jbptunikompp gdl melyyulian 15958 3 babii
Shared by: HC120730135624
-
Stats
- views:
- 29
- posted:
- 7/30/2012
- language:
- Malay
- pages:
- 37
Document Sample


10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Aktiva
Dalam pengertian aktiva tidak terbatas pada kekayaan perusahaan yang
berwujud saja, tetapi juga termasuk pengeluaran-pengeluaran yang belum
dialokasikan (deffered charges) atau biaya yang masih harus dialokasikan pada
penghasilan yang akan datang, serta aktiva yang tidak berwujud lainnya
(intangible assets) misalnya goodwill, hak patent, hak menerbitkan dan
sebagainya. Menurut Djarwanto Ps. (2001;15) pengertian aktiva adalah sebagai
berikut :
“Aktiva merupakan bentuk dari penanaman modal perusahaan, bentuk-
bentuknya dapat berupa harta kekayaan atau hak atas kekayaan atau jasa
yang dimiliki oleh perusahaan yang bersangkutan.”
Pada dasarnya aktiva dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian utama yaitu
aktiva lancar dan aktiva tidak lancar.
2.1.1 Pengertian Aktiva Tetap
Aktiva tetap merupakan aktiva yang dimiliki perusahaan dan digunakan
dalam operasi yang bersifat permanen (aktiva tersebut mempunyai umur kegunaan
jangka panjang atau tidak akan habis dipakai dalam satu periode kegiatan
perusahaan). Berikut ini merupakan beberapa pengertian dari aktiva tetap :
11
Menurut S. Munawir (2007;17), pengertian aktiva tetap :
“Aktiva Tetap adalah kekayaan yang dimiliki perusahaan yang phisiknya
nampak (konkrit).”
Menurut Menurut Zaki Baridwan (2000;22), pengertian aktiva tetap :
“Aktiva Tetap adalah aktiva-aktiva yang dapat digunakan lebih dari satu
periode seperti tanah, gedung-gedung, mesin dan alat-alat, perabot,
kendaraan, dan lain-lain.”
Menurut AI. Haryono Jusup (2001;153), pengertian aktiva tetap :
“Aktiva Tetap adalah aktiva berwujud yang digunakan dalam operasi
perusahaan dan tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan
normal perusahaan.”
Menurut Hennie Van Greuning (2005;170), pengertian aktiva tetap :
“Aktiva Tetap adalah aktiva berwujud yang dimiliki untuk digunakan
dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, seperti penyewaaan
kepada pihak lain atau untuk tujuan administrasi dan diperkirakan akan
digunakan selama lebih dari satu periode.”
Menurut Soemarso S.R (2005;20), pengertian aktiva tetap :
“Aktiva Tetap adalah aktiva yang harus dipakai dalam kegiatan
perusahaan dan tidak untuk dijual kembali, dimana masa pemakaiannya
lebih dari satu tahun.”
Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Aktiva
Tetap adalah aktiva berwujud yang dimiliki perusahaan yang digunakan dalam
operasi perusahaan dan dapat digunakan lebih dari satu periode.
12
2.1.2 Jenis-jenis Aktiva Tetap
Menurut S. Munawir (2007;17), Jenis-jenis aktiva tetap adalah sebagai
berikut :
1. Tanah yang diatasnya didirikan bangunan atau digunakan operasi, misalnya
sebagai lapangan, halaman, tempat parkir dan lain sebagainya.
2. Bangunan, baik bangunan kantor, toko maupun bangunan untuk pabrik.
3. Mesin.
4. Inventaris.
5. Kendaraan dan perlengkapan atau alat-alat lainnya.
Menurut AI. Haryono Jusup (2001;155), Aktiva tetap biasanya
digolongkan menjadi empat kelompok, yaitu :
1. Tanah, seperti tanah yang digunakan sebagai tempat berdirinya gedung-
gedung perusahaan.
2. Perbaikan Tanah, seperti jalan-jalan di seputar lokasi perusahaan yang
dibangun perusahaan, tempat parkir, pagar, dan saluran air bawah tanah.
3. Gedung, seperti gedung yang digunakan untuk kantor, toko, pabrik, dan
gedung.
4. Peralatan, seperti peralatan kantor, peralatan pabrik, mesin-mesin, kendaraan,
dan meubel.
2.1.3 Karakteristik Aktiva Tetap
Menurut Soemarso S.R (2005;20), Karakteristik aktiva tetap adalah
sebagai berikut :
1. Masa manfaatnya lebih dari satu tahun.
13
2. Digunakan dalam kegiatan perusahaan.
3. Dimiliki tidak untuk dijual kembali dalam kegiatan normal perusahaan.
4. Nilainya cukup besar.
2.1.4 Harga Perolehan Aktiva Tetap
Menurut Zaki Baridwan (2000;287-289), untuk menentukan besarnya
harga perolehan suatu aktiva, berlaku prinsip yang menyatakan bahwa semua
pengeluaran yang terjadi sejak pembelian sampai aktiva itu siap dipakai harus
dikapitalisasi. Karena jenis aktiva ini macam-macam maka masing-masing jenis
mempunyai masalah-masalah khusus yaitu :
1. Tanah
Tanah yang dimiliki dan digunakan sebagai tempat berdirinya perusahaan
dicatat dalam rekening tanah. Apabila tanah itu tidak digunakan dalam usaha
perusahaan maka dicatat dalam rekening investasi jangka panjang. Harga
perolehan tanah terdiri dari berbagai elemen seperti :
a. Harga beli.
b. Komisi pembelian.
c. Bea balik nama.
d. Biaya penelitian tanah.
e. Iuran-iuran (pajak-pajak) selama tanah belum dipakai.
f. Biaya merobohkan bangunan lama.
g. Biaya perataan tanah, pembersihan dan pembagian.
h. Pajak-pajak yang jadi beban pembeli waktu pembelian tanah.
14
Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperbaiki keadaan tanah tetapi
mempunyai umur yang terbatas tidak dikapitalisasi dalam rekening tanah
tetapi dicatat sendiri dalam rekening jalan-jalan dan jembatan. Biaya-biaya
seperti itu misalnya biaya membuat jalan, trotoar dan saluran air. Jika tanah
dimiliki untuk tujuan investasi, maka semua biaya yang timbul dalam
hubungannya dengan tanah tersebut selama masih pemilikan dikapitalisasi
menambah harga perolehan tanah.
2. Bangunan
Gedung yang diperoleh dari pembelian, harga perolehannya harus
dialokasikan pada tanah dan gedung. Biaya dikapitalisasi sebagai harga
perolehan gedung adalah :
a. Harga beli.
b. Biaya perbaikan sebelum gedung itu dipakai.
c. Komisi pembelian.
d. Bea balik nama.
e. Pajak-pajak yang menjadi tanggungan pembeli pada waktu pembelian.
Apabila gedung dibuat sendiri maka harga perolehan gedung terdiri dari :
a. Biaya-biaya pembuatan gedung.
b. Biaya perencanaan, gambar dan lain-lain.
c. Biaya pengurusan izin bangunan.
d. Pajak-pajak selama masa pembangunan gedung.
e. Bunga selama masa pembuatan gedung.
f. Asuransi selama masa pembangunan.
15
Alat-alat perlengkapan gedung seperti tangga berjalan, lift dan lain-lain dicatat
tersendiri dalam rekening alat-alat gedung dan akan didepresiasi selama umur
alat-alat tersebut.
3. Mesin dan Alat-alat
Yang merupakan harga perolehan mesin dan alat-alat adalah :
a. Harga beli.
b. Pajak-pajak yang menjadi beban pembeli.
c. Biaya angkut.
d. Asuransi selama dalam perjalanan.
e. Biaya pemasangan.
f. Biaya-biaya yang dikeluarkan selama masa percobaan mesin .
Apabila mesin itu dibuat sendiri maka harga perolehannya terdiri dari semua
biaya yang dikeluarkan untuk membuat mesin. Mesin yang disewa dari pihak
lain, biaya sewanya tidak dikapitalisasi tetapi dibebankan sebagai biaya pada
periode terjadinya.
4. Alat-alat kerja
Alat-alat kerja yang dimiliki bisa berupa alat-alat untuk mesin atau alat-alat
tangan seperti drei, catut, pukul besi dan lain-lain. Karena harga perolehannya
relatif kecil maka biasanya alat-alat ini tidak didepresiasi tetapi diperlakukan
sebagai berikut :
a. Pada waktu pembelian dikapitalisasi, kemudian setiap akhir perode
dihitung fisiknya, selisihnya dicatat sebagai biaya untuk periode itu dan
rekening alat-alat kerja dikredit, atau
16
b. Dikapitalisasi sebagai aktiva dengan jumlah tertentu dan dianggap sebagai
persediaan normal, kemudian setiap kali pembelian baru dibebankan
sebagai biaya.
5. Pattern dan Dies/Cetakan-cetakan
Cetakan-cetakan yang dipakai untuk produksi dalam beberapa periode dicatat
dalam rekening aktiva tetap dan didepresiasi selama umur ekonomisnya.
Tetapi jika cetakan itu dipakai hanya untuk memproduksi peranan khusus,
maka harga perolehannya dibebankan sebagai biaya produksi pesanan
tersebut.
6. Perabot (Mebalair) dan Alat-alat kantor
Yang termasuk perabot elemen-elemennya seperti meja, kursi, lemari,
sedangkan yang termasuk alat-alat kantor yaitu mesin tik, mesin hitung dan
lain-lain. Pembelian atau pembuatan alat-alat ini harus dipisah-pisahkan untuk
fungsi-fungsi produksi, penjualan dan administrasi, sehingga depresiasinya
dapat dibebankan pada masing-masing fungsi tersebut. Yang termasuk harga
perolehan perabot atau alat-alat kantor adalah harga beli, biaya angkut, pajak-
pajak yang menjadi tanggungan pembeli.
7. Kendaraan
Seperti halnya perabot, maka kendaraan yang dimiliki harus dipisahkan untuk
masing-masing fungsi yang berbeda. Yang termasuk harga perolehan
kendaraan adalah harga faktur, bea balik nama dan biaya angkut. Pajak-pajak
yang dibayarkan setiap periode seperti pajak kendaraan bermotor, Jasa
Raharja, dan lain-lain dibebankan sebagai biaya pada periode yang
17
bersangkutan. Harga perolehan kendaraan ini didepresiasi selama masa
kegunaannnya.
2.2 Penyusutan
Semua jenis aktiva tetap, kecuali tanah akan makin berkurang
kemampuannya untuk memberikan jasa bersamaan dengan berlalunya waktu.
Beberapa faktor yang mempengaruhi menurunnya kemampuan ini adalah
pemakaian, ketidakseimbangan kapasitas yang tersedia dengan yang diminta dan
keterbelakangan teknologi. Berkurangnya kapasitas berarti berkurangnya nilai
aktiva tetap yang bersangkutan, hal ini perlu dicatat dan dilaporkan.
2.2.1 Pengertian Penyusutan
Berikut ini merupakan beberapa pengertian dari penyusutan (depresiasi):
Menurut Soemarso S.R (2005;24), pengertian penyusutan (depresiasi) :
“Penyusutan (depreciation) adalah pengakuan adanya penurunan nilai
aktiva tetap berwujud.”
Menurut Zaki Baridwan (2000;307), pengertian penyusutan (depresiasi) :
“Depresiasi adalah sebagian dari harga perolehan aktiva tetap yang secara
sistematis dialokasikan menjadi biaya setiap periode akuntansi.”
Menurut Committee on terminology dari AICPA yang dikutip oleh Zaki
Baridwan (2000;307), pengertian penyusutan (depresiasi) :
“Akuntansi depresiasi adalah suatu sistem akuntansi yang bertujuan untuk
membagikan harga perolehan atau nilai dasar lain dari aktiva tetap
berwujud, dikurangi nilai sisa (jika ada), selama umur kegunaan unit itu
18
yang ditaksir (mungkin berupa suatu kumpulan aktiva-aktiva) dalam suatu
cara yang sistematis dan rasional.”
Menurut Hennie Van Greuning (2005;175), pengertian penyusutan
(depresiasi) :
“Depresiasi adalah metode pembebanan atas biaya pembelian awal suatu
aktiva fisik selama masa manfaatnya. Depresiasi bukanlah cara untuk
menyesuaikan nilai aktiva menjadi nilai pasar wajar ataupun cara untuk
menyediakan dana yang digunakan guna mengganti aktiva yang
disusutkan.”
Dari beberapa penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
penyusutan (depresiasi) adalah penurunan nilai aktiva tetap berwujud secara
sistematis dialokasikan menjadi biaya setiap periode akuntansi selama masa
manfaatnya.
2.2.2 Sebab-sebab Penyusutan
Menurut Zaki Baridwan (2000;308), Faktor-faktor yang menyebabkan
penyusutan (depresiasi) dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
1. Faktor-faktor fisik
Faktor-faktor fisik yang mengurangi fungsi aktiva tetap adalah aus karena
dipakai (wear and tear), aus karena umur (deterioration and decay) dan
kerusakan-kerusakan.
2. Faktor-faktor fungsional
Faktor-faktor fungsional yang membatasi umur aktiva tetap antara lain,
ketidakmampuan aktiva untuk memenuhi kebutuhan produksi sehingga perlu
19
diganti dan karena adanya perubahan permintaan terhadap barang atau jasa
yang dihasilkan, atau karena adanya kemajuan teknologi sehingga aktiva
tersebut tidak ekonomis lagi jika dipakai.
2.2.3 Faktor-faktor dalam menentukan biaya Penyusutan
Menurut Zaki Baridwan (2000;309), Ada tiga faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam menentukan beban penyusutan (depresiasi) setiap periode,
yaitu :
1. Harga perolehan (cost)
Yaitu uang yang dikeluarkan atau utang yang timbul dan biaya-biaya lain yang
terjadi dalam memperoleh suatu aktiva dan menempatkannya agar dapat
digunakan.
2. Nilai sisa (residu)
Nilai sisa suatu aktiva yang didepresiasi adalah jumlah yang diterima bila
aktiva itu dijual, ditukarkan atau cara-cara lain ketika aktiva tersebut sudah
tidak dapat digunakan lagi, dikurangi dengan biaya-biaya yang terjadi pada
saat menjual/menukarnya.
3. Taksiran umur kegunaan
Taksiran umur kegunaan suatu aktiva dipengaruhi oleh cara-cara pemeliharaan
dan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dianut dalam reparasi. Taksiran umur
ini bisa dinyatakan dalam satuan periode waktu, satuan hasil produksi atau
satuan jam kerjanya. Dalam menaksir umur aktiva, harus dipertimbangkan
sebab-sebab keausan fisik dan fungsional.
20
Dari faktor-faktor diatas dapat dihitung biaya depresiasi tiap tahun. Biaya
depresiasi ini merupakan suatu taksiran yang ketelitiannya sangat tergantung pada
ketelitian penentuan ke-3 faktor diatas. Ketelitian biaya depresiasi ini akan
mempengaruhi besarnya rugi laba perusahaan setiap periode.
2.2.4 Metode Perhitungan Penyusutan
Menurut Zaki Baridwan (2000;309-314), Ada beberapa metode yang dapat
digunakan untuk menghitung beban penyusutan (depresiasi) periodik. Untuk dapat
melihat salah satu metode hendaknya dipertimbangkan keadaan-keadaan yang
mempengaruhi aktiva tersebut. Metode-metode itu ialah :
1. Metode garis lurus (straight line method)
Metode ini adalah metode depresiasi yang paling sederhana dan banyak
digunakan. Dalam cara ini beban depresiasi tiap periode jumlahnya sama
(kecuali kalau ada penyesuaian- penyesuaian).
2. Metode jam jasa (service hours method)
Metode ini didasarkan pada anggapan bahwa aktiva (terutama mesin-mesin)
akan lebih cepat rusak bila digunakan sepenuhnya (full time) dibandingkan
dengan penggunaan yang tidak sepenuhnya (part time). Dalam cara ini beban
depresiasi dihitung dengan dasar satuan jam jasa. Beban depresiasi periodik
besarnya akan sangat tergantung pada jam jasa yang terpakai (digunakan).
3. Metode hasil produksi (productive output method)
Dalam metode ini umur kegunaan aktiva ditaksir dalam satuan jumlah unit
hasil produksi. Beban depresiasi dihitung dengan dasar satuan hasil produksi,
21
sehingga depresiasi tiap periode akan berfluktuasi sesuai dengan fluktuasi
dalam hasil produksi. Dasar teori yang dipakai adalah bahwa suatu aktiva itu
dimiliki untuk menghasilkan produk sehingga depresiasi juga didasarkan pada
jumlah produk yang dapat dihasilkan.
4. Metode beban berkurang (reducing charge method)
Dalam metode ini beban depresiasi tahun-tahun pertama akan lebih besar
daripada beban depresiasi tahun-tahun berikutnya. Metode ini didasarkan pada
teori bahwa aktiva yang baru akan dapat digunakan dengan lebih efisien
dibandingkan dengan aktiva yang lebih tua. Begitu juga dengan biaya reparasi
dan pemeliharaannya. Biasanya aktiva yang baru akan memerlukan reparasi
dan pemeliharaan yang lebih sedikit dibanding dengan aktiva yang lama. Jika
dipakai metode ini, maka diharapkan jumlah beban depresiasi dan biaya
reparasi serta pemeliharaan dari tahun ke tahun akan relatif stabil, karena jika
depresiasinya besar maka biaya reparasi dan pemeliharaannya kecil (dalam
tahun pertama) dan sebaliknya dalam tahun terakhir, beban depresiasi kecil
sedangkan biaya reparasi dan pemeliharaannya besar.
2.3 Laporan Keuangan
Mereka yang mempunyai kepentingan terhadap perkembangan suatu
perusahaan sangatlah perlu untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan
tersebut, dan kondisi keuangan suatu perusahaan akan dapat diketahui dari laporan
keuangan perusahaan yang bersangkutan, yang terdiri dari Neraca, Laporan
Perhitungan Rugi Laba serta laporan-laporan keuangan lainnya. Dengan
22
mengadakan analisa terhadap pos-pos neraca akan dapat diketahui atau akan
diperoleh gambaran tentang posisi keuangannya, sedangkan analisa terhadap
laporan rugi labanya akan memberikan gambaran tentang hasil atau
perkembangan usaha perusahaan yang bersangkutan.
2.3.1 Pengertian Laporan Keuangan
Berikut ini merupakan beberapa pengertian dari laporan keuangan :
Menurut Agnes Sawir (2003;5), pengertian laporan keuangan :
“Laporan keuangan adalah Media yang dapat dipakai untuk meneliti
kondisi kesehatan perusahaan yang terdiri dari neraca, perhitungan laba-
rugi, ikhtisar laba yang ditahan, dan laporan posisi keuangan.”
Menurut Zaki Baridwan (2000;17), pengertian laporan keuangan :
“Laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan,
merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi
selama tahun buku yang bersangkutan.”
Menurut S. Munawir (2007;2), pengertian laporan keuangan :
“Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang
dapat digunakan sebagai alat berkomunikasi antara data keuangan atau
aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan
dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut.”
Menurut Bambang Riyanto (2001;327), pengertian laporan keuangan :
“Laporan keuangan adalah memberikan ikhtisar mengenai keadaan
keuangan suatu perusahaan, dimana Neraca (Balance Sheet)
mencerminkan nilai aktiva, utang, dan modal sendiri pada suatu saat
tertentu, dan laporan Rugi dan Laba (Income Statetment) mencerminkan
23
hasil-hasil yang dicapai selama suatu periode tertentu biasanya meliputi
periode satu tahun.”
Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa laporan
keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang merupakan media yang dipakai
sebagai alat komunikasi untuk proses pencatatan dan peringkasan transaksi-
transaksi keuangan dalam meneliti kondisi kesehatan perusahaan.
2.3.2 Tujuan Laporan Keuangan
Menurut Ikatan Akuntansi Keuangan (2004;4), tujuan laporan keuangan
adalah sebagai berikut :
1. Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta
perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah
besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
2. Laporan keuangan disusun untuk memenuhi kebutuhan bersama oleh sebagian
besar pemakainya, yang secara umum menggambarkan pengaruh keuangan
dari kejadian masa lalu.
3. Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang dilakukan manajemen atau
pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan
kepadanya.
2.3.3 Komponen Laporan Keuangan
Menurut Djarwanto Ps. (2001;5) komponen laporan keuangan adalah
sebagai berikut :
1. Neraca.
24
2. Laporan laba-rugi.
3. Laporan bagian laba yang ditahan atau laporan modal sendiri.
4. Laporan perubahan posisi keuangan atau laporan sumber dan penggunaan
dana.
Komponen-komponen dari laporan keuangan di atas dapat dijelaskan sebagai
berikut :
1. Neraca
Menggambarkan kondisi keuangan dari suatu perusahaan pada tanggal
tertentu, umumnya pada akhir tahun pada saat penutupan buku. Neraca ini
memuat aktiva (harta kekayaan yang dimiliki perusahaan), hutang (kewajiban
perusahaan untuk membayar dengan uang atau aktiva lain kepada pihak lain
pada waktu tertentu yang akan datang), dan modal sendiri (kelebihan aktiva di
atas hutang).
2. Laporan laba-rugi
Memperlihatkan hasil yang diperoleh dari penjualan barang-barang atas jasa-
jasa dan ongkos-ongkos yang timbul dalam proses pencapaian hasil tersebut.
Laporan ini juga memperlihatkan adanya pendapatan bersih atau kerugian
bersih sebagai hasil dari operasi perusahaan selama periode tertentu
(umumnya satu tahun). Singkatnya laporan ini merupakan laporan aktivitas
dan hasil dari aktivitas itu, atau merupakan ringkasan yang logis dari
penghasilan dan biaya dari suatu perusahaan untuk periode tertentu.
25
3. Laporan bagian laba yang ditahan atau laporan modal sendiri
Digunakan dalam perusahaan yang berbentuk perseroan, menunjukkan suatu
analisa perubahan besarnya bagian laba yang ditahan selama jangka waktu
tertentu. Sedangkan laporan modal sendiri diperuntukkan bagi perusahaan
perseorangan dan bentuk persekutuan, meringkaskan bahwa perubahan
besarnya modal pemilik atau pemilik-pemilik selama periode tertentu.
4. Laporan perubahan posisi keuangan atau laporan sumber dan pengguanaan
dana
Memperlihatkan aliran modal kerja selama periode tertentu. Laporan ini
memperlihatkan sumber-sumber dari mana modal kerja telah diperoleh dan
penggunaan atau pengeluaran modal kerja yang telah dilakukan selama jangka
waktu tertentu.
2.3.4 Analisis Laporan Keuangan
Menurut Dewi Astuti (2004;29), pengertian analisis laporan keuangan :
“Analisis laporan keuangan adalah segala sesuatu yang menyangkut
penggunaan informasi akuntansi untuk membuat keputusan bisnis dan
investasi.”
Menurut Lukman Syamsudin (2002;37), pengertian analisis laporan
keuangan :
“Analisis laporan keuangan merupakan perhitungan ratio-ratio untuk
menilai keadaan keuangan perusahaan dimasa lalu, saat ini dan
kemungkinannya dimasa depan.”
26
Analisis keuangan dirancang bagi pengusaha, investror dan kreditur dimana
mereka harus memahami bagaimana membaca, mengartikan, serta menganalisis
laporan keuangan. Laporan keuangan melaporkan posisi keuangan perusahaan
pada suatu waktu tertentu maupun selama beberapa periode yang lalu.
Menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim (2003;70), ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan dalam analisis laporan keuangan yaitu :
1. Dalam analisis, analis juga harus mengidentifikasi adanya trend-trend tertentu
dalam laporan keuangan. Untuk itu laporan keuangan lima atau enam tahun
barangkali bisa digunakan untuk melihat munculnya trend tertentu.
2. Angka-angka yang berdiri sendiri sulit dikatakan baik tidaknya. Untuk itu
diperlukan pembanding yang bisa dipakai untuk melihat baik tidaknya angka
yang dicapai oleh perusahaan. Rata-rata industri bisa dan biasa dipakai sebagai
pembanding. Meskipun angka rata-rata industri ini barangkali bukan
merupakan pembanding yang paling tepat karena beberapa hal, misal karena
perbedaan karakteristik rata-rata perusahaan dalam industri dengan perusahaan
tersebut. Tetapi rata-rata industri tetap bisa dipakai untuk perbandingan.
Alternatif lain apabila rata-rata industri tidak ada adalah dengan
membandingkan perusahaaan dengan perusahaan lain yang sejenis.
Perusahaan yang menjadi pembanding bisa jadi perusahaan yang menjadi
leader dalam industri.
3. Dalam analisis perusahaan, membaca dan menganalisis laporan keuangan
dengan hati-hati adalah penting. Diskusi atau pernyataan-pernyataan yang
melengkapi laporan keuangan, seperti diskusi strategi perusahaan, diskusi
27
rencana ekspansi atau restrukturisasi, merupakan bagian integral yang harus
dimasukkan dalam analisis.
4. Analisis barangkali akan memerlukan informasi lain. Kadangkala semua
informasi yang diperlukan bisa diperoleh melalui analisis mendalam laporan
keuangan. Kadangkala informasi tambahan di luar laporan keuangan
diperlukan, informasi tambahan ini bisa memberi analisis yang lebih tajam
lagi. Sebagai contoh, analisis penurunan penjualan bisa disertai dengan
analisis perkembangan market share akan memberi pandangan baru kenapa
penjualan bisa menurun.
2.3.5 Analisis Rasio Keuangan
Ada beberapa cara yang dapat digunakan di dalam menganalisa keadaan
keuangan perusahaan, tetapi analisa dengan menggunakan ratio merupakan hal
yang sangat umum untuk dilakukan dimana hasilnya akan memberikan
pengukuran relatif dari operasi perusahaan. Data pokok sebagai input dalam
analisa ratio ini adalah laporan rugi laba dan neraca perusahaan. Dengan kedua
laporan ini akan dapat ditentukan sejumlah ratio dan selanjutnya ratio ini dapat
digunakan untuk menilai beberapa aspek tertentu dari operasi perusahaan.
Menurut Bambang Riyanto (2001;329), pengertian rasio yaitu :
“Rasio adalah alat yang dinyatakan dalam arithmetical terms yang dapat
digunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua macam data
keuangan.”
28
Menurut Bambang Riyanto (2001;329), analisis rasio keuangan pada dasarnya
dapat dilakukan dengan 2 macam cara pembandingan, yaitu :
1. Membandingkan rasio sekarang (present ratio) dengan rasio-rasio dari waktu-
waktu yang lalu (ratio histories) atau dengan rasio-rasio yang diperkirakan
untuk waktu-waktu yang akan datang dari perusahaan yang sama. Misalnya
current ratio tahun 1976 dibandingkan dengan current ratio dari tahun-tahun
sebelumnya. Dengan cara pembandingan tersebut akan dapat diketahui
perubahan-perubahan dari rasio tersebut dari tahun ke tahun. Dengan
menganalisa satu macam rasio saja tidak banyak artinya, karena kita dapat
mengetahui faktor-faktor apa yang menyebabkan adanya perubahan tersebut.
2. Membandingkan rasio-rasio dari suatu perusahaan (rasio perusahaan/company
ratio) dengan rasio-rasio semacam dari perusahaan lain yang sejenis atau
industri (rasio industri/rasio rata-rata/ratio standard) untuk waktu yang sama.
Dengan membandingkan rasio perusahaan dengan rasio industri akan dapat
diketahui apakah perusahaan yang bersangkutan itu dalam aspek keuangan
tertentu berada di atas rata-rata industri (above average), berada pada rata-rata
(average) atau terletak di bawah rata-rata (below average).
2.3.6 Jenis-jenis Rasio Keuangan
Menurut Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;95-111), terdapat
lima kelompok rasio keuangan yaitu :
1. Rasio Likuiditas
29
Rasio Likuiditas adalah rasio yang menunjukkan hubungan antara kas dan
aktiva lancar lainnya dari sebuah perusahaan dengan kewajiban lancarnya.
Kemampuan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek disebut rasio lancar.
Rasio lancar dihitung dengan cara membagi aktiva lancar dengan kewajiban
lancar :
Aktiva Lancar
Rasio Lancar =
Kewajiban Lancar
Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;95)
Aktiva lancar umumnya meliputi kas, sekuritas, piutang usaha, dan
persediaan. Kewajiban lancar terdiri atas utang usaha, wesel tagih jangka
pendek, utang jatuh tempo yang kurang dari satu tahun, akrual pajak, dan
beban-beban akrual lainnya (terutama gaji). Jika sebuah perusahaan
mengalami kesulitan keuangan, perusahaan akan mulai membayar tagihan-
tagihannya (utang usaha) secara lambat, meminjam dari bank, dan seterusnya.
Jika kewajiban lancar meningkat lebih cepat dari aktiva lancar, rasio lancar
akan turun dan hal ini pertanda adanya masalah. Karena rasio lancar
merupakan indikator tunggal terbaik dari sampai sejauh mana klaim dari
kreditor jangka pendek telah ditutupi oleh aktiva-aktiva yang diharapkan dapat
diubah menjadi kas dengan cukup cepat, rasio ini merupakan ukuran
solvabilitas jangka pendek yang paling sering digunakan.
2. Rasio Manajemen Aktiva
Rasio Manajemen Aktiva adalah serangkaian rasio yang mengukur seberapa
efektif perusahaan telah mengelola aktiva-aktivanya. Jika sebuah perusahaan
30
memiliki terlalu banyak aktiva maka biaya modalnya akan menjadi terlalu
tinggi, sehingga keuntungannya akan tertekan. Di pihak lain jika aktiva terlalu
rendah penjualan uang menguntungkan juga akan hilang.
Rasio manajemen aktiva terdiri dari :
a. Rasio perputaran persediaan (inventory turnover)
Rasio ini dihitung dengan cara membagi penjualan dengan persediaan.
Penjualan
Rasio perputaran persediaan =
Persediaan
Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;97)
Perlu diperhatikan bahwa penjualan terjadi sepanjang tahun, sedangkan
angka persediaan adalah angka pada suatu titik waktu tertentu. Karena
alasan ini, akan lebih baik jika menggunakan ukuran rata-rata persediaan.
Kemudian jika bisnis perusahaan tersebut sangat bersifat musiman, atau
jika terjadi kenaikan ataupun penurunan penjualan yang kuat selama tahun
berjalan akan sangatlah bermanfaat untuk membuat beberapa penyesuaian
seperti itu. Namun untuk menjaga komparabilitas dengan rata-rata industri
kita tidak akan menggunakan angka rata-rata persediaan.
b. Piutang (jumlah hari penjualan belum tertagih)
Jumlah hari penjualan belum tertagih (days sales outstanding-DSO) atau
yang disebut sebagai “periode penagihan rata-rata” (average collection
period-ACP), digunakan untuk menilai piutang dan dihitung dengan
membagi piutang dengan jumlah hari penjualan rata-rata untuk
menemukan beberapa hari penjualan masih dicatat dalam piutang. Jadi
31
DSO mencerminkan rata-rata rentang waktu perusahaan harus menunggu
untuk menerima kas setelah melakukan penjualan.
Hari penjualan Piutang Piutang
DSO = = =
belum tertagih Rata-rata penjualan perhari penjualan tahunan/360
Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;98)
c. Rasio perputaran aktiva tetap
Rasio perputaran aktiva tetap (fixed assets turnover ratio), mengukur
seberapa efektifkah perusahaan mempergunakan pabrik dan peralatannya.
Ini merupakan rasio dari penjualan terhadap aktiva tetap bersih.
Penjualan
Rasio perputaran aktiva tetap =
Aktiva tetap bersih
Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;99)
d. Rasio perputaran total aktiva
Rasio perputaran total aktiva (total assets turnover ratio), mengukur
perputaran dari seluruh aktiva perusahaan, rasio ini dihitung dengan cara
membagi penjualan dengan total aktiva.
Penjualan
Rasio perputaran total aktiva =
Total aktiva
Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;100)
3. Rasio Manajemen Utang
Rasio Manajemen Utang adalah seberapa jauh sebuah perusahaan
menggunakan pendanaan melalui utang atau pengungkit keuangan (financial
leverage).
32
Rasio manajemen utang terdiri dari :
a. Rasio utang
Rasio utang (debt ratio) adalah rasio yang mengukur persentase dari dana
yang diberikan oleh para kreditor.
Total Utang
Rasio Utang =
Total aktiva
Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;103)
Total utang meliputi kewajiban lancar dan utang jangka panjang. Kreditor
lebih menyukai rasio utang yang lebih rendah karena semakin rendah
angka rasionya, maka semakin besar peredaman dari kerugian yang
dialami kreditor jika terjadi likuidasi.
b. Rasio kelipatan pembayaran bunga
Rasio kelipatan pembayaran bunga (times interest earned-TIE) adalah
rasio laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) terhadap beban bunga, suatu
ukuran atas kemampuan perusahaan dalam memenuhi pembayaran bunga
tahunannya.
EBIT
Rasio kelipatan pembayaranbunga =
Beban bunga
Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;104)
Rasio TIE mengukur sampai sejauh mana laba operasi dapat menurun
sebelum perusahaan tidak mampu lagi membayar biaya bunga tahunannya.
Kegagalan dalam memenuhi kewajiban ini akan dapat mengakibatkan
adanya tuntutat hukum oleh kreditor perusahaan, yang kemungkinan akan
menyebabkan kebangkrutan.
33
c. Rasio cangkupan EBITDA
Rasio cangkupan EBITDA (EBITDA Coverage Ratio) adalah sebuah rasio
di mana pembilangnya meliputi seluruh arus kas yang tersedia untuk
memenuhi beban keuangan tetap dan penyebutnya meliputi seluruh beban-
beban keuangan tetap.
EBITDA + Pembayaran sewa
Rasio cangkupan EBITDA =
Bunga + Pembayaran pokok + Pembayaran sewa
Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;105)
Rasio cangkupan EBITDA paling bermanfaat bagi para pemberi pinjaman
jangka pendek seperti perbankan yang jarang memberikan pinjaman
(kecuali untuk pinjaman yang dijamin oleh real estat) untuk jangka waktu
lebih lama lima tahun. Dalam jangka waktu yang relatif pendek, dana yang
dihasilkan melaui depresiasi dapat digunakan untuk melayani utang. Untuk
jangka waktu yang lebih lama, dana-dana tersebut harus diinvestasikan
kembali untuk mempertahankan pabrik dan peralatan atau jika tidak
perusahaan tidak akan dapat tetap melakukan bisnisnya. Oleh sebab itu,
bank-bank dan para pemberi pinjaman jangka pendek lainnya lebih
menaruh perhatian pada rasio cangkupan EBITDA, sedangkan para
pemegang obligasi jangka panjang lebih menaruh perhatian pada rasio
TIE.
34
4. Rasio Profitabilitas
Rasio Profitabilitas (profitability ratio) adalah sekelompok rasio yang
menunjukkan gabungan efek-efek dari likuiditas, manajemen aktiva, dan
utang pada hasil-hasil operasi.
Rasio Profitabilitas terdiri dari :
a. Margin laba atas penjualan
Margin laba atas penjualan (profit margin on sales) adalah rasio yang
mengukur jumlah laba bersih per nilai dollar penjualan, dihitung dengan
membagi laba bersih dengan penjualan.
Laba Bersih
Margin laba atas penjualan =
Penjualan
Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;107)
b. Rasio kemampuan dasar untuk menghasilkan laba (BEP)
Rasio kemampuan dasar untuk menghasilkan laba (basic earning power-
BEP) adalah rasio yang mengindikasikan kemampuan dari aktiva-aktiva
perusahaan untuk menghasilkan laba operasi yang dihitung dengan
membagi EBIT dengan total aktiva.
EBIT
Rasio kemampuan dasar untuk menghasilkan laba (BEP) =
Total aktiva
Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;108)
Rasio ini menunjukkan kemampuan dasar untuk menghasilkan laba dari
aktiva-aktiva perusahaan, sebelum ada pengaruh pajak dan leverage, dan
akan bermanfaat dalam membandingkan perusahaan-perusahaan dengan
35
berbagai situasi pajak dan tingkat pengungkitan keuangan yang berbeda-
beda.
c. Tingkat pengembalian total aktiva
Tingkat pengembalian total aktiva (return on total assets-ROA) adalah
rasio laba bersih terhadap total aktiva.
Laba Bersih
Tingkat pengembalian total aktiva (ROA) =
Total aktiva
Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;109)
Tingkat pengembalian yang rendah disebabkan oleh :
1) Kemampuan untuk menghasilkan laba perusahaan yang rendah.
2) Biaya bunga yang tinggi yang dikarenakan oleh penggunaan utang di
atas rata-rata.
d. Tingkat pengembalian ekuitas saham biasa
Tingkat pengembalian ekuitas saham biasa (return on common equity-
ROE) adalah rasio laba bersih terhadap ekitas saham biasa yang mengukur
tingkat pengembalian atas investasi dari pemegang saham biasa.
Laba Bersih
Tingkat pengembalian ekuitas saham biasa (ROE) =
Ekuitas biasa
Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;109)
5. Rasio Nilai Pasar
Rasio Nilai Pasar adalah sekumpulan rasio yang menghubungkan harga saham
perusahaan dengan laba, arus kas, dan nilai buku per lembar sahamnya.
Rasio Nilai Pasar terdiri dari :
a. Rasio harga/laba
36
Rasio harga/laba (price/earning-P/E) adalah rasio harga per lembar saham
terhadap laba per lembar saham, menunjukkan jumlah dollar yang bersedia
dibayarkan oleh investor untuk setiap $ 1 laba berjalan.
Harga per lembar saham
Rasio harga/laba (P/E) =
Laba per lembar saham
Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;110)
b. Rasio harga/arus kas
Rasio harga/arus kas (price/cash flow ratio) adalah rasio harga per lembar
saham dengan dibagi oleh arus kas per lembar saham, menunjukkan
jumlah dollar yang bersedia dibayarkan oleh investor untuk setiap $ 1 arus
kas.
Harga per lembar saham
Rasio harga/arus kas =
Arus kas per lembar saham
Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;111)
c. Rasio nilai pasar/nilai buku
Rasio nilai pasar/nilai buku (market/book-M/E) adalah rasio harga pasar
saham terhadap nilai bukunya.
Ekuitas saham biasa
Rasio nilai pasar/nilai buku (M/B) =
Jumlah saham beredar
Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;112)
37
2.4 Perputaran aktiva tetap
Berikut ini merupakan beberapa pengertian dari perputaran aktiva tetap :
Menurut Dewi Astuti (2004;33), pengertian perputaran aktiva tetap :
“Perputaran aktiva tetap adalah rasio yang mengukur seberapa efektif
perusahaan menggunakan aktiva tetapnya.”
Menurut Agnes Sawir (2003;17), pengertian perputaran aktiva tetap :
“Perputaran aktiva tetap adalah rasio yang mengukur efektivitas
penggunaan dana yang tertanam pada harta tetap seperti pabrik dan
peralatan dalam rangka menghasilkan penjualan.”
Menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim (2003;81), pengertian
perputaran aktiva tetap :
“Perputaran aktiva tetap adalah rasio yang mengukur sejauh mana
kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan berdasarkan aktiva tetap
yang dimiliki perusahaan.”
Menurut R. Agus Sartono (2001;120), pengertian perputaran aktiva tetap :
“Perputaran aktiva tetap adalah rasio antara penjualan dengan aktiva tetap.
Rasio ini menunjukkan bagaimana perusahaan menggunakan aktiva
tetapnya seperti gedung, kendaraan, mesin-mesin, perlengkapan kantor.”
Menurut Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;99), pengertian
perputaran aktiva tetap :
“Perputaran aktiva tetap adalah rasio yang mengukur seberapa efektifkah
perusahaan mempergunakan pabrik dan peralatannya.”
38
Dari beberapa penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
perputaran aktiva tetap adalah rasio yang mempergunakan seluruh aktiva tetapnya
untuk menghasilkan penjualan.
Perputaran aktiva tetap dapat dirumuskan sebagai berikut :
Penjualan
Rasio perputaran aktiva tetap =
Aktiva tetap
Sumber : Agnes Sawir (2003;17)
Rasio ini memperlihatkan sejauh mana efektivitas perusahaan menggunakan
aktiva tetapnya. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin efektif penggunaan
aktiva tetap tersebut. Pada beberapa industri seperti industri yang mempunyai
proporsi aktiva tetap yang tinggi, rasio ini cukup penting diperhatikan. Sedangkan
pada beberapa industri yang lain seperti industri jasa yang mempunyai proporsi
aktiva tetap yang kecil, rasio ini barangkali relatif tidak begitu penting untuk
diperhatikan.
Menurut Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;100), inflasi telah
menyebabkan nilai dari kebanyakan aktiva yang dibeli di masa lalu mengalami
kurang cacat (understated) yang serius. Karenanya, jika kita membandingkan satu
perusahaan lama yang telah membeli aktiva tetapnya bertahun-tahun yang lalu
dengan harga rendah dengan satu perusahaan baru yang baru saja membeli aktiva
tetapnya, kita mungkin akan menemukan bahwa perusahaan lama tersebut akan
memiliki rasio perputaran aktiva tetap yang lebih tinggi. Namun, hal ini akan
lebih tercermin pada kesulitan yang sedang dialami para akuntan sehubungan
dengan inflasi daripada dengan ketidakefisienan perusahaan baru tersebut. Profesi
39
akuntansi sedang mencoba untuk menemukan cara membuat laporan keuangan
mencerminkan nilai-nilai kini daripada nilai historis. Jika neraca benar-benar
dinyatakan dalam basis nilai kini, maka cara itu akan menghasilkan perbandingan
yang lebih baik.
2.5 Tingkat pengembalian aktiva
Rasio ini dikenal dengan nama return on asset ratio/ROA. Rasio ini
mengukur pengembalian atas total aktiva setelah bunga dan pajak.. Berikut ini
merupakan beberapa pengertian dari tingkat pengembalian aktiva yaitu :
Menurut Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;109), pengertian
tingkat pengembalian aktiva :
“Tingkat pengembalian aktiva adalah rasio yang mengukur antara laba
bersih terhadap total aktiva.”
Menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim (2003;84), pengertian
tingkat pengembalian aktiva :
“Tingkat pengembalian aktiva adalah rasio yang mengukur kemampuan
perusahaan menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat aset tertentu.”
Menurut Dewi Astuti (2004;37), pengertian tingkat pengembalian aktiva :
“Tingkat pengembalian aktiva adalah rasio yang menunjukkan kinerja
manajemen dalam menggunakan aktiva perusahaan untuk menghasilkan
laba.”
40
Menurut R. Agus Sartono (2001;125), pengertian tingkat pengembalian
aktiva :
“Tingkat pengembalian aktiva adalah tolak ukur kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan laba dengan aktiva yang digunakan.”
Dari beberapa penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat
pengembalian aktiva adalah rasio yang mengukur kemampuan perusaaan untuk
menghasilkan laba dengan menggunakaan seluruh aktiva yang dimiliki oleh
perusahaan.
Tingkat pengembalian aktiva dapat dirumuskan sebagai berikut :
Laba
Tingkat pengembalian aktiva (ROA) =
Total aktiva
Sumber : Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim (2003;84)
Perusahaan mengharapkan adanya hasil pengembalian yang sebanding dengan
dana yang digunakan. Hasil pengembalian ini dapat dibandingkan dengan
penggunaan alternatif dari dana tersebut. Sebagai salah satu ukuran ke efektifan,
maka semakin tinggi hasil pengembalian semakin efektiflah perusahaan dalam
menggunakan aktivanya.
Menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim (2003;160), tingkat
pengembalian aktiva (ROA) dapat dibagi menjadi dua komponen yaitu : profit
margin dan perputaran total aktiva (aset). Pemecahan (disagregasi) ini bisa
menghasilkan analisis yang lebih tajam lagi. Profit margin melaporkan
kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari tingkat penjualan tertentu. Profit
margin bisa interprestasikan sebagai tingkat efisiensi perusahaan, yakni sejauh
41
mana kemampuan perusahaan menekan biaya-biaya yang ada di perusahaan.
Perputaran total asset mencerminkan kemampuan perusahaan menghasilkan
penjualan dari total investasi tertentu. Rasio ini juga bisa diartikan sebagai
kemampuan perusahaan mengelola aktiva berdasarkan tingkat penjualan yang
tertentu. Rasio ini mengukur aktivitas penggunaan aktiva (asset) perusahaan.
Menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim (2003;163-167), ada dua
faktor yang mempengaruhi perbedaan tingkat pengembalian aktiva (ROA) antar
industri yaitu :
1. Operating Leverage
Operating Leverage menunjukkan sejauh mana pemakaian beban tetap
dalam suatu perusahaan. Perusahaan yang menggunakan beban tetap yang
tinggi berarti mempunyai operating leverage yang tinggi. Beban tetap
operasional datangnya dari beban depresiasi peralatan/bangunan (aktiva tetap).
Perusahaan yang mempunyai proporsi aktiva tetap yang besar (yang berarti
melakukan investasi besar pada aktiva tetap) akan mempunyai beban
depresiasi yang tinggi, yang berarti mempunyai beban operasional yang tinggi,
dan berarti mempunyai operating leverage yang tinggi.
Perusahaan-perusahaan atau industri-industri mempunyai struktur biaya
variabel dan biaya tetap yang berbeda-beda. Perusahaan eksplorasi dan
pengolahan minyak, perusahaan baja mempunyai proporsi aktiva tetap yang
besar. Perusahaan-perusahaan semacam ini merupakan perusahaan yang padat
modal (capital-intensive). Sebaliknya industri supermarket, grosir, rumah
makan merupakan industri atau perusahaan yang mempunyai proporsi aktiva
42
tetap relatif lebih kecil dibanding industri/perusahaan minyak di atas.
Komponen biaya variabel untuk industri ini relatif besar.
Perusahaan atau industri dengan operating leverage yang tinggi akan
mempunyai fluktuasi pendapatan yang tinggi pula. Itu berarti risiko
perusahaan tersebut tinggi. Apabila kondisi perekonomian membaik,
penjualan meningkat, perusahaan dengan operating leverage yang tinggi akan
mengalami kenaikan keuntungan (pendapatan) yang tinggi, sebaliknya apabila
kondisi perekonomian menurun, penjualan menurun, perusahaan tersebut akan
mengalami penurunan keuntungan yang tajam pula. Perusahaan dengan
operating leverage yang rendah tidak akan mengalami fluktuasi setajam
perusahaan dengan operating leverage yang tinggi.
2. Siklus kehidupan produk
Siklus kehidupan produk akan mempunyai pengaruh terhadap tingkat
pengembalian aktiva (ROA) atau perbedaaan-perbedaan tingkat pengembalian
aktiva (ROA). Produk mulai dari muncul sampai menghilang bergerak melalui
beberapa tahap :
a. Tahap perkenalan.
b. Tahap pertumbuhan.
c. Tahap kedewasaan.
d. Tahap penurunan.
Pada tahap perkenalan, perusahaan memfokuskan pada pengembangan
produk (melalui riset dan pengembangan), pengembangan pasar (melalui iklan
dan promosi lainnya), pengembangan kapasitas (melalui pengeluaran investasi
43
pada pengembangan pabrik baru atau perluasan pabrik). Tujuannya adalah
untuk memperkenalkan produk baru dan memperoleh market share.
Sebaliknya pada tahap kedewasaan, produk relatif sudah mapan dan tidak
memerlukan upaya pengembangan atau penyiapan infrastruktur. Pengeluaran
investasi pada tahap ini relatif tidak signifikan. Kompetisi semakin keras,
pengelolaan biaya (agar diperoleh biaya yang efisien) menjadi penting pada
tahap ini. Pada tahap ini perusahaan bisa memperoleh laba (ROA) yang cukup
tinggi dibandingkan pada tahap-tahap lainnya. Pada tahap penurunan,
perusahaan sudah mulai mengambil ancang-ancang untuk keluar dari bisnis
produk tersebut.
Menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim (2003;169-172), hal lain
yang perlu diperhatikan dalam analisis ROA adalah proporsi profit margin dan
perputaran aktiva. Ada dua faktor yang mempengaruhi perbedaan proporsi profit
margin/perputaran aktiva antar industri, yaitu :
1. Pembatasan kapasitas dan pembatasan kompetisi
Perusahaan atau industri yang ditandai dengan biaya tetap yang besar dan
membutuhkan periode yang lama untuk membangun atau menambah kapasitas
produksi akan mempunyai pembatasan kapasitas. Ada batasan atas yang
membatasi jumlah atau atau besarnya perputaran asset perusahaan. Bagi
industri atau perusahaan semacam ini, diperlukan cara lain agar diperoleh
ROA yang mampu menarik modal ke usaha tersebut. Cara tersebut adalah
dengan menaikkan profit marginnya. Dengan demikian meskipun perputaran
44
aktiva perusahaan/industri terbatas, perusahaan bisa memperoleh ROA yang
tinggi dengan menaikkan profit marginnya.
Pada situasi lain, perusahaan akan mengalami pembatasan karena adanya
kompetisi. Pada industri-industri dimana produk yang dijual misal seperti
komoditi, kompetisi yang terjadi menyerupai kompetisi sempurna (perfect
competition). Kompetisi yang ketat akan membatasi profit margin yang bisa
dicapai.
2. Strategi bisnis
Menurut strategi generik yang dirumuskan oleh Michael Porter, ada tiga
jenis strategi generik yaitu :
a. Diferensiasi.
b. Biaya rendah (low cost strategy).
c. Fokus.
Strategi diferensiasi dilakukan dengan jalan mendiferensiasikan produk
(membedakan produk) relatif terhadap pesaing-pesaing lainnya. Dengan
diferensiasi, persaingan harga bisa dihindari, dan perusahaan bisa mengenakan
harga yang lebih tinggi (premium price) dibanding jika perusahaan
menggunakan strategi persaingan harga. Diferensiasi bisa dicapai melalui
penekanan pada kualitas yang lebih baik, pelayanan yang lebih baik, atau
faktor-faktor lainnya.
Strategi biaya rendah (low cost) dilakukan dengan jalan menekan biaya-
biaya perusahaan agar perusahaan bisa memperoleh daya saing harga. Pada
beberapa industri dengan produk yang menyerupai komoditi tertentu (seperti
45
baja, minyak tanah), usaha diferensiasi biasanya sulit dilakukan. Persaingan
untuk industri atau perusahaan semacam ini lebih ditandai dengan persaingan
harga. Supaya bisa memperoleh daya saing harga, perusahaan harus menekan
biaya-biaya di perusahaan. Penekanan biaya ini bisa dilakukan dengan
pemanfaatan skala ekonomi, efisiensi produksi, dan pengendalian-
pengendalian biaya lainnya.
2.6 Pengaruh perputaran aktiva tetap terhadap tingkat pengembalian aktiva
Perusahaan pada umunya menanamkan sejumlah dananya dalam bentuk
aktiva tetap. Aktiva tetap tersebut sangat menunjang pelaksanaan operasional
perusahaan seperti penjualan, teknik analisis yang umum digunakan manajemen
perusahaan untuk mengetahui kontribusi aktiva tetap dalam menunjang penjualan
adalah melalui rasio perputaran aktiva tetap.
Kontribusi aktiva tetap dalam menunjang penjualan diharapkan bisa
meningkatkan penjualan, sehingga tujuan perusahaan yaitu memperoleh laba bisa
tercapai. Laba yang diperoleh perusahaan bukan merupakan satu-satunya tujuan
perusahaan. Tujuan lain dari suatu perusahaan adalah adanya efisiensi dari
efektivitas penggunaan aktiva yang digunakan untuk memperoleh laba tersebut
atau pengembalian yang diharapkan atas aktiva yang diinvestasikan. Tingkat
pengembalian aktiva (ROA) mengukur efektivitas penggunaan aktiva yang
digunakan untuk memperoleh laba. Menurut John J. Wild, K.R. Subramanyam,
Robert F. Halsel (2005;72-73) Hubungan antara Tingkat pengembalian aktiva
dengan Perputaran aktiva tetap adalah sebagai berikut :
46
“ Hubungan laba dengan penjualan disebut margin laba (profit margin)
dan mengukur profitabilitas perusahaan relatif terhadap penjualan.
Hubungan antara aktiva dengan penjualan disebut perputaran aktiva (asset
turnover) dan mengukur efektivitas perusahaan untuk menghasilkan
penjualan dengan menggunakan aktivanya. Pemisahan ini menyoroti
pemisahan tiap komponen, baik margin laba maupun perputaran aktiva,
dalam menentukan pengembalian atas aktiva.”
Kesimpulan bahwa perputaran aktiva merupakan faktor yang
mempengaruhi tingkat pengembalian aktiva, namum ada faktor lain yang
mempengaruhi perputaran aktiva yaitu perputaran aktiva tetap. Sehingga
perputaran aktiva tetap berpengaruh terhadap tingkat pengembalian aktiva.
Related docs
Other docs by HC120730135624
PENERAPAN E-COMMERCE DALAM MENUNJANG STRATEGI BISNIS PERUSAHAAN - DOC - DOC
Views: 188 | Downloads: 0
Cara cara yang dilakukan Trans Corp untuk mengangkat brand image ini mungkin memang tidak lazim
Views: 63 | Downloads: 0
Get documents about "