Docstoc

Resuman ski

Document Sample
Resuman ski Powered By Docstoc
					                                               BAB II
                                         PEMBAHASAN


                   SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA


A. Sejarah Islam di Sumatera
      a. Kerajaan Samudera Pasai
                   Kerajaan ini berdiri pada abad ke-10 M/ 3 H. Raja pertamanya adalah
           al Malik Ibrahim bin Mahdum, raka kedua al Malik al Shaleh dan yang
           terakhir bernama al Malik Sabar Syah. Kerajaan ini merupakan kerajaan
           Islam pertama di Indonesia (daerah Aceh) Namun ada juga yang menyatakan
           bahwa kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Perlak, tetapi
           tidak banyak ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung fakta sejarah ini.1
                   Seorang pengembara dari Maroko yang bernama Ibnu Batutah pada
           tahun 1345 M singgah di kerajaan Pasai pada zaman pemerintahan Malik az
           Zhahir pada perjalanannya ke Cina. Ibnu Batutah mengemukakan bahwa
           sistem pendidikan yang berlaku di zaman kerajaan Pasai, yaitu :
           1. Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang syari’at ialah fiqh
               Madhab Syafi’i
           2. Sistim pendidikannya secara informal berupa Majlis taklim dan halaqah
           3. Tokoh pemerintahan merangkap sebagai tokoh agama
           4. Biaya pendidikan agama bersumber dari negara. 2
      b. Kerajaan Perlak
                   Kerajaan Perlak merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di
           Indonesia. Bahan, ada yang menyatakan lebih dahulu dari kerajaan
           Samuedara Pasai. Namun, sebagaimana dikemukkan terdahulu, tidak banyak
           bahan pustaka yang menguatkan pendapat tersebut.

1
    Enung K. Rukiati, sejarah Pendidikan islam di Indonesia, 2006, Bandung : Pustaka Setia, hal. 29
2
    Suhairini, Sejarah Pendidikn Islam, 2006, Jakarta : Bumi Aksara, hal. 136
                    Sultan Mahdum Alaudin Muhammad Amin yang memerintah antara
           tahun 1243 – 1267 M tercatat sebagai sultan keenam. Ia terkenal sebagai
           sultan yang arif bijaksana dan alim, sekaligus seorang ulama. Sultan inilah
           yang mendirikan semacam perguruan tinggi Islam pad saat itu.
                    Di Perlak pun terdapat suatu lembaga pendidikan lainnya berupa
           majelis taklim tinggi, yang dihadiri khusus oleh para murid yang alim dan
           mendalami ilmunya. Pada majlis taklim ini diajarkan kitab-kitab agama yang
           berbobot dan berpengetahuan tinggi, seperti kitab al Um karangan Syafi’i. 3
       c. Kerajaan Aceh Darussalam (1511 – 1874)
                    Kerajaan Aceh darussalam diproklamasikan pada tanggal 12
           Zulkaidah 916 H (1511 M) menyatakan perang terhadap buta huruf dan buta
           ilmu. Hal ini merupakan tempaan sejak berabad-abad yang lalu, yang
           berdasarkanislam dan ilmu pengetahuan.
                    Proklamasi kerajaan Aceh Darussalam tersebut merupakan hasil
           peleburan kerajaan Islam Aceh di belahan barat dan kerajaan Islam
           Samudera Pasai d belahan timur. Putra Sultan Abidin Syamsi Syah diangkat
           menjadi raja dengan gelar sultan Alaudin Ali Mughayat Syah (1507 – 1577)
                    Aceh pada saat itu merupakan sumber ilmu pengetahuan dengan
           sarjana-sarjananya yang terkenal di dalam dan di luar negara sehingga banyak
           orang luar yang datang ke Aceh untuk menuntut ilmu. Bahkan, ibu kota
           kerajaan Aceh Darussalam terus berkembang menjadi kota Internasional dan
           menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
                    Pada abad ke-15 diberitakan oleh Cang Ho, Marcopolo, dan Ibn
           batutah menyatakan bahwa di ceh telah berdiri kerajaan lamuri yang tunduk
           kepada Pidie. Pada mulanya pusat pemerintahan terletak di suatu tempat
           yang dinamakan kampung Ramni dan dipindahkan ke Darul Kamal oleh
           Sultan Alauddin Inayat John Syah (1408 – 1465 M) Sultan Ali Munghayat


3
    Ibid, hal, 31
           Syah adalah pembebas Aceh dari kekuasaan Pidie. Dia dapat mengalahkan
           Sultan Pidie (Sultan Ahmad Syah). Kekuasaan kerajaan ini sampai ke
           kerajaan Pasai. Masa keemasan kerajaan ini terjadi pada masa Sultan
           Iskandar Muda (1607 – 1636 M)4
                       Bidang pendidikan di kerjaan Aceh Darussalam benar-benar
           mendapat perhatian. Pada saat itu terdapat lembaga-lembaga negara yang
           bertugas dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan diantaranya :
           1. Balai Sautia Hukum; suatu lembaga ilmu pengetahuan tempat
                    berkumpulnya para ulama’, ahli fikir, dan cendekiawan untuk
                    membahasa dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
           2. Balai Sautia Ulama’, suatu jawatan pendidikan yang bertugas mengurus
                    masalah-masalah pendidikan dan pengajaran.
           3. balai Jam’ah Himpunan Ulama; suatu kelompok studi tempat para ulama
                    dan sarjana-sarjana berkumpul untuk bertukar pikiran membahas
                    persoalan-persoalan pendidikan dan ilmu pendidikan.
           Adapun jenjang pendidikan yang ada adalah sebagai berikut :
           1. Maunasyah (madrasah)
                Tempat yang ada di setiap kampung yang mana berfungsi sebagai
                sekolah dasar. Materi yang diajarkan yaitu; menulis, membaca huruf
                arab, ilmu agama, bahasa Jawi/Melayu, akhlak dan sejarah Islam.
           2. Rangkang
                Diselenggarakan di setiap mukim, merupakan masjid sebagai tempat
                berbagai aktivitas umat termasuk pendidikan. Rangkang adalah sekolah
                setingkat MTs materi yang diajarkan, bahasa Arab, Ilmu Bumi, Sejarah,
                Berhitung (Hisab), Akhlak, Fiqh dan lain-lain.
           3. Dayah



4
    Ibid, hal. 32
                Dayah adalah tempat sekolah setingkat dengan madrasah aliyah. Adapun
                materi yang diajarkan meliputi, Fiwh (Hukum Islam), bahasa Arab,
                taukhid, tasawuf/akhlak, ilmu bumi, sejarah dan tata negara, mantiq,
                Ilmu Falaq, dan Filsafat.
                   Dengan demikian, jelas bahwa di kerajaan Aceh Darussalam, Ilmu
           pengetahuan benar-benar berkembang dengan pesat dan mampu melahirkn
           para ulama, dan ahli ilmu pengetahuan, diantaranya; hamzah Fansuri, Ayah
           Syamsuddin Sumatrani, Syeh Nurudin Ar Raniry dan Syeh Rauf Tengku
           Syiahkuala. Diantara nama ulama tersebut ada yang diabadikan menjadi
           nama perguruan tinggi terkenal di Aceh yaitu IAIN Ar Raniry dn Universitas
           Syiah Kuala.
       d. Kerajaan Siak
                   Islam masuk ke Siak diperkirakan pada abad ke-12 H, Sultan
           pertamanya adalah Abdul Jaull Rachmad Syah (1773 – 1746 M) pada masa
           kerajaan Siak II di bawah kekuasaan Sultan Muhammad Abdul Jalil
           Munzafar Syah (1746 – 1765) pada masa ini panji-panji Islam berkibar.
                   Dalam hal pendidikan, di Siak telah berdiri Madrasah-madrasah serta
           sekolah-sekolah umum.5
B. Sejarah pendidikan Islam di Sumatera
       a. Pendidikan Islam di Minangkabau
                       Menurut sebagian ahli sejarah, Islam masuk ke Minangkabau kira-
           kira tahun 1250 M. Ulama’ yang termasyhur sampai sekarang adalah Syeh
           Burhanuddin dilahirkan di Sintu Pariama tahun 1066 H/1646 M dan wafat
           tahun 1111 H/1691 M dan membuka madrasah (surau) tempat pendidikan
           dan pengajaran agama Islam.
           Agama Islam masuk ke Minangkabau melalui dua arah yaitu :



5
    Ibid, hal. 33-34
           1. Dari Malaka, melalui sungai Siak dan sungai kampar lalu ke
                   Minangkabau
           2. Dari Aceh, melalui pesisir barat
                     Dengan tersebarnya Islam ke Minangkabau, adat setempat yang
           berlawanan dengan syaray mulai ditinggalkan. Peraturan-peraturan yang
           berlaku dalam negeri dinamai hukum adat. Dan peraturan-peraturan secara
           Islam dinamai Hukum Syarak sehingga terkenal pepatah ”Adat bersendi
           syarak, syarak bersendi kitabullah”. Pada setiap desa, diangkat seseorang
           sebagai tempat bertanya tentang hukum adat yang dinamai. ”Cermina yang
           tiada kabur, pelita yang tiada padam”. Adapun yang menetapkan hukum
           syra’ adalah suluh nan terang. Di Minangkabau terkenal empat sebutan
           orang yaitu : penghulu (raja dalam suku), manti (mantri), Dubalang (polisi
           dalm suku), dan Malim (kepala agama).
                     Sebagaimana telah disebutkan di muka, bahwa Syeh Burhanuddin
           adalah orang pertama yang melakukan pendidikan keislaman. Diantara
           muridnya yang termasyhur adalah Tuanku Mansiang Nan Tuo di Paninjauan.
                     Selain itu ada pula Tuanku dtanah Rao, dan masih banyak lagi para
           Tuanku yang mengajarkan ilmu agama Islam di Minangkabau. Namun perlu
           dicatat bahwa untuk jalannya pendidikan Islam, tiap-tiap negeri mendirikan
           balai adat (tempat musyawarah), masjid (tempat beribadah), air tepian
           (tempat mandi) dan pasar tempat berjual beli. 6
                     Pada tahun 1803 tiga orang dari Minangkabau melaksanakan ibadah
           Haji yaitu seorang dari pandai sikat dan dari Sumanik (tanah datar) dan
           seorang lagi dari Piobong. Di Mekah pada masa itu sedang gencar-
           gencarnya ajaran Wahabi, maka merekapun mempelajari ajaran Islam
           Wahabi itu.



6
    Ibid, hal 35
                    Dan ajaran inipun dibawa ke Indonesia dan diajarkannya kepada
           masyarakat setempat. Tetapi masyarakat Minangkabau sulit menerimanya
           karena dirasa terlalu keras, sehingga ia dikeluarkan oleh penduduk setempat
           dari daerahnya. Pembawa ajaran Wahabi ini adalah orang pandai sikat.
                    Dari segi sejarah pendidikan Islam Malin Basa (Tuanku Imam
           Bonjol) sangat berjasa dalam proses penyebaran pendidikan Islam sesuai
           dengan sistem yang di bawa dari Mekah. Namun penjajahan Belanda di
           Minangkabau selama 108 tahun membuat pengajaran agama Islam mundur
           sehingga datang Pembaharu kedua, ketiga, dan seterusnya.
                    Pada masa sebelum tahun 1900 sistem pendidikan di minangkabau
           dinamai sistem lama. Sistem lama ini dilakukan dengan pengajian Al Qur’an
           sebagai pendidikan Islam pertama.
                    Sistim ini meliputi cara mengajar huruf Al Qur’an (Hijaiyah), cara
           mengajarkan ibadah seperti wudhu, sholat, dll. Car mengajar akhlak, iman,
           mempelajari ilmu alat (nahwu, shorof), Ilmu Fiqh, tafsir dll. 7
                    Adapun sistem baru yang digunakan dalam pendidikan dan
           pengajaran mulai tahun 1900-1908 dan pada tahun 1909 – 1930 lahirlah
           madrasah-madrasah yang menggunakan sistem baru (klasikal). Sekolah yang
           pertama kali menggunakan sistem baru tersebut adalah sekolah Adabiyah di
           Padang yang didirikan oleh Syeh Abdullah Ahmad pada Tahun 1909
                    Disamping madrasah-madrasah yang diperuntukkan bagi anak-anak
           pergurua-perguruan tinggi islam pun mulai berdiri seperti sekolah tinggi
           Islam yang didirikan oleh Muhammad Yunus pada tanggal 9 Desember
           1940.
                    Sejak 1945 – 1959 sekolah-sekolah pemerintah resmi dimasukkan,
           serta guru, guru agama pun ditetapkan dan mendapat gaji. Hasil ini didapat
           diantaranya karena perjuangan Muhammad Yunus yang pada waktu itu


7
    Ibid, hal, 36
           menjabat sebagai pemeriksa agama pada kantor pengajaran di Minangkabau.
           Dari sanalah, pendidikan idlam dikembangkan dari pendidikan dasar sampai
           perguruan       tinggi.   Diantara   para   pembaharu   pendidikan   Islam   di
           Minangkabau adalah H. M. Taib Umar (1874-1920), Syekh Abdullah
           Ahmad (1878-1933) Syeh M. Jamil Jambek (1860-1947), Syeh H Abbas
           Abdullah (1883-1957) Zaenuddin Labai el Yunusi (1890-1924)
                      Merekalah yang berjasa besar terhadap kemajuan pendidikan islam di
           Minangkabau yang sampai sekarang masih terus ditumbuhkembangkan.
       b. Pendidikan Islam di Jambi
                      Jambi adalah satu daerah yang berpegang teguh pada ajaran Islam.
           Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pesantren / madrasah di Jambi seperti :
           a) Pesantren / Madrasah Nurul Iman di Jambi
               Pesantren ini didirikan pada tahun 1337 H oleh H. Abd. Samad. Pada
               mulanya sistem yang digunakan sama seperti pesantren-pesantren
               lainnya yaitu sistem halaqoh.
               Namun, beberapa tahun kemudian memakai sistem klasikal, yitu dalam
               pelaksanaan pengajarannya menggunakan ruangan kelas, papan tulis,
               meja, bangku, dan sebagainya.
           b) Madrasah Jauharian
               Madrasah ini didirikan pada tahun 1340 H oleh H. Abd. Majid muridnya
               hampir sama dengan madrasah Nurul Islam.
           c) Madrasah As’ad
               Madrasah ini didirikan oleh K. Abd. Kadir pada tahun 1952, sistemnya
               seperti dikemukakan Prof. H . Mahmud Yunus, yaitu mengikuti sistem-
               sistem Madrasah di Minangkabau begitu pula buku-buku yang
               dipelajarinya. 8
           d) Dan masih banyak lagi madrasah-madrasah yang lain


8
    Ibid, hal 38-39
       c. Pendidikan Islam di Aceh
                    Sejak masuknya Islam ke Aceh sekitar tahun 1290 M, pendidikan
           islam lahir dan tumbuh dengan suburnya, terutama dengan kerajaan Islam di
           Pasai. Pesantren-pesantren pun didirikan dengan bantuan pihak pemerintah
           Islam pada waktu itu. Masa pemerintahan Iskandar Muda, merupakan zaman
           keemasan bagi pendidikan Islam sehingga tumbuh nama-nama ulama’ yang
           termasyhur seperti; Syeh Nuruddin Ar-Roniri, Syeh Ahmad Khotib langin,
           Syeh Syamsuddin As-Sumatrani, Syeh Hamzah fansuri, Syeh Abd. Rauf dan
           muridnya kemudian Syeh Burhanuddin yang kemudian menjadi ulama besar
           di Minangkabau.
                    Syeh Abdul Rouf adalah ulama yang menerjemahkan Al Qur’an ke
           dalam bahasa Melayu. Selain itu ulama’-ulama’ Aceh pun telah mengarang
           kitab dengan bahasa Aceh, sepertio Akhbarul karim, Bahaya Siri bene. Hal
           Ihwal tentang pendidikan Islam di Aceh cukup semarak dan maju karena
           dapat dukungan dari pemerintah, namun dangat disayangkan keadaan yang
           damai dalam menjalankan syariat pendidikan Islam terbengkalai setelah
           timbulnya kerusuhan-kerusuhan antara kampung yang satu dengan kampung
           yang lain yaitu pada tahun 1873-1904 terjadi peperangan Aceh karena ulah
           para penjajah Belanda terhadap umat Islam yang bermaksud menghancurkan
           persatuan dan kesatuan dikalangan umat Islam.
                    Setelah perang selesai, pendidikan Islam pun berkembang kembali
           hingga mengalami berbagai pembaharuan mulai rencana pengajaran sampai
           pembagian tingkat atau kelas.9
       d. Pendidikan Islam di Sumatera Utara
                    Pendidikan Islam di Sumatera Utara ditandai oleh tumbuhnya
           berbagai pesantren dan madrasah yang cukup qualified dalam mencetak
           kadar penerus cita-cita bangsa dan agama.


9
    Ibid, hal. 39
                      Diantara pesantren yang terkenal adalah pesantren Syeh Hasan
            Ma’sum di Medan (1916 M) pesantren Syeh Abd. Wahab sungai-sungai
            Lumut, pantai Labuhan Bilik (labuhan batu) pesantren Syeh Sulaiman.
            Pesantren dan madrasah tersebut sudah mempraktekkan rencana pengajaran
            yang tersusun rapi memakai sistem klasikal dan bertingkat seperti madrasah,
            mempelajari kitab klasik seperti pesantren. Disamping pesantren dan
            madrasah, telah berdiri pula Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) yang
            didirikan di Medan tanggal 7 januari 1952 M yang mulany bernama
            perguruan tinggi Islam Indonesia Medan, perubahan nama menjadi UISU
            terjadi pada tahun 1956 M.


       e. Pendidikan Islam di Sumatera Selatan (Palembang dan Lampung)
                     Sistem pengajaran di pesantren dan madrasah di Sumatera hampir
            sama dengan di Jawa, begitu pula kitab yang dipelajarinya pesantren dan
            madrasah yang terkenal, seperti : madrasah Al Qur’aniyah Sekolah Aliyah
            Diniyah, Madrasah Nurul Falah, dan Madrasah Darul Funun.
                      Disamping pesantren dan madrasah telah berdiri sebuah perguruan
            tinggi Islam Palembang pada tahun 1957 M. 10
C. Sejarah Islam di Tanah Jawa
       a. Kerajaan Demak (1500 – 1550 M)
                     Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Fatah pada awal abad XIV.
            Pada mulanya, Demak merupakan pusat pengajaran Islam yang dipelopori
            oleh Raden fatah (Tahun 1500 M), kemudian makin lama Demak
            berkembang menjadi kota perdagangan dan akhirnya menjadi sebuah
            kerajaan. Pendidikan dan pengajaran Islam bertambah maju dan penyebaran
            Islam ke seluruh pulau Jawa maju pesat karena adanya bantuan pemerintah
            dan pembesar-pembesar Islam. Dengan demikian didikan dan ajaran Islam


10
     Ibid, hal. 40
           mulai mendesak dan mengurangi pengaruh agama hindu sedikit demi
           sedikit.11
                  Proses penyebaran Islam pada waktu itu dengan cara propaganda,
           tingkah laku dan perbuatan, tidak banyak bicara, dan secara berangsur-
           angsur dalam menjalankan hukum syariat.
                  Di tempat-tempat sentral suatu daerah didirikan masjid yang dipimpin
           seorang badal. Dialah yang menjadi sumber ilmu dan pusat pendidikan dan
           pengajaran Islam. Wali suatu daerah diberi gelar resmi yaitu Sunan
           ditambah nama daerahnya.
                  Untu menyempurnakan rencana pendidikan, Wali Songo kerajaan
           Demak mengmbil suatu keputusan untuk mengisi semua cabang kebudayaan
           nasional, yakni filsafat hidup, kesenian, kesusilaan, adat istiadat. Usaha ini
           berhasil dengan baik.
       b. Kerajaan Mataram (1575 – 1757 M)
                  Perpindahan kekuasaan dari Demak ke Pajang tidak menyebabkan
           perubhan yang berarti dalam sistem pendidikan dan pengajaran Islam.
           Setelah pusat kerajaan Islam berpindah dari Pajang ke Mataram (1586 M)
           tampat beberapa perubahan, terutama pada zaman Sultan Agung (1613 M).
                  Setelah mempersatukan Jawa Timur dengan Mataram serta daerah-
           daerah yang lain Sultan Agung mulai mencurahkan perhatiannya untuk
           membangun negara,           seperti    berladang, bersawah serta memajukan
           perdagangn dengan luar negeri.
                  Atas kebijaksanaan Sultan Agung, kebutuhan lama yang berdasarkan
           Indonesia sli dan Hindu dapat disesuaikan dengan agama dan kebutuhan
           Islam seperti :
           1) Gerebeg, disesuaikan dengan hari raya Idul Fitri dan Maulud Nab. Sejak
               itu terkenl dengan Gerebeg Poso (Ouasa), gerebeg Mulud.


11
     Dr. Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam. 2003. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, hal 143
           2) Gamelan Sekatan yang hanya dibunyikan pada gerebeg mulud
           3) Karena hitungan tahun Caka (Hindu), atas perintah Sultan Agung tahun
                caka yang telah berumur 1555 tidak lagi ditambah dengan hitungan
                matahari melainkan dengan hitungan perjalanan bulan, sesuai dengan
                hitungan Hijriyah.
D. Sejarah Pendidikan Islam di Jawa
                Sejarah pendidikan Islam di Indonesia sebelum Indonesia merdeka masih
       berdasarkan kedaerahan dan Sulawesi, Maluku dan daerah lainnya. Ajaran Islam
       di Jawa tersebar dari pelbuhan dan bandar-bandar tempat berhubungan dagang
       antara Indonesia dan luar negeri. Akibat hubungan ini para pedagang Indonesia
       mengetahui dan mendengar tentang ajaran islm dan juga tentang didikan Islam
       melalui percakapan mereka sehari-hari.
                Banyak pedagang yang pulang pergi berlayar antara Jakarta dan Maluku
       yang telah menjadi pusat perkembangan Islam yang tyelah memeluk agama
       Islam. Pedagang-pedangan asing pun sepertoi bangsa Tionghosa, banyak yang
       masuk Islam sehingga lambat laun perkembangan di pulau Jawa berpindah ke
       tangan kaum muslim. Disamping para pedagang, ada juga orang-orang yang
       sangat berjasa dalam usaha menyebarkan dan mengambangkan agama Islam
       yaitu terkenal dengan sebutan Wali Songo.12
E. Sejarah Islam di Maluku
       1. Kerajaan Islam Di Maluku
                    Masuknya Islam di maluku dibawa oleh Mubaligh dari Jawa, sejak
           zaman Sunan Giri dari Malaka kurang lebih tahun (1475 M). Raja Maluku
           yang pertama masuk Islam adalah Sultan Ternate, yang bernama Mahrum
           pada tahun 1465-1486 M atas pengaruh Maulana Husain, saudagar Jawa.
                    Di Maluku ada raja yang terkenal dalam bidang pendidikan dan
           dakwah yaitu Sultan Zainal Abiddin (1486 – 1500)


12
     Ibid, hal 43
                     Dakwah Islam di Maluku menghadapi dua tantangan yaitu dari
            orang-orang yang masih anemis dan orang Portugis yang mengkristenkan
            penduduk Maluku. Ketika bangsa Belanda yang beragama Protestan datang
            ke Indonesia mereka mulai berusaha dan berhasil memprotestankan
            penduduk Indonesia. Mereka mulai berusaha dan berhasil memprotestankan
            penduduk Indonesia. Pada awal abad ke-17 M secara massal di daerah
            Batak, Manado, dn Ambon.
                     Pada saat ini keadaan Islam di Maluku Utara mayoritas dan di
            maluku Selatan minortitas sedangan di Maluku tengah seimbang antara
            Islam dan kristen.13
F. Sejarah Pendidikan Islam di Maluku
                Pelaksanaan pendidikan islam di Maluku ketika itu telah maju jika di
       banding dengan daerah-daerah lainnya karena telah didirikan beberapa
       pesantren dn madrasah yang lebih terorganisasi
                Madrasah di Ambon yang termasyhur ketika itu adalah madrasah
       Mahasinul Akhlak, yang telah banyak mengeluarkan para pemuda Islam yang
       terjun langsung ke masyarakat sebagai guru dan pemimpin agama. 14
G. Sejarah Islam di Kalimantan
                Islam masuk ke Kalimantan pada abad ke-15 M dengan cara yang damai
       yang dibawa oleh Mubalig dari Jawa. Sunan Bonang dan Sunan Giri
       mempunyai para santri di Kalimantan, Sulawei, dan maluku
                Perkembangan Islam mulai mantap setelah berdiri kerajaan islam di
       bandar di bawah pimpinan Sultan Suruansyah (1540 M) yang bergelar Pangeran
       Samudera.
H. Sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan




13
     Ibid, hal. 44
14
     Zuhairini, op. cit. hal. 142
                Pada tahun 1716 M di Kalimantan terdapat ulama besar bernama Syeh
       Arsyad Al-Banjri dari Desa kalam payan yang terkenal sebagai pendidik dan
       mubaligh besar. Pengaruhnya meliputi seluruh Kalimantan.
                Di Kalimantan terdapat madrasah-madrasah yang mengajarkan agama
       serta pelajaran umum. Madrasah ini diantaranya adalah Madrasah Najah wal
       Fatah. Madrasah ini madrasah tertua yang berada di Pontiana yang didirikan
       pada tahun 1918 M.
                Kemudian    terdapat   pula   sekolah     menengah   Islam   pertama   di
       Banjarmasin. Selain itu terdapat madrasah normal Islam Amuntai (1928).
       Madrasah ini didirikan pada tahun 1928 oleh H. Abdul Rosyid dengan nama
       Arabische School
                Selain itu ada juga perkumpulan IMI (1945 M) mempunyai tujuan dan
       maksud tertentu yaitu :
       1. Menciptakan adanya pendidikan dan pengajaran islam
       2. Memperluas adanya perguruan Islam
       3. Memperbaiki organisasi dan leerplan perguruan-perguruan Islam yang telah
            ada agar sesuai dengan hajat masyarakat. 15
I. Sejarah Pendidikan Islam di Sulawesi
                Ajaran Islam di Sulawesi sejak dahulu berembang pesat. Pesantren
       banyak berdiri dan berkembang. Perkembangan itu muai pesat sejak kedatangan
       ulama. Bugis yang datang dari tanah suci Mekah yang bermukim disana
       beberapa tahun.
                Sistem pengajaran pesantren di Sulawesi hampir sama dengan sistem
       pengjaran di Sumatera dan jawa yaitu bersumber dari Mekah kemudian
       beransgur-angsur didirikan madrasah-madrasah yang memakai bangku, meja,
       dan papan tulis.



15
     Ibid, hal. 46
       Organisasi yang mulaa-mula mendirikan madrasah di Sulwesi adalah
organisasi Muhammadiyah yaitu kira-kira tahun (1926 M). Madrasha-madrasah
di sulwesi diantaranya adalah madrasah Amiriah Islamiyah di Bone, madrsah ini
didirikan tahun 1933, pelindung utamanya adalah Raja Bone, Andi
Mappanjukki
       Madrasah ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama saja melainkan ilmu
umum juga.
       Madrasah Amiriyah Islamiyah ini mempunyai tiga tingkatan
a. tingkatan ibtidaiyah ditempuh selama tiga tahun
b. tingkat Tsanawiyah ditempuh selama tiga tahun
c. tingktan Mu’alimin ditempuh selama dua tahun
       Pada tahun 1952 madrasah Amiriah Islamiyah diubah menjadi sekolah
Menengah Islam (SMI) kemudian pada tahun 1954 SMI diubah menjadi PGAP
(Pendidikan Guru Agama Pertama). Selanjutnya ditambah dengan PGA
(Pendidikan Guru Agama) di bawah organisasi Lembaga Pendidikan Islam Bone
(LPIB).
       Syeh H. M. As’ad bin H. A. Rosyid adalah seorang ulama’ besar di
Sulawesim, Bugis 91907 – 1952 M). Beliau lahir di Mekkah pada tahun 1326 H
91907 M). Pada tahun 1350 H (1931) beliau mendirikan madrasah, yaitu
madrasah Wojo Tarbiyah Islamiyah. Kemudian madrasah ini diubah namanya
menjadi madrasah As’adiyah. Madrasah-madrasah di Sulawesi tengah
diantaranya :
a. Madrasah al-Khoirot, didirikan oleh ulama besar Syeh Al-Idrus pada tahun
   1930 M.
b. Madrasah tarbiyah Islamiyah didirikan oleh H. Abdurrahman Ambo dale
   pada tahun 1908 M
       c. Madrasah darul da’wah wal Irsyad (DOI). Madrasah ini didirikan pda
            tanggal 16 Rabiul Awal 1336 H (7 Februari 1947 M). 16
J. Sejarah Pendidikan Islam di Nusa Tenggara
       1. Kerajaan Islam di Nusa Tenggara
                     Madrasah Nahdlatul Wathon Diniyah Islamiyah didirikan pada
            tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 oleh H. Mahmud Zainuddin, seorang ulama’
            besar di Pancor, Lombok Timur.
                     Pada tahun 1943 M didirikan madrasah nahdlatul Banat Diniyah
            Islamiyah oleh KH. Muhamamd Zainuddin disamping Madrasah Nahdlatul
            Wathon, Madrasah ini dikhususkan bagi santri putri. Madrasah-madrasha
            tersebut mempunyai beberapa bagian diantaranya :
            a. Tahdliryah
            b. Ibtidaiyah
            c. Mu’allimin / mu’allimat
            d. Bagian SMI
            e. Bagian PGA
                     Pada tahun (1953) madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah
            dengan seluruh cabangnya dijelmakan menjadi satu organissi dengan nama
            Nahdlatul Wathon (NW) yaitu organisasi pendidikan dan sosial yang
            berpusat di Pancor (Lombok Timur)
            Madrasha-madrasah lain di Nus Tenggara diantaranya :
            1) Madrasah al Ittihad di Ampenan (Lombok barat)
            2) Madrasah al Islam di Kediri (Lombok tengah)
            3) Madrasah al Banat di Masbagik (Lombok Timur)
            4) Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah di Tanjung Toros
            5) Madrasah darul Ulum di Bima (Sumbawa) 17


16
     Ibid, hal. 50
17
     Ibid, hl 53
K. Zaman Penjajahan Belanda
         Sejarah perkembangan Islam di Indonesia memberi gambaran kepada
  kita bahwa kontak pertama antara pengembangan agama Islam dan berbagai
  jenis kebudayaan dan masyarakat di Indonesia, menunjukkan adanya semacam
  akomodasi kultural. Disamping melalui pembenturan dalam dunia dagang,
  sejarah juga menunjukkan bahwa penyebaran Islam kadang-kadang terjadi
  dalam suatu relasi intelektual, ketika ilmu-ilmu dipertentangkan atau ditemukan.
         Oleh   karena       itu   kedatangan   kaum   kolonial   Belanda   berhasil
  menancapkan kukunya di bumi nusantara dengan misi gandanya (imperialisme
  dan kristenisasi) sangat merusak dan menjungkirbalikkan tatanan yang sudah
  ada.
         Memang diakui bahwa Belanda cukup banyak mewarnai perjalanan
  sejarah (Islam) di Indonesia. Cukup banyak peristiwa dan pengalaman yang
  dictat Belanda sejak awal, kedatangannya di Indonesia baik sebagai pedagang
  perseorangan, ataupun ketika diorganisasikan dalam bentuk kongsi dagang yang
  bernama VOC atau juga sebagai pemerintah yang berkuasa dan menjajah. Oleh
  sebab itu wajar bila kehadiran mereka selalu mendapat tantangan dan
  perlawanan dari penduduk pribumi, raja-raja dan tokoh-tokoh agama setempat.
         Kedatangan bangsa barat di satu pihak membawa dampak padak
  kemajuan teknologi, kendati kemajuan tersebut tidak dinikmati penduduk
  pribumi. Tujuannya hanyalah meningkatkan hasil penjajahan. Begitu pula
  halnya dengan pendidikan, mereka telah memperkenalkan sistem dan
  metodologi baru, dan tentu saja lebih efektif, namun semua itu dilakukan
  sekadar untuk menghasilkan tenaga-tenaga yang dapat membantu segala
  kepentingan penjajah dengan imbalan yang murah sekali dibandingkan dengan
  jika mereka harus mendatangkan tenaga dari Barat. Kenyataannya, Belanda
  sebagai negara penajajh benar-benar mengeksploitasi dan mengeruk keuntungan
  dari bumi nusantara ini.
       Apa yang mereka sebut oembaharuan pendidikan, tidak lain adalah
westernisasi dan kristenisasi, yang kesemuanya dilakukan untuk kepentingan
Barat dan nasrani. Dua motif inilah yang mewarnai kebijaksanaan penajajahan
Belanda di Indonesia yang berlangsung selama 3,5 abad.
       KH Zainuddin Zuhri menggambarkan bahwa rakyat Indonesia yang
mayoritas umat Islam tidak memandang orang-orang Barat tersebut, melainkan
sebagai penakluk dan penjajah. Dalam dada penjajah tersebut terdapat ajaran
dari politikus curang dan licik Machiavelli, yang antar lain mengajarkan :
1. Agama, sangat diperlukan bagi pemerintah penajah (kolonial);
2. Agama tersebut dipakai untuk menjinakkan dan menakulukkan rakyat;
3. Setiap aliran agama yang dianggap palsu oleh pendudu yang bersangkutan
   harus dimanfaatkan untuk memecahbelah dan mendorong mereka agar
   mecari bantuan kepada pemerintah;
4. Janji dengan rakyat tak perlu ditepati jika merugikan
5. Tujuan dapat menghalalkan segala cara
       Demikianlah, Jan Pieter Zoon Coen (1587 – 1929) dengan meriah dan
politik Machiavelli-nya yang menduduki Jakarta yang dulu bernam Batavia.
Namun, orang-orang Pribumi tidak tinggal diam. Meskipun Belanda baru
mengepakkan sayapnya sebagai kolonial, mereka sudah ditantang dan dilawan
oleh Sultan Agung Mataram yang dikenal dengan gelar Sultan Abdurrahman
Khalifatullah Sayidin Panotogama.
       Politik yang dijalankan pemerintah Belanda terhadap rakyat Indonesia
yang mayoritas beragama Islam sebenarnya didasari oleh adanya rasa ketakutan
rasa panggilan agamanya yaitu kristen dan ras kolonialismenya. Dengan begitu,
mereka menerapkan berbagai peraturan dan kebijakan, dinatara :
1. Pada tahun 1882 pemerintah Belanda membentuk suatu badan khusus yang
   bertugas mengawasi kehidupan bergama dan pendidikan Islam yang mereka
   sebut priestarraden. Dari nasihat badan inilah, pada Tahun 1905 pemerintah
   Belanda mengeluarkan peraturan baru yang isinya menyatakan bahwa orang
           yang memberikan pengajaran atau pengajaran agama Islam harus terlebih
           dahulu meminta izin kepada Pemerintah Belanda.
       2. Tahun 1925 keluar lagi peraturan yang lebih ketat terhadap pendidikan
           agama Islam, yaitu bahwa tidak semua orang (Kiai) boleh memberikan
           pelajaran mengaji, terkecuali telah mendapat semacam rekomendasi atau
           persetujuan pemerintah Belanda.
       3. Tahun 1932 keluar lagi peraturan yang isinya berupa kewenangan untuk
           memberantas dan menutup madrasah dan sekolah yang tidak ada izinnya
           atau memberikan pelajaran yang tidak disukai oleh pemerintah Belanda yang
           disebut ordonansi sekolah liar (Wilde School Ordnonantie).18
                Tidak hanya sampai disitu tindakan pemerintah belanda, berbagai usaha
       lain juga mereka tempuh, dengan maksud menekan dan mematikan kegiatan-
       kegitan orang Islam. Hal ihwal tentang pribumi dan Islam mereka pelajari
       secara mendalam. Di negeri Belanda Ilmu Khusus berkenaan dengan pribumi
       dan islam di Indonesia dikenal dengan nama Indologi.
       a. Pendidikan Islam sebelum tahun 1900
                    Sebelum tahun 1900, kata kita mengenal pendidikan islam secara
           perseorangan melalui rumah tangga dan surau / langgar atau masjid.
           Pendidikan secara perseorangan dan rumah tangga itu lebih mengutamakan
           pelajaran praktis, misalnya tentang keluhan, dan masalah-masalah yang
           berhubungan dengan ibadah. Belum ada pemisahan mata pelajaran tertentu
           dan pelajaran yang diberikan pun belum sistematis. 19
                    Pendidikan Islam pada masa ini bercirikan hal-hal sebagai berikut :
           1. Pelajaran diberikan satu demi satu
           2. Pelajaran ilmu shorof didahulukan dari ilmu nhwu
           3. Buku pelajaran pada mulanya dikarang oleh ulama Indonesia dan
                diterjemahkan ke dalam bahasa daerah setempat

18
     Ibid, hal 55
19
     Ibid, hal 58
           4. Kitab yang digunakan umumnya ditulis tangan
           5. Pelajaran suatu ilmu hanya diajarkan dalam satu macam buku saja
           6. Toko buku belum ada, yang ada hanyalah menyalin buku dengan tulisan
                tangan
           7. Karena terbatasnya bacaan, materi ilmu agama sangat sedikit
           8. Belum lahir aliran baru dalam Islam.


       b. Pendidikan Islam pada Masa Peralihan
                    Lembaga-lembaga pendidikan islam sebelum tahun 1900 masih relatif
           sedikit dan berlangsung secara sederhana. Setelah itu dalam periode yang
           disebut peralihan ini telah banyak berdiri tempat pendidikan Islam terkenal
           di Sumatera. Seperti surau parabek Bukit Tinggi 91908) yang didirikan oleh
           Syekh H. Ibrahim Parabek dan di pulai Jawa seperti pesantren Tebuireng,
           namun sistem madrasah belum dikenal.
                    Adapun pelajaran agama Islam pada masa peralihan ini bercirikan hal-
           hal sebagai berikut :
           1. Pelajaran untuk dua sampai enam ilmu dihimpun secara sekaligus
           2. Pelajaran ilmu nahwu didahulukan atau disamakan dengan ilmu shorof
           3. Semua buku pelajaran merupakan karangan ulama Islam kuno dan dalam
                bahasa Arab
           4. Semua buku dicetak
           5. Suatu ilmu diajarkan dari beberapa macam buku, rendah, menengah dn
                tinggi
           6. Telah ada toko buku yang memesan buku-buku dari Mesir atyau Mekah
           7. Ilmu agama telah berkembang luas berkat banyaknya buku bacaan
           8. aliran baru dalam islam seperti yang dibawah oleh majalah an Manar di
                Mesir mulai lahir.20


20
     Ibid, hal 59
                    Pada waktu itu kebijakan pemerintahan kolonial Belanda terhadap
           pendidikan Islam Indonesia sangat ketat. Disamping itu, juga pemerintahan
           kolonial gencar mempropagandakan pendidikan yng mereka kelola, yaitu
           pendidikan yang membedakan antara golongan priyayi atau pejabat adalah
           yang beragama Kristen.
       c. Pendidikan Islam sesudah Tahun 1909
                    Gaung isu nasionalisme merambah kemana-mana. Ini berkat
           tamilnya Budi Utomo pada tahun 1908, yang menyadarkan bangsa Indonesia
           bahwa perjuangan bangsa Indonesia yang selama ni hanya mengandalkan
           kekuatan dan kedaerahn tanpa memperhatikan persatuan, sulit untuk
           mencapai keberhasilan. Karena itulah, sejak tahun 1908 timbul kesadaran
           baru dari bangsa Indonesia untuk memperkuat persatuan
                    Sistem madrasah baru dikenal pada permulaan abad ke-20. sistem ini
           membawa pembaharuan, antara lain :
           1. Perubahan sistem penroganisasian dari perseorangan atau sorogan
                menjadi klasikal
           2. pengajaran pengetahuan umum disamping pengetahuan agama dan
                bahasa rab.
L. Zaman Penjajahan Jepang
                Jepang muncul sebagai negara kuat di Asia. Bangsa jepang bercita-cita
       menjadi pemimpin Asia Timur Raya dan hal ini sudah direncanakan Jepang
       sejak tahun 1940 untuk mendirikan kemamuran bersama Asia Raya. Menurut
       rencana tersebut, jepang ingin menjadi pusat suatu lingkungan yang
       berpengaruh atas daerah-daerah masnyuria, Daratan Cina, kepulauan Filipina,
       Indonesia, Malaysia, Thailand, Indo Cina dan Rusia. 21
       a. Tujuan Persekolahan Secara Umum



21
     Ibid, hal 60
                       Dengan semboyan “Asia Untuk Asia” Jepang mengusai daerah yang
           berpenduduk. Lebih dari 400 juta jiwa yang antara lain menghasilkan 50%
           produksi karet dan 70% produksi timah dunia
                       Indonesia yang kaya bahan mentah merupakan sasaran yang perlu
           dibina dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan perang Jepang.
           Jepang menyerbu Indonesia karena tanah air Indonesia memiliki sumber
           bahan mentah dan tenaga manusia yang kaya raya, yng sangat besar artinya
           bagi kelangsungan perang pasifik. Hal ini sesuai pula dengan politik
           ekspansinya. 22
                       Pendidikan pada zaman Jepang disebut “Hakko Ichiu” yakni
           mengajak        bangsa   Indonesia   bekerjasama   dalam   arangka   mencapai
           kemakmuran bersama Asia Raya. Oleh karena itu setiap hari, pelajar
           terutama pada pagir hari harus mengucapkan sumpah setia kepada kaisar
           Jepang, lalu dilatih kemiliteran.
                       Sistem persekolahan di zaman Jepang banyak berbeda dengan
           penjajahan Belanda.
                       Sekolah-sekolah yang ada pada zaman Belanda diganti dengan
           sistem Jepang. Segala daya dan upaya ditujukan untuk kepentingan perang.
           Murid-murid hanyan mendapat pengetahuan yang sedikit sekali hampir
           sepanjang hari. Mereka mengikuti kegiatan latihan peran atau bekerja.
           Kegiatan-kegitan sekolah antara lain :
           1. Mengumpulkan batu, pasir unruk kepentingan perang
           2. Membersihkan bengkel-bengkel, sarana-sarana militer
           3. Menanam umbi-umbian, sayur-sayuran di pekarangan sekolah untuk
                persediaan makanan
           4. Menanam pohon jarak untuk bahan pemulas



22
     Ibid, hal 60-61
                      Kendati demikian, ada beberapa hal yang perlu dicatat pada zaman
           Jepang ini, yaitu terjadinya perubahan yang cukup mendasar di bidang
           pendidikan dan hal ini penting sekali artinya bagi bangsa Indonesia
           diantaranya ialah :
           a) Dihapuskannya dualistik pengajaran, berbagai macam jenis sekolah
                rendah, yang dahulunya diselenggarakan pada zaman beland, dihapuskan
                sama sekali. Habislah riwayat susunan pengajaran Belanda yang sualistis
                itu
           b) Pemakaian bahasa Indonesia. Pemakaian bahasa Indonesia baik sebagai
                bahasa resmi maupun sebagai bahasa pengantar pada tiap-tiap jenis
                sekolah telah dilaksanakan.
       b. Sikap Jepang terhadap Pendidikan Islam
                      Sikap penjajah Jepang erhadap pendidikan Islam ternyata lebih lunak
           sehingga ruang gerak pendidikan Islam lebih bebas ketimbang pada zaman
           pemerinthan kolonil Belanda, terlebih-lebih pada tahap permulaan,
           pemerintahan Jepang menampakkan diri seakan-akan membela kepentingan
           Islam. Untuk mendekati umat islam, mereka menempuh beberapa
           kebijaksanaan berikut.23
           a) Kantor Urusan Agama (KUA)
                        KU yang dalam bahasa Jepangnya Shumubu (sebagai pengganti
                kantor Voor Het Islanddsche Zaken yang sudah ada di zaman kolonial
                Belanda) yang dipimpin oleh ulama islam yaitu KH Jasyim Asy’ari dari
                jombang dan di daerah-daerah juga dibentuk Shumubu. Kantor itu
                kemudian dikembangkan bidang tugsnya, sehingga mengurus berbagai
                masalah yang sebelumnya terbagi antara Departemen Dalam Negeri,
                Kehamkinan, Pendidikan dan Peribadatan Umum.



23
     Ibid, hal 62
                     Jabatan tinggi pertama yang dipercayakan Jepang kepada orang
                Indonesia dalam pemerintahan pendudukannya adalah Jabatan Kepala
                Kantor urusan Agama ini. Oleh karena itu Bj. Boland menyatakan bahwa
                eksisnya Kantor Urusan Agama ini merupakan salah satu manfaat
                terbesar dari pendudukan Jepang di Indonesia. Sebelumnya antor ini
                dipimpin oleh Kolonel Hori dari tentara Jepang mulai bukan Maret 1942
                tanggal 1 Oktober 1943 jabartn itu diserahkan kepada Hoesein
                Djajadiningrat. Namun, yang lebih penting dari itu adalah penunjukan
                kepala yang baru sejak tanggal 1 Agustus 1944, yaitu KH hasyim
                Asy’ari, pimpinan Pesantren Tebuireng yang terkenal. Sejak tanggal 1
                April 1944, dimulai pembentukan KUA disetiap Karesidenan.
           b) Pembentukan Masyumi
                     Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) dipandangan
                sebagai pengganti MIAI. Pembubaran MII pada bulan oktober 1943
                dilakukan Jepang karena organisasi ini didirikan atas prakarsa kaum
                muslim sendiri sebagai suatu federasi organisasi-organisasi Islam. Para
                pemimpin organisasi itu mempunyai latar belakang sikap antikolonial
                dan tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial. Dipihak lain,
                Masyumi    yang mulai aktif tanggal 1 Desember 1943 dalam
                kenyataannya merupakan ciptaan pejabat-pejabat Jepang.24
                     Masyumi lebih bersifat politik, yaitu memperkuat kesatuan seluruh
                organisasi Islam, dan membantu Dai Nippon untuk kepentingan Asia
                Timur Raya. Sementara itu, alasan yang lebih jelas untuk menggantikan
                MIAI dengan masyumi adalah karena dua organisasi Islam terpenting
                tidak menjadi anggota MIAI, yaitu NU dan Muhammadiyah. Dengan
                terbentunya dua organisasi Islam pada zaman jepang ini yaitu KUA dan
                Masyumi, umat Islam telah diberi suatu aparatur yang akan menjdi


24
     Ibid, hal 63
   sangat penting bagi masa depan umat Islam, terlepas dari apapun tujuan
   semula dari Jepang ketika membentuk kedua organisasi tersebut. Dan ini
   merupakan cikl bakal terbentuknya departemen Agama dikemudian hari.
c) Terbentuknya Hisbullah
        Hizbullah merupakan sejenis organisasi militer bagi pemuda-
   pemudi mulsim. Pembentukan Hizbullah pada kahir tahun 1944 ini
   sangat penting artinya karena banyak anggotanya yang kemudian
   menjadi anggota tentara Nasional.
        Pendidikan Islam khususnya dan pendidikan di Indonesia pada
   umumnya di masa pendudukan Jepang mengalami kemerosotan dan
   kemunduran yang luar biasa, terutama dibidang pendidikan secara umum
        Hal ini karen ketatnya pengaruh indoktrinasi serta disiplin mati
   akibat pendidikan militerisme fasisme Jepang.
        Namun, dibalik kekejaman Jepang terdapat hal-hal pula yang
   menguntungkan. Drs. Ary H. Gunawan merinci keutnungan-keuntungan
   pada zaman Jepang, khususnya bidang pendidikan.
   1. Bahasa Indonesia hidup dan berkembang secara luas di seluruh
      Indonesia, baik sebagai bahasa ilmiah. Istilah-istilah baru diciptakan
      dan diadopsi dari berbagai bahasa yang mantap untuk berbagai
      keperluan, termasuk ejaannya
   2. Buku-buku dalam bahasa asing yang diperlukan diterjemahkan ke
      dalam bahasa Indonesia dengan mengabikan hak cipta internasional
      karena dalam suasana perang. Bahasa asing yang dibenarkan di
      perguruan tinggi di Indonesia hanyalah bahasa Jepang.
   3. Kreatifitas guru-guru semakin berkembang dalam memenuhi
      kekurangan buku pelajaran dengan menyadur atau mengarang
      sendiri, termasuk kreatifitas untuk menciptakan alat peraga dan
      model dengan bahan dan alat yang tersedi
                4. Seni beladiri dan latihan perang-perangan sebagai kegiatan kurikuler
                     di sekolah telah membangkitkan keberanian pada para pemuda yang
                     ternyata sangat berguna dalam perang kemerdekaan yang terjadi
                     kemudian. Termasuk juga seinenda, keibodan, Heihjo dan Peta yang
                     telah terlatih mempergunakan senjata api.
                5. Diskriminasi menurut golongan penduduk, keturunan dan agama
                     ditiadakan sehingga semua lapisan masyarakat mendapat kesempatan
                     yang sama dalam bidang pendidikan. Sekolah-sekolah diseragamkan
                     dan sekolah-sekolah swasta dinegerikan serta berkembang di bawah
                     pengaturan kantor pengajaran ”Bunkyo Kyoku”
                6. Karena pengaruh indoktrinasi yang ketat untuk menjepangkan rakyat
                     Indonesia, perasaan rindu pada kebudayaan sendiri dan kemerdekaan
                     nasional berkembang dan bergejolak secara luar biasa.
                7. bangsa Indonesia dididik dan dilatih untuk memegang jabatan
                     walaupun di bawah pengawasan orang-orang Jepang. 25
       c. Pertumbuhan dan Perkembangan Madrasah
                     Pada masa pendudukan Jepang, ada satu keistimewaan dalam dunia
            pendidikan. sekolah-sekolah telah diseragamkan dan dinegerikan. Dapun
            sekolah-sekolah swsta, seperti Muhammadiyah, Taman Siswa dan lain-lain
            diizinkan terus berkembang tetapi masih diatur dan diselenggarakan oleh
            pendudukan Jepang.26




25
     Ibid, hal 63
26
     Ibid, hal. 65

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:73
posted:7/17/2012
language:Malay
pages:25