Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA DAN REMEDIAL TEACHING PADA PESERTA DIDIK MIM KRANGGAN MANISRENGGO KLATEN

VIEWS: 507 PAGES: 65

KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA DAN REMEDIAL TEACHING PADA PESERTA DIDIK MIM KRANGGAN MANISRENGGO KLATEN

More Info
									KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA DAN REMEDIAL
TEACHING PADA PESERTA DIDIK MIM KRANGGAN
               MANISRENGGO KLATEN

   Difficulties Of Mathematic Learning and Remedial Teaching
      For Students in MIM Kranggan Manisrenggo Klaten




                         Disusun oleh
                    SUMIRAH MARYANI
                     NIMKO : 07422055




              PROGRAM ALIH JALUR
            PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
          FAKULTAS ILMU AGAMA ISLAM
          UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
                 YOGYAKARTA
                           LEMBAR PERNYATAAN


Yang bertanda tangan dibawah ini :


       Nama                 : SUMIRAH MARYANI
       NIM                  : 07422055
       Program Studi        : Pendidikan Agama Islam
       Fakultas             : Ilmu Agama Islam
       Judul Skripsi        : Kesulitan Belajar Matematika Dan Remedial Teaching
                              Pada Peserta Didik MIM Kranggan Manisrenggo
                              Klaten


       Dengan ini menyatakan bahwa hasil penulisan Skripsi ini merupakan hasil karya
sendiri dan benar keasliannya. Apabila ternyata dikemudian hari penulisan Skripsi ini
merupakan hasil plagiat atau penjiplakan terhadap karya orang lain, maka saya bersedia
mempertanggungjawabkan sekaligus bersedia menerima sanksi berdasarkan aturan tata
tertib yang berlaku di Unversitas Islam Indonesia.
       Demikian, pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan tidak dipaksakan.




                                                                 Penulis




                                                           Sumirah Maryani
                                      ABSTRAK

    KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA DAN REMEDIAL TEACHING
    PADA PESERTA DIDIK MIM KRANGGAN MANISRENGGO, KLATEN

             Difficulties Of Mathematic Learning and Remedial Teaching
                 For Students in MIM Kranggan Manisrenggo Klaten


                                Oleh Sumirah Maryani
                                  NIMKO. 07422055


        Penelitian ini bertujan untuk mengetahui kesulitan-kesulitan belajar dan teknik-
teknik remedial teaching pada peserta didik Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah
Kranggan, Manisrenggo, Klaten. Subjek penelitian ini adalah masyarakat sekitar
Madrasah yang berjumlah 16 orang, kepala madrasah, 4 orang guru Matematika, 16
orang tua peserta didik dan 16 peserta didik. Pengambilan data dalam penelitian ini
menggunakan 3 metode yaitu angket, wawancara, dan dokumentasi.
        Hasil penelitian ini adalah (1) kesulitan belajar matematika yang dialami oleh
peserta didik Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kranggan beraneka ragam yang
disebabkan oleh 2 faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal antara
lain : peserta didik belum menguasai hitung dasar basis sepuluh serta malas belajar.
Faktor eksternal kesulitan belajar Matematika antara lain : kurang maksimalnya guru
menggunakan berbagai alat peraga, terbatasnya sarana dan prasarana, keterbatasan
kemampuan orang tua peserta didik dalam membimbing belajar Matematika dan adanya
tempat permainan Play Station (PS) yang ada disekitar madrasah. (2) upaya guru
Matematika mengatasi kesulitan belajar adalah : (a) mengadakan tambahan pelajaran /
les di sekolah, (b) pendekatan dan pengarahan kepada orang tua peserta didik, (c)
penggunaan berbagai metode pembelajaran dan, (d) memberikan pembelajaran remedial.
(3) teknik remedial teaching yang diberikan oleh guru Matematika di Madrasah
Ibtidaiyah Muhammadiyah Manisrenggo, kurang bervariasi yang mengakibatkan peserta
didik mudah jenuh dalam mengikuti pelajaran Matematika.

Key Words : Kesulitan belajar Matematika, remedial teaching.
                                KATA PENGANTAR




       Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Kesulitan
Belajar Matematika Dan Remedial Teaching Pada Peserta Didik MIM Kranggan
Manisrenggo Klaten”.
       Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak menghadapi kesulitan-kesulitan
baik dalam melakukan penelitian maupun dalam penyusunan, disebabkan terbatasanya
pengetahuan dan kemampuan yang penulis miliki. Berkat bantuan dari banyak pihak
penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan.
        Atas terselesaikannya skripsi ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ayah,ibu dan suami yang telah memberikan bantuan material maupun spiritual.
2. Bapak Ahmad Darmaji, Dr.Drs.,M.Pd. selaku Ketua Jurusan.
3. Bapak Dr. Drs. H. Muhammad Idrus, S.Psi. M.Pd. selaku Dosen Pembimbing.
4. Bapak ibu dosen di lingkungan Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam
   Indonesia.
5. Kepala Sekolah, guru, dan siswa Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kranggan
   yang telah memberikan informasi, data dalam penulisan skripsi ini.
6. Semua pihak yang telah membantu baik langsung maupun tidak langsung dalam
   penulisan skripsi ini.
Semoga amal ibadah mereka diterima oleh Allah SWT dan mendapat imbalan, pahala
sesuai dengan amal kebaikannya.
       Akhirnya penulis sangat mengharapkan saran dan kritik untuk kebaikan skripsi
ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa.

                                                                 Penulis
                                                           Sumirah Maryani
                                         MOTTO




Allah pasti akan mengangkat orang-orang yang beriman dan berpengetahuan di
antaramu beberapa tingkat lebih tinggi
                                                          (Q.S. Al-Mujaadilah : 11)




Jadilah hamba Allah yang ikhlas karena kamu mengajarkan Al Kitab dan
mempelajarinya.
                                                          (Q.S. Ali Imran : 79)




Barang siapa buta hatinya di dunia ini, diakhirat pun ia akan buta pula dan lebih sesat
lagi.
                                                          (Q.S. Al-Israa’ : 72)
UII Qur’an Karim dan Terjemahan Artinya. Yogyakarta, UUI Press. 2005. hal 987, 105, 509




                                       PERSEMBAHAN




                                                  Skripsi ini kupersembahkan untuk :
                                                  1. Bapak dan Ibu tercinta.
                                                  2. Suamiku tercinta
                                                  3. Anakku tersayang
                                                  4. Almameter Universitas Islam Indonesia
                                                  5. Pembaca yang budiman
                                                        DAFTAR ISI


Halaman Judul ...................................................................................................          i
Halaman Pernyataan ..........................................................................................              ii
Halaman Pengesahan .........................................................................................               iii
Abstraks .............................................................................................................     iv
Kata Pengantar ...................................................................................................         v
Halaman Motto ...................................................................................................          vi
Halaman Persembahan .......................................................................................                vii
Daftar Isi .............................................................................................................   viii
BAB I            PENDAHULUAN ...........................................................................                   1
                 A. Latar Belakang Masalah ..............................................................                  1
                 B. Rumusan Masalah ......................................................................                 5
                 C. Tujuan Penelitian .......................................................................              5
                 D. Manfaat Penelitian .....................................................................               6
                 E. Keaslian Penelitian ....................................................................               6
BAB II LANDASAN TEORI .......................................................................                              8
                 A. Kesulitan Belajar ........................................................................             8
                      1. Pengertian kesulitan belajar .................................................                    8
                      2. Keadaan kesulitan belajar .....................................................                   9
                      3. Gejala kesulitan belajar ........................................................                 9
                      4. Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar ............................                             10
                      5. Latar belakang kesulitan belajar .........................................                        12
                      6. Teknik-teknik kesulitan belajar ...........................................                       15
                 B. Remedial Teaching ....................................................................                 16
                      1. Pengertian remedial teaching ...............................................                      16
                      2. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam remedial
                            teaching ................................................................................      17
                      3. Tujuan dan fungsi pengajaran remedial ................................                            17
                   4. Pelaksanaan remedial teaching ............................................                       18




              C. Pengajaran Matematika ..............................................................                  19
                   1. Pengertian pengajaran matematika ......................................                          19
                   2. Pentingnya pengajaran matematika .....................................                           19
                   3. Tujuan pengajaran matematika ............................................                        19
                   4. Ruang lingkup pembelajaran matematika ............................                               20
                   5. Metode pengajaran matematika ...........................................                         20
BAB III METODE PENELITIAN ................................................................                             22
              A. Deskripsi Operasional Variabel .................................................                      22
              B. Metode Penentuan Subjek .........................................................                     22
              C. Alat Pengambilan Data ..............................................................                  23
BAB IV HASIL PENELIITIAN ....................................................................                          24
              A. Gambaran Umum MI Muhammadiyah Kranggan, Manisrenggo
                   Klaten. .........................................................................................   24
                        6. Letak geografis ..............................................................              24
                        7. Sejarah singkat berdirinya .............................................                    25
                        8. Visi, misi dan tujuan ......................................................                26
                        9. Struktur organisasi ..........................................................              27
                        10. Keadaan kepala sekolah, guru, karyawan dan siswa ......                                    28
                        11. Keadaan sarana dan prasarana ........................................                      30
                        12. Profil informan ................................................................           30
              B. Matematika Pelajaran yang Disukai ...........................................                         33
              C. Sulitnya Belajar Matematika ......................................................                    34
              D. Mengatasi Kesulitan Belajar Matematika ..................................                             39
              E. Pembahasan ...............................................................................            40
BAB V PENUTUP ........................................................................................                 44
              A. Simpulan ....................................................................................         44
              B. Saran-saran .................................................................................         44
Daftar Pustaka
Lampiran



NOTA DINAS                                            Yogyakarta, 20 Maret 2010

HAL        : SKRIPSI


Kepada     : Yth. Dekan Fakultas Ilmu Agama Islam
             Universitas Islam Indonesia
             di Yogyakarta


Assalmu’alaikum Wr.Wb.

         Berdasarkan penunjukan Dekan Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam
Indonesia dengan surat nomor : 76/Dek/70/FIAI/VI/09 tanggal 09 Juni 2009 atas tugas
kami sebagai pembimbing skripsi Saudara :
         Nama                          : SUMIARAH MARYANI
         Nomor Pokok / NIMKO           : 07422055
         mahasiswa Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia
         jurusan / Program Studi       : Tarbiyah / Pendidikan Agama Islam
         Tahun Akademik                : 2009/2010
         Judul Skripsi                 : Kesulitan Belajar Matematika Dan Remedial
                                         Teaching Pada Peserta Didik MIM Kranggan
                                         Manisrenggo Klaten
Setelah kami teliti dan kami adakan perbaikan seperlunya, akhirnya kami berketepatan
bahwa skripsi saudara tersebut di atas memenuhi syarat untuk diajukan ke sidang
munaqasah Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia.

Demikian, semoga dalam waktu dekat bisa dimunaqasahkan, dan bersama ini kami
kirimkan 4 (empat) eksemplar skripsi dimaksud.

                                            Wassalamu’alikum Wr.Wb.
                                               Dosen Pembimbing



                                    Dr. Drs. H. Muhammad Idrus, S.Psi, M.Pd.
                                      BAB I
                                  PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
         Matematika sebagai salah satu ilmu dasar yang berkembang cukup pesat, hal
   ini dapat dibuktikan dengan makin banyaknya kegunaan Matematika dalam
   kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu maka konsep-konsep dasar Matematika harus
   dikuasai oleh anak didik sejak dini, yang akhirnya terampil dan dapat menerapkan
   dalam kehidupan sehari-hari.
         Pengertian Matematika (Depdikbud, 1994/1995 : 91-92) adalah istilah
   Matematika berasal dari     “Mathesis”, berarti ajaran, pengetahuan abstrak dan
   deduktif, dimana kesimpulan tidak ditarik dari kaidah-kaidah tertentu melalui
   deduksi.
         Dijenjang sekolah dasar, tekanan pembelajaran Matematika adalah “number
   sense” yang tidak hanya berkamna mengenal dan terampil melakukan operasi pada
   bilangan, tetapi lebih dari itu, antara lain dapat memanfaatkan pengetahuan tentang
   bilangan untuk berbagai bidang lain tanpa melakukan operasi hitung.
         Melihat pentingnya pembelajaran Matematika pada Sekolah Dasar /
   Madrasah Ibtidaiyah maka seorang guru SD/MI dituntut secara profesional dapat
   menanamkan konsep dasar Matematika pada semua anak didiknya. Namun
   kenyataan, secara umum nilai Matematika masih dibawah mata pelajaran IPA dan
   Bahasa Indonesia, dimana ketiga mata pelajaran tersebut di UASBN-kan. Berikut
   data nilai tiga mata pelajaran yang diUASBN-kan :
          DATA NILAI RATA-RATA TRYOUT UASBN SD/MI
                       SE-KABUPATEN KLATEN
                            TAHUN 2007/2008
                                Nilai         Nilai        Nilai
      Nama MIM / SD
                              Matematika      IPA     Bahasa Indonesia
MIM Tambong Wetan                7,18         6,34          7,81
MIM Gading II                    6,57         6,70          7,56
MIM Pondok                       6,20         6,43          7,47
MIN Karanganom                   6,50         6,20          7,38
MIM Turus                        6,06         6,00          7,95
MIM Jimbung                      5,93         6,13          7,87
MIM Kahuman                      6,40         5,64          7,88
MIM Kranggan                     5,89         6,73          7,31
MI Ngawinan                      6,05         6,00          7,80
MIM Gading I                     6,10         5,95          7,58
MIM Tempursari                   5,91         6,44          7,03
MIM Kranggan                     5,71         5,89          7,60
MIM Tangkisan Pos                5,41         6,05          7,65
Mim Tulung                       5,95         5,47          7,58
MIM Karang Talun                 5,44         6,00          7,39
MIM Blanceran                    5,75         5,64          7,25
MIM Sentono                      5,82         5,49          7,19
MI Islamiyah Sidoharjo           5,66         5,69          7,13
MIM Basin                        5,08         5,93          7,42
MIM Kebon Gede                   5,63         5,18          7,60
MI Islamiyah Gunting             6,18         5,54          6,63
MIM Krakitan                     6,41         5,13          6,57
MIM Mege r                       5,51         5,87          6,68
MIM Cetan                        4,93         6,52          6,57
MIM Jogosetran                   4,90         5,79          7,32
MIM Janti                        4,91         5,69          7,33
MIM Candirejo                    5,06         5,55          7,23
MIM Cawas                        4,58         6,08          7,00
MIM Tegalampel                   4,15         6,53          6,84
MIM Sedayu                       5,52         5,32          6,65
MIM Pepe                         5,17         5,31          7,00
MIM Mrisen                       4,65         5,58          7,21
MIM Mlese                        4,88         5,75          6,68
MI Al Maarif Karang Pakel        5,04         5,50          6,76
MI Tegalarum                     4,61         5,71          6,97
MIN Nglungge                     5,11         5,46          6,71
MIM Tlogorandu                   4,97         5,28          7,00
MIM Paseban                      4,58         5,43          7,17
MI Al Maarif Dirondo             4,78         5,58          6,80
MIM Babadan                      4,81         5,35          6,91
 MIM Kalugawe                               5,07             5,22                 6,71
 MIM Wangen                                 4,48             5,52                 7,00
 MIM Gumantar                               4,87             5,00                 6,97
 MIN Batur                                  4,94             5,31                 6,56
 MIM Kupang                                 4,27             5,35                 7,19
 MI Al Huda Cawan                           4,01             5,33                 7,38
 MIM Gaden II                               5,04             5,29                 6,34
 MIM Jombor                                 4,08             5,39                 7,16
 MI Al Maarif Doyo                          6,50             5,25                 4,85
 Mim Sudimoro                               2,08             6,42                 8,08
 MIM Karanganom Mudal                       3,97             5,92                 6,69
 MIM Gaden II                               4,81             5,44                 6,33
 MIM Wunut                                  4,13             5,33                 7,10
 MIM Talang                                 4,00             5,43                 6,98
 MIM Puluhan                                4,55             5,32                 6,48
 MIM Juwiran                                5,67             4,06                 6,47
 MI Maarif Sukorini                         4,63             4,88                 6,63
 MIM Bandungbeji                            4,31             4,94                 6,89
 MIM Pucang                                 4,28             4,89                 6,37
 MIM Troketon                               5,67             4,00                 5,73
 MIM Jetis                                  4,11             6,02                 5,95
 MIM Srebegan                               2,89             5,58                 6,58
 MIM Kradenan                               4,66             4,16                 6,07
 MIM Mutihan                                3,48             4,79                 6,60
 MIM Sajen                                  4,56             4,85                 5,32
 MIM Mayungan                               3,04             4,96                 5,90
 MI Guppi Karangwungu                       3,78             4,54                 5,02
 MIM Malangan                               5,50             6,09                 0,00
 MIM Sabrang Lor                            5,64             0,00                 0,00

(Sumber : Data Rata-rata Hasil Tryout MI Se-Jawa Tengah Tahun Ajaran 2007/2008)


Selain data di atas berikut data nilai rata-rata dan peringkat Kabupaten Se-Jawa
Tengah dari Tryout UASBN SD/MI Tahun 2007/2008.
                                         Nilai               Nilai             Nilai
        Kota / Kabupaten
                                       Matematika            IPA          Bahasa Indonesia
 Kota Magelang                            4,96               5,65               7,66
 Karanganyar                              5,67               5,60               6,95
 Sukoharjo                                5,22               5,42               7,21
 Rembang                                  5,29               5,62               6,82
 Klaten                                   5,08               5,51               6,85
 Prubalingga                              5,00               5,50               6,62
 Wonogiri                                 4,97               4,89               7,18
 Banyumas                                 4,97               5,39               6,63
 Cilacap                                  4,70               4,83               6,68
 Boyolali                                   4,55             4,95                 6,58
 Kota Tegal                                 4,28             5,07                 6,66
 Purworejo                                  4,23             5,41                 6,26
 Grobogan                                   4,61             5,03                 6,23
 Kota Semarang                              4,69             4,79                 6,08
 Pemalang                                   4,40             4,88                 6,29
 Tegal                                      4,31             4,76                 6,41
 Batang                                     3,97             4,89                 6,47
 Kota Salatiga                              4,08             4,82                 6,25
 Sragen                                     4,13             4,55                 6,20
 Demak                                      4,08             4,57                 5,94
 Blora                                      2,95             5,04                 5,02
 Kendal                                     1,45             4,96                 6,44
 Kota Surakarta                             2,76             5,96                 3,59
 Wonosobo                                   4,67             0,73                 6,44
 Banjarnegara                               4,04             4,52                 2,90
 Jepara                                     4,58             0,00                 6,57
 Brebes                                     0,00             4,40                 5,80
 Temanggung                                 4,37             5,53                 0,00
 Pati                                       4,46             4,65                 0,00
 Kebumen                                    0,31             5,21                 0,00
 Kota Pekalongan                            4,99             0,00                 0,00
 Kudus                                      4,76             0,00                 0,00
(Sumber : Data Rata-rata Hasil Tryout MI Se-Jawa Tengah Tahun Ajaran 2007/2008)


        Demikian juga yang terjadi pada siswa MIM Kranggan Manisrenggo bahwa
rata-rata nilai Matematika berada dibawah mata pelajaran IPA dan Bahasa Indonesia.
Berikut data nilai rata-rata dari tiga mata pelajaran yang diUASBN-kan 4 tahun
terakhir.
                                                        Nilai
 No.    Tahun Ajaran
                             Matematika               IPA            Bahasa Indonesia
  1.        2005/2006           6,80                  7,01                 7,20
  2.        2006/2007             6,85                8,09                   8,27
  3.        2007/2008             6,14                7,61                   7,31
  4.        2008/2009             6,08                7,03                   7,45
(Sumber : Data Hasil UASBN MIM Kranggan Manisrenggo )
        Dari data-data diatas jelaslah bahwa sebagian besar nilai mata pelajaran
Matematika paling rendah dibandingkan dengan pelajaran IPA dan Bahasa
Indonesia.
          Secara umum, nilai yang rendah menunjukkan adanya gejala kesulitan
   belajar siswa. Berdasarkan wawancara dengan siswa-siswi MIM Kranggan,
   Manisrenggo hari Senin tanggal 3 Agustus 2009 sebagian besar mereka juga
   mengatakan bahwa pelajaran yang paling sulit adalah Matematika.
          Matematika dianggap hantu yang cukup menakutkan bagi sebagian besar
   siswa terutama bagi siswa kelas enam yang akan menghadapi UASBN. Kesulitan
   belajar Matematika        dikelas tigas keatas pada umumnya dikarenakan tidak
   menguasai konsep dasar hitung penjumlahan, pengurangan, perkalian dan
   pembagian basis sepuluh, sehingga berakibat nilai Matematika menjadi rendah.
   Apabila nilai pelajaran Matematika rendah atau belum mencapai nilai KKM yang
   ditentukan oleh sekolah, secara teori siswa tersebut harus diberikan pembelajaran
   remedial.


B. Rumusan Masalah
          Berdasarkan pada latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam
   penelitian ini adalah :
   1. Bagaimana kesulitan belajar bidang studi Matematika siswa MIM Kranggan,
      Manisrenggo, Klaten ?
   2. Bagaimana tekni remedial teaching yang diberikan pada siswa MIM Kranggan,
      Manisrenggo untuk mengatasi kesulitan belajar bidang studi Matematika ?


C. Tujuan Penelitian
          Tujuan dari penelitian ini ialah :
   1. Untuk mengetahui kesulitan belajar bidang studi Matematika pada siswa MIM
      Kranggan, Manisrenggo, Klaten.
   2. Untuk mengetahui teknik remedial teaching yang diberikan pada siswa MIM
      Kranggan, Manisrenggo untuk mengatasi kesulitan belajar bidang studi
      Matematika.
D. Manfaat Penelitian
   Manfaat Penelitian ini ada 2, yaitu :
   1. Secara Teoritik
       a. Dapat disumbangkan dalam rangka perkembangan sistem pembelajaran
           Matematika di Sekolah Dasar / Madrasah Ibtidaiyah pada umumnya dan
           Madrasah     Ibtidaiyah   Muhammadiyah       Kranggan,   Manisrenggo   pada
           khususnya.
       b. Memberi kontribusi pada bidang ilmu pendidikan khususnya desain
           pembelajaran.
   2. Secara Praktis
       a. Bagi guru
           1) Dapat mengetahui kesulitan-kesulitan dalam belajar Matematika.
           2) Membantu mengatasi kesulitan belajar Matematika.
           3) Menambah pengetahuan tentang model / teknik pengajaran remidial
               Matematika yang sesuai bagi siswanya.
       b. Bagi sekolah
           1) Membantu siswanya dalam mengatasi kesulitan belajar Matematika.
           2) Dapat mendesain pengajaran remedial Matematika sesuai dengan
               kesulitan belajar yang dihadapi siswa.


E. Keaslian Penelitian
           Penelitian yang hampir mirip dengan penelitian yang akan penulis lakukan
   antara lain :
           Hidayat (2002) meneliti tentang     “diagnosis kesulitan belajar Al Qur’an
   Hadits dan Pelaksanaan Remedial Teaching pada Siswa MI Muhammadiyah
   Kranggan Manisrenggo Klaten.” Dari Penelitian Hidayat menyimpulkan sebagai
   berikut : Bahwa siswa MIM Kranggan masih ada yang mengalami kesulitan belajar
   Al Qur’an Hadits, selain itu disimpulkan juga ada hubungan yang signifikan teknik
   remidial    teaching dengan prestasi belajar Al Qur’an Hadits pada siswa MIM
   Kranggan, Manisrenggo, Klaten
           Rachmad (1999) meneliti tentang Sikap siswa terhadap pelaksanaan
   pengajaran remedial pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di SMU
   Muhammadiyah Sewon Kabupaten Bantul Yogyakarta. Hasil Penelitiannya adalah
sikap siswa terhadap pelaksanaan pengajaran remidial pada bidang studi pendidikan
agama Islam di SMU Muhammadiyah Sewon Kabupaten Bantul Yogyakarta cukup
senang dan antusias, yang mana dari responden yang berjumlah 50 anak yang
mendapat nilai 122,99 sampai dengan 139,60 ada 36 siswa atau 72%.
       perbedaaan penelitian yang akan penulis lakukan dengan dua penelitian di
atas adalah bahwa penulis meneliti tentang kesulitan belajar Matematika di MIM
Kranggan Manisrenggo serta teknik remidial teaching yang diberikan pada peserta
didik MIM Kranggan Manisrenggo.
                                        BAB II
                                LANDASAN TEORI




A. Kesulitan Belajar
   1. Pengertian Kesulitan Belajar
               Ada beberapa pendapat mengenai pengertian kesulitan belajar,
          di antaranya :
      a. Kesulitan belajar ialah hambatan yang dialami siswa dalam proses belajar
          mengajar untuk mencapai tujuan belajar (Matematika 1. Depag RI, 2001 : 22)
          Hambatan yang dialami siswa tentunya beraneka ragam, antara peserta didik
          yang satu dengan peserta didik yang lain tidak akan mungkin sama. Ada yang
          hambatan itu datangnya dari dalam diri siswa itu sendiri, atau mungkin
          datang dari luar peserta didik.
      b. Kesulitan belajar menurut Blassic dan Jones, (dalam Warkitri dkk, 1990 : 83)
         menyatakan bahwa “kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara
         prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang diperoleh.
         Mereka selanjutnya menyatakan bahwa individu yang mengalami kesulitan
         belajar adalah individu yang normal inteleginsinya, tetapi menunjukkan satu
         atau beberapa kekurangan penting dalam proses belajar, baik persepsi,
         ingatan, perhatian, ataupun fungsi motoriknya.

          Prestasi akademik yang rendah menunjukkan adanya jarak antara prestasi
          yang diharapkan oleh guru atau sekolah dengan prestasi yang diperoleh
          siswa. Prestasi akademik siswa tentunya sesuai dengan kemampuan atau ilmu
          yang dikuasai masing-masing peserta didik.
      c. Siti Mardiyanti dkk (1994 : 4 – 5) menganggap kesulitan belajar sebagai
          suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan
          tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan tersebut mungkin disadari
          atau tidak disadari oleh yang bersangkutan, mungkin bersifat psikologis,
          sosiologis, ataupun fisiologis dalam proses belajarnya.
          Dalam suatu proses belajar mengajar tentunya terdapat hambatan-hambatan
          dengan mencapai hasil belajar yang diinginkan. Hambatan-hambatan ini yang
          menciptakan keadaan kesulitan belajar baik itu di sadari maupun tidak.
2. Keadaan Kesulitan Belajar
            Keadaan kesulitan belajar siswa (Depag RI, 2001 : 22) meliputi :
   a. Learning disosder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses
      belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan.
      Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak
      dirugikan, akan tetapi belajarnya tertanggu atau terhambat oleh adanya
      respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya
      lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah
      terbiasa dengan olahraga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin
      akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan
      lemah gemulai.
   b. Learning disfunction merupakan gejala proses belajar yang dilakukan siswa
      tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak
      menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau
      gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang memiliki postur tubuh
      yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena
      tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai
      permainan volley dengan baik.
   c. Under achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat
      potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya
      tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan
      menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140),
      namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
   d. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses
      belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan
      sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
   e. Learning disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala
      dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil
      belajar di bawah potensi intelektualnya.

3. Gejala Kesulitan Belajar
          Kesulitan atau masalah belajar dapat dikenal berdasarkan gejala yang
   dimanifestasikan dalam berbagai bentuk perilaku, baik secara kognitif, afektif,
   maupun psikomotorik. Menurut Warkitri dk. (1990 : 8.5 – 8.6), individu yang
   mengalami kesulitan belajar menunjukkan gejala sebagai berikut :
   a. Hasil belajar yang dicapai rendah di bawah rata-rata kelompoknya;
   b. Hasil belajar yang dicapai sekarang lebih rendah dibanding sebelumnya;
   c. Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah
       dilakukan;
   d. Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar;
   e. Menunjukkan sikap yang kurang wajar, misalnya masa bodoh dengan proses
       belajar dan pembelajaran, mendapat nilai kurang tidak menyesal, dan
       seterusnya;
   f. Menunjukkan perilaku yang menyimpang dari norma, misalnya membolos,
       pulang sebelum waktunya, dan seterusnya;
   g. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, misalnya mudah
       tersinggung, suka menyendiri, bertindak agresif, dan seterusnya;
        Gejala kesulitan belajar yang umum ditemui dan mudah ditemukan guru
   adalah dengan mengamati nilai ulangan harian atau ketika proses belajar
   mengajar berlangsung. Dari nilai itu biasanya seorang guru akan mencari tahu
   apa penyebab-penyebab nilainya rendah. Baik itu penyebab dari dalam diri siswa
   itu sendiri maupun penyebab yang berasal dari luar.


4. Faktor-faktor Penyebab Kesulitan Belajar
          Menurut Burton, sebagaimana dikutip oleh Abin S.M. (2002 : 325 – 326),
   faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar individu dapat berupa faktor
   internal, yaitu yang berasal dari dalam diri yang bersangkutan, dan faktor
   eksternal, adalah faktor yang berasal dari luar diri yang bersangkutan.
   a. Faktor Internal
       Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor ini
       dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor kejiwaan dan faktor kejasmanian.
       1) Faktor kejiwaan, antara lain :
          a) Minat terhadap mata kuliah kurang;
          b) Motivasi belajar rendah;
          c) Rasa percaya diri kurang;
          d) Disiplin pribadi rendah;
          e) Sering meremehkan persoalan;
          f) Sering mengalami konflik psikis;
          g) Integritas kepribadian lemah.
            Dari faktor-faktor kejiwaan di atas tentu tidak semua dapat diamati
          guru. Apalagi guru MIM yang tidak semua guru menguasai ilmu jiwa.
          Faktor kejiwaan yang biasa dilihat oleh guru hanyalah minat terhadap
          belajar, motivasi belajar yang rendah, rasa percaya diri kurang dan
          didisiplin pribadi yang rendah.
   2) Faktor kejasmanian, antara lain :
       a)   Keadaan fisik lemah (mudah terserang penyakit);
       b)   Adanya penyakit yang sulit atau tidak dapat disembuhkan;
       c)   Adanya gangguan pada fungsi indera;
       d)   Kelelahan secara fisik.
             Faktor kejasmanian diamati oleh guru apabila siswa kelihatan lesu
       mengikuti pelajaran, dari ini guru menyimpulkan sehat tidaknya jasmani
       siswa.
b. Faktor Eksternal
   Faktor eksternal adalah faktor yang berada atau berasal dari luar siswa.
   Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu faktor instrumental dan faktor
   lingkungan.
   1) Faktor instrumental
      Faktor-faktor instrumental yang dapat menyebabkan kesulitan belajar
      mahasiswa antara lain :
      a) Kemampuan profesional dan kepribadian dosen yang tidak memadai;
      b) Kurikulum yang terlalu berat bagi mahasiswa;
      c) Program belajar dan pembelajaran yang tidak tersusun dengan baik;
      d) Fasilitas belajar dan pembelajaran yang tidak sesuai dengan
         kebutuhan.
             Faktor-faktor instrumental di atas dapat pula menjadi penyebab
       utama kesulitan belajar. Guru yang tidak profesional dalam penyampaian
       pembelajaran secara otomatis peserta didik akan kesulitan dalam
       menerima pembelajaran yang disampaikan. Kurikulum yang terlalu berat
       hanya akan menambah beban peserta didik. Peserta didik dibebani
       dengan target pembelajaran dengan waktu yang terbatas. Akhirnya
       mereka hanya mementingkan tercapainya target pembelajaran tanpa
       memikirkan pencapaian ilmu yang mereka kuasai. Demikian juga dengan
       program belajar dan pembelajaran yang tidak tersusun dengan baik hanya
       akan menambah kesulitan peserta didik dalam belajar. Mereka akan
       merasa binggung dengan apa yang disampaikan oleh guru, karena
       program yang tidak baik. Fasilitas belajar dan pembelajaran yang tidak
       sesuai dengan kebutuhan membuat peserta tidak berminat atau kurang
       semangat dalam belajar.     Siswa tidak termotivasi dalam mengikuti
       pelajaran yang akhirnya peserta didik akan mengalami kesulitan belajar.
       2) Faktor lingkungan
          Faktor lingkungan meliputi lingkungan sosial dan lingkungan fisik.
          Penyebab kesulitan belajar yang berupa faktor lingkungan antara lain :
          a) Disintegrasi atau disharmonisasi keluarga;
          b) Lingkungan sosial kampus yang tidak kondusif;
          c) Teman-teman bergaul yang tidak baik;
          d) Lokasi kampus yang tidak atau kurang cocok untuk pendidikan.


5. Latar Belakang Kesulitan Belajar
          Latar belakang kesulitan belajar harus dilihat sejak pelajaran mulai
   diberikan. Menurut Abin Syamsudin (Dalam Depag RI. 2001 : 23) terdapat tiga
   aspek kelompok kesulitan belajar, yaitu : variabel peransang, organisasi variabel,
   dan respons variabel.
   a. Variabel perangsang
       Variabel perangsang disebut juga Stimulus Variabel, Learning Variabel.
       Variabel ini Mencakup masalah variabel dalam pengalaman belajar yang
       meliputi :
       1) Variabel metoda
          a) Kuat lemahnya motivasi belajar;
          b) Adanya kesempatan berlatih atau praktek;
          c) Intensif tidaknya bimbingan belajar;
          d) Ada tidaknya upaya dan kesempatan penguatan (peinforcement)
              menjawab pertanyaan, misalnya penguatan menjawab, jangan asal
              bagus.
       2) Task variabel, merupakan sarana penunjang yang meliputi 4 hal, yaitu :
          a) Mencakup tersedia tidaknya tempat / ruang belajar yang memadai;
          b) Cukup tidaknya waktu serta tepat atau tidaknya penggunaan waktu
              tersebut untuk belajar;
          c) Tersedia tidaknya fasilitas belajar yang memadai;
       d) Harmonis tidaknya hubungan manusiawi baik di sekolah, di rumah
           maupun di lingkungan masyarakat yang lebih luas.
b. Organisasi Variabel
   Mencakup 2 hal :
   1) Sifat-sifat khusus dari belajar (characteristic of the learner), antara lain :
       a) Tingkatan intelegensi
           Tingkat kecerdasan juga merupakan aspek kepribadian yang penting
           dalam belajar. Termasuk di dalamnya kewaspadaan, kemampuan
           belajar, kecepatan berpikir, kesanggupan untuk mengambil keputusan
           yang tepat, kepandaian menangkap dan mengolah kesan-kesan atau
           masalah dan kemampuan mengambil kesimpulan. Semakin tinggi
           tingkatan intelegensi anak semakin mudah anak itu mengatasi
           kesulitan belajar.
       b) Faktor usia;
       c) Taraf kematangan;
       d) Jenis kelamin;
       e) Kesiapan dan kematangan belajar untuk mengikuti program proses
           belajar mengajar utama yang bersangkutan.
   2) Mediating processes, kondisi seperti yang lazim terdapat dalam diri
       siswa, antara lain :
       a) Intelegensi, terbatasnya kemampuan dasar intelektual : umum / dapat
           khusus yang ada diri siswa.
       b) Persepsi, sikap dari dalam diri siswa yang kurang positif terhadap
           guru , bahan pelajaran.
       c) Motivasi, minat dan motivasi yang rendah, malas, atau kurang
           berminat terhadap kegiatan proses belajar mengajar yang diikuti.
       d) Dorongan lapar, takut, cemas, konflik, tekanan batin, turut berperan
           pula dalam proses perilaku belajar.
c. Respons variabel
   Tanggapan, output atau hasil yang diharapkan dari suatu kegiatan belajar
   mengajar.
   Hal ini dikelompokkan sesuai dengan tujuannya :
   1) Tujuan-tujuan kognitif (cognitive)
      a) Pengetahuan
          Kualitas dan kuantitas yang dimiliki seseorang dan jenis pengetahuan
          apa yang akan dikuasainya selama proses belajar mengajar
          berlangsung.
      b) Konsep-konsep
          Siswa mampu menguasai konsep-konsep sesuai dengan materi yang
          dipelajari.
      c) Keterampilan pemecahan masalah
          Siswa dapat memiliki ketrampilan khusus dalam memecahkan suatu
          masalah yang dihadapi.
   2) Tujuan-tujuan afektif (affective)
      a) Sikap – sikap (tingkah laku)
          Siswa dapat menentukan sikap yang sesuai dengan permasalahan
          yang dihadapi.
      b) Nilai (sosial, budi pekerti)
          Bagaimana pandangan dan keyakinan siswa terhadap nilai-nilai atau
          ide-ide yang nantinya ikut menentukan kepribadiannya.
      c) Minat
          Minat sangat menentukan hasil dari suatu kegiatan yang diikuti siswa.
      d) Apresiasi (seni / budaya, cinta keindahan)
          Dapat mengapresiasikan seni / budaya dalam kehidupan sehari-hari.
   3) Tujuan-tujuan pola bertindak, antara lain :
      a) Keterampilan psikomotor, misalnya : menulis, olahraga dan melukis.
      b) Kompetensi-kompetensi          untuk   menyelenggarakan    pertemuan,
          berpidato, memimpin diskusi dan sebagainya.
            c) Kebiasan-kebiasaan, berupa hidup sehat, kebersihan, keamanan,
                   keberanian disertai kesopanan, ketegasan, kejujuran, ketekunan dan
                   sebagainya.


6.   Teknik-teknik Pemecahan Kesulitan Belajar
          Kesulitan belajar yang dialami siswa beraneka ragam, tidak sama apa yang
     dialami oleh setiap siswa. Kasus kesulitan belajar siswa di antaranya :
     a. Kasus kesulitan belajar dengan latar belakang kurangnya motivasi dan minat
        belajar.
        Kasus ini disebabkan kurangnya motivasi dalam diri siswa dan juga minat
        untuk mengikuti belajar baik yang berasal dari diri siswa itu sendiri maupun
        dari luar. Beberapa cara teknik yang disarankan untuk membantu kasus tipe
        ini adalah :
        1) hindarilah saran dan pernyataan negatif yang dapat melemahkan
            kegairahan belajar;
        2) ciptakan situasi-situasi kompetitif sesama siswa secara sehat;
        3) kembangkanlah sasaran-sasaran antara atau tujuan-tujuan khusus
            intermediair yang mudah dijangkau secara bertahap;
        4) berikanlah dorongan untuk self competition dengan memberikan
            informasi tentang prestais yang telah dicapainya dari saat ke saat atau dari
            bidang ke bidang studi yang satu terhadap lainnya;
        5) berikan kesempatan kepada individu/kelompok untuk mendiskusikan
            aspirasi-aspirasinya secara rasional;
        6) berikan ganjaran yang tulus dan wajar, kendatipun hanya berupa ucapan
            pujian;
        7) laksanakan sanksi hukuman atas kelalaian dengan bijaksana, adil, dan
            berwibawa;
        8) tunjukkan manfaat dari pelajaran bagi kepentingan siswa yang
            bersangkutan pada saat kini dan nanti.
      b. Kasus kesulitan belajar yang berlatar belakang sikap negatif terhadap guru,
         pelajaran dan situasi belajar. Beberapa altenatif teknik yang disarankan untuk
         membina sikap positif terhadap belajar, antara lain :
         a. ciptakan iklim sosial yang sehat didalam kelas atau kelompok studi;
         b. berikan kesempatan memperoleh pengalaman yang menyenangkan atau
             memuaskan atau memperoleh sukses dalam belajar meskipun dengan
             prestasi yang minimal sekalipun.
      c. Kasus kesulitan belajar dengan latar belakang kebiasaan belajar yang salah
         Beberapa cara membantu kasus yang disarankan antara lain :
         a. tunjukkan akibat atau pengaruh kebiasaan yang salah terhadap prestasi
             belajar dan kehidupan seorang;
         b. berikan kesempatan masa transisi untuk berlatih dengan pola-pola
             kebiasaan baru dan meninggalkan kebiasaan lama yang salah.
      d. Kasus kesulitan belajar dengan latar belakang ketidakserasian antara kondisi
         objektif keragaman pribadinya dengan kondisi objektif instrumental input
         dan lingkungannya. Beberapa saran yang dapat ditempuh guru dalam hal ini
         antara lain :
        a. bimbingan informasi dalam pilihan program/bidang studi, bahan/sumber,
           strategi/metode/teknik belajar secara rasional;
        b. diskusi dan atau kerja kelompok;
        c. proyek kegiatan bersama di kelas, karyawista, dan sebagainya. (Abin
           Syamsuddin Makmun, 2002 : 351-353)


B. Remedial Teaching
   1. Pengertian Remedial Teaching
             Menurut Ischak (1982 : 38) remedial teaching dalam arti luas atau ideal
      kegiatan perbaikan, bertujuan memberikan bantuan baik yang berupa perlakukan
      pengajaran maupun yang berupa bimbingan dalam mengatasi kasus-kasus yang
      dihadapi oleh peserta didik yang mungkin disebabkan faktor-faktor internal
      maupun faktor eksternal. Dalam arti sempit atau operasional, kegiatan perbaikan
   bertujuan untuk memberikan bantuan yang berupa perlakuan pengajaran kepada
   para siswa yang lambat, sulit, gagal belajar agar supaya mereka secara tuntas
   dapat menguasai bahan pelajaran yang diberikan kepada mereka.
           Kunandar (2007 : 237) mengungkapkan bahwa remedial merupakan
   suatu sistem belajar yang dilakukan berdasarkan diagnosis yang komprehensif
   (menyeluruh), yang dimaksudkan untuk menemukan kekurangan-kekurangan
   yang dialami peserta didik dalam belajar sehingga dapat mengoptimalkan
   prestasi belajar.
           Remedial teaching dalam penelitian ini diartikan sebagai suatu sistem
   belajar untuk memperoleh hasil yang lebih baik dari belajar yang sebelumnya.

2. Faktor-faktor yang harus Diperhatikan dalam Remedial Teaching
           Dalam hal menyusun program pengajaran perbaikan (remedial teaching),
   sebelumnya guru harus memperhatikan faktor-faktor atau hal-hal sebagai
   berikut :
   a.   Tujuan pengajaran remedial;
   b.   Materi pengajaran remedial;
   c.   Metode pengajaran remedial;
   d.   Alokasi waktu pengajaran remedial;
   e.   Evaluasi kemajuan siswa setelah mengikuti program pengajaran remedial.
        (Muhibbin Syah, 1995 : 177).

3. Tujuan dan fungsi pengajaran remedial
         Pengajaran remedial diberikan tentunya mempunyai tujuan tertentu,
   ( Kunandar, 2007 : 237) tujuan itu adalah :
   a. Agar siswa dapat memahami dirinya, khususnya prestasi belajarnya, dapat
      mengenal kelemahannya dalam mempelajari materi pelajaran dan juga
      kekuatannya;
   b. Agar siswa dapat memperbaiki atau mengubah cara belajar ke arah yang
      lebih baik;
   c. Agar siswa dapat memilih materi dan fasilitas belajar secara tepat;
   d. Agar siswa dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan yang dapat
      mendorong tercapainya hasil yang lebih baik;
   e. Agar siswa dapat melaksanakan tugas-tugas belajar yang diberikan
      kepadanya, setelah ia mampu mengatasi hambatan-hambatan yang menjadi
      penyebab kesulitan belajarnya, dan dapat mengembangkan sikap serta
      kebiasaan yang baru dalam belajar.
        Tujuan pengajaran yang diuraikan oleh Kunandar di atas dapat penulis
   simpulkan bahwa tujuannya adalah untuk memperbaiki prestasi belajar siswa.
   Selain tujuan sesuatu yang dilaksanakan tentunya juga mempunyai fungsi.
   Adapun fungsi pengajaran remedial menurut Kunandar (2007 : 238) adalah
   sebagai berikut :
   a. Fungsi korektif, artinya melalui pengajaran remedial dapat dilakukan
      pembetulan atau perbaikan terhadap hal-hal yang dipandang belum
      memenuhi apa yang diharapkan dalam keseluruhan proses pembelajaran.
   b. Fungsi pemahaman, artinya dengan pengajaran remedial memungkinkan
      guru, siswa, atau pihak-pihak lainnya dapat memperoleh pemahaman yang
      lebih baik dan komprehensif mengenal pribadi siswa.
   c. Fungsi pengayaan artinya pengajaran remedial akan dapat memperkaya
      proses pembelajaran sehingga materi yang tidak disampaikan dalam
      pengajaran reguler, dapat diperoleh melalui pengajaran remedial.
   d. Fungsi penyesuaian, artinya pengajaran remedial dapat membentuk siswa
      untuk bisa beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan lingkungannya (proses
      belajarnya). Artinya, siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya
      sehingga peluang untuk mencapai hasil yang lebih baik semakin besar.
   e. Fungsi akselarasi, artinya dengan pengajaran remedial dapat diperoleh hasil
      belajar yang lebih baik dengan menggunakan waktu yang efektif dan efisien.
      Dengan kata lain, dapat mempercepat proses pembelajaran, baik dari segi
      waktu maupun materi.
   f. Fungsi terapeutik, artinya secara langsung atau tidak langsung, pengajaran
      remedial dapat membantu menyembuhkan atau memperbaiki kondisi-kondisi
      kepribadian siswa yang diperkirakan menunjukkan adanya penyimpangan.

4. Pelaksanaan Remedial Teaching
        Menurut Syah (1995 : 178) kapan dan dimana program pengajaran
   remedial yang telah dirancang dapat dilaksanakan? “Pada prinsipnya, program
   pengajaran remedial itu lebih cepat dilaksanakan tentu saja akan lebih baik.
   Tempat penyelenggaraannya bisa dimana saja, asal tempat itu memungkinkan
   siswa klien (siswa yang memerlukan bantuan) memusatkan perhatiannya
   terhadap proses pengajaran perbaikan tersebut.
C. Pengajaran Matematika
   1. Pengertian pengajaran Matematika
             Pengajaran matematika erat hubungannya dengan pengertian pengajaran
      pada umumnya. Menurut Poerwadarminta (1976 : 22), pengajaran adalah cara
      (perbuatan dan sebagainya) mengajar, perihal mengajar, segala sesuatu mengenai
      mengajar. Menurut penulis pengajaran matematika adalah cara menyajikan
      matematika dengan segala hal yang mendukung proses pengajaran tersebut.


   2. Pentingnya pengajaran Matematika
             Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di sekolah,
      dan wajib diajarkan, karena matematika di Madrasah Ibtidaiyah berfungsi
      sebagai mata pelajaran yang memperkenalkan konsep-konsep matematis baik
      mengenai ilmu hitung, alat jabar maupun ilmu ukur yang diajarkan tidak secara
      terpisah-pisah, tetapi berhubungan erat antar yang satu dengan yang lainnya.
      (GBPP Bidang Studi Matematika, 1983/1984 : 5).


   3. Tujuan pengajaran Matematika
              Tujuan pada dasarnya adalah sesuatu yang ingin dituju (Webster, 1980 :
      39). Tujuan merupakan titik terminal tempat mengarahnya segala gerak, kerja
      atau perjalanan. Tujuan akan memberikan pegangan tentang apa yang harus
      dilakukan, bagaimana cara melakukan, disamping merupakan patokan untuk
      mengetahui hingga sejauh mana tujuan itu telah dicapai. Pengajaran matematika
      di SD / MI dikelompokkan pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
      yang dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi dan mengapresiasi ilmu
      pengetahuan, dan teknologi serta menanamkan kebiasaan berpikir dan
      berperilaku ilmiah yang kritis, kreatif dan mandiri. (Khaeruddin, dan Mahfud
      Junaedi, 2007 : 331).

             Dalam KTSP (Depag RI, 2007 : 182) tujuan pengajaran matematika
      untuk membekali peserta didik memiliki kemampuan memahami konsep
      matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep
      atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan
      masalah, menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi
      matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan
      gagasan dan pernyataan matematika, memecahkan masalah yang meliputi
      kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan
      model dan menafsirkan solusi yang diperoleh serta mengomunikasikan gagasan
      dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau
      masalah.
4. Ruang lingkup pembelajaran Matematika
          Ruang lingkup bidang studi matematika dalam kurikulum MI meliputi
   pokok bahan (materi) sebagai berikut :
   a. Sistem bilangan;
   b. Dasar-dasar pengertian ilmu ukur;
   c. Dasar-dasar teori himpunan (set) dan fungsi;
   d. Dasar-dasar kemungkinan dan statistika.
          Dalam KTSP (Depag RI, 2007 : 182) Ruang lingkup pembelajaran
   matematika meliputi aspek-aspek sebagai berikut :
   a. Bilangan
      Pelajaran tentang bilangan dimaksudkan untuk memberikan pengertian
      tentang sifat-sifat matematis dari pada sistem bilangan. Siswa di beri
      pengalaman dengan angka-angka yakni dengan menggunakan benda-benda
      konkrit (nyata) yang dapat dihitung, diukur, dan disusun dengan berbagai
      cara.
   b. Geometri dan pengukuran
      Pelajaran ini diberikan dengan maksud mengembangkan pengertian tentang
      bidang dan jarak yang dapat dipergunakan sebagai dasar untuk mengenal dan
      visualisasi dalam geometri dan pengukuran.
   c. Pengolahan data
      Dasar-dasar teori pengolahan data di ajarkan dengan memberikan contoh-
      contoh yang sederhana, untuk menyatakan data berupa angka-angka dalam
      bentuk tabel dan grafik.


5. Metode pengajaran Matematika
          Metode – metode pembelajaran Matematika yang dapat digunakan
   menurut penulis antara lain :
   a. Metode pemberian tugas, metode pemberian tugas merupakan metode yang
      memberikan kesempatan kepada siswa melaksanakan tugas berdasarkan
      petunjuk langsung yang telah dipersiapkan guru sehingga siswa dapat
      mengalami secara nyata.
b. Metode    laboratorium,   metode   ini     dilaksanakan   dengan   melakukan
   eksperimen di laboratorium, untuk mendapatkan keterampilan tertentu.
c. Metode diskusi, metode diskusi adalah suatu cara penguasan bahan pelajaran
   melalui tukar mendapat antar siswa dengan dampingan guru berdasarkan
   pengetahuan dan pengalaman yang telah diperoleh dengan memecahkan
   suatu masalah.
d. Metode proyek, siswa diajak menyelesaikan sebuah proyek, misal membuat
   miniatur bangun datar, bangun ruang, dan lain-lain.
e. Metode kegiatan lapangan, metode ini digunakan dengan cara mengajak
   langsung siswa keluar kelas untuk menyelesaikan masalah, misal mengukur
   langsung keliling halaman atau lapangan.
f. Metode pemecahan masalah, siswa dihadapkan dengan suatu masalah
   matematika dalam bentuk soal cerita atau yang lain untuk diselesaikan.
g. Metode karya wisata, mengajak siswa ke suatu tempat agar siswa
   mendapatkan pembelajaran langsung sesuai dengan apa yang dilihat atau
   diamat.
h. Metode tanya jawab, suatu cara penyajian materi pelajaran melalui berbagai
   bentuk pertanyaan untuk dijawab siswa. Metode ini dapat dikembangkan
   keterampilan atau kemampuan mengamati, menginterpretasi, menarik
   kesimpulan, menerapkan dan mengkomunikasikan.
i. Metode permainan, metode ini sangat cocok digunakan dalam pembelajaran
   kelas rendah, agar siswa termotivasi untuk belajar matematika, misal dengan
   permainan lompat bilangan.
j. Metode penemuan, dalam metode penemuan yang bekerja aktif adalah siswa,
   sedangkan guru hanya bertindak sebagai pembimbing yang sewaktu-waktu
   dapat mengajukan pertanyaan untuk merangsang siswa berfikir.
k. Metode ceramah atau metode pemberitahuan, metode ceramah adalah suatu
   cara mengajar dengan penyajian materi melalui penuturan dan penerangan
   lisan oleh guru kepada siswa. Metode ini digunakan guru biasanya hanya
   sebagai pengantar penggunaan metode lainnya.
l. Metode latih – hafal (metode dril), metode ini digunakan untuk menguasai
   konsep-konsep dasar matematika, misal hitung dasar basis sepuluh.
                                          BAB III
                                METODE PENELITIAN


A. Deskripsi Operasional Variabel
            Kesulitan belajar pada umumnya digambarkan dengan lima keadaan, yang
   meliputi :
   1. Terganggunya proses belajar karena respon yang bertentangan.
   2. Gejala proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik.
   3. Siswa yang tingkat kecerdasannya sangat tinggi namun prestasi belajar biasa-
      biasa saja.
   4. Lambat belajar.
   5. Ketidakmampuan siswa dalam belajar atau menghindari belajar.
            Keadaan kesulitan belajar yang dialami siswa secara terus menerus akan
   berakibat timbulnya gejala-gejala kesulitan belajar. Gejala kesulitan belajar yang
   timbul diantaranya adalah dengan diperolehnya hasil yang belajar yang rendah atau
   prestasi belajar yang dicapai tidak sesuai dengan yang diinginkan atau diharapkan.
   Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar ada dua yaitu faktor internal dan faktor
   eksternal. Faktor Internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri
   baik itu dari segi kejiwaannya ataupun dari segi kejasmaniannya. Faktor eksternal
   adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa yang meliputi faktor instrumental dan
   lingkungan sekitarnya.
            Kesulitan belajar yang dialami siswa dapat dibantu dengan berbagai cara,
   salah satu diantaranya dengan diberikan pembelajaran remedial. Cara ini dipandang
   lebih praktis untuk mengatasi kesulitan belajar sehingga prestasi belajar siswa lebih
   meningkat.

B. Metode Penentuan Subjek
            Populasi adalah “obyek penelitian sebagai sasaran untuk mendapatkan dan
   mengumpulkan data.” (P. Joko Subagyo, 1997 : 23). Subjek penelitian (Muhammad
   Idrus, 2007 : 121) adalah individu, benda atau organisme yang dijadikan sumber
   informasi yang dibutuhkan dalam pengumpulan data penelitian. Istilah lain yang
   digunakan untuk menyebut subyek penelitian adalah responden, yaitu orang yang
   memberi respon atas satu perlakukan yang diberikan kepadanya. Dalam penelitian
   ini yang akan dijadikan subjek adalah siswa MIM Kranggan kelas I-VI sebanyak 16
   siswa, kepala sekolah, guru Matematika sebanyak 4 orang, orang tua siswa sebanyak
   16 orang dan masyarakat sekitar MIM Kranggan sebanyak 16 orang. Karena
   subyeknya lebih dari 100 maka tidak dijadikan subjek sepenuhnya.
              Berdasarkan Gay (dalam Idrus, 2007 : 123) bahwa ukuran sampel yang
   harus diambil tergantung pada jenis penelitian, jika penelitian deskriptif besar
   sampel 10% dari populasi, penelitian korelasional besar sampel minimum 30 subjek,
   kausal komparatif sebesar 30 subjek perkelompok dan penelitian eksprimental
   sebesar 15 subjek perkelompok.


C. Alat Pengambil Data
              Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa metode
   yaitu :
       1. Angket
                      Menurut Muhammad Idrus (2007 : 127) angket merupakan daftar
             pertanyaan yang diberikan kepada orang lain dengan maksud agar orang
             yang diberi angket tersebut bersedia memberikan respon siswa sesuai dengan
             permintaan.
                      Angket dalam penelitian ini akan penulis tujuan untuk masyarakat
             sekitar MIM Kranggan dan orang tua siswa.
       2. Wawancara
                      Wawancara akan penulis tujuan kepada guru Matematika dengan
             menggunakan pedoman wawancara, namun tidak sampai terikat dengan
             pedoman yang ada. Selain guru penulis juga akan mewawancarai beberapa
             siswa.
       3. Dokumentasi
                      Dokumentasi yang ada disekolah akan penulis jadikan data pelengkap
             dalam penelitian ini.
                Penggunaan metode di atas adalah untuk memperoleh gambaran tentang
       kesulitan belajar Matematika dan pelaksanaan remedial teaching di MIM
       Kranggan Manisrenggo, Klaten.
                                      BAB IV
                               HASIL PENELITIAN


A. Gambaran Umum MI Muhammadiyah Kranggan, Manisrenggo, Klaten
  1. Letak Geografis
              Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kranggan terletak              di Desa
     Kranggan, sebuah desa yang berada di wilayah kota Kecamatan Manisrenggo,
     sehingga sebagai tempat pusat kegiatan pemerintahan dan urat nadi
     perekonomian       Kecamatan      Manisrenggo.   Lokasi    Madrasah    Ibtidaiyah
     Muhammadiyah Kranggan berada di pinggir jalan raya kota Kecamatan yang
     menghubungkan antara kota Kecamatan Manisrenggo               dengan Kabupaten
     Sleman Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sekolah tersebut tepatnya berada
     di dukuh Samberan Kelurahan Kranggan, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten
     Klaten. Lokasi     bangunan Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah mempunyai
     batas-batas sebagai berikut :
          a. Sebelah utara           : Jalan raya kota Kecamatan dan kios-kios
                                      pertokoan yang merupakan        bagian wilayah
                                      Kelurahan Kebon Alas
          b. Sebelah timur           : Sawah dan sungai
          c. Sebelah selatan         : Sawah
          d. Sebelah barat           : Bangunan rumah penduduk


              Dilihat dari letak geografis lokasi Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah
     Kranggan sangat strategis untuk melaksanakan proses belajar mengajar, dimana
     lokasi tersebut terletak di tepi jalan raya dengan sarana transportasi yang sangat
     memadai sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat. Disamping itu suasananya
     yang kondusif dengan udara yang sangat sejuk karena terletak di kaki gunung
     merapi. Hal ini sangat mendukung terciptanya proses belajar mengajar yang baik
     dan profesional.
2. Sejarah Singkat Berdirinya
            Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kranggan berdiri pada tanggal
   10 Oktober 1972. Awal mulanya merupakan Madrasah Diniyah Sore karena
   perkembangan dan tingkat religius yang sangat tinggi dengan didukung para
   tokoh agama yang sangat peduli dengan keberadaan sebuah Madrasah atau
   lembaga pendidikan, maka sebagai manifestasinya dibangun dua Madrasah
   Diniyah yang didirikan di dua dukuh yaitu di dukuh Gandu dan dukuh
   Mandungan. Ternyata dengan dibangunnya dua Madrasah Diniyah tersebut
   mendapat tanggapan dari masyarakat yang cukup besar bahkan dari masyarakat
   luar desa Kranggan, hal ini terbukti dengan banyaknya santri yang berasal dari
   luar desa Kranggan.
            Melihat fenomena tersebut di atas, maka pemuka masyarakat setempat
   hendak mewujudkan adanya sekolah formal guna mencetak generasi penerus
   yang peduli terhadap perjuangan agama Islam di masa depan kelak. Maka atas
   prakarsa Bapak Suhadi berdirilah Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah
   Kranggan, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten.
            Kelas pertama dari Madrasah ini sementara menempati rumah Bapak
   Suhadi yang sekaligus menjadi Pimpinan Madrasah. Pada tahun ketiga seiring
   dengan perkembangan zaman dan semakin bertambahnya para siswa, maka
   ruangan belajar diperluas dengan menggunakan rumah Bapak Boiman dan Bapak
   Sastro Diharjo yang dapat menampung siswa kelas I sampai dengan kelas VI.
   Sementara dirumah Bapak Suhadi dijadikan ruangan kelas TK ABA guna
   menjaring siswa lebih lanjut.
            Pada tahun 1977 Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kranggan
   mendapatkan tanah wakaf dari Bapak Slamet Haryono, pemuka agama dan
   masyarakat yang sangat terkenal dengan sifatnya        yang dermawan. Tanah
   tersebut berukuran 30 x 15 dengan luas 1520 m2. Dengan tersedianya tanah
   wakaf tersebut, maka pada tanggal         1 Maret 1977 dibentuklah Panitia
   Pembangunan Gedung Madrasah Ibtidaiyah Kranggan yang diketui oleh Bapak
   Sastro Diharjo.
            Pada tahap awal hanya berhasil dibangun tiga lokal, hal ini dikarenakan
   faktor dana yang belum mencukupi, namun demikian tiga lokal tersebut sudah
   dapat difungsikan kelas IV sampai kelas VI dan untuk sementara kelas I sampai
   kelas III dipindah dari rumah Bapak Boiman ke rumah Bapak Rejo Pawiro yang
   mana lokasinya berdekatan dengan lokasi gedung Madrasah, hal ini agar lebih
   memperlancar proses belajar mengajar.
            Pada tahun 1979 pembangunan gedung Madrasah sudah mendapai titik
   final, dengan menyelesaikan 4 lokal.      Dengan terselesaikannya bangunan
   tersebut semakin memperlancar proses belajar mengajar pada tahun 1983
   Madrasah      Ibtidaiyah   Muhammadiyah    Kranggan    mendapat    Akreditasi
   TERDAFTAR dari Departemen Agama Republik Indonesia dengan nomor
   MK/58/4049/MI/1983. Pada tahun 1995 mendapat Akreditasi menjadi DIAKUI
   Nomor MK.30/PP.001/7487/1995 dan pada tahun 1999 mendapat status
   DISAMAKAN berdasarkan SK Kepala Kantor Departemen Agama Nomor
   MK.30/Kp.07.5/1283/1999. Tahun 2005 Terakreditasi B berdasarkan Hasil
   Akreditasi Madrasah yang dilakukan oleh Dewan Akreditasi Madrasah
   Kabupaten Klaten dengan Nomor : Kw.11.4/4/PP.03.2/623.10.18/2005.

3. Visi, Misi dan Tujuan
   a. Visi Madrasah
       Menciptakan anak yang beriman dan bertaqwa, cerdas, terampil, berakhlak
       mulia, serta sekolah yang Islami.
   b. Misi Madrasah
       Meningkatkan kesadaran iman dan taqwa, menciptakan suana belajar yang
       kondusif, mengembangkan sekolah sebagai sarana dakwah Islamiyah amar
       ma’ruf nahi munkar
   c. Tujuan Madrasah
       Terbentuknya anak yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, berakhlak
       mulia, cerdas, terampil, bertanggung jawab, berguna bagi agama, nusa dan
       bangsa.
4. Struktur Organisasi
            Organisasi disebuah sekolah sangat penting artinya sekaligus berfungsi
   sangat vital dalam dunia pendidikan dan pengajaran.        Dengan adanya suatu
   organisasi maka program pendidikan dan pengajaran akan dapat terealisasikan
   dengan baik dan lancar.
            Struktur organisasi merupakan suatu gerak langkah yang diatur secara
   dinamis, terkontrol, disiplioner untuk kerja sama yang baik, saling asah, asih, dan
   asuh diantara warga sekolah yang ada didalamnya. Adapun yang dimaksud
   struktur disini adalah merupakan susunan koordinasi kepemimpinan unit kerja
   secara struktural dalam suatu organisasi yang telah dibuat oleh Kepala Madrasah
   Ibtidaiyah Kranggan dan para stafnya yang ditetapkan secara permusyawaratan.
            Struktur organisasi di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kranggan
   terdiri atas unsur Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Muhammadiyah
   Cabang Manisrenggo, Pengurus Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kranggan
   dan Komite Sekolah. Berikut ini susunan kepengurusan organisasi Madrasah
   Ibtidaiyah Muhammadiyah Kranggan :
   a. Pengurus      Pendidikan Dasar dan Menengah Muhammadiyah Cabang
       Manisrenggo :
       •   Ketua             : Sarjoko
       •   Sekretaris        : Sukarji
       •   Bendahara         : Sarbani
   b. Pengurus Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kranggan :
       •   Ketua             : Syamsuri Dja’far
       •   Sekretaris        : Mujiman
       •   Bendahara         : Sunarjo
   c. Pengurus Komite
       •   Ketua             : Suparman
       •   Sekretaris        : Hasanudin
       •   Bendahara         : Munifah
5. Keadaan Kepala Sekolah, Guru, Karyawan dan Siswa
   a. Keadaan Kepala Sekolah
                 Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kranggan, Manisrenggo
      dipimpin oleh Ibu Siti Dalalah, S.Pd.I. Beliau berpendidikan S1 PAI.
      Menjabat sebagai Kepala Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kranggan,
      Manisrenggo sejak 1 April 2009 menggantikan Bapak H. Hidayat, S.Pd.I
      yang dipindahtugaskan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Batur.
   b. Keadaan Guru
                 Guru merupakan salah satu faktor yang tidak dapat ditinggalkan,
      karena guru merupakan sentral teaching, maka kemampuan profesional serta
      kualitasnya perlu diperhatikan. Adapun guru staf pengajar di Madrasah
      Ibtidaiyah Muhammadiyah Kranggan sebanyak 8 orang terdiri dari 4 orang
      guru laki-laki dan 4 orang guru perempuan, sedangkan status mereka 2 orang
      guru dinas dan 6 orang guru tidak tetap yayasan, sedangkan menurut basis
      ijazahnya terdiri dari 3 orang S1, sedangkan yang 5 orang D2, mereka
      adalah :
      1) Asrorijah, A.Ma yang merupakan guru kelas dua. Beliau lahir di Sleman
         pada tanggal 25 Agustus 1950. Beralamat di Tambakan, Sindumartani,
         Ngemplak Sleman. Pengalaman mengajar sejak tahun 1967.
      2) Suharmi, S.Pd.I bertugas di MIM Kranggan sejak tahun 1990. Lahir di
         Sleman tanggal 12 November 1963. Tempat tinggal di Kentingan,
         Sindumartani, Ngemplak, Sleman. Beliau ditugaskan sebagai guru kelas
         satu.
      3) Badrun, S.Ag. Lahir di Klaten pada tanggal 15 Januari 1970. Beralamat
         Sedayu, Tanjungsari, Manisrenggo, Klaten. Mengabdi di madrasah ini
         sejak tahun 1996 sebagai guru kelas empat.
      4) Ristiyanti, A.Ma. Lahir di Sleman 12 Desember 1977. Alamat di Desa
         Dalem, Tamanmartani, Kalasan, Sleman. Mengabdi di madrasah sejak
         tahun 1997. Sebagai guru kelas tiga.
   5) Ichsan Fauzi, A.Ma. bertugas sebagai guru Bahasa Indonesia, pendidikan
      jasmani dan kesehatan kelas empat sampai dengan kelas enam. Beliau
      juga ditugasi sebagai wali kelas enam. Mengabdi di madrasah ini sejak
      tahun 2002. Tempat tinggal di Pandan, Wukirsari, Cangkringan, Sleman.
   6) Sriyanto, A.Ma. Lahir di Boyolali tanggal 06 April 198. Pendidikan
      terakhir D2 PGSD. Saat ini menempuh S1 PGSD di Universitas Terbuka.
      Mengabdi di madrasah sejak tahun 2005, sebagai guru kelas lima. Beliau
      bertempat tinggal di Tagung Gede, Boyolali.
   7) Hamdani Nadhir, S.Pd.I. Mengabdi di madrasah ini mulai 01 Juli 2009.
      sebagai guru agama Islam. Beliau lahir tanggal 8 April 1986. Tempat
      tinggal di Koripan, Sindumartani, Ngemplak, Sleman.
   8) Aprilia Intan Wulandari, A.Ma. Lahir di Klaten tanggal 17 April 1986.
      Mengabdi di madrasah ini mulai 1 Juli 2009. Sebagai guru muata lokal
      IPA dan SBK, kelas empat sampai dengan kelas enam. Saat ini
      melanjutkan S1 PGSD di Universitas Terbuka. Beliau bertempat tinggal
      di Pacitan, Ngemplakseneng, Manisrenggo, Klaten


c. Keadaan Karyawan
           Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kranggan pada saat ini dalam
   melaksanakan kegiatan belajar mengajar serta pelayanan kebutuhan guru dan
   siswa di bantu 1 orang karyawan, dengan status pegawai tidak tetap yayasan
   yang bernama Legimin dengan alamat Mandungan, Kranggan, Manisrenggo,
   Klaten. Karyawan tersebut lulusan PGA Tahun 1986, lahir di Klaten tanggal
   4 Mei 1967

d. Keadaan Siswa
           Secara keseluruhan jumlah siswa yang belajar di Madrasah
   Ibtidaiyah Muhammadiyah Klaten pada tahun pelajaran 2009/2010 ada 160
   siswa, terdiri dari 82 laki-laki dan 78 perempuan. Mereka berasal dari
   beberapa desa yang ada di Kecamatan Manisrenggo. Mayoritas ekonomi
   keluarga dari orang tua siswa di madrasah ini termasuk golongan menenga
      ke bawah yang pekerjaannya adalah buruh dan petani. Latar belakang
      pendidikan orang tua siswa cukup bervariasi dari tidak sekolah, sampai S1.


6. Keadaan Sarana dan Prasarana
            Sarana dan prasarana yang dimaksud yaitu segala sesuatu yang
   berhubungan langsung atau tidak langsung         dalam proses pendidikan     dan
   pengajaran di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kranggan, Manisrenggo,
   Klaten yang sekaligus merupakan kekayaan yang dimiliki.
   a. Sarana Pergedungan dan Tata Bangunan
               Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kranggan memiliki gedung
      sendiri yang berdiri diatas tanah berukuran 30 x 15 dengan luas 1520 m2.
      Adapun jumlah bangunannya ada sembilan lokal atau ruangan, 6 lokal untuk
      kegiatan proses belajar mengajar, satu lokal untuk kegiatan kantor, satu lokal
      untuk perpustakaan dari tata usaha serta satu lokal untuk Toilet .
   b. Sarana atau Fasilitas Perkantoran
               Sarana atau fasilitas perkantoran disini adalah segala sesuatu yang
      merupakan kekayaan Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kranggan,
      Manisrenggo, Klaten yang meliputi mebelair seperti meja, kursi, almari, alat-
      alat pendukung pembelajaran misalnya : papan tulis, alat peraga, buku-buku
      pelajaran, perpustakaan dan lain-lain. Peralatan kantor misalnya : mesin tik,
      komputer, tape, dan juga telepon.

7. Profil Informan
   Informasi yang disampaikan secara jujur oleh subjek dalam sebuah penelitian
   tentunya akan memberikan masukan bagi penulis dalam penelitian ini, sehingga
   penulis perlu mengenal subjek terlebih dahulu. Dalam penelitian ini penulis
   menggunakan angket dengan mengambil subjek sebagai berikut :
   a. Enam belas orang dari masyarakata sekitar MIM Kranggan, yaitu :
      1)    Suryanto
      2)    Jazusman
      3)    Jumakir
      4)    Slamet Surono
   5)    Partinem
   6)    Marsini
   7)    Badrun
   8)    Samsuri
   9)    Sarwoto
   10) Sunarto
   11) Sukirjo
   12) Sukarjo
   13) Ratno Sumitro
   14) Puput
   15) Suko Raharjo
   16) Gandung
b. Enam belas orang tua peserta didik yaitu :
   1)    Marsum
   2)    Tri Mulyono
   3)    Bimo Sigit Widodo
   4)    Widodo
   5)    Yulianto
   6)    Murtianto
   7)    Supriyanto
   8)    Bagiyanto
   9)    Tri Purwono
   10) Harjito
   11) Suroto
   12) Hari
   13) Bejo
   14) Topo Dibyo Margono
   15) Rosyid
   16) Budiyono
c. Enam belas siswa kelas I sampai kelas VI, yaitu :
   1) Anggi Rahayu
   2) Oktaviana Puspaningrum
   3) Bima Kumarasakti
   4) Irma Fadila Linda Putri
   5) Helmi Eko Yulianto
   6) Alfafa
   7) Muhammad Yasin
   8) Elik Bagas Riyanto
   9) Muhammad Fatah Pasha
   10) Hani Alifia Putri
   11) Febri Bagus Riyanto
   12) Nadia Andriani
   13) Ruli Wulandari
   14) Intan Kurnia Putri
   15) Bagas Septiadi
   16) Crist Sulaiman


Selain menggunakan angket, penulis juga melakukan wawancara kepada Kepala
Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kranggan yaitu Ibu Siti Dalalah, S.Pd.i.
Empat orang guru Matematika yaitu Ibu Suharmi (guru kelas I), Ibu Asrorijah
(guru kelas II), Ibu Ristiyanti (guru kelas III), dan Bapak Sriyanto (guru
matematika kelas IV, V, dan VI.), satu orang tua siswa yang bernama Bapak
Suroto, satu orang tokoh masyarakat yaitu Bapak Suryanto dan juga beberapa
siswa MI antara lain :
a. Anggi Rahayu
   Siswa kelas satu, umur 7 tahun. Pendidikan terakhir ayahnya SLTA.
   Sedangkan ibunya tidak tamat SD. Pekerjaan orang tuanya adalah buruh.
b. Irma Fadila Winda Putri
   Siswa kelas dua, umur 8 tahun, pendidikan terakhir ayanya SLTA, ibunya
   juga SLTA. Pekerjaan orang tua sebagai petani.
      c. Muhammad Yasin
          Siswa kelas tiga, umur 9 tahun. Pendidikan terakhir ayahnya SLTA,
          sedangkan ibunya S1 PAI. Ayahnya sebagai peternak puyuh sedangkan
          ibunya mengajar di SD Muhammadiyah Sukonandi.
      d. Muhamad Fatah Pasha
          Siswa kelas empat, umur 10 tahun. Pendidikan Ayahnya SLTA, demikian
          juga ibunya. Orang tuanya membuka usaha warung bensin dan penitipan
          sepeda.
      e. Febri Bagus Riyanto
          Siswa kelas lima, umur 12 tahun. Ayahnya berpendidikan SLTP, sedangkan
          ibunya SD. Pekerjaan orang tua berdagang ayam sayur.
      f. Intan Kurnia Putri
          Siswa kelas enam umur 12 tahun. Pendidikan ayahnya SLTA, ibunya D3.
          pekerjaan orang tua sebagai Tukang batu.

B. Matematika Pelajaran yang Disukai
          Berdasarkan angket yang disebarkan pada tanggal 09 November 2009 kepada
   enam belas siswa Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kranggan, Manisrenggo,
   ternyata 25% siswa menjawab matematika itu pelajaran yang sangat mudah disukai
   oleh siswa kelas satu dan sebagian siswa kelas dua. Ini diperkuat dengan hasil
   wawancara pada tanggal 10 November 2009 kepada Anggi Rahayu peserta didik
   kelas satu.
          ”Pelajaran yang sangat saya sukai adalah Matematika. Aku sering mendapat
          nilai 100, aku selalu menghitung dengan jari-jariku”.

          Anggi Rahayu menganggap Matematika itu sangat mudah, karena setiap kali
   dia mengerjakan Matematika cukup dengan menggunakan bantuan jari-jarinya dan
   memang pelajaran Matematika di kelas I angka-angka atau bilangan yang digunakan
   masih bisa dihitung dengan bantuan jari. Hal ini diperkuat pula dengan hasil
   wawancara kepada Ibu Suharni, S.Pd.i selaku guru kelas I.
          ”O ...... ! Kalau siswa kelas I pelajaran yang paling mereka sukai adalah
          Matematika. Nilai mereka rata-rata bagus, berkisar dari 80-90. Mereka selalu
          menghitung dengan jari-jarinya. Kalau ada tugas rumah, mereka selalu
          dibimbing orang tuanya masing-masing. Jadi saya rasa tidak ada kesulitan
          belajar Matematika di kelas I.”

C. Sulitnya Belajar Metamatika
          Matematika dianggap pelajaran yang sulit dimulai dari kelas dua sampai
   dengan kelas enam. Hasil dari angket yang disebarkan pada tanggal 10 November
   2009 kepada enam belas siswa MIM Kranggan Manisrenggo, menunjukkan bahwa
   75 % siswa menganggap matematika itu pelajaran yang sulit. Dari tiga responden
   kelas dua ternyata dua siswa menganggap pelajaran matematika itu sulit.
          Ketika ditanya bagian apa yang sulit dua siswa tersebut menjawab dengan
   jawaban yang berbeda, yang satu menjawab kesulitannya pada bagian perkalian
   sedangkan siswa yang satu menjawab pada pembagian.
          ”Saya yang paling sulit pada perkalian” demikian ungkap Irma Fadila Winda
   Putri. Helmi mengungkapkan ”Saya paling tidak bisa pembagian, saya bingung.”
          Hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa kesulitan belajar Matematika
   dimulai dari kelas II. Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan guru kelas II yaitu
   Ibu Asrorijah, A.Ma.
          ”Sebagian anak-anak kelas dua itu belum paham benar tentang perkalian dan
          pembagian. Nilai mereka belum memuaskan, ketika ulangan hitung perkalian
          dan pembagian nilai rata-rata kelas masih rendah, berkisar antara 50-60.
          Anak-anak juga terlalu banyak makan waktu ketika mengerjakan soal-soal
          perkalian atau pembagian, ketika bilangannya melebihi 20 mereka bingung
          akan menghitung dengan apa lagi.”

          Apa yang diungkapkan oleh Ibu Asrorijah tersebut menunjukkan bahwa
   sebagian besar siswa kelas dua dalam menyelesaikan masalah Matematika
   tergantung dengan alat peraga jari tangan dan kaki. Ketika jari tangan dan jari kaki
   mereka sudah digunakan untuk menghitung semua para siswa kebingungan. Ketika
   penulis tanya ”Apakah tidak ada alat peraga lain selain jari tangan dan jari kaki
   mereka Bu ?” Beliau menjawab ”Mereka tidak mempunyai kethekan (Sempoa model
   Indonesia), jadi ya agak susah anak-anak menghitung.”
          Menurut penulis, ibu Asrorijah ini kurang dapat untuk memanfaatkan
   lingkungan sekitar sebagai alat peraga pembelajaran. Kalau memang siswa-siswi
   tidak mempunyai kethekan mengapa tidak disuruh saja membawa potongan lidi atau
   kerikil yang ada di halaman sekolah sebagai media belajar Matematika. Padahal alat
peraga/ media pembelajaran itu sangat membantu dalam proses belajar mengajar.
Dikelas III kesulitan belajar Matematika terletak pada pembagian. Pembagian
dikelas III sudah sampai 3 angka dibagi 2 angka. Biasanya Guru Matematika
mengajarkan dengan cara Porogapit. Muhammad Yasin, siswa kelas III mengatakan
       ”Porogapit itu bikin pusing. Aku paling tidak dapat, aku malas mengerjakan
       Porogapit, karena aku bingung. Pembagian biasa saja aku masih bingung,
       apalagi porogapit.”

       Apa yang diungkapkan siswa kelas III diatas dapat dipahami bahwa siswa
kelas III fokus kesulitan belajar Matematika adalah porogapit atau pembagian yang
hasilnya dua angka atau lebih. Padahal porogapit itu sekadar pengembangan dari
pembagian hasil satu sampai dengan 9, dimana pembagian itu hanyalah kebalikan
dari perkalian.
       Sebenarnya apabila perkalian 1 sampai dengan 9 itu dapat dikuasai secara
benar oleh siswa, maka dasar dari pembagian itu akan menjadi lebih mudah. Ibu
Ristiyanti (Guru kelas 3) mengungkapkan :
       ”Memang anak-anak kelas tiga itu paling susah apabila diajarkan porogapit,
pasti nilainya rendah-rendah. Belum pernah rata-rata kelasnya di atas nilai 6.”
       Sebagaimana yang diungkapkan oleh guru tersebut semakin memperjelas
bahwa kesulitan belajar Matematika di kelas tiga terletak pada            pembagian,
khususnya porogapit. Ketika penulis tanya, ”Apa yang membuat para siswa
kesulitan belajar porogapit bu ?” beliau menjawab :
        ”Mereka belum paham betul pembagian dasar basis 10. Mereka selalu saja
       menggunakan dengan hitung jari. Kalau demikian terus, kapan mereka
       selesai mengerjakan soal ? itu terlalu banyak memakan waktu. Padahal
       ketika tes selalu dibatasi waktu”.

       Ungkapan di atas dapat memperjelas bahwa kesulitan belajar Matematika
yang dialami siswa kelas III karena selalu tergantung dengan menggunakan bantuan
jari. Hitung dasar basis sepuluh belum mereka kuasai secara benar, sehingga ketika
bilangan- bilangan itu dikembangkan lebih besar         para peserta didik semakin
kesulitan/kebingungan, karena bilangan yang lebih kecil saja belum paham, apalagi
bilangan yang lebih besar tentunya akan menambah kesulitan belajar siswa.
Kesulitan itu tidak hanya dialami oleh siswa kelas III saja. Siswa kelas IV juga
mengalaminya sebagaimana diungkapkan oleh Muhammad Fatah Pasha kelas IV,
dia mengatakan :
       ”Matematika itu sulit. Sulit sekali. Aku banyak bingungnya ketika
       menyelesaikan soal Matematika apalagi FPB dan KPK, aku pusing.”

       FPB dan KPK sebenarnya hanya mengerjakan pembagian dan perkalian,
apabila perkalian dan pembagian itu lancar, maka masalah FPB dan KPK akan
mudah diselesaikan. Pada dasarnya FPB dan KPK hanyalah membagi-bagi dan
mengalikan dengan dasar bilangan prima.
       Bapak Sriyanto yang merupakan guru Matematika kelas IV, V, dan VI,
mengungkapkan bahwa :
       ”Sebenarnya Matematika itu tidak sulit, karena Matematika itu hanya
       mempelajari 4 hal, yaitu penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan
       pembagian. Tapi mau gimana lagi wong anak-anak itu perkalian satu sampai
       sembilan saja tidak hafal, sehingga pembagian juga bingung. Kelas IV saja 8
       + 4 itu masih menghitung dengan bantuan jari.”

       Ungkapan Bapak Sriyanto itu memang terdengar aneh, apa benar kalau kelas
IV, 8 + 4 saja masih menggunakan bantuan jari. Kalau benar adanya tentu ini pula
sebagai salah satu penyebab kesulitan belajar Matematika apalagi untuk kelas IV, V
dan VI tentunya bilangan-bilangan atau angka-angka yang dipelajari semakin lebih
besar. Mereka jelas akan kesulitan dalam belajar Matematika. Dari data diatas
sudah terlihat bahwa kesulitan belajar Matematika sudah dimulai sejak kelas II dan
hal ini ternyata tidak bisa dituntaskan permasalahannya.
       Peserta didik kelas V yang bernama Febri Bagus Riyanto berkata lain, dia
mengatakan bahwa :
       ”Matematika bagiku pelajaran yang paling sulit. Aku hampir tidak pernah
       mendapat nilai seratus, nilaiku hanya berkisar dari empat puluh sampai enam
       puluh, yang paling sering aku hanya memperoleh nilai empat puluh dan lima
       puluh. Aku dapat nilai seratus ketika aku duduk dikelas satu dan dua.
       Sekarang aku tidak pernah mendapat nilai seratus, apalagi kalau bicara
       tentang perbandingan, skala, jarak dan waktu bikin aku pusing saja. Aku
       bingung apabila disuruh menghitung yang bilangannya cukup besar .”

       Sebenarnya berbicara masalah perbandingan, skala, jarak dan waktu itu juga
hanya membahas empat hal, yaitu perkalian, pembagian, penjumlahan dan
pengurangan. Karena dimungkinkan memang dari kelas bawah banyak siswa yang
belum menguasai benar konsep hitung dasar basis sepuluh maka kesulitan belajar
Matematika itu     semakin jelas. Semakin siswa duduk di kelas atas semakin
bertambah sulit pelajaran Matematika itu. Hal senada juga diungkapkan oleh siswa
kelas VI yang bernama Intan Kurnia Putri, siswa ini mengatakan :
       ”Pelajaran Matematika itu semakin lama semakin sulit, aku sering bingung
       dalam memecahkan masalah Matematika. Apalagi kalau soal cerita, aku lebih
       pusing lagi. Aku terlalu sering tanya pak guru, kalau ada tugas Matematika.
       Di rumah, ibuku juga tidak dapat mengajari. Ibuku sudah banyak yang lupa.
       Mau les orang tuaku tidak sanggup membayarnya, bagaimana ya besok nilai
       UASBN ku ?”

       Bagaimanapun seorang peserta didik yang ingin meningkatkan prestasi
belajarnya, tapi kalau ada kendala tentunya itu menjadi satu penghambat bagi
dirinya. Sebagaimana yang diungkapkan Intan Kurnia Putri betapa dia ingin sekali
les untuk mengejar ketertinggalannya di bidang matematika, namun kalau biaya
tidak ada itu juga akan menambah beban pikiran dan menjadi penghambat
prestasinya.
       Apalagi untuk siswa kelas VI yang siap atau tidak tentunya akan menghadapi
UASBN. Matematika ini yang selalu pula menjadikan kekhawatiran lulus dan
tidaknya baik diri peserta didik, guru maupun orang tua.
       Bagaimana orang tua peserta didik mensikapi, kesulitan belajar matematika
putra-putri? Dari 16 angket yang disebarkan pada tanggal 10 Nopember 2009, 80%
orang tua siswa menjawab bahwa mereka tidak mampu untuk membimbing belajar
Matematika dikelas atas (4-6) . mereka hanya menyuruh belajar pada putra-putrinya
tapi tidak mendampinginya dalam belajar. Mereka sudah tidak bisa mengerjakan
soal Matematika yang dihadapi putra-putrinya. Berikut hasil wawancara dengan
salah satu orang tua peserta didik yaitu Bapak Suroto yang merupakan orang tua dari
Febri Bagus Riyanto kelas 5, pada tanggal 12 Nopember 2009.
       Saya cukup prihatin melihat hasil prestasi anak saya terutama pelajaran
       Matematika. Nilainya tidak pernah diatas 70, yang paling sering hanya 40
       dan 50 saja. Kalau ada PR saya sendiri sudah tak bisa membantu saya sudah
       banyak lupa, saya pelajari juga nggak paham-paham, kalau kelas dan 2 dulu
       saya masih mampu membimbingnya. Mau saya les kan anaknya tidak mau,
       katanya nggak ada teman. Saya bingung juga, besok kalau kelas 6
       bagaimana ya? Saya hanya dapat menyuruhnya belajar baik-baik.
          Apa yang diungkapkan Bapak Suroto diatas menunjukkan bahwa tidak setiap
orang tua mampu mendampingi putra-putrinya dalam belajar. Kalau masih kelas 1
atau kelas 2 pada umumnya orang tua masih dapat membimbingnya, namun ketika
sudah berada di kelas tinggi (4-6)       data-data orang tua sudah tidak sanggup
membimbingnya. Kalaupun ada orang tua yang sanggup mendatangkan guru
pembimbing belajar dari luar belum tentu juga anak mau belajar dengan berbagai
alasan.
          Letak MIM Kranggan yang berada di lingkungan kota Kecamatan memang
sudah cukup ramai. Banyak disekitar sekolah ini PS (Play Station). Hampir di setiap
kampung ada PS. Anak-anak usia sekolahpun senang bermain di PS. Apa lagi ada PS
yang setiap waktu selalu melayani pemain. Keadaan ini juga pasti mengaruhi sikap
belajar siswa. Ketika sekolah mengadakan tambahan belajar/les pada sore hari, anak-
anak juga ada yang tidak datang karena main di PS sampai lupa waktu kalau ada
jadwal les di sekolahan. Memang yang namanya pengaruh lingkungan terutama PS
itu sulit untuk dihindari. PS juga membuat anak-anak sekolah menjadi malas belajar.
Mereka lebihn tertarik untuk main PS dibanding belajar. Belajar selama satu jam
sudah mereka rasakana terlalu lama, tetapi kalau main PS dua jam atau tiga jam
mereka tidak merasa lama karena asyiknya bermain PS. Dari informasi Bp. Suryanto
selaku tokoh masyarakat disekitar MIM Kranggan, beliau menginformasikan sebagai
berikut :
          ”Wah, yang namanya anak-anak itu kalau disuruh belajar susahnya minta
          ampun, tapi coba kalau disuruh main PS, apa lagi disuruh. Dilarang aja
          mereka itu ngumpet-ngumpet main PS. Lihat itu Mbak !. ini kan waktunya
          sekolah itu pakai seragam biru putih juga malah main PS, gimana anak itu?.
          Kira-kira orang tua atau gurunya mengetahui tidak ya Mbak?”

          Benar juga ternyata yang namanya PS ternyata dapat mengalahkan pelajaran
sekolah. Mungkin bagi siswa yang suka main PS, PS itu lebih menarik dan
mengasyikan dibanding belajar disekolah. Atau memang belajar di sekolah yang
kurang dapat menarik dan mengasyikkan seperti main PS.
          Ternyata lingkungan yang banyak PS-nya juga mempengaruhi cara belajar
siswa. Kalau PS itu dapat dialihkan dengan isi pembelajaran yang baik mungkin
akan      bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya, terutama anak-anak usia sekolah.
Namun apabila hanya        sekadar permainan yang hanya hura-hura atau sekadar
   menyenangkan apa gunanya. Langsung ataupun tidak langsung dunia PS juga
   mempengaruhi hasil prestasi belajar siswa.


D. Mengatasi Kesulitan Belajar Matematika
          Kesulitan belajar Matematika yang dialami        oleh peserta didik MIM
   Kranggan, Manisrenggo ternyata bervariasi, sesuai dengan materi dan kelas yang
   dihadapi. Bagaimanapun kesulitan itu harus diatasi. Ketika ada peserta didik yang
   mengalami gejala kesulitan belajar dan ini terekam oleh guru, maka guru akan
   mengambil sebuah tindakan. Apabila peserta didik mengalami kesulitan belajar
   dengan menunjukkan hasil belajar yang rendah atau jauh dari harapan maka tugas
   gurulah yang memperbaikinya. Apa saja yang akan dilakukan oleh guru atau pihak
   sekolah untuk memperbaiki prestasi belajar peserta didik? Berikut petikan
   wawancara dengan Ibu Siti Dalalah, S.Pd.I.
          ”Memang di MI ini untuk Matematika, hasilnya belum memuaskan.
          walaupun sudah berbagai cara ditempuh. Dengan pendekatan dan pengarahan
          kepada wali murid, dengan memberikan tambahan pelajaran di sekolah
          ataupun dengan memberikan pembelajaran remedial. Namun hasilnya juga
          belum dapat memuaskan. untuk UASBN Matematika masih paling rendah
          diantara pelajaran IPA atau Bahasa Indonesia.”

          Melihat usaha-usaha yang telah dilakukan oleh guru atau pihak sekolah ini
   sebenarnya sudah lumayan bagus, namun demikian ternyata hasilnya juga belum
   cukup memuaskan. Mungkin ada kaitannya dengan metode pembelajaran            yang
   digunakan guru Matematika ataukah dengan teknik pembelajaran remedial yang
   diberikan yang kurang menarik siswa.
       Penulis bertanya kepada Bp. Sri Yanto yang bertugas mengajar Matematika
kelas atas yaitu kelas 4, 5 dan 6. ”Metode apa saja yang digunakan dalam pembelajaran
Matematika di MI ini Pak? Dan bagaimana pula teknik-teknik pembelajaran remedial
yang bapak berikan kepada siswa-siswi Bapak yang mengalami kesulitan belajar?”
beliau menjawab :
       ” Metode pembelajaran Matematika itu banyak sekali tentu tidak semua saya
       pergunakan, hanya mungkin pula saya kurang tepat dalam menerapkan sebuah
       metode pembelajaran terhadap materi pelajaran yang saya sampaikan. Saya juga
       sudah berusaha menggunakan alat peraga yang ada, tapi tidak semuanya saya
       bisa menggunakannya, maklumlah saya hanya lulusan D2 PGSD. Untuk
       remedial saya hanya mengulangi lagi penjelasan terhadap materi pembelajaran
       yang masih dirasakan oleh siwa.”

       Ketepatan dalam pemilihan metode dan penggunaan alat peraga/media
pembelajaran juga menentukan keberhasilan suatu pembelajaran. Disini guru dituntut
benar-benar menguasai seluruhnya atau dengan kata lain guru harus profesional. Apa
lagi bila dihadapkan dengan berbagai karakter peserta didik dan kemampuan peserta
didik yang berbeda-beda. Demikian juga untuk teknik-teknik remedial pun seharusnya
guru lebih banyak menguasai, sehingga akan lebih dapat memilih teknik yang tepat
sesuai dengan keadan kesulitan belajar Matematika yang dialami setiap peserta didik.
Dengan demikian kemungkinan keberhasilan dalam perbaikanpun akan lebih tinggi.
       Kalau seorang guru dalam memberikan pembelajaran remedial hanya
memberikan penjelasan ulang saja tentu peserta didik akan merasa bosan dan tidak juga
mempunyai minat untuk mengikuti pelajaran, semangat belajar peserta didik juga akan
menurun. Jika peserta didik yang mengalami kesulitan          belajar hanya mengikuti
remedial semacam itu kemungkinan peserta didik akan merasa jenuh, akibatnya
kesulitan belajar Matematika tidak dapat teratasi dengan tuntas.


E. Pembahasan
           Matematika dianggap pelajaran yang mudah oleh peserta didik kelas rendah
   yaitu peserta didik kelas satu dan sebagian kecil peserta didik kelas dua. Di kelas
   satu bilangan yang dipelajari juga masih rendah mereka hanya belajar menjumlah
   dan mengurangi. Untuk geometri dan pengukuran mereka masih menggunakan
   ukuran yang tidak baku, misalnya : depa, hasta, atau sekadar membandingkan dua
   benda yang tidak sejenis. Sedangkan untuk data, mereka hanya menyebutkan banyak
   sedikitnya data.      Ketika mereka belajar Matematika mereka akan asyik
   menggunakan jari-jari mereka untuk membantu menghitung.
           Jari-jari tangan maupun kaki sudah cukup sebagai alat peraga atau untuk
   membantu menghitung. Mereka terbiasa dengan menggunakan jari-jari sebagai alat
   bantu menghitung. Kebisaan ini sulit untuk dihilangkan. Mereka tidak dibiasakan
   dengan menggunakan konsep dasar hitung basis sepuluh. Ketika belajar Matematika
   di kelas yang lebih tinggi, bilangan yang dipelajari juga akan lebih tinggi, manakala
   bilangan yang ditunjukkan lebih banyak dari jumlah jari-jarinya, mereka sudah
mulai bingung atau mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah Matematika
yang dihadapi.
        Ketika di kelas satu dan dua orang tua masih ikut aktif membimbing mereka
dalam belajar di rumah. Setiap kali ada tugas rumah orang tua selalu mampu untuk
membantunya. Ketika peserta didik di kelas atas perhatian orang tua pun mulai
berkurang. Mereka merasa kesulitan dalam membantu belajar Matematika putra
putrinya. Bagi orang tua yang mampu tentu tidak ada masalah, mereka tinggal
menyerahkan pada Lembaga Bimbingan Belajar atau dileskan secara privat. Namun
bagi orang tua yang golongan ekonomi menengah kebawah tentu akan bermasalah.
Mereka tidak akan mampu untuk menjangkaunya, karena pada umumnya biaya
bimbingan belajar itu cukup mahal. Belum juga faktor dalam dalam anak itu sendiri,
misalnya penyakit malas yang menghinggapi, beralasan tidak ada teman belajar dan
lain-lain.
        Kesulitan belajar Matematika di kelas atas ternyata cukup bervariasi. Ada
yang merasa kesulitan belajar Matematika itu diporogapit atau pembagian, ada yang
mengatakan pada FPB dan KPK, ada juga yang kesulitan pada jarak waktu dan
kecepatan, adapula yang kesulitan pada perbandingan dan lain-lain. Sebenarnya
semua itu hanyalah pengembangan dari perkalian, pembagian, penjumlahan dan
pengurangan. Sebagai contoh masalah jarak waktu dan kecepatan. Jarak hanyalah
mengalikan waktu yang diperlukan dengan kecepatan. Mencari kecepatan hanyalah
membagi jarak dengan waktu yang ditempuh, adapun untuk mencari waktu cukup
membagi jarak dengan kecepatan. Jadi apabila perkalian dan pembagian itu lancar
pastilah mudah menyelesaikan masalah Matematika tersebut.
        Mengatasi kesulitan belajar tentu tidak hanya diserahkan pada guru mata
pelajaran yang ada di sekolah, karena penyebab kesulitan belajar Matematika itu
tidak hanya berasal dari guru saja. Ada faktor penyebab lain juga, misal peserta didik
malas belajar, kurang semangat dalam belajar, dan ini artinya kesulitan belajar yang
dialami disebabkan dari dalam diri peserta didik itu sendiri. Selain itu kesalahan
peserta didik dalam belajar juga menyebabkan kesulitan belajar Matematika, contoh
: peserta didik belajar jika hanya ada tugs rumah atau PR.
        Faktor dari luar juga dapat menyebabkan anak kesulitan belajar Matematika.
Faktor dari luar itu antara lain :
1. Guru
   Guru sangat dominan dalam menentukan keberhasilan prestasi peserta didik.
   Apabila guru Matematika ditakuti peserta didik karena terlalu keras dalam
   mengajar tentu akan berakibat peserta didik itu malas untuk mengikuti pelajaran,
   dapat juga membuat perserta didik itu benci dengan gurunya sekaligus juga benci
   dengan pelajarannya. Kalau peserta didik sudah benci dengan gurunya ataupun
   pelajarannya secara otomatis peserta didik tersebut malas untuk mempelajari
   apa yang telah disampaikan oleh guru tersebut. apalagi kalau ditambah dengan
   guru yang sistem mengajarnya kurang bervariasi atau monoton saja, maka
   peserta didik tidak akan tertarik untuk mengikuti pelajaran. Guru sebagainya
   banyak menguasai metode dalam pembelajaran dan banyak menggunakan peraga
   yang bervariasi sehingga pelajaran yang disampaikan akan dapat lebih menarik
   bagi peserta didik dan dapat memotivasi peserta didik untuk selalu mengikuti
   pelajaran yang disampaikan.
2. Sarana dan Prasarana
   Sarana dan prasarana dalam pembelajaran tidak kalah pentingnya dari faktor
   guru. Bagaimanapun profesionalnya       seorang guru Matematika apabila tidak
   didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai, apalah arti guru
   profesional. Dalam pembelajaran Matematika pasti juga diperlukan sarana dan
   prasarana baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Alat pembelajaran
   yang lengkap dan didukung dengan tenaga guru Matemaika yang profesional
   tentu akan menambah tingkat kesuksesan prestasi belajar peserta didik dan
   mengurangi tingkat kesulitan belajar peserta didik.
3. Orang tua
   Dukungan serta bimbingan belajar dari orang tua akan turut serta menentukan
   keberhasilan prestasi peserta didik. Kesulitan belajar ketika ada di rumah apabila
   diketahui oleh orang tua, tentu orang tua juga akan membantu kesulitan belajar
   yang dihadapi anaknya. Mungkin dengan dibimbing sendiri kalau mampu, atau
   juga dengan cara diikutsertakan dalam Lembaga Bimbingan Belajar bagi orang
   tua yang mampu membiayai. Bagi yang tidak mampu tentu juga ini sebagai
   faktor penghambat dalam prestasi belajar anak.
4. Lingkungan
Peserta didik tidak akan mungkin untuk menghindari pengaruh dari lingkungan
dimana dia berada. Hal yang dapat dilakukan adalah meminimalisasi pengaruh
lingkungan yang tidak baik terhadap dirinya. Namun untuk usia SD atau MI hal
ini tentu jarang untuk disadari anak tanpa bantuan dari orang yang ada
disekitarnya, guru, orang tua, teman, saudara juga masyarakat. Sebagai contoh
lingkungan peserta didik yang banyak play station (PS) tentu tidak dapat
dihindari peserta didik. Peserta didik akan lebih tertarik main PS daripada belajar
kelompok, dapat juga pamit belajar kelompok malah pindah tempat ke PS.
Apalagi tempat PS tidak mengenal waktu jam belajar masyarakat, dari pagi
sampai dini hari pun PS tetap melayani siapa saja yang akan bermain. Mereka
tidak memikirkan prestasi belajar anak, mereka hanya berpikir untuk
kepentingan dirinya. Tidak peduli yang main PS masih berseragam sekolah dan
jam sekolah yang penting hanyalah melayani pemain dan mendapat keuntungan.
Lingkungan yang demikian ini tentu hanya menambah kesulitan belajar peserta
didik, terutama Matematika yang dianggap pelajaran paling sulit. Selain itu jam
belajar masyarakat yang tidak diterapkan di masyarakat itu sendiri tentu juga
akan mempengaruhi cara belajar masyarakat dan secara langsung ataupun tidak
langsung tentu akan menambah kesulitan belajar peserta didik.
                                        BAB V
                                     PENUTUP


B. Simpulan
          Berdasarkan hasil penelitian di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah
   Manisrenggo, Klaten. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya dan sesuai dengan
   permasalahan yang telah dirumuskan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
   1. Kesulitan belajar Matematika yang       dialami peserta didik MIM Kranggan,
      Manisrenggo beraneka macam, sesuai dengan tingkatan kelas dan kompetensi
      dasar   masing-masing.    Hal-hal   yang   melatarbelakangi   kesulitan   belajar
      Matematika di antaranya adalah peserta didik belum menguasai benar hitung
      dasar basis sepuluh, kurang maksimalnya guru menggunakan berbagai alat
      peraga dan terbatasnya kemampuan orang tua peserta didik dalam membimbing
      belajar Matematika. Faktor internal penyebab kesulitan belajar Matematika
      adalah peserta didik malas belajar. Faktor eksternal kesulitan belajar Matematika
      antara lain guru, orang tua dan lingkungan PS (Play Station), kurangnya sarana
      dan prasarana. Upaya-upaya guru Matematika dalam mengatasi kesulitan belajar
      Matematika adalah dengan mengadakan tambahan pelajaran/les disekolah,
      pendekatan dan pengarahan kepada wali murid, penggunaan berbagai metode
      pembelajaran dan juga memberikan pembelajaran remedial.
   2. Teknik remedial teaching      yang diberikan oleh guru Matematika di MIM
      Krangan, kurang bervariasi dan mengakibatkan peserta didik mudah jenuh dalam
      mengikuti pelajaran Matematika.


C. Saran-saran
          Dari berbagai permasalahan yang dijumpai dalam kesulitan belajar
   Matematika dan remedial teaching pada peserta didik MIM Kranggan, peneliti
   berusaha mencari jalan keluarnya sebagai berikut :
   1. Kepala sekolah agar lebih berpartisipatif untuk mengikutkan guru Matematika
      khususnya dalam pelatihan-pelatihan yang berkenaan dengan pembelajaran
      Matematika.
2. Guru Matematika selalu memotivasi peserta didikk dalam mempelajari
     Matematika.
3. Guru Matematika harus pandai-pandai dalam memilih metode dan alat peraga
     terhadap materi pembelajaran yang disampaikan.
4.   Guru Matematika khususnya kelas rendah hendaknya lebih mengembangkan
     alat peraga berhitung, jangan hanya menggunakan         jari yang paling cepat
     didapat,   mengingat   keberhasilan   pembelajaran    Matematika    itu   saling
     berkesinambungan dari kelas 1sampai dengan kelas 6.
5. Guru Matematika dikelas rendah harus dapat menanamkan konsep hitung dasar
     basis sepuluh secara benar dan tepat jangan hanya sekedar mengejar target sesuai
     kurikulum.
                                 DAFTAR PUSTAKA


Abin Syamsuddin Makmun, 2002. Psikologi Pendidikan Perangkat Sistem Pengajaran
         Modul, Bandung : Rosda.

GBPP MI , 1983/1984. Bidang studi Matematika.

Hidayat, 2002. Diagnosa Kesulitan Belajar Al Qur’an Hadits dan Pelaksanaan
          Remedial Teaching pada Siswa MIM Kranggan Manisrenggo.

http://ebekunt.wordpress.com/2009/04/12/diagnosis-kesulitan-kesulitan-belajar.

Ischak W dan Wardji R, 1982. Kegiatan Perbaikan dalam Proses Belajar
        Mengajar.Yogyakarta : FIP, IKIP.

Muhammad Chairur Rachmad, 1999. Sikap Siswa Terhadap Pelaksanaan Pengajaran
       Remedial pada Bidang       Studi Pendidikan Agama Islam di SMU
       Muhammadiyah Sewon Kabupaten Bantul Yogyakarta.

Muhammad Idrus, 2007. Metode Penelitian Ilmu-ilmu Sosial. Yogyakarta : UII Press.

Muhibbin Syah, 1995. Psikologis Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung :
         Rosda.

Depag RI, 2007. KTSP.

Depag RI, 2001.Pedoman Guru Mapel Matematika MI.

Kunandar, 2007. Guru Profesional, Edisi Revisi, Jakarta. Rajawali.Pers.

P. Joko Subagyo, 1997. Metode Penelitian. Jakarta

Siti Mardiyati, 1994. Layanan Bimbingan Belajar. Surakarta : UNS.

Wakitri, 1990. Penelitian Hasil Belajar. Jakarta : Karunika.

WJS. Poerwadarminta, 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Lampiran : Struktur Organisasi MI Muhammadiyah Kranggan, Manisrenggo, Klaten


               STRUKTUR ORGANISASI MI MUHAMMADIYAH
                      KRANGGAN MANISRENGGO KLATEN


             KOMITE             Kepala Madrasah           Pengurus PDM
                                                          Muhammadiyah


                                      Guru



                                      Siswa




     Kelas        Kelas       Kelas           Kelas    Kelas        Kelas
       I           II          III             IV       V            VI


Sumber Data : Dokumentasi MI Muhammadiyah Kranggan
Lampiran : Nama Guru dan Pembagian Tugasnya.


                 NAMA GURU DAN PEMBAGIAN TUGASNYA


NO.          NAMA               PEND. STATUS    MENGAJAR                TUG. LAIN
 1. Siti Dalalah, S.Pd.I          S1    PNS  PKn kelas IV-VI           Kepala Sekolah
 2.   Asrorijah, A.Ma.           D2     PNS    Guru Kelas II
 3.   Suharni                    S1     PNS    Guru Kelas I            Bendahara
 4.   Badrun, S.Ag.              S1     GTT    Bahasa Arab             Wali Kelas IV
 5.   Ristiyanti, A.Ma.          D2     GTT    Guru Kelas III
 6.   Ichsan Fauzi, A.Ma.        D2     GTT    Bhs. Indonesia IV-VI,   Wali Kelas VI
                                               Penjaskes
 7.   Sriyanto, A.Ma.Pd.         D2     GTT    Pengsos IV-VI           Wali kelas V
 8.   Hamdani Nadhir, S.Pd.I     S1     GTT    Guru Agama IV-VI
 9.   Aprilia Intan. W, A.Ma.    D2     GTT    Guru IPA dan SBK
                                               Kelas V-VI
Lampiran : Jumlah Siswa MIM Kranggan TA. 2009/2010


                       DISTRIBUSI SISWA KELAS I – KELAS VI
                          MI MUHAMMADIYAH KRANGGAN
             KELAS             PUTRA              PUTRI       JUMLAH
                 I                21                 14         35
                 II               15                 16         31
                III               13                 12         25
                IV                10                 15         25
                 V                12                 12         24
                VI                11                 09         20
              Jumlah              82                 78        160
         Sumber Data : Dokumentasi MI Muhammadiyah Kranggan
Lampiran : Sarana dan Prasarana


                       SARANA DAN PRASARANA


          NOMOR            NAMA BARANG        JUMLAH
             1      Meja Murid dan Guru       105 buah
             2      Kursi kayu                180 buah
             3      Almari kayu               11 buah
             4      Meja Kepala Madrasah       1 buah
             5      Papan tulis                6 buah
             6      Papan rekapitulasi         2 buah
             7      Mesin ketik                2 buah
             8      Tape recorder              1 buah
             9      Bel ruangan                  1
             10     Bendera                    8 buah
             11     Jam dinding                9 buah
             12     Meja tamu                  1 Set
             13     Megaphone                  1 buah
             14     Perlengkapan PPPK          1 Set
             15     Alat Peraga                12 Set
             16     Komputer                   3 buah
                    ANGKET UNTUK ORANG TUA SISWA




Berilah tanda silang pada huruf a, b sesuai dengan jawaban anda !

1. Menurut anda apakah membimbing belajar Matematika itu sulit ?
   a. ya
   b. tidak
2. Apakah anda selalu menyuruh anak anda belajar ?
   a. ya
   b. tidak
3. Apakah anda sekedar menyuruh untuk belajar atau mendampingi dalam belajar ?
   a. hanya menyuruh belajar
   b. selalu mendampingi belaja
4. Apakah anda pasti mampu membimbing anak belajar Matematika dari kelas satu
   sampai dengan kelas enam ?
   a. ya
   b. tidak
5. Apakah anda mampu membiayai anak anda belajar di Lembaga Bimbingan Belajar
   yang ada ?
   a. ya
   b. tidak




                                                         Responden




                                                 ( ………………………….. )
                           ANGKET UNTUK SISWA


Berilah tanda silang pada huruf a, b sesuai dengan jawaban anda !

1. Apakah kamu menyukai pelajaran Matematika ?
   a. ya
   b. tidak
2. Apakah kamu menganggap pelajaran Matematika itu sulit ?
   a. ya
   b. tidak
3. Apakah dalam menghitung kamu selalu menggunakan bantuan jari ?
   a. ya
   b. tidak
4. Apakah kamu mengusai konsep dasar hitung basis sepuluh ?
   a. ya
   b. tidak
5. Apakah kamu belajar Matematika hanya jika ada tugas rumah ?
   a. ya
   b. tidak




                                                         Responden




                                                 ( ………………………….. )
                        ANGKET UNTUK MASYARAKAT



Berilah tanda silang pada huruf a, b sesuai dengan jawaban anda !

1. Apakah anda selalu menaati jam belajar masyarakat ?
   a. ya
   b. tidak
2. Apakah anda selalu mematikan TV atau radio dari pukul 19.00-21.00 ?
   a. ya
   b. tidak
3. Apakah anda selalu mengingatkan apabila ada anggota masyarakat yang tidak
   belajar pada waktu jam belajar masyarakat ?
   a. ya
   b. tidak
4. Apakah Play Station (PS) selalu tutup dari pukul 19.00-21.00 ?
   a. ya
   b. tidak
5. Apakah PS yang ada mengganggu kegiatan belajar masyarakat ?
   a. ya
   b. tidak




                                                            Responden




                                                   ( ………………………….. )
                         Hasil Angket Masyarakat


                                         Jawaban Nomor Soal
No.             Nama          1          2       3       4            5       Ket.
                          a       b    a    b  a    b  a     b    a       b
1.    Suryanto                    √        √       √        √    √
2.    Jazusman                    √       √        √        √    √
3.    Jumakir                     √       √        √        √    √
4.    Slamet Surono               √       √        √        √    √
5.    Partinem                    √       √        √        √    √
6.    Marsini                     √       √        √        √    √
7.    Badrun                      √       √        √        √    √
8.    Samsuri                     √       √        √        √    √
9.    Sarwoto                     √       √        √        √    √
10.   Sunarto                     √       √        √        √    √
11.   Sukirjo                     √       √        √        √    √
12.   Sukarjo                     √       √        √        √    √
13.   Ratno Sumitro               √       √        √        √    √
14.   Puput                       √       √        √        √    √
15.   Suko Raharjo                √       √        √        √    √
16.   Gandung                     √       √        √        √    √
                Jumlah            16      16       16       16   16
                           Hasil Angket Peserta Didik


                                            Jawaban Nomor Soal
No.            Nama              1          2       3       4           5       Ket.
                             a       b    a   b   a   b   a     b   a       b
1.    Anggi Rahayu           √                √   √            √            √
2.    Oktaviana. P.          √                 √   √           √    √
3.    Bima Kumara Sakti      √                 √   √           √            √
4.    Irma Fadila. LP.               √    √        √           √            √
5.    Helmi Eko Yulianto             √    √        √           √    √
6.    Alfafa                 √                 √   √           √    √
7.    Muhammad Yasin                 √    √        √           √    √
8.    Elik Bagas Rianto              √    √        √           √            √
9.    Muhammad Fatah. P.             √    √        √           √            √
10.   Hani Alifia. P.                √    √        √           √    √
11.   Febri Bagus. R.                √    √        √           √    √
12.   Nadia Andriani                 √    √        √           √            √
13.   Ruli Wulandari                 √    √        √           √            √
14.   Intan Kurnia Putri             √    √        √           √            √
15.   Bagas Septiadi                 √    √        √           √            √
16.   Crist Sulaiman                 √    √        √           √    √
               Jumlah        4       12   12   4   16          16   7       9
                         Hasil Angket Orang Tua Peserta Didik


                                                Jawaban Nomor Soal
No.             Nama                 1          2       3       4            5       Ket.
                                 a       b    a   b   a    b  a     b    a       b
1.    Marsum                             √    √           √        √    √
2.    Tri Mulyono                        √    √           √        √    √
3.    Bimo Sigit. W.                     √    √           √        √    √
4.    Widodo                             √    √           √        √    √
5.    Yulianto                           √    √           √        √    √
6.    Murtianto                 √             √           √        √    √
7.    Supriyanto                         √    √           √        √    √
8.    Bagiyanto                          √    √           √        √    √
9.    Tri Purwono                        √    √           √        √    √
10.   Harjito                            √    √           √        √    √
11.   Suroto                             √    √           √        √    √
12.   Hari                               √    √           √        √    √
13.   Bejo                               √    √           √        √    √
14.   Topo Dibyo. M.                     √    √           √        √    √
15.   Rosyid                             √    √           √        √    √
16.   Budiyono                           √    √           √        √    √
                Jumlah           1       15   1   15      16       16   16

								
To top