BADAI KRISIS EKONOMI Dan by RZgf0cH

VIEWS: 48 PAGES: 28

									                          PROYEKSI EKONOMI INDONESIA 2012:

               BADAI KRISIS EKONOMI
              DAN JEBAKAN LIBERALISASI


                                M. FADHIL HASAN
                                     INDEF

INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
           PEREKONOMIAN INDONESIA 2011
 1. Pertumbuhan Ekonomi
                                                                 Pertumbuhan Ekonomi (yoy)                      Struktur PDB*
             Sisi Jenis Penggunaan                                         Persen                                   Persen
                                                                 Q1     Q2      Q3 Q1-Q3                              Q3
Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga                                4,5    4,6     4,8   4,6                            54,2
Pengeluaran Konsumsi Pemerintah                                  2,8    4,5     2,5   3,3                             9,1
Pembentukan Modal Tetap bruto (PMTB)                             7,3    9,2     7,1   7,9                            31,8
Ekspor Barang dan Jasa                                            12   17,4 18,5     16,2                            26,5
Dikurangi Impor Barang dan Jasa                                   16    16     14,2  14,6                            24,9
                  PDB                                            6,5    6,5     6,5   6,5                            100
 Sumber: Badan Pusat Statistik, 2011
 * Struktur PDB atas dasar harga berlaku, tidak memperhitungkan perubahan inventori dan diskrepansi statistik


 • Sampai dengan triwulan III 2011, penyumbang tersebesar
   pertumbuhan adalah pengeluaran konsumsi, sebesar 63,3%.
                                                                                                                                2

INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
                                                                Pertumbuhan Ekonomi (yoy)
                           Lapangan Usaha                                 Persen
                                                             Q1       Q2 Sem-1 Q3 Q1-Q3
   Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan            3,6     3,9     3,7 2,7      3,4
   Pertambangan dan Penggalian                               4,3     0,8     2,5 0,3      1,7
   Industri pengolahan                                        5      6,1     5,6 6,6      5,9
   Listrik, Gas, dan Air Bersih                              4,3     3,9     4,1 5,2      4,5
   Konstruksi                                                5,3     7,4     6,4 6,4      6,4
   Perdagangan, Hotel, dan Restoran                          7,9     9,6     8,7 10,1     9,3
   Pengangkutan dan Komunikasi                               14      10,7   12,1 9,5    11,2
   Keuangan, Real Estat dan Jasa perusahaan                  7,3     6,9     7,1  7        7
   Jasa-Jasa                                                  7      5,7     6,3 7,8      6,8
                            PDB                              6,5     6,5     6,5 6,5      6,5
       Sumber: Badan Pusat Statistik, 2011

   •     Dari sisi lapangan usaha, sektor non-tradeable mengalami pertumbuhan lebih tinggi
         dibanding sektor tradeable.
   •     Sektor non-tradeable, seperti sektor pengangkutan dan komunikasi selama Q1-Q3
         2011, tumbuh sebesar 11,2% (yoy).
   •     Sektor non tradable relatif padat modal dengan penciptaan nilai tambah dan
         penyerapan tenaga kerja relatif rendah.
                                                                                             3
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
    2. Moneter & Perbankan
    • Tekanan inflasi hingga Q3 2011 baik berasal dari sisi internal maupun sisi
      eksternal masih terjaga pada kisaran sasaran inflasi 5% ± 1%, tepatnya
      4,61 (yoy).
    • BI Rate diturunkan 50 bps ke level 6,0% pada November 2011, didorong
      oleh inflasi yang terkendali serta antisipasi terhadap kontraksi
      perekonomian akibat dampak perlambatan permulihan perekonomian
      global.
    • Suku bunga deposito rata-rata berada pada level 6,8% (Q3 2011),
      sedangkan suku bunga Kredit Modal Kerja (KMK), Kredit Investasi (KI) dan
      Kredit Konsumsi (KK) rata-rata berada pada level 12,5%, 12,1% dan 14,3%
      atau turun sebesar 10 bps, 3 bps dan 7 bps dibandingkan triwulan
      sebelumnya.
    • Nilai tukar rupiah selama Q2-2011, mengalami apresiasi sebesar 3,47
      persen (qtq), sementara di Q3-2011 mengalami depresiasi sebesar 2,42
      persen atau bergeser ke level Rp 8790 per US$. Depresiasi dipicu oleh
      faktor risiko ketidakpastian perekonomian global yang berdampak menjadi
      sentimen negatif terhadap negara-negara emerging market.

                                                                                   4

INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
                 Indikator Kinerja Perbankan Nasional
               Indikator                             Dec-07   Dec-08   Dec-09   Dec-10   Aug-11
 Total Aset (T Rp)                                   1986.5   2310.6   2534.1   3008.9   3252.6
 Simpanan (T Rp)                                     1510.8   1753.3    1973    2338.8   2459.9
 CAR (Capital Adequacy Ratio) (%)                     19.3     16.8     17.4      17      17.3
 Gross Non performing Loans                           4.6      3.8       3.8     2.9      3.1
 Net Non Performing Loans                             1.9      1.5       0.9     0.7       1
 Return on Assets (%)                                 2.8      2.3       2.6     2.7       3
 Net Interest Margin (%)                              5.7      5.7       5.6     5.7      5.9
 Biaya /Pendapatan Operasional (%)                    84.1     88.6     86.6      80      80.8
 Loan to Deposit Ratio (%)                            66.3     74.6     72.9     75.5     82.6
 Jumlah Bank                                          130      124      121      122      120
 Sumber: Departemen Keuangan & Bank Indonesia, Oktober 2011


 • Stabilitas perbankan tetap terjaga, CAR sebesar 17,3%, kredit macet
   di bawah 5% (3,1% pada Agustus 2011), LDR meningkat 82,6%.
 • Struktur dana perbankan dana mahal, di dominasi deposito.
     Selama Sebelum Krisis (1990-1997) rata-rata 53,37%
     Saat krisis (1998-2002) membengkak menjadi 59,02 persen
     Pascakrisis (2003-2010) relatif membaik rata-rata 47,64%.                                   5

INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
    3. Perdagangan
  20                               18.2 18.3             18.8
                                                 17.4            17.8
  18               16.3    16.5                   16.2
  16 14.6 14.4      14.4 14.8 14.8         15.1           15.1 15.1
  14  12.5
             11.7
  12
                                                                         Ekspor (US$ miliar)
  10
                                                                         Impor (US$ miliar)
   8
                                                                         Net Ekspor (US$ miliar)
   6
                                       3.4   3.2             3.7
   4     2.1   2.7                                                   2.7
                       1.9     1.7                   1.2
   2
   0


      Sumber: BPS, 2011

    Seiring dengan penurunan harga komoditi pertanian di pasar global, nilai Ekspor
    Indonesia bulan September turun 4,45 persen, bila penurunan ini berlanjut
    sampai akhir tahun, maka besar kemungkinan akan mengganggu target ekspor
    2011 sebesar US$200 miliar.
                                                                                                   6
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
    4. Pasar Modal




     Sumber: IDX Quarterly Statistics, 3rd Quarter 2011


   • Secara umum IHSG memiliki tren yang meningkat sejak Januari
     2011, walaupun sempat mengalami koreksi akibat berita buruk
     mengenai perlambatan ekonomi dunia pada 22 September 2011.
                                                                   7
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
    5. Harga Minyak Dunia

       140
       120
       100
         80
         60
         40                             Crude oil, avg, spot, $/bbl, current$
         20
          0




         Sumber: Worldbank, 2011



   • Harga minyak di pasar internasional mengalami tren
     menurun jika dibandingkan pada triwulan sebelumnya.
                                                                                8
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
 FAKTOR EKSTERNAL : KRISIS UTANG UE
      Neraca Anggaran Pemerintah dan Rasio Utang di Euro Area (% thdp PDB)
      Negara                    Neraca Anggaran                                        Utang
                     2007      2008     2009 2010        2011       2007     2008      2009        2010         2011
 Belgia               -0.2      -1.2      -5.9    -5.8    -5.8       84.2     89.8      97.2       101.2       104.0
 Jerman                0.2       0.0      -3.4    -5.0    -4.6       65.0     65.9      73.1        76.7        79.7
 Irlandia              0.3      -7.2     -12.5   -14.7   -14.7       25.1     44.1      65.8        82.9        96.2
 Yunani               -3.7      -7.7     -12.7   -12.2   -12.8       95.6     99.2    112.6        124.9       135.4
 Spanyol               1.9      -4.1     -11.2   -10.1       -9.3    36.1     39.7      54.3        66.3        74.0
 Perancis             -2.7      -3.4      -8.3    -8.2       -7.7    63.8    67.4      76.1         82.5        87.6
 Italia               -1.5      -2.7      -5.3    -5.3       -5.1   103.5   105.8     114.6        116.7       117.8
 Cyprus                3.4       0.9      -3.5    -5.7       -5.9    58.3     48.4      53.2        58.6        63.4
 Luxemburg             3.7       2.5      -2.2    -4.2       -4.2     6.6     13.5      15.0        16.4        17.7
 Malta                -2.2      -4.7      -4.5    -4.4       -4.3    62.0     63.8      68.5        70.9        72.5
 Belanda               0.2       0.7      -4.7    -6.1       -5.6    45.5     58.2      59.8        65.6        69.7
 Austria              -0.6      -0.4      -4.3    -5.5       -5.3    59.5     62.6      69.1        73.9        77.0
 Portugal             -2.6      -2.7      -8.0    -8.0       -8.7    63.6     66.3      77.4        84.6        91.1
 Slovenia              0.0      -1.8      -6.3    -7.0       -6.9    23.3     22.5      35.1        42.8        48.2
 Slovakia             -1.9      -2.3      -6.3    -6.0       -5.5    29.3     27.7      34.6        39.2        42.7
 Finlandi              5.2       4.5      -2.8    -4.5       -4.3    35.2     34.1      41.3        47.4        52.7
 Euro Area            -0.6      -2.0      -6.4    -6.9       -6.5    66.0     69.3      78.2        84.0        88.2
                                                                     Sumber: European Central Bank, Ad Van Riet (2010)
  •   Krisis UE menuju ke skala penyebaran yang meluas akibat meningkatnya rasio
      utang terhadap GDP di beberapa negara.
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
     Transmisi & Implikasi Krisis UE

    •   Jalur perdagangan  Krisis dapat menyebabkan penurunan pendapatan dan
        penurunan permintaan impor yang kemudian memengaruhi ekspor, dan neraca
        perdagangan. Krisis di satu negara menyebabkan mata uangnya terdepresiasi yang
        dapat mengurangi daya saing ekspor relatif terhadap negara lain.
    •   Jalur perbankan  Meskipun perbankan di Asia telah mengurangi pinjaman dari
        perbankan dan negara Eropa, namun penularan tetap dapat terjadi melalui bank-
        bank asing, yang menjual asetnya, dan tidak melanjutkan (roll over) pinjaman yang
        jatuh tempo, dan mengurangi kredit di Asia jika mereka mengalami kerugian besar
        di negara sendiri.
    •   Jalur pasar modal  Meskipun memiliki tren yang meningkat sejak Januari 2011,
        namun pasar modal Indonesia sempat mengalami koreksi akibat perlambatan
        ekonomi global. Hal ini memicu sentimen investor, antara lain berupa aktivitas
        deleveraging, yaitu investor (investor asing) mengalami kesulitan likuiditas dan
        menarik dana yang diinvestasikan di Indonesia. Selain itu, faktor adanya flight to
        quality, yaitu penyesuaian portfolio dari aset yang dipandang berisiko ke aset yang
        lebih aman juga menjadi pemicu.


                                                                                          10
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
                   LIBERALISASI PERBANKAN
   Rangkaian Kebijakan Liberalisasi Perbankan Nasional
     Paket 27 Oktober 1988 (Pakto ‘88)  mengijinkan
      pembukaan kantor bank asing di beberapa Ibu Kota
      Provinsi di Indonesia

     UU No.10/1988 (pasal 26)  warga negara asing
      ataupun badan hukum asing dapat membeli saham
      bank umum baik secara langsung dan atau melalui
      bursa efek

     PP No.29/1999 (pasal 3)  jumlah kepemilikan saham
      bank oleh warga negara asing dan atau badan hukum
      asing sebanyak-banyaknya 99 persen

INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)   11
     Batasan Kepemilikan Bank Asing

      Wilayah                                                Batasan
     ASEAN     Rata-rata sampai 33%
     Indonesia Bank Umum 99%
               Bank Komersial 30%
     Malaysia
               Bank Investasi 70%
               Islamic Bank 70%
     Singapura Bank Lokal 40%
     Thailand          Sampai dengan 25% tidak perlu persetujuan bank sentral
                       Sampai dengan 49% harus dengan persetujuan bank sentral
                       Lebih dari 49 % harus dengan persetujuan menteri keuangan
      Sumber: BI dan Wawancara Kompas, 2011




INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
     Pangsa Jumlah Bank Asing


                                                                 BUMN

                                   8% 3%                         Swasta Nasional Devisa
                      12%                                  30%
                                                                 Swasta Nasional Non Devisa
              22%
                                                                 BPD
                                             25%
                                                                 Campuran

                    Sumber: diolah dari BI, Agustus 2011         Asing



        • Jumlah bank asing dan bank campuran telah mencapai 20 persen
          (24 bank) dari keseluruhan jumlah perbankan nasional (120 bank)


INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
     Rata-rata Pertumbuhan Kantor Bank

                                                                            Rata-Rata
              Jumlah
                                  2005         2007          2009   2011* Pertumbuhan
              Kantor
                                                                           2005-2011*
         Bank Lokal                8.100        9.442        12.369 13.947    9,56
         Bank Asing                  136          238           468    447    23,67
         Total                     8.236        9.680        12.837 14.394    9,85
          Sumber: diolah dari Bank Indonesia, 2011. Ket: * per Agustus



       • Pertumbuhan jumlah kantor Bank Asing melesat tinggi yaitu rata-rata
         23,67 % per tahun, sedangkan Bank Lokal hanya 9,56% (2005-2011).
       • Ketiadaan asas resiprokal dalam ekspansi perbankan lintas negara
         harus menjadi perhatian serius pemangku kebijakan.


INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
     Perbandingan Laba Bersih (NIM/Net Interest Margin)


                       NIM (%)                             2010*          2011*          Pertumbuhan
    BUMN                                                           6,26           6,49      3,67
    Swasta Nasional Devisa                                         5,30           5,43      2,45
    Swasta Nasional Non Devisa                                     9,47           5,30      -44,03
    BPD                                                            8,86           8,12      -8,35
    Campuran                                                       3,79           4,03      6,33
    Asing                                                          3,53           3,64      3,12
    Bank Umum                                                      5,75           5,89      2,43
    Sumber: diolah dari Bank Indonesia, 2011. Ket: * per Agustus



   • Salah satu indikator daya saing Bank Asing yaitu Net Interest Margin
     (NIM), sedangkan NIM Bank Lokal masih sangat tinggi.


INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
               LIBERALISASI PERDAGANGAN
     Paradoks utama yang dialami Indonesia dalam soal perdagangan
      lebih disebabkan karena Indonesia membuka diri dengan negara
      lain, namun persaingan di dalam negeri masih tetap tertutup.
     Indonesia “kedodoran” dan tidak mampu bersaing (selama
      semester 1 impor komoditas pertanian mencapai Rp 60 triliun);
     Liberalisasi perdagangan seperti membuka jalur pelaku ekonomi
      asing menggerogoti ekonomi nasional;
     kebijakan ekonomi masih jauh dari semangat untuk memperkuat
      ekonomi domestik;
     Solusi memagari kebebasan lalu lintas ekonomi dan meniupkan ruh
      ekonomi domestik merupakan pilihan yang aman;


INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)         16
      Neraca Perdagangan Indonesia (Juta US$)
                                                                                                 TREND     Jan- Sep   Jan- Sep   PERUB.
 No       URAIAN             2006            2007            2008         2009        2010
                                                                                                  (%)        2010      2011*)      (%)
                                                                                                                      152.501,
      I EKSPOR              100.798,6      114.100,9       137.020,4     116.510,0   157.779,1     9,60 110.916,3            2     37,49
       - MIGAS               21.209,5        22.088,6       29.126,3      19.018,3    28.039,6     4,17    19.122,0   31.647,2     65,50
                                                                                                                      120.854,
       - NON MIGAS           79.589,1        92.012,3      107.894,2      97.491,7   129.739,5    10,91    91.794,3          0     31,66
                                                                                                                      129.966,
   II I M P O R **)          61.065,5        74.473,4      129.197,3      96.829,2   135.663,3    20,43    97.389,0          4     33,45

       - MIGAS               18.962,9        21.932,8       30.552,9      18.980,7    27.412,7     6,10    19.438,4   30.264,2     55,69
       - NON MIGAS           42.102,6        52.540,6       98.644,4      77.848,5   108.250,6    25,63    77.950,6   99.702,2     27,90
                                                                                                                      282.467,
  III TOTAL                 161.864,1      188.574,3       266.217,7     213.339,3   293.442,4    14,03 208.305,3            6     35,60

       - MIGAS               40.172,4        44.021,4       59.679,2      37.999,0    55.452,3     5,10    38.560,3   61.911,4     60,56
                                                                                                                      220.556,
       - NON MIGAS          121.691,7      144.552,9       206.538,6     175.340,2   237.990,1    16,59 169.745,0            3     29,93
  IV NERACA                  39.733,2        39.627,5         7.823,1     19.680,8    22.115,8   -17,07    13.527,3   22.534,9     66,59

       - MIGAS                2.246,6           155,7        -1.426,6         37,6      626,9      0,00      -316,4    1.383,0   -537,15
       - NON MIGAS           37.486,6        39.471,7         9.249,7     19.643,2    21.488,9    -16,56   13.843,7   21.151,8     52,79


         Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Kementerian Perdagangan

                                                                                                                                  17
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
    Indonesia Terlibas ACFTA

  Keuntungan Indonesia lebih sedikit daripada
   keuntungan yang diperoleh oleh negara pesaing.
  Beberapa industri Indonesia mengalami kerugian. Sektor
   industri dinilai mendapat pukulan keras akibat ACFTA.
  ACFTA memberikan keuntungan besar bagi China,
   namun tidak bagi Indonesia.
  China dapat mengambil keuntungan yang lebih besar
   karena memiliki daya saing produk yang lebih tinggi baik
   daya saing kualitas maupun harga.

INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
       Neraca Perdagangan Indonesia dengan China
                       (Juta US)
                                                                                                         Perub
                                                                                Jan-Apr     Jan-Apr
       URAIAN        2006        2007        2008        2009        2010                                 (%).
                                                                                 2010        2011
                                                                                                        ‘10/’11

    Total            14.980,4    18.233,3    26.883.6   25.501.4     36.116.8    10.218.5   13.258.5       29,75

     - Migas          4.011,8     3.612,0     4.148.6    3.090.0      2.347.8       603.1      598.6       -0,75

     - Non migas     10.968,5    14.621,3    22.735.0   22.411.4     33.768.9     9.615.3   12.659.9       31,66

    Ekspor            8.343,5     9.675,5    11.636.5   11.499.3     15.692.6     4.423.3     5.677.1      28,35

     - Migas          2.876,9     3.011,4     3.849.3    2.579.2      1.611.6       405.6      478.8       18,05

     - Non migas      5.466,6     6.664,1     7.787.1    8.920.0     14.080.9     4.017.7     5.198.3      29,38

    Impor             6.636,8     8.557,8    15.247.1   14.002.1     20.424.2     5.795.1     7.581.3      30,82

     - Migas          1.134,9       600,6      299.2         510.8     736.2        197.5      119.7      -39,36

     - Non migas      5.501,9     7.957,2    14.947.9   13.491.3     19.688.0     5.597.6     7.461.5      33,30

    Neraca            1.706,6     1.117,6    -3.610.6    -2.502.8    -4.731.6    -1.371.7    -1.904.1      38,81

     - Migas          1.742,1     2.410,7     3.550.1    2.068.4       875.4        208.1      359.0       72,54

     - Non migas        -35,3    -1.293,1    -7.160.7    -4.571.2    -5.607.0    -1.579.8    -2.263.2      43,25



                                                                                                                  19
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
     Gagal           Memanfaatkan Peluang
    Indonesia gagal dalam memanfaatkan peluang liberalisasi;
    Kontribusi perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia
     masih rendah;
    Penyebab dari kegagalan Indonesia salah satunya adalah faktor daya
     saing bangsa yang masih rendah (Cost of doing bussines tinggi) :
          Daya saing (Global Competitiveness index = 94 dari 140 negara)
          Korupsi (Corruption Perception Index (CPI) 2010: 2,8 atau Ranking 110 dari 178
          Lama Perijinan : Untuk memulai bisnis di Indonesia membutuhkan 60 hari
          Infrastruktur (WEF : rangking 76/75 dari 142 negara)
          Biaya Logistik (LPI = Logistik Performance Index 92 dari 150 negara), biaya
           logistik berkontribusi sekitar 14,08% dari total nilai penjualan, Jepang hanya
           4,88%.
          SDM (HDI atau IPM Indonesia peringkat 124 dari 187)



INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
  Upaya Meningkatkan Realisasi Investasi Tidak Diikuti Dengan
   Perbaikan Iklim Investasi
       Masalah daya saing Indonesia masih berkutat pada masalah mikro seperti
        korupsi dan inefisiensi birokrasi pemerintah.
       Dalam level makro, Indonesia bermasalah dalam penyediaan infrastruktur
        sehingga mendorong terciptanya high cost economy.
                                Masalah Daya Saing di Indonesia 2011-2012




 Sumber: World Economic Forum, 2011

INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
      Proyeksi Ekonomi Indonesia 2012
                       Indikator Ekonomi      Proyeksi 2012
              Pertumbuhan (%)                     6,1 – 6,3%
              Inflasi (%)                           4,5 – 5,5
              Harga Minyak Dunia (USD/Barrel) US$90/barrel
              SPN Tiga Bulan (%)                          6%
              Kemiskinan (%)                          11,7%
              Kurs (Rp/US$)                    8.900 – 9.100
              Pengangguran (%)                          6,3%




INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)      22
                          Inflasi: 4,5% – 5,5%
    • Inflasi lebih didorong sisi cost push inflation (harga
      bahan makanan/volatile food , infrastruktur (distribusi)
      dan ketersediaan energi.

    • Inflasi masih dalam tingkat moderat , karena
      Pemerintah tidak akan berani menaikkan Harga BBM
       ongkos politiknya terlalu mahal & mengorbankan
      defisit anggaran. Padahal pemicu krisis UE adalah
      beban subsidi pemerintah yang terlalu besar.


INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)   23
             Harga Minyak: US$90/barrel
    • Permintaan minyak dunia menurun seiring
      memburuknya krisis UE dan belum pulihnya
      AS
    • Berakhirnya perang di Libya sebagai salah satu
      penghasil minyak dunia




INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)   24
                                SPN 3 bulan: 6%
    • Suku Bunga relatif tetap, karena belum
      mampu mengelola Inflasi (sekitar 5%), dan
      untuk memberikan insentif terhadap capital
      inflow.




INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)   25
       Nilai Tukar Rupiah: 8.900 – 9.100
    • Ekspor tidak akan tumbuh melonjak karena
      tidak dapat memanfaatkan momentum
      liberalisasi secara maksimal
    • Cadangan devisa yang cukup besar
      memungkinkan BI melakukan stabilisasi kurs




INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)   26
                            Pengangguran: 6,3%
                            & Kemiskinan: 11,7%
    • Investasi riil tumbuh lambat, karena walaupun
      Indonesia unggul dalam sumber daya alam,
      ketersediaan tenaga kerja, dan permintaan
      pasar dalam negeri yang cukup besar, tetapi
      daya saing investasi masih rendah (cost doing
      business tinggi).
    • Pertumbuhan yang kurang berkualitas akan
      membuat penurunan tingkat kemiskinan
      berjalan lambat di tahun depan.

INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)   27
      Pertumbuhan Ekonomi: 6,1% – 6,3%

    • Merupakan “representasi kontribusi konsumsi domestik dan
      sektor non-tradeable”
          – Sisi penggunaan  dominasi kontribusi sektor konsumsi
          – Sisi lapangan usaha  dominasi sektor non-tradeable
          – Sisi kewilayahan  Terkonsentrasi Jawa
    • Dengan bertumpunya perekonomian pada sektor konsumsi -
      dan sektor non-tradeable membuat harapan untuk mencapai
      pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas (inklusif) susah
      direalisasikan.




INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)          28

								
To top