Docstoc

PENDIDIKAN ANAK DI SEKOLAH DASAR

Document Sample
PENDIDIKAN ANAK DI SEKOLAH DASAR Powered By Docstoc
					             TUGAS I
PENDIDIKAN ANAK DI SEKOLAH DASAR




             Disusun Oleh :
        Nama         : Muhammad Nur Rochman
        NIM          : 81477929
        Program      : SI PGSD




        UNIVERSITAS TERBUKA
         UPBJ YOGYAKARTA
                                    MODUL 1


                              KEGIATAN BELAJAR 1
                     HAKIKAT PENDIDIKAN DI SEKOLAH
1. Walaupun definisi pendidikan yang dikemukakan para ahli sangat beragam, namun untuk
   keperluan aplikasi, Anda tetap perlu memiliki pegangan tertentu yang cukup mantap.
   Salah satu pandangan yang tetap mantap tentang pendidikan hingga. sekarang adalah
   pandangan perkembangan.
2. Oleh karena setiap pendidik (guru) selalu berhadapan dengan individu yang tengah
   berkembang maka pendidikan dapat dipandang sebagai proses membantu peserta didik
   untuk mencapai tingkat perkembangan yang optimal dalam seluruh aspek kepribadiannya
   sesuai dengan potensi yang dimiliki dan sistem nilai yang berlaku di Iingkungan sosial-
   budaya dimana dia hidup.
3. Pendidikan bukanlah proses memaksakan kehendak orang dewasa (guru) kepada peserta
   didik, melainkan upaya menciptakan kondisi yang kondusif bagi optimalisasi
   perkembangan anak.
4. Pendidikan di SD dapat didefinisikan sebagai proses pengembangan kemampuan yang
   paling mendasar setiap siswa, dimana tiap siswa belajar secara aktif karena adanya
   dorongan dalam diri dan adanya suasana yang memberikan kemudahan (kondusif) bagi
   perkembangan dirinya secara optimal.
5. Pendidikan di SD bukan hanya diorientasikan pada memberi bekal kemampuan
   membaca, menulis dan berhitung, melainkan pada penyiapan intelektual, sosial, dan
   personal siswa secara optimal untuk belajar secara aktif mengembangkan dirinya sebagai
   pribadi, sebagai anggota masyarakat, sebagai warga negara, dan sebagai makhluk Tuhan
   Yang Maha Esa.


                              KEGIATAN BELAJAR 2
                          TUJUAN PENDIDIKAN DI SD
1. Tujuan pendidikan merupakan gambaran kondisi akhir atau nilai-nilai yang ingin dicapai
   dari suatu proses pendidikan. Setiap tujuan Pendidikan memiliki dua fungsi, yaitu (a)
   menggambarkan tentang kondisi akhir yang ingin dicapai, dan (b) memberikan arah dan
   cara bagi semua usaha atau proses yang dilakukan.
   2. Tujuan pendidikan SD harus selalu mengacu pada tujuan pendidikan nasional dan tujuan
       pendidikan dasar serta memperhatikan tahap dan karakteristik perkembangan siswa,
       kesesuaiannya dengan        lingkungan    dan kebutuhan pembangunan       daerah, arah
       pembangunan nasional serta memperhatikan perkembangan, ilmu pengetahuan dan
       teknologi dan kehidupan umat manusia secara global.
   3. Tujuan pendidikan di SD mencakup pembentukan dasar kepribadian siswa sebagai
       manusia Indonesia seutuhnya sesuai dengan tingkat perkembangan dirinya.
   4. Secara operasional pendidikan SD, dinyatakan di dalam Kurikulum Pendidikan Dasar,
       yaitu memberi bekal kemampuan dasar membaca, menulis dan berhitung, pengetahuan
       dan keterampilan dasar yang bemanfaat bagi siswa sesuai dengan tingkat perkembangan,
       serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti Pendidikan di SLTP/ Mts


                                    KEGIATAN BELAJAR 3
                                 FUNGSI PENDIDIKAN DI SD
       Fungsi pendidikan pada umumnya adalah meliputi: (1) fungsi individuasi, (2) fungsi
sosialisasi, (3) fungsi nasionalisasi, dan (4) fungsi humanisasi.
       Pendidikan dasar berfungsi sebagai jenjang awal dari pendidikan di sekolah untuk
mengembangkan dasar pribadi manusia sebagai warga masyarakat dan warga Negara yang
berbudi luhur, beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta memiliki
kemampuan dan keterampilan dasar sebagai bekal untuk pendidikan selanjutnya dan untuk bekal
hidup di masyarakat.
       Sekurang-kurangnya pendidikan di SD memiliki empat fungsi utama, yaitu Pertama,
fungsi yang sangat mendasar dari pendidikan di SD adalah fungsi pembentukan dan
pengembangan dasar kepribadian anak. Kedua, fungsi pendidikan di SD adalah penyiapan warga
masyarakat dan warga negara Republik Indonesia yang baik. Ketiga, transfomasi budaya
menjadikan anak agar mengenal dan berbudaya Indonesia. Keempat adalah pembekalan
kemampuan dan keterampilan dasar untuk melanjutkan pendidikan di SLTP/Mts




                                    KEGIATAN BELAJAR 4
                           PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN DI SD
         Salah satu titik lemah budaya pendidikan di sekolah kita selama ini bahwa titik sentral
pendidikan adalah bukan siswa, melainkan guru, bahkan selama 32 tahun titik sentralnya adalah
pemerintah dengan berbagai aturan. Titik lemah ini secara konsepsional dapat diubah bilamana
perkembangan siswa dijadikan sebagai tujuan pembelaiaran.
         Perkembangan anak dan pendidikan memiliki prinsip yang parallel yaitu merupakan
suatu proses yang terpadu dan berlangsung sepanjang hayat. Oleh sebab itu, proses pembelajaran
di SD harus memperhatikan keterpaduan perkembangan anak dalam aspek perkembangan fisik
kognitif, sosial, moral, spiritual dan emosional dan mendorong anak untuk belajar sepanjang
hayat.
         Dari aspek keterpaduan perkembangan dan belajar, ada dua prinsip pendidikan, yaitu: (1)
guru sekolah dasar harus selalu peduli dan memahami anak sebagai keseluruhan dan (2)
kurikulum dan proses pembelajaran di SD harus bersifat terpadu.
         Aspek keterpaduan di atas meliputi tiga sub-aspek yaitu: (1) aspek perkembangan fisik,
(2) aspek perkembangan kognitif, dan (3) aspek perkembangan sosio-emosional dan moral.
Setiap aspek itu memiliki prinsip operasional yang tersendiri.
         Prinsip-prinsip pendidikan di SD paralel dengan prinsip perkembangan individu yaitu: (1)
bahwa perkembangan adalah proses yang tak pernah beakhir, oleh karena itu pendidikan atau
belajar di SD harus memotivasi anak untuk belajar secara terus-menerus sepanjang hayat (2)
bahwa setiap anak bersifat individual dan berkembang dalam percepatan individual, maka guru
SD harus memahami dan memegang noma atau patokan atau target tertentu, namun dia harus
tetap memperhatikan keragaman siswa secara individual dalam aspek fisik, psikis dan sosial. (3)
bahwa semua aspek perkembangan saling berkaitan, oleh sebab itu pendidikan jasmani harus
menjadi wahana bagi perkembangan aspek lainnya, begitu pula proses pembelajaran bidang studi
lainnya harus selalu dikaitkan dengan berbagai aspek perkembangan anak. (4) bahwa
perkembangan itu terarah dan dapat diramalkan, maka perkembangan individu memiliki
sekuensi tertentu dan dapat menjadi arah pendidikan dan (5) program dan strategi pembeiajaran
di SD harus dikembangkan dan diorganisasikan agar merangsang, mempercepat dan
menghindari ekses memperlambat laju perkembangan peserta didik


                                           MODUL 2
                                   KEGIATAN BELAJAR 1
                       PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK USIA SD
Dari apa yang telah diutarakan pada pembahasan ini, dapat diketahui bagaimana perkembangan
kognitif anak SD. Untuk mengenal perkembangan kognitif dari Piaget memang parlu dipahami
terlebih dulu proses asimilasi dan akomodasi, serta ekuilibrium. Dalam setiap tahap
perkembangan kognitif dijumpai berbagai ciri-ciri umum yang menggambarkan kekhasan dari
tahap tersebut. Dikenal adanya tahap sensorimotorik, tahap praoperasional dan tahap konkret
operasional. Tahap sensomotorik yang dimulai dari gerak refleks, sampai gerak motorik anak.
Menginjak tahap praoperasional, banyak ditandai dengan belum dikuasainya konservasi. Pada
tahap konkret operasional, anak sudah dapat memahami konservasi, namun pemahaman akan
sesuatu masih bersifat konkret. Sementara pada tahap fomal operasional, anak sudah dapat
berpikir abstrak, hipotesis dan deduktif. Daya nalar sudah mulai berkembang sehingga proses
analisa dan sintesis pun sudah lebih dikuasainya.


                                   KEGIATAN BELAJAR 2
                       BAKAT DAN KREATIVITAS ANAK USIA SD
       Bakat merupakan suatu kemampuan bawaan yang masih perlu dikembangkan dan dilatih
karena tanpa latihan dan pengembangan maka bakat tidak akan terwujud. Lingkungan anak,
seperti orang tua, guru dan pergaulan dengan teman sebaya atau sepemainan dapat berpengaruh
ferhadap terwujud atau tidaknya bakat seorang anak.
       Ada berbagai macam definisi mengenai kreativitas, namur, tidak ada satu definisi pun
yang dapat diterima secara universal karena demikian kompleksnya konsep kreativitas.
Pengertian tentang kreativitas dapat dilihat dari belahan otak manusia yang masing-masing
berkaitan dengan kemampuan tertentu dalam diri seseorang. Pengertian kreativitas juga dapat
dilihat dari segi operasionalnya, yang mencakup kelancaran, keluwesan, orisinalitas dalam
berpikir, serta kemampuan untuk memerinci. Kreativitas juga dapat dilihat dari konsep 4P yaitu
pribadi, pendorong, proses dan produk.
       Kaitan kreativitas dengan kemampuan inteleektual memang sudah menjadi perhatian para
pakar sejak dulu. Teori ambang inteligensia menunjukkan bahwa sampai seputar IQ I20, ternyata
ada hubungan antara inteligensia dan kreativitas. Kemampuan berpikir divergen menunjukkan
hubungan yang bemakna dengan kemampuan berpikir konvergen. Selain itu yang perlu diingat
adalah kreativitas diperoieh dari pengetahuan atau pengalaman hidup. Pengetahuan yang selama
ini diperoleh dari lingkungan dikumpulkan dan diintegrasikan ke dalam suatu bentuk yang baru
dan orisinal, semua ini sangat tergantung pada bagaimana kemampuan intelektual seseorang.
Kemampuan kreatif seseorang sangat tergantung tergantung dari faktor dalam diri
dan luar diri. Olen karena itu, sebagaimana layaknya bakat dan minat, kemampuan kreatif
seseorang juga perlu dikembangkan. Sumber-sumber kreativitas seperti kognitif, kepribadian,
motivasional dan lingkungan perlu dikembangkan semaksimal mungkin oleh pihak orang tua
(keluarga) dan guru. Dengan mengetahui sumber-sumber ini pun kita dapat menciptakan suatu
lingkungan proses belajar mengajar yang merangsang kemampuan berpikir kreatif anak. Hal
yang patut diperhatikan adalah kita tidak bisa menitikberatkan kreativitas seseorang itu hanya
melalui produknya saja, justru yang terpenting dalam kreativitas adalah prosesnya karena di
situlah kita dapat melihat bagaimana munculnya keunikan ide seseorang.
       Dalam perkembangan usianya, dikenal berbagai masa kritis kreativitas. Usia SD yang
mencakup usia 5/6 sampai 12 tahun, juga memiliki masa kritis yang berkisar 5 sampai 6 tahun
dan usia 8 sampai 10 tahun. Hal ini terjadi karena di usia 5 sampai 6 tahun, peran tokoh otoriter
sangat melekat pada diri seseorang, dimana anak harus mematuhi aturan dan keputusan orangtua
atau orang dewasa di lingkungannya. Sementara di usia 8 sampai 10 tahun pengaruh kelompok
teman sebaya sudah jauh lebih kuat, di mana anak yang ingin diterima oleh teman-temannya,
akan menerima dan mengikuti pola-pola yang ditetapkan kelompoknya.




                                  KEGIATAN BELAJAR 3
Peran Kecerdasan Intelektual dan Kecerdasan Emosional pada Anak SD
       Keberhasilan hidup manusia tidak hanya ditentukan oleh bagaimana tingkat kecerdasan
intelektualnya. Sepandai-pandainva manusia, jika tidak dituniang dengan sikap dan kepribadian
yang memadai juga tidak akan menceminkan individu yang sehat dan matang. Mengingat begitu
banyaknya tantangan yang akan dihadapi anak dalam kehidupannya kelak maka orang tua
maupun guru perlu memberikan bimbingan dan pengarahan untuk mencerdaskan kemampuan
dan emosinya.
       Melalui struktur intelek dari Guilford, dapat disadari bahwa aktivitas mental manusia,
meliputi interaksi dari proses, isi dan produk. Yang masing-rnasing memiliki unsur-unsur
tersendiri karena berdasarkan penggambaran struktur intelek Guilford tersebut akan diperoleh
120 aktivitas mental manusia. Dari penggambaran struktur intelek Guilford ini, orang tua
maupun guru diharapkan dapat memberikan rangsangan yang optimal untuk unsur-unsur yang
terdapat dalam seluruh aktivitas mental manusia.
       Orang tua dan guru juga berperan besar dalam mengembangkan kemampuan emosi anak.
Bagaimana hidup dengan emosi yang sehat dan seberapa besar peran emosi yang sehat dalam
kehidupan dan keberhasilan pendidikan seorang anak tidaklah diragukan lagi.
       Dalam dunia pendidikan kadang kala dijumpai siswa yang berkemampuan kurang atau
siswa yang berkemampuan sangat baik. Mereka yang memiliki kecerdasan jauh di bawah atau
jauh di atas rata-rata kebanyakan siswa ini dikenal dengan siswa yang memiliki kecerdasan
ekstrem. Tampaknya hal ini perlu dikenal dan dipahami oleh guru, khususnya. Guru haruslah
memberikan rangsangan yang sesuai dengan yang dibutuhkan anak.
                                          MODUL 3
                PERKEMBANGAN SOSIAL DAN MORAL PADA ANAK
                                  KEGIATAN BELAJAR 1
Perkembangan Moral pada Anak Usia SD
       Pada uraian ini telah dijelaskan tentang perkembangan moral dan sosial pada anak usia
Sekolah Dasar. Pertama sekali anak belajar mengikuti aturan-aturan yang ada tanpa tahu alasan
mengapa harus mengikuti aturan-aturan tersebut. Dalam mempelajari moral, ada 4 elemen
penting, yaitu peran hukum, tata krama dan aturan; peran kata hati; peran rasa bersalah dan malu;
serta peran interaksi sosial. Keempat elemen ini penting dalam perkembangan moral seorang
anak. Perkembangan moral tidak bisa dilepaskan dari lingkungan. Ketika kecil lingkungan
keluargalah yang berperan, namun begitu memasuki usia sekolah dasar, moral mulai
berkembang, anak mengikuti aturan-aturan yang ada disertai adanya alasan-alasan tertentu.
Misalnya, agar disenangi teman sebaya atau orang di sekelilingnya anak mengikuti aturan-aturan
yang diharapkan lingkungannya.
       Dalam perkembangan moral, disiplin mempunyai peran penting. Melalui disiplin anak
belajar berperilaku sesuai dengan kelempok sosialnya. anak pun belajar perilaku yang dapat
diterima dan tidak diterima dalam masyarakat. Dalam menanamkan disiplin, hukuman dan
penghargaan mempunyai andil. Hukuman akan diberikan jika terjadi pelanggaran disiplin, anak
pun belajar memahami mengapa perilakunya salah dan anak tidak akan mengulangi perilaku
tersebut. Demikian pula dengan penghargaan. Adanya penghargaan, anak akan belajar
mengulangi perilaku yang diterima di lingkungannya. Pemberian hukuman dan penghargaan atau
penanaman disiplin haruslah secara konsisten.
Pengenalan perilaku baik dan buruk tidak terlepas dari bagaimana mengenalkan agama sejak
dini. Melalui contoh sehari-hari, anak belajar konsep Tuhan, surga, neraka, setan ataupun
malaikat.




                                  KEGIATAN BELAJAR 2
                   PENYESUAIAN DIRI DAN PENERIMAAN SOSIAL
       Dalam proses sosialisasi, anak menunjukkan perilaku sesuai aturan-aturan sosial yang
ditentukan. anak pun mulai membutuhkan teman dekat, yaitu teman sebagai orang yang dapat
membantu jika dibutuhkan. Umumnya teman dekat ini adalah kelompok sebayanya. Kelompok
sebaya dapat sebagai model dalam berperilaku, di mana anak cenderung meniru perilaku
kelompoknya. Jika mempunyai teman berperilaku sesuai tuntutan masyarakat, anak pun akan
mengikutinya. Berbagai karakteristik dari kelompok sebaya menunjukkan bahwa kelompok
sebaya memiliki keunikan tersendiri yang mungkin tidak dijumpai di kelompok yang lain. Hal
ini pula yang membuat anak sebagai anggota kelompok dapat mempelajari pola-pola perilaku
anggota kelompoknya. Meskipun kelompok sebaya merupakan hal yang diutamakan dalam
perkembangan seorang anak, namun peran guru maupun orang tua tetap diperlukan dalam
menanarnkan noma yang sesuai dengan tuntutan lingkungan agar apa yang dituntut oleh
kelompok seimbang dengan apa yang dituntut oleh lingkungan.


                                 KEGIATAN BELAJAR 3
              PERKEMBANGAN PERAN GENDER PADA ANAK USIA SD
       Dalam menyesuaikan diri dengan kelompoknya, anak pun belajar tentang peran gender.
Adanya peran yang berbeda, membuat adanya aturan bagi anak laki-laki dan perempuan. Proses
perkembangan gender dalam diri sesorang sebenarnya bisa dikarenakan faktor biologis,
kemampuan kognitif dan sosial. Namun, dari kesemuanya itu justru lingkungan sosiallah,
misalnya bagaimana interaksi dan pengalaman anak dengan orang tua, pengaruh dari guru, teman
sebaya, media massa, pelajaran dan lain-lain yang paling berperan dalam perkembangan gender.
       Walaupun kenyataan menunjukkan bahwa peran gender tidak bisa diabaikan di
lingkungan masyarakat, namun sebagai orang tua maupun guru hendaknya dapat mengajarkan
pada anak bahwa peran tersebut dapat berganti karena semua itu sangat tergantung dari
kebutuhan, situasi, minat dan keterampilan yang dimiliki. Itulah sebabnya kadang kala dijumpai
seorang pria yang menekuni kariernya di bidang seni tari, sementara seorang wanita menekuni
kariernya di bidang keteknikan, dan lain-lain. Hal-hal yang perlu ditanamkan bahwa kita harus
menghargai apa yang dilakukan anak, bukan karena anak itu laki-laki atau perempuan.
                                          MODUL 4
                         KEBUTUHAN ANAK SEKOLAH DASAR
                                  KEGIATAN BELAJAR 1
                       PEMASALAHANNYA PADA ANAK USIA SD
       Walaupun pertumbuhan fisik anak SD cenderung lambat, namun tak dapat disangkal
bahwa kebutuhan gizi yang seimbang di usia SD tetap perlu diperhatikan. Hal ini mengingat
pada usia SD, anak berada pada masa pertumbuhan yang kelak akan berpengaruh pada masa-
masa selanjutnya. Dikatakan bahwa menjelang usia 6 – 12 tahun anak menjadi lebih tinggi dan
berat. Hal ini karena pada usia tersebut terjadi perkembangan skeletal dan muscular yang banyak
berkaitan dengan jaringan tulang/kerangka dan otot seseorang. Di lain pihak perkembangan
motorik anak SD pun sudah lebih sempurna dan terarah. Itulah sebabnya anak-anak SD pun
sudah dapat dilatih untuk berbagai kegiatan olah raga yang memerlukan koordinasi gerakan.
Namun, agar dapat dilatih dan perkembangannya lebih sempurna, anak memerlukan gizi yang
baik, khususnya yang mencakup 4 sehat dan 5 sempurna.
       Perkembangan dan pertumbuhan anak sangat tergantung dari factor bawaan dan
lingkungan. Oleh karena dipengaruhi oleh factor bawaan maka perkembangan fisik dapat
dikatakan sebagai proses kanalisasi, yaitu kecenderungan faktor bawaan untuk membatasi
perkembangan dari karakteristik yang ada, hal ini terjadi karena adanya faktor lingkungan.
Faktor lingkungan di sini adalah selain rangsangan fisiologis berupa pemberian gizi, juga
rangsangan psikologis yang dapat berupa perhatian dan kasih sayang. Anak yang kekurangan
gizi dalam pertumbuhannya akan bemasalah di kemudian hari, tidak hanya kekurangan berat
badan, tetapi juga dapat berpengaruh pada perkembangan lain, seperti segi intelektual maupun
emosional. Pola makan yang salah juga dapat menjadi masalah yang serius karena akan
menyebabkan perkembangan badan tidak simbang. Misalnya, kegemukan (obesitas). Penyakit
juga dapat berpengaruh dalam perkembangan anak, selain malnutrisi, juga bagaimana imunisasi
yang telah diperoleh anak di masa pertumbuhannya.
       Anak yang kurang mendapat rangsangan psikologis dari keluarganya akan mengalami
kegagalan nonorganik dan deprives dwarfism. Umumnya bukan terjadi pada keluarga yang
miskin, tetapi bisa terjadi pada keluarga yang baik sosial ekonominya karena faktor
pernyebabnya lebih karena keluarga tidak hamonis, tidak teratur dalam hal apa dan banyak
mengalami stress.
                                  KEGIATAN BELAJAR 2
                         KESEHATAN DAN PRESTASI BELAJAR
Kebutuhan akan gizi seimbang di masa kanak-kanak memang tidak disangsikan lagi. Dalam
masa pertumbuhannya anak memerlukan konsumsi makanan yang seimbang. Kekurangan zat-zat
tertentu yang bemanfaat pada pertumbuhan anak, akan membuat anak kekurangan gizi.
Kekurangan gizi dapat berakibat tidak saja pada perkembangan fisik dan kesehatan, otak yang
tidak nomal membuat anak mengalami hambatan dalam kemampuan intelektualnya. Di segi
kepribadian anak dapat mengalami penyesuaian diri yang kurang. Di lain pihak menjadi mudah
menangis, rewel, dan cepat marah. Untuk itu patutlah direnungkan akan nasib anak-anak dari
golongan tidak mampu, yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, yaitu makan dan
minum secara seimbang.
                                   KEGIATAN BELAJAR 3
         TEORI KEBUTUHAN DAN PENERAPANNYA PADA ANAK USIA SD
Teori kebutuhan dari Maslow berawal dari adanya berbagai kebutuhan dalam diri seseorang,
yang tersusun secara hierarkis, dimana jika salah satu kebutuhan sudah terpenuhi maka akan
timbul kebutuhan lainnya yang tingkatannya lebih tinggi lagi. Anda tentunya masih ingat
mengenai gambaran dari kelima kebutuhan yang tersusun secara hierarkis tersebut.
Secara garis besar kelima kebutuhan tersebut dapat dikelompokkan dalam 2 kebutuhan besar,
yaitu basic need (kebutuhan dasar) dan meta need (mutinied).
Kebutuhan aktualisasi diri merupakan kebutuhan yang penting untuk memahami perkembangan
anak, dimana jika    manusia mengarah kepada kebutuhan ini maka manusia menggunakan
sepenuhnya bakat, kapasitas dan potensi-potensinya.
Teori kebutuhan Maslow memang banyak ditentang oleh beberapa ahli, hal ini karena kebutuhan
manusia tidak tersusun secara hierarki tetapi kebutuhan lebih bersifat situasional, misalnya
mereka yang merupakan pengungsi dari daerah konflik, seperti Sampit atau Ambon, akan lebih
memerlukan kebutuhan dasar meskipun sebelumnya kebutuhan ini sudah terpenuhi. Jadi tidak
berarti manusia yang sudah melewati kebutuhan fisiknya, tidak akan memerlukan kebutuhan
fisiknya kembali karena sudah meningkat ke kebutuhan yang lebih tinggi.
Pada awalnya motivasi lebih menunjukkan mengenai pentingnya faktor penguat dalam belajar
atau kebiasaan dan potensi reaksi yang efektif. Namun, sesuai dengan perkembangan teorinya,
motivasi insentif lebih merupakan kinerja daripada variabel belajar.
Untuk memupuk harga diri dan aktualisasi diri anak perlu dipertimbangkan keunggulan dan
kelemahan serta kebutuhan anak. Pada saat anak memasuki usia SD, anak membentuk 3 buah
kebutuhan dasar, yang bentuknya tergantung dari pengalamannya yang berbeda-beda, dukungan
sosial yang banyak berkaitan dengan kebudayaan dan pola pengasuhan.


                                     KEGIATAN BELAJAR 4
                       PENGARUH SEKOLAH PADA KEPRIBADIAN
Saat ini begitu banyak siswa yang tampaknya kurang temotivasi untuk sekolah. Hal ini memang
lebih banyak dijumpai pada siswa remaja. Namun, agar penyakit ini tidak menular ke siswa SD
maka diperlukan usaha yang maksimal untuk menciptakan lingkungan belajar yang dapat
memotivasi siswanya.
Pada dasarnya ada dua macam motivasi yang dapat menentukan keberhasilan seseorang, yaitu
motivasi intrinsic dan motivasi ekstrinsik. Di antara keduanya motivasi untrinsik merupakan
motivasi yang terpenting dalam diri seseorang, dan motivasi inilah yang diharapkan lebih
ditingkatkan dalam diri individu. Hal ini dapat dimengerti karena motivasi intrinsik merupakan
sumber yang kuat dan positif dalam kehidupan manusia. Untuk meningkatkan motivasi intrinsik,
diperlukan usaha untuk menciptakan suatu Kegiatan Belajar yang menantang, yang dapat
mendorong rasa ingin tahu anak, yang dapat mengontrol dan dapat meningkatkan daya imajinasi
siswa. Untuk menciptakan situasi belajar yang demikian memang diperlukan usaha yang
maksimal dari pengajarnya.
Dalam mencapai sesuatu, kita dapat menentukan apakah seseorang lebih berorientasi pada
mastery atau tugas ataukah berorientasi helpless (merasa tidak berdaya, dimana anak sudah
menyerah ketika diberi suatu tugas yang sulit). Orientasi pada tugas merupakan hal yang positif
yang perlu dikembangkan pada diri seseorang karena anak yang berorientasi pada tugas
umumnya mementingkan kemampuannya, memusatkan perhatian pada strategi belajarnya. Anak
juga umumnya berpikir dan bertindak hati-hati, dan sangat senang pada tugas-tugas yang penuh
tantangan. Bagaimana cara anak memandang kecerdasannya, sejauh mana ia percaya akan
kemampuannya dapat berpengaruh pada kemampuan dan harapan anak untuk menguasai suatu
pelajaran. Sikap orang tua dan bagaimana lingkungan rumah serta jenis pola asuh yang
diterapkan   di   rumah      turut    berperan   dalam   perwujudan    motivasi   intrinsiknya.
Faktor-faktor psikologis lainnya yang juga perlu dipertimbangkan dalam meningkatkan motivasi,
khususnya motivasi intrinsik seseorang adalah bagaimana guru menciptakan suatu lingkungan
belajar yang menyenangkan dan memotivasi siswanya. Sebelum menggunakan suatu kegiatan
belajar tertentu, guru perlu membuat perencanaan terlebih dahulu. Guru harus jeli dalam melihat
kelompok siswa yang ada di kelasnya, apakah tipe individualistik, kooperatif atau tipe kompetitif
(senang bersaing). Bagaimana iklim kelas, interaksi guru dan siswanya, kegiatan manajemen
guru di kelas, cara guru mengajar juga turut berpengaruh dalam memotivasi siswanya.
Merupakan tugas guru dalam menciptakan situasi belajar di kelas. Namun, di lingkungan rumah
pun orang tua perlu menunjang apa yang diberikan guru di sekolahnya. Untuk itu komunikasi
guru dan orang tua tampaknya perlu terjalin agar sejalan antara apa yang diajarkan di kelas
maupun di rumah.
             TUGAS II
PENDIDIKAN ANAK DI SEKOLAH DASAR




             Disusun Oleh :
        Nama         : Muhammad Nur Rochman
        NIM          : 81477929
        Program      : SI PGSD




        UNIVERSITAS TERBUKA
         UPBJ YOGYAKARTA
                                    MODUL 5
                            PROSES BELAJAR ANAK SD
                              KEGIATAN BELAJAR 1
                     PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK BELAJAR

        Belajar adalah ruhnya pendidikan, tujuan pendidikan tidak akan dapat dicapai tanpa anak
melakukan aktivitas belajar. Bagaimana supaya anak aktif belajar, itulah tugas professional anda
sebagai guru. Keefektifan andan dalam membelajarkan anak sangat dipengaruhi oleh
pemahaman anda tentang belajar.
        Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang relatif pemanen yang
terjadi karena pengalaman. Perubahan tingkah laku memiliki pengertian yang luas, tidak hanya
menyangkut perubahan pengetahuan saja melainkan menyangkut aspek perilaku dan pribadi
anak secara terintegrasi.
        Ada empat kata kunci dari pengertian belajar di atas, pertama, adalah “perubahan”,
kedua, “pengetahuan perilaku-pribadi,” ketiga, “pemanen” dan keempat, “pengalaman”.
        Perubahan yang dicapai seseorang dari hasil belajar memiliki cirri-ciri tersendiri, berbeda
dengan cirri-ciri perubahan tingkah laku karena konteks kebetulan dna kematangan. Ada 4
(empat) karakteristik perbuatan belajar, yaitu intensional, positif, benar-benar hasil pengalaman,
dan efektif.
        Tugas guru bukan hanya mengajar yang mengandung konotasi guru lebih dominan dan
berperan sebagai satu-satunya sumber belajar bagi anak yang belum tentu membuat anak belajar,
dalam arti aktif melakukan perubahan tingkah laku. Selain mengajar, tugas utama guru adalah
menciptakan lingkungan sedemikian rupa sehingga memotivasi dan memfasilitasi anak untuk
aktif melakukan berbagai kegiatan, menggunakan berbagai potensi yang dimilikinya untuk
mencapai perubahan pengetahuan, perilaku, dan pribadi sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya. Inilah hakikat pembelajaran. Di dalam pembelajaran terkandung proses
belajar dan mengajar sebagai dua proses yang saling bergantung. Mengajar hanya akan ada jika
terjadi proses belajar.
        Sehingga pengangannya pun membutuhkan keterpaduan antar disiplin atau disebut
dengan pendekatan multidisipliner. Contoh, pembelajaran tematik merupakan salah satu
implementasi dari prinsip ini.
        Kesembilan, belajar sebagai proses terpadu memungkinkan untuk menjalin hubungan
yang baik antara sekolah dengan keluarga.
       Baik guru maupun orang tua anak sebaiknya memiliki sikap yang sama, dimana
pengembangan potensi anak secara optimal merupakan hal yang sangat penting dalam
pendidikan di sekolah. Untuk itu, peran orang tua tidak hanya sebatas pemenuhan biaya
pendidikan, tetapi juga harus berperan sebagai partner sekolah dalam membantu pendidikan di
sekolah. Dalam konteks pengembangan potensi anak secara optimal, tidak mungkin hanya dapat
dicapai dengan hanya mengandalkan upaya guru dalam waktu yang terbatas di sekolah. Anak
dapat mengembangkan kemampuannya secara optimal bilamana dia melakukan kegiatan belajar
secara terus-menerus yang tidak hanya di sekolah, melainkan juga di masyarakat, terutama di
lingkungan keluarga, karena sebagian besar waktu anak SD berada di lingkungan keluarga.
Jelaslah keterlibatan orang tua secara sinergis dalam pendidikan sangat signifikan bagi
keberhasilan pendidikan anak di SD.


                                  KEGIATAN BELAJAR 2
                                PRINSIP-PRINSIP BELAJAR
       Aktivitas belajar merupakan suatu proses yang terpadu. Ketika anak belajar aspek
fisiologis, intelektual, sosial, emosional, dan moral terlibat aktif dan satu dengan yang lainnya
sailing mempengaruhi. Oleh karena itu, akibat dari aktivitas belajar ini tidak hanya menyangkut
aspek pengetahuan saja.
       Kegiatan Belajar 2 ini menaparkan 9 prinsip urnum belajar adalah sebagai berikut.
Pertama, belajar dapat membantu perkembangan optimal individu sebagai manusia utuh. Kedua.
belajar sebagai proses terpadu harus memposisikan anak sebagai titik sentral. Ketiga, aktivitas
pembelajaran yang diciptakan harus membuat anak terlibat sepenuh hati dan aktif menggunakan
berbagai potensi yang dimilikinya. Keempat, belajar sebagai proses terpadu tidak hanya dapat
dilakukan secara individual dan kompetitif melainkan juga dapat dilaksanakan secara kooperatif.
Kelima, pembelajaran yang diupayakan oleh guru harus mendorong anak untuk belaiar secara
terus-menerus. Keenam, pembelajaran di sekolah harus memberi kesempatan kepada setiap anak
untuk maju berkelanjutan sesuai dengan potensi yang dimiliki dan kecepatan belajar masing-
masing. Ketujuh, belajar sebagai proses yang terpadu memerlukan dukungan fasilitas fisik dan
sekaligus dukungan sistem kebijakan yang kondusif. Kedelapan, belajar sebagai proses terpadu
memungkinkan pembelajaran bidang studi dilakukan secara terpadu. Kesembilan, belaiar sebagai
proses terpadu memungkinkan untuk menjalin hubungan yang baik antara sekolah dengan
keluarga.
                                  KEGIATAN BELAJAR 3
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES DAN HASIL BELAJAR DI SEKOLAH
       Menurut pandangan system, faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar
siswa di sekolah dapat dimasukkan ke dalam komponen sistem yaitu; faktor input, proses dan
output. Masing-masing faktor memiliki subkomponen yang satu sama lain saling berhubungan
dan saling mempengaruhi.
   1. Faktor input mencakup: (a) raw input (masukan dasar) yang menggambarkan kondisi
       individual anak dengan segala karakteristik fisik dan psikis yang dimilikinya, (b)
       instrumental input (masukan instrumental) yang mencakup guru, kurikulum, materi dan
       metode, sarana dan fasilitas, (c) environmental input (masukan lingkungan) yang
       mencakup lingkungan fisik, geografis, sosial dan lingkungan budaya.
   2. Faktor proses pembelajaran menggambarkan bagaimana ketiga jenis input tersebut
       berinteraksi dan saling memberikan pengaruh terhadap aktivitas belajar anak.
   3. Faktor tujuan adalah perubahan tingkah laku yang diharapkan terjadi pada anak setelah
       anak belajar.
       Pandangan lain menyatakan lima unsure yang mempengaruhi kegiatan belajar siswa di
       sekolah, yaitu unsure (1) tujuan, (2) pribadi siswa, (3) bahan pelajaran, (4) perlakuan
       guru, dan (5) fasilitas. Kegiatan belajar siswa merupakan perpaduan dari unsur-unsur
       tersebut. Keberhasilan belajar mungkin akan kurang, jika salah satu dari unsur itu tidak
       memadai keadaannya.
       Di dalam praktiknya, faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan dan hasil belajar siswa
       di sekolah itu sulit dipisah-pisahkan satu sama lain karena semua unsur tersebut akan
       terintegrasi dalam interaksi pembelajaran yang anda upayakan. Interaksi pembelajaran itu
       sendiri akan tampak pada peranan atau perbuatan nyata anda dalam 3 (tiga) hal yaitu (1)
       pengajaran (instruction), (2) kepemimpinan (leadership), dan (3) penilaian (evaluation).




                                  KEGIATAN BELAJAR 4
                            KESULITAN BELAJAR ANAK SD
       Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai
dengan adanya hambatan-hambatan dalam mencapai tujuan atau hasil belajar yang ditetapkan.
       Menurut konsep mastery learning, ada 4 patokan yang digunakan untuk menyatakan
bahwa anak SD mengalami kesulitan belajar yaitu: (1) tujuan pendidikan atau pembelajaran yang
ditetapkan, (2) kedudukan anak di dalam kelompok atau kelasnya, (3) perbandingan antara
potensi dan prestasi, dan (4) kepribadian.
       Gejala-gejala atau indikator anak mengalami kesulitan belajar adalah: (1) nilai hasil
belajar di bawah patokan atau dibawah rata-rata nilai kelas atau kelompoknya; (2) nilai hasil
belajar tidak sesuai dengan nilai-nila di kelas sebelumnya, (3) nilai hasil belajar tidak sesuai
dengan potensi yang dimilikinya, (4) Iambat dalam mengerjakan tugas-tugas belajar,(5)
menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar, (6) menunjukkan tingkah laku berkelainan,(7)
menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar.
       Latar belakang atau faktor-faktor yang menimbulkan kesulitan belajar, dapat
dikembalikan pada faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar anak. Menurut
Abin Syamsuddin (2002) faktor-faktor yang melatarbelakangi kesulitan belajar mencakup:
   1. Faktor Stimulus atau pengalaman belajar, meliputi: (a) Variabel metode, dalam arti
       metode pembelajaran yang digunakan oleh guru dan (b) variabel tugas (task variales).
   2. Faktor Organisme, yaitu anak itu sendiri sebagai individu yang utuh yang
       meliputi: (a) Karakteristik pribadi (b) kondisi psikofisik , yang sedang dialami oleh
       anak pada saat belajar.
   3. Faktor Respon, sebagaimana telah disinggung di atas, meliputi: (a) tujuan kognitif, (b)
       tujuan efektif, dan (c) tujuan tindakan (psikomotor).
                                         MODUL 6
                 PENDEKATAN PEMBELAJARAN SEKOLAH DASAR
                                 KEGIATAN BELAJAR 1
       PENDEKATAN PEMBELAJARAN HOLISTIK DAN KONSTRUKTIVISME
       Peran guru dalam proses memnbelajarkan anak ,semakin penting karena dimasa depan
guru tidak lagi mempakan sumber infomasi atau penyampai pengetahuan kepada anak melainkan
lebih merupakan fasilitator yang mempemudah anak belajar. Cara-cara mengajar konvensional,
sudah selayaknya diperbarui dan dikembangkan. Di sinilah pentingnya pemahaman guru
terhadap berbagai pendekatan dalam pembelajaran.
       Dalam pendekatan holistik atau terpadu, suatu objek akan terlihat maknanya apabila
diamati secara menyeluruh bukan terpisah-pisah. Pendekatan ini merupakan aplikasi pendekatan
dari psikologi Gestalt. Dalam pendekatan pembelajaran, aplikasi Gestalt dapat dilihat, sebagai
berikut.
   1. Pengembangan insight.
   2. Pembelajaran yang bemakna.
   3. Perilaku bertujuan.
   4. Prinsip kesesuaian dengan lingkungan anak.
   5. Transfer dalam pembelajaran.
       Selanjutnya, untuk dapat memperlihatkan proses belajar sebagai proses yang terpadu, ada
11 hal yang perlu diperhatikan. Pertama, pembelajaran berfungsi secara penuh untuk membantu
perkembangan individu seutuhnya. Kedua, pembelajaran merupakan aktivitas belajar anak untuk
memperoleh pengalaman yang menempatkan anak sebagai pusat. Ketiga, pembelajaran
diarahkan untuk memberikan ruang gerak anak secara aktif dan intensif. Keempat, pembelajaran
harus menjamin setiap anak pada posisi yang baik dalam suasana kebersamaan untuk
menyelesaikan proses yang dihadapi. Kelima, pembelajaran sebagai proses terpadu mendorong
anak untuk terus-menerus belajar. Keenam, belajar secara terpadu memberikan kemungkinan
yang luas agar anak belajar dengan irama dan gayanya masing-masing, tentunya dengan
standard-standard yang ditetapkan sendiri-sendiri. Ketujuh, pembelajaran secara terpadu dapat
berfungsi dan berperan secara efektif yang menciptakan lingkungan belajar yang, melihat
berbagai aspek. Kedelapan, pembelajaran terpadu memungkinkan agar pembelajaran bidang
studi tidak harus secara terpisah. Kesembilan, pembelajaran terpadu memungkinkan adanya
hubungan antara sekolah dan keluarga. Pada pendekatan konstruktivisme, individu membentuk
sendiri pengetahuan yang dipelajarinya. Menurut Von Glaserfeld, pengetahuan bukanlah suatu
barang yang dapat dipindahkan dari pikiran seseorang yang sudah mempunyai pengetahuan
(dalam hal ini adalah guru) kepada pikiran orang yang belum memiliki pengetahuan itu (anak).
Anaklah yang menginterpretasikan, serta mengonstruksikan pemindahan pengetahuan tersebut
berdasarkan pengalaman yang mereka miliki masing-masing. Konstruktivisme dibedakan atas 3
level vaitu: Konstruktivisme radikal, realisme hipotesis, dan konstruktivisme yang biasa (jika
dikaitkan dengan hubungan antara pengetahuan dan kenyataan). Selain itu, pandangan
       Konstruktivisme juga menghendaki guru untuk menerapkan pendekatan mengajar yang
berpusat pada anak (student-centered approach). Beberapa hal yang diperlukan untuk
menyokong pendekatan berorientasi pada anak/anak. Pertama, orientasi mengajar tidak hanya
untuk pencapaian prestasi akademik. Kedua, topik-topik yang dipelajari dapat berdasarkan
pengalaman anak yang relevan. Ketiga, metode mengajar harus berorientasi pada anak dengan
sifat yang menyenangkan. Keempat, keselamatan anak untuk bemain dan bekerja sama dengan
orang lain mendapat prioritas. Kelima, bahan pembelajaran dapat diambil dari bahan yang
konkret. Keenam, penilaian tidak hanya terbatas pada aspek kognitif semata. Ketujuh, keenam
hal terdahulu membawa implikasi bagi guru yang harus menampilkan diri sebagai guru dalam
proses pembelajaran, dan bukan hanya sekadar mentransfomasikan pengetahuan kepada anak.

                                  KEGIATAN BELAJAR 1
 PENDEKATAN BELAJAR EXPERIENTIAL LEARNING DAN MULTIPLE INTELLIGENCE

       Akhir-akhir ini, dikenal ada pendekatan pembelajaran kontemporer yang sedang trend
digunakan di Sekolah Dasar. Di antaranya adalah pendekatan Experiential Learning dan Multiple
Intelligence yang masing-masing membawa angin segar bagi inovasi pembelajaran. Kendati
telah teruji secara empirik, penerapan pendekatan pembelajaran tersebut akan sangat bergantung
pada kreativitas Anda sebagai guru. Artinya, keuggulan dari masing-masing pendekatan itu tidak
dapat diterapkan secara langsung melainkan harus disesuaikan kembali sesuai dengan konteks
sosio-budaya Indonesia.
       Gardner (Thomas Amstrong, 1994) melakukan pemetaan kemampuan manusia ke dalam
7 kategori kecerdasan, yaitu kecerdasan bahasa, matematika-logika, pemahaman ruang,
kinestetik, musikal, interpersonal, dan kecerdasan intrapersonal. Menurut Keeton and Tate (Siti
Julaeha, 2007), pendekatan experiential learning mengacu pada proses pembelajaran dimana
pebelajar (anak) secara langsung berinteraksi secara langsung dengan realitas yang dipelajarinya.
Proses belajar melalui penglaman dapat dijelaskan sebagai suatu siklus yang terdiri atas 4 modus
belajar adaptif yaitu pengalaman konkret, observasi felektif, konseptualisasi abstrak, dan
eksperimentasi aktif (Kolb, 1984).
       Pendekatan multiple intelligence pada dasamya menekankan pada hal yang terbaik, yang
dapat dilakukan Anda sebagai guru, di luar penggunaan buku teks, dan papan tulis, yang
diharapkan dapat membangkitkan aktivitas berpikir anak. Ada 7 langkah untuk mengembangkan
kurikulum yang berbasis pendekatan ini, yaitu (1) fokuskan pada topik dan tujuan khusus, (2)
munculkan pertanyaan multiple intelligence, (3) pertimbangkan segala kemungkinan, (4) ada
curah pendapat, (5) pilih aktivitas yang cocok, (6) kembangkan uratan tindakan, dan (7)
implementasikan rencana yang telah dibuat.
                                           MODUL 7
      PENGEMBANGAN DAN MOTIVASI PENDIDIKAN DI SEKOLAH DASAR
                                   KEGIATAN BELAJAR 1
            PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ANAK DI SEKOLAH DASAR
       Arah pengembangan pendidikan Sekolah Dasar (SD) secara horizontal (melebar)
bertujuan agar pendidikan mampu menjangkau semua anak ber-usia SD tanpa kecuali. selain itu,
juga mampu, menjangkau daerah terpencil. Tuntutan pada dimensi pcmerataan dan keadilan ini
pada saat      bersamaan menuntut intensifikasi proses pendidikan (pembelajaran) serta
meningkatnya kualitas dan relevansi hasilnya. Dengan demikian, dalam pelaksanaan
pengembangan dan perluasan kesempatan Sekolah Dasar (SD) ini dituntut strategi yang berbeda-
beda sesuai dengan kriteria daerahnya, seperti daerah terpencil, daerah berpenduduk padat, dan
daerah nomal. strategi dan bentuk pengembangan di daerah tersebut dapat dilakukan melalui
wahana pendidikan yang tercakup dalam empat rumpun pendidikan, yang tentunya dengan
mempertimbangkan kualitas, relevansi, dan efisiensi. Keempat rumpun pendidikan Sekolah
Dasar yang dimaksud ialah (1) rumpun Sekolah Dasar konvensional yang meliputi Sekolah
Dasar Biasa, Sekolah Dasar Kecil, dan Sekolah Dasar Pamong; (2) rumpun Sekolah Dasar Luar
Biasa yang meliputi Sekolah Dasar Luar Biasa, Sekolah Luar Biasa, dan Sekolah Dasar Terpadu;
(3) rumpun pendidikan luar sekolah yang meliputi kejar paket A dan kursus persamaan Sekolah
Dasar: dan (4) rumpun sekolah keagamaan yang meliputi Madrasah Ibtidaiyah dan Pondok
Pesantren. Sementara itu pengembangan vertikal mengandung arti penyelenggaraan pendidikan
Sekolah Dasar selain merupakan perwujudan pendidikan yang adil dan merata juga harus mem-
mempertimbangkan keragaman peserta didik baik dalam aspek kemampuan, pola hidup, maupun
lingkup sosial budaya di mana mereka tinggal. Dengan demikian, pengembangan kualitas,
relevansi, dan efisiensi pendidikan di Sekolah Dasar ini menjadi ciri pengembangan vertikal
pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar.
                                   KEGIATAN BELAJAR 2
                        INOVASI PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
       Inovasi ialah suatu upaya yang sengaja dilakukan untuk memperbaiki praktik pendidikan
dengan sungguh-sungguh. Miles dalam Ibrahim (1988:52) mengungkapkan paling tidak ada 11
komponen penting yang menjadi wilayah inovasi dalam pendidikan. Kesebelas komponen
tersebut, yaitu (1) personalia, (2) banyaknya personal dan wilayah kerja, (3) fasilitas fisik, (4)
penggunaan waktu, (5) perumusan tujuan, (6) prosedur pembelajaran, (17) peran yang
diperlukan, (8) wawasan dan perasaan, (9) bentuk hubungan antarbagian atau mekanisme kerja,
(10) hubungan dengan sistem lain, dan (11) perencanaan strategi pembelajaran.
       Untuk keberhasilan inovasi itu dipandang perlu adanya perencanaan yang matang.
Ibrahim (1988) mengungkapkan elemen-elemen pokok dalam proses perencanaan, yaitu (a)
merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus inovasi, (b) mengidentifikasi masalah, (c)
menentukan kebutuhan, (d) mengidentifikasi sumber penunjang dan penghambat, (e)
menentukan alternatif kegiatan (f) menemukan alternatif pemecahan masalah, (g) menentukan
alternatif pendayagunaan sumber days yang ada, (h) menemukan kriteria untuk memilih
alternatif pemecahan masalah, (i) menentukan alternatif      pengambilan keputusan, dan (j)
menentukan kriteria untuk menilai hasil inovasi.
       Berdasarkan pernikiran di atas dipandang perlu adanya sebuah model dalam inovasi
pendidikan. Model itu ialah model MOPIPPI yang bercirikan terbuka, fleksibel, keseluruhan, dan
hubungan.
       Citra menerapkan inovasi pendidikan di SD disarankan satu alternatif berupa langkah-
langkah praktis dalam penerapan inovasi pendidikan di SD, yaitu (1) buatlah rumusan yang jelas,
(2) gunakan metode atau cara yang memberi kesempatan, (3) gunakan berbagai macam
alternatif, (4) gunakan data atau infomasi yang sudah ada, (5) gunakan tambahan data untuk
mempemudah fasilitas, (6) gunakan pengalaman Sekolah Dasar atau lembaga yang lain, (7)
berbuatlah secara positif, (8) menerima tanggung jawab pribadi, (9) adanya pengorganisasian
kegiatan, dan (10) mencari jawaban atau beberapa pertanyaan dasar tentang inovasi di sekolah
                                             MODUL 8
                                   KONVENSI HAK ANAK
                                   KEGIATAN BELAJAR 1
                             PENGERTIAN KONVENSI HAK ANAK
        Apakah yang sebenarnya dimaksud dengan Konvensi Hak Anak? Tiga kata penting
terdapat dalam Konvensi Hak Anak, yaitu (1) Konvensi, (2) Hak dan (3) Anak. Marilah kita
telaah lebih dulu apa yang sebenarnya dimaksudkan dengan ketiga kata tersebut.


1.   KONVENSI
        Istilah Konvensi atau Kovenan adalah kata yang serupa dengan traktat atau pakta (treaty),
yaitu perjanjiian di antara beberapa negara. Perjanjian ini bersifat mengikat secara yuridis dan
politis. Oleh karena itu, konvensi merupakan suatu hukum internasional atau biasa juga disebut
sebagai “instrument internasional".
2.   HAK
        Kata berikut dari Konvensi Hak Anak adalah hak dan yang dimaksud dengan hak di sini
adalah Hak Asasi Manusia. Apabila kata hak dirangkai dengan kata Anak maka Hak Anak akan
berarti Hak Asasi Manusia untuk Anak. Hak Anak adalah bagian integral dari Hak Asasi
Manusia. Hak Anak adalah semua hal yang harus dimiliki oleh anak supaya bisa tumbuh
(jasmani atau fisiknya) dan berkembang (rohani dan intelektualnya) dengan baik. Jadi, hak-hak
anak bukan hanya pemenuhan kebutuhan dasar, seperti pangan, sandang/pakaian atau
papan/tempat tinggal, tetapi juga mencakup semua hal yang bisa menjamin perkembangan
jasmani dan rohani yang baik (dalam mewujudkan Hak-hak Anak Indonesia).
Secara lebih terperinci, yang dimaksud dengan hak adalah berikut ini.
     a. Segala sesuatu yang melekat pada diri seseorang semenjak lahir. Misalnya, hak untuk
        mendapat perawatan jasmani dan rohani yang memadai, hak untuk berkembang dengan
        baik secara fisik dan psikologis
     b. Segala hal yang menimbulkan kewajiban terhadap orang lain sekaligus menimbulkan
        kewajiban terhadap pemilik hak tersebut agar tidak melanggar hak-hak orang lain yang
        sama. Misalnya, dalam suatu diskusi orang lain mempunyai hak untuk mengemukakan
        pendapat, dan saya harus menghomati haknya walaupun saya tidak setuju dengan
        pendapat tersebut.
          Dalam panduan dasar tentang citra anak Indonesia, telah dirumuskan ASTA CITRA
ANAK INDONESIA (Penjabaran Konvensi PBB tentang Hak-Hak Anak dalam Hukum
Nasional). Dalam kaitan dengan Konvensi Hak Anak, Asta Citra Anak Indonesia mungkin bisa
diinterpretasikan sebagai ‘kewajiban’ anak Indonesia. Lihatlah butir-butir yang tercantum dalam
Sastra.
Citra Anak Indonesia tersebut adalah berikut ini.
     a. Rajin beribadah
     b. Homat dan berbakti kepada orang tua dan guru
     c. Jujur dan cakap dalam membawa diri serta peka diri dan peka akan seni
     d. Pandai membaca dan menulis serta rajin belajar dan bekerja
     e. Terampil, penuh prakarsa, rajin berkarya mengejar prestasi dan berjiwa gotong-royong
     f. Mandiri, penuh semangat, berdisiplin dan bertanggung jawab
     g. Sehat dan berhati riang, penuh keyakinan dan usaha menghadapi masa depan
     h. Cinta tanah air


3.   ANAK
Menurut pasal 1 KHA, “anak adalah setiap orang yang berusia di bawah 18 tahun, kecuali
berdasarkan undang-undang yang berlaku bagi anak ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih
awal”.
Berdasarkan pengertian di atas maka masa anak berakhir ketika anak mencapai ulang tahunnya
yang ke-18, kecuali apabila undang-undang nasional suatu Negara tertentu menentukan batasan
usia dewasa yang berbeda.


                                   KEGIATAN BELAJAR 2
                          LATAR BELAKANG KONVENSI HAK ANAK
Latar belakang perkembangan Konvensi Hak Anak.
1923 Eglantine Jebb membuat rancangan Deklarasi Hak Anak.
1924 Deklarasi Hak Anak diadopsi oleh Liga Bangsa-Bangsa.
1948 Majelis Umum PBB mengadopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.
1945 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dibentuk.
1959 PBB mengadopsi Hak Anak untuk kedua kalinya.
1979 Tahun Anak Internasional.
Pembentukan kelompok kerja untuk merumuskan Konvensi Hak Anak.
1989 Konvensi Hak Anak di dadopsi oleh Umum PBB.
1990 Konvensi Hak Anak diberlakukan hukum Internasional pada tanggal 2 September
                                KONVENSI HAK-HAK ANAK
Disetujui oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 20 November 1989
                                         MUKADIMAH
Negara-negara Peserta/Penanda tangan Konvensi
       Mengingat bahwa sesuai dengan prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam piagam PBB,
pengakuan atas martabat yang melekat dan hak-hak yang sama dan tidak dapat dicabut yang
dimiliki oleh seluruh anggota keluarga manusia merupakan landasan dari kemerdekaan, keadilan
dan perdamaian di seluruh dunia,
       Mengingat bahwa suku-suku bangsa dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa telah
menegaskan lagi dalam Piagam itu keyakinan mereka pada hak-hak asasi manusia dan pada
harkat martabat manusia, dan bertekad meningkatkan kemajuan sosial dan taraf kehidupan daiam
kemerdekaan yang lebih luas,
       Menyadari bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam Deklarasi Sedunia tentang Hak-hak
Asasi Manusia, dan dalam Perjanjian-perjanjian Internasional Hak-hak Asasi Manusia, telah
menyatakan dan menyetujui bahwa setiap orang berhak atas seluruh hak dan kemerdekaan yang
dinyatakan di dalamnya, tanpa perbedaan dalam bentuk apa pun, seperti perbedaan ras, warna
kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pandangan politik dan pandangan lain, asal-usul bangsa dan
sosial, harta kekayaan, kelahiran dan status lain.
       Meyakini bahwa keluarga, sebagai kelompok inti dari masyarakat dan sebagai
lingkungan Yang alami bagi pertumbuhan dan kesejahteraan seluruh anggotanya dan khususnya
anak-anak, hendaknya diberi perlindungan dan bantuan yang diperlukan sehingga keluarga
mampu mengemban tanggung jawabnya dalam masyarakat,
       Menyadari bahwa anak, demi pengembangan kepribadiannya secara penuh dan serasi,
hendaknya tumbuh kembang dalam suatu lingkungan keluarga, dalam suatu lingkungan yang
bahagia, penuh kasih sayang dan pengertian,


       Menimbang bahwa anak harus sepenuhnya dipersiapkan untuk menghayati kehidupan
pribadi dalam masyarakat dan dibesarkan dalam semangat cita-cita yang dinyatakan dalam
Piagam PBB, dan khususnya dalam semangat perdamaian, bemartabat, tenggang rasa,
kemerdekaan, persamaan, dan kesetiakawanan.
       Mengingat bahwa perlunya perluasan pelayanan khusus bagi anak telah dinyatakan dalam
Deklarasi Geneva tentang Hak-hak Anak tahun 1924 dan dalam Deklarasi Hak-hak Anak yang
disetujui oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1959 dan diakui daiam Deklarasi Hak-hak Asasi
Manusia Sedunia, dalam perjanjian Internasional mengenai Hak-hak Sipil dan Politik (khususnya
Pasal 23 dan 24), dalam Perjaniian Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya
(khususnya pasal 10) dan dalam ketentuan-ketentuan dan instrument-instrumen terkait dari
badan-badan khusus dan organisasi-organisasi Internasional yang berkepentingan dengan
kesejahteraan anak,
       Mengingat bahwa sebagaimana disebutkan dalam Deklarasi Hak-hak Anak "anak konkret
ketidakmatangan jasmani dan mentalnya, memerlukan pengamanan dan pemeliharaan khusus,
temasuk perlindungan hukurn yang layak, sebelum dan sesudah kelahiran",
       Mengingat ketentuan-ketentuan Deklarasi Prinsip-prinsip Sosial dan Hukum sehubungan
dengan Perlindungan dan Kesejahteraan Anak, dengan Rujukan Khusus pada Penempatan
sebagai anak angkat dan adopsi secara Nasional dan Internasional, ketentuan-ketentuan
Minimum PBB yang Baku bagi Pelaksanaan Peradilan anak (ketentuan-ketentuan Beijing) dan
Deklarasi tentang perlindungan terhadap Wanita dan Anak dalam keadaan darurat dan
persengketaan bersenjata,
       Mengakui bahwa, disemua Negara di dunia, ada anak-anak yang hidup dalam keadaan
yang sulit, dan bahwa anak-anak seperti itu membutuhkanperhatian khusus,
Memperhatikan pentingnya nilai-nilai tradisi dan budaya dari setiap bangsa demi perlindungan
dan pengembangan anak yang serasi,
       Mengakui pentingnya kerja sama Internasional untuk meningkatkan kondisi kehidupan
anak di setiap Negara, khususnya di Negara-negara berkembang,




                              TUGAS III
                  PENDIDIKAN ANAK DI SEKOLAH DASAR
     Disusun Oleh :
Nama         : Muhammad Nur Rochman
NIM          : 81477929
Program      : SI PGSD




UNIVERSITAS TERBUKA
 UPBJ YOGYAKARTA
                                          MODUL 9

                            Konvensi Hak Anak dan Pendidikan

                                     Kegiatan Belajar 1

                                  Jenis-jenis Hak Anak
Konvensi Hak Anak terdiri dari banyak pasal tetapi merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat
dipecah-pecah dan pasal-pasalnya saling bergantung.

Berdasarkan struktur, KHA dibagi menjadi 4 bagian sebagai berikut:
Mukadimah (Preambule)                   : berisi konteks KHA;
Bagian Satu ( Pasal 1 - 41 )            : mengatur hak bagi semua anak
Bagian Dua ( Pasal 42 – 45 )            : mengatur masalah pemantauan dan pelaksanaan
                                          KHA;
Bagian Tiga ( pasal 46 – 54 )           : mengatur masalah pemberlakuan Konvensi.

Berdasarkan isinya, ada 4 kategori KHA – Sahabat Remaja & UNICEF sbaga berikut :
- Pertama, kategori KHA yang mengandung:

    1. Hak-hak sipil dan politik
    2. Hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya.

-    Kedua, pihak yang melaksanakan KHA (Negara) dan yang bertanggung jawab
    (orang dewasa), ada 3 kunci akan membantu memahami isi KHA, yaitu :

    1. Penuhi (fulfill)
    2. Lindungi (protect)
    3. Hargai (respect)

-   Ketiga, kategori yang sudah dikenal sebagai berikut:

    1.   Hak atas kelangsungan hidup (survival)
    2.   Hak untuk berkembang (development)
    3.   Hak untuk perlindungan protection)
    4.   Hak untuk berpartisipasi dalam bermasyarakat (participation)

    Keempat, KHA dikelompokkan menjadi 8 kategori sebagai berikut:

    1.   Langkah-langkah implementasi umum.
    2.   Definisi anak.
    3.   Prinsip-prinsip umum.
    4.   Hak sipil dan kemerdekaan.
    5.   Lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif.
    6.   Kesehatan dan kesejahtera dasar
    7.   Pendidikan, waktu luang dan kegiatan budaya.
    8.   Langkah-langkah perlindungan khusus.
                               Kegiatan Belajar 2

                   Konvensi Hak Anak dan pendidikan

    Pendidikan sebagai hak sosial dan budaya oleh Konvensi Hak Anak ditambah
dengan dimensi moral dan etis, yaitu menguatkan hak-hak anak untuk memeperoleh
pendidikan tanpa diskriminasi, yang sepenuhnya menghargai identitas budaya serta
kebutuhan budaya anak.
    Ada 3 pasal dalam KHA yang membahas ketentuan mengetahui menegenai
masalah pendidikan, waktu luang, dan kegiatan budaya bagi anak, yaitu pasal 28, 29
dan 31.
    Pada intinya, pendidikan dasar merupakan hak semua anak, dan wajib disediakan
oleh negara serta tersedia cuma-guma untuk semua anak. Pendidikan menengah dalam
berbagai bentuk serta pendidikan tinggi juga harus diusahakan agar dapat diperoleh
anak, dengan bantuan finansial dari negara apabila diperlukan.
    Tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan kepribadian, bakat dan
kemampuan anak seoptimal mungkin, mengembangkan rasa hormat terhadap hak-hak
asasi manusia, mempersiapkan anak untuk hidup yang bertanggung jawab dalam
masyarakat yang bebas serta pluralis, dan menghormati orang tua, identitas budaya,
serta nilai-nilai mereka, serta lingkungan alam.
    Anak mempunyai hak untuk beristirahat dan bersantai, bermain dan turut serta
dalam kegiatan rekreasi serta kehidupan budaya dan seni.
                                          MODUL 10

                            Implikasi Hak Anak di Sekolah Dasar

                                    Kegiatan Belajar 1

                  Implikasi Pelaksanaan Hak Anak pada pembelajaran SD

Dalam belajar ada 3 istilah yang harus dilaksanakan di sekolah, kurikuler, kokurikuler, dan
ekstrakurikuler. Ketiganya dalam pelaksanaannya tidak dapat dilepaskan dari peran anak dan
guru. Anak berinteraksi dengan teman, orangtua atau masyarakat juga menunjukkan peran
mereka dalam kegiatan tersebut diatas.

     A. PENGERTIAN KURIKULER, KOKURIKULER DAN EKSTRAKURIKULER

 -    Kurikuler merupakan kegiatan yang berkaitan dengan kurikulum, berkaitan dengan
      pembelajaran di sekolah bahkan dikelas.
 -    Kokurikuler merupakan rangakaian kegiatan siswa di dalam sekolah atau dalam kelas saat
      pelajaran berlangsung.
 -    Ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang dilaksanakan diluar kegiatan sekolah atau di luar
      jam pelajaran yang tercantum dalam dakan program sesuai kebutuhan sekolah. Kegiatan ini
      membantu siswa dalam mengembangkan potensi, bakat dan minat yang ada dalam dirinya.

     B. TUJUAN DILAKUKAN KEGIATAN KOKURIKULER DAN
        EKSTRAKURIKULER

      Kegaiatan kokurikuler diadakan untuk lebih menjelaskan suatu pokok bahsan kepada anak,
misal pelajaran IPS anak diajak kekantor kalurahan melihat fungsi kelurahan bagi masyarakat.
Istilah kokurikuler jarang di digunakan, yang lebih sering adalah kurikuler dan ekstrakurikuler.

     Kegiatan ekstrakurikuler ini dselenggarakan untuk mengaitklan pelajaran yang diperoleh
dalam program kurikuler dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan. Keguatan ekstrakurikuler
ini menuju pada suatu arah memantapkan kepribadian anak melalui kegiatan, seperti Pramuka,
UKS,PMR,Kesenian dan Ketrampilan. Kegiatan ekstrakurikuler ini dilaksanakan secara sukarela
sesuai minat dan kemampuan siswa.

     C. PELAKSANAAN HAK ANAK DALAM KURIKULER - KOKURIKULER –

       EKSTRAKURIKULER

       Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
Peraturan Pemerintah no. 25 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional ( 2004-2009) dicantumkan antara lain :

 1. Meningkatkan Iman, Taqwa dan Akhlak Mulia.
 2. Meningkatkan Ilmu penengetahuan dan Teknologi
 3. Meningkatkan sensitivitas dan kemampuan ekspresi estetis
4. Meningkatakan kualitas jasmani
5. Meningkatkan pemerataan belajar pada semua jenjang pendidikan secara adil dan merata
   tanpa membedakan status pribadi.
6. Memperluas akses pendidikan non formal bagi penduduk laki-laki dan perempuan yang
   belum sekolah, tidak sekolah,buta aksara dan putus sekolah, ini semua dadalah implikasi
   dari konvensi hak anak untuk mendapatkan kesempatan belajar.



                                   Kegiatan Belajar 2

   Contoh-contoh Pelanggaran Hak Anak di Sekolah Dasar

   Mutu Pendidikan

   1.   Tenaga pendidik dan tenaga kependidikan belum memadai secara kualitas dan kuantitas.
   2.   Sarana dan prasarana belajar yang terbatas dan belum didayagunakan secara optimal.
   3.   Kondisi sekolah yang rusak.
   4.   Dana Pendidikan yang masih rendah untuk menunjang mutu pendidikan.
   5.   Proses pembelajaran yang belum efisien dan efektif.
   6.   Pelaksanaan pendidikan inklusif masih belun sesuai dengan kebijakan pemerintah.
   7.   Adanya tindak kekkerasan di sekolah terhadap siswa oleh guru, pengelola kelas dan
        teman-temannya.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1586
posted:7/25/2012
language:
pages:32
About Hey there!I am new to the site am looking for blogs to guest blog on/for. I am pretty open when it comes to writing but would be most comfortable writing about beauty, fashion, home, or lifestyle.