FILSAFAT PLOTINUS DAN NEOPLATONISME

Document Sample
FILSAFAT PLOTINUS DAN NEOPLATONISME Powered By Docstoc
					                                     BAB I
                                 PENDAHULUAN




         Dalam Filsafat Yunani kita mengetahui bahwa dalam perkembangannya
terdapat beberapa masa yaitu :
Pertama : Empat abad SM sampai pertengahan abad 1 SM
Kedua     : Pertengahan abad pertama SM sampai pertengahan abad ke-3 SM
Ketiga    : Abad ke-3 M sampai pertengahan bad ke-6 M pada abad ke-3 ini kita
            mengenal aliran-aliran diantaranya adalah neoplatonisme dengan tokoh
            terpentingnya yakni Plotinus
         Maka dalam makalah ini akan sedikit kami bahas tentang Plotinus dan
alirannya neoplatonisme sebagai berikut.




                                           1
                                           BAB II
                                    PEMBAHASAN




A. Plotinus
             Plotinus dilahirkan pada tahun 205 di Lykopolis di Mesir, yang pada
   waktu itu dikuasai oleh Roma dan meninggal di Minturne di Italia pada tahun
   270. orang tuanya berasal dari Yunani. Namany tersohor karena ajaran
   filosofinya. Ia tak mau terkemuka. Ia menolak semua tukang patung yang
   bermaksud membuatkan patungnya. Ia terkenal dengan kesederhanaan
   hidupnya.
             Mulanya Plotinus mempelajari filsafat dari ajaran Yunani, terutama dari
   buah tangan Plato. Pada umur 28 tahun, kecerdasannya sudah kelihatan
   sehingga patut baginya disebut sebagai filosof. Akan tetapi, ia merasa
   pengetahuannya belum cukup dalam. Ia ingin memperdalamnya dengan
   mempelajari mistik dari Persia dan India, yang begitu tersohor namanya pada
   waktu itu. Kebetulan pula Kaisar Roma, Gordianus, menyusun tentaranya untuk
   menyerbu ke Persia. Plotinus menawarkan diri untuk menjadi serdadu dalam
   laskar Gordianus.
             Namun, laskar Gordianus menderita kekalahan besar dan Plotinus hanya
   dapat selamat dengan melarikan diri. Sesudah gagal untuk pergi ke Persia dan
   India, ia berangkat menuju ke Roma. Satu tahun menetap di sana untuk
   mengajarkan filsafatnya. Di antara murid-muridnya, ada juga orang besar.
   Karena sikap hidupnya yang sederhana, orang besar dan orang biasa sama-sama
   menghormati       dia.   Tidak   saja    menghormati,   bahkan   ada   juga   yang
   mendewakanny. Akan tetapi, Plotinus tidak terpengaruh karena itu. Ia tetap
   orang yang sederhana dan memandang segala perbuatannya sebagai tugas hidup
   belaka.




                                             2
          Pada hari tuanya, ia sering sakit-sakitan dan karena itu ia berhenti
   mengajar filsaft. Ia mengundurkan diri dan bertapa. Pada tahun 270, ia
   meninggal di suatu tempat yang bernama Minturnea dalam usia 65 tahun (Atang
   (2008: 127).


B. Pokok Ajaran Plotinus
          Plotinus mula-mula tidak bermaksud untuk mengemukakan filsafatnya
   sediri. Ia hanya ingin memperdalam filsafat Plato. Oleh sebab itu, filosofinya
   disebut dengan neoplatonisme.
          Apabila Plato mendasarkan ajarannya kepadanya yang baik yang
   meliputi segala-galanya, ajaran Plotinus berpokok kepada yang satu. Yang satu
   itu adalah pangkal segala-galanya. (K. Berteens (1991 : 18)
          Filsafat Plotinus berpangkal pada keyakinan bahwa segala ini, Yang asal
   itu, adlah satu dan tidak ada pertentangan di dalamnya. Yang satu itu bukan
   kuaitas dan bukan pula yang terutama dari segala keadaan dan perkembangan
   dalam dunia. Segalanya datang dari suatu, Yang asal. Yang asal itu adalah sebab
   kuantit, akal bukan jiwa, bukan suatu yang bergerak bukan pula yang terhenti,
   bukan dalam ruang dan bukan dalam waktu.
          Yang satu itu tidak dapat dikenal, sebab tidak ada ukuran untuk
   membandingnya. Orang hanya dapat mengatakan, apa yang tidak sama dan
   serupa dengan Dia, tetapi tidak dapt dikatakan apa Dia. Pada dasarnya, Yang
   Satu itu tidak dapat disebut, karena nama-nama Yang Satu, Yang Baik, berlainan
   dengan nama-nama yang lain, tidak berhubungan dengan Yang Asl. Yang Satu
   itu menunjukkan sesuatu yang negatif, yaitu tidak ada padanya yang banyak.
   Yang Baik menunjukkan apa artinya baik itu untuk makhluk yang lain, bukan
   apa itu baginya sendiri. Hanya satu saat yang positif yang tidak boleh tidak ada
   padanya, yaitu Yang Asal itu adalah permulaan dan sebab yang pertma dari
   segala yang ada.




                                        3
       Akan tetapi, mestikah Yang Satu itu yang memberikan kemungkinan
adanya yang banyak dalam dunia ini, mengandung dalamnya yang banyak,
sekalipun pada potensinya saja?
       Plotinus merasakan sendiri kesulitan yang dihadapinya sebagai
kelanjutan logikanya. Untuk mengtasi kontradiksi itu dikemukakannya dasar
kausalita Tuhan.
       Yang satu itu adalah semunya, tetapi tidak mengandung di dalamnya
satu pun dari barang yang banyak itu. Dasar dari yang banyak tidak bisa yang
banyak itu sendiri. Sebaliknya, Yang Satru adalah semuanya berarti bahwa
yang banyak itu adalah padanya. Di dalam Yang Satu, yang banyk itu belum
ada, tetpi yang banyak itu akan ada. Sebb di dalamnya, yang banyak itu tidak
ada, yang banyak itu datang dari Dia. Karena Yang Satu itu sempurna, tidak
mencari apa-apa, keluarlah sesutu dari Di dan mengalir menjadi barang-barang
yang ada.
       Pandangan itu disebut      dengan emanasi dari Dia, datang dari Dia.
Emanasi adalah suatu pandangan baru yang dikemukakan oleh Plotinus dalam
filosofinya. Sampai sekin jauh, belum ada pengertian ini dalam alam pikiran
Yunani.
       Dalam ajaran Plotinus, Yang Satu itu adalah dalam keadaan sempurna.
Oleh sebab itu, bertambah banyaknya yang tidak sempurna hanya bisa terjadi
dalam bertambah banyaknya yang berbagai rupa, pembagian dan perubahan-
perubahan. Dari Yang Satu datang ”makhluk” yang pertama, yaitu akal, dunia
pikiran. Dari akal datang jiwa dunia, yang pada gilirannya melahirkan materi.
Satu rantai kausl terbentang dari Yang Satu, yang tertinggi, sampai materi, yang
terendah. Semuanya datang dari Yang Satu, tetapi semua itu terus langsung
berhubungan dengan Yang Satu tersebut. Demikianlah cara Plotinus menyusun
suatu sistem filosofinya, yang sebelum itu tidak terdapat dalam alam pikiran
Yunani.




                                     4
       Yang paling dekat kepada Tuhan, Yang Satu ialah akal. Sebgai sesuatu
yang dihasilkan oleh Yang Satu, sudah tentu akal itu kurang sempurna, dan
karena itu ia adalah suatu ”yang banyak”. Akan tetapi, ”yang banyak” itu
bukanlah yang banyk jumlahnya, bahkan masih rapat hubungannya dengan
Yang Satu. Kedaan akal itu adalah suatu persatuan dari pikiran dan adanya.
Adanya itu tiak lain dari pikiran atau dipikirkan. Pada akal yang tertinggi, yang
pikirannya adalah kebenaran yang sempurna, yang dipikirkan itu tidak bisa
dipisah dari yang memikirkan karena kebenaran yang sempurna mempunyai
hanya satu pikiran, yang dipikirkannya ada di dalam dirinya sendiri. Oleh
karena itu, akal adalah pikiran yang memikirkannya sendiri. Satu-satunya kerja
yang mungkin bagi akal ialah berpikir. Akal itu meliputi dunia cita-cita, dunia
pikiran. Sebagaimana Yang Asal melahirkan akal, demikian juga akal
melahirkan jiwa dunia. Lahirnya jiwa dunia itu adalah suatu emansi dari akal.
Jiwa ini adalah tuangan dari akal. Sebagai tuangan, jiwa itu kurang sempurna
daripada yang bermula. Begitu juga, disini terdapat kurang sempurna yang lebih
besar. Makin jauh dari Yang Asal, makin kurang kesempurnaan, makin
bertambah yang banyak. Jiwa itu mempunyai dua hubungan. Hubungan ke atas
kepada akal, yang lebih sempurna, dan hubungan ke bawah kepada benda, yang
kurang sempurna.
(Purwantana (1991 : 75)


1. Ajaran tentang Jiwa
           Ajaran Plotinus tentang jiwa adalah dasar teorinya tentang hidup
   yang praktis dan ajaran moral. Menurut pendapatnya, benda itu karena tidak
   terpengaruh Yang Satu, Yang Baik adalah pangkal dari yang jahat.
           Dalilnya ini menimbulkan kesulitan terhadap pokok ajaran Plotinus.
   Apabila benda dihasilkan oleh Jiwa, dengan sedirinya timbul pertanyaan :
   ”Apakah jiwa itu tidak bersalah dalm hal kejahatan benda itu ?”




                                      5
       Menurut Plotinus, jiwa itu tidak langsung bersalah. Seperti telah
diterangkannya tadi, jiwa itu mempunyai dua macam hubungan, ke atas dan
ke bawah. Ke atas, ia berhubungan dengan akal, dan karena itu ia adalah
”makhluk” yang berpikir dan menerima dari akal itu ieda yang kekal.


       Plotinus mengajukan pertanyaan pokok : Apa sebab jiwa-jiwa yang
pada dasarnya datang dari Tuhan, jadinya "makhluk" yang ideal, melupakan
Tuhan dan lupa pula akan diri sendiri?
       Plotinus menjawab: Mula kejahatan timbul pada mereka yang
menjadi sombong dan ingin mencapai tanda kebesaran untuk diri sendiri.
Karena jiwa-jiwa itu merasa bangga atas keadaannya berdiri sendiri dan
suka mempergunakan kesempatan untuk keluar dari garis jalan hidupnya,
menempuh jalan yang sebaliknya, mereka jauh sekali terpisah dari alam
asalnya. Tabiat jiwa yang kesasar itu serupa dengan sikap kanak-kanak,
yang dari kecilnya terpisah dari bapaknya dan hidup Berta dibesarkan di
negeri lain. Dia itu tidal kenal lagi dengan bapaknya dan dengan dirinya
sendiri. Karena jiwa-jiwa itu mengagumi dunia dan mengutamakan benda,
mereka merendahkan harga diri sendiri dari barang-barang dunia ini. Itulah
yang menjadi sebab mereka tak kenal lagi kepada dunia asal dan tak sanggup
lagi menerima dalam dirinya sifat dan tenaga Tuhan.
       Jiwa satu-satunya itu adalah bagian dari jiwa dunia yang mempunyai
pembawaan untuk bebas bertindak. Masuknya jiwa ke dalam badan adalah
suatu kemestian yang tidak dapat dihindarkan, tetapi menjiwai badan itu
adalah suatu tindakan bebas daripada jiwa dunia. Hukum alam umum, terasa
olehnya sebagai suatu dorongan alamiah. Dorongan alamiah inilah yang
disebut oleh manusia "kemerdekaan". Kemerdekaan dan kemestian bukanlah
dua hal yang bertentangan dalam pendapat Plotinus. Di sini, kelihatan
pengaruh pandangan kaum Stoa, tetapi disesuaikan ke dalam rangka mistik
Plotinus.



                                 6
       Kemerdekaan dan kemestian adalah dua segi dari badan yang satu.
Karena hubungan dan menjiwai badan manusia, jiwa masing-maasing
manusia itu lupa akan kebesaran nilainya dan ketinggian asalnya. la terikat
ke-I pada benda dan ingatannya kepada Yang Satu, Yang Baik, kepada
Tuhan menjadi hilang. Sekalipun jiwa manusia tidak dapat melepaskan diri
sama sekali dari ikatannya kepada Tuhan, karena ia lupa kepada Yang Baik,
ia menjauhkan diri dariTuhan. Daripada mencari Thhan, ia mencari barang-
barang yang diinginkannya, barang-barang yang jauh sekali di bawah
derajatnya. Karena terikat kepada barang, ia tidak lagi merdeka menurut,
dorongan alamiah.
       Hubungan jiwa dan benda diterangkan oleh Plotinus sebagai berikut :
Jiwa yang pada hakikatnya "makhluk" rohaniah tidak dapat dikurung oleh
badan seperti barang dalam peti. Karena "makhluk" yang lebih tinggilah
yang meliputi yang lebih rendah. Yang lebih rendah itu adalah suatu
limpahan dari yang lebih tinggi. Hubungan seperti itu terdapat pula pada
hubungan jiwa dan badan. Oleh karena itu, dalam badan manusia terdapat
dua bagian yang berbeda•sama sekali. Pertama, materi yang dilahirkan oleh
jiwa dunia menurut kemestian emanasi. Kedua, cahaya jiwa dunia dalam
benda yang sudah dilahirkan. jiwa ini, yang bercahaya masuk ke dalam
badan, tidak lain dari gambaran cahaya dari jiwa dunia yang sebenarnya.
Keinginan, kesedihan, kesenangan, dan pemandangan tak lain dari
pengalaman dan pemandangan dari bayangan jiwa tersebut. jiwa yang
sebenarnya, yang masih rohaniah, tidak menderita sedikit juga. Dengan
"aku"nya yang bersih, manusia dapat raencapai yang jauh lebih tinggi
daripada materi, mencapai alam rohaniah. Akan tetapi, pada "aku" rohaniah
yang suci tadi bergantung pula "aku" yang buas, yang menarik yang tinggi
tadi ke bawah. Sebaliknya, "aku" rohaniah yang lebih tinggi tadi menarik
yang rendah itu ke atas. Pada "aku" rohaniah yang suci tidak terdapat
kesenangan dan beban yang ada . pada "aku" yang lebih rendah yang buas.



                                 7
           Dengan jalan begitu, Plotinus mengajarkan bahwa dosa dan
   keburukan, kejahatan dan kebengisan hanya ada pada keadaan dan perbuatan
   "aku" yang rendah. Tidak ada pada jiwa yang masih murni.
           Bagian jiwa yang murni yang atas terdiri dari logos dan nus, pikiran
   dan akal, yang satu sama lain berhubungan sebagai benda dan bentuk. Logos
   kerjanya mencari. Ia senantiasa berpikir, kalau ia menerima cahaya dari nus,
   dari akal. Dari akal, diterimanya idea-idea kekal. Dengan perantaraan logos
   itu, jiwa dapat melakukan tugasnya yang mulia, kembali kepada Tuhan,
   apabila ia dapat melenyapkan dirinya dari hidup keduniaan dan mencoba
   hidup dalam alam rohaniah. Dengan jalan begitu, ia akan menempuh jalan
   ke atas, setingkat demi setingkat dan akhirny smpai kepada Yang Satu, Yang
   Baik.
           Selama jiwa itu terikat kepada badan, kepada benda, sukar sekali i
   mencapai tujun yang suci, yaitu sama degan Tuhan, menglir kembali ke asal
   Yang Satu.
           Sesudah mati, apabila jiwa itu lepas dari badan, jalan ke atas itu lebih
   mudah. Akan tetapi, apabila jiwa itu benar-benar akan merebut kembali
   kesenangan hidup dalam alam asal itu, dalam dunia sekarang inilah, ia harus
   melatih diri dengan hidup sederhana dari terus-menerus menjauhkan diri dari
   hidup keduniaan. Karena kalau jiwa dalam dunia ini terlalu terikat kepada
   benda, sesudah mati, ia belum sanggup lagi melepaskan diri dari kebendaan
   dan haruslah ia masuk lagi ke dalam badan lain. Ia akan hidup kembali
   sebagai tanaman, sebagai binatang atau manusia menurut tinggi rendah
   derajat kedurhakaannya.


2. Ajaran tentang Hidup dan Moral
           Plotinus tentang hidup dan moral mudah sekali ajaran itu tak lain
   daripada melaksanakan dalam praktik ajarannya tentang jiwa.




                                      8
                Tujuan hidup manusia dikatakannya mencapai persamaan dengan
       Tuhan. Budi yang tertinggi adalah roh. Menyucikan roh adalah stu-satunya
       jalan menuju cita-cita kemurnian.
                Benda yang ada sekitar hidup manusia hendaklah diabaikan sama
       sekali dan jiwa itu harus mencoba semat-mata hidup dalam lingkungan alam
       rohaniah dan alam pikiran. Hanya dalam alam rohaniah dana alm pikiran
       itulah, jiwa dapat melatih diri untuk mencapai langkah terakhir, yaitu
       bersatu dengan Tuhan. Ini hanya dapat dicapai dengan mengembangkan
       perasaan yang luar biasa, yaitu rasa keluar dari diri sendiri dengan extase
       (Atang, Beni; 2008 : 129-132)


C. Neoplatonisme
             Perkembangan pemikiran pada masa Hellenisme Romawi mempunyai
   corak yang sama, yang dalam perkembangan dapat dibagi ke dalam tiga masa,
   yaitu :
   1. Masa pertama ialah abad ke-5 sampai pertengahan abad sebelum Masehi.
       Aliran-aliran yang terdapat di dalamnya ialah :
       a. Aliran Epicur. Pendirinya Epicuros. Ajarannya ialah kebhagiaan manusia
             merupakan tujuan yang utama
       b. Aliran Stoa. Pendirinya Zeno. Ajarannya ialah agar manusia jangan
             sampai bisa digerakkan oleh kegembiran atau kesediaan (jadi menahan
             diri dalam menghadapinya) dan menyerahkan tanpa syarat kepada suatu
             keharusan yang tidak bisa ditolk dan yang menguasai segala sesuatu.
             Aliran ini merupakan rangkaian terakhir dari fase Hellenisme-Romawi,
             yaitu fase mengulang yang alam, bukan fase menciptakan yang baru.
             Aliran ini juga masih berkisar pda filsafat Yunani, tasawuf Timur, dan
             memilih dari sana-sini kemudian digabungkan. Oleh karena itu, di
             dalamnya terdapat ciri-ciri filsafat Yunani yang kadang-kadang
             bertentangan dengan agama-agama langit, yaitu agama Yahudi dan



                                           9
   Masehi, karena dasar filsafatnya ialah kepercayaan rakyat yang
   memercayai kekuasaan yang banyak. Karena sistem pilihan ini pula, di
   dalam Neoplatonisme tasawuf Timur. Jadi, Neoplatonisme mengndung
   unsur-unsur kemanusiaan (hasil usaha pemikiran manusia) keagaam, dan
   keberhasilan (bukan agama langit)
       Neoplatonisme dengan unsur-unsur tersebut dapat dan berstu dengan
kaum Muslimin melalui aliran Masehi di Timur dekat, tetapi dengan baju
lain, yaitu tasawuf Timur dan pengakuan akan keesaan Tuhan, Zat Yang
Pertama dengan ketunggalan yang sebenar-benarnya. Oleh karena itu,
dengan filsafat tersebut dan mengatakan bahwa filosof-filosof Yunani tidak
mempunyai pikiran-pikiran yang bertentangan dengan Islam selama mereka
mengakui keesaan Tuhan dan sebagai jalan kebahagiaan bagi manusia,
meskipun kelihatannya kadang-kadang bertentangan satu sama lain.
Perbedaan Neoplatonisme dengan aliran Iskandariyah yang berkembang
sejak pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7 ialah :
1. Neoplatonisme berkisar pada segi metfisika pada filsafat Yunani yang
   boleh jadi dalam beberapa hal berlawanan dengan agama Masehi. Di
   samping itu, aliran ini lebih banyak mendasarkan pikirannya pada seleksi
   dan pemaduan. Adapun aliran iskandariyah lebih condong kepada
   matematika serta ilmu alam, meninggalkan lapangan metafisika, yang
   keadaan ini dapat menyebabkan tidak adanya perlawanan dengan agama
   Masehi
2. Neoplatonisme lebih banyak mendasarkan pikirannya kepada seleksi dan
   perpaduan, sedangkan aliran Iskandariyah lebih banyuak mengadakan
   ulasan-ulasan terhadap pikiran-pikiran filsafat (A. Hanafi, 1991 : 32)
       Ulasan-ulasan yang diterima oleh orang Islam yang datang dari aliran
Iskandariyah dan aliran Hellenisme-Romawi ada tiga macam, yaitu :
1) Ulasan dari mazhab peripatetik dari masa sebelum Neoplatonisme,
   terutama dari Iskandar Aphodisias;



                                 10
2) Ulasan dari mazhab Neoplatonisme, terutama dari Porphyrus, ulasan ini
   disinyalir sebagai pangkal upaya Ibnu Sina dan Al-Farabi dalam
   mempertemukan agama dengan filsafat;
3) Ulasan dari orang-orang Iskandariyah seperti Hermias, Stephnus dan
   Joannes Philloponos (A. Hanafi, 1991 : 32)


       Aliran Neoplatonisme mempunyai tiga fase, yaitu : (1) Fase aliran
Plotinus dan muridnya, Prophyrus; (2) Fase Siria dari Lamblichus; (3) Fse
aliran Athena dari Plutarch dan proches. (Hanafi, 1991 : 32)
       Plotinus adalah tokoh yang terpenting. Ia mendsarkan filsafatnya atas
dua dialektika (dua jalan), yaitu :
 Dialektika menurun,
 Dialektika menaik
       Dialektika menurun digunakan untuk menjelaskn wujud tertinggi (the
Highest Being, atau The First, atau At-Tabiatul Ula atau Al Wujudul Awwal)
dan cara keluarnya alam dari-Nya
       Dengan penjelasan terhadap wujud tertinggi itu, Plotinus terkenal
dengan teorinya Yang Esa atau Esanya Plotinus. Dengan penjelasan kedua,
yaitu keluarnya alam dari Yang Esa, ia sampai kepada kesimpulan bahwa
semua wujud, termsuk di dalamnya wujud pertama (Tuhan), merupakan
rangkaian mata rantai yang kuat erat, dan terkenal dengan istilah kesatuan
wujud (windatul wujud) (Ahmad Syadili, 152). Dialektika menarik dipakai
untuk menjelaskan soal-soal akhlak dan jiwa dengan maksud untuk
menentukan kebahagiaan manusia.
       Demikian, corak mistik dan agama pada filsafat Plotinus. Filsafat
mistik tersebut kemudian dimasukkan ke dalam ajran-ajaran agama Masehi
oleh ST Augustinus dan Dinonysius. Ajaran Plotinus yang menganggap
bahwa ada itu hakikatnya hanya satu jalan ialah bahwa Tuhan dan lain-
lainnya hakikat sama, disebut Pantheisme.



                                      11
      Pada akhir masa kuno, Neoplatonisme merupakan aliran intelektual
yang dominan di hampir seluruh wilayah Hellenistik, sehingga seakan-akan
Neoplatonisme bersing dengan pandangan dunia yang berdasarkan agama
Kristen. Prphyrius (232 – 301 M) murid Plotinus menulis suatu karya yang
dengan tajam menyerang agama Kristen.
      Namun, pada tahun 529 M, Kaisar Justianus dan Byzantium
perlindungan agama Kristen menutup semua sekolah filsafat Yunani di
Athena. Peristiwa itu dianggap sebagai akhir masa Yunani Purba (Ahmad
Syadali dan Mudzakir, 152)




                               12
                                     BAB III
                                   PENUTUP




        Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa Plotinus adalah
filosof Yunani pada masa ke-3. Ia mengambil dan mengembangkan ajaran Plato.
Oleh karena itu ajarannya disebut dengan Neoplatonisme.
        Plotinus mendasarkan filsafatnya pada dua dialektika (jalan) yaitu
”dialektika menurun” (a way dawn, al jadal al nazil) dan ”dialektika menaik” (a
way up, al jadal al sha’id)
        Dialektika menurun digunakan untuk menjelaskan ”wujud tertinggi” (the
highest being, atau the first, atau al tabiat al ula, atau wujud al awwal) dan cara
keluarnya alam dari pada-Nya. Dengan penjelasan tersebut Plotinus terkenal dengan
teorinya ”Yang Esa”




                                        13
                             DAFTAR PUSTAKA




Atang Abdul Hakim, Beni Ahmad Saebani, 2008. Filsafat Umum, Bandung :
     Pustaka Setia

K. Bertens, 1991, Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta : Kanisius

Purwantana, Ahmadim Rosali, 1991, Seluk Beluk Filsafat Islam, Bandung: Remaja
     Rosda Karya




                                       14
 PLOTINUS DAN NEOPLATONISME

    Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas
          Mata Kuliah Filsafat Umum




             DOSEN PENGAMPU :

            DIDIK A. FAUZI, M.Pd.



                     Oleh :

              ANA RIYANAH
         HIDAYATUL MUSTAFIDAH


 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
             (PRODI PBA)


SEKOLAH TINGGI ISLAM BANI FATTAH
            (STIBAFA)
     TAMBAKBERAS JOMBANG
           TAHUN 2009
                                                 DAFTAR ISI




HALAMAN JUDUL ........................................................................................              i
DAFTAR ISI ...................................................................................................     ii


BAB I           : PENDAHULUAN .....................................................................                 1


BAB II          : PEMBAHASAN ........................................................................               2
                    A. Plotinus ................................................................................    2
                    B. Pokok Ajaran Plotinus ..........................................................             3
                         1. Ajaran tentang Jiwa ........................................................            5
                         2. Ajaran tentang Hidup dan Moral ....................................                     8
                    C. Neoplatonisme .....................................................................          9


BAB III         : PENUTUP .................................................................................        12


DAFTAR PUSTAKA




                                                           ii

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:152
posted:7/17/2012
language:Malay
pages:16