Gambar 3 Peta stasiun penelitian by 1ygrs3W6

VIEWS: 208 PAGES: 125

									                                              1



STUDI KESESUAIAN EKOSISTEM MANGROVE SEBAGAI
   OBJEK EKOWISATA DI PULAU KAPOTA TAMAN
   NASIONAL WAKATOBI SULAWESI TENGGARA


                     SKRIPSI



                FOLTRA FERONIKA R

                    L111 06 004




              JURUSAN ILMU KELAUTAN

       FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN

              UNIVERSITAS HASANUDDIN

                    MAKASSAR

                       2011
                                                                            2



                                 ABSTRAK

Foltra Feronika Rutana (L 111 06 004) Studi Kesesuaian Ekosistem Mangrove
sebagai Objek Ekowisata di Pulau Kapota Taman Nasional Wakatobi Sulawesi
Tenggarat. di bawah bimbingan M.Natsir Nessa sebagai pembimbing utama dan
Amran Saru sebagai pembimbing Anggota.

        Salah satu dari sumber daya kelautan Indonesia yang mendapat
perhatian di wilayah pesisir adalah ekosistem mangrove.        Fungsi hutan
mangrove sebagai spawning ground, feeding ground, dan juga nursery ground, di
samping sebagai tempat penampung sedimen, sehingga hutan mangrove
merupakan ekosistem dengan tingkat produktivitas yang tinggi dengan berbagai
macam fungsi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang penting. Salah satu fungsi
sosial hutan mangrove adalah memungkinkannya berfungsi sebagai tujuan
wisata.

        Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan ekosistem mangrove
di Pulau Kapota sebagai objek ekowisata, menginventarisasi sarana dan
prasarana pendukung di Pulau Kapota yang dapat menunjang pengembangan
ekowisata mangrove, mengetahui persepsi stakeholder dalam melakukan
kegiatan ekowisata mangrove di Pulau Kapota. Sedangkan kegunaan dari
penelitian ini adalah untuk memberikan informasi kepada pengelolah kawasan
atau pemerintah setempat tentang adanya kemungkinan-kemungkinan untuk
melakukan kegiatan ekowisata ekosistem mangrove.

        Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pulau Kapota layak untuk
dijadikan kegiatan ekowisata dan pengembangan kegiatan wisata. Ekosistem
mangrove di Pulau Kapota layak untuk dijadikan ekowisata mangrove karena
sangat spesifik yaitu tidak tumbuh di pinggir pantai tetapi tumbuh mengarah
kedarat yaitu 300 meter dari garis pantai. Ketersediaan sarana dan prasarana
cukup mendukung untuk melakukan kegiatan wisata. Berdasarkan persepsi
pengunjung bahwa daerah lokasi ekowisata hutan mangrove di Pulau Kapota
sangat menarik dan penuh dengan keunikan sehingga memiliki daya tarik untuk
melakukan ekowisata di daerah ini.




Kata kunci : Ekowisata , Ekosistem Mangrove, persepsi stakeholder, Pulau
             Kapota Taman Nasional Wakatobi.
                                                         3



STUDI KESESUAIAN EKOSISTEM MANGROVE SEBAGAI OBJEK
EKOWISATA DI PULAU KAPOTA TAMAN NASIONAL WAKATOBI
                SULAWESI TENGGARA



                           Oleh:

                     Foltra Feronika R



                          Skripsi

      Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

                           pada

            Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan




 KONSENTRASI EKSPLORASI SUMBERDAYA HAYATI LAUT

               JURUSAN ILMU KELAUTAN

      FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN

               UNIVERSITAS HASANUDDIN

                       MAKASSAR

                           2011
                                                                                    4



                              HALAMAN PENGESAHAN



Judul Skripsi            : Studi Kesesuaian Ekosistem Mangrove sebagai Obyek
                            Ekowisata di Pulau Kapota Taman Nasional Wakatobi
                            Sulawesi Tenggara.

Nama                      :   Foltra Feronika R

NIM                       :   L 111 06 004

Program Studi             :   Ilmu Kelautan



                                Skripsi telah diperiksa

                                  dan disetujui oleh :




Pembimbing Utama,                                           Pembimbing Anggota,




Prof. Dr. Ir. H. M. Natsir Nessa, MS                 Prof. Dr. Amran Saru, ST, M.Si

NIP.194812271973031001                               NIP.196709241995031 001

                                     Mengetahui,



Dekan                                                       Ketua Program Studi

Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan                        Ilmu Kelautan



Prof. Dr. Ir. Hj. A. Niartiningsih, MP               Dr. Ir. Amir Hamzah, M, M.Si

NIP.196112011987032002                               NIP.196311201993031002




Tanggal Lulus :           Agustus 2011
                                                                                5




                                           RIWAYAT HIDUP


                      Foltra Feronika R. lahir di Salukaia pada tanggal 28 mei

                      1987. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

                      Buah hati dari pasangan N. Ruutana dan Liong Koruwu.

Pada tahun 1994 Lulus di taman kanak-kanak Ebenheizer Salukaia, tahun 2000

Lulus di SDN Salukaia, tahun 2003 Lulus di SLTP Kemala Bhayangkari

Makassar, tahun 2006 Lulus di SMA Kristen Soleman Makassar, dan pada tahun

yang sama pula di terima di Jurusan Ilmu kelautan melalui jalur melalui Seleksi

Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB).


       Pada Tahun 2007 penulis dikukuhkan menjadi anggota Senat Mahasiswa

Fakultas Ilmu dan Teknologi Kelautan (FITK). Selama masa studi di Kelautan

penulis banyak mengikuti kegiatan dan pelatihan diantaranya             Pelatihan

Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM) yang diadakan oleh SEMA FITK

UH pada tahun 2007 dan Basic study skill (BSS) yang diadakan FITK. Di bidang

organisasi penulis pernah menjadi Ketua persekutuan Mahasiswa Kristen Ilmu

Kelautan Unhas Makassar (PERMAKRIS-IK-UH) yaitu selama dua periode

(2009-2010 dan 2010-2011), Stering Komite            pada prosesi penerimaan

Mahasiswa Baru, anggota muda Marine Science Diving Club (MSDC) Universitas

Hasannudin Selama menjadi mahasiswa penulis pernah menjadi asisten mata

kuliah diantaranya “Rehabilitasi Pesisir Pantai “, “Eksplorasi Sumber daya Pesisir

dan Laut”, dan “Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut Secara Terpadu”. Pada

Tahun 2010 Penulis juga perna ikut bekerja sama dengan salah satu LSM

(OXAM) sebagai konsultan untuk melakukan survei di empat Kabupaten yaitu

Kab. Maros, Pangkep,Barru dan Takalar.              Pada tahun 2009 penulis

melaksanakan tugas akhir dengan kegiatan Kuliah Kerja nyata di Desa Salipolo
                                                                        6



Kec. Cempa Kab. Pinrang. Praktek kerja eksplorasi di PPLH Puntondo Takalar

dengan judul Pembelajaran dan Pengalaman Praktik Kerja Lapangan di PPLH

Puntondo Kab. Takalar (Pengelolaan     Ekosistem Mangrove dalam Upaya

Penanggulangan Abrasi Pantai)   dan Studi Kesesuaian Ekosistem Mangrove

sebagai Ojek Ekowisata di Pulau Kapota Taman Nasional Wakatobi Sulawesi

Tenggara sebagai tugas akhir.


     .
                                                                           7



                            KATA PENGANTAR


      Segala puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas pertolongan

dan rahmat hidayah yang telah diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan

penyusunan skripsi ini. Skripsi ini berjudul Studi Kesesuaian Ekosistem

Mangrove sebagai Obyek Ekowisata di Pulau Kapota Taman Nasional

Wakatobi Sulawesi Tenggara disusun berdasarkan data-data hasil penelitian

yang dilaksanakan di Pulau Kapota Taman Nasional Wakatobi, sebagai tugas

akhir untuk memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Ilmu Kelautan

Universitas Hasanuddin.

      Skripsi ini kupersembahkan kepada orang tuaku tercinta, tersayang dan

terkasih Ayahanda N. Ruutana dan Ibunda Liong Koruwu atas dukungan doa

yang senantiasa menyertai perjalanan hidup penulis, limpahan kasih sayangnya,

nasehat-nasehat yang menjadi pedoman dalam menjalani hidup, dan terutama

dukungan material yang tak ternilai harganya. Yang tersayang saudaraku Alfons

R. dan Fifi Novianti R terima kasih     atas semua doa dan dukungannya.

Akhirnya dengan Kemurahan Tuhan       penulis bisa menyelesaikan skripsi ini

walaupun masih jauh dari kesempurnaan, oleh karenanya kritik dan saran bagi

pembaca sangat diharapkan. Dengan adanya penelitian ini penulis berharap apa

yang telah dilakukan dapat di terima dan bermanfaat serta membawa kepada

kesuksesan.




                                                              Penulis



                                                       Foltra Feronika R
                                                                             8



                          UCAPAN TERIMA KASIH



       Penyusunan skripsi ini tidak dapat terlaksana dengan baik tanpa bantuan

dari berbagai pihak, oleh karena pada kesempatan yang berbahagia ini penulis

ingin mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada :.

1. Bapak Prof.Dr.Ir.H.M. Natsir Nessa, MS selaku pembimbing utama yang

   telah meluangkan waktunya untuk memberikan arahan dan nasehat-nasehat

   demi kesempurnaan penyusunan skripsi ini.

2. Bapak Prof.Dr. Amran Saru, ST, M.Si selaku pembimbing anggota yang

   telah memberikan arahan serta saran-saran dalam pelaksanaan penyusunan

   skripsi ini.

3. Ibu Dekan FIKP, Pembantu Dekan FIKP, Ketua Jurusan Ilmu Kelautan dan

   Ketua Program Studi Ilmu Kelautan yang telah memberikan kebijakan selama

   penulis aktif dalam perkuliahan

4. Bapak Dr.Ir.Syafiuddin, M.Si      sebagai penasehat   akademik, yang telah

   banyak memberikan bimbingan dan arahan akademik.

5. Bapak Ir. Marzuki Ukkas, DEA, Dr.M. Rijal Idrus,M.Sc dan Ibu Prof.

   Dr.Ir.A.Niartiningsih, M.P sebagai tim penguji, yang telah memberikan kritik

   dan saran selama penelitian.

6. Bapak dan Ibu staf pengajar serta karyawan Jurusan Ilmu Kelautan atas

   segala pengetahuan dan bimbingan yang telah diberikan selama penulis

   menuntut ilmu dibangku perkuliahan.

7. O’m dan Tanteku tercinta terima kasih buat dukungan doa, dukungan

   material, tenaga, pikiran dan nasehat-nasehat dalam menjalani hidup.

8. Teman-teman tim work Wakatobi:        La Ode Maruf, Retha Sahertian dan

   Irwanto. Terima kasih atas waktu dan bantuan yang telah di persembahkan

   pada penulis.
                                                                             9



9. Teman-teman KKN semester antara 2007 Unhas posko Salipolo Muja, sari,

   Tari, Inci, Irha, suci, Atir, Candra, Ka’ Adan dan Ka’ Ando terima kasih

   atas bantuannya selama berada di Salipolo

10. Saudara-saudara seperjuangan Klana (2006) Cici, Riri, Febe, Jumita,

   Sardiana, Rahmat, Chindung, Zul, Fitra, Agus, Mucha, Ahmad, Edwin,

   Kasmal, Maskur, Erick, Asdar, Lukman, Iqbal dan Abd Wahid terima

   kasih atas kebersamaan, canda, dan tawa yang senantiasa menghisi

   kehidupan penulis selama berada di kampus merah.

11. Sahabat-sahabatku Hasnidar, Riskawati, Nurjannah, Musdalifah, dan A.

   Hasriani atas dukungan dan suportnya.

12. Keluarga besar Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin.

   yang masih ada hingga saat ini.

13. Teman spesialku Roy yang selalu memberikan semangat dan dukungan

   dalam penulisan skripsi.

14. Staf Balai Taman Nasional Wakatobi atas bantuan kerjasamanya dalam

   penelitian.

15. Kak Hardin, Kak Iksan dan Kak Marni terima Kasih atas Kritik, saran dan

   dukunganya dalam pengambilan data selama berada di Lokasi.

16. Dg Te’ne terima kasih atas tumpangan yang telah diberikan kepada penulis .

       Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas semua bentuk kebaikan dan

ketulusan yang telah diberikan.
                                                                                                              10



                                                DAFTAR ISI



                                                                                                       Halaman

DAFTAR TABEL .........................................................................................          x
DAFTAR GAMBAR .....................................................................................            xi
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................            xiii

I. PENDAHULUAN ......................................................................................           1

       A. Latar Belakang ...............................................................................        1
       B. Tujuan dan Kegunaan ....................................................................              4

       C. Ruang Lingkup Penelitian ..............................................................               4

II. TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................              5

       A. Pengertian Wisata-Prinsip Dasar Ekowisata ...................................                         5

       B. Ekosistem Mangrove ......................................................................             9

       C. Ekowisata Mangrove ......................................................................           18

       D. Analisis kesesuaian Ekowisata ......................................................                28

III. BAHAN DAN METODE ..........................................................................              30

       A. Waktu dan Lokasi ..........................................................................         30

       B. Alat dan Bahan ..............................................................................       31

       C. Prosedur Penelitian .......................................................................         31

       D. Analisis Data .................................................................................     46

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................................                   47

        A. Gambaran Umum Lokasi ..............................................................                47

        B. Kondisi Ekosistem Mangrove Pulau Kapota ................................                           47

        C. Aspek Ekologi................................................................................      48

        D. Jenis Biota.....................................................................................   52

        E. Kegiatan Masyarakat .....................................................................          60

        F. Asksesibilitas, Sarana dan Prasarana ............................................                  66

        G. Kondisi Oseanografi ......................................................................         66
                                                                                                                11



        H. Kondisi saat ini .............................................................................       68

        I. Analisis Kesesuaian Ekowisata Mangrove ....................................                          69

       J. Kondisi Masyarakat sekitar, pengunjung dan pemangku kebijakan                                         81

V. SIMPULAN DAN SARAN .......................................................................                   90

         A. Simpulan ......................................................................................     90

         B. Saran ...........................................................................................   90

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................             92

LAMPIRAN .................................................................................................      95
                                                                                                          12



                                     DAFTAR TABEL




Nomor                                                                                      Halaman




 1. Indeks keanekaragaman jenis .................................................... ... ....20
 2. Kesesuaian ekowisata mangrove................................................ . . ....29
 3. Ukuran partikel sedimen menurut standar Wenworth .................. ........39
 4. Potensi ekologis pengunjung (K) dan luas area kegiatan (Lt) ...... .. ....41
 5. Waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan wisata .............. ...........42
 6. Matriks kesesuaian area untuk wisata pantai kategori wisata
     mangrove….............................................................................. ...........43
 7. Sistem penilaian Kesesuaian Area Untuk Wisata Ekosistem
     Mangrove ................................................................................. ...........44
 8. Interval nilai kesesuaian berdasarkan kategori kesesuaian ...... ..... .....45
 9. Komposisi jenis mangrove yang ditemukan di kawasan Ekosistem
      Mangrove di Pulau Kapota...... ................................................ …........50
 10. Kerapatan mangrove yang ditemukan di kawasan Ekosistem
     Mangrove di Pulau Kapota ....................................................... ...........51
 11. Jenis burung yang ditemukan di kawasan Ekosistem Mangrove
     di Pulau Kapota………………………………………………………… ...53
 12. Jenis reptil yang ditemukan di kawasan Ekosistem Mangrove
      di Pulau Kapota ....................................................................... …… ..55
 13. Jenis ikan yang ditemukan di kawasan Ekosistem Mangrove
     di Pulau Kapota.....................................................................................56
 14. Jenis moluska dan cacing yang ditemukan di kawasan Ekosistem
     Mangrove di Pulau Kapota.................................................................. 58
 15. Jenis Crustacea yang ditemukan di kawasan Ekosistem Mangrove
     di Pulau Kapota………………………………………………………..... 59
 16. Jumlah penduduk Pulau Kapota .............................................. ..... . 60
 17. Jumlah bangunan sekolah di tiap desa Pulau Kapota .............. ..... . 61
 18. Kegiatan pendidikan di Pulau Kapota ...................................... .....                    61
 19. Kategori Tingkat Kasesuaian Lahan Pada Stasiun 1……………….. 70
 20. Kategori Tingkat Kesesuaian Lahan Pada Stasiun 2………………. 74
                                                                                          13



21. Kategori Tingkat Kesesuaian Lahan Pada Stasiun 3............... .....                77
22. Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) (%)………………………………… 80
23. Karakteristik pengunjung hutan mangrove ............................... ..... . 84
24. Jenis objek wisata Pulau kapota .............................................. ..... . 86
25. Minat pengunjung pada daerah hutan mangrove……………………. 87
                                                                                                       14



                                 DAFTAR GAMBAR




Nomor                                                                                  Halaman


1.    Salah satu tipe zonasi hutan mangrove di Indonesia…………...............13
2.    Peta lokasi penelitian Pulau Kapota           ...................................... .............30
3.    Peta stasiun pengamatan sampel ........................................... .............33
4. Ketebalan hutan mangrove Pulau Kapota.............................................48
5. Atraksi burung pada ekosistem mangrove............................................54
6. Jenis-jenis Sponge di Pulau Kapota .......................................... .............55
7. Jenis-jenis Ubur-ubur di Pulau Kapota ...................................... .............57
8. Jenis-jenis Moluska di Pulau Kapota ........................................ .............58
9. Jenis-jenis Crustacea di Pulau Kapota ...................................... .............59
10. Jenis-jenis Angrek pada ekosistem mangrove Pulau Kapota .... .............60
12     Tingkat pendidikan Masyarakat Pulau Kapota ........................ .............62
13.    Tingkat pekerjaan Masyarakat Pulau Kapota ......................... .............63
14.    Festival Kabuengan di Pulau Kapota....................................................65
15     Grafik Pasang surut perhari Pulau Kapota............................................67
17. Persepsi masyarakat tentang wisata .....................................................81
19.    Persepsi masyarakat tentang ekowisata ................................ .............82
20.    Persepsi masyarakat tentang ekowisata mangrove ................ .............83
                                                                                                15



                                 DAFTAR LAMPIRAN




Nomor                                                                             Halaman



1. Perhitungan Data Mangrove................................................................ 95

2. Pasang Surut Perairan Pulau Kapota ................................................. 109

3. Perhitungan sedimen ........................................................................ 110

4. Kuisioner Pengumpulan Data Sosial Ekonomi .....................................112
                                                                            16



                             I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

       Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, yang memiliki

17.508 pulau dengan panjang garis pantai 81.000 km, memiliki potensi

sumberdaya pesisir dan lautan yang sangat besar (Bengen, 2001). Besarnya

potensi sumberdaya kelautan Indonesia tersebut, sangat strategis untuk

dikembangkan dalam bidang wisata demi membangun perekonomian dan

menunjang kesejahteraan masyarakat yang mengacu pada semagat otonomi

daerah dan kemandirian masyarakat lokal.

       Salah satu dari sumber yang mendapat perhatian di wilayah pesisir

adalah ekosistem mangrove. Fungsi hutan mangrove sebagai spawning ground,

feeding ground, dan juga nursery ground, di samping sebagai tempat

penampung sedimen, sehingga hutan mangrove merupakan ekosistem dengan

tingkat produktivitas yang tinggi dengan berbagai macam fungsi ekonomi, sosial,

dan lingkungan yang penting. Salah satu fungsi sosial hutan mangrove adalah

memungkinkannya berfungsi sebagai tujuan wisata.

       Pemanfaatan ekosistem mangrove untuk ekowisata sejalan dengan

pergeseran minat wisatawan dari old tourism yaitu wisatawan yang hanya datang

melakukan wisata saja tanpa ada unsur pendidikan dan konservasi menjadi new

tourisem yaitu wisatawan yang datang untuk melakukan wisata ada unsure

pendidikan dan konservasi didalanmya. Untuk mengelolah dan mencari daerah

tujuan ekowisata yang spesifik alami dan kaya akan keanekaragaman hayati.

       Hutan   Mangrove    sangat   berpotensi   untuk   dikembangkan    dalam

meningkatkan kesejateraan masyarakat karena memiliki keunikan dan kekhasan

tersendiri seperti bentuk perakarannya yang khas serta berbagai jenis fauna

yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove seperti beraneka ragam jenis

burung, ular, biawak, udang, ikan, moluska, dan kepiting serta sebagai tempat
                                                                          17



berasosiasinya tumbuhan epifit seperti angrek. Untuk itu potensi ekosistem

mangrove sangat baik untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan ekowisata

alternatif.

         Sesuai dengan UU No. 5 Tahun 1967, tentang Ketentuan-ketentuan

Pokok Kehutanan dan UU No. 5 Tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya

Alam Hayati dan Ekosistemnya serta UU No. 9 Tahun 1990, tentang

Kepariwisataan, agar diperolah manfaat yang optimal dari potensi sumber daya

alam tersebut, kebijaksanaan pembangunan bidang kehutanan di dasarkan atas

asas manfaat dan lestari serta konservasi sumber daya alam hayati dan

ekosistemnya. Salah satu manfaat yang dapat dikembangkan di dalam kawasan

hutan dan perairan, sesuai fungsinya adalah sebagai obyek rekreasi dan wisata

alam. Saat ini telah ditetapkan 31 Kawasan Taman Nasional, 4 Taman Hutan

Raya, 67 Taman Wisata Alam, 13 Taman Buru dan 9 Taman Wisata Laut yang

sebagian atau seluruh kawasan tersebut dapat dikembangkan sebagai obyek

dan daya tarik wisata alam.

         Sesuai dengan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional

(RIPPNAS), wilayah Indonesia dibagi menjadi enam Wilayah Pengembangan

Pariwisata. Keenam Wilayah Pengembangan tersebut adalah Wilayah A

(Sumatera), Wilayah B (Jawa), Wilayah C (Bali dan Nusa Tenggara), Wilayah D

(Kalimantan), Wilayah E (Sulawesi dan Maluku) dan Wilayah F (Maluku dan Irian

Jaya).

         Sulawesi Tenggara sebagai subsistem Wilayah E tidak dapat terlepas

dari Wilayah Pengambangan yang lain, dengan semakin jenuhnya pasar

konsumen wisata yang diakibatkan oleh kurang dikenalnya potensi alam sebagai

daya tarik wisata maka perlu diupayakan adanya tema baru sebagai daya tarik

wisata yaitu wisata yang manusiawi dan ramah lingkungan.
                                                                               18



       Kabupaten Wakatobi merupakan kawasan konservasi perairan laut

(marine conservation area) yang memliki luas 1.390.000 ha ditunjuk sebagai

taman nasional pada tanggal 30 Juli 1996 berdasarkan Keputusan Menteri

Kehutanan Nomor 393/Kpts-VI/1996. Luasan mangrove di Pulau Kaledupa

247,45 ha      yang berada dalam zonasi Taman Nasional Laut Wakatobi.

Keanekaragaman mangrove tercatat 21 jenis dan 11 jenis mangrove ikutan.

Mangrove sejati, antara lain : Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, Osbornia

octodonta, Ceriops tagal, Xylocarpus moluccensis, Scyphiphora hydrophyllacea,

Bruguiera gymnorrhiza, Avicennia marina, Pemphis acidula, dan Avicennia

officinalis. Luasan areal mangrove tertinggi itu terdapat di Pulau Kaledupa.

       Pulau Kapota adalah salah satu gugus Pulau yang berada di Kepulauan

Wakatobi yang memiliki luas 73.5 km dan sebagian besar masyarakatnya

bermatapencaharian sebagai nelayan. Untuk memenuhi akan kebutuhan hidup,

mereka tergantung dari hasil tangkapan.        Dimana hasil tangkapanya adalah

sebagian besar bersumber dari ikan-ikan, udang, kepiting, moluska dari sekitar

ekosistem mangrove.

       Mengingat Pulau Kapota merupakan bagian dari taman nasional wakatobi

yang terlatak di sulawasi tenggara memungkinkan untuk dijadikan tempat

ekowisata   Mangrove.    Namun      demikian   informasi   mengenai   kesesuaian

mangrove belum tersedia, itu perlu dilakukan studi kelayakan ekowisata

mangrove. Oleh karena itu penelitian ini sangat dibutuhkan untuk pengembangan

ekowisata mangrove di daerah tersebut.

B. Tujuan dan kegunaan penelitian

       Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui kelayakan ekosistem mangrove di Pulau Kapota sebagai objek

  ekowisata,
                                                                              19



2. Menginventarisasi sarana dan prasarana pendukung di Pulau Kapota yang

  dapat menunjang pengembangan ekowisata mangrove.

3. Mengetahui persepsi stakeholder dalam melakukan kegiatan ekowisata

  mangrove di Pulau Kapota.

       Sedangkan kegunaan dari penelitian ini adalah untuk memberikan

informasi kepada pengelolah kawasan atau pemerintah setempat tentang adanya

kemungkinan-kemungkinan untuk melakukan kegiatan ekowisata ekosistem

mangrove.

C.Ruang Lingkup Penelitian

       Ruang lingkup penelitian ini di batasi pada beberapa parameter yaitu

parameter ekologi (pengukuran kerapatan jenis, kerapatan relatif jenis, frekwensi

jenis, frekwensi rekatif jenis, penutupan jenis, penutupan relatif jenis).

Mengamati asosiasi yang terjadi pada ekosistem mangrove.        Mengidentifikasi

ketersediaan sarana dan prasarana dasar yang telah ada pada objek wisata dan

parameter pendukung meliputi (pasang surut dan substrat).
                                                                             20



                               II.TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengertian Wisata-Ekowisata

   1 . Pengertian Wisata

       Menurut Undang-undang Nomor 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan,

wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang

dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan

daya tarik wisata.

       Wisata adalah perjalanan keluar tempat tinggalnya mengunjungi tempat

tertentu secara sukarela dan bersifat sementara dengan maksud berlibur,

bertamasya, dan/atau kepentingan lain ditempat lain yang dikunjunginya, bukan

untuk mencari nafkah (Warpani, 2007).

       Menurut Yulianda (2006), wisata dapat diklasifikasikan menjadi :

1. Wisata alam (nature tourism), merupakan aktifitas wisata yang ditujukan pada

  pemanfaatan sumberdaya alam atau daya tarik panoramanya.

2. Wisata budaya (cultural tourism), merupakan wisata dengan kekayaan budaya

  sebagai obyek wisata dengan penekanan pada aspek pendidikan.

3. Ecotourism, green tourism atau alternative tourism, merupakan wisata

  berorientasi pada lingkungan untuk menjembatani kepentingan perlindungan

  sumberdaya alam/lingkungan dan industri kepariwisataan

   2. Pariwisata

       Pariwisata adalah keluar rekreasi diluar domisili untuk melepas diri dari

perkerjaan rutin atau mencari suasana lain. Menurut Undang-undang No. 9

Tahun 1990 tentang kepariwisataan menyatakan Pariwisata sebagai segala

sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan

daya tarik serta usaha-usaha yang terkait dibidang tersebut. Kepariwisataan

mempunyai peranan penting untuk memperluas dan meratakan kesempatan
                                                                                21



berusaha dan lapangan kerja, mendorong pembangunan daerah, memperbesar

pendapatan    nasional    dalam    rangka   meningkatkan     kesejahteraan     dan

kemakmuran rakyat serta memupuk rasa cinta tanah air, memperkaya

kebudayaan nasional dan memantapkan pembinaannya dalam memperkukuh jati

diri bangsa (Damanik dan Weber, 2006).

     Suswantoro     (1997)   dalam    Utama    (2009),    menyatakan     pariwisata

merupakan suatu proses kepergian sementara seseorang atau lebih menuju

tempat lain diluar tempat tinggalnya. Dorongan kepergiannya adalah karena

berbagai kepentingan, baik karena kepentingan ekonomi, sosial, kebudayaan,

politik, agama, kesehatan maupun kepentingan lain seperti karena sekedar ingin

tahu, menambah pengalaman ataupun sekedar untuk belajar.

       Ecotourism     Research     Group      (1996)     dalam   Utama     (2009),

mendeskripsikan bahwa yang membatasi tentang wisata bertumpu pada

lingkungan alam dan budaya yang terkait dengan:

1. Mendidik tentang fungsi dan manfaat lingkungan,

2. Meningkatkan kesadaran lingkungan,

3. Bermanfaat secara ekologi, sosial dan ekonomi,

4. Menyumbang langsung pada keberkelanjutan.

       Soemarwoto (2006) dalam Utama (2009), menjelaskan bahwa ekowisata

tidak terbatas pada objek alam, melainkan mencakup pula kebudayaan. Interaksi

lingkungan hidup dengan manusia menciptakan lingkungan hidup seperti yang

ada di suatu tempat dan sebaliknya kebudayaan manusia di tempat tersebut

tercipta dari interaksi itu juga. Lingkungan hidup biogeofisik tak dapat dipisahkan

dari lingkungan hidup sosial-budaya, kepada para ekowisatawan disajikan

keduanya secara utuh. Secara keseluruhan tidak ada yang membedakan antara

pariwisata, wisata dan ekowisata, pembeda yang nyata adalah ruang dan waktu

pelaksanaan wisata tersebut, karena dalam penyelenggaraan suatu kegiatan
                                                                                22



satu komponen dengan yang lainnya saling berkaitan dan mendukung, sehingga

penyelenggaraan wisata dapat berjalan dengan baik.

      3. Pengertian Wisatawan

          Wisatawan atau pelancong atau turis adalah orang yang melakukan

kegiatan      wisata.   Wisatawan   dapat   dipilah   dalam   kategori   wisatawan

mancanegara yaitu wisatawan dari berbagai negara lain yang berkunjung

kewilayah negara X, dan warga negara X yang berwisata keluar wilayah negara

X . Wisatawan nasional (domestik) yaitu wisatawan yang melakukan kegiatan

wisata di dalam wilayah negara X. Di Indonesia wisatawan domestik terdiri atas

wisatawan nusantara, yaitu warga negara Indonesia; dan wisatawan domestik

asing, yaitu warga negara asing yang tinggal di Indonesia        dan berwisata di

dalam wilayah Indonesia (Warpani, 2007).

          Endar, et.al. (2000) menjelaskan bahwa Menurut WTO yang dimaksud

dengan wisatawan adalah setiap pengunjung yang tinggal paling sedikit 24 jam,

akan tetapi tidak lebih dari enam bulan di tempat yang dikunjunginya. Definisi

liga bangsa-bangsa menyebutkan motif-motif orang asing sehingga disebut

wisatawan adalah:

a. Orang yang mengadakan perjalanan untuk bersenang-senang, karena alasan

      keluarga, kesehatan dan sebagainya.

b. Orang yang mengadakan perjalanan untuk mengunjungi pertemuan-

      pertemuan atau sebagai utusan (ilmiah, administrativ, diplomatik atletik dan

      sebagainya.

c.     Orang yang mengadakan perjalanan bisnis.

d. Orang yang datang dalam rangka pelayaran pesiar (seacruise), juga kalau ia

      tinggal kurang dari 24 jam.

          Menurut Soekadijo (2000), istilah wisatawan tidak berlaku bagi orang-

     orang berikut :
                                                                           23



a. Orang Indonesia bermukim di negara asing, dan kembali ke Indonesia

   sementara waktu (dengan memakai paspor Indonesia / tidak tercatat sebagai

   wisatawan).

b. Orang yang datang untuk memangku jabatan atau mengadakan usaha

   disuatu negara.

c. Orang yang datang untuk menetap.

d. Penduduk daerah perbatasan dan orang yang tinggal di negara yang satu,

   akan tetapi bekerja di negara tetangganya.

e. Pelajar, mahasiswa dan kaum muda di tempat-tempat pemondokan dan

   sekolah-sekolah.

   4. Pengertian Ekowisata

       Ekowisata merupakan perjalanan wisata ke suatu lingkungan baik alam

yang alami maupun buatan serta budaya yang ada yang bersifat informatif dan

partisipatif yang bertujuan untuk menjamin kelestarian alam dan sosial-budaya.

Ekowisata menitikberatkan pada tiga hal utama yaitu; keberlangsungan alam

atau ekologi, memberikan manfaat ekonomi, dan secara psikologi dapat diterima

dalam kehidupan sosial masyarakat. Jadi, kegiatan ekowisata secara langsung

memberi akses kepada semua orang untuk melihat, mengetahui, dan menikmati

pengalaman alam, intelektual dan budaya masyarakat lokal. Ekowisata

memberikan kesempatan bagi para wisatawan untuk menikmati keindahan alam

dan budaya untuk mempelajari lebih jauh tentang pantingnya berbagai ragam

mahluk hidup yang ada di dalamnya dan budaya lokal yang berkembang di

kawasan tersebut. Kegiatan ekowisata dapat meningkatkan pendapatan untuk

pelestarian alam yang dijadikan sebagai obyek wisata ekowisata dan

menghasilkan keuntungan ekonomi bagi kehidupan masyarakat yang berada di

daerah tersebut atau daerah setempat (Subadra, 2008).
                                                                               24



         Perkembangan dalam sektor kepariwisataan pada saat ini melahirkan

konsep pengembangan pariwisata alternatif yang tepat dan secara aktif

membantu menjaga keberlangsungan pemanfaatan budaya dan alam secara

berkelanjutan dengan memperhatikan segala aspek dari pariwisata berkelanjutan

yaitu; ekonomi masyarakat, lingkungan, dan sosial-budaya. Pengembangan

pariwisata     alternatif   berkelanjutan   khususnya    ekowisata    merupakan

pembangunan yang mendukung pelestarian ekologi dan pemberian manfaat

yang layak secara ekonomi dan adil secara etika dan sosial terhadap

masyarakat. (Subadra, 2008).

         Ekowisata merupakan salah satu produk pariwisata alternatif yang

mempunyai tujuan seiring dengan pembangunan pariwisata berkelanjutan yaitu

pembangunan pariwisata yang secara ekologis memberikan manfaat yang layak

secara ekonomi dan adil secara etika, memberikan manfaat sosial terhadap

masyarakat guna memenuhi kebutuhan wisatawan dengan tetap memperhatikan

kelestarian kehidupan sosial-budaya, dan memberi peluang bagi generasi muda

sekarang dan yang akan datang untuk memanfaatkan dan mengembangkannya

(Subadra, 2008).

     5 . Prinsip Dasar Ekowisata

         Menurut Yilianda (2006), prinsip dasar ekowisata dapat dibagi menjadi :

a. Mencegah dan menanggulangi dampak dari aktivitas wisatawan terhadap

      alam dan budaya, pencegahan dan penanggulangan disesuaikan dengan

      sifat dan karakter alam dan budaya setempat

b. Pendidikan konservasi lingkungan

c. Pendapatan langsung untuk kawasan

d. Patisipasi masyarakat dalam perencanaan

e. Penghasilan masyarakat

f.   Menjaga keharmonisan dengan alam
                                                                               25



g. Daya dukung sebagai batas pemanfaatan

h. Kontribusi pendapatan bagi negara

B. Ekosistem Mangrove

1. Pengertian Ekosistem Mangrove

       Kata mangrove diduga berasal dari bahasa Melayu manggi-manggi, yaitu

nama yang diberikan kepada mangrove merah (Rhizophora spp.). Nama

mangrove diberikan kepada jenis tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di pantai atau

muara sungai yang menyesuaikan diri pada keadaan asin. Kadang-kadang kata

mangrove juga berarti suatu komunitas mangrove (Romimohtarto, 2001).

       Ekosistem    Mangrove    adalah   suatu    sistem   di   dalam    tempat

berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara

makhluk hidup dengan lingkungannya dan diantara makhluk hidup itu sendiri.

Terdapat pada wilayah pesisir, terpengaruh pasang surut air laut, dan di

dominasi oleh spesies pohon atau semak yang khas dan mampu tumbuh dalam

perairan asin/payau Santoso (2000) dalam Zulkifly(2008).

       Hutan bakau atau mangal merupakan sebutan umum yang digunakan

untuk menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi

oleh beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang

mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan yang asin.              Sebutan

bakau ditujukan untuk semua individu tumbuhan, sedangkan mangal ditujukan

bagi seluruh komunitas atau asosiasi yang didominasi oleh tumbuhan ini. Hutan

mangrove adalah hutan yang berkembang baik di daerah pantai yang berair

tenang dan terlindung dari hempasan ombak, serta eksistensinya selalu

dipengaruhi oleh pasang surut dan aliran sungai. Definisi lain hutan mangrove

adalah suatu kelompok tumbuhan terdiri atas berbagai macam jenis dari suku

yang berbeda, namun memiliki daya adaptasi morfologi dan fisiologis yang sama

terhadap habitat yang selalu dipengaruhi oleh pasang surut (Nybakken, 1992).
                                                                               26



        Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang

didominasi oleh beberapa jenis mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang

pada daerah pasang-surut pantai berlumpur (Bengen, 2004).

        Hutan daerah bakau merupakan suatu daerah yang dinamis, dimana

tanah lumpur dan daratan secara terus menerus dibentuk oleh tumbuh-tumbuhan

yang kemudian secara perlahan-lahan berubah menjadi daerah semi teresterial

(semi daratan) (Hutabarat dan Evans, 1986).

      Menurut Bengen (2004), ciri-ciri hutan mangrove sebagai berikut:

a.   Umumnya tumbuh pada daerah intertidal yang jenis tanahnya berlumpur,

     berlempung dan berpasir.

b. Daerahnya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari maupun yang

     hanya tergenang pada saat pasang purnama. Frekuensi genangan

     menentukan komposisi vegetasi hutan mangrove.

c. Menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat.

d. Terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat.

e. Air bersalinitas payau (2-22 per mil) hingga asin (mencapai 38 per mil).

        Daerah hutan bakau merupakan suatu daerah yang dinamis, dimana

tanah lumpur dan daratan secara terus menerus dibentuk oleh tumbuh-tumbuhan

yang kemudian secara perlahan-lahan berubah menjadi daerah semi teresterial

(semi daratan) (Hutabarat dan Evans, 1986).

2. Karakteristik dan Zonasi Hutan Mangrove

        Menurut Bengen (2004), karakteristik habitat hutan mangrove yaitu 1

Umumnya tumbuh pada daerah intertidal yang jenis tanahnya berlumpur,

berlempung dan berpasir, daerahnya tergenang air secara berkala, baik setiap

hari maupun yang hanya tergenang pada saat pasang purnama.               Frekuensi

genangan menentukan komposisi hutan mangrove, Menerima pasokan air tawar
                                                                                27



yang cukup dari darat, Terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut

yang kuat. Air bersalinitas payau (2-22 permil) hingga asin (38 permil).

       Mangrove banyak dijumpai di wilayah pesisir yang terlindung dari

gempuran ombak dan daerah yang landai. Mangrove tumbuh optimal di wilayah

pesisir yang memiliki muara sungai besar dan delta yang aliran airnya banyak

mengandung lumpur. Di wilayah pesisir            yang tidak bermuara sungai,

pertumbuhan vegetasi mangrove tidak optimal.          Mangrove sulit tumbuh di

wilayah pesisir yang terjal dan berombak besar dengan arus pasang surut kuat

karena kondisi ini tidak memungkinkan terjadinya pengendapan lumpur yang

diperlukan sebagai substrat bagi pertumbuhannya (Dahuri, 1996).

       Kartawinata dan Waluyo (1987) dalam Erwin (2005), menyatakan bahwa

faktor utama yang menyebabkan adanya zonasi pada hutan mangrove adalah

sifat-sifat tanah, disamping faktor salinitas, frekuensi serta tingkat penggenangan

dan ketahanan suatu jenis terhadap ombak dan arus, sehingga variasi zonasi ini

memanjang dari daratan sampai kepantai. Pola umum zonasi yang sering

ditemui dari arah laut kedarat, pertama adalah jalur Avicennia spp yang sering

berkolompok dengan Sonneratia sp, kemudian jalur Rhizophora spp, Bruguiera

sp dan terakhir Nypa sp. Asosiasi di hutan mangrove di Indonesia yaitu, asosiasi

antara Bruguiera sp. dan Rhizophora spp. sering ditemukan, terutama di zona

terdalam. Dari segi keanekaragaman jenis, zona transisi (peralihan antara hutan

mangrove dan hutan rawa) merupakan zona dengan jenis yang beragam yang

terdiri atas jenis-jenis mangrove yang khas dan tidak khas habitat mangrove.

Secara umum, sesuai dengan kondisi habitat lokal, tipe komunitas (berdasarkan

jenis pohon dominan) mangrove di Indonesia berbeda suatu tempat ke tempat

lain dengan variasi ketebalan dari beberapa puluh meter sampai beberapa

kilometer dari garis pantai.
                                                                                  28



         Salah satu tipe zonasi hutan mangrove di Indonesia seperti ditujukkan

pada Gambar 1, yaitu daerah yang paling dekat dengan laut, dengan substrat

agak berpasir, sering ditumbuhi oleh Avicennia spp. Pada zona ini biasa

berasosiasi dengan Sonneratia spp yang dominan tumbuh pada lumpur yang

dalam yang agak kaya dengan bahan organik. Lebih ke arah darat, hutan

mangrove umumnya didominasi oleh Rhizophora spp, di zona ini juga dijumpai

Bruguiera sp dan Xylocarpus sp. Zona berikutnya didominasi oleh Bruguiera sp.

Zona transisi antara hutan mangrove dengan hutan dataran rendah biasa

ditumbuhi oleh Nypa fruticans dan beberpa spesies palem lainnya (Bengen,

2004).




    Gambar 1. Salah satu tipe zonasi hutan mangrove di Indonesia (Bengen, 2004)

         Tidak semua tumbuh-tumbuhan memperoleh oksigen untuk akar-akarnya

dari tanah yang mengandung oksigen, mangrove tumbuh di tanah yang tidak

mengandung oksigen dan harus memperoleh hampir seluruh oksigen untuk akar-

akar mereka dari atmosfer. Spesies Rhizophora memenuhi kebutuhan tersebut

dengan akar-akar tunjang yang mencuat sampai mempunyai banyak pori-pori

yang disebut lenticels. Pada waktu air surut, oksigen terserap ke dalam tanaman

melalui lenticels dan turun ke akar-akar (Supriharyono, 2000).
                                                                               29



       Berbeda dengan Rhizophora, jenis Sonneratia, Avicennia dan Xylocarpus

tidak memiliki akar-akar tunjang, tetapi mempunyai pneumatophores, yaitu akar-

akar yang mencuat secara vertikal keluar dari bawah tanah. Pada waktu surut,

udara masuk melalui pneumatophore dan menyebarkan ke bawah selanjutnya ke

seluruh jaringan hidup di akar (Supriharyono, 2000).

3. Fungsi dan Manfaat Vegetasi Mangrove

       Mangrove memiliki fungsi dan manfaat penting bagi darat dan laut.

Berikut fungsi dan manfaat tersebut dibagi menjadi 3 kategori yaitu, Fungsi Fisik,

Biologis dan Ekonomi.

a. Fungsi Fisik

       Sebagai peredam gelombang dan angin badai, pelindung dari abrasi,

penahan lumpur dan perangkap sedimen (Bengen, 2004). Kerapatan pohon

mampu meredam atau menetralisir peningkatan salinitas. Perakaran yang rapat

akan menyerap unsur-unsur yang mengakibatkan meningkatnya salinitas.

Bentuk-bentuk perakaran yang telah beradaptasi terhadap kondisi salinitas tinggi

menyebabkan tingkat salinitas di daerah sekitar tegakan menurun (Arief, 2003).

Selain itu akar-akar mangrove dapat pula menahan adanya pengendapan lumpur

yang dibawa oleh sungai-sungai di sekitarnya, sehingga lahan mangrove dapat

semakin luas tumbuh keluar. Dengan adanya hutan mangrove di daerah pantai,

dapat berfungsi untuk mencegah dan melindungai daerah pertambak dari

ancaman erosi pantai akibat hantaman ombak (DKP Sul Sel dan LP3WP, 2006).

b.Fungsi Biologis

       Sebagai daerah asuhan (nursery ground), daerah mencari makan

(feeding ground) dan daerah pemijahan (spawning ground) berbagai jenis ikan,

udang dan berbagai jenis biota laut lainnya, penghasil sejumlah besar detritus

dari daun dan dahan pohon mangrove (Bengen, 2004).
                                                                           30



       Daerah hutan mangrove dapat dihuni bermacam-macam fauna. Hewan-

hewan darat termasuk serangga, kera pemakan daun-daunan yang suka hidup

dibawah naungan pohon-pohonan, ular dan golongan melata lainnya. Hewan laut

diwakili oleh golongan epifauna yang beranekaragam dimana hidupnya

menempel pada batang-batang pohon dan golongan infauna yang tinggal

didalam lapisan tanah atau lumpur. Kayu dari pohon mangrove itu sendiri adalah

suatu hasil produksi yang berharga (Hutabarat dan Evans, 1984).

c. Fungsi Ekonomi

       Sebagai sumber bahan bakar dan bangunan, lahan untuk perikanan dan

pertanian serta tempat tersedianya bahan makanan (Arief, 2003). Selanjutnya

Nontji (2002) menambahkan bahwa berbagai tumbuhan dari hutan mangrove di

manfaatkan untuk bermacam keperluan. Produk hutan mangrove antara lain

digunakan untuk kayu bakar, pembuatan arang, bahan penyamak (tanin),

perabot rumah tangga, bahan konstruksi bangunan, obat-obatan dan sebagai

bahan untuk industri kertas.

       Kemampuan mangrove untuk mengembangkan wilayahnya ke arah laut

merupakan salah satu peran penting mangrove dalam pembentukan lahan baru.

Akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur, pohonnya

mengurangi energi gelombang dan memperlambat arus, sementara vegetasi

secara keseluruhan dapat memerangkap sedimen Davies and Claridge

(1993)dan Othman (1994) dalam Noor et al, (1999).

4. Jalur Hijau Hutan Mangrove

       Jalur hijau adalah zona perlindungan mangrove yang dipertahankan di

sepanjang pantai dan tidak diperbolehkan untuk ditebang, dikonversikan atau

dirusak. Fungsi jalur hijau pada prinsipnya adalah untuk mempertahankan pantai

dari ancaman erosi serta untuk mempertahankan fungsi mangrove sebagai

tempat berkembangbiak dan berpijah berbagai jenis ikan (Noor dkk, 1999).
                                                                              31



       Kebijakan pemerintah untuk merumuskan suatu jalur hijau dimulai pada

tahun 1975 ketika dikeluarkan SK Dirjen Perikanan (No H.I/4/2/18/ 1975) yang

mengatur perlunya dipertahankan areal di sepanjang pantai selebar 400 meter

dari rata-rata pasang rendah. Dirjen Kehutanan mengeluarkan SK No.

60/KPTS/DJ/I/ 1978 mengenai panduan silvikultur di areal air payau. Menurut SK

tersebut, jalur hijau ditetapkan selebar 10 meter di sepanjang sungai dan 50

meter di sepanjang pantai pada pasang terendah. Pada tahun 1984, menteri

Pertanian dan Menteri Kehutanan mengeluarkan Surat Keputusan Bersama No.

KB 550/246/ KPTS/1984 dan No. 082/KPTS-II/1984, yang menghimbau

pelestarian jalur hijau selebar 200 meter sepanjang pantai, melarang

penebangan mangrove di Jawa, serta melestarikan seluruh mangrove yang

tumbuh pada pulau-pulau kecil atau kurang dari 1.000 ha (Noor dkk, 1999).

       Menurut Noor, dkk (1999) dikeluarkannya SK Presiden No. 32 Tahun

1990 mengenai Pengelolaan Kawasan Lindung menggantikan seluruh peraturan

terdahulu mengenai jalur hijau. Peraturan ini memberikan perlindungan yang

lebih memadai terhadap zona jalur hijau. Menurut SK tersebut, jalur mangrove

pantai minimal 130 kali rata-rata pasang yang diukur ke darat dari titik terendah

pada saat surut.      Dalam pelaksanaannya dilapangan, SK ini ternyata memiliki

beberapa kelemahan. Beberapa kritik yang dapat disampaikan mengenai SK ini

antara lain adalah:

       SK ini tidak dapat diterapkan pada areal yang saat ini tidak memiliki

       tumbuhan mangrove lagi karena adanya eksploatasi pada masa lalu atau

       konversi. Untuk itu, hendaknya diadakan penyesuaian yaitu pada areal

       yang awalnya hanya memiliki vegetasi mangrove.

        Penentuan jalur hijau dengan menggunakan SK ini di pantai-pantai yang

       datar atau dataran lumpur yang luas tidak dapat digunakan          secara
                                                                               32



       efektif. Di beberapa daerah seperti diatas, lebar jalur hijau yang dihitung

       dari titik terendah saat air surut hanya berupa dataran lumpur saja dan

       tidak sampai ke hutan mangrovenya. Permasalahan ini dapat diatasi

       dengan mendefenisikan pengukuran dari hutan mangrove terluar dekat

       laut.

       SK ini tidak memacu adanya perlindungan terhadap mangrove secara

       menyeluruh maupun fungsi ekologisnya. SK mengesampingkan adanya

       keterkaitan ekologis, misalnya dengan mangrove daratan, sumber air

       tawar atau dengan rawa air tawar. Tanpa adanya perlindungan terhadap

       ekosistem pendukung secara terpadu, kelangsungan hidup jalur hijau

       tersebut tidak akan terjamin sepenuhnya.

       SK ini hanya memberikan pilihan untuk konservasi.         Pilihan tersebut

       umumnya tidak memadai pada daerah yang telah memiliki pemanfaatan

       tradisional yang intensif, sehingga akan menyulitkan tercapainya suatu

       konsesus pengelolaan mangrove di beberapa daerah. Misalnya di Jawa,

       hampir seluruh areal mangrove yang ada telah dimanfaatkan oleh

       penduduk, baik untuk tambak maupun berbagai bentuk pemanfaatan

       lainnya yang sebenarnya tidak mendukung konservasi mangrove.

       Peraturan terakhir mengenai jalur hijau adalah Inmendagri No. 26 Tahun

1997 tentang Penetapan Jalur Hijau Hutan Mangrove.                 Peraturan ini

menginstruksikan kepada seluruh gubernur dan bupati/walikotamadya di seluruh

Indonesia untuk melakukan penetapan jalur hijau hutan mangrove di daerahnya

masing-masing (Noor,dkk. 1999).

       Secara ekologis, lebar jalur hijau mangrove seyogyanya ditentukan

secara spesifik untuk setiap lokasi karena setiap tempat mempunyai karakteristik

lingkungan yang spesifik. Misalnya, Hilmi, dkk (1997) melakukan studi penetuan
                                                                              33



lebar jalur hijau mangrove di Angke Kapuk Jakarta menggunakan pendekatan

analisis sistem yang menghasilkan rekomendasi perkiraan lebar mangrove di

daerah tersebut sekitar 1.000 meter (Noor, dkk.1999).

       Jalur hijau hutan mangrove memiliki perana yang sangat penting dalam

menjaga kestabilan pantai.        Tujuan dari pengembangan hutan mangrove

sebagai jalur hijau antara lain adalah sebagai berikut:

   a. Melestarikan ekosistem hutan mangrove dalam kaitanya sebagai satu

       kesatuan ekologis(ecological entity).

   b. Mempertahankan        terselenggaranya     proses-proses    yang   berperan

       terhadap produktifitas sumberdaya hayati perairan estuaria maupun

       sistem perairan sekitarnya, mencakup perairan pesisir, perairan sungai

       dan rawa

   c. Melindungi garis pantai khususnya dan garis tepian perairan umumnya,

       terhadap pengikisan arus atau abrasi akibat gerakan air.

   d. Mempertahankan keseimbangan zone perairan pesisir, mencegah

       perembesan air garam ke arah daratan.

 5. Ekowisata Mangrove

       Kawasan hutan mangrove adalah salah satu kawasan pantai yang

memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri, karena keberadaan ekosistem ini

berada pada muara sungai atau estuaria. Mangrove hanya tumbuh dan

menyebar pada daerah tropis dan subtropics dengan kekhasan organisme baik

tumbuhan ataupun hewan yang hidup dan berasosiasi disana. Tumbuhan hidup

dan berasosiasi di sana adalah tumbuhan khas perairan estuari yang mampu

beradaptasi pada kisaran salinitas yang cukup luas.

       Ekowisata saat ini menjadi salah satu pilihan dalam mempromosikan

lingkungan yang khas yang terjaga keasliannya sekaligus menjadi suatu
                                                                               34



kawasan    kunjungan   wisata.     Potensi   yang   ada   adalah   suatu   konsep

pengembangan lingkungan yang berbasis pada pendekatan pemeliharaan dan

konservasi alam, mangrove sangat potensil bagi pengembangan ekowisata

karena kondisi mangrove yang sangat unik serta model wilayah yang dapat di

kembangkan sebagai sarana wisata dengan tetap menjaga keaslian hutan serta

organisme yang hidup kawasan mangrove. Suatu kawasan akan bernilai lebih

dan menjadi daya tarik tersendiri bagi orang jika di dalamnya terdapat suatu yang

khas dan unik untuk di lihat dan di rasakan. Ini menjadi kunci dari suatu

pengembangan kawasan wisata (Kasim ,2006).

        Beberapa parameter lingkungan yang dijadikan sebagai               potensi

pengembangan ekowisata mangrove adalah Kerapatan jenis mangrove,

ketebalan mangrove, spesies mangrove, pasang surut dan objek biota yang ada

di dalam ekosistem mangrove.

   a.   Jenis Mangrove

        Hutan Mangrove meliputi pohon-pohonan dan semak yang terdiri dari 12

genera tumbuhan berbunga (Avicennia sp., Sonneratia sp., Rhizophora sp.,

Bruguiera sp., Ceriops sp., Xylocarpus sp., Lumnitzera sp., Laguncularia sp.,

Aegiceras sp., Aegiatilis sp., Snaeda sp. dan Conocarpus sp.) yang termasuk ke

dalam delapan famili (Bengen, 2000).

        Vegetasi hutan mangrove di Indonesia memiliki keanekaragaman jenis

yang tinggi, namun demikian hanya terdapat kurang lebih 47 jenis tumbuhan

yang spesifik hutan mangrove. Paling tidak di dalam hutan mangrove terdapat

salah satu jenis tumbuhan sejati penting/dominan yang termasuk kedalam empat

famili: Rhizophoraceae, (Rhizophora sp., Bruguiera sp. dan Ceriops sp.),

Sonneratiaceae (Sonneratia sp.), Avicenniaceae (Avicennia sp.) dan Meliaceae

(Xylocarpus sp.) (Bengen, 2001).

   b.   Kerapatan Hutan Mangrove
                                                                              35



        Kerapatan jenis    adalah jumlah total individu spesies per luas petak

pengamatan dimana luas petak pengamatan adalah jumlah plot atau luas plot

misalnya jumlah plot yang diamati ada 10 buah, dengan luas masing-masing plot

10 m x 10 m maka total seluruh petak pengamatan adalah 1000 m (Fachrul M.

F., 2006).

   c.   keanekaragaman jenis

        Indeks keanekaragaman jenis (H’) menggambarkan keadaan populasi

organisme    secara   matematis   untuk   mempermudah      dalam    menganalisa

informasi-informasi jumlah individu masing-masing jenis dalam suatu komunitas.

Suatu komunitas dikatakan mempunyai keragaman jenis tinggi, jika kelimpahan

masing-masing jenis tinggi dan sebaliknya keaneka ragaman jenis rendah jika

hanya terdapat beberapa jenis yang melimpah (Ardi, 2002)

        Menurut   Taqwa,    ( 2010) Indeks keanekaragaman jenis (H’) adalah

angka yang menggambarkan keragaman jenis dalam suatu komunitas.

Keanekaragaman jenis adalah suatu            karakteristik tingkatan komunitas

berdasarkan organisasi biologisnya.    Keanekaragaman jenis dapat digunakan

untuk menyatakan struktur komunitas. Suatu komunitas dikatakan mempunyai

keanekaragaman jenis tinggi, jika komunitas itu disusun oleh banyak jenis

dengan kelimpahan tiap jenis yang sama atau hampir sama. Sebaliknya, jika

komunitas itu disusun oleh sangat sedikit jenis dan hanya sedikit saja jenis yang

dominan, maka keanekaragaman jenisnya

        Indek keanekaragaman mempunyai nilai terbesar jika semua individu

berasal dari genus atau spesies yang berbeda-beda, sedangkan nilai terkecil

didapat jika semua individu berasal dari satu genus atau satu spesies saja(

Odum 1971). Adapun kategori indeks keanekaragaman jenis dapat di lihat pada

Table 1. Indeks keanekaragaman jenis
                                                                                   36



  Indeks keanekaragaman                  Kategori
  H’≤2,0                                 Rendah

  2,0<H’≤3,0                             Sedang
  H’≥3,0                                 Tinggi



       d.     Biota Hutan Mangrove

             Menurut Bengen (2004), komunitas fauna hutan mangrove membentuk

percampuran antara dua kelompok yaitu :

(1.) Kelompok fauna daratan/ terestial yang umumnya menempati bagian bagian

       atas pohon mangrove, terdiri atas: insekta, ular, primata, dan burung.

       Kelompok ini tidak memiliki sifat adaptasi khusus untuk hidup didalam hutan

       mangrove, karena melewatkan sebagian besar hidupnya diluar jangkauan air

       laut pada bagian pohon yang tinggi, meskipun mereka dapat mengumpulkan

       makanannya berupa hewan lautan pada saat air surut.

(2.)         Kelompok fauna perairan/akuatik, terdiri atas dua tipe yaitu : Yang hidup

dikolom air, terutama barbagai jenis ikan, dan udang; Yang menempati substrat

baik keras (akar dan batang pohon mangrove maupun lunak (lumpur), terutama

kepiting, kerang dan berbagai jenis avertebrata lainnya.

            Komunitas mangal bersifat unik, disebabkan luas vertical pohon, dimana

organisme daratan menempati bagian atas sedangkan hewan lautan menempati

bagian bawah . Hutan - hutan bakau , membentuk percampuran yang aneh

antara organisme lautan dan daratan dan menggambarkan suatu rangkaian dari

darat kelaut dan sebaliknya (Nybakken, 1992).

             Biota-biota yang sering mengunjungi hutan mangrove adalah dari

vertebrata, seperti burung, amfibia, reptilia, dan mamalia.

(a). Burung
                                                                                   37



     Hutan mangrove banyak di singggahi oleh beberapa jenis burung migran.

Gunawan (1995) dalam Tuwo (2011) menemukan 53 jenis burung yang berada

di hutan mangrove Arakan Wawontulap             dan Pulau Mantehage di Sulawesi

Utara. Whitten et al (1996) dalam Tuwo (2011) menemukan beberapa jenis

burung yang dilindungi yang hidup pada hutan mangrove, yaitu pecuk ular

(Anhinga anhinga melanogaster), Bintayung (Freagata Andrew-si), Kuntul perak

kecil (Egretta garzetta), Kowak merah (Nycticorax caledonicus), Bangau tongtong

(Leptoptilos    javanicus),   Ibis   hitam   (Plegadis   falcinellus),   Bangau hitam

(Ciconiaepiscopus), burung Duit ((Vanellus indicus), Trinil tutul (Tringa guitifer),

Blekek asia (Limnodromus semipalmatus), Gejahan besar (Numenius arquata),

dan Trulek lidi (Himantopus himantopus). Selain itu Witten et al (1996) dalam

Tuwo 2011 juga melaporkan bahwa ada beberapa jenis burung yang mencari

makan di sekitar hutan mangrove, yaitu Egretta eulophotes, Kuntul perak (E.

intermedia), Kuntul putih besar (E. alba), Bluwok (Ibis cinereus), dan cangak laut

(Ardea sumatrana).

(b). Reptilia

     Hutan mangrove merupakan tempat untuk mencari makan dan berlindung

dari beberapa reptile. Nirarita et al (1996) dalam Tuwo (2011) menemukan

beberapa spesies reptilia yang sering dijumpai atau hidup di mangrove

adalah biawak (Varanus salvator), Ular belang (Boiga dendrophila), Ular

sanca (Phyton recitulatus), dan beberapa jenis ular air seperti Cerbera

rhynchop, Archrochordus granulates, Homalopsis buccata dan Fordonia

leucobalia. Di kawasan mangrove terdapat beberapa spesies ular yang

menggunakannya sebagai habitat utama; demikian pula kadal dan biawak

yang memakan insekta, ikan, kepiting dan kadang-kadang burung Ng dan

Sivasothi (2001), dalam Yakub (2010).
                                                                               38



(c). Mamalia

     Hutan mangrove merupakan tempat untuk mencari makan dan tempat untuk

bergantung dari primate seperti kelelawar. Area hutan mangrove yang terdapat

di jawa dan Kalimantan di temukan jenis primate yaiyu dari jenis Macaca

fascicularis, sedang di Kalimantan adalah Nasalis larvatus yang langka dan

endemik. Pada beberapa lokasi konservasi seperti CA Angke-Kapuk, TN Baluran

dan TN Ujung Kulon dijumpai Presbytis cristata (SNM, 2003 dalam Yakup 2010).

(d). Amfibia

          Kawasan hutan mangrove jarang di temukan amfibi karena mungkin

berpengaruh akibat airnya yang asin dan kondisi kulit dari amfibi yang sangat

tipis misalanya Katak sehingga kurang memungkinkan untuk hidup di kawasan

hutan mangrove.       Nirarita (1996) dalam Tuwo (2011) menemukan dua jenis

Katak yang di temukan di hutan mangrove, yaitu Rana cancrifora dan R.

limnocharis.

(e). Ikan


     Hutan mangrove merupakan tempat untuk mencari makan, pemijahan dan

tempat asuhan bagi ikan. Ikan yang terdapat di area mangrove Kota Tarakan

yang sering ditemukan pada daerah hutan mangrove yaitu alu-alu (Sphyraena

sp.), sembilang (Plotosus sp.), otek (Macrones gulio), bandeng (Chanos chanos),

gulama      (Otolithoides   biaurthus)   dan   (Dendrophysa   russeli),   senangin

(Eleunthronema sp.), belanak (Mugil sp.), kakap (Lates sp.), Therapon jarbua,

baronang (Siganus spp.), kerapu lumpur (Epinephelus sp.), Lujanus sp., dan

pepija (Harpodon neherius) Pemerintah kota Tarakan (2004)dalam Wiharyanto,

(2007).

(f). Custacea.
                                                                             39



    Crustacea menjadikan kawasan hutan mangrove sebagai tempat tinggal,

tempat memijah, tempat mengasuh dan mencari makan.            Crustacea seperti

remis, udang dan kepiting sangat melimpah di ekosistem mangrove. Salah satu

yang terkenal adalah kepiting lumpur (Thalassina anomala) yang dapat

membentuk gundukan tanah besar di mulut liangnya, serta kepiting biola (Uca)

yang salah satu capitnya sangat besar. Terdapat sekitar 60 spesies kepiting di

ekosistem mangrove. Kebanyakan memakan dedaunan, lainnya memakan alga

atau detritus di sedimen tanah dan membuang sisanya dalam gumpalan-

gumpalan pelet Ng dan Sivasothi, (2001) dalam Yakub (2010).

(g). Moluska

    Moluska merupakan invertebrate yang sering di jumpai pada hutan

mangrove.yaitu dari kelas gastropoda dan bivalvia.         Moluska dari kelas

gastropoda di wakili oleh sejumlah siput, suatu kelompok yang umum hidup pada

akar dan batang pohon bakau (Littorinidae) dan lainya pada lumpur idasar akar

mencakup sejumlah pemakan detritus (Ellobiidae dan Potamididae). Sedangkan

jenis bivalvia diwakili oleh tiram yang melekat pada akar bakau tempat mereka

membentuk biomassa yang nyata (Nybakken, 1992).

5). Kegiatan Masyarakat

       Kegiatan masyarakat merupakan kegiatan yang tidak berhubungan

langsung dengan hutan mangrove seperti kebudaya, festifal kebudayaan, rumah

tradisional, kerajinan tangan dan makanan khas daerah.

       Faktor budaya merupakan hal yang sangat penting dalam perencanaan

kegiatan ekowisata. Hal ini didasarkan karena masyarakat pesisir memiliki nilai-

nilai budaya, tradisi, kepercayaan dan seni budaya yang khas sehingga dapat

menjadi modal yang sangat besar pengembangan kegiatan wisata.           Budaya

adalah suatu aset-aset peninggalan berupa benda, rumah, tradisi dari daerah

yang dapat di eksploitasi untuk wisatawan, sehingga secara perekonomian kota
                                                                           40



akan meningkat pendapat Asli Daerah (PAD) yang akan menggerakkan

beberapa aktifitas-aktifitas penunjang, seperti: rumah makan, penginapan, toko

dan lain sebagainya. Upacara budaya, seperti acara ritual, upacara adat,

seremoni turun kelaut ,dan acara persembahan doa dan sajian yang dilakukan

secara masal oleh masyarakat dapat menjadi kegiatan pendukung dalam

kegiatan ekowisata (Tuwo , 2011).

       Selain sebagai bagian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, makanan

adalah nilai tambah yang dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Banyak wisatawan tertarik untuk mencoba makanan lokal, bahkan ada yang

datang ke daerah wisata hanya untuk mencicipi makanan khas tempat tersebut

sehingga kesempatan untuk memperkenalkan makanan lokal terbuka lebar. Bagi

wisatawan, mencicipi makanan local merupakan pengalaman menarik. Hal-hal

penting yang harus diperhatikan dalam mengelola usaha makanan dan minuman

adalah jenis dan variasi hidangan yang disajikan, cara penyajian yang menarik,

kebersihan makanan dan minuman yang disajikan, kualitas pelayanan serta

lokasi usaha tersebut. Penyedia jasa harus memperhatikan apakah lokasi

usahanya menjadi satu dengan sarana akomodasi, atau dekat dengan obyek

wisata sehingga mudah dikunjungi (Damanik, dkk. 2006).

6). Aksesibilitas

   Aksebilitas yang mudah serta sarana dan prasarana yang memadai sangat

dibutuhkan dalam mendukung pengembangan pariwisata. kondisi ini diperlukan

untuk menarik para wisatawan agar mendapat kepuasan dalam melakukan

perjalanan wisatanya. kepuasan wisatawan ini sangat penting karena dapat

digunakan sebagai promosi untuk menarik wisatawan lainnya. sarana pendukung

yang penting yang akan dikemukakan pada bagian ini melipiti sarana dan

prasaran, transportasi, akomodasi yang berupa penginapan dan restoran, biro

perjalanan serta transportasi (Wiharyanto,2007).
                                                                            41



       Menurut Sukarsa dalam Nasrullah (2006), menjelaskan bahwa sarana

pokok kepariwisataan adalah perusahaan yang hidup dan kehidupannya sangat

tergantung kepada arus kedatangan orang yang melakukan perjalanan wisata,

meliputi:

 a. Akomodasi (accomodation), sarana akomodasi dibutuhkan apabila wisata

     diselenggarakan dalam waktu lebih dari 24 jam dan direncanakan untuk

     menggunakan sarana akomodasi tertntu sebagai tempat menginap.

 b. Transportasi (tourist transportation), sarana transportasi berkaitan erat

     dengan mobilisasi wisatawan. Dalam perkembangan pariwisata alat

     transportasi tidak hanya dipakai sebagai sarana untuk membawa

     wisatawan dari suatu tempat ketempat lain saja, namun juga digunakan

     sebagai atraksi wisata yang menarik.

 c. Penyediaan makanan (catering trades), dilihat dari lokasinya ada makanan

     yang disediakan di hotel dan menjadi bagian atau fasilitas hotel. Adapula

     yang berdiri sendiri secara independen. Dimanapun restoran itu berada,

     ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain: jenis atau kelas,

     menu, fasilitas, harga, lokasi, dll.

 d. Obyek dan atraksi wisata (tourist objects & tourist attraction), objek dan

     atraksi wisata dapat dibedakan atas dasar asal usulnya yang menjad

     karakteristik objek atau atraksi tersebut, yaitu objek atau atraksi wisata

     yang bersifat alami, buatan manusia serta perpaduan antara buatan

     manusia dengan keadaan alami.

       Pada dasarnya perusahaan tersebut merupakan fasilitas minimal yang

harus ada pada suatu daerah tujuan wisata. Jika salah satu tidak ada maka

dapat diketahui perjalanan wisata yang dilakukan tidak berjalan seperti yang

diharapkan. Sementara itu prasarana (infrastructure) kepariwisataan adalah

semua fasilitas yang tersedia serta yang memungkinkan segala kegiatan berjalan
                                                                              42



dengan lancar sedemikian rupa sehingga dapat memudahkan manusia untuk

dapat memenuhi keinginan dan kebutuhannya.

7). Kondisi kegiatan

       Kondisi kegiatan merupakan kegiatan yang berhubungan langsung

dengan      hutan   mangrove   misalnya   seperti   budidaya,   rehabilitasi,area

penangkapan dan wisata.

8). Pasang surut

       Pasang surut (pasut) adalah proses naik turunnya muka laut secara

   hampir periodik karena gaya tarik benda-benda angkasa, terutama bulan dan

   matahari (Dahuri, 1996). Pasut tidak hanya mempengaruhi lapisan di bagian

   teratas saja, melainkan seluruh massa air. Di perairan-perairan pantai,

   terutama di teluk-teluk atau selat-selat yang sempit, gerakan naik turunnya

   muka air akan menimbulkan terjadinya arus pasang surut. Berbeda dengan

   arus yang disebabkan oleh angin yang hanya terjadi pada air lapisan tipis di

   permukaan, arus pasut bisa mencapai lapisan yang lebih dalam (Nontji,

   2002).

9). Sedimen

       Hutan mangrove hampir selalu tumbuh secara alami pada pantai

berlumpur yang terlindung. Lumpur halus, sering kali cukup cair dan kurang

padat, merupakan media yang baik untuk perkembangan tumbuhan mangrove.

Namun demikian, tipe sedimen lain seperti pasir, gambut, dan bahkan hamparan

karang, juga dapat dimanfaatkan oleh berbagai jenis tumbuhan pioneer

(Budiman dan Suharjono, 1992).

       Berdasarkan berbagai penelitian seperti yang dilaporkan oleh Barkey

(1990) dalam Erwin (2005), dapat disimpulkan berbagai hubungan antara

komposisi vegetasi dengan karakteristik lahan/ tanah bakau :
                                                                                 43



a.   Jenis Avicennia spp. Umumnya berkembang pada tanah bertekstur halus,

     relatif kaya akan bahan organik, salinitas tinggi. Dominasi dari jenis ini pada

     umumnya     terjadi   pada   delta    sungai-sungai   besar,   dengan   tingkat

     sedimentasi tinggi dan berkadar lumpur halus yang tinggi pula.

b. Jenis Rhizophora apiculata berkembang pada tanah-tanah yang relatif lebih

     kasar dibandingkan dengan Avicennia spp, tetapi secar umum masih dapat

     digolongkan pada tanah bertekstur halus. Kadar bahan organik pada tanah

     dibawah tegakan Rhizophora apiculata adalah yang paling tinggi. Salinitas

     tanahnya sedang.

         Selanjutnya Bengen (2004) menyatakan bahwa bakau (Rhizophora spp)

dapat tumbuh dengan baik pada substrat (tanah) yang berlumpur dan dapat

mentoleransi tanah lumpur berpasir, dipantai yang agak berombak dengan

frekuensi genangan 20-40 kali/bulan. Bakau merah (Rhizophora stylosa) dapat

ditanam pada lokasi bersubstrat tanah (pasir berkoral). Api-api (Avicennia

spp)lebih cocok ditanam pada substrat (tanah) pasir berlumpur terutama dibagian

terdepan pantai, dengan frekuensi genangan 30-40 kali/bulan.

C.   Analisis Kesesuaian Ekowisata

         Pengembangan suatu jenis suatu jenis kegiatan ekowisata memerlukan

analisis terhadap semua kriteria kelayakan, seperti kriteria ekologi yang

mencakup (kerapatan jenis,keragaman spesies dan keberadaan fauna),

keunikan, biota berbahaya, keaslian, karakteristik kawasan (substrat dan pasang

surut)   dan   konservasi.    Kriteria    sosial-ekonomi   mencakup    penerimaan

masyarakat, kesehatan masyarakat, pendidikan, keamanan, dan tenaga kerja.

Sedangkan faktor penunjang mencakup aksesibilitas dan air bersih (Tuwo,2011).

         Menurut Yulianda, (2006) bahwa analisis kelayakan ekowisata mangrove

memerlukan analisis terhadap kriteria ekologi          yang mencakup ketebalan

mangrove, kerapatan mangrove dan jenis mangrove, kriteria oseanografi
                                                                                              44



     mencakup pasang surut, dan obyek biota yang berasosiasi dengan hutan

     mangrove (Tabel 2)

     Tabel 2. Kesesuaian ekowisata mangrove

No   Parameter    Bobot   Kategori    Skor   Kategori    Skor   Kategori   skor   Kategori         skor
                            S1                  S2                S3                 N
1.   Ketebalan      5      > 500       4      > 200 -     3      50 –       2      < 50             1
     mangrove                                  500                200
     (m)
2.   Kerapatan      4     > 15 -25     4     >10 – 15     3      5-10       2       <5              1
     mangrove                                  >25
           2
     (100 m )
3.   Jenis          4       >5         4      3–5         3      1–2        2        0              1
     mangrove
4.   Pasang         3      0–1         4     >1–2         3     >2–5        2       >5              1
     surut (m)
5.   Obyek          3       Ikan,      4       Ikan,      3      Ikan,      2      Salah            1
     biota                 udang,             udang,            moluska             satu
                          kepiting,          kepiting,                            biota air
                          moluska,           moluska
                            reptil,
                           burung
     Sumber : Yuliandra (2006), Bakosurtanal (1995) dan Purbani (1999).

     Keterangan:

     Nilai maksimum = 76

     S1 = Sangat sesuai, dengan nilai 80 – 100 %

     S2 = Sesuai, dengan nilai 60 - < 80 %

     S3 = Sesuai bersyarat, dengan nilai 35 - < 60 %

     N = Tidak sesuai, dengan nilai < 35 %




                                        III. METODE PENELITIAN


     A. Waktu dan Lokasi

               Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Oktober 2010

     yang meliputi tahap persiapan, pengambilan data lapangan, analisis data,
                                                                               45



penyususnan laporan akhir hasil penelitian.          Sedangkan tempat penelitian

dikakukan di Taman Nasional Wakatobi (TNW) tepatnya                  Pulau Kapota

Kabupaten Wakatobi Sulawesi Tenggara, sebagaimana ditunjukkan pada peta

lokasi (Gambar 2).




                     Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian Pulau Kapota




B. Alat dan Bahan

       Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: Speed Boad sebagai alat

transportasi menuju lokasi penelitian, Global Positioning System (GPS)

digunakan untuk menentukan titik koordinat, kompas untuk menentukan arah

transek garis, cor sediment untuk mengambil sedimen, rool meter untuk
                                                                               46



mengukur jarak atau luasan mangrove, kantong sampel untuk menyimpan

sedimen, timbangan digital untuk menimbang berat sampel sedimen, cawan petri

sebagai wadah sampel, seive net untuk menyaring sedimen, sikat untuk

membersihkan sisa sampel di seive net , tali untuk membuat transek garis dan

petak contoh, meteran sepanjang satu meter untuk mengukur batang/diameter

mangrove, kamera digital untuk mengambil gambar kegiatan dilapangan, gill net

untuk menjaring ikan dan udang, teropong untuk mengamati burung,tiang skala

untuk mengukur pasang surut, oven untuk mengeringkan sampel sedimen, alat

tulis menulis untuk mencatat data dan hasil pengukuran.

       Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: formalin 70 %, buku

identifikasi mangrove, buku identifikasi burung, buku identifikasi makrozoobentos,

aquades, daftar kuisioner berisi daftar pertanyaan terlampir yang berkaitan

dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar kawasan dan kondisi objek

wisata pulau Kapota. Beberapa literatur yang berhubungan dengan penelitian ini


C. Prosedur Penelitian

1. Tahap awal / Persiapan

       Pada tahap ini dilakukan pengumpulan literatur pendukung yang

berkaitan dengan objek penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian ini

yaitu data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui

pengamatan langsung di lapangan, dengan melakukan pengukuran potensi

hutan mangrove dan melakukan wawancara langsung dengan masyarakat

setempat serta pihak-pihak yang terkait. Untuk mengetahui persepsi stakeholder

yaitu masyarak setempat, pemangku kebijakan dan pengunjung                tentang

melakukan kegiatan ekowisata mangrove di Taman Nasional Wakatobi Pulau

Kapota.
                                                                              47



       Pengumpulan data sekunder yaitu dengan cara mengumpul dokumen

yang berkaitan dengan penelitian, peraturan perundang-undangan , data dari

BPS, data dari DKP (Dinas Kelautan Dan Perikanan), dan data Dinas Kehutanan,

Dinas Pariwisata daerah setempat.

2. Observasi awal

       Meliputi survei lapangan untuk melihat langsung lokasi yang cocok

dijadikan lokasi penelitian dan mengetahui gambaran umum lokasi penelitian.




3. Penentuan Stasiun
                                                                             48



       Stasiun pengamatan terdiri atas 3 stasiun dan tiap stasiun terdiri dari 3

plot dengan jarak tiap plot 20 meter. Prinsip penentuan stasiun ini didasarkan

pada keterwakilan lokasi dan ketebalan mangrove




                       Gambar 3 Peta stasiun penelitian

4. Pengambilan Data Lapangan

       Pengumpulan data dilakukan untuk mendapatkan informasi yang lengkap

berkaitan dengan faktor yang berpengaruh dalam pemilihan lokasi yang

berpengaruh terhadap ekowisata di lokasi ekosistem mangrove.         Data yang

dikumpulkan berupa data lapangan.
                                                                              49



a. Pengumpulan Data Ekologi.

        Adapun prosedur pengamatan dan pengambilan data mangrove yaitu:

(1). Membuat petak contoh (plot)i transek quadran dengan bentuk bujur sangkar

    ukuran luas 10 x 10 m, dengan jumlah plot sebanyak 3 unit.

(2). Mengidentifikasi nama jenis-jenis tumbuhan mangrove yang belum diketahui

    dengan cara mengambil sebagian/potongan dari ranting, lengkap dengan

    bunga dan daunnya.

(3). Menghitung jumlah spesies mangrove, jumlah anakan, mengukur diameter

    batang pohon mengrove.

         Pengolahan Data Ekologi

         Data yang dikumpulkan meliputi : data mengenai spesies, jumlah individu,

dan diameter pohon yang telah dicatat pada form mangrove, kemudian diolah

untuk memperoleh kerapatan spesies, frekuensi spesies, luas areal tutupan, nilai

penting suatu spesies, frekuensi spesies, luas areal tutupan, nilai penting suatu

spesies dan keanekaragaman spesies (Bengen, 2002):

 Kerapatan Jenis
                 ni
         Di =
                 A
Keterangan :
    Di = Kerapatan jenis (ind/m2)
     ni = Jumlah total tegakan jenis i
     A = Luas total area pengambilan contoh
 Kerapatan Relatif Jenis
                 ni
         Rdi =      x 100 %
                 n
Keterangan :
     Rdi = Kerapatan relatif penting (%)
     ni = Jumlah total tegakan jenis i
     n    = Jumlah total tegakan seluruh jenis
 Frekuensi Jenis
                                                    50



                 pi
         Fi =
                 p
Keterangan :
     Fi = Frekuensi jenis
     Pi = Jumlah petak contoh ditemukan jenis i
     p    = Jumlah total petak contoh yang diamat
 Frekuensi Relatif Jenis
                 Fi
         Rfi =      x 100 %
                 F
Keterangan :
     Rfi = Frekuensi relatif jenis
     Fi = Frekuensi jenis
     F    = Jumlah Frekuensi
 Penutupan Jenis

               BA                       DBH 2
         Ci =      ; dimana        BA =         ;
               A                           4
                              CBH
         dimana       DBH =
                               
Keterangan :
     Ci     = Penutupan Jenis, BA (dalam cm2)
     DBH = Diameter pohon jenis i (cm)
           = Konstanta (3,1416).
     CBH = Lingkaran pohon setinggi dada.
 Penutupan Relatif Jenis
                  Ci
         Rci =       x 100 %
                  C
Keterangan :
     Ci = Luas area penutupan jenis i
     C     = Luas total area untuk seluruh jenis
 Indeks nilai penting
     INP = RDi + RFi + Rci


b. Pengumpulan data Biota

Cara untuk mendapatkan data mengenai objek biota:
                                                                               51



(1). Ikan dan udang

     Ikan dan udang dikumpulkan dengan menggunakan alat tangkap gillnet.

Lokasi penangkapan ditetapkan pada tiap stasiun. Penarikan alat tangkap

(setting holing) dilakukan pada saat air pasang menjelang surut, “gill net” di

pasang pada saat air akan pasang dan hasilnya dikumpulkan pada saat setelah

air surut. Ikan dan udang yang tertangkap, kemudian di               identifikasi.

(Peristiwady,2006)

(2). Burung

     Pengamatan burung dilakukan selama satu minggu, dalam sehari

pengamatan dilakukan selama 4 jam yaitu pada waktu pagi hari jam 07.00 –

10.00 dan sore hari jam 15.30 - 17.30. Pengamatan dilakukan dengan cara

duduk diam dan bersandar di pohon mangrove sambil mengamati ke arah tajuk

dan udara. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan teropong. ( Bibby, et.

al, 2000)

(3). Moluska

  Dari transek 10 x 10 m diambil sub plot ukuran 20 x 20 cm pada tiap sisi plot

    dan ditengah, sehingga terdapat 5 sub plot.

  Sample makrozoobentos diambil dari setiap sub plot.

  Pengambilan data dilakukan pada 3 stasiun yang telah ditentukan. Sampel

    yang telah diambil kemudian disaring menggunakan Seive net 1 mm dan

    organisme makrozoobentos yang tersaring diambil dan dimasukkan ke

    dalam kantong sampel kemudian di beri pengawet formalin 70 % dan di

    identifikasi di laboratorium dengan bantuan loupe dan buku identifikasi

    makrozoobentos. (Dharma, 1992)



(4). Kepiting Dan Reptil
                                                                             52



  Pengamatan kepiting dan reptil dilakukan dengan cara mengamati secara

  langsung lapangan sekaligus di identifikasi. Jenis kepiting atau reptil yang

  belum diketahui dilakukan pengambilan gambar/foto sampel biota tersebut.

c. Pengukuran ketebalan

  Pengukuran ketebalan / lebar mangrove dilakukan secara manual dengan

  cara diukur dengan menggunakan roll meter. Roll meter ditarik tegak lurus

  dengan garis pantai mulai dari      hutan mangrove di bagian darat sampai

  dengan ujung mangrove di batas laut.

d. Pengumpulan Data Oseanografi

         Parameter oseanografi yang diukur dilapangan adalah:

(1). Pasang Surut

  Pengukuran pasang surut dilakukan selama 39 jam dengan interval waktu 60

  menit menggunakan alat tiang skala yang ditempatkan pada lokasi dimana

  pada saat pasang tertinggi dan surut terendah, tiang skala masih terendam

  air.

(2). Sedimen

  Pengambilan sedimen dilakukan pada setiap substasiun yang telah ditentukan

  dengan menggunakan cor sediment.         Sampel kemudian di masukkan ke

  dalam kantong sampel dan mencatat stasiunnya untuk selanjutnya di analisis

  di laboratorium. Adapun analisis yang dilakukan di laboratorium sebagai

  berikut:

  (a). Sedimen dicuci dengan aquades lalu dimasukkan ke dalam beaker glass

         (untuk memisahkan/ menghilangkan sampah dalam sedimen)

   (b) Sedimen dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 1500C atau

         dikeringkan dengan bantuan sinar matahari sehingga sedimen betul-betul

         kering
                                                                          53



(c). Sedimen kering tersebut di ambil dan kemudian di timbang untuk di

analisis kurang lebih 100gram sebagai berat awal

       Sampel dimasukkan ke dalam ayakan untuk di ayak selama minimum

        10 menit untuk sempurnanya pengayakan, sehingga didapatkan

        pemisahan ukuran masing-masing partikel sedimen berdasarkan

        ukuran ayakan

       Sampel dipisahkan dari ayakan (untuk antisipasi tertinggalnya butiran

        pada ayakan di sikat dengan perlahan)

       Hasilnya kembali di hitung untuk mendapatkan berapa gram hasil

        masing-masing tiap ukuran ayakan.

       Pengolahan Data Oseanografi

(a). Pasang Surut

    Pengukuran pasang surut air menggunakan persamaan (Modul Praktikum

    Fisika Oseanografi, 2006):



            H C
    DTS 
             C



    Keterangan :

        DTS = Tinggi muka air rata-rata (cm)

        H    = Tinggi muka air (cm)

        C    = Konstanta Doodson

(b). Substrat (Sedimen)

    Untuk menghitung % berat sedimen pada metode ayakan basa

digunakan rumus sebagai berikut (Penuntun Praktikum Sedimentologi, 2006):
                                                                                54



                 Berat hasil ayakan

     % Berat =                          x 100 %

                     Berat awal

   Analisis substrat (sedimen) dilakukan dengan menggunakan skala Wenworth.

   Tabel 3. Ukuran partikel sedimen menurut standar Wenworth

    Ukuran (mm)              Keterangan

    2 – 0.5                  Kasar

    0.5 – 0.25               Sedang
    <0.25                    Halus
    Sumber : Graha (1987) dalam Erwin (2005)

e. Pengumpulan data sosial Ekonomi

       Pengambilan data dilaksanakan dengan menggunakan kombinasi antara

metode wawancara dan pembagian kuisioner.

(1). Wawancara

       Wawancara dilakukan terhadap kepala keluarga yang berhubungan

langsung dengan ekosistem mangrove dengan cara wawancara langsung

dengan informan kunci yang        di susun berdasarkan kepentingan penelitian.

Model wawancara yang digunakan adalah wawancara berstruktur dengan

mengacu pada daftar pertanyaan yang di susun sehubungan dengan

pengelolaan dan perencanaan pengembangan daerah setempat.

(2). Penentuan Responden

       Responden     ditetapkan      berdasarkan   kelompok     stekholder,   yaitu

masyarakat    setempat,   pemerintah/penentu       kebijakan,   dan   pengunjung.

Pembagian kuisioner dilakukan dengan menggunakan tekhnik sampling non-

probability sampling terhadap para penentu kebijakan dan stakeholders lainnya.

Penentuan jumlah sampel dilakukan dengan menggunakan tekhnik penentuan

sampel dengan pertimbangan tertentu, metode ini dilakukan untuk mengetahui
                                                                             55



prilaku, interaksi dan tingkat kesejahtraan populasi masyarakat di sekitar hutan

mangrove dilakukan dengan menggunakan kuisioner

       Pemilihan responden lebih mengacu pada representatifnya data. Jumlah

responden dalam survei ini sebanyak 52 orang yang terdiri dari 25 masyarakat

setempat, 22 orang pengunjung dan 5 orang mewakili pemangku kebijakan.

Walaupun demikian, hal tersebut berdasar pada asumsi bahwa responden

(masyarakat) adalah homogen, sehingga jumlah responden akan dapat

digeneralisasikan. Namun semakin banyak jumlah responden dari populasi yang

homogen akan semakin meningkatkan tingkat representatifnya responden

Suryabrata (1983) dalam Nur Hamsia (2009).

(3). Mengorganisir Data

     Tahap ini dilakukan untuk menyusun data secara terstruktur berdasarkan

sumber data dan jenis data yang dikumpulkan, dengan cara pengelompokan

data berdasarkan data ekologi, pengelompokan data sarana dan prasarana

penunjang pariwisata dan pengelompokan data berdasarkan kondisi ekonomi.

Hal ini dilakukan untuk lebih memudahkan peneliti dalam menginput informasi

kedalam tahap analisis data.

f.   Daya Dukung Kawasan

       Daya dukung kawasan disini adalah kemampuan suatu kawasan/

lingkungan untuk mendukung kehidupan manusia (Yuliandra, 2006).           Untuk

menghitung daya dukung kawasan dapat digunakan rumus :



               DDK   = K x Lp/Lt x Wt/Wp



Dimana : DDK = Daya dukung kawasan

          K     = Potensi ekologis pengunjung per satuan unit area

          Lp    = Luas area atau panjang area yang dapat dimanfaatkan
                                                                                56



            Lt       = Unit area untuk kategori tertentu

            Wt   = Waktu yang disediakan oleh kawasan untuk kegiatan wisata

                         dalam satu hari

            Wp           = Waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk setiap

                            kegiatan tertentu

Sehingga daya dukung kawasan dalam kawasan konservasi perlu dibatasi

dengan “Daya Dukung Pemanfaatan” (DDP) dengan rumus:



  DDP = 0.1 x DDK



         Menurut Yuliandra, (2006) elemen - elemen pada formula daya dukung

kawasan/ lingkungan (Table 2 dan 3).

Tabel 4. Potensi ekologis pengunjung (K) dan luas area kegiatan (Lt)

    Jenis            K      Unit Area
                                                           Keterangan
  kegiatan       (orang)       (LT)

Selam            2          1000 m2     Setiap 2 orang dalam 100 x 10 m

Snorkling        1          250m2       Setiap 1 orang dalam 50 x 5 m

Wisata           1          250m2       Setiap 1 orang dalam 50 x 5 m

Lamun

Wisata           1          50 m2       Di hitung panjang Track, setiap 1 orng

Mangrove                                sepanjang 50 m

Rekreasi         1          50 m2       1 orng setiap 50 m panjang pantai

Wisata Olah 1          50 m2       1 orng setiap 50 m panjang pantai
Raga
      Sumber : Yuliandra (2006), Bakosurtanal (1995) dan Purbani (1999).
                                                                             57



       Jenis kegiatan khususnya wisata mangrove untuk satu orang wisatawan

memerlukan area untuk melakukan kegiatan wisata sepanjang 50 m dapat

dikunjungi

Tabel 5. Waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan wisata

No    Kegiatan                      Waktu yang dibutuhkan     Total waktu 1hari
                                    Wp-(jam)                  Wt-(jam)
1     Selam                                      2                     8
2     Snorkling .                                3                     6
3     Berenang                                   2                     4
4     Berperahu                                  1                     8
5     Berjemur                                   2                     4
6     Rekreasi Pantai                            3                     6
7     Olah Raga Air                              2                     4
8     Memancing                                  3                     6
9     Wisata mangrove                            2                     8
10    Wisata      lamun        &                 2                     4
      ekosistem lainnya
11    Wisata satwa                               2                     4

Sumber : Yuliandra (2006), Bakosurtanal (1995) dan Purbani (1999).

       Kegiatan ekowisata khususnya wisata mangrove untuk satu orang

wisatawan membutuhkan waktu 2 jam untuk berkunjung ke area hutan mangrove

dengan total waktu perhari 8 jam.

5. Kesesuaian Area Untuk Wisata Mangrove

       Pembobotan dan nilai untuk mengetahui besar skor dari penggabungan

beberapa variabel sehingga akan terdapat perbedaan skor antara kelas yang

satu dengan kelas yang lain, selanjutnya digunakan untuk memberi klasifikasi

kesesuaian lahan (Tabel 6).
                                                                                                                  58



           Tabel 6. Matriks kesesuaian area untuk wisata pantai kategori wisata mangrove

No   Parameter       Bobot        Kategori S1        Skor       Kategori S2
                                                                    Ss                     Kategori S3     Skor    Kategori N   Skor
        Jenis        0.182            >5              4             3-5           3            1-2          2          0         1
1    mangrove
       Biota di      0.164      Burung, Ular,         4        Burung, Biwak,     3        Monyet dan       2      Salah satu    1
     atas pohon                    Biwak,                           Ular                    Burung                    dari
                               Monyet,Insekta                                                                      organisme
2
       Biota di      0.145      ikan, udang,          4           moluska,        3    Ikan dan Moluska     2      salah satu    1
      dalam air               moluska, kepiting                kepiting, udang                                     organisme
3
4      Kondisi       0.127        Budidaya,           4          Budidaya,        3       rehabilitasi,     2      Budidaya,     1
      kegiatan                   rehabilitasi,                  rehabilitasi,          areapenangkapan
                              areapenangkapan,               areapenangkapan
5     Ketebalan      0.109         >500 m2            4         >200-500 m2       3                         2          <50 m2    1
      mangrove                      wisata                                                 50-200 m2

6     Kerapatan      0.091    > 15 -25 ind/m2         4          >10-15           3        5-10 ind/m2      2                    1
      mangrove                                                   ind/m2                                            <5ind/m2
     Aksesibilitas   0.073     Kapal, Pesawat,        4      kapal, speet boat,   3    Kapal dan Speet      2         <5
                                                                                                                     Kapal       1
7
                               Speet Boat, dan               dan mobil wisata               Boat
                                   Mobil
      Kegiatan       0.055      Kerajinan,            4       Kerajinan,          3         Rumah           2      Kerajinan     1
     masyarakat               Budaya,Festifal                Makanan,dan                tradisional, dan
                              Budaya,Rumah                      Rumah                       Festival
                              Tradisional dan                 tradisional
8                             Makanan Daerah

9       Pasut        0.036           0-1 cm           4           >1-2 cm         3         >2-5 cm         2          >5 cm     1
      Sedimen        0.018    Pasir kasar, pasir      4        Pasir kasar dan    3        Pasir halus      2            -       1
                              sedang dan pasir                  pasir sedang
10                                  halus
       Jumlah          1                             40                           30                        20                  10



           Sumber : Yuliandra (2006), Bakosurtanal (1995) dan Purbani (1999), Modifikasi
                           (2010).
                     Untuk     menentukan           indeks      kesesuaian        wisata     dapat       digunakan

                           persamaan :

           IK W       = ∑ [ Ni/Nmaks] x 100 %

                Dimana : IKW             = Indeks Kesesuaian Wisata

                             Ni          = Nilai parameter ke-i

                                              (Bobot x Skor)

                             Nmaks = Nilai maksimum dari suatu

                                              kategori wisata
                                                                                             59



       Dari matriks kesesuaian di atas maka dapat ditentukan penilaian untuk

kesesuaian area ekowisata mangrove. Sistem pembobotan disusun berdasarkan

minat pengunjung (Tabel 7) ,Yuliandra (2006), Bakosurtanal (1995) dan Purbani

(1999), Modifikasi 2010.

Tabel 7. Sistem penilaian Kesesuaian Area Untuk Wisata Ekosistem Mangrove

Rang Parameter          Bobot          S1                  S2                  S3                  N
king                            Skor        Nilai   Skor        Nilai   Skor        Nilai   Skor       Nilai
  1     Jenis
         mangrove       0.182    4      0.727        3      0.545        2      0.364        1         0.182
 2      Biota di atas
           pohon        0.164    4      0.655        3      0.491        2      0.327        1         0.164
       Biota di dalam
 3           air
                        0.145    4      0.582        3      0.436        2      0.291        1         0.145
 4     Kondisi
       kegiatan
                        0.127    4      0.509        3      0.382        2      0.255        1         0.127
 5       Ketebalan
         mangrove
                        0.109    4      0.436        3      0.327        2      0.218        1         0.109
 6       Kerapatan      0.091
         mangrove
                                 4      0.364        3      0.273        2      0.182        1         0.091
 7      Aksesibilitas
                        0.073    4      0.291        3      0.218        2      0.145        1         0.073
 8       Kegiatan
        masyarakat
                        0.055    4      0.218        3      0.164        2      0.109        1         0.055
 9
           Pasut        0.036    4      0.145        3      0.109        2      0.073        1         0.036
 10
         Sedimen        0.018    4      0.073        3      0.055       2       0.036        1         0.018
 55                       1     40        4         30        3         20        2         10           1


       Pemberian bobot dihitung dengan rumus: Bobot = Posisi rengking
                                                      Jumlah rangking

       Berdasarkan nilai skor setiap parameter, maka dilakukan penilaian

dengan menggunakan formulasi yang dikemukakan oleh Utojo dkk (2000)

sebagai berikut:

                                     Total Skor Setiap Stasiun

       Nilai Skor Hasil Evaluasi =                                           X 100%

                                        Skor Tertinggi
                                                                                   60



Untuk penentuan kategori kelayakan interval kelas sebagai berikut:

S1 (Sangat sesuai)       = X3 – X4 (Nilai Maksimum)

S2 (Cukup Sesuai)        = X2 – X3 (X2 + Ci)

S3 (Sesuai bersyarat) = X1 - X2 (X1 + Ci)

N (Tidak sesuai)         = X0 (Nilai minimum) – X1 (X0 + Ci)

        Dimana:

            X0 = nilai minimal dari skala penilaian

            X1 = hasil penjumlahan dari X0 dengan range nilai antar kelas

            X2 = Hasil penjumlahan dari X1 dan X2 dengan range nilai antar kelas

            X3 = Hasil penjumlahan dari X2 dengan range nilai antar kelas

            X3 = Nilai maksium

            Ci = Range antar kelas

      Penentuan range antar kelas menggunakan rumus :

        Ci 
               Nilai SHB max  Nilai   SHB min
                               n

        Dimana :

        Ci       : Range antar kelas

        SHB      : Skore akhir setelah penjumlahan nilai semua parameter (100%)

        N        : Jumlah kelas yang direncanakan

Tabel 8. Interval nilai kesesuaian berdasarkan kategori kesesuaian

       No.                Kategori                    % interval kesesuaian

        1.      S1 (Sangat sesuai)             81.25 – 100 %

        2.      S2 (Cukup Sesuai)              62.5 – 81. 25

        3.      S3 (Sesuai Bersyarat)          43.75 – 62.5

        4.      N (Rendah)                     < 43.75
                                                                        61



D. Analisis Data

    Analisis kesesuaian lahan digunakan untuk mengetahui tingkat kelayakan

ekowisata mangrove. Inventarisasi sarana dan prasarana termasuk persepsi

stekholder terhadap pengembangan dan penunjang ekowisata di analisis secara

deskriptif, selanjutnya ditampilkan dalam bentuk table dan gambar.
                                                                             62



                   BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi

       Pulau Kapota adalah salah satu dari gugus pulau di kepulauan Wakatobi

yang berpenghuni dan masuk kedalam Kecamatan Wangi-wangi Selatan.

Dimana luas wilayahnya sekitar 73,3 km dan dibagi menjadi 5 desa yakni, desa

Kapota inti dengan luas 11,83 km2, desa Kabita dengan luas 24 km2, desa

kabita togo dengan luas 21 km2, desa Kapota utara dengan luas 9,50 km, dan

desa Wisata Kolo 6, 93 km.

       Secara geografis Desa Kapota Utara terletak disebelah barat Pulau

Wangi-wangi yang berbatasan langsung dengan :

Sebelah Utara         : Berbatasan dengan laut Waha dan Pulau Wangi-wangi

Sebelah Selatan       : Berbatasan dengan karang Kapota dan Laut Flores

Sebelah Barat         : Berbatasan dengan Pulau Buton

Sebelah Timur          :Berbatasan dengan Pulau Komponaone dan laut

                      Kaledupa

B. Kondisi Ekosistem Mangrove

       Hutan Mangrove di kawasan Pulau Kapota memiliki luas kurang lebih 10

ha dengan panjang garis pantai 13 km dan lebar Pulau Kapota 3,5 km. Hutan

mangrove Pulau Kapota diperkirakan sudah berumur berpuluh-puluh tahun jika

di lihat dari diameter batang pohon yang mencapai 4,5 cm–160 cm sedangkan

tinggi mangrove yang terdapat dipulau kapota antara 3 – 20 meter kondisi seperti

ini menunjukan bahwa di Pulau Kapota masih terjaga kelestarian ekostem

mangrovenya.

       Pulau Kapota merupakan daerah pengembangan ekowisata salah

satunya   adalah   ekowisata   mangrove    yang   sekarang   ini   sudah   mulai

dipromosikan oleh Balai Taman Tasional Wakatobi.       Ekisistem mangrovenya
                                                                                      63



sangat spesisfik dan khas karena tidak terletak pada pinggir pantai tertapi

terletak berada sekitar 300 meter dari garis pantai pulau sehingga layak untuk

dijadikan ekowisata. Jenis mangrove yang tumbuh pada daerah tersebut adalah

jenis Xylocarpus granatum, Xylocarpus moluccensis, Sonneratia alba, Bruguiera

gymnorrhiza dan Scyphiphora hydrophyllacea. Ekosistem mangrove ini juga di

tumbuhi oleh beberapa jenis angrek dari genus Dendrobium dan Phalaenopsis.

C . Aspek Ekologi

   1. Ketebalan Hutan Mangrove

       Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di kawasan ekosistem

mangrove di pulau kapota               didapatkan hasil pengukuran lebar ekosistem

mangrove pada setiap stasiun (Gambar 3).


                             Ketebalan Hutan Mangrove

    Stasiun III


     Stasiun II


     Stasiun I


                  0            50          100            150    200            250
                          Stasiun I              Stasiun II       Stasiun III
        Series1              46                     126              209


                      Gambar 3 . Ketebalan Hutan Mangrove pulau kapota

       Berdasarkan pernyataan (Wantasen, 2002) bahwa pantai yang landai

memiliki tingkat keanekaragaman ekosistem mangrove yang tinggi dibandingkan

dengan pantai yang terjal.            Hal ini terjadi karena pada daerah yang landai

memiliki ruang yang luas untuk ditumbuhi oleh mangrove sehingga distribusi

jenis mangrove meluas dan melebar.
                                                                             64



       Daerah penelitian yaitu pada stasiun I, stasiun II dan Stasiun III

merupakan daerah yang terlindung dari pengaruh ombak dan angin. Pemilihan

stasiun pengambilan sampel ditentukan berdasarkan keterwakilan dan ketebalan

mangrove.    Pada umumnya semua stasiun memiliki daratan batu berlumpur.

Berdasarkan SK Dirjen Kehutanan No. 60/KPTS/DJ/I/ 1978 mengenai panduan

silvikultur di areal air payau bahwa, jalur hijau ditetapkan selebar 10 meter di

sepanjang sungai (dari tepi hutan yang menghadap kesungai) dan 50 meter di

sepanjang pantai pada pasang terendah (dari tepi hutan yang menghadap ke

laut) (Noor, 2006).

   2. Komposisi Jenis Mangrove

       Jenis mangrove yang di jumpai pada Pulau Kapota selama penelitian ada

5 jenis dari family Rhizophoraceae, Sonneratiaceae, dan meliaceae. Jenis yang

dijumpai adalah Xylocarpus granatum, Xylocarpus moluccensis, Sonneratia alba,

Bruguiera gymnorrhiza dan Scyphiphora hydrophyllacea.         Dari kelima jenis

mangrove tersebut yang paling banyak ditemukan adalah jenis Bruguiera

gymnorrhiza yang dijumpai dominan pada semua stasiun. Sedangkan jenis yang

lainya kurang dijumpai (Tabel 9).
                                                                              65



Tabel 9. Komposisi jenis mangrove yang ditemukan di kawasan Ekosistem Mangrove di
          Pulau Kapota

STASIUN      SPECIES                       NAMA LOKAL          POHON ANAKAN

             Bruguiera gymnorhiza                 Selo            37         36
I            Xylocarpus granatum              Kontawu             11          1
             Xylocarpus moluccensis           Kontawu             7           9
             Sonneratia alba               Kampundopundo          2           5
             Total                                                57         51
             Bruguiera gymnorhiza                 Selo            40         15
II           Xylocarpus granatum                Kontawu           8           6
             Xylocarpus moluccensis             Kontawu           4           7
             Total                                                52         28
III          Bruguiera gymnorhiza                 Selo            45         50
             Xylocarpus granatum                Kontawu           10          0
             Xylocarpus moluccensis             Kontawu           1          5
             Scyphiphora hydrophyllacea            -              9          6
             Total                                                65         61



      Di lihat dari table 9 maka dengan beranekaragamnya jenis mangrove

memiliki daya tarik atraktif yaitu di lihat dari system perakarannya yang sangat

unik dan beragam dari setiap jenis mangrove. Selain itu perbedaan diameter

pohon mangrove yang sangat berfariasi yaitu pada stasiun I diameter pohonya

berkisara antara 5,5 – 128 cm, stasiun II berkisar antara 4,5-160 cm dan stasiun

III berkisar antara 4,5-86 cm. Dengan demikian ekosistem mangrove di Pulau

Kapota dapat memberi nilai edukatif (pendidikan) kepada pengunjung yang

datang untuk menikmati keindahan di kawasan ekositem mangrove serta dapat

memberi wawasan kepada pengunjung tetang jenis – jenis mangrove.

      3. Kerapatan Jenis Mangrove

         Kerapatan jenis merupakan jumlah tegakan suatu jenis mangrove dalam

suatu area pengamatan. Dari hasil yang dijumpai di kolasi penelitian jenis

Bruguiera gymnorhiza yang mendominasi pada semua stasiun di banding jenis-

jenis lainnya , hal ini di karenakan jenis Bruguiera gymnorhiza pertumbuhannya
                                                                              66



mengarah kedarat sehingga sangat mendukung pertumbuhan dari jenis

mangrove tersebut dan sesuai dengan zona dari jenis Bruguiera gymnorhiza.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Bengen (2001), yaitu kearah darat, hutan

mangrove umumnya didominasi oleh Rhizophora spp dan Bruguiera spp.

Kerapatan jenis mangrove di Pulau Kapota (Tabel 10).

Tabel 10. Kerapatan mangrove yang ditemukan di kawasan Ekosistem Mangrove di
          Pulau Kapota

                             POHON                          ANAKAN
ST          SPECIES          Jmlh tot. Luas tot.   Kerap    Jmlh     Luas      Kerap
                             tegakan area          atan     tot.     tot.      atan
                             (Ni)      pengmtn     jenis(   tegaka   area      jenis(
                                       (A)         Di)      n        pengmt    Di)
                                                            (Ni)     n(A)
      Bruguiera gymnorhiza      37     100         0.37        36    100       0.36
      Sonneratia alba           11     100         0.11       1      100       0.01
 I
      Xylocarpus granatum       7      100         0.07       9      100       0.09
      Xylocarpus                2      100         0.02       5      100       0.05
      Total                     57                 0.57       51               0.51
      moluccensis
      Bruguiera gymnorhiza      40     100         0.4        15     100       0.15
II    Xylocarpus granatum       8      100         0.08       6      100       0.06

      Xylocarpus                4      100         0.04       7      100       0.07
      moluccensis
      Total                     52                 0.52       28               0.28
      Bruguiera gymnorhiza      45     100         0.45       50     100       0.5

III   Xylocarpus                10     100         0.1        0      100       0
      moluccensis
      Xylocarpus granatum       1      100         0.01       5      100       0.05
      Scyphiphora               9      100         0.09              100       0.06
                                                              6
      hydrophyllacea
                                65                 0.65                        0.61



        Dari hasil pengukuran kerapatan jenis mangrove Pulau Kapota memiliki

kerapatan mangrove yang cukup tinggi. Tingginya kerapatan mangrove

menunjukan banyaknya tegakan pohon yang berada dalam kawasan tersebut.

Dengan demikian Pulau Kapota dapat menyuplai oksigen sehingga para

pengunjung yang datang dapat menikmati udara segar bebas dari polusi.
                                                                              67



D. Jenis Biota

    Ekosistem mangrove sangat unik, dimana organisme daratan menempati

bagian atas sedangkan hewan lautan yang sebenarnya menempati bagian

bawah. Organisme daratan tidak memiliki adaptasi khusus untuk hidup di dalam

mangal karena mereka melewatkan hidupnya di luar jangkauan air laut pada

bagian    pohon   yang    tertinggi,   meskipun   mereka   dapat   mengumpulkan

makananya pada saat air surut (Nybakken, 1992).

         Kebanyakan orang menganggap mangrove sebagai tempat berlumpur

dan rawa-rawa becek, yang penuh dengan nyamuk, ular, laba-laba, dan memberi

rasa tidak nyaman. Namun apabila diperhatikan lebih teliti berjalan-jalan di

kawasan mangrove merupakan perburuan besar. Di bawah kerimbunan hutan

terdapat berbagai jenis arthropoda, moluska, burung, ikan, reptilia, mamalia dan

lain-lain, sehingga menarik untuk ditelusuri.

    Kawasan mangrove di Pulau Kapota memiliki bebarapa biota yang

berasosiasi di mangrove bahkan ada beberapa diantaranya ada satwa yang

endemik yang merupakan modal yang sangat besar untuk menarik wisatawan

untuk berkunjung ke daerah tersebut khususnya ke daerah mangrove. Jenis –

jenis satwa atau biota yang ditemukan di Pulau Kapota yaitu : burung, reptile,

sponge, ubur-ubur, moluska, crustacean.

   1. Burung

         Satwa burung yang ditemukan berdasarkan hasil penelitian (Rafika, 2011)

jenis burung yang ditemukan teriri dari 23 jenis dan diantaranya terdapat 4 jenis

burung yang endemik yaitu jenis Ducula radiate, Ptilinopus subgularis, Artamus

leucorynchus, Dicrurus hottentottus.       Hutan mangrove merupakan tempat

mencari makan bagi berbagai jenis burung khususnya burung pemakan buah-

buahan sekedar lewat untuk mencari makan, selain itu mangrove juga
                                                                                      68



merupakan tempat bersarang bagi burung. Jenis-jenis burung yang ditemukan

(Tabel 11).

Tabel 11. Jenis burung yang ditemukan di kawasan Ekosistem Mangrove di Pulau
          Kapota

No   Nama Indonesia                   Nama Ilmiah                    Keterangan
 1. Pecuk padi hitam                  Phalacrocorax sulcirostris     TL
 2. Cangak merah                      Ardea Purpurea                 TL
 3. Cangak laut                       Ardea sumatrana                TL
 4. Kokokan laut                      Butorides striatus             TL
 5. Trinil pantai                     Actitis hypoleucos             TL
 6. Gajahan penggala                  Nunenius phaeopus              DL,A, B
 7. Gajahan timur                     Numenius                       DL,A, B
 8. Tekukur biasa                     madagascariensis
                                      Streptopelia chinensis         TL
 9. Uncal Ambon                       Macropygia amboinensis         TL
10. Delimukan timur                   Chalcophaps stephani           TL
11. Pergam hijau                      Ducula radiate                 TL,E
12. Walik molomiti                    Ptilinopus subgularis          DL,E,NT
13. Betet kelapa punggung biru        Tanygnathus sumatranus         DL,Apendiks II,A, B
14. Cekakak sungai                    Halcyon chloris                DL,A, B
15. Tiong lampu biasa                 Eurystomus orientalis          TL,
16. Walet sapi                        Collocalia esculenta           TL
17. Kekep babi                        Artamus leucorynchus           TL,E
18. Srigunting-jambul rambut          Dicrurus hottentottus          TL,E
19. Kepudang kuduk hitam              Oriolus chinensis              TL
20. Gagak hutan                       Corvus enca                    TL
21. Madu hitam sriganti               Cinnyris jugularis plateni     DL,A, B
22. Cabai gunung                      Dicaeum sanguinolentum         TL
23. Elang laut perut putih            Haliaeetus leucogaster         DL,Apendiks II,A, B
Sumber : Rafika (2011)

Keterangan: Tanda (-), jenis yang dijumpai tidak diketahui nama lokalnya, TL: Tidak
           dilindungi, DL: dilindungi, E: Endemik, A:UU No.5/1990 B: PP No.7/1999,
           Apendiks II (CITES), NT: Near threatened (mendekati terancam punah )
                                                                               69




         Gambar 4. Atraksi burung ( Kepudang kuduk hitam) pada ekosistem mangrove
                   di Pulau Kapota.

         Jenis burung yang di lindungi terdiri dari 7 jenis (Tabel 11) diantaranya

yaitu Elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaste), Gajahan penggala

(Nunenius phaeopus), Gajahan timur (Numenius), Walik molomiti (Ptilinopus

subgularis), Betet kelapa punggung biru (Tanygnathus sumatranus), Cekakak

sungai (Halcyon chloris), Madu hitam sriganti (Cinnyris jugularis platen), Elang

laut perut putih (Haliaeetus leucogaster.

         Banyaknya jenis burung yang terdapat di lokasi konservasi dan wisata

hutan mangrove Pulau Kapota menunjukkan bahwa ekosistem mangrove di

kawasan tersebut merupakan habitat yang sesuai bagi satwa burung (Gambar

4).

      2. Reptil

      Hutan mangrove merupakan habitat dari berbagai jenis satwa yang

beranekaragam salah satunya adalah reptil. Jenis reptil yang ditemukan pada

lokasi penelitian adalah kadal dan biawak.Menurut informasi dari masyarakat

setempat bahwa sering ditemukan ular pohon pada hutan mangrove khususnya

pada lokasi penelitian.Reptil menjadikan hutan mangrove ini sebagai tempat

untuk bertelur, tempat mengasuh anak dan juga menjadi tempat mencari

makan. Jenis-jenis reptil yang ditemukan dapat di lihat pada table (tabel 12).
                                                                                  70



Tabel 12. Jenis reptil yang ditemukan di kawasan Ekosistem Mangrove di Pulau Kapota

No      Nama Latin                     Nama Indonesia
1       Emoia atrocostata              Kadal

2       Varanus salvator               Biawak

3       Chrysopelea sp                 Ular pohon



     3. Sponge

     Sponge      banyak di daerah mangrove karena mangrove merupakan

penghasil bahan organik atau dertitus yang merupakan makanan dari sponge.

Hal ini berdasarkan pernyataan Bergquist (1978) dalam Amir (1996) bahwa

makanan sponge terdiri dari detritus organik seperti bakteri, Zooplankton dan

Fitoplankton yang kecil-kecil yang mana secara efektif ditangkap oleh sel-sel bulu

cambuk spong.




                    Gambar 5. Jenis Sponge yang berada di Pulau Kapota

     Spong adalah hewan filter feeder yang dapat menyaring partikel yang sangat

kecil (diameter < 50 µm) yang tidak tersaring oleh hewan-hewan laut lainya

(Gambar 5).
                                                                                    71



     4. Ikan

        Hutan mangrove juga merupakan tempat pemijahan, tempat asuhan

dan tempat mencari makan bagi ikan da nada juga beberapa ikan yang

membuat lubang pada batang mangrove misalnya seperti ikan gelodok. Hal

ini sesuai dengan peryataan Nybakken (1992) bahwa ikan menjadikan areal

mangrove sebagai tempat untuk pemijahan, habitat permanenatau tempat

berbiak     (Aksornkoae,     1993).      Sebagai      tempat      pemijahan,   areal

mangroveberperan      penting   karena    menyediakan      tempat    naungan   serta

mengurangi tekanan predator, khususnya ikan predator. Jenis ikan yang

ditemukan di lokasi dapat di lihat pada (Tabel 13).

Tabel 13. Jenis ikan yang ditemukan di kawasan Ekosistem Mangrove di Pulau Kapota

No         Nama Latin                                 Nama Indonesia

1          Chanos-chanos                              Bandeng

2          Areochromis mossambicus                    Mujair

3          Mugil Sp                                   Balanak

4          Periophthalmodon schlosseri                Gelodok

5          Tylosurus Tylosurus crocodiles             Ikan Sako




     Alat yang digunakan untuk menangkap ikan adalah gill net dengan cara

memasang gill net pada saat menjelang air laut mulai surut. Penarikan alat

tangkap (setting holing) dilakukan pada saat air pasang menjelang surut, “gill net”

di pasang pada saat air akan pasang dan hasilnya dikumpulkan pada saat

setelah air surut.
                                                                              72



   5. Ubur-ubur

       Hutan mangrove merupakan tempat untuk mencari makan dari ubur-

ubur karena hutan mangrove merupakan penghasil detritus yang merupakan

makanan bagi ubur-ubur.




                    Gambar 6. Jenis ubur-ubur (Aurelia sp.) di Pulau Kapota

       Jenis ubur-ubur yang ditemukan pada stasiun pengamatan adalah dari

genus Aurelia sp (Gambar 6). Alat yang digunakan untuk menangkap ubur-

ubur adalah ayakan benthos penangkapan ubur-ubur dilakukan pada saat air

laut sudah surut.

   6. Moluska

        Kawasan hutan mangrove Pulau Kapota memiliki invertebrata yang

sangat beragam salah satu diantaranya adalah moluska dan annelida. Jenis

moluska yang ditemukan di lokasi adalah kelas gastropoda, bivalvia dan ada

juga jenis annelida dari kelas polychaeta (tabel 14).

       Hutan mangrove merupakan penghasil bahan organic dari serasah

daun dan pelapukan pohon mangrove yang dibutuhkan oleh moluska untuk

kelangsungan hidupnya.
                                                                                 73




                       Gambar 7. Jenis-jenis Moluska di Pulau Kapota

          Banyaknya jenis moluska yang ditemukan pada kawasan ekosistem

mangrove pulau kapota menunjukan tingginya tingkat keanekaragaman biota

sehingga para pengunjung yang datang kedaerah tersebut dapat mengetahui

jenis-jenis moluska serta mengetahui ukuran dan bentuk moluska yang unik

(gambar 7).

Tabel 14. Jenis moluska dan cacing yang ditemukan di kawasan Ekosistem Mangrove di
           Pulau Kapota.

No        Kelas                           Family         Jenis

                                  Potamididae            Cerithidea cingulated
                                                         Terebralia sulcata
     1.   Gasropoda
                                  Neritidae              Nerita planospira
                                  Trochidae              Monilea callifera

2         Bivalvia                Limidae                Limaria basilanica
3         Polyplacophora          Chitonidae             Liolophura sp.
4         Polychaeta              Mycostomidae           Nereis sp.



     7. Crustacea

          Hutan mangrove merupakan habitat yaqng sangat sesuai untuk

crustacea. Ada beberapa jenis crustacea yang ditemukan di lokasi adalah
                                                                              74



jenis udang dan kepiting. Jenis udang yang ditemukan yaitu: Kepiting biola

merah, kepiting batu, kepiting lumpur,dan udang merah.                Jenis-jenis

crustacea yang berasosiasi dengan mangrove yang ditemukan di lokasi

penelitian (Tabel 15).

Tabel 15. Jenis Crustacea yang ditemukan di kawasan Ekosistem Mangrove di Pulau
          Kapota

No          Nama Latin                       Nama Indonesia

1           Uca rosea                        Kepiting Biola Merah

2           Myomenippe harwicki              Kepiting Batu

3           Scylla olivacea                  Kepiting Lumpur Kuning
4                                            Udang merah




                   Gambar 7. Jenis-jenis crustacean di Pulau Kapota

     8. Serangga

       Jenis insekta atau serangga yang ditemukan di lokasi penelitian adalah

Laba-laba, kupu-kupu, semut merah. Serangga yang memiliki populasi cukup

banyak yaitu semut merah dan Jenis kupu-kupu. Menurut informasi masyarakat

setempat ada beberapa jenis kupu-kupu yang endemic yang berasosiasi di

daerah tersebut.

     9. Angrek

       Ekosistem mangrove selain tempat berasosiasinya jenis-jenis biota laut

juga merupakan tempat berasosiasinya angrek hutan. Angrek yang di temukan
                                                                                  75



di lokasi penelitian adalah angrek dari genus Dendrobium (angrek merpati) dan

genus Phalaenopsis dimana angrek tersebut memperoleh nutrisi dari pohon

inang yang dilekatinya.




         Gambar 8. Jenis-jenis angrek pada ekosistem mangrove Pulau Kapota


E. Kegiatan Masyarakat

1. Sosial

       Aspek sosial masyarakat Pulau Kapota dapat dilihat berdasarkan:

       a. Jumlah Penduduk

       Tabel 16 Jumlah penduduk Pulau Kapota

No    Desa                Laki-laki    Perempuan       Keseluruhan    %


1            Kapota           585           572            1157           22.55


2            Kabita           665           683            1348           26.28


3        Kabita Togo          314           315             629           12.26


4        Kapota Utara         646           691            1337           26.06


5        Wisata Kolo          306           353             659           12.85
                                                                                          76



         Dari table 16 dapat di lihat bahwa jumlah penduduk yang paling banyak

adalah Desa Kabita yang berjumlah 1.348 jiwa dengan persentase 26,26 %.

Sedangkan Desa yang memiliki jumlah penduduk sedikit yaitu Desa Kabita Togo

yang berjumlah 629 jiwa dengan persentase 12,26 %. Desa Kabita Togo adalah

Desa yang baru mekar karena merupakan pemisahan dari Desa Kabita.

b. Pendidikan

         Pendidikan merupakan suatu cara untuk meningkatkan keterampilan dan

pengetahuan masyarakat di dalam memperlakukan lingkungan misalnya dalam

pengelolaan, pemanfaatan, pengembangan serta perlindungan khususnya dalam

pengelolaan ekowisata sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.

         Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan jumlah bangunan sekolah

yang terdapat di Pulau Kapota (Tabel 17).

         Tabel 17. Jumlah bangunan sekolah di tiap desa Pulau Kapota

Bangunan       Kapota     Kapota utara       Kabita          Kabita Togo   Kolo   Total

   SMA            -              1               -                 -          -           1
   SLTP           -              1               -                 -         1            2
    SD            1              1               1                 1         1            5
    TK            1              1               -                 1          -           3
  Jumlah          2              4               1                 2         2        11



Tabel 18. Kegiatan pendidikan

Keg. Pendidikan         Kapota       Kapota           Kabita      Kabita   Kolo   Total

                                     utara                        Togo
   Keaksaraan               -                -           1             1     -       2

 fungsional PAUD
                            -                -           1             1     -       2

      Jumlah                -                -           2             2     -       4
                                                                                   77



       Di pulau Kapota juga terdapat kegiatan pendidikan yang difasilitasi oleh

Taman Nasional yang berkerjasama dengan TNC dan WWF.                        Kegiatan

pendidikan Keaksaraan funsional dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hanya

terdapat di Desa Kabita dan Kabita Togo.



                                Tingkat Pendidikan

                      11.54 %
                                               13.46 %

                                                                   S1
                                                                   SMA
                                                                   SLTP
                                                                   SD
                                                         25.00 %   Tidak Sekolah


            34.62 %


                                              15.38 %


                 Gambar 9. Tingkat pendidikan masyarakat di Pulau Kapota.

       Berdasarkan (Gambar 9) di atas dapat di lihat bahwa sebagian

masyarakat Pulau Kapota sebagian besar yaitu 34,62% hanya tamat SD karena

masing-masing desa sudah memiliki infrastruktur bangunan sekolah, sehingga

masyarakat lebih mudah untuk menyelesaikan tingkat pendidikan dasarnya.

Masyarakat Pulau Kapota yang tidak sempat menyelesaikan pendidikanya pada

tingkat dasar adalah rata-rata 11,54 %.

c. Pekerjaan

       Berdasarkan hasil wawancara, masyarakat Pulau Kapota sebagian besar

menggantungkan hidupnya pada hasil tangkapan di laut atau sebagai nelayan

dengan menggunakan alat tangkap tradisional seperti bubu, jaring, pancing dan

tombak yang digunakan untuk menangkap gurita .
                                                                                  78




                                Jenis Pekerjaan
                     13.46 %
                                                17.31 %

                                                                   PNS

      9.62 %                                                       Wiaraswasta
                                                                   nelayan
                                                          7.69 %
                                                                   Aparat desa
      5.77 %
                                                                   tukang batu
                                                                   Petani
      1.92 %                                                       pengangguran
                                                                   perantau

           15.38 %                              28.85 %




                           Gambar 10. Jenis pekerjaan stakeholder

       Berdasarkan gambar 10 dapat di lihat bahwa jenis pekerjaan stakeholder

sangat bervariasi, namun yang lebih mendominasi adalah nelayan sebesar 28,85

% di ikuti dengan PNS sebesar 17,31 % dan sebagai aparat desa sebanyak

15,38 %. Masyarakat yang menjadi perantau sebanyak 13,46 % lebih banyak di

banding pengangguran yaitu sebanyak 9,62 %, ada pula yang bekerja sebagai

wiraswasta sebanyak 7, 69 % dan sebanyak 1,92 %. Bekerja sebagai tukang

batu atau kuli bangunan. Selain itu ada juga masyarakat yang bekerja sebagai

petani yaitu sebesar 5, 77 %. Pulau Kapota memiliki substrat berpasir, batu dan

rawa sehingga untuk bertani hanya jenis tanaman tertentu yang dapat tumbuh

yakni umbi-umbian dan tanaman kelapa.

2. Ekonomi

       Kondisi ekonomi merupakan aspek yang sangat penting diperhatikan

dalam kegiatan pengembangan ekowisata. Masyarakat Pulau Kapota memiliki

kegiatan    dalam bidang kerajinan tangan, makanan yang terbuat dari buah
                                                                            79



mangrove. Adanya keterampilan yang dimiliki oleh masyarakat pulau Kapota

maka dapat meningkatkan kesejateraan hidupnya.

a. Kerajinan tangan

        Berbagai industry kerajinan yang dihasilkan masyarakat Pulau Kapota

merupakan daya tarik tersendiri selain keindahan alam dan budayanya.

Masyarakat Pulau Kapota memiliki industry kerajinan berupa cederamata seperti

kain tenunan khas Pulau Kapota

b. Makanan khas dari buah mangrove

     Masyarakat Pulau kapota     mengolah buah mangrove menjadi makanan

khas Pulau Kapota seperti kue basah yang di kenal dengan kue epu-epu, dan

kripik dengan bahan dasar dari buah mangrove. Menurut informasih masyarakat

setempat bahwa nenek moyang mereka dulu pada saat musim kelaparan di

pulau tersebut maka mereka mengolah buah mangrove untuk dijadikan makanan

sebagai penggati beras dan ubi oleh karena itu ekosistem mangrove di Pulau

Kapota di jaga kelestariannya.

3. Kebudayaan

       Kebudayaan merupakan modal yang sangat besar untuk pengembangan

ekowisata seperti festifal kebudayaan, kerajinan tangan, rumah tradisional dan

makanan khas daerah setempat.

a. Festifal Kebudayaan

        Masyarakat Pulau Kapota memiliki kebudayaan yang sangat unik yang

dilakukan dalam satu tahun satu kali yang di kenal dengan festifal kebudayaan

Kabuenga yang merupakan modal utama untuk menarik para Wisatawan baik

dari dalam ataupun dari luar negeri. Hal ini sesuai dengan pernyataan Tuwo, A.,

(2011) bahwa Faktor budaya merupakan salah satu faktor yang perlu menjadi

pertimbangan dalam pengembangan ekowisata. Hal ini didasarkan pada alasan
                                                                            80



bahwa karakteristik kehidupan masyarakat pesisir biasanya memiliki nilai-nilai

tradisi dan kepercayaan yang dapat menunjang upaya pelestarian lingkungan.

Masyarakat pesisir juga biasanya memiliki seni dan atraksi budaya yang dapat

menjadi daya tarik wisatawan. Upacara budaya seperti acara ritual, upacara

adat, seremoni turun melaut dan acara persembahan doa dan sesajian yang

dilakukan secara masal oleh masyarakat dapat menjadi kegiatan pendukung

ekowisata




                   Gambar 11. Festifal kebudayaan (Kabuenga)

     Festifal kebudayaan yang sering dilakukan di Pulau Kapota adalah festifal

“kabuenga dan pingitan”. Hal ini menunjukkan Pulau Kapota adalah daerah

Pusat Budaya Tradisi Lisan untuk jenis tradisi “Kabuenga” atau ayunan para

putra raja yang lagi kasmaran (Gambar 11). Festifal kabuengan adalah acara

pemuda pemudi dalam ajang pecarian jodoh setiap pemudi yang ikut dalam

festifal kabuenga harus terlebih dahulu mengikuti prosesi pingitan.    Pingitan

adalah prosesi di mana wanita yang sudah mulai dewasa di isolasi dalam satu

ruangan selama sembilan hari, setelah wanita yang di pingit tidak boleh bertemu

dengan lelaki sebelum menyelesaikan prosesi tersebut.
                                                                            81



b. Rumah adat

        Rumah adat adalah tempat di mana para tokoh-tokoh adat melakukan

rapat untuk membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan adat istiadat.

Rumah adat masyarakat pulau kapota adalah baruga.

F.   Aksesbilitas, Sarana dan Prasarana

       Transportasi pada hakekatnya merupakan jasa untuk memindahkan

wisatawan dari satu tempat ketempat yang lain, dalam hal ini, untuk mencapai

hutan mangrove di Pulau Kapota dapat menggunakan kapal kayu kurang lebih

15 menit dan Speet boad memerlukan waktu selamah 10 menit dari pusat Kota

Wanci. Untuk dapat sampai ke lokasi hutan mangrove memerlukan waktu selama

10 menit dari dermaga Pulau Kapota dengan menggunakan motor.

        Sarana dan prasarana merupakan suatu hal yang sangat penting dalam

menunjang kegiatan parawisata agar setiap pengunjung yang datang mendapat

kemudahan dan merasa puas dalam melakukan kegiatan wisata.          Prasarana

yang menunjang kegiatan ekowisata penelitian di antara lain kantor pos, telpon

umum, dan rumah sakit atau puskesmas.          Sedangkan sarana penunjang

ekowisata mangrove adalah penginapan, rumah makan, toilet umum, bank dan

rumah ibadah.

        Kawasan hutan mangrove di Pulau Kapota sangat dekat dengan Kota

Wanci hanya 15 menit dari Pulau Kapota sehingga unsur sarana dan prasarana

dapat di jumpai dengan mudah dan tidak terlalu jauh dari lokasi ekowisata hutan

mangrove.

G. Kondisi Oseanografi

     Kondisi lingkungan merupakan faktor pendukung pada kondisi ekosistem

mangrove. Adapun hasil pengamatan parameter lingkungan di Pulau Kapota

adalah sebagai berikut:
                                                                                                                                                                    82



1.   Pasang surut

       Pasang surut adalah gerakan naik turunnya permukaan air laut yang

berlangsung secara periodik dan disebabkan gaya tarik benda-benda astronomis

dan gaya sentrifugal bumi. Data pasang surut merupakan data sekunder yang

dipeoleh dari WWF Wakatobi tahun 2010.

     Tipe pasang surut di Pulau Kapota adalah campuran yaitu dua kali pasang

satu kali surut                     dalam sehari dengan nilai muka air rata-rata (MSL) sebesar

140,33 cm . Pasang surut di Pulau Kapota mengalami pasang tertinggi yaitu

pada pukul 04.00-07.00 yaitu 220 cm dan surut terendah pada pukul 10.00-

13.00 dengan nilai 70 cm (Gambar 13).


                                             GRAFIK PASANG SURUT
                       2.5
        Tinggi Pasut




                         2
                       1.5
                         1
                       0.5
                         0
                             1:00
                                    5:00
                                           9:00
                                                  13:00
                                                          17:00
                                                                  21:00
                                                                          1:00
                                                                                 5:00
                                                                                        9:00
                                                                                               13:00
                                                                                                       17:00
                                                                                                               21:00
                                                                                                                       1:00
                                                                                                                              5:00
                                                                                                                                     9:00
                                                                                                                                            13:00
                                                                                                                                                    17:00
                                                                                                                                                            21:00

                                                                                         Waktu


                                              Gambar 13. Grafik pasang surut perjam

     Pada areal yang selalu terendam satu atau dua kali sehari selama ±20 hari

sebulan hanya Rhizophora mucronata yang tumbuh baik (Bengen, 2004).

Namun hal ini tidak menutup kemungkinan untuk jenis lain dapat tumbuh pada

kondisi pasang surut seperti itu.                                                Hal ini di dukung pendapat Bengen, 2000

bahwa Avicennia marina, Bogem (Sonneratia) dan Tancang (Bruguiera

gymnorrhiza) dapat tumbuh pada daerah frekuensi genangan pasang 30-40

kali/bulan. Pasang surut ini sangat berpengaruh bagi kondisi mangrove, di mana

terjadinya siklus penggenangan air laut terhadap daerah mangrove.

2. Sedimen
                                                                           83



      Jenis sedimen di Pulau Kapota setelah di analisis di Laboratorium

Geomorfologi dan Menajemen Pantai (GMP) menunjukan bahwa jenis

sedimenya pada stasiun I yaitu pasir kasar sebanyak 48,632 %, pasir sedang

sebanyak 46,261 % dan pasir halus sebanyak 5,108 %.Pada stasiu II jumlah

pasir kasar sebanyak 74,086 %, pasi sedang sebanyak 13.413 % dan pasir halus

sebanyak 12,501 %.Sedangkan pada stasiun III pasir kasar sebanyak 65,595 %,

pasir sedang sebanyak 19,836 % dan pasir halus sebanyak 14,549 %.

Banyaknya pasir kasar pada setiap stasiun          karena sedimenya bercampur

dengan sisa-sisa canngkang moluska seperti kelas gastropoda dan bivalvia.

Cangkang dari moluska ini banyak mengandung kapur sehingga dapat

menyuplai stabilitas pH untuk membantu pertumbuhan dari mangrove. Hal ini di

dukung oleh pernyataan Macnae (1968) dalam Erwin (2005), yang mengatakan

bahwa kehadiran bahan kapur sangat penting artinya bagi proses pertumbuhan

mangrove.

H.   Kondisi saat ini

       Di Pulau kapota saat ini sudah memiliki sarana penunjang dalam kegiatan

wisata yaitu : dermaga kecil, listrik, rumah ibadah dan air bersih.



1. Dermaga Kecil

       Dermaga merupakan prasarana di Pulau Kapota dan merupakan tempat

berlabuhnya kapal-kapal dari Wangi-wangi bahkan dari daerah-daerah sekitar

wakatobi. Pulau Kapota memiliki dua dermaga tapi dermaga yang satu belum

dapat digunakan karena masih dalam tahap pembangunan. Pada malam hari

dermaga banyak dikunjungi oleh anak-anak muda untuk menikmati keindahan

alam di malam hari bahkan ada juga yang memanfaatkan memancing di daerah

tersebut.

2. Air Bersih
                                                                                84



        Air bersih merupakan masalah sulit yang dihadapi oleh masyarakat Sama

    Bahari karena Desa ini tidak memiliki sumber air bersih.     Pemenuhan akan

    kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga seperti mandi cuci dan keperluan

    lainnya harus di ambil dari mata air di gunung dengan menggunakan kendaraan

    roda dua.

    2. Ketersediaan Listrik

          Ketersediaan listrik di Pulau Kapota sangat baik jika dibandingkan dengan

    pulau-pulau lainnya di Wakatobi. Listrik di Pulau Kapota menyalah selama 12

    jam yaitu mulai dari pukul 18.00 - 06.00. Adanya ketersediaan listrik di Pulau

    tersebut maka akan mendukung ekowisata mangrove di Pulau tersebut.

    I. Analisis Kesesuaian Ekowisata Mangrove

           Berdasarkan hasil yang didapatkan bahwa analisis kesesuaian ekowisata

    mangrove di Pulau Kapota pada stasiun I (Tabel 19) .




    Tabel 19. Kategori Tingkat Kasesuaian Lahan Pada Stasiun 1

No       Parameter            Bobot    Hasil Penelitian          Skor   Bobot x skor

1        Jenis mangrove        0.182 4 jenis                       3         0.545

2        Biota di atas               Burung, insekta,              4         0.655
                                     biawak,kadal dan
         pohon                 0.164 angrek

3        Biota di dalam air          Ikan,                         4         0.582
                                     moluska,crustacean,
                               0.145 sponge dan ubur-ubur

4        Kondisi kegiatan      0.127 Memancing, memasang           4         0.509
                                     jaring(bubu), wisata dan
                                                                                85



                                         budidaya rumput laut.

5        Ketebalan
                                                 46-79 m          2          0.218
         mangrove             0.109

6        Kerapatan
                                               16-21 ind/m2       4          0.364
         mangrove             0.091

7        Aksesibilitas                    Kapal, speet boat dan   3          0.218
                              0.073          ojek roda dua

8        Kegiatanmasyara            Festifal budaya               4          0.218
         kat                        (Kabuenga) , makanan
                                    tradisional(makanan
                                    khas dari mangrove),
                                    Rumah adat dan
                              0.055 kerajinan (tenunan)

9        Pasut                0.036             140,33 cm         3          0.505

10       Sedimen                    Pasir kasar, pasir                       0.073
                                                                  4
                              0.018 sedang dan pasir halus

         Total skor                1                                         3.491

         Skor Tertinggi                                                        4

         Nilai Skor Hasil Evaluasi (%)                                      87,26 %



           Sistem pembobotan kesesuaian untuk ekowisata mangrove, dilakukan

    dengan pertimbangan parameter kesesuaian yang yang di susun berdasarkan

    minat pengunjung (Tabel 19).

           Berdasarkan hasil penelitian pada stasiun I bahwa jenis mangrove di

    Pulau Kapota terdiri dari 4 jenis yaitu Bruguiera gymnorhiza, Xylocarpus

    granatum, Xylocarpus moluccensis, Sonneratia alba dengan bobot 0,182 dan

    memiliki skor yaitu 3 sehingga dapat digolongkan kedalam kategori S2 ( sesuai).

    Hal ini berdasarkan tabel kesesuaian ekowisata mangrove yang menyatakan

    bahwa kategori 3-5 jenis tergolong dalam kategori sesuai dengan nilai 0.545.

    Banyaknya jenis mangrove yang di jumpai pada stasiun I menunjukan hanya ke
                                                                                   86



empat jenis yaitu Bruguiera gymnorhiza, Xylocarpus granatum, Xylocarpus

moluccensis dan Sonneratia alba yang dapat beradaptasi dengan kondisi

lingkungan dan jenis tanah. Semakin banyak komposisi jenis mangrove maka

pengunjung dapat mengetahui jenis-jenis mangrove yang ada di Pulau Kapota.

       Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan pada stasiun I jenis biota

yang berada diatas pohan adalah termasuk dalam kategori S2 (sesuai) dengan

bobot 0.164 dan skor 4 sehingga memiliki nilai 0.655. Biota yang didapatkan

pada lokasi penelitian terdiri dari 5 jenis yaitu burung, insekta, kadal, biawak dan

angrek. Hal ini berdasarkan pada matrik kesesuaian ekowisata mangrove yang

masuk kategori sesuai memiliki 4 jenis. Selain itu juga berdasakan penelitian

sebelumnya oleh Rafika, (2011) menyatakan bahwa terdapat jenis burung yang

endemik yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove (Tabel 11) sehingga

dapat menjadi modal untuk objek ekowisata khusnya ekowisata mangrove.

Selain itu juga terdapat 2 jenis angrek hutan mangrove yang berasosiasi dengan

mangrove.

       Berdasarkan tabel matriks kesesuaian ekowisata mangrove bahwa biota

yang terdapat di bawah air termasuk dalam kategori S2 (sesuai) dengan nilai

0.582. Biota yang didapatkan pada lokasi penelitian yaitu tersdiri dari 5 jenis yaitu

Ikan, moluska,crustacea, sponge dan ubur-ubur dengan bobot 0.145 dan skor.

Banyaknya organisme yang berasosiasi pada ekosistem mangrove menunjukan

tingginya keanekaragaman jenis biota pada ekosistem mangrove.

       Berdasarkan     hasil   penelitian   pada   stasiun   I    di   Pulau   Kapota

masyarakatnya memiliki 4 jenis kegiatan dengan bobot 0,055 dan skor 4 (Table

10) yang menunjang ekowisata sehingga dapat menjadi modal untuk menarik

wisatawan dari dalam ataupun wisatawan dari luar.                Berdasarkan matriks

kesesuain ekowisata dapat dikategorikan S2 (sesuai) dengan nilai 0,509.
                                                                               87



Masyarakat di Pulau Kapota memiliki kegiatan yang di lakukan pada ekosistem

mangrove yaitu kegiatan budidaya rumput laut, memancing, dan berwisata.

       Berdasarkan hasil penelitian pada stasiun I bahwa ketebalan mangrove di

Pulau Kapota tergolong dalam kategori S3 (sesuai bersyarat) dengan ketebalan

mangrove 46-79 m dengan nilai 0.218. Hal ini apabila di lihat berdasarkan pada

tabel kesesuain ekosistem mangrove yaitu ketebalan mangrove kategori sesuai

bersyarat memiliki nilai 50-200 m dengan bobot 0.109 dan memiliki skor 2.

Semakin tebal ekosistem mangrove maka biota yang berasosiasi dengan

ekosistem mangrove semakin beranekaragam sehingga pengunjung dapat

mengetahui jenis-jenis biota yang berasosiasi dengan hutan mangrove.

       Berdasarkan hasil yang didapatkan pada stasiun I, kerapatan mangrove

Pulau Kapota sesuai dengan kriteria ekowisata mangrove tergolong dalam

kategori S2( sesuai) dengan nilai 0.364. Hal ini berdasarkan tabel kesesuaian

ekowisata mangrove yang menyatakan bahwa kategori sesuia memiliki yaitu

>15-25 m dengan bobot 0.091 dan skor 0.364. Pada stasiun 1 kerapatannya

cukup tinggi sehingga dapat menyuplai oksigen sehingga pengunjung yang

dating dapat menghirup udara yang segar yang bebas dari polusi udara.

       Berdasarkan tabel kesesuaian ekowisata mangrove aksesibilitas Pulau

Kapota tergolong dalam kategori sesuai (S2) karena memiliki 3 jenis akses yang

bisa digunakan untuk melakukan ekowisata ke Pulau Kapota jenis akses yang di

miliki yaitu kapal, speet boat dan ojek . Pada dasarnya aksesibilitas pada stasiun

I, Stasiun II dan Stasiun III tidak jauh berbeda yaitu menggunakan kapal, speet

boad dan ojek roda dua.      Aksesibilitas sangat penting bagi pengembangan

ekowisata karena dengan adanya aksesibilitas yang memadai memungkinkan

pegunjung untuk datang berkunjung ke hutan mangrove.

       Berdasarkan hasil yang didapatkan pada stasiun I kondisi pasang surut di

Pulau Kapota yaitu 1.4033, berdasarkan tabel kesesuaian ekowisata tergolong
                                                                                88



dalam kategori S2( sesuai) dengan nilai 0.0505, bobotnya 0.036 dan memiliki

skor 3. Kondisi pasang surut berhubungan dengan proses penggenangan hutan

mangrove. Pada areal yang selalu terendam satu atau dua kali sehari selama

±20 hari sebulan hanya Rhizophora mucronata yang tumbuh baik (Bengen,

2004). Namun hal ini tidak menutup kemungkinan untuk jenis lain dapat tumbuh

pada kondisi pasang surut seperti itu. Hal ini didukung pendapat Bengen, 2000

bahwa Avicennia marina, Bogem (Sonneratia) dan Tancang (Bruguiera

gymnorrhiza) dapat tumbuh pada daerah frekuensi genangan pasang 30-40

kali/bulan.


       Kondisi substra di Pulau Kapota berdasarkan matriks kesesuaian

ekowista tergolong dalam kategori sesuai (S2) dengan nilai 0.073 memiliki bobot

0.018 dan skor 4 . Kondisi substrat di Pulau Kapota terdiri dari pasir kasar, pasir

sedang dan pasir halus yang sangat mendukung pertumbuhan ekosistem

mangrove.

     Analisis Kesesuaian Ekowisata Mangrove Stasiun II

       Berdasarkan hasil analisis kesesuaian Ekowisata mangrove yang

didapatkan pada stasiun II (Tabel 20).

Tabel 20. Kategori Tingkat Kesesuaian Lahan Pada Stasiun 2

No   Parameter             Bobot    Hasil Penelitian            Skor       Bobot x
                                                                           skor
1    Jenis mangrove         0.182 3 jenis                           3         0.545
2    Biota di atas pohon          Burung, kupu-kupu                 4         0.655
                                  Kadal, insekta dan
                            0.164 angrek

3    Biota di dalam air           Ikan,                             4         0.582
                                  moluska,crustacean,
                            0.145 sponge dan ubur-ubur

4    Kondisi kegiatan             Memancing, memasang               4         0.509
                                  jaring(bubu),budidaya
                            0.127 rumput Laut dan wisata
                                                                                   89



5    Ketebalan                0.109           62-126 m                2          0.218
6    mangrove
     Kerapatan                0.091          15-20 ind/m2             4          0.364
7    mangrove
     Aksesibilitas                      Kapal, speet boat dan         3          0.218
                              0.073        ojek roda dua

8    Kegiatan                       Festifal budaya                   4          0.218
     masyarakat                     (Kabuenga) , makanan
                                    tradisional(makanan
                                    khas dari mangrove),
                                    Rumah adat dan
                              0.055 kerajinan (tenunan)

9    Pasut                    0.036           140,33 cm               3          0.505

10   Sedimen                              Pasir kasar, pasir
                                                                      4          0.073
                              0.018    sedang dnan pasir halus

     Total skor                    1                                             3.491

     Skor Tertinggi                                                                4

     Nilai Skor Hasil Evaluasi (%)                                              87,26 %



         Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan pada stasiun II jenis

mangrove yang di jumpai hanya 3 jenis yaitu Bruguiera gymnorhiza,Xylocarpus

granatum, Xylocarpus moluccensis dengan bobot 0.182 dan memiliki skor 3.

Jenis mangrove di Pulau Kapota apabila di lihat berdasarkan tabel kesesuaian

ekowisata mangrove tergolong dalam kategori sesuai yaitu 3-5 dengan nilai

0,545. Rendahnya jenis mangrove pada stasiun II menunjukan bahwa hanya ke

tiga jenis inilah yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan jenis

tanah.

         Berdasarkan hasil penelitian pada stasiun II biota di atas pohon terdiri dari

3 jenis yaitu burung, kupu-kupu(insekta) dan kadal dengan bobot 0.164 dan skor

4 sehingga dapat digolongkan ke dalam kategori S2(sesuai) dengan nilai 0,655.

Hal ini berdasarkan table kesesuain ekowisata mangrove yang mengatakan

bahwa yang tergolong dalam kategori sesuai adalah memiliki tiga jenis biota.
                                                                             90



Selain itu terdapat juga beberapa jenis angrek yang menempel atau berasosiasi

dengan mangrove.

       Jenis biota yang berada di dalam air pada stasiun II terdiri dari 5 jenis

yaitu Ikan,moluska,crustacean, sponge dan ubur-ubur dengan bobot 0,145 dan

memiliki skor 4 sehingga tergolong dalam kategori SI (sangat sesuai) dengan

nilai 0,582. Banyaknya jenis-jenis biota yang berasosiasi menunjukan tingginya

keanekaragaman biota yang berasosiasi pada ekosistem mangrove.          Dengan

demikian akan menambah wawasan kepada setiap pengunjung yang datang

mengenai jenis-jenis biota yang ada di kawasan tersebut. Bentuk dan ukuran

yang berbeda dari setiap jenis biota yang ditemukan di kawasan Pulau Kapota

ini, merupakan atraksi menarik untuk dikunjungi. Selain biota pada stasiun II

terdapat juga jenis-jenis angrek yang berasosiasi dengan mangrove.

       Berdasarkan hasil penelitian pada stasiun II bahwa sebagian besar

masyarakat melakukan kegiatan pada ekosistem mangrove yaitu melakukan

budidaya rumput laut, wisata dan memasang jaring atau bubu dengan bobot

0,127 dan memiliki skor 4.   Berdasarkan tabel kesesuaian ekowisata mangrove

tergolong dalam kategori SI (sangat sesuai) dengan nilai 0,509.

       Berdasarkan hasil penelitian ketebalan mangrove pada stasiun II yaitu 62-

109 tergolong dalam kategori sesuai beryarat dengan nilai 0,218.         Hal ini

berdasarkan table kesesuaian ekowisata mangrove menyatakan bahwa

ketebalan mangrove 50-200 m termasuk dalam kategori sesuai bersyarat dengan

bobot 0,109 dan memiliki nilai 0,109 . Rendahnya ketebalan mangrove pada

stasiun II karena kondisi substrat yang berada pada lokasi adalah batu berlumpur

sehingga ketebalan mangrovenya rendah. Ketebalan hutan mangrove sangat

mempengaruhi tinggi rendahnya keanekaragaman biota yang berasosiasi

dengan hutan mangrove.
                                                                          91



        Berdasarkan hasil penelitian pada stasiun II kerapatan mangrove yaitu

15-20 tergolong dalam kategori SI(sangat sesuai).   Hal ini berdasarkan table

kesesuaian ekowisata yang menyatakan bahwa kategori 15 – 25 termasuk dalam

kategori sangat sesuai dengan nilai 0,364.   Semakin tinggi kerapatan hutan

mangrove maka suplai oksigen juga tinggi sehingga pengunjung yang dating

dapat menikmati udara yang segar.

        Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan pada stasiun II mengenai

kegiatan masyarakat dalam menunjang ekowisata adalah Festifal budaya

(Kabuenga) , makanan tradisional (makanan khas dari mangrove), Rumah adat

dan kerajinan dengan bobot 0,055 dan skor 4.     Apabila di lihat berdasarkan

matriks kesesuaian ekowisata masuk dalam kategori sangat sesuai (SI) dengan

nilai 0, 218

        Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan pada stasiun II kondisi

pasang surutnya yaitu 1.4033 dengan bobot 0,036 dan memiliki skor 3 sehingga

masuk dalam katerori sesuai dengan nilai 0.0505.        Hal ini berdasarkan

pernyataaan Yuliandra, (2006) bahwa yang masuk dalam kategori sesuai yaitu

>1-2.         Pasang surut berhubungan dengan proses penggenangan hutan

mangrove. Pada areal yang selalu terendam satu atau dua kali sehari selama

±20 hari sebulan hanya Rhizophora mucronata yang tumbuh baik (Bengen,

2004). Namun hal ini tidak menutup kemungkinan untuk jenis lain dapat tumbuh

pada kondisi pasang surut seperti itu. Hal ini didukung pendapat Bengen, 2000

bahwa Avicennia marina, Bogem (Sonneratia) dan Tancang (Bruguiera

gymnorrhiza) dapat tumbuh pada daerah frekuensi genangan pasang 30-40

kali/bulan.
                                                                              92




       Analisis Kesesuaian Ekowisata Mangrove Stasiun III

       Berdasarkan hasil Penelitian yang didapatkan pada stasiun III (Tabel 21).

Tabel 21. Kategori Tingkat Kesesuaian Lahan Pada Stasiun 3

No   Parameter                Bobot      Hasil Penelitian          Skor   Bobot x skor

1    Jenis mangrove              0.182             4 jenis           3        0.545

2    Biota di atas pohon               Burung, kupu-kupu,            4        0.655
                                       insekta, kadal dan
                                 0.164 angrek

3    Biota di dalam air                Ikan,                         4        0.582
                                       moluska,crustacean,
                                 0.145 dan ubur-ubur.

4    Kondisi kegiatan                  Memancing, memasang           3        0.382
                                       jaring(bubu) dan
                                 0.127 budidaya rumput laut.

5    Ketebalan mangrove          0.109          132-209 m            3        0.327
                                                                                   93



6    Kerapatan mangrove            0.091        19-26 ind/m2             4         0.364

7    Aksesibilitas                          Kapal, speet boat dan        3         0.218
                                   0.073       ojek roda dua

8    Kegiatanmasyarakat                  Festifal budaya                 4         0.218
                                         (Kabuenga) , makanan
                                         tradisional(makanan
                                         khas dari mangrove),
                                         Rumah adat dan
                                   0.055 kerajinan (tenunan)

9    Pasut                         0.036         140,33 cm               3         0.505

10   Sedimen                             Pasir kasar, pasir
                                                                         4         0.073
                                   0.018 sedang dan pasir halus

                                      1                                            3.473

     Skor Tertinggi                                                                      4

     Nilai Skor Hasil Evaluasi (%)                                                86.82 %



       Berdasarkan hasil penelitian pada stasiun III di temukan 4 jenis mangrove

yaitu Bruguiera gymnorhiza, Xylocarpus granatum, Xylocarpus moluccen, dan

Scyphiphora hydrophyllacea dengan bobot 0,182 dan memiliki skor 3 sehingga

tergolong dalam kategori S2(sesuai) dengan nilai 0,545. Banyaknya jenis

mangrove     yang     didapatkan     pada   stasiun   III   menunjukan       tingginya

keanakaragaman jenis mangrove pada daerah tersebut.

       Di pulau Kapota berdasarkan hasil penelitian ditemukan 4 jenis biota di

atas pohon yang berasosiasi dengan hutan mangrove. Jenis biota yang

berasosiasi tersebut yaitu burung, insekta, kadal dan angrek dengan bobot 0,164

dan memiliki skor 4.     Banyaknya jenis biota yang berasosiasi pada daerah

tersebut menunjukan bahwa mangrove yang berada pada stasiun III masih

terjaga kelestarianya. Pada stasiun ini sering ditemukan jenis burung yang

endemic yang datang untuk singga atau mencari makan sehingga merupakan

satu objek yang sangat menarik untuk dikunjungi para wisatawan. Apabila di lihat
                                                                              94



berdasarkan table kesesuaian ekowisata mangrove dapat digolongkan dalam

kategori S1 (sangat kesuai) dengan nilai 0,655. Banyaknya biota yang

berasosiasi dengan hutan mangrove maka pengunjung dapat mengetahui jenis-

jenis biota yang berasosiasi dengan hutan mangrove.

       Berdasarkan hasil penelitian pada stasiun III jenis biota bawa air yang di

jumpai terdiri dari 5 jenis sehingga dapat digolongkan dalam kategori sangat

sesuai dengan nilai 0,582.      Jenis biota di bawah air yaitu ikan, moluska,

crustasea dan ubus-ubur dengan bobot 0,145 dan skornya 4. Hal ini sesuai

dengan table kesesuaian ekowisata bahwa kategori sangat sesuai yaitu memiliki

5 jenis biota dengan nilai 0,582.

       Berdasarkan hasil penelitian pada stasiun III kondisi kegiatan masyarakat

pada ekosistem mangrove terdiri dari dua jenis kegiatan yaitu budidaya rumput

laut dan memasang jaring atau bubu sehingga jenis kegiatan tersebut

digolongkan dalam kategori S2 (sesuai) dengan nilai 0,382, skor 3 dan memiliki

bobot 0,127. Hal tersebut berdasarkan pada tabel kesesuaian ekowisata yang

menyatakan bahwa yang termasuk dalam kategori susuai memiliki nilai 0,382.

Sedangkan untuk kegiatan masyarakat pada umumnya sama dengan stasiun I,

dan stasiun II yaitu Festifal budaya (Kabuenga) , makanan tradisional(makanan

khas dari mangrove), Rumah adat dan kerajinan (tenunan).

       Ketebalan mangrove pada stasiun III tergolong dalam kategori S2

(sesuai) dengan nilai 0,327, bobotnya 0,109 dan memiliki skor 3.         Hal ini

berdasarkan pernyataan Yuliandra, (2006) bahwa kategori ekowisata mangrove

yang tergolong dalam kategori sesuai adalah 200-500 m dengan nilai 0,237.

Ketebalan sangat penting karena semakin tebal hutan mangrove maka makin

tinggi keaneragaman biota yang berasosiasi dengan hutan mangrove.

       Berdasarkan hasil penelitian pada stasiun III kerapatan mangrove masuk

dalam kategori SI (sangat sesuai) dengan nilai 0,354 serta memiliki bobot 0,091
                                                                                95



dan skor 4. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Yuliandra, (2006) bahwa

kategori sangat sesuai masuk dalam kategori 15-25 tegakan dengan nilai 0,354.

        Berdasarkan hasil penelitian pada stasiun III kondisi pasang surutnya

tergolong dalam kategori sesuai dengan nilai 0,109 serta memiliki bobot 0,036

dan skornya 3. Hal ini sesuai dengan pernyataan Yuliandra, (2006) bahwa untuk

kategori kesesuaian ekowisata mangrove kondisi pasang surut yang tergolong

dalam kategori sesuai adalah >1-2 denagn nilai 0,109

     kondisi substrat pada stasiun III terdiri dari pasir kasar, pasir sedang dan

pasir halus sehingga dapat dikaterorikan sangat sesuai dengan nilai 0,073 serta

memiliki bobot 0,018 dan skornya 4.

        Berdasarkan hasil perhitungan skor tiap stasiun, selanjunya di hitung nilai

Indeks Kesesuaian Wisata ( IKW ) sebagai analisis akhir untuk menentukan

layak atau tidaknya kawasan Mangrove Pulau Kapota dijadikan sebagai kawasan

Ekowisata Mangrove, yang mana rumus IKW adalah ∑ [Ni / Nmax]x 100%.

        Tabel 22. Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) (%)
No     Stasiun     IKW (%)               Kategori Kelayakan         Nilai
1      I           87,26                 S1 (sangat sesuai)         81.25 – 100 %

2      II          87,26                 S1 (sangat sesuai)         81.25 – 100 %

3      III         86.82                 S 1(sangat sesuai)         81.25 – 100 %



        Berdasarkan matriks kesesuaian untuk kategori ekowisata ekosistem

mangrove dari setiap parameter yang di ukur di lapangan maka Pulau Kapota

tergolong sangat sesuai untuk dijadikan ekowisata mangrove.          Perlu adanya

perhatian pemerintah dalam pengembangan sarana dan prasarana yang dapat

menunjang pengembangan kegiatan ekowisata mangrove dan perlu adanya

keterlibatan masyarakat di dalam mengelolah, menjaga dan melindungi

ekosistem mangrove yang ada agar terjaga kelestarian ekosistem mangrove
                                                                                96



sehingga masyarakat dapat hidup dengan sejatera.            Hal ini sesuai dengan

undang-undang No 9 tentang kepariwisataan yang menyatakan bahwa

masyarakat memiliki peran serta dalam penyelenggaraan kepariwisataan.

J.    Kondisi Masyarakat sekitar, Pengunjung dan Pemangku Kebijakan

 1.     Masyarakat Sekitar Kawasan Pulau Kapota

      Masyarakat sekitar kawasan yaitu masyarakat yang berada atau berdomisili

di daerah tersebut (Pulau Kapota). Untuk pengembangan kegiatan ekowisata

mangrove perlu diketahui bagaimana persepsi masyarakat tentang wisata,

ekowisata dan ekowisata mangrove.

     a. Persepsi Masyarakat Lokal tentang Wisata

      Berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh bahwa masyarakat Pulau

Kapota sebagian belum paham tentang wisata hal itu dapat di lihat pada

(Gambar 10). Sebagian kecil masyarakat menjawab wisata adalah tempat untuk

rekreasi atau tempat untuk jalan-jalan, bahkan ada juga masyarakat yang

berpendapat bahwa wisata merupakan tempat berkunjungnya para turis-turis.


                  Persepsi masyarakat tentang wisata


                                                  25.81 %


                                                                   Tahu
                                                                   Tidak Tahu




                   74.19 %



                   Gambar 14. Persepsi masyarakat tentang wisata
                                                                          97



           Berdasarkan (Gambar 14) bahwa masyarakat yang tidak paham tentang

wisata lebih banyak dengan pesentase 74,19 % sedangkan masyarakat yang

paham tentang wisata hanya sedikit dengan persentase 25,81 % . Hal ini di

sebabkan karena kurangnya sosialisasi pemerintah setempat tentang wisata itu

sendiri.

   b. Persepsi Masyarakat Lokal tentang Ekowisata

    Persepsi masyarakat Pulau Kapota mengenai ekowisata sangat berbeda-

beda yakni ada yang berpersepsi ekowisata merupakan orang yang berkunjung

ke tempat rekreasi dalam waktu lebih dari 24 jam ada juga yang berpersepsi

merupakan kegiatan rekreasi yang dilakukan pengunjung dan tempat yang di

kelolah oleh manusia untuk pariwisata.

    Masyarakat di Pulau Kapata sebagian besar belum memahami apa yang di

maksud dengan ekowisata hanya sebagian kecil yang memahami walaupun

sebenarnya mereka sudah melakukan kegiatan ekowisata tetapi mereka tidak

memahami kegiatan tersebut karena belum diberikan pemahaman tentang

ekowisata itu sendiri. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat Pulau

Kapota hanya 9,68 % yang mengetahui apa itu ekowisata dan 90,32 % tidak

paham (Gambar 15). Hal itu di sebabkan karena kurangnya sosialisasi yang di

lakukan oleh pemerintah mengenai ekowisata itu sendiri.
                                                                               98




                        Persepsi masyarakat tentang ekowisata

                                                    9.68 %




                                                                       Tahu
                                                                       Tidak tahu




                      90.32 %



                    Gambar 15. Persepsi masyarakat tentang ekowisata
    Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang wisata perlu adanya

sosialisasi mengenai apa itu wisata sehingga apabila masyarakat memahami dan

mengerti maka masyarakat akan mendukung secara langsung di dalam menjaga

dan melindungi ekowisata mangrove         yang berada di Pulau Kapota dengan

demikian akan meningkat pengunjung yang datang untuk berwisata.

  c. Persepsi Masyarakat tentang Ekowisata Mangrove

    Di pulau Kapota sebagian besar masyarakatnya belum memahami tentang

ekowisata mangrove (Gambar 16 ). Masyarakat pulau kapota yang paham

tentang ekowisata mangrove hanya 9,68 % dan yang tidak paham tentang

ekowisata mangrove lebih banyak di banding yang paham yaitu dengan

persentase 90,32.
                                                                                        99




                Persepsi masyarakat tentang ekowisata mangrove

                                                     9.68 %



                                                                       Tahu
                                                                       Tidak tahu




                      90.32 %




                Gambar 16. Persepsi masyarakat tentang ekowisata mangrove

     Kurangnya pemahaman tentang ekowisata mangrove maka Pemerintah

setempat perlu mensosialisasikan kepada masyarakat setempat tentang

ekowisata    mangrove       agar    dengan       adanya   ekowisata    mangrove     dapat

peningkatkan taraf hidup dan kesejateraan masyarakat di Pulau Kapota.

2. Pengunjung

       Jumlah reponden pengunjung yang di ambil sebanyak 22 0rang.

berdasarkan dari hasil kuisioner di dapat karakteristik pengunjung pada lokasi

ekowisata mangrove (Tabel 23).

       Tabel 23. Karakteristik pengunjung

No   Klp umur     Jumlah Jenis kelamin       Pendidikan                Pekerjaan
     (Tahun)
                                L    P       SMA      SLTP    D3/ S1   PNS     Swasta/ Pelajar

1    15-20        10            4    6       7        3       -        -       -5 (Pelajar)

                                                                               - 2(swasta)

2    20-30        8             3    5       3        -       2        4       1 (swasta)

3    30-50        4             3    -       -        -       3        3       -
                                                                             100



       Berdasarkan hasil wawancara hampir semua kelompok umur yang

berkunjung ke lokasi tersebut untuk melakukan kegiatan ekowisata di daerah

hutan mangrove. Kelompok umur yang hbanyak melakukan kegiatan ekowisata

yaitu kelompok umur 15-20 tahun.            Hal ini menunjukan bahwa banyak anak

muda yang berminat untuk berkunjung ke lokasi hutan mangrove.             Selain

kelompok umur, berdasarkan jenis pekerjaan (tabel ) Kebanyakan berprovesi

sebagai PNS dan pelajar untuk melakukan kegitan wisata pada daerah

mangrove tersebut.

       Kebanyakan pengunjung yang datang pada daerah ekowisata hutan

mangrove Pulau Kapota adalah dari luar Pulau Kapota yaitu dari Wanci dan ada

juga dari luar wilayah Wakatobi. Pengunjung yang datang ke daerah tersebut

tidak lebih dari 6 jam. Kebanyakan wisatawan yang datang sekeluarga atau

berombongan dan ada juga yang datang untuk kepentingan penelitian. Mengenai

biaya yang di keluarkan oleh para wisatawan yang datang ke daerah wisata

hutan mangrove berdasarkan hasil wawancara kebanyakan berkomentar masih

terjangkau.

       Berdasarkan hasil wawancara, pengunjung berharap agar pemerintah

memperhatikan fasilitas infrastruktur seperti Wc umum, Vila atau Home stay

agar pengunjung dapat menikmati wisata dengan nyaman.

       Motivasi pengunjung yang datang untuk melakukan kegiatan wisata di

daerah hutan mangrove yaitu mudah di jangkau karena dekat dengan kota Wanci

selain itu juga di Pulau Kapota terdapat 20 jenis ekowisata yang bisa di nikmati.

Hal ini berdasarkan wawancara bersama ketua SPKP di Pulau Kapota, saat ini

pulau Kapota sudah memiliki objek sebanyak 20 jenis wisata yang bisa di

kunjungi oleh para wisatawan salah satunya adalah ekowisata mangrove (Tabel

24).

Tabel 24. Jenis objek wisata pulau kapota
                                                                               101



No    Potensi Wisata          Arti
1     Kelapa cabang empat     Kelapa yang memiliki cabang empat
2     Danau Tailarontoga      Air dalam daratan besar
3     Goa Dewata
4     Tebing Lontai           Tempat memancing ditebing batu
5     Kaluku Haji             Pantai berpasir putih
6     Watu sereng-sereng      Batu tebing yang berderet-deret
7     Watu ndengi-ndengi      Batu gong
8     Saru-saru’a             Tanjung keramat
9     Ogu’umengkuaka          Pohon cemara yang merupakan kubuh pertahanan
                              GITII
10    Peowa Ume               Ekowisata mangrove
11    Pantai Woru             Pantai berpasir putih yang terdapat batu banakama
                              (nama sekertariatan SPKP)

12    Mata Air Kolowowa       Mata air yang bersal dari batu
13    Laudina                 Tempat pembuangan orang lepra (penyakit kulit)
14    Hutan Bambu Onemeha     Hutan yang ditumbuhi oleh bambu-bambu
15    Pantai Kampa
16    Pantai Owolio           Pantai berpasir putih
17    Watu Lulu               Batu kelur/tanjung (batu yang dikeramatkan)
18    Watu Sahuyu
19    Benteng Togo Molengo    Benteng pertahanan
20    Benteng Katilama        Benteng pertahanan


    Aktifitas Pengunjung

      Kegiatan pengunjung yang datang untuk berwisata ke hutan mangrove

yaitu menikmati keindahan alam, keunikan hutan mangrove, melihat atraksi

burung, memancing, melihat organisme-organisme yang berasosiasi dengan

hutan mangrove seperti sponge, ubur-ubur, ikan dan jenis-jenis gastropoda

selain itu terdapat juga angrek yang berasosiasi dengan hutan mangrove.

Selanjutnya, mengenai objek yang paling menarik perhatian pengunjung adalah

melihat atraksi burung, memancing ikan, mengelilingi lokasi tersebut dengan

menggunakan sampan untuk melihat keindahan alam.               Secara keseluruhan

pengunjung yang datang ke lokasi hutan mangrove menyatakan bahwa lokasi
                                                                            102



hutan mangrove merupakan tempat yang sangat indah dan penuh dengan ke

unikan dan daya tarik untuk berwisata namun disayangkan bahwa fasilitas

prasarana belum tersedia di lokasi tersebut.

       Berdasarkan atraksi yang di yang di minati pengunjung khususnya pada

hutan mangrove (Table 25).

       Tabel 25. Minat pengunjung pada daerah hutan mangrove

No   Minat Pengunjung                             Frek. jumlah   %
                                                  pengunjung     Pengunjung

1    Jenis hutan mangrove                                7          31.82

2    Atraksi burung                                      5          22.73
3    Memancing                                           4          18.18

4    Melihat jenis angrek                                3          13.64

5    Melihat asosiasi biota-biota dengan hutan           2           9.09
     mangrove seperti sponge,ikan, ubur-ubur
     dan moluska

6    Keliling lokasi dengan menggunakan                  1           4.55
     sampan untuk melihat ke indahan alam
     pada hutan mangrove

     Jumlah                                              22



       Berdasarkan tabel di atas bahwa kebanyakan mengunjung yang datang

pada hutan mangrove atraksi yang diminatinya yaitu melihat jenis hutan

mangrove dengan persentase pengunjung 31,82 % sedangkan atraksi yang

kurang di minati oleh pengunjung yaitu keliling lokasi dengan menggunakan

sampan untuk melihat keindahan alam hutan mangrove dengan persentase 4,55

%.

3. Pemangku Kebijakan

       Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan bersama instansi terkait

seperti balai taman nasional (TNW), Dinas Kelautan dan Perikanan, WWF, Dinas
                                                                          103



Pariwisata, Kantor lingkungan Hidup, dan Badan Pusat statistik (BPS) mengenai

pemanfaatan hutan mangrove di Pulau Kapota saat sekarang ini sudah mulai di

kembangkan ekowisata salah satunya adalah ekowisata mangrove.           Pulau

kapota memiliki potensi yang sangat besar untuk pengembangan ekowisata

karena memiliki objek-objek wisata seperti gua, kelapa acabang empat, mata air

gunung, pantai pasir putih dan danau yang di keliling oleh mangrove yang

merupakan tempat penelitan kami.

       Berdasarkan hasil wawancara dengan sejumlah pemangku kebijakan

diketahui bahwa di Pulau Kapota belum ada peraturan yang spesifik mengenai

ekowisata mangrove. Lembaga pengelolah ekowisata mangrove di Pulau Kapota

sudah ada atau sudah terbentuk yaitu SPKP yang seluruh anggotanya adalah

masyarakat setempat yang di dukung oleh Balai Taman Nasional Wakatobi.

       Mengenai langkah-langkah dalam pengembangan ekowisata mangrove

yang di lakukan oleh pemerintah setempat adalah dengan melakukan promosi

seperti sosialisasi melalui media, pelatihan pemandu wisata, dukungan dana dan

publikasi. Sarana dan prasarana     seperti penyediaan produk informasi dan

perbaikan jalan. Penguatan kapasitas pengelolah seperti memberikan pelatihan

pemandu wisata, pelatihan menajemen pengelolah, pelatihan sumberdaya

manusia di bidang pariwisata dan penguatan norma-norma kelembagaan.

       Penetapan daerah ekowisata mangrove menjadi daerah wisata yaitu

dapat memberi nilai tambah ekonomi yang ditunjukan dengan meningkatnya

pendapatan masyarakat serta keberlanjutan ekologi ekosistem mangrove,

perlindungan alam, perlindungan budaya, pengembangan sumberdaya manusia

dan sarana prasarana.
                                                                                 104



                         BAB V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan


    Berdasarkan uraian hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik

kesimpulan adalah sebagai berikut :

    1.    Pulau      Kapota   layak   untuk   dijadikan   kegiatan   ekowisata   dan

         pengembangan kegiatan wisata khususnya di Danau Tailarontoga pada

         stasiun I, stasiun II dan stasiun III yang terdapat di Pantai Peuwaume di

         sebelah timur Pulau Kapota.

    2. Ekosistem mangrove di Pulau Kapota layak untuk dijadikan ekowisata

         mangrove karena sangat spesifik yaitu tidak tumbuh di pinggir pantai

         tetapi tumbuh mengarah kedarat yaitu 300 meter dari garis pantai Pulau

         Kapota

    3. Ketersediaan sarana dan prasarana cukup mendukung untuk melakukan

         kegiatan wisata.

    4. Berdasarkan persepsi pengunjung bahwa daerah lokasi ekowisata hutan

         mangrove di Pulau Kapota sangat menarik dan penuh dengan keunikan

         sehingga memiliki daya tarik untuk melakukan ekowisata di daerah

         tersebut.

B. Saran

         Berdasarkan hasil penelitian     pengembangan ekowisata Pulau Kapota

maka disarankan bahwa :


1. Perlu pengembangan infrastruktur secara terencana untuk menunjang

  kegiatan ekowisata;

2. Perlunya pelibatan masyarakat dalam berbagai perencanaan pengembangan

  kawasan ekowisata di Pulau Kapota.
                                                                  105



3. Perlu ada penelitian lebih lanjut mengenai pengembangan sarana dan

  prasarana pada ekosistem mangrove.
                                                                               106



                             DAFTAR PUSTAKA


Anugriati, 2007. Identifikasi Potensi dan Analisis Kesesuaian Ekowisata
       Manggrove Dengan Menggunakan Aplikasi Sistem Informasi Geografis di
       Kabupaten Barru. Kelautan. UNHAS

Arief, A.2003. Hutan Mangrove (Fungsi dan Peranannya). Kanisius, Yogyakarta.

Amir.I dan A. Budianto. 1996. Mengenal Sponge Laut (Demospongia) secara
       Umum.
       http://www.elib.pdii.lipi.go.id/katalog/index.php/searchkatalog/.../2885/288
       6.pdf [Diakses tgl 18 feb 2011].

Ardi. 2002. Pemanfaatan Makrozoobentos sebagai Indikator Perairan Pesisir.
       [Makalah]. Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Bengen, D.G. 2001. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem
       Mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan – Institut
Pertanian    Bogor. Bogor, Indonesia.

Bengen, D.G. 2004. Pedoman Teknis. Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem
      Mangrove. PKSPL-IPB, Bogor

Bibby, C. Jones, M. Marsder, S. 2000. Teknik-Teknik Ekspedisi Lapangan :
       Survey Burung. SMKG Mardi Yuana. Bogor.

Budiman, A. dan Suhardjono. 1992. Struktur Komunitas Mangrove. Prosiding
      Lokakarya Nasional Penyusunan Penelitian Biologi Kelautan dan Proses
      Dinamika Pesisir, Semarang 24-28 November 1992.

Dahuri, R., 1996. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara
       Terpadu. PT. Pradnya Paramita, Jakarta.

DKP Sul Sel dan LP3WP, 2006. Inventarisasi Kawasan Mangrove di Sulawesi
     Selatan. Laporan Akhir

Damanik,J. dan Weber,H.F. 2006. Perencanaan ekowisata. PUSPAR UGM dan
     Andi, Yogyakarta.

Dharma, B., 1992. Siput dan Kerang Indonesia Shell II. PT. Sarana Graha,
     Jakarta.

Erwin. 2005. Studi Kesesuaian Lahan Untuk Penanaman Mangrove Ditinjau Dari
        Kondisi Fisika Oseanografi dan Morfologi Pantai pada Desa Sanjai Pasi
        Marannu Kabupaten Sinjai. Skripsi. Program Studi Kelautan, UNHAS.
        Makassar
Endar Sugiarto, Kusmayadi, 2000.Metodologi Penelitian Dalam Bidang
       Kepariwisataan. Gramedia Pustaka Utama.Jakarta, Jakarta-Indonesia
                                                                              107



Fachrul, M. F. 2006 . Metode Sampling Bioekologi. Bumi Aksara, Jakarta.

Hutabarat, S. dan Evans, S.M. 1984. Pengantar Oseanografi. Universitas
        Indonesia Press, Jakarta.

Kasim, Ma’ruf. 2006. Kawasan Mangrove dan Konsep Ecotourism. http//www
        ecoutorisem.org (Diakses tanggal 26 Maret 2011)

Modul Praktikum Oseanografi. 2006. Laboratorium Oseanografi Fisika. Jurusan
        Ilmu Kelautan. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis. Gramedia,
      Jakarta.

Noor, Y.R., Khazali, M. dan Suryadiputra, I. N. N. 1999. Panduan Pengenalan
         Mangrove di Indonesia. PKA/ WI-IP, Bogor

Nurhamsia, 2009. Analisis Pengembangan Ekowisata Mangrove Di Pantai
       Wisata Lombang-Lombang Kecamatan Kalukku Kabupaten Mamuju
       Sulawesi Barat. Skripsi. Program Studi Kelautan, UNHAS.

Ng, P.K.L. and N. Sivasothi (ed.). 2001. A Guide to Mangroves of Singapore.
         Volume 1: The Ecosystem and Plant Diversity and Volume 2: Animal
         Diversity. Singapore: The Singapore Science Centre.

Nontji, A. 2002. Laut Nusantara. Djambatan, Jakarta.
Odum, E. P. 1971. Fundanental Of Ecology third Edition. W. B. Sounder
       Compan, Philadelphia. USA.

Peristiwady, T. 2006. Ikan-Ikan Laut Ekonomis Penting Di Indonesia. LIPI Press.
         Jakarta

Peraturan Menteri Kehutanan republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010
          Tentang Permohonan, Pemberian, dan Pencabutan Izin Pengusahaan
          taman Buru www.dephut.go.id/files/P17_2010.pdf [ Di akses tgl 8
          Agustus 2011]

Rafika, 2011. Perencanaan Jalur Interpretasi Alam di Pulau Kapota, Taman
          Nasional Wakatobi. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Romimohtarto. K dan Juwana. S. 2001. Biologi Laut, Ilmu Pengetahuan Tentang
     Bilogi Laut. Djambatan. Jakarta.

Sultan,I. 2001 Studi Tentang Kerapatan dan Frekwensi Jenis Hutan Mangrove di
          Pantai Pasir Putih Kecamatan Boleh Kab Wajo. Jurusan Ilmu Kelautan
          Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin,
          Makassar.

Supriharyono, M. S. Dr. Ir. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya
       Alam di Wilayah Pesisir Tropis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
                                                                              108



Soekadijo 2000. Anatomi Pariwisata Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Jakarta-
        Indonesia.

Sunu, P. 2001. Melindungi Lingkungan Dengan Menerapkan ISO 14001. PT
        Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.

Soerianegara Ishemat dkk, 1986. Diskusi Panel Daya Guna dan Batas Lebar
        Jalur Hijau Hutan Mangrove.      Proyek lingkungan Hidup –LIPI
        Departemen Kehutanan. Jakarta.

Santoso, N. 2000. Pola Pengawasan Ekosistem Mangrove. Makalah
        disampaikan pada Lokakarya Nasional Pengembangan Sistem
        Pengawasan Ekosistem Laut Tahun 2000. Jakarta, Indonesia.

Subadra, IN 2008 Welcome to Bali Tourism Watch Bali Tourism Watch:
       Ekowisata sebagai Wahana Pelestarian Alam Akademi Pariwisata
       Triatma Jaya-Dalung http//Bali Tourism Watch Ekowisata sebagai
       Wahana Pelestarian Alam « Welcome to Bali Tourism Watch.htm
       [diakses tanggal 4 April 2011].

Sukarsa, I.Made.1999. Pengantar Pariwisata. Badan Kerjasama Perguruan
      Tinggi Negeri Indonesia Timur. Makassar.

SNM (Strategi Nasional Mangrove). 2003. Strategi Nasional Pengelolaan
      Mangrove di Indonesia (Draft Revisi); Buku II: Mangrove di Indonesia.
      Jakarta: Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup.

Taqwa, A. 2010. Analisis Produktivitas Primer Fitoplankton dan Struktur
         Komunitas Fauna Makrobenthos Berdasarkan Kerapatan Mangrove di
         Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan Kota Tarakan,
         Kalimantan Timur. Tesis. Semarang

Tuwo, A. 2011. Pengelolaan Ekowisata Pesisir dan Laut. Brilian
        Internasional. Surabaya.

Utama, A. 2009. Perencanaan Ekowisata Penyu Berbasis Masyarakat di Pulau
        Anano Taman Nasional Wakatobi. IPB

Utojo, et al, 2000. Studi Kelayakan Sumber Daya Budu Daya Laut di Pulau-pulau
        Sembilan Kab. Sinjai Sul. Sel. Teluk Tira-tira, Teluk Kamaru dan Teluk
        Lawele Kab. Buton serta Teluk Kalisusu Kab. Muna Sulawesi Tengah.
        Balikanta, Maros.

Undang-undang Nomor 10 Tentang Kepariwisataan. 2010.
       www.dephut.go.id/.../UNDANG- [Diakses tgl 6 Agustus 2011].

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam
       Hayati dan Ekosistemnya. 1990. www.dephut.go.id/.../UNDANG-
        [Diakses tgl 4 Agustus 2011].
                                                                          109



Warpani Suwardjoko P,     2007. Pariwisata Dalam Tata Ruang Wilayah. ITB.
        Bogor.

Wiharyanto Dhimas, 2007. Kajian Pengembangan Ekowisata Mangrove Di
       kawasan Konservasi Pelabuhan Tengkayu II Kota Tarakan
        Kalimantan Timur.Tesis. IPB.

Wantasen, Adnan. 2002. Kajian Potensi Sumberdaya Hutan Mangrove di Desa
      Talise Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Institut Pertanian Bogor
      http://tumoutou.net/702 05123/adnan wantasen pdf (Diakses tanggal 15
      Mei 2010).

Yulianda, F. 2006.     Ekowisata Bahari Sebagai Alternatif Pemanfaatan
         Sumberdaya Pesisir Berbasis Konservasi.. Makalah Seminar Sehari
         Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut, Institut Pertanian Bogor.

Yakup, M. 2010. Studi Kesesuaian Ekowisata Ekosistem Mangrove di Dusun
        Tappina Kecamatan Binuang Kabupaten Polewali Mandar Propinsi
        Sulawesi Barat. Skripsi. Universitas Hasanuddin Makassar. Makassar.

Zulkifly, 2008. Kajian Tingkat Keberhasilan Rehabilitasi Vegetasi Mangrove
          Ditinjau Dari Bioekologi Di Pantai Tokke-Tokke Kecamatan Pitungpanua
          Kabupaten Wajo. Universitas Hasanuddin Makassar. Makassar.
                                                                                   110



Lampiran 1. Ekosistem Mangrove

STASIUN I
PLOT I
Penutupan Jenis (Ci)

Ci = BA/A

BA = (p(DBH)2)/4

DBH = CBH/p

Induk

                                                                   BA        Penutupan
   No                  jenis            Diameter      DBH       (лDBH2/4)     Jenis (Ci)
    1          Xilocarpus granatum        8.5        2.7056       5.749        0.057
    2          Xilocarpus granatum        12         3.8197      11.459        0.115
    3          Xilocarpus granatum        9.5        3.0239       7.182        0.072
    4          Xilocarpus granatum         7         2.2282       3.899        0.039
    5          Xilocarpus granatum        15.5       4.9338      19.118        0.191
    6         Bruguiera gymnorhiza        33         10.504      86.660        0.867
    7         Bruguiera gymnorhiza        18         5.730       25.783        0.258
    8         Bruguiera gymnorhiza        22.5       7.162       40.286        0.403
    9         Bruguiera gymnorhiza        128        40.744     1303.794       13.038
   10         Bruguiera gymnorhiza        14         4.456       15.597        0.156
   11         Bruguiera gymnorhiza        12.5       3.979       12.434        0.124
   12         Bruguiera gymnorhiza         8         2.546        5.093        0.051
   13         Bruguiera gymnorhiza        18         5.730       25.783        0.258
   14         Bruguiera gymnorhiza        43         13.687      147.138       1.471
   15         Bruguiera gymnorhiza        5.5        1.751        2.407        0.024
   16         Xilocarpus moluccensis      11.5       3.661       10.524        0.105
   17         Xilocarpus moluccensis      50         15.915      198.943       1.989
   18         Xilocarpus moluccensis      11.5       3.661       10.524        0.105


Tabel Kerapatan Jenis dan Penutupan relative jenis

                                                                            Pentpn relatf
            Jenis                ni/A       Kerapatan Relatif       Ci          jns
 Xilocarpus granatum             0.05              27.7778         1.896       1.8747
 Xilocarpus moluccensis          0.03              16.6667        32.6728     32.3009
 Bruguiera gymnorhiza            0.1               55.5556        66.582      65.8244
            Jumlah               0.18            100.0000        101.1515    100.0000
                                                                                        111



STASIUN I
PLOT II
Penutupan Jenis (Ci)

Ci = BA/A

BA = (p(DBH)2)/4

DBH = CBH/p

Induk

                                                                     BA       Penutupan
    No                    jenis              Diameter     DBH     (лDBH2/4)    Jenis (Ci)
     1        Xilocarpusmoluccensis            8.5        2.706     5.749       0.057
     2        Xilocarpusmoluccensis             8         2.546     5.093       0.051
     3         Bruguiera gymnorhiza            12.5       3.979    12.434       0.124
     4         Bruguiera gymnorhiza            6.5        2.069     3.362       0.034
     5         Bruguiera gymnorhiza             8         2.546     5.093       0.051
     6         Bruguiera gymnorhiza            17.5       5.570    24.371       0.244
     7         Bruguiera gymnorhiza            11.5       3.661    10.524       0.105
     8         Bruguiera gymnorhiza            13.5       4.297    14.503       0.145
     9         Bruguiera gymnorhiza            9.5        3.024     7.182       0.072
    10         Bruguiera gymnorhiza             6         1.910     2.865       0.029
    11         Bruguiera gymnorhiza            93.5      29.762    695.685      6.957
    12         Bruguiera gymnorhiza            37.5      11.937    111.906      1.119
    13         Bruguiera gymnorhiza            76        24.191    459.638      4.596
    14         Bruguiera gymnorhiza            60        19.099    286.478      2.865
    15               Soneratia alba            8.5        2.706     5.749       0.057
    16               Soneratia alba            24         7.639    45.837       0.458
    17         Xilocarpusgranatum              10.5       3.342     8.773       0.0877
    18         Xilocarpusgranatum              11.5       3.661    10.524       0.1052


Tabel Kerapatan Jenis dan Penutupan relative jenis

                                                      Kerapatan                Pentpn relatf
             jenis                    ni/A              Relatif        Ci          jns
 Xilocarpus moluccensis               0.03              9.677        0.434         0.632
  Bruguiera gymnorhiza                0.19              61.290       0.7719        1.125
         Soneratia alba               0.03              9.677        2.063         3.007
   Xilocarpus granatum                0.06              19.355       65.362       95.237
            jumlah                    0.31               100         68.631      100.000
                                                                         112




STASIUN I
PLOT III
Penutupan Jenis (Ci)

Ci = BA/A

BA = (p(DBH)2)/4

DBH = CBH/p

Induk

                                                                     Penutupan
    No                 jenis           Diameter    DBH       BA       Jenis (Ci)
     1          Xilocarpugranatum        17       5.411    22.998      0.230
     2          Xilocarpugranatum        7.5      2.387     4.476      0.045
     3          Xilocarpugranatum        75       23.873   447.622     4.476
     4          Xilocarpugranatum        16       5.093    20.372      0.204
     5        Bruguiera gymnorhiza        8       2.546     5.093      0.051
     6        Bruguiera gymnorhiza       8.5      2.706     5.749      0.057
     7        Bruguiera gymnorhiza       7.5      2.387     4.476      0.045
     8        Bruguiera gymnorhiza       11.5     3.661    10.524      0.105
     9        Bruguiera gymnorhiza       6.5      2.069     3.362      0.034
    10        Bruguiera gymnorhiza        9       2.865     6.446      0.064
    11        Bruguiera gymnorhiza       8.5      2.706     5.749      0.057
    12        Bruguiera gymnorhiza       23       7.321    42.096      0.421
    13        Bruguiera gymnorhiza       10.5     3.342     8.773      0.088
    14        Bruguiera gymnorhiza       22       7.003    38.515      0.385
    15        Bruguiera gymnorhiza        6       1.910     2.865      0.029
    16        Bruguiera gymnorhiza       4.5      1.432     1.611      0.016
    17        Bruguiera gymnorhiza       13       4.138    13.449      0.134
    18        Bruguiera gymnorhiza        6       1.910     2.865      0.029
    19        Bruguiera gymnorhiza        8       2.546     5.093      0.051
    20        Xilocarpus moluccensis     16.5     5.252    21.665      0.217
    21        Xilocarpus moluccensis     7.5      2.387     4.476      0.045
                                                                               113



Tabel Kerapatan Jenis dan Penutupan relative jenis

                                           Kerapatan Relatif            Pentpn relatf
           Jenis              ni/A         (RDI)                 Ci         jns
 Xilocarpus granatum             0.06           26.087         20.035     73.249
 Bruguiera gymnorhiza            0.15           65.217         6.271      22.929
 Xilocarpus moluccensis          0.02            8.696         1.046       3.823
          Jumlah                 0.23          100.000         27.352     100.000


 NILAI FREKUENSI

                                   Xilocarpus moluccensis                    2.333
                                    Bruguiera gymnorhiza                  12.33333
      Frek.Jns (pi/P)
                                         Soneratia alba                      0.667
                                     Xilocarpus granatum                  3.666667
                                Jumlah                                      19.000
                                   Xilocarpus moluccensis                   12.281
      Frek.relatif jns              Bruguiera gymnorhiza                  64.91228
      RFI(fi/F*100%)                     Soneratia alba                      3.509
                                     Xilocarpus granatum                    19.298
                                Jumlah                                     100.000
                                                                                      114



STASIUN II
PLOT I
Penutupan Jenis (Ci)

Ci = BA/A

BA = (p(DBH)2)/4

DBH = CBH/p

Induk

                                                                      BA        Penutupan
   No                jenis            Diameter          DBH        (лDBH2/4)     Jenis (Ci)
    1        Bruguiera gymnorhiza           60         19.099       286.478        2.865
    2        Bruguiera gymnorhiza           41.5       13.210       137.052        1.371
    3        Bruguiera gymnorhiza           13.5        4.297       14.503         0.145
    4        Bruguiera gymnorhiza           10.5        3.342        8.773         0.088
    5        Bruguiera gymnorhiza           125        39.789      1243.395       12.434
    6        Bruguiera gymnorhiza           115        36.606      1052.410       10.524
    7        Bruguiera gymnorhiza           31.5       10.027       78.961         0.790
    8        Bruguiera gymnorhiza           60         19.099       286.478        2.865
    9        Bruguiera gymnorhiza           40         12.732       127.324        1.273
   10        Bruguiera gymnorhiza           90         28.648       644.576        6.446
   11        Bruguiera gymnorhiza           100        31.831       795.773        7.958
   12         Xilocarpusgranatum            10          3.183        7.958         0.080
   13         Xilocarpusgranatum             9          2.865        6.446         0.064
   14         Xilocarpus granatum           7.5         2.387        4.476         0.045
   15        Xilocarpusmoluccensis          23.5        7.480       43.947         0.439


Tabel Kerapatan Jenis dan Penutupan relative jenis

                                                    Kerapatan                  Pentpn relatf
             jenis                   ni/A          Relatif (RDI)      Ci         jns (Rci)
   Bruguiera gymnorhiza              0.11           73.33333       187.029        98.775
    Xilocarpus granatum              0.03               20          0.562         0.297
   Xilocarpus moluccensis            0.01           6.666667        1.758         0.928
                                     0.15              100         189.349       100.000
                                                                                     115



STASIUN II
PLOT II
Penutupan Jenis (Ci)

Ci = BA/A

BA = (p(DBH)2)/4

DBH = CBH/p

Induk

                                                                    BA         Penutupan
   No                jenis           Diameter         DBH        (лDBH2/4)      Jenis (Ci)
    1        Bruguiera gymnorhiza      118           37.560      1108.034        11.080
    2         Bruguera gymnorhiza       9            2.865         6.446          0.064
    3        Bruguiera gymnorhiza       6            1.910         2.865          0.029
    4        Bruguiera gymnorhiza      12            3.820        11.459          0.115
    5        Bruguiera gymnorhiza      160           50.929      2037.179        20.372
    6        Bruguiera gymnorhiza       6            1.910         2.865          0.029
    7        Bruguiera gymnorhiza      5.5           1.751         2.407          0.024
    8        Bruguiera gymnorhiza      11.5          3.661        10.524          0.105
    9        Bruguiera gymnorhiza       7            2.228         3.899          0.039
   10        Bruguiera gymnorhiza      9.5           3.024         7.182          0.072
   11        Bruguiera gymnorhiza      14.5          4.615        16.731          0.167
   12        Bruguiera gymnorhiza      11            3.501         9.629          0.096
   13        Bruguiera gymnorhiza      21            6.684        35.094          0.351
   14        Bruguiera gymnorhiza      10.5          3.342         8.773          0.088
   15        Bruguiera gymnorhiza      6.5           2.069         3.362          0.034
   16         Xilocarpusgranatum       4.5           1.432         1.611          0.016
   17         Xilocarpusgranatum       4.5           1.432         1.611          0.016


Tabel Kerapatan Jenis dan Penutupan relative jenis

                                             Kerapatan Relatif               Pentpn relatf
            jenis             ni/A                (RDI)            Ci          jns (Rci)
 Bruguiera gymnorhiza         0.15                88.235         140.818        99.909
 Xilocarpus granatum          0.02                11.765          0.129         0.091
                              0.17               100.000         140.947         100
                                                                           116



STASIUN II
PLOT III
Penutupan Jenis (Ci)

Ci = BA/A

BA = (p(DBH)2)/4

DBH = CBH/p

Induk

                                                            BA       Penutupan
   No                  jenis         Diameter    DBH     (лDBH2/4)    Jenis (Ci)
    1        Xilocarpusmoluccensis      4       1.273      1.273       0.013
             Xilocarpus
    2        moluccensis               21       6.684     35.094       0.351
             Xilocarpus
    3        moluccensis                5       1.592      1.989       0.020
    4        Bruguiera gymnorhiza       3       0.955      0.716       0.007
    5        Bruguiera gymnorhiza       4       1.273      1.273       0.013
    6        Bruguiera gymnorhiza      9.5      3.024      7.182       0.072
    7        Bruguiera gymnorhiza      13.5     4.297     14.503       0.145
    8        Bruguiera gymnorhiza      12       3.820     11.459       0.115
    9        Bruguiera gymnorhiza      19       6.048     28.727       0.287
   10        Bruguiera gymnorhiza      12.5     3.979     12.434       0.124
   11        Bruguiera gymnorhiza      25.5     8.117     51.745       0.517
   12        Bruguiera gymnorhiza      36       11.459    103.132      1.031
   13        Bruguiera gymnorhiza      13.5     4.297     14.503       0.145
   14        Bruguiera gymnorhiza      6.5      2.069      3.362       0.034
   15        Bruguiera gymnorhiza      11.5     3.661     10.524       0.105
   16        Bruguiera gymnorhiza      14       4.456     15.597       0.156
   17        Bruguiera gymnorhiza      9.5      3.024      7.182       0.072
   18        Xilocarpus granatum       110      35.014    962.885      9.629
   19        Xilocarpus granatum       4.5      1.432      1.611       0.016
   20        Xilocarpus granatum       21       6.684     35.094       0.351
                                                                                 117



Tabel Kerapatan Jenis dan Penutupan relative jenis

                                          Kerapatan Relatif              Pentpn relatf
          jenis                ni/A            (RDI)            Ci         jns (Rci)
 Xilocarpus moluccensis        0.03            17.647         1.534         2.978
  Bruguiera gymnorhiza         0.11            64.706         9.997         19.407
  Xilocarpus granatum          0.03            17.647         39.984        77.615
                               0.17             100           51.515         100


NILAI FREKUENSI

                             Bruguiera gymnorhiza                       15.667
                             Xilocarpus granatum                           8
     Frek.Jns (pi/P)
                             Xilocarpus moluccensis                      1.333
                             Soneratia alba                              0.667
 Jumlah                                                                 25.667
                             Bruguiera gymnorhiza                       61.039
                             Xilocarpus granatum                        31.169
     RFI(fi/F*100%)
                             Xilocarpus moluccensis                      5.195
                             Soneratia alba                              2.597
                                                                       100.000
                                                                                        118



STASIUN III
PLOT I
Penutupan Jenis (Ci)

Ci = BA/A

BA = (p(DBH)2)/4

DBH = CBH/p

Induk

                                                                        BA        Penutupan
  No                   jenis              Diameter        DBH        (лDBH2/4)     Jenis (Ci)
   1          Bruguiera gymnorhiza             51       16.234        206.981        2.070
   2          Bruguiera gymnorhiza             17        5.411        22.998         0.230
   3          Bruguiera gymnorhiza             29        9.231        66.924         0.669
   4          Bruguiera gymnorhiza             10        3.183         7.958         0.080
   5          Bruguiera gymnorhiza             9         2.865         6.446         0.064
   6          Bruguiera gymnorhiza             24        7.639        45.837         0.458
   7          Bruguiera gymnorhiza             16        5.093        20.372         0.204
   8          Bruguiera gymnorhiza             54       17.189        232.047        2.320
   9          Bruguiera gymnorhiza             39       12.414        121.037        1.210
  10          Bruguiera gymnorhiza             18        5.730        25.783         0.258
  11          Bruguiera gymnorhiza             23        7.321        42.096         0.421
  12          Bruguiera gymnorhiza             49       15.597        191.065        1.911
  13          Bruguiera gymnorhiza             86       27.375        588.554        5.886
  14       Scyphiphora hydrophyllacea          11        3.501         9.629         0.096
  15       Scyphiphora hydrophyllacea          19        6.048        28.727         0.287
  16           Xilocarpusgranatum              21        6.684        35.094         0.351
  17           Xilocarpusgranatum              17        5.411        22.998         0.230
  18           Xilocarpusgranatum              13        4.138        13.449         0.134
  19           Xilocarpusgranatum              17        5.411        22.998         0.230


Tabel Kerapatan Jenis dan Penutupan relative jenis

                                                     Kerapatan                   Pentpn relatf
               jenis                    ni/A        Relatif (RDI))      Ci         jns (Rci)
        Bruguiera gymnorhiza            0.13           68.421         15.781        92.233
  Scyphiphora hydrophyllacea            0.02           10.526          0.384        2.242
        Xilocarpus granatum             0.04           21.053          0.945        5.525
                                        0.19            100           17.110       100.000
                                                                              119



STASIUN III
PLOT II
Penutupan Jenis (Ci)

Ci = BA/A

BA = (p(DBH)2)/4

DBH = CBH/p

Induk

                                                                BA       Penutupan
  No                   jenis             Diameter   DBH      (лDBH2/4)    Jenis (Ci)
  1            Bruguiera gymnorhiza        10        3.183       7.958        0.080
  2            Bruguiera gymnorhiza        27        8.594      58.012        0.580
  3            Bruguiera gymnorhiza        33       10.504      86.660        0.867
  4            Bruguiera gymnorhiza        10        3.183       7.958        0.080
  5            Bruguiera gymnorhiza        9         2.865       6.446        0.064
  6            Bruguiera gymnorhiza        11        3.501       9.629        0.096
  7            Bruguiera gymnorhiza        9         2.865       6.446        0.064
  8            Bruguiera gymnorhiza        24        7.639      45.837        0.458
  9            Bruguiera gymnorhiza        27        8.594      58.012        0.580
  10           Bruguiera gymnorhiza        19        6.048      28.727        0.287
  11           Bruguiera gymnorhiza        14        4.456      15.597        0.156
  12           Bruguiera gymnorhiza        65       20.690     336.214        3.362
  13          Xilocarpus moluccensis       23        7.321      42.096        0.421
  14        Scyphiphora hydrophyllacea     9         2.865       6.446        0.064
  15        Scyphiphora hydrophyllacea     71       22.600     401.149        4.011
  16        Scyphiphora hydrophyllacea     13        4.138      13.449        0.134
  17        Scyphiphora hydrophyllacea     17        5.411      22.998        0.230
  18           Xilocarpus granatum         34       10.823      91.991        0.920
  19           Xilocarpus granatum         18        5.730      25.783        0.258
  20           Xilocarpus granatum         36       11.459     103.132        1.031
                                                                                   120



Tabel Kerapatan Jenis dan Penutupan relative jenis

                                                      Kerapatan               Pentpn relatf
               Jenis                    ni/A         Relatif (RDI)     Ci       jns (Rci)
     Bruguiera gymnorhiza              0.12            60.000        44.374      86.256
     Xilocarpus moluccensis            0.01             5.000        0.421       0.818
  Scyphiphora hydrophyllacea           0.04            20.000        4.440       8.631
      Xilocarpus granatum              0.03            15.000        2.209       4.294
                                        0.2              100         51.445       100
                                                                            121



STASIUN III
PLOT III
Penutupan Jenis (Ci)

Ci = BA/A

BA = (p(DBH)2)/4

DBH = CBH/p

Induk

                                                           BA       Penutupan
 No                  jenis           Diameter   DBH     (лDBH2/4)    Jenis (Ci)
  1           Bruguiera gymnorhiza     10       3.183       7.958         0.080
  2           Bruguiera gymnorhiza     5.5      1.751       2.407         0.024
  3           Bruguiera gymnorhiza     14.5     4.615      16.731         0.167
  4           Bruguiera gymnorhiza     8.5      2.706       5.749         0.057
  5           Bruguiera gymnorhiza      9       2.865       6.446         0.064
  6           Bruguiera gymnorhiza     6.5      2.069       3.362         0.034
  7           Bruguiera gymnorhiza     22.5     7.162      40.286         0.403
  8           Bruguiera gymnorhiza     6.5      2.069       3.362         0.034
  9           Bruguiera gymnorhiza      6       1.910       2.865         0.029
 10           Bruguiera gymnorhiza     7.5      2.387       4.476         0.045
 11           Bruguiera gymnorhiza     8.5      2.706       5.749         0.057
 12           Bruguiera gymnorhiza     10.5     3.342       8.773         0.088
 13           Bruguiera gymnorhiza     8.5      2.706       5.749         0.057
 14           Bruguieragymnorhiza      8.5      2.706       5.749         0.057
 15           Bruguiera gymnorhiza     18       5.730      25.783         0.258
 16           Bruguiera gymnorhiza     13.5     4.297      14.503         0.145
 17           Bruguiera gymnorhiza     13.5     4.297      14.503         0.145
 18           Bruguiera gymnorhiza     10.5     3.342       8.773         0.088
 19           Bruguiera gymnorhiza     14       4.456      15.597         0.156
 20           Bruguiera gymnorhiza     5.5      1.751       2.407         0.024
 21           Xilocarpus granatum      7.5      2.387       4.476         0.045
 22           Xilocarpus granatum       8       2.546       5.093         0.051
 23           Xilocarpus granatum       7       2.228       3.899         0.039
 24     Scyphiphora hydrophyllacea     8.5      2.706       5.749         0.057
 25     Scyphiphora hydrophyllacea      7       2.228       3.899         0.039
 26     Scyphiphora hydrophyllacea      4       1.273       1.273         0.013
                                                                                 122



                                              Kerapatan                 Pentpn relatf
             Jenis              ni/A          Relatif (RDI)     Ci        jns (Rci)
     Bruguiera gymnorhiza               0.2           76.923    8.033         87.766
     Xilocarpus granatum               0.03           11.538    0.539          5.886
  Scyphiphora hydrophyllacea           0.03           11.538    0.581          6.347
                                       0.26               100   9.152            100


NILAI FREKUENSI



                            Bruguiera gymnorhiza                              15.000
                            Xilocarpus granatum                         3.333333333
     Frek.Jns (pi/P)
                            Xilocarpus moluccensis                             0.333
                            Scyphiphora hydrophyllacea                             3
Jumlah                                                                        21.667
                            Bruguiera gymnorhiza                              69.231
                            Xilocarpus granatum                               15.385
     RFI(fi/F*100%)
                            Xilocarpus moluccensis                             1.538
                            Scyphiphora hydrophyllacea                        13.846
                                                                             100.000
                                                                  123



Lampiran 2. Kondisi Oseanografi Pulau Kapota

                  Tinggi Muka Air   Konstanta Dodson (
  No      Jam                                            HXC     MSL
                        (H)                C)
   1       1:00         1.5                 1              1.5
   2       2:00         1.8                 0                0
   3       3:00          2                  1                2
   4       4:00         2.1                 0                0
   5       5:00         2.1                 0                0
   6       6:00         1.9                 1              1.9
   7       7:00         1.6                 0                0
   8       8:00         1.3                 1              1.3
   9       9:00          1                  1                1
   10     10:00         0.9                 0                0
   11     11:00         0.8                 2              1.6
   12     12:00          1                  0                0
   13     13:00         1.2                 1              1.2
   14     14:00         1.4                 1              1.4
   15     15:00         1.6                 0                0
   16     16:00         1.7                 2              3.4
   17     17:00         1.7                 1              1.7
   18     18:00         1.6                 1              1.6
   19     19:00         1.4                 2              2.8
   20     20:00         1.2                 0                0
                                                                 140.33
   21     21:00          1                  2                2
   22     22:00         0.9                 1              0.9
   23     23:00          1                  1                1
   24      0:00         1.2                 2              2.4
   25      1:00         1.4                 0                0
   26      2:00         1.7                 1              1.7
   27      3:00          2                  1                2
   28      4:00         2.1                 0                0
   29      5:00         2.1                 2              4.2
   30      6:00          2                  0                0
   31      7:00         1.8                 1              1.8
   32      8:00         1.5                 1              1.5
   33      9:00         1.2                 0                0
   34     10:00         0.9                 1              0.9
   35     11:00         0.8                 0                0
   36     12:00         0.8                 0                0
   37     13:00         0.9                 1              0.9
   38     14:00         1.2                 0                0
   39     15:00         1.4                 1              1.4
                             55.7           30            42.1
                                                                             124



   Lampiran 3 . Butiran Sedimen Pulau Kapota

   Stasiun I

  UKURAN           ST.1.1            PERSEN FRAKSI         PERSEN KUMULATIF
       2           2.476                 2.47578               2.47555
       1           4.239                 4.23862               6.71417
     0,500         41.921               41.91723               48.63140
     0,250         46.265               46.26084               94.89224
     0,125         4.111                 4.11063               99.00287
     0,063         0.997                 0.99691               99.99978
    <0,063           0                   0.00000               99.99978
                  100.009                  100                451.71579


   Stasiun II

     UKURAN                  II           PERSEN FRAKSI     PERSEN KUMULATIF
           2             32.73                 32.69730         32.664638
           1             15.23                 15.21479         47.879423
      0,500                26.2                26.17383         74.053249
      0,250              13.426                13.41259         87.465837
      0,125                8.98                 8.97103         96.436866
      0,063                3.42                 3.41658         99.853449
      <0,063             0.114                  0.11389         99.967335
       Total             100.1                    100           538.320798


Stasiun III

UKURAN                      ST III        PERSEN FRAKSI     PERSEN KUMULATIF
           2             15.574                15.573066        15.572131
           1             18.922                18.920865        34.492996
       0,500             31.103                31.101134        65.594130
       0,250             19.837                19.835810        85.429940
       0,125             11.797                11.796292        97.226232
       0,063                2.396              2.395856         99.622088
      <0,063                0.377              0.3769774        99.999066
                         100.006                 100           497.936583
                                                                             125




                                                           Pasir     Pasir    Pasir
          Diameter        Berat        %          %        Kasar    Sedang    Halus
Stasiun
                                      Berat    Kumulatif
             (mm)          (gr)                             (%)      (%)       (%)
               >2           2.476      2.476       2.476
             1 s/d 2        4.239      4.239       6.714
             0.5 - 1       41.921     41.917      48.631
           0.25 - 0.5      46.265     46.261      94.892
   I                                                       48.632   46.261    5.108
          0.125 - 0.25      4.111      4.111      99.003
          0.063 - 0.125     0.997      0.997    100.000
            < 0.063               0    0.000    100.000
          JUMLAH          100.009 100.000
               >2           32.73     32.697      32.697
             1 s/d 2        15.23     15.215      47.912
             0.5 - 1         26.2     26.174      74.086
           0.25 - 0.5      13.426     13.413      87.498
  II                                                       74.086   13.413   12.501
          0.125 - 0.25       8.98      8.971      96.469
          0.063 - 0.125      3.42      3.417      99.886
            < 0.063         0.114      0.114    100.000
          JUMLAH            100.1       100
               >2          15.574     15.573      15.573
             1 s/d 2       18.922     18.921      34.494
             0.5 - 1       31.103     31.101      65.595
           0.25 - 0.5      19.837     19.836      85.431
  III                                                      65.595   19.836   14.569
          0.125 - 0.25     11.797     11.796      97.227
          0.063 - 0.125     2.396      2.396      99.623
            < 0.063         0.377      0.377    100.000
          JUMLAH          100.006 100.000

								
To top