Docstoc

proposal penelitian contoh

Document Sample
proposal penelitian contoh Powered By Docstoc
					                   PROPOSAL PENELITIAN


KORELASI ANTARA PEMAHAMAN DIRI DAN RASA PERCAYA DIRI PADA

   REMAJA YANG TINGGAL DI PANTI ASUHAN DI KOTA KEBUMEN




                         Disusun Oleh :


               Linggar Agus Pambudi (08401241011)




    JURUSAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DAN HUKUM


            FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI


             UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA


                             2011
    KORELASI ANTARA PEMAHAMAN DIRI DAN RASA PERCAYA DIRI PADA

         REMAJA YANG TINGGAL DI PANTI ASUHAN DI KOTA KEBUMEN




                                          BAB 1


                                      PENDAHULUAN




   A. LATAR BELAKANG MASALAH

       Perjalanan hidup seorang anak tidak selamanya berjalan dengan mulus. Beberapa anak

dihadapkan pada pilihan yang sulit bahwa individu harus berpisah dari keluarga karena suatu

alasan, menjadi yatim, piatu atau yatim-piatu bahkan mungkin menjadi anak terlantar. Kondisi

ini menyebabkan adanya ketidak lengkapan di dalam suatu keluarga. Ketidak lengkapan ini pada

kenyataanya secara fisik tidak mungkin lagi dapat digantikan tetapi secara psikologis dapat

dilakukan dengan diciptakannya situasi kekeluargaan dan hadirnya tokoh-tokoh yang dapat

berfungsi sebagai pengganti orang tua .

       Menurut Hurlock (1997:213) masa remaja dikatakan sebagai masa transisi karena belum

mempunyai pegangan, sementara kepribadianya masih menglami suatu perkembangan, remaja

masih belum mampu untuk menguasai fungsi-fungsi fisiknya. Remaja masih labil dan mudah

terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Remaja sebagai bagian dari generasi penerus yang

menjadi tonggak sebagai individu yang bermakna pada hari kemudian diharapkan juga memiliki

pemahaman tentang diri yang benar, hal tersebut sangat diperlukan bagi setiap orang dalam

menjalani kehidupannya, sehingga di peroleh suatu gambaran yang jelas tentang dirinya dan

supaya sremaja bias menjalankan apa yang sudah didapatkannya.
       Pemahaman akan diri seseorang sangatlah mutlak untuk diketahui. Oleh karena itu semua

orang harus mengerti tentang dirinya. Baik secara internal maupun secara eksternal. Ketika

seseorang mengetahui kondisi dan gambaran tentang dirinya maka dia akan dapat menjalani

hidupnya dengan nyaman dan juga memiliki rasa percaya diri yang kuat karena sudah memiliki

pandangan diri yang jelas.

       Dalam melakukan suatu pekerjaan atau kegiatan, semua orang memiliki kemampuan dan

keinginan yang berbeda. Salah satu faktor yang membuat seseorang dapat melakukan apa yang

dia ingin lakukan adalah ketika dia memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk melakukannya.

Ketika seseorang kurang memeiliki rasa percaya diri maka kemungkinan orang tersebut tidak

akan dapat bergaul dengan sesama temannya, melakukan apa yang diinginkannya dan pergi

sesuai keinginannya.

Remaja yang tinggal di panti asuhan mempunyai rasa rendah diri atau minder terhadap keadaan

dirinya, tidak seperti teman-teman dalam kondisi keluarga normal. Hal ini berpengaruh terhadap

pergaulan dengan lingkungan. Sementara itu masyarakat atau teman-teman dalam lingkungan

sosial sering memberikan label negatif pada anak-anak panti asuhan tanpa melihat lebih jauh,

mengapa atau bagaimana berbagai hal negatif ini akan terjadi. Adanya penyimpangan antara

harapan dan kenyataan itulah, maka peneliti merasa perlu untuk meneliti hal tersebut.



   B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian diatas, maka yang menjadi rumusan masalah penelitian adalah sebagai

berikut:

1. Mengetahui hubungan antara pemahaman diri dengan rasa percaya diri remaja yang tinggal di

panti asuhan?
2. Mengetahui pemahaman diri dengan rasa percaya diri remaja yang tinggal di panti asuhan?

3. Mengetahui tingkat pemahaman diri dengan rasa percaya diri remaja yang tinggal di panti

asuhan?



   C. MANFAAT PENELITIAN

Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat dan kegunaan sebagai berikut:

1. Manfaat teoritis : Dapat menambah wawasan pengetahuan mengenai pemahaman diri dan

   rasa percaya diri yang ada pada masa remja .

2. Manfaat praktis : Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan

   pendidik, guru,dan orang – orang yang berhubungan dengan panti asuhan dan anak anak

   asuhnya.
                                            BAB II

                                       KAJIAN TEORI




1. Pemahaman Diri (Self-Understanding)

   A. Pengertian

Menurut Santrock (2003:333) Pemahaman diri (self – Understanding) adalah gambaran kognitif

remaja mengenai dirinya, dasar, dan isi dari konsep diri remaja. Pemahaman diri menjadi lebih

introspektif tetapi tidak bersifat menyeluruh dalam diri remaja, namun lebih merupakan

konstruksi kognisi sosialnya. Pada masa remaja persinggungan antara pengalaman sosial, budaya

dan norma yang berlaku mempengaruhi pada kognisi sosial remaja.




   B. Dimensi – Dimensi Pemahaman Diri

Menurut Santrock (2003:333) Perkembangan dari pemahaman diri masa remaja sangatlah

kompleks dan melibatkan sejumlah aspek dalam diri seorang remaja. Beberapa aspek yang ada

dalam dimensi –dimensi pemahaman diri ramaja antara lain :



  1.   Abstrak dan Idealistik

       Pada mas remaja, konstruk berfikir para remaja bersifat abstrak dan idealistik dimana

   konsep tentang diri seorang remaja itu belum jelas dimana konsep tentang dirinya bersifat

   lebih baik atau lebih buruk dari keadaan sebenarnya. Tidak semua remaja menggambarkan

   diri mereka dengan cara yang idealis, namun, sebagian besar remaja membedakan diri

   mereka yang sebenarnya dengan diri yang diidamkannya.
2. Terdiferensiasi

        Pemahaman diri seorang remaja bisa semakin terdeferensiasi. Remaja lebih mungkin

dari pada anak kecil untuk menggambarkan dirinya sesuai dengan konteks atau situaasi yang

semakin terdeferensiasi. Remaja lebih mungkin dari pada anak – anak untuk memahami

bahwa dirinya memiliki diri – diri yang berbeda-beda, tergantung dari peran atau konteks

tertentu.



3. Kontradiksi Dalam Diri

        Setelah kebutuah untuk mendiferensiasikan diri kedalam banyak peran dalam konteks

yang berbeda-beda ada dalam diri remaja, muncullah kontradiksi antara diri – diri yang

terdeferensiasi ini.




4. Fluktuasi Diri

        Adanya sifat kontradiktif dalam diri pada masa remaja membuat munculnya fluktuasi

diri remaja dalam berbagai situasi dan waktu tidaklah tidak mengejutkan. Ciri remaja di

mana seorang remaja memiliki ciri ketidakstabilan hingga tiba suatu saat dimana seorang

remaja berhasil membentuk teori mengenai dirinya yang leboh utuh, dan biasanya tidak

terjadi hingga masa akhir remajanya atau bahkan diawal masa dewasa.



5. Diri yang nyata dan ideal, diri yang benar dan yang palsu
       Muncul kemampuan remaja untuk mengkonstruksikan diri mereka yang ideal

disamping diri yang sebenarnya, menjadi suatu yang membingungkan bagi remaja.

Kemampuan untuk menyadari adanya perbedaan antara diri yang nyata dengan diri yang

ideal menunjukkan adanya peningkatan kemampuan kognitif. Namun menurut Rogers

(Santrock, 2003:334), yakin bahwa adanya perbedaan yang terlalu jauh antara diri yang ideal

dengan diri yang sebenarnya menunjukkan tanda ketidak mampuan untuk menyesuaikan diri.



6. Perbandingan sosial

       Para ahli perkembangan meyakini bahwa remaja, dibandingkan dengan anak-anak,

lebih sering menggunakan perbandingan social (social Comparison) untuk mengevakluasi

diri mereka sendiri (ruble dalam Santrock, 2003 : 335). Namun kesediaan remaja untuk

mengakui bahwa mereka melakukan perbandingan social untuk melakukan evaluasi kepada

diri mereka cenderung menurun dimasa remaja karena perbandingan social tidaklah

diinginkan. Berpegangan pada informasi perbandingan social pada masa remaja membuat

mereka kebingungan karena banyaknya kelompok referensi.



7. Kesadaran diri

       Remaja lebih sadar akan dirinya (self-conscious) dibandingkan dengan anak-anak dan

lebih memikirkan tentang pemahaman dirinya. Remaja lebih introspektif, yang mana hal ini

merupakan bagian dari kesadaran diri mereka dan bagian dari eksplorasi diri. Namun,

introspeksi tidak hanya terjadi pada remaja dalam keadaan isolasi social. Remaja kadang

kadang meminta dukungan dan penjelasan dari teman-temannya, mendapatkan opini dari

teman-temannya mengenai definisi diri yang baru muncul.
8. Perlindungan diri

        Mekanisme untuk mempertahankan diri sendiri (self-deffens) merupakan bagian dari

pemahaman diri remaja. Walaupun remaja sering menunjukkan adanya kebingungan dan

konflik yang muncul akibat adanya usaha – isaha introspektif untuk memahami dirinya,

remaja juga memiliki mekanisme untuk melindungi dan mengembangkan dirinya. Dalam

men\lindungi diri, remaja cenderung akan menolak akan adanya karakteristik negative dalam

diri mereka. Kecenderungan remaja untuk melindungi dirinya sendiri sesuai dengan deskripsi

trdahulu merupakan d\kecenderungan remaja untuk menggambarkan diri mereka dengan cara

yang idealistic.



9. Ketidaksadaran

        Pemahaman diri remaja melibatkan adanya pengenalan bahwa komponen yang tidak

disadari (unconscious) termasuk dalam dirinya, dama halnya dengan komponen yang

disadari (conscious). Pengenalan semacam itu biasanya tidak muncul sampai pada masa

remaja akhir. Maksudnya yang lebih tua biasanya lebih yakin akan adanya aspek – aspek

tertentu dari pengalaman mental diri mereka yang berada diluar kesadaran atau control

mereka dibandingkan dengan remaja yang lebih mudah.



10. Integrasi diri

        Pemahaman diri remaja, terutama dimasa remaja akhir, menjadi lebih terintegrasi

dimana bagian yang berbeda-beda diri yang secara sistematik menjadi suatu kesatuan.

Remaja yang lebih tua mampu mendeteksi adanya ketidak konsistenan dalam deskripsi diri
     mereka dimasa sebelumnya ketika remaja berusaha untuk mengkonstruksikan teori mengenai

     diri secara umum, atau suatu pemikiran yang terintegrasi dari identitas.



2.   Percaya Diri (Self-Esteem

      A. Pengertian

        Orang yang dikatakan memiliki kepercayaan diri ialah orang yang merasa puas dengan

dirinya (Gael Lindenfield dalam Kamil, 1998: 3). Adapun gambaran merasa puas terhadap

dirinya adalah orang yang merasa mengetahui dan mengakui terhadap ketrampilan dan

kemampuan yang dimilikinya, serta mampu menunjukkan keberhasilan yang dicapai dalam

kehidupan bersosial. Untuk mencari atau menggali definisi yang akurat tentang percaya diri,

maka harus menganalisis tentang unsur-unsurnya yang khas. Hal ini dilakukan dengan

mendaftarkan sifatsifat dan ketrampilan-ketrampilan hasil pengamatan terhadap orang yang

memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.

Menurut Angelis (2000: 10) kepercayaan diri merupakan suatu keyakinan dalam jiwa manusia

bahwa tantangan hidup apapun harus dihadapi dengan berbuat sesuatu. Kepercayaan diri itu lahir

dari kesadaran bahwa jika memutuskan untuk melakukan sesuatu, sesuatu itu pula yang harus

dilakukan. Kepercayaan diri itu akan datang dari kesadaran seorang individu bahwa individu

tersebut memiliki tekad untuk melakukan apapun, sampai tujuan yang ia inginkan tercapai.

Menurut Hakim (2005: 6), rasa percaya diri yaitu suatu keyakinan seseorang terhadap segala

aspek kelebihan yang dimilikinya dan keyakinan tersebut membuatnya merasa mampu untuk

bisa mencapai berbagai tujuan di dalam hidupnya. Jadi, dapat dikatakan bahwa seseorang yang

memiliki kepercayaan diri akan optimis di dalam melakukan semua aktivitasnya, dan

mempunyai tujuan yang realistik, artinya individu tersebut akan membuat tujuan hidup yang
mampu untuk dilakukan, sehingga apa yang direncanakan akan dilakukan dengan keyakinan

akan berhasil atau akan mencapai tujuan yang telah ditetapkannya.

Siswa yang memiliki kepercayaan diri akan mampu mengetahui kelebihan yang dimilikinya,

karena siswa tersebut menyadari bahwa segala kelebihan yang dimiliki, kalau tidak

dikembangkan, maka tidak akan ada artinya, akan tetapi kalau kelebihan yang dimilikinya

mampu dikembangkan dengan optimal maka akan mendatangkan kepuasan sehingga akan

menumbuhkan kepercayaan diri.

Individu yang percaya diri akan memandang kelemahan sebagai hal yang wajar dimiliki oleh

setiap individu, karena individu yang percaya diri akan mengubah kelemahan yang dimiliki

menjadi motivasi untuk mengembangkan kelebihannya dan tidak akan membiarkan

kelemahannya tersebut menjadi penghambat dalam mengaktualisasikan kelebihan yang

dimilikinya.

Sebagai contoh, siswa yang selalu menjadi juara kelas mampu menguasai materi pelajaran yang

diajarkan di sekolah, sehingga ia merasa yakin dan tidak takut jika disuruh gurunya untuk

mengerjakan soal di depan kelas. Bahkan, di dalam setiap mata pelajaran, jika guru bertanya atau

meminta seseorang untuk mengerjakan soal di depan kelas, siswa yang menjadi juara kelas dapat

mengajukan diri tanpa diperintah.

Sedangkan Luxori (2004: 4), menyatakan bahwa, percaya diri adalah hasil dari percampuran

antara pikiran dan perasaan yang melahirkan perasaan rela terhadap diri sendiri. Dengan

memiliki kepercayaan diri, seseorang akan selalu merasa baik, rela dengan kondisi dirinya, akan

berpikir bahwa dirinya adalah manusia yang berkualitas dalam berbagai bidang kehidupan,

pekerjaan, kekeluargaan, dan kemasyarakatan, sehingga dengan sendirinya seseorang yang

percaya diri akan selalu merasakan bahwa dirinya adalah sosok yang berguna dan memiliki
kemampuan untuk bersosialisasi dan bekerja sama dengan masyarakat lainnya dalam berbagai

bidang. Rasa percaya diri yang dimiliki seseorang akan mendorongnya untuk menyelesaikan

setiap aktivitas dengan baik.

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kepercayaan

diri adalah kesadaran individu akan kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, meyakini

adanya rasa percaya dalam dirinya, merasa puas terhadap dirinya baik yang bersifat batiniah

maupun jasmaniah, dapat bertindak sesuai dengan kapasitasnya serta mampu mengendalikannya.




   B. Ciri-ciri Orang Yang Percaya Diri

Menurut Hakim (2005: 5-6) ciri-ciri orang yang percaya diri antara lain :

1. Selalu bersikap tenang di dalam mengerjakan segala sesuatu;

2. Mempunyai potensi dan kemampuan yang memadai;

3. Mampu menetralisasi ketegangan yang muncul di dalam berbagai situasi;

4. Mampu menyesuaikan diri dan berkomunikasi di berbagai situasi;

5. Memiliki kondisi mental dan fisik yang cukup menunjang penampilannya;

6. Memiliki kecerdasan yang cukup;

7. Memiliki tingkat pendidikan formal yang cukup;

8. Memiliki keahlian atau keterampilan lain yang menunjang kehidupannya, misalnya

   ketrampilan berbahasa asing;

9. Memiliki kemampuan bersosialisasi;

10. Memiliki latar belakang pendidikan keluarga yang baik;

11. Memiliki pengalaman hidup yang menempa mentalnya menjadi kuat dan tahan di dalam

   menghadapi berbagai cobaan hidup;
12. Selalu bereaksi positif di dalam menghadapi berbagai masalah, misalnya dengan tetap tegar,

   sabar, dan tabah dalam menghadapi persoalan hidup.




  C. Ciri-ciri Orang Yang Tidak Percaya Diri

Menurut Hakim (2005: 8-9) ciri-ciri orang yang tidak percaya diri antara lain :

1. Mudah cemas dalam menghadapi persoalan dengan tingkat kesulitan tertentu;

2. Memiliki kelemahan atau kekurangan dari segi mental, fisik, sosial, atau ekonomi;

3. Sulit menetralisasi timbulnya ketegangan di dalam suatu situasi;

4. Gugup dan kadang-kadang bicara gagap;

5. Memiliki latar belakang pendidikan keluarga kurang baik;

6. Memiliki perkembangan yang kurang baik sejak masa kecil;

7. Kurang memiliki kelebihan pada bidang tertentu dan tidak tahu bagaimana cara

   mengembangkan diri untuk memiliki kelebihan tertentu;

8. Sering menyendiri dari kelompok yang dianggapnya lebih dari dirinya;

9. Mudah putus asa;

10. Cenderung tergantung pada orang lain dalam mengatasi masalah;

11. Pernah mengalami trauma;

12. Sering bereaksi negatif dalam menghadapi masalah, misalnya dengan menghindari tanggung

   jawab atau mengisolasi diri, yang menyebabkan rasa tidak percaya dirinya semakin buruk




  D. Mengembangkan Kepercayaan Diri

Lindenfield (19: 14) menjelaskan ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam

mengembangkan percaya diri diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Cinta

           Individu perlu terus merasa dicintai tanpa syarat. Untuk perkembangan harga diri

   yang sehat dan langgeng, seseorang harus merasa bahwa dirinya dihargai karena

   keadaannya yang sesungguhnya, bukan yang seharusnya atau seperti yang diinginkan

   orang lain. Setiap orang hendaknya dicintai tanpa syarat, namun yang terpenting, individu

   itu sendiri harus dapat mencinti diri tanpa syarat.

           Dengan merasa tenteram, percaya diri dan mencintai diri sendiri bila semua

   keinginan terpenuhi, ini berarti seseorang telah menyayangi diri sendiri secara bersyarat.

   Agar seseorang dapat menyayangi diri dengan tulus, hendaknya individu dapat

   menyayangi dirinya sendiri karena telah melakukan sesuatu, bukan karena telah berhasil

   mencapai sesuatu.

           Dalam kegiatan kelompok seperti bimbingan kelompok, bentuk cinta pada diri

   sendiri dapat ditunjukkan dengan menerima diri apa adanya, tidak menyayangi diri secara

   bersyarat, memiliki rasa percaya diri dan selalu merasa tenteram. Sedangkan bentuk cinta

   yang diberikan oleh orang lain dalam kelompok yaitu mau mendengarkan pendapat

   anggota kelompok, mau memberikan saran dan kritik yang membangun, saling memberi

   dan menerima bantuan, berempati dengan tulus, anggota kelompok saling memberi

   motivasi, serta suka rela memecahkan masalah bersama-sama.



2. Rasa aman

           Bila individu merasa aman, mereka secara tidak langsung akan mencoba

   mengembangkan kemampuan mereka dengan menjawab tantangan serta berani
   mengambil resiko yang menarik. Di dalam kegiatan bimbingan kelompok, rasa aman

   ditunjukkan anggota kelompok dengan saling menjaga rahasia, masing-masing anggota

   mau terbuka, jujur, dan percaya pada diri sendiri maupun orang lain, serta saling

   menghargai.



3. Model peran

          Mengajar lewat contoh adalah cara paling efektif agar anak mengembangkan

   sikap dan ketrampilan sosial yang diperlukan untuk percaya diri. Dalam hal ini peran

   orang lain sangat dibutuhkan untuk dijadikan contoh bagi individu untuk dapat

   mengembangkan rasa percaya diri.

          Di dalam kegiatan koneling kelompok, anggota kelompok dapat menjadikan diri

   sendiri maupun orang lain sebagai model. Dengan menjadikan orang lain sebagai model,

   individu dapat menjadikan model itu sebagi contoh/ teladan dan dapat menirunya untuk

   menumbuhkan rasa percaya diri.



E. Hubungan

      Untuk mengembangkan rasa percaya diri individu terhadap segala hal, individu jelas

perlu mengalami dan bereksperimen dengan beraneka hubungan dari yang dekat dan akrab

dirumah, teman sebaya maupun yang lebih asing.

      Adler (dalam Supratiknya, 1993: 241) menyatakan bahwa manusia pada dasarnya

adalah makhluk sosial. Manusia selalu menghubungkan dirinya dengan orang lain, ikut

dalam kegiatan kegiatan kerja sama sosial, menempatkan kesejahteraan sosial di atas

kepentingan diri sendiri dan mengembangkan gaya hidup yang mengutamakan orientasi
sosial. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, dalam menjalani hidup, setiap orang selalu

membutuhkan orang lain dan hendaknya dapat bekerja sama dengan orang lain, sehingga

dapat saling membantu dan memiliki hubungan yang baik dengan banyak orang, sehingga

akan semakin meningkatkan kepercayaan diri seseorang.

       Lindenfield (2004: 15) juga menyatakan bahwa untuk dapat mengembangkan rasa

percaya diri, seseorang perlu menjalin hubungan baik dengan siapapun baik orang-orang

yang sudah dikenal maupun mampu menjalin hubungan baik dengan orang-orang baru,

karena dengan berhubungan dengan orang lain akan menumbuhkan rasa percaya diri.

       Hubungan dalam kegiatan kelompok menurut Hakim (2005:132), anggota kelompok

akan mendapatkan banyak manfaat antara lain sosialisasi atau pergaulan dengan teman-

teman sebaya; mendapatkan tambahan ketrampilan tertentu, seperti kepemimpinan dan cara

berhubungan dengan orang lain. Di dalam kelompok seseorang dapat menjalin kerja sama,

melakukan penyesuaian dan pendekatan kepada orang lain. Jika seseorang dapat melakukan

hubungan dengan baik maka perlahan-lahan seseorang akan memiliki kepercayaan diri.



   1. Kesehatan

          Untuk bisa menggunakan sebaik- baiknya kekuatan dan bakat kita, kita butuhkan

   energi. Jika mereka dalam keadaan sehat, dalam masyarakat bisa dipastikan biasanya

   mendapatkan lebih banyak perhatian, dorongan moral, dan bahkan kesempatan.Menurut

   Hakim (2005: 162), dengan adanya kondisi kesehatan yang lebih prima pada diri

   seseorang, akan timbul keyakinan dan rasa percaya diri bahwa dalam diri individu

   memiliki kekuatan yang cukup untuk melakukan banyak hal sesuai dengan keperluan

   hidupnya, termasuk mengikuti kegiatan kelompok.
       2. Sumber daya

              Sumber daya memberikan dorongan yang kuat karena dengan perkembangan

       kemampuan anak memungkinkan mereka memakai kekuatan tersebut untuk menutupi

       kelemahan yang mereka miliki.



       3. Dukungan

              Individu membutuhkan dorongan dan pembinaan bagaimana menggunakan

       sumber daya yang mereka miliki. Dukungan jua merupakan factor utama dalam

       membantu individu sembuh dari pukulan terhadap rasa percaya diri yang disebabkan oleh

       trauma, luka dan kekecewaan.



       Menurut Angelis (2003: 3), rasa percaya diri akan lahir dari kesadaran dirinya sendiri

untuk selalu melakukan sesuatu. Jadi kepercayaan diri itu tidak dapat muncul dengan tiba-tiba

danmemerlukan proses untuk mendapatkan rasa percaya diri. Penghargaan yang positif atas

tindakan yang dilakukan individu akan cenderung meningkatkan kepercayaan diri, begitu juga

sebaliknya, apabila penghargaan yang diberikan berupa kritikan yang tidak membangun akan

membuat seseorang menjadi rendah diri. Untuk membentuk kepercayaan diri, perananan orang

lain di dalam memahami, member dukungan, dan memberikan saran yang dapat digunakan untuk

memperbaiki diri sangat dibutuhkan.
                                            BAB III

                                    METODE PENELITIAN




A. Lokasi Penelitian

       Lokasi penelitian dalam penelitian ini adalah beberapa panti asuhan yang berada di Kota

Kebumen,Jawa Tengah yang akan dipilih secara acak yang mewakili dari kota Kebumen.




B. Rancangan Penelitian

       Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini diklasifikasikan dala penelitian

kuantitatif deskriptif korelatif dimana penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan, meringkas

berbagai kondisi, berbagai situasi atau berbagai variable yang timbul dimasyarakat yang menjadi

objek penelitian itu berdasarkan apa yang terjadi dan mencari hubungan antar variable yang

diteliti. (Bungin,2006:36)




C. Populasi dan Sampel Penelitian

       Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian baik terdiri dari benda yang nyata, abstrak,

peristiwa ataupun gejala yang merupakan sumber data dan memiliki karakter tertentu dan sama

(Sukandarrumidi, 2004: 47). Sedangkan menurut Arikunto, populasi adalah keseluruhan subjek

penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian

(Arikunto, 2002: 108). Jadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak asuh yang tinggal

di kecamatan lowokwaru yang berjumlah 1192 orang (dinsos kota malang, 2004).

Sampel adalah bagian dari populasi yang memiliki sifat-sifat yang sama dari obyek yang

merupakan sumber data (Sukandarrumidi, 2004: 50).sampel adalah sebagian atau wakil
populasi yang diteliti (Arikunto, 2002: 221). Metode penentuan sampel dari populasi yang ada

menggunakan rujukan rumus Slovin (Dalam Umar, 2003;146) sebagai berikut

n=N

1+Ne2

n = Ukuran Sampel

N = Ukuran Populasi

e = Prosen Kelonggaran

Prosen kelonggaran atau kesalahan di tentukan sebesar 10%. Jumlah jadi jumlah sampel dalam

penelitian ini berjumlah 93 orang.



D. Teknik Pengumpulan Data

   a. Observasi

        Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya

dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrument. Format yang disusun berisi item-

item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi

Dari penelitian berpengalaman diperoleh suatu petunjuk bahwa mencatat data observasi

bukanlah sekedar mencatat, tetapi juga mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan

penilaian ke dalam suatu skala bertingkat. Misalnya kita memperhatikan reaksi penonton televisi,

bukan hanya mencatat bagaimana reaksi itu, dan berapa kali muncul, tetapi juga menilai reaksi

tersebut sangat, kurang, atau tidak sesuai dengan yang kita kehendaki



 b. Dokumentasi
       Metode dokumentasi dilakukan dengan cara mencari data tentang hal-hal atau variabel

yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan

sebagainya.Lexi J. Moleong (2004) mendefinisikan dokumen sebagai setiap bahan tertulis

ataupun film, yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan aseorang penyidik.

Penggunaan metode dokumen dalam penelitian ini karena alasan sebagai berikut (Guba dan

Lincoln, 1981) dalam bukunya Lexy J. Moleong (2004)

1) Merupakan sumber yang stabil, kaya, dan mendorong.

2) Berguna sebagai bukti untuk suatu pengujian.

3) Berguna dan sesuai dengan penelitian kualitatif karena sifatnya yang alamiah, sesuai dengan

konteks, lahir dan berada dalam konteks.

4) Tidak reaktif sehingga tidak sukar ditemukan dengan teknik kajian isi.

5) Dokumentasi harus dicari dan ditemukan.

6) Hasil pengkajian isi akan membuka kesempatan untuk lebih memperluas tubuh pengetahuan

terhadap sesuatu yang diselidiki.




  c. Wawancara

       Adalah percakapan dengan maksud tertentu percakapan itu dilakukan oleh dua pihak,

yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai

(interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. (Moleong, 2000 : 135).
  d. Angket

       Metode angket adalah salah satu metode penelitian dengan menggunakan daftar

pertanyaan yang berisi aspek yang hendak diukur, yang harus dijawab atau dikerjakan oleh

subyek penelitian, berdasarkan atas jawaban atau isian itu peneliti mengambil kesimpulan

mengenai subyek yang diteliti (Suryabrata, 1990).

Penggunaan metode angket, menurut Hadi (1993) didasari oleh beberapa anggapan, yaitu:

1. Subyek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri.

2. Apa yang dinyatakan subyek kepada peneliti adalah benar-benar dapat dipercaya

3. Interpretasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama

demngan yang dimakksud peneliti.

Angket memiliki bermacam-,macambentuk yakni:

1. Angket langsung atau tidak langsung

2. Angket terbuka atau angket tertutup

       Bentuk angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat langsung dan tertutup.

Artinya angket yang merupakan daftar pertyanyan diberikan langsung kepada mahasiswa sebagai

subyek penelitian, dan dakam mengisi angket, mehasiswa diharuskan memilih karena jawaban

telah disediakan.




E. Teknik Analisis Data

       Menurut Patton, analisa data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya

ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar. (Bungin, 2006:33). Karena penelitian ini

merupakan penelitian kuantitatif, maka metode analisisi data yang digunakan adalah alat analisis
yang bersifat kuantitatif yaitu model statistik. Hasil analisis nantinya akan disajikan dalam

bentuk angka-angka yang kemudian dijelaskan dan diiterpretasikan dalam suatu uraian.

Teknik analisa data merupakan langkah yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah

dalam penelitian. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kesimpulan dari hasil penelitian.

Adapun teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif korelasi,

dimana Penelitian korelasi bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila ada,

berapa eratnya hubungan serta berarti atau tidaknya hubungan itu.

Adapun analisa data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tabel dan menggunakan teknik

deskriftip prosentase sebagai berikut :

P = F/N x 100

P = Persentase

F = Frekuensi

N = Number of Cases (banyaknya individu)

Dalam penelitian ini juga menggunakan korelasi product moment, adapun rumus yang digunakan

adalah korelasi product moment, secara operasional analisa data tersebut dilakukan melalui tahap

:

1. Mencari angka korelasi dengan rumus :

Dengan ketentuan sebagai berikut :

X : Adalah motivasi siswa terhadap bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam

Y : Adalah data prestasi belajar siswa (nilai raport semesterII)

Rxy : Adalah angka indeks korelasi “r” product moment

∑Xy : Jumlah hasil perkalian antara X dan Y

∑X : Jumlah seluruh skor X
∑Y : Jumlah seluruh skor Y

N : Number of Cases

1. Memberikan Interpretasi terhadap angka indeks korelasi “r” product moment.

1. Interpretasi kasar atau sederhana, yaitu dengan mencocokkan perhitungan dengan angka

   indeks korelasi “r” product moment.

Interpretasi menggunakan tabel nilai “r” product moment (rt), dengan terlebih dahulu mencari

derajat besarnya (db) atau degress of freedom (df) yang rumusnya adalah : df = N-nr

df : Degrees of Freedom

N : Number of Cases

Nr : Banyaknya variabel (Motivasi Siswa dan Prestasi belajar)

Kemudian dengan melihat Tabel nilai Koefisisen Korelasi “r” Product Moment dari Pearson

untuk Berbagai (df).
                               DAFTAR PUSTAKA




- Hurlock, E.B (1998). Perkembangan Anak. Alih bahasa oleh Soedjarmo & Istiwidayanti.

  Jakarta: Erlangga.

- Ali, M & Asrori, M. 2004. Psikologi Remaja : Perkembangan Peserta Didik. Jakarta :

  Bumi Aksara.

- Atkinson (1999). Pengantar Psikologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.

- Burn, R.B (1993). Konsep Diri : Teori, Pengukuran, Perkembangan dan Perilaku. Alih

  bahasa oleh Eddy. Jakarta: Arcan.

- Dariuszky, G. 2004. Membangun Harga Diri. Bandung : CV. Pionir Jaya.

- Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat (2001). Buku Pedoman Umum Tim Pembina, Tim

  Pengarah & Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa. Direproduksi oleh Proyek Peningkatan

  Kesehatan Khusus APBD 2002.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:264
posted:7/20/2012
language:
pages:23