Docstoc

penyebab nasi magic com cepat basi

Document Sample
penyebab nasi magic com cepat basi Powered By Docstoc
					penyebab nasi di magic com / jar cepat basi

Secara umum dapat dikatakan bahwa kualitas nasi yang sedang disimpan di dalam magic com dipengaruhi
oleh faktor produk, suplai listrik, serta jenis beras. Magic com sendiri merupakan sebuah merek yang kemudian
berkembang menjadi kategori produk penanak/pembuat dan penghangat makanan (terutama nasi) yang
belakangan fiturnya terus bertambah seperti pembuat kue, sup, bubur, pengukus, dsb. Kategori produk
penanak nasi disebut rice cooker, sedangkan penghangat makanan adalah magic jar atau rice warmer.

Meski terdapat 3 kategori produk yang sebenarnya berbeda, keluhan kawan tadi secara umum meliputi juga
produk rice cooker dan magic jar. Jadi tidak hanya magic com. Faktor desain produk jelas mempengaruhi
kualitas nasi. Bagian-bagian penting dari sebuah magic com yang amat menentukan kualitas nasi adalah
elemen pemanas (heater), pengendali temperatur (thermostat), inner pot atau jar, serta bagian pengeluaran uap
(steam outlet). Heater dibedakan atas besar daya yang dikonsumsi. Misalnya, jika kita melihat keterangan ’daya
keep warm 50 watt’ tercetak di box sebuah magic com, maka kita segera dapat mengetahui bahwa daya heater
yang dipakai adalah 50 watt. Heater hanya dapat bekerja menghasilkan panas selama ada arus listrik yang
mengalirinya (kondisi ON). Semakin besar daya heater yang digunakan, semakin cepat magic com mampu
memanaskan nasi di dalamnya. Namun heater ternyata tidak bekerja sendiri. Ia mutlak didampingi oleh
thermostat. Thermostat bertugas untuk memutus aliran listrik ke heater (OFF) apabila temperatur nasi telah
mencapai maksimum, serta mengalirkan kembali aliran listrik ke heater jika temperatur nasi turun hingga
minimum (ON). Thermostat memastikan temperatur nasi tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin,
persis seperti AC yang secara berkala ON-OFF untuk menjaga temperatur ruangan tepat seperti yang
diinginkan. Rentang temperatur minimum-maksimum nasi yang dijaga oleh thermostat telah ditentukan
sebelumnya pada tahap desain oleh produsen magic com bersangkutan.

Umumnya rentang temperatur itu adalah 75 ~ 80 0C. Kemampuan thermostat untuk menjaga temperatur nasi
selalu dalam rentang yang didesain mempengaruhi basi-tidaknya nasi. Biasanya, jika ada masalah pada respon
thermostat sehingga temperatur nasi drop di bawah temperatur minimum desain, nasi cenderung
berair/benyek dan lebih cepat basi. Sebaliknya bila temperatur nasi cenderung selalu lebih panas daripada
temperatur desain, nasi akan mengering dan warnanya menguning. Selain karena aspek kerusakan heater atau
thermostat, kinerja kedua alat ini juga dipengaruhi oleh faktor kedua : suplai listrik. Tegangan nominal yang
seharusnya ada pada stop kontak adalah 220 V. Namun pada kondisi beban puncak listrik (biasanya terjadi
malam hari saat banyak peralatan elektronik dihidupkan oleh jutaan keluarga di Indonesia) atau saat memang
terjadi gangguan suplai listrik, tegangan bisa turun hingga 180 V atau bahkan lebih rendah. Nah, karena
heater magic com didesain untuk bekerja optimum pada 220 V, heater tak mampu menghasilkan cukup panas
jika hanya diberi asupan 180 V atau kurang. Akibatnya, temperatur nasi yang sedang dihangatkan pun tidak
mencapai rentang optimum 75 ~ 80 0C hingga nasi cenderung lekas benyek bahkan basi. Sebaliknya apabila
tegangan hanya berkurang sedikit dari 220 V (katakanlah 200 V), heater mampu mencapai rentang optimum 75
~ 80 0C tersebut, namun dalam waktu yang lebih lama karena memang panasnya kurang dari yang
semestinya.

Jadi jika biasanya pada tegangan 220 V heater magic com hanya sebentar dalam posisi ON (menyala untuk
memanaskan nasi dari temperatur minimum ke maksimum), pada tegangan 200 V heater harus menyala lebih
lama untuk mencapai temperatur maksimum. Gara-gara menyala lebih lama, nasi – terutama di bagian pinggir
yang bersentuhan langsung dengan jar – akan cenderung lebih kering dan menguning. Sayangnya, kondisi
tegangan listrik di bawah 220 V ini belakangan sering terjadi. Dari pengukuran sederhana dengan AVOmeter di
beberapa tempat di Jabodetabek, penulis mendapati bahwa pada sekitar pukul 8 malam, tegangan suplai pada
stop kontak selalu hanya berkisar antara 190 hingga 210 V. Hal yang amat mengganggu kinerja heater dan
thermostat ini sangat berdampak buruk terhadap kualitas nasi.

Solusi terbaik saat ini adalah sebisa mungkin jangan menghangatkan nasi di waktu malam (saat beban puncak
listrik). Artinya, sedapat mungkin nasi selalu hanya dimasak secukupnya pada pagi hari agar habis saat makan
malam. Dengan cara ini, selain menghindari kasus penurunan kualitas nasi akibat tegangan listrik turun, kita
selalu mengkonsumsi nasi yang relatif baru (kandungan gizinya masih memenuhi standar kesehatan) serta
tentunya menghemat pengeluaran listrik bulanan. Bagian lain seperti jar pun sangat mempengaruhi kualitas
nasi. Jar yang pernah digunakan untuk menghangatkan nasi terlalu lama hingga nasinya berbau atau bahkan
basi cenderung lekas menyebabkan nasi berbau pula. Penyebabnya adalah bau basi yang masih menempel di
jar tersebut, terutama jar yang memiliki lapisan anti lengket (sering disebut teflon) berpori relatif besar. Jadi,
meski nasi sebenarnya tidak basi, baunya sudah seperti nasi basi akibat tercemar bau yang menempel pada jar
tersebut. Sulitnya, kita sering kali tidak mewaspadai hal ini karena awalnya (saat masih dingin) jar tidak
berbau basi. Namun saat sudah digunakan untuk menghangatkan nasi (jar sudah panas), bau basi itu baru
muncul.

Panas memang menguapkan bau yang menempel di pori-pori lapisan anti lengket sehingga tercium. Dan ini
berlaku untuk segala jenis bau. Contohnya jika kita sebelum memasak nasi menggunakan jar untuk membuat
kue, nasi akan cenderung berbau kue. Bisa juga nasi akan berbau sup atau makanan lainnya yang sebelumnya
disimpan di dalamnya. Namun yang paling tidak enak memang bau basi akibat jar pernah memuat nasi basi
sebelumnya. Menghilangkan bau yang terlanjur menempel relatif tidak mudah. Berbagai tips pernah diajukan
dan boleh saja dicoba. Misalnya mencuci jar berulang kali dengan sabun, menggunakan perasan jeruk nipis,
serta merebus kopi bubuk dengan jar berbau tersebut.

Pada dasarnya tidak ada patokan pasti metode mana yang paling tepat untuk menghilangkan bau. Namun cara
yang paling efektif tentu saja dengan selalu menjamin agar tidak ada bau yang menempel pada jar. Pendeknya,
jangan sampai membiarkan nasi terlalu lama dihangatkan hingga basi di dalam magic com karena akan
menyulitkan untuk menghilangkan bau basi yang terlanjur menempel. Jar berbahan stainless steel merupakan
pilihan yang baik ditinjau dari sifat tidak menyimpan bau dan food grade (jar berteflon pun food grade selama
teflonnya tidak terkelupas). Namun, nasi akan lengket ke jar stainless steel hingga relatif lebih sukar
dibersihkan ketimbang jar berteflon. Karakter perambatan panas stainless steel pun berbeda dengan jar
aluminium berlapisan teflon sehingga untuk beberapa kasus seperti membuat kue, jar stainless steel tidak bisa
dipakai. Selain di jar, bau tak sedap juga menempel pada seal-seal karet dan tutup atas bagian dalam magic
com. Menghilangkan bau tak sedap di sini pun tidak mudah. Harus dicuci berkali-kali agar hilang. Sekali lagi,
satu-satunya cara untuk meniadakan kerepotan menghilangkan bau tak sedap adalah dengan cara tidak
membiarkan nasi dihangatkan terlalu lama di dalam magic com sehingga tidak sampai basi dan berbau tidak
enak. 24 jam adalah batas maksimum lama penghangatan nasi dengan magic com untuk menjamin nasi yang
dikonsumsi selalu masih memiliki kandungan gizi yang memadai, relatif segar, tidak menyebabkan bau tak
sedap, serta tentunya hemat energi listrik. Magic com sejatinya bukanlah mesin ajaib penyimpan nasi hingga
berhari-hari, namun hanya merupakan penghangat (warmer).

Terakhir, bagian pengeluaran uap (steam outlet) magic com juga merupakan salah satu penentu utama kualitas
nasi yang ada di dalamnya. Bagian yang biasanya memiliki lubang-lubang pengeluaran uap ini seringkali
menjadi sangat lembab, atau tersumbat oleh nasi yang tanpa disadari masuk ke dalamnya. Jika menjadi sangat
lembab, bakteri pembusuk dijamin bakal betah bersarang di sini karena uap air yang melewati steam outlet
sebenarnya mengandung zat-zat gizi dari dalam nasi yang menguap karena panas. Uap air kaya nutrisi seperti
ini amat disukai bakteri serta mikroba lain yang ada di udara. Akibatnya, nasi cenderung lekas basi karena
terkontaminasi bakteri dari bagian ini. Nasi yang tak disengaja masuk ke sini juga menjadi media berkembang
biak bakteri tersebut. Sebaliknya apabila potongan nasi menyumbat lubang pengeluaran uap, sirkulasi udara
dari dalam ke luar magic com akan terganggu. Ujungnya, sebagian uap air yang seharusnya keluar malah
tertahan dan mengembun di bagian dalam tutup atas magic com. Titik-titik air ini kemudian menetes kembali
ke nasi yang sedang dihangatkan sehingga menjadi berair dan lekas basi. Solusinya, secara berkala (minimum
sebulan sekali) steam outlet harus dicuci bersih. Steam outlet yang selalu bersih tentu akan mampu berfungsi
optimum serta tidak lantas menjadi tempat bersarang bakteri pembusuk yang sangat menurunkan kualitas
nasi di dalam magic com.

Faktor ketiga, jenis beras, pun amat mempengaruhi kualitas nasi. Secara umum, tiap jenis beras
membutuhkan perbandingan campuran air tersendiri yang tidak bisa disamakan dengan jenis beras lain untuk
menghasilkan nasi yang enak. Ada istilah beras ‘berani air’ bagi jenis beras yang memang membutuhkan lebih
banyak air, sebaliknya ada pula beras yang ‘takut air’. Jika beras ‘takut air’ yang memang hanya butuh sedikit
campuran air diberi air berlebihan, tentu nasi yang dihasilkan cenderung akan lebih lembek sehingga
berpotensicepat basi. Demikian pula bila beras ‘berani air’ hanya diberi sedikit air, nasinya cenderung kering
dan lekas menguning. Jadi, campuran air memang mesti tepat agar kualitas nasi di dalam magic com tetap
baik selama disimpan.

Kita bisa melakukan trial and error untuk menentukan jumlah air optimum bagi beras yang digunakan. Ada
pula sebutan nasi pera dan pulen. Nasi pera merupakan nasi yang butirannya cenderung terpisah satu sama
lain, sedangkan butiran nasi pulen cenderung saling melengket. Nasi pera dan pulen mutlak ditentukan oleh
jenis berasnya. Jadi kita mustahil memperoleh nasi pera dari beras pulen, atau sebaliknya. Artinya, meski kita
mengurangi campuran air pada beras pulen, nasi yang diperoleh akan tetap pulen, bukan pera. Atau malah
masih mentah (masih berupa beras) karena magic com sudah otomatis berpindah fungsi ke keep warm saat
beras belum sepenuhnya menjadi nasi karena airnya terlalu sedikit. Perbandingan jenis pati dalam beras
(amilosa dan amilopektin) merupakan penentu jenis beras pera atau pulen. Beras pera memiliki kandungan
amilosa tinggi (lebih dari 26%) dan amilopektin rendah seperti pada beras long grain. Sebaliknya beras short
dan medium grain yang amilosanya hanya 15 ~ 26% akan menghasilkan nasi pulen. Kategori short grain
sendiri diberikan pada beras yang berbentuk hampir bulat. Beras medium grain memiliki panjang bulir 2~3 kali
lipat lebarnya. Sedangkan panjang bulir beras long grain mencapai 4~5 kali lipat lebarnya. Biasanya, makin
jauh tanaman padi ditanam dari garis khatulistiwa, makin pendeklah bulir berasnya. Dan makin pendek
ukuran bulirnya, makin lunak dan lengket pula nasi yang dihasilkan.

Nasi Jepang yang terkenal pulen dan lengket hingga mudah disumpit misalnya. Dan karena Indonesia ada
dekat khatulistiwa, otomatis padi yang ditanam di sini sebenarnya cenderung menghasilkan beras long grain
yang pera. Tidak banyak varietas padi Indonesia yang menghasilkan beras pulen. Beras pera di Indonesia
dipakai untuk membuat nasi goreng atau nasi kuning, jadi bukan untuk makanan sehari-hari yang disimpan di
dalam magic com. Biasanya, nasi yang dimasak dengan magic com adalah nasi pulen yang memang lebih
disukai masyarakat Indonesia karena lembut dan enak dimakan. Secara umum, nasi pera cenderung cepat
kering jika disimpan teralu lama di magic com. Sebaliknya nasi pulen yang memang lebih berair dibanding nasi
pera akan lebih lekas basi dan berbau tak sedap. Jadi memang penanganan nasi pera dan pulen dengan magic
com pun berbeda. Lantas mengapa nasi pulen berharga mahal yang jelas-jelas berkualitas baik pun jika
disimpan di dalam magic com lekas kuning? Padahal semestinya kan memang mengering, tetapi tetap putih.

Pangkal masalah adalah pengoplosan dan perlakuan tidak semestinya yang dilakukan oleh banyak
produsen/pabrik beras. Di Indonesia, beras pulen yang memang produksinya tidak banyak seperti jenis
pandanwangi (sebenarnya pandanwangi memiliki kadar amilosa 26%, jadi sudah perbatasan pera) terlanjur
dicap sebagai beras enak dan mahal sehingga para produsen/pedagang berlomba memasarkan berasnya
dengan label ini. Masalahnya, varietas pandanwangi tulen hanya dapat ditanam di 5 kecamatan
Warungkondang, Cibeber, Cugenang, Cilaku, dan Cianjur, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Varietas padi ini
memang bisa saja ditanam di daerah lain, namun setelah matang menjadi nasi tak akan mengeluarkan aroma
khas pandan seperti aslinya. Jadi persediannya terbatas. Dan menurut hukum ekonomi, barang yang terbatas
namun diburu akan berharga mahal. Jadilah para pabrik beras berlomba mengakali konsumen dengan cara
mengoplos beras pandanwangi tulen dengan beras jenis lain yang tampak mirip (seperti jenis cisadane,
cilamaya muncul, cimandiri, atau mamberamo) agar dapat menjualnya dengan harga pandanwangi.

Penelitian yang pernah dilakukan oleh Nugraha Edhi Suyatma, PhD (NES), DR.Ir. Dede R. Adawiyah, Msi (DRA),
beserta timnya dari Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor menunjukkan bahwa dari 9 merek
beras pandanwangi yang beredar di pasaran ternyata kandungan pandanwanginya hanya 25 ~ 30 % saja.
Alhasil, meski judulnya pandanwangi yang terkenal pulen serta tak mudah basi, nasi yang dihasilkan justru
lekas basi bila disimpan dalam magic com. Varietas beras terkenal lain seperti rojolele, cianjur, ramos, hingga
IR 64 pun tak lepas dari praktik pengoplosan seperti ini. Lebih parah lagi, sebagian pabrik beras nakal
mencampur beras jelek yang telah diputihkan dengan klorin alias bahan pemutih tekstil, atau oksidator seperti
benzoil peroksida. Klorin yang sering ditambahkan pada tahap penggilingan beras jelas tidak boleh digunakan
dalam produksi makanan karena jika kadarnya berlebihan dapat berbahaya bagi tubuh. Selain menyebabkan
penyakit, setelah dimasak pun nasi yang dihasilkan lebih cepat kuning dan basi dibanding beras alami. Beras
oplosan berklorin inlah yang menyebabkan kualitas nasi di dalam magic com menurun drastis, walaupun dijual
dalam kemasan mahal seperti pandanwangi. Jadi, meski pencampuran air sebelum dimasak sudah tepat dan
magic com pun telah bekerja optimum, nasinya tetap saja lekas basi dan kuning. Susahnya, memang tidak
mudah untuk mengetahui karung beras mana yang dioplos atau mengandung klorin di antara banyak kemasan
beras yang dijual bahkan di supermarket sekali pun, terutama bagi orang awam.

Namun secara umum, beras berklorin akan berbau kimia, bukan bau alami beras. Warnanya pun sangat putih
seperti kristal, sedangkan beras alami putihnya wajar bahkan sedikit kusam. Disarankan untuk selalu
merendam beras dengan air panas sebelum dicuci bersih agar klorinnya larut di dalam air panas tersebut.
Kawan yang tadi bertanya pada saya manggut-maggut. ”Jadi belum tentu magic com saya yang bermasalah,
ya? Mungkin perbandingan airnya tidak tepat, atau ada bau yang menempel di dalamnya, bisa juga karena
tegangan listrik naik-turun, atau berasnya yang dioplos, pakai klorin lagi... amit-amit deh!” Pendapat kawan
tadi benar. Sebelum memvonis magic comnya rusak, lebih baik cermati dulu faktor-faktor lainnya. Siapa tahu
sebenarnya masalah timbul karena faktor penggunaan magic com yang tidak tepat, atau hal lain. Di luar segala
kemungkinan penyebab turunnya kualitas nasi, selalu membatasi waktu keep warm maksimum 24 jam adalah
cara paling mudah yang sangat jitu. Dengan cara ini, kita selalu mengkonsumsi nasi relatif segar yang
kandungan gizinya memenuhi standar, serta meng-hindari kemungkinan bau tak sedap menempel di
dalamnya. Dan walaupun listrik naik-turun, nasi tak akan basi atau kering karena sudah keburu habis dan
berganti nasi baru yang masih segar. Anggapan ’kemarin juga nasi disimpan 2 hari tidak basi’ sama sekali
keliru. Jika magic com kebetulan dapat menyimpan nasi tanpa bermasalah hingga 2 hari, itu mungkin hanya
karena sedang beruntung bahwa berasnya memang baik, atau tegangan listrik sedang bagus. Tapi begitu
timbul masalah pada salah satu dari 3 faktor di atas, bau akan menempel di dalamnya dan sangat sulit hilang.
Upaya yang harus dilakukan untuk mengembalikan kondisi magic com seperti sedia kala – apalagi dengan
fakta penurunan nilai gizi nasi serta pemborosan listrik - sungguh tidak sepadan dengan kepraktisan semu
berlama-lama menyimpan nasi.

Semoga bermanfaat...

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:426
posted:7/16/2012
language:
pages:4