Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Partus

VIEWS: 1,940 PAGES: 33

									                                  BAB I

                              PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

          Partus lama merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada

  tingginya angka kematian ibu saat melahirkan. Kematian pada wanita

  hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara berkembang.

  Organisasi kesehatan dunia atau World       Health Organization (WHO)

  pada bulan November 1999, melaporkan hampir 600.000 ibu hamil dan

  bersalin meninggal setiap tahun diseluruh dunia. Peristiwa ini sebagian

  besar terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia,(Syamsul, 2009).

          Sebagian   Negara    berkembang,     kematian   ibu   melahirkan

  memegang porsi terbesar dari kematian di kalangan wanita reproduksi.

  Setiap tahun ada ibu yang meninggal karena penyakit yang berkaitan

  dengan kematian atau persalinan dan 99% dari kematian ibu terjadi di

  Negara berkembang. Di Negara miskin, sekitar 25-50% kematian wanita

  usia subur disebabkan hal yang berkaitan dengan kehamilan. Kematian

  saat melahirkan biasa menjadi faktor utama mortalitas wanita muda pada

  masa puncak produktifitasnya. WHO memperkirakan lebih dari 585.000

  ibu pertahunnya meninggal saat hamil atau bersalin.(Prawirohardjo,

  2006)

          Sejak 10 tahun terakhir ini Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia

  berada pada tingkat tertinggi yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup di

  antara Negara berkerbang di dunia dan belum menunjukkan adanya
                                                                     2




kecenderungan untuk menurun walaupun sudah cukup banyak intervensi

dalam berbagai bentuk program yang dilakukan. Dari berbagai faktor

yang berperan pada kematian ibu, kemampuan kinerja petugas

kesehatan berdampak langsung pada peningkatan kualitas pelayanan

kesehatan maternal. Di sisi lain, kesiapan pelayanan kegawatdaruratan

dalam system pelayanan kesehatan nasional belum dikelola dan

dipersiapkan dengan baik.(Depkes RI, 2006).

    Hasil survei menyebutkan komplikasi penyebab kematian ibu

terbanyak adalah karena perdarahan, hipertensi selama kehamilan,

infeksi, partus lama dan komplikasi keguguran. Penyebab lain adalah

anemia dan malnutrisi kronik/kurang gizi menahun.(Depkes RI, 2009)

      Penyebab kematian ini dapat terjadi secara langsung dan tidak

langsung. Secara langsung yaitu perdarahan 28%, eklamsia 24%, infeksi

11%, abortus 5%, partus lama 5%, emboli obstetric 3%, komplikasi

puerperium 8% dan penyebab lain-lain 11%. Sedangkan penyebab

kematian ibu secara tidak langsung dapat terjadi karenapemberdayaan

masyarakat (Demand) diantaranya perilaku ibu hamil, transportasi tidak

mendukung, status kesehatan dan kesehatan reproduksi. Selain itu juga

karena cakupan dan kualitas (supply) yaitu akses masyarakat terhadap

pelayanan kesehatan ibu rendah, kualitas dan efektif pelayanan

kesehatan ibu belum memadai dan system rujukan kesehatan maternal

belum mantap.(Depkes RI, 2006)
                                                                     3




      Partus lama akan menyebabkan infeksi, kehabisan tenaga,

dehidrasi pada ibu, kadang dapat terjadi perdarahan post partum yang

dapat menyebabkan kematian ibu. Pada janin akan terjadi infeksi, cedera

para ibu baru yang menjalani persalinan pertamanya dengan sulit dan

lama mengatakan bahwa pengalaman tersebut akan mempengaruhi

mereka untuk selamanya.

    Kegagalan dalam penanganan kasus kedaruratan obstetri pada

umumnya disebabkan oleh kegagalan dalam mengenal risiko kehamilan,

keterlambatan   rujukan,   kurangnya   sarana   yang   memadai   untuk

perawatan ibu hamil dengan risiko tinggi maupun pengetahuan tenaga

medis, paramedis dan penderita dalam mengenal kehamilan risiko tinggi

(KRT) secara dini. Masalah dalam pelayanan obstetri, maupun kondisi

ekonomi juga memerlukan perhatian serius.(Syamsul, 2009).

    Masalah kamatian dan masalah kesakitan ibu di Indonesia masih

merupakan masalah besar. Angka kematian ibu (AKI) menurut SDKI

2007/2008 248/100.000 kelahiran hidup dan target pada tahun 2010

menjadi 125/100.000 kelahiran hidup. Angka ini 3 – 6 kali lebih besar

dari Negara di Wilayah ASEAN dan lebih dari 50 kali lebih besar dari

negara maju.(Depkes RI, 2003).

    Berdasarkan data pelaporan tahunan di Rumah Sakit Umum

Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2008, angka kejadian

partus lama sebanyak 434 (24,16%) kasus dari 1958 persalinan

normal, pada tahun 2009 nampak ada kenaikan yaitu 520 (26,35%)
                                                                           4




   kasus dari 1973 persalinan normal, dan pada tahun 2010 yaitu 328

   (23,04%) kasus dari 1364 persalinan normal. Walaupun terdapat

   penurunan angka kejadian, namun partus lama merupakan salah satu

   faktor yang menyebabkan kematian ibu. Hal ini tentunya memerlukan

   perhatian khusus, baik dari pemerintah setempat, petugas kesehatan

   khususnya pelaksana kebidanan dan masyarakat itu sendiri. Melihat

   data tersebut di atas maka saya tertarik untuk meneliti tentang ”

   Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Partus Lama di

   Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara Periode Januari-

   Oktober Tahun 2011.”

B. Rumusan Masalah

         Berdasarkan      uraian    di   atas,   maka    dapat    dirumuskan

   permasalahan    penelitian      sebagai   berikut:   “Faktor-faktor   yang

   berhubungan dengan kejadian partus lama pada ibu bersalin di RSUD

   Provinsi Sulawesi Tenggara Periode Januari-September Tahun 2011?”

C. Tujuan Penelitian

   1. Tujuan Umum

          Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan

      kejadian partus lama pada ibu bersalin di RSUD Provinsi Sulawesi

      Tenggara Periode Januari-September Tahun 2011.

   2. Tujuan Khusus

      a. Untuk mengetahui hubungan Umur terhadap kejadian partus lama
                                                                         5




      b. Untuk mengetahui hubungan Paritas terhadap kejadian partus

         lama

      c. Untuk mengetahui hubungan KPD terhadap kejadian partus lama

D. Manfaat Penelitian

   1. Manfaat ilmiah

      Sebagai informasi ilmiah yang dapat dijadikan referensi bagi peneliti

      berikutnya khususnya tentang permaslahan penyebab kejadian partus

      lama

   2. Manfaat praktis

      Sebagai masukan dan informasi bagi pemerintah dalam mewujudkan

      peningkatan derajat kesehatan ibu dan anak yang optimal

   3. Manfaat institusi

      Sebagai masukan bagi instansi yang terkait untuk menjadi dasar

      pertimbangan dalam mengambil kebijakan dalam menyusun program

   4. Manfaat bagi peneliti

      Sebagai tambahan pengalaman dan pengetahuan bagi penulis dalam

      melakukan penelitian yang merupakan penerapan ilmu pengetahuan

      yang telah diterima selama menempuh pendidikan
                                                                        6




                                   BAB II

                           TINJAUAN PUSTAKA


A. Tinjauan Umum tentang Partus Lama

  1. Pengertian Partus Lama

        Partus lama (partus kasep atau partus terlantar) adalah persalinan

    yang berlangsung > 24 jam pada primi dan > 18 jam pada multi. Partus

    kasep merupakan partus lama yang disertai dengan tanda-tanda

    infeksi.

        Sebab-sebab terjadinya partus lama adalah multikompleks dan

    tentu saja tergantung pada pengawasan selama hamil, pertolongan

    persalinan yang baik dan penatalaksanaanya. Faktor-faktor yang

    berhubungan dan menjadi penyebabnya antara lain : kelainan letak

    janin, kelainan-kelainan panggul, kelainan his, pimpinan partus yang

    salah, janin besar atau kelainan congenital, primi tua, perut gantung,

    grandemulti, ketuban pecah dini.(Mochtar, 2006)

  2. Komplikasi Partus Lama

    a. Kelelahan ibu (tampak lelah, kekurangan cairan, nadi dan suhu

      meningkat).

    b. Terasa sakit saat kontraksi rahim terutama perut bagian bawah

    c. Persalinan disertai infeksi (suhu tubuh meningkat, bagian bawah

      rahim terasa sakit dan tegang)

    d. Pada pemeriksaan liang senggama dapat dijumpai oedema labia

      mayora dan minora, keluar cairan keruh, bernanah bahkan bau.
                                                                        7




  e. Hasil pemeriksaan dalam dijumpai bagian janin terendah terfiksasi

    sudah terasa oedema dan disertai kaput.(Manuaba, 2002)

3. Sikap Bidan dalam Menyikapi Partus Lama

       Bidan khususnya di daerah pedesaan dengan polindesnya

  diharapkan dapat mengambil bagian terbesar pada pertolongan

  persalinan   normal    dengan     mempergunakan       partograf   WHO.

  Kewaspadaan dalam pertolongan persalinan sudah dilakukan sejak

  semula,    dengan melakukan observasi CHPB            (Cortoneum, His,

  Penurunan bagian terendah dan Bandle) sehingga setiap saat keadaan

  ibu dan janin dapat diketahui dengan pasti.

       Puncak kewaspadaan dilaksanakan dengan melakukan rujukan

  penderita ke pusat pelayanan dengan fasilitas setelah melampaui

  keadaan optimal. Bidan diharapkan bekerja sama dengan dukun

  melalui pendidikan dukun sehingga dapat mengenal penderita untuk

  dilakukan rujukan medis.

       Persalinan kasep merupakan tingkat akhir persalinan lama dengan

  disertai komplikasi sehingga bidan perlu melakukan tindakan medis :

  a. Memberikan rehidrasi dan infuse cairan pengganti

  b. Memberikan perlindungan antibiotika-antipiretika

  c. Mengantar penderita, sehingga dapat memberikan keterangan atau

     memberikan keterangan tertulis.

  d. Intervensi media lainnya tidak perlu dilakukan sebab kemungkinan

     akan menambah bahaya ibu maupun janin dalam rahim.(Manuaba,

     2002)
                                                                    8




Klasifikasi Partus Lama

     Harry Oxorn dan Willian R. Forte (2006) mengklasifikasikan partus

lama menjadi beberapa fase, yaitu :

a. Fase laten yang memanjang

   Fase laten yang melampaui waktu 20 jam pada primigravida atau

   waktu 14 jam pada multipara merupakan keadaan abnormal. Sebab-

   sebab fase laten yang panjang mencakup :

   1) Serviks belum matang pada awal partus

   2) Posisi janin abnormal

   3) Disproporsi fetopelvik

   4) Partus disfungsional

   5) Pemberian sedatif yang berlebihan

          Serviks yang belum matang hanya memperpanjang fase

   laten, dan kebanyakan serviks akan membuka secara normal begitu

   terjadi pendataran. Sekalipun fase laten berlangsung lebih dari 20

   jam, banyak pasien mencapai dilatasi serviks yang normal ketika

   fase aktif mulai. Meskipun fase laten itu menjemukan, tapi fase ini

   tidak berbahaya bagi ibu atau pun anak.

b. Fase aktif yang memanjang pada primigravida

        Para primigravida, fase aktif yang lebih panjang dari 12 jam

   merupakan keadaan abnormal, yang lebih penting dari pada

   panjangnya fase ini adalah kecepatan dilatasi serviks. Pemanjangan

   fase aktif menyertai :
                                                                      9




   1) Malposisi janin

   2) Disproporsi fetopelvik

   3) Penggunaan sedatif dan analgesik secara sembrono

   4) Ketuban pecah sebelum dimulainya partus

        Keadaan ini diikuti oleh peningkatan kelahiran dengan forceps

   tengah, secsio caesarea dan cedera atau kematian janin. Periode

   aktif yang memanjang dapat dibagi menjadi dua kelompok klinis

   yang utama, yaitu kelompok yang masih menunjukkan kemajuan

   partus sekalipun dilatasi servik berlangsung lambat dan kelompok

   yang benar-benar mengalami penghentian dilatasi serviks.

c. Fase aktif yang memanjang pada multiparitas

        Fase aktif pada multipara yang berlangsung lebih dari 6 jam

   (rata-rata 2,5 jam) dan laju dilatasi serviks yang kurang dari 1,5 cm

   per jam merupakan keadaan abnormal. Meskipun partus lama pada

   multipara lebih jarang dijumpai dibandingkan dengan primigravida,

   namum karena ketidakacuhan dan perasaan aman yang palsu,

   keadaan tersebut bisa mengakibatkan malapetaka.

       Kelahiran normal yang terjadi di waktu lampau tidak berarti

   bahwa kelahiran berikutnya pasti normal kembali. Pengamatan yang

   cermat, upaya menghindari kelahiran pervaginam yang traumatik

   dan pertimbangan secsio caesarea merupakan tindakan penting

   dalam penatalaksanaan permasalahan ini.Maphia, 2011)
                                                                      10




   Ciri-ciri partus lama pada multipara :

   1) Insedensinya kurang dari 1%

   2) Mortalitas     perinatalnya   lebih   tinggi   dibandingkan   pada

       primigravida dengan partus lama

   3) Jumlah bayi besar bermakna

   4) Malpresentasi menimbulkan permasalahan

   5) Prolapsus funiculi merupakan komplikasi

   6) Perdarahan postpartum berbahaya

   7) Rupture uteri terjadi pada grande multipara

   8) Sebagian besar kelahirannya berlangsung spontan pervaginam

   9) Angka secsio caesarea tinggi, sekitar 25%

Bahaya Partus Lama

     Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH (2002), menjelaskan mengenai

bahaya partus lama bagi ibu dan janin, yaitu :

a. Bahaya bagi ibu

   Partus lama menimbulkan efek berbahaya baik terhadap ibu

   maupun anak. Beratnya cedera meningkat dengan semakin

   lamanya proses partus, resiko tersebut naik dengan cepat setelah

   waktu 24 jam. Terdapat kenaikan pada insidensi atonia uteri,

   laserasi, perdarahan, infeksi, kelelahan ibu dan shock. Angka

   kelahiran dengan tindakan yang tinggi semakin memperburuk

   bahaya bagi ibu.
                                                                         11




b. Bahaya bagi janin

        Semakin     lama   partus,   semakin    tinggi   morbiditas    serta

   mortalitas janin dan semakin sering terjadi keadaan berikut ini :

   1) Asfiksia akibat partus lama itu sendiri

   2) Trauma cerebri yang disebabkan oleh penekanan pada kepala

      janin

   3) Cedera akibat tindakan ekstraksi dan rotasi dengan forceps yang

      sulit

   4) Pecahnya ketuban lama sebelum kelahiran. Keadaan ini

      mengakibatkan terinfeksinya cairan ketuban dan selanjutnya

      dapat membawa infeksi paru-paru serta infeksi sistemik pada

      janin.

        Sekalipun tidak terdapat kerusakan yang nyata, bayi-bayi pada

   partus lama memerlukan perawatan khusus. Sementara pertus lama

   tipe apapun membawa akibat yang buruk bayi anak, bahaya

   tersebut lebih besar lagi apalagi kemajuan partus pernah berhenti.

   Sebagian dokter beranggapan sekalipun partus lama meningkatkan

   resiko pada anak selama partus, namun pengaruhnya terhadap

   perkembangan bayi selanjutnya hanya sedikit. Sebagian lagi

   menyatakan bahwa bayi yang dilahirkan melalui proses partus yang

   panjang ternyata mengalami defisiensi intelektual sehingga berbeda

   jelas dengan bayi-bayi yang lahir setelah partus normal.
                                                                12




1) Tindakan suportif

   a) Selama partus, semangat pasien harus didukung. Kita harus

      membesarkan hatinya dengan menghindari kata-kata yang

      dapat menimbulkan kekhawatiran dalam diri pasien.

   b) Intake cairan sedikitnya 2500 ml per hari. Pada semua partus

      lama, intake cairan sebanyak ini di pertahankan melalui

      pemberian infus larutan glukosa. Dehidrasi, dengan tanda

      adanya acetone dalam urine, harus dicegah.

   c) Makanan yang dimakan dalam proses partus tidak akan

      tercerna dengan baik. Makanan ini akan tertinggal dalam

      lambung    sehingga   menimbulkan    bahaya    muntah    dan

      aspirasi. Karena waktu itu, pada partus yang berlangsung

      lama di pasang infus untuk pemberian kalori.

   d) Pengosongan kandung kemih dan usus harus memadai.

      Kandung    kemih   dan   rectum   yang   penuh   tidak   saja

      menimbulkan perasaan lebih mudah cidera dibanding dalam

      keadaan kosong.

   e) Meskipun wanita yang berada dalam proses partus, harus

      diistirahatkan dengan pemberian sedatif dan rasa nyerinya

      diredakan dengan pemberian analgetik, namun semua

      preparat ini harus digunakan dengan bijaksana. Narcosis

      dalam jumlah yang berlebihan dapat mengganggu kontraksi

      dan membahayakan bayinya.
                                                                          13




          f) Pemeriksaan rectal atau vaginal harus dikerjakan dengan

              frekuensi sekecil mungkin. Pemeriksaan ini menyakiti pasien

              dan meningkatkan resiko infeksi. Setiap pemeriksaan harus

              dilakukan dengan maksud yang jelas.

          g) Apabila     hasil-hasil   pemeriksaan   menunjukkan     adanya

              kemajuan dan kelahiran diperkirakan terjadi dalam jangka

              waktu yang layak serta tidak terdapat gawat janin ataupun

              ibu, tetapi suportif diberikan dan partus dibiarkan berlangsung

              secara spontan.


B. Tinjauan Umum tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan

  kejadian partus lama pada ibu bersalin

       Pada prinsipnya partus lama dapat disebabkan oleh his yang tidak

  efisien (power), faktor janin (passenger), faktor jalan lahir (passage),

  respons stress, primigravida, grandemultipara, ketuban pecah, puasa

  ketat dan Analgesik dan anastesis yang berlebihan dalam fase leten.

  Adapun faktor-faktor penyebab atau yang berhubungan dengan kejadian

  partus lama adalah :

  1. Inersia Uteri

     a. Pengertian

               Inersia uteri adalah his yang sifatnya lemah, lebih singkat

        dan lebih jarang dibandingkan dengan his yang normal. Inersia

        uteri dibagi atas 2 :
                                                                  14




  1) Inersia Uteri Primer

          Kelemahan his timbul sejak dari permulaan persalinan.

     Hal ini harus dibedakan dengan his pendahuluan yang juga

     lemah dan kadang-kadang menjadi hilang (false labour).

  2) Inersia Uteri Sekunder

          Kelemahan his yang timbul setelah adanya his yang kuat

     teratur dalam waktu yang lama

          Diagnosis inersia uteri memerlukan pengalaman dan

     pengawasan yang teliti terhadap persalinan. Pada fese laten,

     diagnosis akan lebih sulit, tetapi bila sebelumnya telah

     kontraksi (his) yang kuat dan lama, maka diagnosis inersia uteri

     sekunder akan lebih mudah.(Winkjosastro, 2006)

b. Penanganan

       Periksa keadaan serviks, presentasi dan posisi janin,

  turunnya bagian terendah dan keadaan panggul. Kemudian buat

  rencana untuk menentukan sikap dan tindakan yang akan

  dikerjakan.

  1) Berikan oxytocin drips 5-10 satuan dalam 500 cc dektrosa 5%,

     dimulai dengan 12 tetes per menit, dinaikkan setiap 10-15

     menit sampai 4-5 tetes per menit.

  2) Pemberian oxytocin tidak usah terus-menerus, sebab bila tidak

     memperkuat his setelah pemberian beberapa lama, hentikan

     dulu dan ibu dianjurkan istirahat. Pada malam hari berikan obat
                                                                       15




      penenang misalnya valium 10 mg dan esoknya dapat diulangi

      lagi pemberian oxytocin drips.

   3) Bila inersia disertai dengan disproporsi sefalopelvik, maka

      sebaiknya dilakukan secsio caesarea.

   4) Bila semua his kuat tetapi kemudian terjadi inersia uteri

      sekunder, ibu lemah dan partus telah berlangsung lebih dari 24

      jam pada primi dan 18 jam pada multi, tidak ada gunanya

      pemberian     oxytocin    drips.    Sebaiknya      partus     segera

      diselesaikan sesuai dengan hasil pemeriksaan dan indikasi

      obstetric   lainnya   (ekstraksi   vakum   atau    forsep,    secsio

      caesarea) (Mochtar, 2002)

c. Penyulit

   1) Inersia uteri dapat menyebabkan kematian atau kesakitan

   2) Kemungkinan infeksi bertambah dan juga meningkatnnya

      angka kematian perinatal

   3) Kehabisan tenaga ibu dan dehidrasi, tanda-tandanya denyut

      nadi naik, suhu meninggi dan turgor meningkat (Sastrawinata,

      2004)

2. Cephallo Pelvik Disproportion (CPD)

   a. Pengertian

              CPD    adalah    keadaan     dimana       ukuran     panggul

      yangKurang dari normal, yaitu apabila konjugata vera kurang

      dari 10 cm atau diameter transversa kurang dari 12 cm
                                                                       16




      (panggul sempit) sehingga bayi tidak mampu melewati jalan

      lahir (Manuaba, 2002)

            Kelainan-kelainan yang terjadi seperti CPD harus dapat

      terdeteksi   selama   persalinan,     dimana   biasanya   kala    I

      memanjang dan terjadi kelainan pada penurunan kepala, dapat

      diperiksa pada pemeriksaan dalam pervaginam atau abdomen

      pada umumnya (85%) persalinan berlangsung spontan dan

      pertolongannya tidaklah memerlukan keahlian.

            Suatu proses persalinan yang berlangsung pada wanita

      hamil sangat dipengaruhi oleh tiga parameter :

      1) Power yaitu kekuatan His dan kekuatan mengedan dariibu

      2) Pelvis yaitu keadaan jalan lahir

      3) Passenger     yaitu    keadaan      janin   yang   dikandung

         (Winkjosastro, 2006)

   b. Penanganan

      1) Partus dapat direncanakan pervaginam bila janin kecil,

         namun his posisi kepala dan keadaan serviks harus

         diperhatikan selama inpartu.

      2) Lakukan secsio caesarea.(Winkjosastro, 2006)

3. Ketuban Pecah Dini (KPD)

   a. Pengertian

            KPD adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu, yaitu

      bila pembukaan pada primi kurang dari 3 cm dan pada
                                                                   17




  multipara kurang dari 5 cm. bila periode laten terlalu panjang

  dan ketuban sudah pecah, maka dapat terjadi infeksi yang

  dapat meningkatkan angka kematian ibu dan anak.

b. Penyebab

  1) Adanya hipermotilitas rahim yang sudah lama terjadi

     sebelum ketuban pecah

  2) Selaput ketuban tipis (kelainan ketuban)

  3) Infeksi

  4) Faktor-faktor lain yang merupakan predisposisi ialah

     multipara, malposisi, disproporsi, cervix incompetent dan

     lain-lain.

  5) Ketuban pecah dini artificial (amniotomi), dimana ketuban

     dipecahkan terlalu dini

c. Pengaruh

  1) Terhadap janin

     Walaupun ibu belum menunjukkan gejala-gejala infeksi

     tetapi janin mungkin sudah terkena infeksi, karena infeksi

     intrauterine lebih dahulu terjadi sebelum gejala pada ibu

     dirasakan.

  2) Terhadap ibu

     Karena jalan telah terbuka, maka dapat terjadi infeksi

     intrapartal, apalagi bila terlalu dieriksa dalam. Selain itu juga

     dapat dijumpai infeksi puerpuralis (nifas), peritonitis dan
                                                                     18




          septicemia. Ibu akan merasa lelah karena terbaring di

          tempat tidur, partus akan menjadi lama, maka suhu badan

          naik, nadi cepat dan nampaklah gejala-gejala infeksi.

   d. Penanganan

      1) Bila anak belum viable (kurang dari 36 minggu), penderita

          dianjurkan untuk beristirahat di tempat tidur dan berikan

          obat-obat antibiotika profilaksis, spasmolitika dan roboransia

          dengan tuuan mengundur waktu sampai anak viable

      2) Bila anak sudah viable (lebih dari 36 minggu), lakukan

          induksi partus 6-12 jam setelah fase laten dan berikan

          antibiotika profilaksis. Pada kasus-kasus tertentu dimana

          induksi partus dengan prostaglandin dan atau drips

          sintosinon gagal, maka lakukanlah tindakan operatif.

          Jadi, pada KPD penyelesaian persalinan bisa :

          a) Partus spontan

          b) Ekstraksi vakum

          c) Embriotomi bila anak sudah meninggal

          d) Seksio       caesarea   bila   ada    indikasi    obstetric

             (Mochtar,2002)

4. Kelainan letak janin

   Ada beberapa kelainan letak janin, yaitu :

   a. Kelainan letak kepala

      1) Kelainan letak kepala terdiri atas :
                                                                     19




     a) Presentase puncak kepala

     b) Presentase muka

     c) Presentase dahi

     d) Letak     belakang       kepala    Ubun-ubun     Kecil    (UUK)

        melintang

  2) Penyebab

     a) Kelainan panggul

     b) Kepala bentuknya bundar

     c) Anak kecil atau mati

     d) Kerusakan dasar panggul

  3) Penanganan

     a) Observasi untuk menunggu apakah bisa lahir spontan

        dengan pengawasan yang baik

     b) Coba reposisi menjadi letak belakang kepala atau letak

        muka

     c) Bila    ada   indikasi    dan     syarat   terpenuhi,    lakukan

        embriotomi dan bila janin hidup ditambah indikasi

        lainnya, lakukan sectio caesarea.(Mochtar, 2002)

b. Letak sungsang

  1) Pengertian

     Letak sungsang yaitu janin yang letaknya memanjang

     (membujur) dalam rahim, kepala berada di fundus dan

     bokong di bawah.
                                                              20




2) Klasifikasi

   a) Letak bokong : letak bokong dengan kedua tungkai

       terangkat ke atas.

   b) Letak sungsang sempurna : letak bokong dimana kedua

       kaki ada disamping bokong

   c) Letak lintang tidak sempurna : adalah letak sungsang

       dimana selain bokong bagian yang terendah juga kaki

       atau mulut.

3) Penyebab

   a) Fiksasi kepala pada pintu atas panggul tidak baik atau

       tidak ada

   b) Janin      mudah   bergerak    seperti   pada   hidramnion,

       multipara, janin kecil ( prematur)

   c) Gemeli (kehamilan ganda)

   d) Kelainan uterus

   e) Janin sudah lama mati.(Sastrawinata, 2004)

4) Penanganan

   Bayi dengan letak sungsang dapat dilahirkan dengan :

   a) Partus spontan

   b) Ekstraksi vakum dan forceps

   c) Secsio caesarea.(Mochtar, 2002)
                                                                  21




  c. Letak lintang

     1) Pengertian

        Letak     lintang   adalah   bila   sumbu   memanjang   janin

        menyilang sumbu memanjang ibu secara tegak lurus atau

        mendekati 90◦

     2) Penyebab

        a) Fiksasi kepala tidak ada karena panggul sempit,

            hidrosefalus, anensefalus, plasenta previa dan tumor-

            tumor pelvis

        b) Janin sudah bergerak pada hidramnion, multiparitas,

            anak kecil atau sudah mati.

     3) Penanganan

        a) Janin dapat dilahirkan secara pervaginam, yaitu dengan

            versi dan ekstraksi.

        b) Embriotomi bila janin sudah meninggal

        c) Secsio caesarea.(Mochtar, 2002)

5. Makrosomia

  a. Pengertian

     Makrosomia (bayi besar) yaitu bila berat badan melebihi dari

     4.000 gram

  b. Penyebab

     1) Keturunan atau bayi yang lahir terdahulu besar dan sulit

        melahirkan dan adanya diabetes mellitus
                                                                          22




      2) Kenaikan berat badan yang berlebihan

   c. Penanganan

      1) Pada CPD yang sudah diketahui dianjurkan seccio

         caesarea

      2) Pada kesukaran melahirkan bahu dan janin hidup dilakukan

         episiotomi yang cukup lebar dan janin diusahakan lahir,

         atau     bahu   diperkecil   dengan     melakukan     kleidotomi

         unilateral atau bilateral. Setelah dilahirkan dijahit kembali.

      3) Apabila janin meninggal lakukan embriotomi

6. Primigravida

   Primigravida berisiko terbagi menjadi 2 yaitu :

  a. Primigravida tua

            Primigravida    tua   disingkat    primitua   adalah   wanita

      pertama kali hamil dan berusia lebih dari 30 tahun. Kematian

      maternal meningkat pada wanita hamil dan melahirkan dengan

      usia lebih dari 30 tahun. Pada primigravida yang berumur lebih

      dari 30 tahun, otot-otot alat kandungan sudah menjadi kaku

      sehingga dapat terjadi partus lama. Pada primigravida tua

      mengandung lebih banyak risiko dari pada primigravida biasa.

      Sehubungan dengan itu primigravida tua termasuk golongan

      risiko besar. Penyulitan-penyulitan yang sering timbul pada

      primigravida tua pada waktu kehamilan adalah pre-eklamsia,

      partus premature. Pada waktu partus sering terjadi kesukaran
                                                                       23




      partus yang dapat disebabkan oleh karena kelainan his,

      terutama his yang bersifat hipertonik, otot-otot jalan lahir yang

      kaku dapat menyebabkan partus lama.

             Pada primigravida tua kematian bayi perinatal tinggi yang

      biasa terjadi pada waktu partus atau beberapa hari kemudian

      setelah partus.(Wiknjosastro, 2006).

  b. Primigravida muda

             Primigravida   muda    atau    primimuda     adalah    wanita

      pertama kali hamil dan berusia kurang atau sama dengan 16

      tahun. Pada primimuda mengandung lebih banyak risiko dari

      pada     kehamilan    primigravida       biasa.   Pada   primimuda

      perkembangan alat-alat kandungan sesungguhnya belum

      sempurna, sehubungan dengan itu pada primimuda banyak

      timbul    penyulit-penyulit    seperti     yang    dijumpai    pada

      primitua.(Manuaba, 2006)

7. Grandemultipara

       Grandemultipara adalah seorang ibu hamil yang pernah

  melahirkan lima kali atau lebih bayi aterm dengan keadaan bayi

  hidup atau mati. Kehamilan pada grandemultipara mengandung

  lebih banyak risiko dari pada kehamilan multipara lainnya, baik

  untuk ibu maupun untuk bayi.(Salmah,dkk, 2006)

       Karena seringnya melahirkan, maka pada grandemultipara

  sering   terdapat   hal-hal   seperti   kesehatan     tergangu    karena
                                                                      24




       anemia/kurang gizi, kekendoran dinding perut rahim. Keadaan

       tersebut dapat mudah menimbulkan berbagai penyulit partus yang

       disebabkan karena perut menggantung, kelainan letak, robekan

       rahim, perdarahan pasca partus.(Manuaba, 1998).


C. Landasan Teori

  1. Primigravida

           Adalah seorang wanita yang hamil untuk pertama kali. Dalam

     keadaan normal pada primigravida pada waktu akhir kehamilan (37

     minggu keatas atau permulaan persalinan aterm), kepala janin sudah

     turun dalam rongga panggul. Dalam hal demikian dapat ditentukan

     bahwa ada keseimbangan antara besar kepala janin dan ukuran

     panggul.

  2. Grandemultipara

           Adalah seorang ibu hamil yang pernah melahirkan lima kali

     atau lebih bayi aterm dengan keadaan bayi hidup atau mati.

     Kehamilan pada grandemultipara mengandung lebih banyak risiko

     dari pada kehamilan multipara lainnya, baik untuk ibu maupun untuk

     bayi.(Salmah,dkk, 2006).

  3. KPD (ketuban pecah dini)

           Air ketuban mempunyai fungsi melindungi janin terhadap

     trauma dari luar, memungkinkan janin bergerak dengan bebas,

     melindungi suhu tubuh janin, sehingga bila ketuban pecah sedangkan

     belum ada tanda-tanda inpartu resiko terjadinya infeksi lebih tinggi

     dan   bisa     mempengaruhi   keadaan   dalam   vagina   yang   bisa

     menyebabkan terjadinnya partus lama (Syaifuddin, 2002)
                                                                 25




D. Kerangka Konseptual




               Umur ibu




            PAritas ibu                                    PARTUS LAMA




               Kpd




     Keterangan :

     Variabel Independent   : umur ibu, paritas ibu, KPD

     Variabel Dependent     : Partus Lama
                                                                       26




E. Hipotesis Penelitian

          Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai

   berikut :

   1. Hipotesis Nol (H0)

      a. Tidak ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian partus lama

      b. Tidak ada hubungan antara paritas ibu dengan kejadian partus

         lama

      c. Tidak ada hubungan antara KPD dengan kejadian partus lama

   2. Hipotesis Alternatif (Ha)

      a. Ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian partus lama

      b. Ada hubungan antara paritas ibu dengan kejadian partus lama

      c. Ada hubungan antara KPD dengan kejadian partus lama
                                                                          27




                                   BAB III

                          METODE PENELITIAN


A. Jenis Penelitian

        Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan

   rancangan Case Control, yaitu dimana untuk melihat apakah ada

   hubungan antara umur ibu, paritas ibu dan KPD (ketuban pecah dini)

   terhadap kejadian Partus Lama

B. Waktu dan Tempat Penelitian

        Penelitian ini akan dilaksanakan di rumah Sakit Umum Provinsi

   Sulawesi Tenggara, Pada bulan Oktober-November 2011.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

   1. Populasi dalam penelitian ini adalah       semua ibu bersalin yang

      terdaftar dalam buku register rawat inap di ruang Delima RSU Provinsi

      Sulawesi Tenggara Tahun 2011 sebanyak 1405 orang ibu bersalin

   2. Sampel dalam penelitian ini adalah semua ibu bersalin dengan partus

      lama di RSU Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2011yang terdapat

      dalam buku register rawat inap dimana didapatkan sampel sebanyak

      60 atau 4,98% ibu bersalin. Dengan criteria kasus control yaitu :

   Kasus : Ibu yang melahirkan partus lama yang tercatat dalam buku

            register di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Umum Provinsi

            Sulawesi Tenggara tahun 2011 sebanyak 60 ibu bersalin

   Kontrol : Ibu yang melahirkan bukan partus lama yang tercatat dalam

            buku register di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Umum Provinsi

            Sulawesi Tenggara tahun 2011 sebanyak 1405 ibu bersalin
                                                                           28




D. Variabel Penelitian dan definisi Operasional

   1. Variabel Terikat (Dependent Variabel)

      Partus Lama adalah fase terakhir dari suatu partus yang macet dan

      berlangsung terlalu lama.

      Kriteria objektif :

      a. Partus lama               : Primigravida : > 24 jam

                                    Multigravida : > 18 jam

      b. Bukan partus lama         : Primigravida : ≤ 24 jam

                                    Multigravida : ≤ 18 jam

  2. Variabel Bebas (Independent Variabel)

     a. Umur Ibu

        Umur ibu adalah usia ibu yang dihitung berdasarkan ulang tahun

        terakhir, dikaegorikan :

        1) Umur Berisiko : < 20 tahun dan > 35 tahun

        2) Umur Sehat              : 20 tahun – 35 tahun.(Manuaba, 1998)

      b. Paritas Ibu

        Paritas adalah jumlah keseluruhan anak yang telah lahir, baik hidup

        maupun yang telah meninggal, dikategorikan :

        1) Paritas Berisiko        : 1 dan > 4

        2) Paritas Tidak berisiko : 2 – 4.(Winkjosastro, 2000)

      c. KPD (Ketuban Pecah Dini)

        KPD yaitu pecahnya ketuban sebelum inpartu

        Kriteria obyektif :
                                                                           29




         1) Risiko          : Primigravida        : Pembukaan < 3 cm

                             Multigravida         : Pembukaan < 5 cm

         2) Tidak berisiko : Primigravida         : Pembukaan > 3 cm

                             Multigravida         : Pembukaan > 5 cm


E. Pengumpulan Data

           Data yang dikumpulkan adalah data sekunder yang diambil dari

   buku register rawat inap ibu bersalin di Rumah Sakit Umum Provinsi

   Sulawesi Tenggra periode Januari-September Tahun 2011.


F. Teknik Pengumpulan Data

          Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data yang

   diperoleh dari medical record Rumah Sakit Umum Povinsi tahun 2011

   yang meliputi data ibu bersalin dengan partus lama dan bukan partus

   lama berdasarkan Umur, Paritas,dan yang KPD.


G. Instrumen Penelitian

        Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembaran

   check list.


H. Pengolahan dan Analisis Data

   1. Pengelolaan Data

            Data     yang   diperoleh    diolah    secara   manual     dengan

      menggunakan kalkulator dan disajikan dalam bentuk tabel yang

      dipresentasekan dan diuraikan dalam bentuk narasi.
                                                                            30




2. Analisis Data

   a. Analisis Univariat

           Analisis Univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran

      umum dengan cara mendeskripsikan tiap-tiap variabel yang

      digunakan dalam penelitian yaitu dengan melihat gambaran

      distribusi frekuensi dengan menggunakan rumus :




       Keterangan : f = Frekuensi

                         P = Persentase

                         N = Jumlah Populasi

   b. Analisis Bivariabel

           Untuk    mendeskripsikan        hubungan      antara   independent

      variabel dan Dependent variabel. Uji statistik yang digunakan

      adalah chi square. Adapun rumus chi square yang digunakan

      adalah :




      Keterangan : ∑       = Jumlah

                           = Nilai Chi Square

                    f0      = Nilai   frekuensi   yang   diobservasi   /   nilai

                              pengumpulan data

                    fe      = Nilai frekuensi yang diharapkan
                                                                 31




      Besarnya pengaruh independent variable terhadap dependent

variable dilihat dari hasil perhitungan nilai OR (odd Ratio). Adapun

rumus yang digunakan untuk OR (odd ratio) adalah :

               OR =     , (Sastroasmoro, 1995)

Keterangan :

               A = Kasus yang mengalami pajanan

               B = Kontrol yang mengalami pajanan

               C = Kasus yang tidak mengalami pajanan

               D = kontrol yang tidak mengalami pajanan
                                                                           32




                            DAFTAR PUSTAKA


Arikunto S, 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik Edisi Revisi
             VI. Jakarta

Depkes RI, 2003. Angka Kematian Ibu di Indonesia. Jakarta

_________, 2006. Standar Pelayanan Kebidanan. Jakarta

_________, 2009. Komplikasi Partus, Litbang Depkes

Manuaba,IBG. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga

                     Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.

____________, 2002. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga

                      Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.

____________, 2006. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga

                      Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.

Maphia., 2011. Asuhan Kebidanan Patologis pada Ibu Bersalin Dengan
        Partus Lama Terhadap Ny. “S” .http://maphiablack.blogspot.com.
        Diakses 10 maret 2011.

Mochtar, R., 2006. Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologis
             Jilid 3 .Jakarta: EGC.

__________, 2002. Sinopsis Obstetri Fisiologi dan Patologi. Jakarta: EGC

Notoadmojo., 2002. Metodologi penelitian Kesehatan.Jakarta: Rineka Cipta.

Prawirohardjo S. 2000. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka, Jakarta

Salmah, dkk. 2006. Asuhan Kebidanan Antenatal. EGC. Jakarta

Sastroasmoro S, 1995. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta:
                Binanonapa Aksara

Sastrawinata S, 2004. Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi.
                Bandung : EGC

Syaifuddin AB, 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal

Syamsul, 2009. Repository.USU.AC.ID/123456789/6481/1/Obstetri-Syamsul
                                                                      33




Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sasworo Prawirohardjo

Winkjosastro H, 2006. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta

								
To top