contoh verbatim BK

Document Sample
contoh verbatim BK Powered By Docstoc
					Lampiran 15
                                                                                   185




                      Verbatim Pelaksanaan Diskusi Kelompok

   1.   Pertemuan pertama
        Hari/tanggal    : Selasa, 31 Mei 2011
        Pukul           : 11.30-13.00 WIB

         Nama                                  Percakapan/respon
    Konselor           “Assalamu’alaikum wr. wb. Selamat siang semuanya”
    Semua konseli      “Wa’alaikumussalam wr. Wb. Selamat siang juga, bu”
    Konselor           “Bagaimana kabarnya hari ini?”
    Semua konseli      “Alhamdulillah baik, bu”
    Ko 5               “Sebenarnya kita mau diapain sih bu, ko dikumpulin?”
    Konselor           “Mau dihukum karena kalian nakal”
    Ko 2               “Beneran bu?”
    Konselor           “Ibu cuma bercanda. Kalian nggak akan diapa-apain. Kita
                       disini akan ngomong-ngomong aja, saling bertukar pikiran”
    Ko 3               “Kita lega kalau begitu, bu”
    Konselor           “Sebelum kita mulai kegiatan kita siang ini, mari kita berdo’a
                       bersama agar apa yang kita lakukan dapat berjalan dengan
                       lancar, dan juga memberi manfaat bagi kita. Berdo’a mulai”
    Semua konseli      “Amiiin. (Konseli berdo’a bersama)”
    Konselor           “Sekarang mari kita mulai kegiatannya. Pasti masih bertanya-
                       tanya kan kenapa kalian ada disini?”
    Ko 5               “Iya, bu”
    Ko 4               “Bu, kenapa cuma kami berlima yang mengikuti kegiatan
                       ini?”
    Kons               “Apa yang lain juga berpikir demikian?”
    Semua konseli      “Iya, bu”
    Konselor           “Apa kalian ingat beberapa hari yang lalu ibu menyebarkan
                       angket di kelas kalian?”
    Semua konseli      “(Terlihat berpikir sejenak) iya, bu”
    Konselor           “Dari hasil angket itu kalian yang terpilih untuk mengikuti
                       kegiatan ini”
    Ko 2               “Angketnya tentang apa sih, bu. Saya lupa (sambil
                       tersenyum)”
    Ko 1, 3, 4, 5      “hu..........dasar pelupa”
    Konselor           “Angketnya tentang bimbingan dan konseling. Tahu kan apa
                       itu BK?”
    Ko 1               “Seperti bu tari ya”
    Konselor           “benar sekali. Jadi, dari hasil angket itu diketahui kalau kalian
                       itu termasuk yang kurang tertarik untuk memanfaatkan BK di
                       sekolah ini dibanding teman-teman yang lain”.
    Ko 4               “He...he...he..., iya, bu”
                                                                         186




Konselor         “Karena itu, kalian terpilih untuk mengikuti kegiatan ini.
                Namanya diskusi kelompok. Sudah tau kan apa itu diskusi
                kelompok?”
Ko 5            “Seperti diskusi di kelas ya, bu?”
Konselor        “Benar. Jadi, nanti disini kita akan membahas berbagai topik,
                saling bertukar pikiran, berbagi pengalaman, saling memberi
                saran”
Ko 3            “Sepertinya asyik, bu”
Konselor        “Tentu saja. Nanti kalian kan bisa saling tanya, mengutarakan
                pendapat, sehingga nanti kita bisa mendapatkan manfaat dari
                apa yang kita bahas pada hari ini. Apa kalian sudah mengerti?
                ”
Semua konseli   “Iya, bu”
Konselor        “Wah, ibu sampai lupa. Kan kita belum kenalan ya. Kalau
                kalian pasti sudah saling kenal, tapi ibu kan belum. Kata
                pepatah, tak kenal maka tak sayang”
Ko 2            “Iya, bu. Kemarin kan ibu kenalin diri di kelas cuma sekilas
                aja. Jadi, taunya Cuma ibu Novi. Kalau ibu pasti belum kenal
                dan hafal sama kita semua”
Ko 4            “Benar banget, bu”
Konselor        “Baiklah kalau begitu kita saling kenalan dulu, nanti saling
                menyebutkan nama, asal daerah, hobby, juga cita-cita.
                Bagaimana menurut kalian?”
Semua konseli   “Setuju, bu”
Ko 3            “Kalau ditambah motivasi masuk sekolah ini gimana, bu?”
Konselor        “Boleh juga. Bagaimana menurut yang lain?”
Konseli         “Boleh, bu”
Konselor        “Baiklah, sekarang mulai dari ibu ya kenalannya. Nama
                panjang ibu Novia Silviani, tapi cukup panggil bu Novi.
                Asalnya dari desa Tracal. Hobby ibu baca buku. Cita-citanya
                ingin menjadi guru. Sekarang giliran kalian memperkenalkan
                diri”
Ko 3            “Mulai dari saya aja, bu. Nama saya ANH. Asalnya dari
                Temanggungan. Hobby saya sepak bola. tapi bercita-cita
                menjadi dokter. Motivasi masuk sekolah ini karena ingin
                menjadi orang yang mandiri. Sekian dari saya”
Konselor        “Selanjutnya siapa?”
Ko 4            “Saya, bu. Nama IDS dan berasal dari Laren, Lamongan.
                Hobby saya bermain sepak bola. Kalau cita-cita ingin mejadi
                pemain sepak bola spesialis kiper. Kalau motivasi masuk
                sekolah ini adalah disuruh orang tua dan ingin mandiri, sama
                seperti Anas”
Ko 2            “Sekarang giliran saya. Nama AL. Asalnya dari Made,
                                                                         187




                Lamongan. Hobby makan, main apa aja, tidur, sama baca
                buku. Kalau cita-cita saya ingin menjadi ahli sastra. Kalau
                motivasi sih sama bu seperti lainnya, karena disuruh orang tua
                dan ingin menjadi anak yang berakhlak baik”
Ko 4            “Tapi tetep aja jadi brandalan,, he...he...”
Konselor        “Eh, nggak boleh gitu. Masak temannya dibilang berandalan
                sih”
Ko 2            “Tau ne, bu. Sirik aja”
Konselor        “Hati-hati, sirik-sirik ntar jadi suka lo”
Semua konseli   “Betul, bu”
Konselor        “Sudah-sudah. Selanjutnya siapa?”
Ko 1            “Saya, bu. Nama ZE. Asal lamongan tercinta. Hobby
                membaca. Menulis, menggambar. Cita-cita ingin jadi arsitek.
                Kalau motivasi masuk sekolah ini karena disuruh orang tua,
                ingin mandiri, dan ingin lebih mengerti agama.
Konselor        “Tinggal satu yang imut ini”
Ko 5            “Makasih bu dibilang imut. Nama YAK. Asalnya Njabung,
                Lamongan juga. Hobby baca buku sama tidur. Kalau cita-cita
                ingin jadi guru. Kalau motivasi masuk sekolah ini sama saja
                dengan yang lain, disuruh orang tua dan ingin lebih mandiri”
Konselor        “Kalau saling kenal kan lebih enak ngobrolnya, gak canggung
                lagi. Jadi ibu harap nanti kalian semua gak usah malu-malu
                lagi kalau mau ngomong, gak akan ada penilaian ko, tenang
                saja (sambil tersenyum)”
Semua konseli   “Iya, bu”
Konselor        “sekarang apa kalian sudah siap untuk memulai kegiatannya?”
Semua konseli   “Siap, bu”
Konselor        “Baiklah, sekarang ibu ingin tahu, tadi katanya kalian sudah
                tau BK. Menurut kalian BK itu apa sih? Siapa yang ingin
                menjawab lebih dulu?”
Ko 2            “Saya, bu. Kalau menurut saya BK itu tempat menghukum
                siswa yang nakal”
Ko 1            “Benar, bu. Kalau ada yang melakukan pelanggaran pasti
                ujung-ujungnya dibawa ke ruang BK”
Ko 5            “Ya, memang tugas BK kan menghukum siswa, bu. Kasih
                poin gitu”
Konselor        “Kalau menurut Anas, BK itu apa?”
Ko 3            “Sama, bu. BK itu tugasnya menghukum siswa”
Ko 4            “Idem, bu. Tapi menurut saya tidak seperti itu juga, bu”
Konselor        “Tidak seperti itu bagaimana maksudnya?”
Ko 4            “Ya, terkadang guru BK itu baik, kasih masukan-masukan
                gitu. Kata teman sih, bu yang pernah dibawa ke ruang BK”
Konselor        “Oh, begitu. Tapi menurut kalian semua secara garis besar BK
                                                                        188




                itu tempat menghukum siswa, apa benar seperti itu?”
Semua konseli   “Benar, bu”
Konselor         “Tapi apa yang tadi dikatakan oleh Indra benar juga, bahwa
                guru BK memberi masukan-masukan. Sebenarnya, bukan
                hukuman yang diberikan bagi siswa yang melakukan
                pelanggaran dan dibawa ke ruang BK, tetapi “obat” agar tidak
                melaukan pelanggaran lagi”
Ko 3            “Tapi pas SMP mesti dikasih hukuman, bu. Disuruh push up,
                nulis kata-kata sampai ratusan baris. Itu kan hukuman bu
                namanya”
Ko 2            “Pengalaman pribadi ya? He...he...he...”
Ko 3            “Pengalaman teman juga”
Konselor        “Benar juga, tapi sebenarnya itu bukanlah pekerjaan dari guru
                BK. Siswa yang dibawa ke ruang BK bila melakukan
                pelanggaran biasanya diberi resep agar tidak melakukan
                pelanggaran lagi”
Ko 5            “Jadi tidak selalu dapat hukuman ya, bu?”
Konselor        “Tepat sekali. Jadi kalian sudah mengerti kan kalau BK itu
                bukan tempat memberi hukuman?”
Semua konseli   “Iya, bu”
Konselor        “Apa kalian merasa takut dengan BK?”
Semua konseli   “Iya, bu”
Konselor        “Kompak banget jawabnya. Memangnya kenapa? Kan bukan
                monster, kok takut?”
Ko 5            “Kan seperti polisi bu, tempat siswa nakal”
Ko 4            “Iya, bu. Suka kasih hukuman”
Konselor        “Kalau yang lain?”
Ko 1, 2, 3      “Ya sama, bu”
Konselor        “Intinya kalian semua ini takut dengan BK di sekolah?”
Semua konseli   “Iya, bu”
Konselor        “Tapi menurut kalian, perlu nggak ada BK di sekolah?”
Ko 4            “Perlu sih, bu. Biar anak-anak nakal itu menjadi jera”
Ko 2            “Yap, setuju bu.”
Konselor        “Kalau menurut yang lain, gimana?”
Ko 1, 3, 5      “Sama, bu”
Konselor        “Bukannya kalian takut dengan BK, kok menganngap kalau
                BK masih perlu di sekolah?”
Ko 2            “Kalau nggak ada BK, ntar siapa bu yang nanganin anak-anak
                nakal?”
Ko 3            “Benar, bu”
Konselor        “Jadi menurut kalian, BK itu hanya tempat anak-anak yang
                nakal?”
Ko 4            “Kurang lebih sih begitu, bu”
                                                                       189




Ko 1            “Tapi apa kita bisa curhat bu sama guru BK? Kata teman ko
                bisa, bu.”
Konselor        “Tentu saja bisa. Memangnya kalian tidak pernah curhat ke
                guru BK?”
Semua konseli   “Tidak pernah, bu”
Ko 5            “Terus apa lagi yang bisa kita dapat dari guru BK, bu?”
Konselor        “Kita bisa dapat berbagai informasi dari guru BK. Misalnya
                tentang gimana cara belajar yang baik”
Ko 3e           “Multifungsi dong, bu”
Konselor        “Ya, bisa dibilang seperti itu”
Ko 2            “Apa masih ada fungsi lain dari guru BK, bu?”
Konselor        “Tentu saja. Apa kalian mau tahu?”
Semua Konseli   “Iya, bu”
Konselor        “Kalau begitu, bagaimana kalau kita bertemu lagi lain waktu
                dan membahas tentang BK lebih lanjut?”
Ko 2            “Setuju, bu. Bagaimana kalau hari sabtu depan, bu?”
Konselor        “Bagaimana yang lainnya?”
Ko 1            “Ok, bu”
Ko 3            “ Setuju, bu”
Ko 4            “ Idem, bu”
Ko 5            “Sama, bu”
Konselor        “Baiklah, kita bertemu lagi sabtu depan untuk membahas BK
                lebih lanjut. Semoga pertemuan kita hari ini bisa merubah
                sedikit pandangan kalian tentang momok BK di sekolah
                menjadi sesuatu yang tidak menakutkan”
Ko 1            “Sedikit, bu”
Konselor        “Kalau begitu, mari kita akhiri kegiatan ini dengan do’a.
                Semoga apa yang kita lakukan hari ini bermanfaat bagi
                semuanya. Berdo’a dimulai”
                (konselor dan konseli berdo’a bersama)
                Tterima kasih atas kedatangannya dan kesediaannya. Sampai
                jumpa sabtu depan ya. Assalamu’alaikum...........
Semua konseli   “Wa’alaikumussalam..... Sampai juga, bu”
                (konselor dan konseli saling berjabat tangan)
                                                                            190




2.   Pertemuan Kedua
     Hari/tanggal    : Sabtu, 04 Juni 2011
     Pukul           : 11.30-13.00 WIB

     Nama                                     Percakapan
 Konselor          “Assalamu’alaikum wr. wb”
 Semua Konseli     “Wa’alaikumussalam wr. wb.”
 Konselor          “Apa kabar semuanya? Kita ketemu lagi hari ini. Semoga
                   semuanya sehat wal afiat”
 Semua Konseli     “Iya, bu. baik”
 Ko 1              “Semua sehat, bu. Kalau ibu sendiri gimana kabarnya?”
 Konselor          “Alhamdulillah baik juga”
 Ko 4              “Kita mau bahas tentang BK lagi ya, bu?”
 Konselor          “Iya, memangnya kenapa? Apa kamu merasa bosan?”
 Ko 4              “Nggak, bu. Malah senang, bikin penasaran, bu”
 Konselor          “Apa yang lain penasaran juga dengan topik bahasan kita hari
                   ini?”
 Semua Konseli     “Iya, bu”
 Konselor          “Baiklah kalau begitu. Sebelum kita mulai kegiatannya, mari
                   berdo’a dulu agar kegiatan kita ini lancar tanpa ada halangan
                   apa pun”
                   (konselor dan konseli berdo’a bersama)
                   “Sebelum kita mulai kegiatannya, gimana kalau kita main-main
                   dulu biar lebih fresh, lebih segar. Bagaimana?”
 Semua konseli     “Setuju, bu”
 Ko 3              “Tapi main apa, bu?”
 Konselor          “Apa kalian ada ide?”
 Ko 2              “Main tebak kelipatan angka aja, kan seru tuh”
 Ko 5              “Apa nggak ada yang lain, bosan itu terus”
 Ko 1              “Apa ibu punya ide?”
 Konselor          “Ibu ada ide permainan “kesan pertama”. Tapi karena kalian
                   sudah kenal lama, bagaimana kalau kita kasih nama “kesan
                   sahabat lama”?”
 Semua Konseli     “Iya, bu.”
 Ko 5              “Bagaimana bu mainnya?”
 Konselor          “Pertama, kalian tulis nama masing-masing secara vertikal
                   (tegak lurus) dikertas bagian kiri, cukup nama panggilan saja.
                   Sedangkan dibagian kanan adalah kesan atas nama teman
                   kalian. Setelah itu, rekatkan dipunggung masing-masing. Nanti,
                   kalian silahkan melanjutkan huruf yang tertulis dipunggung
                   teman kalian. Apa sudah mengerti?”
 Ko 2              “Belum, bu. Tolong kasih contoh dulu”
 Konselor          “Baiklah. Misalnya namanya BUDI.
                                                                           191




                (nama)       (kesan)
                B            aik
                U            rakan sedikit
                D            ekat dengan teman lain
                I             imut orangnya
                (konselor memberi contoh dengan kertas).
                “gimana, apa sudah mengerti?”
Semua Konseli   “Sudah, bu”
Konselor        “Baiklah, sekarang kita mulai”
                (Konselor dan konseli bermain “kesan sahabat lama”)
Konselor        “Bagaimana permainan tadi?”
Ko 1            “Seru, bu. Jadi ingin ketawa terus”
Ko 2            “Benar, bu. Lucu aja. Ternyata nama kita bisa dipanjangin jadi
                seperti itu”
Ko 3            “Jadi segar beneran, bu. Nggak suntuk lagi”
Ko 5            “Iya, bu. Lebih semangat aja”
Ko 4            “Iya, bu. Ketawa bikin kita semangat”
Konselor        “Kalau begitu, apa kalian siap melanjutkan kegiatan kita hari
                ini?”
Semua Konseli   “Siap, bu”
Konselor        “Baiklah. Kemarin kan kita sepakat untuk mengetahui lebih
                lanjut tentang BK. Sekarang kita akan bahas masalah-masalah
                yang sering kalian alami di sekolah”
Ko 3            “Apa hubungannya dengan BK, bu?”
Konselor        “Katanya kemarin kalau bermasalah, melakukan pelanggaran
                dibawa ke ruang BK”
Ko 3            “Iya sih, bu”
Konselor        “Sekarang silahkan mengungkapkan pendapat kalian tentang
                masalah-masalah yang sering kalian alami di sekolah. Siapa
                yang mau mulai duluan?”
Ko 1            “Saya aja, bu. Menurut saya mbolos, paling banyak itu telat, bu.
                Hampir tiap hari ada aja yang telat”
Konselor        “Ayo yang lainnya, bagaimana menurut kalian?”
Ko 3            “Sama, bu. Paling banyak itu telat. Maklum bu kita kan
                sekolahnya masuk jam setengah 06.15 WIB pagi”
Ko 5            “Iya, bu. Nggak pernah ada hari tanpa telat, bu”
Ko 4            “Sip, benar banget bu. Tapi ada yang bolos juga, bu. Biasanya
                setelah jam istirahat nggak balik lagi ke sekolah.”
Konselor        “Baiklah, kalau begitu menurut kalian masalah yang sering
                dihadapi itu telat sama mbolos ya?”
Ko              “Iya, bu”
Konselor        “Terus gimana sama anak-anak yang bolos dan telat itu?”
Ko 2            “Kalau telat itu namanya dicatat, trus disuruh sit up, bu. Kalau
                                                                     192




           bolos sekali sepertinya masih dibiarkan saja. Tapi kalau lebih
           dari sekali pasti ditindak”
Konselor   “Bentuk tindakannya seperti apa?”
Ko 2       “Dibawa ke BK, bu. Gak tau diapain. Makanya banyak yang
           mikir kalau BK itu ruang hukuman, bu. Soalnya setiap siswa
           yang bermasalah pasti berhubungan sama BK”
Konselor   “Kalau eva, apa pernah telat juga?”
Ko 1       “Pernah, bu. Tapi tidak sampai dibawa ke ruang BK. Paling
           dihukum sit up di lapangan sama SPD”
Konselor   “Apa itu SPD?”
Ko 1       “School Police Department, tu bagian yang nyatat siswa telat,
           bu. Mereka yang kasih poin”
Konselor   “Berapa poin sekali telat?”
Ko 5       “Tiga poin, bu”
Konselor   “Kalau Adha?”
Ko 2       “Pernah, bu. Tapi nggak sampai berurusan dengan BK”
Konselor   “Kalau telat itu sebabnya apa?”
Ko 2       “Malas bangun, bu”
Konselor   “Kalau Yuli gimana?”
Ko 5       “Sama seperti Adha, bu”
Ko 3       “Tapi kalau yang laki-laki itu kadang terlalu siang selesai
           mengaji subuhnya. Masak jam 06.10 WIB baru selesai bu.
           padahal jam 06.15 sudah harus masuk sekolah”
Konselor   “Karena hal itu makanya banyak yang telat?”
Ko 4       “Nggak, bu. kadang baju seragam kita diserobot teman lain, bu.
           kadang ada yang ikat pinggangnya hilang, itu main ambil saja
           bu punya orang. Kalau kita pake atribut nggak lengkap kan
           kena hukuman”
Ko 2       “Iya, bu. juga terlalu pagi jam masuknya”
Konselor   “Jadi banyak yang telat itu karena malas bangun, waktu selesai
           mengaji yang terlalu siang, juga atribut sekolah yang dipakai
           teman lain, begitu?”
Ko         “Iya, bu”
Konselor   “Memangnya tidak disimpan dengan rapi kok bisa sampai
           diserobot teman lain?”
Ko 3       “Sudah, bu. Tapi kadang digantung dibelakang kamar bu, kan
           ada tempat untuk gantungin baju”
Konselor   “Oh, begitu. Selain dikasih poin, gimana dengan siswa yang
           telat dan bolos? ”
Ko 5       “Kalau sudah maksimal poinnya dibawa ke ruang BK, paling
           diceramahin”
Ko 2       “Jengkel bu kalau diceramahin”
Konselor   “Kenapa jengkel, bukannya kalian sendiri yang membuat diri
                                                                          193




                kalian dapat poin?”
Ko 2            “Iya sih, bu”
Konselor        “Kalau tidak mau dapat poin berarti harus disiplin, benar
                begitu?”
Semua konseli   “Iya, bu”
Ko 4            “Tapi kenapa kalau siswa melakukan pelanggaran harus dibawa
                ke BK, bu? Kan itu yang bikin kita takut”
Konselor        “Kenapa mesti takut? Kan setiap siswa yang dipanggil ke ruang
                BK tidak selalu dikasih hukuman, tapi lebih banyak dibantu
                agar selesai masalahnya”
Ko 3            “Disorakin teman bu kalau dari BK, pasti dikatain anak nakal,
                apalagi dipanggil lewat pengeras suara, jadi satu sekolah bisa
                tahu”
Konselor        “Apa kamu merasa menjadi anak nakal kalau dipanggil ke
                ruang BK?”
Ko 3            “Ya, bu”
Konselor        “Kalau ada yang bilang kamu nakal, bukan berarti kamu seperti
                itu kan. Kamu harus tunjukkan kalau apa yang mereka katakan
                itu salah”
Ko 3            “Benar juga, bu”
Konselor        “Kalau menurut kalian, diceramahin oleh guru BK, banyak
                manfaat atau ruginya?”
Ko 4            “Menurut saya banyak manfaatnya, bu”
Konselor        “Misalnya?”
Ko 4            “Kalau kita sering telat, kita dibantu agar tidak telat lagi”
Konselor        “Kalau yang lainnya gimana?”
Ko 1            “Sama, bu. Kita kadang dikasih motivasi”
Ko 5            “Iya, bu. Kadang kalau bu Tary masuk kelas, kita minta dikasih
                motivasi pasti dikasih”
Konselor        “Misalnya motivasi tentang apa?”
Ko 5            “Misalnya saja tentang cara agar betah tinggal di asrama, bu”
Ko 2            “Yap, kadang saya juga merasa kalau BK bukanlah tempat
                seburuk itu”
Konselor        “Jadi, menurut kalian selain memberi hukuman, guru BK juga
                bisa memberi kalian motivasi, benar seperti itu?”
Semua konseli   “Benar, bu”
Konselor        “Kalian sudah bisa mengerti sedikit gambaran tentang BK. Apa
                kalian sudah mau memanfaatkan BK di sekolah?”
Ko 1            “Masih merasa takut, bu.”
Ko 3            “Benar, bu. Masih was-was”
Konselor        “Kalau Adha sama Indra bagaimana?”
Ko 2            “Sama, bu. Masih sedikit khawatir kalau harus berurusan
                dengan BK”
                                                                           194




Ko 4            “Saya juga sama, bu”
Konselor        “Yuli bagaimana?”
Ko 5            “He...he... sama, bu. Masih takut”
Konselor        “Jadi semuanya masih merasa takut ya dengan BK?”
Ko              “Iya, bu”
Konselor        “Baiklah kalau begitu. kira-kira dari pembicaraan kita hari ini,
                apa yang dapat kita ambil menurut kalian?”
Ko 4            “Jadi tau bu gimana BK sebenarnya, meski baru sedikit”
Ko 5            “Iya, bu. Hilang dikit bu takutnya”
Konselor        “Kok cuma sedikit hilang takutnya?”
Ko 5            “Kan baru tau sedikit, bu”
Konselor        “Kalau yang lainnya gimana?”
Ko 1            “Iya, bu. Jadi agak nggak negatif lagi pandangannya ke BK dan
                gurunya”
Ko 2            “Meski masih agak takut, tapi BK itu nggak seburuk yang
                dibilang orang-orang, bu”
Ko 3            “Benar, bu. Sepertinya kita bisa dapat banyak informasi dari
                BK”
Konselor        “Baiklah kalau begitu. Ibu mengerti kenapa kalian masih
                merasa takut dengan BK dan enggan berurusan dengan BK .
                Bagaimana kalau kita bertemu lagi di lain waktu untuk
                membahas hal-hal lain yang berhubungan dengan BK agar
                kalian tidak takut lagi?”
Ko 4            “Setuju, bu”
Konselor        “Yang lainnya bagaimana?”
Semua konseli   “Ok”
Konselor        “Kira-kira kapan kita bertemu lagi??
Ko 2            “Kalau sabtu gimana, bu?”
Konselor        “Kalau ibu terserah kalian saja waktunya”
Ko 3            “Ok deh. Teman-teman setuju kan?”
Ko 1, 2, 4, 5   “Setuju”
Konselor        “Baiklah, kita bertemu lagi sabtu depan untuk membahas BK
                lebih lanjut. kalau begitu, mari kita akhiri kegiatan ini dengan
                do’a. Semoga apa yang kita lakukan hari ini bermanfaat bagi
                semuanya. Berdo’a dimulai"
                (Konselor dan konseli berdo’a bersama)
                “Terima kasih atas kedatangannya dan kesediaannya. Sampai
                jumpa sabtu depan ya. Assalamu’alaikum...........”
Semua konseli   “Wa’alaikumussalam wr. wb”
                (konselor dan konseli saling berjabat tangan)
                                                                              195




3.   Pertemuan Ketiga
     Hari/tanggal   : Selasa, 07 Juni 2011
     Pukul          : 11.30-13.00 WIB

     Nama                                 Percakapan
 Konselor         “Assalamu’alaikum wr. wb”
 Semua Konseli    “Wa’alaikumussalam wr. wb.”
 Konselor         “Apa kabar semuanya? Kita ketemu lagi hari ini. Semoga
                  semuanya sehat wal afiat”
 Semua Konseli    “Amiiin”
 Ko 4             “Kita mau bahas tentang BK lagi ya, bu?”
 Konselor         “Benar sekali”
 Ko 1             “Hari ini apa yang kita bahas bu?”
 Konselor         “Kemarin tidak ibu kasih tau ya topik kita hari ini?”
 Ko 5             “Nggak, bu”
 Konselor         “Maaf ya. Ibu lupa kemarin. Hari ini kita akan membahas
                  tentang pengalaman-pengalaman kalian tentang BK.
                  Bukankah kemarin kalian bilang kalau masih merasa takut
                  dengan BK?”
 Ko 2             “Benar, bu”
 Konselor         “Kalau orang takut pasti ada penyebabnya. Benar seperti
                  itu?”
 Semua konseli    “Iya, bu”
 Konselor         “Baiklah kalau begitu. Sebelum kita mulai kegiatannya,
                  mari berdo’a dulu agar kegiatan kita ini lancar tanpa ada
                  halangan apa pun”
                  (Konselor dan konseli berdo’a bersama)
                  “Sekarang ibu mau tanya dulu sama Anas. Apa kamu
                  pernah dipanggil ke ruang BK?”
 Ko 2             “Kalau dia sih sudah langganan, bu”
 Konselor         “Benar begitu?”
 Ko 3             “Nggak juga, bu”
 Konselor         “Kapan dan karena apa?”
 Ko 3             “Kalau SMA ini kebanyakan telat, bu. Tapi kalau waktu
                  SMP itu sering bolos”
 Konselor         “Apa kamu mendapat hukuman dari BK?”
 Ko 3             “Kalau SMA pernah sampai dapat surat peringatan, tapi
                  kalau SMP cuma di suruh nulis kata-kata kalau tidak akan
                  melanggar lagi”
 Konselor         “Teman kalian sudah menceritakan pengalamannya tentang
                  BK. Siapa lagi yang mau bercerita?”
 Ko 2             “Saya, bu. Dulu ketika SMP saya juga sering bolos tapi
                  jarang telat, bu”
                                                                            196




Konselor        “Bolosnya karena apa?”
Ko 2            “Tidak suka dengan gurunya, bu. Selain itu merayakan
                ulang tahun teman, kan nggak boleh dirayakan di sekolah
                bu”
Konselor        “Apa kamu dipanggil ke ruang BK?”
Ko 2            “Pasti, bu. Untungnya cuma dinasehatin aja”
Konselor        “Kalau SMA?”
Ko 2            “Jangan sampai, bu. paling telat aja”
Konselor        “Kenapa sampai telat? Apa karena bangun telat seperti
                yang pernah kamu bilang?”
Ko 2            “He...he...kurang lebih ya begitu”
Konselor        “Jadi Anas dan Adha dulu pernah dihukum ya sama BK?”
Ko 2 & 3        “Iya, bu”
Konselor        “Apa semuanya seperti itu?”
Ko 5            “Sama aja, bu. Nggak jauh beda”
Konselor        “Adha sama Anas sudah menceritakan pengalamannya
                yang sering bolos ketika SMA dan SMP. Indra dan Eva
                gimana? Apa ada yang akan diceritakan?”
Ko 1            “Kalau saya nggak pernah ada masalah, bu. Semuanya
                baik-baik saja”
Konselor        “Baiklah kalau begitu. Indra bagaimana?”
Ko 4            “Saya juga pernah, bu. Waktu SMP juga. Gara-garanya
                rame waktu pelajaran matematika. Saya kan nggak suka
                sama gurunya, galak banget. Eh, rame dikit langsung
                dibawa ke BK. Diomelin juga, hampir diskors nggak boleh
                ikut pelajaran matematika lagi”
Konselor        “Kalau di SMA ini gimana?”
Ko 4            “Sama, bu. Paling telat aja”
Konselor        “Jadi selama di SMA ini jarang ada yang berurusan dengan
                BK ya?”
Ko              “Iya, bu”
Konselor        “Yuli gimana?”
Ko 5            “Kita kan sehati, bu. Jadi paling cuma telat, he...he...”
Konselor        “Wah, semuanya kompak telat ya?”
Semua konseli   “He...he... iya, bu”
Konselor        Selain karena melanggar peraturan, apa kalian pernah
                berhubungan dengan BK? Misalnya ke ruang BK untuk
                curhat, atau tanya apa gitu ke guru BK?”
Semua konseli   “Nggak pernah, bu”
Konselor        “Kenapa nggak pernah?”
Ko 5            “Kan kita dikatain anak nakal bu kalau ke ruang BK”
Konselor        “Meski hanya berkonsultasi?”
Ko 4            “Iya, bu.”
                                                                       197




Ko 1       “Kalau masuk ke ruang BK di SMA ini paling sekalian ke
           UKS, bu. kan jadi satu ruangannya”
Ko 2       “Sama, bu.”
           “Hu........... (konseli lain menyoraki konseli 2)”
Konselor   “Memangnya kalian tidak pernah datang ke ruang BK
           tanpa dipanggil?”
Ko 1       “Nggak pernah, bu”
Konselor   “Sekadar mencari informasi atau curhat masalah kalian?”
Ko 5       “Nggak pernah, bu”
Konselor   “Katanya bu Tary orangnya baik, suka kasih motivasi”
Ko 2       “Iya sih, bu”
Konselor   “Baiklah kalau begitu. Kalau jadi guru BK, trus orangnya
           galak, kalian malah gak akan pernah mau kenal kan??
           Makanya guru BK itu orangnya harus ramah, seperti ibu
           (sambil bercanda)”
Ko 3       “narsis nih bu”
Konselor   “Ibu cuma bercanda. Tapi ada benarnya juga, kalau guru
           BK wajahnya kelihatan galak, pasti pikiran kalian akan
           negatif terus kan,,”
Ko 4        “Benar juga, bu”
Konselor   “Buat Anas dan indra. Apa dulu guru BK langsung
           memberi hukuman ketika kalian melakukan pelanggaran
           itu?”
Ko 3 & 4   “Iya, bu”
Ko 4       “Tapi sempat ditanya-tanya sebelumnya, bu”
Konselor   “Ditanyai apa?”
Ko 4       “Ya alasan kenapa sampai seperti itu, bu”
Konselor   “Misalnya ketika pertama kali kalian bolos, apakah
           langsung dikasih hukuman sama guru BK?”
Kons 3     “Nggak, bu. Sudah sering bolos soalnya. Awal-awal ya
           cuma diceramahin sampai bosen bu dengarnya”
Konselor   “Pada awal pertemuan ibu pernah bilang, kalau
           diceramahin itu bukan berarti memarahi kalian, tetapi
           ditanya alasan kenapa sampai telat masuk. Apa kalian
           masih ingat?”
Ko 3       “Iya, bu. Kita memang dikasih nasehat-nasehat gitu biar
           gak telat lagi”
Konselor   “Itu namanya guru BK mencoba mencari akar penyebab
           mengapa kalian suka telat, terus nasehat itu ibarat resep
           obat agar kalian tidak telat lagi”
Ko 4       “Kalau dipikir-pikir benar juga bu.”
Konselor   “Jadi, intinya BK itu tidak memberi hukuman begitu saja
           ketika ada siswa yang melanggar tata tertib, tapi awalnya
                                                                              198




                ditanya dulu apa penyebabnya, dikasih saran-saran agar
                tidak lagi melakukan pelanggaran. Kalau kalian
                mengatakan sampai mendapat hukuman, mungkin sudah
                ssampai tingkat lampu merah itu pelanggarannya dan tidak
                bisa ditoleransi lagi. Tadi Anas bilang mendapat hukuman
                karena sudah sering telat kan?”
Ko 3            “Iya, bu”
Konselor        “Terkadang apa yang dikatakan hukuman itu bukanlah
                untuk menyengsarakan kalian, tetapi hanya memberi efek
                jera agar tidak lagi mengulangi perbuatan itu lagi. Apa
                kalian mengerti?”
Semua Konseli   “Mengerti, bu”
Ko 2            “Bu, mau tanya”
Konselor        “Ya, silahkan. Apa yang ingin ditanyakan?”
Ko 2            “Kalau ada siswa yang dibawa ke ruang BK, apa semua itu
                istilahnya adalah siswa yang dianggap nakal bu?”
Kons            “Tentu saja tidak. Kemarin kan sudah ibu sampaikan kalau
                ada yang bilang kamu siswa yang nakal, bukan berarti
                kamu adalah anak yang nakal. Bagaimana, apa sudah
                mengerti?” Semua itu tergantung diri kamu sendiri.”
Ko 2            “Benar, bu”
Konselor        “Sekarang ibu mau tanya, apa saja kegiatan BK yang
                pernah kalian ikuti?”
Ko 5            “Maksudnya kegiatan yang bagaimana bu?”
Konselor        “Misalnya curhat, mencari informasi tentang hal yang ingin
                kalian ketahui, diskusi kelompok seperti sekarang yang kita
                lakukan ini”
Ko 3            “Tidak pernah, bu”
Konselor        “Sama sekali tidak pernah? Kalau tidak salah bukannya
                kalian juga mendapatkan LKS BK”
Ko 2            “Iya, bu. Tapi sepertinya hanya formalitas, tidak pernah
                dikerjakan dan dijelaskan isinya”
Konselor        “Seperti itu ya. Tapi bu Tary juga masuk kelas kan?”
Ko 4            “Iya, bu. Tapi kan mengajar sejarah, BK itu jarang sekali”
Konselor        “Kalau begitu, biasanya kalian mendapatkan informasi dari
                mana? Misalnya informasi tentang jurusan seperti itu?”
Ko 1            “Kadang dari guru mata pelajaran lain, bu”
Ko 5            “Memangnya kita bisa tanya-tanya ke guru BK ya bu kalau
                masalah jurusan? Bukankah itu urusan guru mata pelajaran
                sama kurikulum?”
Konselor        “Tidak juga. salah satu manfaat dari BK adalah kalian bisa
                mendapatkan informasi yang kalian inginkan dari BK,
                misalnya tentang cara belajar yang baik, tentang pemilihan
                                                                              199




                jurusan agar tidak salah pilih, dan masih banyak lagi. Ada
                kalanya siswa yang dipanggil itu memang ada masalah
                dengan belajarnya di sekolah sehingga membutuhkan
                bantuan”
Ko 1            “Maksudnya bagaimana bu siswa yang mempunyai
                masalah belajar di sekolah?”
Konselor        “Misalnya siswa itu kalau waktunya diterangkan pelajaran
                kelihatan tidak bersemangat, nilai-nilainya menurun, kan
                tidak mungkin tanpa sebab dia bisa seperti itu. Apa kalian
                mengerti?”
Semua konseli   “Ya, bu”
Ko 2            “Tapi apa hubungannya dengan BK, bu. Kan itu juga
                urusannya dengan guru mata pelajaran yang bersangkutan”.
Konselor        “Itu juga memang benar. Jadi, kenapa siswa itu dipanggil
                ke ruang BK bisa karena rekomendasi dari guru mata
                pelajaran tersebut karena siswa itu sudah menurun prestasi
                belajarnya. Tugas guru BK di sini adalah membantu siswa
                tersebut agar bisa semangat lagi dalam belajar dan nilai-
                nilainya tidak menurun lagi. Mungkin siswa tersebut
                mempunyai masalah dengan mata pelajaran itu, atau
                mungkin punya masalah di rumah, dengan teman di
                sekolah sehingga seperti itu. Kan kasihan kalau dibiarkan
                terus, bisa tidak naik kelas kan?”
Ko 2            “Benar juga, bu. Terus di apain bu siswanya?”
Konselor        “Seperti kata Anas, pasti ditanya-tanyain guru BK. Bukan
                dimarahi karena nilainya jelek, tetapi disini guru BK
                bertanya mengapa bisa seperti itu, kalau sudah tahu
                penyebabnya, kemudian guru BK akan membantu
                menemukan cara mengatasi masalah siswa tersebut. Ini
                bisa dinamakan konseling individu, kalau bahasa gaul
                kalian itu curhat ”
Ko 3            “Tapi kalau sudah ketahuan masalahnya, diceritakan sama
                guru-guru yang lain. Kan malu bu kalau jadi konsumsi
                publik, he...he...”
Kons            “Tidak mungkin diceritakan karena guru BK itu tidak
                boleh menceritakan kepada orang lain. Bisa dibilang haram
                menceritakannya. Bukannya dalam islam juga tidak
                diperbolehkan menceritakan rahasia orang?”
Ko 3            “Iya sih, bu”
Konselor        “Pada pertemuan lalu seingat ibu kalian tidak pernah curhat
                masalah kalian sama guru BK. Memangnya ada yang
                pernah masalahnya diceritakan pada orang lain oleh guru
                BK?”
Ko 5            “Tidak ada, bu”
                                                                             200




Konselor        “Kok bisa bilang seperti itu?”
Ko 1            “Dari teman, bu”
Konselor        “Oh, begitu. Memangnya kalau kalian mempunyai
                masalah, biasanya cerita kepada siapa?”
Ko 2            “Kalau saya ke teman, bu”
Konselor        “Kalau indra?”
Ko 4            “Sama, bu”
Konselor        “Kalau Eva sama Anas gimana?”
Ko 1            “Sama juga, bu. Cerita ke sahabat saya”
Konselor        “Kalau Yuli?”
Ko 5            “Ya, sama teman bu”
Ko 3            “Kalau saya biasanya dipendam saja, bu”
Konselor        “Apa bisa mendapatkan solusi jika dipendam saja?”
Ko 3            “Ya gak sih, bu. Tapi kadang selesai dengan sendirinya
                juga”
Konselor        “Kalau cerita dengan teman kalian, apa bisa dapat solusi
                yang kalian harapkan?”
Ko 2            “Malah bocor kemana-mana, bu. gak bisa jaga rahasia”
Ko 1&4          “Benar juga, bu”
Konselor        Menurut kalian, apa bedanya kalau kita bercerita kepada
                guru BK dengan bercerita kepada teman?”
Ko 1            “Ada bu. kalau cerita ke teman ya gitu, pasti bocor. Kalau
                ke guru BK pasti lebih baik, bu. kan lebih banyak
                pengalamannya”
Konselor        “Bagaimana dengan yang lainnya?”
Ko 4            “Sama, bu. sepertinya kalau cerita ke guru BK bisa dapat
                solusi yang lebih baik”
Ko 2            “Benar, bu. menurut saya juga gitu”
Konselor        “Kalau menurut Anas gimana? Ko diam saja”
Ko 3            “That’s right, bu. Cerita ke teman malah bisa nambah
                masalah karena nanti diceritakan ke orang lain juga”
Konselor        “Jadi menurut kalian kalau kita bercerita kepada guru BK
                jika mempunyai masalah itu akan mendapat solusi yang
                lebih baik daripada bercerita kepada teman?”
Semua konseli   “Benar sekali, bu”
Konselor        “Baiklah. Dari tadi kita sudah membahas bagaimana kalau
                kalian melakukan pelanggaran, bagaimana guru BK
                menangani siswa yang bermasalah, dan beberapa manfaat
                yang dapat kita peroleh dari guru BK. Kalau begitu, apa
                yang bisa kalian simpulkan?”
Ko 1            “ Ternyata guru BK itu bisa banyak membantu siswa di
                sekolah”
Ko 2            “Iya, bu. Ternyata fikiran kita salah kalau hanya
                                                                              201




                 menganggap guru BK sebagai guru yang jahat”
Ko 5             “Benar, bu. Sepertinya kita harus merubah pandangan kita
                 tentang guru BK”
Konselor         “Kalau yang cowok gimana?”
Ko 3             “Yah, benar kata teman-teman, bu. Kita yang terlalu takut
                 dengan omongan teman-teman, takut dikatakan anak nakal
                 kalau berhubungan dengan BK. Padahal banyak manfaat
                 yang bisa kita dapatkan”
Ko 4             “Iya, bu. Tidak seburuk yang saya kira sebelumnya”
Konselor         “Kalau begitu, apakah kalian masih merasa takut untuk
                 berkonsultasi kepada guru BK?”
Ko 1             “Sepertinya sudah nggak, bu. Ternyata memang banyak
                 manfaat yang dapat kita peroleh”
Semua konseli    “Benar, bu”
Konselor         “Alhamdulillah kalau kalian sudah mulai merubah
                 pandangan kalian tentang BK di sekolah. Di pertemuan
                 selanjutnya nanti ibu akan memberi tahu kalian bagaimana
                 BK yang sebenarnya secara lebih detail. Apakah kalian
                 bersedia untuk bertemu kembali?”
Ko 5             “Tentu saja, bu”
Ko 3             “Saya juga masih penasaran,bu”
Ko 4             “Saya rasa semua juga begitu bu. kami ingin kenal lebih
                 dekat lagi dengan BK”
Konselor         “Baiklah. Kalau begitu kira-kira kapan kita bertemu lagi?”
Ko 2             “Selasa aja, bu. gimana?”
Konselor         “Pulang sekolah seperti ini?”
Ko 2             “Iya, bu”
Konselor         “Bagaimana yang lainnya dengan usulan Adha?”
Ksemua konseli   “Ok, bu”
Konselor         “Baiklah, kita bertemu lagi hari selasa setelah pulang
                 sekolah untuk membahas BK lebih lanjut. kalau begitu,
                 mari kita akhiri kegiatan ini dengan do’a. Semoga apa yang
                 kita lakukan hari ini bermanfaat bagi semuanya. Berdo’a
                 dimulai"
                 (Konselor dan konseli berdo’a bersama)
                 “terima kasih atas kedatangannya dan kesediaannya.
                 Sampai jumpa hari selasa ya. Assalamu’alaikum...........”
Semua konseli    “Wa’alaikumussalam wr. wb”
                 (Konselor dan konseli saling berjabat tangan)
                                                                             202




4.   Pertemuan Keempat
     Hari/tanggal   : Kamis, 09 Juni 2011
     Pukul          : 11.30-13.00 WIB

     Nama                                   Percakapan
 Konselor        “Selamat siang anak-anak”
 Semua konseli   “Selamat siang, bu”
 Konselor        “bagaimana ujiannya hari ini, apa semua bisa mengerjakan?”
 Ko 2            “Agak susah, bu. Tadi kan waktunya matematika, jadi agak
                 mumet, he…”
 Konselor        “Kalau yang lainnya bagaimana?”
 Ko 5            “Sama, bu. Apalagi saya paling nggak suka sama pelajaran itu”
 Konselor        “Lho,, kenapa nggak suka?”
 Ko 5            “Susah, bu”
 Konselor        “Apa yang lain juga begitu?”
 Ko 1, 3, 4      “Iya, bu”
 Konselor        “Kalau belajar pasti nggak susah”
 Ko 3            “Nah, itu masalahnya, bu. Malas,he…”
 Konselor        “Nah, ketahuan kan penyebabnya”
 Semua konseli   (Semua tertawa)
 Ko 4            “Hari ini apa lagi yang akan kita bahas, bu?”
 Konselor        “Pertemuan kemarin ibu kan sudah bilang apa yang akan kita
                 bahas pada hari ini. Ada yang ingat?”
 Ko 1            “Kalau tidak salah ingat tentang semua hal yang terkait dengan
                 BK ya, bu”
 Konselor        “Tepat sekali. Hari ini kita akan membahas hal-hal yang terkait
                 dengan BK agar kalian lebih memahami bagaimana BK di
                 sekolah”
                 “Sebelum kita mulai kegiatannya, ayo kita berdo’a semoga apa
                 yang kita lakukan hari dapat berjalan dengan lancar dan
                 mendapat banyak manfaat. Berdo’a dimulai”
                 (Konselor dan konseli berdo’a bersama)
                 “Sekarang ibu mau tanya dulu, setelah kemarin-kemarin kita
                 berdiskusi tentang BK. Menurut kalian apa sih BK itu?”
 Ko 1            “Kalau menurut saya Bk itu tempat curhat, bu”
 Ko 5            “Tempat curhat dan tempat mencari informasi bu”
 Konselor        “Kalau Anas dan Indra?”
 Ko 3            “Tempat mengobati siswa yang sakit, bu”
 Konselor        “Maksudnya bagaimana? Kan sudah ada UKS (sambil
                 tersenyum)”
 Ko 3            “Maksudnya kalau ada siswa yang melakukan pelanggaran,
                 maka akan dibantu agar tidak mengulangi perbuatannya lagi”
 Konselor        “Ya, jawaban Anas nggak salah. Kalau menurut Indra
                                                                             203




                bagaimana?”
Ko 4            “Sama seperti Anas, bu. Kita juga bisa mendapatkan berbagai
                info yang bermanfaat dari BK”
Konselor        “Semua jawaban kalian benar, tidak ada yang salah. Jadi BK itu
                merupakan suatu bantuan yang diberikan kepada siswa untuk
                membantu siswa agar lebih mandiri, mampu memahami diirnya
                sendiri, mampu menyelesaikan masalahnya, serta mengambil
                keputusan atas masalah yang dihadapinya. Nah, kalau ada yang
                bilang tempat curhat, itu juga benar karena kalau ingin curhat
                kan datang ke ruang BK, jadi bisa dibilang tempat curhat”
Ko 5            “Bu mau tanya. Kalau kita punya masalah, terus curhat ke guru
                BK, apa langsung dikasih solusi?”
Konselor        “Tidak, tetapi guru BK akan mengarahkan kamu agar lebih
                memahami permasalahan yang kamu hadapi, setelah kamau
                mengerti nanti kamu diarahkan untuk mencari alternatif
                pemecahan atas masalah yang kamu hadapi. Pada akhirnya
                kamu sendiri yang mengambil keputusan bagaimana cara
                mengatasi masalah yang kamu hadapi. Apa kamu mengerti?”
Ko 5            “Kurang mengerti bu, he...he...”
Konselor        “Misalnya, kamu sering telat masuk sekolah kemudian kamu
                dibawa ke ruang BK. Pada pertemuan-pertemuan yang lalu kan
                kata teman-teman kalau telat itu diceramahin oleh guru BK.
                Apa kamu masih ingat?”
Ko 5            “Hemm...iya, bu.”
Konselor        “Sebenarnya kan bukan diceramahin, tetapi guru BK bertanya
                alasan kenapa kamu sering telat. Setelah itu, kamu dikasih
                beberapa alternatif cara mengatasinya. Guru BK tidak akan
                memaksa kamu untuk memilih cara no.1 atau 2, 3 dan
                seterusnya, tapi kamu akan diarahkan untuk memilih sendiri
                mana cara yang cocok untuk mengatasi sifat telat kamu.
                Akhirnya kamu sendiri kan yang membuat keputusannya?”
Ko 5            “Jadi begitu, bu. Sekarang saya sudah mengerti”
Konselor        “Kalau yang lainnya apa juga mengerti?”
Semua konseli   “Iya, bu”
Konselor        “Itulah salah satu tujuan dari BK di sekolah, selain itu BK juga
                membantu kamu bagaimana agar sukses di sekolah. Juga di luar
                sekolah”
                “Sekarang ibu mau tanya, apa ada yang tau apa saja kegiatan
                dalam BK?”
Ko 3            “Diskusi kelompok, bu”
Konselor        “Benar sekali. Diskusi kelompok yang kita lakukan ini
                merupakan salah satu bagian dari kegiatan dalam layanan BK,
                namanya bimbingan kelompok”
                                                                            204




Ko 2            “Bimbingan kelompok itu apa, bu?”
Konselor        “Jadi kalau pengertian teoritisnya layanan bimbingan kelompok
                itu salah satu layanan BK yang diberikan kepada lebih dari satu
                orang untuk membahas masalah-masalah yang uptodate. Apa
                sudah mengerti?”
Semua konseli   “Iya, bu”
Ko 3            “Kalau yang lainnya apa saja, bu?”
Konselor        “Baiklah akan ibu jelaskan. Ada tujuh layanan dalam
                bimbingan dan konseling. Yang pertama tadi bimbingan
                kelompok, kedua namanya layanan orientasi, contohnya
                kegiatan MOS. Tahu kan apa itu MOS?”
Ko 2            “Tahu, bu. Masa Orientasi Siswa kalau baru masuk sekolah”
Konselor        “Benar sekali, Yul. Layanan orientasi itu diberikan kepada
                siswa baru untuk mengenalkan mereka dengan lingkungan yang
                baru.”
Ko 1            “Kalau yang ketiga apa, bu?”
Konselor        “Yang ketiga namanya layanan informasi. Contohnya ketika
                guru BK memberikan materi di kelas, misalnya tentang cara
                belajar yang baik, cara memilih jurusan yang tepat. Apa kalian
                mengerti?”
Semua konseli   “Iya, bu.”
Konselor        “Kalau guru BK kasih materi di kelas, kalian ribut sendiri atau
                memperhatikan?”
                (Semua konseli tersenyum)
Ko 1            “Sibuk sendiri, bu.”
Konselor        “Memangnya kenapa, Va?”
Ko 1            “Bosan bu dengan cara penyampaiannya.”
Konselor        “Kalau yang lain bagaimana?”
Ko 2            “Saya juga sama, bu.”
Ko 3            “Saya juga, bu. Pasti cari kegiatan sendiri dan tidak
                memperhatikan”
Konselor        “Bagus nggak sikap seperti itu?”
Semua konseli   “Tidak, bu”
Konselor        “Kira-kira apa dampaknya?”
Ko 2            “Jadi melewatkan informasi yang penting, bu.”
Ko 1            “Benar, bu. Terkadang informasi itu penting untuk kita.”
Konselor        “Kalau begitu seharusnya bagaimana?”
Ko 3            “Kita harus mendengarkan, bu.”
Konselor        “Benar sekali. Informasi yang disampaikan oleh guru BK itu
                sesuai dengan kebutuhan kalian, misalnya tentang penjurusan,
                bagaimana karir dimasa depan, bagaimana cara memahami diri
                kita sendiri. Jadi, kalian diharapkan mampu menjadi pribadi
                yang memahami diri kalian sendiri, mampu mengembangkan
                                                                            205




                cita-cita kalian, serta mampu berprestasi.”
Ko 4            “Banyak manfaatnya ya, bu.”
Konselor        “Tepat sekali. Jadi menurut kalian bagaimana?”
Ko 1            “Saya akan mendengarkan bu, tidak akan sibuk sendiri.”
Ko 2            “Saya juga, bu.”
Konselor        “Bagaimana dengan kamu Anas?”
Ko 3            “Iya, bu. Saya menyadari kalau itu salah dan saya berjanji akan
                merubahnya. Saya akan mendengarkan guru BK kalau sedang
                memberikan materi di kelas”
Konselor        “Ibu senang kalau kalian menyadai kesalahan kalian dan mau
                berubah menjadi lebih baik lagi. Sekarang ibu lanjutkan tentang
                layanan selanjutnya, yaitu layanan penempatan/penyaluran.
                Contohnya penjurusan, kegiatan ekstrakurikuler.”
Ko 5            “Maksudnya gimana, bu? Saya masih bingung”
Konselor        “misalnya penjurusan ke IPA atau IPS, apa itu hanya
                berdasarkan keinginan kalian saja?”
Ko 4            “Nggak, bu. Ada angket juga tes”
Konselor        “Nah anak-anak, tes itu adalah tes untuk mengetahui potensi
                dan kemampuan kalian. Guru BK berperan untuk memberikan
                dan menganalisis hasil tesnya. Jadi misalnya kalian ingin
                masuk jurusan IPA, tetapi hasil tes menunjukkan kalian masuk
                ke jurusan IPS, maka guru BK akan mengarahkan kalian ke
                jurusan IPS dengan berbagai pertimbangan. Hasil tes itu
                menunjukkan dimana kemampuan dan potensi kalian ada di
                IPS. Kalau dipaksakan masuk IPA, ditakutkan kalian tidak akan
                mampu. Apa sudah mengerti?”
Semua konseli   “Iya, bu”
Ko 3            “Tapi di sini tidak ada jurusan IPS, bu. Adanya Cuma jurusan
                IPA, adahal saya lebih suka dengan IPS”
Ko 4            “Benar, bu. Kata kepala sekolah kalau mau dibukakan jurusan
                IPS, harus ngunpulin minimal 20 siswa, kemarin cuma dapat
                18.”
Konselor        “Kalau masalah itu memang tergantung kebijakan sekolah.
                Kalian sudah berusaha untuk menyuarakan apa keinginan
                kalian, tapi kalau sudah diditetapkan seperti itu kalian harus
                mengikutinya.”
Ko 4            “Iya, bu. Sudah resiko sekolah disini.”
Ko 2            “Selanjutnya apa, bu?”
Konselor        “Yang kelima namanya layanan pembelajaran. Dalam layanan
                ini kalian dibantu agar mampu mengembangkan sikap dan
                kebiasaan belajar yang baik. Misalnya dengan memberikan cara
                belajar yang baik, bekerjasama dengan guru mata pelajaran
                untuk memberikan remidi.”
                                                                               206




Ko 5            “Berarti untuk memperbaiki nilai ya, Bu.”
Konselor        “Bisa dibilang seperti itu. Kalian nggak mau kan dapat nilai
                yang jelek? ”
Semua konseli   “Iya, bu.”
Ko 1            “Selanjutnya apa, bu?”
Konselor        “Penasaran ya?”
Ko 1            “ Iya, bu.”
Konselor        “Selanjutnya ada yang namanya layanan konseling individu,
                kalau kalian bahasa gaulnya curhat. Nah, nanti kalian akan
                dibantu untuk memecahkan masalah yang kalian hadapi.”
Ko 3            “Kalau diceritakan sama guru lain gimana, bu. Kan kita malu.”
Konselor        “BK itu ada istilah asaa kerahasiaan. Jadi, guru BK pantang
                atau haram hukumnya menceritakan masalah siswa yang curhat
                kepadanya sama orang lain. Jadi tidak usah khawatir”
Ko 4            “Sip kalau begitu, bu.”
Konselor        “Nah, yang terakhir namanya layanan konseling kelompok.
                Dalam layanan ini kita berkumpul seperti dalam diskusi
                kelompok, tetapi yang dibahas beda. Kalau diskusi membahas
                masalah atau topik-topik yang hangat dibicarakan, tapi kalau
                dalam konseling elompok yang dibahas adalah masalah pribadi.
                Jadi, nanti dipilih masalah salah satu siswa kemudian dibahas
                bersama.”
Ko 5            “Tar malah diceritain kemana-mana, bu.”
Konselor        “Sama toh seperti kita curhat ke guru BK, sesama anggota
                kelompok juga dilarang cerita sama orang lain. Sebelumnya
                harus berjanji dulu untuk merahasiakan masalah teman-
                temannya.”
Ko 2            “Jadi begitu ya, bu.”
Konselor        “Benar sekali. Nah itu tadi ketujuh layanan dalam BK, kalian
                berhak untuk mengikuti dan memanfaatkannya. Apa kalian
                sudah mengerti?”
Semua konseli   “Iya, bu.”
Konselor        “Kalian sudah tahu berbagai layanan dalam BK, sekarang akan
                ibu jelaskan apa saja fungsi BK di sekolah. Bukan hanya
                sebagai tempat menghukum siswa lo,he...he...”
Ko 2            “Apa saja bu fungsinya?”
Konselor        “Ada beberapa fungsi BK di sekolah. Pertama fungsi
                pemahaman, artinya membantu kalian untuk memahami diri
                kalian sendiri seperti potensi, bakat. Selain itu juga agar kalian
                memahami lingkungan di sekitar kalian seperti lingkungan
                sekolah, memahami norma agama.”
Ko 1            “Biar gak salah jalan ya bu?”
Konselor        “Bisa dibilang seperti itu. Sekarang fungsi yang kedua yaitu
                                                                            207




                preventif atau pencegahan. Artinya guru BK memberikan
                bimbingan kepada siswa tentang cara menghindarkan diri dari
                perbuatan atau kegiatan yang membahayakan diri, seperti cara
                menghindari pergaulan bebas agar tidak terjerumus ke hal-hal
                negatif.”
Ko 3            “Banyak tugas dan manfaatnya ya bu ternyata. Selama ini aku
                kira cuma untuk kasih hukuman aja.”
Konselor        “Makanya kalian harus kenal dulu dengan BK agar tidak punya
                kesan negatif terus, benar gak?”
Semua konseli   “Iya, bu.”
Konselor        “Fungsi selanjutnya yaitu perbaikan dan penyaluran. Kalau
                perbaikan artinya guru BK berupaya membantu kalian kalau
                mempunyai masalah, baik masalah pribadi, dengan teman,
                masalah belajar maupun untuk merencanakan masa depan.”
Ko 4            “Kalau yang penyaluran bu, apa maksudnya?”
Konselor        “Kalau penyaluran maksudnya guru BK membantu kalian
                untuk memilih kegiatan ekstrakurikuler, penjurusan, yang
                sesuai dengan bakat, minat potensi, juga kemmapuan kalian.
                Kalau semua sesuai dengan diri kita, pasti kita bisa maksimal
                menjalaninya.”
Ko 5            “Benar banget bu. Apa masih ada fungsi lainnya?”
Konselor        “Ada fungsi adaptasi dan penyesuaian. Kalau adaptasi itu
                dikhususkan untuk guru maupun guru BK sendiri agar bisa
                menyesuaikan program pendidikan yang sesuai dengan
                kemampuan, minat, serta kebutuhan siswa. “
                “kalau penyesuaina itu fungsinya membantu siswa agar dapat
                menyesuaikan diri dengan peraturan sekolah, program-program
                pendidikan, sehingga klaian bisa belajar dengan baik tanpa
                merasa kesulitan. Bagaimana, apa bisa dimengerti penjelasan
                ibu?”
Semua konseli   “Bisa, bu”
Konselor        “Setelah mengetahui semua itu, apa masih menganggap guru
                BK tugasnya hanya menghukum saja?”
Semua konseli   “Tidak, bu.”
Konselor        “Seperti tadi kalian takut masalah kalian diketahui orang lain,
                dalam BK ada yang namanya asas rahasia. Selain itu ada yang
                namanya      asas     kesukarelaan,  keterbukaan,     kekinian,
                kemandirian, serta alih tangan.”
Ko 2            “Apa maksudnya, bu?”
Konselor        “Kalau kesukarelaan, artinya tanpa paksaan. Kalian kalau mau
                curhat sama guru BK itu tanpa dipaksa, jadi atas kemauan
                klaian sendiri. Keterbukaan maksudnya kalian harus bicara
                sejujur mungkin kepada guru BK tentang masalah yang kalian
                                                                           208




                hadapi, sehingga guru BK bisa membantu kalian dengan tepat.
                Tidak usah khawatir karena...
Semua konseli   “Rahasia (semua tertawa)”
Konselor        “Tepat sekali”
Ko 3            “Selanjutnya apa, bu?”
Konselor        “Kalau kekinian, maksudnya masalah yang dibahas itu masalah
                yang saat ini, bukan masa lalu. Sedangkan kemandirian itu
                maksudnya kalian mampu mengambil keputusan sendiri tanpa
                bergantung kepada orang lain. Tidak suka kan kalau dinasehati
                atau diceramahin?”
Semua konseli   “Iya, bu”
Konselor        “Nah, guru BK akan membantu kalian untuk mengambil
                keputusan sendiri atas masalah yang kalian hadapi. Apa bisa
                dimengerti?”
Ko 2            “iya, bu. Tapi alih tangan itu apa bu? Asing kedengarannya.”
Konselor        “Kalau alih tangan maksudnya jika guru BK tidak bisa
                maksimal membantu kalian atau masalah kalian berada diluar
                kemampuan guru BK, maka akan dilimpahkan kepada orang
                yang lebih ahli. Misalnya kalian ada masalah dengan kesehatan,
                maka yang lebih berwenang adalah dokter kan, bukan lagi guru
                BK.”
Ko 2            “Jadi begitu, bu.”
Konselor        “Iya. Anak-anak hari ini kita sudah membahas semua hal
                tentang BK. Bagaimana fungsinya, apa saja layanannya, serta
                bagaimana asas-asasnya. Dari pembicaraan kita, apa yang dapat
                kalian simpulkan?”
Ko 2            “Mulai dari saya ya bu.”
Konselor        “Silahkan Adha.”
Ko 2            “Kadang dibalik sosoknya yang galak, guru BK bisa memberi
                kedamaian bagi murid-muridnya bu”
Konselor        “Jadi apa maksudnya Adha sudah tidak merasa takut dan
                khawatir lagi kalau harus datang ke ruang BK?”
Ko 2            “benar, bu. Kalau banyak manfaatnya kenapa mesti takut”
Ko 1            “Benar, bu. Saya juga merasa kalau Bk itu banyak sekali
                manfaatnya. Tugasnya juga berat, tidak hanya membnatu anak-
                anak yang nakal dan bermasalah, tapi juga yang mempunyai
                kesulitan dalam hal apapun.”
Konselor        “Kalau Anas sama Indra bagaimana?”
Ko 3            “Kalau saya sependapat sama Eva dan Adha, bu. saya lebih
                menyadari kalau ternyata BK itu bukan hanya tempat untuk
                memberi hukuman, tetapi banyak memberi manfaat bagi kita
                semua”
Ko 4            “Sip. Saya juga sependapat, bu. Kalau ada maslah apapun, saya
                                                                            209




                juga tidak akan segan untuk datang ke ruang BK dan meminta
                bantuan kepada guru BK.”
Konselor        “Bagaimana dengan Yuli?”
Ko 5            “Masih takut bu, he...he... Bercanda kok bu. Saya juga sama
                dengan teman-teman. Tidak akan takut lagi kalau harus datang
                dan berkonsultasi dengan guru BK.”
Konselor        “Alhamdulillah kalau kalian sudah tidak takut lagi dengan guru
                BK dan sudah menyadari manfaat BK di sekolah. Kalau begitu
                apa masih ada yang mau ditanyakan lagi?”
Ko 1            “Kalau saya sudah tidak ada lagi,bu. Teman-teman
                bagaimana?”
Semua konseli   “Tidak ada, bu.”
Konselor        “Baiklah kalau begitu. Karena waktunya sudah siang, pasti
                capek kan habis ujian. Sekarang kita akhiri dulu kegiatan kita
                hari ini. Bagaimana menurut kalian?”
Semua konseli   “Iya, bu.”
Ko 3            “Apa kita akan ketemu lagi,bu?”
Konselor        “Apa kalian mau kita ngobrol-ngobrol lagi?”
Semua konseli   “Mau, bu.”
Konselor        “Kalau begitu terserah kalian bisanya kapan.”
Ko 2            “Sabtu gimana, bu?”
Konselor        “Kalau yang lain gimana?”
Semua konseli   “Ok, bu.”
Konselor        “Baiklah kalau begitu, kita ketemu lagi hari sabtu besok di jam
                yang sama.”
Semua konseli   “Ok.”
Konselor        “Kalau begitu, mari kita akhiri kegiatan ini dengan do’a.
                Semoga apa yang kita lakukan hari ini bermanfaat bagi
                semuanya. Berdo’a dimulai”
                (konselor dan konseli berdo’a bersama)
                “Terima kasih atas kedatangannya dan kesediaannya. Sampai
                jumpa sabtu depan ya. Assalamu’alaikum...........
Semua konseli   “Wa’alaikumussalam..... sampai jumpa juga, bu”
                                                                              210




5.   Pertemuan Kelima
     Hari/tanggal    : Sabtu, 11 Juni 2011
     Pukul           : 11.30-13.00 WIB

 Nama Subyek      Percakapan/respon
 Konselor         “Selamat siang semuanya, apa kabarnya hari ini?”
 Semua konseli    “Alhamdulillah baik, bu”
 Konselor         “bagaimana ujiannya hari ini?”
 Ko 5             “Alhamdulillah lancar, bu.”
 Konselor         “Kalau yang lain gimana?”
 Konseli          “Sama, bu.”
 Konselor         “Ibu senang mendengarnya. Anak-anak sebelum kita mulai
                  kegiatannya, ayo kita berdo’a semoga apa yang kita lakukan hari
                  dapat berjalan dengan lancar dan mendapat banyak manfaat.
                  Berdo’a dimulai”
                  (konselor dan konseli berdo’a bersama)
 Ko 4             “Agenda kita apa bu hari ini?”
 Konselor         “Hari ini Insyaallah pertemuan terakhir kita dalam kegiatan
                  diskusi kelompok ini.”
 Semua konseli    “Yah, kok berakhir bu.”
 Konselor         “Masih betah ya?”
 Ko 3             “Iya, bu. Masih mau ngobrol-ngobrol sama ibu.”
 Konselor         “Akhir kegiatan kan bukan berarti kita tidak bisa bertemu lagi.
                  Tapi ibu juga harus cepat lulus biar bisa menjadi guru BK
                  sungguhan, he...he...”
 Semua konseli    “Amiiin...”
 Konselor         “Karena dari pertemuan pertama sampai akhir kita sudah
                  membicarakan segala macam masalah yang sering terjadi di
                  sekolah ini, bagaimana BK sebenarnya. Sekarang ibu ingin tahu,
                  bagaimana kesan kalian selama mengikuti kegiatan ini. Siapa
                  yang mau mulai duluan?”
 Ko 4             “Saya aja, bu. Selama mengikuti kegiatan ini saya merasa
                  senang, bu. Selain bisa saling tukar fikiran dengan teman, lebih
                  bisa menghargai pendapat orang lain, juga menjadi semakin tahu
                  peran BK di sekolah. Sehingga sekarang saya sudah tidak takut
                  lagi untuk berkonsultasi dengan guru BK, nggak takut lagi
                  dianggap anak nakal kalau berhubungan dengan BK.”
 Konselor         “Kalau yang lain bagaimana?”
 Ko 5             “Saya, bu. Saya juga sependapat dengan Indra, bu. Saya senang
                  karena bisa mendapat banyak manfaat dari diskusi kelompok ini,
                  menjadi lebih tahu BK di sekolah, dan tidak takut lagi
                  berkonsultasi dengan guru BK. Kalau ada masalah lebih baik
                  cerita ke guru BK daripada ke teman bu karena pasti mendapat
                                                                            211




                solusi yang lebih baik.”
Ko 2            “Saya merasa sangat senang bu ikut kegiatan ini. Selain dapat
                banyak manfaat, saya juga jadi tidak takut lagi berkonsultasi
                kepada guru BK, tidak takut dianggap anak nakal kalau
                berhubungan dengan BK karena saya sudah tau bagaimana BK
                sebenarnya. Kalau punya masalah saya tidak akan ragu untuk
                bercerita kepada guru Bk, karena saya yakin pasti bisa dapat
                solusi yang baik dan lebih bisa jaga rahasia daripada cerita ke
                teman, bu.”
Konselor        “Benar sekali apa yang kalian katakan. Kalau Eva dan Anas
                gimana?”
Ko 1            “Saya setuju dengan semuanya, bu. Saya jadi tidak takut lagi
                untuk berkonsultasi dengan guru BK, tidak takut dianggap anak
                nakal hanya karena berhubungan atau dipanggil oleh guru BK.
                Saya merasa pasti mendapatkan banyak manfaat nantinya.”
Konselor        “Kalau Anas?”
Ko 3            “Sama, bu. Kalau perasaan mengikuti kegiatan ini saya sangat
                senang, bu. Jarang-jarang ada kegiatan diskusi kelompok seperti
                ini. Saya juga sama dengan teman-teman bu, sudah tidak takut
                lagi dianggap sebagai anak nakal kalau harus berhubungan
                dengan BK. Kalau ada kegiatan seperti ini lagi, saya bersedia
                mengajak teman-teman lainnya bu agar tau kalau banyak
                manfaat yang bisa di dapat.”
Konselor        “Alhamdulillah kalau kalian sudah tidak takut lagi dengan BK di
                sekolah. Ibu juga senang kalau kalian sudah menyadari peran
                BK dan mau berkonsultasi kalau ada masalah di sekolah.
                Semoga pembicaraan kita pada beberapa hari ini mendapatkan
                ridho Allah SWT, amiiin..”
Semua konseli   “Amiiin...”
Konselor        “Sekarang ibu mau meminta kalian untuk mengisi angket lagi”
Ko 4            “Untuk apa, bu?”
Konselor        “Untuk kasih nilai buat kalian, siapa yang menjadi
                pemenangnya.”
Ko 2            “Benar, bu?”
Konselor        “Tidak usah tegang begitu, ibu cuma bercanda. Angket ini hanya
                untuk mengetahui sejauh mana kalian memahami BK setelah
                mengikuti diskusi kelompok ini.”
Ko 3            “Oh, begitu.”
Konselor        “Baiklah, ini tolong diisi ya angketnya. Tolong dibaca baik-baik
                lo.”
                (Konselor membagikan angket dan konseli mengisinya)
                “Terimakasih atas kesediaannya untuk mengisi angket dan
                mengikuti kegiatan ini selama beberapa hari.”
                                                                              212




Ko 5            “Nggak apa-apa, bu. Kita senang ko. Iya kan teman-teman?”
Semua konseli   “Benar, bu.”
Konselor        “Alhamdulillah kalau begitu. Jika selama kegiatan ini ibu ada
                salah-salah kata, ibu minta maaf yang sebesar-besarnya.”
Semua konseli   “Sama-sama, bu.”
Konselor        “Terimakasih anak-anak. Karena sudah siang, kalian sudah
                makan belum?”
Semua konseli   “Belum, bu”
Konselor        “Kalau begitu kita akhiri dulu kegiatan kita hari ini. Semoga kita
                mendapat banyak manfaat dan menjadi pribadi yang lebih baik
                lagi. Kita berpisah bukan berarti tidak akan bertemu lagi kan?”
Semua konseli   “Iya, bu.”
Konselor        “Kalau begitu, mari kita akhiri kegiatan ini dengan berdo’a
                bersama. Semoga apa yang kita lakukan hari ini bermanfaat bagi
                semuanya. Berdo’a dimulai”
                (konselor dan konseli berdo’a bersama)
                “Terima kasih atas kedatangannya dan kesediaannya. Sampai
                jumpa lagi dilain kesempatan ya. Jangan lupa belajar, tetap
                disiplin dan jadi siswa teladan.”
Semua konseli   “Iya, bu.”
Konselor        “Ibu mohon pamit dulu ya, Assalamu’alaikum...........”
Semua konseli   “Wa’alaikumussalam..... sampai jumpa juga, bu”
                (Konselor dan konseli saling bersalaman)
Lampiran 16                                213




              Halaman Persetujuan Angket
Lampiran 17                                                      214




              Surat Keterangan Setelah Melaksanakan Penelitian
Lampiran 18                                      215




              Surat Permohonan Ijin Penelitian
Lampiran 19                                         216




              Surat Permohonan Ijin Uji Validitas
Lampiran 20                              217




              Kartu Konsultasi Skripsi
218
Lampiran 21                                         219




              Gambar Pelaksanaan Diskusi Kelompok

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:2226
posted:7/12/2012
language:
pages:35
Description: contoh verbatim BK