruh menyimpangnya
pada teman-temannya disekolah. Dalam kondisi seperti ini guru menjadi obyek
pelemparan kesalahan karena dianggap tidak berhasil dalam mendidik siswanya
disekolah. Guru akan serba salah, sebagai manusia, guru pun kadang tersinggung bila
bertemu dengan anak didik yang susah diatur dan menyimpang prilakunya, tidak jarang
bogem mentah pun melayang karena menahan jengkel. Tujuan baik guru pun disalah
artikan hingga tidak jarang orang tua siswa yang tidak terima dengan perlakuan yang
diberikan pada anaknya dan melapokan ke pihak berwajib dengan tuduhan penganiayaan,
guru pun dihukum penjara sebagai konsekuensi logis dalam penegakan Undang-Undang
Perlindungan Anak dinegara kita.
       Komisi Perlindungan Anak melarang adanya tindak kekerasan pada anak namun
juga tidak ada solusi tepat untuk mengantisipasi kenakalan anak secara efektif. Sehingga
hal ini disalah artikan oleh orang tua dan anak kemudian diungkapkan dengan tindakan
sehingga membawa dampak negative bagi guru. Anak akan merasa besar kepala dan
bebas melakukan apa saja disekolah termasuk berhadapan dengan guru. Hal ini bisa
ditemui pada sekolah yang memiliki input siswa dengan skill yang dibawah rata-rata.
Dirumah kepedulian orang tua terhadap perkembangan potensi dan psikologis anak tidak
berjalan dengan semestinya karena alasan sibuk dengan pekerjaan, maka siswa yang
demikian cenderung mendahulukan otot dari pada otak, sehingga anak seperti ini
memiliki egoisitas, idealisme yang tinggi, dan temperamental, namun menyimpang.
       Perkembangan moral yang menyimpang menyebabkan anak tidak mampu
mengendalikan kondisi psikisnya dengan baik. Menurut Gerris, dkk (dalam Mönks,
1985: 313-314) bahwa perkembangan social-kognitif (kemampuan berinteraksi dalam
sosial) terdiri dari 4 tingkatan; 1) Tingkatan egosentris, anak belum membedakan antara
perspektif sendiri dengan perspektif orang lain. Ia belum “merasakan” bahwa orang lain
yang tidak ada dalam situasi tertentu akan dapat mempunyai pandangan yang lain. 2)
Tingkatan subyektif, anak sadar bahwa ada perspektif yang lain misalnya karena
seseorang ada dalam situasi yang lain maka ia akan memperoleh informasi atau penilaian
yang lain, tetapi belum mengerti hubungan antara perbedaan-perbedaan perspektif
tersebut. 3) Tingkatan refleksi diri, sekarang ada perspektif yang menyebelah atau yang
tidak timbal balik pada anak (bertepuk sebelah tangan). Anak sadar bahwa lain orang
dapat mempunyai perasaan dan pikiran yang lain pula, tetapi ia belum mampu
menghubungkan perspektif sendiri dengan perspektif orang lain. 4) Tingkat koordinasi
perspektif, baru sekarang anak dapat mengerti suatu situasi-interaksi dari sudut
pandangan orang ketiga yang “netral”. Sifat khasnya bahwa anak ini melihat dirinya dan
interaksi dengan orang lain berdasarkan dari pandangan orang ketiga. Anak-anak yang
secara intelektual dibawah rata-rata akan menunjukkan kekuatannya sebagai anak
perkasa dalam kondisi apapun.
       Mata pelajaran pendidikan moral saja tidak mempan untuk “menyembuhkan”
penyakit yang sudah mendarah daging. Apalagi mata pelajaran tersebut telah lama
dihapus, maka sangat dibutuhkan secara khusus pelajaran yang berorientasi pada
pendidikan budi pekerti (unggah-ungguh). Guru BK (Bimbingan Konseling) dengan
jumlah terbatas tidak cukup hebat dalam mengatasi hal yang demikian, untuk mengatasi
hal tersebut harus didukung peran serta lintas sektoral dari semua unsur dalam lembaga
bersangkutan, mulai dari guru dan personal yang lain sehingga ada sebuah tindakan nyata
dalam mengatasi krisis budi pekerti.
       Tindakan nyata yang selama ini dilakukan Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur
dan Dinas Pendidikan di daerah dalam hal ini adalah menyelenggarakan pendidikan budi
pekerti dalam bentuk pagelaran Festival Fragmen dan Penulisan Naskah Budi Pekerti
tingkat SMA se-Jawa Timur. Hal itu dirasa kurang maksimal sebab pelaksanaannya
hanya satu tahun sekali. Anak melakukan hal tersebut bukan atas dasar pendidikan budi
pekerti yang diberikan tetapi berdasarkan tuntutan naskah yang ditulis sang penulis
naskah sehingga aplikasi dalam kehidupan sehari-hari tidak ada dan terkesan sebuah
formalitas.
       Dari kondisi diatas perlu sebuah “solusi cerdas” untuk memasukkan pendidikan
budi pekerti menjadi mata pelajaran wajib pada semua jenjang pendidikan di sekolah.
Artinya, disamping memberikan pendidikan budi pekerti sebagai mata pelajaran tetap
juga membuka kesempatan pekerjaan bagi sarjana-sarjana pendidikan yang belum
tersalurkan ilmunya.
       Pelajaran pendidikan budi pekerti akan lebih mantab lagi bila digunakan sebagai
persyaratan wajib seseorang untuk masuk ataupun lulus dari sekolah dimaksud. Sehingga
meringankan beban guru dalam rangka mencerdaskan anak bangsa. Selama ini guru telah
berjuang mati-matian untuk mencerdaskan anak bangsa atas dasar profesi dan
profesionalismenya, guru juga manusia, memiliki latar belakang masalah yang berbeda
sehingga ada kemungkinan untuk membuat guru bersikap skeptis ketika menghadapi hal
yang mengancam stabilitas kehidupan pribadinya, siapapun guru itu.
       Sebuah       pertanggungjawaban      yang      besar     yang     tidak     hanya
dipertanggungjawabkan pada sesama manusia tetapi juga dengan Sang Pencipta alam
semesta. Bagaimanapun guru secara ikhlas memberikan semua ilmu yang dimilikinya
tanpa ada paksaan, namun bila keikhlasan itu harus dibayar mahal dengan mengahadapi
“kenakalan” anak yang tak punya rasa iba maka perlahan-lahan akan pupus dan memudar
juga. Akan lebih mudah mencari anak cerdas intelektual disekolah daripada mencari anak
yang cerdas dalam budi pekerti.
       Perilaku baik atau buruk bukan merupakan faktor bawaan seseorang, maka
perilaku tersebut bisa dipelajari siapa saja. Untuk memperjelas identitas sebagai makhluk
yang beradab maka budi pekerti merupakan penyeimbang dalam berinteraksi di
kehidupan social.

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Stats:
views:54
posted:8/2/2012
language:Malay
pages:4
Description: BUDI PEKERTI MATA PELAJARAN WAJIB DISEKOLAH