Sistem Terdistribusi
Document Sample


Rencana Kuliah
Topik
Pendahuluan
Konsep-konsep keamanan
• Fungsi biaya, kebijakan, bentuk, dan aspek-
aspek keamanan
Jenis-jenis ancaman
• Ancaman pasif, jenis-jenis serangan
Mekanisme pengamanan
• Autentifikasi, kendali akses, mekanisme
pemisahan, mekanisme komunikasi, dan
mekanisme deteksi dan pemulihan
Contoh-contoh kasus
Evaluasi
Tugas #1 (mg 8, klp) – 25%
• Pemrograman simulasi
• Demo di lab Informatika: minggu ke-12
Tugas #2 (mg 12, klp) – 25%
• Makalah
• Presentasi: minggu terakhir
Ujian akhir – 50%
Acuan
Acuan diberikan pada saat kuliah
Lukito E. Nugroho 1
Pendahuluan
http://www.cert.org/congressional_testimony/Pethia_testimony_Mar9.html
Relevansi keamanan sistem
informasi
Informasi sebagai komoditi ekonomi
obyek kepemilikan yang harus dijaga
Informasi menciptakan “dunia” baru
(mis: Internet) membawa beragam
dinamika dari dunia nyata
• Komunikasi digital (e-mail, e-news, …)
• Aktifitas digital (e-commerce, e-learning, …)
• Konflik digital (cyber war, …)
Mengapa sistem informasi rentan
terhadap gangguan keamanan
Sistem yg dirancang untuk bersifat
“terbuka” (mis: Internet)
• Tidak ada batas fisik dan kontrol terpusat
• Perkembangan jaringan (internetworking)
yang amat cepat
Sikap dan pandangan pemakai
• Aspek keamanan belum banyak dimengerti
• Menempatkan keamanan sistem pada
prioritas rendah
Tidak ada solusi yang komprehensif
Lukito E. Nugroho 2
Pendahuluan
Solusi terhadap masalah keamanan
sistem informasi
Pusat-pusat informasi tentang
keamanan
• CERT
• Milis-milis tentang keamanan sistem
• Institusi lainnya: SecurityFocus, Symantec
Penggunaan mekanisme deteksi global
• Pembentukan jaringan tim penanggap
insiden di seluruh dunia
Peningkatan kesadaran terhadap
masalah keamanan
• Pendidikan bagi pengguna umum
• Pelatihan bagi personil teknis (administrator
sistem dan jaringan, CIO, CTO)
Lukito E. Nugroho 3
Konsep-konsep Keamanan Olovsson,
Thomas. A Structured Approach to Computer Security. TR 122, Dept. Comp. Sci, Chalmers
University of Technology, Sweden, 1992. Dari www.securityfocus.com
Keamanan sebagai bagian dari
sistem QoS
Ketersediaan, kehandalan, kepastian
operasional, dan keamanan
Keamanan: perlindungan thdp obyek-
obyek dlm kaitannya dengan
kerahasiaan dan integritas
• Obyek komponen pasif
CPU, disk, program, …
• Subyek komponen aktif
pemakai, proses, …
Keamanan sbg. fungsi waktu: Sec(t)
• Memungkinkan kuantifikasi tingkat-tingkat
keamanan, mirip dengan konsep MTTF
(mean time to failure) pada kehandalan
Biaya pengamanan sistem
Pengertian “aman”: penyusup hrs
mengeluarkan usaha, biaya, dan waktu
yg besar utk dpt menembus sistem
Biaya pengamanan kombinasi
banyak faktor yg saling berpengaruh
Perlu dicari optimisasi: biaya
pengamanan vs potensi kerusakan
Lukito E. Nugroho 4
Konsep-konsep Keamanan
Kebijakan keamanan
Mengatur apa yang diijinkan dan tidak
diijinkan dlm operasi normal
• Mengatur bgmn subyek dapat mengakses
obyek
Sering bersifat “politis” drpd teknis
Harus mencerminkan proteksi thdp
sistem secara seimbang, komprehen-
sif, dan cost-effective
Proses: analisis ancaman kebijakan
keamanan mekanisme pengamanan
• Analisis ancaman: memperkirakan jenis
ancaman dan potensi merusaknya
• Mekanisme pengamanan: implementasi
kebijakan keamanan
Kebijakan keamanan harus berfungsi
dengan baik sekaligus mudah dipakai
• Dapat mencegah penyusup pada umumnya
• Mampu menarik pemakai untuk mengguna-
kannya
Lukito E. Nugroho 5
Aspek-aspek dalam Masalah
Keamanan
Kerahasiaan
Melindungi obyek informasi dari
pelepasan (release) yg tidak sah
Melindungi obyek resource dari akses
yg tidak sah
Integritas
Menjaga obyek agar tetap dapat
dipercaya (trustworthy)
Melindungi obyek dari modifikasi yang
tidak sah
Lukito E. Nugroho 6
Aspek-aspek dalam Masalah
Keamanan
Layer 5
Auditing, monitoring, and investigating
Layer 4
Information security technologies and products
Validation
Layer 3
Layer 6
Information security awareness and training
Layer 2
Information security architecture and processes
Layer 1
Information security policies and standards
Firewall
Anti virus
User authentication
Access control
Administration
Management
Consulting
and
Cryptography
Assessment
Logging, reporting, alerting
Certification
Physical security
Lukito E. Nugroho 7
Sistem Deteksi Intrusi Bace, Rebecca. An
Introduction to Intrusion Detection and Assessment. ICSA. Dari www.securityfocus.com.
Deteksi intrusi:
Teknologi pengamanan sistem untuk
menghadapi serangan dan penyalah-
gunaan sistem
Mengumpulkan info dari berbagai
sumber di sistem dan jaringan, lalu
menganalisisnya dari sudut pandang
kelemahan pengamanan (security
vulnerabilities)
Relevansi
Kenaikan tingkat pembobolan sistem
sebesar 22% (1996 - 1998)
Fungsi-fungsi
Pemantauan dan analisis aktivitas
pemakai dan sistem
Audit terhadap konfigurasi dan
kelemahan sistem
Prakiraan integritas file-file sistem dan
data
Pengenalan pola-pola serangan
Analisis statistik ttg. pola-pola
abnormal
Lukito E. Nugroho 8
Deteksi Intrusi
Proses
Kombinasi berbagai aktifitas peman-
tauan, audit, dan prakiraan
Dilakukan secara kontinyu
Diawali dengan prakiraan kelemahan
(vulnerability assessment)
• Identifikasi kelemahan sistem yg memung-
kinkan terjadinya penyelewengan sistem
pengamanan
• Teknik pasif: memeriksa konfigurasi sistem,
file password, dsb.
• Teknik aktif: mengevaluasi performance
sistem pengamanan melalui simulasi
serangan
• Tools: scanners
• Hasil prakiraan menunjukkan snapshot
kondisi keamanan sistem pd suatu saat
Tidak bisa mendeteksi serangan yg sedang
berlangsung
Bisa menunjukkan bahwa sebuah serangan
mungkin terjadi
Kadang-kadang bisa menunjukkan bahwa
sebuah serangan telah terjadi
Lukito E. Nugroho 9
Fitur Teknologi Deteksi Intrusi
Type of System Intrusion Detection Vulnerability Assessment
System Design Features Monitoring Approach Timing of Type of Targets and Strategies
Analysis Analysis
What can it do ?
Integrity analysis
D = detects
Network-based
Network-based
Batch/Interval
Target-based
P = prevents
Application-
Host-based
Host-based
assessment
Integrated
Statistical
R = repairs
Real time
Password
Signature
(passive)
analysys
analysis
(active)
S = supports
based
mode
Type Examples of Security
Problems
Unauthorized access to files and
Confidentiality
system resources
D D D P P P
Violation of corporate system use
policies
D D D D P P P
Violation of corporate security
policies
D D D D D D D P P
Weak or non-existent passwords D D D D D D
Placement of trojan horses and
malicious software
D P D D D D P P P
Presence of troja horses and
Integrity
malicious software
D D D D
Network service-based attacks D D D D P
CGI-based attacks D D D P P
Denial of service attacks D D D D P
Availability
Failure or misconfigured firewalls D D D P P
Attacks occurring over encrypted
networks
D D D D
Unusual activities or variations of
normal user patterns
D
Errors in system or network
configuration
D D D,P,R D,P,R
Liability exposure associated with
Others
attackers using organizational P P P P P P P P P P P P P
resources to attack others
Post-incident damage assessment S S S S S S S S S S S
Lukito E. Nugroho 10
Sistem Deteksi Intrusi dalam
Manajemen Pengamanan Sistem
Prevention
Detection
Diagnosis Monitor Analyze
and
Resolution
Report Respond
Investigation
Pengamanan sistem bukan
kegiatan sesaat
Target berupa lingkungan yang
dinamis
Lukito E. Nugroho 11
Keuntungan Sistem Deteksi
Intrusi
Memberikan perlindungan yg lebih
luas dalam pengamanan sistem
Membantu memahami apa yg
terjadi di dalam sistem
Dukungan teknis:
Melacak aktivitas pemakai dari awal
sampai akhir
Mengenal dan melaporkan usaha-
usaha modifikasi file
Mengetahui kelemahan konfigurasi
sistem
Mengenali bahwa sistem telah atau
potensial untuk diserang
Memungkinkan operasional
pengamanan sistem dilakukan oleh
staf tanpa keahlian spesifik
Membantu penyusunan kebijakan
dan prosedur pengamanan sistem
Lukito E. Nugroho 12
Kelemahan Sistem Deteksi
Intrusi
Bukan solusi total untuk masalah
keamanan sistem
Tidak bisa mengkompensasi
kelemahan:
mekanisme identifikasi dan
autentifikasi
protokol jaringan
integritas dan kualitas informasi dalam
sistem yang dilindungi
Masih memerlukan keterlibatan
manusia
Banyak berasumsi pada teknologi
jaringan konvensional, belum bisa
menangani teknologi baru (mis:
fragmentasi paket pd jaringan
ATM)
Lukito E. Nugroho 13
Beberapa Terminologi
telnet request 23 telnet daemon
ssh request 22 ssh daemon
http request 80 http server
Apache, IIS, ...
request
server
client
reply
acknowledge
Lukito E. Nugroho 14
Sniffing (Penyadapan) Alaric. Sniffin’ the Ether.
www.attrition.org/security/newbie/ security/sniffer/sniffer.html
Sniffing: penyadapan informasi
Memanfaatkan metode broadcasting
“Membengkokkan” aturan Ethernet
Dilakukan dengan membuat NIC
bekerja pada mode “promiscuous”
Dimanfaatkan untuk:
menyadap password, e-mail, dokumen
rahasia, dan semua informasi yg tidak
dienkripsi
memetakan network
mengambilalih mesin-mesin “trusted”
sbg batu loncatan
Contoh-contoh sniffer
Sniffit, TCP Dump, Linsniffer
Mencegah efek negatif sniffing
Pendeteksian sniffer (local & remote)
Penggunaan kriptografi (mis: ssh sbg
pengganti telnet)
www.attrition.org/security/newbie/security/sniffer/p54-10.txt
Lukito E. Nugroho 15
Scanning (Pemindaian) Fyodor. The Art of Port
Scanning. www.phrack.org/show.php? p=51&a=11, dan R. Jankowski. Scanning and
Defending Networks with Nmap. www.linuxsecurity.com/feature_stories/feature_story-
4.html
Teknik untuk menemukan saluran
komunikasi yg dpt dieksploitasi
Prinsip: coba ke sebanyak mungkin
target, catat target yg potensial
untuk dipindai
Teknik pemindaian
Penyapuan ping (Ping sweeping)
• Mengirimkan ICMP echo dan TCP ACK ke
tiap host
• Untuk mengetahui apakah sebuah host
sedang hidup atau tidak
TCP connect (port scanning)
• Menggunakan system call connect()
• Tidak perlu privilege khusus
• Mudah dilacak melalui mekanisme log
TCP SYN (model “setengah-terbuka”)
• Tidak membangun koneksi TCP secara
penuh
• Mengirim SYN, menerima SYN|ACK, lalu
mengirim RST (bukan ACK spt pada koneksi
penuh)
• Relatif tidak terlacak oleh mekanisme log
• Memerlukan privilege root
Lukito E. Nugroho 16
Scanning (Pemindaian)
TCP FIN
• Port tertutup mengirim RST, port terbuka
mengabaikannya
• Ketidakpatuhan Microsoft dalam mengimple-
mentasikan protokol TCP digunakan
untuk membedakan mesin *NIX dan mesin
NT
TCP identd
• identd protokol mengijinkan pembukaan
nama pemilik sebuah proses yg terhubung
dengan TCP
• Digunakan untuk mengidentifikasi pemilik
sebuah proses
Apakah httpd dijalankan oleh root ?
Penyidikan Sistem Operasi
• Menggunakan beberapa teknik untuk
menginterogasi TCP stack
FIN probing
BOGUS flag probing
ISN sampling, dll
• Biasanya dilanjutkan dengan mengeksploita-
si kelemahan SO yang bersangkutan
Lukito E. Nugroho 17
Kelemahan (Vulnerability)
Mengindikasikan “lubang-lubang”
keamanan yg dapat ditembus
Didokumentasikan (mis: CVE -
common vulnerabilities and
exposures) agar dapat dimanfaatkan
oleh banyak orang
Konsep “security through obscurity”
menjadi tidak menguntungkan
ae V-9900
Nm:CE19-02
eeec: G:98060-
Rfrne SI1910-1I
eeec: ETC-81.ond
Rfrne CR:A9.2mut
eeec: ICJ06
Rfrne CA:-0
eeec: I:2
Rfrne BD11
eeec: Flnxmut-o
Rfrne X:iu-ondb
ufr vrlw n F ond ie
Bfe oefo i NSmut gvs
ot ces o eoe takr,
ro acs t rmt atces
oty n iu ytm.
msl i Lnxsses
-----------
-----------
Lukito E. Nugroho 18
Deteksi Intrusi Jaringan D. Wreski & C. Pallack.
Network Intrusion Detection Using Snort. www.linuxsecurity.com/feature_stories/
feature_story-49.html
Untuk mendeteksi usaha-usaha
sniffing dan scanning
Berdasarkan basis data pola-pola
penyusupan
Penempatan tool pendeteksi
Di antara firewall dan jaringan
eksternal mendeteksi serangan yg
dapat ditangkal firewall maupun yg
tidak
Di dalam jaringan lokal hanya
mendeteksi serangan yg tidak dapat
ditangkal firewall
Lukito E. Nugroho 19
IP Spoofing daemon9. IP Spoofing Demistified. Phrack Magazine,
vol 7, no. 48. June 1996. www.phrack.org
IP spoofing: “membajak” identitas
(alamat IP) sebuah host untuk
membangun komunikasi dengan
host lain
Memanfaatkan:
Autentikasi berbasis alamat IP (mis:
rlogin)
Kelemahan protokol IP
• connectionless (tidak menyimpan connect-
ion state)
• mudah untuk memodifikasi stack IP
Skenario:
1. Menentukan host sasaran
2. Menemukan “pola-pola kepercayaan”
(pattern of trust) dr host yg dapat
dipercaya (trusted host)
3. “Melumpuhkan” host yg dpt dipercaya
4. Membajak identitas host yg dpt
dipercaya
5. Mencoba membentuk koneksi yg
memanfaatkan autentikasi berbasis
alamat IP
Lukito E. Nugroho 20
IP Spoofing
Host target Host terpercaya
(TGT) (TPC)
Host asing (A) Host penyerang (P)
1. Menemukan pola-pola kepercayaan
antara TGT dan TPC
Memanfaatkan tool-tool yg ada:
showmount, rpcinfo, …
2. Melumpuhkan TPC
Melalui SYN flooding (D.o.S dengan
permintaan SYN) dengan alamat palsu yg
tidak terlacak (alamat milik A)
3. Pencuplikan dan peramalan nomor
sekuens (ns)
4. Serangan:
1. P(TPC) SYN TGT
2. TPC SYN|ACK TGT
3. P(TPC) ACK TGT (dng ns yg cocok)
4. P(TPC) PSH TGT
5. Memasang backdoor
Lukito E. Nugroho 21
IP Spoofing
Tindakan pencegahan
Tidak menggunakan autentikasi
berbasis alamat IP
Penyaringan paket dan firewall
Penggunaan kriptografi
Randomisasi ISN (Initial Sequence
Number)
Lukito E. Nugroho 22
Carnivore Tyson, J. How Carnivore Works. www.howstuffworks.com/
carnivore.htm
Packet sniffer milik FBI
Komponen
Carnivore: packet sniffer
Packeteer: packet reassembler
Coolminer: ekstrapolasi dan analisis data
Cara kerja
1. FBI punya alasan cukup mencurigai
seseorang terlibat dlm aktivitas ilegal
2. Pengadilan memberi ijin melakukan
penyadapan komunikasi
content-wiretap: seluruh isi komunikasi
trap-and-trace: target/tujuan komunikasi
pen-register: asal komunikasi
3. FBI meminta copy file backup ttg.
aktivitas orang yg dicurigai ke ISP. Jika
data yg diminta tidak ada, maka FBI
melaksanakan langkah #4 dst.
4. FBI memasang komputer Carnivore di ISP
Pentium III, Win NT/2000, 128 MB RAM
Software komunikasi komersial
Program C++ untuk packet sniffing
Sistem perlindungan fisik thdp sistem Carnivore
Piranti isolasi jaringan utk menjaga Carnivore dr
usaha-usaha penyusupan dsb
Jaz drive 2 GB untuk piranti penyimpanan
Lukito E. Nugroho 23
Carnivore
Cara kerja (lanjutan)
5. Sistem Carnivore di-set sesuai dng
penyadapan yg diijinkan. Packet
sniffing dilakukan tanpa mengganggu
aliran data yg lain
6. Paket target yg disadap disimpan di
piranti penyimpan (Jaz drive)
7. Setiap 1 atau 2 hari, FBI mengganti
kaset Jaz drive dengan yg baru
8. Proses penyadapan berlangsung maks
1 bulan. Jika diperlukan waktu lebih,
hrs ada ijin baru dr pengadilan
9. Data yg diperoleh diproses dng
Packeteer dan Coolminer
Isu-isu ttg Carnivore
Privasi dalam berkomunikasi
Pentingnya regulasi
Kebebasan berkomunikasi
Kontrol oleh pemerintah
Lukito E. Nugroho 24
Virus, Worm, dan Trojan Horse
Brain, M. How Computer Viruses Work. www.howstuffworks.com/virus3.htm.
Virus
Program yg menumpang program lain
Menginfeksi dng cara bereproduksi dan
menempel pd program lain
Worm
Program yg menyebar melalui jaringan
dan memanfaatkan lubang-lubang
keamanan sistem
Dapat mereplikasi dirinya sendiri
Trojan horse
Program dng “hidden agenda”
Efek yg ditimbulkan virus, worm,
dan Trojan horse
Dari gangguan pd tampilan s.d.
kerusakan data/file/hard disk
Beban trafik jaringan yg begitu besar
Server-server macet krn. DoS
Kerugian material $17.1 milyar pd
tahun 2000
Lukito E. Nugroho 25
Virus dan Penyebarannya
Pemicu munculnya virus:
Popularitas PC dng arsitektur terbuka
Bulletin boards yg menyediakan aneka
program melahirkan Trojan horse
Floppy disk sbg alat transportasi program
Penyebaran virus
Virus menempel pd program lain
Bila program induk dieksekusi, virus akan
dimuat ke memori dan menjadi aktif
Virus mencari program induk yg lain, dan
bila ada, ia akan menempelkan kode
programnya ke program induk baru
menyebar melalui program induk baru ini
Virus dpt masuk ke boot sector, shg tiap
kali komputer dihidupkan, ia akan dimuat
ke memori dan menjadi aktif
Virus e-mail
Menyebar melalui pengiriman e-mail
sbg attachment e-mail
Aktivasi melalui pembukaan attachment
mengeksekusi script virus yg ada dlm
attachment (mis: script VBA)
Melissa, ILOVEYOU, …
Lukito E. Nugroho 26
Worm
Menyebar melalui Internet dan
mengeksploitasi kelemahan sistem
Penyebaran:
1. Masuk ke sistem yg tidak terlindung
2. Replikasi
3. Scan sistem-sistem lain yg tdk terjaga
Ledakan kombinatorial dlm
penyebarannya
CodeRed: 250 ribu replikasi dlm 9 jam
Populasi mesin di Internet yg amat
besar
Ketidakpedulian thdp aspek
keamanan
Contoh: CodeRed
Vulnerability di fasilitas ISAPI pd IIS
Replikasi dirinya pd 20 hari pertama
pd tiap bulan
Web defacing (mengganti tampilan
halaman Web)
Serangan DDoS
Lukito E. Nugroho 27
Contoh Worm: Code Red Microsoft Security
Bulletin MS01-033. www.microsoft.com/technet/treeview/default.asp?url=/
technet/security/bulletin/MS1-033.asp
Platform yg terpengaruh:
Windows NT 4.0 dan Windows 2000
Akibat serangan
Eksekusi kode sesuai dng keinginan penyerang
Eksploitasi
Instalasi IIS akan memasang bbrp file DLL yg
mrpk ekstensi ISAPI -- salah satunya adl file
IDQ.DLL (indexing service)
IDQ.DLL mengandung buffer utk menangani
input URL. Buffer ini tidak mengalami error
checking
Penyerang yg telah memiliki web session dng
IIS dpt melakukan serangan berupa buffer
overflow thdp IDQ.DLL
Buffer overflow dng pola ttt menye-babkan
eksekusi kode ttt oleh server pd konteks
sistem kendali penuh pd sistem
Kemungkinan penggunaan
Web defacing
Eksekusi perintah OS
Rekonfigurasi server
Eksekusi program lain
Lukito E. Nugroho 28
Pencegahan Virus, Worm, dkk
Anti virus
Update data ttg virus signature secara
teratur
Aktifkan proteksi yg disediakan oleh
software (mis: proteksi virus macro)
Faktor manusia: kehati-hatian
Menggunakan disket dr sumber asing
Menerima e-mail dengan attachment
Menerima dokumen dr sumber asing
Sering-sering melihat situs keamanan,
mengawasi munculnya virus-virus
baru, dan menerapkan patch yg
diberikan
Gunakan sistem operasi dan
software yg tidak banyak memiliki
lubang kelemahan
Linux vs Windows
Apache vs IIS
Lukito E. Nugroho 29
Firewall
Program/piranti utk mencegah
potensi kerusakan masuk ke
network
Metode
Penapisan (filtering) paket
• Alamat IP
• Nama domain
• Protokol
• Port
Layanan proxy
• Bertindak “atas nama” host di dalam
network
• Sering digabung dengan fasilitas cache
Potensi kerusakan yg dpt ditangkal
oleh firewall
Login jarak-jauh
Application backdoors
Pembajakan sesi SMTP (utk mengirim
e-mail spam)
Denial of service
Bom e-mail
Lukito E. Nugroho 30
Firewall
Perancangan firewall
Mengikuti kebijakan pengamanan
Keamanan vs kemudahan akses
Dua pendekatan
• Segala sesuatu yg tidak secara eksplisit
diijinkan berarti tidak diperbolehkan
• Segala sesuatu yg tidak secara eksplisit
dilarang berarti diijinkan
Level ancaman
Pentingnya informasi ttg sebuah
ancaman atau serangan
• Kasus terburuk: tidak ada info sama sekali
• Kasus terbaik: info lengkap, dan serangan
dapat ditangkal
“Zona-zona beresiko”
• Host/network yg beresiko menerima
ancaman/serangan yg terkait dng fungsi
perlindungan yg diberikan oleh firewall
• Minimisasi zona beresiko menjadi sebuah
“titik/node” (sentralisasi)
Lukito E. Nugroho 31
Implementasi Firewall
Firewall dengan screening router
Screening router: router dengan
fasilitas penapisan paket
Zona-zona beresiko:
• Host-host di jaringan privat
• Semua layanan yg diijinkan oleh router
Sulit utk mendeteksi usaha-usaha
penyusupan
“Segala sesuatu yg tdk scr eksplisit
dilarang berarti diijinkan”
Firewall dng “dual-homed gateway”
Tanpa router, dng “bastion host”
gateway, forwarding TCP/IP
dinonaktifkan
Koneksi dng application gateways
(mis: telnet forwarder) atau login ke
gateway
“Segala sesuatu yg tdk scr eksplisit
diijinkan berarti dilarang”
Jika disusupi dan TCP/IP forwarding
diaktifkan, maka zona beresiko mjd
amat luas
Lukito E. Nugroho 32
Implementasi Firewall
Firewall dng screened host
gateways
Screening router + bastion host
• Bastion host di sisi jaringan privat
• Router dikonfigurasi agar bastion host mjd
satu-satunya host di jaringan privat yg dpt
dicapai dari Internet
Zona beresiko terbatas pd bastion host
dan router
Dlm kaitannya dng bastion host, mirip
dng. model dual-homed gateway
Firewall dng screened subnet
Screening router + bastion host
Zona beresiko: bastion host + router
Koneksi melalui application gateway
Relatif sulit disusupi krn melibatkan 3
jaringan
Firewall hibrid
Menggunakan berbagai kombinasi tool
dan piranti untuk mengimplementa-
sikan fungsi firewall
Lukito E. Nugroho 33
Kriptografi Purbo, Onno W. dan Wahyudi, Aang A. Mengenal e-
Commerce. Elex Media Komputindo. 2001.
Pengetahuan yg menggunakan
matematika untuk melakukan
enkripsi dan dekripsi data
matematika persoalan kombinatoris
enkripsi & dekripsi transmisi data
melalui jaringan yg tidak aman
Kriptografi dan e-Commerce
Kerahasiaan
• Hanya diketahui si penerima saja ?
Integritas
• Tidak berubah ?
• Asli ?
Ketersediaan
• Tersedia bagi pemakai yang sah ?
Penggunaan yang semestinya
• Tidak diakses oleh yang tidak berhak ?
kriptografi berurusan dengan
keamanan komunikasi
Lukito E. Nugroho 34
Enkripsi dan Dekripsi
Enkripsi: plaintext ciphertext
Dekripsi: ciphertext plaintext
Komponen sistem kriptografi
algoritma kriptografi: fungsi matematis
kunci + algoritma kriptografi =
enkripsi / dekripsi
Keamanan data terenkripsi
tergantung pada
algoritma kriptografi: seberapa besar
usaha yg hrs dikeluarkan untuk
menguraikan ciphertext
kunci: seberapa jauh kerahasiaan
kunci dapat dijaga
• Kunci yg panjang lebih sulit memecahkan
algoritma, tapi juga lebih lama waktu
pemrosesannya
Lukito E. Nugroho 35
Kriptografi Kunci Simetris
Satu kunci digunakan dalam proses
enkripsi dan dekripsi
Algoritma:
DES (Data Encryption Standard)
IDEA (Int’l Data Encryption Algorithm)
RC5
Prinsip kerja
Pengirim & penerima sepakat
menggunakan sistem kriptografi ttt
Pengirim & penerima sepakat
menggunakan satu kunci tertentu
Dilakukan enkripsi sbl pengiriman teks
dan dekripsi stl diterima
Contoh: Caesar’s Key
Keuntungan
Mekanisme sederhana
Kecepatan proses tinggi
Kelemahan
Keamanan kunci
Distribusi kunci
Lukito E. Nugroho 36
Kriptografi Kunci Asimetris
Enkripsi dan dekripsi tidak
menggunakan kunci yang sama
Kriptografi kunci publik
Kunci publik
• Untuk enkripsi
• Didistribusikan kepada publik
Kunci privat
• Untuk dekripsi
• Bersifat rahasia
Keuntungan:
• Keamanan kunci terjaga
Contoh algoritma
• RSA (Rivest-Shamir-Adleman)
• Elgamal
• Diffie-Hellman
Lukito E. Nugroho 37
Kriptografi Hibrid
PGP (Pretty Good Privacy)
Menggabungkan keuntungan sistem
kriptografi simetris dan asimetris
Kunci sesi, kunci privat, dan kunci publik
Cara kerja PGP
1. Plaintext dimampatkan (kompresi)
2. Pengirim membuat kunci sesi yg bersifat
one-time-only dng algoritma konvensional
3. Plaintext terkompresi dienkripsi dng kunci
sesi
4. Kunci sesi dienkripsi dengan kunci publik
5. Ciphertext + kunci dikirimkan
6. Kunci sesi didekripsi dng kunci privat
7. Kunci sesi digunakan untuk mendekripsi
ciphertext
8. Hasil deskripsi didekompresi utk
mendapatkan plaintext kembali
Keuntungan
Distribusi kunci terjaga
Keamanan cukup tinggi krn enkripsi
berlapis
Kecepatan enkripsi & dekripsi tinggi
Lukito E. Nugroho 38
Analisis Matematis Kriptografi
Tingkat “kesulitan” algoritma
waktu utk memecahkan algoritma
Fungsi satu arah (irreversible)
Sangat mudah dihitung tetapi sulit
sekali menguraikannya kembali
Digunakan utk membuat pasangan
kunci publik dan kunci privat
Contoh: algoritma RSA
1. Pilih secara acak 2 bilangan prima yg cukup besar, p
dan q.
2. Pilih sebuah bilangan integer secara acak yg akan
berfungsi sebagai kunci publik, e, dengan syarat:
e < n dan [(p-1)(q-1)]/e bukan integer
3. Dari e, dicari kunci privat d:
d = e-1 mod [(p-1)(q-1)]
Bilangan d harus memenuhi syarat:
(de –1)/[(p-1)(q-1)] adalah integer
4. Tahap enkripsi plaintext m:
c = me mod n
c adalah ciphertext yg dihasilkan dari enkripsi
5. Tahap dekripsi ciphertext c:
m = cd mod n
Lukito E. Nugroho 39
Tandatangan Digital Prosise, J. Digital Signatures:
How They Work. PC Magazine Online, April 1996.
Fungsi mirip dengan tanda tangan
biasa
Menjaga autentikasi (keaslian)
Menjaga integritas informasi
Memberikan layanan non-repudiation
(atas klaim yg tidak benar)
Implementasi: didasari konsep
matematis
Checksum
• checksum = total % (maxval + 1)
• Checksum yg cocok belum tentu menjamin
bhw data tidak berubah
Cyclic Redundancy Checks (CRC)
• Berbasis pembagian polinomial tiap bit pd
data merepresentasikan sebuah koefisien dr
polinomial yg sangat besar
• Nilai CRC = poli_data % poli_acuan
• Lebih akurat drpd metode checksum
Algoritma hash (fungsi searah)
• Nilai yg dihasilkan bersifat unik dan sangat
sulit diduplikasi
Sistem kriptografi publik + hash
Lukito E. Nugroho 40
Sertifikat Digital
Fungsi sertifikat: utk membuktikan
kebenaran sesuatu
Contoh pentingnya sertifikat dlm e-
commerce: kasus BCA on-line
Komponen sertifikat digital
Kunci publik
Informasi sertifikat
Satu atau lebih tanda tangan digital
Penggunaan sertifikat digital (SD)
1. SD dikeluarkan oleh otoritas sertifikat
(CA)
2. SD dikirim terenkripsi utk memastikan
keaslian pemilik/situs web tertentu
3. Penerima menggunakan kunci publik
milik CA untuk mendekripsi kunci
publik pengirim yg disertakan di SD
4. Kunci publik pengirim dpt digunakan
utk mendekripsi pesan yg sebenarnya
Lukito E. Nugroho 41
Keamanan Dalam Sistem-sistem
Virtual Mengenal E-Commerce
Kebutuhan layanan yg terkait dng
keamanan sistem-sistem virtual (e-
commerce, e-government, dll)
Autentikasi
• Memastikan seseorang itu memang benar
dia adanya (asli)
Autorisasi
• Memastikan seseorang memang berhak
mengakses sesuatu
Kerahasiaan
• Suatu informasi hanya bisa diakses oleh yg
berhak saja
Integritas
• Menjaga agar informasi tidak diubah oleh yg
tidak berhak
Penyangkalan (non-repudiation)
• Melindungi pemakai dr sangkalan pemakai
sah yg lain
Aspek keamanan pd sistem-sistem
virtual bersifat integral
Dukungan infrastruktur
Dukungan teknologi
Sumber daya manusia
Lukito E. Nugroho 42
Infrastruktur Sistem-sistem
Virtual - CA Mengenal E-Commerce
Otoritas sertifikat digital (CA -
certificate authority)
Pihak ketiga yg terpercaya (trusted)
utk mengeluarkan sertifikat digital sbg
hak/ijin utk melakukan transaksi
elektronis
Pengelolaan sertifikat digital (SD)
• Pengeluaran
• Pembaruan
• Penarikan
Mekanisme kerja dng prinsip rantai
kepercayaan (trust chain)
• Tidak hanya mengesahkan sertifikat
miliknya saja, tetapi juga mampu memberi-
kan kuasa yg sama kpd pihak lain yg berada
pd jalur hirarkisnya
Badan-badan CA
• Verisign
• Thawte
• OpenCA
Lukito E. Nugroho 43
Infrastruktur Sistem-sistem
Virtual - SET Mengenal E-Commerce
Secure Electronic Transaction (SET)
Spesifikasi protokol dan infrastruktur
pembayaran dng kartu bank
Dikembangkan oleh Visa & MasterCard
Komponen SET
Issuer
• Institusi finansial yg mengeluarkan merk ttt spt
Visa dan MasterCard
Cardholder
• Sarana bagi pemegang sah kartu bank utk
melakukan transaksi elektronis dng kartu tsb.
Biasanya berupa software yg bekerja dng protokol
SET
Merchant
• Penjual barang/jasa yg menerima pembayaran
secara elektronis
Acquirer
• Institusi finansial yg menyediakan layanan utk
memroses transaksi elektronis
Cara kerja SET
Mirip dng sistem kartu kredit konven-
sional, tetapi dilakukan scr elektronis
Autorisasi menggunakan manajemen
sertifikat digital scr hirarkis
Penggunaan kriptografi dlm setiap
pengiriman pesan
Lukito E. Nugroho 44
Infrastruktur Sistem-sistem
Virtual - XML Mengenal E-Commerce
eXtended Markup Language (XML)
Bahasa markup dng semantik yg bisa
didefinisikan pemakai
Pengembangan dr SGML dan HTML
Berorientasi pada aspek semantik,
bukan pd tampilan
Komponen utama
Kode XML yg terdiri atas tag-tag
DTD yg menjelaskan tag-tag tsb
<?xml:stylesheet type=”test/xsl” href=”display.xsl” ?>
<MYSHOP>
<ABOUT>
Toko virtual saya
</ABOUT>
<BARANG>
<JENIS> Komputer </JENIS>
<HARGA> 5500000 </HARGA>
</BARANG>
<BARANG>
<JENIS> Printer </JENIS>
<HARGA> 3000000 </HARGA>
</BARANG>
</MYSHOP>
Lukito E. Nugroho 45
Infrastruktur Sistem-sistem
Virtual - XML
<?xml version=”1.0” ?>
<xsl:stylesheet xmlns:xsl=”http://www.w3.org/TR/WD-xsl”>
<xsl:template match=”/”>
<HTML>
.....
</HTML>
</xsl:template>
<xsl:template match=”MYSHOP”>
<TABLE>
.....
<xsl:for-each select=”BARANG”>
...
</xsl:for-each>
</TABLE>
</xsl:template>
</xsl:stylesheet>
Kelebihan XML
Dapat dikembangkan dng mudah
• Chemical ML
• MathML
Aspek isi terpisah dr aspek tampilan
• mudah memanipulasi tampilan tanpa hrs
mengubah isi
• mudah menggabung satu dokumen XML
dng dokumen lain
• “write once, display anywhere”
Lukito E. Nugroho 46
Layanan Autentikasi
Autentikasi: meyakinkan bahwa
seseorang itu benar dia adanya
Tujuan autentikasi: meyakinkan
sebuah layanan hanya digunakan
oleh orang-orang yang berhak
Contoh: autentikasi dengan SIM/KTP
untuk membuktikan kebenaran si
pembawa
SIM/KTP digunakan untuk mengakses
berbagai layanan
SIM/KTP sbg alat bukti
• Institusi yg mengeluarkan SIM/KTP
• Sebuah identitas nama pemegang
SIM/KTP
• Deskripsi (fisis) tentang identitas ybs foto
• Lingkup KTP hanya berlaku di Indonesia
• Masa berlaku
Pemakaian SIM/KTP disertai asumsi-
asumsi
• Kepercayaan thdp institusi yg mengeluarkan
SIM/KTP
• Tidak terjadi pemalsuan-pemalsuan
• Tidak terjadi perubahan data pemegang
Lukito E. Nugroho 47
Kerberos Brian Tung. The Moron’s Guide to Kerberos.
http://www.isi.edu/gost/brian/security/kerberos.html
Layanan autentikasi digital yang
dikembangkan di MIT pertengahan
th. 80-an
Dirancang untuk menggantikan
metode authentication by assertion
(sebuah client memberitahu server
bahwa ia bekerja atas nama
pemakai yg menjalankannya)
Contoh: rlogin bertindak atas nama
user yg terdaftar di sebuah mesin utk
login ke mesin lain
Berbahaya jika penyusup dapat
meyakinkan rlogin bahwa dia adalah
pemakai yang berhak
Kerawanan muncul krn. metode
authentication by assertion harus
mendemonstrasikan kepemilikan
informasi rahasia pd saat mengakses
layanan
rlogin
rlogin
daemon
Lukito E. Nugroho 48
Kerberos
Prinsip kerja Kerberos mirip dengan
autentikasi dengan SIM/KTP
Skenario: pemakai ingin mengakses
sebuah layanan, dan server ingin yakin
bhw si pemakai adl. benar dia adanya
Pemakai memberikan tiket yg dikeluar-
kan oleh server autentikasi Kerberos,
yg kmd diverifikasi oleh server layanan
Asumsi-asumsi yg dipakai Kerberos
Pemakai memilih password yg “baik”
(tidak mudah ditebak)
Penyusup tidak bisa masuk di antara
pemakai dan program client (untuk
mencuri password yg diberikan ke
program client)
Komponen
Tiket
Server autentikasi (SA)
Kunci
• Kunci pemakai
• Kunci layanan
• Kunci sesi
Enkripsi simetris
Lukito E. Nugroho 49
Kerberos
User A “Saya ingin
mengakses
server XYZ” Server Kunci pemakai
autentikasi Kunci layanan
Kunci pemakai
Kunci sesi
“Server XYZ”
Kunci layanan
Kunci sesi
“User A”
User A
Kunci sesi
“Server XYZ”
User A
Kunci sesi
Server
Timestamp
layanan
Kunci sesi
“User A”
Kunci layanan
Timestamp
Server
Kunci sesi layanan
“User A”
Lukito E. Nugroho 50
Kerberos
Autentikasi layanan
Server mengambil timestamp, menam-
bahkan info nama server, mengenkrip-
sinya dengan kunci sesi, lalu
mengirimkan kembali ke pemakai
Kelemahan mekanisme dasar
Kerberos adl tiap saat pemakai hrs
menuliskan password utk mem-
bangkitkan kunci pemakai guna
membuka enkripsi pesan yg berisi
kunci sesi (yg dikirim oleh SA)
Mekanisme cache tidak disarankan utk
digunakan krn rawan utk disadap
Mekanisme Ticket Granting Service
(TGS) utk mengatasi kelemahan di
atas
Bekerja dng prinsip “tiket temporer”
dlm mengakses layanan hanya
berlaku sementara
Analog dng “tiket tamu/pengunjung”
Lukito E. Nugroho 51
Kerberos
Autentikasi cross-realm
Semakin besar cakupan jaringan,
SA/TGS dapat menjadi bottleneck
sistem tidak scalable
Kerberos membagi cakupan jaringan
ke dalam bbrp realms
Tiap realm punya SA/TGS sendiri
Akses di luar realm melalui remote
SA/TGS
SA SA
TGS TGS
Service Service
Lukito E. Nugroho 52
Get documents about "