Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

Toksikologi (Keracunan) by cyanidez

VIEWS: 2,503 PAGES: 19

									            LAPORAN MAKALAH

                 MODUL II

BLOK KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL




               DISUSUN OLEH:

                KELOMPOK II

                  SUNARYO
               RAHMAH ARISTA
                ASMA TRIASIH
         ARI GUSTHRY ANDRY PANJAITAN
                YANTI FRISKA
             JEFTA KURNIA UTAMA
                  EVA YANTI
         WAHYU ARI PRANANCA GINTING
            WAN RENNY FEBRYANTI
              SUSILO KURNIAWAN
               LISNAINI FAJARIA
              YOCKIE VERONICO


   FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
             UNIVERSITAS BATAM



                                            1
                                KATA PENGANTAR
       Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah S.W.T, karena atas rahmat dan hidayah-Nya kami
dapat menyelesaikan laporan pembahasan skenario tentang keracunan dari blok kedokteran forensik dan
medikolegal. Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada para Tutor atas bimbingan dalam penulisan
laporan ini. Tujuan penulisan laporan ini adalah dalam rangka memenuhi salah satu tugas pada blok
kedokteran forensik dan medikolegal semester VI Fakultas Kedokteran Universitas Batam.

       Kami juga mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada teman-teman semua atas
bantuan, dukungan baik secara moral maupun materil dalam pembuatan laporan ini.

       Kami menyadari laporan ini masih memiliki kekurangan, untuk itu kritik dan saran kami
harapkan dalam rangka penyempurnaan penulisan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi
pembacanya, sebagai bekal tambahan pengetahuan mengenai ilmu kedokteran khusunya tentang
kedokteran forensik dan medikolegal.




                                                                           Batam, 20 Juni 2012




                                                                             KELOMPOK II




                                                                                                 2
                                                                       Daftar Isi



KataPengantar……………………………………………… ............................................................ 2

Daftar Isi ........................................................................................................................................... 3

Seven jump

     Skenario .................................................................................................................................. 4
     Kata sulit ................................................................................................................................. 4
     Kata kunci ................................................................................................................................ 4
     Kunci Permasalahan ................................................................................................................ 4
     Pertanyaan……………………………………………..……………………………………. . 4
     Tujuan Pembelajaran ............................................................................................................... 5
     Sasaran Pembelajaran .............................................................................................................. 5
     Peta Konsep ............................................................................................................................. 6

Definisi Racun ................................................................................................................................... 7

Klasifikasi Racun .............................................................................................................................. 7

Mekanisme Kerja Racun .................................................................................................................... 8

Faktor yang mempengaruhi keracunan .............................................................................................. 9
Toksikologi forensic :

Keracunan sianida .............................................................................................................................. 10

Keracunan karbon monoksida ............................................................................................................ 13

Keracunan arsen ................................................................................................................................. 15

Kriteria diagnosis keracunan ............................................................................................................. 17

Daftar Pustaka .................................................................................................................................... 19




                                                                                                                                                           3
Skenario Modul I

  Sebuah mobil BMWX8 terparkir di jembatan Barelang dalam keadaan mesin menyala sejak
sabtu malam. Pada Minggu pagi seorang tukang sapu melihat mobil itu di tempat yang sama dan
mesin masih menyala. Lalu tukang sapu ini mengintip ke dalam mobil dan menemukan sepasang
muda mudi terlihat tertidur di bangku belakang. Tukang sapu berusaha membangunkan dengan
mengetok jendela tapi orang tersebut tidak kunjung bangun juga. Kemudian tukang sapu tersebut
meminta petugas patroli untuk memeriksa mobil. Ketika mobil di buka ternyata ditemukan kedua
orang itu sudah tidak bernyawa. Apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang itu.

Kata sulit

=> Tidak ditemukan kata sulit

Kata Kunci

   - Mobil menyala semalaman

   - Ditemukan sepasang muda mudi yang tidak bernyawa

Kunci Permasalahan

      Keracunan

Pertanyaan

   1. Apa itu Keracunan?

   2. Apa saja macam-macam Keracunan?

   3. Bagaimana tanda-tanda Keracunan?

   4. Bagaimana tanda-tanda Keracunan Gas?

   5. Bagaimana Patofisiologi Asfiksia, sianosis, mual, muntah, dan sakit kepala pada
       keracunan?

   6. Gas apa saja yang menyebabkan keracunan?

   7. Berapa kadar gas yang bisa menyebabkan keracunan?




                                                                                           4
   8. Bagaimana cara mendiagnosis kematian akibat keracunan?

   9. Bagaimana penanganan pasien keracunan?

   10. Bagaimana mekanisme kerja racun didalam tubuh?

Tujuan Pembelajaran

   Agar mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang keracunan.

Sasaran Pembelajaran

   Agar mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang:

      - Definisi Keracunan

      - Klasifikasi Keracunan

      - Gejala Keracunan

      - Patofisiologi asfiksia, sianosis, mual, muntah, dan sakit kepala pada keracunan.

      - Cara mendiagnosis Keracunan

      - Penatalaksanaan Keracunan




                                                                                           5
PETA KONSEP

                      DEFINISI


  PENATALAKSA
     NAAN                         KLASIFIKA
                                     SI

                KERACUNAN




   DIAGNOSIS                     GEJALA




                 PATOFISIOLO
                     GI




                                              6
Definsi
Menurut Taylor, racun adalah suatu zat yang dalam jumlah relatif kecil (bukan minimal), yang
jika masuk atau mengenai tubuh seseorang akan menyebabkan timbulnya reaksi kimiawi (efek
kimia) yang besar yang dapat menyebabkan sakit, bahkan kematian.
       Menurut Gradwohl racun adalah substansi yang tanpa kekuatan mekanis, yang bila
mengenai tubuh seorang (atau masuk), akan menyebabkan gangguan fungsi tubuh, kerugian,
bahkan kematian.
       Sehingga jika dua definisi di atas digabungkan, racun adalah substansi kimia, yang dalam
jumlah relatif kecil, tetapi dengan dosis toksis, bila masuk atau mengenai tubuh, tanpa kekuatan
mekanis, tetapi hanya dengan kekuatan daya kimianya, akan menimbulkan efek yang besar, yang
dapat menyebabkan sakit, bahkan kematian.

Klasifikasi racun

       Penggolongan racun berdasarkan :

   1. Sumber.
            Tumbuh-tumbuhan : opium, kokain, kurare, aflatoksin.
            Hewan : bisa/toksin ular, laba-laba, hewan laut.
            Mineral.
   2. Sintetik dan semi sintetik : heroin, nylon.
   3. Tempat dimana racun berada :
        Racun yang terdapat dialam bebas misalnya gas-gas yang terdapat di alam dan lain-
            lain.
        Racun yang terdapat dirumah tangga, misalnya detergen, desinfektan, insektisida,
            pembersih (cleaners).
         Racun yang digunakan dalam pertanian, misalnya insektisida, herbisida, pestisida.
         Racun yang digunakan dalam industri dan laboratorium, misalnya asam dan basa
            kuat, logam berat.
         Racun yang terdapat dalam makanan, misalnya dalam tumbuh-tumbuhan (sianida
            dalam singkong) dalam hewan (botulinum, racun ikan), bahan pengawet, zat aditif.
         Racun yang digunakan sebagai obat, misalnya hipnotik, sedatif dan lain
           lain

   4. Berdasarkan efek kerjanya :



                                                                                               7
       a. Racun lokal yaitu racun yang tidak masuk kedalam aliran darah sistemik, sehingga
            efek toksiknya hanya dikulit, terutama berasal dari asam/ basa kuat/ zat kimia lain
            (H2SO4, HNO3, HCl, NaOH, dan lain-lain) contohnya air aki. Sering ditemukan pada
            pekerja pabrik, orang-orang yang bunuh diri, kecelakaan dan lain-lain.
       b. Racun sistemik, yaitu racun yang masuk melalui GIT lalu menyebar ke sirkulasi
            sistemik sehingga efek toksiknya umumnya karena racun terdapat dalam darah,
            contohnya morfin, barbiturat, alcohol, yang mempunyai afinitas kuat terhadap SSP.
            Misalnya pada keracunan morfin bisa terjadi asfiksia, edema paru bahkan kematian.
            Arsen juga terhadap darah dengan menimbulkan hemolisis akut.
       c. Racun lokal dan sistemik.
            Yaitu racun yang dapat mengiritasi baik lokal maupun sistemik. Contoh : asam
            oksalat, asam karbol, arsen, garam Pb. Asam karbol menyebabkan erosi lambung,
            sedangkan sebagian yang diabsorbsi akan menimbulkan depresi SSP. Tetraetilen
            selain mempunyai efek iritasi, jika diserap akan menimbulkan hemolisis akut.

   5. Berdasarkan cara masuk ke dalam tubuh.
          Ditelan (peroral, ingesti).
          Terhisap bersama udara pernafasan (inhalasi).
          Melalui penyuntikan (parenteral, injeksi).
          Penyerapan melalui kulit yang sehat atau kulit yang sakit.
          Melalui anus atau vagina (perektal, pervaginam).

Mekanisme kerja racun

    1. Racun yang bekerja secara setempat (lokal)
Misalnya:
    - Racun bersifat korosif: lisol, asam dan basa kuat.
    - Racun bersifat iritan: arsen, HgCl2.
    - Racun bersifat anastetik: kokain, asam karbol.
Racun-racun yang bekerja secara setempat ini, biasanya akan menimbulkan sensasi nyeri yang
hebat, disertai dengan peradangan, bahkan kematian yang dapat disebabkan oleh syok akibat
nyerinya tersebut atau karena peradangan sebagai kelanjutan dari perforasi yang terjadi pada
saluran pencernaan.
    2. Racun yang bekerja secara umum (sistemik)
Walaupun kerjanya secara sistemik, racun-racun dalam golongan ini biasanya memiliki akibat /
afinitas pada salah satu sistem atau organ tubuh yang lebih besar bila dibandingkan dengan
sistem atau organ tubuh lainnya.

                                                                                             8
    Misalnya:
-      Narkotik, barbiturate, dan alkohol terutama berpengaruh pada susunan syaraf pusat.
-      Digitalis, asam oksalat terutama berpengaruh terhadap jantung.
-      Strychine terutama berpengaruh terhadap sumsum tulang belakang.
-      CO, dan HCN terutama berpengaruh terhadap darah dan enzim pernafasan.
-      Cantharides dan HgCl2 terutama berpengaruh terhadap ginjal.
-      Insektisida golongan hidrokarbon yang di-chlor-kan dan phosphorus terutama berpengaruh
    terhadap hati.
        3. Racun yang bekerja secara setempat dan secara umum
    Misalnya:
-      Asam oksalat
-      Asam karbol
    Selain menimbulkan rasa nyeri (efek lokal) juga akan menimbulkan depresi pada susunan syaraf
    pusat (efek sistemik). Hal ini dimungkinkan karena sebagian dari asam karbol tersebut akan
    diserap dan berpengaruh terhadap otak (Nawawi, 1989).
-      Arsen
-      Garam Pb


    Faktor yang mempengaruhi keracunan

           Berbagai faktor mempengaruhi terjadinya keracunan :

       1. Cara masuk.
           Keracunan paling cepat terjadi jika masuknya racun secara inhalasi. Cara masuk lain,
           berturut-turut ialah intravena, intramuskular, intraperitoneal, subkutan, peroral dan paling
           lambat ialah bila melalui kulit yang sehat.

       2. Umur.
           Kecuali untuk beberapa jenis racun tertentu, orang tua dan anak-anak lebih sensitif
           misalnya pada barbiturat. Bayi prematur lebih rentan terhadap obat karena eksresi melalui
           ginjal belum cukup.

       3. Kondisi tubuh.
           Penderita penyakit ginjal umumnya lebih mudah mengalami keracunan. Pada penderita
           demam dan penyakit lambung, absorpsi dapat terjadi dengan lambat. Bentuk fisik dan
           kondisi fisik, misalnya lambung berisi atau kosong.




                                                                                                     9
   4. Kebiasaan. Sangat berpengaruh pada racun golongan alkohol dan morfin, sebab dapat
       terjadi toleransi, tetapi toleransi tidak dapat menetap, jika pada suatu ketika dihentikan,
       maka toleransi akan menurun lagi.
   5. Waktu pemberian.
       Untuk racun yang ditelan, jika ditelan sebelum makan maka absorbs terjadi lebih baik
       sehingga efek akan timbul lebih cepat.

   6. Kuantitas (dosis) racun.
       Pada umumnya dosis racun yang besar akan menyebabkan kematian yang lebih cepat.
       Tetapi pada beberapa kasus, misalnya racun tembaga sulfat dalam dosis besar akan
       merangsang muntah sehingga racun keluar dari tubuh

Toksikologi di forensik

 A. Keracunan sianida

     1 Definisi

       sianida merupakan racun yang sangat toksik, karena hanya dalam jumlah kecil garam
       sianida yang diperlukan dapat menyebabkan kematian. Mempunyai sifat




       •       Cairan jernih yang bersifat asam, larut dalam air, alkohol dan eter.

       •       Mempunyai titik didih 26,5°C sehingga mudah menguap dalam suhu ruangan.

       •       Titik beku 14°C.

       •       Berbau khas bau amandel.

       •       Dipakai untuk sintesis kimia dan fumigation gudang-gudang kapal untuk
               membunuh tikus.

       2. Dosis toksik

           Peroral untuk - HCN             : 60 – 90 mg



                                                                                               10
                - KCN/NaCN : 200 mg

 kosentrasi gas sianida dalam udara lingkungan dan lamanya inhalasi

 menentukan kecepatan timbulnya gejala – gejala dan kematian

         20 ppm             : Gejala ringan setelah beberapa jam
         100 ppm            : Sangat berbahaya dalam 1 jam
         200 – 400 ppm      : Meninggal dalam 30 menit
         2000 ppm           : Meninggal seketika



3. Mekanisme toksikologi sianida

Sianida masuk kedalam tubuh dapat melalui oral, inhalasi dan kulit setelah diabsorpsi
masuk kedalam darah sebagai CN bebas dan tidak dapat bereaksi dengan hemoglobin.
Sianida yang diabsorpsi dalam tubuh akan menginaktifkan secara radikal beberapa enzim
oksidatif dari seluruh jaringan, terutama cytochrome oxidase dengan mengikat bagian
"Ferric heme group"nya . Dengan demikian akan mencegah oksigen yang dibawa oleh
darah". Disamping itu sianida berefek penting, secara reflek merangsang pernafasan
dengan kerjanya dibagian ujung saraf sensorik . Di "catoric body " (chemoreceptor)
pernafasan bertambah cepat dan dalam hal ini menyebabkan gas racun yang diinhalasi
makin banyak. Oleh karena itu, proses reaksi reduksi dalam sel tidak dapat berlangsung,
oxy-Hb berdisosiasi melepas 02 ke sel jaringan, maka akan terjadi anoksia jaringan
(histotoksik anoksia). Ini adalah paradoks dimana orang meninggal akibat hipoksia, tetapi
kaya akan oksigen dalam darahnya.

4. Gejala-gejala keracunan sianida

Racun sianida yang ditelan cepat menyebabkan kegagalan pernapasan dan kematian
dapat timbul dalam beberapa menit. Dalam interval yang pendek antara menelan racun
sampai kematian dapat ditemukan gejala-gejala , pasien mengeluh merasa terbakar pada
kerongkongan dan lidah, sesak nafas, hipersalivasi, nausea dan muntah, sakit kepala,
vertigo, fotofobia, tinitus,sianosis dan kelelahan. hawa pernafasan dapat tercium bau


                                                                                      11
amandel juga dari muntahan tercium bau amandel. menjelang kematian sianosis lebih
nyata .

5. Tanda-tanda post mortem

  Pemeriksaan Luar.

         keracunan sianida bila tercium bau khas bau amandel
         Sianosis pada wajah dan bibir, busa pada mulut, lebam mayat berwarna merah
          terang (warna merah terang karena dash vena kaya akan oxy-Hb).
 Pemeriksaan dalam.

         Dapat tercium bau khas amandel ketika membuka rongga dada, perut, otak serta
          lambung (bila racun per-oral).
         Darah, otot-otot dan penampang organ-organ tubuh dapat berwarna merah terang .
         Selanjutnya hanya ditemukan tanda-tanda asfiksia pada organ-organ tubuh,
          kecuali bila racun garam alkali sianida dapat ditemukan kelainan pada mukosa
          lambung berupa korosi dan berwarna merah kecoklatan (karena terbentuk
          hematine alkali), perabaan lambung licin seperti sabun.
6. Pengobatan

  Keracunan Sianida yang di inhalasi

  tindakan emergensi pindahkan korban ke udara yang bersih, beri amilnitrit

  secara inhalasi, beri pernapasan buatan

 antidotum: Sodium nitrite, Sodium thiosulfate, Hidrokso-kobalamin




  Keracunan sianida yang ditelan.

  tindakau emergensi :Inhalasi amilnitrit, kubah lambung harus ditunda sampai

  telah diberikan antidote nitrit dan thiosulfat.

                                                                                     12
Keracunan Karbon monoksida

      1.Pendahuluan

       Karbon monoksida (CO), merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak
      mempunyai rasa dan mempunyai afinitas terhadap haemoglobin 210-300 kali besar bila
      di bandingkan afinitas oksigen terhadap haemoglobin. Karbon monoksida juga
      merupakan "man made polutan" yang berbahaya bagi manusia; di USA saja setiap
      tahunnya terdapat 1500 orang mati karena keracunan dan setiap tahunnya lebih dari
      10.000 penduduk yang perlu mendapatkan perawatan.

      2. Dosis dan gejala

          Tanda dan Gejala                                                      Saturasi
                                                                                COHb

          Tidak ada                                                             0-10

          Rasa kencang pada dahi, mungkin sakit kepala yng ringan, pelebaran 10-20
          pembuluh darah perifer

          Sakit kepala, berdenyut pada pelipis                                  20-30

          Sakit kepala hebat, penglihatan kabur, lemah, pusing, mual, muntah, 30-40
          kolaps.

          s.d.a dengan kemungkinan lebih besar untuk terjadi kolaps atau sinkop, 40-50
          nadi dan pernafasan cepat.

          Sinkop, pernafasan cepat, nadi cepat, koma-dengan serangan konvulsi 50-60
          intermiten, pernafasan chyne stoke

          Koma dan konvulsi intermiten, kerja jantung tertekan, pernafasan 60-70
          tertekan dan mungkin terjadi kematian.

          Nadi lemah, pernafasan dangkal, kegagalan pernafasan dan kematian.    70-80



                                                                                           13
3. Mekanisme toksisitas CO

         Karbon monoksida akan terikat dengan hemoglobin, hal ini dimungkinkan karena
afinitas CO yang 210-300 kali lebih besar dari afinitas oksigen terhadap Hb, dengan
demikian terhadap kompetisi dan keadaan ini akan mengakibatkan tubuh kekurangan
oksigen (anemik anoksia).

         Karbon monoksida yang larut dalam plasma, akan masuk ke dalam jaringan dan
CO tersebut dalam berkompetisi dengan oksigen untuk mengikat enzim pernafasan dalam
sel, yaitu enzim sitokrom (cytochrom a, cytochrom a3, cytochrom p-450); enzim yang
terutama di pengaruhi adalah sitokrom a3.

         Mekanisme inilah yang dapat menerangkan mengapa pada keracunan CO yang
faal, saturasi COHb yang di dapatkan pada permeriksaan toksikologis tidak begitu tinggi.

4. Tanda post mortem

         Kelainan yang dapat di temukan pada pemeriksaan mayat tergantung dari saat
terjadinya kematian setelah korban kontak dengan CO; yaitu apakah kematian terjadi
dengan segera (immediate death), ataukah setelah beberapa waktu kemudian (delayed
death)

         Immediate death dalam hal ini lebam mayat akan berwarna merah bata (cherry
red), demikian pula alat-alat dalam dan darahnya. Pada beberapa kasus lebam mayat
mungkin berwarna kelabu. Darah tetap cair, tidak membeku, jadi seperti halnya pada
kasus asfiksia atau pada kasus-kasus dimana kematian terjadi cepat. Otak sembab dan
kongestif, bintik-bintik perdarahan (ptechie) dapat di temukan pada jantung, otak, viscera
atau pada kulit.


                                                                                       14
              Delayed death nekrosis dan pembentukan kavitas dapat terjadi pada putamen atau
      palidum. Perubahan yang dapat di lihat dalam 24 jam pertama ialah jaringan otot tampak
      pucat, kemudian setelah 5 hari tampak "foam cells", sel-sel mikroglia tampak
      memfagositir lemak yang berasal dari myelin yang rusak, sehingga terjadi "lipid
      phagocytes" (corp granuleux=gitterzellen).

      Karbon monoksida dapat menyebabkan nekrosis retikuler di daerah substansia nigra dan
      kerusakan pada pallidum, inilah yang agak dapat menerangkan pada keracunan CO dapat
      terjadi sindroma Parkinson

   6. Pengobatan
          Korban harus segera di pindahkan dari tempat yang mengandung CO, asktifitas
   korban harus di cegah, pemberian oksigen saja atau oksigen di campur dengan 5% CO2
   diberikan secara periodic dan jika perlu dapat di lakukan artificial. Segera setelah terjadi
   koma, dapat diberikan prokain hidroklorida (iv), yaitu setelah di lakukan sensitisasi test.
   Dalam waktu 2 jam diberikan 500 ml prokain hidroklorida 0,1% dalam 5% dekstrosa, atau
   larutan prokain hidroklorida dalam garam atau dalam air.

Keracunan arsen

      1. Pendahuluan

              Arsen adalah logam berat bentuk seperti bubuk giling tidak berwarna , tidak
      berbau ,tidak berasa dan tidak larut dalam air.Arsen mengiritasi jaringan menekan sistem
      saraf dan menghalangi respirasi sel.Bentukdari arsen adalah:

      Oksida dari arsen (As2O3) ,Arsenit Sulfida.

      2. Dosis

              Jumlah yang sangat sedikit dapat membunuh seorang manusia 30-300mg, dosis
      yang menyebabkab kematian 120 mg.

      3. Gejala keracunan arsen yaitu

                     Rasa terbakar pada tenggorokan dan epigastrium.


                                                                                            15
             Rasa haus yang hebat disertai mual muntah dan diare.
             Nyeri yang akut pada abdomen karena adanya perforasi lambung.
             Tekanan darah rendah dan dehidrasi.
             Kejang-kejang,otot dan kulit terasa sakit.
             Dalam kasus dimana racun As dalam bentuk serbuk,pasien batuk dengan
              dahak berbusa,gangguan pernafasan dan sianosis. oedema paru akut.
4. Pemeriksaan kedokteran Forensik:

              Pemeriksaan luar : tanda-tanda dehidrasi misalnya mata cekung,
       penonjolan tulang-tulang wajah.

              Pemeriksaan dalam :

       Mulut : Mukosa biasanya normal, tampak tanda-tanda inflamasi.

       Sistem pencernaan : tanda-tanda iritasi lambung, mukosa berwarna merah
       kadang-kadang dengan perdarahan, iritasi lambung dapat menyebabkan produksi
       musin yang menutupi mukosa dengan akibat partikel-partikel arsen dapat
       bertahan , isi lambung berwarna gelap

       Pada jantung perdarahan sub endokardium pada septum.

       Pada korban meninggal diambil semua organ, darah, urine, isi usus, isi
       lambung,rambut, kuku, tulang, kulit.

4. Penatalaksanaan

             Mencegah pemaparan lebih lanjut.
             Mengeluarkan racun yang belum sempat diserap.
             Merangsang muntah misalnya dengan menyentuh ovula
             Bilas lambung.
             Anti dotum.
             British Anti Lewisite (BAL) dosis 2 ml disuntikkan secara IM per 6 jam,
              misalnya dimerkaprol 5 mg/Kg BB tiap 8 jam hari pertama dan kedua dan
              tiap 12 jam untuk 12 hari berikutnya.

                                                                                  16
                       Telur dan albumin bekerja sebagai unsur demolsen yaitu mencegah
                        penyerapan lebih lanjut.
                       Pengobatan simptomatik, menggantikan cairan dengan infus, Morphin jika
                        mengalami nyeri hebat.



KRITERIA DIAGNOSIS

   1. Anamensis kontak antara korban dengan racun
   2. Adanya tanda-tanda dan gejala yang sesuai dengan akibat dari racun yang diduga
   3. Harus dapat dibuktikan bahwa sisa benda bukti adalah racun yang dimaksdu
   4. Dari bedah mayat harus dapat disingkirkan sebab kematian lain dan kelainan harus sesuai
      dengan kelainan akibat racun yang diduga
   5. Dibukitikan adaanya racun dan metabolitnya dari analisis toksikologik darah/urin

PEMERIKSAAN KORBAN TEWAS KERACUNAN

Berdasarkan interval waktu antara kontak korban-korban dengan kematian .dibedakan atas

   1. Kematian yang berlangsung cepat : kongesti alat dalam ,edema paru –otak-ginjal,tanda-
      tanda korosif ,bau khas dari hidung mulut ,lebam mayat yang khas
   2. Kematian yang berlangsung lambta menimbulkan kelainan khas sesuai jenis racun seperti
      - Arsen akan menunjukan pigmentasi ,hiperkeratosis dan rontoknya rambut
      - Karbon moniksida akan terjadi perlunakan atau gambaran honey comb appearance
          pada globus palidus ,perdarahan berbintik, dan adanya ring haemorrhages pada otak
      - Alkohol akan menimbulkan sirosis hati ,[erdarahan saluran cerna.

Permeriksaan luar

   1. Pakaian dan kulit : perhatikan adanya bercak ,bau,dan distribusi : pembunuhan (bercak
      tidak beraturan /disiram ) bunuh diri (bercak beraturan pada tangan dari atas keatas
      kebawah ),kecelakaan (tidak khas)
   2. Lebam mayat ,perhatikan warna : merah terang (keracunan sianida,CO,atau kontak
      dengan benda suhu dingin ),coklat kebiruan (anilin,nitrobenzena,kina,[otassium-chiorate
      dan acetanilide ,hijau (h2s)
   3. Bercak ,warna dan distribusi sekitar mulut : yodium (kulit menjadi hitam),nitrat (kulit
      menjadi kuning ) zat korosif (luka bakar merah-coklat) dan distribusi menginformasikan
      cara kematian.
   4. Bau dari mulut dan hidung : sianida bau (amandel,instisida (bau minyak tanah ) bau
      malation (bau kutu busuk ) ,amonia ,alkohol,lisol,eter,klorofom, dan asam karbolat (bau
      khas )


                                                                                            17
5. Kelainan lain : bekas suntikan ( keracunan narkotika ,barbiturat,kulit menjadu kunin
   (keracunan fosfor ,tembaga ,cloronitaed hydrocarbon insecide

   PEMERIKSAAN DALAM
   1. Pembukaan rongga tengkorak ,perhatikan bau dan warna jaringan otak (cherry red :
      CO coklat akibat terbentuknya metHb )
   2. Pembukaan rongga dada perhatikan warna dan bau
   3. Pembukaan rongga perut ,perhatikan warna dan bau serta kelainan pada lambung
      untuk racun yang ditelan ,seperti :
   - Hiperemi(keracunan zat korosif : di kurvatura mayor ,tembaga : hiperemi dan warna
      biru kehijauan ,asam sulfat : hiperemi dan warna kehitaman )
   - Perlunakan (keracunan zat korosif : ulkus rapuh ,tipis,dikelilingi tanda peradangan )
   - Perforasi ( hanya pada keracunan asam sulfat pekat )
      Kelainan pada lambung akibat zat korosif dibedakan :
   - Korosif anorganik asam (mukosa lambung mengkerut ,coklat hitam,kesan kering dan
      hangus terbakar), basa ( mukosa lambung lunak ,sembab ,basah,merah / coklat,kesan
      pada perabaam seperti sabun )
   - Korosif organik golongan fenol (pseudomembran warna abu-abu kebiruan) golongan
      formaldehid (mukosa membran mengkerut ,mengeras ,warna kelabu )
      Pada keracunan bentuk gas akan timbul perubahan pada saluran napas : sembab
      ,hiperemi,iritasi ,kongesti
      Pada keracunan racun yang berkerja pada susuna saraf pusat didapatkan tanda
      asfiksia dan ciri khusus seperti pada keracunan strikinin tubuh korban melengkung
   4. Pemeriksaan urin akan timbul perubahan warna ,sperti pada keracunan asam pikrat
      pekat (urin hijau kecoklatan ) sulfat kronis dan barbital (urin merah anggur), fenol
      atau salisilat (urin hijau kecoklatan/hijau gelap ),keracunan zat yang membentuk
      metHb (urin merah-ciklat /coklat kehitaman )




                                                                                          18
                                DAFTAR PUSTAKA

1. Prof. Dr. Amri Amir, Sp.F, DFM, SH : Ilmu Kedokteran Forensik, Edisi Kedua, Bagian
   Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran USU, Medan, 2005, Hal : 24.
2. Dr.Jims ferdinan available from:
   http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20996/3/Chapter%20II.pdf

3. M. Husni Gani : Ilmu Kedokteran Forensik, Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
   Kedokteran Universitas Andalas, Padang, Hal : 111-122.
4. Toxicology available from www.earth.org/article/toxicology
5. Ilmu Kedokteran Forensik, Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
   Indonesia, Hal : 71-86.
6. I, Darmansjah, Metta Sinta SW, Toksikologi : Farmakologi dan Terapi, edisi lima, Gaya
   baru, Jakarta, hal 820-842
7. Dr.Mansyur, toxicology available from www.library.usu.ac.id/download




                                                                                     19

								
To top