RINGKASAN EKSEKUTIF - DOC 2 by 1ygrs3W6

VIEWS: 23 PAGES: 6

									                       RINGKASAN EKSEKUTIF

YUDHO EKO PRASTYO. 2003. Formulasi Strategi Penguatan
Lembaga Sosial Koperasi Perumahan Prumpung Indah Jakarta
Dalam Penataan Perumahan yang Layak Huni. Di Bawah Bimbingan
E. GUMBIRA SA’ID dan SETIADI DJOHAR.


      Rumah yang sehat dan nyaman merupakan kebutuhan pokok
manusia.Tetapi dengan bertambahnya jumlah penduduk dari tahun ke
tahun, keterbatasan dana yang tersedia di Pemerintah Propinsi DKI
Jakarta, penghasilan yanbg tidak tetap, lahan yang tersedia sempit dan
ketimpangan pola pertumbuhan ekonomi di masa lalu menyebabkan
kawasan kumuh, diantaranya daerah Prumpung Kelurahan Cipinang
Besar Utara Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur. Daerah kumuh yang
berada di Kelurahan Cipinang Besar Utara meliputi RW 01, Rw 02, RW
03, RW 04, RW 05, RW 7 dan RW 12, sedangkan KPPI telah berhasil
merenovasi bangunan yang kumuh menjadi layak huni hanya di RW 02
dengan 32 bangunan.
      Meskipun Prumpung merupakan daerah kumuh tetapi memiliki
potensi yang strategis yaitu berada di persilangan antara jalur Tanjung
Priok – Cawang dan Bekasi – Jatinegara, dekat dengan daerah
perniagaan, transportasi yang mudah diperoleh, dekat dengan fasilitas
pendidikan, terminal dan stasiun kereta api. Hal ini membuat masyarakat
daerah Prumpung berkeinginan untuk menata rumah kumuh menjadi
layak huni melalui Koperasi Perumahan Prumpung Indah (KPPI),
sedangkan jumlah penduduknya sampai bulan Juli 2001 adalah 19.929
jiwa, kepemilikan luas kavling rata-rata dibawah 10 m2 berpenghasilan
rendah dan tidak tetappenghasilannya .
      Penguatan lembaga sosial KPPI dalam penataan perumahan yang
layak huni masih belum mencapai sasaran secara optimal. Hal ini dapat
diketahui dari beberapa indikasi permasalahan, yaitu sebagai berikut : 1).
Masih terdapatnya citra bahwa membangun rumah yang layak huni pasti
memerlukan biaya besar, 2). Sangat terbatasnya kemampuan masyarakat
untuk membangun rumah yang layak huni, 3). Tingkat kepadatan yang
tinggi menyebabkan lingkungan menjadi kumuh dan tidak sehat, 4). Sikap
traumatis   masyarakat   terhadap   pelaksanaan   kegiatan   penataan
perumahan yang layak huni di daerah kumuh dengan citra pasti ada unsur
paksaan dan penggusuran, 5). Belum dikelolanya secara optimal potensi
dan usaha lokal dan 6). Masih rendahnya wadah lembaga sosial KPPI
terhadap pelaksanaan kegiatan penataan perumahan yang layak huni di
daerah kumuh.
      Dengan menganalisa penguatan lembaga sosial KPPI dalam
penataan perumahan yang layak huni maka terdapat permasalahan dalam
bentuk pertanyaan sebagai berikut : 1). Apakah penguatan KPPI dalam
penataan perumahan yang layak huni di Prumpung dipengaruhi oleh
faktor internal dan eksternal, 2) Bagaimana formulasi strategi untuk
penguatan lembaga sosial KPPI dalam penataan perumahan yang layak
huni di Prumpung.
      Diidentifikasi bahwa lembaga sosial KPPI dipengaruhi oleh faktor
internal yang meliputi kekuatan dan kelemahan, serta faktor eksternal
yang meliputi peluang dan ancaman. Matriks IFE dipergunakan untuk
menilai faktor-faktor internal dan menggolongkannya menjadi kekuatan
dan kelemahan KPPI. Matriks EFE dipergunakan untuk menilai faktor-
faktor eksternal dan menggolongkannya menjadi peluang dan ancaman
KPPI. Untuk mengetahui posisi KPPI maka dipergunakan matriks internal
eksternal. Formulasi strategi diperoleh dengan melakukan analisis SWOT
berdasarkan hasil identifikasi kekuatan dan kelemahan dari lingkungan
internal dibandingkan secara sistematis dengan peluang dan ancaman
dari lingkungan eksternal. Dengan alur pemikiran yang demikian maka
diharapkan untuk memperoleh hasil rekomendasi berupa formulasi
strategi penguatan lembaga sosial koperasi dalam penataan perumahan
yang layak huni di Prumpung.
      Penelitian dilakukan pada KPPI Kelurahan Cipinang Besar Utara,
Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Penelitian ini dilaksanakan pada
bulan Juli dan Agustus 2002. Data yang dipergunakan adalah data primer
dan sekunder. Data diperoleh dengan cara melakukan observasi, studi
literatur, wawancara dan pengisian kuisioner.Sumber subyek penelitian
berasal dari pakar di bidang penataan perumahan, masyarakat, pengurus
koperasi Perumahan Prumpung Indah, Camat dan Lurah sebagai
pengambil kebijakan.
      Faktor yang memberikan kekuatan bagi KPPI yaitu bunga pinjaman
koperasi rendah jika dibandingkan dengan perbankan dengan skor
0,4996, Kemudahan aksebilitas dari dan ke anggota koperasi dengan skor
0,3441, Pola pengawasan yang dilakukan secara melekat oleh anggota
koperasi dan masyarakat dengan skor 0,3636, Proposal pinjaman dan
model perencanaan penataan rumah dari pemohon kepada koperasi yang
kemudian dinilai kelayakan oleh Tim Penilai dengan skor 0,3247, dan
Ketersedian SDM dengan skor 0,3109. Faktor yang memberikan
kelemahan bagi KPPI yaitu     Ketersediaan modal dengan skor 0,1628,
Pembinaan dan bimbingan dari Pemda yang kurang dengan skor 0,1758,
Cakupan kerja hanya di daerah kumuh Prumpung denga skor 0,1702,
Pemberiaan penghargaan dan hukuman dari koperasi kepada peminjam
dengan skor 0,1869, dan Kemampuan lobi dan negosiasi dari pengurus
koperasi dengan skor 0,591.
      Identifikasi faktor eksternal yang memberikan peluang mencakup
dukungan kebijakan pengusaha kecil menengah dan koperasi dari MPR
yang tertuang dalam GBHN 1999-2004 dengan skor 0,3826, Otonomi
daerah dengan skor 0,3521, Stabilitas politik dan ekonomi dengan skor
0,3327, Perkembangan teknologi dan informasi yang maju dan modern
dengan skor 0,3244, dan ketersediaan pasar dengan skor 0,4140. Hasil
identifikasi faktor eksternal yang memberikan ancaman bagi penguatan
Lembaga Sosial KPPI dalam penataan perumahan yang layak huni yaitu
bermainnya lembaga selain koperasi dengan skor 0,1737, Tumbuh
suburnya KKN dengan skor 0,1775, Lemahnya koordinasi antara Dinas
terkait dalam membina koperasi dengan skor 0,1701, intervensi
perusahaan yang ingin menguasai seluruh lahan masyarakat di daerah
Prumpung dengan skor 0,1757, dan harga bahan material bangunan yang
tidak stabil di pasar bebas dengan skor 0,1627
      Dari hasil evaluasi dan analisis internal dan eksternal yang telah
dilakukan maka dipergunakan matriks IE untuk mengetahui posisi KPPI.
Hasil total skor internal yang diperoleh adalah sebesar 2,6975 dan total
skor eksternal diperoleh adalah sebesar 2,6654. Nilai total skor eksternal
memperlihatkan respon yang diberikan oleh lingkungan kepada KPPI di
daerah sedang atau rata-rata. Kedua nilai di atas kemudian dipasangkan
atau digabungkan, sehingga mendapatkan suatu titik ordinat yaitu 2,6975
dan 2,6654. Dengan demikian, posisi KPPI pada saat ini adalah berada di
kotak kuadran kelima, yang berarti inti strategi yang diterapkan KPPI
adalah strategi tumbuh (growth) dan berkembang (build). KPPI sebaiknya
memperluas pasar dengan cara memperkenalkan produk/ jasa yang
sudah ada kepada kelompok konsumen baru sekaligus melakukan
peningkatan mutu yang telah ada secara kualitas maupun kuantitas serta
melakukan pengembangan di bidang produk dan jasa baru yang
dibutuhkan. sesuai keinginan konsumen.
      Formulasi strategi diperoleh dengan melakukan analisis SWOT
berdasarkan hasil identifikasi kekuatan dan kelemahan dari lingkungan
internal dibandingkan secara sistematis dengan peluang dan ancaman
dari lingkungan eksternal. Kesesuaian yang logis akan menghasilkan
strategi secara efektif bagi perusahaan, sedangkan hasil formulasi strategi
penguatan lembaga sosial KPPI dalam penataan perumahan yang layak
huni berdasarkan analisa SWOT, adalah sebagai berikut :
   1. Mengembangkan dan meningkatkan potensi usaha KPPI dengan
      menmgkaji peluang pasar yang tersedia.
   2. Memantapkan       pijakan   ketersediaan    pasar    dengan     cara
      memberikan bunga pinjaman yang rendah untuk kegiatan penataan
      perumahan yang layak huni.
   3. Meningkatkan kemampuan pengurus KPPI dalam melobi dan
      bernegosiasi, yang didukung oleh otonomi daerah serta kemajuan
      teknologi dan informasi yang modern.
   4. Mempertahankan dan meningkatkan pola pengawasan untuk
      menghindari unsur KKN dari berbagai pihak.
   5. Mempertahankan dan meningkatkan kualitas pengajuan proposal
      pinjaman dan model perencanaan penataan perumahan yang tepat
      untuk menghadapi harga bahan material yang tidak stabil.
   6. Mengoptimalkan pengelolaan modal dan kemampuan SDM yang
      tersedia dengan didukung pembinaan dan bimbingan dari Pemda
      untuk menghadapi persaing.


      Berdasarkan hasil analisa di atas maka saran-saran yang diajukan
adalah sebagai berikut.
   1. KPPI diharapkan dapat melaksanakan alternatif pengembangan
      dan formulasi strategi dengan disertai sasaran-sasaran yang jelas
      dan ditentukan batas waktu pencapaiannya. Tanpa disertai sasaran
      yang    jelas   maka     strategi   yang   telah   diperoleh   dengan
      mempergunakan berbagai analisa menjadi kurang terarah sehingga
      dikhawatirkan KPPI tidak mampu untuk mejalankan misinya secara
      sempurna.
   2. Masyarakat kawasan kumuh Prumpung diharapkan agar lebih
      berperan secara aktif dalam mengembangkan potensi KPPI
      sehingga diperoleh hasil yang maksimal dan menguntungkan bagi
      semua pihak melalui pelaksanaan pertemuan seta pengawasan
      secara rutin.
   3. Potensi dan usaha yang telah dilakukan oleh KPPI agar lebih
      ditingkatkan mutunya serta dikembangkannya produk baru sesuai
      dengan kebutuhan pasar atau konsumen.
   4. Penataan perumahan di daerah kumuh Prumpung oleh KPPI agar
      dilaksanakan melalui empat pendekatan sesuai dengan kondisinya,
      yaitu sebagai berikut.
      a. Model I
               Peningkatan dan perbaikan sarana, prasarana dan rumah
          tanpa mengubah pola tata ruang. Hal ini dilakukan jika rumah
          beserta lingkungan relatif sehat dan rapih sehingga tidak
          memerlukan perombakan secara total.
      b. Model II
               Perombakan rumah-rumah pada daerah kawasan yang
         akan terkena pelaksanaan kegiatan proyek normalisasi sungai.
      c. Model III
               Perombakan kondisi fisik lingkungan dan perumahan yang
         tidak layak huni. Hal ini dilakukan dengan harapan agar
         penduduk miskin tidak tergusur dari kawasan yang menjadi
         komersial.
      d. Model IV
                Mengikutsertakan warga masyarakat Prumpung di dalam
         pelatihan    yang    pada   akhirnya    diharapkan   akan   lebih
         meningkatkan        kesadaran   warga    terhadap    terwujudnya
         lingkungan hunian yang bersih, sehat dan tertata


Kata kunci :   Penataan perumahan yang layak huni, KPPI, Matriks IFE
               dan EFE, Matriks IE, analisa SWOT.

								
To top