Docstoc

My First Love Story

Document Sample
My First Love Story Powered By Docstoc
					                                      My First Love Story



           Hari ini terasa sangat membosankan, entah kenapa aku merasa berbeda dengan
biasanya. Ah, aku belum memperkenalkan diriku, annyonghaseo Tiffany Hwang imnida, 18yo.
Aku adalah siswi kelas 2 SMA Kyungsan, SMA campuran yang lebih mengedepankan music. Aku
masuk ke sini karena aku mencintai music. Tapi belakangan ini, musikku hilang, kecintaanku
terhadap music meredup. Entah kenapa kebosanan terus saja melandaku. Aku merasa tak
pernah ada yang special dengan hari-hariku belakangan ini. Tanganku bermain di atas tuts
piano, memainkannya dengan asal, mencoba mengusir kesepianku ini.

            “Haah…kenapa aku semakin bosan?”tanyaku seorang diri. Aku menghela nafasku
panjang, menatap langit-langit kelas piano yang lumayan tinggi dibandingkan dengan kelas
lainnya. “Lebih baik aku pulang saja.”kataku lagi, aku segera mengemasi buku not-not balok
yang aku letakkan di atas piano. Setelah semuanya selesai, aku langsung berdiri dan bersiap
untuk pergi, sampai aku melihat seseorang yang sangat mengejutkanku.

             “An..annyonghaseo…”sapa         orang     itu.    Uwaa…dia      tampan      sekali,
ah..tidak..tidak..imut sekali. Untuk sesaat aku terpukau pada wajahnya yang sangat imut itu. Dia
terlihat seperti perempuan dengan rambut coklat sebahunya. Badannya yang tegap membuat
lamunanku buyar, dia mendatangiku, sontak secara reflek aku memundurkan badanku. Dia
terlihat kaget dengan hal itu. Aigoo..bukannya aku ingin menghindarimu..aku..hanya masih
meyakinkan diriku, entah ini mimpi..atau nyata, bahwa aku bertemu dengan namja setampan
dia…senyumnya itu seperti malaikat.

             “Ah…mi..mianhae kalau aku membuatmu kaget.”kata namja itu. Ohya, sepertinya
aku tidak pernah melihatnya di sekolah, siapa dia? Apa dia murid baru? Di tengah semester
seperti ini?

          “A..aniya…”kataku pelan, kemudian segera berhenti dan berjalan ke arahnya. Dia
kembali melemparkan senyumnya yang indah itu kepadaku, ya Tuhan…perasaan apa ini?
Kenapa dadaku berdegup begitu cepat? Perasaan apa ini? Aku belum pernah merasakan ini
sebelumnya. Sebenarnya, ada apa denganku? Apa jantungku bermasalah? Aku tidak mau mati
mudaaa!!!

             “Annyong.. Bang Cheol Yong imnida. Aku…murid baru, saat ingin mengelilingi
sekolah ini, aku tersesat lalu kudengar ada yang sedang memainkan tuts piano, jadi kuputuskan
untuk mendatanginya..untuk..menanyakan jalan keluar.”tanyanya malu-malu. Pipinya merona
merah, senyum malu-malu menghiasi wajahnya. Ya Tuhan…itu..benar-benar manusia? Atau
patung lilin? Atau malaikat yang kau turunkan untuk menghapus kebosananku?? Atau
mungkin..hantu?

           “Mi..mianhae…boleh aku menyentuhmu?”tanyaku padanya. Matanya terbelalak
mendengar ucapanku. Pipinya merona merah lagi, dadaku berdegup semakin kencang,
sebenarnya ada apa ini??? Ada apa??”A..aniya…bukannya begitu. Aku…hanya..”kataku belum
selesai, tapi dia sudah mengulurkan tangannya padaku sambil melontarkan senyum
malaikatnya itu.

           “Senang bertemu denganmu, Cheol Yong imnida, tapi..kau bisa memanggilku
Mir.”katanya, suaranya sangat merdu, indah sekali…meskipun dia hanya memperkenalkan diri,
tapi entah kenapa aku merasa dia sedang bernyanyi untukku. Aigoo…babo!!babo!! aku
langsung menggeleng-gelengkan kepalaku, menyadarkanku dari lamunan yang tak kunjung
berakhir. Mir terlihat kaget melihat kelakuanku ini. Aku langsung meraih tangannya dan
menjabat tangannya yang sangat lembut.”Tiffany Hwang imnida.”jawabku. Dia tersenyum
hangat padaku dan menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapih.

            Tak kusangka, sudah sebulan sejak hari itu berlalu. Sejak hari itu aku selalu bertemu
dengan Mir setelah pulang sekolah di tempan yang sama, di ruang kelas piano. Dia mengajariku
bermain piano, ternyata dia sangat pandai memainkan jarinya di atas tuts piano. Hari ini aku
sudah membuatkan kejutan untuknya, kudengar dia sangat menyukai kue kering yang manis.
Kemarin malam, aku berusaha membuat kue kering yang sangat enak untuknya, tapi ternyata
tak semudah yang kubayangkan. Tapi akhirnya aku bisa membuatnya juga, meskipun bentuknya
sedikit tak beraturan sih. Aku sudah menunggunya selama 15 menit. Kenapa dia lama sekali?
Sebenarnya, aku tidak pernah janjian dengannya akan hal ini, tapi sepertinya ini sudah menjadi
rutinitas kami bertemu setelah pulang sekolah setelah hari itu. Tapi hari ini, dia tak kunjung
datang. Aku terus menunggunya, sebenarnya aku sangat kesal, aku paling tidak suka
menunggu, tapi kalau menunggu Mir, aku…aku…aku akan mencoba untuk menahannya, aku
akan menunggu sampai dia datang. Aku pun menari-narikan jari jemariku di atas tuts piano,
memainkan lagu yang pernah Mir ajarkan padaku. Sampai satu lagu selesai, dia tak kunjung
datang juga, aku sudah menunggunya selama satu jam. Tapi dia tak datang
juga…haaah…mungkin dia sudah pulang.

            “Tiffany, ayo pulang.”kata sahabatku. Kami memang selalu pulang bersama-sama.
Aku pulang saja, tak mungkin dia datang. Aku meletakkan kue yang kubuat khusus untuk Mir di
atas piano, tak lupa aku memberikan note di bungkusan kue itu. “Untuk Mir” ya hanya seperti
itu. Aku pun segera pergi dari ruangan tak berpenghuni itu. Menenteng tasku dan
meninggalkan sekolah secepatnya. Saat berada di halaman sekolah, aku kembali menengok ke
arah ruangan yang baru saja aku tinggalkan, tapi tak ada kehidupan disana. Mungkin dia benar-
benar sudah pulang..dan sudah melupakan rutinitas kami.
            “Tiffany~ mianhae!! Mianhae! Aku kemarin tidak datang! Maafkan aku.”katanya
sambil menyatukan kedua tangannya di hadapan wajahnya. Mencoba untuk meminta maaf
padaku. Aku yang masih duduk di atas kursi piano segera mengambil kue kering yang masih ada
disana, aku segera memasukkan kue itu ke dalam tas.”Gwenchana Mireu…aku juga kemarin
tidak bisa datang”kataku berbohong, kenapa aku berbohong? Ini pertama kalinya hal seperti ini
terjadi. Entah kenapa saat aku melihat wajanya, aku tidak ingin melihat wajahnya merasa
bersalah seperti itu lagi. Tunggu! Tunggu! Apa yang terjadi dengan rambutnya??! Hitam??!
Pendek?? Rambut coklat sebahunya hilang, rambutnya..dipotong, dan dicat hitam?? Aku..aku
tidak bisa berkata dia imut lagi, tapi..tapi..tampan..sangat tampan..sangat sangat
tampan…aku..aku…semakin mencintainya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku
merasakan hal seperti ini. Dadaku berdegup kencang saat melihatnya, mataku hanya tertuju
padanya, mau menunggunya, dan tak marah saat dia melakukan kesalahan. Ini pertama kalinya
untukku…dan entah kenapa aku merasa, perasaan itu semakin lama semakin kuat.

           “Mireu…ada apa dengan rambutmu?”tanyaku padanya, aku sangat penasaran
melihat perubahannya yang sangat mendadak itu.

           “Ah ini..ini aku mengecatnya kemarin, makannya aku tidak bisa datang kesini.
Bukankah kau pernah bilang kalau lebih menyukai namja berambut hitam?”tanyanya padaku.
Omo..benarkah? dia melakukan itu untukku? Omo…aku mau pingsan saking senangnya.
Bagaimana ini?? Bagaimana kalau aku pingsan sekarang? Disini? Apa Mir akan membopongku?
Aigoo…pikiran macam apa ini! Pergi! Pergi! Aku berbicara pada diriku sendiri sambil memukul-
mukul pelan kepalaku.

          “Ji..jinjja?”tanyaku pada Mir tak percaya pada apa yang sudah dikatakan, aku hanya
ingin memastikannya, habisnya Mir sering sekali membohongi dan mempermainkanku.

           “Mana mungkin, seonsaengnim selalu memarahiku, apa boleh buat
kan..haha.”katanya sambil tertawa. Yang benar saja, dia mempermainkanku, lagi? Aish…tapi
aku tidak bisa apa-apa..saat melihat wajahnya itu, aku benar-benar tidak bisa marah sama
sekali. Mungkinkah..aku terlalu mencintainya, aku ingin sekali menjadi kekasihnya. Sangat ingin.
Tapi, apa dia juga menyukaiku? Apa dia juga menginginkan hal yang sama?? Aku takut..kalau
aku mengungkapkan perasaanku padanya, dia menolakku, dan menjauh dariku. Aku tidak
mampu..aku tidak mampu untuk berpisah dengannya. Tidak bisa…lebih baik menjadi temannya
untuk selamanya, daripada melihatnya menjauh dariku.

           “Tapi..kau jauh lebih tampan sekarang.”kataku jujur. Dia terlihat malu-malu dan
menyembunyikan wajahnya.”Jinjja?”tanyanya padaku dan hanya kujawab dengan anggukan.
“Nee, dulu aku masih sering berfikir bahwa mungkin kau sebenarnya adalah seorang yeoja. Tapi
sekarang, kau benar-benar terlihat seperti namja.”kataku padanya, dia hanya bisa tertawa
mendengar penjelasanku. Aku pun ikut tertawa melihatnya tertawa seperti itu. Aku sangat
senang dengan keadaan seperti ini.

            “Aigoo Tiffany, mianhae aku harus segera pergi, sudah jam 6. Mianhae
Tiffany..”katanya langsung pergi tanpa sempat mendengar jawabanku. Aku hanya bisa
melambaikan tanganku dengan lemas ke arahnya. Aku masih ingin berbicara dengannya, aku
masih ingin memandangi wajahnya itu, aku..masih ingin bersamanya. Aku masih ingin bersama
Mir. “Aigoo..kenapa sangat sulit untuk mengatakannya?”tanyaku. Aku hanya bisa menatap ke
arah jendela, melihat tiupan angin sepoi-sepoi yang membuat dedaunan kering berguguran dan
jatuh ke tanah. Lagi-lagi aku hanya bisa menghela nafasku panjang.

            “Tiffany!!”panggil seseorang, aku sudah sangat mengenal suaranya yang renyah itu.
Itu pasti suara Joon. Aku hanya bisa menoleh dan tersenyum padanya. Aku pun segera berdiri
dan mengambil tasku. Joon adalah sahabatku sejak kecil, kami juga bertetangga. Kami selalu
pulang bersama-sama, aku selalu menghabiskan waktu di kelas piano saat menunggunya. Dia
adalah anggota OSIS, jadi pulangnya lebih sore daripada yang lainnya. Awalnya aku sangat
malas untuk menunggunya, aku paling benci menunggu. Tapi semenjak ada Mir, menunggu jadi
terasa menyenangkan. Bahkan, aku ingin menunggu Joon lebih lama. Agar aku bisa bersama
Mir lebih lama lagi.

           “Tiffany, dulu kau selalu murung setiapkali menungguku, kenapa sekarang senang
sekali?”tanya    Joon     padaku,     aku   hanya      menggelengkan    wajahku     sambil
tersenyum.”Molla.”jawabku berbohong.



           “Tiffany…mianhae..”kata Mir tiba-tiba saat aku tengah memainkan tuts piano. Aku
langsung berhenti dan menatapnya lekat-lekat.

            “Mwoya?”tanyaku padanya. Dia menundukkan wajahnya yang tampan itu. Tak
melihatku sama sekali. Sekali lagi aku bertanya padanya.”Mwoya Mireu?”tanyaku lagi. Akhirnya
dia mengangkat wajahnya, dia membuka mulutnya dan bersiap untuk merangkai kata-
kata.”Besok..apa bisa kau tidak kesini?”tanyanya padaku. Mwo? Kenapa aku dilarang kesini?
Memangnya ada apa? Aku hanya bisa menatapnya penasaran. Konyol sekali, kenapa aku
dilarang kesini?

          “Aku..ingin menunjukkan tempat ini pada seseorang…”kata Mir pelan. Mwoya?
Seseorang? siapa? Yeoja? Siapa Mir-ah? Aku sangat penasaran. Siapa dia? Sampai-sampai kau
melarangku untuk datang kesini? Sebenarnya siapa orang itu? Aaah…otakku penuh, aku ingin
menanyakan hal itu padanya, tapi mulutku terkunci. Aku tidak bisa menanyakannya. Waeyo?
Kenapa mulutku tak bisa terbuka? Kenapa suaraku tak bisa keluar?

             “Ah..nee..aku mengerti.”kataku padanya. Entah kenapa hanya kata itu saja yang
bisa terucap dari mulutku. Entah kenapa..aku tak bisa menanyakan hal lain. Kenapa? Hatiku
terlalu sakit. Sebenarnya ada apa ini? Aku melihat ke arah kaca yang ada di pintu. Aku melihat
Joon berada di sana, dia sedang melihat kami. Aku hanya bisa menghela nafasku kemudian
berdiri dan pergi meninggalkan Mir.

             “Mireu..aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa lusa.”kataku padanya. Dia hanya
menjawabku dengan senyuman dan anggukan tanpa mengeluarkan sepatah katapun untukku.
Aku pun hanya berlalu di hadapannya dan segera meninggalkannya di kelas piano, tak pernah
terjadi hal ini sebelumnya, biasanya dialah yang pergi dahulu. Tapi Joon sudah menjemputku,
aku harus segera pulang, hatiku juga terlalu sakit bila mengingat kejadian tadi.

             “Joon-ah..kau kenapa?”tanyaku pada Joon yang sejak tadi hanya diam saja. Dia
menggelengkan wajahnya pelan dan menatapku.”Tiffany..sebaiknya kau tidak dekat-dekat
dengan namja itu.”kata Joon menghapus keheningan di antara kami. Aku sangat erkejut
mendengar perkataannya. Mwoya? Kenapa aku tidak boleh dekat-dekat dengan orang yang aku
cintai? Ini pertama kalinya aku jatuh cinta. Kenapa aku tidak boleh dekat-dekat dengan orang
yang sangat sangat sangat aku cintai?

          “Waeyo?”tanyaku dingin.”AKu tidak ingin kau terluka.”jawabnya. Terluka? Kenapa?
Kenapa aku harus terluka karena mencintainya? Sebenarnya ada apa? Ada apa ini? Apa ini
berhubungan dengan kata-kata dan permintaan yang tadi dilontarkan oleh Mir? Apa?
Sebenarnya ada apa?

           “Kenapa aku harus terluka?”tanyaku pada Joon, tapi dia tidak menjawabku dan
langsung saja pergi dari hadapanku. Sebenarnya ada apa dengannya? Ada apa dengan mereka?
Ada apa ini?

           Pikiranku terus melayang, sebenarnya siapa yang ingin Mir bawa ke kelas piano?
Sebenarnya kenapa aku harus terluka karena Mir? Kenapa? Apa ada yang bisa menjawab
pertanyaanku ini? Adakah yang bisa menjawabnya? Mianhae Mir-ah…sepertinya, aku harus
melihatnya sendiri dengan kedua bola mataku ini apa yang sebenarnya terjadi. Aku harus tau
semuanya, aku ingin semuanya jelas.



           “Joon-ah…kau tidak rapat OSIS?”tanyaku pada Joon. Dia hanya menggelengkan
kepalanya. Aku pun hanya bisa manggut-manggut tanda mengerti.
           “Ayo kita pulang.”ajak Joon, dia meraih tanganku, tapi aku langsung melepaskan
tangannya itu. Dia terlihat kaget melihat hal itu. Dia menatapku, aku hanya bisa menundukkan
wajahku ini. Aku bingung harus berkata apa.

          “Mi..mianhae Joon-ah…aku akan tinggal sebentar lagi. Kau pulang saja terlebih
dahulu. Ne?”tanyaku. Joon tak beranjak sedikitpun dari hadapanku, dia malah mendudukkan
badannya di bangku dan masih terus saja menatapku.

             “Kalau begitu aku akan menunggumu.”kata Joon, Joon mengeluarkan buku-bukunya
yang sulit itu dan membacanya. Aku pun hanya bisa pasrah melihat kelakuannya itu. Aku
langsung berdiri dari bangkuku tanpa menenteng tas dan meninggalkannya di bangku sebelah
tempat Joon duduk. Joon melihatku, meskipun aku tidak melihatnya karena aku terus saja
berjalan ke arah pintu, tapi aku tahu dia sedang menatapku. Dia sedang mengawasiku. Aku pun
berlari-lari kecil untuk segera pergi, menghindari tatapannya yang benar-benar membuatku
sesak.

           Ting..ting..ting…

            “Sudah…ada kah? Apa Mir sudah ada disana?”tanyaku dari kejauhan, aku masih saja
berjalan, sekitar 50m dari kelas music. Tapi aku sudah bisa mendengar tuts tuts piano yang
tengah dimainkan. Mungkinkah Mir yang memainkannya? Tapi..permainan ini, tidak seperti
permainan Mir. Aku hafal betul permainan piano Mir. Siapa? Aku pun sedikit mempercepat
langkahku dan mengintip dari kaca yang berada di pintu.

           “Mi..Mireu…”panggilku tertahan. Aku melihat Mir sedang ada disana, bersama
seorang yeoja yang sangat cantik. Dia sangat imut, sangat-sangat imut. Mereka tertawa
bersama, memainkan jari jemari mereka di atas tuts-tuts berwarna hitam dan putih itu. Tampak
siratan bahagia di mata mereka. Dadaku sesak, sungguh sangat sesak melihat hal ini. Tawa
Mir..sungguh sangat berbeda saat bersamanya, Mir bisa tertawa lepas, sangat berbeda sekali
saat bersamaku. Aku pun memegangi dadaku, mecoba menenangkan dentuman jantungku
yang semakin lama semakin cepat. Semakin sesak, rasanya sakit sekali.

             “Mireu, gomawo…ternyata memang benar tempat ini sangat indah.”kata yeoja itu,
dia berdiri dari bangku piano dan menuju ke arah jendela yang terbuka lebar. Terlihat indahnya
sakura di sana, tapi aku tak bisa lagi merasakan keindahannya, yang bisa kurasakan hanyalah
kepedihan yang mendalam.

           “Ne…cheonmaneyo chagi..”kata Mir pada yeoja itu. Omo..apa aku tidak salah
dengar? Apa yang baru saja dia katakana? Chagi? C.H.A.G.I?? apa..aku benar-benar mendengar
itu? Apa aku sungguh mendengar kata chagi dari mulut Mir? Dan ditujukan untuk yeoja itu?
Hatiku benar-benar sakit. Apa mungkin yeoja itu adalah kekasihnya?? Apa mungkin…
         “Selama ini kau sudah mau menungguku, gomawo..”kaya Yeoja itu lagi. Menunggu?
Apa maksudnya menunggu?

            “Ah ne..cheonman…aku senang menunggumu, hanya satu jam. Tidak masalah
untukku Nana.”kata Mir. Mwo? Jadi..jadi itu untuk menunggunya? Bukan rutinitas kami? Bukan
karena dia ingin bertemu denganku? Tapi..tapi untuk menunggu yeoja itu?? Apa? Apa aku tidak
salah dengar?? Ji..jinjja? jadi selama ini..aku hanya salah sangka? Selama ini…aku selalu
bertepuk sebelah tangan?

            ”Bukankah aku pulang ke Korea untuk menemuimu? Jadi..hanya menunggu selama
satu jam sehari..tidak masalah untukku.”kata Mir lagi. Mwo? Dia pulang ke Korea untuknya?
Jadi…jadi sejak awal aku memang sudah ditolak? Aku…selama ini terus bertepuk sebelah tangan
padanya? Hatiku…sakit..sakit…sangat sakit. Apa-apaan ini sebenarnya? Air mataku pun
menetes.entah kenapa, aku tak bisa menghentikannya. Tak bisa…hatiku terlalu sakit. Aku pun
terisak menyadari hal itu. Tapi langsung kubekap mulutku sendiri dengan kedua tanganku, aku
tak ingin mereka tahu bahwa aku tengah menguping pembicaraan mereka.

           “Mireu..aku sangat menyukai rambutmu sekarang. Kau tampak sangat keren.”kata
Yeoja yang bernama Nana itu sambil mengacungkan dua jempolnya.

            “Ah..benarkah? aku langsung memotong rambutku saat kau bilang kalau kau risih
mendengar banyak namja dan yeoja yang mengataiku cantik.”kata Mir. Sekali lagi kubekap
mulutku, aku semakin terisak. Jadi benar-benar bukan karena aku? Juga bukan karena
seonsaengnim?? Tapi karena yeoja itu? Hatiku semakin sakit mengetahui hal itu. Benar-benar
sakit, seperti ada ribuan belati yang menancap tepat di jantungku.

           “Gomawoyo Mireu..”

           “Aish…berapa kali kau mau berterima kasih padaku Nana?”tanya Mir pada yeoja
itu.”Nana-ya…saranghae..”kata Mir

           “Nado…nado saranghae Mireu..”jawab yeoja itu. Apa..apa ini…kenapa? Bagaimana
bisa?? Mereka saling mencintai? Selama ini..Mir menganggap aku apa? Aku kembali menatap
mereka, dengan air mata berlinang, semakin lama semakin deras, kulihat mereka berciuman.
Tangisku semakin menjadi-jadi. Aku pun segera berlari menjauh, takut mereka mendengar
suara tangisanku ini. Tapi kakiku tak kuasa bergerak lagi. Kakiku lemas, aku pun terduduk di
sudut lorong menuju tangga. Aku menangis disana, menangis sepuasnya. Kurasakan hatiku
telah mati, hatiku sangat sakit. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta, jatuh cinta pada
pandangan pertama, tapi untuk pertama kalinya juga kau patah hati. Merasakan sakit yang luar
biasa sakit dalam hatiku ini. Aku merasakan ada yang mengangkat kedua tanganku dan
memelukku dengan hangat. Aku melihatnya kabur, karena mataku masih basah tertutup air
mata. Tapi aku masih bisa mengenalinya.”Joon-ah..”panggilku dengan suara serak. Dia tidak
menjawab panggilanku, dan hanya memelukku, terus memelukku. Aku pun semakin menangis
menjadi-jadi dalam dekapannya.



           “Ternyata memang benar…cinta pertama..selalu berakhir dengan tragis..”kataku
pelan. Joon masih saja memelukku dengan hangat. Gomawoyo Joon..kau sangat baik padaku.
Gomawo…sudah menamiku selama ini. Gomawo…sudah menjadi sahabatku selama ini.
Gomawo..sudah memperingatkanku..tapi aku mengindahkannya..gomawo…gomawo Joon-ya..

          “Tidak semua…suatu saat, mungkin perasaanku padamu akan terbalas.”kata Joon
padaku, aku melihatnya dan tersenyum lembut.”Ne…tapi kau harus bersabar”aku pun
menjawabnya singkat dan membenamkan lagi wajahku dalam pelukannya, pelukan Joon.



                                             THE END

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:22
posted:7/20/2012
language:Indonesian
pages:8