PERENCANAAN FASILITAS

Document Sample
PERENCANAAN FASILITAS Powered By Docstoc
					                                     BAB II
                        PERENCANAAN FASILITAS


       Perencanaan fasilitas merupakan suatu kegiatan yang dilakukan sebelum
dan setelah perusahaan beroperasi. Perencanaan fasilitas mempunyai subjek yang
luas dan dapat diterapkan dalam berbagai jenis bidang, misalnya untuk
perencanaan suatu produk baru, perkantoran, penambahan bagian pada suatu
rumah sakit, atau perluasan ruang tunggu di suatu pelabuhan udara. Perencanaan
ini menentukan bagaimana suatu aset tetap perusahaan digunakan secara baik
untuk menunjang tujuan perusahaan. Bagi suatu perusahaan manufaktur,
perencanaan fasilitas termasuk menentukan bagaimana fasilitas pabrik digunakan
secara efektif dan efisien dalam menunjang produksi. Demikian pula, dalam suatu
rumah sakit, perencanaan fasilitas mencakup penentuan bagaimana fasilitas rumah
sakit menunjang penyediaan pelayanan kesehatan bagi pasien.
       Secara umum, tujuan perencanaan fasilitas sebagai berikut.
       1.   Menunjang tujuan organisasi melalui peningkatan material handling
            dan penyimpanan.
       2.   Menggunakan tenaga kerja, peralatan, ruang, dan energi secara efektif.
       3.   Meminimalkan investasi modal.
       4.   Mempermudah pemeliharaan.
       5.   Meningkatkan keselamatan dan kepuasan kerja.

       Tujuan perencanaan itu tidak dapat dicapai semuanya secara sekaligus,
karena tujuan yang satu dengan yang lain dapat berlawanan. Misalnya, untuk
mempercepat atau memperlancar kegiatan material handling dapat menggunakan
peralatan yang modern, seperti automatic guided vehicle (AGV). Akan tetapi,
penggunaan peralatan ini tentu saja akan menambah investasi modal. Penggunaan
ruang yang sangat hemat, seperti penempatan mesin-mesin sangat rapat, dapat
mengakibatkan kesulitan dalam pemeliharaan karena ruang gerak yang sangat
terbatas. Oleh karena itu, perencana perlu menentukan sasaran utama yang hendak
dicapai dan secara bijaksana membuat perencanaan yang optimal.




                                                                               23
2.1       Proses Perencanaan Fasilitas

          Proses perencanaan fasilitas merupakan suatu proses yang berkelanjutan,
yang menurut Tompkins (1984) dapat digambarkan dalam bentuk daur hidup
fasilitas sebagai berikut.

                                            Fase I
                                           Tetapkan
                                        tujuan fasilitas



                         Fase II                                Fase III
                     Kembangkan                                Terapkan
                    rencana fasilitas                      rencana fasilitas




                         Gambar 2.1 Daur Hidup Fasilitas


          Dengan menggunakan pendekatan Engineering Design Process, proses
perencanaan fasilitas dapat diuraikan lebih lanjut dalam tahapan sebagai berikut.
Fase I
1. Tetapkan tujuan dari fasilitas
      Untuk perencanaan suatu fasilitas baru ataupun pengembangan dari fasilitas
      yang sudah ada, produk yang akan dibuat ataupun jasa yang akan dihasilkan
      harus dapat dinyatakan secara kuantitatif, termasuk volume dan tingkat
      kegiatan jika mungkin.
Fase II
2. Tentukan kegiatan utama dan penunjang yang diperlukan dalam mencapai
      tujuan. Baik kegiatan utama maupun penunjang dan persyaratan yang harus
      dipenuhi harus jelas spesifikasinya, karena berkaitan dengan operasi,
      peralatan, pers0onel, dan aliran proses.
3. Tentukan hubungan antarsemua kegiatan.




                                                                                24
    Tentukan hubungan dan interaksi antarkegiatan, baik secara kuantitatif
    maupun kualitatif.
4. Tentukan kebutuhan ruangan untuk semua kegiatan.
    Seluruh peralatan, material, dan personel yang diperlukan harus diperhatikan
    dalam merencanakan kebutuhan ruangan untuk setiap kegiatan.
5. Susun alternatif-alternatif dari rencana fasilitas.
    Kembangkan berbagai alternatif lokasi dan desain dari fasilitas yang mungkin.
6. Evaluasi alternatif-alternatif itu.
    Dengan menggunakan kriteria yang ditentukan, evaluasi setiap alternatif yang
    ada.
7. Pilih alternatif rencana fasilitas terbaik.
    Pilih satu alternatif yang paling dapat diterima dan memuaskan sesuai dengan
    tujuan perusahaan.
Fase III
8. Terapkan rencana fasilitas tersebut.
    Apabila suatu alternatif rencana fasilitas telah dipilih, laksanakan perencanaan
    tersebut melalui persiapan dan pengawasan yang matang.
9. Pelihara dan sesuaikan dengan keadaan.
    Lakukan penyesuaian jika diperlukan. Misalnya, perubahan desain produk
    mungkin memerlukan penyesuaian dalam aliran proses atau peralatan
    pengangkut.
10. Kembali ke langkah 1 untuk mengevaluasi apakah tujuan yang semula masih
    tetap atau sudah ada perubahan. Evaluasi dilakukan pada selang waktu tertentu
    agar fasilitas yang ada dapat disesuaikan dengan tujuan perusahaan.

        Apabila engineering design process diterapkan untuk perusahaan
manufaktur, proses itu menjadi sebagai berikut:
       1.      Tetapkan jenis barang yang akan diproduksi.
       2.      Tentukan proses manufaktur yang diperlukan.
       3.      Tentukan hubungan antardepartemen.
       4.      Tentukan kebutuhan ruangan untuk semua departemen.



                                                                                 25
        5.        Susun alternatif-alternatif rencana fasilitas.
        6.        Evaluasi alternatif-alternatif itu.
        7.        Pilih salah satu alternatif terbaik.
        8.        Terapkan alternatif tersebut.
        9.        Pelihara dan sesuaikan dengan keadaan.
        10.       Kembali ke langkah 1, dan seterusnya.


        Konsep proses perencanaan fasilitas ini tidak saja dapat digunakan untuk
menentukan tata letak bangunan atau ruang, tetapi dengan sedikit modifikasi juga
dapat digunakan untuk mengatur tata letak mesin dan peralatan atau untuk
memilih suatu lokasi.

        Berdasarkan klasifikasinya, perencanaan fasilitas dapat dibagi dalam tiga
jenis, yaitu:
        1.      perencanaan lokasi;
        2.      perencanaan tata letak;
        3.      perencanaan sistem material handling.

        Perencanaan lokasi mencakup penentuan tempat fasilitas itu berada, yang
dipilih dengan memperhatikan faktor-faktor, seperti letak pasar, bahan baku, dan
keadaan lingkungan. Perencanaan tata letak mencakup tata letak untuk bangunan-
bangunan utama dan penunjang (seperti bagian produksi, gudang, bengkel
pemeliharaan, kantor direksi, bagian personalia, dan tempat parkir) ataupun tata
letak mesin di dalam pabrik. Sementara itu, perencanaan sistem material handling
meliputi penanganan terhadap bahan baku, personel, informasi, ataupun peralatan
yang diperlukan untuk dapat memperlancar pelaksanaan proses produksi. Masing-
masing jenis perencanaan tersebut di atas akan dibahas lebih lanjut dalam bab ini.




                                                                                26
2.2      Perencanaan Lokasi

         Perencanaan lokasi merupakan salah satu kegiatan awal yang harus
dilakukan sebelum perusahaan mulai beroperasi. Tujuan perencanaan lokasi untuk
menentukan lokasi suatu perusahaan atau pabrik sebaik mungkin agar beroperasi
atau berproduksi dengan lancar, dengan biaya operasi rendah, dan memungkinkan
perluasan di masa datang.
         Penentuan lokasi yang tepat mempengaruhi kemampuan perusahaan
dalam:
         1.   melayani konsumen dengan memuaskan;
         2.   mendapatkan bahan-bahan mentah yang cukup dan kontinyu dengan
              harga yang layak/memuaskan;
         3.   mendapatkan tenaga kerja yang cukup;
         4.   memungkinkan perluasan perusahaan di kemudian hari.

         Kesalahan pemilihan lokasi dapat mengakibatkan tingginya biaya
transportasi, kekurangan tenaga kerja, kehilangan kesempatan bersaing, tidak
cukupnya bahan baku yang tersedia, atau hal-hal serupa yang mengganggu
kelancaran operasi perusahaan, yang akhirnya dapat mengakibatkan rendahnya
pendapatan operasi. Lokasi merupakan salah satu faktor penting bagi perusahaan
karena mempengaruhi perkembangan dan kelangsungan hidup perusahaan. Oleh
karena itu, ada dua hal penting yang mendasari pemilihan lokasi, yaitu komitmen
jangka panjang serta mempengaruhi biaya operasi dan pendapatan. Apabila lokasi
sudah ditentukan, bangunan sudah didirikan dan mesin-mesin sudah dipasang,
perusahaan tidak akan begitu mudah untuk memindahkan lokasi kegiatannya jika
tidak lama kemudian baru disadari bahwa lokasi yang dipilih tidak tepat.
Kesalahan seperti ini akan sulit diperbaiki tanpa adanya resiko kerugian investasi
yang besar.
         Perencanaan atau evaluasi lokasi juga dapat dilakukan sesudah perusahaan
beroperasi, terutama disebabkan oleh:
         1.   berpindahnya pusat kegiatan bisnis;
         2.   berubahnya adat kebiasaan masyarakat;



                                                                               27
        3.    berpindahnya konsentrasi pemukiman;
        4.    adanya jaringan komunikasi dan pengangkutan yang lebih baik;
        5.    meningkatnya kapasitas produksi perusahaan.

        Apabila lokasi yang sekarang sudah tidak memadai lagi yang disebabkan
oleh salah satu dari kelima faktor itu perlu dilakukan relokasi, yaitu memindahkan
lokasi perusahaan/pabrik ke tempat yang baru. Dalam melakukan relokasi banyak
faktor yang harus diperhatikan, seperti mesin-mesin yang akan dibawa dan yang
akan ditinggal, tenaga kerja yang akan diikutsertakan dalam lokasi yang baru,
penanganan terhadap tenaga kerja yang ditinggal, pelayanan terhadap konsumen
di lokasi yang lama sementara memasuki pasar di lokasi yang baru.

2.2.1   Faktor-Faktor yang Perlu Diperhatikan
        Dalam mendapatkan lokasi suatu perusahaan/pabrik yang tepat, perlu
memperhatikan faktor-faktor yang berkaitan dengan kegiatan usaha perusahaan.
Faktor-faktor itu, antara lain sebagai berikut.

        1.     letak pasar;
        2.     letak sumber bahan baku;
        3.     ketersediaan tenaga kerja;
        4.     ketersediaan tenaga listrik;
        5.     ketersediaan air;
        6.     fasilitas pengangkutan;
        7.     fasilitas perumahan, pendidikan, perbelanjaan, dan telekomunikasi;
        8.     pelayanan kesehatan, keamanan, dan pencegahan kebakaran;
        9.     peraturan pemerintah setempat;
        10.    sikap masyarakat;
        11.    peraturan lingkungan hidup;
        12.    biaya tanah dan bangunan;
        13.    luas tempat parkir;
        14.    saluran pembuangan;
        15.    kemungkinan perluasan;
        16.    karakteristik tanah;
        17.    lebar jalan.




                                                                                28
Letak Pasar
       Banyak perusahaan/pabrik didirikan dekat pasar untuk produknya dengan
tujuan agar memperoleh konsumen yang lebih besar, melayani konsumen dengan
cepat, barang dapat segera sampai di pasar, atau untuk memperoleh biaya
pengiriman barang yang rendah. Faktor kedekatan terhadap pasar ini juga
mempertimbangkan aspek keamanan barang dan kemungkinan kerusakan selama
dalam transportasi. Bagi perusahaan jasa – seperti restoran, bank, dan kantor pos –
faktor kedekatan dengan pasar merupakan hal yang sangat penting untuk
dipertimbangkan dalam memilih lokasi.

Letak Sumber Bahan Baku
       Perusahaan/pabrik memerlukan bahan mentah untuk diolah menjadi
barang jadi. Bahan mentah ini perlu diangkut dari tempat asal menuju lokasi
pabrik yang bersangkutan. Perusahaan berkepentingan untuk selalu memperoleh
sejumlah bahan mentah yang dibutuhkan dengan mudah, murah, cepat serta
dengan biaya pengangkutan yang rendah dan aman dalam perjalanan. Ada dua
pertimbangan yang mendasari perusahaan untuk memiliki lokasi di tempat sumber
bahan baku atau sekitarnya.
1. Tingkat kebutuhan (necessity)
   Bagi perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan, perkebunan,
   pertanian, dan perikanan, faktor kedekatan pabrik dengan bahan baku sangat
   penting. Beroperasi langsung di tempat bahan baku berada akan lebih mudah
   daripada mengangkut bahan baku itu ke lokasi lain untuk diolah. Hal ini juga
   berlaku bagi industri yang pengangkutan bahan bakunya lebih sulit
   dibandingkan pengangkutan barang jadinya, misalnya karena bantuk bahan
   bakunya yang besar [seperti pabrik bubur kayu (pulp) dan kertas] atau bahan
   bakunya yang berat (seperti industri marmer).
2. Tingkat ketahanan rusak (perishability)
   Banyak bahan mentah yang tidak tahan lama atau rusak dalam jangka waktu
   tertentu. Dalam hal ini, perusahaan berusaha mendekati lokai bahan baku
   dengan tujuan mencegah kerusakan bahan baku selama pengangkutan menuju



                                                                                29
   lokasi pengolahan. Misalnya, perusahaan pengalengan atau pembekuan ikan
   (cold storage), pengalengan buah-buahan (fruit canning), atau perusahaan
   pengolahan susu sapi (dairy product).

Ketersediaan Tenaga Kerja
       Sebagai salah satu unsur utama dalam kegiatan perusahaan, ketersediaan
tenaga kerja merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan
lokasi. Hal-hal yang menjadi bahan pertimbangan dalam upah tenaga kerja
mencakup tingkat kecakapan yang diperlukan, kuantitas yang mencukupi, dan
tinggi rendahnya upah. Biaya tenaga kerja menjadi sangat penting bagi
perusahaan padat karya (labor intensive), seperti industri tekstil, rokok dan
sepatu).
       Tenaga kerja dapat digolongkan dalam dua kelompok, yaitu tenaga kerja
dengan kemampuan/kecakapan yang tinggi (high skilled worker) dan tenaga kerja
yang berkemampuan rendah (low skilled worker). Tenaga kerja yang
berkemampuan, yang biasanya diperlukan untuk tingkatan penyelia (supervisor)
ke atas, pada umumnya tidak menjadi masalah karena jumlah yang diperlukan
relatif sedikit dan mereka tidak keberatan untuk bekerja di luar tempat asalnya.
Tergantung dari jenis tenaga kerja pada perusahaan yang bersangkutan,
pertimbangan terhadap faktor ketersediaan tenaga kerja biasanya lebih difokuskan
pada ketersediaan tenaga kerja yang berkemampuan rendah.

Ketersediaan Tenaga Listrik
       Biasanya suatu pabrik memerlukan tenaga listrik untuk menjalankan
mesin-mesin, tenaga pemanas atau pendingin, ataupun penerangan. Pabrik yang
membutuhkan tenaga listrik yang besar akan memilih lokasi di daerah yang
mempunyai sumber listrik yang besar. Apabila tidak tersedia sumber listrik yang
mencukupi dan pabrik harus membangun instalasi sendiri, hal ini akan
memerlukan investasi besar yang dapat menambah biaya modal. Dalam hal
ketersediaan tenaga listrik, yang perlu mendapat perhatian tidak saja jumlah daya
yang tersedia, melainkan juga mutu/kestabilan arus listrik.




                                                                              30
Ketersediaan Air
         Banyak perusahaan/pabrik yang membutuhkan air dalam jumlah yang
banyak        sebagai   bagian   dari   proses   produksinya,   misalnya   kegiatan
penyempurnaan dalam industri tekstil, pendinginan dalam reaktor nuklir, atau
pencucian pada industri kulit. Dalam hal ini, perusahaan berusaha mencari lokasi
yang memiliki sumber air tanah yang besar, berada di dekat sungai atau danau,
atau yang disediakan oleh perusahaan air minum setempat.

Fasilitas Pengangkutan
         Pengangkutan (transportasi) merupakan suatu faktor yang penting
diperhatikan, karena kegiatan pengangkutan baik untuk bahan mentah maupun
produk jadi dapat memakan waktu dan biaya yang sangat besar. Ada empat jenis
fasilitas pengangkutan yang sering digunakan yaitu:
         1.    kereta api;
         2.    angkutan jalan raya;
         3.    angkutan air;
         4.    angkutan udara.
         Peranan pengangkutan dengan kereta api cukup penting mengingat biaya
pengangkutan dengan kereta api biasanya paling murah dibandingkan jenis
pengangkutan yang lain. Oleh karena itu, letak jaringan kereta api secara historis
masih mempunyai peranan yang menentukan dalam penentuan lokasi suatu
pabrik. Pada umumnya, kereta api digunakan untuk mengangkut barang-barang
dagangan dalam wagon atau mengangkut barang-barang material, seperti biji besi,
batubara, dan pasir dalam gerbong bak terbuka (flatcar).
         Peranan pengangkutan jalan darat juga cukup besar, terutama disebabkan
oleh fleksibilitas. Jenis yang banyak digunakan truk kontainer, truk ringan, van
dan mobil bak terbuka (pick up). Jumlah angkutan ini setiap tahun semakin
bertambah melebihi kapasitas jenis pengangkutan yang lain. Berbagai komoditas,
dari bahan baku sampai barang jadi diangkut menggunakan fasilitas pengangkutan
jenis ini.




                                                                                31
        Pengangkutan air biasanya lebih murah, tetapi waktunya lebih lambat
dibandingkan jenis pengangkutan yang lain. Jenis ini sering digunakan untuk
mengangkut barang-barang dengan volume yang besar seperti barang-barang
kimia, produk kehutanan, semen, pupuk, dan minyak. Di Indonesia, pengangkutan
air/sungai masih cukup penting mengingat keadaan geografi Indonesia terutama di
luar Jawa yang di beberapa daerah masih belum banyak terdapat jalan beraspal.
        Pengangkutan udara merupakan jenis pengangkutan yang tercepat,
terutama untuk jarak jauh. Oleh karena itu, sering digunakan untuk mengangkut
barang-barang yang harus segera sampai di tujuan, seperti buah-buahan, surat
kabar/majalah, dan ikan hias. Di Indonesia, volume pengangkutan melalui udara
masih belum tinggi karena biaya angkut yang cukup tinggi dan prasarana
pengangkutan yang relatif masih kurang.

2.2.2   Metode Penilaian Lokasi
        Terdapat enam metode yang sering digunakan dalam pemilihan suatu
lokasi perusahaan, yaitu:
        1.   factor rating;
        2.   analisis nilai ideal;
        3.   analisis ekonomi;
        4.   analisis volume-biaya;
        5.   pendekatan pusat graviti;
        6.   metode transportasi.


Factor Rating
        Factor rating adalah suatu pendekatan umum yang berguna untuk
mengevaluasi dan membandingkan berbagai alternatif lokasi. Factor rating
memberikan suatu landasan rasional dalam menganalisis dengan cara memberikan
bobot terhadap faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi.
Selain faktor-faktor yang bersifat kuantitatif (seperti kapasitas, biaya dan jarak)
dapat pula dianalisis faktor-faktor yang bersifat kualitatif (seperti tersedianya
fasilitas jasa umum, sikap masyarakat, atau sarana sosial). Faktor kualitatif ini



                                                                                32
dikuantifikasi untuk memudahkan penilaian. Dengan menggunakan pendekatan
total nilai tertimbang (weighted score), dapat diketahui lokasi yang paling
memenuhi keinginan.

       Prosedur penyusunan factor rating sebagai berikut.
1. Tentukan faktor-faktor yang relevan (seperti lokasi pasar, bahan baku dan
   sumber air). Semua faktor yang relevan harus diikutsertakan dalam analisis
   meskipun kemungkinan memiliki nilai yang sama untuk berbagai alternatif
   yang sedang dibandingkan.
2. Berikan bobot kepada setiap faktor yang menunjukkan tingkat kepentingannya
   terhadap faktor-faktor lain. Jumlah bobot untuk semua faktor sebesar 1 atau
   100%.
3. Tentukan skala penilaian terhadap semua faktor, misalnya 1 sampai dengan 10
   atau 1 sampai dengan 100.
4. Berikan nilai pada setiap alternatif lokasi. Lokasi yang terbaik harus diberi
   nilai maksimal, sedangkan alternaif lokasi lainnya mendapat nilai yang
   proporsional dibandingkan dengan alternatif terbaik tadi.
5. Kalikan bobot dengan nilai untuk setiap faktor, dan jumlahkan untuk setiap
   alternatif lokasi.
6. Pilih lokasi dengan total nilai tertimbang yang terbesar.
       Untuk menghindari terjadinya pemberian nilai yang bias karena masuknya
faktor-faktor subjektif dalam penilaian, analis dituntut untuk melakukannya
seobjektif mungkin dengan menggunakan data kuantitatif. Selain itu, penilaian
sebaiknya dilakukan oleh lebih dari satu orang dan hasilnya dirata-ratakan.
       Tabel 2.1. meunjukkan contoh dari suatu hasil penilaian terhadap dua
lokasi dengan menggunakan metode factor rating.




                                                                              33
                                   Tabel 2.1
            Contoh Pemilihan Lokasi Berdasarkan Factor Rating
                   Bobot         Lokasi I                 Lokasi II
       Faktor
                    %         Nilai    BxN           Nilai        BxN
     Pasar          25        100         25          80            20
     Bahan baku     20         90         18         100            20
     Tenaga         20        100         20          90            18
     kerja          15        100         15          80            12
     Tenaga         10         60          6         100            10
     listrik         5         80          4         100             5
     Air             5        100          5         100             5
     Prasarana
     umum
     Perluasan
     Jumlah          100                  93                         90
        Keterangan: B x N = bobot x nilai

       Dari tabel di atas terlihat bahwa lokasi I mempunyai total nilai tertimbang
yang lebih besar dibandingkan dengan lokasi II. Lokasi I merupakan lokasi yang
terpilih karena lebih memenuhi persyaratan dibandingkan dengan lokasi II.

Metode Analisis Nilai Ideal
       Metode ini serupa dengan metode factor rating, bedanya hanya bobot
menunjukkan nilai ideal untuk setiap faktor. Dengan demikian, nilai maksimum
setiap faktor sama dengan nilai idealnya. Contoh berikut menunjukkan cara
penilaian dengan menggunakan metode ini.

                                   Tabel 2.2
     Contoh Pemilihan Lokasi Berdasarkan Metode Analisis Nilai Ideal

              Faktor               Nilai            Nilai           Nilai
      Pasar                         25               25              20
      Bahan baku                    20               18              20
      Tenaga kerja                  20               20              18
      Tenaga listrik                15               15              12
      Air                           10                6              10
      Prasarana umum                 5                4               5
      Perluasan                      5                5               5
      Jumlah                       100               93              90




                                                                               34
       Terlihat bahwa cara ini memberikan hasil yang tidak berbeda dengan
metode factor rating dan lebih simpel. Namun, dalam memberikan nilai agak
lebih sulit karena orang lebih terbiasa/mudah membandingkan sesuatu dalam
proporsi 1-10 atau 1-100 dibandingkan dengan 1-25.

Analisis Ekonomi
       Metode ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif secara
bersama-sama untuk mendapatkan penilaian yang lebih lengkap. Pendekatan
kuantitatif dilakukan dengan cara membandingkan total biaya operasi dari
masing-masing     alternatif   lokasi.   Penilaian   kualitatif   dilakukan     untuk
membandingkan faktor-faktor lain yang tidak dapat diukur dengan rupiah,
misalnya ketersediaan tenaga kerja, jenis tenaga kerja, aktivitas serikat buruh,
sikap masyarakat, dan fasilitas pendidikan. Contoh analisis ini dapat ditunjukkan
dalam tabel berikut.


                                     Tabel 2.3
          Contoh Pemilihan Lokasi Berdasarkan Analisis Ekonomi

1. Tabel Biaya
                                                         Lokasi
              Faktor biaya
                                          I            II       III           IV
     Biaya tenaga kerja                 380           397       422           452
     Biaya transportasi                  98            90        88            72
     Biaya umum dan administrasi         37            27        33            32
     Biaya bahan bakar dan utiliti       17            12        11            18
     Jumlah biaya                       532           526       554           574
       Keterangan: biaya dalam jutaan rupiah

       Apabila digambarkan dalam bentuk grafik, perbandingan biaya operasi
tahunan masing-masing lokasi sebagai berikut.




                                                                                    35
      Biaya tenaga kerja                 Biaya umum dan administrasi


      Biaya transportasi                 Biaya bahan bakar dan utiliti


2. Tabel nonbiaya
                                                      Lokasi
            Faktor nonbiaya
                                            I        II       III       IV
     Sikap masyarakat                      BS        BS        B        BS
     Keaktifan serikat buruh               B         B        BS         K
     Fasilitas transportasi                BS        B         B        BS
     Fasilitas perumahan                   BS        B        BS         B
     Fasilitas kesehatan                   B         BS        C        BS
     Fasilitas pendidikan                  BS        BS        B         B
     Fasilitas lingkungan                 KS         BS       BS         C
     Sarana sosial                         C         BS        B        BS
     Praturan daerah                       BS        BS       BS         B
     Sumber air tawar                      K         B        BS        BS
       Keterangan: BS        = baik sekali         K     = kurang
                       B     = baik                KS    = kurang sekali
                       C     = cukup



       Untuk memudahkan analisis, nilai-nilai faktor nonbiaya tersebut
dikonversikan menjadi angka, selain itu juga dapat diberi bobot yang berbeda
untuk setiap faktor seperti halnya dalam metode factor rating. Nilai total faktor
nonbiaya bersama-sama dengan nilai total biaya operasi (dalam rupiah) dipakai
sebagai bahan untuk pengambilan keputusan.




                                                                              36
       Dalam contoh pada Tabel 2.3, dengan menggunakan nilai konversi BS=5,
B=4, C=3, K=2, dan KS=1, dan dengan asumsi bobot untuk setiap faktor
nonbiaya dianggap sama, nilai faktor nonbiaya untuk masing-masing Lokasi I
sampai dengan lokasi IV berturut-turut sebagai berikut : 34, 46, 44, dan 42.
Dengan demikian, pilihan akan jatuh pada Lokasi II karena mempunyai total
biaya operasi terendah (Rp. 526 juta) dan nilai faktor nonbiaya tertinggi (46).

Analisis Volume-Biaya
       Metode analisis volume-biaya (cost-volume analysis) menenkankan pada
faktor biaya dalam memilih suatu lokasi, yaitu dengan membandingkan total biaya
produksi dari berbagai alternatif lokasi. Lokasi dengan total biaya produksi
terendah untuk suatu volume produksi tertentu merupakan lokasi yang dipilih.
Analisis dapat dilakukan secara numerikal ataupun grafik. Biasanya pendekatan
grafik akan memberikan gambaran yang lebih jelas.
       Metode ini menggunakan asumsi sebagai berikut. Biaya tetap dianggap
konstan untuk suatu jarak tingkat volume tertentu, biaya variabel dianggap linier,
tingkat produksi yang dikehendaki diketahui, dan berlaku untuk satu jenis produk.
       Pendekatan dari analisis volume-biaya secara umum sebagai berikut.
       1. Tentukan biaya tetap dan biaya variabel untuk setiap alternatif.
       2. Plot garis biaya untuk setiap alternatif pada grafik yang sama.
       3. Pilih alternatif lokasi yang mempunyai total biaya terendah untuk
          tingkat volume produksi yang dikehendaki.

       Contoh penilaian alternatif lokasi dengan menggunakan metode analisis
volume-biaya diberikan dalam tabel dan gambar berikut ini.
                                       Tabel 2.4
        Contoh Pemilihan Lokasi Berdasarkan Analisis Volume-Biaya
           Lokasi        Biaya tetap        Biaya variabel     Total biaya
              I            320.000            15 (10.000)        470.000
              II           250.000            20 (10.000)        450.000
             III           200.000            30 (10.000)        500.000
       Keterangan:     Biaya dalam ribuan rupiah
                       Tingkat produksi diasumsikan sebesar 10.000 unit




                                                                                  37
     Biaya (juta rupiah)                                      III                   II
         600
                                                                                    I
         500
         400
         300
         200                              Lokasi II                 Lokasi I
                   Lokasi III
         100        unggul                 unggul                   unggul                Produksi
                                                                                         (ribu unit)
                           2   4     6        8     10   12   14      16       18

Gambar 2.2 Contoh Pemilihan Lokasi Berdasarkan Analisis Volume-Biaya

       Dari data pada tabel 2.4 dapat dibuat grafik untuk mengetahui lokasi yang
fisibel, sebagaimana terlihat dalam Gambar 2.2. Dari gambar itu dapat diketahui
bahwa apabila tingkat produksi yang dikehendaki sebesar 10.000 unit maka
Lokasi II yang sebaiknya dipilih, karena memberikan total biaya produksi yang
terendah. Namun, apabila tingkat produksi hanya 4.000 unit maka Lokasi III yang
memberikan total biaya yang terendah.

Pendekatan Pusat Graviti
       Pemilihan lokasi berdasarkan pendekatan pusat graviti (center of gravity
approach) sering kali digunakan untuk memilih sebuah lokasi yang dapat
meminimalkan jarak atau biaya menuju fasilitas-fasilitas yang sudah ada.
Misalnya, digunakan oleh perusahaan yang akan memilih sebuah lokasi untuk
gudang atau pusat distribusi sebagai tempat untuk memasok barang kepada
beberapa agen di suatu area tertentu.
       Pendekatan ini dimulai dengan membuat suatu peta berskala dari tempat-
tempat yang akan dituju dengan memilih suatu titik sembarang sebagai titik pusat
koordinat. Jarak dari satu tempat ke tempat lain diasumsikan berupa garis lurus,
dan biaya distribusi per unit barang per kilometer dianggap sama, sehingga lokasi
yang terbaik dapat diperoleh dengan menggunakan rumus sebagai berikut.
                X i .Vi                      Yi .Vi
           X=                  dan       Y=
                 Vi                           Vi



                                                                                              38
Dimana :
Vi       = volume barang yang didistribusikan ke lokasi i
Xi       = jarak horizontal dari titik pusat ke lokasi i
Yi       = jarak vertikal dari titik pusat menuju lokasi i
X, Y     = koordinat dari lokasi yang terpilih

         Misalnya, permintaan agen A, B, C, dan D berturut-turut sebesar 20, 30,
15, dan 10 unit, dan posisi koordinat dari masing-masing agen seperti terlihat pada
Gambar 2.3.


         Y

    24                                        D
    18                                                 C
    12                                * Lokasi yang dipilih
                         A
    6                             B
                                                                             X
                        10         18    22         30

  Gambar 2.3 Pemilihan Lokasi Berdasarkan Pendekatan Pusat Graviti


         Koordinat dari lokasi gudang atau pusat distribusi yang akan dipilih dapat
dicari sebagai berikut.
              X i .Vi           10 (20 )  18 (30 )  30 (15 )  22 (10
         X=                  =                                            18,8
               Vi                         20  30  15  10

              Yi .Vi            12 (20 )  6 (30 )  18 (15 )  24 (10 )
         Y=                  =                                             12 ,4
               Vi                          20  30  15  10


         Pendekatan seperti ini memberikan pilihan lokasi yang tersentral, terutama
dari segi transportasi. Kelemahan metode ini intinya pada perhitungan jarak yang
dianggap sebagai garis lurus dan keadaan jalan yang dianggap sama kondisinya,
serta lokasi yang dipilih belum tentu secara geologis bisa dipenuhi, misalnya
berada di tengah laut, di daerah militer, atau di suatu lokasi yang tidak fisibel.



                                                                                    39
Meskipun demikian, metode ini memberikan suatu informasi tentang letak yang
dianggap terbaik dari suatu kasus alternatif lokasi. Penyesuaian perlu dilakukan
dengan        mempertimbangkan     faktor-faktor,   seperti   kondisi   jalan,   biaya
pengangkutan, upah minimum regional, potongan kuantitas, dan faktor lain yang
relevan.

Metode Transportasi
         Metode transportasi merupakan salah satu metode dalam riset operasi yang
dapat digunakan dalam memilih suatu lokasi perusahaan. Pada prinsipnya, metode
ini mencari nilai optimal yang dapat diperoleh dengan memperhitungkan
pemenuhan permintaan dan penawaran dengan biaya transportasi yang terendah.
Teori tentang metode transportasi selengkapnya dapat dilihat pada Bahan Ajar
Manajemen Produksi II.


2.3      Perencanaan Tata Letak

         Perencanaan tata letak mencakup desain atau konfigurasi dari bagian-
bagian, pusat kerja, dan peralatan yang membentuk proses perubahan dari bahan
mentah menjadi bahan jadi. Dengan kata lain, merupakan pengaturan tempat
sumber daya fisik yang digunakan untuk membuat produk. Perencanaan tata letak
merupakan salah satu tahap dalam perencanaan fasilitas yang bertujuan untuk
mengembangkan suatu sistem produksi yang efisien dan efektif sehingga dapat
tercapai suatu proses produksi dengan biaya yang paling ekonomis.

2.3.1    Tujuan
         Secara umum, tujuan penyusunan tata letak untuk mencapai suatu sistem
produksi yang efisien dan efektif, melalui :
         1.    pemanfaatan peralatan pabrik yang optimal;
         2.    penggunaan jumlah tenaga kerja yang minimum;
         3.    aliran bahan dan produk jadi yang lancar;
         4.    kebutuhan persediaan yang rendah;
         5.    pemakaian ruang yang efisien;
         6.    ruang gerak yang cukup untuk operasional ataupun pemeliharaan;


                                                                                   40
       7.    biaya produksi dan investasi modal yang rendah;
       8.    fleksibilitas yang cukup untuk menghadapi perubahan;
       9.    keselamatan kerja yang tinggi;
       10.   suasana kerja yang baik.

       Efektivitas dari pengaturan tata letak suatu kegiatan produksi dipengaruhi
oleh enam faktor, berikut ini.
1. Material handling
   Perencanaan tata letak harus memperhatikan gerakan dari material atau
   manusia yang bekerja. Gerakan material akan berdampak pada biaya
   penanganan material (material handling cost), biasanya mempunyai pengaruh
   yang cukup signifikan bagi biaya produksi. Untuk itu, gerakan material harus
   diusahakan seminimal mungkin.
       Sejalan dengan pergerakan material yang minimal, pergerakan kerja
   karyawan/operator juga harus diusahakan seefisien mungkin. Pengurangan
   gerak ini akan berdampak positif terhadap waktu proses dan hemat tenaga.
2. Utilitasi ruang
   Utilitasi ruang dan energi merupakan salah satu faktor yang diperhatikan
   dalam perencanaan tata letak. Perkembangan teknologi memungkinkan
   penataan mesin-mesin tidak dalam arah horizontal dan berada dalam satu
   lantai, melainkan dapat ke arah vertikal. Apalagi dengan semakin mahalnya
   harga tanah maka kecenderungan aliran proses/material secara vertikal
   menjadi pilihan untuk meningkatkan utilitasi ruang, seperti banyak digunakan
   pada pabrik kimia, pabrik kertas, ataupun gudang.
3. Mempermudah pemeliharaan
   Pemeliharaan/perawatan mesin selain berpengaruh terhadap mutu produk,
   juga berpengaruh terhadap usia mesin. Tata letak mesin harus menyediakan
   ruang gerak yang cukup bagi pemeliharaan mesin. Oleh karena itu, perencana
   harus mempertimbangkan karakteristik pekerjaan yang dilakukan oleh mesin
   yang bersangkutan, dan besar/bentuk peralatan yang diperlukan dalam
   perawatan mesin.



                                                                              41
4. Kelonggaran gerak
    Perencanaan tata letak tidak saja untuk memperoleh efisiensi ruang, melainkan
    juga harus memperhatikan kelonggaran gerak bagi operator/karyawan. Selain
    meningkatkan kepuasan karyawan atas kondisi kerja, kelonggaran gerak dapat
    mengurangi kecelakaan kerja.
5. Orientasi produk
    Jenis produk yang dibuat sangat berpengaruh dalam perencanaan tata letak.
    Misalnya, produk dengan ukuran besar dan berat, atau meminta perhatian
    khusus dalam penanganannya, umumnya menghendaki suatu tata letak yang
    tidak membuat produknya berpindah-pindah. Sebaliknya, produk yang
    berukuran kecil dan ringan yang dengan mudah dapat diangkut akan menjadi
    lebih ekonomis apabila diproduksi dengan suatu tata letak yang berdasarkan
    proses.
        Dalam hal tertentu, perlu adanya pemisahan tata letak mesin/peralatan dari
    kegiatan proses produksi yang lain, misalnya bagi pemrosesan produk yang
    penuh resiko atau berbahaya, produk yang perlu dirahasiakan pembuatannya,
    atau produk yang bernilai tinggi/eksklusif.
6. Perubahan produk atau desain produk
    Perencanaan tata letak juga memperhatikan perubahan jenis produk atau
    desain produk. Bagi perusahaan yang jenis produk atau desainnya sering
    berubah, tata letak mesin harus sefleksibel mungkin dalam mengadaptasi
    perubahan itu. Dalam hal ini, tata letak berdasarkan fungsi atau tata letak
    proses lebih efisien, karena arus prosesnya tidak kaku.

2.3.2   Jenis Tata Letak
        Secara umum, tata letak dalam industri manufaktur dikelompokkan dalam
tiga jenis, yaitu :
        1.    tata letak proses;
        2.    tata letak produk;
        3.    tata letak posisi tetap.




                                                                               42
              Untuk mendapatkan hasil yang optimal seringkali dilakukan kombinasi
dari dua jenis tata letak atau lebih, misalnya kombinasi antara tata letak proses dan
tata letak produk.

Tata Letak Proses
              Tata letak proses (process layout) atau tata letak fungsional adalah
penyusunan tata letak dimana alat yang sejenis atau yang mempunyai fungsi sama
ditempatkan dalam bagian yang sama. Misalnya, mesin-mesin bubut dikumpulkan
pada daaerah yang sama, demikian pula mesin-mesin potong diletakkan pada
bagian yang sama (lihat Gambar 2.4). Mesin-mesin itu tidak dikhususkan untuk
produk tertentu melainkan dapat digunakan untuk berbagai jenis produk.



                      Bubut          Bubut            Bor            Las
     GUDANG




                                                                                   GUDANG
                      Bubut          Bubut            Bor            Las


                     Potong          Potong         Grinda           Cat

                     Potong          Potong         Grinda           Cat

                              Gambar 2.4 Tata Letak Proses

              Model ini cocok untuk discrete production dan jika proses produksi tidak
baku, yaitu perusahaan membuat berbagai jenis produk yang berbeda atau suatu
produk dasar yang diproduksi dalam berbagai macam variasi. Jenis tata letak ini
dijumpai pada bengkel, gudang, rumah sakit, universitas, atau perkantoran.
Keuntungan tertentu proses, sebagai berikut :
          1.      memungkinkan utilitasi mesin yang tinggi;
          2.      memungkinkan penggunaan mesin-mesin yang multiguna sehingga
                  dengan cepat mengikuti perubahan jenis produksi;
          3.      memperkecil terhentinya produksi akibat kerusakan mesin;
          4.      sangat fleksibel dalam mengalokasikan personel dan peralatan;
          5.      investasi yang rendah karena dapat mengurangi duplikasi peralatan;


                                                                                       43
           6.   memungkinkan spesialisasi supervisi.

           Kerugian tata letak proses, sebagai berikut :

           1.   meningkatnya kebutuhan material handling karena aliran proses yang
                beragam dan tidak dapat digunakannya ban berjalan;
           2.   pengawasan produksi yang lebih sulit;
           3.   meningkatnya persediaan barang dalam proses;
           4.   total waktu produksi per unit yang lebih lama;
           5.   memerlukan skill yang lebih tinggi;
           6.   pekerjaan routing, penjadwalan dan akunting biaya lebih sulit, karena
                setiap ada order baru dilakukan perencanaan/perhitungan kembali.

Tata Letak Produk
           Tata letak produk (product layout) dipilih apabila proses produksinya telah
distandardisasikan dan berproduksi dalam jumlah yang besar. Setiap produk akan
melalui tahapan operasi yang sama sejak dari awal sampai akhir. Ilustrasi tata
letak produk dapat dilihat pada Gambar 2.5.
           Gambar itu menunjukkan aliran proses produksi dari suatu produk yang
terdiri atas empat komponen. Setiap komponen memiliki lini produksi masing-
masing yang tidak tergantung satu sama lain. Penyusunan mesin diatur
sedemikian rupa sehingga dari lini itu dihasilkan suatu jenis komponen/produk
tertentu. Tata letak produk banyak digunakan dalam industri otomotif,
elektronika, tempat cuci mobil otomatis, dan kafetaria.

                Bubut           Bor            Grinda            Bor
                                                                           Perakitan


                                                                                        GUDANG
  GUDANG




                Press           Las             Bor


                Potong          Las            Grinda

                Bubut         Grinda            Bor


                           Gambar 2.5 Tata Letak Produk


                                                                                       44
       Keuntungan model tata letak produk sebagai berikut:

       1.   aliran material yang simpel dan langsung;
       2.   persediaan barang dalam proses rendah;
       3.   total waktu produksi per unit yang rendah;
       4.   tidak memerlukan skill tenaga kerja yang tinggi;
       5.   kebutuhan material handling yang rendah;
       6.   pengawasan proses produksi yang lebih mudah;
       7.   dapat menggunakan mesin khusus atau otomatis;
       8.   dapat menggunakan ban-berjalan karena aliran material tertentu;
       9.   kebutuhan material dapat diperkirakan dan dijadwalkan lebih mudah.

       Kerugian model tata letak produk, sebagai berikut :

       1.   kerusakan pada sebuah mesin dapat menghentikan produksi;
       2.   perubahan desain produk dapat mengakibatkan tidak efektifnya tata
            letak yang bersangkutan;
       3.   apabila terdapat bottle neck dapat mempengaruhi proses keseluruhan;
       4.   biasanya memerlukan investasi mesin/peralatan yang besar;
       5.   karena sifat pekerjaannya yang monoton dapat mengakibatkan
            kebosanan.


Tata Letak Posisi Tetap

       Tata letak posisi tetap (fixed position layout) dipilih apabila karena ukuran,
bentuk ataupun karakteristik lain menyebabkan produknya tidak mungkin atau
sukar untuk dipindahkan. Dengan demikian, produk tetap di tempat, sedangkan
peralatan dan tenaga kerja yang mendatangi produk (lihat Gambar 2.6). Tata letak
seperti ini terdapat pada pembuatan kapal laut, pesawat terbang, lokomotif, atau
proyek-proyek konstruksi.
       Meskipun tata letak model ini sering diasosiasikan dengan pembuatan
produk-produk yang besar atau bulky, tetapi juga dapat berlaku untuk pembuatan
produk-produk yang relatif kecil, misalya dalam industri perakitan komputer atau



                                                                                  45
arloji, dimana pekerjaan perakitan dan pengujiannya dilakukan di tempat yang
sama. Untuk jenis produk yang disebutkan terakhir, tata letak ini dipilih untuk
menghindari adanya gerakan yang dapat menurunkan mutu produk yang
diakibatkan oleh pemindahan barang yang sedang diproses.



                         Bubut               Press          Grinda
       GUDANG




                                                                             GUDANG
                                             Produk



                          Las                 Cat             Bor


                          Gambar 2.6 Tata Letak Posisi Tetap


  Keuntungan tata letak posisi tetap, sebagai berikut :
  1.        berkurangnya gerakan material;
  2.        adanya kesempatan untuk melakukan pengayaan tugas;
  3.        sangat fleksibel, dapat mengakomodasi perubahan dalam desain produk,
            bauran produk ataupun volume produksi.
  4.        memberikan kebanggaan pada pekerja karena dapat menyelesaikan seluruh
            pekerjaan.

  Kerugian tata letak posisi tetap, sebagai berikut :
  1.        gerakan personel dan peralatan yang tinggi;
  2.        dapat terjadi duplikasi mesin dan peralatan;
  3.        memerlukan tenaga kerja yang berketerampilan tinggi;
  4.        memerlukan ruang yang besar danapersediaan barang dalam proses yang
            tinggi;
  5.        memerlukan koordinasi dalam penjadwalan produksi.




                                                                                46
2.3.3   Perangkat Lunak untuk Penyusunan Tata Letak

        Beberapa perangkat lunak komputer yang secara komersial tersedia untuk
membantu dalam mengembangkan berbagai desain tata letak, antara lain :
        1.    CRAFT (computerized relative allocation of facilities technique);
        2.    COFAD (computerized facilities design);
        3.    PLANET (Plant layout analysis and evaluation technique);
        4.    CORELAP (computerized relationship layout planning);
        5.    ALDEP (automated layout design program).

        Pada dasarnya, konsep perangkat lunak itu menyusun suatu desain tata
letak yang meminimalkan biaya transportasi (material handling cost). Dengan
memberikan masukan berupa jumlah departemen atau bagian, jumlah operasi atau
proses, jumlah produk dan volume, urutan proses untuk masing-masing produk,
dan pola aliran yang dikehendaki, maka perangkat lunak itu akan membuat suatu
desain dan secara bertahap memperbaikinya sampai diperoleh desain tata letak
yang terbaik. Diantara perangkat lunak itu, CRAFT dikenal sebagai perangkat
lunak komputer pertama untuk perencanaan tata letak.


2.4     Perencanaan Sistem Kerja

        Pada bab sebelumnya telah dibahas tentang Perencanaan Fasilitas, yang
merupakan tahap awal sebelum kegiatan suatu perusahaan dimulai. Seperti halnya
perencanaan fasilitas, perancangan sistem kerja juga dibuat sebelum perusahaan
beroperasi, yang selanjutnya ditinjau ulang pada saat terdapat perubahan dalam
metode atau peralatan yang digunakan dalam operasi. Perancangan sistem kerja
bertujuan untuk mencapai keefektifan yang maksimun dari sistem kerja
perusahaan.
        Perancangan sistem kerja merupakan faktor penting dalam manajemen
operasi karena selain berkaitan dengan produktivitas juga menyangkut tenaga
kerja yang melaksanakan kegiatan operasi perusahaan. Oleh karena itu,
perusahaan perlu memiliki suatu sistem kerja yang dapat menunjang tercapainya
tujuan perusahaan secara efisien dan efektif, merangsang karyawan untuk bekerja


                                                                                  47
secara produktif, mengurangi timbulnya rasa kebosanan, dan dapat meningkatkan
kepuasan kerja.


2.4.1   Rancangan Tugas

        Rancangan tugas (job design) adalah rincian isi dan cara pelaksanaan tugas
atau kegiatan, yang mencakup siapa yang mengerjakan tugas, bagaimana tugas itu
dilaksanakan, dimana tugas itu dikerjakan, dan hasil apa yang diharapkan. Tujuan
rancangan tugas untuk menciptakakan suatu sitem kerja yang produktif dan
efisien. Dengan adanya rancangan tugas, karyawan dapat mengetahui dan
menjalankan tugasnya dengan baik, rendahnya keluar masuknya karyawan serta
diperolehnya kondisi dan lingkungan kerja yang baik. Rancangan tugas harus
dalam bentuk tertulis, sehingga ada dokumen yang dapat menjadi rujukan, serta
dimengerti dan disepakati baik oleh pihak manajemen maupun pekerja.
Kesepakatan ini diperlukan agar terjadi keseimbangan, yaitu dapat dilakukan
secara wajar oleh karyawan, tetapi tetap merangsang produktivitas pekerja yang
tinggi seperti yang dikehendaki oleh manajemen perusahaan.


2.4.1.1 Pendekatan dalam Rancangan Tugas
        Ada tigas jenis pendekatan dalam kegiatan rancangan tugas, yaitu
manajemen ilmiah, pendekatan perilaku, dan sosioteknis.


Manajemen Ilmiah
        Pendekatan manajemen ilmiah dalam rancangan tugas dikembangkan oleh
Frederick Taylor (1947) dalam bukunya Scientific Management. Pendekatan ini –
yang juga dikenal sebagai aliran efisiensi – menggunakan konsep labor
specialization dari Adam Smith yang menekankan pada pendekatan yang
sistematis dan logis terhadap perancangan tugas, standar kinerja, dan teknik dalam
pengukuran kerja perorangan atau kelompok. Meskipun merupakan metode
perancangan tugas yang tertua, pendekatan ini masih banyak diterapkan sampai
sekarang.




                                                                               48
       Pendekatan manajemen ilmiah mendasarkan pada konsep bahwa dalam
mencapai efisiensi yang tinggi seorang pekerja dituntut untuk dapat menguasai
pekerjaannya. Hal itu dapat diperoleh apabila pekerja yang bersangkutan hanya
menangani suatu jenis pekerjaan tertentu dan tidak berganti-ganti pekerjaan.
Dengan kata lain, dilakukan spesialisasi tenaga kerja untuk setiap jenis pekerjaan.
Spesialisasi merupakan istilah yang dipakai untuk menjelaskan suatu pekerjaan
yang ruang lingkupnya sangat terbatas. Misalnya, operator yang tugasnya hanya
melakukan pengelasan, peneliti yang hanya mendalami satu disiplin ilmu,
karyawan yang tugasnya hanya melakukan pembukuan keuangan, dan sebagainya.
Dengan spesialisasi, pekerja dapat mengenal benar tugasnya sehingga
menghasilkan output yang lebih besar dan tingkat kesalahan yang kecil.
       Secara umum, keuntungan penerapan spesialisasi dalam pekerjaan, sebagai
berikut.
1. Memungkinkan diperolehnya produktivitas yang tinggi karena setiap pekerja
   hanya menangani suatu tugas yang spesifik sehingga penguasaan terhadap
   tugasnya menjadi lebih baik.
2. Biaya produksi per unit menjadi lebih rendah karena meningkatnya
   produktivitas.
3. Berkurangnya waktu yang terbuang karena pekerja tidak perlu berganti tugas
   ataupun peralatan yang dipakai.
4. Rendahnya investasi karena setiap jenis pekerja hanya menggunakan alat
   secukupnya sesuai dengan yang diperlukan untuk tugasnya saja.
5. Sistem pelatihan yang sederhana karena terbatasnya jenis tugas.
       Namun, spesialisasi juga memiliki kekurangan, yaitu mengakibatkan
kebosanan bagi para pekerja karena pengulangan jenis tugas yang sama terus-
menerus sehingga mendorong meningkatnya ketidakhadiran ataupun perputaran
(turn over) pekerja.
       Ditinjau dari sisi karyawan, spesialisasi memberi keuntungan berupa
rendahnya tanggung jawab karena hanya bertanggung jawab akan tugas tertentu,
dan tuntutan persyaratan pendidikan serta keterampilan yang relatif rendah.




                                                                                49
Kerugiannya, pengembangan karier yang terbatas dan ketidakpuasan dalam kerja
karena tugas yang monoton dan dapat mengakibatkan kebosanan.


Pendekatan Perilaku
       Pendekatan perilaku (behavioral) mulai berkembang pada akhir 1950-an,
dipelopori oleh Frederick Herzberg, dan semakin lama semakin banyak digunakan
dalam perancangan tugas. Pendekatan perilaku menekankan pada pengertian
bahwa manusia merupakan makhluk hidup yang kompleks sehingga perlu
pendekatan tertentu dalam penanganannya, yaitu dengan memperhatikan faktor-
faktor perilaku dan pemenuhan kepuasan terhadap kemauan atau keinginan
manusia.
       Dalam perancangan tugas, terdapat dua hal yang sering menjadi bahan
pertimbangan, yaitu banyak pekerja yang merasa tugasnya tidak menarik dan
pekerja yang menghendaki tanggung jawab lebih besar atau tugasnya. Kedua hal
itu berkaitan dengan masalah kepuasan pekerja dalam menjalankan tugasnya,
yang dapat mempengaruhi produktivitas pekerja, mutu keluaran ataupun suasana
kerja. Sehubungan dengan itu, untuk membuat pekerjaan lebih menarik dan
berarti, para penyusun rancangan tugas sering mempertimbangkan faktor-faktor
perluasan tugas, pengayaan tugas, dan perputaran tugas.
       Perluasan tugas (job enlargement) meliputi pemberian porsi tugas yang
lebih besar secara horizontal, dimana pekerjaan tambahan itu berada pada tingkat
kecakapan dan tanggung jawab yang setara dengan pekerjaan semula. Misalnya,
seorang operator mesin di pabrik yang semula hanya menangani satu proses
mendapat tugas tambahan menangani mesin untuk kegiatan proses berikutnya.
       Pengayaan tugas (job enrichment) mencakup penambahan tugas dengan
tanggung jawab yang lebih tinggi, seperti perencanaan dan pengendalian. Di sini
diperlukan adanya keterampilan/pengetahuan tambahan untuk melaksanakan
tugas baru. Misalnya, seorang juru catat persediaan di suatu perusahaan diberi
tugas tambahan untuk menangani perencanaan pengadaan barang-barang untuk
persediaan. Dalam hal ini diperlukan keterampilan tambahan yang tidak hanya
sekedar mencatat persediaan yang ada, melainkan juga harus mampu


                                                                             50
memperkirakan kebutuhan persediaan pada periode yang akan datang. Gambar 3.1
menjelaskan perbedaan antara konsep perluasan dan pengayaan tugas.

                                   Perencanaan


          Tugas No. 2              Tugas No. 1         Tugas No. 3


                                   Pengendalian

              Gambar 2.7 Perluasan Tugas dan Pengayaan Tugas


Keterangan:
       perluasan tugas

       pengayaan tugas


       Aspek positif dari perluasan dan pengayaan tugas ini berupa rendahnya
ketidakhadiran dan perputaran pekerja. Namun, perluasan dan pengayaan tugas
juga mempunyai kelemahan, yaitu banyak banyak pekerja yang lebih menyukai
pekerjaan sederhana sehingga tidak semua karyawan menyukai cara ini,
diperlukan adanya penambahan biaya karena peningkatan kemampuan mendorong
pada peningkatan upah, dan terbatasnya jumlah karyawan yang mampu menerima
perluasan atau pengayaan tugas.
       Perputaran tugas (job rotation), yaitu melakukan penukaran tugas
antarpekerja secara periodik untuk menghindari seseorang bekerja secara monoton
mengerjakan tugas yang sama setiap hari. Perputaran tugas ini memberikan
kesempatan     kepada    pekerja    untuk   memperbanyak    pengalaman     dan
memungkinkan seorang pekerja untuk menggantikan pekerja lain yang tidak
masuk kerja. Perputaran tugas ini juga dimaksudkan untuk menghindari dampak
negatif yang timbul apabila seorang karyawan berada pada jabatan/posisinya
cukup lama, sehingga karena penguasaan pada tugasnya maka yang bersangkutan
dapat melakukan kecurangan - misalnya dalam proses produksi atau melakukan
kolusi - yang dapat merugikan perusahaan.


                                                                            51
       Selain   ketiga   faktor   itu,   pendekatan    perilaku   juga   sering
mempertimbangkan faktor otomatisasi dalam perancangan tugas. Otomatisasi
adalah penggunaan peralatan mekanik dan atau elektronik yang menggantikan
peranan manusia. Otomatisasi berguna antara lain untuk tugas yang monoton,
berulang atau berbahaya. Dengan otomatisasi, mutu keluaran dapat lebih
terkendali dan jumlah keluaran lebih banyak. Namun otomatisasi dapat
mengakibatkan tergesernya para pekerja yang digantikan peranannya oleh mesin.
Oleh karena itu, dalam banyak negara berkembang, yang kebutuhan lapangan
kerja bagi penduduknya masih tinggi, penggunaan otomatisasi dalam perusahaan
industri masih diatur oleh pemerintah. Otomatisasi juga mahal karena
mengakibatkan perlunya tambahan investasi. Selain itu, tidak fleksibel karena
mesin tidak dapat mengerjakan berbagai jenis tugas yang tidak diperuntukkannya,
tidak sebagaimana manusia yang secara cepat dapat melakukan adaptasi, misalnya
menggantikan tugas karyawan lain yang tidak hadir kerja.

Pendekatan Sosioteknis

       Pendekatan sosioteknis dalam rancangan tugas diperkenalkan oleh Eric
Trist dan kawan-kawan pada tahun 1963. Pendekatan ini mengarah pada
pengembangan tugas yang tidak semata-mata mencerminkan teknologi yang
paling ekonomis, tetapi juga memperhatikan faktor sosial tempat karyawan
bekerja.
       Setiap sistem produksi merupakan suatu sistem teknologi sekaligus sistem
sosial. Sistem produksi harus memiliki teknologi untuk dapat mengubah masukan
menjadi keluaran, tetapi sistem produksi juga merupakan kumpulan manusia yang
berinteraksi untuk melaksanakan fungsinya. Oleh karena itu, dalam rancangan
tugas perlu memperhatikan kedua aspek itu, yaitu aspek teknologi (agar
menghasilkan produk sesuai dengan yang diinginkan) dan aspek sosial (agar
karyawan dapat bekerja dalam suasana yang baik).
       Pendekatan sosioteknik sangat umum dan tidak melakukan perubahan
khusus dalam organisasi. Pendekatan ini mencakup pembentukan kelompok-
kelompok kerja yang masing-masing bertanggung jawab untuk suatu kegiatan



                                                                            52
kerja. Anggota kelompok secara bersama-sama bertanggung jawab atas rencana
yang telah dilaksanakan oleh kelompok kerjanya.

2.4.1.2 Analisis Metode

       Rancangan tugas biasanya dimulai dengan analisis metode untuk
keseluruhan operasi, dilanjutkan dengan pengaturan tempat kerja dan penggerakan
pekerja. Analisis metode dapat dilakukan pada tugas-tugas yang belum ada atau
dalam perencanaan, biasanya diperlukan jika terjadi perubahan yang cukup
mendasar dan berdampak waktu yang cukup lama atas suatu kegiatan operasi.
       Selain karena adanya perubahan-perubahan, analisis metode juga dapat
dilakukan dalam usaha peningkatan efisiensi kerja atau pengurangan biaya
operasi. Tugas yang dapat dipilih untuk dianalisis mencakup tugas-tugas padat
karya, sering dilakukan, menimbulkan masalah (mutu atau kemacetan), tidak
aman, membosankan, tidak menyenangkan atau ribut.
       Analisis metode dapat dilakukan melalui prosedur, sebagai berikut :
1. Identifikasi operasi yang akan dipelajari, dan kumpulkan data yang relevan.
2. Diskusikan dengan operator dan supervisor untuk memperoleh masukan.
3. Pelajari dan dokumentasikan metode yang berlaku dengan menggunakan
   bagan proses.
4. Lakukan analisis terhadap metode yang berlaku.
5. Usulkan metode baru apabila metode lama kurang sesuai.
6. Terapkan metode baru.
7. Pelihara dan lakukan penyesuaian jika perlu.

Alat Bantu dalam Analisis Metode

       Untuk mempermudah melakukan analisis metode biasanya digunakan alat
bantu. Alat bantu yang umum dipakai dalam analisis metode, antara lain bagan
proses aliran, bagan pekerja-mesin, dan bagan proses-kelompok.
Bagan Proses Aliran (Flow Process Chart)

       Bagan ini menggambarkan urutan operasi, baik gerakan pekerja maupun
aliran material. Bagan ini bermanfaat dalam memperlihatkan bagian proses yang


                                                                                 53
tidak produktif, seperti delay, penyimpanan sementara, dan untuk mengetahui
panjang pendeknya jarak yang ditempuh. Contoh bagan proses aliran dapat dilihat
pada Gambar 2.8, sedangkan simbol yang dipakai dijelaskan lebih lanjut pada
Gambar 2.9.



                               Bagan Proses Aliran
 Tugas:                           Analis:        Hal:




                                                                                                          Penyimpanan
                                                                     pemindahan



                                                                                             Penundaan
  Permintaan kas kecil                 D. Kolb       1/2




                                                                                  Inspeksi
                                                           operasi
                    Perincian metode
 Surat permintaan dibuat oleh kepala bagian
 Dimasukkan ke dalam kantong
 Dibawa ke bagian keuangan
 Jumlah dan tanda tangan dicek
 Permintaan disetujui oleh bendahara
 Uang dihitung oleh kasir
 Jumlah dicatat dalam pembukuan
 Uang dimasukkan ke dalam amplop
 Dibawa ke bagian semula
 Jumlah uang dicek terhadap permintaan
 Tanda terima ditandatangani
 Uang disimpan




                      Gambar 2.8 Bagan Proses Aliran




                                                                                                         54
 Simbol        Arti                            Contoh Aplikasi
          Operasi          Memotong, mengebor, merakit, menulis, mengecat.
          Transportasi,    Menuju suatu tempat, memindahkan barang ke tempat
          pemindahan       lain.
          Inspeksi,        Menghitung     jumlah   produksi,     megnuji    kualitas
          pengujian        produk.
          Penundaan        Material yang menunggu diproses, dokumen yang
                           menunggu diisi.
          Penyimpanan      Menyimpan barang di gudang, menyimpan arsip surat.


               Gambar 2.9 Simbol dalam Bagan Proses Aliran

Bagan Pekerja-Mesin (Worker-machine Chart)

       Bagan ini menggambarkan suatu siklus kerja dimana pekerjaan dan mesin
sibuk atau menganggur (idle). Analis dapat dengan mudah mengetahui kapan
pekerja dan mesin bekerja secara bersamaan atau bekerja secara sendiri-sendiri
(independen). Salah satu kegunaan bagan ini untuk mengetahui berapa
mesin/peralatan yang dapat ditangani oleh seorang pekerja, atau sebaliknya,
berapa orang atau bagian untuk sebuah mesin/peralatan. Bagan ini sering disebut
dengan bagan multiaktivitas. Contoh bagan pekerja-mesin dapat dilihat pada
Gambar 3.4.


Bagan Proses-Kelompok (Gang-process Chart)

       Bagan proses-kelompok merupakan jenis lain dari bagan multiaktivitas
yang menggambarkan kesibukan beberapa pekerja dan mesin yang bekerja
bersama-sama    dalam     suatu    kelompok.   Bagan   ini     bermanfaat    untuk
mengkoordinasikan kegiatan sekelompok pekerja dan untuk mengetahui utilitasi
dari masing-masing pekerja.




                                                                                 55
BAGAN PEKERJA-MESIN                                    Operator:AS
Tugas: fotocopi surat                                  Dianalisis oleh: BS
Tahap Karyawan                         Waktu (detik)          Mesin
  1   Mengambil surat yang akan              1
      difotocopi                             2
                                             3
  2   Membuka tutup mesin fotocopi           4
                                             5
  3   Meletakkan surat pada                  6
      posisinya                              7
                                             8
                                             9
  4   Menutup tutup mesin fotocopi          10
                                            11
                                            12
  5   Mengatur jumlah perbanyakan           13
                                            14
  6   Menakan tombol “start”                15
  7                                         16         Melakukan
                                            17
                                                       perbanyakan sesuai
                                            18
                                            19         dengan jumlah yang
                                            20         diminta (misalnya 1
                                            21
                                            22         kali)
                                            23
                                            24
  8   Membuka tutup mesin fotokopi          25
                                            26
  9   Mengambil surat asli                  27
                                            28
 10   Menutup tutup mesin fotocopi          29
                                            30
 11   Mengambil surat hasil fotocopi        31
                                            32
                                            33


 Rangkuman:             Karyawan                Mesin
               Waktu (detik)     %           Waktu (detik)         %
Bekerja             25           71               10               29
Menganggur          10           29               25               71

                 Gambar 2.10 Bagan Pekerja Mesin


                                                                        56
2.4.2   Studi Gerakan

        Dalam penyusunan rancangan tugas seringkali diperlukan adanya studi
gerakan (motion study), yaitu mempelajari gerakan manusia dalam melaksanakan
suatu pekerjaan dengan tujuan menghilangkan gerakan yang tidak perlu dan
mengidentifikasi urutan terbaik dari gerakan yang diperlukan. Studi ini dipelopori
oleh pasangan suami istri Frank dan Lilian Gilbreth.
        Empat teknik umum digunakan dalam studi gerakan, sebagai berikut :
1. Prinsip studi gerakan;
2. analisis therblig;
3. studi gerakan mikro;
4. bagan.


2.4.2.1 Prinsip Studi Gerakan

        Prinsip-prinsip studi gerakan (motion study principles) berisikan petunjuk
dalam merancang prosedur kerja dengan gerakan yang efisien, berdasarkan tiga
kategori: prinsip penggunaan tubuh manusia, prinsip pengaturan tempat kerja, dan
prinsip desain mesin dan peralatan. Prinsip-prinsip gerakan itu menurut Barnes
(1968) seperti dalam Tabel 3.1.
                                    Tabel 2.5
                          Prinsip-Prinsip Studi Gerakan
 Penggunaan Tubuh Manusia
 1. Kedua tangan sebaiknya memulai dan menyelesaikan gerakan pada waktu yang
    sama.
 2. Kedua tangan sebaiknya tidak menganggur pada waktu yang sama, kecuali
    selama periode istirahat.
 3. Gerakan tangan sebaiknya dibuat dalam arah berlawanan dan simetris, dan
    secara simultan.
 4. Gerakan tangan dan tubuh sebaiknya sesederhana mungkin, tetapi dapat
    melakukan pekerjaan dengan memuaskan.
 5. Daya momen sebaiknya digunakan apabila mungkin, dan kurangi daya momen
    ini sampai minimal jika harus diatasi dengan usaha otot.
 6. Gerakan-gerakan tangan yang lancar, terus-menerus, dan melengkung lebih
    baik daripada gerakan-gerakan garis lurus, termasuk perubahan arah yang
    tajam dan tiba-tiba.
 7. Pergerakan balistik lebih cepat, lebih mudah dan lebih akurat daripada


                                                                               57
    pergerakan yang terbatas atau terkendali.
 8. Pekerjaan sebaiknya disusun mengikuti ritme alami jika mungkin.
 9. fiksasi mata sebaiknya sesedikit mungkin dan sedekat mungkin.

 Pengaturan Tempat Kerja
 10. Sebaiknya terdapat tempat yang tertentu dan tetap untuk semua peralatan dan
     bahan-bahan.
 11. Peralatan, bahan-bahanm dan alat-alat kontrol sebaiknya ditempatkan dekat
     dengan titik penggunaan.
 12. Gravity-feed bin dan kontainer sebaiknya digunakan untuk mengantarkan
     baha-bahan ke dekat titik penggunaan.
 13. Penyerahan dengan sistem drop sebaiknya digunakan jika mungkin.
 14. Bahan-bahan dan peralatan sebaiknya ditempatkan pada tempat yang
     memungkinkan urutan gerakan terbaik.
 15. Kondisi yang memadai bagi penglihatan, temperatur dan ventilasi sebaiknya
     disediakan.
 16. Ketinggian tempat kerja dan kursi sebaiknya ditata, sehingga antara duduk dan
     berdiri dapat dilakukan dengan mudah.
 17. Kursi yang memberikan postur yang baik sebaiknya disediakan untuk setiap
     pekerja.

 Desain Mesin dan Peralatan
 18. Tangan sebaiknya dibebaskan dari semua pekerjaan yang bisa dilakukan
     dengan peralatan jig, fixture, atau yang dioperasikan dengan kaki.
 19. Dua atau lebih peralatan sebaiknya dikombinasikan jika mungkin.
 20. Peralatan dan bahan-bahan harus ditempatkan terlebih dahulu jika mungkin,
     untuk mengurangi gerakan dalam mencari dan memilih.
 21. Beban setiap jari sebaiknya didistribusikan sesuai dengan kapasitas jari-jari
     tersebut.
 22. Tuas, palang dan kemudi sebaiknya ditempatkan pada posisi sedemikian rupa
     sehingga operator bisa menggerakkannya dengan perubahan posisi tubuh
     sesedikit mungkin dan dengan keuntungan mekanis paling besar.

Pada intinya, dalam mengembangkan metode kerja dengan gerakan yang efisien,
hal-hal yang perlu dilakukan, sebagai berikut :
1. hilangkan gerakan yang tidak perlu;
2. gabungan gerakan;
3. kurangi kelelahan;
4. tingkatkan pengaturan tempat kerja;
5. tingkatkan desain mesin dan peralatan.




                                                                             58
Analisis Therblig

       Therblig adalah elemen-elemen dasar dari gerakan yang dapat diurutkan
untuk membentuk suatu tugas. Therblig diibaratkan sebagai huruf-huruf alfabet
yang jika disusun secara tertentu membentuk kata-kata. Ide dasar analisis Therblig
untuk memecah gerakan dalam elemen-elemen, kemudian memperbaiki gerakan
melalui penghapusan, penggabungan, atau pengurutan ulang elemen-elemen.
Therblig terdiri dari 17 elemen, sebagai berikut (lihat Tabel 3.2).

                                     Tabel 2.6
                                 Elemen Therblig
 Elemen Therblig                                     Arti
 Search                 Mencari objek dengan tangan/mata
 Select                 Memilih satu dari sekelompok objek
 Grasp                  Menggenggam objek
 Hold                   Memegang/mengangkat objek
 Transport loaded       Memindahkan objek
 Transport empty        Gerakan dari tangan kosong
 Release                Meletakkan/melepaskan objek dari kendali
 Position               Menempatkan objek pada posisi tertentu
 Preposition            Orientasi objek agar tepat
 Inspect                Membandingkan objek dengan standar
 Assemble               Menggabungkan/merakit beberapa komponen
 Disassemble            Melepaskan komponen dari rakitannya
 Use                    Secara manual menerapkan prosedur produksi
 Unavoidable delay      Penundaan yang tidak bisa dihindari
 Avoidable delay        Penundaan yang menjadi tanggung jawab operator
 Plan                   Merencanakan kegiatan berikutnya
 Rest                   Penundaan periodik disebabkan oleh kelelahan operator

Studi Gerakan Mikro

       Studi gerakan mikro (micromotion study) merupakan studi yang
mempelajari gerakan melalui gambar/film. Dengan menggunakan bantuan video
kamera yang diputar dengan gerakan lambat, analis dapat mengamati lebih
saksama tentang gerakan dari suatu tugas/kegiatan yang bila tidak akan terlalu
cepat jika diamati langsung. Studi ini tidak saja berguna bagi industri, tetapi juga
dalam bidang lain, seperti olahraga dan pemeliharaan kesehatan.



                                                                                 59
Bagan

        Bagan gerakan simultan [simultaneous motion (simo) chart] merupakan
jenis bagan yang sering digunakan dalam studi gerakan sebagai alat untuk
mencatat dan menganalisis suatu kegiatan. Bagan ini dipakai untuk menganalisis
pekerjaan yang menggambarkan gerakan simultan dari kedua tangan, seperti
terlihat pada Gambar 3.5. Dari bagan ini dapat diketahui aktivitas dari masing-
masing tangan, dan dapat dianalisis apakah efektivitas gerakan dapat ditingkatkan
dengan menghilangkan, mengganti, atau menggabungkan gerakan.

                                   SIMO CHART
 Operator                      : Wiro
 Tanggal                       : 6 Februari 1996
 Kegiatan                      : Menempelkan label pada botol
 Uraian:                Simbol            Waktu         Simbol
   Tangan Kiri          Therblig         (1/2000        Therblig
                                          menit)

 Meraih botol             TE         5             6      TE       Meraih label
 Menggenggam botol         G         5
                                                   6       G       Memegang label



  Mendekatkan botol        M        10
                                                   8      TL       Membawa label ke
                                                                   botol

                                                                   Menempatkan      label
                                                                   pada posisi      yang
                                                   19     P        tepat


 Memegang botol            H        32



                                                   13     A        Menempelkan      dan
                                                          RL       melepaskan label

 Membawa botol ke



                                                                                     60
 pinggir                    TL      6

 Meletakkan botol          RL       4


                    Gambar 2.11 Bagan Gerakan Simultan


2.4.2.2 Data Antropometri dan human Factors Engineering

       Dalam setiap pelaksanaan tugas, manusia selalu menggunakan mesin,
peralatan dan berbagai fasilitas lain (seperti meja, kursi, alat tulis, mesin hitung,
topi pengaman, dan kendaraan). Dapat disadari bahwa desain dari benda-benda itu
mempengaruhi baik enak tidaknya manusia bekerja maupun efektivitas dari
pekerjaan sendiri, bahkan dapat mempengaruhi kesehatan dan keamanan dari
pemakainya. Manusia itu berbeda dalam ukuran tubuh, berat, kekuatan,
keterampilan, dan berbagai karakteristik lain sehingga dimensi bagian tubuh
manusia juga sangat berkaitan dengan desain dari benda-benda yang dipakai.
       Ukuran dimensi dan karakteristik fisik lain dari tubuh manusia disebut
sebagai antropometri. Terdapat dua jenis ukuran, yaitu struktural (statis) dan
fungsional (dinamis). Dimensi struktural adalah ukuran dari tubuh manusia yang
diambil dalam posisi yang tetap (statis), sedangkan dimensi fungsional diambil
dalam posisi manusia sedang mengerjakan suatu kegiatan. Kedua jenis data
antropometri itu dipelajari dan dipakai sebagai dasar untuk mendesain peralatan
dan sistem kerja. Tentunya, dalam penggunaan data antropometri untuk
mendesain sesuatu benda atau suatu sistem kerja, data harus mewakili populasi
yang akan menggunakan benda itu.
       Human factors engineering atau ergonomics merupakan ilmu yang
menerapkan informasi yang relevan tentang karakteristik manusia dan perilakunya
terhadap desain dari produk, peralatan, fasilitas, metode, dan lingkungan tempat
manusia bekerja dan menjalani hidup. Human factors engineering mempunyai
dua tujuan. Pertama, meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja dan kegiatan
lain yang dilakukan. Kedua, meningkatkan keselamatan, mengurangi kelelahan
dan stres, meningkatkan keenakan pakai, memperluas kemampuan pakai,


                                                                                  61
meningkatkan kepuasan kerja, dan meningkatkan kualitas hidup manusia. Dengan
human factors engineering, benda-benda didesain sedemikian rupa agar dapat
memenuhi tujuan.
          Para analis telah mempelajari data antropometri dan menyusun tabel untuk
berbagai variabel, misalnya jangkauan, luas gerakan, kecepatan respons, kekuatan
dan berbagai variabel lain, yang selanjutnya dipakai sebagai acuan dalam
perancangan sistem kerja. Sebagai ilustrasi, dalam buku ini ditunjukkan salah satu
penggunaan data antropometri untuk mendesain ruang kerja. Gambar 2.12
merupakan rekomendasi yang diberikan oleh Barnes dan Squires tentang luas
daerah kerja dalam arah horizontal. Peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan
dalam kerja sedapat mungkin diletakkan dalam daerah kerja sehingga pekerja
tidak memerlukan gerakan tambahan, seperti harus berdiri atau berpindah tempat
untuk menjangkau suatu peralatan atau bahan.




                         Gambar 2.12 Dimensi Area Kerja

Dimensi dinyatakan dalam satuan inci (atas) dan sentimeter (bawah). Gambar
menunjukkan area kerja yang normal dan maksimun dalam bidang horizontal
yang disarankan oleh Barnes, dan area kerja normal yang disarankan oleh Squires.
Sumber:          Mark S. Sanders & Ernest J. McCormick. 1987. Human Factors in Engineering
                 and Design. 6th ed. Hlm. 344. McGraw Hill Book Company.




                                                                                       62
2.5    Perencanaan Penanganan Material

       Penanganan material (Material handling) dapat diartikan sebagai
menangani material dengan menggunakan peralatan dan metode yang benar.
Perencanaan material handling merupakan suatu komponen penting dalam
perencanaan fasilitas, terutama yang berkaitan dengan desain tata letak. Oleh
karena itu, perencanaan tata letak dan material handling selalu saling terkait satu
sama lain.
       Dalam material handling, jenis material yang ditangani tidak terbatas pada
bahan baku untuk proses industri saja, melainkan juga dapat berupa tebu yang
diproses dalam suatu pabrik gula, komponen bahan baku yang dirakit dalam suatu
industri perakitan sepeda motor, surat-surat yang dikirim lewat pos, uang dalam
sistem perbankan, atau penumpang dalam kereta api. Meskipun jenis materialnya
berbeda-beda, prinsip penanganannya relatif sama. Masalah material handling
dapat terjadi di segala jenis perusahaan/organisasi dan dapat mempengaruhi total
biaya operasi. Oleh karena itu, pendekatan yang sistematik dalam material
handling perlu dilakukan.
       Dari pengertian itu dapat diketahui bahwa material handling bukan hanya
menangani material, melainkan juga menyangkut berbagai aspek lain, seperti
penanganan, penyimpanan, transportasi, dan pengendalian material. Dengan
demikian, perencanaan material handling harus disusun sedemikian rupa agar
sejalan dengan perencanaan manufaktur, distribusi dan sistem informasi
manajemen.
       Terdapat banyak sekali definisi atau pengertian yang diberikan untuk
material handling. Walaupun demikian secara sederhana dapatlah dikatakan,
bahwa material handling merupakan kegiatan mengangkat, mengangkut dan
meletakkan bahan-bahan/ barang-barang dalam proses di dalam pabrik, kegiatan
mana dimulai dari sejak bahan-bahan masuk atau diterima di pabrik sampai pada
saat barang jadi/produk akan dikeluarkan dari pabrik. Setiap kegiatan-kegiatan
meliputi mengangkat, memindahkan atau mengangkut dan meletakkan serta
meninggikan atau merendahkan bahan-bahan/barang-barang di dalam suatu




                                                                                63
pabrik, dapat merupakan sumber yang memungkinkan adanya perbaikan dalam
material handing.
         Walaupun banyak orang yang mengira bahwa kegiatan material handling
adalah merupakan kegiatan yang kurang penting dalam suatu pabrik, tetapi
kenyataannya tidaklah demikian halnya. Hal ini karena terdapat banyak pekerjaan
yang harus dilakukan untuk pemindahan dan peletakan bahan-bahan dalam
tingkat-tingkat proses produksi yang harus dilalui dalam suatu pabrik. Oleh
karena itu tidaklah mengherankan apabila terdapat perhitungan di dalam suatu
pabrik. Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila perhitungan di dalam suatu
perusahaan yang maju, yang menyatakan bahwa pekerjaan material handling
merupakan sebagian besar dari kegiatan perusahaan pabrik dan memakan biaya
lebih dari lima puluh persen (50%) dari seluruh biaya produksi.

2.5.1 Biaya-biaya Penangan Material

       Seperti telah dikatakan bahwa biaya material handling sangat besar di
dalam suatu perusahaan pabrik, yang melebihi lima puluh persen dari seluruh
biaya produksi. Oleh karena biaya material handling ini sangat sulit dipisahkan
dair unsur-unsur biaya produksi lainnya, maka sangat sukarlah untuk menentukan
besarnya biaya material handling dengan tepat di suatu perusahaan pabrik.
Walaupun terdapat kesulitan dalam menentukan besarnya biaya material handling
dengan tepat, tetapi pendapat mengenai pentingnya material handling dalam suatu
perusahaan pabrik tidak dapat disangkal. Oleh karena itu, dalam hal ini yang perlu
adalah adanya usaha-usaha untuk mencari sumber-sumber kemungkinan
mengadakan perbaikan material handling yang terdapat dalam perusahaan pabrik
tersebut. Untuk itu perlulah kiranya dilihat pekerjaan-pekerjaan/kegiatan-kegiatan
yang dilakukan dalam suatu perusahaan pabrik.
       Sebenarnya pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan dalam suatu
perusahaan pabrik/industri terdiri dari:
   1. menyediakan atau menyempatkan bahan-bahan ditempat kerja yang
       disebut “make ready”.




                                                                               64
   2. melakukan kegiatan-kegiatan yang nyata dalam pengolahan atau
       pembuatan barang-barang disebut “do”.
   3. memindahkan barang-barang dan bahan-bahan dari tempat kerja yang
       disebut “put away”.

       Dari keterangan ini dapatlah kita ketahui bahwa sebagian besar dari
kegiatan produksi adalah merupakan kegiatan material handling yang meliputi
kegiatan mengangkat, mengangkut dan menempatkan bahan-bahan ditempat
pengerjaan (maka ready) dan memindahkan bahan-bahan dan barang-barang yang
telah dikerjakan dari tempat pengerjaan (put away). Sedangkan kegiatan
pengerjaan atau pengolahan yang merupakan kegiatan produksi yang sebenarnya
tidak dapat dilakukan/dikerjakan tanpa adanya kegiatan material handling. Jadi
kegiatan material handling merupakan kegiatan yang sangat penting dalam
kegiatan/proses produksi.
       Dalam kenyataannya, diperkirakan sekitar 60 sampai 80 persen dari waktu
para pekerja dalam kegiatan produksi dihabiskan atau digunakan untuk
memindahkan/menghandle bahan-bahan dan barang-barang. Sedangkan kegiatan
pengolahan atau pengerjaan yang sebenarnya hanya kira-kira 20 sampai 40 persen
dari waktu produksi. Oleh karena itu kegiatan material handling merupakan
kegiatan terpenting dalam suatu perusahaan pabrik atau industri dan
membutuhkan biaya yang besar.
       Apabila   di   dalam   kegiatan   produksi   terdapat   kesalahan   dalam
memindahkan/menghandle bahan-bahan atau barang-barang yang diproses
sehingga menyebabkan biaya material handling menjadi demikian besar dan
waktu pemindahan (handling time) menjadi begitu panjang, maka hal ini akan
mengakibatkan biaya produksi juga akan menjadi lebih besar dan waktu produksi
menjadi lebih panjang. Oleh karena itu perlu adanya usaha-usaha untuk
melaksanakan kegiatan material handling dengan biaya yang rendah atau seefisien
mungkin, dan ini merupakan tugas seorang manager produksi.
       Biaya material handling ini terdiri dari upah untuk orang yang
memindahkan bahan (material handler), biaya investasi dari berbagai alat
pemindahan bahan yang digunakan, dan biaya-biaya yang tidak dapat dipisahkan


                                                                             65
dan termasuk dalam biaya produksi untuk mengerjakan produk. Dari biaya-biaya
material handling ini ada sebagian yang termasuk dalam biaya langsung (direct
cost) dan ada sebagian lagi yang merupakan biaya tidak langsung (indirect cost).

2.5.2   Efisiensi Penanganan Material

        Sebenarnya sebagian dari biaya material handling yang dikeluarkan untuk
upah tenaga kerja dan biaya-biaya lainnya adalah kurang produktif dan tidak
efisien, karena merupakan pemborosan-pemborosan (inefisiensi) dan melakukan
usaha-usaha agar biaya material handling dapat diperkecil.
        Dalam rangka usaha untuk memungkinkan kegiatan material handling
dapat dilaksanakan secara efisien, maka kita perlu memperhatikan sebab-sebab
dari adanya pemborosan dalam biaya matirial handling dan usaha-usaha untuk
mengurangi atau memperkecil       biaya material handling. Adapun sebab-sebab
besarnya pemborosan dalam material handling di dalam suatu perusahaan/pabrik
adalah :
   a. Adanya kelambatan aliran atau jalannya bahan-bahan yang sedang atau
        akan dikerjakan dalam proses produksi. Dengan adanya kelambatan ini,
        maka akan menambah biaya baik karena penambahan dalam waktu
        pengerjaan, maupun karena penambahan dalam jumlah uang yang
        dikeluarkan. Dari keterangan ini dapatlah kita ketahui bahwa apabila
        terdapat kelambatan dalam aliran atau jalannya bahan-bahan, maka hal ini
        dapat menunjukkan bahwa material handlingnya jelek atau tidak efisien.
        Oleh karena itu pimpinan bagian produksi (production manager) haruslah
        memperhatikan adanya bahan-bahan secara kontinue dan menjaga
        tetapnya aliran dari bahan-bahan tersebut. Dalam hal ini pemindahan
        bahan-bahan diantara tingkat-tingkat proses harus jelas dapat diketahui
        dan harus dapat diawasi dengan baik, sehingga dapat dihindari adanya
        pemborosan yang besar dalam waktu dan gerak dari material handling ini
        sering terjadi terutama dalam:
        -      proses pembuatan bahan (loading material)
        -      penggunaan trucks, dan



                                                                               66
       -         penggunaan ban berjalan.
       Adanya inefisiensi dalam kegiatan-kegiatan ini terutama karena:
       i.     tidak diperhatikannya kapasitas yang tersedia dari peralatan handling
              yang digunakan, sehingga sering terjadi penggunaan peralatan di
              bawah kapasitasnya (under capacity). Sedangkan penggunaan
              peralatan yang melebihi kapasitasnya (over capacity) juga tidak baik
              karena dapat mengakibatkan peralatan cepat rusak.
       ii. tidak diperhatikannya peralatan handling yang digunakan, sering pada
              waktu kembalinya adalah kosong.
   b. Sering dihandle-nya hasil-hasil proses tambahan (by product) dan scrap
       secara tidak efisien, sehingga membutuhkan waktu yang banyak dan biaya
       yang besar dalam proses pemindahan/handling tersebut
   c. Sering dibutuhkannya waktu yang lama untuk memindahkan bahan-bahan
       atau     barang-barang    ditempat-tempat   pengiriman,    penerimaan    dan
       pemeriksaan atau pengecekan, yang disebabkan karena tempat-tempat
       tersebut tidak diatur dengan baik. Akibatnya kegiatan material handling
       menjadi tidak efisien karena waktu pemindahan menjadi terlalu lama dan
       biaya yang dikeluarkan juga lebih besar.
   d. Adanya        pemborosan     dalam    menghandle     bahan-bahan      dibagian
       pemeliharaan      (maintenance   department),   yang    disebabkan    karena
       kurangnya pengawasan langsung (direct supervision) dalam menyusun
       barang-barang dan memindahkan bahan-bahan atau barang-barang ini.
       Akibatnya biaya material handling di bagian ini menjadi lebih besar dari
       seharusnya.

       Sebenarnya biaya material handling ini dapat dikurangi atau diperkecil
dengan memperhatikan prinsip-prinsip material handling.

   a. Material handling harus dikurangi atau dihindari apabila mungkin dari
       semua pekerjaan dalam pabrik.




                                                                                 67
   b. Pekerjaan material handling yang tak dapat dihindarkan atau dikurangi
        harus dimekanisasikan, seperti dengan menggunakan ban berjalan
        (conveyor) atau forktruck/forklift.
   c. Alat-alat handling harus dipilih berdasarkan pertimbangan ekonomi atau
        efisiensi dan dapat berguna bagi kepentingan keseluruhan pabrik.
   d. Alat-alat handling yang ada harus digunakan secara lebih efisien dalam
        pabrik.
   e. Dalam mempersiapkan plant lay out atau memperbaiki lay out yang ada,
        semua pekerjaan material handling harus direncanakan dengan baik.
   f. Sebelum memutuskan penggunaan suatu jenis peralatan handling yang
        mekanis, perlu dibuatkan suatu analisis yang lengkap untuk dapat
        ditentukan jenis peralatan apa yang paling sesuai dan paling cocok untuk
        pekerjaan tersebut.


2.5.3   Bagian-bagian Penanganan Material

        Material handling merupakan kegiatan yang menyeluruh yang langsung
mempengaruhi setiap bagian dari pabrik, dan oleh karena itu dibutuhkan adanya
suatu rencana yang hati-hati dan teliti. Perencanaan yang hati-hati dan teliti
dibutuhkan terutama untuk dapat menjamin lancarnya aliran bahan-bahan
sehingga proses produksi dapat berjalan lancar. Oleh karena pentingnya kegiatan
material handling, maka di dalam suatu perusahaan pabrik sering terdapat suatu
bagian khusus yang mengendalikan dan mengawasi pemindahan bahan, yang
disebut bagian material handling. Sudah tentu tidak semua perusahaan pabrik
mempunyai bagian material handling ini. Terdapat atau diperlukannya bagian
material handling ini serta di mana letaknya dalam struktur organisasi dari suatu
perusahaan tergantung pada: macam/jenis industrinya, macam/jenis proses
produksinya, macam/jenis produk yang dihasilkan dan besarnya perusahaan
tersebut. Tekanan pada perusahaan-perusahaan berbeda-beda tergantung pada
jumlah daripada kegiatan material handling yang dibutuhkan dalam proses
produksi pabriknya.




                                                                              68
           Dalam perusahaan kecil, mungkin fungsi material handling ini hanya
merupakan sebagian tugas dari bagian teknik (engineering) atau tugas dari bagian
produksi.     Walaupun bagian material handling tidak terdapat dalam suatu
perusahaan, akan tetapi fungsi material handling ini tetap ada. Dengan bertambah
besarnya     perusahaan,    maka    ada   usaha-usaha   untuk       menjalankan   atau
melaksanakan prinsip-prinsip spesialisasi yang menekankan pentingnya bagian
material handling yang terpisah. Dalam hal ini dibentuklah bagian material
handling yang tersendiri untuk mempelajari atau menyelidiki serta menjalankan
prosedur-prosedur dan teknik-teknik material handling yang lebih efisien.
           Tugas-tugas dari bagian material handling antara lain:
    1.     Mengadakan penyelidikan dan analisis untuk dapat menentukan
           bagaimana kegiatan material handling dilakukan sehingga lebih efisien.
    2.     Merencanakan, mengadakan pengujian/pengetesan dari perkembangan
           alat-alat material handling yang baru.
    3.     Memberikan nasihat-nasihat/rekomendasi mengenai perbaikan-perbaikan
           yang perlu dilakukan dalam cara-cara pemindahan bahan dan
           pemasangan perlengkapan atau peralatan handling yang baru.
    4.     Mengikuti pelaksanaan dan membuat laporan mengenai pemasangan
           perlengkapan atau peralatan handling yang baru tersebut.

         Jika dilihat kedudukan material handling dalam struktur organisasi suatu
perusahaan, maka sesuai dengan fungsinya bagian ini hanya merupakan unsur/unit
“staf” yang memberikan nasihat atau saran-saran untuk membantu pimpinan
operasi. Akan tetapi ada juga perusahaan menempatkan bagian material handling
ini sebagai unsur/unit pelaksanaan atau “line” yang merupakan pelaksanaan dari
tugas-tugas pemindahan bahan yang diberikan direksi, seperti halnya di
perusahaan-perusahaan besar. Hal ini terjadi karena biasanya pada perusahaan
besar, bagian material handling berada di bawah divisi atau bagian lain yang lebih
besar, seperti bagian produksi, dengan tugas turut langsung dalam proses
produksi, terutama untuk pemindahan/handling bahan-bahan atau bahan-bahan
dalam proses, dan bukan hanya sebagai pengawas atau pemberi nasihat. Tanpa



                                                                                   69
melihat pada bagian apa fungsi material handling ini termasuk, maka kegiatan
material handling seharusnya disentralisir di bawah seorang kepala untuk
memungkinkan diadakannya suatu pendekatan guna melakukan pengkoordinasian
dengan baik.
       Seperti telah dikatakan bahwa kegiatan material handling merupakan
kegiatan yang sangat penting dan tidak dapat terpisah dalam kegiatan/proses
produksi. Oleh karena agar supaya kegiatan material handling dapat berjalan
dengan baik dan efektif, maka perlu pelaksanaan daripada material handling
dalam suatu perusahaan dikoordinasikan secara baik. Dalam hal ini semua aspek
dan metode material handling dikoordinir dan diselidiki atau dipelajari mulai
perencanaan produk (product design) sampai pada barang-barang tersebut siap
untuk dikirim ke pasar atau ke konsumen. Banyak perusahaan yang tidak melihat
atau kurang menyadari tentang luas dan besarnya pengaruh daripada material
handling dalam proses produksi. Material handling yang kurang baik dapat
langsung menyebabkan rusaknya bahan-bahan dalam proses, menimbulkan
ketidak puasan daripada konsumen, kemacetan-kemacetan dalam produksi dan
kerugian dalam waktu kerja daripada para pekerja/buruh.
       Pengkoordinasian terutama diperlukan dalam penyelidikan aspek-aspek
produksi yang menyangkut kegiatan material handling meliputi:
    1. Product design, dimana produk yang direncanakan haruslah dibuat
       sedemikian rupa sehingga mudah diangkut atau dipindahkan.
    2. Plant lay out, dimana bagian-bagian dan peralatan haruslah diatur agar
       supaya pemindahan bahan-bahan/barang-barang dalam proses dapat
       berjalan dengan lancar, sehingga dapat mengurangi waktu pengerjaan dan
       waktu material handling. Plant lay out dan material handling seharusnya
       berjalan bersamaan, dimana tentunya suatu lay out yang direncanakan dan
       dibuat dengan baik akan mencegah kemacetan-kemacetan dalam aliran
       atau pergerakan bahan-bahan dalam proses.
    3. Production planning, dimana urut-urutan proses produksi haruslah diatur
       sedemikian rupa sehingga pemindahan bahan-bahan mudah dilaksanakan.




                                                                           70
    4. Packaging, haruslah memperhatikan agar penanganannya mudah, dimana
        bungkusan atau paknya mudah diangkut atau dipindahkan.

2.5.4   Penanganan Material yang Baik dan Efisien

        Suatu sistem dari material handling yang baik dan efisien akan
memberikan keuntungan-keuntungan atau sumbangan kepada pabrik secara
efektif dengan jalan atau cara sebagai berikut:
       Biaya handling menjadi lebih murah atau mudah. Hal ini disebabkan oleh :
           o barang-barang atau bahan-bahan dapat bergerak lebih cepat, dan
           o tenaga kerja yang digunakan lebih hemat atau lebih sedikit.
       Hasil yang dapat ditampung oleh pabrik lebih banyak. Dengan
        menggunakan ruang lebih efektif terutama overhead space seperti
        penggunaan ban berjalan, maka akan lebih banyak barang-barang yang
        dapat diprodusir atau peningkatan daripada kapasitas bangunan.
       Berkurangnya waktu yang tidak produktif.
       Bila barang-barang/bahan-bahan bergerak atau mengalir dengan lancar
        maka waktu menganggurnya mesin-mesin dan tenaga kerja dapat
        dihindarkan atau dikurangi.
       Mempertinggi keselamatan para pekerja, dan mencegah kerusakan
        daripada barang-barang yang dihasilkan.
       Menaikkan semangat kerja para pekerja, karena dapat dikuranginya
        kelelahan para pekerja sebab dipergunakannya alat-alat handling seperti
        ban berjalan atau kereta dorong.
       Memperbaiki     hubungan      kerja   (labor   relation),   karena   dengan
        dipergunakannya mesin-mesin alat-alat handling akan memberikan
        kesenangan kepada para pekerja, dan ini merupakan aspek psikologis.
       Mengurangi biaya per unit produk, yang dapat disebabkan oleh salah satu
        atau kombinasi daripada keenam cara tersebut di atas.

        Seperti telah dikatakan bahwa kita harus melihat kemungkinan-
kemungkinan untuk mengurangi pemborosan dalam biaya material handling. Cara



                                                                                71
mengurangi pemborosan tersebut adalah dengan memperhatikan prinsip-prinsip
efisiensi. Sebagaimana kita ketahui bahwa biaya-biaya yang harus dikeluarkan
bagi pekerja-pekerja yang ahli adalah sangat tinggi/besar. Oleh karena itu maka
tidaklah efektif dan efisien apabila sebagian besar waktu kerja para pekerja yang
ahli tersebut dihabiskan atau dipergunakan untuk melaksanakan kegiatan material
handling. Biaya-biaya ini sebagian besar dapat dikurangi dengan jalan
mempekerjakan tenaga-tenaga kerja yang kurang ahli untuk melaksanakan
kegiatan material handling dan menggunakan peralatan untuk membantu para
pekerja dalam melaksanakan kegiatan material handling tersebut.
       Jadi hal-hal seperti tersebut di atas inilah yang sering menyebabkan
adanya pemborosan dalam material handling pada hampir semua pabrik. Oleh
karena itu prinsip-prinsip efisiensi sangat penting untuk diperhatikan dalam
material handling. Sebagai contoh, apabila bahan-bahan atau barang-barang
hendak dipindahkan maka cara yang terbaik dan lebih efisien adalah jika bahan-
bahan atau barang-barang tersebut tidak dipindahkan dengan tangan tetapi dengan
alat pengangkut. Misalnya dengan menggunakan tenaga angin, ban berjalan dan
tenaga air untuk memindahkan barang-barang atau bahan-bahan dan untuk
membuang sampah secara otomatis ke dalam tempat-tempat sampah. Oleh karena
itu banyak pabrik-pabrik yang membuat mesin pada akhir-akhir ini yang
memasang ban-ban berjalan pada mesin-mesin yang besar yang diproduksinya
untuk mengangkut barang-barang atau bahan-bahan dari suatu bagian mesin ke
bagian lain dari mesin ini.
       Di samping usaha-usaha yang telah disebutkan di atas, maka prinsip
efisiensi yang lain adalah memindahkan bahan-bahan atau barang-barang yang
telah dikelompokkan kedalam satu unit yang besar yang disebut “unit load”
adalah lebih mudah dan lebih murah, terutama apabila digunakan trailer-trailer,
container atau truck-truck mekanis.




                                                                              72
2.5.5   Penanganan Material yang Kurang Baik dan Tidak Efisien

        Tidak ada satu carapun yang dapat digunakan untuk menyatakan bahwa
metode material handling yang sedang dijalankan adalah kurang baik atau jelek,
kecuali bila telah diadakan suatu penilaian ekonomis mengenai perubahan metode
material handling yang diusulkan, yang meliputi kuantitas dan kualitas dari bahan
yang dipindahkan, biaya-biaya tenaga kerja dan kemungkinan-kemungkinan
adanya penghematan. Jadi belum tentu pelaksanaan kegiatan material handling di
suatu perusahaan pabrik kurang baik atau tidak efisien. Oleh karena itu perlu
adanya suatu penyelidikan dan analisis mengenai teknik-teknik yang dipakai
dalam material handling tersebut. Sifat-sifat atau ciri-ciri dari material handling
yang kurang baik atau jelek dan tidak efisien ialah:
       bahan-bahan atau barang-barang dibongkar dipindahkan dengan tangan.
       adanya barang-barang atau bahan-bahan yang diletakkan di halaman atau
        pada tempat penerimaan yang menunggu untuk disalurkan.
       banyak orang berkerumun menunggu untuk melakukan suatu handling
        yang besar.
       lebih banyak barang atau bahan yang dikirim daripada yang diterima.
       pemindahan bahan dilakukan oleh tenaga-tenaga yang ahli tapi peralatan-
        peralatan kurang lengkap.
       adanya barang-barang atau bahan-bahan yang sering rusak pada waktu
        bongkar/muat atau pemindahan.
       adanya kekacauan bagian produksi karena banyaknya barang-barang yang
        tertimbun untuk menunggu diangkut atau dipindahkan.
       adanya kantong-kantong pembungkus dan kotak-kotak barang yang jelek.
       orang-orang yang harus mengerjakan material handling menunggu lift
        untuk mengangkut barang-barang.
       banyaknya tenaga kerja yang dipergunakan untuk memindahkan atau
        mengangkut sampah atau sisa-sisa bahan yang tidak dipakai lagi.
       Bahan/kotak, barang diletakkan bertumpuk di gang-gang tempat jalan.
       tidak ada batas sampai setinggi mana barang-barang boleh ditimbing.



                                                                                73
       gang-gang terlalu sempit untuk pergerakan peralatan handling.
       truk-truk dan peralatan handling yang lain menunggu terlalu lama untuk
        memuat dan membongkar barang-barang yang dipindahkan.

2.5.6   Peralatan Material Handling

        Peralatan material handling yang biasanya dipergunakan dalam suatu
perusahaan pabrik dapat dibedakan atas 2 macam, yaitu:
       Fixed path equipment, yaitu peralatan material handling yang sudah tetap
        (fixed) digunakan suatu proses produksi,dan dapat digunakan untuk
        maksud-maksud lain.
        Sifat-sifat dari fixed path equipment ialah:
        biasanya tergantung atau ditentukan oleh proses produksi.
        sifatnya sudah tetap (fixed) tidak fleksibel, karena hanya digunakan untuk
mengangkut barang-barang atau bahan-bahan secara terus-menerus/kontinu dan
tidak dapat digunakan untuk maksud yang lain. Mesin-mesin atau peralatan ini
biasanya menggunakan kekuatan tenaga listrik.
        Contoh fixed path equipment adalah:
                     ban berjalan (conveyor),
                     derek (cranes)
                     lift (elevator)
                     kereta api.

       Varied Path Equipment, yaitu peralatan material handling yang sifatnya
        fleksibel dapat dipergunakan untuk bermacam-macam tujuan dan tidak
        khusus untuk mengangkut atau memindahkan bahan-bahan/barang-barang
        tertentu.
        Sifat-sifat dari varied ialah:
        o   biasanya tidak tergantung dari proses produksi.
        o   dapat dipergunakan bermacam-macam operasi.
        o   mesin-mesin/peralatan biasanya menggunakan tenaga manusia atau
            motor.



                                                                               74
        Contoh dari varied path equipment adalah:
                 bermacam-macam truk.
                 forktruck atau forklift.,
                 kereta dorong.

2.5.7   Prinsip-Prinsip Dasar

        Tujuh belas prinsip dasar yang perlu mendapat perhatian di dalam
perencanaan material handling, sebagai berikut :

1. Sistem material handling yang disusun harus memenuhi tujuan dan
   persyaratan dasar, serta mempertimbangkan keinginan masa datang.
2. Sistem kegiatan penanganan dan penyimpanan hendaknya merupakan suatu
   sistem operasi yang terintegrasi termasuk dalam penerimaan, inspeksi,
   penyimpanan, produksi, perakitan, pengemasan, pergudangan, pengangkutan,
   dan transportasi.
3. Peralatan material handling dan prosedurnya didesain sedemikian rupa dengan
   mempertimbangkan faktor kemampuan manusia dan keterbatasannya,
   sehingga dapat terjadi interaksi yang efektif dengan manusia yang
   menggunakan sistem.
4. Metode dan peralatan material handling yang dipilih harus memberikan biaya
   per unit angkut yang rendah.
5. Faktor pemakaian energi dari sistem material handling dan prosedurnya harus
   diikutsertakan dalam melakukan justifikasi ekonomi.
6. Penggunaan ruangan harus dimanfaatkan seefektif mungkin.
7. Sedapat mungkin memanfaatkan gaya berat untuk memindahkan material,
   dengan       tetap   memperhatikan     keterbatasan   yang   menyangkut   faktor
   keselamatan tenaga kerja, kerusakan ataupun kehilangan produk.
8. Untuk meningkatkan informasi pengendalian material, gunakan komputerisasi
   dalam sistem material handling dan penyimpanan.
9. Dalam penanganan dan penyimpanan, arus data agar dapat diintegrasikan
   dengan arus fisik material.
10. Urutan operasi dan tata letak peralatan harus efektif dan efisien.


                                                                                75
11. Metode dan peralatan material handling agar distandardisasikan agar terdapat
    kesamaan dalam pelaksanaan dan acuan yang digunakan.
12. Peralatan   material     handling   jika   mungkin   dimekanisasikan   untuk
    meningkatkan efisiensi.
13. Metode dan peralatan material handling yang digunakan harus memiliki
    dampak minimal terhadap lingkungan.
14. Metode penanganan harus sesederhana mungkin, dengan mengeliminasi,
    mengurangi, atau mengkombinasikan gerakan atau peralatan yang tidak perlu.
15. Metode dan peralatan yang dipilih bisa digunakan untuk berbagai tugas dalam
    berbagai kondisi operasi.
16. Metode dan peralatan material handling harus sesuai dengan peraturan
    keselamatan yang berlaku.
17. Sistem material handling harus mencakup rencana pemeliharaan dan jadwal
    perbaikan untuk semua peralatan serta kebijakan jangka panjang untuk
    penggantian peralatan dan metode yang usang.

2.5.8   Faktor-faktor utama dalam Perencanaan Material Handling

        Faktor-faktor dalam perencanaan material handling yang perlu dipertim-
bangkan dalam perencanaan tata letak yang baru adalah disediakannya gang-gang
kecil atau ruang gerak (aisles) yang cukup lebar untuk menempatkan dengan
aman jenis-jenis peralatan mekanis, dan dapat menampung muatan yang besar
yang dihadapkan, serta cukup tempat bergerak orang-orang yang berjalan sejajar.
Faktor-faktor tersebut adalah :

   Menyediakan tempat atau ruangan yang cukup untuk berjalannya pekerjaan,
    sehingga dapat dihindarinya rehandling sebelum pengolahan dilakukan.
   Menyimpan barang agar supaya barang tersebut tetap dalam keadaan yang
    baik untuk dikerjakan.
   Jangan sekali-kali meletakkan bahan-bahan lepas di atas lantai, kecuali bila
    tidak dapat dihindarkan sama sekali, karena hal ini membutuhkan pekerjaan
    dengan tangan untuk mengangkut dan membongkar bahan-bahan tersebut
    setiap kali dipindahkan.


                                                                             76
   Meniadakan kamar-kamar penyimpanan yang terpencil dan dipagari di mana
    mungkin, kecuali kalau:
   bahan-bahan harus disimpan secara teliti sekali.
   bahan-bahan mudah hilang, rusak atau dicuri.
   bahan-bahan tidak segera dapat diperoleh, karena waktu pengiriman bahan-
    bahan tersebut lama.
   Kamar penyimpanan yang dipagari membutuhkan sistem pemindahan yang
    khusus baik untuk penerimaan maupun pengeluaran barang, dan biasanya
    administrasinya khusus pula.
   Mengadakan suatu sistem pemindahan barnag-barang sisa atau scrap dari
    bahan-bahan bekas yang dibuang.
   Merencanakan pos-pos pengawasan sebagai suatu bagian dari arus pekerjaan.
   Menghindarkan semua gerakan yang menyilang (zig-zag yang melalui arus
    yang berlaku umum (general line of flow).
   Merencanakan pekerjaan-pekerjaan pengepakan pada akhir aliran atau arus
    pekerjaan untuk menghindari pekerjaan pengepakan/pengangkutan kembali.
   Dalam merencanakan tempat-tempat penerimaan dan pengiriman barang,
    kekuatan lantai harus dibuat sedemikian rupa, sehingga memudahkan
    masuknya kendaraan pengangkut/pemindah bahan.
   Apabila bahan tidak membutuhkan perlindungan terhadap udara, sebaiknya
    memakai    tempat      penyimpanan   lapangan      untuk   menghemat   tempat
    penyimpanan yang ada di dalam ruangan. Penyimpanan di lapangan harus
    direncanakan sehingga bahan-bahan dapat diangkut dalam unit loads dengan
    truk dan katrol dan dengan tenaga kerja yang seminimum mungkin.




                                                                              77

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:859
posted:7/27/2012
language:Malay
pages:55