BISNIS DALAM SEKTOR JASA by J63o2xk8

VIEWS: 0 PAGES: 12

									                            BISNIS DALAM SEKTOR JASA
                            “ MASIH TERBUKA LEBAR”
                               DRS. MOHAMAD NAJMUDIN, MM


Abstrak
Kebutuhan akan kelengkapan untuk pemenuhan hidup sehari-hari semakin beragam dan
berkembang sangat pesat. Hampir segala aspek, dimulai dari kebutuhan sarana
komunikasi, pendidikan dan ilmu pengetahuan, politik, dunia kerja dan sarana
perkantoran, rumah tangga, kesehatan, hiburan, pertelevisian, entertaiment hingga
kebutuhan assesoris dan pernik-pernik kehidupan yang lain yang sangat banyak.
Perkembangan yang sangat komplek tersebut mendorong permintaan terhadap jasa
tertentu yang sangat beragam dan menciptakan peluang yang besar dalam bisnis jasa,
sehingga akan menyerap tenaga kerja yang cukup besar, khususnya tenaga kerja yang
memiliki keahlian khusus. Jasa yang sangat bervariasi dan spesifik terus akan dibutuhkan
oleh masyarakat secara luas dan akan terus berkembang sejalan dengan perkembangan
dunia secara global, yang ditandai dengan perkembangan teknologi informasi yang
sangat cepat. Perkembangan yang dinamis tersebut akan menggelitik sebagian
pengusaha, dan    menangkap peluang tersebut dengan cerdas. Maka kesempatan itu
hanya akan datang kepada siapa saja yang melihatnya.




Pendahuluan


Dalam bahasa “Pemasaran” produk berarti segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada
konsumen, yang didalamnya terdiri barang secara fisik, jasa, dan konsep. Jadi dalam
setiap produk terkandung kombinasi dari 3 hal tersebut. Sebuah komputer misalnya,
maka barang secara fisiknya adalah monitor, CPU, keybord. Unsur jasanya adalah jasa
tentang bagaimana cara penggunaan komputer, jasa pelatihan program komputer, dan
jasa perawatan komputer. Sedangkan unsur konsepnya adalah dengan menggunakan
komputer maka dapat membuat program dengan cepat, menghitung dengan cepat,
menulis dengan cepat, dan fasilitas-fasilitas lain yang jauh lebih memudahkan.
Dalam pembagian yang ditinjau dari dapat tidaknya dilihat/diraba atau menurut
wujudnya, produk terbagi menjadi dua yaitu barang dan jasa. Dalam tulisan ini hanya
akan dibahas mengenai jasa, khususnya bagaimana peluang bisnis sektor ini berkembang
di masyarakat.
Menurut Philip Kotler, jasa dapat didefinisikan sebagai “Setiap tindakan atau perbuatan
yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya bersifat
intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak menghasilkan kepemilikian sesuatu”.
Di Indonesia, industri jasa sangat beragam, bila dikaitkan dengan siapa penyelenggara
dari sektor jasa, maka dapat dikelompokkan kedalam empat sektor utama , yaitu :
1. Sektor pemerintah
   Seperti kantor pos, kantor pelayanan pajak, kantor polisi, rumah sakit, sekolah, bank
   pemerintah
2. Sektor nirlaba swasta
   Seperti sekolah, universitas, rumah sakit, yayasan
3. Sektor bisnis
   Seperti, perbankan, hotel, perusahaan asuransi, konsultan, transportasi,
4. Sektor manufaktur
   Seperti akuntan, operator komputer, penasihat hukum, arsitek


Faktor-faktor Yang Mendorong Perkembangan Sektor Jasa


Biasanya setiap perkembangan bisnis jasa tertentu, terdorong oleh perkembangan
faktor-faktor tertentu atau karena perkembangan sektor jasa yang lain. Berikut ini
beberapa faktor yang sering menjadi penentu berkembangnya sektor jasa tertentu.
1. Waktu santai yang semakin banyak, atau waktu liburan sekolah dapat memunculkan
   banyak jenis jasa baru. Misalnya bisnis perjalanan wisata, pusat hiburan dan rekreasi,
   kursus dan pelatihihan singkat, jasa TV      kabel, Rumah produksi Sinetron, tempat
   peristirahatan, karaoke, pertunjukkan musik.
2. Persentase wanita yg memasuki angkatan kerja semakin besar, dapat memunculkan
   jenis jasa baru. Misalnya jasa penitipan anak, baby sitter, binatu, restoran siap
   santap.
3. Tingkat harapan hidup semakin meningkat, dapat memunculkan jenis jasa baru.
   Misalnya jasa perawatan kesehatan dan konsultasi kesehatan.
4. Produk yang dibutuhkan dan dihasilkan semakin komplek, dapat memunculkan jenis
   jasa baru. Misalnya Jasa instalasi, pelatihan, konsultasi, reparasi.
5. Adanya peningkatan kompleksitas kehidupan, dapat memunculkan jenis jasa baru.
   Misalnya jasa pengacara, psikolog, ahli gizi, dokter pribadi, pelatih kebugaran,
   penasihat finansial.


Karakteristik Jasa


Jasa memiliki sejumlah karakteristik yang membedakannya dari barang, dan berdampak
pada cara memasarkannya. Karakteristik tersebut meliputi :
1. Intangibiliity
   Jasa berbeda dengan barang. Bila barang merupakan suatu obyek, alat atau benda
   maka jasa adalah suatu perbuatan, pengalaman, proses, kinerja (performance). Oleh
   karena itu jasa tidak dapat dilihat, dirasa, dicium, didengar, atau diraba sebelum
   dibeli dan dikonsumsi.
   Implikasi bagi konsumen, ketidakpastian dalam pembelian jasa relatif tinggi, dan
   merasakan resiko yang lebih besar dalam keputusan pembeliannya, karena :
   o Terbatasnya search qualities, yakni karakteristik fisik yg bisa dievaluasi sebelum
      pembelian dilakukan. Untnk barang, konsumen dapat menilai bentuknya, warna,
      modelnya sebelum membelinya. Namun utk jasa, kualitas apa dan bagaimana
      yang akan diterima konsumen, umumnya tidak diketahui sebelum jasa tesebut
      dikonsumsi.
   o Jasa biasanya mengandung unsur experience quality, adalah karakteristik yang
      dapat dinilai setelah pembelian, seperti kualitas, efisiensi dan kesopanan.
   o Dan credence quality, adl karakteristik yang sulit dinilai, bahkan             setelah
      pembelian dilakukan. Misal, seseorang sulit menilai peningkatan kemampuan
      bahasa inggrisnya setelah mengikuti kursus pada periode tetentu.
      Intangibiliity /intangibilitas jasa:
   Adanya karakteristik      Intangibiliity /intangibilitas pada jasa ini menyebabkan
   konsumen :


   o Sulit mengevaluasi berbagai alternatif penawaran jasa
   o Mempersepsikan tingkat resiko yang tinggi
   o Menekankan pentingnya sumber informasi informal
   o Menggunakan harga sebagai dasar penilaian kualitas.
   Melihat beberapa kesulitan yang akan dihadapi konsumen tersebut, manajemen
   perlu segera merespon dengan beberapa kebijakan seperti :
   o Mereduksi kompleksitas jasa
      Kesulitan dalam memajang jasa dan mendiverensiasikan jasa inovasi jasa sukar
      dipatenkan
   o Penekanan petunjuk fisik (tangible cues)
      Memfasilitasi rekomendasi dari mulut ke mulut
   o Fokus pada kualitas jasa




                                       Intengibilitas Jasa


                Menyebabkan konsumen :
                1. Sulit mengevaluasi berbagai alternatif penawaran jasa
                2. Mempersepsikan tingkat resiko tinggi
                3. Menekankan pentingnya sumber informasi informal
                4. Menggunakan harga sebagai dasar penilaian kualitas


                      Membutuhkan respon manajemen berupa :
                      1. Reduksi kompleksitas jasa
                      2. Penekenan tangible cues
                      3. Fasilitasi rekomendasi dari mulut ke mulut
                      4. Fokus pada kualitas jasa

                            Gambar : Impslikasi Intengibilitas jasa
2. Inseparability
   Barang biasanya diproduksi, kemudian dijual lalu dikonsumsi. Sedangkan jasa dijual
   lebih dulu, baru kemudian diproduksi dan dikonsumsi pada waktu dan tempat yang
   sama.
   implikasi :
   o interaksi antara produsen dan konsumen merupakan faktor penting yang
      menentukan kepuasan konsumen
   o karena waktu terjadi proses produksi ada konsumen lain yang berada disitu, maka
      perilaku mereka akan mempe-ngaruhi thd jasa yang diberikan.
   o perkembangan atau pertumbuhan jasa sulit diwujudkan
   o Implikasi bagi penyedia jasa :
   o Melatih agar staf dapat berinteraksi secara efektif
   o Mencegah agar konsumen tidak meng-ganggu konsumen lain, missal antara
      perokok dengan yang tidak perokok
   o Pertumbuhan dapat difasilitasi dengan pelatihan, fasilitas yg bisa melayani
      pelanggan yg lebih besar, bekerja lebih cepat




                                      Inseparabilitas Jasa


                 Menyebabkan konsumen :
                 1. Menjadi co- producers jasa
                 2. Seringkali menjadi co-concumers suatu jasa dengan
                    konsumen lainnya
                 3. Sering harus melakukan perjalanan untuk mencapai
                    lokasi produksi jasa

                       Membutuhkan respon manajemen berupa :
                       1. Upaya memisahkan produksi dan konsumsi
                       2. Manajemen interaksi konsumen dan
                          produsen
                       3. Menyempurnakan sistem penyampaian jasa

                           Gambar : Impslikasi Inseparaabilitas jasa


3. Variability/heterogeneity
   Jasa bersifat sangat variabel karena merupakan non standardized output, artinya
   banyak variasi bentuk, kualitas dan jenis, tergantung pd siapa, kapan, dan dimana
   jasa tersebut diproduksi .
   Variabilitas kualitas jasa tergantung :
   1. Kerjasama atau partisipasi pelanggan selama penyampaian jasa
   2. Moral/motivasi karyawan dlm mela-yani pelanggan
   3. Beban kerja perusahaan
   Pengurangan dampak variabilitas kuali-tas jasa melalui strategi :
   1. Berinvestasi dalam seleksi, motivasi, dan pelatihan karyawan agar karyawan
       mematuhi prosedur stan-dar dan menangani permintaan yang unpredictable
   2. Melakukan service customization, artinya meningkatkan interaksi antara penyedia
       jasa dengan pelanggan shg jasa yang diberikan dapat disesuaikan dengan
       kebutuhan dan keinginan pelanggan.
4. Perishability
   Perishability berarti jasa tidak tahan lama dan tidak dapat disimpan. Bila permintaan
   bersifat konstan, kondisi tersebut tidak menyebabkan masalah. Namun kenyataanya
   permintaan thd jasa sangat fluktuasi. Kegagalan mela-yani pada permintaan puncak,
   akan menyebabkan ketidakpuasan pelanggan. Dalam manajemen permintaan alter-
   natif yang bisa digunakan :
      Mengurangi permintaan pada periode permintaan puncak, dengan menerapkan
       differential pricing.
      Meningkatkan    permintaan      pada    periode    permintaan    sepi,   dengan    cara
       menurunkan harga
      Menerapkan system antrian, shg pelanggan harus menunggu untuk dilayanai
5. Lack of ownership


   Pada pembelian barang konsumen memili-ki hak penuh atas produk yg dibelinya.
   Pada pembelian jasa, pelanggan hanya memiliki akses personal atas suatu jasa untuk
   jangka waktu tertentu.
                               Karakteristik dan Implikasi Manajemen


       Karakteristik                               Implikasi Manajemen
Intengibility                  o produk bersifat abstrak : lebih berupa tindakan atau
                                  pengalaman
                               o kesulitan dalam evaluasi alternative       penawaran jasa :
                                  persepsi konsumen thd resiko
                               o tdk dpt dipajang : diferensiasi sukar dilakukan
                               o tdk ada hak paten: hambatan masuk rendah
Inseparability                 o konsumen terlibat dalam produksi : kontak dan interaksi
                                  penting sekali
                               o pelanggan lain juga terlibat : masalah pengendalian
                               o karyawan mencerminkan dan mewujudkan bisnis jasa :
                                  relasi pribadi
                               o lingkungan jasa : mendiferensiasikan bisnis
                               o kesulitan    dalam      produksi   masal   :   pertumbu-han
                                  membutuhkan jaringan kerja sama
Heterogeneity                  o standardisasi sukar dilakukan : sangat tergantung kepada
                                  sumber daya manusia yg terlibat
                               o kualitas sulit dikendalikan : heterogenitas lingkungan
Perishability                  o tidak dapat disimpan : tidak ada sediaan
                               o masalah beban periode puncak : produkti-vitas rendah
                               o sulit menentukan harga jasa : masalah penetapan harga
Lack or ownership              o pelanggan tidak dapat memiliki jasa : jasa disewakan




Klasifikasi Jasa
atas dasar Segmen Pasar


1. Jasa yg ditujukan pada konsumen akhir
   Misal : taksi, asuransi jiwa, pendidikan, salon kecantikan,
2. Jasa yang ditujukan pada konsumen organisasional
   Misal : biro periklanan, jasa akuntansi dan perpajakan, konsultasi manajemen


Klasifikasi Jasa atas dasar Ketrampilan Penyedia Jasa


1. Professional Service
   Untuk bisa menyediakan jasa ini seseorang harus melalui pendidikan formal pada
   jenjang tartertu.
   Misal : konsultan manajemen, konsultan hukum, konsultan perpajakan, konsultan
   sistem informasi, pelayanan dan perawatan kesehatan, jasa arsitektur
2. Non-professional Service
   Untuk bisa menyediakan jasa ini seseorang tidak perlu melalui pendidikan formal
   tertentu.
    Misal : jasa sopir taksi, tukang parkir, pengantar surat, penjaga malam, keamanan,
   tukang ojek


Klasifikasi Jasa atas dasar Tingkat Kontak Penyedia Jasa dengan Pelanggan


1. High Contact Service
   Yaitu jasa yang dikonsumsi dengan frekuensi yang tinggi atau memerlukan waktu
   yang lama untuk dapat menyelesaikan suatu jasa tertentu.
   Misal : universitas, bank, dokter
2. Low Contact Service
   Yaitu jasa yang dikonsumsi dengan frekuensi yang rendah atau jasa ini jarang sekali
   digunakan.
   Misal : bioskop, jasa pos


Klasifikasi Jasa atas dasar Tingkat Keberwujudan


1. Rented goods service
   Konsumen menyewa dan menggunakan produk berdasar tarif yang disepakati selama
   jangka waktu tertentu. Konsumen hanya dapat menggunakan produk tersebut, karena
   pemilikannya tetap ada pada perusahaan yang menyewakan produk tersebut. Misal
   rental mobil, persewaan VSD/DVD, persewaan apartemen
2. Owned goods service
   Produknya    konsumen      direparasi,   ditingkatkan   kinerjanya   dan   dirawat   oleh
   perusahaan jasa Jenis jasa ini juga menyangkut perubahan bentuk pada produk yang
   dimiliki konsumen. Misal jasa reparasi, jasa pencucian mobil,         perawatan taman,
   pencucian pakaian
3. Non goods service
   Jasa personal bersifat intangible (tidak berbentuk produk fisik/tidak dapat diraba).
   Misal supir, dosen, tutor, baby sitter, pemandu wisata, penerjemah, ahli kecantikan


 Klasifikasi Jasa atas dasar Sifat Tindakan Jasa


 1.    Tangible action
       Jasa ini ditujukan kepada sasaran yang dapat dilihat atau diraba (tangible),
       seperti ditujukan kepada tubuh manusia dan ditujukan pada benda.
       a. Jasa ditujukan pada tubuh manusia
          o perawatan kesehatan
          o transportasi penumpang
          o salon kecantikan
          o klinik kebugaran
          o jasa potong rambut
       b. Jasa ditujukan pada benda
          o angkutan barang
          o perbaikan peralatan industri
          o jasa penjagaan
          o binatu
          o perawatan taman
 2. Intangible action
      a. Jasa ditujukan pada pikiran manusia
          o pendidikan
          o penyiaran
          o jasa informasi
          o bioskop
          o siaran televisi
          o museum
      b. Jasa ditujukan pada aset terdidik berwujud
          o perbankan
          o jasa bantuan hukum
          o akuntansi
          o keamanan
          o asuransi


 Klasifikasi Jasa atas dasar Tujuan Organisasi
 Berdasarkan tujuan organisasi jasa dapat diklasifikasikan menjadi commercial service
 dan non profit cervice
 1. Commercial service
    Yang termasuk jasa ini misalnya :
    a. Perumahan       atau penginapan, meliputi penyewaan apartemen, hotel, motel,
        vila, losmen, cottage dan rumah
    b. Operasi rumah tangga, meliputi utilitas, perbaikan rumah, reparasi peralatan
        rumah, pertamanan, cleanning service
    c. Rekreasi dan hiburan
    d. Personal care seperti laundry, perawatan kecantikan
    e. Perawatan kesehatan, meliputi segala macam jasa medis dan kesehatan
    f. Pendidikan swasta
    g. Asuransi, perbankan dan lembaga finansial lainnya
    h. Transportasi, meliputi jasa angkutan orang dan angkutan barang
    i. Komunikasi
    j. Bisnis dan jasa profesional lainnya
 2. Non profit cervice
    Adalah semua usaha jasa yang tujuan utamanya bukan mencari keuntungan, tapi
    untuk tujuan-tujuan tertentu seperti misi keagamaan, misi sosial.


Bauran Pemasaan Jasa


Bauran pemasaran merupakan seperangkat alat yang dapat digunakan pemasar untuk
membentuk karakteristik jasa yg ditawarkan kepada konsumen.
Konsep bauran pemasaran / 4 P (Product, price, promotion, dan place) penerapannya
menjadi terbatas jika diterapkan pd bisnis jasa, maka diperluas dengan empat unsur
lainnya yaitu : people, procces, physical evidence, dan customer service.
o Product
   Produk bisa berupa apa saja (baik yang berwujud fisik maupun tidak) yang dapat
   ditawarkan kepada konsumen utk memenuhi kebutuhan dan keinginan tertentu.
o Price
   Keputusan bauran harga berkenaan dengan kebijakan strategis          dan taktis seperti
   tingkat harga, syarat pembayaran, dan tingkat diskriminasi harga diantara berbagai
   kelompok pelanggan. Pada umumnya          aspek-aspek ini mirip dengan pemasaran
   barang. Perbedaannya karakteristik intangible jasa menyebabkan harga menjadi
   indikator signifikan atas kualitas. Karakteristik personal dan non transferable pada
   beberapa tipe jasa memungkinkan diskriminasi harga dalam pasar jasa tersebut,
   sementara banyak pula jasa yang disubsidi bahkan gratis.
o Promotion
   Bauran promosi tradisional meliputi berbagai untnuk mengkomunikasikan manfaat
   jasa kepada pelanggan aktual dan potensial. Metode tersebut adalah periklanan,
   promosi penjualan, personal selling dan public relations . Selain itu personal produksi
   juga menjadi bagian penting dalam bauran promosi.
o Place
   Keputusan distribusi menyangkut kemu-dahan akses thd jasa bagi pelanggan
   potensial. Misal keputusan mengenai lokasi fisik. Selain itu keputusan meng-gunakan
   perantara utk meningkatkan aksesibilitas.
o People
   Pada sebagian besar jasa, orang merupakan unsur vital dalam bauran pemasaran.
   Setiap orang merupakan “part-time marketer”, yang perilakunya memiliki dampak
   langsung terhadap output.
o Procces
   Dalam bisnis jasa, manajemen pemasa-ran dan manajemen operasi/produksi sulit
   dibedakan dengan jelas. Proses produksi berjalan dengan melibatkan konsumen
   secara langsung. Seorang pelanggan restoran akan sangat terpengaruh dengan cara
   staf melayaninya.
o Physical evidence
   Karakteristik intangible jasa membuat resiko yg dipersepsikan konsumen dalam
   keputusan pembeliaanya mejnadi semakin besar. Untuk mengurangi resiko tersebut,
   diperlukan bukti fisik dari karakteristik jasa. Misalnya, brosur yang memuat foto,
   penampilan staf yang rapi dan sopan, ruang yang nyaman
o Customer service
   Keberadaan departemen layanan pelanggan menjadi sangat penting, namun tanggung
   jawab akan kepuasan pelanggan tetap ada pada semua anggota organisasi.




Salah satu contoh adalah bisnis Rumah sakit :

Lonjakan populasi penduduk ikut mendongkrak masalah-masalah kesehatan. Kebutuhan rumah
sakit pun terus menanjak dari tahun ke tahun. Tak heran, orang yang jeli melihat peluang dari jasa
layanan kesehatan ini mampu meraup laba signifikan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Oktober lalu menyebut, penduduk Indonesia mencapai 237,56
juta jiwa. Tak pelak, peluang bisnis layanan kesehatan terbuka lebar. Apalagi, rasio jumlah klinik
dan rumah sakit dan masyarakat yang sakit belum seimbang.

Menurut data Departemen Kesehatan (Depkes), pada tahun 2008 jumlah rumah sakit di Indonesia
sebanyak 1.320 buah. Sementara, rasio tempat tidur rumah sakit ketimbang jumlah penduduk
sekitar 1:1.580. Jauh dari rasio ideal 1:500.
Di seputar Jakarta saja, seperti di Bekasi dan Tangerang, kebutuhan klinik sangat tinggi. “Dari data
BPS, satu klinik kesehatan di Bekasi dan Tangerang melayani 1.800 pasien per bulan,” kata
Bambang Moeljono Roeslan, pemilik klinik kesehatan Permata Bunda, Bekasi.

Biaya kesehatan juga cenderung naik dari tahun ke tahun. Sekadar informasi, masyarakat Bekasi
dan Tangerang merogoh kocek untuk biaya kesehatan hingga Rp 3,1 triliun per tahun.

Tergambar sudah bahwa bisnis layanan jasa kesehatan menyimpan segudang peluang keuntungan.
Potensi inilah yang coba digarap Bambang dengan menawarkan waralaba klinik kesehatan.

Kalau tertarik, Anda bisa mencoba waralaba yang ditawarkan oleh Bambang atau membangun
klinik sendiri. Sebelumnya, simak tawaran dan kiat beberapa pelaku usaha ini.

• Klinik Kesehatan Permata Bunda

Klinik kesehatan dan rumah bersalin ini berdiri tahun 1998. Saat ini Permata Bunda memiliki tujuh
cabang klinik & rumah bersalin yang tersebar di wilayah Bekasi. Sejak Juli 2010, Permata Bunda
menawarkan waralaba kepada masyarakat.

Tawaran waralaba klinik dan rumah bersalin Permata Bunda terbagi dua jenis paket investasi. Calon
investor dapat membeli paket investasi senilai
Rp 615 juta atau menginvestasikan duit senilai Rp 800 juta untuk membeli paket kedua.

Perbedaan kedua paket tersebut ada pada luas bangunan yang ingin dimanfaatkan calon mitra.
“Semakin luas bangunan, semakin banyak peralatan dan perlengkapan, baik secara medis maupun
nonmedis,” terang Bambang.

Selain duit investasi awal dan badan usaha, calon mitra harus menyiapkan lokasi dan bangunan
yang disetujui oleh manajemen Permata Bunda. Paket investasi Rp 615 juta mengharuskan luas
bangunan 190 meter persegi (m²). Sedangkan pada paket Rp 800 juta, luas bangunan minimal 400
m².

Lokasi usaha setidaknya harus berdekatan dengan kawasan perumahan dan mudah diakses
kendaraan pribadi dan umum. Perihal pengadaan peralatan dan perlengkapan medis, calon mitra tak
perlu khawatir. Tiap paket sudah mencakup pasokan peralatan medis, perlengkapan gedung,
perizinan, hingga materi promosi.

Sekadar contoh, peralatan dan perlengkapan paket pertama antara lain peralatan ruang tunggu,
apotek dan farmasi, peralatan poli umum dan bersalin dengan nilai total sekitar Rp 456 juta. Tak
ketinggalan timbangan, penggerus obat, hingga alat USG atau ultrasonografi untuk persalinan.

Paket juga sudah termasuk biaya waralaba atau franchise fee selama lima tahun senilai Rp 137,5
juta, pendampingan operasional selama dua pekan sebelum dan setelah proses peluncuran perdana,
serta pendampingan rutin bulanan.

Selain itu, ada asistensi proses perekrutan dokter, staf medis dan administrasi, hingga karyawan
umum. Calon mitra juga mendapatkan pelatihan karyawan selama dua pekan. Termasuk pasokan
obat untuk gerai milik investor.

Pihak pewaralaba memperkirakan mitra waralaba Permata Bunda bakal mencapai titik impas dalam
waktu 24 bulan hingga 25 bulan setelah operasional perdana.

Syaratnya, total omzet mitra mencapai Rp 131,2 juta per bulan dan beban operasional tak lebih dari
Rp 105,9 juta per bulan. Hitung punya hitung, laba bersih bisa mencapai Rp 25 juta per bulan.

Jangan khawatir pula, Permata Bunda memberikan garansi, kalau laba bersih bulanan tak sesuai
target, mereka akan menutup selisihnya alias ditanggung pewaralaba.

• Klinik Bersalin Mandiri Wahjuni

Selain waralaba, investor bisa mempelajari pengalaman Sri Wahjuni. Wahjuni adalah seorang
dokter spesialis anak yang berhasil mendirikan klinik dan rumah bersalin Wahjuni pada tahun 2007.
Klinik ini berlokasi di Komplek Jatiwaringin Asri II, Pondok Gede, Bekasi. Bangunan klinik
menjadi satu dengan tempat tinggal Wahjuni. Target pasar yang dibidik klinik dan rumah bersalin
Wahjuni adalah ibu-ibu yang tinggal di sekitar Pondok Gede.

Total modal untuk membangun klinik dan rumah bersalin ini berasal dari kocek pribadi Wahjuni.
Nilainya mencapai Rp 2,2 miliar. Cuma, dana ini memang tidak dia kucurkan sekaligus, melainkan
secara bertahap. Setiap laba yang diperoleh Wahjuni diputar untuk memenuhi kebutuhan modal.

Dana terbesar dikucurkan untuk membeli tanah dan bangunan, yakni Rp 1,5 miliar. Sisa dana
sebesar Rp 700 juta digunakan untuk membeli peralatan klinik, laboratorium, USG, farmasi, tempat
tidur untuk rawat inap, stok obat, serta perizinan. “Kapasitas rawat inap klinik ini sebanyak 13
tempat tidur. Mulai kelas III sampai VIP,” tutur Wahjuni.

Omzet rata-rata per bulan sekitar Rp 125 juta–Rp 150 juta. Pengeluaran rata-rata bulanan Rp 100
juta. Rinciannya, untuk membeli obat Rp 50 juta, gaji karyawan Rp 25 juta, sisanya untuk biaya
listrik, telepon, dan pengeluaran lain-lain.

Tiap bulan Wahjuni dapat meraup untung bersih 30%–40% dari total omzet atau Rp 35 juta–Rp 50
juta. Meski tidak bisa memastikan dengan tepat waktunya, Wahjuni mengaku sudah berhasil balik
modal setelah tahun kedua beroperasi.

Keuntungan yang lumayan membuat Wahjuni kembali mendirikan Rumah Sakit Ibu dan Anak
(RSIA) Puspa Husada di Bekasi Timur, April lalu. Cuma, rumah sakit ini belum memberi kontribusi
signifikan karena baru beroperasi.

Toh, potensinya menjanjikan. Saat ini saja RSIA yang menelan investasi Rp 9 miliar ini telah
meraup omzet rata-rata Rp 200 juta per bulan. Sayang, Wahjuni enggan menyebut besarnya laba
yang dia petik.

Dia hanya bercerita, saat ini tengah menambah tempat tidur kelas III. Soalnya, mayoritas pasien
yang datang berasal dari kalangan menengah–bawah. Tarif dipatok dari Rp 75.000–Rp 350.000 per
hari per kamar.

Nah, ada beberapa hal yang harus jadi pertimbangan serius. Yakni, lokasi dan dokter yang akan
berpraktik di klinik tersebut. Hal lain, proses perizinan. Soalnya, investor tidak sekadar mengurus
izin mendirikan klinik, tapi juga izin lingkungan. Dokter dan bidan yang akan bekerja di klinik juga
harus mendapat izin dari pusat kesehatan masyarakat atau puskesmas setempat.

Klinik kesehatan pun harus memiliki layanan cepat dan ramah. Makanya, investor harus melakukan
studi kelayakan yang mencakup pasar, lokasi, harga bangunan, sampai perizinan. Untuk obat-
obatan, asal ada izin apoteker, bisa membeli dari distributor obat resmi. (peluangusaha.kontan.co.id)




                                         DAFTAR PUSTAKA


Basu Swasta DH dan Irawan, 1990, Manajemen Pemasaran Modern, Edisi kedua, Liberty,
       Yogyakarta




Fandy Tjiptono, 2005, Pemasaran Pemasaran Jasa, Bayu Media Publishing, Malang


Handi Irawan, 2003, Kepuasan Konsumen, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Higgins dan Ferg uson, 1991, Total Quality Service, Erlangga, Jakarta




Kotler P, 1993, Manajemen Pemasaran Analisis, Perencanaan, Implementasi dan
      Pengendalian, Jilid 1, Edisi VII, Erlangga, Jakarta


Sunarji Daromi dan Sri Hardjanti, 1989, Memilih Pasar Sasaran, Edisi Refisi II, BPFE UII,
      Yogyakarta

								
To top