Docstoc

Kehidupan Universal

Document Sample
Kehidupan Universal Powered By Docstoc
					                            MATERI PEMBINAAN DASAR
                  SISTEM KEHIDUPAN UNIVERSAL
                                DPD JAWA TENGAH

                   Hamemangun karyenak tyasing sesami
(Membangun negeri yang sentosa lahir-bathin, negeri kenyamanan bagi nurani manusia
               dan sesamanya yakni sesama makhluk Tuhan YME)

       Atas Nama Tuan Semesta Alam Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

      Pengabdian kepada Tuan Semesta Alam (TSA) adalah satu-satunya perbuatan yang
terpuji. Tidaklah pantas dan juga tidak ada hak suatu makhluk mengatur makhluk lainnya,
tidak ada hak manusia mengatur manusia lainnya, karena yang demikian itulah esensi
perbudakan, merampas hak asasi manusia (hak dasar yang fitrah) anugerah TSA. Haram
hukumnya manusia memakai aturan selain aturan TSA. TSA-lah yang mempunyai hak
objektif ilmiah mengatur seluruh makhluknya di seluruh alam semesta kerajaan-Nya.
Dialah satu-satunya Sang Subjek kehidupan. Itulah keyakinan, kepercayaan, aqidah, iman
seorang manusia sejati sampai titik darah penghabisan.
“Janganlah kamu mati melainkan kamu dalam keadaan yang tunduk patuh (kepada Tuan
Semesta Alam)”
      Seluruh zat di seluruh alam semesta ini, baik mikroorganisme maupun
makroorganisme, semua sedang beraktivitas melaksanakan aturan TSA yang diundangkan
atas dirinya, dan mereka patuh secara sukarela maupun terpaksa.
      Manusia sebagai salah satu zat makroorganisme yang hidup di bumi yang mutakhir,
juga mempunyai tugas-tugas khusus dari TSA, yaitu menjadi berkat seluruh alam
dengan menjaga kelestarian/kemakmuran bumi sebagai “surga”nya TSA.
      Tugas semacam itu hanya bisa dilaksanakan manakala umat manusia terorganisir
dalam suatu komunitas yang memiliki satu struktur kepemimpinan yang tersusun rapi
bagaikan satu bangunan yang kokoh.
      Dalam sejarahnya, bertolak dari generasi Adam, umat manusia selalu terbagi
menjadi dua kelompok. Yang pertama adalah kelompok orang-orang yang berjuang
menegakkan Kekuasaan TSA dan kelompok yang kedua adalah orang-orang yang berjuang
menegakkan sistem kekuasaan atas dasar kemauan manusia melalui berbagai bentuk
sistem, dari monarki, diktator, dan sistem modern yang disebut demokrasi. Dari abad ke
abad kedua sistem ini silih berganti menguasai dunia.
      Kelengahan umat manusia hari ini adalah kebutaannya di dalam “membaca” kondisi
kehidupan dunia, baik skala nasional, regional, maupun internasional. Ibarat orang buta,
wajar jika tidak dapat membedakan gelap dan terang.
      Masalah penting yang harus diperhatikan dalam suatu sistem kehidupan adalah
manusia harus menjalani hidup di atas garis fitrahnya dan terus meningkatkan kualitas
dirinya tahap demi tahap menuju tujuan akhir yaitu sebagai makhluk yang menjadi berkat
bagi seluruh alam. Berbagai aspek peraturan hukum yang diberlakukan, baik berupa
perintah maupun larangan, bukan untuk membatasi kebebasan manusia, tetapi justru
untuk menjaga agar manusia jangan sampai keluar atau menyimpang dari garis fitrahnya.
Penyimpangan terhadap fitrah itu akan berakibat fatal bagi kehidupan umat manusia, yaitu
satu perilaku atau adab yang mematikan nilai perikemanusiaan yang sejati.
      Penyimpangan garis fitrah itu membawa umat manusia menjadi satu model
kehidupan free fight liberalism, kebebasan berkompetisi yang berlandaskan hukum rimba,
yang kuat di atas yang lemah, yang kaya menindas yang miskin, yang berkuasa menindas
yang lemah. Model kehidupan yang seperti itu bukan fitrahnya manusia, bahkan alam
materi, nabati, dan hewani sekalipun tidak menggunakan pola kehidupan yang demikian.
Pantaslah jika TSA mengidentifikasikan kehidupan free fight liberalism itu sebagai satu
model kehidupan yang nilainya di bawah derajat makhluk yang paling rendah. Prinsip
tersebut perlu disadari benar oleh manusia.
      Salah satu sifat dasar manusia adalah keinginannya untuk menguasai orang lain, atau
nafsu berkuasa. Kekuasaan dalam segala aspek kehidupan adalah alat untuk memiliki. Nah,
dalam rangka memiliki itulah manusia membuat peraturan-peraturan hukum. Hukum
adalah alat yang paling efektif untuk melindungi kepentingan. Jika sebuah orde kekuasaan
membuat aturan hukum, esensinya untuk memuaskan keinginan atau nafsu syahwatnya
atau kelompoknya.
      Berbeda dengan hukum yang dibuat oleh manusia, bahwa hukum TSA pada
esensinya bukan untuk mengekang atau menekan kebebasan manusia. Manusia memang
diberikan kebebasan mendiami dan tinggal di bumi milik TSA ini, namun tidak berarti
bebas tanpa batas. Keberadaan manusia di bumi ini ibarat orang yang tinggal dalam suatu
Negara. Dia diijinkan hidup di negara tersebut selama dia mematuhi undang-undang yang
berkuasa. Jika orang tersebut melakukan pelanggaran, maka dia berhak atau pantas untuk
diberi peringatan atau dihukum. Analogi ini tidak bisa dibantah, logis dan berlaku di semua
daerah kekuasaan di dunia ini.
      Kita bisa melihat pelajarannya di alam semesta dimana mereka semua berhukum
kepada TSA. Hukum yang diciptakan oleh TSA di alam semesta adalah untuk menjaga alam
semesta dalam keadaan setimbang, sehingga kita bisa melihat alam semesta kita sangatlah
teratur. Miliaran bintang dan galaksi bergerak dalam orbit mereka masing-masing dengan
serasi. Galaksi terdiri dari hampir 300 miliar bintang yang saling berpindah sesamanya dan,
yang mengagumkan, selama perpindahan dahsyat ini tidak terjadi satu pun tabrakan.
Keteraturan tersebut menyebabkan tabrakan tidak terjadi. Lebih hebat lagi, kecepatan
benda-benda di alam semesta berada di luar batas imajinasi manusia. Dimensi fisik luar
angkasa sangatlah besar jika dibandingkan dengan pengukuran yang digunakan di bumi.
Bintang-bintang dan planet-planet, dengan massa miliaran atau triliunan ton, dan galaksi,
dengan ukuran yang hanya dapat dipahami dengan bantuan rumus-rumus matematika,
seluruhnya berputar dalam jalurnya masing-masing di ruang angkasa dengan kecepatan
yang luar biasa.
      Terdapat kesetimbangan yang luar biasa dalam seluruh gerakan dinamis ini dan hal
tersebut mengungkapkan bahwa kehidupan di alam semesta berlandaskan pada
keseimbangan yang sangat cermat. Pergeseran yang sangat sedikit pun pada orbit benda-
benda langit, bahkan hanya beberapa milimeter, dapat membawa akibat yang sangat serius.
Beberapa di antaranya dapat sangat mengganggu sehingga kehidupan di bumi tidak
mungkin terjadi.
      Tuntutan yang paling utama dalam suatu sistem kehidupan adalah agar manusia
menyadari dan mengakui bahwa semua yang ada di alam semesta ini adalah milik TSA,
maka pasti Dia yang berkuasa di alam semesta ini, dan Dia yang berhak mengatur seluruh
aspek kehidupan (ipoleksosbudhankam) bagi seluruh umat manusia. Tidak ada
pengabdian dan ketundukpatuhan manusia selain kepada-Nya, yakni kepada Tuan
Semesta Alam.
      Sistem kehidupan universal yang berdasarkan ketundukpatuhan kepada TSA inilah
yang seharusnya dipahami dan dijalankan oleh umat manusia di bumi ini. Karena di dalam
sistem ini segala aspek kehidupan berjalan selalu berdasarkan ilmu-Nya, seperti sifat TSA
yang selalu menciptakan segala sesuatu dengan ilmu-Nya. Yaitu ketentuan-ketentuan yang
bersifat eksak atau pasti.
      Dari aksioma di atas, dapat diambil sebuah pelajaran bahwa sistem kehidupan dapat
dimengerti oleh manusia karena ilmu, manusia harus memahami tentang dasar-dasar
sistem kehidupan atau kekuasaan. Agar lebih mudah dipahami, TSA menyederhanakannya
dalam bentuk amsal atau contoh konkrit, yaitu diibaratkan sebuah pohon yang memiliki
akar, batang, dan buah.


      A. Akar adalah akidah seseorang atau bangsa.


      Akidah merupakan suatu keyakinan yang mantap/bulat, yang telah menjadi
ideologinya. Keyakinan terhadap satu-satunya sistem kehidupan ciptaan Tuan semesta
Alam. Tidak ada atau tidak boleh meyakini kebenaran terhadap sistem apapun selain dari
pada sistem Tuan Semesta alam. Keyakinan tersebut tidak hanya sebatas keyakinan di
dalam “hati”, melainkan sebuah keyakinan yang harus dibuktikan dengan ikrar sumpah
setia perjanjian kepada Tuan Semesta Alam. Itulah akidah para ksatria suci.


      B. Batang adalah ibahah seseorang atau bangsa.


      Ibadah adalah segala bentuk ketaatan/pengabdian/aktivitas yang dijalankan atau
dikerjakan untuk mendapatkan restu dari Tuan Semesta Alam. Restu Tuan Semesta Alam adalah
agar supaya hukum-Nya berlaku dalam kehidupan umat manusia. Antara akar dan batang
saling melengkapi, tidak ada artinya akar tanpa batang begitu juga batang tanpa akar. Jika
akarnya akar kelapa, maka batangnya pun batang kelapa. Jika bangsa menyatakan yakin
kepada TSA tetapi pengabdiannya bukan untuk memenangkan sitem/hukum TSA, maka
bangsa itu bernilai bathil. Dan itulah pohon palsu
      C. Buah adalah muamalah atau akhlaq seseorang dan bangsa


      Batang beserta ranting dan daun adalah proses untuk menghasilkan buah, jika akar
makin kokoh maka makin tinggi dan subur batang dan rantingnya, serta buah yang
dihasilkan pun juga semakin berkualitas. Jika akarnya adalah sebuah keyakinan/ideologi
terhadap Tuan Semesta Alam, dan ibadahnya adalah memenangkan ideologi itu sendiri
dengan sebuah pergerakan yang nyata, bukan hanya ritus-ritus yang tiada guna seperti
yang dilakukan oleh kaum agamis, maka hasilnya adalah buah kemenangan yakni sebuah
kehidupan sosial masyarakat yang damai dan sejahtera dengan tatanan peradaban
akhlaq/budi pekerti yang agung dan luhur. Kehidupan yang seperti ini adalah kehidupan
yang direstui dan diberkati oleh Tuan Semesta Alam.
      Perumpamaan yang digambarkan oleh Tuan Semesta alam dalam bentuk sebuah
pohon, yang terdiri atas 3 unsur, yakni akar, batang, dan buah, bila difahami secara
mendalam bahwa itulah gambaran sebuah sistem kehidupan. Suatu sistem yang terdiri dari
hukum, kekuasaan, dan ketaatan rakyat pada hukum itu sendiri.
      Jadi, secara mendasar ada tiga unsur yang menjadi syarat terbentuknya suatu sistem
kehidupan universal di muka bumi sepanjang sejarah, baik sistem kekuasaan TSA maupun
sistem kekuasaan berdasarkan kemauan manusia, yaitu adanya hukum , kekuasaan, dan
ketaatan umat/rakyat. Mari kita urai satu per satu....


   1. HUKUM
      Kedudukan hukum dalam sebuah sistem kehidupan adalah ibarat akar dari sebuah
pohon. Akar yang baik adalah akar yang menghunjam ke dalam bumi, sehingga betapapun
kuatnya angin menghempas batang, pohon akan tetap berdiri di atas pangkalnya.
Sebaliknya akar yang mencuat di atas permukaan tanah, tidak akan mampu menahan
batang yang ditiup angin, bahkan tidak ada anginpun pohon akan tumbang dengan
sendirinya. Dapat dikatakan hukum yang baik adalah hukum yang menghunjam tanah,
hukum yang mengikat seluruh lapisan masyarakat, hukum yang adil dan tegas, hukum yang
tidak pandang bulu, jika melanggar dan terbukti bersalah harus diberi sanksi atau
hukuman, siapapun itu. Bukan hukum yang memihak kepentingan seseorang atau
sekelompok orang saja, bukan hukum yang dibuat berdasarkan kesepakatan sekelompok
orang. Dan juga bukan hukum yang dibuat untuk kepentingan si pembuat hukum itu
sendiri. Jika hukum tersebut bisa diaplikasikan, baik pada pribadi manusia maupun umat
manusia, maka sistem tersebut akan kuat dan tidak mudah ditumbangkan oleh sistem
manapun yang menentangnya. Untuk contoh menegenai ketegasan dalam sebuah hukum,
lihat sejarah kerajaan kalinggapura yang dipimpin oleh Sang Ratu Dewi Shema.
      “Konon, Ratu Shima, justru amat resah dengan kepatuhan rakyat, kenapa wong cilik
juga para pejabat mahapatih, patih, mahamenteri, dan menteri,hulubalang, jagabaya,
jagatirta, ulu-ulu, pun segenap pimpinan divisi kerajaan sampai tukang istal kuda, alias
pengganti tapal kuda, kuda-kuda tunggang kesayangannya, tak ada yang berani menentang
sabda pandita ratunya. Sekali waktu, Ratu Shima menguji kesetiaan lingkaran elitnya dengan
me-mutasi, dan me-Non Job-kan pejabat penting di lingkunganb Istana. Namun puluhan
pejabat yang mendapat mutasi ditempat yang tak diharap, maupun yang di-Non Job-kan, tak
ada yang mengeluh barang sepatah kata. Semua bersyukur, kebijakan Ratu Shima
sebetapapun memojokkannya, dianggap memberi barokah, titah titisan Sang Hyang Maha
Wenang. Tak puas dengan sikap “setia” lingkaran dalamnya, Ratu Shima, sekali lagi menguji
kesetiaan wong cilik, pemilik sah Kerajaan Kalingga dengan menghamparkan emas permata,
perhiasan yang tak ternilai harganya di perempatan alun-alun dekat Istana tanpa penjagaan
sama sekali. Kata Ratu Shima,”Segala macam perhiasan persembahan bagi Dewata agung ini
jangan ada yang berani mencuri, siapa berani mencuri akan memanggil bala kutuk bagi
Nagari Kalingga, karenanya, siapapun pencuri itu akan dipotong tangannya tanpa ampun!”.
Sontak Wong cilik dan lingkungan elit istana, bergetar hatinya, mereka benar-benar takut.
Tak ada yang berani menjamah, hingga hari ke 40. Ratu Shima sempat bahagia. Namun
malang tak dapat ditolak. Esok harinya semua perhiasan itu lenyap tanpa bekas. Amarah
menggejolak di hati sang penguasa Kalingga. Segera dititahkan para telik sandi mengusut
wong cilik yang mungkin saja jadi maling di sekitar lokasi persembahan, sementara di Istana
dibentuk Pansus,Panitia Khusus yang menguji para pejabat istana yang mendapat mutasi
apes, atau yang Non Job diperiksa tuntas. Namun setelah diperiksa dengan seksama.
Berpuluh laksa wong cilik tak ada yang pantas dicurigai sebagai pelaku, sementara pejabat
istana pun berbondong, bersembah sujud, bersumpah setia kepada Ratu Shima. Mereka rela
menyerahkan jiwanya apabila terbukti mencuri. Ratu Shima kehabisan akal. Saat itu, Tukang
istal kuda, takut-takut menghadap, badannya gemetar, matanya jelalatan melihat kiri kanan,
amat ketakutan. “Maaf Tuanku Yang Mulia Ratu Agung Shima, perkenankan hamba memberi
kesaksian, hamba bersedia mati untuk menyampaikan kebenaran ini. Hamba adalah saksi
mata tunggal. Malam itu hamba menyaksikan Putra Mahkota mengambil diam-diam seluruh
perhiasan persembahan itu. Maaf,” sujud sang tukang istal muda belia, mukanya seperti
terbenam di lantai istana. “Apa, Putra Mahkota mencuri?!” Ratu Shima terperanjat bukan
kepalang. Mukanya merah padam.. “Putraku, jawab dengan jujur, pakai nuranimu, benar apa
yang dikatakan wong cilik dari kandang kuda ini?”, tanya sang ibu menahan getar. Sang
Putra Mahkota tiada menjawab, ia hanya mengangguk, lalu menunduk teramat malu. Ia
mengharap belas kasih sang ibu yang membesarkannya dari kecil. Sejenak istana teramat
sunyi, hanya bunyi nafas yang terdengar, dan daun-daun jati emas yang jatuh luruh ke
tanah.”Prajurit, Demi tegaknya hukum, dan menjauhkan nagari Kalingga dari kutukan
dewata, potong tangan Putra Mahkotaku, sekaramg juga,” perintah Sang Ratu Shima dengan
muka keras. Seluruh penghuni istana dan rakyat jelata yang berlutut hingga alun-alun
merintih memohon ampun, namun Sang Ratu tiada bergeming dari keputusannya. Hukuman
tetap dilaksankana. Hal itu dituliskan dengan jelas di Prasasti Kalingga, yang masih bisa
dilihat hingga kini. “
       Dulu, pada pemerintahannya Ratu Shima (674 M), Jawa sebagai negara hukum, Jawa
pada masa itu telah menerapkan 3 unsur pokok negara hukum yaitu Supremacy Of Law,
Equality Before The Law dan Human Rights.
       Supremacy Of Law berarti dalam suatu negara hukum, maka kedudukan hukum
merupakan posisi tertinggi, kekuasaan harus tunduk pada hukum bukan sebaliknya hukum
tunduk pada kekuasaan, bila hukum tunduk pada kekuasaan, maka kekuasaan dapat
membatalkan hukum, dengan kata lain hukum dijadikan alat untuk membenarkan
kekuasaan. Hukum harus menjadi “tujuan” untuk melindungi kepentingan rakyat. Ini
ditunjukkan dengan raja tunduk terhadap hukum dengan tetap menghukum siapapun yang
melanggar peraturan.
       Equality Before The Law berarti dalam negara hukum kedudukan penguasa dengan
rakyat dimata hukum adalah sama (sederajat), yang membedakan hanyalah fungsinya,
yakni pemerintah berfungsi mengatur dan rakyat yang diatur. Baik yang mengatur maupun
yang diatur pedomannya satu, yaitu undang-undang. Bila tidak ada persamaan hukum,
maka orang yang mempunyai kekuasaan akan merasa kebal hukum. Pada prinsipnya
Equality Before The Law adalah tidak ada tempat bagi backing yang salah, melainkan
undang-undang merupakan backing terhadap yang benar. Ini ditunjukkan dengan hukum
tetap dilaksanakan Raja Jawa terhadap putra mahkotanya sendiri.
       Human Rights diantaranya berarti The rights to freedom of discussion
(kemerdekaan berdiskusi), yaitu hak untuk mengemukakan pendapat dan mengkritik,
dengan ketentuan yang bersangkutan juga harus bersedia mendengarkan orang lain dan
bersedia menerima kritikan orang lain. Ini ditunjukkan dengan diskusi antara Raja Jawa
dengan para pembesarnya dalam mengemukakan pendapat dan pandangannya tanpa
dihantui ketakutan akan dipidanakan. Dari hal tersebut, dapat dikatakan bila Jawa pada
tahun 674 M telah merupakan negara hukum utama di dunia.


   2. KEKUASAAN
      Tapi bagaimana suatu hukum dapat ditegakkan jika tidak ada suatu kekuasaan
hukum?. Antara hukum dan kekuasaan hukum tidak dapat dipisahkan. Kekuasaan mutlak
dibutuhkan untuk memberlakukan hukum itu sendiri. Kekuasaan adalah sarana agar
hukum bisa berlaku dan ditaati oleh seluruh rakyat.
      Bahwasanya TSA adalah Pemilik seluruh makhluk, Penguasanya dan Yang mengurusi
segala urusannya. Jadi Dia-lah penguasa kita sebenarnya. Penguasa/Tuan kita yang asli
bukan para politisi atau para kaisar yang menuhankan dirinya dengan membuat syariat-
syariat yang bertentangan dengan syariat-Nya itu. Kepunyaan-Nyalah semua yang ada di
langit, semua yang ada di bumi, dan yang ada di antara keduanya. Kekuasaan          dan
kedaulatan hukum tertinggi di alam semesta ini hanya milik Tuan Semesta Alam, tidak
mungkin akan menjadi hak siapa pun selain Dia dan tidak ada seorang pun yang memiliki
suatu bagian daripadanya.
      Dulu Raja-Raja tanah jawa waktu itu, mereka adalah wakil dari pada Tuan Semesta
Alam untuk melaksanakan/memberlakukan hukum-hukum-Nya di bumi Nuswantara.
Mereka tidak berkendak atas nama diri mereka sendiri, mereka berkehendak atas nama
Tuan Semesta Alam. Kekuasannya menurut pandangan mereka adalah kekuasaan Tuan
Semesta Alam. Mereka tidak merasa memiliki sedikitpun atas kekuasaan yang dudukinya.
Inilah sifat, karakter, dan akhlaq para ksatria suci bangsa nuswntara kita.
      Berbeda dengan para raja, kaisar, dan politisi negeri sekarang. Mereka adalah para
perampok hak milik Tuan Semesta Alam. Tanpa ijin-Nya mereka berkuasa atas nama diri
mereka sendiri. Mereka memberlakukan hukum atas hasil pemikiran mereka dan
kesepakatan diantara mereka sendiri, tanpa merujuk hukum Tuan Semesta Alam. Itulah
kekuasaan yang Lalim, kekuasaan tandingan bagi Tuan Semeta Alam. Dengan kekuasaan
yang dijalankan tersebut yang hanya bertujuan untuk kepentingan harta dan tahta, maka
dijamin tidak akan mampu mewujudkan tata kehidupan manusia yang adil, damai, dan
sejahtera. Justru sebaliknya bahwa kekuasaan tersebut akan menjermuskan rakyatnya
kepada jurang penderitaaan dan kesengsaraan.
   3. KETAATAN/KEPATUHAN RAKYAT
      Kekuasaan       hukum        adalah     cara/proses      untuk      menghasilkan
ketaatan/ketundukpatuhan umat/rakyat kepada hukum TSA.
      Jika hukumnya adil dan tegas, makin baik pula kekuasaan hukum dalam mengayomi ,
maka rakyat akan semakin taat dan tunduk patuh kepada hukum dan kekuasaan itu sendiri.
      Tidak ada gunanya hukum dan kekuasaan jka tidak ditunjang dengan kesadaran dan
kepatuhan rakyat. Ini semua tergantung kepada pemimpin dan perangkat penegak hukum
pada kekuasaan itu sendiri.
      Pempimpin yang baik dan mampu mewujudkan kehidupan yang damai dan sejahtera
dan mampu menjadikan rakyatnya sadar hukum dn patuh pada hukum, adalah pemimpin
yang memilik 9 karakter kepemimpinan, yakni, Jujur, berani, tegas, adil, bijaksana,
integritas, cakap, cerdas, dan sehat.


      Demikianlah penjelasan mengenai unsur pembentuk sitem kehidupan univeral. Akan
tetapi Unsur-unsur sistem kehidupan yang telah disebutkan di atas masih sebatas teoritis
konseptual. Masalah yang timbul ketika berbicara sistem kehidupan secara operasional
adalah di mana hukum itu akan diaplikasikan? Ibarat membicarakan sebuah pohon,
selama pohon tersebut hanya sekedar untuk dibicarakan atau didiskusikan, masalah lahan
nampaknya tidak diperlukan, akan tetapi manakala orang ingin melihat pohon yang ramai
dibicarakan karena buahnya yang begitu menawan, timbullah masalah baru, yaitu di mana
pohon itu akan di tanam?
      Inilah yang diibaratkan tanah, yaitu sebuah wilayah untuk mengaplikasikan ketiga
unsur sistem kehidupan di atas, yaitu hukum, kekuasaan hukum, dan ketaatan rakyat pada
hukum. Jadi sebuah teritorial mutlak diperlukan di dalam mengaplikasikan suatu
sistem kehidupan. Inilah yang melandasi orang-orang terdahulu yang pernah
memperjuangkan hukum TSA berpindah tempat menuju satu wilayah yang vakum
kekuasaan sebagai cikal bakal membentuk satu kehidupan yang damai sejahtera.
   Makin jelaslah bagi kita, jika akar/hukum sudah tidak lagi menghunjam tanah, sudah
busuk, maka batang/kekuasaan pun akan menjadi rapuh tidak ada kekuatan. Dan yang
dihasilkan juga bukan buah/ketaatan rakyat/kehidupan manusia yang baik damai
sejahtera tetapi kehidupan manusia yang semakin mendekati predikat neraka jahanam,
kehidupan yang chaos, tidak ada kesejahteraan sama sekali, baik di skala regional, nasional,
maupun internasional.
   Tugas kitalah sebagai manusia yang berpikir, yang sudah diberi petunjuk oleh TSA
untuk menjadi kepanjangan tangan-Nya untuk mengembalikan manusia kepada garis fitrah
penciptaan dirinya yaitu sebagai hamba TSA, sungguh-sungguh untuk melepaskan manusia
dari perbudakan penguasa-penguasa dunia yang mendirikan arogansi kekuasaan yang
diberi nama Negara atau state.
   Tugas seperti ini tentu saja tidak akan bisa dilakukan secara individu, telah dicontohkan
oleh sejarah bahwa tidak ada ketundukpatuhan tanpa adanya komunitas. Menghimpun
kekuatan dalam komunitas adalah syarat mutlak pengabdian kepada TSA, sesuai firman-
Nya “ Orang-orang yang mengabdi kepada-Ku itu satu sama lain saling melindungi, jika
kalian tidak melakukan hal itu, niscaya kondisi umat akan rapuh dan terjadi kerusakan yang
amat besar”.
   Dan inilah kami adalah sebuah gerakan fajar nuswantara, yang mempunyai visi, misi,
serta aksi untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang adail, damai, dan sejahtera.


                Segala Puji Bagi Tuan Semesta Alam, Tuan Yang Maha Esa

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:65
posted:7/15/2012
language:Indonesian
pages:10