Alat Kontrasepsi

Document Sample
Alat Kontrasepsi Powered By Docstoc
					                                                                             1




                                   BAB I
                             PENDAHULUAN




A. Latar Belakang

        Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan salah satu jenis alat

   kontrasepsi yang tidak mengandung zat – zat hormonal dan dapat mencegah

   terjadinya konsepsi. Keuntungan dari pemakaian AKDR ini selain lebih

   efektif, tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI bagi ibu yang

   menyusui, penyulit tidak terlalu berat, dan pulihnya kesuburan setelah

   pencabutan alat kontrasepsi berlangsung baik (Manuaba, 1998).

        Dari hasil laporan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)

   melaporkan jumlah PUS yang telah menggunakan kontrasepsi AKDR

   sebanyak 4,8%, sedangkan di Medan jumlah PUS yang menggunakan alat

   kontrasepsi AKDR sebanyak 2,586% dan di Kabupaten Boyolali yang

   menggunakan kontrasepsi AKDR sebanyak 66 orang (12,06 %). Kondisi ini

   menunjukkan bahwa masih sangat rendahnya minat PUS terhadap AKDR.

        Dalam program BKKBN memberikan penekanan pada kontasepsi

   AKDR terutama adalah CuT380 A yang menjadi primadona BKKBN. Adapun

   keuntungan – keuntungan dari alat kontrasepsi tersebut adalah efektif segera

   setelah pemasangan dan juga merupakan metode jangka panjang (10tahun

   proteksi dan tidak perlu diganti). Angka kegagalan hanya satu dalam 125– 170

   kehamilan. Akseptorpun tidak perlu mengingat – ingat kapan dia




                                      1
                                                                         2




harus berKB. Tidak ada pengaruh terhadap lingkungan seksual, meningkatkan

kenyamanan tanpa ada rasa takut untuk hamil lagi, tidak ada efek samping

hrmonal dengan Cu T380 A dan tidak ada pengaruhnya terhadap hambatan

dan volume ASI. AKDR dapat dipasang segera setelah melahirkan atau

sesudah abortus dan juga dapat digunakan sampai menopause(Saefuddin,

2002). Pemeriksaan ulang hanya 1 kali setahun, murah, kesuburan segera

kembali sesudah AKDR diangkat (BKKBN, 2003).

     Namun begitu tidak semua klien berminat terhadap alat kontrasepsi

AKDR dikarenakan berbagai alasan yang berbeda – beda seperti takut efek

samping, takut proses pemasangan,dilarang oleh suami, dan kurang

mengetahui tentang KB AKDR. Adapun berbagai pertimbangan yang harus

diperhatikan oleh akseptor KB agar tidak terjadi salah persepsi setelah

pemasangan yaitu pengetahuan akseptor KB tentang persyaratan dan

keamanan metode kontrasepsi, status kesehatan klien sebelum berKB, tahu

efek samping, konsekuensi kegagalan atau kehamilan yang tidak diinginkan,

besarnya keluarga yang direncanakan, persetujuan pasangan, bahkan norma

budaya lingkungan dan orang lain.

     Beberapa faktor dapat mempengaruhi seorang ibu dalam memilih alat

kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yaitu faktor dariumur, tingkat pendidikan,

pengetahuan, lingkungan, ekonomi, kebutuhan, tarif pelayanan dan keluarga,

oleh karena itu tenaga kesehatan diharapkan mampu memberikan KIE

(Komunikasi Informasi Edukasi) yang lebih efektif kepada calon akseptor KB,




                                    1
                                                                        3




  dan juga dapat memberikan asuhan kebidanan kepada ibu khususnya dalam

  pelayanan alat – alat kotrasepsi dalam rahim secara professional.

       Pencapaian peserta KB aktif yang menggunakan MKET di Sulawesi

  Tenggara menurut Susenas tahun 2006 yaitu AKDR (IUD) 7.448 peserta

  (3,6%) AKBK (implant) 26.477 peserta (12,7%) dan kontrasepsi mantap

  (MOP/MOW) 4.592 peserta (2,19%). Untuk pencapaian KB aktif yang

  menggunakan MKET Kota Kendari menurut Susenas tahun 2004 yaitu AKDR

  (IUD) 1.945 peserta (9,7%), AKBK (implant) 3.266 peserta (16,25%) dan

  kontap (MOP/MOW) 1.150 peserta (5,72%).

       Sedangkan yang menggunakan kontrasepsi di Puskesmas Lepo – lepo

  yaitu 1084 peserta, bila dirinci menurut jenisnya AKDR/IUD sebesar 30

  orang, implant 3 orang, MOP/MOW 0 orang, Pil 713 orang, Suntik 326

  orang, Kondom 12 orang (Buku Register Pelayanan KB Puskesmas Lepo –

  lepo Tahun 2009).

       Berdasarkan     uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan

  penelitian mengenai “Gambaran tentang penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam

  Rahim(AKDR) di Poli KIA/KB Puskesmas Lepo – lepo Kota Kendari

  Sulawesi Tenggara Tahun 2009.”

B. Rumusan Masalah

       Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah ” Bagaimanakah

  gambaran penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim(AKDR) di Poli

  KIA/KB Puskesmas Lepo – lepo Kota Kendari Sulawesi Tenggara Tahun

  2009”?


                                       1
                                                                           4




C. Tujuan Penelitian

   1. Tujuan Umum

           Untuk mengetahuigambaran tentang penggunaanAlat Kontrasepsi

        Dalam Rahim ( AKDR) di Poli KIA/KB Puskesmas Lepo – lepo Kota

        Kendari Sulawesi Tenggara Tahun 2009.

   2.   Tujuan Khusus

        a. Diketahuinya gambaran penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam

            Rahim(AKDR) di Poli KIA/KB Puskesmas Lepo-lepoKota Kendari

            Sulawesi Tenggara Tahun 2009berdasarkan umur ibu.

        b. Diketahuinya gambaran penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim

            AKDR di Poli KIA/KB Puskesmas Lepo-lepo Kota Kendari

            Sulawesi Tenggara Tahun 2009 berdasarkan tingkat pendidikan

            ibu.

D. Manfaat Penelitian

   1.   Manfaat Teoritis

           Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk kepentingan program dan

        sebagai bahan informasi khususnya Puskesmas Lepo - lepo Kota Kendari

        Sulawesi Tenggara dalam memberikan pelayanan KB.

   2.   Manfaat Praktis

           Hasil penelitian ini dapat menambah ilmu pengetahuan bagi peneliti

        khususnya wanita subur yang menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim

        (AKDR).




                                     1
                                                                           5




   3.   Manfaat Bagi Peneliti

            Merupakan suatu pengalaman berharga dalam mengaplikasikan ilmu

        yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan di Politeknik

        Kesehatan Kendari Jurusan Kebidanan dan sebagai salah satu syarat

        dalam menyelesaikan pendidikan di Diploma III Kebidanan.

E. Keaslian Penelitian

         Berdasarkan penelusuran kepustakaan yang sudah dilakukan oleh

   peneliti, hasil peneliti yang mirip dengan penelitian yang akan dilakukan

   adalah sebagai berikut :

   1. Identifikasi pasangan usia subur pengguna metode kontrasepsi efektif

        terpilih alat kontrasepsi dalam rahim ( AKDR), Pratiwi 2008. Tempat

        penelitian di Puskesmas Puuwatu Kota Kendari Sulawesi Tenggara.

        Hasilnya yaitu akseptor terbesar terdapat pada kelompok umur 20 – 35

        tahun dengan presentase 93, 3 % dan akseptor yang paling banyak pada

        kelompok pendidikan tinggi dengan presentase 76, 6%.

   2. Studi pengetahuan kontrasepsi IUD pada akseptor keluarga berencana

        (KB) di RSU Kota Kendari, Sawalia 2001. Tempat penelitian di RSU Kota

        Kendari Sulawesi Tenggara. Hasilnya yaitu akseptor terbesar terdapat

        pada kelompok umur 20 – 30 tahun dengan presentase73, 8 %        dan

        akseptor yang paling banyak pada kelompok pendidikan tinggi dengan

        presentase 46, 15 %.

   3. Studi penggunaan kontrasepsi IUD di Puskesmas Pomalaa, Dwiana 2005.

        Tempat penelitian di Puskesmas Pomalaa Kecamatan Pomalaa Kabupaten


                                       1
                                                                     6




Kolaka. Hasilnya yaitu akseptor terbesar terdapat pada kelompok umur 20

– 30 tahun dengan presentase 63% dan akseptor yang paling banyak pada

kelompok pendidikan tinggi dengan presentase 64 %.




                               1
                                                                              7




                                    BAB II
                           TINJAUAN PUSTAKA



A. Tinjauan Umum Tentang Pasangan Usia Subur (PUS) dan Penggunaan

  Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

         Pasangan usia subur adalah pasangan suami istri yang berumur 15-49

   tahun atau pasangan suami istri yang berumur > 15 tahun atau istrinya

   berumur < 49 tahun tetapi masih haid (Manuaba, 1999).Untuk membantu

   masyarakat dalam mencapai perwujudan konsep norma keluarga kecil

   bahagia sejahtera telah dirancang pola dasar penggunaan kontrasepsi yang

   rasional. Pemakaian alat kontrasepsi apapun yang digunakan secara benar

   (taat asas) dan berkelanjutan adalah lebih baik dari pada tidak menggunakan

   alat kontrasepsi apapun dihadapkan pada resiko terjadinya kehamilan yang

   bisa membahayakan kondisi kesehatan ibu dan bayi karena terlalu sering

   melahirkan (BKKBN, 1991).

         Reproduksi wanita/istri dibagi menjadi 3 periode yaitu :

    a. Masa menunda kehamilan/kesuburan, bagi wanita berusia 20 tahun.

         1. Bila belum kawin agar menunda kehamilan.

         2. Bila telah kawin agar jangan hamil dahulu sebelum berusia 20 tahun.

    b.   Masa mengatur kehamilan/kesuburan, bagi istri berusia 20-30 tahun

         untuk mengatur kehamilan dengan jarak kelahiran antara anak pertama

         dan kedua 3-4 tahun dan jumlah anak 2 orang anak saja.




                                       1
                                                                        8




c. Masa mengakhiri kehamilan/kesuburan, bagi istri yang telah berusia

   diatas 30 tahun dan sudah mempunyai 2 orang anak untuk tidak

   melahirkan (BKKBN, 1992).

      Kontrasepsi adalah alat atau obat yang digunakan untuk menunda

 kehamilan, menjarangkan kehamilan serta menghentikan kesuburan.

 Kontrasepsi berasal dari kata kontra dan sepsi. Kontra berati mencegah

 atau melawan, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur

 (ovum) yang metang dengan sperma yang akan mengakibatkan kehamilan.

 Kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan

 sebagai akibat pertemuan sel telur and sel sperma (BKKBN, 1992).

      Cara kerja kontrasepsi bermacam-macam, tetapi pada umumnya

 mempunyai fungsi sebagai berikut :

 a. Mengusahakan agar tidak terjadi ovulasi.

 b. Melumpuhkan sperma.

 c. Menghalangi sel telur dan sperma (BKKBN, 1995).

      AKDR adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan dalam rahim yang

 berbentuk bermacam-macam, terdiri dari plastik (polietilen), ada yang

 dililit tembaga (IU), ada pula tidak, tetapi ada pula yang dililit dengan

 tembaga bercampur perak (AG), selain itu ada pula batangnya yang berisi

 hormone progesterone (BKKBN, 1992).

      AKDR pertama yang modern (Lippes dan Spiral Marguiles) muncul

 pada awal tahun 1960. AKDR tersebut dari plastik yang mengandung

 bahan biologis yaitu polietiline. Pada akhir tahun 1960, para peneliti


                                 1
                                                                          9




menemukan      cara   meningkatkan    efektifitas   AKDR   yaitu   dengan

menambahkan tembaga pada rangka plastik AKDR. AKDR mengandung

tembaga yang pertama adalah CU 7 dan CU T 200 dengan ukuran yang

lebih kecil dibanding AKDR plastik sebelumnya sehingga tidak hanya

menyebabkan efek samping lebih sedikit tetapi juga sangat efektif untuk

mencegah kehamilan (Panduan AKDR Untuk Program Pelayanan KB).

     Mekanisme kerja AKDR sebenarnya belum diketahui secara pasti,

tetapi cara kerja bersifa lokal. Mekanisme kerja AKDR sebagai berikut :

1. AKDR merupakan benda asing dalam rahim sehingga menimbulkan

   reaksi benda asing dengan timbunan leokosit dan limfosit.

2. AKDR menimbulkan perubahan pengeluaran cairan prostaglandin

   yang menghalangi kapasitas spermatozoa.

3. Pemadatan endometrium oleh leukosit dan limfosit menyebabkan

   blastokis mungkin dirusak oleh blastokis tidak mampu melaksanakan

   nidasi.

4. Ion yang dikeluarkan AKDR dengan copper menyebabkan gangguan

   gerak     spermatozoa   sehingga   mengurangin     kemampuan     untuk

   melaksanakan konsepsi (Manuaba, 1998).

     AKDR terbagi menjadi 3 jenis, yaitu :

1. AKDR yang terbuat dari plastik (Lippes Loop) atau baja anti karat

   (Cincin Cina).

2. AKDR mengandung tembaga seperti Copper T (Cu T 380 A dan

   200C) Multiload (MLCu 250 dan 1750 dan Nova T).


                                1
                                                                    10




3. AKDR yang mengandung hormone steroid progesterone seperti

   AKDR progestasert dan yang baru dikemangkan yaitu AKDR Levo

   Nova mengandung Levonogestrel (Panduan AKDR Untuk Program

   Pelayanan KB).

     Lama pemakaian untuk masing-masing jenis AKDR adalah :

1. AKDR Lippes Loop biasa dipakai selama yang di inginkan, kecuali

   bila ada keluhan.

2. Cu T 200 B, Cu MLCu 250 di pakai selama 3-4 tahun.

3. Nova T Cu 200 Ag, Cu T 380 A, MLCu 380, Medosa Pessar dapat

   dipakai selama 5-8 tahun (BKKBN, 1995).

     Tehnik – tehnik Pemasangan AKDR sebagai berikut :

1. Penderita buang air kecil dahulu, sesudah itu akseptor dipersilahkan

   berbaring dengan posisi litotomi untuk mempermudah pemasangan

   AKDR. Bila akseptor belum/tidak bisa buang air kecil, sebaiknya

   dilakukan kateterisasi untuk pengosongan kandungan kemih.

2. Dilakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan besar rahim, dan

   posisi rahim.

3. Memasukkan speculum, bersihkan dinding vagina dan mulut rahim

   dengan kapas yang dibasahi antiseptik, perhatikan dinding vagina dan

   rahim. Apakah terdapat kelalaian atau tidak. Bila tidak terdapat

   kelalaian ulas portio dengan larutan anti septik. Kait bibir dengan

   portio servik dan tenakulum tepat pada sebelum atas portio. Masukkan

   sonde sesuai dengan arah rahim pada pemeriksaan dalam untuk


                               1
                                                                    11




   menentukan dalamnya rahim. Ukuran dalam rahim dinyatakan dalam

   sentimeter.

4. Sisipkan AKDR yang steril. Biasanya IUD generasi II dan III telah

   dikemas dalam keadaan suci hama (bila bungkusnya tidak rusak).

   Sedangkan bagi Lippes Loop perlu dicuci hamakan dahulu. Masukan

   AKDR sesuai dengan arah dalamnya sonde. Terdapat 2 cara untuk

   melepaskan AKDR dari taung kearah pemasangan AKDR (bagi

   AKDR generasi II dan III). Potong benang bila terlalu panjang secara

   tegak lurus terhadap sumbu benang agar tidak menyebabkan sakit pada

   waktu senggama.

     Tehnik – tehnik Pengeluaran AKDR sebagai berikut :

1. Akseptor dipersilahkan untuk buang air kecil terlebih dahulu.

2. Akseptor dipersilahkan berbaring dengan posisi litotomi, bila

   kandungan kencing masih penuh, lakukan kateterisasi. Bersihkan bibir

   liang senggama, dan rahim dengan memakai kapas yang dibasahi

   dengan cairan anti septik.

3. Lakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan besar rahim, dan

   posisi rahim. Masukkan speculum kedalam liang senggama. Posisikan

   sedemikian rupa sehingga mulut rahim sebelah luar terlihat dengan

   baik. Tarik benang IUD perlahan-lahan memakai tampon tang atau

   dressing forsep foster. Bila terasa tahan IUD terlalu kuat, cobalah

   lakukan maneuver dengan menarik-narik secara halus benang tersebut.




                                1
                                                                         12




   Bila tidak terdapat tahanan yang kuat, tarik IUD sehingga keluar dari

   liang senggama.

4. Apabila benang tidak terlihat, masukkan sonde sesuai dengan posisi

   rahim dan putar gagang sonde secara perlahan-lahan dalam bentuk

   lingkaran. Benturan sonde dengan IUD akan terasa bila IUD terdapat

   dalam rahim, tarik IUD/AKDR keluar dengan memakai IUD

   remover/IUD hook.

     Efek samping yang umumnya terjadi pada batas-batas normal, tidak

didapatkan hal-hal yang serius dan segera akan hilang beberapa minggu

setelah dilakukan pemasangan. Efek samping yang biasa timbul yaitu :

1. Pendarahan sedikit yang berulang atau pendarahan yang terus-menerus

   selama haid pada permulaan (haid pertama sampai ketujuh) selama 2-3

   bulan pertama (pendarahan diluar haid). Apabila hal ini terjadi dapat

   diberikan Vit K dan zat besi (Fe).

2. Pendarahan haid yang lebih banyak dan lebih lama, dapat diobati

   dengan cara pemberian anti prostaglandin (darah haid lebih banyak).

3. Kejang perut, terutama sehari setelah pemasangan atau selama haid

   dapat diobati dengan cara pemberian obat anti plasmodit.

4. Nyeri pelvis, Pemberian spasma molitikum dapat mengurangi keluhan

   ini.

5. Nyeri pada waktu pemasangan, Kalau nyeri sekali dapat dilakukan

   anastesi paraservil.




                                1
                                                                    13




     Kontra indikasi yang dikemukakan oleh America Collega of

Obsterticians and Ginecologis adalah :

1. Utama (major)

   a. Infeksi darah panggul (akut, sub akut atau berulang).

   b. Diketahui atau diduga adanya keganasan pada servik atau uterus

       termasuk yang tidak dapat dipastikan pemeriksaan “paps smear”

       yang abnormal.

   c. Kehamilan.

2. Relatif

   a. Kelainan uterus seperti kelainan congenital, mioma yang merupakan

      bentuk rongga uterus.

   b. Hipermenorhea.

   c. Dismenorhea .

     Pengawasan ginekologik terhadap akseptor AKDR dilakukan 1

minggu dan 1 bulan sesudah pemasangan, kemudian setelah 3 bulan

sekali. Pada tiap kali pengawasan dilakukan pengawasan ginekologik, dan

efek samping.

     Selaian dilihat filament, diperhatikan pula perubahan – perubahan

yang mungkin terjadi pada serviks. Dalam hal ini yang mencurigakan

misalnya kemungkinan adanya keganasan, dilakukan pemeriksaan usap

vagina atau biopsy serviks.

     Jika filament tidak tampak, singkirkanlah dahulu kemungkinan

kehamilan. serviks dibersihkan dengan larutan anti septik. AKDR diraba


                                1
                                                                           14




      dengan sonde uterus, Jika AKDR tidak teraba, dapat dilakukan foto

      rontgen anteroposterior dan lateral dengan sonde logam didalam uterus.

      Dapat pula dilakukan pemeriksaan histegrafi.

             Keuntungan dari penggunaan AKDR yaitu :

      1. Dapat diterima oleh masyarakat dengan baik.

      2. Pemasangan tidak memerlukan media teknis yang sulit.

      3. Penyakit medis ringan.

      4    Penyakit tidak terlalu berat.

      5. Pulihnya kesuburan setelah AKDR dicabut berlangsung baik.

             Adapun pula kerugian dari penggunaan AKDR yaitu :

      1. Masih terjadi kehamilan dengan AKDR.

      2. Terdapat perdarahan : spooting dan memometroragia.

      3. Leukorea, sehingga menguras protein tubuh dan liang senggama terasa

          lebih basah.

      4. Tingkat akhir infeksi menimbulkan perlukaan portio uteri dan

          mengganggu hubungan seksual (Manuaba, 1998).

B. Tinjauan Tentang Pengguna Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)


   1. Umur

            Umur merupakan periode penyesuaian terhadap pola – pola

     kehidupan baru dan harapan – harapan baru. Pada dewasa ini ditandai oleh

     adanya perubahan-perubahan jasmani dan mental, semakin bertambah umur

     seseorang akan semakin tinggi tingkat pengetahuan yang diperoleh

     (Notoadmodjo, 2003).

                                           1
                                                                           15




       Umur adalah lamanya seseorang hidup dihitung berdasarkan usia pada

  ulang tahun terakhir. Umur ibu dibagi menjadi 2 kelompok yaitu :

   a. Usiayang tidak tepat yaitu < 20 tahun.

   b. Usia yang tepatyaitu 20 – ≥ 35 tahun.

        Menurut dasar penggunaan kontrasepsi yang rasional, perencanaan

   keluarga kecil bahagia dan sejahtera dibagi atas 3 masa dari usia

   reproduksi wanita yaitu :

   a. Masa menunda kehamilan atau kesuburan. Bagi wanita dibawah umur

      20 tahundianjurkan untuk menunda kehamilannya.

   b. Masa mengatur atau menjrangkan kehamilan. Periode usia wanita

      antara 20 – 30 tahun merupakan usia yang paling baik untuk

      melahirkan dengan jumlah anak 2 orang dan jarak antara anak pertama

      dan anak kedua adalah 2 – 4 tahun.

   c. Masa mengakhiri kesuburan ( tidak hamil lagi ) periode usia wanita

      diatas 35 tahun sebaiknya mengakhiri kesuburan setelah mempunyai 2

      orang anak ( Sarwono, 2006 ).

2. Tingkat Pendidikan

       Pendidikan adalah proses pertumbuhan seluruh kemampuan dan

   perilaku   melalui   pengajaran       sehingga   dalam   pendidikan   perlu

   dipertimbangkan umur (proses perkembangan) dan hubungannya dengan

   proses belajar. Tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang

   mempengaruhi persespsi seseorang untuk lebih mudah menerima ide – ide

   dan tekhnologi baru. Tingkat pendidikan seseorang akan menentukan pola


                                     1
                                                                          16




pikir dan wawasan, selain itu tingkat pendidikan merupakan bagian dari

pengalaman kerja. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka diharapkan

stok modal manusiannya (Pengetahuan dan keterampilan) akan semakin

meningkat. Pendidikan memiliki peranan penting dalam menetukan

kwalitas manusia. Lewat pendidikan, manusia dianggap akan memperoleh

pengetahuan dan semakin tinggi pendidikan akan semakin berkwalitas (

Arikunto, 1998 ).

     Di Indonesia ada tiga tingkatan pendidikan, yang dapat dibedakan

sebagai berikut :

a. Pendidikan formal adalah yang didapat melalui proses belajar yang

   teratur dan sadar dilakukan sejak sekolah rendah ke tingkat yang lebih

   tinggi.

b. Pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh seseorang dari

   pengalaman pribadi sehari – hari dengan sadar atau tidak sadar sejak

   seseorang lahir sampai mati, didalam keluarga, pekerjaan, atau

   pergaulan sehari – hari.

c. Pendidikan non formal adalah pendidikan yang diperoleh seseorang

   secara teratur, terarah disengaja tetapi tidak terlalu mengikuti peraturan

   yang ketat.

     Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang

sangat diperlukan untuk mengembangkan diri, semakin tinggi tingkat

pendidikan seseorang maka akan semakin mudah menerima serta

mengembangkan pengetahuan. Pendidikan berpengaruh pada pengetahuan


                                 1
                                                                               17




      yang dimiliki ibu, pendidikan merupakan hal yang penting yang dapat

      mempengaruhi pola pikir seseorang dalam mengambil keputusan,

      misalnya untuk memilih alat kontrasepsi AKDR. Selain itu minimnya

      pendidikan yang diperoleh ibu menyebabkan rendahnya daya tangkap

      terhadap berbagai informasi dan anjuran kesehatan sehingga ibu

      cenderung tidak mengikuti anjuran yang diberikan.

            Hal ini menyebutkan bahwa pendidikan memegang peranan penting

      dalam penggunaan alat kontrasepsi. Pendidikan yang rendah menyebabkan

      ibu tidak mengetahui pentingnya penggunaan alat kontrasepsi yakni untuk

      menjarangkan kehamilan. Selain itu minimnya pendidikan yang pernah

      diperoleh ibu menyebabkan rendahnya daya tangkap terhadap berbagai

      informasi dan anjuran kesehatan yang disampaikan oleh petugas kesehatan

      sehingga ibu cenderung tidak mengikuti anjuran yang diberikan (

      Notoadmodjo, 2003).

            Hal ini mungkin disebabkan karena kurangnya pengetahuan tentang

      kontrasepsi AKDR oleh yang berpendidikan rendah atau mungkin

      disebabkan karna tidak adanya minat untuk menjadi akseptor AKDR.

C. Landasan Teori

        AKDR adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan dalam rahim yang

   berbentuk bermacam – macam, terdiri dari plastik (polietilen), ada yang dililit

   tembaga (IUD), ada pula tidak, tetapi ada pula yang dililit dengan tembaga

   bercampur perak (AG), selain itu ada pula batangnya yang berisi hormone

   progesterone (BKKBN, 1992).


                                        1
                                                                         18




     Umur merupakan periode penyesuaian terhadap pola – pola kehidupan

baru dan harapan – harapan baru. Pada dewasa ini ditandai oleh adanya

perubahan-perubahan jasmani dan mental, semakin bertambah umur seseorang

akan semakin tinggi tingkat pengetahuan yang diperoleh (Notoadmodjo,

2003).

     Umur adalah lamanya seseorang hidup dihitung berdasarkan usia pada

ulang tahun terakhir. Umur ibu dibagi menjadi 2 kelompok yaitu :

a. Usia yang tidak tepat yaitu < 20 tahun.

b. Usia yang tepat yaitu 20 – ≥ 35 tahun.

     Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang sangat

diperlukan untuk mengembangkan diri, semakin tinggi tingkat pendidikan

seseorang maka akan semakin mudah menerima serta mengembangkan

pengetahuan. Pendidikan berpengaruh pada pengetahuan yang dimiliki ibu,

peendidikan merupakan hal yang penting yang dapat mempengaruhi pola pikir

seseorang dalam mengambil keputusan, misalnya untuk memilih alat

kontrasepsi AKDR. Selain itu minimnya pendidikan yang di peroleh ibu

menyebabkan rendahnya daya tangkap terhadap berbagai informasi dan

anjuran   kesehatan   sehingga   ibu    cenderungtidak   mengikuti   anjuran

yangdiberikan.

     Di Indonesia ada tiga tingkatan pendidikan, yang dapat dibedakan

sebagai berikut :




                                    1
                                                                          19




a. Pendidikan formal adalah yang didapat melalui proses belajar yang teratur

   dan sadar dilakukan sejak sekolah rendah ke tingkat yang lebih tinggi.

   Pendidikan formal terbagi menjadi 2 kriteria yaitu :

   1. Rendah yaitu bila pendidikan formal terakhir ibu tamatan/tidak tamat

       SD, SLTP/sederajat.

   2. Tinggi yaitu bila pendidikan formal terakhir ibu tamatan SLTA,

       Diploma dan Perguruan Tinggi.

b. Pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh seseorang dari

   pengalaman pribadi sehari – hari dengan sadar atau tidak sadar sejak

   seseorang lahir sampai mati, didalam keluarga, pekerjaan, atau pergaulan

   sehari – hari.

c. Pendidikan non formal adalah pendidikan yang diperoleh seseorang secara

   teratur, terarah disengaja tetapi tidak terlalu mengikuti peraturan yang

   ketat.

       Paritas adalah jumlah anak yang pernah dilahirkan baik lahir hidup

maupun lahir mati. Semakin sering ibu melahirkan maka semakin banyak

pengalaman yang diperoleh tentang pengetahuan alat kontrasepsi dalam rahim

sehingga akan semakin baik pada pengetahuan yang ia peroleh tentang

kontrasepsi dalam rahim.

       Pekerjaan adalah aktivitas yang dilakukan sehari-hari. Jenis pekerjaan

yang dilakukan dapat dikategorikan adalah ibu rumah tangga, wiraswsta,

pegawainegeri, dan pegawai swsta dalam semua bidang pekerjaan pada

umunya diperlukan adanya hubungan sosial yang baik dengan orang.


                                    1
                                                                     20




Pekerjaan dimiliki peranan penting dalam   menentukan kwalitas manusia,

pekerjaan membatasi kesenjangan antara informasi kesehatan dan praktek

yang memotifasi seseorang untuk memperoleh informasi dan berbuat sesuatu

untuk menghindari masalah kesehatan (Notoadmodjo, 2003).




                                 1
                                                      21




D. Kerangka Teori




            Umur




       Tingkat Pendidikan
                                Penggunaan AKDR


            Paritas



           Pekerjaan
                                   Pemeriksaan ANC




                            1
                                                                     22




E. Kerangka Konsep




        Umur ibu




                                                   Penggunaan AKDR



      Pendidikan ibu




  Keterangan/ variabel penelitian :


  Variabel independent            : umur ibu dan pendidikan ibu.

  Variabel dependent              : penggunaan AKDR.




                                      1
                                                                                 23




                                       BAB III
                              METODE PENELITIAN



A. Jenis Penelitian

         Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yaitu yang

   dimaksudkan untuk mendeskripsikan fakta mengenai suatu keadaan secara

   objektif.

B. Tempat dan Waktu

   1. Tempat

               Penelitian ini telah dilaksanakan di Poli KIA/KB Puskesmas Lepo-

        lepo Kota Kendari Sulawesi Tenggara.

    2. Waktu

               Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei – Juni 2010.

C. Populasi dan Sampel

   1. Populasi

           Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu – ibu yang

       menggunakan kontrasepsi AKDR di wilayah kerja Puskesmas Lepo – lepo

       yang berjumlah 1084 orang.

   2. Sampel

           Sampel dalam penelitian ini adalah semua ibu – ibu yang

       menggunakan Kontrasepsi AKDR dengan teknik pengambilan sampel

       Porposive sampling sehingga diperoleh sampel sebanyak               30 orang

       akseptor.



                                           1
                                                                            24




D. Definisi Operasional

    1. Penggunaan AKDR

             Penggunaan AKDR adalah sala satu metode kontrasepsi dengan

         menggunakan alat kontrasepsi yang dimasukkan kedalam rahim yang

         bentuknya bermacam – macam, berfungsi mencegah terjadinya ovulasi,

         melumpuhkan sperma dan mencegah bertemunya sperma dan sel telur

         (BKKBN, 1995).

    2. Umur

            Umur adalah lamanya seseorang hidup dihitung berdasarkan usia pada

        ulang tahun terakhir. Umur ibu dibagi menjadi 2 kelompok yaitu :

        a. Usiayang tidak tepat             : < 20 tahun.

        b. Usia yang tepat                  : 20 – ≥ 35 tahun.

    3. Tingkat Pendidikan.

             Yang dimaksud dengan tingkat pendidikan dalam penelitian ini

         adalah tingkat pendidikan formal yang tertinggi yang ditamatkan oleh

         responden.

Kriteria objektif :

         Rendah               : Bila pendidikan formal terakhir responden

                                  tamatan/tidak tamat SD, SLTP/sederajat.

         Tinggi               : Bila pendidikan formal terakhir responden

                                  tamatan SLTA, Diploma dan Perguruan Tinggi.

E. Instrumen Penelitian

       Instrumenpenelitian menggunakan Chek list.


                                        1
                                                                                   25




F. Cara Pengumpulan Data

        Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subyek dan

   proses pengumpulan karakteristik subyek yang diperlukan dalam penelitian

   (Nursalam, 2003).

   1. Data Sekunder

          Data sekunder adalah data penunjang yang berkaitan dengan objek

       penelitian yang diperoleh dari Buku RegisterPoli KIA/KB Puskesmas

       Lepo – lepo Tahun 2009.

G. Pengolahan dan Penyajian Data

        Pengolahan      data     dilakukan       secara   manual   elektronik   dengan
   menggunakan kalkulator dengan menghitung rumus :


   X = x 100 %

   Keterangan :

   X : variabel yang diteliti.
   n   : jumlah variabel yang diteliti.
       : jumlah keseluruhan dari sampel ( Notoadmodjo S, 2003 ).




                                             1
                                                                             26




                                  BAB IV
                       HASIL DAN PEMBAHASAN



A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian.

        Puskesmas Lepo – lepo terletak di kelurahan Lepo – lepo Kecamatan

   Baruga Kota Kendari. Wilayah kerja meliputi 4 kelurahan yaitu Kelurahan

   Lepo – lepo, Kelurahan Wundudopi, Kelurahan Baruga dan Watu Bangga

   dengan batas wilayah :

   1. Sebelah Utara berbatasan dengan kecamatan Wua – wua dan Kecamatan

      Kadia.

   2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Poasia.

   3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Konda (Kab. Konsel).

   4. Sebelah Barat berbatasan denganKecamatan Ranomeeto (Kab. Konsel)

      dan Kecamatan Mandonga Kota Kendari.

        Puskesmas Lepo – lepo merupakan sebuah puskesmas induk non

   perawatan yang didefinitif sejak tanggal 1 April 1992. Pada tahun 2005 di

   tingkatkan menjadi rawat inap terbatas untuk persalinan dan unit gawat

   darurat sederhana. Kegiatan pokok puskesmas meliputi :

   1. KIA / KB

   2. Usaha kesehatan Gizi

   3. Kesehatan lingkungan

   4. Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular

   5. Penyuluhan kesehatan masyarakat

   6. Pengobatan termasuk pelayanan darurat dan kecelakaan dan rawat inap.

                                      1
                                                                         27




7. Kesehatan gigi dan mulut.

8. Laboratorium sederhana.

9. Kesehatan usia lanjut.

10. Pencatatan dan pelaporan.

     Pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas salah satunya diarahkan pada

kesehatan ibu dan anak ( KIA ). Pelayanan ibu hamil diberikan melalui poli

umum puskesmas Lepo – lepo posyandu masing – masing kelurahan di

Kecamatan Baruga.

     Sarana dan prasarana yang terdapat di Puskesmas Lepo – lepo meliputi :

1. Tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas Lepo – lepo pada tahun

   2009 sebanyak 111 orang yang terdiri dari pegawai yang berstatus sebagai

   Pegawai Negri Sipil (PNS) sebanyak 66 orang, tenaga honorer sebanyak 3

   orang, dan tenaga sukarela sebanyak 46 orang yang didominasi oleh

   tenaga keperawatan yaitu sebanyak 25 orang. Tenaga keperawatan dan

   kebidanan yang berstatus sukarela sebagian besar ditempatkan pada

   pelayanan Unit Gawat Darurat, unit rawat inap umum dan rawat inap

   kebidanan.

2. Poliklinik terdiri dari poli KIA/KB, poli umum, poli gigi dan mulut, dan

   MTBS ( makanan tambahan balita sehat ).

3. Jumlah tempat tidur 11 tempat tidur dengan perincian ruang perawatan 8

   tempat tidur dan ruang kebidanan 3 tempat tidur.




                                   1
                                                                               28




B. Hasil penelitian.

        Untuk mengetahui gambaran umur dan pendidikan ibu terhadap

   penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) maka dalam penelitian ini

   dilakukan dengan mengambil data sekunder pengolahan data sesuai dengan

   tujuan penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan disertai dengan penjelasan

   sebagai berikut :

   Tabel 1. Distribusi Frekuensi Akseptor KB AKDR Menurut Umur di
         PoliKIA/KB Puskesmas Lepo – lepo Tahun 2009.
                                           Akseptor KB AKDR
              Umur
                                     Jumlah (N)         Presentase (%)
             < 20 tahun                            1                   3, 33
           20 – ≥ 35 tahun                        29                  96, 66
                Total                             30                    100
   Sumber : Data Sekunder di Poli KIA/KB Puskesmas Lepo – lepo Tahun 2009


        Dari tabel 1 diatas terlihat bahwa akseptor pengguna AKDR terbesar

   adalah pada umur 20 – ≥ 35 tahun yaitu sebanyak 29 orang dengan presentase

   96, 66 % dan yang paling sedikit adalah pada umur < 20 tahun yaitu 1

   dengan presentase 3,33 %.

   Tabel   2. Distribusi Frekuensi Akseptor KB AKDR Menurut
             TingkatPendidikan di Poli KIA/KB Puskesmas Lepo – lepo
             Tahun 2009.
                                       Akseptor KB AKDR
      Tingkat Pendidikan
                                 Jumlah (N)          Presentase (%)
            Rendah                            7                       23, 3
            Tinggi                           23                       76, 6
             Total                           30                        100
  Sumber : Data Sekunder di Poli KIA/KB Puskesmas Lepo – lepo Tahun2009

        Dari tabel. 2 diatas terlihat akseptor pengguna AKDR yang paling

   banyak yaitu pada kelompok tingkat pendidikan tinggi yaitu sebanyak 23

   orang dengan presentase 76, 6 % dan yang paling sedikit terdapat pada

                                         1
                                                                         29




  kelompok tingkat pendidikan rendah yaitu sebanyak 7 orang dengan

  presentase 23, 3 %.

C. Pembahasan

       Setelah melakukan penelitian mengenai gambaran tentang penggunaan

  alat kontrasepsi dalam rahim(AKDR) di Poli KIA/KB Puskesmas Lepo – lepo

  Kota Kendari tahun 2009terdapat 30 orang yang menjadi akseptor AKDR.

  1. Umur

              Berdasarkan dari 30 sampel yang diteliti di Poli KIA/KB

     Puskesmas Lepo – lepo diperoleh distribusi pengguna KB AKDR

     terbanyak pada kelompok umur yang 20 - ≥ 35 tahun yaitu sebanyak 29

     orang dengan presentase 96, 66 % dan yang paling sedikit terdapat pada

     umur < 20 tahun.

           Hal ini didukung oleh teori yang menyebutkan bahwa dalam

     kesehatan reproduksi umur yang baik untuk menggunakan alat kontrasepsi

     AKDR sebagai pilihan utama dan nonplant atau pil pilihan kedua yaitu

     umur 20 – 35 tahun (Sarwono, 2006).

           Ukuran reproduksi sehat dikenal dengan umur yang aman untuk

     kehamilan adalah 20 – 35 tahun dengan jumlah anak 2 orang dengan jarak

     antara anak pertama dengan kedua adalah 3 – 4 tahun. Usia istri yang

     diatas 35 tahun sebaiknya mengakhiri kesuburannya dan hanya

     mempunyai 2 orang anak. penggunaan kontrasepsi AKDR/IUD adalah

     merupakan prioritas utama untuk kelompok umur tersebut (BKKBN,

     1992).


                                   1
                                                                       30




2. Pendidikan

        Berdasarkan dari 30 sampel yang diteliti di Poli KIA/KB Puskesmas

   Lepo – lepo diperoleh distribusi pengguna KB AKDR terbanyak pada

   kelompok tingkat pendidikan tinggi (SMA, Diploma dan PT) yaitu

   sebanyak 23 orang dengan presentase 76, 6 % dan yang sedikit terdapat

   pada kelompok tingkat pendidikan rendah yaitu sebanyak 7 orang dengan

   presentase 23, 3 %.

        Hal ini menyebutkan bahwa pendidikan memegang peranan penting

   dalam penggunaan alat kontrasepsi. Pendidikan yang rendah menyebabkan

   ibu tidak mengetahui pentingnya penggunaan alat kontrasepsi yakni untuk

   menjarangkan kehamilan. Selain itu minimnya pendidikan yang pernah

   diperoleh ibu menyebabkan rendahnya daya tangkap terhadap berbagai

   informasi dan anjuran kesehatan yang disampaikan oleh petugas kesehatan

   sehingga ibu cenderung tidak mengikuti anjuran yang diberikan (

   Notoadmodjo, 2003).

        Hal ini mungkin disebabkan karena kurangnya pengetahuan tentang

   kontrasepsi AKDR oleh yang berpendidikan rendah atau mungkin

   disebabkan karna tidak adanya minat untuk menjadi akseptor AKDR.




                                  1
                                                                             31




                                     BAB V
                        KESIMPULAN DAN SARAN



A. Kesimpulan

        Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas, maka saya dapat

  menyimpulkan bahwa :

  1. Distribusi akseptor AKDR berdasarkan umur ibu dapat memperlihatkan

       bahwa akseptor AKDR terbanyak pada umur 20 – ≥35 tahun yaitu

       sebanyak 29 orang dengan presentase 96, 66 % dan yang paling sedikit

       adalah pada umur < 20 tahun yaitu 1 dengan presentase 3,33 %.

  2.   Distribusi akseptor AKDR berdasarkan tingkat pendidikan ibu dapat

       memperlihatkan bahwa akseptor AKDR terbanyak pada kelompok tingkat

       pendidikan tinggi yaitu sebanyak 23 orang dengan presentase 76, 6 % dan

       yang paling sedikit terdapat pada kelompok tingkat pendidikan rendah

       yaitu sebanyak 7 orang dengan presentase 23, 3 %.

B. Saran

  1. Dalam meningkatkan mutu pelayanan bagi para akseptor dan calon

       akseptor diperlukan petugas kesehatan yang dapat memberi motivasi dan

       penyuluhan kepada akseptor.

  2. Kepada petugas kesehatan dituntut untuk dapat memberikan pembinaan

       kepada para akseptor sehingga mereka tetap mantap sebagai akseptor.




                                       1
                                                                     32




3. Kepada petugas kesehatan khususnya di ruang bersalin diharapkan untuk

   dapat memberikan motivasi kepada ibu – ibu yang telah melahirkan agar

   menjadi akseptor KB.




                                 1

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: AKDR
Stats:
views:1245
posted:7/14/2012
language:Malay
pages:32