RANCANGAN MODEL KIMHUT BAMBU by 1ygrs3W6

VIEWS: 103 PAGES: 19

									                                     1



                 RANCANGAN MODEL
          KAWASAN INDUSTRI KERAJINAN BAMBU

                         Prof Dr Ir Soemarno, M.S.


      I. PENDAHULUAN

         Visi yang sekarang diemban dalam pengelolaan sumberdaya hutan
adalah “HUTAN UNTUK KEMAKMURAN RAKYAT SECARA BERKEADILAN
DAN BERKELANJUTAN”. Dengan visi seperti ini upaya-upaya menciptakan
kemakmuran masyarakat melalui pengelolaan hutan dilaksanakan secara adil,
dan memberi kesempatan yang luas kepada masyarakat.
         Selanjutnya dalam rangka memberdayakan masyarakat di sekitar
kawasan hutan, telah diberikan peluang bagi masyarakat untuk turut serta
mengelola hutan melalui wadah koperasi untuk meningkatkan kesejahteraannya
melalui peningkatan pengusahaan hasil hutan non kayu oleh usaha kecil dan
koperasi. Oleh karena itu kemampuan kelembagaan masyarakat dalam
pengusahaan hasil hutan non kayu perlu ditingkatkan agar dapat memberikan
keuntungan ekonomis dan ekologis yang maksimal. Dalam konteks inilah maka
perlu disusun Rancangan Model Pengusahaan Hasil Hutan Non Kayu (Bambu)
oleh Usaha Kecil dan Koperasi dalam wadah KIMHUT yang diharapkan dapat
dipergunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan.
         Pembangunan Kawasan industri milik masyarakat perhutanan (KIMHUT)
bambu pada hakekatnya adalah kegiatan awal untuk memacu pembangunan
ekonomi rakyat di wilayah pedesaan. Secara bertahap kegiatan produksi
diupayakan untuk diikuti oleh muncul dan berkembangannya kegiatan ekonomi
terkait, sehingga menumbuhkan perekonomian masyarakat. Rancangan KIMHUT
Bambu, yang meliputi lima komponen utama, yaitu:
         (1) Unit produksi bambu dan Kelembagaan Pengelolanya (KSP),
         (2). Unit Industri Pengolahan Produk Bambu,
         (3). Unit Industri Perdagangan: Kemas/Packaging, Promosi, Pemasaran
         (4). Unit Industri Pupuk Organik /Pakan ternak.
         (5). Unit Penunjang: Kebun Teknologi, Lembaga Pendampingan dan
              Lembaga Investasi
                                 2



II. RANCANGAN MODEL KIMHUT BAMBU PACITAN
 (KAWASAN INDUSTRI MASYARAKAT PERHUTANAN)



               MANAJEMEN PENDANAAN DAN TEKNOLOGI



                              DANA INVESTASI




 LITBANG            Teknol       Koperasi KIMHUT BAMBU
                     dana


 Kebun                                   KSP Bambu
 Teknologi &                             100 - 500 ha
 SIM-Pasar


                        Industri Pengolahan
                        Produk BAMBU



              Industri                  Industri
           Pupuk Organik               Perdagangan
           (limbah bambu)              Promosi & Kemas
                                         3




KETERKAITAN ANTAR CLUSTER DALAM KIMHUT BAMBU TERPADU




Cluster
ALSINTAN


 KSP                 INDUSTRI                 BAMBU                        PASAR
Bambu                PENGOLAHAN                bahan                       Regional
                      BAMBU                   industri

                                              Produk
                                              olahan
                                              bambu
- Pupuk
- Pestisida               Bahan kimia
- Herbisida               penolong           Bambu
                                             hias

                         Daun                                Cluster
 Cluster                 bambu           Limbah             Pemasaran &
 Agrokimia                               bambu              Transportasi

                                                                           Pasar
              Industri                  Industri         Cluster           Nasional
              Silages                    Pupuk           Kemas &
               Pakan                    Organik          Packaging
               ternak




                           SISTEM PERBANKAN DAN ASURANSI
                                     4



      2.1. Unit Produksi Fisik (KSP Bambu)

      2.1.1. Sekala Usaha

      KSP
                                 Pertanaman bambu monokultur
                                 seluas 500 ha dalam kawasan hutan
      (20 KUBA)                   Pertanaman campuran bambu
                                  seluas 50 - 250 ha lahan milik
                                  (pekarangan & tegalan)




      KUBA BAMBU                 Pertanaman bambu monokultur
      25 RTP                     seluas 25 ha dalam kawasan hutan
                                 Pertanaman campuran bambu
                                 seluas 2.5-12.5 ha lahan milik
                                 (pekarangan & tegalan)



      RTP BAMBU                  Pertanaman bambu monokultur
                                 seluas 1 ha dalam kawasan hutan
                                 Pertanaman campuran bambu
                                 seluas 0.1-0.5 ha lahan milik
                                 (pekarangan & tegalan)



       Pengelolaan bambu dalam kawasan hutan dilakukan bekerjasama secara
kemitraan dengan PERHUTANI setempat dengan sistem bagi hasil yang
disepakati bersama. Secara kelembagaan diperlukan adanya perjanjian kontrak
kerja antara PERHUTANI dengan Koperasi Agribisnis Bambu.
       Pertanaman bambu pada lahan milik (lahan pekarangan dan tegalan)
diutamakan pada petrak-petak lahan yang miring (slope > 25%), bantaran
sungai, batas pemilikan lahan, lahan pekarangan sekitar rumah.

       2.1.2. Lokasi dan Potensi Lahan
       Lokasi lahan yang disarankan untuk KSP Bambu (di Kabupaten Pacitan)
tersebar di wilayah kecamatan sekitar kawasan hutan.


      2.1.3. JENIS TANAMAN
                                       5




A. Tanaman Utama: Bambu dengan aneka kultivar ekonomis.
1. Bambu Sembilang (Dendrocalamus giganteus), berwarna hijau muda hingga
    hijau tua, panjang ruas 50-60 cm, diameter batang hingga ketinggian 4 meter
    mencapai 20-25 cm, ketebalan di bagian pangkal 3 cm, cocok untuk bahan
    baku kertas, pulp, chopstick, particle board, pelapis dinding bangunan. Umur
    panen 1-1.5 tahun. Jenis bambu ini disarankan untuk ditanam di dalam
    kawasan hutan.
2. Bambu Petung, cocok untuk ditanam di kawasan hutan dan lahan-lahan milik
    yang curam
3. Bambu Apus, batangnya cocok untuk bahan anyaman
4. Bambu Jepang (Dracaena godseffiana), jenis bambu hias dalam ruangan,
    pertumbuhannya tahan naungan, mudah diperbanyak dengan stek.
5. Bambu taman (Arundinaria suberecta), bambu kerdil, bambu hias untuk
    taman-taman terbuka, daunnya kecil-kecil, tahan kering.
6. Bambu kuning (Bambusa vulgaris), batangnya kuning keemasan bergaris
    hijau, panjangnya mencapai 500 - 700 cm , diameternya 8-10 cm, cocok
    untuk bahan/ material bangunan
7. Bambu Jawa (Gigantochloa aspera), batangnya sangat cocok untuk bahan
    bangunan, warnanya hijau, panjangnya mencapai 12-15 m, diameternya 15-
    20 cm
8. Bambu Loreng (Ochlandra maculata), batangnya loreng coklat, panjangnya
    mencapai 20 m, daunnya besar-panjang-lebar, digunakan sebagai bahan
    meubeler (furniture)

       B. Komoditi Tanaman Penunjang: Tanaman Tahunan (Mangga, Pisang,
Melinjo, dan lainnya); dan Tanaman Pangan (Jagung, Ubikayu, Kacang-
kacangan, Sayuran).

       2.1.4. Pola Pengusahaan

       Pola Penanaman: Bambu
       (1). Tanaman Monokultur dalam kawasan hutan
            Pada saat tanaman bambu masih muda dapat dilakukan sistem
            tumpangsari, dan pada saat tanaman bambu sudah dewasa dapat
            ditempuh sistem penanaman di bawah tegakan.

       (2). Cara Pertanaman Lorong menurut Garis Tinggi
            Saat penanaman sebaiknya tanah dibuat lorong (hedge-row) lebih
            dahulu mengikuti garis tinggi. Jarak dalam baris pada tinggi yang
            sama dapat ditentukan misalnya 10-15 m, tetapi jarak dari lorong
            yang satu ke lorong lain disesuaikan dengan keadaan lapangan.

       (3). Sistem Kebun Campuran / Pertanaman campuran
                                     6



          Pada lahan pekarangan dan lahan tegalan bambu ditanam dalam
          sistem campuran dengan tanaman yang telah ada. Penanaman
          bambu pada batas-batas pemilikan lahan, pada petak-petak lahan
          yang solumnya sangat tipis, atau pada petak - petak lahan yang
          curam (slope > 25%).

       Pembibitan dan Penanaman bibit
       Pembibitan bambu dapat dilakukan dengna metode GGPC, yang terdiri
atas dua tahapan, yaitu (1) Tahap pesemaian mata tunas (2-3 bulan), dan (2)
pembesaran bibit dalam polibag (3-4 bulan).

      2.1.5. Usahatani bambu

       Sistem Usahatani Kebun Bambu Monokultur
       Tanaman bambu mulai dapat dipanen pada umur satu tahun sampai
dengan mencapai produksi maksimum mulai umur 5 hingga 15 tahun. Modal
investasi usahatani dibutuhkan sampai tanaman berumur satu tahun (sebelum
berproduksi). Analisis cash-flow usahatani kebun bambu monokultur Jenis
Petung (populasi 100 rumpun/ha) menunjukkan biaya produksi per tahun per
hektar sampai dengan umur lima tahun adalah sekitar Rp.250.000 hingga Rp
450.000. Pada tingkat usahatani kebun bambu monokultur umumnya dapat
diperoleh keuntungan yang memadai, dengan Net B/C (DF 18%) 2.75 - 4.50,
NPV (DF 18%) Rp.2.500.000 - Rp 5.500.000,- dan IRR umumnya lebih dari 30%.
Sistem penanaman tumpangsari dan PLBT (Penanaman Lahan di bawah
Tegakan) akan menghasilkan profit finansial yang lebih baik.

        (1). Sifat Pengusahaan
        Secara agroekologis wilayah Kabupaten Pacitan bagian selatan dan
sekitarnya cocok untuk budidaya kebun bambu monokultur dan juga
pemeliharaannya tidak terlalu sulit. Tanaman bambu umumnya ditanam petani
dalam sistem campuran pada lahan pekarangan dan tegalan, sistem budidaya
bambu dalam kebun monokultur belum dilakukan oleh petani secara intensif.

     (2). Intensitas Pengusahaan
     Perawatan kebun bambu monokultur relatif sangat mudah, mulai dari
pembuatan pesemaian/pembibitan, pembuatan lubang tanam, penanaman bibit,
pemupukan organik dan pupuk buatan sebagai starter, penyiangan gulma dan
pembumbunan BAMBU muda seperlunya.



       (3). Analisa Biaya dan Pendapatan.
      Kebun bambu monokultur dapat dipelihara secara intensif oleh petani.
Oleh karena itu dikenal dua macam model, yaitu kebun bambu monokultur pada
                                     7



lahan kawasan hutan dengan pemeliharaan secara intensif dan pertanaman
bambu campuran yang tidak melakukan usaha pemeliharaan sama sekali. Untuk
golongan pertama, biaya pemeliharaan tahun pertama untuk satu rumpun sekitar
Rp. 2.000 - 2.250.


      2.2. Kelembagaan Pengelola Unit Produksi : KSP bambu

      2.2.1. Jenis dan Mekanisme Kerja Kelembagaan

      Kelembagaan pengelola unit produksi bambu tersusun atas Rumah
Tangga Petani (RTP), Kelompok Usaha Bersama (KUBA), dan Koperasi
Produsen Bambu. Keterkaitan kelembagaan ini diabstraksikan sbb:
                                    8




      RTP                                Mengelola usahatani bambu:
                                 sekitar 1 ha lahan dalam
                                 kawasan dan lahan miliknya



      KUBA:                         Mengkoordinasi kegiatan usaha
      25 RTP                         sekala 25 ha lahan kawasan
                             sekitar 5-10 ha pertanaman bambu
                             campuran di pekarangan / tegalan



      Koperasi                           Mengelola KSP Bambu
      PRODUSEN BAMBU:                     dengan sekala usaha
      20 KUBA                            500 ha lahan kawasan dan
                                 sekitar 250 ha lahan desa



      Dinas HUTBUN
      PEMDA
      INSTANSI TEKNIS TERKAIT
      PERBANKAN



      2.2.2. Kelompok Usaha Bersama (KUBA)

       Pengertian kelompok
       Kelompok merupakan kumpulan penduduk (Rumah Tangga Petani, RTP)
setempat yang menyatukan diri dalam usaha produksi bambu untuk
meningkatkan kesejahteraan, keswadayaan, dan kegotong-royongan mereka.
Kelompok merupakan milik anggota, untuk mengatasi masalah bersama serta
mengembangkan usaha bersama anggota. Kelompok beranggotakan sekitar 25-
30 RTP dan berada di desa/kelurahan, atau di bawah tingkat desa/ kelurahan
yaitu dusun, lingkungan, RW, atau RT. Dalam satu desa dapat ditumbuhkan
beberapa kelompok seusai dengan kebutuhan. Kelompok dapat tumbuh dari
kelompok tradisional yang telah ada, seperti kelompok arisan, aseptor KB,
kelompok sinoman, kelompok pengajian, dan kalau belum ada segera
ditumbuhkan dan dibina secara khusus.
                                     9



      2.2.3. Pembinaan Kelembagaan KUBA
      Pembinaan / pemberdayaan juga sering disebut dengan pendampingan,
pada dasarnya merupakan proses kegiatan yang bersifat berkelanjutan.

       2.2.4. Organisasi dan Manajemen: KIMHUT Bambu
       Rancangan KOPERASI KIMHUT BAMBU
      Pengembangan       produk-produk  bambu    dalam    rangka    untuk
memberdayakan ekonomi rakyat setempat dapat dilakukan melalui pendekatan
pemberdayaan “Koperasi Agribisnis” sebagai “LEMBAGA EKONOMI RAKYAT
YANG MENGAKAR & MANDIRI”. Koperasi seperti ini dapat dikembangkan dari
lembaga-lembaga ekonomi tradisional yang telah ada, atau melalui rekayasa
sosial yang sesuai. Konsep pemberdayaan koperasi agribisnis bagi produsen
bambu dapat diabstraksikan dalam bagan berikut.

        Kelompok sasaran dan Lingkup Kegiatan

 Kelompok sasaran bagi anggota koperasi:
a. Kelembagaan sosial -tradisional yang ada di masyarakat, seperti koperasi,
   kelompok tani, kelompok peternak, Paguyuban dan lainnya
b. Lembaga Kelompok tani komoditas yang telah ada.
c. Warung pengecer bahan pokok, baik milik perorangan, kelompok (pra
   koperasi), maupun waserda milik koperasi untuk diberdayakan /
   dikembangkan usahanya.
d. Pengusaha / Pengrajin Kecil, baik perorangan maupun kelompok, yang
   bergerak di bidang produksi agribisnis/agroindustri untuk diberdayakan
   supaya dapat memperluas kesempatan kerja (menyerap tenaga kerja).
e. Tenaga Kerja Terampil untuk dilatih dan ditempatkan sebagai pendamping
   dan atau tenaga profesional / pengelola unit-unit usaha.

       Disain usaha agribisnis bagi KUBA
       Disain sistem usaha agribisnis bambu bagi kelompok masyarakat ini
dirancang dengan tujuan pengentasan kelompok masyarakat perdesaan dengan
usaha pengembangan agribisnis bambu dalam kawasan hutan dan pada lahan
milik.
                                            10




          Sumber                  Sumber                       Birokrasi
         Informasi                Modal/Kapital




               TOKOH PANUTAN / KEPERCAYAAN                                 RAKYAT
              -------------------------------------------------------
                   MANAJEMEN PROFESIONAL
RAKYAT                                                                     RAKYAT




                     KOPERASI KIMHUT BAMBU

                         UNIT
                     PERMODALAN




         UNIT USAHA                              UNIT LEMBAGA
         PRODUKTIF:                         INOVASI & DISTRIBUSI:
            - KSP                              - Waserda
            - KUBA                             - Grosir/ Pengecer
            - RTP                                - POSYANTEK




    2.3. Kelembagaan Pendampingan
                                     11




         2.3.1. Pendahuluan
         KIMHUT BAMBU ini dimaksudkan untuk menumbuhkan dan memperkuat
kemampuan masyarakat miskin untuk meningkatkan taraf hidupnya dengan
membuka keterisolasian dan kesempatan berusaha dengan melibatkan
komoditas BAMBU. Program ini diarahkan pada pengembangan kegiatan sosial
ekonomi untuk mewujudkan kemandirian masyarakat perdesaan, dengan
menerapkan prinsip-prinsip sekala ekonomi, usaha kelompok, keswadayaan dan
partisipasi, serta menerapkan semangat dan kegiatan kooperatif dalam bentuk
Kelompok Usaha Bersama.
         Pembinaan masyarakat melalui KUBA memerlukan mekanisme
pendampingan yang handal. Untuk dapat melaksanakan tugasnya secara
efektif, tenaga pendamping ini harus siap bekerja secara purna waktu.

      2.3.2. Tenaga Pendamping

       Pengertian
       Pendamping adalah tenaga lapangan pada tingkat desa berasal dari
berbagai departemen atau dari masyarakat, yang memiliki pengetahuan dan
ketrampilan sesuai dengan kebutuhan untuk mengembangkan usaha agribisnis.
Tenaga pendamping ini dapat berkualifikasi “Sarjana Agrokompleks” yang
bertugas purna waktu.

      Tugas Pendampingan
      Tenaga Pendamping bertugas antara lain (1) membina penduduk yang
bergabung dalam KUBA sehingga menjadi suatu kebersamaan yang berorientasi
pada upaya perbaikan kehidupan, (2) sebagai pemandu (fasilitator), penghubung
(komunikator), dan penggerak (dinamisator) dalam pembentukan KUBA ; (3)
pendamping KUBA dalam mengembangkan kegiatan usaha agribisnis bambu:
manajemen produksi, manajemen modal/keuangan dan manajemen pemasaran;
dan (4) mengembangkan KEBUN TEKNOLOGI: Pusat Pelayanan Informasi
Teknologi Tepat Guna.
                            12



2.3.3. Hubungan Kerja Pendampingan


KUBA               KUBA               KUBA           ......




              KOPERASI KIMHUT BAMBU


                   Kontrak kerja pendampingan


             LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT

            Tenaga Pendamping:
            - Manajemen Produksi
            - Manajemen Pemasaran
            - Manajemen modal/keuangan



              Mekanisme supervisi dan pengendalian



         PEMERINTAH DAERAH, INSTANSI TEKNIS TERKAIT



2.3.4. Kegiatan Utama Pendampingan

a. Pemahaman berbagai maslaah yang terkait
b. Menyusun Jadwal Kerja
c. Membantu Pendataan Penduduk Miskin
d. Membantu Pemberdayaan KUBA
e. Membimbing Pilihan Jenis dan Mengembangkan Mutu Usaha
f. Membimbing Perencanaan Kegiatan Usaha KUBA
g. Mengusahakan Bantuan Teknik
h. Membantu Pencairan Dana Bantuan/Kredit
i. Membina kegiatan usaha agribisnis bambu
j. Membina Mekanisme Perguliran
                                      13



       2.3.5. KEBUN TEKNOLOGI: Pusat Pelayanan Informasi Teknologi
              Tepat Guna

        Penerapan teknologi tepat guna diharapkan dapat membantu
pengembangan usaha produksi bambu pedesaan dan sekaligus meningkatkan
kesejahteraan masyarakat desa.
Berdasarkan berbagai pertimbangan di atas, tampaknya keberadaan “KEBUN
TEKNOLOGI” di bawah kendali Koperasi KIMHUT Bambu dan bermitra dengan
Perguruan Tinggi dan Instansi teknis terkait , mampu menjadi wahana yang
efektif dalam proses alih teknologi tepat guna di wilayah pedesaan. Kebun ini
secara operasional berada di bawah koordinasi dari KOPERASI KIMHUT Bambu
yang ada di wilayah. Kebun ini dapat melibatkan beberapa divisi penting.

I. DIVISI TEKNOLOGI BENIH DAN BIBIT UNGGUL
Lingkup Kerja Divisi ini adalah: (1). Teknik-teknik penanganan/ penyimpanan
benih/ bibit; (2). Teknologi perbanyakan benih dan bibit; (3). Teknologi
pembibitan dengan cara cepat ; (4). Teknologi penanaman benih dan bibit; (5).
Teknologi pengelolaan kebun bibit dan kebun induk/koleksi.

II. DIVISI AGROTEKNOLOGI DAN AGROBISNIS /AGROINDUSTRI
Lingkup Kerja Divisi ini adalah: (1). Teknologi budidaya tanaman/ Silvikultur;
(2). Teknologi pengelolaan lahan dan konservasi tanah; (3). Teknologi Industri /
Kerajinan Bambu; (4). Teknologi Pengolahan /pascapanen komoditas penunjang;
(5). Teknologi pemasaran hasil pertanian basis bambu

III. DIVISI TEKNOLOGI PASCAPANEN DAN PENGEMASAN
Lingkup Kerja Divisi ini adalah: (1). Teknologi penanganan panen dan pasca
panen Bambu; (2). Teknologi pengolahan pangan nabati; (3). Teknologi
pengolahan pangan hewani; (4). Teknologi mekanisasi pertanian; (5). Teknologi
PANEN, sortasi, gradasi, pengemasan hasil panen.

IV. DIVISI TEKNOLOGI PRODUKSI TERNAK DAN PAKAN TERNAK
Lingkup Kerja Divisi ini adalah: (1). Teknologi inseminasi buatan (Sapi); (2).
Teknologi perkandangan; (3). Teknologi produksi Pakan hijauan; (4). Teknologi
ransum pakan alternatif; (5). Teknik perawatan kesehatan ternak

V. DIVISI TEKNOLOGI LIMBAH DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN
Lingkup Kerja Divisi ini adalah: (1). Teknologi penyediaan air bersih,
pembuangan dan pengelolaan limbah domestik rumahtangga; (2). Teknologi
jamu /obat tradisional/TOGA; (3). Teknologi daur ulang/pemanfaatan limbah
bambu; (4). Teknologi pengolahan pangan dengan nilai gizi tinggi; (5). Teknologi
penyuluhan kesehatan yang efektif; (6) Teknologi pemutusan rantai penularan
penyakit, dan lainnya
                                      14



VI. DIVISI TEKNOLOGI AKUNTANSI DAN MANAJEMEN KEUANGAN
Lingkup Kerja Divisi ini adalah: (1) Teknik pembukuan keuangan sederhana;
(2) Teknik analisis usahatani; (3). Teknik penyusunan kelayakan proyek/kegiatan
produktif; (4)    Perkreditan; (5) Baitul Ma’al/Perkoperasian/kelompok usaha
bersama.



           KOPERASI KIMHUT BAMBU




     ANGGOTA                                         LSM
                                                 Tenaga Pendamping




   LITBANG
   DEPT.                  KEBUN TEKNOLOGI.                  LPPM
    BPPT
   BLK-BLK               DIVISI-DIVISI TEKNOLOGI           PTN/PTS
   SUASTA




           POKMAS               ANGGOTA                 KUBA
                                KOPERASI




       2.4. Unit Pemasaran dan Informasi Pasar

       2.4.1. Lembaga Pemasaran.
                                     15



      a. Petani Produsen
      b. Penebas dan Tengkulak I.
      c. Tengkulak II (TK II)
      d. Pedagang Pengumpul.
      e. Pengecer

      2.4.2. Saluran Pemasaran

      Saluran tataniaga bambu dari petani sampai dengan konsumen yang
utama adalah: Petani, penebas/Tengkulak I, Tengkulak II, Pedagang pengumpul,
dan pengecer

      2.4.3. Transaksi Penjualan

       Petani umumnya menjual batangan bambu. Cara tebasan nampak lebih
dominan, pembayarannya dilakukan secara kontan. Dalam penentuan harga
antara pembeli dan penjual biasanya dilakukan dengan tawar menawar dan
sebagian kecil lainnya ada yang memperoleh informasi harga dari pasar atau
biasanya pihak penjual sudah mengetahui harga dari tetangganya.
                           16



2.4.4. Keterkaitan Kelembagaan DALAM PEMASARAN BAMBU




      RTP


      KUBA




     KOPERASI
  KIMHUT BAMBU




LEMBAGA                  PERHUTANI             KOPERASI
PEMASARAN              PEMILIK LAHAN
 PEGRAJIN
YANG ADA                                               BAMBU


                 Mekanisme kemitraan: Bapak Angkat


 PASAR                   EKSPORTIR
 DOMESTIK
                                      17



      2.4.5. Sistem Informasi Pasar

       Dalam rangka untuk menguasai dan mengakses informasi pasar bagi
produk-produk bambu dan olahannya, diperlukan adanya suatu Sistem Informasi
Manajemen Pemasaran Bambu (SIMPB) yang menjalin networking dengan
sistem informasi pasar yang ada di Dati II dan Dati I dan bahkan nasional yang
dikembangkan oleh jajaran DEPERINDAG.

       RANCANGAN SIMPB
       (Sistem Informasi Manajemen Pemasaran Bambu)

        SIMPB adalah suatu sistem komputerisasi informasi manajemen
pemasaran komoditas bambu, yang dirancang untuk dapat menunjang operasi
manajemen agribisnis, baik dalam manajemen sumberdaya maupun usaha
agribisnisnya.

       Masukan (input) dan sumber data:
       Data (Modul ) Profil Wilayah
       Data (Modul) Profil Sistem Agribisnis Bambu
       Data (Modul) Profil Produk/Komoditas
       Data (Modul) Profil Pasar/Pemasaran

       Modul utility

       Keluaran (Output)
                              18



       KONFIGURASI JARINGAN INFORMASI



                        SATELIT


KOPERASI                                     MODEM
KIMHUT                                      INSTANSI
BAMBU                                       PONOROGO


                                             MODEM
                                             PUSAT
                                             KOPERASI
PUSAT                  TERMINAL
PENGOLAHAN            TRANSMISI
DATA ELEKTR



                  UNIT PENGGUNA              MODEM
                  (CLUSTER KIMHUT)           ...............

    Output:    - Daftar Produk
              - Daftar usaha agribisnis      MODEM
              - Profil agribisnis            BIPP
              - Informasi Pasar, dll


                             LAN          MODEM
                                          KOPPAS


UNIT                   UNIT                UNIT
KEUANGAN               SAPRODI            PASAR




            UNIT                    UNIT
           PRODUKSI                 PENGOLAHAN


              UNIT -UNIT PENUNJANG




2.5. Kelembagaan Keuangan Penunjang KIMHUT Bambu
                                     19




      2.5.1. Beberapa Model Lembaga Keuangan
      I. P4K (Proyek Peningkatan Pendapatan Petani Kecil)
      II. KUT: Kredit Usaha Tani
      III. KREDIT UMUM PEDESAAN (KUPEDES)
      IV. KREDIT KEPADA KOPERASI PRIMER BAGI ANGGOTA-NYA (KPPA)
      V. Lembaga Keuangan Pedesaan Bagi Orang Miskin (LKOM): Grameen
           Bank

      2.5.2. Hubungan kerja kelembagaan


                                 BRI-UD

                  1                  2        3           1


PENDAMPING            4     KOPERASI              4       PENDAMPING
                          KIMHUT BAMBU


                  5                  6    7               5


                           KUBA BAMBU

                      8          9        10          8


                               RTP BAMBU

Keterangan:
1 : Informasi tentang skim kredit dan mekanismenya
2 : Mekanisme Pengajuan kredit; 3 : Mekanisme Pencairan kredit
4. Pendampingan manajemen kredit usaha produktif
5. Pendampingan mekanisme penyaluran, perguliran dan pembayaran
6. Mekanisme penyaluran kredit ke KUBA
7. Mekanisme pembayaran kredit dari KUBA ke Koperasi
8. Pendampingan pemanfaatan kredit dalam manajemen produksi.

								
To top