Docstoc

Maternitas - Kehamilan Kembar

Document Sample
Maternitas - Kehamilan Kembar Powered By Docstoc
					                        KEHAMILAN KEMBAR



A. PENGERTIAN
   Kehamilan kembar adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih (Manuaba, 1998 :
     265).
   Kehamilan ganda adalah bila proses fertilisasi menghasilkan janin lebih dari satu
     (Saifuddin, 2001 : 311).
   Kehamilan ganda adalah satu kehamilan dengan dua janin atau lebih. (Mochtar,
     1990).
   Kembar siam adalah keadaan anak kembar dimana tubuh keduanya bersatu yang
     terjadi apabila zigot dari bayi kembar identik gagal terpisah secara sempurna.
   Kehamilan ganda adalah suatu keadaan kehamilan dengan jumlah janin dua atau
     lebih.(Taber, 1994 : 282).
   Kehamilan ganda adalah kehamilan dimana terdapat dua atau lebih janin dalam satu
     uterus pada waktu kehamilan tersebut (sewaktu hamil). (Wikipedia Indonesia,
     2003).


B. KLASIFIKASI
  Jenis kehamilan kembar menurut Manuaba dan Mochtar (1990) meliputi:
  1. Kehamilan kembar monozigote (identik).
     Merupakan kehamilan kembar yang berasal dari satu ovum sehingga disebutkan
     juga hamil kembar identik atau hamil kembar homolog atau hamil kembar
     uniovuler. Kehamilan kembar monozigote dapat terjadi karena:
     a. Satu ovum dengan 2 inti, hambatan pada tingkat blastula.
     b. Hambatan pada tingkat segmentasi.
     c. Hambatan setelah amnion terbentuk, tetapi sebelum primitive strike (4 – 5
         minggu kehamilan).
     Hamil kembar ini mempunyai ciri sebagai berikut:
        Jenis kelamin sama.
        Biasanya kembar identik.
        Mempunyai gen yang sama.
      Pada kehamilan dalam rahim terdapat 1 plasenta, 1 korion, 2 amnion.
   Pada hamil kembar monozigote dapat terjadi kelainan pertumbuhan seperti kembar
   siam.


2. Kehamilan kembar dizigote
   Merupakan kehamilan kembar 2 ovum, heterolog, glovuler dan fraternal.
   Kedua telur dapat berasal dari:
   a. 1 ovarium dari 2 flikel de graff.
   b. 1 ovarium dari 1 folikel de graff.
   c. 1 dari ovarium kanan dan satu lagi dari ovarium kiri.
   Ciri kehamilan kembar dizigote yaitu:
      Jenis kelamin dapat sama atau berbeda.
      Mempunyai 2 plasenta, 2 amnion, 2 korion.
   Pada kehamilan kembar digizote:
      Dapat terjadi satu janin meninggak dan yang lain tumbuh sampai cukup bulan.
      Janin yang mati bisa diresorbsi (kalau pada kehamilan muda) atau pada
       kehamilan agak tua janin jadi gepeng disebut fetus papyraseus atau kompresus.


Perbedaan kehamilan kembar monozigote dan dizigote


           Perbedaan             Kembar Monozigote            Kembar Dizigote
Plasenta                                  1 (70 %)
                                          2 (30 %)               2 (100 %)
Khorion                                   1 (70 %)
                                          2 (30 %)               2 (100 %)
Amnion                                    1 (70 %)
                                          2 (30 %)               2 (100 %)
Tali pusat                            2 bersekutu                2 terpisah
Sekat kedua kantong                        2 lapis                4 lapis
Jenis kelamin                              Sama                 Sama / tidak
Rupa dan sifat                             Sama               Agak berlainan
Mata, kuping, gigi, kulit                  Sama                  Berbeda
 Ukuran antropologik                      Sama                      Berbeda
 Sidik jari                               Sama                      Berbeda
 Cara pegangan                    Bisa sama, bisa satu      Bisa sama, bisa duanya
                                 kidal, uang lain kanan              kanan
 Golongan darah                           Sama                    Sama / tidak


3. Conjoined twins, suporfokundasi dan suporfotasi
     Conjoined twins atau kembar siam
      ialah kembar dimana janin melekat satu dengan yang lainnya.
      Misalnya:
      - torakopagus (dada dengan dada)
      - dominopagus (perlengketan kedua abdomen)
      - kraniopagus (kedua kepala)
     Suporfokundasi
      ialah perbuahan 2 telur yang dikeluarkan pada ovum yang sama pada dua kali
      koitus yang dilakukan pada jarak waktu yang pendek.
     Suporfetasi
      Adalah kehamilan kedua yang terjadi pada beberapa minggu atau setelah
      kehamilan pertama.


Letak Janin
       Pada kehamilan kembar sering terjadi kesalahan presentasi dan posisi kedua
janin. Begitu pula letak janin kedua dapat berubah setelah janin pertama lahir, misalnya
letak lintang berubah jadi letak sungsang atau letak kepala. Berbagai kombinasi letak,
presentasi dan posisi bisa terjadi; yang paling sering dijumpai adalah:
1. Kedua janin dalam letak membujur, presentasi kepala; (44-47%);
2. Letak membujur, presentasi kepala bokong (37-38%);
3. Keduanya presentasi bokong (8-10%);
4. Letak lintang dan presentasi kepala (5-5,3%);
5. Letak lintang dan presentasi bokong (1,5-2%);
6. Dua-duanya letak lintang (0,2-0,6%);
  7. Letak dan presentasi 69 adalah letak yang berbahaya, karena dapat terjadi “kunci
     mengunci” (interlocking).
C. ETIOLOGI
  Dalam berbagai literatur disebut insiden kehamilan kembar adalah 1 kehamilan kembar
  dibanding 89 kehamilan tunggal. Sedangkan kembar tiga 1 berbanding 89 pangkat dua,
  dan kembar empat 1 berbanding 89 pangkat tiga, dan seterusnya. Beberapa faktor
  berikut menurut Mariono ikut berperan dalam menyebabkan terjadinya kehamilan
  ganda:
  1. Ras/bangsa
     Menurut literatur, ras berwarna seperti bangsa Asia dan Afrika cenderung lebih
     besar mengalami kehamilan ganda ketimbang ras kulit putih/Eropa. Meski belum
     dapat dibuktikan secara empiris, tapi pada banyak kasus memang terlihat kehamilan
     ganda lebih sering dialami ibu-ibu hamil kulit berwarna dibanding mereka yang
     berkulit putih.
  2. Usia
     Dengan bertambahnya usia, kemungkinan terjadinya kehamilan ganda semakin
     besar. Akan tetapi selepas umur 40 tahun, probabilitas terjadinya kehamilan ganda
     akan menurun lagi.
  3. Hereditas/keturunan
     Hamil kembar biasanya diwariskan secara maternal (garis keturunan ibu). Bila dari
     garis keturunan ibu ada yang kembar, maka prosentase melahirkan anak kembar
     lebih besar. Namun tidak tertutup kemungkinan garis keturunan ayah bisa
     menimbulkan kehamilan kembar. Yang pasti, insiden atau angka kejadian dari garis
     maternal lebih besar dibanding dari garis paternal.
  4. Obat-obatan
     Ibu yang memakai obat pemicu ovulasi untuk mematangkan sel telurnya juga ikut
     meningkatkan peluang terjadinya kehamilan kembar. Soalnya, dengan obat tersebut
     sel telur yang matang pada setiap siklus jadi lebih dari satu. Obat ini biasanya
     diberikan pada pasangan yang sulit hamil dengan faktor penyebab infertilitas indung
     telur. Itulah mengapa, pada kasus-kasus pasangan yang sulit mendapat momongan
     kemudian menjalani terapi obat-obat penyubur ini, bila akhirnya terjadi kehamilan,
     biasanya merupakan kehamilan kembar.
  5. Prosedur fertilisasi in vitro
     Di sini beberapa embrio yang sudah dibuahi diimplantasikan dalam rahim. Jika
     semua berkembang dengan baik, maka terjadi pertumbuhan lebih dari satu. Di atas
     usia kehamilan 30 minggu, berat badan masing-masing janin ini umumnya lebih
     ringan dibanding janin pada kehamilan tunggal di usia kehamilan yang sama.
     Perbedaan berat saat persalinan bisa mencapai 1000-1500 gram. Penyebabnya
     diperkirakan adalah regangan berlebih pada uterus, hingga sirkulasi darah di
     plasenta mengalami penurunan.


D. PROSES TERJADINYA KEHAMILAN GANDA
  Pada kembar identik atau kembar monozigote, proses terjadinya yaitu pada saat
  pembuahan, satu ovum dibuahi oleh satu sel sperma. Kemudian terbentuk zigote. Zigote
  membelah secara mitosis, dari 1 sel menjadi 2, dari 2 sel menjadi 4 dan seterusnya yang
  disebut fase morula, blastula, gastula, dan neurula.
  Bila pembelahan seperti diatas terjadi pada fase morula (1-3 hari setelah pembuahan),
  maka setiap embrio akan memiliki kantong ketuban yang berbeda dan satu plasenta.
  Kemudian pada fase primitif, akan terjadi pemisahan sempurna yang akan berkembang
  menjadi 2 (atau lebih) janin yang kembar identik.
  Bila pada fase primitif terjadi gangguan, atau terdapat kegagalan pembelahan, maka
  biasanya akan menimbulkan kecacatan fisik atau dempetnya bagian tubuh tertentu.
  Ketidaksempurnaan akibat gangguan segmentasi inilah yang menyebabkan proses
  pemisahan dua jabang bayi tak berlangsung sempurna dan disebut kembar siam.
  Pada kembar fraternal atau kembar dizigote, dimana terjadi dua ovum yang matang
  secara bersama – sama dibuahi oleh masing masing 1 sel sperma. Sehingga pada proses
  pembelahan selanjutnya akan terbentuk 2 janin dengan 2 plasenta, 2 amnion dan 2
  korion yang terpisah, tetapi masih dalam satu rahim.
E. PATHWAY KEPERAWATAN
 1 sel Sperma membuahi 1                                            Bangsa, umur, peritas, keturunan,
       ovum (1 zigot)                                                   obat penginduksi ovulasi




  Hambatan pada tingkat blastula,                   2 zigote          2 ovum diabuahi 2 sperma
  zigote mengalami pembelahan


                                            Kehamilan Ganda             Perubahan hormon


                                                                      Mual, muntah, anoreksia
     Mal presentasi                 Bayi prematur
                                                                        Ketidakseimbangan
                                                                         nutrisi kurang dari
                                          Presentasi janin normal        kebutuhan tubuh


    Pembedahan (SC)                                                          Kepekaan uterus
                                                                               meningkat
                                          Persalinan pervaginam

 Resiko tinggi infeksi Post
                                                                             Resting intoleransi
      operasi (SC)
                                                                                  aktivitas

                                             Ancaman kematian
                                                ibu & janin

               Ansietas                                                   Uterus membesar sesuai
                                                                               usia kehamilan


                                Kurang informasi
                                                                             Tekanan abdomen
                                                                                meningkat


                              Kurang pengetahuan

                                                                            Perubahan eliminasi
                                                                           urine (sering berkemih)




F. GAMBARAN KLINIK
       Pada kehamilan ganda dengan distensi uterus yang berlebihan dapat terjadi
  persalinan prematur. Kebutuhan ibu untuk pertumbuhan janin lebih besar sehingga
  terjadi defisiensi nutrisi seperti anemia kehamilan yang dapat menggangu pertumbuhan
  janin dalam rahim. Frekuensi terjadinya hidramnion pada hamil ganda sekitar 10 kali
  lebih besar dari kehamilan tunggal. Keregangan otot rahim yang menyebabkan iskemik
  uteri dapat meningkatkan kemungkinan pre eklampsia dan eklampsia.
       Solusio plasenta dapat terjadi setelah persalinan anak pertama karena retraksi otot
  rahim yang berlebihan, perjalanan persalinan dapat berlangsung lebih lama, karena
  ketegangan otot rahim yang melampaui batas setelah persalinan, terjadi gangguan
  kontraksi otot rahim yang menyebabkan atonia uteri, menimbulkan perdarahan, retensio
  plasenta dan plasenta rest.
       Dengan janin yang relatif berat badannya rendah menyebabkan morbiditas yang
  tinggi. Keluhan pada kehamilan kembar diantaranya terasa sesak napas, sering ingin
  kencing, edema tungkai, pembesaran pembuluh darah (varises). Dalam perawatan
  antenatal pada kehamilan kembar dapat di tingkatkan.
  (Manuaba, 1994)


G. KOMPLIKASI
  Komplikasi potensial meliputi hal – hal berikut :
  1. Persalinan dan kelahiran prematur, yang terjadi 5 sampai 10 kali lebih sering
     dibangding kehamilan tunggal, dan merupakan ancaman terbesar bagi kehamilan
     kembar / ganda.
  2. Kelainan letak (mal presentasi) kembar yang pertama, dapat bokong, oblik, atau
     lintang dan diperkirakan terjadi pada 25 – 30 % kasus.
  3. Persalinan disfungsional, yang disertai dengan peregangan uterus yang berlebihan.
  4. Malformasi janin.
  5. Prolaps tali pusat.
  6. Hidramnion.
  7. Anemia defisiensi besi pada bumil.
  8. Pre eklampsia atau eklampsia.
  9. Perdarahan antepartum, baik plasenta previa ataupun solusio plasenta, yang dapat
     terjadi pada hampir 5 % kehamilan kembar.
  10. Perdarahan post partum.
  11. Toxaemia gravidarum, lebih sering terjadi pada kehamilan kembar dibandingkan
     dengan kehamilan tunggal.


  Komplikasi yang sangat jarang meliputi hal – hal berikut :
  1. Kolisi (collision), yaitu persentuhan bagian – bsgisn janin kembar dengan
     kembarannya sehingga mencegah penurunan janin.
  2. Impaksi, perlekukan bagian janin dari salah satu kembar kedalam permukaan
     kembarannya, sehingga memungkinkan penurunan keduanya secara bersamaan.
  3. Kompaksi, proses pengeluaran janin yang betul – betul bersamaan dari kutub
     presentasi keduanya yang mengisi rongga pelvis sejati dan mencegah desensus lebih
     lanjut keduanya.
  4. Kembar terkunci (locked twins), presentasi kembar pertama bokong dan kembar
     kedua puncak kepala (verteks). Ketika kembar pertama menjalani desensus,
     dagunya mengenai leher dan dagu kembar kedua diatas pintu atas panggul, dan
     mencegah kemajuan selanjutnya.
  5. Kembar monoamniotik, angka mortalitasnya sangat tinggi, hampir 50 %,
     mempunyai tali pusat yang kusut dan bersimpul.
  (Taber, 1994)




H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
  1. Ultrasonografi memudahkan diagnosis kehamilan ganda, evaluasi pertumbuhan
     janin dan identifikasi presentasi janin.
  2. Foto abdimen dapat membantu bila USG tidak tersedia.
  3. Pemantauan frekuensi jantung janin memberikan penilaian kesehatan janin


I. PENATALAKSANAAN
  1. Penanganan dalam Kehamilan
     1) Prenatal yang baik untuk mengenal kehamilan kembar dan mencegah
         komplikasi yang timbul, dan bila diagnosa telah ditegakkan periksa ulang akan
         lebih sering (1 kali seminggu pada kehamilan 32 minggu ke atas).
   2) Setelah kehamilan 30 minggu, koitus dan perjalanan jauh dilarang, karena akan
      merangsang partus prematurus.
   3) Pemakaian gurita korset yang tidak terlalu ketat diperbolehkan, supaya terasa
      lebih ringan.
   4) Pemeriksaan darah lengkap, Hb dan golongan darah.
   5) Makanan dianjurkan mengandung banyak protein dan makan dilaksanakan lebih
      sering dalam jumlah lebih sedikit.
   6) Bila ada tanda-tanda partus prematurus yang mengancam dengan pemberian
      betamethason 24 mg per hari untuk pematangan janin.
   7) Anjurkan rawat inap bila:
      -   ada kelainan obstetri,
      -   ada his/pembukaan serviks,
      -   adanya hipertensi,
      -   pertumbuhan salah satu janin terganggu,
      -   kondisi sosial yang tidak baik,
      -   profilaksis/mencegah partus prematurus dengan obat tokolitik,
      -   pemasangan jerat (Shirodkar’s operation).
2. Penanganan dalam Persalinan
   1) Bila anak I letaknya membujur, kala I diawasi seperti biasa, ditolong seperti
      biasa dengan episiotimi mediolateralis.
   2) Setelah itu baru waspada, lakukan periksa luar, periksa dalam untuk menentukan
      keadaan janin II. Tunggu, sambil memeriksa tekanan darah ibu dan lain-lain.
   3) Biasanya dalam 10-15 menit his akan kuat lagi. Bila janin II letak membujur,
      ketuban dipecahkan pelan-pelan supaya air ketuban tidak deras mengalir keluar.
      Tunggu dan pimpin persalinan anak II seperti biasa.
   4) Awas atas kemungkinan terjadinya perdarahan postpartum, maka sebaiknya
      dipasang infus profilaksis.
   5) Bila ada kelainan letak anak II, misalnya melintang atau terjadi prolaps talipusat
      dan solusio plasenta, maka janin dilahirkan dengan cara operatif obstetrik;
      a) Pada letak lintang coba versi luar dahulu.
      b) Atau lahirkan dengan cara versi dan ekstraksi;
        c) Pada letak kepala persalinan dipercepat dengan ekstraksi vakum atau
            forceps.
        d) Pada letak bokong atau kaki; ekstraksi bokong atau kaki.
     6) Indikasi sectio caesarea hanya pada:
        a) Janin I letak lintang;
        b) Terjadi prolaps talipusat;
        c) Plasenta previa;
        d) Terjadi interlocking pada letak kedua janin 69; anak I letak sungsang dan
            anak II letak kepala.


J. PROGNOSIS
  Mochtar (1998 : 265) menyatakan bahwa prognosis gemelli pada ibu dan janin adalah :
  1. Pada ibu prognosis jelek dibandingkan kehamilan tunggal karena sering terjadi
     taksania gravidarum, hidramnion anemia, pertolongan obstetric operatif dan
     perdarahan post partum.
  2. Pada janin menyebabkan angka kematian peri natal tinggi karena prmature,
     prolapsus tali pusat, solutio plasenta, tindakan obstetric karena kelainan letak janin.
             ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KEHAMILAN GANDA


A. PENGKAJIAN
  1. Anamnesa
     Pada anamnesa dapat diketahui adanya anak kembar dalam keluarga, umur dan
     paritas ibu hamil juga diperhatikan.
     Ibu merasa bahwa perutnya lebih besar dari semestinya kehamilan, dan pergerakan
     anak mungkin lebih sering terasa.
     Kaji keluhan subjektif seperti: perasaan berat, sesak napas, bengkak kaki dan lain –
     lain.
  2. Pemeriksaan fisik.
     a. Inspeksi
         Perut lebih besar dari tuanya kehamilan.
     b. Palpasi
         Fundus uteri lebih tinggi tidak sesuai dengan usia kehamilan. Teraba 3 bagian
         besar janin, teraba 2 balotement, teraba gerakan – gerakan janin yang lebih
         banyak, serta teraba banyak bagian – bagian kecil
     c. Auskultasi
         Terdengar 2 denyut jantung janin pada 2 tempat yang agak berjauhan dengan
         perbedaan kecepatan sedikitnya 10 denyut permenit atau sama – sama dihitung
         dan berselisih 10.
     d. Vaginal toucher
         Mungkin teraba kepala yang sudah masuk kedalam rongga pinggul diatas
         simphisis teraba bagian besar.


B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
  PRE OPERASI
  1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, muntah,
      anoreksia.
  2. Perubahan eliminasi urine b.d pembesaran uterus dan peningkatan tekanan
      abdomen.
  3. Resiko tinggi intoleransi aktivitas b.d kepekaan uterus meningkat.
  4. Ansietas b.d kemungkinan kelahiran prematur, ancaman yang dirasakan atau aktual
      terhadap janin dan diri sendiri.
  5. Kurang pengetahuan mengenai situasi resiko tinggi b.d kurangnya informasi.


  POST OPERASI
  1. Resiko tinggi infeksi b.d prosedur pembedahan.


C. INTERVENSI KEPERAWATAN
  PRE OPERASI
  Diagnosa I: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual,
  muntah, anoreksia
  Tujuan: kebutuhan nutrisi adekuat.
  Kriteria hasil:
          -     mual dan muntah berkurang.
          -     Berat badan meningkat karena adanya kehamilan ganda dan sesuai dengan
                usia kehamilan.
          -     Nafsu makan meningkat.
  Intervensi:
  1. Kaji pola makan klien saat ini dan masa lalu.
      Rasional: memastikan status nutrisi sebelum konsepsi adalah penting untuk
      manajemen perkembangan janin yang tepat, khususnya jaringan otak pada minggu
      awal kehamilan.
  2. Timbang berat badan klien, bandingkan berat badan saat ini dengan berat badan
      kehamilan.
      Rasional: berat badan yang kurang beresiko terhadap anemia, defisiensi vitamin,
      mineral, protein.
3. Berikan informasi tentang resiko penurunan berat badan selama kehamilan dan
    tentang kebutuhan makanan klien dan janin.
    Rasional: meningkatkan pengetahuan klien guna memperbaiki status gizi.
4. Anjurkan makan sedikit tapi sering dan sajikan dalam keadaan hangat, menu
    seimbang.
    Rasional: menghindari mual saat makan sehingga makanan dapat masuk ke tubuh.
Diagnosa II: Perubahan eliminasi urine b.d pembesaran uterus dan peningkatan
tekanan abdomen.
Tujuan: Pola elminasi BAK normal (frekuensi, jumlah).
Kriteria hasil:
        -     Fekuensi berkemih 6 – 7 kali/hari.
        -     Dapat mengidentifikasi cara – cara untuk mencegah statis urunarius.
Intervensi:
1. Berikan informasi tentang perubahan perkemihan sehubungan dengan trimester
    ketiga.
    Rasional: membantu klien memahami alasan fisiologis dari frekuensi berkemih dan
    nokturia. Pembesaran uterus trimester ketiga menurunkan kapasitas kandung kemih,
    mengakibatkan sering berkemih.
2. Anjurkan klien untuk melakuakn posisi miring kiri saat tidur, perhatikan keluhan
    nokturia.
    Rasional: meningkatkan perfusi ginjal, memobilisasi bagian yang mengalami edema
    dependen, edema berkurang pada pagi hari (pada kasus edema fisiologis).
3. Berikan informasi mengenai perlunya masukan cairan 6 sampai 8 gelas perhari.
    Rasional: mempertahankan tingkat cairan.


Diagnosa III: Resiko tinggi intoleransi aktivitas b.d kepekaan uterus meningkat.
Tujuan: Kebutuhan ADL klien terpenuhi.
Kriteria hasil:
        -     Klien dapat menyatakan kesadaran terhadap toleransi aktivitas.
        -     Klien dapat merencanakan perubahan yang perlu pada gaya hidup / aktivitas
              setiap hari.
        -     Bebas dari kelelahan berlebihan atau kepekaan / kontraksi terus menerus
              dari uterus.


Intervensi:
1. Anjurkan klien melakukan aktivitas dengan istirahat yang cukup.
    Rasional: menghemat energi dan menghindari pengerahan tenaga terus menerus
    untuk meminimalkan kelelahan.
2. Anjurkan istirahat yang adekuat dan penggunaan posisi miring kiri.
    Rasional: meningkatkan aliran darah ke uterus dan dapat menurunkan kepekaan
    uterus.
3. Instruksikan klien untuk menghindari aktivitas / kerja berat, dan perjalanan jauh
    (dengan motor) lebih dari 1 – 2 jam.
4. Tekankan pentingnya aktivitas hiburan yang tenang.
    Rasional: mencegah kebosanan dan menigkatkan kerja sama dengan pembatasan
    aktivitas.


Diagnosa IV: Ansietas b.d kemungkinan kelahiran prematur, ancaman yang
dirasakan atau aktual terhadap janin dan diri sendiri.
Tujuan: Ansietas berkurang / hilang.
Kriteria hasil:
        -     Klien tampak rileks.
        -     Klien melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi.
Intervensi:
1. Perhatikan tingkat ansietas dan derajat pengaruh terhadap kemampuan untuk
    berfungsi / membuat keputusan.
    Rasional: stress yang tidak diatasi dapat mempengaruhi penyelesaian tugas – tugas
    kehamilan.
2. Tinjau ulang kemungkinan kemungkinan sumber ansietas.
    Rasional: kehamilan tidak lengkap dihubungkan dengan beberapa ansietas bagi
    klien.
3. Kaji tingkat stress klien / pasangan berhubungan dengan komplikasi medis,
    hubungan pasangan, hubungan dengan anggota keluarga, dan ketersediaan dan
    jaringan kerja pendukung.
    Rasional: pola hubungan yang buruk akan meningkatkan tingkat stress.
4. Anjurkan klien / pasangan mengekspresikan perasaan frustasi yang berkenaan
    dengan aturan terapi dan atau perubahan gaya hidup. Jelaskan pada klien bahwa
    pengungkapan dapat diterima dan penting.
    Rasional: Klien membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk mengungkapkan rasa
    marah/frustasi tentang perubahan dalam hidup keluarga untuk meminimalkan
    ansietas.
5. Berikan informasi yang tepat secara individu mengenai intervensi atau tindakan dan
    dampak potensial kondisi pada klien dan janin.
    Rasional: membantu untuk menurunkan ansietas karena ketidaktahuan.


Diagnosa V: Kurang pengetahuan mengenai situasi resiko tinggi b.d kurangnya
informasi.
Tujuan: menyatakan pemahaman mengenai situasi resiko tinggi dari kehamilan ganda.
Kriteria hasil:
        -     Klien dapat mengungkapkan kesadaran akan kondisi yang membuat klien
              beresiko.
        -     Klien dapat menyebutkan kemungkinan tindakan pencegahan.
        -     Klien berpartisipasi untuk mencapai kemungkinan kehamilan dan persalinan
              terbaik.
Intervensi:
1. Berikan informasi yang adekuat berhubungan dengan situasi resiko tinggi, termasuk
    penjelasan yang singkat dan sederhana dari perubahan patofisiologis dan implikasi
    maternal dan janin.
    Rasional: Meningkatkan pemahaman klien.
2. Berikan informasi yang tepat berkenaan dengan skrining dan metode tes serta
    prosedur.
    Rasional: Memberikan kepuasan pada pasien akan informasi.
3. Identifikasi tanda –tanda bahaya yang memerlukan pemberitahuan segera terhadap
    pemberi perawatan kesehatan (misal: KPD, persalinan preterm, perdarahan vaginal).
    Rasional: Pengenalan situasi beresiko tinggi mendorong evaluasi / intervensi segera,
    yang dapat meningkatkan atau membatasi hasil.


POST OPERASI
Diagnosa I: Resiko tinggi infeksi b.d prosedur pembedahan.
Tujuan: Tidak terjadi infeksi.
Kriteria hasil:
        -     Tidak terdapat tanda gejala infeksi
        -     TTV dalam batas normal.
Intervensi:
1. Kaji suhu dan pernapasan klien
    Rasional: Peningkatan TTV dapat mennunjukkan terjadinya infeksi.
2. Perhatikan jumlah dan bau rabas lokhea. Tinjau ulang kemajuan normal dari rubra
    ke serosa ke alba.
    Rasional: Lokhea normal mempunyai bau amis, namun ada endometritis, rabas
    mungkin purulen dan bau busuk tidak menunjukkan perubahan normal.
3. Rawat luka post operasi SC dengan teknik aseptik secara rutin, dan laporkan bila
    terdapat tanda gejala infeksi.
    Rasional: Perawatan lukan secara aseptik dapat mengurangi resiko infeksi.
4. Kolaborasi medis pemberian antibiotika, anti inflamasi.
    Rasional: Untuk penatalaksanaan mencegah infeksi.
5. Beri nutrisi yang cukup dan menu seimbang, serta masukan cairan yang adekuat.
    Rasional: Mempercepat penyembuhan luka.
                                  DAFTAR PUSTAKA


Cunningham, F., Gary, et al., 1995, Obstetri Williams, Ed. 18, EGC, Jakarta.


Doengoes, Marilynn E, et al., 2001, Rencana Perawatan Maternal / Bayi: Pedoman untuk
    Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien, Ed. 2, EGC, Jakarta.


Hacker, Neville F, Moore, J. G., 2001, Essential Obstetri dan Ginekologi, Ed. 2,
    Hipokrates, Jakarta.


Manuaba, I.B.G., 2001, Kapita Selekta Pelaksanaan Rutin Obstetric Ginekologi & KB,
    EGC, Jakarta.


Mochtar, Rustam, 1990, Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi Obstetri Patologi, EGC,
    Jakarta.


Prawirohardjo, Sarwono, 1984, Pengantar Ilmu dan Praktek Kebidanan Bag. I, FKUI,
     Jakarta.


Sulaiman, Sastrawinata, 1979, Obstetri Patologi, UNPAD, Bandung.


Taber, Ben Zion, 1994, Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi, Ed. 2, EGC,
     Jakarta.


Varney, Helen, 2001, Buku Saku Bidan, EGC, Jakarta.


Wikrojosastro, Hanifa, 1999, Ilmu Kebidanan, Ed. 3, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:640
posted:7/9/2012
language:
pages:18
widyapertiwi eka widyapertiwi eka
About belejar lbh giat lagi