Maternitas - Sifilis

Document Sample
Maternitas - Sifilis Powered By Docstoc
					                                     KONSEP DASAR
                                        SIFILIS

A. DEFINISI
   Sifilis ialah penyakit infeksi oleh Treponema pallidum dengan perjalanan penyakit
       yang kronis, adanya remisi dan eksaserbasi, dapat menyerang semua organ dalam
       tubuh terutama sistem kardiovaskuler, otak dan susunan saraf, serta dapat terjadi
       sifilis kongenital. Disebut juga Mal de Naples, Morbus gallicus, Lues venera (prat),
       disease of the isle of Espanole (Dias), Spanish of French disease, Italian or
       Neopolitan disease, raja singa, dan lain-lain (Mansjoer, 2000).
   Sifilis ialah merupakan infeksi sistemik kronik yang disebabkan oleh Treponema
       pallidum subspesies pallidum yang biasanya ditularkan secara seksual dan ditandai
       oleh episode penyakit aktif diselingi oleh periode laten (Harrison, 1999).
   Sifilis ialah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidum, sangat
       kronik dan sejak semula bersifat sistemik. Pada perjalanannya dapat menyerang
       hampir semua alat tubuh, dapat menyerupai banyak penyakit, mempunyai masa laten,
       dan dapat ditularkan dari ibu ke janin. (Harahap, 1984).


B. ETIOLOGI
           Sifilis disebabkan oleh Treponema pallidum, yaitu spiroketa mikroaerofilik
  dengan flagela aksial peri plasmik yang mengelilingi protoplasma langsung helikal, yang
  seluruhnya dibungkus oleh membran luar. (Robbins, 1999).
           Treponema pallidum menurut Harrison (1999) terbagi menjadi beberapa sub
  spesies pallidum diantaranya:
       T. pallidum sub spesies pallidum (selanjutnya disebut T. pallidum) menyebabkan
        sifilis kelamin.
       T. pallidum sub spesies endemicum menyebabkan sifilis endemis atau bejel.
       T. paraluiscuniculi menyebabkan sifilis pada kelinci.


C. KLASIFIKASI
   Menurut Mansjoer (2000), Harrison (1999) dan Harahap (1984), pembagian sifilis
       secara klinis ialah:
     1. Sifilis Kongenital
         Penularan T. pallidum dari perempuan yang menderita sifilis ke janin yang
         dikandungnya melalui plasenta dapat terjadi pada tahap kehamilan berapapun,
         tetapi lesi sifilis kongenital secara umum berkembang setelah bulan keempat
         kehamilan. ketika kemampuan imunologik mulai berkembang penampakan sifilis
         kongenital dapat dibagi menjadi:
         1) Penampakan dini yagn muncul dalam waktu 2 tahun pertama kehidupan atau
             antara umur 2 sampai 10 minggu, menular dan menyerupai sifilis sekunder
             berat pada orang dewasa.
         2) Penampakan lanjut
             Muncul setelah 2 tahun dan tidak menular.
         3) Kecacatan sisa sifilis kongenital.
     2. Sifilis Akuisita
         Menurut Harahap (1985) sifilis akuisita dibagi menurut 2 cara yaitu:
         -   Secara klinis
             Secara klinis sifilis dibagi menjadi tiga stadium: stadium I (S I), stadium II (S
             II), dan stadium III (S III)
         -   Secara epidemiologik
             Secara epidemiologik menurut WHO dibagi menjadi:
             1) Stadium dini menular (dalam waktu 2 tahun sejak infeksi), terdiri atas S I,
                 S II, stadium rekuren, dan stadium laten dini.
             2) Stadium laten lanjut tak menular (setelah 2 tahun sejak infeksi) terdiri atas
                 stadium laten lanjut dan S III.
   Mansjoer (2000) dan Harahap (1984) menyebutkan bentuk lain dari sifilis yaitu:
     Sifilis kardiovaskular dan neurosifilis. Ada yang memasukkannya ke dalam S III atau
     S IV atau sebagai metasifilis.


D. PATOGENESIS
         Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan lesi yang mengandung
  treponema, treponema dapat masuk (port d’ entre) melalui selaput lendir yang utuh/kulit
  dengan lesi, kemudian masuk ke peredaran darah dan semua organ dalam tubuh. Infeksi
  bersifat sistemik dan manifestasinya akan tampak kemudian. Perkembangan penyakit
  sifilis berlangsung dari satu stadium ke stadium berikutnya, 10-90 hari (umumnya 3-4
minggu) setelah terjadi infeksi, pada tempat masuk T. pallidum timbul lesi primer yang
bertahan 1-5 minggu dan kemudian hilang sendiri, kurang lebih 6 minggu (2-6 minggu)
setelah lesi primer terdapat kelainan kulit dan selaput lendir yang pada permulaan
menyeluruh, kemudian mengadakan konfluensi dan berbentuk khas, kadang-kadang
kelainan kulit hanya sedikit/sepintas lalu. (Mansjoer, 2000).
       Secara klinik perjalanan penyakit yang terjadi menurut Mansjoer (2000) dan
Harahap (1984) sebagai berikut:
1. Sifilis Akuisita
   a. Sifilis stadium I
       Tiga minggu (10-90 hari) setelah terinfeksi, timbul lesi pada tempat T. pallidum
       masuk, lesi umumnya hanya satu, terjadi afek primer berupa papul yang erosif
       berukuran beberapa milimeter sampai 1-2 cm, berbentuk bulat/bulan lonjong,
       dasarnya bersih, merah, kulit disekitarnya tidak ada tanda-tanda radang dan bila
       diraba ada pengerasan (indurasi) yang merupakan satu lapisan seperti sebuah
       kancing di bawah kain atau sehelai karton yang tipis, (kelainan ini tidak nyeri)
       indolen. Gejala tersebut sangat khas bagi sifilis stadium I afek primer, erosi dapat
       berubah menjadi ulkus berdinding tegak lurus, sedangkan sifat lainnya seperti
       pada afek primer, keadaan ini disebut ulkus durum yang dapat menjadi fagedenik
       bila ulkusnya meluas. Kadang-kadang hanya terdapat edema induratif pada pintu
       masuk T. pallidum yang tersering pada labia mayora. Sekitar 3 minggu kemudian
       terjadi penjalaran ke kelenjar ingunal medial, kelenjar tersebut membesar, padat
       kenyal pada perabaan, tidak nyeri, soliter dan dapat digerakkan bebas dari
       sekitarnya. Keadaan ini disebut sebagai sifilis stadium 1 kompleks primer, lesi
       umumnya terdapat pada alat kelamin, dapat juga ekstragenital (bibir, lidah, tonsil,
       putting susu, jari, dan anus).
       Hasil pemeriksaan TSS pada sifilis stadium 1 dapat seronegatif/seropositif,
       seronegatif umumnya terdapat bilamana kompleks primer belum terjadi.
   b. Sifilis stadium II
       Pada umumnya bila gejala sifilis stadium II muncul, sifilis stadium I sudah
       sembuh, waktu antara sifilis stadium I masih ada saat timbul sifilis stadium II.
       Sifat yang khas pada sifilis ialah jarang ada rasa gatal, gejala konstitusinya seperti
       nyeri kepala, demam sub febril, anorexia, nyeri pada tulang dan nyeri leher
       biasanya mendahului. Kelainan kulit yang timbul berupa makula, papul, pustul
       dan rupia, tidak terdapat vesikel dan bula.
       Sifilis stadium II disebut sebagai The greatest immitator of all skin disease, pada
       stadium ini terdapat kelainan selaput lendir dan limfadenitis yang generalisata,
       diagnosis sifilis stadium II biasa ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan
       serologik yang reaktif dan pemeriksaan lapangan gelap positif.
   c. Sifilis stadium III
       Lesi yang khas adalah guma yang terjadi 3-7 tahun setelah infeksi, guma
       umumnya satu, dapat multiple, ukuran miliar sampai berdiameter beberapa
       centimeter, guma dapat timbul pada semua jaringan dan organ, membentuk
       nekrosis central dikelilingi oleh jaringan granulasi dan pada jaringan luarnya
       terjadi jaringan fibrosa, sifatnya destruktif, guma mengalami supurasi dan
       memecah serta meninggalkan suatu ulkus dengan dinding curam dan dalam
       dasarnya terdapat jaringan nekrotik berwarna kuning putih, stadium ini merusak
       semua jaringan, tulang rawan pada hidung dan palatum, guma dapat ditemukan di
       dalam hepar, lambung, lien, paru, testis, dan lain-lain. Kelainan lain berupa nodus
       di bawah kulit, ukuran miliar sampai tentikular, merah dan tidak ada nyeri tekan,
       permukaan nodus dapat berskuoma sehingga menyerupai psoriasis tetapi tanda
       auspitz negatif.
2. Sifilis Kongenital
          Treponema pallidum dapat melalui plasenta dan masuk ke peredaran darah
   janin, oleh karena langsung masuk ke peredaran darah tidak terdapat sifilis stadium I.
   Sifilis kongenital dibagi menjadi sifilis kongenital dini, lanjut, dan stigmata. Sifilis
   kongenital dini dapat muncul beberapa minggu (3 minggu) setelah bayi dilahirkan.
   Kelainan berupa vesikel dan bula yang setelah memecah membentuk erosi yang
   ditutupi krusta, kelainan ini sering muncul beberapa bulan setelah bayi dilahirkan,
   kelainan berupa papul dengan skuama yagn menyerupai sifilis stadium II. Kelainan
   pada selaput lendir berupa sekret hidung yang sering bercampur darah. Kelainan pada
   tulang panjang berupa osteokondritis yang khas pada foto rongent bisa terdapat
   splenomegali dan pneumonia alba.
          Sifilis kongenital lanjut terdapat pada usia lebih dari 2 tahun. Manifestasi
   klinis baru ditemukan pada usia 7-9 tahun dengan adanya trias Hutchinson, yakni
   kelainan pada mata (keratitis interstisial yagn dapat menyebabkan kebutaan), ketulian
   N VIII, dan gigi Hutchinson (incisivus I atas kanan dan kiri bentuknya seperti obeng).
   Kelainan lain dapat berupa paresis, perforatum pallatum durum, kelainan tulang tibia
   dan frontalis.
           Stigmata terlihat pada sudut mulut berupa garis-garis yagn jalannya radier,
   gigi Hutchinson, gigi molar pertama berbentuk seperti murbai dan penonjolan tulang
   frontal kepala (frontal bossing).
3. Sifilis Kardiovaskular
           Umumnya bermanifestasi 10-20 tahun setelah infeksi. Sejumlah 10% pasien
   sifilis akan mengalami fase ini. Pria dan orang dengan kulit berwarna lebih banyak
   terkena. Jantung dan pembuluh darah yang terkena terutama yang besar. Kematian
   pada sifilis terjadi akibat kelainan sistem ini.
           Biasanya disebabkan oleh nekrosif aorta yang berlanjut ke arah katup. Tanda-
   tanda sifilis kardiovaskular adalah insufisiensi aorta atau aneurisma, berbentuk
   kantong pada aorta torakal (aneurisme aorta torakales). Secara teliti harus diperiksa
   kemungkinan adanya hipertensi, arteriosklerosis, dan penyakit jantung rematik
   sebelumnya. Bila terdapat insufisiensi aorta tanpa kelainan katup pada seseorang
   berusia setengah baya disertai pemeriksaan serologis yang reaktif. Pertama kali harus
   dipikirkan sifilis kardiovaskuler sampai dapat dibuktikan lebih lanjut. Pemeriksaan
   serologis umumnya reaktif.
4. Neurosifilis
           Penyakit ini umumnya bermanifestasi dalam 10-20 tahun setelah infeksi,
   walaupun T. pallidum langsung bergerak setelah infeksi ke sistem otot dan saraf.
   Kelainan ini lebih banyak didapat pada orang kulit putih. Neurosifilis dibagi menjadi
   3 jenis, bergantung kepada tipe dan tingkat kerusakan susunan saraf pusat.
   a. Neurosifilis asimtomatik
       Pemeriksaan serologis reaktif. Tidak ada tanda dan gejala kerusakan susunan
       saraf pusat. Pemeriksaan sumsum tulang belakang menunjukkan kenaikan sel,
       protein total dan tes serologis reaktif.
   b. Neurosifilis meningovaskular
       Terdapat tanda dan gejala kerusakan susunan saraf pusat, berupa kerusakan
       pembuluh dara serebrum, infark dan ensefalomalasia dengan tanda-tanda adanya
       fokus neurologis sesuai dengan ukuran dan lokasi lesi.
         c. Neurosifilis parenkimatosa yang terdiri dari paresis dan tabes dorsalis.
             Tanda dan gejala paresis sangat banyak dan selalu menunjukkan penyebaran
             kerusakan parenkimatosa. Terdapat tanda fokus neurologis. Tanda dan gejala
             tabes dorsalis akibat degenerasi kolumna posterior adalah parestesia, ataksia,
             arefleksia, gangguan kandung kemih, impotensi dan perasaan nyeri.


 E. PATHWAY KEPERAWATAN


                                 Treponema pallidum



                              Masuk melalui membran
                              mukosa atau selaput lendir



         Infeksi                                           Masuk ke peredaran darah
                                                            dan semua organ tubuh

       10-90 hari
                                                    Menyebar ke               Limfadenitis
Papul pada tempat masuk                            semua jaringan
  (bibir + alat kelamin)



    Papul menyebar             Cemas
                                                   Gangguan pola
                                                    seksualitas
      Papul pecah




       Kerusakan               Nyeri         Masuk tenggorokan
     integritas kulit

                                                 Papul pecah


                                              Sakit saat menelan
                                               Anoreksia



                                         Ketidakseimbangan
                                               nutrisi


F. MANIFESTASI KLINIK
  1. Sifilis Dini
     a. Sifilis primer (S I)
         Terjadi afek primer berupa papul yang erosif, erosi dapat berubah menjadi ulkus,
         keadaan ini disebut ulkus durum. Bila ulkus meluas ke samping dan ke dalam
         menjadi fagedenik kadang terdapat edema induratif pada sulkus koronarius
         (pria)/labia mayora/minora (wanita). Terjadi pembesaran kelenjar inguinal
         medial, timbul lesi pada alat kelamin dan juga ekstragenital (bibir, lidah, tonsil,
         putting susu, jari dan anus).
     b. Sifilis sekunder (S II)
         Nyeri kepala, demam sub febril, anorexia, nyeri pada tulang, nyeri leher yang
         mendahului/bersamaan dengan kelainan kulit, kelainan kulit berupa makula,
         papul, pustul, rupia. Terdapat kelainan selaput lendir, dan limfadenitis yagn
         generalisata. Nyeri tenggorok, suara parau, kerontokan rambut (alopesia difus)
         dan alopesia areolaris).
         Warna kuku menjadi putih, rapuh, terjadi uveitis anterior pada mata, kadang
         terjadi koriootinitis, kadang terjadi hepatisis, hepar membesar dan menyebabkan
         ikterus ringan, pembengkakan sendi.
     c. Sifilis laten dini
         Tidak ada gejala klinis dan kelainan termasuk alat-alat dalam, tetapi infeksi masih
         ada dan aktif.
     d. Stadium rekuren
         Relaps dapat terjadi baik secara klinis berupa kelainan kulit mirip S II, dapat
         terjadi kelainan pada mata, tulang, alat dalam dan susunan saraf.




  2. Sifilis Lanjut
     a. Sifilis laten lanjut
         Mungkin terjadi aorititis, terdapat sikatrik bekas S I pada alat genital (leukoderma
         pada leher) yang menunjukkan bekas S II, kadang terdapat atrofi makular yang
         lentikuler pada badan bekas papel S II.
     b. Sifilis tersier
         Guma (satu atau multipel). Guma yang pecah menyebabkan ulkus, terdapat nodus
         bergerombol/tersebar guma di selaput lendir (mulut, tenggorok, septum nasi),
         dapat terjadi perforasi pada septum nasi/palatum mole, leukoplakia pada lidah,
         nyeri pada tulang tibia, tengkorak, bahu, femur, fibula dan humerus (biasanya
         malam hari). Guma dapat menyerang alat dalam seperti hepar, esofagus,
         lambung, paru, ginjal, vesika urinaria, prostat, ovarium, testis.


G. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS
         Pemeriksaan diagnosis menurut Harrison (1999) dan Harahap (1984), ada 3 yaitu:
  (1) pemeriksaan Treponema palidum; (2) tes serologik sifilis (TSS); (3) pemeriksaan
  yang lain.
  1. Pemeriksaan Treponema pallidum
               Cara pemeriksaan ialah dengan mengambil serum dari lesi kulit dan dilihat
     bentuk dan pergerakannya dengan mikroskop lapang gelap. Treponema tampak
     berwarna putih pada latar belakang gelap.
               Pemeriksaan lain dengan pewarnaan menurut Buri, tidak dapat dilihat
     pergerakaannya karena treponema tersebut telah mati, jadi hanya tampak bentuknya
     saja. Secara lege artis harus diperiksa tiga kali berturut-turut, setiap hari, sementara
     itu lesi dikompres dengan larutan garam faal.
  2. TSS
               TSS atau Serologic Tests for Syphilis (STS) merupakan pembantu diagnosis
     yang terpenting bagi sifilis. Sebagai ukuran untuk mengevaluasi tes serologi ialah
     sensitivitas dan spesifisitas. Sensitivitas ialah kemampuan untuk bereaksi pada
     penyakit sifilis, sedangkan spesifisitas berarti kemampuan non reaktif pada penyakit
     bukan sifilis.
               S I pada mulanya memberi hasil TSS negatif (seronegatif), kemudian menjadi
     positif (seropositif) dengan titer rendah, jadi positif lemah. Pada S II yang masih dini
reaksi menjadi positif agak kuat, yang akan menjadi sangat kuat pada S II lanjut.
Pada S III reaksi menurun lagi menjadi positif lemah atau negatif.
       TSS dibagi menjadi dua berdasarkan antigen yang dipakai: (1) nontreponemal
(tes reagin); (2) treponemal.
1) Tes nontreponemal
   Pada tes ini digunakan antigen tak spesifik yaitu kardiolipin yang dikombinasikan
   dengan lesitin dan kolesterol, karena itu tes ini dapat memberi Reaksi Biologik
   Semu (RBS) atau Biologic False Positive (BFP).
   Antibodinya disebut reagin, yang terbentuk setelah infeksi dengan Treponema
   pallidum, tetapi zat tersebut terdapat pula pada pelbagai penyakit lain dan selama
   kehamilan.
   Contoh tes nontreponemal:
   a) Tes komplemen fiksasi: Wasserman (WR), Kolmer.
   b) Tes flokasi: VDRL (Veneral Disease Research Laboratories), Kahn, RPR
       (Rapid Plasma Reagin), ART (Automated Reagin Test), dan RST (Reagin
       Screen Test).
   Diantara tes-tes tersebut, yang dianjurkan ialah VDRL dan RPR secara
   kuantitatif, karena teknis lebih mudah dan lebih cepat daripada tes fiksasi
   komplemen, lebih sensitif daripada tes Kolmer/Wasserman, dan baik untuk
   menilai terapi.
   Tes RPR dilakukan dengan antigen VDRL, kalau terapi berhasil, maka titer
   VDRL cepat menurun, dalam enam minggu titer akan menjadi normal. Jika titer
   seperempat atau lebih tersangka penderita sifilis, mulai positif setelah dua sampai
   empat minggu sejak S I timbul. Titer akan meningkat hingga mencapai
   puncaknya pada S II lanjut (1/64 atau 1/125) kemudian berangsur-angsur
   menurun dan mencapai negatif.
2) Tes treponemal
   Tes ini bersifat spesifik karena antigennya ialah treponema atau ekstraknya dan
   dapat digolongkan menjadi empat kelompok:
   a) Tes imobilisasi: TPI (Treponemal pallidum Immobilization Test).
   b) Tes fiksasi komplemen: RPCF (Reiter Protein Complement Fixation Test).
   c) Tes imunofluoresen: FTA-Abs (Fluorecent Treponemal Antibody Absorption
       test), ada dua: IgM, IgG.
    d) Tes hemoglutisasi: TPHA (Treponemal pallidum Haemoglutination Assay),
        IgS IgM SPHA (Solid-phase Hemabsorption Assay).

    TPI merupakan tes yang paling spesifik, tetapi mempunyai kekurangan: biayanya
    mahal, teknis sulit, membutuhkan waktu banyak. kecuali itu juga reaksinya
    lambat, baru positif pada akhir stadium primer, tidak dapat digunakan untuk
    menilai hasil pengobatan, hasil dapat negatif pada sifilis dini dan sangat lanjut.
    RPCF sering digunakan untuk tes screening karena biayanya murah; kadang-
    kadang didapatkan reaksi positif semu.
    FTA-Abs paling sensitif (90%), terdapat dua macam yaitu untuk IgM dan IgG.
    IgM sangat reaktif pada sifilis dini, pada terapi yang berhasil titer IgM cepat
    turun, sedangkan IgG lambat. IgM penting untuk mendiagnosis sifilis kongenital.
    TPHA merupakan tes treponemal yang dianjurkan karena teknis dan pembacaan
    hasilnya mudah, cukup spesifik dan sensitif, menjadi reaktifnya cukup dini.
    Kekurangannya tidak dapat dipakai untuk menilai hasil terapi, karena tetap reaktif
    dalam waktu yang lama.
    IgS IgM TPHA merupakan tes yang mutakhir dan sedang dikembangkan. Pada
    sifilis laten dan S III, tes nontreponemal bervariasi: positif lemah atau negatif,
    sedangkan tes treponemal positif lemah. Sebulan setelah pengobatan, tes-tes
    tersebut diulangi. Jika pengobatannya berhasil, titer akan menurun, kecuali
    TPHA. Bila hasil tes serologik tidak sesuai dengan klinis, tes tersebut perlu
    diulangi, karena mungkin terjadi kesalahan teknis.
   TSS dan kehamilan
    Bila pada bayi TSS reaktif, maka belum tentu diagnosisnya sifilis kongenita,
    karena ada kemungkinan faktor perpindahan serum dari ibu secara pasif. Karena
    tes ini akan memberi reaksi positif pada neonatus dengan sifilis kongenita, tetapi
    negatif pada neonatus yang tidak terinfeksi oleh ibu dengan TSS positif.
 TSS pada neurosifilis
    Tes yang berguna untuk mendiagnosis neurosifilis ialah IgS IgM SPHA, karena
    adanya IgM dalam cairan serebrospinalis yang merupakan indikasi tepat bagi
    neurosifilis.
       Positif Semu Biologik (PSB)
         a) PSB akut
             Ciri khas PSB akut: hasil tes nontreponemal positif lemah, tidak ada
             persesuaian antara kedua tes; berakhir dalam beberapa hari/minggu, jarang
             melebihi enam bulan sesudah penyakitnya sembuh.
         b) PSB kronis
             Pada bentuk ini tes treponemal akan memberi reaksi positif yang berulang
             dalam beberapa bulan/tahun. Hasil tes likuor serebrospinalis negatif.
       Positif sejati
         Positif sejati (true positives) pada TSS ialah penyakit treponematosis yang
         menyebabkan tes nontreponemal dan tes treponemal positif. Penyakit tersebut
         ialah penyakit tropis/subtropis, yakni: frambusia, bejel, dan pinta.
  3. Pemeriksaan yang lain
             Sinar rontgen dipakai untuk melihat kelainan khas pada tulang, yang dapat
     terjadi pada S II, S III, dan sifilis kongenita. Juga pada sifilis kardiovaskular. Juga
     untuk melihat kelainan pada sistem tersebut, misalnya aneurisma aorta.


H. KOMPLIKASI
  Komplikasi sifilis menurut Sjamsuhidajat dan Wim de Jong (1998) yaitu:
  1. Limfadenitis inguinalis luetikum.
  2. Ulkus durum.
  3. Dimensia paralitika.
  4. Aneurisma aorta luetikum.
  5. Taber dorsalis
     -   Krisis lambung luetik
     -   Gangguan miksi.
  6. Periostitis/osteomielitis
  7. Guma:
     -   Otak
     -   Mulut dan atau hidung
     -   Hepar
     -   Testis
     -   Kadang orchitis luetika.
I. PENCEGAHAN
  Pencegahan penyakit seksual menular menurut Long (1996):
  1. Pencegahan Primer
     Ditujukan untuk mencegah penyakit. Mencakup mendidik orang-orang yang sudah
     terinfeksi sedemikian rupa sehingga mereka dapat menghindarkan kontak dengan
     orang lain yang tidak terinfeksi. Identifikasi dan penanganan/pengobatan orang-orang
     asimtomatik yang tidak terlindung. Program pendidikan untuk masyarakat umum dan
     keterlibatan aktif pada profesional dalam program-program pengawasan. Tujuan
     usaha ini mencakup pemberantasan reservoir penyakit dalam masyrakat.
  2. Pencegahan Sekunder
     Ditujukan untuk pencegahan kompliaksi-komplikasinya.
  3. Pencegahan Tersier
     Difokuskan untuk pengurangan efek-efek komplikasi.


J. PENATALAKSANAAN
  Penatalaksanaan sifilis menurut Harrison (1999) dan Mansjoer (2000):
  1. Medikamentosa
      Sifilis primer dan sekunder
         -   Penisilin benzatin G dosis 4,8 juta unit injeksi intramuskular (2,4 juta
             unit/kali) dan diberikan satu kali seminggu, atau
         -   Penisilin prokain dalam aqua dengan dosis 600.000 unit injeksi intramuskular
             sehari selama 10 hari, atau
         -   Penisilin prokain ditambah 2% aluminium monostearat, dosis total 4,8 juta
             unit, diberikan 2,4 juta unit/kali sebanyak 2 kali seminggu.
      Sifilis laten
         -   Penisilin benzatin G dosis total 7,2 juta unit, atau
         -   Penisilin G prokain dalam aqua dengan dosis total 12 juta unit (600.000 unit
             sehari) atau
         -   Penisilin prokain ditambah 2% aluminium monostearat, dosis total 7,2 juta
             unit (diberikan 1,2 juta unit/kali, 2 kali seminggu).
    Sifilis III
       -   Penisilin benzatin G dosis total 9,6 juta unit, atau
       -   Penisilin G prokain dalam aqua dengan dosis total 18 juta unit (600.000 unit
           sehari), atau
       -   Penisilin prokain ditambah 2% aluminium monostearat, dosis total 9,6 juta
           unit (diberikan 1,2 juta unit/kali, 2 kali seminggu).
    Untuk pasien sifilis I dan II yang alergi terhadap penisilin, dapat diberikan:
       -   Tetrasiklin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 15 hari, atau
       -   Eritromisin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 15 hari, atau
       Untuk pasien sifilis laten lanjut (lebih dari 1 tahun) yang alergi terhadap penisilin,
       dapat diberikan:
       -   Tetrasiklin* 500 mg per oral 4 kali sehari selama 30 hari, atau
       -   Eritromisin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 30 hari, atau
       * Obat ini tidak boleh diberikan kepada wanita hamil, menyusui dan anak-anak.


2. Pemantauan serologik
   Pemantauan serologik dilakukan pada bulan I, II, VI, dan XI tahun pertama, dan
   setiap 6 bulan pada tahun kedua.


3. Non medikamentosa
   Memberikan pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan hal-hal sebagai berikut:
   -   Bahaya PMS dan komplikasinya.
   -   Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan.
   -   Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya.
   -   Hindari hubungan seksual sebelum sembuh, dan memakai kontom jika tak dapat
       menghindari lagi.
   -   Cara-cara menghindari infeksi PMS di masa datang.
                            ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
  Pengkajian pada pasien dengan sifilis menurut C. Long (1996):
  1. Wawancara
            Informasi yang perlu didapatkan dari orang-orang yang diduga mengidap
     penyakit menular seksual/sexually transmitted diseases (PMS/STD):
     1) Eksposur/terkontaminasi terhadap kontak STD.
     2) Sejarah STD sebelumnya, dan penanganannya.
     3) Orientasi seksual: “Apakah anda sudah pernah melakukan hubungan sex dengan
        pria, wanita atau keduanya?”
     4) Kapan aktivitas seksual yang terakhir?
     5) Banyaknya partner seksual dalam dua bulan sebelumnya.
     6) Pada wanita ditanya tentang:
        a. Vaginal discharge
        b. Vulvar itching (rasa gatal pada bagian vulva).
        c. Dysuria.
        d. Gejala-gejala rectal.
        e. Rasa sakit (luka pada tenggorokan).
        f. Luka pada alat kelamin (genital lesion).
        g. Urinary urgensy.
        h. Rasa sakit pada perut bagian bawah.
        i. Adanya ruam kulit (skin rashes) atau gatal.
        j. Periode-periode menstruasi.
     7) Pria heteroseksual ditanya tentang:
        a. Urethral discharge
        b. Dysuria
        c. Luka-luka pada alat kelamin.
        d. Ruam-ruam kulit.
        e. Rasa gatal.
        f. Rasa sakit pada testis (testicular pain).
        g. Sakit pada tenggorokan.
   8) Laki-laki gay atau biseksual ditanyakan beberapa pertanyaan seperti diajukan
       pada laki-laki heteroseksual ditambah pertanyaan tentang hal-hal sebagai berikut:
       a. Gejala-gejala rectal seperti rasa sakit, perdarahan, discharge dan diare.
   9) Jika individu dicurigai mengidap penyakit hepatitis, maka orang itu ditanyakan
       tentang:
       a. Air seni berwarna hitam.
       b. Kotoran berwarna tanah liat.
       c. Letih.
       d. Jeundice (kuning).

2. Pemeriksaan Fisik
   1) Inspeksi
       Terdapat papul, ulkus durum, lesi pada alat kelamin atau ekstragenital (bibir,
       lidah, tonsil, putting susu, jari dan anus), alopesia, warna kuku putih, ikterus,
       guma, leukoplakia pada lidah, uveitis anterior pada mata.
   2) Palpasi
       Terdapat limfadenitis generalisata, kuku rapuh, hepar membesar, nyeri tulang.
   3) Perkusi
   4) Auskultasi

3. Data Fokus
   -   Sirkulasi
       Hipertensi, ikterik.
   -   Integritas ego
       Stres      yang   berhubungan     dengan    penampilan,     kehilangan    dukungan
       keluarga/hubungan dengan orang lain, putus asa, cemas, depresi, merasa bersalah.
   -   Eliminasi
       Diare, lesi atau abses rektal/perianal, perubahan dalam jumlah, warna dan
       karakteristik urine, lesi pada labia.
   -   Makanan/Cairan
       Tidak nafsu makan, disfagia, nyeri saat menelan, penurunan berat badan, turgor
       kulit buruk, lesi pada bibir/mulut, leukoplakia.
     -   Neurosensori
         Pusing/sakit kepala, uveitis.
     -   Nyeri/kenyamanan
         Sakit kepala, nyeri tenggorok, nyeri sendi/tulang, pembengkakan sendi, nyeri
         pada lesi.
     -   Seksualitas
         Adanya riwayat perilaku beresiko tinggi terkena sifilis (PMS), aktifitas seksual
         yang tidak terlindung, seks anal, sakit saat melakukan hubungan seks.


B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
  Diagnosa keperawatan menurut Doengoes (1999):
  1. Nyeri (akut) berhubungan dengan kerusakan jaringan.
  2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
     kesulitan menelan.
  3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya papul.
  4. Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
  5. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.


C. INTERVENSI
  Intervensi keperawatan menurut Doengoes (1999):
  1. Diagnosa Keperawatan I:
     Nyeri (akut) berhubungan dengan kerusakan jaringan.
     Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan
     diharapkan nyeri pasien berkurang (terkontrol).
     Kriteria hasil:
     -   Nyeri terkontrol
     -   Skala nyeri (2-4)
     Intervensi:
     1) Kaji skala nyeri, intensitas dan lokasi.
         Rasional: Menggambarkan tingkat ketidaknyamanan sehingga dapat menentukan
         intervensi yang tepat.
   2) Monitor tanda-tanda vital.
      Rasional: Rasa nyeri dapat merangsang respon yang meliputi perubahan tanda-
      tanda vital.
   3) Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi. Beri tindakan kenyamanan seperti pijatan
      punggung.
      Rasional: Meningkatkan relaksasi dan membantu pasien memfokuskan perhatian
      pada sesuatu disamping ketidaknyamanan.
   4) Ciptakan lingkungan yang tenang.
      Rasional: Memberi kesempatan istirahat untuk mencegah kelelahan dan dapat
      meningkatkan koping terhadap stres/ketidaknyamanan.
   Kolaborasi:
   5) Rasional: Berikan analgetik sesuai indikasi.
      Rasional: Memberikan penurunan nyeri/ketidaknyamanan.


2. Diagnosa Keperawatan II:
   Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
   kesulitan menelan.
   Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan
   diharapkan kebutuhan nutrisi tercukupi.
   Intervensi:
   1) Kaji status nutrisi.
      Rasional: Menggambarkan tingkat ketidakadekuatan nutrisi terhadap kebutuhan
      tubuh, mengidentifikasi kebutuhan nutrisi.
   2) Awasi masukan dan berat badan sesuai indikasi.
      Rasional: Memberikan informasi sehubungan dengan kebutuhan nutrisi dan
      keefektifan terapi.
   3) Tentukan pentingnya mempertahankan keseimbangan/pemasukan nutrisi adekuat.
      Rasional: Mengetahui pentingnya masukan nutrisi untuk mempertahankan
      kesehatan, dapat memotivasi pasien untuk mempertahankan diit yang tepat.
   Kolaborasi:
   4) Kolaborasi dengan ahli gizi.
      Rasional: Membantu menentukan nutrisi yang tepat.
3. Diagnosa Keperawatan III:
   Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya papul.
   Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan
   diharapkan tidak terjadi infeksi sekunder.
   Kriteria hasil:
   -   Tidak terjadi penyebaran papul.
   -   Papul berangsur-angsur sembuh.
   Intervensi:
   1) Kaji kulit dan kondisi papul setiap hari.
       Rasional: Mengetahui perkembangan penyakit dan derajat keparahan.
   2) Anjurkan menjaga hygiene kulit.
       Rasional: Kulit yang kering dan bersih menjadi barier infeksi.
   3) Gunting kuku secara teratur.
       Rasional: Kuku yang panjang meningkatkan resiko kerusakan dermal.
   Kolaborasi:
   4) Berikan obat-obatan topikal/sistemik sesuai indikasi.
       Rasional: Digunakan untuk mengurangi papul/meningkatkan penyembuhan
       papul.


4. Diagnosa Keperawatan IV:
   Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
   Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan
   diharapkan fungsi seksual kembali normal.
   Kriteria hasil:
   -   Menyatakan pemahaman perubahan fungsi seksual.
   -   Mendiskusikan masalah peran seksual.
   -   Mengetahui alternatif cara mengekspresikan seksual.
   Intervensi:
   1) Berikan keterbukaan pada pasien/orang terdekat untuk membicarakan tentang
       masalah fungsi seksual.
       Rasional: Pasien dapat menyembunyikan pertanyaan yang diperlukan.
   2) Berikan informasi akurat tentang tahapan kembalinya fungsi seksual.
       Rasional: Meningkatkan harga diri dan membantu meningkatkan harapan
       pulihnya fungsi seksual.
   3) Membantu pasien untuk menyadari/menerima kondisinya.
       Rasional: Mengakui proses penyakit/menerima perubahan dapat meningkatkan
       koping dan memudahkan resolusi.
   4) Dorong pasien untuk berbagi pikiran.
       Rasional: Komunikasi terbuka dapat mengidentifikasi area penyesuaian/masalah
       dan meningkatkan resolusi.


5. Diagnosa Keperawatan V:
   Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
   Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan
   diharapkan ansietas berkurang/hilang.
   Kriteria hasil:
   -   Melaporkan ansietas menurun sampai tingkat yang dapat diatasi.
   -   Menunjukkan strategi koping efektif.
   Intervensi:
   1) Jelaskan tujuan tes dan prosedur.
       Rasional: Menurunkan cemas dan takut terhadap diagnosa dan prognosis.
   2) Tingkatkan ekspresi perasaan dan takut.
       Rasional: Perasaan tidak diekspresikan dapat menimbulkan kekacauan internal
       dan efek gambaran diri.
   3) Dorong keluarga dan teman untuk menganggap pasien seperti sebelumnya.
       Rasional: Meyakinkan pasien bahwa peran dalam keluarga dan kerja tidak
       berubah.
   4) Catat adanya kegelisahan, menolak dan/atau menyangkal.
       Rasional: Mengetahui keparahan ansietas.
   5) Orientasikan pasien/orang terdekat terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang
       diharapkan.
       Rasional: Informasi dapat menurunkan kecemasan pasien.
   6) Berikan privasi untuk pasien dan orang terdekat.
       Rasional: Menghilangkan cemas dan perilaku adaptasi.
D. EVALUASI
  1. Pasien mampu mengontrol perasaan nyeri.
  2. Pasien mampu mempertahankan berat badan yang stabil.
  3. Pasien mampu memenuhi kebutuhan nutrisi.
  4. Tidak terjadi penyebaran papul, papul berangsur-angsur sembuh.
  5. Pasien mampu menyatakan pemahaman perubahan fungsi seksual.
  6. Pasien mampu mendiskusikan masalah peran seksual.
  7. Pasien mengetahui beberapa alternatif cara mengekspresikan seksual.
  8. Pasien mampu melaporkan ansietas menurun sampai tingkat yang dapat diatasi.
  9. Pasien mampu menunjukkan strategi koping yang efektif.
                                   DAFTAR PUSTAKA

     Long, B.C. (1996). Perawatan medikal bedah (suatu pendekatan proses keperawatan).
Bandung: Yayasan IAPK Padjajaran.

       Cunningham, G.F., Mc. Donald, P.C., Gant, N.F. (1995). Obstetri Williams. Edisi 18.
Jakarta : EGC.

       Djuanda, Adhi. (1993). Ilmu penykit kulit dan kelamin. Edisi kedua. Jakarta : FKUI.

      Doengoes, Marilynn E. (1999). Rencana asuhan keperawatan: pedoman untuk
perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: EGC.

       Gilstrap, Larry C. (1990). Infection in pregnancy. New York : Alan R. Liss, Inc.

       Hamilton, Persis Mary. (1995). Dasar-dasar keperawatan maternitas. Jakarta : EGC.

       Harahap, M. (1984). Penyakit menular seksual. Jakarta: Gramedia.

       Isselbacher, K. J. (1999). Harrison prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam. Jakarta: EGC.

       Mansjoer, A. (2000). Kapita selekta kedokteran. Jakarta: EGC.

      Prawiroharjo, Sarwono. (1991). Ilmu kandungan. Edisi 1, Cetakan V. Jakarta :
Yayasan Bina Sarana Pustaka.

      Saifuddin, Abdul Bari. (2002). Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal
dan neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

       Sarjadi. (1992). Patologi ginekologik. Jakarta : Hipokrates.

       Taber, Ben-Zion. (1994). Kapita selekta kedaruratan obstetri dan ginekologi. Jakarta :
EGC.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:202
posted:7/9/2012
language:Indonesian
pages:21
widyapertiwi eka widyapertiwi eka
About belejar lbh giat lagi