TEORI PORTOFOLIO PADA EKONOMI MAKRO

Document Sample
TEORI PORTOFOLIO PADA EKONOMI MAKRO Powered By Docstoc
					TEORI PORTOFOLIO PADA EKONOMI MAKRO & MANAJEMEN

Peneliti-peneliti di bidang Ekonomi, sering sekali mendapatkan Noble Price, oleh karena itu
penulis sangat tertarik sekali mengupas salah satu nobel tentang portofolio. Harry Max
Markowitz (lahir 24 Agustus 1927) adalah ekonom AS yang pada 1990, bersama dengan
William F. Sharpe dan Merton H. Miller menerima Penghargaan Bank Swedia dalam Ilmu
Ekonomi untuk mengenang Alfred Nobel untuk sumbangan mereka pada ekonomi
keuangan. Kenyataannya, sumbangan mereka adalah sesuatu yang memulai ekonomi
keuangan sebagai bidang studi terpisah. Di awal 1950-an Markowitz mengembangkan teori
portofolio, yang melihat pada bagaimana laba investasi dapat dioptimalkan. Para ekonom
telah lama memahami pandangan umum atas peragaman portofolio; di mana perkataan
"DON’T PUT ALL YOUR EGGS IN ONE BASKET" sudah lama beredar. Namun
Markowitz menunjukkan cara bagaimana mengukur risiko sejumlah keamanan dan
bagaimana menggabungkannya di sebuah portofolio untuk mendapatkan laba maksimum
atas risiko yang didapat. Markowitz menerima gelar Ph.D. dari Universitas Chicago. Ia
mengajar di Baruch College Universitas Kota New York sejak 1982. Markowitz dijuluki
bapaknya portofolio (Jogiyanto, 1998).

Adapun arti dari portofolio itu sendiri merupakan pengelompokkan aset-aset. Teori
Portofolio bagi Manajemen dan Akuntansi lebih cenderung kepada Teori Portofolio
Modern yang lebih menekankan kuantitas portofolio risiko dan return perusahaan atau
investor, sedangkan pada Ekonomi Makro cenderung pada teori permintaan uang yang
menekankan peran uang sebagai penyimpan nilai dan lebih cenderung jepada masyarakat
luas atau negara (Mankiw, 2007). Menurut teori ini, orang-orang memegang uang sebagai
bagian dari portofolio aset mereka. Pada intinya, uang yang memberikan kombinasi risiko
dan return yang berbeda dibanding aset lain. Biasanya, uang memberikan return nominal
yang aman, sedangkan harga saham dan obligasi bisa naik atau turun. Jadi, beberapa
ekonom menyarankan rumah tangga untuk memegang uang sebagai bagian dari portofolio
optimal mereka.

Jadi penulis disini mau mengupas teori portofolio dari sisi Arbitrage Pricing Theory (APT)
yang didalamnya ada variabel-variabel Makro Ekonomi. Adapun urutan penjabarannya
adalah pengenalan akan teori portofolio oleh Markowitz, kemudian teori portofolio oleh
James Tobin, diikuti oleh APT dan hubungan faktor-faktor ekonomi makro dengan return
portofolio (dengan berbagai artikel pendukung), setelah itu membahas teori kurs dan
akhirnya kesimpulan.

A. Teori Portofolio Modern Markowitz

Teori portofolio memprediksi bahwa permintaan uang seharusnya bergantung pada risiko
dan return yang diberikan oleh uang dan berbagai aset selain uang yang bisa dimiliki rumah
tangga. Selain itu, permintaan uang seharusnya bergantung pada kekayaan total, karena
kekayaan mengukur besarnya portofolio yang dialokasikan di antara uang dan aset
alternatif.

Artikel oleh Markowitz, yang diterbitkan di 1952, adalah sumber teori portofolio modern.
Markowitz mengembangkan teori portofolio pilihan yang belum pasti di masa depan. Dia
menunjukkan bahwa risiko portofolio datang dari covariances aset portfolio. Margin
kontribusi yang aman bagi return portofolio berbeda karena itu diukur oleh covariance.
Markowitz membuktikan bahwa risiko portofolio yang lebih rendah daripada rata-rata dari
risiko yang diambil dari setiap aset secara individu dan memberikan bukti kuantitatif dari
kontribusi diversifikasi.

Teori dikembangkan oleh Markowitz didasarkan pada memaksimalkan utilitas dari
kekayaan investor (maximising the utility of the investor’s terminal wealth). Fungsi utilitas
ini didefinisikan sesuai dengan ekspektasi return dan standar deviasi kekayaan. Teori
menawarkan solusi untuk masalah pilihan untuk portofolio berisiko bagi investor yang
tidak suka risiko: portofolio yang optimal, dari sudut pandang investor yang rasional,
didefinisikan bahwa mereka yang memiliki risiko terendah untuk mendapatkan return.
Portofolio ini dikatakan variance yang efisien. Untuk memudahkan, model diberikan
asumsi bahwa hanya ada satu periode investasi. Sebelum memberikan perincian tentang
Markowitz model sendiri, penulis akan menentukan awalnya tentang fungsi utilitas dan
risiko yang ingin dihindarkan.

Pengembangkan teori utilitas ini pertama menetapkan aturan perilaku rasional. Von
Neumann dan Morgenstern (1947; pada Amenc, N. & Sourd, V. L. 2003) berkarakter
pilihan rasional dalam situasi tak menentu dalam bentuk axioms. Terinci formulasi tersebut
axioms diberikan dalam Fama dan Miller (1972; pada Amenc, N. & Sourd, V. L. 2003).
Prinsip-prinsip berikut ini, investor tahu bagaimana untuk membandingkan berbagai
alternatif disajikan dan membentuk urutan preferensi. Mereka kemudian tetap konsisten
dengan hal pilihan mereka. Untuk prinsip-prinsip yang kami dapat menambahkan bahwa
investor selalu lebih memilih untuk memiliki sedikitnya: marjinal utilitas dari kekayaan,
yang didefinisikan sebagai tingkat pertumbuhan dari fungsi utilitas, karena itu selalu positif.

Fungsi utilitas disini melibatkan setiap situasi untuk mengurangi nilai, sehingga investor
dapat menentukan pilihan mereka sesuai dengan nilai tersebut. Menurut axioms yang
characterise yang rasional perilaku investor, dan fakta bahwa kedua memiliki lebih memilih
untuk memiliki lebih kurang, investor selalu berusaha untuk memaksimalkan utilitas yang
diharapkan dari kekayaan mereka. Ini diharapkan utilitas karena itu, investor alam tujuan
fungsi.

Pada prinsipnya sehingga diharapkan untuk menghitung utilitas dari kekayaan di semua
kemungkinan situasi, kemudian untuk memilih satu yang jumlahnya tidak seberapa
maksimal. Utility fungsi yang khusus diberikan untuk individu. Mereka tidak boleh
dibandingkan satu sama lain. Mereka mengaktifkan pilihan investor yang akan memiliki
sifat dan preferensi investor yang akan ditetapkan oleh asosiasi risiko portfolio dan
returnnya.

Empiris, mengusulkan membuat ekspektasi return tergantung pada faktor keamanan
tertentu. Dalam kasus pertama premi risiko yang merupakan respon terhadap pengaruh luar.
Mereka mencerminkan hubungan antara kekuatan ekonomi dan sekuritas pasar. Sensitivitas
aset dievaluasi dalam kaitannya dengan faktor-faktor yang memenuhi syarat sebagai
makroekonomi, seperti kembali pada pasar obligasi, tidak mengantisipasi perubahan dalam
inflasi, perubahan nilai tukar dan perubahan dalam produksi industri.
B. Teori Portofolio Ekonomi

James Tobin 1958 mengukapkan adanya teori permintaan uang yang menekankan peran
uang sebagai penyimpan nilai disebut teori portofolio. Teori portofolio memprediksi
permintaan uang seharusmya bergantung pada risiko dan retun yang diberikan oleh uang
dan oleh berbagai aset selain uang yang dimiliki oelh rumah tangga, selain itu juga
bergantung pada kekayaan total, karena kekayaan mengukur besarnya portofolio yang
dialokasikan di antara uang dan aset alternatif.

Sudut pandang teori portofolio, fungsi permintaan uang , L (i, Y), sebagai penyederhanaan
yang berguna. Pertama, teori menggunakan pendekatan riil Y sebagai perwakilan atas
kekayaan riil W. Kedua, satu-satunya variabel return dalam fungsi tersebut adalah tingkat
bunga nominal, yang merupakan jumlah pengembalian riil obligasi dan inflasi yang
diharapkan, namun teori portofolio, fungsi permintaan uang seharusnya mencakup
pengembalian yang diharapkan aset-aset lain.

Teori portofolio merupakan teori permintaan uang yang lebih masuk akal jika kita
mengadopsi ukuran uang yang lebih luas, yang mencakup berbagai mata uang dan rekening
cek. M2, meliputi rekening tabungan dan reksadana pasar uang. Ketika mengkaji kenapa
orang lebih memilih memegang set dalam bentuk M2 bukan obligasi, pertimbangan risiko
dan return portofolio berada di puncak.

        Dari paparan diatas dapat kita lihat teori gap pada teori portofolio walaupun
pelopor portofolio juga seorang ekonom, tapi kita dapat lihat dari sudut pandang makro
ekonomi dengan manajemen ataupun akuntansi mengenai teori portofolio tersebut, yaitu
kunatitas portofolio akan risk dan return dari sudut perusahaan atau investor, serta
portofolio akan aset terhadap masayarakat luas yang terbagi atas otimal risky aset portfolio
dengan risk free atau risky aset.

        Penelitian Huang, H & Milevsky, M. A (2008) memyatakan portofolio dalam
rumah tangga dilakukan untuk memilih aset asuransi jiwa atau pensiun, dimana ini bebas
dari risko aset itu sendiri. Disamping itu pula diperlukannya perilaku ekonomi untuk
membuat suatu kebijakan lingkungan, karena kita hidup di dunia global yang memiliki
ketidakpastian (Venkatachalam L., 2008).

C. Arbitrage Pricing Theory (APT)

Setelah kita ketahui perbedaan yang ditekankan oleh portofolio pada makro ekonomi dan
manajemen (teori gap), maka penulis akan mencoba menghubungkan keduanya melalui
model APT. APT menjadi dasar dari kunci konsep teori keuangan, dimana dipelopori oleh
Ross pada tahun 1976. APT ini berangkat dari konsep Capitel Asset Pricing Model
(CAPM). Asumsi CAPM adalah pasar efisien, terdistribusi normal, dan tidak ada biaya
transaksi, hanya satu faktor sedangkan APT tidak terdistribusi normal, memiliki banyak
faktor dari ekonomi makro.



Model APT di uji lagi dengan model Canonical oleh McGowan, C. B & Dobson, W.
(1993), hasilnya hubungan antara return saham sebagai pengukuran oleh industri dan lima
variabel makroekonomi sangat penting untuk menjelaskan return saham yang ada, hal ini
ditunjukkan dari hasil statistik yang signifikan dan hubungan ekonomi itu sendiri.

        Disamping itu ada penelitian Kuznitz, A., et al. (2008) memberikan tambahan
penekanan terhadap model utilitas dan hasil dapat disimpulkan bahwa pemilihan model
portofolio dengan utilitas lebih baik karena mengantisipasi konsumsi masa yang akan
datang dan rata-rata retun yang akan diperolehnya kembali.



D. Hubungan Faktor-Faktor Ekonomi Makro dengan Return Portofolio

Penelitian yang berkaitan dengan pengaruh variabel-variabel makro ekonomi terhadap
return saham telah banyak dilakukan dibanding dengan return portofolio, sehingga dengan
mengasumsikan bahwa portofolio yang terdiri dari beberapa saham yang telah dibentuk
terlebih dahulu dapat memperoleh hasil yang sama terhadap pengaruhnya return saham
dengan variabel makro. Penelitian yang berkaitan dengan pengaruh variabel-variabel makro
ekonomi terhadap return saham diantaranya Fama dan French (1989; pada Ahmed dan
Lockwood, 1998)) menemukan bahwa ada hubungan yang kuat term premium dengan
perubahan pasar saham disamping adanya perubahan setiap waktu pada return sahamnya.

Fama (1981; pada Ahmed dan Lockwood, 1998)) mengajukan suatu proposisi bahwa ada
hubungan negatif antara return pasar saham dengan tingkat inflasi, dikarenakan adanya
faktor permintaan uang (moneter). Secara garis besarnya Fama menemukan bukti empiris
mengenai hubungan negatif return saham dengan tingkat inflasi dan tingkat bunga. Ada
juga hubungan positif antara return saham dengan aktivitas ekonomi riil.

Solnik (1996; pada Ahmed dan Lockwood, 1998)) memberikan hasil regresi dari return
pasar saham terhadap tingkat bunga dan tingkat perubahan bunga di beberapa negara maju
(1973-1993). Hasilnya menunjukkan ada konsistensi tentang hubungan negatif antara
return pasar saham dengan tingkat bunga.

McQueen dan Roley (1993) berargumen bahwa respon para investor kepada ‘berita
ekonomi’ bervariasi satu dengan lainnya, argumen pertama pada studinya bahwa return
yang dapat diprediksi merupakan hasil dari efisien pasar dengan ekspektasi return berubah
selama kondisi pasar yang bervariasi

Chan (1994; pada Ahmed dan Lockwood, 1998) menguji ketidakpastian inflasi dengan
tingkat bunga bebas risiko terhadap risiko yang dihadapi. Hasil penelitian tersebut
mengungkapkan bahwa tingkat bunga bebas risiko terdapat informasi mengenai tingkat
ekspektasi inflasi yang akan datang. Beberapa indikator pasar modal juga menunjukkan
ketidakkonsistenan, seperti adanya risiko yang tinggi tetapi tidak diikuti oleh tingkat return
yang tinggi. Keaadaan ini kurang menarik investor (sebagai pemegang dana surplus), dan
dana tersalur ke pasar uang. Fokus terhadap proporsi aliran dana yang besar melalui pasar
uang mungkin juga membuat penentu kebijakan moneter untuk memberikan return yang
memadai untuk menarik investor, akibatnya tingkat bunga tinggi.

 Penyebab utama inflasi yang berhubungan dengan literatur ekonomi adalah pendekatan
moneteris. Inflasi terjadi karena adanya pertumbuhan volume uang yang beredar bertambah
melebihi dari permintaan akan uang, maka perbelanjaan untuk barang dan jasa bertambah
melebihi dari kapasitas produksi barang dan jasa ini, sehingga akan mengakibatkan
kenaikan harga. Dengan asumsi bahwa tingkat output nasional berada pada tingkat produksi
dengan kapasitas penuh (full-employment), maka akan diperoleh hubungan kausal yang
langsung antara perubahan jumlah uang yang beredar dengan perubahan tingkat harga
umum.

  Variabel-variabel makro ekonomi di Indonesia yang sering digunakan dalam penelitian
dengan metode CRR (Chen, Roll dan Ross) adalah Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebagai
aktiva bebas risiko, pertumbuhan ekonomi yang dihitung dari Pendapatan Nasional riil (PN
riil) berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga riil, sedangkan besarnya
inflasi dapat dilihat dari IHK (Indeks Harga Konsumen) (Sitinjak, 2001).

Penelitian yang dilakukan oleh Ahmed dan Lockwood (1998) memberikan hasil bahwa
pengaruh pertumbuhan ekonomi, unexpected inflasi, perubahan ekspektasi inflasi adalah
negatif. Berarti semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, unexpected inflasi, dan perubahan
ekspektasi inflasi membuat return portofolio turun. Sebaliknya dengan perubahan term
structure (di Indonesia diganti menjadi perubahan tingkat bunga bebas risiko) berpengaruh
positif terhadap return portofolio. Semakin tinggi perubahan tingkat bunga bebas risiko,
semakin tinggi juga return portofolio (Sitinjak, 2001).

Setelah kita ketahui hubungan variabel ekonomi makro, kita juga perlu mengetahui dampak
dari signal informasi pada harga pasar ketika para agen memiliki peran trading yang non-
linear, agar menghilangkan distrosi pada return portofolio yang dibentuk (Kyrtsu C. &
Malliarus, A. G., 2008). Cara mengetahuinya kita jiga harus belajar dari pengalaman dan
volume trading aset-aset yang berisiko maupun tidak berisiko agar tidak kehilangan uang
dengan melakukan trading dengan sumber informasi yang tidak valid (Subrahmanyam,
A., 2008).


Keywords: portofolio, Markowitz, APT

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:82
posted:7/25/2012
language:
pages:5
Description: TEORI PORTOFOLIO PADA EKONOMI MAKRO