jbptunikompp gdl melyyulian 15958 3 babii

Shared by: HC120730135624
Categories
Tags
-
Stats
views:
29
posted:
7/30/2012
language:
Malay
pages:
37
Document Sample
scope of work template
							                                                                             10




                                         BAB II

                           TINJAUAN PUSTAKA



2.1 Aktiva

        Dalam pengertian aktiva tidak terbatas pada kekayaan perusahaan yang

berwujud saja, tetapi juga termasuk pengeluaran-pengeluaran yang belum

dialokasikan (deffered charges) atau biaya yang masih harus dialokasikan pada

penghasilan yang akan datang, serta aktiva yang tidak berwujud lainnya

(intangible assets) misalnya goodwill, hak patent, hak menerbitkan dan

sebagainya. Menurut Djarwanto Ps. (2001;15) pengertian aktiva adalah sebagai

berikut :

        “Aktiva merupakan bentuk dari penanaman modal perusahaan, bentuk-

        bentuknya dapat berupa harta kekayaan atau hak atas kekayaan atau jasa

        yang dimiliki oleh perusahaan yang bersangkutan.”

Pada dasarnya aktiva dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian utama yaitu

aktiva lancar dan aktiva tidak lancar.



2.1.1 Pengertian Aktiva Tetap

        Aktiva tetap merupakan aktiva yang dimiliki perusahaan dan digunakan

dalam operasi yang bersifat permanen (aktiva tersebut mempunyai umur kegunaan

jangka panjang atau tidak akan habis dipakai dalam satu periode kegiatan

perusahaan). Berikut ini merupakan beberapa pengertian dari aktiva tetap :
                                                                            11




       Menurut S. Munawir (2007;17), pengertian aktiva tetap :

       “Aktiva Tetap adalah kekayaan yang dimiliki perusahaan yang phisiknya

       nampak (konkrit).”

       Menurut Menurut Zaki Baridwan (2000;22), pengertian aktiva tetap :

       “Aktiva Tetap adalah aktiva-aktiva yang dapat digunakan lebih dari satu

       periode seperti tanah, gedung-gedung, mesin dan alat-alat, perabot,

       kendaraan, dan lain-lain.”

       Menurut AI. Haryono Jusup (2001;153), pengertian aktiva tetap :

       “Aktiva Tetap adalah aktiva berwujud yang digunakan dalam operasi

       perusahaan dan tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan

       normal perusahaan.”

       Menurut Hennie Van Greuning (2005;170), pengertian aktiva tetap :

       “Aktiva Tetap adalah aktiva berwujud yang dimiliki untuk digunakan

       dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, seperti penyewaaan

       kepada pihak lain atau untuk tujuan administrasi dan diperkirakan akan

       digunakan selama lebih dari satu periode.”

       Menurut Soemarso S.R (2005;20), pengertian aktiva tetap :

       “Aktiva Tetap adalah aktiva yang harus dipakai dalam kegiatan

       perusahaan dan tidak untuk dijual kembali, dimana masa pemakaiannya

       lebih dari satu tahun.”

       Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Aktiva

Tetap adalah aktiva berwujud yang dimiliki perusahaan yang digunakan dalam

operasi perusahaan dan dapat digunakan lebih dari satu periode.
                                                                              12




2.1.2 Jenis-jenis Aktiva Tetap

        Menurut S. Munawir (2007;17), Jenis-jenis aktiva tetap adalah sebagai

berikut :

1. Tanah yang diatasnya didirikan bangunan atau digunakan operasi, misalnya

    sebagai lapangan, halaman, tempat parkir dan lain sebagainya.

2. Bangunan, baik bangunan kantor, toko maupun bangunan untuk pabrik.

3. Mesin.

4. Inventaris.

5. Kendaraan dan perlengkapan atau alat-alat lainnya.

        Menurut AI. Haryono Jusup (2001;155), Aktiva tetap biasanya

digolongkan menjadi empat kelompok, yaitu :

1. Tanah, seperti tanah yang digunakan sebagai tempat berdirinya gedung-

    gedung perusahaan.

2. Perbaikan Tanah, seperti jalan-jalan di seputar lokasi perusahaan yang

    dibangun perusahaan, tempat parkir, pagar, dan saluran air bawah tanah.

3. Gedung, seperti gedung yang digunakan untuk kantor, toko, pabrik, dan

    gedung.

4. Peralatan, seperti peralatan kantor, peralatan pabrik, mesin-mesin, kendaraan,
    dan meubel.



2.1.3 Karakteristik Aktiva Tetap

        Menurut Soemarso S.R (2005;20), Karakteristik aktiva tetap adalah

sebagai berikut :

1. Masa manfaatnya lebih dari satu tahun.
                                                                           13




2. Digunakan dalam kegiatan perusahaan.

3. Dimiliki tidak untuk dijual kembali dalam kegiatan normal perusahaan.

4. Nilainya cukup besar.



2.1.4 Harga Perolehan Aktiva Tetap

       Menurut Zaki Baridwan (2000;287-289), untuk menentukan besarnya

harga perolehan suatu aktiva, berlaku prinsip yang menyatakan bahwa semua

pengeluaran yang terjadi sejak pembelian sampai aktiva itu siap dipakai harus

dikapitalisasi. Karena jenis aktiva ini macam-macam maka masing-masing jenis

mempunyai masalah-masalah khusus yaitu :

1. Tanah

   Tanah yang dimiliki dan digunakan sebagai tempat berdirinya perusahaan

   dicatat dalam rekening tanah. Apabila tanah itu tidak digunakan dalam usaha

   perusahaan maka dicatat dalam rekening investasi jangka panjang. Harga

   perolehan tanah terdiri dari berbagai elemen seperti :

   a. Harga beli.

   b. Komisi pembelian.

   c. Bea balik nama.

   d. Biaya penelitian tanah.

   e. Iuran-iuran (pajak-pajak) selama tanah belum dipakai.

   f. Biaya merobohkan bangunan lama.

   g. Biaya perataan tanah, pembersihan dan pembagian.

   h. Pajak-pajak yang jadi beban pembeli waktu pembelian tanah.
                                                                             14




  Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperbaiki keadaan tanah tetapi

  mempunyai umur yang terbatas tidak dikapitalisasi dalam rekening tanah

  tetapi dicatat sendiri dalam rekening jalan-jalan dan jembatan. Biaya-biaya

  seperti itu misalnya biaya membuat jalan, trotoar dan saluran air. Jika tanah

  dimiliki untuk tujuan investasi, maka semua biaya yang timbul dalam

  hubungannya dengan tanah tersebut selama masih pemilikan dikapitalisasi

  menambah harga perolehan tanah.

2. Bangunan

  Gedung yang diperoleh dari pembelian, harga perolehannya harus

  dialokasikan pada tanah dan gedung. Biaya dikapitalisasi sebagai harga

  perolehan gedung adalah :

  a. Harga beli.

  b. Biaya perbaikan sebelum gedung itu dipakai.

  c. Komisi pembelian.

  d. Bea balik nama.

  e. Pajak-pajak yang menjadi tanggungan pembeli pada waktu pembelian.

  Apabila gedung dibuat sendiri maka harga perolehan gedung terdiri dari :

  a. Biaya-biaya pembuatan gedung.

  b. Biaya perencanaan, gambar dan lain-lain.

  c. Biaya pengurusan izin bangunan.

  d. Pajak-pajak selama masa pembangunan gedung.

  e. Bunga selama masa pembuatan gedung.

  f. Asuransi selama masa pembangunan.
                                                                                 15




   Alat-alat perlengkapan gedung seperti tangga berjalan, lift dan lain-lain dicatat

   tersendiri dalam rekening alat-alat gedung dan akan didepresiasi selama umur

   alat-alat tersebut.

3. Mesin dan Alat-alat

   Yang merupakan harga perolehan mesin dan alat-alat adalah :

   a. Harga beli.

   b. Pajak-pajak yang menjadi beban pembeli.

   c. Biaya angkut.

   d. Asuransi selama dalam perjalanan.

   e. Biaya pemasangan.

   f. Biaya-biaya yang dikeluarkan selama masa percobaan mesin .

   Apabila mesin itu dibuat sendiri maka harga perolehannya terdiri dari semua

   biaya yang dikeluarkan untuk membuat mesin. Mesin yang disewa dari pihak

   lain, biaya sewanya tidak dikapitalisasi tetapi dibebankan sebagai biaya pada

   periode terjadinya.

4. Alat-alat kerja

   Alat-alat kerja yang dimiliki bisa berupa alat-alat untuk mesin atau alat-alat

   tangan seperti drei, catut, pukul besi dan lain-lain. Karena harga perolehannya

   relatif kecil maka biasanya alat-alat ini tidak didepresiasi tetapi diperlakukan

   sebagai berikut :

   a. Pada waktu pembelian dikapitalisasi, kemudian setiap akhir perode

       dihitung fisiknya, selisihnya dicatat sebagai biaya untuk periode itu dan

       rekening alat-alat kerja dikredit, atau
                                                                               16




   b. Dikapitalisasi sebagai aktiva dengan jumlah tertentu dan dianggap sebagai

       persediaan normal, kemudian setiap kali pembelian baru dibebankan

       sebagai biaya.

5. Pattern dan Dies/Cetakan-cetakan

   Cetakan-cetakan yang dipakai untuk produksi dalam beberapa periode dicatat

   dalam rekening aktiva tetap dan didepresiasi selama umur ekonomisnya.

   Tetapi jika cetakan itu dipakai hanya untuk memproduksi peranan khusus,

   maka harga perolehannya dibebankan sebagai biaya produksi pesanan

   tersebut.

6. Perabot (Mebalair) dan Alat-alat kantor

   Yang termasuk perabot elemen-elemennya seperti meja, kursi, lemari,

   sedangkan yang termasuk alat-alat kantor yaitu mesin tik, mesin hitung dan

   lain-lain. Pembelian atau pembuatan alat-alat ini harus dipisah-pisahkan untuk

   fungsi-fungsi produksi, penjualan dan administrasi, sehingga depresiasinya

   dapat dibebankan pada masing-masing fungsi tersebut. Yang termasuk harga

   perolehan perabot atau alat-alat kantor adalah harga beli, biaya angkut, pajak-

   pajak yang menjadi tanggungan pembeli.

7. Kendaraan

   Seperti halnya perabot, maka kendaraan yang dimiliki harus dipisahkan untuk

   masing-masing fungsi yang berbeda. Yang termasuk harga perolehan

   kendaraan adalah harga faktur, bea balik nama dan biaya angkut. Pajak-pajak

   yang dibayarkan setiap periode seperti pajak kendaraan bermotor, Jasa

   Raharja, dan lain-lain dibebankan sebagai biaya pada periode yang
                                                                              17




   bersangkutan. Harga perolehan kendaraan ini didepresiasi selama masa

   kegunaannnya.



2.2 Penyusutan

       Semua jenis aktiva tetap, kecuali tanah akan makin berkurang

kemampuannya untuk memberikan jasa bersamaan dengan berlalunya waktu.

Beberapa faktor yang mempengaruhi menurunnya kemampuan ini adalah

pemakaian, ketidakseimbangan kapasitas yang tersedia dengan yang diminta dan

keterbelakangan teknologi. Berkurangnya kapasitas berarti berkurangnya nilai

aktiva tetap yang bersangkutan, hal ini perlu dicatat dan dilaporkan.



2.2.1 Pengertian Penyusutan

       Berikut ini merupakan beberapa pengertian dari penyusutan (depresiasi):

       Menurut Soemarso S.R (2005;24), pengertian penyusutan (depresiasi) :

       “Penyusutan (depreciation) adalah pengakuan adanya penurunan nilai

       aktiva tetap berwujud.”

       Menurut Zaki Baridwan (2000;307), pengertian penyusutan (depresiasi) :

       “Depresiasi adalah sebagian dari harga perolehan aktiva tetap yang secara

       sistematis dialokasikan menjadi biaya setiap periode akuntansi.”

       Menurut Committee on terminology dari AICPA yang dikutip oleh Zaki

Baridwan (2000;307), pengertian penyusutan (depresiasi) :

       “Akuntansi depresiasi adalah suatu sistem akuntansi yang bertujuan untuk
       membagikan harga perolehan atau nilai dasar lain dari aktiva tetap
       berwujud, dikurangi nilai sisa (jika ada), selama umur kegunaan unit itu
                                                                            18




        yang ditaksir (mungkin berupa suatu kumpulan aktiva-aktiva) dalam suatu
        cara yang sistematis dan rasional.”

        Menurut Hennie Van Greuning (2005;175), pengertian penyusutan

(depresiasi) :

        “Depresiasi adalah metode pembebanan atas biaya pembelian awal suatu

        aktiva fisik selama masa manfaatnya. Depresiasi bukanlah cara untuk

        menyesuaikan nilai aktiva menjadi nilai pasar wajar ataupun cara untuk

        menyediakan dana yang digunakan guna mengganti aktiva yang

        disusutkan.”

        Dari beberapa penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa

penyusutan (depresiasi) adalah penurunan nilai aktiva tetap berwujud secara

sistematis dialokasikan menjadi biaya setiap periode akuntansi selama masa

manfaatnya.



2.2.2 Sebab-sebab Penyusutan

        Menurut Zaki Baridwan (2000;308), Faktor-faktor yang menyebabkan

penyusutan (depresiasi) dikelompokkan menjadi dua, yaitu :

1. Faktor-faktor fisik

    Faktor-faktor fisik yang mengurangi fungsi aktiva tetap adalah aus karena

    dipakai (wear and tear), aus karena umur (deterioration and decay) dan

    kerusakan-kerusakan.

2. Faktor-faktor fungsional

    Faktor-faktor fungsional yang membatasi umur aktiva tetap antara lain,

    ketidakmampuan aktiva untuk memenuhi kebutuhan produksi sehingga perlu
                                                                               19




    diganti dan karena adanya perubahan permintaan terhadap barang atau jasa

    yang dihasilkan, atau karena adanya kemajuan teknologi sehingga aktiva

    tersebut tidak ekonomis lagi jika dipakai.



2.2.3 Faktor-faktor dalam menentukan biaya Penyusutan

          Menurut Zaki Baridwan (2000;309), Ada tiga faktor yang perlu

dipertimbangkan dalam menentukan beban penyusutan (depresiasi) setiap periode,

yaitu :

1. Harga perolehan (cost)

    Yaitu uang yang dikeluarkan atau utang yang timbul dan biaya-biaya lain yang

    terjadi dalam memperoleh suatu aktiva dan menempatkannya agar dapat

    digunakan.

2. Nilai sisa (residu)

    Nilai sisa suatu aktiva yang didepresiasi adalah jumlah yang diterima bila

    aktiva itu dijual, ditukarkan atau cara-cara lain ketika aktiva tersebut sudah

    tidak dapat digunakan lagi, dikurangi dengan biaya-biaya yang terjadi pada

    saat menjual/menukarnya.

3. Taksiran umur kegunaan

    Taksiran umur kegunaan suatu aktiva dipengaruhi oleh cara-cara pemeliharaan

    dan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dianut dalam reparasi. Taksiran umur

    ini bisa dinyatakan dalam satuan periode waktu, satuan hasil produksi atau

    satuan jam kerjanya. Dalam menaksir umur aktiva, harus dipertimbangkan

    sebab-sebab keausan fisik dan fungsional.
                                                                               20




       Dari faktor-faktor diatas dapat dihitung biaya depresiasi tiap tahun. Biaya

depresiasi ini merupakan suatu taksiran yang ketelitiannya sangat tergantung pada

ketelitian penentuan ke-3 faktor diatas. Ketelitian biaya depresiasi ini akan

mempengaruhi besarnya rugi laba perusahaan setiap periode.



2.2.4 Metode Perhitungan Penyusutan

       Menurut Zaki Baridwan (2000;309-314), Ada beberapa metode yang dapat

digunakan untuk menghitung beban penyusutan (depresiasi) periodik. Untuk dapat

melihat salah satu metode hendaknya dipertimbangkan keadaan-keadaan yang

mempengaruhi aktiva tersebut. Metode-metode itu ialah :

1. Metode garis lurus (straight line method)

   Metode ini adalah metode depresiasi yang paling sederhana dan banyak

   digunakan. Dalam cara ini beban depresiasi tiap periode jumlahnya sama

   (kecuali kalau ada penyesuaian- penyesuaian).

2. Metode jam jasa (service hours method)

   Metode ini didasarkan pada anggapan bahwa aktiva (terutama mesin-mesin)

   akan lebih cepat rusak bila digunakan sepenuhnya (full time) dibandingkan

   dengan penggunaan yang tidak sepenuhnya (part time). Dalam cara ini beban

   depresiasi dihitung dengan dasar satuan jam jasa. Beban depresiasi periodik

   besarnya akan sangat tergantung pada jam jasa yang terpakai (digunakan).

3. Metode hasil produksi (productive output method)

   Dalam metode ini umur kegunaan aktiva ditaksir dalam satuan jumlah unit

   hasil produksi. Beban depresiasi dihitung dengan dasar satuan hasil produksi,
                                                                                21




   sehingga depresiasi tiap periode akan berfluktuasi sesuai dengan fluktuasi

   dalam hasil produksi. Dasar teori yang dipakai adalah bahwa suatu aktiva itu

   dimiliki untuk menghasilkan produk sehingga depresiasi juga didasarkan pada

   jumlah produk yang dapat dihasilkan.

4. Metode beban berkurang (reducing charge method)

   Dalam metode ini beban depresiasi tahun-tahun pertama akan lebih besar

   daripada beban depresiasi tahun-tahun berikutnya. Metode ini didasarkan pada

   teori bahwa aktiva yang baru akan dapat digunakan dengan lebih efisien

   dibandingkan dengan aktiva yang lebih tua. Begitu juga dengan biaya reparasi

   dan pemeliharaannya. Biasanya aktiva yang baru akan memerlukan reparasi

   dan pemeliharaan yang lebih sedikit dibanding dengan aktiva yang lama. Jika

   dipakai metode ini, maka diharapkan jumlah beban depresiasi dan biaya

   reparasi serta pemeliharaan dari tahun ke tahun akan relatif stabil, karena jika

   depresiasinya besar maka biaya reparasi dan pemeliharaannya kecil (dalam

   tahun pertama) dan sebaliknya dalam tahun terakhir, beban depresiasi kecil

   sedangkan biaya reparasi dan pemeliharaannya besar.



2.3 Laporan Keuangan

       Mereka yang mempunyai kepentingan terhadap perkembangan suatu

perusahaan sangatlah perlu untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan

tersebut, dan kondisi keuangan suatu perusahaan akan dapat diketahui dari laporan

keuangan perusahaan yang bersangkutan, yang terdiri dari Neraca, Laporan

Perhitungan Rugi Laba serta laporan-laporan keuangan lainnya. Dengan
                                                                                 22




mengadakan analisa terhadap pos-pos neraca akan dapat diketahui atau akan

diperoleh gambaran tentang posisi keuangannya, sedangkan analisa terhadap

laporan     rugi   labanya   akan   memberikan     gambaran     tentang hasil   atau

perkembangan usaha perusahaan yang bersangkutan.



2.3.1 Pengertian Laporan Keuangan

          Berikut ini merupakan beberapa pengertian dari laporan keuangan :

          Menurut Agnes Sawir (2003;5), pengertian laporan keuangan :

          “Laporan keuangan adalah Media yang dapat dipakai untuk meneliti

          kondisi kesehatan perusahaan yang terdiri dari neraca, perhitungan laba-

          rugi, ikhtisar laba yang ditahan, dan laporan posisi keuangan.”

          Menurut Zaki Baridwan (2000;17), pengertian laporan keuangan :

          “Laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan,

          merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi

          selama tahun buku yang bersangkutan.”

          Menurut S. Munawir (2007;2), pengertian laporan keuangan :

          “Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang

          dapat digunakan sebagai alat berkomunikasi antara data keuangan atau

          aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan

          dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut.”

          Menurut Bambang Riyanto (2001;327), pengertian laporan keuangan :

          “Laporan keuangan adalah memberikan ikhtisar mengenai keadaan
          keuangan suatu perusahaan, dimana Neraca (Balance Sheet)
          mencerminkan nilai aktiva, utang, dan modal sendiri pada suatu saat
          tertentu, dan laporan Rugi dan Laba (Income Statetment) mencerminkan
                                                                            23




       hasil-hasil yang dicapai selama suatu periode tertentu biasanya meliputi
       periode satu tahun.”

       Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa laporan

keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang merupakan media yang dipakai

sebagai alat komunikasi untuk proses pencatatan dan peringkasan transaksi-

transaksi keuangan dalam meneliti kondisi kesehatan perusahaan.



2.3.2 Tujuan Laporan Keuangan

       Menurut Ikatan Akuntansi Keuangan (2004;4), tujuan laporan keuangan

adalah sebagai berikut :

1. Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta

   perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah

   besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.

2. Laporan keuangan disusun untuk memenuhi kebutuhan bersama oleh sebagian

   besar pemakainya, yang secara umum menggambarkan pengaruh keuangan

   dari kejadian masa lalu.

3. Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang dilakukan manajemen atau

   pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan

   kepadanya.



2.3.3 Komponen Laporan Keuangan

       Menurut Djarwanto Ps. (2001;5) komponen laporan keuangan adalah

sebagai berikut :

1. Neraca.
                                                                              24




2. Laporan laba-rugi.

3. Laporan bagian laba yang ditahan atau laporan modal sendiri.

4. Laporan perubahan posisi keuangan atau laporan sumber dan penggunaan

    dana.

Komponen-komponen dari laporan keuangan di atas dapat dijelaskan sebagai

berikut :

1. Neraca

    Menggambarkan kondisi keuangan dari suatu perusahaan pada tanggal

    tertentu, umumnya pada akhir tahun pada saat penutupan buku. Neraca ini

    memuat aktiva (harta kekayaan yang dimiliki perusahaan), hutang (kewajiban

    perusahaan untuk membayar dengan uang atau aktiva lain kepada pihak lain

    pada waktu tertentu yang akan datang), dan modal sendiri (kelebihan aktiva di

    atas hutang).

2. Laporan laba-rugi

    Memperlihatkan hasil yang diperoleh dari penjualan barang-barang atas jasa-

    jasa dan ongkos-ongkos yang timbul dalam proses pencapaian hasil tersebut.

    Laporan ini juga memperlihatkan adanya pendapatan bersih atau kerugian

    bersih sebagai hasil dari operasi perusahaan selama periode tertentu

    (umumnya satu tahun). Singkatnya laporan ini merupakan laporan aktivitas

    dan hasil dari aktivitas itu, atau merupakan ringkasan yang logis dari

    penghasilan dan biaya dari suatu perusahaan untuk periode tertentu.
                                                                               25




3. Laporan bagian laba yang ditahan atau laporan modal sendiri

   Digunakan dalam perusahaan yang berbentuk perseroan, menunjukkan suatu

   analisa perubahan besarnya bagian laba yang ditahan selama jangka waktu

   tertentu. Sedangkan laporan modal sendiri diperuntukkan bagi perusahaan

   perseorangan dan bentuk persekutuan, meringkaskan bahwa perubahan

   besarnya modal pemilik atau pemilik-pemilik selama periode tertentu.

4. Laporan perubahan posisi keuangan atau laporan sumber dan pengguanaan

   dana

   Memperlihatkan aliran modal kerja selama periode tertentu. Laporan ini

   memperlihatkan sumber-sumber dari mana modal kerja telah diperoleh dan

   penggunaan atau pengeluaran modal kerja yang telah dilakukan selama jangka

   waktu tertentu.



2.3.4 Analisis Laporan Keuangan

       Menurut Dewi Astuti (2004;29), pengertian analisis laporan keuangan :

       “Analisis laporan keuangan adalah segala sesuatu yang menyangkut

       penggunaan informasi akuntansi untuk membuat keputusan bisnis dan

       investasi.”

       Menurut Lukman Syamsudin (2002;37), pengertian analisis laporan

keuangan :

       “Analisis laporan keuangan merupakan perhitungan ratio-ratio untuk

       menilai keadaan keuangan perusahaan dimasa lalu, saat ini dan

       kemungkinannya dimasa depan.”
                                                                                     26




Analisis keuangan dirancang bagi pengusaha, investror dan kreditur dimana

mereka harus memahami bagaimana membaca, mengartikan, serta menganalisis

laporan keuangan. Laporan keuangan melaporkan posisi keuangan perusahaan

pada suatu waktu tertentu maupun selama beberapa periode yang lalu.

       Menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim (2003;70), ada beberapa

hal yang perlu diperhatikan dalam analisis laporan keuangan yaitu :

1. Dalam analisis, analis juga harus mengidentifikasi adanya trend-trend tertentu

   dalam laporan keuangan. Untuk itu laporan keuangan lima atau enam tahun

   barangkali bisa digunakan untuk melihat munculnya trend tertentu.

2. Angka-angka yang berdiri sendiri sulit dikatakan baik tidaknya. Untuk itu

   diperlukan pembanding yang bisa dipakai untuk melihat baik tidaknya angka

   yang dicapai oleh perusahaan. Rata-rata industri bisa dan biasa dipakai sebagai

   pembanding. Meskipun angka rata-rata industri ini barangkali bukan

   merupakan pembanding yang paling tepat karena beberapa hal, misal karena

   perbedaan karakteristik rata-rata perusahaan dalam industri dengan perusahaan

   tersebut. Tetapi rata-rata industri tetap bisa dipakai untuk perbandingan.

   Alternatif   lain   apabila   rata-rata   industri   tidak   ada    adalah   dengan

   membandingkan       perusahaaan     dengan     perusahaan    lain    yang    sejenis.

   Perusahaan yang menjadi pembanding bisa jadi perusahaan yang menjadi

   leader dalam industri.

3. Dalam analisis perusahaan, membaca dan menganalisis laporan keuangan

   dengan hati-hati adalah penting. Diskusi atau pernyataan-pernyataan yang

   melengkapi laporan keuangan, seperti diskusi strategi perusahaan, diskusi
                                                                             27




   rencana ekspansi atau restrukturisasi, merupakan bagian integral yang harus

   dimasukkan dalam analisis.

4. Analisis barangkali akan memerlukan informasi lain. Kadangkala semua

   informasi yang diperlukan bisa diperoleh melalui analisis mendalam laporan

   keuangan. Kadangkala informasi tambahan di luar laporan keuangan

   diperlukan, informasi tambahan ini bisa memberi analisis yang lebih tajam

   lagi. Sebagai contoh, analisis penurunan penjualan bisa disertai dengan

   analisis perkembangan market share akan memberi pandangan baru kenapa

   penjualan bisa menurun.



2.3.5 Analisis Rasio Keuangan

       Ada beberapa cara yang dapat digunakan di dalam menganalisa keadaan

keuangan perusahaan, tetapi analisa dengan menggunakan ratio merupakan hal

yang sangat umum untuk dilakukan dimana hasilnya akan memberikan

pengukuran relatif dari operasi perusahaan. Data pokok sebagai input dalam

analisa ratio ini adalah laporan rugi laba dan neraca perusahaan. Dengan kedua

laporan ini akan dapat ditentukan sejumlah ratio dan selanjutnya ratio ini dapat

digunakan untuk menilai beberapa aspek tertentu dari operasi perusahaan.

Menurut Bambang Riyanto (2001;329), pengertian rasio yaitu :

       “Rasio adalah alat yang dinyatakan dalam arithmetical terms yang dapat

       digunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua macam data

       keuangan.”
                                                                                 28




Menurut Bambang Riyanto (2001;329), analisis rasio keuangan pada dasarnya

dapat dilakukan dengan 2 macam cara pembandingan, yaitu :

1. Membandingkan rasio sekarang (present ratio) dengan rasio-rasio dari waktu-

   waktu yang lalu (ratio histories) atau dengan rasio-rasio yang diperkirakan

   untuk waktu-waktu yang akan datang dari perusahaan yang sama. Misalnya

   current ratio tahun 1976 dibandingkan dengan current ratio dari tahun-tahun

   sebelumnya. Dengan cara pembandingan tersebut akan dapat diketahui

   perubahan-perubahan dari rasio tersebut dari tahun ke tahun. Dengan

   menganalisa satu macam rasio saja tidak banyak artinya, karena kita dapat

   mengetahui faktor-faktor apa yang menyebabkan adanya perubahan tersebut.

2. Membandingkan rasio-rasio dari suatu perusahaan (rasio perusahaan/company

   ratio) dengan rasio-rasio semacam dari perusahaan lain yang sejenis atau

   industri (rasio industri/rasio rata-rata/ratio standard) untuk waktu yang sama.

   Dengan membandingkan rasio perusahaan dengan rasio industri akan dapat

   diketahui apakah perusahaan yang bersangkutan itu dalam aspek keuangan

   tertentu berada di atas rata-rata industri (above average), berada pada rata-rata

   (average) atau terletak di bawah rata-rata (below average).



2.3.6 Jenis-jenis Rasio Keuangan

       Menurut Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;95-111), terdapat

lima kelompok rasio keuangan yaitu :

1. Rasio Likuiditas
                                                                              29




   Rasio Likuiditas adalah rasio yang menunjukkan hubungan antara kas dan

   aktiva lancar lainnya dari sebuah perusahaan dengan kewajiban lancarnya.

   Kemampuan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek disebut rasio lancar.

   Rasio lancar dihitung dengan cara membagi aktiva lancar dengan kewajiban

   lancar :

                                          Aktiva Lancar
                   Rasio Lancar =
                                        Kewajiban Lancar

               Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;95)

   Aktiva lancar umumnya meliputi kas, sekuritas, piutang usaha, dan

   persediaan. Kewajiban lancar terdiri atas utang usaha, wesel tagih jangka

   pendek, utang jatuh tempo yang kurang dari satu tahun, akrual pajak, dan

   beban-beban akrual lainnya (terutama gaji). Jika sebuah perusahaan

   mengalami kesulitan keuangan, perusahaan akan mulai membayar tagihan-

   tagihannya (utang usaha) secara lambat, meminjam dari bank, dan seterusnya.

   Jika kewajiban lancar meningkat lebih cepat dari aktiva lancar, rasio lancar

   akan turun dan hal ini pertanda adanya masalah. Karena rasio lancar

   merupakan indikator tunggal terbaik dari sampai sejauh mana klaim dari

   kreditor jangka pendek telah ditutupi oleh aktiva-aktiva yang diharapkan dapat

   diubah menjadi kas dengan cukup cepat, rasio ini merupakan ukuran

   solvabilitas jangka pendek yang paling sering digunakan.

2. Rasio Manajemen Aktiva

   Rasio Manajemen Aktiva adalah serangkaian rasio yang mengukur seberapa

   efektif perusahaan telah mengelola aktiva-aktivanya. Jika sebuah perusahaan
                                                                            30




memiliki terlalu banyak aktiva maka biaya modalnya akan menjadi terlalu

tinggi, sehingga keuntungannya akan tertekan. Di pihak lain jika aktiva terlalu

rendah penjualan uang menguntungkan juga akan hilang.

Rasio manajemen aktiva terdiri dari :

a. Rasio perputaran persediaan (inventory turnover)

   Rasio ini dihitung dengan cara membagi penjualan dengan persediaan.

                                                      Penjualan
                Rasio perputaran persediaan =
                                                     Persediaan

               Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;97)

   Perlu diperhatikan bahwa penjualan terjadi sepanjang tahun, sedangkan

   angka persediaan adalah angka pada suatu titik waktu tertentu. Karena

   alasan ini, akan lebih baik jika menggunakan ukuran rata-rata persediaan.

   Kemudian jika bisnis perusahaan tersebut sangat bersifat musiman, atau

   jika terjadi kenaikan ataupun penurunan penjualan yang kuat selama tahun

   berjalan akan sangatlah bermanfaat untuk membuat beberapa penyesuaian

   seperti itu. Namun untuk menjaga komparabilitas dengan rata-rata industri

   kita tidak akan menggunakan angka rata-rata persediaan.

b. Piutang (jumlah hari penjualan belum tertagih)

   Jumlah hari penjualan belum tertagih (days sales outstanding-DSO) atau

   yang disebut sebagai “periode penagihan rata-rata” (average collection

   period-ACP), digunakan untuk menilai piutang dan dihitung dengan

   membagi piutang dengan jumlah hari penjualan rata-rata untuk

   menemukan beberapa hari penjualan masih dicatat dalam piutang. Jadi
                                                                                    31




        DSO mencerminkan rata-rata rentang waktu perusahaan harus menunggu

        untuk menerima kas setelah melakukan penjualan.

        Hari penjualan                 Piutang                           Piutang
DSO =                    =                                  =
        belum tertagih       Rata-rata penjualan perhari        penjualan tahunan/360
              Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;98)

   c. Rasio perputaran aktiva tetap

        Rasio perputaran aktiva tetap (fixed assets turnover ratio), mengukur

        seberapa efektifkah perusahaan mempergunakan pabrik dan peralatannya.

        Ini merupakan rasio dari penjualan terhadap aktiva tetap bersih.

                                                    Penjualan
                  Rasio perputaran aktiva tetap =
                                                 Aktiva tetap bersih
                 Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;99)

   d. Rasio perputaran total aktiva

        Rasio perputaran total aktiva (total assets turnover ratio), mengukur

        perputaran dari seluruh aktiva perusahaan, rasio ini dihitung dengan cara

        membagi penjualan dengan total aktiva.

                                                           Penjualan
                  Rasio perputaran total aktiva =
                                                          Total aktiva
                 Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;100)

3. Rasio Manajemen Utang

   Rasio    Manajemen        Utang   adalah    seberapa     jauh   sebuah    perusahaan

   menggunakan pendanaan melalui utang atau pengungkit keuangan (financial

   leverage).
                                                                           32




Rasio manajemen utang terdiri dari :

a. Rasio utang

   Rasio utang (debt ratio) adalah rasio yang mengukur persentase dari dana

   yang diberikan oleh para kreditor.

                                              Total Utang
                       Rasio Utang =
                                              Total aktiva

               Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;103)

   Total utang meliputi kewajiban lancar dan utang jangka panjang. Kreditor

   lebih menyukai rasio utang yang lebih rendah karena semakin rendah

   angka rasionya, maka semakin besar peredaman dari kerugian yang

   dialami kreditor jika terjadi likuidasi.

b. Rasio kelipatan pembayaran bunga

   Rasio kelipatan pembayaran bunga (times interest earned-TIE) adalah

   rasio laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) terhadap beban bunga, suatu

   ukuran atas kemampuan perusahaan dalam memenuhi pembayaran bunga

   tahunannya.

                                                             EBIT
            Rasio kelipatan pembayaranbunga =
                                                        Beban bunga
              Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;104)

   Rasio TIE mengukur sampai sejauh mana laba operasi dapat menurun

   sebelum perusahaan tidak mampu lagi membayar biaya bunga tahunannya.

   Kegagalan dalam memenuhi kewajiban ini akan dapat mengakibatkan

   adanya tuntutat hukum oleh kreditor perusahaan, yang kemungkinan akan

   menyebabkan kebangkrutan.
                                                                        33




c. Rasio cangkupan EBITDA

   Rasio cangkupan EBITDA (EBITDA Coverage Ratio) adalah sebuah rasio

   di mana pembilangnya meliputi seluruh arus kas yang tersedia untuk

   memenuhi beban keuangan tetap dan penyebutnya meliputi seluruh beban-

   beban keuangan tetap.

                                         EBITDA + Pembayaran sewa
Rasio cangkupan EBITDA =
                              Bunga + Pembayaran pokok + Pembayaran sewa

            Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;105)

   Rasio cangkupan EBITDA paling bermanfaat bagi para pemberi pinjaman

   jangka pendek seperti perbankan yang jarang memberikan pinjaman

   (kecuali untuk pinjaman yang dijamin oleh real estat) untuk jangka waktu

   lebih lama lima tahun. Dalam jangka waktu yang relatif pendek, dana yang

   dihasilkan melaui depresiasi dapat digunakan untuk melayani utang. Untuk

   jangka waktu yang lebih lama, dana-dana tersebut harus diinvestasikan

   kembali untuk mempertahankan pabrik dan peralatan atau jika tidak

   perusahaan tidak akan dapat tetap melakukan bisnisnya. Oleh sebab itu,

   bank-bank dan para pemberi pinjaman jangka pendek lainnya lebih

   menaruh perhatian pada rasio cangkupan EBITDA, sedangkan para

   pemegang obligasi jangka panjang lebih menaruh perhatian pada rasio

   TIE.
                                                                                      34




4. Rasio Profitabilitas

   Rasio Profitabilitas (profitability ratio) adalah sekelompok rasio yang

   menunjukkan gabungan efek-efek dari likuiditas, manajemen aktiva, dan

   utang pada hasil-hasil operasi.

   Rasio Profitabilitas terdiri dari :

   a. Margin laba atas penjualan

       Margin laba atas penjualan (profit margin on sales) adalah rasio yang

       mengukur jumlah laba bersih per nilai dollar penjualan, dihitung dengan

       membagi laba bersih dengan penjualan.

                                                        Laba Bersih
                   Margin laba atas penjualan =
                                                         Penjualan
                   Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;107)

   b. Rasio kemampuan dasar untuk menghasilkan laba (BEP)

       Rasio kemampuan dasar untuk menghasilkan laba (basic earning power-

       BEP) adalah rasio yang mengindikasikan kemampuan dari aktiva-aktiva

       perusahaan untuk menghasilkan laba operasi yang dihitung dengan

       membagi EBIT dengan total aktiva.

                                                                               EBIT
       Rasio kemampuan dasar untuk menghasilkan laba (BEP) =
                                                                          Total aktiva
                 Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;108)

       Rasio ini menunjukkan kemampuan dasar untuk menghasilkan laba dari

       aktiva-aktiva perusahaan, sebelum ada pengaruh pajak dan leverage, dan

       akan bermanfaat dalam membandingkan perusahaan-perusahaan dengan
                                                                                       35




       berbagai situasi pajak dan tingkat pengungkitan keuangan yang berbeda-

       beda.

   c. Tingkat pengembalian total aktiva

       Tingkat pengembalian total aktiva (return on total assets-ROA) adalah

       rasio laba bersih terhadap total aktiva.

                                                                  Laba Bersih
               Tingkat pengembalian total aktiva (ROA) =
                                                                 Total aktiva

                   Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;109)

       Tingkat pengembalian yang rendah disebabkan oleh :

       1) Kemampuan untuk menghasilkan laba perusahaan yang rendah.

       2) Biaya bunga yang tinggi yang dikarenakan oleh penggunaan utang di

           atas rata-rata.

   d. Tingkat pengembalian ekuitas saham biasa

       Tingkat pengembalian ekuitas saham biasa (return on common equity-

       ROE) adalah rasio laba bersih terhadap ekitas saham biasa yang mengukur

       tingkat pengembalian atas investasi dari pemegang saham biasa.

                                                                       Laba Bersih
        Tingkat pengembalian ekuitas saham biasa (ROE) =
                                                                       Ekuitas biasa

                  Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;109)

5. Rasio Nilai Pasar

   Rasio Nilai Pasar adalah sekumpulan rasio yang menghubungkan harga saham

   perusahaan dengan laba, arus kas, dan nilai buku per lembar sahamnya.

   Rasio Nilai Pasar terdiri dari :

   a. Rasio harga/laba
                                                                            36




   Rasio harga/laba (price/earning-P/E) adalah rasio harga per lembar saham

   terhadap laba per lembar saham, menunjukkan jumlah dollar yang bersedia

   dibayarkan oleh investor untuk setiap $ 1 laba berjalan.

                                          Harga per lembar saham
            Rasio harga/laba (P/E) =
                                          Laba per lembar saham

             Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;110)

b. Rasio harga/arus kas

   Rasio harga/arus kas (price/cash flow ratio) adalah rasio harga per lembar

   saham dengan dibagi oleh arus kas per lembar saham, menunjukkan

   jumlah dollar yang bersedia dibayarkan oleh investor untuk setiap $ 1 arus

   kas.

                                         Harga per lembar saham
            Rasio harga/arus kas =
                                        Arus kas per lembar saham

             Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;111)

c. Rasio nilai pasar/nilai buku

   Rasio nilai pasar/nilai buku (market/book-M/E) adalah rasio harga pasar

   saham terhadap nilai bukunya.

                                                      Ekuitas saham biasa
          Rasio nilai pasar/nilai buku (M/B) =
                                                     Jumlah saham beredar
            Sumber : Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;112)
                                                                                  37




2.4 Perputaran aktiva tetap

       Berikut ini merupakan beberapa pengertian dari perputaran aktiva tetap :

       Menurut Dewi Astuti (2004;33), pengertian perputaran aktiva tetap :

       “Perputaran aktiva tetap adalah rasio yang mengukur seberapa efektif

       perusahaan menggunakan aktiva tetapnya.”

        Menurut Agnes Sawir (2003;17), pengertian perputaran aktiva tetap :

       “Perputaran aktiva tetap adalah rasio yang mengukur efektivitas

       penggunaan dana yang tertanam pada harta tetap seperti pabrik dan

       peralatan dalam rangka menghasilkan penjualan.”

       Menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim (2003;81), pengertian

perputaran aktiva tetap :

       “Perputaran aktiva tetap adalah rasio yang mengukur sejauh mana

       kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan berdasarkan aktiva tetap

       yang dimiliki perusahaan.”

       Menurut R. Agus Sartono (2001;120), pengertian perputaran aktiva tetap :

       “Perputaran aktiva tetap adalah rasio antara penjualan dengan aktiva tetap.

       Rasio ini menunjukkan bagaimana perusahaan menggunakan aktiva

       tetapnya seperti gedung, kendaraan, mesin-mesin, perlengkapan kantor.”

       Menurut Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;99), pengertian

perputaran aktiva tetap :

       “Perputaran aktiva tetap adalah rasio yang mengukur seberapa efektifkah

       perusahaan mempergunakan pabrik dan peralatannya.”
                                                                               38




       Dari beberapa penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa

perputaran aktiva tetap adalah rasio yang mempergunakan seluruh aktiva tetapnya

untuk menghasilkan penjualan.

       Perputaran aktiva tetap dapat dirumuskan sebagai berikut :

                                                      Penjualan
                 Rasio perputaran aktiva tetap =
                                                    Aktiva tetap

                            Sumber : Agnes Sawir (2003;17)

Rasio ini memperlihatkan sejauh mana efektivitas perusahaan menggunakan

aktiva tetapnya. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin efektif penggunaan

aktiva tetap tersebut. Pada beberapa industri seperti industri yang mempunyai

proporsi aktiva tetap yang tinggi, rasio ini cukup penting diperhatikan. Sedangkan

pada beberapa industri yang lain seperti industri jasa yang mempunyai proporsi

aktiva tetap yang kecil, rasio ini barangkali relatif tidak begitu penting untuk

diperhatikan.

       Menurut Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;100), inflasi telah

menyebabkan nilai dari kebanyakan aktiva yang dibeli di masa lalu mengalami

kurang cacat (understated) yang serius. Karenanya, jika kita membandingkan satu

perusahaan lama yang telah membeli aktiva tetapnya bertahun-tahun yang lalu

dengan harga rendah dengan satu perusahaan baru yang baru saja membeli aktiva

tetapnya, kita mungkin akan menemukan bahwa perusahaan lama tersebut akan

memiliki rasio perputaran aktiva tetap yang lebih tinggi. Namun, hal ini akan

lebih tercermin pada kesulitan yang sedang dialami para akuntan sehubungan

dengan inflasi daripada dengan ketidakefisienan perusahaan baru tersebut. Profesi
                                                                                 39




akuntansi sedang mencoba untuk menemukan cara membuat laporan keuangan

mencerminkan nilai-nilai kini daripada nilai historis. Jika neraca benar-benar

dinyatakan dalam basis nilai kini, maka cara itu akan menghasilkan perbandingan

yang lebih baik.



2.5 Tingkat pengembalian aktiva

       Rasio ini dikenal dengan nama return on asset ratio/ROA. Rasio ini

mengukur pengembalian atas total aktiva setelah bunga dan pajak.. Berikut ini

merupakan beberapa pengertian dari tingkat pengembalian aktiva yaitu :

       Menurut Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2006;109), pengertian

tingkat pengembalian aktiva :

       “Tingkat pengembalian aktiva adalah rasio yang mengukur antara laba

       bersih terhadap total aktiva.”

       Menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim (2003;84), pengertian

tingkat pengembalian aktiva :

       “Tingkat pengembalian aktiva adalah rasio yang mengukur kemampuan

       perusahaan menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat aset tertentu.”

       Menurut Dewi Astuti (2004;37), pengertian tingkat pengembalian aktiva :

       “Tingkat pengembalian aktiva adalah rasio yang menunjukkan kinerja

       manajemen dalam menggunakan aktiva perusahaan untuk menghasilkan

       laba.”
                                                                               40




           Menurut R. Agus Sartono (2001;125), pengertian tingkat pengembalian

aktiva :

           “Tingkat pengembalian aktiva adalah tolak ukur kemampuan perusahaan

           dalam menghasilkan laba dengan aktiva yang digunakan.”

           Dari beberapa penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat

pengembalian aktiva adalah rasio yang mengukur kemampuan perusaaan untuk

menghasilkan laba dengan menggunakaan seluruh aktiva yang dimiliki oleh

perusahaan.

           Tingkat pengembalian aktiva dapat dirumuskan sebagai berikut :

                                                                Laba
                 Tingkat pengembalian aktiva (ROA) =
                                                             Total aktiva

                     Sumber : Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim (2003;84)

Perusahaan mengharapkan adanya hasil pengembalian yang sebanding dengan

dana yang digunakan. Hasil pengembalian ini dapat dibandingkan dengan

penggunaan alternatif dari dana tersebut. Sebagai salah satu ukuran ke efektifan,

maka semakin tinggi hasil pengembalian semakin efektiflah perusahaan dalam

menggunakan aktivanya.

           Menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim (2003;160), tingkat

pengembalian aktiva (ROA) dapat dibagi menjadi dua komponen yaitu : profit

margin dan perputaran total aktiva (aset). Pemecahan (disagregasi) ini bisa

menghasilkan analisis yang lebih tajam lagi. Profit margin melaporkan

kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari tingkat penjualan tertentu. Profit

margin bisa interprestasikan sebagai tingkat efisiensi perusahaan, yakni sejauh
                                                                               41




mana kemampuan perusahaan menekan biaya-biaya yang ada di perusahaan.

Perputaran total asset mencerminkan kemampuan perusahaan menghasilkan

penjualan dari total investasi tertentu. Rasio ini juga bisa diartikan sebagai

kemampuan perusahaan mengelola aktiva berdasarkan tingkat penjualan yang

tertentu. Rasio ini mengukur aktivitas penggunaan aktiva (asset) perusahaan.

        Menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim (2003;163-167), ada dua

faktor yang mempengaruhi perbedaan tingkat pengembalian aktiva (ROA) antar

industri yaitu :

1. Operating Leverage

        Operating Leverage menunjukkan sejauh mana pemakaian beban tetap

    dalam suatu perusahaan. Perusahaan yang menggunakan beban tetap yang

    tinggi berarti mempunyai operating leverage yang tinggi. Beban tetap

    operasional datangnya dari beban depresiasi peralatan/bangunan (aktiva tetap).

    Perusahaan yang mempunyai proporsi aktiva tetap yang besar (yang berarti

    melakukan investasi besar pada aktiva tetap) akan mempunyai beban

    depresiasi yang tinggi, yang berarti mempunyai beban operasional yang tinggi,

    dan berarti mempunyai operating leverage yang tinggi.

        Perusahaan-perusahaan atau industri-industri mempunyai struktur biaya

    variabel dan biaya tetap yang berbeda-beda. Perusahaan eksplorasi dan

    pengolahan minyak, perusahaan baja mempunyai proporsi aktiva tetap yang

    besar. Perusahaan-perusahaan semacam ini merupakan perusahaan yang padat

    modal (capital-intensive). Sebaliknya industri supermarket, grosir, rumah

    makan merupakan industri atau perusahaan yang mempunyai proporsi aktiva
                                                                           42




   tetap relatif lebih kecil dibanding industri/perusahaan minyak di atas.

   Komponen biaya variabel untuk industri ini relatif besar.

      Perusahaan atau industri dengan operating leverage yang tinggi akan

   mempunyai fluktuasi pendapatan yang tinggi pula. Itu berarti risiko

   perusahaan tersebut tinggi. Apabila kondisi perekonomian membaik,

   penjualan meningkat, perusahaan dengan operating leverage yang tinggi akan

   mengalami kenaikan keuntungan (pendapatan) yang tinggi, sebaliknya apabila

   kondisi perekonomian menurun, penjualan menurun, perusahaan tersebut akan

   mengalami penurunan keuntungan yang tajam pula. Perusahaan dengan

   operating leverage yang rendah tidak akan mengalami fluktuasi setajam

   perusahaan dengan operating leverage yang tinggi.

2. Siklus kehidupan produk

      Siklus kehidupan produk akan mempunyai pengaruh terhadap tingkat

   pengembalian aktiva (ROA) atau perbedaaan-perbedaan tingkat pengembalian

   aktiva (ROA). Produk mulai dari muncul sampai menghilang bergerak melalui

   beberapa tahap :

   a. Tahap perkenalan.

   b. Tahap pertumbuhan.

   c. Tahap kedewasaan.

   d. Tahap penurunan.

      Pada tahap perkenalan, perusahaan memfokuskan pada pengembangan

   produk (melalui riset dan pengembangan), pengembangan pasar (melalui iklan

   dan promosi lainnya), pengembangan kapasitas (melalui pengeluaran investasi
                                                                            43




   pada pengembangan pabrik baru atau perluasan pabrik). Tujuannya adalah

   untuk memperkenalkan produk baru dan memperoleh market share.

   Sebaliknya pada tahap kedewasaan, produk relatif sudah mapan dan tidak

   memerlukan upaya pengembangan atau penyiapan infrastruktur. Pengeluaran

   investasi pada tahap ini relatif tidak signifikan. Kompetisi semakin keras,

   pengelolaan biaya (agar diperoleh biaya yang efisien) menjadi penting pada

   tahap ini. Pada tahap ini perusahaan bisa memperoleh laba (ROA) yang cukup

   tinggi dibandingkan pada tahap-tahap lainnya. Pada tahap penurunan,

   perusahaan sudah mulai mengambil ancang-ancang untuk keluar dari bisnis

   produk tersebut.

       Menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim (2003;169-172), hal lain

yang perlu diperhatikan dalam analisis ROA adalah proporsi profit margin dan

perputaran aktiva. Ada dua faktor yang mempengaruhi perbedaan proporsi profit

margin/perputaran aktiva antar industri, yaitu :

1. Pembatasan kapasitas dan pembatasan kompetisi

       Perusahaan atau industri yang ditandai dengan biaya tetap yang besar dan

   membutuhkan periode yang lama untuk membangun atau menambah kapasitas

   produksi akan mempunyai pembatasan kapasitas. Ada batasan atas yang

   membatasi jumlah atau atau besarnya perputaran asset perusahaan. Bagi

   industri atau perusahaan semacam ini, diperlukan cara lain agar diperoleh

   ROA yang mampu menarik modal ke usaha tersebut. Cara tersebut adalah

   dengan menaikkan profit marginnya. Dengan demikian meskipun perputaran
                                                                             44




   aktiva perusahaan/industri terbatas, perusahaan bisa memperoleh ROA yang

   tinggi dengan menaikkan profit marginnya.

       Pada situasi lain, perusahaan akan mengalami pembatasan karena adanya

   kompetisi. Pada industri-industri dimana produk yang dijual misal seperti

   komoditi, kompetisi yang terjadi menyerupai kompetisi sempurna (perfect

   competition). Kompetisi yang ketat akan membatasi profit margin yang bisa

   dicapai.

2. Strategi bisnis

       Menurut strategi generik yang dirumuskan oleh Michael Porter, ada tiga

   jenis strategi generik yaitu :

   a. Diferensiasi.

   b. Biaya rendah (low cost strategy).

   c. Fokus.

       Strategi diferensiasi dilakukan dengan jalan mendiferensiasikan produk

   (membedakan produk) relatif terhadap pesaing-pesaing lainnya. Dengan

   diferensiasi, persaingan harga bisa dihindari, dan perusahaan bisa mengenakan

   harga yang lebih tinggi (premium price) dibanding jika perusahaan

   menggunakan strategi persaingan harga. Diferensiasi bisa dicapai melalui

   penekanan pada kualitas yang lebih baik, pelayanan yang lebih baik, atau

   faktor-faktor lainnya.

       Strategi biaya rendah (low cost) dilakukan dengan jalan menekan biaya-

   biaya perusahaan agar perusahaan bisa memperoleh daya saing harga. Pada

   beberapa industri dengan produk yang menyerupai komoditi tertentu (seperti
                                                                               45




   baja, minyak tanah), usaha diferensiasi biasanya sulit dilakukan. Persaingan

   untuk industri atau perusahaan semacam ini lebih ditandai dengan persaingan

   harga. Supaya bisa memperoleh daya saing harga, perusahaan harus menekan

   biaya-biaya di perusahaan. Penekanan biaya ini bisa dilakukan dengan

   pemanfaatan     skala   ekonomi,    efisiensi   produksi,   dan   pengendalian-

   pengendalian biaya lainnya.



2.6 Pengaruh perputaran aktiva tetap terhadap tingkat pengembalian aktiva

       Perusahaan pada umunya menanamkan sejumlah dananya dalam bentuk

aktiva tetap. Aktiva tetap tersebut sangat menunjang pelaksanaan operasional

perusahaan seperti penjualan, teknik analisis yang umum digunakan manajemen

perusahaan untuk mengetahui kontribusi aktiva tetap dalam menunjang penjualan

adalah melalui rasio perputaran aktiva tetap.

       Kontribusi aktiva tetap dalam menunjang penjualan diharapkan bisa

meningkatkan penjualan, sehingga tujuan perusahaan yaitu memperoleh laba bisa

tercapai. Laba yang diperoleh perusahaan bukan merupakan satu-satunya tujuan

perusahaan. Tujuan lain dari suatu perusahaan adalah adanya efisiensi dari

efektivitas penggunaan aktiva yang digunakan untuk memperoleh laba tersebut

atau pengembalian yang diharapkan atas aktiva yang diinvestasikan. Tingkat

pengembalian aktiva (ROA) mengukur efektivitas penggunaan aktiva yang

digunakan untuk memperoleh laba. Menurut John J. Wild, K.R. Subramanyam,

Robert F. Halsel (2005;72-73) Hubungan antara Tingkat pengembalian aktiva

dengan Perputaran aktiva tetap adalah sebagai berikut :
                                                                             46




       “ Hubungan laba dengan penjualan disebut margin laba (profit margin)

       dan mengukur profitabilitas perusahaan relatif terhadap penjualan.

       Hubungan antara aktiva dengan penjualan disebut perputaran aktiva (asset

       turnover) dan mengukur efektivitas perusahaan untuk menghasilkan

       penjualan dengan menggunakan aktivanya. Pemisahan ini menyoroti

       pemisahan tiap komponen, baik margin laba maupun perputaran aktiva,

       dalam menentukan pengembalian atas aktiva.”

       Kesimpulan    bahwa     perputaran   aktiva   merupakan     faktor   yang

mempengaruhi tingkat pengembalian aktiva, namum ada faktor lain yang

mempengaruhi perputaran aktiva yaitu perputaran aktiva tetap. Sehingga

perputaran aktiva tetap berpengaruh terhadap tingkat pengembalian aktiva.

						
Related docs
Other docs by HC120730135624