KEMAMPUAN MENULIS PUISI BERDASARKAN PEMANFAATANGAMBAR SISWA KELAS VII by KLNS4Q

VIEWS: 1,072 PAGES: 110

									PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR TERHADAP
   KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI
 SISWAKELAS IX SMP NEGERI 20 BANDAR LAMPUNG
          TAHUN PELAJARAN 2009/2010


                  (Skripsi)




                    Oleh
                Yuni Arika




 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
          UNIVERSITAS LAMPUNG
            BANDAR LAMPUNG
                  2010
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR TERHADAP
   KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI
 SISWAKELAS IX SMP NEGERI 20 BANDAR LAMPUNG
          TAHUN PELAJARAN 2009/2010


                             Oleh

                        Yuni arika



                            Skripsi

        Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar
                SARJANA KEPENDIDIKAN


                             Pada


Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah
              Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni
            Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan




FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
         UNIVERSITAS LAMPUNG
                 2010
Judul Skripsi            : PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR
                          TERHDAP KEMAMPUAN MENULIS
                          KARANGAN DESKRIPSI SISWA KELAS IX
                          SMP NEGERI 20 BANDARLAMPUNG
                          TAHUN PELAJARAN 2009/2010

Nama                     : Yuni Arika

Nomor Pokok Mahasiswa    : 0513041049

Program Studi            : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan
                           Daerah

Jurusan                  : Pendidikan Bahasa dan Seni

Fakultas                 : Keguruan dan Ilmu Pendidikan




                             MENYETUJUI,



                        1.   Komisi Pembimbing




Dra. Ni Nyoman Wetty, M. Pd.            Eka Sofia Agustina, S. Pd,. M. Pd.
NIP 19510614 198103 2 001               NIP 19780809 200801 2 001



                         2. Ketua Program Studi
                            Pendidikan Bahasa dan Seni




                             Drs. Imam Rejana, M.Si.
                             NIP 19480421 197803 1 004
                           MENGESAHKAN




1. Tim Penguji

   Ketua                  : Dra Ni Nyoman Wetty, M. Pd.          ................




   Sekretaris             : Eka Sofia Agustina, S. Pd,. M. Pd.   ................



   Penguji
   Bukan Pembimbing       : Drs. Iqbal Hilal, M. Pd.             ................




2. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan




   Prof. Dr. Sudjarwo, M. S.
   NIP 19530528 198103 1 002




   Tanggal Lulus Ujian Skripsi: 17 Maret 2010
                                 ABSTRAK

   PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR TERHADAP
      KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI
     SISWA KELAS IX SMP NEGERI 20 BANDARLAMPUNG
               TAHUN PELAJARAN 2009/2010


                                    Oleh

                                Yuni Arika


Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah pengaruh penggunaan
media gambar terhadap kemampuan menulis karangan deskripsi siswa kelas
IX SMP Negeri 20 Bandarlampung tahun pelajaran 2009/2010. Media yang
digunakan yakni media gambar tunggal. Berdasarkan masalah tersebut,
penelitian ini bertujuan untuk    menguji ada atau tidaknya pengaruh
penggunaan media gambar terhadap kemampuan menulis karangan deskripsi
pada siswa kelas IX SMP Negeri 20 Bandarlampung.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode eksperimen. Populasi
penelitian ini siswa kelas IX SMP Negeri 20 Bandarlampung tahun Pelajaran
2009/2010 yang berjumlah 272 siswa yang tersebar dalam 7 kelas. Dalam
pengambilan sampel, peneliti menggunakan teknik cluster random sampling.
Teknik ini digunakan bilamana populasi tidak terdiri atas individu-individu,
melainkan terdiri atas kelompok-kelompok individu atau cluster. Sampel
penelitian ini ada dua kelas, yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen. Kelas
IX A sebagai kelas kontrol diberi pembelajaran mengarang dengan
menggunakan media sumber belajar lingkungan dan kelas IX B sebagai kelas
eksperimen diberi pembelajaran mengarang dengan menggunakan media
gambar. Data kemampuan menulis karangan deskripsi diambil melalui tes
menulis. Tes ini berupa tugas menulis karangan deskripsi berdasarkan media
yang disediakan dengan waktu ± 80 menit.

Hasil penelitian ini adalah kemampuan menulis karangan deskripsi di kelas
eksperimen dilihat dari rata-rata skor pretest 66,8% tergolong cukup dan post
test 74,8% tergolong cukup. Sehingga, kedua tes tersebut diperoleh selisih
skor 8%. Selanjutnya, pada peningkatan kemampuan menulis karangan
deskripsi di kelas kontrol dilihat dari rata-rata skor pretest 64,2% tergolong
cukup dan post test 67,7% tergolong cukup. Sehinggga, kedua tes tersebut
diperoleh selisih skor 3,5%.
Kemampuan menulis karangan deskripsi pada tes awal di kelas eksperimen
dan kontrol memeroleh selisih skor yaitu 2,6% dari rata-rata skor antara kelas
eksperimen yaitu 66,8% dan kelas kontrol yaitu 64,2%. Selanjutnya,
kemampuan menulis karangan deskripsi pada tes akhir di kelas eksperimen
dan kontrol memeroleh selisih skor yaitu 7,1% dari rata-rata skor antara kelas
eksperimen yaitu 74,8% dan kelas kontrol yaitu 67,7%.

Dari hasil perhitungan diperoleh bahwa nilai t hitung = 2,38 dan t tabel =
2,64. Harga t hitung sebesar 2,38 lebih kecil daripada t tabel 2,64. Dengan
demikian, Ha ditolak dan H0 diterima. Jadi, hipotesis konseptual yang
diajukan “Skor rata-rata kemampuan menulis karangan deskripsi siswa yang
dalam proses pembelajaran menggunakan media gambar lebih besar
pengaruhnya daripada skor rata-rata kemampuan menulis karangan deskripsi
siswa yang dalam proses pembelajaran menggunakan media sumber belajar
lingkungan” tidak teruji kebenarannya. Karena t hitung lebih kecil daripada t
(1-0,01) (n1 + n2 -2). Sesuai dengan kriteriannya dengan taraf kepercayaan
99% (a=0,01), H0 ditolak jika t hitung lebih besar daripada t (1-0,09) (n1+n2 -
2). Dalam hal selain itu, Ha diterima.
                            RIWAYAT HIDUP



Penulis dilahirkan di Baturaja, Sumatera Selatan, pada 06 Juni 1987. Penulis

merupakan anak pertama dari empat bersaudara, putri pasangan dari Ibu

Soleha dan Bapak Usman. Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah taman

kanak-kanak di TK Aisya Baturaja diselesaikan pada tahun 1993. Sekolah

Dasar Negeri 67 OKU Baturaja Sumatera Selatan diselesaikan tahun 1999.

Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 18 OKU Baturaja Sumatera

Selatan diselesaikan tahun 2002. Sekolah Menengah Atas Negeri 3 OKU

Baturaja Sumatera Selatan diselesaikan pada tahun 2005.


Tahun 2005 penulis terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan

Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, jurusan Pendidikan Bahasa dan

Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung, melalui

jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (non-SPMB). Pada tahun 2009

penulis melakukan praktik pengalaman lapangan (PPL) di SMP Negeri 20

Bandar Lampung dari Februari hingga April.
                     MOTTO


         “Bertanyalah kepada seseorang yang
memunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahuinya”
                (Q.S. An Nahl: 43).


         “Jika kamu menghitung nikmat Allah,
    kamu tidak akan mampu menentukan jumlahnya.
 Sungguh Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang”
                 (Q.S. An Nahl: 18)
                           PERSEMBAHAN



      Dengan mengucap Alhamdullilah dan rasa bahagia atas nikmat

     yang diberi Allah Subhanawataallah, kupersembahkan karya ini

untuk kedua orang tuaku, Ibunda Soleha dan Ayahanda Usman tercinta, atas

    doa dalam setiap sujud dan tahajjudnya untuk keberhasilanku, serta

  dorongan, pengorbanan, dan kasih sayangnya selama ini. Adik-adikku

tercinta Okta Putra Irawan, Mike Sopiah, dan terutama adikku Joni Pranata

(Almarhum) yang selama hidupnya telah memberikan kasih sayang dan doa

serta selalu membuat penulis bersemangat untuk memyelesaikan skripsi ini.

  Untuk seseorang yang akan menjadi imamku kelak. Teruntuk keluarga

  besarku dan almamater tercinta yang mendewasakanku dalam berpikir,

          bertutur, dan bertindak, serta memberikan pengalaman

                          yang tidak terlupakan.
                              SANWACANA


Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah Subhanahuwataalla yang telah

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi yang berjudul “Pengaruh Media Gambar terhadap Kemampuan

Menulis Karangan Deskripsi Siswa Kelas IX SMP Negeri 20 Bandarlampung

Tahun Pelajaran 2008/2009”. Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu

syarat untuk mencapai gelar sarjana pendidikan di Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan.


Penulis telah banyak menerima bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak

dalam proses penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, sebagai wujud rasa

hormat penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak

berikut.

1. Dra. Ni Nyoman Wetty Suliani, M.Pd., selaku Pembimbing I, yang telah

   membimbing penulis dan memberikan arahan serta pengetahuan dalam

   menyelesaikan skripsi ini dengan penuh kebijakan dan kesabaran.

2. Eka Sofia Agustina, S.Pd., M.Pd. selaku Pembimbing II, yang telah

   membantu membenahi skripsi ini dari penyusunan proposal dengan penuh

   kepedulian dan kesabaran hingga skripsi selesai ditulis.

3. Drs. Iqbal Hilal, M.Pd., selaku Penguji Utama, yang telah memberikan

   petunjuk, saran, dan bimbingan kepada penulis.
4. Dr. Edi Suyanto, M.Pd., selaku Pembimbing Akademik, sekaligus Ketua

   Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah yang telah

   membimbing penulis selama menempuh studi di Universitas Lampung.

5. Drs. Imam Rejana, M.Si., Ketua Jurusan Bahasa dan Seni, Universitas

   Lampung.

6. Prof. Dr. H. Sudjarwo, M.S., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu

   Pendidikan, Universitas Lampung, beserta stafnya.

7. Bapak dan Ibu dosen FKIP Universitas Lampung yang telah membekali

   penulis dengan berbagai ilmu pendidikan.

8. Kedua orang tuaku (Ibu Soleha dan Bapak Usman) yang tidak hentinya

   memberi semangat, motivasi, dan doa kepada penulis.

9. Ketiga saudara kandungku, Okta Putra Irawan, Mike Sopiah, dan

   terutama adikku Joni Pranata (Almarhum) yang selalu membuat penulis

   bersemangat untuk menyelesaikan skipsi ini.

10. Ayuk Ani dan Kak Heri, yang selama ini telah memberikan motivasi dan

   nasihat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

11. Kakakku Adi Candra, yang selama ini telah memberikan motivasi dan bantuan

   kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

12. Kedua uwakku, yang telah memberikan nasihat dan saran kepada penulis

   sehingga penulis terpacu dalam menyelesaikan skripsi ini.

13. Seluruh keluarga besarku yang senantiasa sabar menanti keberhasilan

   penulis.

14. Keluarga besar   Wisma Maritha, Sevtiana, Supriyati, Devi, Tri Ernita

   Sari, Zares, Pipit, Yulia, Ani, Sifha, dan khususnya Fharia yang selalu
   membuat penulis tersenyum dan bersemangat dalam menyelesaikan

   skripsi ini.

15. Bapak dan Ibu guru di SMP Negeri 20 Bandarlampung.

16. Sahabat-sahabat terbaikku (Hefi Yaniarti, S.Pd, Maya Dika, Agus Seftina)

   yang telah memberikan persahabatan terindah yang tidak akan pernah

   terlupakan.

17. Teman-teman seperjuanganku, Angkatan 2005 (Supriyati, Risma Evika

   Aryani, Indah Margaretha, Rina Mardiana, Sri Hartati, Romi Yanto,

   Nurholis, Parida, Erlin, dan Nasril) terima kasih atas persahabatan, doa

   serta bantuan dalam mendukung penulis untuk penyelesaian skripsi ini.

18. Kakak tingkat 2003 dan 2004, serta adik tingkat angkatan 2006 dan 2007.

19. Semua pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi ini, yang tidak

   dapat disebutkan satu per satu.


Mudah-mudahan segala amal dan bantuan dari pihak-pihak yang telah

disebutkan di atas, mendapat pahala serta balasan dari Allah

Subhanahuwataallah. Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat untuk

kemajuan pendidikan, khususnya Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.



Bandar Lampung,     Maret 2010

Penulis,



Yuni Arika
                                            DAFTAR ISI

                                                                                               Halaman

ABSTRAK ...........................................................................................       i
HALAMAN JUDUL ...........................................................................               iii
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................                      iv
RIWAYAT HIDUP .............................................................................               v
MOTTO ..............................................................................................     vi
PERSEMBAHAN ...............................................................................             vii
SANWACANA ...................................................................................          viii
DAFTAR ISI ......................................................................................        ix
DAFTAR TABEL ................................................................................             x
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................                  xi

I. PENDAHULUAN ..........................................................................                1
   1.1 Latar Belakang ...................................................................                1
   1.2 Rumusan Masalah ..............................................................                    6
   1.3 Tujuan Penelitian ...............................................................                 6
   1.4 Manfaat Penelitian ..............................................................                 6
   1.5 Ruang Lingkup Penelitian ...................................................                      7

II. LANDASAN TEORI .....................................................................                 9
    2.1 Hakikat Pembelajaran Menulis ...............................................                     9
        2.1.1Pengertian Menulis .........................................................               11
        2.1.2 Manfaat Kegiatan Menulis .............................................                    12
    2.2 Pengertian Paragraf ................................................................            12
    2.3 Pengertian Menulis Karangan .................................................                   13
    2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Siswa dalam
        Menulis Karangan ..................................................................             14
    2.5 Fungsi Menulis Karangan .......................................................                 14
    2.6 Tujuan Menulis Karangan ........................................................                16
    2.7 Bentuk-Bentuk Karangan .........................................................                19
        2.7.1 Karangan Deskripsi ........................................................               24
        2.7.2 Ciri-Ciri Karangan Deskripsi ..........................................                   26
        2.7.3 Langkah-Langkah Menulis Karangan Deskripsi ..............                                 27
    2.8 Teknik Penulisan ....................................................................           27
    2.9 Kreteria Karangan yang Baik ..................................................                  30
    2.10 Contoh Karangan Deskripsi ....................................................               32
    2.11 Pengertian Media Gambar .......................................................              37
    2.12 Bentuk Media Gambar .............................................................            39
    2.13 Syarat-Syarat Penggunaan Media Gambar ...............................                        40
    2.14 Kelebihan Media Gambar .......................................................               40
    2.15 Pengaruh Pengguaan Media Gambar terhadap Kemampuan
         Mengarang Deskripsi ..............................................................           41
    2.16 Kerangka Teori ........................................................................      43
    2.17 Hipotesis ................................................................................   44

III. METODE PENELITIAN .............................................................                  46
    3.1 Metode Penelitian ..................................................................          46
    3.2 Populasi dan Sampel ..............................................................            47
        3.2.1 Populasi .......................................................................        47
        3.2.2 Sampel .........................................................................        48
    3.3 Teknik Pengumpulan Data ......................................................                48
    3.4 Prosedur Penelitian .................................................................         52
    3.5 Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ........................                         53
    3.6 Tolok Ukur Penelitian .............................................................           54

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................                       55
   4.1 Hasil Penelitian .....................................................................         55
       4.1.1 Data Penelitian .............................................................            56
             4.1.1.1 Data Pretes Kelas Eksperimen ...........................                         56
             4.1.1.2 Data Pretes Kelas Kontrol .................................                      57
             4.1.1.3 Data Postes Kelas Eksperimen ..........................                          58
             4.1.1.4 Data Postes Kelas Kontrol .................................                      59
       4.1.2 Tingkat Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi .........                                   60
             4.1.2.1 Tingkat Kemampuan Pretes di Kelas Eksperimen                                     61
             4.1.2.2 Tingkat Kemampuan Pretes di Kelas Kontrol ....                                   61
             4.1.2.3 Tingkat Kemampuan Postes di Kelas Eksperimen                                     62
             4.1.2.4 Tingkat Kemampuan Postes di Kelas Kontrol ....                                   63
   4.2 Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi di Kelas
       Eksperimen dan di Kelas Kontrol .............................................                  64
   4.3 Hasil Pengujian Hipotesis .......................................................              65
       4.3.1 Hasil Uji Acak Sampel .................................................                  65
       4.3.2 Hasil Uji Normalitas Distribusi .....................................                    66
       4.3.3 Pengujian Hipotesis .......................................................              67
   4.4 Bahasan Penelitian ..................................................................          68
       4.4.1 Isi Karangan Deskripsi ..................................................                69
       4.4.2 Penggunaan Bahasa .......................................................                75
       4.4.3 Penataan Gagasan .........................................................               80
V. SIMPULAN DAN SARAN ............................................................                    85
   5.1 Simpulan ...............................................................................       85
   5.2 Saran ......................................................................................   86

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................             87
LAMPIRAN ........................................................................................     90
                                      DAFTAR TABEL


Tabel

   1    Desain Penelitian Pada Kelas Eksperimen dan Kelas
        Kontrol ...................................................................................    47
   2    Jumlah Populasi Penelitian Siswa SMP Negeri 20
        Bandarlampung Tahun Pelajaran 2009/2010 ..............................                         47
   3    Indikator Penilaian Tes Kemampuan Mengarang Deskripsi .......                                  49
   4    Prosedur Penelitian untuk Kelas Eksperimen dan Kelas
        Kontrol ....................................................................................   52
   5    Tolok Ukur Penilaian Kemampuan Siswa Menulis Karangan
        Deskripsi .................................................................................    54
   6    Data Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi pada Peretes
        DiKelasEksperimen………………………………………………..                                                          57
   7    Data Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi pada Peretes
        di Kelas Kontrol ......................................................................        58
   8    Data Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi pada Postes
        di Kelas Eksperimen ................................................................           59
   9    Data Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi pada Postes
        di Kelas Kontrol ......................................................................        60
   10   Tingkat Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi pada Pretes
        di Kelas Eksperimen ................................................................           61
   11    Tingkat Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi pada Pretes
        di Kelas Kontrol ......................................................................        62
   12   Tingkat Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi pada Postes
        di Kelas Eksperimen ................................................................           63
   13   Tingkat Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi pada Postes
        di Kelas Kontrol ......................................................................        64
   14   Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi di Kelas
        Eksperimen dan Kontrol ...........................................................             64
   15   Hasil Uji Acak Sampel di Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol                                    66
   16   Hasil Uji Normalitas Distribusi Sampel di Kelas Eksperimen dan
        Kelas Kontrol ..........................................................................       67
   17   Hasil Keseluruhan Aspek Tes Awal (Pretes) Kemampuan
        Menulis Karangan Deskripsi Berdasarkan Media Gambar Kelas
        IX B SMP Negeri 20 Bandarlampung (Kelas Eksperimen) .........                                  91
   18   Hasil Keseluruhan Aspek Tes Awal (Pretes) Kemampuan
        Menulis Karangan Deskripsi Berdasarkan Sumber Belajar
        Lingkungan Kelas IX B SMP Negeri 20 Bandarlampung
        (Kelas Kontrol) ........................................................................       92
19   Hasil Keseluruhan Aspek Tes Akhir (Postes) Kemampuan
     Menulis Karangan Deskripsi Berdasarkan Media Gambar Kelas
     IX B SMP Negeri 20 Bandarlampung (Kelas Eksperimen) ......... 93
20   Hasil Keseluruhan Aspek Tes Akhir (Postes) Kemampuan
     Menulis Karangan Deskripsi Berdasarkan Sumber Belajar
     Lingkungan Kelas IX B SMP Negeri 20 Bandarlampung
     (Kelas Kontrol) ........................................................................ 94
21   Hasil Uji Acak Sampel ............................................................. 95
22   Hasil Peningkatan Skor di Kelas Eksperimen dan di Kelas
     Kontrol .................................................................................... 96
23   Uji Normalitas Distribusi Sampel di Kelas Eksperiman ............. 98
24   Uji Normalitas Distribusi Sampel di Kelas Kontrol ................... 100
                                DAFTAR LAMPIRAN


Lampiran                                                                              Halaman

      1      Hasil Keseluruhan Aspek Tes Awal (Pretes) Kemampuan
           Menulis Karangan Deskripsi Berdasarkan Media Gambar
           Kelas IX B SMP Negeri 20 Bandarlampung (Kelas
           Eksperimen) ....................................................................... 91
     2      Hasil Keseluruhan Aspek Tes Awal (Pretes) Kemampuan
           Menulis Karangan Deskripsi Berdasarkan Sumber Belajar
           Lingkungan Kelas IX B SMP Negeri 20 Bandarlampung (Kelas
           Kontrol) ............................................................................. 92
     3      Hasil Keseluruhan Aspek Tes Akhir (Postes) Kemampuan
           Menulis Karangan Deskripsi Berdasarkan Media Gambar Kelas
           IX B SMP Negeri 20 Bandarlampung (Kelas Eksperimen) .... 93
     4      Hasil Keseluruhan Aspek Tes Akhir (Postes) Kemampuan
           Menulis Karangan Deskripsi Berdasarkan Sumber Belajar
           Lingkungan Kelas IX B SMP Negeri 20 Bandarlampung (Kelas
           Kontrol) ............................................................................. 94
     5      Hasil Uji Keacakan Sampel ................................................ 95
     6      Hasil Peningkatan Skor di Kelas Eksperimen dan di Kelas
           Kontrol ............................................................................... 96
     7      Uji Normalitas Distribusi Sampel di Kelas Eksperiman ...... 98
     8      Uji Normalitas Distribusi Sampel di Kelas Kontrol ............ 100
     9      RPP untuk Kelas Eksperimen pada Tes Awal ..................... 102
     10     RPP untuk Kelas Kontrol pada Tes Awal ........................... 108
     11     RPP untuk Kelas Eksperimen pada Tes Akhir .................... 114
     12     RPP untuk Kelas Kontrol pada Tes Akhir ........................... 120
     13     Instrumen I Kelas Eksperimen pada Tes Awal .................... 126
     14     Instrumen I Kelas Kontrol pada Tes Awal .......................... 127
     15     Instrumen 2 Kelas Eksperimen pada Tes Akhir .................. 128
     16     Instrumen 2 Kelas Kontrol pada Tes Akhir ......................... 129
     17     Nilai untuk Distribusi t ...................................................... 130
     18     Hasil Karangan Siswa ........................................................ 131
     19     Surat Keterangan Penelitian ............................................... 139
     20     Surat Keterangan dari UNILA ............................................ 140
     21     Surat Izin Penelitian .......................................................... 141
     22     Lembar Konsultasi .....................................................                142
                            I. PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang Masalah

Perkembangan zaman yang semakin maju serta peradaban manusia yang

semakin modern, diharapkan dapat meningkatkan aktivitas serta kreativitas

belajar siswa sesuai dengan apa yang diharapkan. Aktivitas dan kreativitas

belajar tersebut dimulai dari tingkat sekolah dasar hingga tingkat perguruan

tinggi. Oleh sebab itu, aktivitas dan kreativitas belajar dapat dicapai dengan

meningkatkan salah satu kegiatan itu, yaitu berupa keterampilan berbahasa.


Keterampilan berbahasa dapat dibedakan menjadi dua komponen, yaitu

keterampilan yang bersifat reseptif dan produktif. Membaca dan menyimak

termasuk keterampilan yang bersifat reseptif, sedangkan berbicara dan

menulis   termasuk    keterampilan   berbahasa    yang   bersifat   produktif.

Keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif berguna dalam rangka

memperluas pengalaman seseorang dengan cara menerima informasi, amanat,

pesan dan sebagainya yang disampaikan orang melalui media, yaitu bahasa

yang bersifat lisan maupun tulisan. Sedangkan, keterampilan berbahasa yang

bersifat produktif berguna untuk menuangkan ide, gagasan, serta emosi

dalam rangka mengikuti per- kembangan zaman yang berjalan dengan sangat

pesat.
Menulis adalah salah satu cara untuk mengekspresikan diri, mengungkapkan

ide, dan menuangkan apa saja yang ada dalam batin si penulis. Melalui

menulis orang dapat membuat rangkaian kalimat, ide atau pendapat tentang

pengalaman yang ingin disampaikan kepada pembaca dengan bentuk grafem

(huruf-huruf).


Tarigan (1982: 3) menyatakan bahwa menulis merupakan suatu keterampilan

berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung,

tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis sebagai komunikasi

secara tidak langsung memerlukan kepekaan dari penulisnya yang berupa

kepekaan bahasa yang mencakup tulisan, kata, kalimat, paragraf dan

pemaknaannya. Selain kepekaan bahasa, penulis juga harus mempunyai

kepekaan materi dan bentuk tulisan (Marahimin, 1993: 18).


Mustofa (2000: 6) mengungkapkan bahwa menulis adalah suatu proses

memikirkan gagasan yang akan disampaikan kepada pembaca sampai dengan

menentukan cara mengungkapkan atau menyajikan gagasan itu dalam

rangkaian kalimat. Menulis berhubungan erat dengan membaca. Bila kita

menulis sesuatu, pada prinsipnya kita ingin agar tulisan itu dibaca oleh orang

lain atau dapat kita baca sendiri pada saat yang lain. Aktivitas menulis

melibatkan unsur penulis sebagai penyampai pesan, pesan atau isi tulisan,

saluran atau media tulisan, dan pembaca sebagai penerima pesan.


Dengan menulis seseorang dapat menuangkan dan mengungkapkan pikiran

serta gagasan untuk mencapai maksud dan tujuan yang diharapkan.

Kemampuan menulis bukanlah kemampuan yang diwariskan secara turun-
menurun, melainkan merupakan hasil proses pembelajaran dan ketekunan

(Akhadiah, 1988: 143). Menulis menurunkan lambang-lambang grafik yang

menggambarkan      suatu   bahasa   yang   dipahami    seseorang.   Dalam

pembelajaran, menulis merupakan salah satu cara agar siswa dapat

menggunakan bahasa secara tertulis dengan baik. Di samping itu, dengan

menulis siswa dapat berlatih    untuk selalu menggunakan ejaan bahasa

Indonesia dengan tepat.


Dalam pembelajaran menulis, peserta didik diharapkan mampu menuangkan

pikiran serta gagasan ke dalam berbagai bentuk tulisan, misalnya

argumentasi, persuasi, deskripsi, eksposisi, dan narasi. Salah satu bentuk

tulisan yang perlu dibelajarkan kepada siswa adalah tulisan deskripsi.

Menulis karangan deskripsi menurut Marahimin (1993: 46) adalah pemaparan

atau penggambaran dengan kata-kata atas suatu benda, tempat, suasana atau

keadaan. Tujuan menulis karangan deskripsi ada 2, yaitu (1) hendak

memberikan informasi atau wawasan dan memperluas pengetahuan pembaca,

(2) memberikan kejelasan mengenai suatu objek yang dibicarakn. Seorang

penulis deskripsi melalui tulisannya mengharapkan pembaca dapat melihat,

mendengar, dan merasakan hal yang sama seperti dilakukan oleh penulis.


Berdasarkan pengalaman penulis ketika ber-PPL (program pengalaman

lapangan). Kemampuan siswa dalam menulis terutama menulis karangan

masih kurang. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh, antara lain minat siswa

dalam menulis sangat rendah, pembelajaran menulis yang dilakukan oleh
guru belum memanfaatkan media secara optimal sehingga siswa kurang

tertarik dalam mengikuti pembelajaran menulis.


Dari hal-hal yang diungkapkan di atas, penulis ingin meneliti kemampuan

siswa dalam menulis karangan deskripsi berdasarkan media pembelajaran di

SMP Negeri 20 Bandarlampung, berdasakan peraturan pemerintah nomor 19

tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan BAB V untuk standar

kompetensi lulusan dituangkan pada pasal 25 ayat 3 bahwa kompetensi

lulusan    untuk   mata   pelajaran   bahasa   (termasuk   bahasa   Indonesia)

menekankan pada kemampuan membaca dan menulis sesuai dengan jenjang

pendidikan. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mata

pelajaran bahasa Indonesia untuk tingkat SMP terdapat standar kompetensi

yaitu     mengungkapkan informasi dalam bentuk iklan baris, resensi, dan

karangan, dengan kompetensi dasarnya, yaitu menulis karangan deskripsi.


Kemampuan mengarang akan lebih cepat terwujud apabila sering melakukan

latihan mengarang serta mempergunakan atau memanfaatkan stimulus visual,

seperti media gambar. Menurut Levie dan Lentz (Arsyad, 2009: 9), stimulus

visual menumbuhkan hasil belajar yang lebih baik untuk tugas-tugas seperti

mengingat, mengenali, mengingat kembali, dan menghubungkan fakta

dengan konsep. Siswa akan belajar lebih banyak jika materi pelajaran yang

disajikan dengan memanfaatkan media sebagai stimulus pandang. Hasil

belajar menurut Dale (Arsyad, 2009: 10) diperkirakan bahwa perolehan hasil

belajar melalui indera pandang sekitar 75%, melalui indera dengar sekitar

13%, dan melalui indera lainnya sekitar 12%. Jadi, penggunaan media
gambar (indera pandang) dalam proses pembelajaran menulis dengan

memanfaatkan media gambar akan besar pengaruhnya terhadap hasil belajar

siswa.


Selain itu, pembelajaran yang menyenangkan merupakan salah satu faktor

yang menunjang keberhasilan suatu pembelajaran. Oleh karena itu, dituntut

kreativitas tinggi dari para pengajar untuk selalu mencari teknik dan media

pembelajaran yang tepat serta inovatif sehingga dapat menciptakan suasana

yang menyenangkan dalam penyampaian materi pembelajaran.


Pemanfaatan media yang inovatif pada saat pembelajaran berlangsung dapat

menimbulkan dampak yang baru, yaitu berupa suasana yang nyaman dan tidak

membosankan bagi siswa. Selain itu, siswa dapat lebih mudah berkonsentrasi dan

mampu belajar dengan lebih baik. Adapun alasan mengapa media sangat penting

dalam pembelajaran, yaitu media dapat dikatakan sebagai pembangkit

kemampuan baru untuk memotivasi dan minat siswa dalam belajar (Wetty

Suliani, 2004: 58). Menurut Hamalik dalam Arsyad (2000: 15), pemakaian media

dalam proses pembelajaran dapat membawa pengaruh psikologis terhadap siswa.


Salah satu media yang dapat digunakan dalam proses pengajaran menulis

karangan deskripsi yakni melalui media visual berupa gambar, dalam hal ini guru

dapat menyajikan beberapa gambar tunggal mengenai sebuah objek. Gambar

tunggal merupakan gambar yang paling cocok untuk menulis karangan karena

melalui gambar tersebut sebuah objek dapat terlihat secara jelas, dengan demikian

gambar akan memudahkan siswa menyalurkan imajinasi dalam menulis karangan.

Gambar yang digunakan harus dapat menunjang pembelajaran dengan mutu
gambar cukup baik dan memenuhi syarat. Pada umumnya orang menganggap

gambar lebih sebagai hiasan dari pada media untuk memperoleh pelajaran atau

informasi. Gambar akan lebih besar manfaatnya apabila apa yang akan disajikan

sesuai dengan tujuan belajar.


Penulis memilih gambar ”perpustakaan dan kebun sekolah” sebagai media

dalam menulis karangan. Alasan penulis memilih gambar ”perpustakaan dan

kebun sekolah” karena gambar tersebut menghadirkan objek yang sangat

menarik bagi siswa dan sesuai dengan keadaan lingkungan sekolah tempat

mereka serta sesuai dengan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran

menulis siswa kelas IX SMP, yaitu menulis karangan deskripsi dengan

memperlihatkan hasil pengamatan tentang objek.


1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan masalah dalam

penelitian ini sebagai berikut ”Adakah pengaruh media gambar terhadap

kemampuan mengarang deskripsi         siswa   kelas IX    SMP    Negeri 20

Bandarlampung tahun pelajaran 2009/2010?”


1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menguji ada atau tidaknya

pengaruh penggunaan media gambar terhadap kemampuan mangarang

deskripsi siswa kelas IX SMP Negeri 20 Bandarlampung tahun pelajaran

2009/2010.
1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk dunia pendidikan

yang meliputi manfaat teoritis dan manfaat praktis.

a. Manfaat Teoritis

  Manfaat teoritis dari penelitian ini sebagai berikut.

  a. Dapat     memberikan    pengembangan       ilmu      pendidikan   khususnya

      mengenai pengaruh penggunaan media gambar terhadap kemampuan

      menulis karangan deskripsi        siswa   kelas IX SMP           Negeri 20

      Bandarlampung tahun pelajaran 2009/2010.

  b. Memberikan pengetahuan baru bagi peneliti dan lembaga pendidikan

      yang terkait guna dijadikan acuan atau referensi pada masa yang akan

      datang

b. Manfaat Praktis

  Manfaat praktis dari penelitian ini sebagai berikut.

  a. Sebagai bahan pertimbangan guru untuk memberikan alternatif

      pemanfaatan media dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

  b. dapat membantu siswa meningkatkan minat dalam pembelajaran

      bahasa dan sastra Indonesia, khususnya minat dalam pembelajaran

      menulis karangan berdasarkan media pembelajaran.

  c. Memberikan wawasan dan pengalaman bagi peneliti sehingga mampu

      memilih dan menggunakan media pembelajaran yang tepat untuk

      pembelajaran menulis, khususnya menulis karangan deskripsi.
  d. Memberikan pengetahuan dan informasi kepada pembaca, mengenai

      kemampuan      menulis   karangan    deskripsi   berdasarkan     media

      pembelajaran siswa kelas IX SMP Negeri 20 Bandarlampung.


1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian meliputi.

1. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas IX SMP Negeri 20

   Bandarlampung

  tahun pelajaran 2009/2010.

2. Hal yang diteliti, yaitu pengaruh media gambar terhadap kemampuan

  mengarang deskripsi siswa kelas IX SMP Negeri 20 Bandarlampung tahun

  pelajaran 2009/2010, aspek karangan yang diteliti sebagai berikut.

  a. Isi karangan deskripsi.

  b. Penggunaan bahasa.

  c. Penataan gagasan.
                           II. LANDASAN TEORI



2.1 Hakikat Pembalajaran Menulis

Menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa yang diketahui secara

umum. Pembelajaran menulis merupakan salah satu kemampuan berbahasa

yang tidak bisa dipisahkan dengan kemampuan membaca, berbicara, dan

menyimak. dalam pelaksanaan pebelajaran, keempat keterampilan berbahasa

itu harus diberikan secara seimbang dan terpadu (diunduh pada 21 Desember

2009 http://etd.eprints. ums.ac.id/2120/1/A310040013.pdf). Oleh karena itu,

pembelajaran menulis perlu diintegrasikan dengan pembelajaran membaca,

menyimak dan berbicara. Selain itu, Sufanti (2006: 25) menyatakan bahwa

keterampilan membaca, menyimak dan berbicara itu merupakan modal

kemampuan menulis.


Kegiatan menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan

untuk berkomunikasi secara tidak langsung atau tidak secara tatap muka dengan

orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif.

Keterampilan menulis ini tidak akan datang secara otomatis melainkan harus

melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur (diunduh pada 21 Desember

2009, http://etd.eprints.ums.ac.id/ 2120/1/A310040013.pdf).
Kemampuan menulis pada hakikatnya merupakan hasil dari sebuah proses.

Dengan konsep dasar seperti ini maka kesempatan menulis akan diperoleh siswa

dengan melalui proses yaitu pelatihan. Semakin banyak latihan maka semakin

besar kemungkinan siswa untuk mampu menulis. Kemampuan menulis secara

hakiki merupakan kemampuan menggunakan diksi dan struktur bahasa, artinya

siswa diarahkan untuk memilih kata dan menggunakannya secara benar demikian

juga dengan penggunaan struktur bahasa. Struktur bahasa hendaknya memenuhi

kaidah-kaidah kebahasaan agar sebuah karya tulisan mudah dimengerti oleh orang

lain. Contohnya, dalam pengunaan diksi yang tidak tepat misalnya, banyak

pahlawan yang mati di medan perang. Seharusnya penggunaan diksi yang tepat,

yaitu banyak pahlawan yang gugur di medan perang. Contoh lainya dalam

pengunaan struktur bahasa yang tidak tepat misalnya, dalam sidang itu me-

mutuskan sanksi terhadap para perampok yang telah meresahkan warga. Kalimat

tersebut merupakan kalimat yang tidak jelas subjeknya. Seharusnya, yaitu sidang

itu memutuskan sanksi terhadap para perampok yang telah meresahkan warga.

Kecermatan dalam pemilihan kata serta penggunaan struktur secara benar pada

hakikatnya merupakan hal yang sangat penting peranannya dalam proses

penulisan.


Keterampilan menulis sangat dibutuhkan karena melalui menulis orang dapat me-

ngungkapkan pola pikir. Siswa yang belajar menulis berarti siswa me-

ngungkapkan gagasan, pendapat, dan keinginan. Siswa yang menulis dengan

pikiran, organisasi, pemakaian kata-kata, dan struktur kalimat yang jelas me-

rupakan cerminan seseorang yang terpelajar. Seperti apa yang dikemukakan

Tarigan (dalam Kosim, 2007: 3) yang mengungkapkan bahwa tulisan yang berisi
pikiran, organisasi, pemakaian kata-kata, dan struktur kalimat yang jelas

merupakan cermin orang terpelajar.


Selain pendapat di atas, hakikat menulis juga diungkapkan oleh Liliyana (dalam

Sufanti, 2006: 8), bahwa menulis adalah menuangkan gagasan, pendapat, pe-

rasaan, keinginan dan kemampuan, serta informasi ke dalam tulisan dan kemudian

"mengirimkannya" kepada orang lain. Setiap seseorang yang akan melakukan

kegiatan menulis atau menulis karangan harus melakukan perencanaan proses

penulisan. Perencanaan itu dituangkan secara rinci di atas kertas. Hasil dari proses

penulisan yang dilakukan oleh siswa adalah sebuah proses untuk mengembangkan

kreativitas siswa, pendapat, gagasan, perasaan, keinginana, dan kemampuan

mengungkapkan informasi ke dalam tulisan yang disampaikan kepada orang lain.


2.1.1 Pengertian Menulis

Menulis merupakan kegiatan komunikasi berupa penyampaian pesan secara

tertulis kepada pihak lain (Suparno, 2006: 1.29). Dalam KBBI (2005: 1219)

pengertian menulis adalah melahirkan pikiran dan perasaan (seperti

mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Sementara itu, Tarigan (1982:

21) menjelaskan bahwa menulis adalah menurunkan atau melukiskan

lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami

oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik

tersebut kalau mareka memahami bahasa dan gambaran grafik itu.


Dari pendapat di atas, penulis mengacu pada pendapat Suparno yang

menyatakan bahwa menulis itu merupakan kegiatan komunikasi berupa

penyampaian pesan secara tertulis kepada pihak lain. Selain itu, dalam
kegiatan menulis ada beberapa aktivitas dalam fase-fase penulisan, yaitu

tahap      prapenulisan   (fase   persiapan),   tahap   penulisan,   dan   tahap

pascapenulisan (penyuntingan/revisi).


2.1.2 Manfaat Kegiatan Menulis

Tarigan (1988: 1) mengemukakan manfaat kegiatan menulis, yaitu sebagai

berikut.

a. Dengan menulis siswa dapat lebih mengenali kemampuan dan potensi

   dirinya. Siswa dapat mengetahui sampai di mana pengetahuannya tentang

   suatu topik. Untuk mengembangkan topik itu siswa terpaksa berpikir,

   menggali pengetahuan dan pengalaman yang kadang tersimpan di alam

   bawah sadar melalui kegiatan menulis siswa mengembangkan gagasan.

b. Kegiatan menulis memaksa siswa lebih banyak menyerap, mencari, serta

   me- nguasai informasi sehubungan dengan topik yang ditulis. Dengan

   demikian kegiatan menulis memperluas wawasan baik secara teoritis

   maupun fakta-fakta yang berhubungan.

c. Menulis berarti mengorganisasikan gagasan secara sistematik serta me ng-

   ungkapkannya secara tersurat.

d. Melalui tulisan siswa akan dapat meninjau gagasannya sendiri secara

   objektif, tugas menulis suatu topik mendorong siswa belajar secara aktif.

e. Kegiatan menulis yang terencana akan membiasakan siswa berpikir serta

   berbahasa secara tertib.
2.2 Pengertian Paragraf

Paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan

(Akhadiah, Arsjad, Ridwan, 1988: 2). Paragraf disebut juga alinea. Kata

paragraf diserap ke dalam bahasa Indonesia dari kata Inggris paragraph.

Para- yang berarti sebelum dan grafein- yang berarti menulis atau

menggores. Sedangkan kata alinea dari bahasa Belanda. Kata alinea itu

sendiri berasal dari kata latin alinea, yang berarti mulai dari baris baru

(Adjat, 1992: 1). Menurut Suparno (2006: 3.16), paragraf atau alinea adalah

suatu bagian karangan yang digunakan untuk mengungkapkan sebuah

gagasan dalam bentuk untaian kalimat. Berdasarkan pengertian itu, paragraf

dapat disebut sebagai untaian kalimat yang berisi sebuah gagasan dalam

karangan. Paragraf pada dasarnya adalah miniatur sebuah karangan. Paragraf

mempunyai tujuan yang dinyatakan dalam kalimat topik (Alwi, 2001: 1).


Dari beberapa pendapat di atas penulis mengacu pada pendapat Akhadiah,

Arsjad dan Ridwan yang menyatakan bahwa paragraf merupakan inti

penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan. Dalam paragraf terkandung

satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat dalam paragraf

tersebut, mulai dari kalimat pengenal, kalimat utama atau kalimat topik,

kalimat-kalimat penjelas sampai pada kalimat penutup. Himpunan kalimat ini

saling bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk gagasan. Paragraf

dapat juga dikatakan karangan yang paling pendek. Artinya, dalam sebuah

paragraf tidak boleh mengandung lebih dari satu gagasan utama dan kalimat

yang lain merupakan gagasan tambahan yang saling bertalian erat

mendukung gagasan utama.
2.3 Pengertian Menulis Karangan

Menulis karangan merupakan kegiatan untuk menyatakan isi hati dan pikiran

secara menarik (Natawijaya, 1987: 9). Sedangkan, Caraka (1993: 8) me-

ngungkapkan bahwa menulis karangan adalah pengungkapan, tanpa ada rasa

emosional yang berlebihan, realitas dan tidak menghamburkan kata -kata

secara tidak perlu.


Pendapat di atas menegaskan bahwa bila gagasan yang diungkapkan sulit

atau tidak dipahami pembaca maka karangan itu dikatagorikan tidak baik. Pe -

ngungkapan dalam karangan harus jelas dan teratur sehingga dapat

meyakinkan pembaca. Uraian yang disampaikan dalam menulis karangan

harus mencerminkan bahwa pengarang mengerti dan memahami yang ia

uraikan. Pendapat lain mengatakan menulis karangan adalah menyusun atau

mengkoordinasikan buah pikiran atau ide ke dalam rangkaian kalimat yang

logis dan terpadu dalam bahasa tulis (Ambary, 1979: 175). Dari beberapa

pendapat di atas penulis mengacu pada pendapat Ambary, yaitu menulis

karangan ialah menyusun atau mengkoordinasikan buah pikiran atau ide ke

dalam rangkaian kalimat yang logis dan terpadu dalam bahasa tulis.


2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Siswa dalam
    Menulis Karangan

Keraf (1982: 2) mengungkapkan bahwa, untuk dapat menulis karangan

dengan baik ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu sebagai

berikut.
(1) Menguasai pengetahuan bahasa yang meliputi penguasaan gaya bahasa.

(2) Memiliki kemampuan penalaran yang baik.

(3) Memiliki pengetahuan yang baik dan mantap mengenai objek garapannya .


2.5 Fungsi Menulis Karangan

Menulis karangan menurut Marwoto (1987: 19) memiliki beberapa fungsi

yaitu sebagai berikut.

1.    Memperdalam        suatu   ilmu   dan   penggalian   hikmah   pengalaman-

pengalaman.

2. Membuktikan sekaligus menyadari potensi ilmu pengetahuan, ide dan pe-

     ngalaman hidupnya.

3. Bisa menyumbangkan pengalaman hidupnya dan ilmu pengetahuan serta

     ide-idenya yang berguna bagi masyarakat.

4. Untuk meningkatakan prestasi kerja dan serta memperluas media profesi.

5. Memperlancar mekanisme kerja masyarakat intelektual, dialog ilmu pe-

     ngetahuan     dan     humaniora,     pelestarian,     pengembangan,   dan

     penyempurnaan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai hayati humaniaora

     tersebut.


Dari beberapa fungsi menulis karangan di atas, maka yang berkaitan dengan

proses pembelajaran yang dapat terpantau oleh peneliti, yaitu terdapat pada

fungsi.

1.    Memperdalam        suatu   ilmu   dan   penggalian   hikmah   pengalaman-

     pengalaman.
  Dalam    penelitian   ini   siswa   diberi   pendalaman   materi   mengenai

  kemampuan menulis karangan deskripsi dengan cara memberikan tugas

  menulis karangan deskripsi dengan mengamati objek. Sehingga, siswa

  mendapatkan hikmah, yaitu berupa pengalaman mengarang deskripsi

  dengan mengamati objek.

2. Membuktikan sekaligus menyadari potensi ilmu pengetahuan, ide dan pe-

  ngalaman hidupnya.

  Siswa melalui penelitian ini menayadari pentingnya ilmu pengetahuan,

  karena tanpa ilmu pengetahuan siswa tidak dapat menuangkan ide atau

  pengalaman hidupnya. Seperti yang siswa lakukan dalam penelitian ini,

  yaitu siswa diberi tugas mengamati objek dan menuangkan ide dan

  pengalaman hidupnya ke dalam bentuk karangan deskripsi.

3. Bisa menyumbangkan pengalaman hidupnya dan ilmu pengetahuan serta

  ide-idenya yang berguna bagi masyarakat.

  Dengan penelitian ini siswa dapat menyumbangkan pengalaman hidupnya

  serta ilmu pengetahuan yang berguna untuk masyrakat, yaitu dengan cara

  siswa memberikan informasi berupa pengetahuan tentang keadaan

  perpustakaan dan keadaan kebun sekolah yang mareka miliki dalam bentuk

  karangan deskripsi berdasarkan objek yang siswa amati.


2.6 Tujuan Menulis Karangan

Menulis karangan bertujuan untuk mengungkapkan pikiran, gagasan, dan

maksud kepada orang lain secara jelas dan efektif. Hal-hal lain dari tujuan

menulis karangan menurut Widyamartaya (1991: 130) yaitu dapat dibedakan

sebagai berikut.
1. Memberitahu dan memberi informasi

  Sebagian besar tulisan dihasilkan dengan tujuan memberi (baca: menjual)

  informasi, teristimewa bila hasil karya tulis tersebut diperjual belikan.

  Pada sisi positif lain, tulisan juga bersifat memperkenalkan atau

  mempromosikan sesuatu, termasuk suatu kejadian (berita) atau tempat

  (pariwisata).


  Contoh tulisan yang berisikan informasi:

                        Kotoran Sapi Hasilkan Listrik

         Kotoran dari 22 ribu ekor sapi yang ada di pusat penggemukan
    sapi Bekri, Lampung Tengah, bisa menghasilkan energi listrik sebesar 1
    magawatt (mw).
        Hal tersebut disampaikan senior Manager Ecosecurites, Ira
    Larasati, perusahaan yang mengelolah daur ulang limbah kotoran sapi
    di pusat penggemukan sapi bekri saat menemui para wartawan pada
    kunjungan jurnalistik yang dikoordinator Analisis Jurnalis Independen
    (AJI) Bandar lampung, Selasa (8-12)
       “ Istalasi ini namanya CIGAR atau Digestar,” kata Ira, di dekat
    instalasi berukuran 95x65 meter dengan kedalaman 8,7 meter. CIGAR
    (Cover In Ground un-Aerobic Reactor) ini, kata Ira, merupakan sebuah
    reaktor untuk mengurangi isi gas metana (CH4) dari kotoran sapi
    menjadi CO2. “Harus dikurangi, karena metana lebih tinggi 21 kali
    lipat dibanding CO2,” ujarnya…
                                (Lampung Post, 11 Desember 2009 hal: 6)


2. Menggerakan hati, menggerakan perasaan, mengharukan, karangan yang

  memang ditunjukkan untuk menggugah perasaan atau mempengaruhi dan

  membangkitkan simpatik.


  Contoh:

                            Ingin Pulang Kampung

        Ruang bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek
    (RSUDAM) menjadi awal Adhiawan Qodar menjalani profesi sebagai
    dokter muda.
         Dua bulan bertugas di tepat proses melahirkan tersebut, ia
    mengerti betapa berartinya pengorbanan seorang ibu bagi sebuah
    kehidupan.
        Bungsu dari empat bersaudara pasangan Al Qodri dan Darwati AR
    ini terbiasa menjumpai kelahiran dan kematian. Itu yang membuat
    peraih juara II Olimpiade Kimia se-Lampung Barat ini selalu ingat
    untuk berusaha menghargai hidup yang diberikan Allah.
         Keinginan mengemban tugas mulia menolong sesama dan
    minimnya dokter di Krui, Lampung Barat, mendorong cowok kelahiran
    30 Agustus 1986 masuk Program Pendidikan Kedokteran Unila pada
    2004.
         Saat menyelesaikan pendidikan kedokteran pada 2008, ia meraih
    predikat wisudawan terbaik kedua dengan IPK 3,24....
                              (Tribun Lampung, 17 Novembar 2009 hal: 1)


3. Campuran kedua hal tersebut, yaitu memberitahu dan mempengaruhi

  tulisan bersifat memperkenalkan atau mempromosikan sesuatu, termasuk

  suatu kejadian (berita) atau tempat (pariwisata).


  Contoh:

              Lampung Berpotensi Kembangkan Coffee Spesialti

         Provinsi Lampung berpotensi menjadi produsen kopi spesialti.
    Kopi dengan cita rasa khusus ini memiliki pasar menjanjikan.
    Diantaranya, ke USA, Eropa, dan Jepang.
         Hal tersebut sebagaimana terungkap dalam acara Temu Karya
    Kopi (TKP) IV yang diselenggarakan Asosiasi Eksportir dan Industri
    Kopi Indonesia (EAKI), di Jakarta, Senin (16/11).
         Menurut ketua umum BPP Aeki Hassan Widjaja, kopi spesialti ini
    dapat meningkatkan daya tawar kopi Indonesia di pasar internasional.
         “Kopi dengan cita rasa khusus ini sudah banyak dikembangkan di
    berbagai wilayah sentra produksi kopi Arabika dan robusta, kata dia.
          Ada beberapa nama kopi spesialti Indonesia yang sudah dikenal
    konsumen dunia antara lain Gayo Coffee, Mendheling Coffe, Java
    Coffee, dan Toraja Coffee.
         Selain daerah tersebut, ada beberapa daerah penghasil kopi yang
    potensial menjadi produsen kopi spesialti, nama kopinya antara lain
    Bajawa Coffee (Flores), Kintamani Coffee (Bali), Preanger Coffee
    (Jawa Barat), Robusta Spesialti Coffee (Lampung), dan Jaya Wijaya
    Coffee (Manikwari). Untuk Lampung pengembangan kopi robusta ini
    dilakukan di Lampung Barat.
         General Manager PT Excelso Multi Rasa dan Manager Marketing
    PT Santos Jaya Abadi, Pranoto Soenarto menjelaskan, impor kopi
    olahan yang diduga mutu spesialti tumbuh rata-rata 43,4 persen per
    tahun dalam tiga tahun terakhir. Babarapa kafe lokal juga mulai
    menyediakan produk kopi spesialti dengan menyebutkan nama
    geografis asalnya.
                                 (Tribun Lampung, 17 November 2009
    hal: 3)



Dari kutipan di atas, yang melandasi penelitian mengenai tujuan menulis

karangan yaitu tentang memberitahu dan memberi informasi karena hal ini

berkaitan dengan menulis karangan deskripsi dengan pemanfaatan media

gambar.   Siswa   melalui   penelitian   ini,   dapat   memberitahukan   atau

memberikan informasi mengenai keadaan perpustakaan dan kebun sekolah

kepada pembaca melalui karangan deskripsi berdasarkan pemanfaatan media

gambar.


2.7 Bentuk-Bentuk Karangan

Mengarang pada hakikatnya adalah mengungkapkan atau menyampaikan

gagasan dengan bahasa tulis (Suparno, 2006: 3.1). Karangan adalah bentuk

lisan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan pengarang dalam satu

kesatuan tema yang utuh (Kosasih, 2001: 32). Karangan juga merupakan

rangkaian hasil pemikiran atau ungkapan perasaan ke dalam bentuk tulisan

yang teratur. Menurut Gie (2002: 3) mengarang adalah segenap rangkaian

kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya me lalui

bahasa tulis kepada masyarakat pembaca untuk dipahami. Sedangkan,

karangan adalah hasil perwujudan gagasan seseorang dalam bahasa tulis yang

dapat dibaca dan dimengarti oleh masyarakat pembaca. Hasil mengarang
dapat berupa tulisan, cerita, artikel, buah pena, ciptaan atau gubahan (lagu,

musik, dan nyanyian).


Pada umumnya konsep dasar di atas yang mengungkapkan tentang

mengarang, antara pendapat satu dan yang lainnya adalah sama. Jadi, yang

melandasi konsep mengarang pada tulisan ini adalah mengarang yang

diungkapkan oleh Gie bahwa mengarang merupakan segenap rangkaian

kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui

bahasa tulis kepada masyarakat pembaca untuk dipahami. Yang dimaksud

dengan masyarakat pembaca yaitu para siswa SMP Negeri 20 Bandarlampung

kelas IX.


Penulisan sebuah karangan menuntut beberapa persyaratan yang harus

dipenuhi. Persyaratan ini menyangkut isi, bahasa, dan teknik penyajian. Oleh

karena itu, perlu direncanakan sebab melalui perencanaan yang tepat siswa

dapat membuat sebuah karangan sesuai dengan struktur bahasa, pemilihan

kata, dan penulisan ejaan atau tanda baca secara benar. Menurut Suparno

(2006: 4.1), karangan berdasarkan cara penyajiannya dapat dibagi menjadi

lima yaitu karangan argumentasi, karangan deskripsi, karangan eksposisi,

karangan persuasi, dan karangan narasi.


1. Karangan Argumentasi

Karangan argumentasi adalah karangan yang isinya terdiri atas paparan

alasan dan penyintesisan pendapat untuk membangun suatu kesimpulan.

Karangan argumentasi ditulis dengan maksud untuk memberikan alasan,

untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan.
Jadi, pada setiap karangan argumentasi selalu terdapat alasan (argumen) atau

bantahan yang memperkuat atau menolak sesuatu secara sedemikian rupa

guna mempengaruhi keyakinan pembaca.


Contoh karangan argumentasi:


          Pelaksanaan Pembelajaran Bahasa Indonesia Dewasa Ini

      Dalam hubungan ini mari kita perhatikan beberapa fakta yang dapat
 dengan mudah terlihat dalam masyarakat kita dewasa ini. Fakta-fakta itu
 antara lain ialah sebagai berikut. Pemakaian bahasa di seluruh daerah
 Indonesia dewasa ini belum dapat kita katakan seragam. Perbedaan-
 perbedaan dalam struktur kalimat, struktur kata, lagu kalimat, ucapan,
 dan ejaan terlihat dengan mudah.
      Pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan (di luar
 lingkungan rumah tangga) sering dikalahkan oleh bahasa daerah.
 Fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi pun belum lagi berjalan
 dengan sewajarnya di kantor-kantor atau jawatan-jawatan, pemakaian
 bahasa daerah lebih menonjol, sedangkan pada beberapa kantor tertentu
 bahasa asing lebih berkuasa, walaupun pada dinding-dinding kantor
 tersebut terpasang slogan-slogan yang berbunyi: “Berbicaralah dalam
 bahasa Indonesia”, “Jagalah bahasa Indonesia”, “Hormatilah bahasa
 Indonesia”, dan sejinisnya.
      Di lingkungan persuratkabaran, radio, dan TV, pemakaian bahasa
 Indonesia belum lagi dapat dikatakan sudah terjaga baik. Para pemuda
 kita pada umumnya belum memperlihatkan kesanggupan menggunakan
 bahasa Indonesia yang terjaga baik, baik lisan maupun tulisan.
         (Suparno Muhamad Yunus, Keterampilan Dasar Menulis, 2006:
 5.52)



2. Karangan Deskripsi

Karangan deskripsi adalah gambaran verbal ihwal, objek, penampilan,

pemandangan, atau kejadian. Cara penulisan ini menggambarkan sesuatu

sedemikian rupa sehingga pembaca dibuat mampu (seolah merasakan,

melihat, mendengar, atau mengalami) sebagaimana dipersepsi oleh panca

indera.
Contoh karangan deskripsi:

      Wajahnya kasar-kasar seperti tengkorak, kulitnya liat seperti
 belulang, pipinya selalu menonjol oleh susur tembakau yang ada di dalam
 mulutnya, jalannya tegak seperti seorang maharani yang angkuh. Di
 rembang di sekitar tahun tiga puluhan ia lebih dikenal daripada pendeta
 Osborn pada pertengahan tahun 1945 di Jakarta karena prestasinya
 menyembuhkan orang-orang sakit secara gaib. Ditinjau dari sudut tertentu
 cara pengobatan Mbah Danu adalah rasional. Titik pangkalnya adalah
 suatu anggapan yang logis. Mbah Danu menegaskan, bahwa orang sakit
 itu ”didiami’ oleh roh-roh jahat; karena itu cara satu-satunya untuk
 menyembuhkan adalah dengan menghalau mahkluk yang merugikan
 kesehatan itu.
      Si nah, gadis nelayan pada keluarga pak Jaksa (pensiun) telah
 sebulan sakit demam. Keadaannya makin lama makin payah. Matanya
 kelihatan putihnya saja, mulutnya berbuih dan ia mengeluarkan bunyi -
 bunyi binatang, kadang-kadang meringkik seperti kuda, kadang-kadang
 menyalak, mengeong, berkoak-koak, dan kalu sudah mangaum, anak-anak
 dan perempuan-perempuan serumah dan tetangga-tetangganya yang
 berdatangan semua lari terbirit-birit seolah-olah percaya, bahwa suatu
 saat kemudian Nah akan menjelma jadi macan gadungan...
         (Suparno Muhamad Yunus, Keterampilan Dasar Menulis, 2006:
 4.22)


3. Karangan Eksposisi

Karangan eksposisi (pemaparan) adalah karangan yang bertujuan utama

untuk memberitahu, mengupas, menguraikan, atau menerangkan sesuatu.

Dalam karangan eksposisi masalah yang dikomunikasikan terutama adalah

informasi. Tujuan utama karangan eksposisi itu semata-mata untuk

membagikan informasi, dan tidak sama sekali untuk mendesak atau memaksa

membaca untuk menerima pandangan atau pendirian tertentu sebagai sesuatu

yang benar.


Contoh karanga eksposisi:


 Vitamin A terdapat dalam mentega, ikan, buah-buahan berwarna kuning,
 dan sayur-sayuran. Diet yang rendah vitamin A dapat menyebabkan
 resistensi yang menurun terhadap infeksi, nafsu makan yang menurun,
 dan pencernaan makanan yang tidak sempurna. Pada mata menyebabkan
 xeropthalmia. Pada kulit, kekurangan vitamin A menyebabkan timbulnya
 bintik-bintik atau penonjolan pada lengan, bahu, dan tungkai dengan
 ukuran yang berbeda-beda yang mengelilingi folikel-folikel. Kelebihan
 vitamin A juga memberi ge- jala yang tidak dikehendaki orang.
 Dilaporkan, terjadi pada anak-anak yang orang tuanya memberikan
 terlalu banyak vitamin A. Gejala-gejala kelebihan vitamin A rambut
 menjadi rontok, juga alis mata. Rambut yang tinggal menjadi kasar dan
 kering. Bibir pecah-pecah, pigmentasi, dan gatal-gatal pada kulit. Pada
 orang dewasa gejalanya adalah sakit-sakit pada sendi dan tulang,
 pembentukan sisik-sisik pada kulit dan kerut-kerut pada pinggir mulut
 dan lubang hidung.
          (Suparno Muhamad Yunus, Keterampilan Dasar Menulis, 2006:
 5.10)



4. Karangan Persuasi

karangan persuasi adalah karangan yang berisi paparan yang berdaya bujuk,

berdaya-ajuk, atau berdaya himbau yang dapat membangkitkan ketergiuran

pembaca untuk meyakini dan menuruti himbauan implisit maupun eksplisit

yang dilontarkan oleh penulis.


Contoh karangan persuasi:


     Christmas Island tampak mungil di peta, namun pada kenyataannya
 adalah pulau karang yang pokok di Samudra India. Alam tropis
 Christmas Island menghadirkan pesona eksotis yang menakjubkan dan tak
 dimiliki oleh pulau lainnya. Christmas Island Resort, sebuah resort
 berbintang lima dengan kemewahan eksklusifnya, menambah suasana
 liburan Anda di Christmas Island lebih menyenangkan dan bergairah.
     Hanya 45 menit dari Jakarta, berarti kurang dari satu jam Anda
 sudah berada di Christmas Island melalui jadwal penerbangan 5 kali
 seminggu bersama Simpati Air.
     Aneka petualangan rekreatif dapat Anda lakukan sendiri seperti,
 melakukan kegiatan yang menantang keberanian Anda: memancing di
 laut lepas (game fishing), berolahraga bukit karang sekaligus menikmati
 ke- indahan pemandangan di laut, menyelam kedasar samudra India
 untuk mengagumi pesona karang dan kekayaan lain miliknya (scuba
 diving), atau bersantai dalam kemewahan resort eksklusif bertaraf
 internasional.
     Hanya dengan mengeluarkan biaya mulai dari Rp950.000,00. Anda
 sudah dapat menikmati kemudahan berupa returnairfares dari Jakarta
 berikut biaya akomodasi 2 malam untuk dua orang. Penawaran ini hanya
 berlaku untuk waktu yang terbatas. Keterangan lengkap mengenai aneka
 paket liburan Christmas Island dapat Anda peroleh dari travel agen
 berikut ini; Buana Travel Service, Wita Tour, setia Tour dan Travel, PT
 Dwi Daya Worldwide Travel, Smailing Tour atau hubungi biro perjalanan
 lokal Anda.
          (Suparno Muhamad Yunus, Keterampilan Dasar Menulis, 2006:
 5.48)



5. Karangan Narasi

Karanagan    narasi   (penceritaan)   adalah   karangan   yang   menyajikan

serangkaian peristiwa. Karangan ini berusaha menyampaikan serangkaian

kejadian menurut urutan terjadinya (kronologis), dengan maksud memberi

arti kepada sebuah atau serentetan kejadian, sehingga pembaca dapat

memetik hikmah dari cerita itu. Tujuan menulis narasi ada dua, yaitu (1)

hendak memberikan informasi atau memberi wawasan dan memperluas

pengetahuan pembaca, dan (2) hendak memberikan pengalaman estetis

kepada pembaca. Narasi seringkali berpadu dengan deskripsi dan berfungsi

sebagai eksposisi atau persuasi.


Contoh karangan Narasi:


     Willliam Moroton dilahirkan pada tanggal 9 Agustus 1819 di kota
 Charlton, Massachusetts. Ia anak seorang petani miskin. Semenjak kecil ia
 telah memperlihatkan dua sifat yang menonjol, yaitu selalu tekun belajar,
 dan peka terhadap keadilan. Sifat yang pertama mendorongnya membaca
 apa saja tentang ilmu pengobatan, sifat kedua baru nyata ketika pada
 tahun 1833 ia dihukum secara tidak adil di sekolah. Ia didakwa bersikap
 kurang ajar, dan akan dibebaskan apabila mau mengkui dakwaan itu.
 Namun ketika itu Marton memilih didera hingga pincang, dari pada
 mengakui perbuatan yang tidak pernah dilakukannya.
     Pada tanggal 16 Oktober 1846, di depan suatu tim sarjana ilmu
 kedokteran di rumah sakit Boston, Willliam Moroton melakukan pembiusan
 yang pertama dengan eter. Tanggal itu merupakan hari kemenangan bagi
 dunia ilmu kedokteran, tetapi sekaligus permulaan penderitaan bagi
 Willliam Moroton. Memang,     jarang sekali orang jenius mendapat
 penghargaan masa hidupnya…
         (Suparno Muhamad Yunus, Keterampilan Dasar Menulis, 2006:
 4.53)


2.7.1 Karangan Deskripsi

Kata   deskripsi   berasal   dari   bahasa   latin     describere   yang     berarti

menggambarkan atau memerikan sesuatu hal. Dari segi istilah, deskripsi

adalah suatu bentuk karangan yang melukiskan sesuatu sesuai dengan

keadaan   sebenarnya,    sehingga     pembaca        dapat   mencitrai     (melihat,

mendengarkan, mencium, dan merasakan) apa yang dilukiskan itu sesuai

dengan citra penulisnya. Karangan jenis ini bermaksud menyampaikan kesan-

kesan tentang sesuatu, dengan sifat dan gerak-geraknya, atau sesuatu yang

lain kepada pembaca. Menurut Suparno (2006: 4.25), sebagai salah satu jenis

karangan, deskripsi ditulis untuk mendeskripsikan atau meng- gambarkan,

atau melukiskan suatu objek sehingga pembaca memiliki peng- hayatan

seolah-olah menyaksikan atau mengalaminya sendiri. Objek dalam karangan

deskripsi itu dapat berupa manusia dan tempat atau suasana. Menurut

Marahimin (1993: 46), deskripsi adalah pemaparan atau penggambaran

dengan kata-kata suatu benda, tempat, suasana atau keadaan. Jadi, tulisan

deskripsi merupakan hasil dari observasi sesuatu yang diperoleh me lalui

panca indera yang disampaikan dengan kata-kata. Dengan kata lain, deskripsi

berurusan dengan hal-hal kecil yang tertangkap oleh panca indera.


Karangan deskripsi merupakan karangan yang sifatnya melukiskan atau

menggambarkan suatu tempat, keadaan, benda secara jelas dan rinci.
Gambaran atau lukisan yang disajikan harus hidup dan jelas, sehingga

pembaca seolah-olah melihat, mendengarkan, dan merasakan seperti yang

penulis utarakan. Dalam deskripsi penulis memindahkan kesan-kesannya,

memindahkan hasil pengamatan dan perasaannya kepada para pembaca.

Sasaran yang ingin dicapai oleh seorang penulis deskripsi adalah

menciptakan atau memungkinkan terciptanya daya khayal (imajinasi) pada

para pembaca, seolah-olah mareka melihat sendiri objek tadi secara

keseluruhan sebagai yang dialami secara fisik oleh penulisnya (Keraf, 1982:

93).


Karangan jenis ini bermaksud menyampaikan kesan-kesan tentang sesuatu,

dengan sifat dan gerak-geriknya, atau sesuatu yang lain kepada pembaca.

Sesuatu yang dapat dideskripsikan tidak hanya terbatas pada apa yang kita

lihat dan dengar saja, tetapi juga yang dapat kita rasa dan kita pikir, seperti

rasa takut, cemas, tegang, jijik, haru, dan kasih sayang. Begitu pula suasana

yang timbul dari suatu peristiwa, seperti suasana mencekam, p utus asa,

kemesraan, dan keromantisan panorama pantai. Singkatnya, karangan

deskripsi merupakan karangan yang kita susun untuk melukiskan sesuatu

dengan maksud untuk menghidupkan kesan dan daya khayal mendalam pada

si pembaca. Lukisan dalam karang deskripsi harus diusahakan sedemikian

rupa, agar pembaca seolah-olah melihat sendiri apa yang kita lukisan

tersebut. Membuat karangan deskripsi ini membutuhkan keterlibatan emosi

(perasaan) pengarang. Dalam karangan deskripsi, agar menjadi hidup, perlu

dilukiskan bagian-bagian, yang dianggap penting sedetail mungkin. Selain

detail-detail, urutan waktu dan ruang dalam karangan deskripsi harus pula
diperhatiakan secara baik. Karena, urutan waktu dan urutan ruang tidak

dilukiskan secara nyata, dapat membawa akibat kesatuan lukisan tidak

terjamin dan ini akan membingungkan pembaca.


Dari beberapa pernyataan tersebut penulis mengacu pada pendapat

Marahimin bahwa karangan deskripsi merupakan suatu bentuk tulisan yang

memaparkan atau menggambaran (melukiskan) suatu benda, tempat, suasana

atau keadaan yang sebenarnya sehingga pembaca dapat mencitrai (melihat,

mendengarkan, mencium, dan merasakan) apa yang dilukiskan itu sesuai

dengan citra penulisnya.


2.7.2 Ciri-Ciri Karangan Deskripsi

Karangan deskripsi merupakan karangan yang disusun untuk melukiskan

sesuatu

dengan maksud untuk menghidupkan kesan dan daya khayal mendalam pada

si pembaca.


Ciri-ciri karangan deskripsi menurut keraf (1992: 82), yaitu sebagai berikut.

1. Berisi perincian-perincian sehingga objeknya seolah-olah terpajang di

  depan mata pembaca.

2. Dapat menimbulkan kesan dan daya khayal pembaca.

3. Berisi penjelasan yang menarik minat serta perhatian orang lain atau

   pembaca.

4. Menyampaikan sifat dan semua perincian wujud yang dapat ditemukan

  pada objek itu.
5. Menggunakan bahasa yang cukup hidup, kuat, dan bersemangat, serta

konkrit.


2.7.3 Langkah-langakah Menulis Karangan Deskripsi

Menurut, Suparno (2006:4.22) di dalam menulis karangan deskripsi ada

langkah-langkah tertentu yang harus diikuti agar hasilnya tersusun secara

sistematis. Langkah-langkah menulis deskripsi sebagai berikut.

1) Menentukan apa yang akan dideskripsikan: Apakah akan mendeskripsikan

   orang atau tempat.

2) Merumuskan tujuaan pendeskripsian: Apakah deskripsi dilakukan sebagai

   alat bantu karangan narasi, eksposisi, argumentasi, atau persuasi.

3) Menempatkan bagian yang akan dideskripsikan: kalau yang dideskripsika n

   orang, apakah yang akan dideskripsikan itu ciri-ciri fisik, watak,

   gagasannya atau benda-benda disekitar tokoh? Kalau yang dideskripsikan

   tempat, apakah yang akan dideskripsikan keseluruhan tempat atau hanya

   bagian-bagian tertentu saja yang menarik?.

(4) Merinci dan menyistematiskan hal-hal yang menunjang kekuatan bagi

   yang akan dideskripsikan: Hal-hal apa saja yang akan ditampilkan untuk

   membantu munculnya kesan dan gambar kuat mengenai sesuatu yang

   dideskripsikan? Pendekatan apa yang akan digunakan penulis?.


2.8 Teknik Penulisan

Kualitas karangan dapat dilihat berdasarkan aspek-aspek yang membangun

sebuah karangan. Aspek-aspek tersebut yang harus diperhatikan antara lain

sebagai berikut.
1. Isi Karangan

  Di dalam menulis suatu karangan deskripsi isi karangan harus berdasarkan

  hasil pengamatan, penulis berusaha memindahkan kesan pengamatan dan

  perasaannya kepada pembaca, membentuk daya hayal pada pembaca

  seolah-olah pembaca melihat atau merasakan sendiri tentang objek yang

  disampaikan, dan berupaya lebih memperlihatkan perincian tentang objek

  (Maizar, 1991: 120).


  Pembaca seakan-akan merasakan pengarang ada didekatnya sehingga

  terjadi kontak dan timbulnya jalinan yang akrab antara pembaca dan

  pengarang. Menurut Akhadiah (1997: 6) isi karangan yang baik didukung

  oleh:

  a. pengoprasian gagasan, yaitu kepaduan hubungan antara paragraf;

  b. kesesuaian isi dengan tujuan penulisan;

  c. kemampuan mengembangkan topik.

     Pengembangan topik yang baik adalah pengembang secara tuntas, rinci,

     dan tunggal.


2. Penggunaan Bahasa

  Di dalam menulis karangan pilihan kata atau ketepatan kata (diksi) diukur

  dari kemampuan kata sebagai alat pengungkap dan penerima gagasan.

  Ketepatan diksi menyangkut makna kata. Kata yang dipilih harus secara

  tepat mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan. Dengan demikian

  makna pendengar atau pembaca juga menafsirkan kata-kata tersebut tepat

  seperti apa yang dimaksud oleh penulis. Selain itu, penggunaan kalimat
efektif terkait pada kaidah struktur bahasa. Dengan kaitan itu, kalimat

efektif dituntut memiliki struktur yang benar. Sturktur itu dapat dilihat

pada hubungan antara unsur kalimat. Kalimat yang berstruktur benar

adalah kalimat yang unsur-unsurnya memiliki hubungan yang jelas.

Dengan hubungan fungsi yang jelas itu, makna yang terkandung di

dalamnya juga jelas. Pada tataran kalimat, unsur-unsur memiliki fungsi

sintaksis seperti, subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan juga

harus jelas (Suparno, 2006: 2.20).


Di dalam menulis karangan deskripsi ejaan juga harus diperhatikan. Hal

yang tercakup di dalamnya adalah kesanggupan pengarang untuk

memenuhi berbagai kaidah berbahasa Indonesia secara baik dan benar.

Pembentukan kata, penyusunan kalimat, serta penguasaan ejaan dan tanda

baca harus tepat. Penggunaan ejaan sangat penting dalam kegiatan

menulis.   Di   dalam   bahasa       tulis,   tanda   baca   digunakan   untuk

melambangkan suatu maksud tertentu. Tanda baca dapat membantu

menjelaskan maksud atau makna kalimat. Dengan tanda baca, penulis

dapat menyampaikan maksud kalimat dengan lebih mudah. Oleh karena

itu, penggunaan tanda baca yang salah dapat mengakibatkan maksud

kalimat manjadi berubah. Di dalam menulis suatu karangan tidak boleh

mengabaikan hal-hal kecil, seperti penulisan tanda titik dan koma. Selain

itu, kita harus cermat dalam memilih kata maupun menyusun kalimat.


Di dalam menulis karangan deskripsi pendapat atau gagasan yang di-

kemukakan harus jelas. Karangan menggunakan kalimat dan kata-kata
  yang ringkas, namun dapat menjangkau makna yang luas. Meskipun

  karangan itu tergolong sederhana, isinya dapat memperkaya pengetahuan

  pembaca.


3. Penataan Gagasan

  Dalam menulis karangan deskripsi pendapat atau gagasan harus ditata

  dengan baik, artinya pendapat atau gagasan yang dikemukakan harus

  runtut. Karangan langsung menjelaskan inti permasalahan dan tidak

  berbelit-belit. Perpindahan pembahasan dari satu masalah kemasalah lain

  berlangsung secara mulus tanpa menimbulkan kesenjangan.


  Pokok-pokok pikiran harus diungkapkan dan dikembangkan dengan jelas

  sehingga permasalahan yang dibicarakan dalam karangan dapat dipahami

  oleh pembaca secara tepat dan benar (Nursisto, 1999: 47). Tema karangan

  harus menggambarkan isi karangan yang diangkat oleh pengarang.

  Karangan deskripsi harus kohesif atau padu, maksudnya karangan yang

  mempunyai ke- satuan dalam bahasa. Di dalam pengembangannya tidak

  boleh terdapat unsur-unsur yang sama sekali tidak berhubungan dengan

  tema atau gagasan pokoknya karena akan menyulitkan pembaca.


  Penggunaan kata transisi (konjungsi) sebagai alat relasi yang erat (kohesi)

  yang digunakan untuk       merangkai kalausa dengan klausa sehingga

  membentuk kalimat yang panjang, atau merangakai kalimat dengan

  kalimat dalam sebuah paragraf. Konjungsi juga dapat digunakan untuk

  merangakai paragraf dengan paragraf dalam sebuah karangan.


2.9 Kreteria Karangan yang Baik
Karangan ditinjau atas dua unsur penting, yaitu bentuk dan isi. Bentuk

berkaitan dengan bahasa, sedangkan isi berkaitan dengan materi yang

terkandung dalam karangan, apapun jenis karangannya. Maka ditinjau dari

kedua aspek tersebut, kreteria karangan yang baik menurut Nursisto (1999:

47) yaitu antara lain.

1. Berisi hal-hal yang bermanfaat

  Meskipun karangan tergolong sederhana, namun isinya dapat memperkaya

  pengetahuan pembaca.

2. Pengungkapan jelas

  Pengungkapan permasalah yang dibicarakan dalam karangan dapat

  dipahami oleh pembaca secara tepat dan benar, berdasarkan faktor

  pendukung utamanya yaitu pilihan kata (diksi), ketepatan struktur kalimat,

  akuratnya pemilihan kata penghubung, pengorganisasian ide yang padu,

  dan lain-lain.

3. Penciptaan kesatuan dalam pengorganisasian

  Sebuah karangan langsung menjelaskan inti permasalah dan tidak berbeli t-

  belit. Perpindahan pembahasan dari satu masalah ke masalah lain

  berlangsung secara mulus tanpa menimbulkan kesenjangan.

4. Efektif dan efisien

  Karangan menggunakan kalimat dan kata-kata yang ringkas dan jelas,

  namun dapat menjangkau makna yang luas.

5. Ketepatan penggunaan bahasa

  Dalam membuat sebuah karangan, pengarang harus memiliki kesanggupan

  untuk memenuhi berbagai kaidah bahasa Indonesia secara baik dan benar.
  Pembentukan kata, penyusunan kalimat, dan penguasaan ejaan dan tanda

  baca dengan tepat.

6. Terdapat variasi kalimat

  Dalam karangan penyusunan kalimat panjang dan pendek berselang-seling

  dan tidak terdapat pengulangan kata-kata yang sama secara berulang-

  ualang dengan cara mencari sinonimnya yang sesuai.

7. Vitalitas

  Isi karangan membuat pembaca seakan-akan merasa pengarang ada di

  dekatnya, sehingga terjadinya kontak dan timbul jalinan akrab antara

  pengarang dan penulis.

8. Cermat

  Di dalam menulis suatu karangan tidak boleh mengabaikan hal-hal kecil,

  seperti penulisan tanda titik dan koma.

9. Objektif

  Karangan diungkapkan secara jujur, tidak dimuati emosi, dan realistis.


2.10 Contoh Karangan Deskripsi

Menurut Suparno (2006: 4.16), karangan deskripsi dibagi menjadi dua

macam, yaitu deskripsi orang dan deskripsi tempat.

a. Deskripsi Orang

Deskripsi orang bertujuan agar pembaca seolah-olah mengenali sendiri sosok

seseorang yang dideskripsikan oleh penulisnya. Dalam membuat karangan

deskripsi orang ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan, yaitu sebagi

berikut.
1. Deskripsi keadaan fisik

   Deskripsi fisik bertujuan memberi gambaran yang sejelas-jelasnya

   tentang keadaan tubuh seorang tokoh kepada pembaca.

   Contoh 1




    Ketika hendak masuk ke dalam, matanya bersitatap dengan suaminya.
    Entah mengapa Lasi terkejut meski ia tidak merasa asing dengan cara
    Darsa menatap dirinya. Ia pun kadang-kadang mencuri pandang,
    memperhatikan tubuh suaminya dari belakang; sebentuk tubuh muda
    dengan perototan yang kuat dan seimbang, khas tubuh seorang
    penyadap yang setiap hari dua kali naik turun belasan atau bahkan
    puluhan pohon kelapa. Dalam gerakan naik turun pada tatar-tatar
    batang kelapa, seluruh perototan seorang penyadap digiatkan, terutama
    otot-otot tungkai, tangan, dan punggung. Hasilnya adalah sebentuk
    tubuh ramping dengan otot liat dan seimbang. Bila harus dicatat
    kekurangan pada bentuk tubuh seorang penyadap, itu adalah pundaknya
    yang agak melengkung ke depan karena ia harus selalu memeluk batang
    kelapa ketika memanjat maupun turun.
                                       (Ahmad Tohari, Bekisar Merah,
    1993)

   Pada contoh di atas pengarang berusaha menampilkan ciri-ciri fisik sang

   tokoh. Ciri-ciri fisik ini digambarkan dengan cermat. Melalui gambar
   visual pengarang mencoba menampilkan bentuk tubuh sang tokoh agar

   dapat dibayangkan kehadirannya oleh pembaca.


2. Deskripsi keadaan sekitar

Deskripsi keadaan sekitar, yaitu penggambaran keadaan yang mengelilingi

sang tokoh, misalnya penggambaran tentang aktivitas-aktivitas yang

dilakukan, pekerjaan atau jabatan, pakaian, tempat kediaman, dan kendaraan,

yang ikut menggambarkan watak seseorang.


Contoh 2




    Kuiringi Rini memasuki halaman luas rumah itu. Pintu pagar besi
    berderit. Rini ragu-ragu dan agak takut. Seorang laki-laki keluar dari
    samping rumah dan menuju pagar. Agaknya laki-laki itu sedang
    membersihkan mobil yang berderet di sebelah kiri halaman dari segala
    macam merek terbaru. Begitu laki-laki itu mendekati kami, Rini ragu-
    ragu bertanya, apakah rumah itu milik Bapak Wira Sunata. Laki-laki itu
    menganguk ragu, tetapi Rini cepat memperkenalkan diri. Laki-laki itu
    mempersilahkan kami masuk. Halaman yang luas dan ditata rapi itu
    kami lalui. Ruangan pun tersusun rapi, mewah dan intelek. Sayup-sayup
    terdengan bunyi piano me- ngumandangkan lagu-lagu klasik. Jam
    didinding besar, berdetak menambah kelengkapan ruangan itu. Rini
    dipersilahkan duduk. Aku dan Rini dengan ragu-ragu duduk di atas kursi
    yang di alas karpet berbulu tebal yang warnanya sangat serasi dengan
    kursi tersebut.
            (Suparno Muhamad Yunus, Keterampilan Dasar Menulis, 2006:
    4.17)


   Dengan membaca kutipan di atas, pembaca dapat membayangkan siapa

   penghuni rumah tersebut.


3. Deskripsi watak atau tingkah perbuatan

   Mendeskripsikan watak seseorang ini memang paling sulit dilakukan.

   Kita harus mampu menafsirkan tabir yang terkandung di balik fisik

   manusia. Dengan kecermatan dan keahlian kita, kita harus mampu

   mengidentifikasikan   unsur-unsur     dan   kepribadian   seorang   tokoh.

   Kemudian,      menampilkan   dengan    jelas   unsur-unsur   yang   dapat

   memperlihatkan karakter yang digambarkan.


   Contoh 3
Nenek meluruskan letak kacamatanya yang berbingkai emas, tetapi segara
melorot lagi sampai keujung hidungnya, sehingga kacanya memperjelas
tentang pipinya yang kisut. Dengan tawakal terpaksa ia menengadahkan
kepalanya sedikit supaya matanya bisa memandang lewat kaca yang ada di
bawahnya. Dengan sama sekali tak tergesah-gesah ia mengambil tabung
yang lebih panjang dari pada tempat kapur dan mulai memasukkan da un
sirih dan gambir di dalamnya, setelah di potong-potongnya dengan semacam
gunting yang berbentuk kakaktua. Tambah kapur sedikit, kemudian ia mulai
menumbuk campuran itu dengan perkakas yang mirip obeng. Dalam pada itu
mulutnya tak berhenti bercakap-cakap; menanyakan sanak saudara jauh.
Kalau sudah dijawab, bercerita tetang mareka ketika masih bayi atau kanak-
kanak. Kalau ternyata cucunya tak mengetahui siapa-siapa mareka itu, maka
nenek menerangkan dengan panjang lebar dan kejalasan yang patut dicontoh
oleh guru besar kalau memberi kuliah. Si anu itu yang kawin dengan adik si
anu. Si anu ini anak dari pada kakak nenek dari ibu ketiga. Jadi masih
permilih. Dan sang cucu mendengarkan dengan khidmat dan sabar.
                     (Nugroho Notosusanto, ”Tayuban” dalam tiga kota,

    1975)

    Dari kutipan cerpen diatas penulis dapat menafsikan bahwa toko h nenek

    adalah wanita tua yang gemar berbicara dan sang cucu yang penyabar.


b. Deskripsi Tempat

Tempat memegang peranan yang sangat penting dalam setiap peristiwa.

Tidak ada peristiwa yang terlepas dari lingkungan dan tempat. Semua kisah

akan selalu mempunyai latar belakang tempat. Jalannya sebuah peristiwa

akan lebih menarik jika dikaitkan dengan tempat terjadinya peristiwa

(Akhaidah, 1997). Ada beberapa cara yang dapat kita gunakan untuk

mendeskripsikan suatu tempat. Pertama, kita bergerak secara teratur

menelusuri tempat itu dan menyebutkan apa saja yang kita lihat. Kedua, kita

dapat mulai dengan menyebutkan kesan umum yang diikuti oleh perincian

yang paling menarik perhatian kita.


Contoh 4
 Rumah kuno itu sunyi. Ruang tengah senantiasa ada dalam suasana
 remang-remang karena jendela-jendela di pinggir tertutup oleh kamar-
 kamar dikanan kirinya. Mejah bambu yang berbentuk persegi berwarna
 coklat, terletak tepat di bawah lampu kristal yang sinarnya begitu
 terang bila dinyalakan. Lebih atas lagi terdapat lukisan seekor burung
 yang berwarna coklat dan satu pasang keris berjajar di dekat lukisan
 itu. Cahaya lampu 40 watt yang menerangi kelam yang mengental di
 ruangan antik itu, tambah terang juga oleh dinding yang berwarna
 ungu. Di kedua pojok belakang berdiri satu almari Yang memiliki tiga
 pintu berkaca yang isinya barang-barang porselen yang mahal dan
 kuih-kuih yang lezat. Di bagian kanannya terletak satu meja panjang
 yang di atasnya terpajang sebuah guci berwarna biru dan satu pasang
 binatang kancil serta satu vas bunga yang berwarna merah. Kursi
 panjang yang dibalut oleh busa yang terlihat begitu empuk sangat
 serasi warnanya dengan pasangan mejah yang berwarna coklat pula.
                                       (NugrohoNotosusanto, Tayuban)


Dalam kutipan di atas, kesan umum yang dikemukakan pengarang ialah

tentang rumah kuno yang sunyi dan ruang tengah yang senantiasa dalam

suasana remang-remang. Kemudian, perhatikan penulis tertarik oleh meja

bambu yang berbentuk persegi berwarna coklat. Itulah yang dilukiskan

pengarang terlebih dahulu, baru menyusun benda-benda di sekitarny lampu

kristal, cahaya ruangan, almari, dan seterusnya.
2.11 Pengertian Media Gambar

Kata ”media atau medus” berasal dari bahasa latin, yang berarti ’Pengantar’

atau ”perantara”. Dalam KBBI (2005: 726) ’media’ mempunyai arti ”alat

atau sarana komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster,

dan spanduk”. Menurut Arsyad (2009: 4) ” media adalah alat yang

menyampaikan atau meng- antarkan pesan-pesan pengajaran.


Sedangkan, media menurut Rohani (1997: 3) adalah segala sesuatu yang

dapat diinderakan yang berfungsi sebagai perantara/sasaran/alat untuk proses

komunikasi (proses belajar mengajar). Jadi, media adalah segala sesuatu yang

dapat digunakan untuk menyalurkan pesan, yang dapat merangsang pikiran,

perasaan dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terciptanya proses

belajar pada dirinya.


Media pengajaran sebagai sarana penerapan ilmu dalam proses pembelajaran

mempunyai manfaat untuk lebih menarik perhatian siswa sehingga

menumbuhkan motivasi belajar, memperjelas bahan pengajaran, metode

mengajar akan bervariasi sehingga siswa tidak mudah bosan, dan siswa akan

lebih banyak melakukan kegiatan belajar karena tidak hanya mendengarkan

uraian guru tetapi juga melakukan aktivitas mengamati (Arsyad, 2009: 24).

Selain itu, menurut Sadiman, bahwa media pengajaran mempunyai manfaat

untuk mengatasi keterbatasan ruang dan waktu, memberikan rangsangan yang

sama kepada siswa, mempersembahkan pengalaman siswa, dan menimbulkan

persepsi yang sama kepada siswa. Salah satu ciri media pembelajaran adalah
bahwa media mengandung dan membawa pesan atau informasi kepada

penerima yaitu siswa (Arsyad, 2009: 81)


Media yang digunakan penulis, yaitu berupa gambar atau        media visual.

Gambar berarti lukisan. Menurut Yandianto (2001: 120) ”gambar adalah

tiruan, barang. Seperti orang, binatang, tumbuhan, dan sebagainya yang

dibuat dengan coretan pensil dan sebagainya pada kertas dan sebagainya”.

Oleh karena itu, diantara media pembelajaran, media gambar adalah media

yang paling umum dipakai. Hal ini dikarenakan siswa lebih menyukai gambar

dari pada tulisan, apa lagi jika gambar dibuat dan disajikan sesuai dengan

persyaratan yang baik, sudah tentu akan menambah semangat siswa dala m

mengikuti   proses   pembelajaran.   Jadi,   menurut   Soelarko   (1980:   3)

mengemukakan bahwa media gambar merupakan peniruan dari benda-benda

dan pemandangan dalam hal bentuk, rupa serta ukurannya relatif terhadap

lingkungan. Selanjutnya, Sadiman (1996: 29), media gambar adalah media

yang paling umum dipakai, yang merupakan bahasan umum yang dapat

dimengerti dan dinikmati dimana saja. Dari pendapat di atas, penulis

mengacu pada pendapat Soelarko yang menyatakan bahwa media gambar

merupakan peniruan dari benda-benda dan pemandangan dalam hal bentuk,

rupa serta ukurannya relatif terhadap lingkungan.


2.12 Bentuk Media Gambar

Ada berbagai bentuk media visual (gambar) yang dapat membantu proses

pembelajaran yaitu meliputi.
1. Gambar Tunggal

  adalah suatu kesatuan informasi yang dituangkan dalam satu lembar.

  Gambar adalah ilustrasi yang mendeskripsikan suatu objek ataupun

  peristiwa (KBBI, 2005: 329). Selanjutnya    tunggal adalah sebuah atau

  satu-satunya (KBBI, 2005: 1224). Jadi, gambar tunggal adalah sebuah

  ilustrasi yang men- deskripsikan suatu objek ataupun peristiwa sehingga

  dapat memudahkan siswa dalam berimajinasi untuk menuangkan ide,

  pikiran, dan perasaan yang tertuang dalam bentuk karangan

2. Gambar Berseri

  Media gambar berseri adalah sejumlah gambar di mana antara satu gambar

  dengan gambar yang saling berkaitan dan membentuk alur cerita tertentu.

  Dengan melihat gambar-gambar yang menarik siswa dapat berimajinasi

  tentang apa yang mereka lihat kemudian menceritakannya dalam bentuk

  tulisan. Siswa dapat merangkai potongan-potongan gagasan yang ada

  dalam pikiran menjadi bentuk kalimat yang runtut sehingga menghasilkan

  karangan yang baik dan melatih siswa dalam mengatur alur cerita (diunduh

  pada 29 Desember 2009, http://id-jurnal.blogspot.com/2009/09/skripsi-

  upaya mening- katkan-kemampuan.html).


Oleh karena itu, berdasarkan bentuk media gambar tersebut maka penulis

lebih menspesifikan pada bentuk media gambar tunggal supaya bisa

mengatasi ruang, ukuran dan waktu, maksudnya adalah memperbesar ukuran

yang kecil dan mem- percepat proses yang memakan waktu yang lama.
2.13 Syarat-Syarat Penggunaan Media Gambar

Menurut Sabana dan Sunarti (2005: 323), agar tujuan penggunaan media

gambar dapat tercapai, gambar harus memenuhi syarat-syarat:

1) bagus, jelas, menarik, dan mudah dipahami;

2) cocok dengan materi pembelajaran;

3) benar dan otentik, artinya menggambarkan situasi yang sebenarnya;

4) sesuai dengan tingkat umur/kemampuan siswa;

5) perbandingan ukuran gambar harus sesuai dengan ukuran objek yang

   sebenarnya.


2.14 Kelebihan Media Gambar

Sadiman (1993: 29) menyatakan kelebihan media gambar.

1. Sifatnya konkrit, maksudnya gambar lebih realistis menunjukkan pokok

   masalah dibandingkan dengan media verbal semata.

2. Gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu. Tidak semua benda

   atau peristiwa dapat dibawa ke dalam kelas, dan tidak selalu bisa anak-

   anak di bawa ke objek/peristiwa tersebut. Media gambar dapat mengatasi

   masalah tersebut.

3. Media gambar dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita. Sela atau

   pe- nampang daun yang tak mungkin kita lihat dengan mata telanjang

   dapat disajikan dengan jelas dalam bentuk gambar.

4. Gambar dapat memperjelas suatu masalah, dalam bidang apa saja dan

   untuk tingkat usia berapa saja, sehingga         dapat mencegah atau

   memperbaiki kesalah pahaman.
5. Gambar harganya murah dan mudah didapat serta digunakan, tanpa me-

   merlukan peralatan khusus.


2.15 Pengaruh Penggunaan Media Gambar terhadap Kemampuan
     Mengarang Deskripsi

Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan,

yang dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan siswa sehingga dapat

mendorong terciptanya proses pembelajaran pada dirinya (Wetty Suliani,

2004: 55). Media gambar adalah media yang paling umum dipakai, yang

merupakan bahasan umum yang dapat dimengerti dan dinikmati di mana saja

(Sadiman, 1996: 29). Dalam proses pembelajaran, pesan yang akan

disampaikan dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi siswa. Simbol-

simbol tersebut perlu di- pahami benar artinya agar proses penyampaian

pesan dapat berhasil dan tepat guna. Selain fungsi umum tersebut, secara

khusus gambar berfungsi pula untuk menarik perhatian, memperjelas sajian

ide, mengilustrasikan atau menghiasi fakta yang mungkin akan cepat

dilupakan atau diabaikan bila tidak digambarkan.


Untuk mencapai tujuan pembelajaran atau untuk memperoleh hasil yang baik

dalam mengarang deskripsi, diperlukan latihan mengarang secara maksimal serta

memanfaatkan atau mengunakan media-media pembantu, seperti media gambar.

Media gambar dapat membangkitkan minat atau motivasi dalam kegiatan

pembelajaran, dan bahkan mempengaruhi psikologis siswa dalam mengarang.

Selain itu, Media gambar juga dapat memberi pengalaman yang tidak mudah

diperoleh dengan cara lain dan membantu berkembangnya efiensi yang lebih
mendalam (diunduh pada 30 Januari 2010, http://www.skripsi-bahasa Indonesia.

html)


Media gambar sangat sesuai digunakan untuk menulis karangan deskripsi

karena merupakan perantara atau pengantar sumber pesan yang di tuangkan

dalam bentuk tulisan berupa karangan dalam proses pembelajaran. Selain itu,

keterkaitan karangan deskripsi dengan media gambar yaitu karena deskripsi

merupakan pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata tentang suatu

benda, tempat, suasana, atau keadaan (Marahimin, 1993: 46). Hal ini, dapat

diperoleh ketika siswa melihat sebuah gambar. Dengan media gambar

diharapkan siswa dapat menulis karangan deskripsi dengan lebih baik. Media

gambar sendiri mempunyai kelebihan, yaitu (a) mempertajam daya imajinasi

siswa, (b) lebih realistis menunjukkan pokok masalah, (c) memperjelas suatu

masalah dalam bidang apa saja dan untuk tingkat semua usia, (d) murah

harganya dan gampang didapat serta digunakan tanpa memerlukan peralatan

khusus” (Sadiman, 1996: 29) .


Selain itu, media gambar juga mempunyai tujuan dalam pembelajaran, yaitu

untuk menerjemahkan simbol verbal, dan untuk menimbulkan daya tarik bagi

siswa, suatu asas mengajar yang perlu diperhatiakan, sehingga dengan

demikian siswa lebih senang belajar dan siswa memberikan hasil belajar

lebih baik (Wetty Suliani, 2004: 71). Dengan mengetahui keterkaitan antara

tujuan pelajaran mengarang deskripsi dan tujuan penggunaan media gambar

tersebut, maka media gambar dapat memengaruhi kemampuan siswa dalam

menulis karangan deskripsi.
2.16 Kerangka Teori

Mengarang merupakan kegiatan yang kompleks dan rumit sebab dalam

pembelajaran untuk mencapai tujuan atau untuk memperoleh hasil yang baik

dalam mengarang deskripsi, diperlukan latihan mengarang secara maksimal

serta memanfaatkan atau mengunakan media-media pembantu, seperti media

gambar. Media gambar akan membangkitkan minat atau motivasi kegiatan

belajar, dan bahkan mempengaruhi psikologis siswa dalam mengarang.

Media tersebut memberi pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan

cara lain dan membantu berkembangnya efiensi yang lebih mendalam

(diunduh pada 30 Januari 2010, http://www.skripsi-bahasa-indonesia.html).


Selain itu, media gambar juga memiliki kelebihan diantaranya, yaitu lebih

realistis menunjukkan pokok masalah dibandingkan dengan media verbal

semata, gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu. Tidak semua

benda atau peristiwa dapat dibawa ke dalam kelas atau dengan adanya

gambar siswa tidak harus datang ke lokasi yang dimaksud, dan media gambar

dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita. Siswa tidak berpikir diluar

yang diinginkan serta fokus berdasarkan gambar (Sadiman, 1996: 29).


Sedangkan, mengarang deskripsi berdasarkan sumber belajar lingkungan

sangat dipengaruhi oleh batasan ruang dan waktu dan siswa dapat berpikir

diluar yang diinginkan karena, terlalu luasnya pengamatan.


Dengan demkian, dapat diasumsikan bahwa siswa yang dalam proses

pembelajaran menulis karangan deskripsi berdasarkan media gambar

mempunyai tingkat kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa
yang dalam proses pembelajaran menulis karangan deskripsi berdasarakan

media sumber belajar lingkungan.


2.17 Hipotesis

Menurut Arikunto (2006: 71) hipotesis adalah sebagai suatu jawaban yang

bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui

data yang terkumpul. Hipotesis yang baik adalah hipotesis yang dapat diuji di

lapangan (Anggoro, 2007: 1.30).


Hipotesis penelitian ini dioperasionalkan sebagai berikut: ”Skor rata-rata

kemampuan     menulis    karangan    deskripsi   siswa   yang   dalam    proses

pembelajaran dengan menggunakan media gambar lebih tinggi            dari pada

skor rata-rata kemampuan menulis karangan deskripsi siswa yang dalam

proses pembelajaran dengan menggunakan media sumber belajar lingkungan.


Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut.

H : µ1 = µ2

A : µ1 >     µ2


Kriteria ujinya: taraf kepercayaan 99% (α = 0.01), H o ditolak jika t hitung

lebih besar dari pada t tabel (1 – 0,01) (n1 + n2 -2). Dalam hal selain itu, H a

diterima.
                        III. METODE PENELITIAN



3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam

mengumpulkan data penelitiannya (Arikunto, 2006: 136). Metode yang

digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen. Penelitian eksperimantal

menggunakan percobaan yang dirancang secara khusus guna membangkitkan

data yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitian (Margono, 2007:

110).


Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan maksud untuk

menyelidiki ada atau tidak adanya akibat dari perlakuan media gambar

terhadap kemampuan menulis karangan deskripsi. Penelitian ini diarahkan

untuk     memperoleh    gambaran        yang     sebenarnya    tentang   pengaruh

pembelajaran berdasarkan media gambar dan pembelajaran berdasarkan

media sumber belajar lingkungan dalam pembelajaran menulis karangan

deskripsi pada kelas IX SMP Negeri 20 Bandarlampung. Dalam pembelajaran

menulis    karangan    deskripsi   di    kelas    eksperimen   penyajian   materi

menggunakan media gambar, sedangkan di kelas kontrol penyajian meteri

menggunakan sumber belajar lingkungan. Agar lebih jelas desain penelitian

dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Desain Penelitian Pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

 No  Kelas              Tes Awal           Perlakuaan             Tes Akhir
 1 Eksperimen            Pretes                 X1                 Postes
                                          (Menggunakan
                                          Media Gambar)
  2    Kontrol            Pretes                X2                  Postes
                                          (menggunakan
                                          sumber belajar
                                           lingkungan)


3.2 Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2006: 130).

Sementara itu, Anggoro (2007: 4.2) menyatakan bahwa populasi adalah

himpunan yang lengkap dari satuan-satuan atau individu-individu yang

karakteristiknya ingin kita ketahui. Sampel adalah sebagian atau wakil

populasi yang diteliti (Arikunto, 2006: 131). Jenis sampel yang diambil harus

mencerminkan populasi (Riyanto, 2001: 64)


3.2.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan siswa kelas IX SMP Negeri

20 Bandarlampung tahun pelajaran 2009/2010 berjumlah 272 orang siswa.

Untuk lebih jelas populasi penelitian dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2 Jumlah Populasi Penelitian Siswa SMP Negeri 20
        Bandarlampung Tahun Pelajaran 2009/2010

  No                  Kelas                          Jumlah Siswa
   1                  IX A                                39
   2                  IX B                                39
   3                  IX C                                39
   4                  IX D                                38
   5                  IX E                                39
   6                  IX F                                38
   7                  IX G                                40
                     Jumlah                              272
                 Sumber: Data SMP N 20 Bandarlampung Tahun 2009
3.2.2 Sampel

Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan

teknik cluster random sampling. Teknik ini digunakan bilamana populasi

tidak terdiri atas individu-individu, melainkan terdiri atas kelompok-

kelompok individu atau cluster (Margono, 2007: 127).


Adapun prosedur pengambilan sampel yang dilakukan adalah sebagai

berikut:

a) mendata jumlah kelas IX SMP Negeri 20 Bandarlampung;

b) mengundi secara acak satu kelas sebagai kelas yang menggunakan media

   gambar atau kelas eksperimen dan satu kelas yang menggunakan sumber

   belajar lingkungan atau kelas kontrol;

c) hasil dari pemilihan secara acak diperoleh kelas IX A sebagai kelas

   kontrol (kelas yang menggunakan sumber belajar lingkungan) dan kelas

   IX B sebagai kelas eksperimen (kelas yang menggunakan media gambar);

d) jumlah keseluruhan sampel 78 orang siswa, yang terdiri atas siswa kelas

   kontrol berjumlah 39 orang (siswa laki-laki berjumlah 19 orang dan siswa

   perempuan berjumlah 20 orang) dan siswa kelas eksperimen 39 orang

   (siswa laki-laki berjumlah 17 orang dan siswa perempuan berjumlah 22

   orang);

e) mendaftar nama-nama siswa dari masing-masing kelas, yaitu kelas IX A

   dan kelas IX B sesuai dengan nomor absen siswa.
3.3 Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang diinginkan maka peneliti menggunakan teknik

tes. Menurut Margono (2007: 170), tes adalah seperangkat rangsangan

(stimuli) yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapat

jawaban yang dapat dijadikan dasar bagi penetapan skor angka.


Bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes mengarang

deskripsi dengan topik yang ditentukan oleh peneliti. Tes dilakukan sebanyak

dua kali, yaitu tes awal dan tes akhir. Fungsi tes awal adala h untuk melihat

kemampuan siswa sebelum diberikan perlakuan (pembelajaran). Tes kedua

(terakhir) diberikan setelah penyampaian RPP 1 dan RPP 2. Skala penilaian

yang digunakan adalah skala penilaian 0-100. Apabila siswa dapat menulis

karangan dengan sangat baik akan mendapat skor 100. Tes yang diberikan,

yaitu tugas membuat karangan deskripsi. Waktu yang digunakan untuk

mengerjakan tes adalah 80 menit, dengan panjang karangan 3 -4 paragraf.


Skala penilaian dilakukan dengan membuat skor dari hasil karangan sis wa

baik yang menggunakan media gambar maupun yang menggunakan sumber

belajar lingkungan. Skala penilaian menggunakan model penilaian tugas

menulis dengan skala 0-100. Apabila siswa dapat menulis karangan dengan

benar akan mendapat skor 100. Untuk lebih jelasnya indikator dan skor

penilaian dapat dilihat pada

tabel 3.
Tabel 3 Indikator Penilaian Tes Kemampuan Mengarang Deskripsi

No    Indikator     Kualitat   Skor          Deskripsi Penilaian
                       if
 1   Isi Karangan     Baik      5     Karangan yang ditulis sangat
       Deskripsi     Sekali           memperlihatkan dan
                                      menggambarkan hasil pengamatan
                                      tentang objek, menimbulkan
                                      imajinasi sehingga pembaca
                                      seolah-olah melihat atau
                                      merasakan sendiri tentang objek
                                      yang disampaikan

                     Baik       4     Karangan yang ditulis mem-
                                      perlihatkan dan menggambarkan
                                      hasil pengamatan tentang objek,
                                      menimbulkan imajinasi sehingga
                                      pembaca seolah-olah melihat atau
                                      merasakan sendiri tentang objek
                                      yang disampaikan

                     Cukup      3     Karangan yang ditulis cukup mem-
                                      perlihatkan dan menggambarkan
                                      hasil pengamatan tentang objek,
                                      menimbulkan imajinasi sehingga
                                      pembaca seolah-olah melihat atau
                                      merasakan sendiri tentang objek
                                      yang disampaikan

                    Kurang      2     Karangan yang ditulis kurang
                                      mem-
                                      perlihatkan dan menggambarkan
                                      hasil pengamatan tentang objek,
                                      menimbulkan imajinasi sehingga
                                      pembaca seolah-olah melihat atau
                                      merasakan sendiri tentang objek
                                      yang disampaikan
                     Gagal      1
                                      Karangan yang ditulis tidak
                                      memperlihatkan dan
                                      menggambarkan hasil pengamatan
                                      tentang objek, menimbulkan
                                      imajinasi sehingga pembaca
                                      seolah-olah melihat atau
                                      merasakan sendiri tentang objek
                                      yang disampaikan
 2   Penggunaan       Baik      5     Pada saat menulis karangan sangat
       Bahasa        Sekali           mampu menggunakan kalimat
                            efektif, tidak terdapat kesalahan
                            pemakaian EYD dan Diksi yang
                            digunakan sangat tepat

                Baik    4   Pada saat menulis karangan
                            mampu menggunakan kalimat
                            efektif, terdapat 1-5 kesalahan
                            pemakaian EYD dan Diksi yang
                            digunakan tepat

               Cukup    3   Pada saat menulis karangan cukup
                            mampu menggunakan kalimat
                            efektif, terdapat 6-10 kesalahan
                            pemakaian EYD dan Diksi yang
                            digunakan cukup tepat
               Kurang   2   Pada saat menulis karangan kurang
                            mampu menggunakan kalimat
                            efektif, terdapat 11-15 kesalahan
                            pemakaian EYD dan Diksi yang
                            digunakan kurang tepat

               Gagal    1   Pada saat menulis karangan tidak
                            mampu menggunakan kalimat
                            efektif, terdapat > 16 kesalahan
                            pemakaian EYD dan Diksi yang
                            digunakan tidak tepat
3   Penataan    Baik    5   Pendapat atau gagasan yang
    Gagasan    Sekali       dikemukakan sangat runtut, sangat
                            mampu meletakkan kalimat utama
                            dalam karangan, pokok-pokok
                            pikiran diungkapkan dan
                            dikembangkan sangat jelas, tema
                            sangat menggambarkan isi
                            karangan, hubungan antar bagian
                            kohesif.

                Baik    4   Pendapat atau gagasan yang
                            dikumukakan runtut, mampu
                            meletakkan kalimat utama dalam
                            karangan, pokok-pokok pikiran
                            diungkapkan dan dikembangkan
                            dapat jelas, tema dapat
                            menggambarkan isi karangan,
                            hubungan antar bagian kohesif.

               Cukup    3   Pendapat atau gagasan yang
                            dikumukakan cukup runtut, cukup
                            mampu meletakkan kalimat utama
                                       dalam karangan, pokok-pokok
                                       pikiran diungkapkan dan
                                       dikembangkan cukup jelas, tema
                                       cukup dapat menggambarkan isi
                                       karangan, hubungan antar bagian
                                       cukup kohesif.

                     Kurang      2     Pendapat atau gagasan yang
                                       dikumukakan kurang runtut,
                                       kurang mampu meletakkan kalimat
                                       utama dalam karangan, pokok-
                                       pokok pikiran kurang diungkapkan
                                       dan dikembangkan dengan jelas,
                                       tema
                                       kurang dapat menggambarkan isi
                                       karangan, hubungan antar bagian
                      Gagal      1     kurang kohesif.
                                       Pendapat atau gagasan yang
                                       dikumukakan tidak runtut, tidak
                                       mampu meletakkan kalimat utama
                                       dalam karangan, pokok-pokok
                                       pikiran tidak diungkapkan dan
                                       dikembangkan dengan jelas, tema
                                       tidak dapat menggambarkan isi
                                       karangan, hubungan antar bagian
                                       tidak kohesif.


Teknik penilaian terhadap tulisan siswa dengan langkah-langkah sebagai

berikut.

1. Mengumpulkan seluruh data

2. Membaca dan melakukan penskoran, terhadap tulisan siswa berdasarkan

   aspek penilaian (isi karangan deskripsi, bahasa penyajian, penataan

   gagasan).

3. Mengoreksi dan memberi skor hasil karangan deskripsi berdasarkan tolok

   ukur penilaian pada tebel 3

   X = Jumlah skor peroleh x 100%
       Jumlah skor maksimal
   Keterangan

   X = Skor rata-rata


3.4 Prosedur Penelitian

Prosedur penelitiannya dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4 Prosedur Penelitian untuk Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

  Pertemuan ke           Kelas Eksperimen                  Kelas Kontrol
        1           Tes Awal                         Tes Akhir
        2           Pelaksanaan pembelajaran         Pelaksanaan pembelajaran
                    I dengan menggunakan             I dengan menggunakan
                    media gambar                     sumber belajar lingkungan
         3          Pelaksanaan pembelajaran         Pelaksanaan pembelajaran
                    II dengan menggunakan            II dengan menggunakan
                    media gambar                     sumber belajar lingkungan
         4          Tes Akhir                        Tes Akhir


3.5 Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis

Untuk menganalisis data, prosedur yang ditempuh oleh peneliti adalah

sebagai berikut.

1) Memberi skor pada karangan siswa dengan menggunakan pembobotan

   masing-masing unsur karangan.

2) Mencantumkan skor yang diperoleh sampel ke dalam tabel

3) Menafsirkan hasil skor yang dicapai sampel (baik untuk kelas eksperimen

   maupun kelas kontrol) dengan berpedoman pada tolok ukur yang

   ditetapkan.

4) Uji keacakan sampel dilakukan untuk mengetahui apakah sampel diambil

   secara acak atau tidak. Untuk menguji keacakan sampel digunkan uji

   runtun.
5) Uji Normalitas Distribusi

   Untuk mengetahui apakah sampel berasal dari populasi yang berdistribusi

   normal atau tidak, dilakukan uji normalitas distribusi. Uji normalitas

   distribusi yang digunakan adalah uji lilliefors

6) Pengujian hipotesis.

   Untuk menguji hipotesis digunakan rumus t tes, berikut ini:

               X1  X 2
   t
           s   1         1
                   n1         n2


   S   2
           
             n1  1S12  n1  1S 22
                        n1  n2  2

   Sanusi, (1996: 128)


   Keterangan:

   X 1 = Skor rata-rata kemampuan menulis karangan deskripsi di kelas

               eksperimen

   X 2 = Skor rata-rata kemampuan menulis karangan deskripsi di kelas

   kontrol

   S2 = Simpangan baku gabungan

   n1 = Jumlah siswa untuk kelas eksperimen

   n2 = Jumlah siswa untuk kelas kontrol

   S1 = Simpangan baku kelas eksperimen

   S2 = Simpangan baku kelas kontrol
 3.6 Tolok Ukur Penilaian

 Menentukan tingkat kemampuan siswa dalam menulis karangan deskripsi

 menggunakan media gambar berdasarkan tolok ukur yang digunakan. Untuk

 lebih jelas dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5 Tolok Ukur Penilaian Kemampuan Siswa Menulis Karangan
        Deskripsi

                Persentase                   Tingkat Kemampuan
               85%-100%                           Baik Sekali
                75%-84%                              Baik
                60%-74%                             Cukup
                40%-59%                            Kurang
                0%-39%                              Gagal
 (Nurgiantoro, 2001: 399)
                       IV. HASIL DAN PEMBAHASAN



4.1 Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diperoleh melalui tes kemampuan menulis karangan

deskripsi berdasarkan media gambar pada siswa kelas IX A dan kelas IX B

menggunakan      media    sumber    belajar   lingkungan    SMP     Negeri   20

Bandarlampung tahun pelajaran 2009/2010. Tes dilakukan sebanyak dua kali,

yaitu satu kali tes awal dan satu kali tes akhir yang d ilakukan di kelas

eksperimen dan kelas kontrol. Tes tersebut dilaksanakan pada tanggal 07 -14

November 2009 dengan alokasi waktu 80 menit satu kali pertemuan. Data-

data dalam penelitian ini diperoleh setelah data dianalisis berdasarkan

indikator yang terdiri atas isi karangan, penggunaan bahasa, dan penataan

gagasan. Dalam prosedur penelitian tujuan tes tersebut adalah untuk melihat

selisih nilai yang diperoleh siswa antara tes awal dan tes akhir.


Selanjutnya,   pelaksanaan     pembelajaran    menulis     karangan   deskripsi

berdasarkan    media gambar di kelas eksperimen (kelas IX B) dilakukan

sendiri oleh peneliti sebanyak dua kali pertemuan. Pertemuan pertama (tes

awal) dilaksanakan pada hari Senin tanggal 09 November 2009, dan

pertemuan kedua (tes akhir) di- laksanakan pada hari Sabtu tanggal 14

November 2009. Pelaksanaan pem- belajaran menulis dengan media gambar
ini menggunakan dua gambar. Gambar yang pertama, yaitu gambar kebun

sekolah dan gambar yang kedua, yaitu gambar perpustakaan sekolah.


Pelaksanaan pembelajaran menulis karangan deskripsi berdasarkan media

sumber belajar lingkungan (mengamati objek secara langsung) di kelas

kontrol (kelas IX A) dilakukan sendiri oleh peneliti sebanyak dua kali

pertemuan. Pertemuan pertama (tes awal) dilaksanakan         pada hari Sabtu

tanggal 07 Novembar 2009, dan pertemuan kedua (tes akhir) dilaksanakan

pada hari Selasa 10 November 2009. Pelaksanaan pembelajaran berdasarkan

sumber belajar lingkungan yang pertama yaitu dengan          mengajak siswa

mengamati kebun sekolah secara langsung dan kedua yaitu dengan mengajak

siswa mengamati perpustakaan sekolah secara langsung.


4.1.1 Data Penelitian

Hasil data penelitian kemampuan menulis karangan deskripsi siswa kelas IX

SMP Negeri 20 Bandar Lampung tahun pelajaran 2009/2010 terdiri atas hasil

data penelitian pretes dan postes untuk kelas eksperimen dan hasil data pretes

dan postes untuk kelas kontrol.


4.1.1.1 Data Pretes Kelas Eksperimen

Data kemampuan menulis karangan deskripsi pada tes awal (pretes) di kelas

eksperimen siswa kelas IX B SMP Negeri 20 Bandarlampung tahun pelajaran

2009/2010 penulis tuangkan dalam tabel 6.
Tabel 6 Data Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi pada Peretes di
        Kelas Eksperimen

     Data Skor                X           F         F.X       Persentase (%)
        40-50                45          1          45             2,6%
        51-61                56          15        840             38,4%
        62-72                67          12        804             30,8%
        73-83                78          8         624             20,5%
        84-94                89          3         267             7,7%
            Jumlah                       39       2580             100%
         Skor Rata-rata                2580 : 39 = 66,2            Cukup


Keterangan:
Data Skor       : rentang skor yang diperoleh siswa
   X            : nilai tengah dari data skor ( 1/ 2 (ujung bawah + ujung atas))
   F            : frekuensi (jumlah data yang terdapat pada setiap rentang skor)
  F.X           : frekuensi x nilai tengah skor
  f%            : frekuensi relatif (persentase)


Berdasarkan tabel 6, hal-hal yang dapat dikemukakan sebagai berikut. Data

skor tersebut dikelompokkan menjadi 5 kelas interval dengan panjang kelas

setiap intervalnya adalah 10. Dari rentang skor tersebut diketahui bahwa

siswa yang memeroleh skor 40-50 berjumlah satu siswa (2,6%), siswa yang

memeroleh skor 51-61 berjumlah lima belas siswa (38,4%), siswa yang

memeroleh skor 62-72 berjumlah dua belas siswa (30,8%), siswa yang

memeroleh skor 73-83 berjumlah delapan siswa (20,5%), dan siswa yang

memeroleh skor 84-94 berjumlah tiga siswa (7,7%). Rata-rata kemampuan

siswa dalam menulis karangan deskripsi berdasarkan media gambar tergolong

cukup (66,2).


4.1.1.2 Data Pretes Kelas Kontrol

Data kemampuan menulis karangan deskripsi pada tes awal (pretes) di kelas

kontrol siswa kelas IX A SMP Negeri 20 Bandarlampung tahun pelajaran
2009/2010 penulis tuangkan dalam tabel 7.

Tabel 7 Data Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi pada Peretes di
        Kelas Kontrol

      Data Skor             X           F         F.X       Persentase (%)
        50-57              53,5        4         214             10,3%
        58-65              61,5       20        1230             51,2%
        66-73              69,5       13        903,5            33,3%
        74-81              77,5        1         77,5            2,6%
        82-89              85,5        1         85,5            2,6%
            Jumlah                    39       2510,5            100%
        Skor Rata-rata              2510,5 : 39 = 64,4           Cukup

Keterangan:
Data Skor     : rentang skor yang diperoleh siswa
   X          : nilai tengah dari data skor ( 1/ 2 (ujung bawah + ujung atas))
   F          : frekuensi (jumlah data yang terdapat pada setiap rentang skor)
  F.X         : frekuensi x nilai tengah skor
  f%          : frekuensi relatif (persentase)


Berdasarkan tabel 7, hal-hal yang dapat dikemukakan sebagai berikut. Data

skor tersebut dikelompokkan menjadi 5 kelas interval dengan panjang kelas

setiap intervalnya adalah 7,4. Dari rentang skor tersebut diketahui bahwa

siswa yang memeroleh skor 50-57 berjumlah empat siswa (10,3%), siswa

yang memeroleh skor 58-65 berjumlah dua puluh siswa (51,2%), siswa yang

memeroleh skor 66-73 berjumlah tiga belas siswa (33,3%), siswa yang

memeroleh skor 74-81 berjumlah satu siswa (2,6%), dan siswa yang

memeroleh skor 84-94 berjumlah satu siswa (2,6%). Rata-rata kemampuan

siswa dalam menulis karangan deskripsi berdasarkan media sumber belajar

lingkungan tergolong cukup (64,4).
4.1.1.3 Data Postes Kelas Eksperimen

Data kemampuan menulis karangan deskripsi pada tes akhir (postes) di kelas

eksperimen siswa kelas IX B SMP Negeri 20 Bandarlampung tahun pelajaran

2009/2010 penulis tuangkan dalam tabel 8.


Tabel 8 Data Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi pada Postes di
        Kelas Eksperimen

      Data Skor             X           F          F.X       Persentase (%)
        47-56             51,5         1          51,5             2,6%
        57-66             61,5         3         184,5             7,7%
        67-76             71,5         20        1430             51,3%
        77-86             81,5         9         733,5             23%
        87-96             91,5         6          549             15,4%
            Jumlah                     39       2948,5            100%
         Skor Rata-rata              2948,5 : 39 = 75,6           Cukup

Keterangan:
Data Skor     : rentang skor yang diperoleh siswa
   X          : nilai tengah dari data skor ( 1/ 2 (ujung bawah + ujung atas))
   F          : frekuensi (jumlah data yang terdapat pada setiap rentang skor)
  F.X         : frekuensi x nilai tengah skor
  f%          : frekuensi relatif (persentase)


Berdasarkan tabel 8, hal-hal yang dapat dikemukakan sebagai berikut. Data

skor tersebut dikelompokkan menjadi 5 kelas interval dengan panjang kelas

setiap intervalnya adalah 9. Dari rentang skor tersebut diketahui bahwa siswa

yang memeroleh skor 47-56 berjumlah satu siswa (2,6%), siswa yang

memeroleh skor 57-66 berjumlah tiga siswa (7,7%), siswa yang memeroleh

skor 67-76 berjumlah dua puluh siswa (51,3%), siswa yang memeroleh skor

77-86 berjumlah sembilan siswa (23%), dan siswa yang memeroleh skor 87-

96 berjumlah enam siswa (15,4%). Rata-rata kemampuan siswa dalam

menulis karangan deskripsi berdasarkan media gambar tergolong baik (75,6).
4.1.1.4 Data Postes Kelas Kontrol

Data kemampuan menulis karangan deskripsi pada tes akhir (postes) di kelas

kontrol siswa kelas IX A SMP Negeri 20 Bandarlampung tahun pelajaran

2009/2010 penulis tuangkan dalam tabel 9.

Tabel 9 Data Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi pada Postes di
        Kelas Kontrol

      Data Skor             X           F         F.X       Persentase (%)
        40-51              45,5        1         45,5            2,6%
        52-63              57,5       13        747,5            33,3%
        64-75              69,5       21       1459,5            53,9%
        76-87              81,5        3        244,5            7,6%
        88-99              93,5        1         93,5            2,6%
            Jumlah                    39       2510,5            100%
        Skor Rata-rata              2510,5 : 39 = 64,4           Cukup

Keterangan:
Data Skor     : rentang skor yang diperoleh siswa
   X          : nilai tengah dari data skor ( 1/ 2 (ujung bawah + ujung atas))
   F          : frekuensi (jumlah data yang terdapat pada setiap rentang skor)
  F.X         : frekuensi x nilai tengah skor
  f%          : frekuensi relatif (persentase)


Berdasarkan tabel 9, hal-hal yang dapat dikemukakan sebagai berikut. Data

skor tersebut dikelompokkan menjadi 5 kelas interval dengan panjang kelas

setiap intervalnya adalah 11. Dari rentang skor tersebut diketahui bahwa

siswa yang memeroleh skor 40-51 berjumlah satu siswa (2,6%), siswa yang

memeroleh skor 52-63 berjumlah tiga belas siswa (33,3%), siswa yang

memeroleh skor 64-75 berjumlah dua puluh satu siswa (53,9%), siswa yang

memeroleh skor 76-87 berjumlah tiga siswa (7,6%), dan siswa yang

memeroleh skor 88-99 berjumlah satu siswa (2,6%). Rata-rata kemampuan

siswa dalam menulis karangan deskripsi berdasarkan media sumber belajar

lingkungan tergolong cukup (64,4).
4.1.2 Tingkat Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi

Tingkat kemampuan menulis karangan deskripsi siswa kelas IX SMP Negeri

20 Bandar Lampung tahun pelajaran 2009/2010 terdiri atas tingkat

Kemampuan menulis karangan deskripsi pada pretes dan postes untuk kelas

eksperimen dan pada pretes dan postes untuk kelas kontrol.



4.1.2.1 Tingkat Kemampuan Pretes di Kelas Eksperimen

Tingkat kemampuan menulis karangan deskripsi pada tes awal (pretes) di kelas

eksperimen siswa kelas IX SMP Negeri 20 Bandarlampung tahun pelajaran

2009/2010 dapat dilihat pada tabel 10 berikut ini.


Tabel 10 Tingkat Kemampuan Menulis karangan Deskripsi pada Pretes
        di Kelas Eksperimen

    Persentase                 Eksperimen
      Tingkat            frekuensi    Persentase              Keterangan
   Kemampuan                              %
    85%-100%                 3           7,7                   Baik Sekali
     75%-84%                 3           7,7                      Baik
     60%-74%                31           79,5                    Cukup
     40%-59%                 2           5,1                    Kurang
     0%-39%                  0            0                      Gagal
      Jumlah                39           100
     Rata-rata                     66,8                          Cukup


Berdasarkan tabel di atas dilihat hasil tes awal di kelas eksperimen ada 3

orang (7,7%) dengan tingkat kemampuan baik sekali, 3 orang (7,7%) dengan

tingkat kemampuan baik, 31 orang (79,5%) dengan tingkat kemampuan

cukup, 2 orang (5,1%) orang dengan tingkat kemampuan kurang, dan tidak

ada (0%) yang berada pada tingkat kemampuan sangat kurang. Rata-rata

kemampuan menulis karangan deskripsi berdasarkan media gambar yang
diperoleh siswa kelas IX SMP Negeri 20 Bandarlampung tahun pelajaran

2009/2010 pada tes awal di kelas eksperimen adalah 66,8.


4.1.2.2 Tingkat Kemampuan Pretes di Kelas Kontrol

Tingkat kemampuan menulis karangan deskripsi pada tes awal (pretes) di kelas

kontrol siswa kelas IX SMP Negeri 20 Bandarlampung tahun pelajaran

2009/2010 dapat dilihat pada tabel 11 berikut ini.

Tabel 11 Tingkat Kemampuan Menulis karangan Deskripsi pada Pretes
        di Kelas Kontrol

    Persentase                   Kontrol
      Tingkat            frekuensi    Persentase              Keterangan
   Kemampuan                              %
    85%-100%                 1           2,6                   Baik Sekali
     75%-84%                 1           2,6                      Baik
     60%-74%                33           84,6                    Cukup
     40%-59%                 4           10,2                   Kurang
     0%-39%                  0            0                      Gagal
      Jumlah                39           100
     Rata-rata                     64,2                          Cukup


Berdasarkan tabel di atas dilihat hasil tes awal di kelas kontrol ada 1 orang

(2,6%) dengan tingkat kemampuan baik sekali, 1 orang (2,6%) dengan

tingkat kemampuan baik, 33 orang (84,6%) dengan tingkat kemampuan

cukup, 4 orang (10,2%) orang dengan tingkat kemampuan kurang, dan tidak

ada (0%) yang berada pada tingkat kemampuan sangat kurang. Rata-rata

kemampuan menulis karangan deskripsi berdasarkan media sumber belajar

lingkungan yang diperoleh siswa kelas IX SMP Negeri 20 Bandarlampung

tahun pelajaran 2009/2010 pada tes awal di kelas kontrol adalah 64,2.
4.1.2.3 Tingkat Kemampuan Postes di Kelas Eksperimen

Tingkat kemampuan menulis karangan deskripsi pada tes akhir (postes) di kelas

eksperimen siswa kelas IX SMP Negeri 20 Bandarlampung tahun pelajaran

2009/2010 dapat dilihat pada tabel 12 berikut ini.


Tabel 12 Tingkat Kemampuan Menulis karangan Deskripsi pada Postes
        di Kelas Eksperimen

    Persentase                 Eksperimen
      Tingkat            frekuensi    Persentase              Keterangan
   Kemampuan                              %
    85%-100%                 6           15,4                  Baik Sekali
     75%-84%                 9            23                      Baik
     60%-74%                23            59                     Cukup
     40%-59%                 1           2,6                    Kurang
     0%-39%                  0            0                      Gagal
      Jumlah                39           100
     Rata-rata                     74,8                            Baik


Berdasarkan tabel di atas dilihat hasil tes akhir di kelas eksperimen ada 6

orang (15,4%) dengan tingkat kemampuan baik sekali, 9 orang (23%) dengan

tingkat kemampuan baik, 23 orang (59%) dengan tingkat kemampuan cukup,

1 orang (2,6%) orang dengan tingkat kemampuan kurang, dan tidak ada (0%)

yang berada pada tingkat kemampuan sangat kurang. Rata-rata kemampuan

menulis karangan deskripsi berdasarkan media gambar yang diperoleh siswa

kelas IX SMP Negeri 20 Bandarlampung tahun pelajaran 2009/2010 pada tes

akhir di kelas eksperimen adalah 74,8.


4.1.2.4 Tingkat Kemampuan Postes di Kelas Kontrol

Tingkat kemampuan menulis karangan deskripsi pada tes akhir (postes) di kelas

kontrol siswa kelas IX SMP Negeri 20 Bandarlampung tahun pelajaran

2009/2010 dapat dilihat pada tabel 13 berikut ini.
Tabel 13 Tingkat Kemampuan Menulis karangan Deskripsi pada Postes
        di Kelas Kontrol

                                     Kontrol
 Persentase Tingkat
    Kemampuan                 frekuensi    Persentase            Keterangan
                                               %
        85%-100%                  1           2,6                Baik Sekali
         75%-84%                  3           7,7                   Baik
         60%-74%                 33           84,6                 Cukup
         40%-59%                  2           5,1                 Kurang
         0%-39%                   0            0                   Gagal
          Jumlah                 39           100
         Rata-rata                    67,7                          Cukup


Hasil tes akhir di kelas kontrol ada 1 orang (2,6) dengan tingkat kemampuan

baik sekali, 3 orang (7,7%) dengan tingkat kemampuan baik, 33 orang

(84,6%) dengan tingkat kemampuan cukup, 2 orang (5,1%) dengan tingkat

kemampuan kurang, dan tidak ada (0%) yang berada pada tingkat

kemampuan sangat kurang.

Rata-rata kemampuan menulis karangan deskripsi berdasarkan media sumber

belajar lingkungan yang diperoleh siswa kelas IX SMP Negeri 20 Bandar

Lampung tahun pelajaran 2009/2010 pada tes akhir di kelas kontrol adalah

67,7.


4.2 Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi di Kelas
    Eksperimen dan di Kelas Kontrol

Peningkatan kemampuan menulis karangan deskripsi pada tes awal dan tes akhir di

kelas eksperimen dan kelas kontrol siswa SMP Negeri 20 Bandarlampung tahun

pelajaran 2009/2010 dapat dilihat pada tabel 14 berikut ini.
Tabel 14 Peningkatan Kemapuan Menulis Karangan Deskripsi pada
         Pretes dan Postes antara Kelas Eksperimen dan Kontrol

    Kelompok           Persentase           Persentase         Peningkatan
                         Pretes               Postes
   Eksperimen             66,8                 74,8                  8
    Kontrol               64,2                 67,7                 3,5

Peningkatan kemampuan menulis karangan deskripsi di kelas eksperimen

dilihat dari rata-rata skor pretes yaitu 66,8% dan postes yaitu 74,8%, maka

diperoleh selisih 8% dari kedua tes tersebut. Selanjutnya, pada peningkatan

kemampuan menulis karangan deskripsi di kelas kontrol dilihat dari rata -rata

skor pretes yaitu 64,2% dan postes yaitu 67,7%, maka diperoleh selisih 3,5%

dari kedua tes tersebut.


Selain itu, kemampuan menulis karangan deskripsi pada tes awal di kelas

eksperimen dan kontrol memeroleh selisih skor yaitu 2,6% dari rata-rata skor

antara kelas eksperimen yaitu 66,8% dan kelas kontrol yaitu 64,2%.

Selanjutnya kemampuan menulis karangan deskripsi pada tes akhir di kelas

eksperimen dan kontrol memeroleh selisih skor yaitu 7,1% dari rata-rata skor

antara kelas eksperimen yaitu 74,8% dan kelas kontrol yaitu 67,7%.


4.3 Hasil Pengujian Hipotesis

Hasil pengujian hipotesis kemampuan menulis karangan deskripsi siswa kelas
IX

SMP Negeri 20 Bandar Lampung tahun pelajaran 2009/2010 terdiri atas hasil

Uji acak sampel, hasil uji normalitas distribusi, dan hasil pengujian hipotesis.


4.3.1 Hasil Uji Acak Sampel

Uji keacakan sampel dilakuakan untuk mengetahui apakah sampel yang

diambil merupakan sampel acak atau tidak. Untuk menguji keacakan sampel,
penulis menggunakan uji runtun. Keacakan sampel ini dilakukan terhadap

sampel di kelas eksperimen dan kelas kontrol. Setelah dilakukan pengujian,

untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol sampel diambil secara acak. Untuk

lebih jelasnya dapat dilihat di lampiran 5 dari lampiran tersebut penulis

transformasikan ke dalam tabel 15 beriku ini.


Tabel 15 Hasil Uji Acak Sampel di Kelas Eksperimen dan Kelas
         Kontrol

   Kelas          n1          n2         Me        Uo          Ut
 Eksperimen       24          15        77,45      25       12 dan 25
  Kontrol         23          16        64,75      20       11 dan 23

Keterangan:
n1    : Skor di atas Median yang bertanda positif
n2    : Skor di bawah Median yang bertanda negative
Me    : Median
Uo    : Kelompok runtun
Ut    : Angka yang terdapat dalam daftar


Dari tabel di atas, setelah dilakukan pengujian untuk kelas eksperimen

ternyata sampel diambil secara acak. Hal ini, berdasarkan hasil perhitungan

dari kelompok runtun (Uo), yaitu 25 yang terletak diantara angka yang

terdapat dalam daftar (Ut), yaitu 12 dan 25. Sedangkan, untuk kelas kontrol

sampel diambil secara acak. Hal ini, berdasarkan hasil perhitungan dari

kelompok runtun (Uo), yaitu 20 yang terletak diantara angka yang terdapat

dalam daftar (Ut), yaitu 11 dan 23.


4.3.2 Hasil Uji Normalitas Distribusi

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel yang diambil dari

populasi yang berdistribusi normal. Uji normalitas ini menggunakan uji

liliefors melalui program SPSS (program komputer yang dipakai untuk
analisa statistik). Setelah dilakukan pengujian ternyata sampel kelas

eksperimen dan kelas kontrol berasal dari populasi berdistribusi normal.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di lampiran 7 dan 8, dari lampiran tersebut

penulis transformasikan ke dalam tabel 16 beriku ini.


Tabel 16   Hasil Uji Normalitas Distribusi Sampel di Kelas Eksperimen
           dan Kelas Kontrol

    Kelas              x                Sd               Lo             Lt
  Eksperimen          74,8             9,18             0,655         0,886
   Kontrol            67,7             8,92             0,659         0,886

Keterangan:
x     : Skor rata-rata
SD    : Standar deviasi
Lo    : Angka yang diperoleh dari perhitungan
Lt    : Angka yang terdapat dalam daftar


Dari tabel di atas diperoleh hasil uji normalitas distribusi sampel di kelas

eksperimen dan di kelas kontrol berdistribusi normal. Kedua kelas tersebut

dikatakan berdistribusi normal, jika perhitungan L t lebih besar daripada L o.


4.3.3 Pengujian Hipotesis

Penelitian ini tediri atas dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel

terikat. Dalam penelitian ini variabel bebasnya, yaitu berupa alat atau media

pem- belajaran dalam menulis karangan deskripsi (pemanfaatan media

gambar dan media sumber belajar lingkungan dalam menilis karangan

deskripsi). Sedangkan, variabel terikatnya yaitu kemampuan siswa dalam

menulis karangan deskripsi.


Untuk menguji hipotesis digunakan uji perbedaan dua rata-rata. Pengujian

hipotesis yang dilakukan oleh peneliti menggunakan rumus t tes melalui
program SPSS (program komputer yang dipakai untuk analisa statistik).

Untuk lebih jelas penghitungannya dapat dilihat pada lampiran 6 di tebel 22.


Dari perhitungan diperoleh hasil bahwa nilai t hitung = 2,38 dan t tabel =

2,64. Harga t hitung sebesar 2,38 lebih kecil daripada t tabel 2,64. Dengan

demikian, Ho diterima dan Ha ditolak. Jadi, hipotesis konseptual yang

diajukan “Skor rata-rata kemampuan menulis karangan deskripsi siswa yang

dalam proses pembelajaran menggunakan media gambar lebih besar

pengaruhnya daripada skor rata-rata kemampuan menulis karangan deskripsi

siswa yang dalam proses pembelajaran menggunakan media sumber belajar

lingkungan”. Tidak teruji kebenaranya.


4.4 Bahasan Penelitian

Rata-rata kemampuan menulis karangan deskripsi siswa pada tes awal di

kelas eksperimen adalah 66,8% tergolong cukup, di kelas kontrol kemampuan

rata-rata siswanya adalah 64,2% tergolong cukup. Kemampuan rata-rata

siswa pada tes akhir di kelas eksperimen adalah 74,8% tergolong cukup, di

kelas kontrol kemampuan rata-rata siswanya adalah 67,7% tergolong cukup.

Peningkatan skor yang dicapai di kelas eksperimen 8%, sedangkan di kelas

kontrol peningkatan skor yang dicapai adalah 3,5%.


Dari data yang telah diperoleh hipotesis “Skor rata-rata kemampuan menulis

karangan deskripsi siswa yang dalam proses pembelajaran menggunakan

media gambar lebih besar pengaruhnya daripada skor rata-rata kemampuan

menulis karangan deskripsi siswa yang dalam proses pembelajaran

menggunakan media sumber belajar lingkungan” tidak teruji kebenarannya,
karena t hitung lebih kecil daripada t (1-0,01) (n1          +   n2 -2). Sesuai dengan

kriteriannya dengan taraf kepercayaan 99% (a=0,01), H0 ditolak jika t hitung

lebih besar daripada t (1-0,09) (n1+n2-2). Dalam hal selain itu, Ha diterima.


Hasil analisis per aspek kemampuan siswa dalam menulis karangan deskripsi

pada      tes   akhir   (postes)   di   kelas   eksperimen       menunjukkan   bahwa

kelemahannya adalah terdapat pada penggunaan bahasa yaitu penggunaan

kalimat efektif, pemakaian ejaan, dan penggunaan diksi dengan tepat dengan

persentase 63,8%. Kemampaun menulis karangan deskripsi yang baik

terdapat pada aspek isi karangan deskripsi dengan persentase penguasaan

mencapai 84,1 %. Pada kelas kontrol dari hasil tes akhir kemampaun menulis

karangan deskripsi ke- lemahannya terdapat pada aspek penggunaan bahasa

yaitu penggunaan kalimat efektif, pemakaian ejaan, dan penggunaan diksi

dengan tepat dengan persentase penguasaan 58,9 %. Sedangkan, kelebihannya

terdapat pada aspek isi karangan deskripsi dengan persentase penguasaan

76,1 %.


Dari uraian berikut ini dibahas kemampuan siswa dalam menulis karangan

deskripsi dengan menggunakan media gambar dan media sumber belajar

lingkungan. Bahasan pada penelitian ini meliputi beberapa indikator

diantaranya, yaitu (1) isi karangan deskripsi, (2) penggunaan bahasa, (3)

penataan gagasan terdapat pada indikator penilaian pada tebel 3. Pembahasan

hasil penelitian ini difokuskan pada pengaruh penggunaan media gambar

terhadap kemampuan menulis karangan deskripsi di kelas eksperimen dan

media sumber belajar lingkungan di kelas kontrol.
4.4.1 Isi Karangan Deskripsi

Kesesuaian isi karangan deskripsi dengan media yang digunakan (pada kelas

eksperimen menggunkan media gambar dan pada kelas kontrol menggunakan

media sumber belajar lingkungan)


Dari data yang diperoleh hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan

siswa dalam menulis karangan deskripsi berdasarkan media gambar pada

aspek isi karangan deskripsi di kelas eksperimen pada tes awal sebesar 75,4%

dan pada tes akhir 84,1%. Jika di hubungkan dengan tolok ukur penilaian,

kemampauan siswa dalam menulis karangan deskripsi berdasarkan media

gambar pada tes awal dan tes akhir tergolong baik. Terjadi peningkatan

kemampuan siswa dalam menulis karangan deskripsi berdasarkan media

gambar dari aspek isi karangan deskripsi di kelas eksperimen sebesar 8,7%.

Hal tersebut dapat dilihat pada contoh karangan deskripsi siswa berdasarkan

pemanfaatan media gambar pada tes awal dan tes akhir siswa berikut ini.


Gambar tes awal (pretes)
     Gambar 1. Kebun sekolah


                         Kebun Ku yang Indah

 Saya sekolah di SMPN 20, saya duduk di kelas IX B, dilingkungan
 sekolah saya terdapat kebun, tepatnya di depan ruang kepala sekolah .
 Kebun ini terdiri dari beberapa tumbuhan yang tumbuh subur. Kebun ini
 bisa bersih dan tumbuh subur karena ada seorang yang selalu
 membersihkan dan merawat tumbuh-tumbuhan itu.

 Fasilitas yang ada dikebun sekolah ku ini kurang memadai, kebun ini
 tidak dipagar, jadi banya siswa-siswi yang memetik tumbuh-tumbuhan
 ini dengan sembarangan. Tanah dikebun ini pun kurang berhumus
 sehingga membuat laju pertumbuhan sangat . lambat. Dikebun ini tidak
 banyak bunga-bunga yang ditanami tetapi banyak pohon-pohan yang
 ditanami.

 Disekolah kami ini diadakan piket umum yang dilaksanakan setiap
 harisnya. Pelaksanaan piket umum ini dilakukan pada waktu pagi hari.
 Piket umum diadakan untuk menghimbau kepada siswa agar dapat
 membersihkan dan
 menjaga tanaman yang ada di kebun. Oleh karena itu, dengan
 diadakannya piket umum maka kebun sekolah kami dapat terlihat bersih
 dan rapi.
 Selain itu, dengan keadaan kebun yang indah dan bersih ini, kita semua
 merasa nyaman di lingkungan sekolah. Semua itu, dapat tercapai yaitu
 dengan kesadaran dari siswa-siswi di SMPN 20 ini.

(sampel no 06)


Berdasarkan karangan deskripsi di atas, dapat dilihat bahwa kemampuan

menulis karangan deskrpsi yang ditulis siswa berdasarkan pemanfaatan media

gambar pada tes awal (Pretes) di kelas eksperimen sudah baik. Siswa tersebut

dapat memperlihatkan atau menggambarkan hasil pengamatan tentang objek

secara terperinci yang ada pada gambar 1, yaitu tentang kebun sekolah.

Karangan yang ditulis siswa me- nimbulkan imajinasi sehingga pembaca

seolah-olah melihat atau merasakan sendiri tentang objek yang disampaikan

dalam karangan deskripsi tersebut. Melalui karangan deskripsi siswa

menggambarkan (melukiskan) pengimajinasiaan kepada pembaca tentang
keadaan kebun sekolah mareka yang berada di depan ruang kepala sekolah

dan kebun ini terdiri dari beberapa tumbuhan yang tumbuh subur . Selain itu,

fasilitas yang ada di kebun sekolah ini kurang memadai, kebun ini tidak di

pagar, tanah di kebun ini      kurang berhumus sehingga membuat laju

pertumbuhan sangat lambat, dan di kebun ini juga tidak banyak bunga-bunga

yang ditanami tetapi banyak pohon yang di tanami.


Gambar tes akhir (Postes)




   Gambar 2. Perpustakaan sekolah


                   Ruang perpustakaan yang Nyaman

 Saya duduk di kelas IX, Ruang perpustakaan kami sangat Bersih dan rapi.
 disana terdapat macam-macam buku seperti, Bahasa Indonesia, Bahasa
 Inggris, matematiaka, ilmu pengatahuan Alam, kesenian dan lain-lain.

 Kemudian di sebelah kanan dan kiri terdapat Jendela yang berguna untuk
 keluar masuknya udara. Bangku kami terbuat dari besi yang dilapisi oleh
 Busa dan mejanya terbuat dari kayu.

 Dinding perpustakaan berwarna putih di bagian belakangnya terdapat
 mading yang berisi macam-macam karya yang dibuat oleh siswa-siswi,
 diatas jendela terdapat poto presiden dan wakil presiden, diatasnya
 terdapat poto garuda.
 Selain itu, fasilitas perpustakaan sangat baik. Fasilitas adalah semua
 benda yang terdapat di perpustakaan yang harus di jaga agar tidak rusak.

(Sampel no 1)


Berdasarkan karangan deskripsi di atas, dapat dilihat bahwa kemampuan

siswa dalam menulis karangan deskripsi berdasarkan media gambar pada tes

akhir (postes) di kelas eksperimen sudah baik. Siswa tersebut dapat

memperlihatkan dan meng- gambarkan hasil pengamatannya tentang objek

secara terperinci yang ada pada gambar 2, yaitu tentang perpustakaan

sekolah. Karangan deskripsi yang ditulis siswa sangat menimbulkan imajinasi

sehingga pembaca seolah-olah melihat atau merasakan sendiri tentang objek

yang disampaikan. Melalui karangan deskripsi siswa berimajinasi agar dapat

menggambarkan atau melukiskan objek kepada pembaca tentang keadaan

perpustakaan sekolah mareka yang di dalamnya terdapat bermacam-macam

buku seperti, bahasa Indonesia, bahasa            Inggris,      matematiaka, ilmu

pengatahuan      alam,   kesenian   dan   lain-lain.   Selain    itu,   siswa   juga

menggambarkan atau melukiskan kepada pembaca tentang keadaan ruang

perpustakaan yang memiliki jendela di sebelah kanan dan kiri yang berguna

untuk   keluar    masuknya    udara   dan    menggambarkan bahwa            dinding

perpustakaan sekolah berwarna putih.


Di kelas kontrol kemampuan siswa dalam menulis karangan deskripsi ber-

dasarkan media sumber belajar lingkungan/mengamati objek secara langsung

pada aspek isi karangan deskripsi pada tes awal sebesar 72% dan pada tes

akhir sebesar 76,1%. Jika di hubungkan dengan tolok ukur penilaian,

kemampuan siswa dalam menulis karangan deskripsi berdasarkan media
sumber belajar ligkungan pada tes awal tergolong cukup dan pada tes akhir

tergolong baik. Terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam menulis

karangan deskripsi berdasarkan media sumber belajar lingkungan pada aspek

isi karangan deskripsi di kelas kontrol sebesar 4,1%. Hal tersebut dapat

dilihat pada contoh menulis karangan deskripsi berdasarkan media sumber

belajar lingkungan/mengamati objek secara langsung pada tes awal dan tes

akhir siswa berikut ini.


Tes awal (pretes)

                           Merapikan kebun sekolah

 Sekarang kami sedang bergotong royong untuk membersihkan kebun
 sekolah kami. Kebun sekolah kami sangat kotor sekali, tanaman pun rusak
 semua karena tidak riwat.

 Pada saat jam pelajaran kosong, kami ditugaskan untuk membersihkan
 kebun yang sangat kotor itu. kami banyak menanaman tanaman yang
 beraneka ragam. Banyak guru-guru yang ikut serta dalam membersihkan
 kebun.

 Disamping kebun itu, terdapat dinding yang mengelilingi tetapi dinding itu
 sangat tidak diriwat. disamping itupun banyak ilalang yang menggangu
 karena tidak dirawat.
(Sampel no 30)

Karangan siswa di atas, dapat dilihat bahwa kemampuan siswa dalam menulis

karangan deskripsi berdasarkan sumber belajar lingkungan/mengamati objek

secara langsung yaitu berupa kebun sekolah pada tes awal (pretes) di kelas

kontrol sudah cukup baik. Dalam karangan deskripsi ini siswa meng-

gambarkan/melukiskan objek sehingga pembaca seolah-olah melihat kebun

sekolah mareka sangat kotor, tanaman rusak karena tidak dirawat, dan

disamping kebun terdapat dinding yang tidak riwat.
Tes akhir (Postes)

                               Perpustakaan

 Di setiap sekolah pasti ada perpustakaan. Begitu juga di sekolah saya. Di
 perpustakaan sekolah saya banyak buku-buku contohnya buku pelajaran,
 buku cerita dan masih banyak lagi.

 Jadi, siswa siswi di sekolah saya tidak perlu khawatir bila ada tugas dari
 guru dan memerlukan buku yang banyak apalagi kita tidak mempunyainya.
 Kita langsung keperpustakaan untuk meminjam buku.

 Perpustakaan di sekolahan saya juga tempatnya bersih, buku-bukunya di
 tempatkan sangat rapih, dan suasananya tenang. Setiap istirahat pasti
 perpustakaannya selalu ramai karena siswa-siswinya setiap istiraha ke
 per- pustakaan. Itulah perpustakaan di sekolah saya.
(Sampel no 37)
Berdasarkan karangan siswa di atas, dapat dilihat bahwa kemampuan siswa

dalam menulis karangan deskripsi berdasarkan sumber belajar lingkungan/

mengamati objek secara langsung, yaitu berupa perpustakaan sekolah pada

tes akhir (Postes) di kelas kontrol sudah cukup baik. Dalam karangan

deskripsi ini siswa menggambarkan/melukiskan objek sehingga pembaca

seolah-olah melihat keadaan perpustakaan mareka yang bersih, rapi dan

suasana yang tenang.


4.4.2 Penggunaan Bahasa

Berdasarkan kemampuan menulis karangan deskripsi siswa kelas eksperimen,

aspek penggunaan bahasa pada tes awal (pretes) sebesar 57,7% dengan

kemampuan kurang, dan pada tes akhir (postes) sebesar 63,8% dengan

kemampuan cukup. Terjadi penurunan pada kemampuan siswa dalam menulis

karangan deskripsi berdasarkan media gambar pada aspek penggunaan bahasa

di kelas eksperimen sebesar 6,1%. Hal tersebut dapat dilihat pada contoh
menulis karangan deskripsi berdasarkan media gambar pada tes akhir siswa

berikut ini.


Tes akhir (Postes)

                     Ruang Perpustakaan Sekolah

        SMP atau pun Sekolah-Sekolah yang lain S’bagian besar
 memiliki ruang perpustakaan. Ruang perpustakaan adalah ruangan
 yang me- nyimpan buku-buku yang sangat banyak.
        Biasanya bila kita ke Perpustakaan, Kita mencari buku yang
 belum diketahui atau pun yang belum kita dapatkan. Kegiatan di
 perpustakaan antara lain membaca dan menulis.
        Kebersihan ruang perpustakaan dan Kenyamanan sangatlah
 berpengaruh, karna bila ruangan itu bersih dan nyaman n, pastinya
 pengunjung akan betah dan ingin berlama-lama di dalam perpustakaan
 untuk membaca dan melaksanakan hal yang lainnya.
       Oleh karena itu, perpustakaan adalah gudang ilmu. Sebab, bila
 kita sering ke perpustakaan kita akan banyak Mendapatkan ilmu.
(Sampel no 18)

Dari penulisan karangan deskripsi di atas masih ada kesalahan dalam

penggunaan partilkel pun pada kata atau pun seharusnya kata itu digabung

seperti berikut ini ataupun karena kata penghubung ataupun ini termasuk

dalam kelompok kata yang lazim dianggap padu. Selain itu, dalam

penggunaan huruf kapital masih ada kesalahan yaitu pada penggunaan kata

Sekolah, Perpustakaan, Kita, dan Men- dapatkan yang seharusnya kata

sekolah, perpustakaan, kita, dan mendapatkan tidak menggunakan huruf

kapital karena kata sekolah, perpustakaan, kita, dan mendapatkan dalam

karangan deskripsi di atas tidak terletak di awal kalimat tetapi terletak di

tengah kalimat, sedangkan kalau kata tersebut berada di awal kalimat maka

kata tersebut harus menggunakan huruf kapital. Lain hal dengan kata

s,bagian, karna, n,pastinya dalam karangan deskripsi di atas seharusnya ke-

dua kata ini tidak boleh disingkat dengan sembarangan tanpa menggunakan
struktur ejaan yang benar seperti kata berikut ini yang telah sesuai dengan

struktur ejaan yaitu: sebagian,karena, dan pastinya.


Selain itu, penggunaan diksi dalam penulisan karangan deskripsi di atas

masih ada juga kesalahan dalam kalimat berikut “dan melaksanakan hal yang

lainnya.” Seharusnya “dan melakukan kegiatan lainnya” karena kalimatnya

lebih berstruktur dan unsur-unsurnya memiliki hubungan yang jelas. Selain

itu, kata melakukan lebih baku dari pada kata melaksanakan dalam konteks

kalimat di atas.


Dalam suatu kalimat dapat dikatakan tidak/belum efektif apabila ejaan yang

digunakan di dalamnya belum sesuai dengan aturan berlaku meskipun

susunannya terkesan gramantikal, seperti pada kutipan kalimat karangan

deskripsi berikut “SMP atau pun Sekolah-Sekolang yang lain S’bagian besar

memiliki ruang perpustakaan. Ruang perpustakaan adalah ruang yang

menyimpan buku-buku yang sangat banyak.”, kalimat tersebut apa bila

ditinajau dari pesan atau isi yang ingin disampaikan oleh penulisnya sudah

dapat dikatakan cukup jelas. Akan tetapi, apabila ditinaju dari sudut ejaan

yang diterapkan, kalimat tersebut dapat dikatakan belum memenuhi kriteria

kalimat yang efektif. Dikatakan demikian karena tidak/belum terpenuhnya

tata aturan EYD yang berlaku pada kalimat tersebut. Selain itu, dalam

penyusanan kalimat agar efaktif harus dipilih kata-kata yang tepat, sesuai,

dan lazim. Penulisan karangan deskripsi di atas pada kalimat “dan ingin

berlama-lama di dalam perpustakaan untuk membaca dan melaksanakan hal

yang lainnya.” Merupakan penggunaan kalimat yang belum efektif karena
penggunaan kata “melaksanakan” kurang tepat dan kurang sesuai penempatan

katanya secara benar dalam kalimat tersebut, seharusnya kalimat yang tepat

yaitu “dan ingin berlama-lama di dalam perpustakaan untuk membaca dan

melakukan kegiatan lainnya.”.


Selain itu, dalam penulisan karangan deskripsi di atas pada kalimat “SMP

atau pun Sekolah-Sekolah yang lain S’bagian besar memiliki ruang

perpustakaan. Ruang perpustakaan adalah ruang yang menyimpan buku-

buku yang sangat banyak.”. Kalimat tersebut sudah termasuk kalimat efektif

karena salah satu kiat penyusunan kalimat efektif, yaitu kiat pengulangan

yang terdapat pada kata ruang perpustakaan. Kiat ini digunakan untuk

memperlihatkan    bagian   yang   terpenting    di   dalam   kalimat.   Dengan

pengulangan itu, bagian kalimat yang diulang menjadi menonjol. Kalimat

efektif juga ada dalam karangan deskripsi di atas pada kalimat “Kegiatan di

perpustakaan antara lain membaca dan menulis.”, karena kalimat tersebut

merupakan salah satu kiat penyusunan kalimat efektif, yaitu berupa kiat

penyejajaran yang terdapat pada kata           menulis dan membaca. Kiat

penyejajaran ini menimbulkan kesan bahwa unsur yang disejajarkan itu

penting. Hal itu dapat dipahami karena unsur yang disejajarkan itu tampak

menonjol.


Kemampuan menulis karangan deskripsi siswa kelas kontrol untuk aspek

penggunaan bahasa pada hasil tes akhir mencapai 55,6%, dengan tingkat

kemampuan kurang, dan pada tes akhir skor siswa mecapai 58,9% dengan tingkat

kemampuan kurang. Terjadi peningkatan pada kemampuan siswa dalam menulis

karangan deskripsi berdasarkan media sumber belajar lingkungan pada aspek
penggunaan bahasa di kelas kontrol sebesar 3,3%. Hal tersebut dapat dilihat pada

contoh menulis karangan deskripsi berdasarkan media gambar pada tes akhir

siswa berikut ini.


Tes akhir (Postes)

                           Perpustakaan ku yg
                                 Bersih

 Saya sekolah di SMP Negeri 20 Bandar Lampung, dan saya duduk di
 kelas IX A. Sekolah soya mempunyai ruang perpustakaan yg besih dan
 rapih. dinding perpustakaan Berwarna kuning, jendelanya berwarna
 coklat.

 lantai perpustakaan ini adalah keramik dan Buku-buku yg ada di sini
 ter- susun rapi pd tempatnya masing-masing.

 Kami dan guru yg ada di sekolah ini selalu menjaga dan merawat
 fasilitas yg ada di Perpustakaan ini karena perpustakaan adalah
 Tempat dimana berbagai macam buku berada. Selain itu, fasilitas
 perpustkaan adalah segala sesuatu yg ada di dalam lingkungan
 perpustakaan.
(Sampel no 07)

Berdasarkan karangan deskripsi di atas dapat dilihat bahwa masih ada

kesalahan dalam penggunaan huruf kapital yaitu pada penggunaan kata

Berwarna, Buku-buku, Perpustakaan, dan Tempat. Seharusnya kata berwarna,

buku-buku, perpustakaan, dan tempat tidak menggunakan huruf kapital

karena pada karangan deskripsi di atas, keempat kata tersebut tidak terletak

di awal kalimat tetapi terletak di tengah kalimat, sedangkan kalau ketiga kata

tersebut berada diawal kalimat maka kata tersebut harus menggunakan huruf

kapiatal. Selain itu, pada kata dinding dan lantai seharusnya penulisan

katanya menggunakan huruf kapital, yaitu Dinding dan Lantai karena kedua

kata ini dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Dalam karangan deskripsi di atas juga terdapat kesalahan pada penggunaan

kata ganti –ku dalam kata “perpustakaan ku” yang seharusnya kata itu

digabung seperti berikut “perpustakaanku”, karena kata ganti –ku ditulis

serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Selain itu, dalam karangan

deskripsi di atas terdapat juga kesalahan dalam penggunaan kata yang tidak

baku, misalnya pada kata soya dan rapih seharusnya kedua kata ini yang

baku seperti berikut “saya” dan “rapi” yang dilihat dari segi pembentukan

kata. Lain halnya dengan kata “yg” dalam karangan deskripsi di atas

seharusnya kata tersebut tidak boleh disingkat dengan sembarangan tanpa

menggunakan struktur ejaan yang benar seperti kata berikut ini yang telah

sesuai dengan struktur ejaan, yaitu “yang”.


Selain itu, penggunaan diksi dalam penulisan karangan deskripsi di atas

masih ada juga kesalahan dala kalimat berikut “perpustakaan adalah Tempat

dimana berbagai macam buku berada.” seharusnya “perpustakaan adalah

Tempat ber- macam-macam buku.” karena kalimatnya lebih berstruktur dan

unsur-unsurnya memiliki hubungan yang jelas.


Dalam suatu kalimat dapat dikatakan tidak/belum efektif apabila ejaan yang

digunakan di dalamnya belum sesuai dengan aturan berlaku meskipun

susunannya terkesan gramantikal, seperti pada kutipan kalimat karangan

deskripsi berikut “Sekolah soya mempunyai ruang perpustakaan yg besih dan

rapih. dinding perpustakaan Berwarna kuning, jendelanya berwarna

coklat.”, kalimat tersebut apa bila ditinajau dari pesan atau isi yang ingin

disampaikan oleh penulisnya sudah dapat dikatakan cukup jelas. Akan tetapi,
apabila ditinaju dari sudut ejaan yang diterapkan, kalimat tersebut dapat

dikatakan belum memenuhi kriteria kalimat yang efektif. Dikatakan demikian

karena tidak/belum terpenuhnya tata aturan EYD yang berlaku pada kalimat

tersebut.


4.4.3 Penataan Gagasan

Berdasarkan kemampuan menulis karangan deskripsi siswa kelas eksperimen,

aspek penataan gagasan pada tes awal (pretes) sebesar 67,4% dengan

kemampuan cukup, dan pada tes akhir (postes) sebesar 77,2% dengan kemampuan

Baik. Terjadi peningkatan pada kemampuan siswa dalam menulis karangan

deskripsi berdasarkan media gambar pada aspek penataan gagasan di kelas

eksperimen sebesar 9,8%. Hal tersebut dapat dilihat pada contoh menulis

karangan deskripsi berdasarkan media gambar pada tes akhir siswa berikut

ini.


Tes akhir (Postes)


                     Ruang Perpustakaanku yang Bersih

 Di sekolah saya terdapat sebuah perpustakaan yang rapi dan bersih. Di
 bagian sudut kanan pintu perpustakaan terdapat rak penitipan tas dan
 meja yang di atasnya terdapat buku daftar siswa yang berkunjung ke
 perpustakaan yang terlihat sangat rapi dan bersih. Selain itu, di sudut -
 sudut lainnya terdapat rak-rak buku yang tersusun sangat rapih.

 Perpustakaan sekolah saya berlanatai keramik putih dan di tutupi
 pelapon yang berwarna putih serta atap yang berwarna merah dan
 dinding yang bewarna putih tampak serasi dengan paduan warna
 lainnya. Jendela yang berjumlah empat buah yang ditutupi tirai yang
 berwarna kuning, dan di dinding atas sebelah utara terdapat peta dunia
 yang menghiasi per- pustakaan.

  Selain itu, untuk menjaga kebersihan perpustakaan sekolah kami, maka
 kami mengadakan piket perpustakaan setiap hari. Kegiatan piket
 perpustakaan itu dilaksanakan supaya perpustakaan kami selalu terlihat
 bersih, rapih dan indah. Sehingga, banyak siswa-siswi yang datang ke
 perpustakaan untuk membaca buku yang telah di sediakan.

 Dengan keadaan ruang perpustakaan yang bersih dan teratur kami pun
 merasakan rasa nyaman jika berada di dalam perpustakaan. Selain itu,
 Saya dan teman-teman juga mudah untuk mencari buku yang
 diinginkan. oleh karena itu, kami sebagai murid yang baik harus
 menjaga semua fasilitas perpustakaan yang ada agar tetap terjaga
 dengan baik.
(Sampel no 28)


Berdasarkan karangan di atas, dapat dilihat bahwa siswa sudah mampu

menulis pendapat atau gagasan dalam bentuk kalimat yang dikemukakan

secara runtut. Selain itu, siswa sudah mampu meletakkan kalimat utama

dalam karangan yang terdapat pada awal paragraf pertama, yaitu sebagia

berikut “Di sekolah saya terdapat sebuah perpustakaan yang rapi dan

bersih”.


Dalam karangan deskripsi di atas juga terdapat pokok-pokok pikiran yang

diungkapkan dan dikembangkan sangat jelas seperti pada kutipan paragraf

ketiga berikut ini “Selain itu, untuk menjaga kebersihan perpustakaan

sekolah kami, maka kami mengadakan piket perpustakaan setiap hari.

Kegiatan piket per- pustakaan itu dilaksanakan supaya perpustakaan kami

selalu terlihat bersih, rapih dan indah. Sehingga, banyak siswa-siswi yang

datang ke perpustakaan untuk membaca buku yang telah di sediakan. Dalam

kutipan di atas terlihat jelas pokok pikirannya yaitu “untuk menjaga

kebersihan perpustakaan sekolah kami, maka kami mengadakan piket

perpustakaan setiap hari.”
Selain itu, tema yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu tentang

perpustakaan. Tema tersebut sangat menggambarkan isi karangan tentang

keadaan sebuah perpustakaan sekolah. Dalam karangan deskripsi di atas,

kalimat-kalimat yang di rangkai siswa ke dalam paragraf sangat bertalian erat

dan penggunakan penanda kohesif sangat tepat. Seperti pada kalimat berikut

“Di bagian sudut kanan pintu perpustakaan terdapat rak penitipan tas dan

meja yang di atasnya terdapat buku daftar siswa yang berkunjung ke

perpustakaan yang terlihat sangat rapi dan bersih. Selain itu, di sudut-sudut

lainnya terdapat rak-rak buku yang tersusun sangat rapi.”


Pada kalimat tersebut terlihat bahwa siswa sudah mampu menyisipkan kata

transisi atau konjungsi antarkalimat “Selain itu” pada contoh di atas sehingga

pembaca dapat mengikuti alur cerita penulis setapak demi setapak dengan

perpindahan dari satu kalimat ke kalimat berikutnya secara tersusun dengan

benar tanpa adanya lompatan-lompatan pikiran.


Kemampuan menulis karangan deskripsi siswa kelas kontrol untuk aspek

penataan gagasan pada hasil tes awal mencapai 65,4% dengan tingkat kemampuan

cukup, dan pada tes akhir skor siswa mencapai 68,2% dengan tingkat kemampuan

cukup. Terjadi peningkatan pada kemampuan siswa dalam menulis karangan

deskripsi berdasarkan media sumber belajar lingkungan pada aspek penataan

gagasan di kelas kontrol sebesar 2,8%. Hal tersebut dapat dilihat pada contoh

menulis karangan deskripsi berdasarkan media sumber belajar lingkungan

pada tes akhir siswa berikut ini.


Tes akhir (Postes)
                       Perpustakaan di Sekolahku

 Saya siswa SMP Negeri 20 Bandar Lampung, saya duduk di kelas IX A.
 Di sekolahku terdapat sebuah Perpustakaan yang cukup besar. Di dalam
 ruangan perpustakaan kami terlihat sangat bersih dan rapi, tidak ada
 satu pun sampah di tempat itu, dan buku-buku pun tertata dengan rapi
 dan lengkap. Oleh karena itu, kami harus menjaga perpustakaan itu.

 Perpustakaan kami pada dinding bagian Barat terdapat jendela, per-
 pustakaan kami di cat warna putih dan pelapon diberi warna putih.
 Selain itu, di dalam rungan perpustakaan kami juga terdapat meja dan
 kursi yang tersusun sangat rapi.

  Fasilitas perpustakaan yang ada di ruangan perpustakaan harus dapat
 kita Jaga agar tetap rapi dan bersih. Fasilitas tersebut berupa meja dan
 kursi. Jika kita tidak merawatnya dengan baik maka kita tidak akan
 mempunyai meja dan kursi yang biasanya kita gunakan untuk duduk dan
 menulis saat peroses pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, kita
 harus dapat menjaga fasilitas itu semua.
 Selain itu, perpustakaan sekolah kami juga pada saat jam istirahat selalu
 ramai di kunjungi oleh siswa-siswi untuk mencari Buku-buku pelajaran
 yang mereka butuhkan.

(Sampel no 12)


Berdasarkan karangan di atas, dapat dilihat bahwa siswa sudah mampu

menulis pendapat atau gagasan dalam bentuk kalimat yang dikemukakan

secara runtut. Selain itu, siswa sudah mampu meletakkan kalimat utama

dalam karangan yang terdapat pada awal paragraf pertama yaitu sebagia

berikut “Di sekolahku terdapat sebuah Perpustakaan yang cukup besar.”


Dalam karangan deskripsi di atas juga terdapat pokok-pokok pikiran yang

diungkapkan dan dikembangkan sangat jelas seperti pada kutipan paragraf

ketiga berikut ini “Fasilitas perpustakaan yang ada di ruangan perpustakaan

harus dapat kita Jaga agar tetap rapi dan bersih. Fasilitas tersebut berupa

meja dan kursi. Jika kita tidak merawatnya dengan baik maka kita tidak akan

mempunyai meja dan kursi yang biasanya kita gunakan untuk duduk dan
menulis saat peroses pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, kita harus

dapat menjaga fasilitas itu semua”.


Selain itu, tema yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu tentang

perpustakaan. Tema tersebut sangat menggambarkan isi karangan tentang

keadaan sebuah perpustakaan sekolah. Dalam karangan deskripsi di atas,

kalimat-kalimat yang di rangkai siswa ke dalam paragraf sangat bertalian erat

dan penggunakan penanda kohesif sangat tepat. Seperti pada kalimat berikut.

“Jika kita tidak merawatnya dengan baik maka kita tidak akan mempunyai

meja dan kursi yang biasanya kita gunakan untuk duduk dan menulis s aat

peroses pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, kita harus dapat

menjaga fasilitas itu semua.”


Pada kalimat tersebut terlihat bahwa siswa sudah mampu menyisipkan kata

transisi atau konjungsi antarkalimat “oleh karena itu” pada contoh di atas

sehingga pembaca dapat mengikuti alur cerita penulis setapak demi setapak

dengan perpindahan dari satu kalimat ke kalimat berikutnya secara tersusun

dengan benar tanpa adanya lompatan-lompatan pikiran.
                      V. SIMPULAN DAN SARAN




5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian di SMP Negeri 20 Bandarlampung tahun

pelajaran 2009/2010 dapat disimpulkan bahwa pengaruh penggunaan media

gambar terhadap kemampuan menulis karangan deskripsi siswa kelas IX B

(kelas eksperimen) pada tes awal tergolong cukup dengan persentase 66,8%,

pada tes akhir tergolong cukup dengan persentase 74,8%. Di kelas IX A

(kelas kontrol) menulis karangan deskripsi berdasarkan media sumber belajar

lingkungan atau mengamati secara langsung pada tes awal tergolong cukup

dengan persentase 64,2%, dan pada tes akhir tergolong cukup dengan

persentase 67,7%.


Letak kelebihan siswa dalam mengarang deskripsi di kelas eksperimen pada

tes awal, yaitu terletak pada aspek isi karangan deskripsi dengan skor 75,4%

dalam kategori baik, dan pada tes akhir dengan skor 84,1% dalam kategori

baik sekali. Sedangkan, kelemahan siswa dalam mengarang deskripsi di kelas

eksperimen pada tes awal, yaitu terletak aspek penggunaan bahasa dengan

skor 57,7% dalam kategori kurang, dan pada tes akhir dengan skor 63,8%

dalam kategori cukup. Di kelas kontrol letak kelebihan siswa dalam

mengarang deskripsi pada tes awal, yaitu terletak pada aspek isi karangan

deskripsi dengan skor 72% dalam kategori cukup, dan pada tes akhir dengan
skor 76,1% dalam kategori baik. Sedangkan, kelemahan siswa dalam

mengarang deskripsi di kelas kontrol pada tes awal, yaitu terletak aspek

penggunaan bahasa dengan skor 55,6% dalam kategori kurang, dan pada tes

akhir dengan skor 58,9% dalam kategori kurang.


Simpulan hasil penelitian ini berlaku untuk populasi, yaitu siswa kelas IX

SMP Negeri 20 Bandarlampung semester ganjil, tahun pelajaran 2009/2010.

Ke- benarannya dapat diterima dalam taraf kepercayaan 99% (α = 0,01).


5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut.

a. Penggunaan media gambar sebagai media pembelajaran merupakan salah

   satu langkah terbaik dalam menunjang proses belajar mengajar.

b. Bagi siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung agar selalu

  mempersiapkan diri terlebih dahulu, agar pada proses pembelajaran dapat

  berlangsung baik dan apa yang disampaikan oleh guru dapat diterima

  dengan baik.

 d. Kepada seluruh guru bidang studi bahasa dan sastra Indonesia , dalam

   Proses pembelajaran memanfaatkan media pembelajaran karena

    penggunaan media dalam pembelajaran dapat memberikan informasi

    langsung kepada siswa

  sehingga dapat merangsang dan menggali pengetahuan siswa.

d. Guru bahasa Indonesia terutama guru SMP Negeri 20 Bandarlampung

  hendaknnya memberikan pembelajaran tentang penggunaan bahasa berupa ejaan,

  diksi, dan kalimat efektif yang lebih intensif.
                             DAFTAR PUSTAKA



Akhadiah, Sabarti. dkk. 1988. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa
      Indonesia. Jakarata: Erlangga.

Anggoro, Toha. dkk. 2007. Metode Penelitian. Jakarta: Universitas Terbuka.

Arifin, E. Zaenal dan S. Amran Tasai. 2008. Cermat berbahasa Indonesia
        Untuk
        Perguruan Tinggi. Jakarta: Akakdemika Pressindo.

Arikunto, Suharsimi . 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendiidikan. Jakarta:
      Bumi Aksara.

_______. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT
      Rineka Cipta.

Arsyad, Azhar. 2009. Media Pembelajaran. Jakarata: PT Raja Grafindo
      Persada.

              . 1997. Media Pengajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Alwi, Hasan. dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
      Pustaka.

Charlie, Lie. 2006. Jadi Penulis Ngetop itu Mudah. http://pelitaku. sabda.org/
       tujuan menulis.

Depdikbud. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Pertama
      Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Depdiknas.

Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Panduan Pengambangan Silabus
      MataPelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Direktorat Jendral
      ManajemenPendidikan Dasar dan Menengah.

Erianawati. 2005. Penggunaan Media Visual (Gambar) DalamPembelajaran
      Anak Hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Altisma Kudus.
      http://mahyuliansyah.blogspot.com/2009/02/prestasi-belajar-dan-
      media-pembelajaran.
Fuad, Muhammad dkk. 2009. Penggunaan Bahasa Indonesia Laras Ilmiah.
      Jogyakart: Ardana Media.

Hendry Guntur. 1982. Menulis Sebagai Suatu Keterempilan Berbahasa.
      Bandung: Angkasa.

Mahsun. 2007. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan
     tekniknya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Marahimin, Ismail. 1993. Menulis Secara Populer. Jakarta: Pustaka Jaya.

Margono. S. 2007. Metode Penelitian Pendididkan. Jakarta: Rineka Cipta.

Mohamad Yunus, Suparno. 2006. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta:
     Universitas Terbuka.

Mulyasa . E. 2008. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
      Jakarta: PT Bumi Angkasa.

_______ . 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT Remaja
      Persada Karya.

Muslich, Mansur. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan
      Kontekstual. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Nurgiyantoro, Burhan. 2001. Penilaian dan Pengajaran Bahasa Indonesia
      dan Sastra. Yogyakarta: BPFE

Nursisto. 1999. Penuntun Mengarang. Yogyakarta: Adi Cipta

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan
       Nasional Republik Indonesia. 2004. Pedoman Umum Ejaan Bahasa
       Indonesia yang Disempurnakan. Bandung: CV. YramaWidya

Riyanto, Yatim. 2001. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: SIC

Rohani, Ahmad. 1997. Media Intruksional Edukatif. Jakarta: PT Rineka
Cipta.

Sabana, M. Dan Sunarti. 2005. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia:
      Berbagai Pendekatan, Metode Teknik dan Media Pengajaran.
      Bandung: Pustaka Setia.

Sadiman, Arief S. dkk. 2002. Media Pendidikan: Pengertian,
      Pengembangan, dan Pemenfaatannya. Jakarta: Raja GrafindoPersada.

Sanusi, A. Effendi. 1996. Penilaian Pengajaran Bahasa dan Sastra. Bandar
       Lampung.
Suryabrata, Sumadi. 2009. Metodologi Penelitian. Jakarta: Rajawali Pers.

Umar, Husien. 2005. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis.
      Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Universitas Lampung. 2008. Format Penulisan Karya Ilmiah Universitas
      Lampung. Bandar Lampung: Universitas Lampung.

Wetty S, Ni Nyoman. 2004. ”Pengembangan Silabus Berbasis Kompetensi
      dan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia (Buku Ajar)”. Bandar
      Lampung: Universitas Lampung

								
To top