Sistem Terdistribusi

W
Shared by: HC120730133533
Categories
Tags
-
Stats
views:
2
posted:
7/30/2012
language:
pages:
52
Document Sample
scope of work template
							Rencana Kuliah
   Topik
       Pendahuluan
       Konsep-konsep keamanan
         • Fungsi biaya, kebijakan, bentuk, dan aspek-
            aspek keamanan
       Jenis-jenis ancaman
         • Ancaman pasif, jenis-jenis serangan
       Mekanisme pengamanan
         • Autentifikasi, kendali akses, mekanisme
            pemisahan, mekanisme komunikasi, dan
            mekanisme deteksi dan pemulihan
       Contoh-contoh kasus
   Evaluasi
       Tugas #1 (mg 8, klp) – 25%
         • Pemrograman simulasi
         • Demo di lab Informatika: minggu ke-12
       Tugas #2 (mg 12, klp) – 25%
         • Makalah
         • Presentasi: minggu terakhir
       Ujian akhir – 50%
   Acuan
       Acuan diberikan pada saat kuliah


                     Lukito E. Nugroho               1
Pendahuluan
http://www.cert.org/congressional_testimony/Pethia_testimony_Mar9.html


    Relevansi keamanan sistem
     informasi
          Informasi sebagai komoditi ekonomi 
           obyek kepemilikan yang harus dijaga
          Informasi menciptakan “dunia” baru
           (mis: Internet)  membawa beragam
           dinamika dari dunia nyata
              • Komunikasi digital (e-mail, e-news, …)
              • Aktifitas digital (e-commerce, e-learning, …)
              • Konflik digital (cyber war, …)

    Mengapa sistem informasi rentan
     terhadap gangguan keamanan
          Sistem yg dirancang untuk bersifat
           “terbuka” (mis: Internet)
              • Tidak ada batas fisik dan kontrol terpusat
              • Perkembangan jaringan (internetworking)
                 yang amat cepat
          Sikap dan pandangan pemakai
              • Aspek keamanan belum banyak dimengerti
              • Menempatkan keamanan sistem pada
                 prioritas rendah
          Tidak ada solusi yang komprehensif



                             Lukito E. Nugroho                           2
Pendahuluan
   Solusi terhadap masalah keamanan
    sistem informasi
       Pusat-pusat informasi tentang
        keamanan
         • CERT
         • Milis-milis tentang keamanan sistem
         • Institusi lainnya: SecurityFocus, Symantec
       Penggunaan mekanisme deteksi global
         • Pembentukan jaringan tim penanggap
           insiden di seluruh dunia
       Peningkatan kesadaran terhadap
        masalah keamanan
         • Pendidikan bagi pengguna umum
         • Pelatihan bagi personil teknis (administrator
           sistem dan jaringan, CIO, CTO)




                    Lukito E. Nugroho                   3
Konsep-konsep Keamanan                                                Olovsson,
Thomas. A Structured Approach to Computer Security. TR 122, Dept. Comp. Sci, Chalmers
University of Technology, Sweden, 1992. Dari www.securityfocus.com


    Keamanan sebagai bagian dari
     sistem QoS
           Ketersediaan, kehandalan, kepastian
            operasional, dan keamanan
           Keamanan: perlindungan thdp obyek-
            obyek dlm kaitannya dengan
            kerahasiaan dan integritas
               • Obyek  komponen pasif
                    CPU, disk, program, …

               • Subyek  komponen aktif
                    pemakai, proses, …

           Keamanan sbg. fungsi waktu: Sec(t)
               • Memungkinkan kuantifikasi tingkat-tingkat
                  keamanan, mirip dengan konsep MTTF
                  (mean time to failure) pada kehandalan

    Biaya pengamanan sistem
           Pengertian “aman”: penyusup hrs
            mengeluarkan usaha, biaya, dan waktu
            yg besar utk dpt menembus sistem
           Biaya pengamanan  kombinasi
            banyak faktor yg saling berpengaruh
           Perlu dicari optimisasi: biaya
            pengamanan vs potensi kerusakan


                               Lukito E. Nugroho                                   4
Konsep-konsep Keamanan
   Kebijakan keamanan
       Mengatur apa yang diijinkan dan tidak
        diijinkan dlm operasi normal
         • Mengatur bgmn subyek dapat mengakses
           obyek
       Sering bersifat “politis” drpd teknis
       Harus mencerminkan proteksi thdp
        sistem secara seimbang, komprehen-
        sif, dan cost-effective
       Proses: analisis ancaman  kebijakan
        keamanan  mekanisme pengamanan
         • Analisis ancaman: memperkirakan jenis
           ancaman dan potensi merusaknya
         • Mekanisme pengamanan: implementasi
           kebijakan keamanan
       Kebijakan keamanan harus berfungsi
        dengan baik sekaligus mudah dipakai
         • Dapat mencegah penyusup pada umumnya
         • Mampu menarik pemakai untuk mengguna-
           kannya




                    Lukito E. Nugroho              5
Aspek-aspek dalam Masalah
Keamanan
   Kerahasiaan
       Melindungi obyek informasi dari
        pelepasan (release) yg tidak sah
       Melindungi obyek resource dari akses
        yg tidak sah
   Integritas
       Menjaga obyek agar tetap dapat
        dipercaya (trustworthy)
       Melindungi obyek dari modifikasi yang
        tidak sah




                 Lukito E. Nugroho              6
Aspek-aspek dalam Masalah
Keamanan
                           Layer 5
                           Auditing, monitoring, and investigating


                           Layer 4
                           Information security technologies and products
 Validation




                           Layer 3
 Layer 6




                           Information security awareness and training


                           Layer 2
                           Information security architecture and processes


                           Layer 1
                           Information security policies and standards




                                                  Firewall


                                                 Anti virus


                                            User authentication


                                               Access control
          Administration
          Management




                                                                             Consulting
              and




                                               Cryptography


                                                Assessment


                                         Logging, reporting, alerting


                                                Certification


                                              Physical security




                                           Lukito E. Nugroho                              7
Sistem Deteksi Intrusi                                   Bace, Rebecca. An
Introduction to Intrusion Detection and Assessment. ICSA. Dari www.securityfocus.com.


    Deteksi intrusi:
           Teknologi pengamanan sistem untuk
            menghadapi serangan dan penyalah-
            gunaan sistem
           Mengumpulkan info dari berbagai
            sumber di sistem dan jaringan, lalu
            menganalisisnya dari sudut pandang
            kelemahan pengamanan (security
            vulnerabilities)
    Relevansi
           Kenaikan tingkat pembobolan sistem
            sebesar 22% (1996 - 1998)
    Fungsi-fungsi
           Pemantauan dan analisis aktivitas
            pemakai dan sistem
           Audit terhadap konfigurasi dan
            kelemahan sistem
           Prakiraan integritas file-file sistem dan
            data
           Pengenalan pola-pola serangan
           Analisis statistik ttg. pola-pola
            abnormal




                               Lukito E. Nugroho                                    8
Deteksi Intrusi
   Proses
       Kombinasi berbagai aktifitas peman-
        tauan, audit, dan prakiraan
       Dilakukan secara kontinyu
       Diawali dengan prakiraan kelemahan
        (vulnerability assessment)
         • Identifikasi kelemahan sistem yg memung-
             kinkan terjadinya penyelewengan sistem
             pengamanan
         •   Teknik pasif: memeriksa konfigurasi sistem,
             file password, dsb.
         •   Teknik aktif: mengevaluasi performance
             sistem pengamanan melalui simulasi
             serangan
         •   Tools: scanners
         •   Hasil prakiraan menunjukkan snapshot
             kondisi keamanan sistem pd suatu saat
                  Tidak bisa mendeteksi serangan yg sedang
                   berlangsung
                  Bisa menunjukkan bahwa sebuah serangan
                   mungkin terjadi
                  Kadang-kadang bisa menunjukkan bahwa
                   sebuah serangan telah terjadi




                      Lukito E. Nugroho                       9
                     Fitur Teknologi Deteksi Intrusi




                      Type of System                                                Intrusion Detection                                                                                             Vulnerability Assessment
                   System Design Features                        Monitoring Approach         Timing of                                                          Type of                              Targets and Strategies
                                                                                             Analysis                                                           Analysis
What can it do ?




                                                                                                                                                                             Integrity analysis
D = detects
                                                                                                      Network-based




                                                                                                                                                                                                                             Network-based
                                                                                                                                   Batch/Interval
                                                                                     Target-based




P = prevents
                                                         Application-


                                                                        Host-based




                                                                                                                                                                                                                Host-based




                                                                                                                                                                                                                                             assessment
                                                                                                                      Integrated




                                                                                                                                                                                                  Statistical
R = repairs
                                                                                                                                                    Real time




                                                                                                                                                                                                                                             Password
                                                                                                                                                                 Signature




                                                                                                                                                                                                                (passive)
                                                                                                                                                                 analysys




                                                                                                                                                                                                  analysis




                                                                                                                                                                                                                             (active)
S = supports
                                                         based




                                                                                                                                   mode




Type Examples of Security
       Problems
                   Unauthorized access to files and
 Confidentiality




                   system resources
                                                                        D                                             D                                            D                                               P            P               P
                   Violation of corporate system use
                   policies
                                                            D           D                                             D                                            D                                               P            P               P
                   Violation of corporate security
                   policies
                                                            D           D            D                D               D                                            D         D                                     P            P
                   Weak or non-existent passwords           D           D                                             D                                            D                                              D                            D
                   Placement of trojan horses and
                   malicious software
                                                                        D            P                                D               D             D              D         P                                     P            P
                   Presence of troja horses and
 Integrity




                   malicious software
                                                                                     D                                D                                            D         D
                   Network service-based attacks                                                      D               D                             D              D                                                            P
                   CGI-based attacks                        D                                                         D                                            D                                               P            P
                   Denial of service attacks                                                          D               D                             D              D                                                            P
 Availability




                   Failure or misconfigured firewalls       D                                         D                                                            D                                               P            P
                   Attacks occurring over encrypted
                   networks
                                                            D           D                                             D                                            D
                   Unusual activities or variations of
                   normal user patterns
                                                                                                                                                                                                    D
                   Errors in system or network
                   configuration
                                                                        D                                                                                          D                                            D,P,R D,P,R
                   Liability exposure associated with
 Others




                   attackers using organizational           P           P            P                P               P                P            P              P         P                       P             P            P               P
                   resources to attack others
                   Post-incident damage assessment          S           S            S                S               S                S            S                        S                                     S            S               S




                                                                                                    Lukito E. Nugroho                                                                                                                                     10
Sistem Deteksi Intrusi dalam
Manajemen Pengamanan Sistem
             Prevention


                                              Detection



Diagnosis                           Monitor               Analyze
   and
Resolution

                                    Report                Respond




             Investigation




    Pengamanan sistem bukan
     kegiatan sesaat
    Target berupa lingkungan yang
     dinamis




                        Lukito E. Nugroho                           11
Keuntungan Sistem Deteksi
Intrusi
   Memberikan perlindungan yg lebih
    luas dalam pengamanan sistem
   Membantu memahami apa yg
    terjadi di dalam sistem
   Dukungan teknis:
       Melacak aktivitas pemakai dari awal
        sampai akhir
       Mengenal dan melaporkan usaha-
        usaha modifikasi file
       Mengetahui kelemahan konfigurasi
        sistem
       Mengenali bahwa sistem telah atau
        potensial untuk diserang
   Memungkinkan operasional
    pengamanan sistem dilakukan oleh
    staf tanpa keahlian spesifik
   Membantu penyusunan kebijakan
    dan prosedur pengamanan sistem




                 Lukito E. Nugroho            12
Kelemahan Sistem Deteksi
Intrusi
   Bukan solusi total untuk masalah
    keamanan sistem
   Tidak bisa mengkompensasi
    kelemahan:
       mekanisme identifikasi dan
        autentifikasi
       protokol jaringan
       integritas dan kualitas informasi dalam
        sistem yang dilindungi
   Masih memerlukan keterlibatan
    manusia
   Banyak berasumsi pada teknologi
    jaringan konvensional, belum bisa
    menangani teknologi baru (mis:
    fragmentasi paket pd jaringan
    ATM)




                  Lukito E. Nugroho          13
Beberapa Terminologi

    telnet request      23         telnet daemon



    ssh request         22          ssh daemon




    http request        80           http server

                                   Apache, IIS, ...




                       request
                                       server
           client




                        reply



                     acknowledge




                     Lukito E. Nugroho                14
Sniffing (Penyadapan)                                      Alaric. Sniffin’ the Ether.
www.attrition.org/security/newbie/ security/sniffer/sniffer.html


    Sniffing: penyadapan informasi
           Memanfaatkan metode broadcasting
           “Membengkokkan” aturan Ethernet
    Dilakukan dengan membuat NIC
     bekerja pada mode “promiscuous”
    Dimanfaatkan untuk:
           menyadap password, e-mail, dokumen
            rahasia, dan semua informasi yg tidak
            dienkripsi
           memetakan network
           mengambilalih mesin-mesin “trusted”
            sbg batu loncatan
    Contoh-contoh sniffer
           Sniffit, TCP Dump, Linsniffer
    Mencegah efek negatif sniffing
           Pendeteksian sniffer (local & remote)
           Penggunaan kriptografi (mis: ssh sbg
            pengganti telnet)
       www.attrition.org/security/newbie/security/sniffer/p54-10.txt




                               Lukito E. Nugroho                                     15
Scanning (Pemindaian)                                     Fyodor. The Art of Port
Scanning. www.phrack.org/show.php? p=51&a=11, dan R. Jankowski. Scanning and
Defending Networks with Nmap. www.linuxsecurity.com/feature_stories/feature_story-
4.html

    Teknik untuk menemukan saluran
     komunikasi yg dpt dieksploitasi
    Prinsip: coba ke sebanyak mungkin
     target, catat target yg potensial
     untuk dipindai
    Teknik pemindaian
          Penyapuan ping (Ping sweeping)
              • Mengirimkan ICMP echo dan TCP ACK ke
                tiap host
              • Untuk mengetahui apakah sebuah host
                sedang hidup atau tidak
          TCP connect (port scanning)
              • Menggunakan system call connect()
              • Tidak perlu privilege khusus
              • Mudah dilacak melalui mekanisme log
          TCP SYN (model “setengah-terbuka”)
              • Tidak membangun koneksi TCP secara
                penuh
              • Mengirim SYN, menerima SYN|ACK, lalu
                mengirim RST (bukan ACK spt pada koneksi
                penuh)
              • Relatif tidak terlacak oleh mekanisme log
              • Memerlukan privilege root


                              Lukito E. Nugroho                                16
Scanning (Pemindaian)
     TCP FIN
       • Port tertutup mengirim RST, port terbuka
         mengabaikannya
       • Ketidakpatuhan Microsoft dalam mengimple-
         mentasikan protokol TCP  digunakan
         untuk membedakan mesin *NIX dan mesin
         NT
     TCP identd
       • identd protokol mengijinkan pembukaan
         nama pemilik sebuah proses yg terhubung
         dengan TCP
       • Digunakan untuk mengidentifikasi pemilik
         sebuah proses
              Apakah httpd dijalankan oleh root ?
     Penyidikan Sistem Operasi
       • Menggunakan beberapa teknik untuk
         menginterogasi TCP stack
              FIN probing
              BOGUS flag probing
              ISN sampling, dll
       • Biasanya dilanjutkan dengan mengeksploita-
         si kelemahan SO yang bersangkutan




                  Lukito E. Nugroho                  17
Kelemahan (Vulnerability)
   Mengindikasikan “lubang-lubang”
    keamanan yg dapat ditembus
   Didokumentasikan (mis: CVE -
    common vulnerabilities and
    exposures) agar dapat dimanfaatkan
    oleh banyak orang
   Konsep “security through obscurity”
    menjadi tidak menguntungkan

       ae V-9900
      Nm:CE19-02
       eeec: G:98060-
      Rfrne SI1910-1I
       eeec: ETC-81.ond
      Rfrne CR:A9.2mut
       eeec: ICJ06
      Rfrne CA:-0
       eeec: I:2
      Rfrne BD11
       eeec: Flnxmut-o
      Rfrne X:iu-ondb

       ufr vrlw n F  ond ie
      Bfe oefo i NSmut gvs
       ot ces o eoe takr,
      ro acs t rmt atces
       oty n iu  ytm.
      msl i Lnxsses

       -----------
      -----------




              Lukito E. Nugroho     18
Deteksi Intrusi Jaringan                                      D. Wreski & C. Pallack.
Network Intrusion Detection Using Snort. www.linuxsecurity.com/feature_stories/
feature_story-49.html


    Untuk mendeteksi usaha-usaha
     sniffing dan scanning
    Berdasarkan basis data pola-pola
     penyusupan
    Penempatan tool pendeteksi
           Di antara firewall dan jaringan
            eksternal  mendeteksi serangan yg
            dapat ditangkal firewall maupun yg
            tidak
           Di dalam jaringan lokal  hanya
            mendeteksi serangan yg tidak dapat
            ditangkal firewall




                               Lukito E. Nugroho                                  19
IP Spoofing                   daemon9. IP Spoofing Demistified. Phrack Magazine,
vol 7, no. 48. June 1996. www.phrack.org


      IP spoofing: “membajak” identitas
       (alamat IP) sebuah host untuk
       membangun komunikasi dengan
       host lain
      Memanfaatkan:
            Autentikasi berbasis alamat IP (mis:
             rlogin)
            Kelemahan protokol IP
              •    connectionless (tidak menyimpan connect-
                   ion state)
              •    mudah untuk memodifikasi stack IP

      Skenario:
       1.    Menentukan host sasaran
       2.    Menemukan “pola-pola kepercayaan”
             (pattern of trust) dr host yg dapat
             dipercaya (trusted host)
       3.    “Melumpuhkan” host yg dpt dipercaya
       4.    Membajak identitas host yg dpt
             dipercaya
       5.    Mencoba membentuk koneksi yg
             memanfaatkan autentikasi berbasis
             alamat IP

                              Lukito E. Nugroho                               20
     IP Spoofing

          Host target                                    Host terpercaya
            (TGT)                                            (TPC)



                        Host asing (A)   Host penyerang (P)


1.   Menemukan pola-pola kepercayaan
     antara TGT dan TPC
          Memanfaatkan tool-tool yg ada:
           showmount, rpcinfo, …
2.   Melumpuhkan TPC
          Melalui SYN flooding (D.o.S dengan
           permintaan SYN) dengan alamat palsu yg
           tidak terlacak (alamat milik A)
3.   Pencuplikan dan peramalan nomor
     sekuens (ns)
4.   Serangan:
     1.    P(TPC) SYN TGT
     2.    TPC SYN|ACK TGT
     3.    P(TPC) ACK TGT (dng ns yg cocok)
     4.    P(TPC) PSH  TGT
5.   Memasang backdoor
                                 Lukito E. Nugroho                         21
IP Spoofing
   Tindakan pencegahan
       Tidak menggunakan autentikasi
        berbasis alamat IP
       Penyaringan paket dan firewall
       Penggunaan kriptografi
       Randomisasi ISN (Initial Sequence
        Number)




                 Lukito E. Nugroho          22
Carnivore               Tyson, J. How Carnivore Works. www.howstuffworks.com/
carnivore.htm


      Packet sniffer milik FBI
      Komponen
               Carnivore: packet sniffer
               Packeteer: packet reassembler
               Coolminer: ekstrapolasi dan analisis data
      Cara kerja
       1.       FBI punya alasan cukup mencurigai
                seseorang terlibat dlm aktivitas ilegal
       2.       Pengadilan memberi ijin melakukan
                penyadapan komunikasi
                 content-wiretap: seluruh isi komunikasi
                 trap-and-trace: target/tujuan komunikasi
                 pen-register: asal komunikasi
       3.       FBI meminta copy file backup ttg.
                aktivitas orang yg dicurigai ke ISP. Jika
                data yg diminta tidak ada, maka FBI
                melaksanakan langkah #4 dst.
       4.       FBI memasang komputer Carnivore di ISP
                   Pentium III, Win NT/2000, 128 MB RAM
                   Software komunikasi komersial
                   Program C++ untuk packet sniffing
                   Sistem perlindungan fisik thdp sistem Carnivore
                   Piranti isolasi jaringan utk menjaga Carnivore dr
                    usaha-usaha penyusupan dsb
                   Jaz drive 2 GB untuk piranti penyimpanan




                            Lukito E. Nugroho                              23
Carnivore
   Cara kerja (lanjutan)
    5.   Sistem Carnivore di-set sesuai dng
         penyadapan yg diijinkan. Packet
         sniffing dilakukan tanpa mengganggu
         aliran data yg lain
    6.   Paket target yg disadap disimpan di
         piranti penyimpan (Jaz drive)
    7.   Setiap 1 atau 2 hari, FBI mengganti
         kaset Jaz drive dengan yg baru
    8.   Proses penyadapan berlangsung maks
         1 bulan. Jika diperlukan waktu lebih,
         hrs ada ijin baru dr pengadilan
    9.   Data yg diperoleh diproses dng
         Packeteer dan Coolminer
   Isu-isu ttg Carnivore
        Privasi dalam berkomunikasi
        Pentingnya regulasi
        Kebebasan berkomunikasi
        Kontrol oleh pemerintah




                  Lukito E. Nugroho         24
Virus, Worm, dan Trojan Horse
Brain, M. How Computer Viruses Work. www.howstuffworks.com/virus3.htm.


    Virus
          Program yg menumpang program lain
          Menginfeksi dng cara bereproduksi dan
           menempel pd program lain
    Worm
          Program yg menyebar melalui jaringan
           dan memanfaatkan lubang-lubang
           keamanan sistem
          Dapat mereplikasi dirinya sendiri
    Trojan horse
          Program dng “hidden agenda”
    Efek yg ditimbulkan virus, worm,
     dan Trojan horse
          Dari gangguan pd tampilan s.d.
           kerusakan data/file/hard disk
          Beban trafik jaringan yg begitu besar
          Server-server macet krn. DoS
          Kerugian material $17.1 milyar pd
           tahun 2000



                             Lukito E. Nugroho                           25
    Virus dan Penyebarannya
   Pemicu munculnya virus:
        Popularitas PC dng arsitektur terbuka
        Bulletin boards yg menyediakan aneka
         program  melahirkan Trojan horse
        Floppy disk sbg alat transportasi program
   Penyebaran virus
        Virus menempel pd program lain
        Bila program induk dieksekusi, virus akan
         dimuat ke memori dan menjadi aktif
        Virus mencari program induk yg lain, dan
         bila ada, ia akan menempelkan kode
         programnya ke program induk baru 
         menyebar melalui program induk baru ini
        Virus dpt masuk ke boot sector, shg tiap
         kali komputer dihidupkan, ia akan dimuat
         ke memori dan menjadi aktif
   Virus e-mail
        Menyebar melalui pengiriman e-mail 
         sbg attachment e-mail
        Aktivasi melalui pembukaan attachment 
         mengeksekusi script virus yg ada dlm
         attachment (mis: script VBA)
        Melissa, ILOVEYOU, …


                     Lukito E. Nugroho          26
Worm
   Menyebar melalui Internet dan
    mengeksploitasi kelemahan sistem
   Penyebaran:
    1.   Masuk ke sistem yg tidak terlindung
    2.   Replikasi
    3.   Scan sistem-sistem lain yg tdk terjaga
   Ledakan kombinatorial dlm
    penyebarannya
        CodeRed: 250 ribu replikasi dlm 9 jam
        Populasi mesin di Internet yg amat
         besar
        Ketidakpedulian thdp aspek
         keamanan
   Contoh: CodeRed
        Vulnerability di fasilitas ISAPI pd IIS
        Replikasi dirinya pd 20 hari pertama
         pd tiap bulan
        Web defacing (mengganti tampilan
         halaman Web)
        Serangan DDoS


                   Lukito E. Nugroho               27
    Contoh Worm: Code Red                                       Microsoft Security
    Bulletin MS01-033. www.microsoft.com/technet/treeview/default.asp?url=/
    technet/security/bulletin/MS1-033.asp


      Platform yg terpengaruh:
            Windows NT 4.0 dan Windows 2000
      Akibat serangan
            Eksekusi kode sesuai dng keinginan penyerang
      Eksploitasi
            Instalasi IIS akan memasang bbrp file DLL yg
             mrpk ekstensi ISAPI -- salah satunya adl file
             IDQ.DLL (indexing service)
            IDQ.DLL mengandung buffer utk menangani
             input URL. Buffer ini tidak mengalami error
             checking
            Penyerang yg telah memiliki web session dng
             IIS dpt melakukan serangan berupa buffer
             overflow thdp IDQ.DLL
            Buffer overflow dng pola ttt menye-babkan
             eksekusi kode ttt oleh server pd konteks
             sistem  kendali penuh pd sistem
      Kemungkinan penggunaan
            Web defacing
            Eksekusi perintah OS
            Rekonfigurasi server
            Eksekusi program lain




                                 Lukito E. Nugroho                                   28
Pencegahan Virus, Worm, dkk
   Anti virus
       Update data ttg virus signature secara
        teratur
       Aktifkan proteksi yg disediakan oleh
        software (mis: proteksi virus macro)
   Faktor manusia: kehati-hatian
       Menggunakan disket dr sumber asing
       Menerima e-mail dengan attachment
       Menerima dokumen dr sumber asing
       Sering-sering melihat situs keamanan,
        mengawasi munculnya virus-virus
        baru, dan menerapkan patch yg
        diberikan
   Gunakan sistem operasi dan
    software yg tidak banyak memiliki
    lubang kelemahan
       Linux vs Windows
       Apache vs IIS




                  Lukito E. Nugroho          29
Firewall
   Program/piranti utk mencegah
    potensi kerusakan masuk ke
    network
   Metode
       Penapisan (filtering) paket
         • Alamat IP
         • Nama domain
         • Protokol
         • Port
       Layanan proxy
         • Bertindak “atas nama” host di dalam
           network
         • Sering digabung dengan fasilitas cache

   Potensi kerusakan yg dpt ditangkal
    oleh firewall
       Login jarak-jauh
       Application backdoors
       Pembajakan sesi SMTP (utk mengirim
        e-mail spam)
       Denial of service
       Bom e-mail


                      Lukito E. Nugroho             30
Firewall
   Perancangan firewall
       Mengikuti kebijakan pengamanan
       Keamanan vs kemudahan akses
       Dua pendekatan
         • Segala sesuatu yg tidak secara eksplisit
           diijinkan berarti tidak diperbolehkan
         • Segala sesuatu yg tidak secara eksplisit
           dilarang berarti diijinkan

   Level ancaman
       Pentingnya informasi ttg sebuah
        ancaman atau serangan
         • Kasus terburuk: tidak ada info sama sekali
         • Kasus terbaik: info lengkap, dan serangan
           dapat ditangkal
       “Zona-zona beresiko”
         • Host/network yg beresiko menerima
           ancaman/serangan yg terkait dng fungsi
           perlindungan yg diberikan oleh firewall
         • Minimisasi zona beresiko menjadi sebuah
           “titik/node” (sentralisasi)




                   Lukito E. Nugroho                   31
Implementasi Firewall
   Firewall dengan screening router
       Screening router: router dengan
        fasilitas penapisan paket
       Zona-zona beresiko:
         • Host-host di jaringan privat
         • Semua layanan yg diijinkan oleh router
       Sulit utk mendeteksi usaha-usaha
        penyusupan
       “Segala sesuatu yg tdk scr eksplisit
        dilarang berarti diijinkan”
   Firewall dng “dual-homed gateway”
       Tanpa router, dng “bastion host”
        gateway, forwarding TCP/IP
        dinonaktifkan
       Koneksi dng application gateways
        (mis: telnet forwarder) atau login ke
        gateway
       “Segala sesuatu yg tdk scr eksplisit
        diijinkan berarti dilarang”
       Jika disusupi dan TCP/IP forwarding
        diaktifkan, maka zona beresiko mjd
        amat luas


                   Lukito E. Nugroho                32
Implementasi Firewall
   Firewall dng screened host
    gateways
       Screening router + bastion host
         • Bastion host di sisi jaringan privat
         • Router dikonfigurasi agar bastion host mjd
           satu-satunya host di jaringan privat yg dpt
           dicapai dari Internet
       Zona beresiko terbatas pd bastion host
        dan router
       Dlm kaitannya dng bastion host, mirip
        dng. model dual-homed gateway
   Firewall dng screened subnet
       Screening router + bastion host
       Zona beresiko: bastion host + router
       Koneksi melalui application gateway
       Relatif sulit disusupi krn melibatkan 3
        jaringan
   Firewall hibrid
       Menggunakan berbagai kombinasi tool
        dan piranti untuk mengimplementa-
        sikan fungsi firewall



                    Lukito E. Nugroho                33
Kriptografi                 Purbo, Onno W. dan Wahyudi, Aang A. Mengenal e-
Commerce. Elex Media Komputindo. 2001.


    Pengetahuan yg menggunakan
     matematika untuk melakukan
     enkripsi dan dekripsi data
          matematika  persoalan kombinatoris
          enkripsi & dekripsi  transmisi data
           melalui jaringan yg tidak aman
    Kriptografi dan e-Commerce
          Kerahasiaan
              • Hanya diketahui si penerima saja ?
          Integritas
              • Tidak berubah ?
              • Asli ?
          Ketersediaan
              • Tersedia bagi pemakai yang sah ?
          Penggunaan yang semestinya
              • Tidak diakses oleh yang tidak berhak ?
        kriptografi berurusan dengan
        keamanan komunikasi




                             Lukito E. Nugroho                                34
Enkripsi dan Dekripsi
   Enkripsi: plaintext  ciphertext
   Dekripsi: ciphertext  plaintext
   Komponen sistem kriptografi
       algoritma kriptografi: fungsi matematis
       kunci + algoritma kriptografi =
        enkripsi / dekripsi
   Keamanan data terenkripsi
    tergantung pada
       algoritma kriptografi: seberapa besar
        usaha yg hrs dikeluarkan untuk
        menguraikan ciphertext
       kunci: seberapa jauh kerahasiaan
        kunci dapat dijaga
         • Kunci yg panjang  lebih sulit memecahkan
           algoritma, tapi juga lebih lama waktu
           pemrosesannya




                   Lukito E. Nugroho               35
Kriptografi Kunci Simetris
   Satu kunci digunakan dalam proses
    enkripsi dan dekripsi
   Algoritma:
       DES (Data Encryption Standard)
       IDEA (Int’l Data Encryption Algorithm)
       RC5
   Prinsip kerja
       Pengirim & penerima sepakat
        menggunakan sistem kriptografi ttt
       Pengirim & penerima sepakat
        menggunakan satu kunci tertentu
       Dilakukan enkripsi sbl pengiriman teks
        dan dekripsi stl diterima
       Contoh: Caesar’s Key
   Keuntungan
       Mekanisme sederhana
       Kecepatan proses tinggi
   Kelemahan
       Keamanan kunci
       Distribusi kunci


                  Lukito E. Nugroho          36
Kriptografi Kunci Asimetris
   Enkripsi dan dekripsi tidak
    menggunakan kunci yang sama
   Kriptografi kunci publik
       Kunci publik
         • Untuk enkripsi
         • Didistribusikan kepada publik
       Kunci privat
         • Untuk dekripsi
         • Bersifat rahasia
       Keuntungan:
         • Keamanan kunci terjaga
       Contoh algoritma
         • RSA (Rivest-Shamir-Adleman)
         • Elgamal
         • Diffie-Hellman




                     Lukito E. Nugroho     37
Kriptografi Hibrid
   PGP (Pretty Good Privacy)
        Menggabungkan keuntungan sistem
         kriptografi simetris dan asimetris
        Kunci sesi, kunci privat, dan kunci publik
   Cara kerja PGP
    1.   Plaintext dimampatkan (kompresi)
    2.   Pengirim membuat kunci sesi yg bersifat
         one-time-only dng algoritma konvensional
    3.   Plaintext terkompresi dienkripsi dng kunci
         sesi
    4.   Kunci sesi dienkripsi dengan kunci publik
    5.   Ciphertext + kunci dikirimkan
    6.   Kunci sesi didekripsi dng kunci privat
    7.   Kunci sesi digunakan untuk mendekripsi
         ciphertext
    8.   Hasil deskripsi didekompresi utk
         mendapatkan plaintext kembali
   Keuntungan
        Distribusi kunci terjaga
        Keamanan cukup tinggi krn enkripsi
         berlapis
        Kecepatan enkripsi & dekripsi tinggi




                   Lukito E. Nugroho                  38
Analisis Matematis Kriptografi
   Tingkat “kesulitan” algoritma 
    waktu utk memecahkan algoritma
   Fungsi satu arah (irreversible)
        Sangat mudah dihitung tetapi sulit
         sekali menguraikannya kembali
        Digunakan utk membuat pasangan
         kunci publik dan kunci privat
   Contoh: algoritma RSA
    1. Pilih secara acak 2 bilangan prima yg cukup besar, p
       dan q.
    2. Pilih sebuah bilangan integer secara acak yg akan
       berfungsi sebagai kunci publik, e, dengan syarat:
             e < n dan [(p-1)(q-1)]/e bukan integer
    3. Dari e, dicari kunci privat d:
             d = e-1 mod [(p-1)(q-1)]
       Bilangan d harus memenuhi syarat:
             (de –1)/[(p-1)(q-1)] adalah integer
    4. Tahap enkripsi plaintext m:
             c = me mod n
       c adalah ciphertext yg dihasilkan dari enkripsi
    5. Tahap dekripsi ciphertext c:
             m = cd mod n


                        Lukito E. Nugroho                     39
Tandatangan Digital                               Prosise, J. Digital Signatures:
How They Work. PC Magazine Online, April 1996.


    Fungsi mirip dengan tanda tangan
     biasa
           Menjaga autentikasi (keaslian)
           Menjaga integritas informasi
           Memberikan layanan non-repudiation
            (atas klaim yg tidak benar)
    Implementasi: didasari konsep
     matematis
           Checksum
              • checksum = total % (maxval + 1)
              • Checksum yg cocok belum tentu menjamin
                  bhw data tidak berubah
           Cyclic Redundancy Checks (CRC)
              • Berbasis pembagian polinomial  tiap bit pd
                data merepresentasikan sebuah koefisien dr
                polinomial yg sangat besar
              • Nilai CRC = poli_data % poli_acuan
              • Lebih akurat drpd metode checksum
           Algoritma hash (fungsi searah)
              • Nilai yg dihasilkan bersifat unik dan sangat
                  sulit diduplikasi
           Sistem kriptografi publik + hash



                              Lukito E. Nugroho                                40
Sertifikat Digital
   Fungsi sertifikat: utk membuktikan
    kebenaran sesuatu
        Contoh pentingnya sertifikat dlm e-
         commerce: kasus BCA on-line
   Komponen sertifikat digital
        Kunci publik
        Informasi sertifikat
        Satu atau lebih tanda tangan digital
   Penggunaan sertifikat digital (SD)
    1.   SD dikeluarkan oleh otoritas sertifikat
         (CA)
    2.   SD dikirim terenkripsi utk memastikan
         keaslian pemilik/situs web tertentu
    3.   Penerima menggunakan kunci publik
         milik CA untuk mendekripsi kunci
         publik pengirim yg disertakan di SD
    4.   Kunci publik pengirim dpt digunakan
         utk mendekripsi pesan yg sebenarnya




                  Lukito E. Nugroho             41
Keamanan Dalam Sistem-sistem
Virtual    Mengenal E-Commerce


   Kebutuhan layanan yg terkait dng
    keamanan sistem-sistem virtual (e-
    commerce, e-government, dll)
       Autentikasi
         • Memastikan seseorang itu memang benar
           dia adanya (asli)
       Autorisasi
         • Memastikan seseorang memang berhak
           mengakses sesuatu
       Kerahasiaan
         • Suatu informasi hanya bisa diakses oleh yg
           berhak saja
       Integritas
         • Menjaga agar informasi tidak diubah oleh yg
           tidak berhak
       Penyangkalan (non-repudiation)
         • Melindungi pemakai dr sangkalan pemakai
           sah yg lain
   Aspek keamanan pd sistem-sistem
    virtual bersifat integral
       Dukungan infrastruktur
       Dukungan teknologi
       Sumber daya manusia




                     Lukito E. Nugroho              42
Infrastruktur Sistem-sistem
Virtual - CA        Mengenal E-Commerce


   Otoritas sertifikat digital (CA -
    certificate authority)
       Pihak ketiga yg terpercaya (trusted)
        utk mengeluarkan sertifikat digital sbg
        hak/ijin utk melakukan transaksi
        elektronis
       Pengelolaan sertifikat digital (SD)
         • Pengeluaran
         • Pembaruan
         • Penarikan
       Mekanisme kerja dng prinsip rantai
        kepercayaan (trust chain)
         • Tidak hanya mengesahkan sertifikat
           miliknya saja, tetapi juga mampu memberi-
           kan kuasa yg sama kpd pihak lain yg berada
           pd jalur hirarkisnya
       Badan-badan CA
         • Verisign
         • Thawte
         • OpenCA




                      Lukito E. Nugroho           43
Infrastruktur Sistem-sistem
Virtual - SET         Mengenal E-Commerce


   Secure Electronic Transaction (SET)
       Spesifikasi protokol dan infrastruktur
        pembayaran dng kartu bank
       Dikembangkan oleh Visa & MasterCard
   Komponen SET
       Issuer
         • Institusi finansial yg mengeluarkan merk ttt spt
            Visa dan MasterCard
       Cardholder
         • Sarana bagi pemegang sah kartu bank utk
            melakukan transaksi elektronis dng kartu tsb.
            Biasanya berupa software yg bekerja dng protokol
            SET
       Merchant
         • Penjual barang/jasa yg menerima pembayaran
            secara elektronis
       Acquirer
         • Institusi finansial yg menyediakan layanan utk
            memroses transaksi elektronis
   Cara kerja SET
       Mirip dng sistem kartu kredit konven-
        sional, tetapi dilakukan scr elektronis
       Autorisasi menggunakan manajemen
        sertifikat digital scr hirarkis
       Penggunaan kriptografi dlm setiap
        pengiriman pesan




                     Lukito E. Nugroho                        44
Infrastruktur Sistem-sistem
Virtual - XML              Mengenal E-Commerce


    eXtended Markup Language (XML)
          Bahasa markup dng semantik yg bisa
           didefinisikan pemakai
          Pengembangan dr SGML dan HTML
          Berorientasi pada aspek semantik,
           bukan pd tampilan
    Komponen utama
          Kode XML yg terdiri atas tag-tag
          DTD yg menjelaskan tag-tag tsb

    <?xml:stylesheet type=”test/xsl” href=”display.xsl” ?>
    <MYSHOP>

    <ABOUT>
    Toko virtual saya
    </ABOUT>

    <BARANG>
      <JENIS> Komputer </JENIS>
      <HARGA> 5500000 </HARGA>
    </BARANG>

    <BARANG>
      <JENIS> Printer </JENIS>
      <HARGA> 3000000 </HARGA>
    </BARANG>

    </MYSHOP>




                         Lukito E. Nugroho                   45
Infrastruktur Sistem-sistem
Virtual - XML
<?xml version=”1.0” ?>
<xsl:stylesheet xmlns:xsl=”http://www.w3.org/TR/WD-xsl”>

<xsl:template match=”/”>
<HTML>
.....
</HTML>
</xsl:template>

<xsl:template match=”MYSHOP”>
<TABLE>
.....
<xsl:for-each select=”BARANG”>
...
</xsl:for-each>
</TABLE>
</xsl:template>

</xsl:stylesheet>



   Kelebihan XML
       Dapat dikembangkan dng mudah
          • Chemical ML
          • MathML
       Aspek isi terpisah dr aspek tampilan
          • mudah memanipulasi tampilan tanpa hrs
            mengubah isi
          • mudah menggabung satu dokumen XML
            dng dokumen lain
          • “write once, display anywhere”



                     Lukito E. Nugroho                     46
Layanan Autentikasi
   Autentikasi: meyakinkan bahwa
    seseorang itu benar dia adanya
   Tujuan autentikasi: meyakinkan
    sebuah layanan hanya digunakan
    oleh orang-orang yang berhak
   Contoh: autentikasi dengan SIM/KTP
    untuk membuktikan kebenaran si
    pembawa
       SIM/KTP digunakan untuk mengakses
        berbagai layanan
       SIM/KTP sbg alat bukti
         • Institusi yg mengeluarkan SIM/KTP
         • Sebuah identitas  nama pemegang
           SIM/KTP
         • Deskripsi (fisis) tentang identitas ybs  foto
         • Lingkup  KTP hanya berlaku di Indonesia
         • Masa berlaku
       Pemakaian SIM/KTP disertai asumsi-
        asumsi
         • Kepercayaan thdp institusi yg mengeluarkan
           SIM/KTP
         • Tidak terjadi pemalsuan-pemalsuan
         • Tidak terjadi perubahan data pemegang




                    Lukito E. Nugroho                 47
Kerberos Brian Tung. The Moron’s Guide to Kerberos.
http://www.isi.edu/gost/brian/security/kerberos.html

   Layanan autentikasi digital yang
    dikembangkan di MIT pertengahan
    th. 80-an
   Dirancang untuk menggantikan
    metode authentication by assertion
    (sebuah client memberitahu server
    bahwa ia bekerja atas nama
    pemakai yg menjalankannya)
        Contoh: rlogin  bertindak atas nama
         user yg terdaftar di sebuah mesin utk
         login ke mesin lain
        Berbahaya jika penyusup dapat
         meyakinkan rlogin bahwa dia adalah
         pemakai yang berhak
        Kerawanan muncul krn. metode
         authentication by assertion harus
         mendemonstrasikan kepemilikan
         informasi rahasia pd saat mengakses
         layanan

                                                   rlogin
                          rlogin
                                                  daemon




                      Lukito E. Nugroho                     48
Kerberos
   Prinsip kerja Kerberos mirip dengan
    autentikasi dengan SIM/KTP
       Skenario: pemakai ingin mengakses
        sebuah layanan, dan server ingin yakin
        bhw si pemakai adl. benar dia adanya
       Pemakai memberikan tiket yg dikeluar-
        kan oleh server autentikasi Kerberos,
        yg kmd diverifikasi oleh server layanan
   Asumsi-asumsi yg dipakai Kerberos
       Pemakai memilih password yg “baik”
        (tidak mudah ditebak)
       Penyusup tidak bisa masuk di antara
        pemakai dan program client (untuk
        mencuri password yg diberikan ke
        program client)
   Komponen
       Tiket
       Server autentikasi (SA)
       Kunci
         • Kunci pemakai
         • Kunci layanan
         • Kunci sesi
       Enkripsi simetris



                  Lukito E. Nugroho           49
Kerberos
User A     “Saya ingin
           mengakses
           server XYZ”                  Server      Kunci pemakai
                                      autentikasi   Kunci layanan
               Kunci pemakai

             Kunci sesi
            “Server XYZ”
                             Kunci layanan
              Kunci sesi
               “User A”


User A

         Kunci sesi

         “Server XYZ”




User A
                  Kunci sesi

                                                 Server
                Timestamp
                                                layanan

                Kunci sesi
                 “User A”

             Kunci layanan



                         Timestamp
                                                 Server
                         Kunci sesi             layanan
                           “User A”




                      Lukito E. Nugroho                       50
Kerberos
   Autentikasi layanan
       Server mengambil timestamp, menam-
        bahkan info nama server, mengenkrip-
        sinya dengan kunci sesi, lalu
        mengirimkan kembali ke pemakai
   Kelemahan mekanisme dasar
    Kerberos adl tiap saat pemakai hrs
    menuliskan password utk mem-
    bangkitkan kunci pemakai guna
    membuka enkripsi pesan yg berisi
    kunci sesi (yg dikirim oleh SA)
       Mekanisme cache tidak disarankan utk
        digunakan krn rawan utk disadap
   Mekanisme Ticket Granting Service
    (TGS) utk mengatasi kelemahan di
    atas
       Bekerja dng prinsip “tiket temporer”
        dlm mengakses layanan  hanya
        berlaku sementara
       Analog dng “tiket tamu/pengunjung”



                  Lukito E. Nugroho            51
Kerberos
    Autentikasi cross-realm
         Semakin besar cakupan jaringan,
          SA/TGS dapat menjadi bottleneck 
          sistem tidak scalable
         Kerberos membagi cakupan jaringan
          ke dalam bbrp realms
         Tiap realm punya SA/TGS sendiri
         Akses di luar realm melalui remote
          SA/TGS




              SA                                  SA




              TGS                                 TGS


    Service                             Service




                    Lukito E. Nugroho                   52

						
Related docs
Other docs by HC120730133533
tutorial membuat menu pada power point1
Views: 7  |  Downloads: 0
proposal tanaman hiasan
Views: 56  |  Downloads: 0
fer travel reimbursement
Views: 0  |  Downloads: 0
Port Komputer
Views: 78  |  Downloads: 0
PHOTOGRAPHY
Views: 28  |  Downloads: 0
minutes 7 14 06
Views: 1  |  Downloads: 0
BEFORE THE PUBLIC SERVICE COMMISSION OF UTAH
Views: 1  |  Downloads: 0