TINJAUAN ANTROPOLOGI DAN SOSIOLOGI ISLAM by roeslandy

VIEWS: 60 PAGES: 4

									TINJAUAN ANTROPOLOGI DAN SOSIOLOGI ISLAM
Diposkan oleh NoVaIRi HuSaINi Al-MunDzirI

       Sosiologi merupakan sebuah istilah yang berasal dari kata latin, socius yang artinya
teman, dan logos dari kata yunani yang berarti cerita, diungkapkan pertama kalinya dalam buku
yang berjudul “Cours De Philoshophie Positive” karangan August Comte (1798-1857).
Sosiologi muncul sejak ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu. Namun sosiologi sebagai ilmu
yang mempelajari masyarakat baru lahir kemudian di Eropa.

A.MAKNA PENELITIAN ANTROPOLOGI DAN SOSIOLOGI AGAMA

       Dewasa ini telah muncul suatu kajian agama yang menggunakan antropologi dan
sosiologi sebagai basis pendekatannya. Berbagai pendekatan dalam memahami agama yang
selama ini digunakan dipandang harus dilengkapi dengan pendekatan antropologi dan sosiologi
tersebut. Berbagai pendekatan dalam memahami agama yang ada selama ini antara lain
pendekatan teologis, normatif, filosofis, dan historis.

        Melalui pendekatan antropologi sosok agama yang berada pada dataran empirik akan
dapat dilihat serat-seratnya dan latar belakang mengapa ajaran agama tersebut muncul dan
dirumuskan. Antropologi berupaya melihat antara hubungan agama dengan berbagai pranata
sosial yang terjadi di masyarakat. Penelitian hubungan antara agama dan ekonomi melahirkan
beberapa teori yang cukup menggugah minat para peneliti agama. Dalam berbagai penelitian
antropologi agama dapat ditemukan adanya hubungan yang positif antara kepercayaan agama
dengan kondisi ekonomi dan politik. Menurut kesimpulan penelitian antropologi, golongan
masyarakat kurang mampu dan golongan miskin lain pada umumnya lebih tertarik kepada
gerakan keagamaan yang bersifat mesianis, yang menjanjikan perubahan tatanan sosial
kemasyarakatan. Sedangkan golongan kaya lebih cenderung untuk mempertahankan tatanan
masyarakat yang sudah mapan secara ekonomi lantaran tatanan tersebut menguntungkan
pihaknya.

      Uraian di atas memperlihatkan bahwa pendekatan antropologi, dengan jelas dapat
mendukung menjelaskan bagaimana suatu fenomena agama itu terjadi.

        Dengan menggunakan pendekatan dan perspektif antropologi tersebut di atas dapat
diketahui bahwa doktrin-doktrin dan fenomena-fenomena keagamaan ternyata tidak berdiri
sendiri dan tidak pernah terlepas dari jaringan institusi atau kelembagaan sosial kemasyarakatan
yang mendukung keberadaannya. Inilah makna dari penelitian antropologi dalam memahami
gejala-gejala keagamaan.

        Selanjutnya, kita lihat mengenai makna pendekatan sosiologi dalam memahami agama.
Diketahui bahwa sosiologi merupakan ilmu yang membahas sesuatu yang telah teratur dan
terjadi secara berulang dalam masyarakat. Dalam tinjauan sosiologi masyarakat dilihat sebagai
suatu kesatuan yang didasarkan pada ikatan-ikatan yang sudah teratur dan boleh dikatakan stabil.
       Sehubungan dengan ini, dengan sendirinya masyarakat merupakan kesatuan yang dalam
bingkai strukturnya (proses sosial) diselidiki oleh sosiologi.

      Dalam pandangan kaum sosiolog, agama lebih lanjut dibuktikan memiliki fungsi yang
amat penting. Dalam hubungan ini, paling kurang ada enam fungsi agama bagi kehidupan
masyarakat.

       Pertama, agama dapat memenuhi kebutuhan –kebutuhan tertentu dari manusia yang tidak
dapat dipenuhi oleh lainnya. Seorang Sarjana Ekonomi Amerika pernah menulis buku dengan
judul yang amat provokatif, yaitu Janji-janji untuk kehidupan manusia. Menurutnya, janji-janji
itu adalah kredit. Fakta menunjukkan bahwa sirkulasi sumber kehidupan dari suatu sistem
ekonomi tergantung dari apakah manusia satu sama lain dapat saling menaruh kepercayaan
bahwa mereka akan memenuhi kewajiban-kewajiban bersama dibidang keuangan. Keharusan
orang-orang menepati janji-janji tersebut diperintahkan dalam ajaran agama.

       Kedua, agama dapat berperan memaksa orang untuk menepati janji-janjinya. Diketahui
bahwa beberapa jenis persetujuan bersama atau consensus mengenai kewajiban-kewajiban yang
sangat penting ini, begitu juga mengenai adanya kekuatan yang memaksa orang-orang dan
pihak-pihak yang bersangkutan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut, minimal
diperlukan untuk mempertahankan ketertiban masyarakat.

       Ketiga, bahwa agama dapat membantu mendorong terciptanya persetujuan mengenai sifat
dan isi kewajiban-kewajiban sosial tersebut dengan memberikan nilai-nilai yang berfungsi
menyalurkan sikap-sikap para anggota masyarakat dan menetapkan kewajiban-kewajiban sosial
mereka. Dalam peranan ini agama telah membantu menciptakan sistem-sistem nilai sosial yang
terpadu dan utuh.

       Keempat, agama berperan membantu merumuskan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi
oleh manusia dan diperlukan untuk menyatukan pandangannya.

        Kelima, agama pada umumnya menerangkan fakta-fakta bahwa nilai-nilai yang ada
hampir semua masyarakat bukan sekedar nilai yang bercampur aduk tetapi membentuk tingkatan
(hirarki). Dalam hirarki ini agama nilai-nilai yang tertinggi. Nilai-nilai yang tertinggi, berikut
implikasinya dalam bentuk tingkah laku, memperoleh arti dalam agama.

       Keenam, agama juga telah tampil sebagai yang memberikan standar tingkah laku, yaitu
berupa keharusan-keharusan yang ideal yang membentuk nilai-nilai sosial yang selanjutnya
disebut sebagai norma-norma sosial.

B. MODEL PENELITIAN ANTROPOLOGI AGAMA

       Penelitian di bidang antropologi agama antara lain dilakukan oleh seorang antropolog
bernama Clifford Geertz pada tahun 1950-an. Hasil penelitiannya itu telah dituliskan dalam buku
berjudul The Religion Of Java. Model penelitian yang dilakukan Geertz adalah penelitian
lapangan dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini didasarkan pada data-data yang
dikumpulkan melalui wawancara, pengamatan, survey, dan penelitian Grounded Research, yakni
penelitian yang penelitinya terlibat dalam kehidupan masyarakat yang ditelitinya.

       Dari segi waktu yang digunakan untuk penelitian tersebut selama tiga tahap.

       Tahap pertama, antara September 1951 sampai 1952, persiapan yang intensif dalam
bahasa Indonesia (yakni melayu) dilakukan di Universitas Havard, mula-mula di bawah
Professor Isadora Dyen dan kemudian di bawah Tuan Rufus Hendon, yang kemudian hari
menjadi direktur proyek, dengan bantuan orang-orang Indonesia. Waktu antara bulan juli sampai
Oktober 1952 dipergunakan di Negeri Belanda, mewawancarai sarjana-sarjana Belanda yang ahli
tentang Indonesia di Universitas leiden dan di Tropical Institut di Amsterdam.

       Tahap kedua, dari bulan Oktober 1952 sampai Mei 1953 dipergunakan terutama di
Yogyakarta, tempat ia mempelajari bahasa Jawa, dengan mempergunakan mahasiswa-mahasiswa
Universitas Gajah Mada, dan memperoleh sejumlah pengetahuan umum mengenai kebudayaan
dan kehidupan kota Jawa. Selama masa ini, satu setengah bulan lamanya dihabiskan juga untuk
mewawancarai pemimpin-pemimpin agama dan politik di ibu kota Negara, Jakarta, sambil
mengumpulkan statistik dan menyelidiki organisasi birokrasi pmerintah pada umumnya dan
Departemen Agama pada khususnya.

        Tahap ketiga, antara Mei 1953 sampai September 1954, merupakan masa penelitian
lapangan yang sesungguhnya, dan dilakukan di Mojokuto. Ia dan istrinya sepanjang masa itu
tinggal di rumah seorang buruh kereta api di ujung kota, rumah itu sebenarnya tidak terletak di
desa Mojokuto, tetapi di desa sebelahnya, yang hanya bersifat kota di bagian tenggaranya.

       Semua kegiatan, temasuk wawancara dengan para informan, ia lakukan dengan
menggunakan bahasa jawa, kecuali beberapa pelajar yang sangat nasionalistik dan lebih senang
berbahasa Indonesia (Melayu).

       Selanjutnya, dari segi informan yang digunakan sebagai sampel dalam penelitiannya itu,
Geertz megatakan bahwa ia melakukan banyak kegiatan sistematis dan lama dengan informan-
informan tertentu mengenai suatu topik , baik dirumah mereka sendiri maupun di kantor.

      Sedangkan pendekatan analisisnya sebagaimana tersebut di atas adalah dengan
menggunakan kerangka teori yang terdapat dalam ilmu antropologi. Dengan pendekatan ini,
fenomena keagamaan yang terjadi di daerah Jawa dapat di jelaskan dengan baik.

        Dengan memperhatikan uraian tersebut di atas, dapat kiranya disimpulkan bahwa model
penelitian antropologi agama yang dilakukan Geertz dapat di jadikan model atau bahan
perbandingan bagi para peneliti selanjutnya. Hal ini, karena secara metodologi dan konseptual
penelitian yang dilakukan Geertz tergolong penelitian yang lengkap dan memenuhi prosedur
penelitian lapangan yang baik.

C. MODEL PENELITIAN SOSIOLOGI AGAMA
           Penelitian sosiologi agama pada dasarnya adalah penelitian tentang agama yang
   mempergunakan pendekatan ilmu sosial (sosiologi). Dalam kaitan ini, berbagai persoalan yang
   terdapat dalam ilmu sosial dilihat secara seksama dalam hubungannya dengan agama. Dalam
   penelitian ini dapat dilihat agama yang terdapat pada masyarakat industri modern, agama pada
   lapisan masyarakat yang berbeda-beda, agama yang dikembangkan pada kalangan penguasa,
   politikus, dan lain sebagainya.

          Agama yang terdapat dalam doktrin kitab suci merupakan Das Sollen, sesuatu yang
   harusnya terjadi. Sedangkan agama yang terdapat dalam kenyataan adalah Das Sein, sesuatu
   yang tampak terjadi di lapangan. Antara agama yang terdapat pada dataran Das Sein dengan
   yang terdapat pada Das Sollen bisa saja terjadi kesenjangan. Inilah yang selanjutnya yang
   dianggap sebagai problema yang harus didekati dengan melakukan berbagai kegiatan
   pembaharuan melalui jalur pendidikan, dakwah, pembinaan, dan sebagainya.

          Mengenai metodologi penelitian sosiologi agama lengkap dengan perangkatnya pada
   dasarnya sama dengan langkah-langkah dalam penelitian antropologi agama.hal ini tidak
   mengherankan karena antropologi sering dikelompokkan sebagai salah satu cabang dari
   sosiologi.

                                          KESIMPULAN

           Suatu hal yang perlu dicatat, bahwa suatu hasil penelitian bidang sosiologi agama bisa
   saja berbeda dengan agama yang terdapat dalam doktrin kitab suci. Sosiologi agama bukan
   mengkaji benar atau salahnya suatu ajaran agama, tetapi yang dikaji adalah bagaimana agama
   tersebut dihayati dan diamalkan oleh pemeluknya. Dalam kaitan ini, dapat terjadi apa yang ada
   dalam doktrin kitab suci berbeda dengan apa yang ada dalam kenyataan empirik. Para sosiolog
   membuat kesimpulan tentang agama dari apa yang terdapat dalam masyarakat. Jika suatu
   pemeluk agama terbelakang dalam bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, kesehatan, kebersihan,
   dan lain sebagainya, kaum sosiolog terkadang menyimpulkn bahwa agama dimaksud merupakan
   agama untuk orang-orang yang terbelakang. Kesimpulan ini mungkin akan mengagetkan kaum
   tekstual yang melihat agama sebagaimana yang terdapat dalam kitab suci yang memang diakui
   ideal.

                                       DAFTAR PUSTAKA

 Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 1998)

 Abdullah, Amin, Studi Agama, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 1996), cet. I

								
To top