BIRTH ORDER

Document Sample
BIRTH ORDER Powered By Docstoc
					BIRTH ORDER
Jeanne Handojo


          Dr. Kevin Leman, pengarang buku “The Birth Order Book: Why You are the Way You are”, percaya
bahwa birth order atau urutan kelahiran dalam keluarga mempengaruhi personality kita. Birth order – apakah
kita dilahirkan sebagai anak pertama, kedua, ketiga dst.– memiliki pengaruh dalam hidup kita. Dengan
mempelajari karakteristik dari birth order, orang tua dapat lebih mengerti tindakan anak anaknya. Para
penyelidik juga menemukan bahwa birth order mempengaruhi perkembangan personality anak.

         Falbo (1981) mengadakan satu riset tentang hubungan antara birth order dengan personality. 841 orang
pria dan 944 orang wanita - semuanya pelajar universitas dan masing masing dibayar $3.00 - diminta untuk
menjawab pertanyaan tentang latar belakang dan personality, termasuk 16 pertanyaan untuk mengukur self-
esteem. Ia menemukan bahwa self-esteem anak pertama lebih tinggi daripada anak yang kedua, ketiga dst. Ia
juga menemukan bahwa anak pertama tendensinya lebih kompetitif dibanding anak anak yang lahir sesudahnya.

         Frank Sulloway, research scholar dari Massachusetts Institute of Technology, telah mempelajari birth
order selama 26 tahun. Ia berkata bahwa status dan kedudukan anak anak pertama dalam keluarga amat penting
dan mereka berusaha untuk mempertahankan status tsb. dari saudara saudaranya. “Their place in the family
makes them more self-confident, assertive, and conscientious, but it also can make them more jealous, moralistic
and inflexible.”

          Anak pertama memiliki tendensi menjadi “perfectionist, reliable, organized, scholarly, logical, strong
leaders, seeking of respect and approval.” Anak pertama mulai merasa “kehilangan”, ketika anak kedua lahir. Ia
berusaha untuk mendapatkan kembali perhatian dan kasih orang tuanya dengan “respect, admiration and
approval”. Anak pertama juga banyak “diharapkan” oleh orang tuanya. Ia diminta untuk menjaga adiknya,
memberi contoh bagi adiknya dll. Menurut Dr. Leman, tendensi yang umum dari anak pertama yaitu menjadi
pemimpin. 52% dari presiden di United States adalah anak pertama.

          Anak tunggal hampir seperti anak pertama memiliki tendensi menjadi perfectionist, reliable, serious dll,
tetapi seringkali merasa inferior karena standardnya biasanya datang dari orang dewasa dan agak tinggi. Mereka
mendapat banyak perhatian dari orang tuanya. Problem utama dari anak tunggal yaitu ia harus bermain sendiri
tanpa merasa kesepian. Anak tunggal belajar untuk memiliki “imaginary playmates” untuk mengatasi
kesepiannya. Anak tunggal bertendensi untuk menjadi “high achievers, self-motivated, fearful, cautious.”

          Anak kedua atau “laterborns”, menurut Sulloway, memiliki tendensi “more sociable, agreeable, and
open to novelty and innovation.” Sulloway menemukan bahwa anak kedua memiliki tendensi untuk lebih
flexible and kompromi. Ia memiliki tendensi untuk menjadi “mediators, diplomatic, loyal, friendly, secretive
and suppressing feelings.”

        Anak kedua “bersaing” dengan kakaknya dengan berusaha untuk berprestasi lebih baik. Ia merasa
“kurang” karena kakaknya selalu lebih tinggi satu kelas, dua kelas atau lebih. Ia memilih perfectionism dalam
bidang yang lain daripada kakaknya.

         Anak bungsu biasanya mudah bergaul dan pintar memotivasi orang lain. Dr. Leman menemukan
bahwa anak bungsu banyak mengalami “ambivalence” karena disatu pihak ia disayang, dipeluk, diperhatikan
dan di pihak yang lain ia sering digoda atau diejek. Pengalaman ini membuatnya ingin membuktikan dirinya.
Anak bungsu juga seringkali membuat tertawa dan mendapat banyak perhatian. Hasil riset menunjukkan bahwa
anak bungsu memiliki tendensi untuk “flexible, outgoing, creative, humor, risk takers, question authority”.
Menurut Dr. Leman, anak bungsu sering menjadi “good salespeople”.

         Birth Order bukan merupakan patokan yang absolut bahwa anak pertama, kedua, ketiga selalu
demikian. Ini adalah tendensi dan karakteristik umum yang seringkali benar. Birth order dapat menolong orang
tua untuk mengerti situasi dan perkembangan anak, tetapi ingat bahwa ada banyak dinamika dan variable dalam
keluarga yang mengubah hubungan antar keluarga, antara lain jarak umur antar anak, temperamen anak, gender,
hubungan antara orang tua, perceraian dll.
         Orang tua perlu mengasihi, meluangkan waktu untuk anak anaknya -dari anak pertama sampai anak
bungsu - dan menerima perbedaan mereka. Setiap anak adalah individual dengan keunikan masing masing.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:7
posted:7/27/2012
language:
pages:2