Intergumen - Pengangkatan Jahitan by widyapertiwi

VIEWS: 1,740 PAGES: 22

									TUGAS MATA KULIAH KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH III
       DOSEN PENGAMPU : MUNJIATI, SKep, Ns


             JAHITAN PADA KULIT
                        DAN
     PROSEDUR PENGANGKATAN JAHITAN




                  DISUSUN OLEH :


         1. AJI PRASETYO           P10220206042
         2. ANGGA BAGUS            P10220206043
         3. BANDA AYU              P10220206047
         4. DINAR AGUSTIN          P10220206053
         5. NOVIANTI S.M           P10220206067
         6. TRILESTIANA            P10220206075


                          IIB




   DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
        POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG
        PRODI KEPERAWATAN PURWOKERTO
                          2008
                                      KATA PENGANTAR


       Puji syukur kami panjatkan atas Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan hidayah
Nya kami dapat menyelesaikan tugas terstruktur yang berjudul “JAHITAN PADA KULIT DAN
PROSEDUR PENGANGKATAN JAHITAN” dengan baik dan tanpa halangan sedikitpun.
       Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah yang
diampu oleh Ibu Munjiati, SKep, Ns.
       Keberhasilan penyusunan makalah ini tidak lain berkat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu
ijinkan penyusun mengucapkan terimakasih kepada:
       1. Ibu Munjiati, SKep Ns selaku dosen mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah.
       2. Petugas perpustakaan yang telah memberi kemudahan pada kami untuk mencari bahan
          referensi
       3. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu, yang telah memberi dukungan
          baik secara moril maupun materiil.
       Kami sadar bahwa makalah yang kami susun masih banyak kekurangannya, untuk itu kami
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari semua pihak. Sehingga dalam
pembuatan makalah yang selanjutnya akan lebih baik lagi.




                                                           Puwokerto,   April 2008


                                                                 Penyusun




                                                                                                      i
                                                               DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR………………………………………………………......................……………..i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………….......................………...ii
BAB I : JAHITAN PADA KULIT...............................……..........…………………………...................1
          A. PENGERTIAN.........................................................................................................................1
          B. PROSEDUR PENJAHITAN LUKA.......................................................................................2
          C. MACAM-MACAM JAHITAN LUKA...................................................................................4
          D. PEMILIHAN BENANG..........................................................................................................9
          E. MACAM-MACAM BENANG DAN JARUM JAHIT.........................................................10
          F. MACAM-MACAM PENYEMBUHAN LUKA...................................................................13
          G. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SEMBUHNYA LUKA..........................14
          H. WAKTU PENGANGKATAN JAHITAN.............................................................................15
          I. PROSEDUR PENGANGKATAN JAHITAN.......................................................................16
BAB II : PENUTUP.................................................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................................19




                                                                                                                                                 ii
                                            BAB II
                                       JAHITAN PADA KULIT

A. PENGERTIAN
   Penjahitan luka ( hecting )     :
Tindakan menjahit luka ( hecting ) dengan alat yang telah disterilkan dan membersihkan luka sesuai
dengan keadaan luka ( luka bersih dengan Betadin dan luka kotor dengan H2O2, cairan steril serta
Betadin ).Penjahitan luka membutuhkan beberapa persiapan baik alat, bahan serta beberapa
peralatan lain.
Alat, bahan dan perlengkapan yang di butuhkan
Alat yang dibutuhkan :
   Naald Voeder ( Needle Holder ) atau pemegang jarum biasanya satu buah.
   Pinset Chirrurgis atau pinset Bedah satu buah
    Gunting benang satu buah.
    Jarum jahit, tergantung ukuran cukup dua buah saja.
Bahan yang dibutuhkan :Benang jahit Seide atau silk,Benang Jahit Cat gut chromic dan plain.Lain-
lain :Doek lubang steri, Kasa steril,Handscoon steril.

Operasi teknik

- Urutan teknik penjahitan luka ( suture techniques)
- Persiapan alat dan bahan
- Persiapan asisten dan operator
- Desinfeksi lapangan operasi
- Anestesi lapangan operasi
- Debridement dan eksisi tepi luka
- Penjahitan luka
- Perawatan luka
Perawatan Luka      :
Menutup luka dengan kasa steril dan menganjurkan untuk kontrol kembali 2 hari lagi.
Pemberian Antibiotika dan Analgetik.


                                                                                                1
   Pemberian ATS          :
   Penyuntikan. ATS disesuaikan dengan           :
   Sifat luka
   Kondisi luka
   Status Imunisasi.
B. PROSEDUR PENJAHITAN LUKA
- Pasien luka dibawa ke Ruang Tindakan ( R. Pengobatan ).
- Petugas menyiapkan anestesi lokal dan alat hecting steril.
- Petugas mencuci tangan dan menggunakan sarung tangan steril.
- Petugas melakukan antiseptis pada daerah luka dan menutupnya dengan kain steril.
- Petugas melakukan anestesi dengan lidocain pada sekitar tepi luka.
- Petugas membersihkan luka dengan betadin pada luka yang bersih dan dengan H2O2, cairan steril
serta betadin pada luka yang kotor..
- Petugas menjahit luka dengan alat hecting yang telah disterilkan.
- Petugas merapikan jahitan dengan pinset cirurgis.
- Petugas membersihkan jahitan dengan betatin.
- Petugas menutup luka dengan kasa steril dan drekatkan dengan plester.
- Petugas memberikan ATS bila diperlukan tergantung dari sifat luka, kondisi luka dan status
imunisasi sebelumnya.
- Petugas menganjurkan kepada pasien agar kontrol kembali setelah 2 hari lagi.
- Petugas memberikan resep antibiotika dan analgetik untuk diambil di apotik Puskesmas.
Penatalaksanaan
o Antisepsis sekitar luka
o Cuci dengan betadine
o Pada fraktur terbuka : cuci dengan NaCl 0,9%
o Antisepsis luka
o Untuk luka kotor : cuci dengan H2O2 (perhidrol) kemudian NaCl 0,9%
o Untuk fraktur terbuka : cuci dengan NaCI 0,9%
o Untuk luka bersih : cuci
o Selanjutnya beri betadine -> untuk semua jenis luka




                                                                                             2
   Hecthing (Jahit) kalau memang diperlukan
Perhatikan :
o Luka dengan fraktur/ruptur tendon jangan dijahit, tetapi dicuci dengan NaCl 0,9% -> tutup
   dengan kasa steril, bila ada perdarahan -> ditampon / verban -> rujuk ke RSUD.
Pengobatan :
o Bila luka kotor/lebar/dalam beri ATS 1.500 IU (tes dulu) atau TT 0,5 ml
Inj. PP (tes dulu) atau inj Ampisilin 4×500mg-1gr per hari
Amoksisilin 3-4×500 mg
Analgesik -> jika perlu
Catatan Penting
o Luka lecet cukup diolesi betadine tanpa ditutup, tanpa ATS, tanpa AB
o Luka kecil yang hanya membutuhkan 1 jahitan boleh tanpa anestesi
o Anestesi lokal diberikan sebelum luka dibersihkan, untuk mengurangi rasa sakit
o Luka pada kepala, cukur dulu sekitar luka sebelum dijahit. Jahitan pada kepala dapat diangkat
   pada hari kelima atau kurang
o Luka yang cukup dalam harus dijahit berlapis, bagian dalam memakai cut gat dan bagian luar
   memakai silk
o Luka yang cukup panjang, jahitan sebaiknya mulai dari tengah
o Luka berbentuk V, sudut dasar V dijahit terdahulu
o Luka yang banyak mengeluarkan darah, terlebih dahulu klem dan jahit yang rapat pada sumber
   darah. Jika darah berhenti -> jahitan dilanjutkan.
o Setelah selesai dijahit ternyata masih merembes -> bongkar -> Jahit ulang -> bekas jahitan
   didep agak kuat. Jika masih merembes -> rujuk ke RSUD
o Pada kondisi terputusnya pembuluh darah besar -> klem/dep/ tampon yang kuat dengan kasa
   steril -> rujuk ke RSUD dengan infus terpasang
o Selesai menjahit, dengan pinset sirurgi tepi kulit dibuat ektropion (membuka keluar)
o Kontrol sebaiknya pada hari 3-4 setelah dijahit -> angkat jahitan pada hari ke 6-7
Pada luka yang terlalu panjang atau terjadi infeksi -> jahitan diangkat selang-seling (tidak
sekaligus)
Pada waktu mengangkat jahitan, benang yang dipotong yaitu pada ujung yang berlawanan dengan
simpul (untuk menghindari benang bagian luar ikut menyusup ke dalam)
Kalau pada jahitan terdapat PUS -> buka -> bersihkan, kompres dengan Revanol 2 kali.
                                                                                             3
C. MACAM-MACAM JAHITAN LUKA
     1. Jahitan Simpul Tunggal
  Sinonim : Jahitan Terputus Sederhana, Simple Inerrupted Suture
  Merupakan jenis jahitan yang sering dipakai. digunakan juga untuk jahitan situasi.
  Teknik : - Melakukan penusukan jarum dengan jarak antara setengah sampai 1       cm ditepi luka
  dan sekaligus mengambil jaringan subkutannya sekalian dengan menusukkan jarum secara
  tegak lurus pada atau searah garis luka.
  - Simpul tunggal dilakukan dengan benang absorbable denga jarak antara 1cm.
  - Simpul di letakkan ditepi luka pada salah satu tempat tusukan
  - Benang dipotong kurang lebih 1 cm.
  Jahitan terputus banyak dipakai untuk menjahit luka di kulit, karena apabila ada pus (cairan)
  dapat dilepas satu atau dua jahitan dan membiarkan yang lain.




     2. Jahitan matras Horizontal
  Sinonim : Horizontal Mattress suture, Interrupted mattress
  Jahitan dengan melakukan penusukan seperti simpul, sebelum disimpul dilanjutkan dengan
  penusukan sejajar sejauh 1 cm dari tusukan pertama.Memberikan hasil jahitan yang kuat.
  Jahitan matras horizontal untuk menautkan fascia, tetapi tidak boleh digunakan untuk menjahit
  subkutis karena kulit akan bergelombang




                                                                                               4
Teknik jahitan sama seperti pada jahitan matras vertikal akan tetapi dengan arah horizontal,
seperti pada gambar.




   3. Jahitan Matras Vertikal
Sinonim : Vertical Mattress suture, Donati, Near to near and far to far
Jahitan dengan menjahit secara mendalam dibawah luka kemudian dilanjutkan dengan menjahit
tepi-tepi luka. Biasanya menghasilkan penyembuhan luka yang cepat karena di dekatkannya
tepi-tepi luka oleh jahitan ini. Jahitan matras vertikal berguna untuk mendapatkan tepi luka
secara tepat, tetapi tidak boleh dipakai di tempat-tempat yang vaskularisasinya kurang.




Langkah-langkah penjahitan matras vertikal pada prinsipnya sama seperti pada jahitan kulit
terputus, perbedaan beberapa jenis jahitan adalah pada arah lintasan benangnya dan mungkin
juga letak simpulnya. Pada jahitan ini jarak antara kedua penusukan lebih lebar karena akan
dipakai untuk dua kali penusukan, dan sebelum dilakukan pembuatan simpul jarum kembali
ditusukkan pada kulit dekat tepi luka, kemudian di arahkan keluar ke tepi luka dengan tidak
terlalu dalam.




                                                                                               5
Selanjutnya dengan bantuan pinset chirurgis tepi kulit di seberangnya diangkat untuk dilakukan
penusukan dari arah dalam tepi luka sejajar dengan tempat keluarnya jarum dari kulit
seberangnya dan menembus ke arah kulit luar dekat tepi luka dengan jarak sama dengan tempat
penusukan kedua pada tepi luka seberangnya. Pembuatan simpul dilakukan dengan
mempertemukan dua ujung benang panjang dan pendek, dengan teknik sama dengan pada
jahitan kulit terputus.
    4. Jahitan Matras Modifikasi
Sinonim : Half Burried Mattress Suture
Modifikasi dari matras horizontal tetapi menjahit daerah luka seberangnya pada daerah
subkutannya.
    5. Jahitan Jelujur sederhana
Sinonim : Simple running suture, Simple continous, Continous over and over
Jahitan ini sangat sederhana, sama dengan kita menjelujur baju. Biasanya menghasilkan hasil
kosmetik yang baik, tidak disarankan penggunaannya pada jaringan ikat yang longgar. Jahitan
jelujur, lebih cepat dibuat serta lebih kuat tetapi kalau terputus seluruhnya akan terbuka.




Untuk mengerjakan jahitan jelujur, pertamakali adalah dengan membuat satu jahitan seperti
pada jahitan kulit terputus dan dibuat simpul, selanjutnya benang panjang tidak dipotong tetapi
melanjutkan dengan penusukan pada tepi luka selanjutnya dengan tempat penusukan dan
keluarnya benang yang sejajar, sehingga tampak dari luar arah benang miring, tetapi dalam
posisi tegak lurus di dalam jaringan, seperti pada gambar.




                                                                                              6
       6. Jahitan Kulit Terputus
o Pasang jarum lengkung jenis tapercut untuk kulit no. 3/0 dengan klem pemegang jarum pada
   1/3 bagian belakang kemudian klem dikunci.
o Pilih benang untuk kulit (silk/nylon) dan dipasangkan pada jarum pada tempatnya sesuai
   dengan jenisnya.
o Tepi luka diangkat dengan menggunakan pinset chirurgis, untuk menentukan tempat daan
   kedalaman penususkan jarum.
o Jarum ditusukkan pada kulit dengan posisi tegak lurus, tangan pronasi penuh, siku membentuk
   sudut 90 derajat dekat pinset.
o Penusukan dilakukan dengan memperhitungkan kedalaman luka (jarak antara tempat penusukan
   dengan tepi luka sama dengan kedalaman penusukan, sedangkan jarak antara tempat penusukan
   dengan jahitan selanjutnya adalah dua kali jarak tersebut).
o Jarum didorong dengan gerakan supinasi pergelangan tangan dan adduksi bahu yang serentak,
   arah sesuai dengan kelengkungan jarum.
o Setelah ujung jarum muncul menembus kulit, ujung jarum ditarik dengan klem pemegang jarum
   sampai ujung benang tersisa 3 - 4 cm dari kulit.
o Tusukkan ujung jarum pada kulit di tepi luka dengan cara dan kedalaman yang sama.
o Benang yang lebih panjang dipegang dengan tangan kiri, tangan kanan memegang klem
   pemegang jarum.
o Buat lilitan benang panjang pada klem pemegang jarum, dengan gerakan aktif klem pemegang
   jarum.
o Ujung benang pendek dijepit dengan klem pemegang jarum, benang panjang ditarik sehingga
   menutup luka dan terjadi simpul, tempatkan pangkal simpul pada bagian benang pendek.
o Lakukan gerakan no. 10 dan 11 untuk menutup simpul, pastikan simpul berada di tepi luka.
o Kedua ujung benang disatukan, tempatkan gunting dengan posisi terbuka, dekatkan ke arah
   kedua benang, kemudian gunting dikatubkan.
       7. Jahitan Jelujur Feston
   Sinonim : Running locked suture, Interlocking suture
            Jahitan kontinyu dengan mengaitkan benang pada jahitan sebelumnya, biasa sering
   dipakai pada jahitan peritoneum. Merupakan variasi jahitan jelujur biasa. Jahitan jelujur
   terkunci, ini merupakan jahitan jelujur yang menyelipkan benang di bawah jahitan yang telah
   terpasang.
                                                                                             7
       Cara ini efektif untuk menghentikan perdarahan, tetapi kadang-kadang jaringan
mengalami iskemia.




       Pada jahitan ini tekniknya hampir sama dengan jahitan jelujur di atas, akan tetapi
dilakukan kuncian pada setiap satu jahitan, untuk kemudian dilakukan penusukan selanjutnya,
seperti pada gambar.




   8. Jahitan Jelujur horizontal
Sinonim : Running Horizontal suture
Jahitan kontinyu yang diselingi dengan jahitan arah horizontal.
   9. Jahitan Simpul Intrakutan
Sinonim : Subcutaneus Interupted suture, Intradermal burried suture, Interrupted dermal
stitch.Jahitan simpul pada daerah intrakutan, biasanya dipakai untuk menjahit area yang dalam
kemudian pada bagian luarnya dijahit pula dengan simpul sederhana.
   10. Jahitan Jelujur Intrakutan
Sinonim : Running subcuticular suture, Jahitan jelujur subkutikular.Jahitan jelujur yang
dilakukan dibawah kulit, jahitan ini terkenal menghasilkan kosmetik yang baik.


                                                                                           8
   D. PEMILIHAN BENANG
       Setiap jahitan merupakan benda asing di dalam luka.Karena alasan ini,maka untuk
mendapatkan aposisi jaringan yang adekuat,pennjahitan harus dilakukan dengan ukuran sekecil
mungkin dan jumlah jahiatn sedikit mungkin.Pada luka terkontaminasi,tidak boleh dilakukan
penjahitan kecuali bila sangat diperlukan untuk mempertahankan kedudukan jaringan.
       Pemilihan ukuran jarum dan benang tergantung dari ukuran,lokasi luka serta ketelitian
penutupan yang diinginkan.
       Jarum-jarum atraumatik (bulat atau runcing) digunakan untuk menjahit fasia,otot,jaringan
subkutan dan memperbaiki laserasi pembuluh darah dan saraf.jarum tajam biasanya digunakan untuk
penutupan dermis dan epidermis diaman jaringan kolagen yang liat harus ditusuk dengan jarum
sehingga penjahitan lebih mudah.
       Benang berdiameter besar (2-0,3-0) sangat baik digunakan untuk menjahit jaringan dan lapisan
fasia utama di daerah dengan regangan kuat (misalnya,luka di lutut atau siku).Kekuatan efektif dari
benang tersebut harus sama dengan kekuatan jaringan yang dijahit,bila benang halus digunakan untuk
menjahit luka dengan peregangan mekanis,dapat menimbulkan gangguan jika benang tersebut tertarik
ke dalam luka.
       Biasanya,benang halus digunakan untuk menjahit luka-luka (atau bagiannya) yang perlu
dirapatkan secara tepat,untuk menutup laserasi di wajah digunakan benang berukuran 5-0 dan 6-
0.Untuk menutup lapisan-lapisan luka (fasia,dermis) dapat digunakan benang epidermis halus di setiap
bagian tubuh.Daya regang dari epidermis sendiri biasanya rendah dan tujuan penjahitan disini hanyalah
agar tepi-tepi luka dirapatkan dengan baik.
       Penutupan perkutan dari epidermis dan dermis di setiap bagian tubuh selain wajah,sebaiknya
menggunakan benang berukuran 3-0 atau 4-0. Bekas jahitan merupakan hasil tekanan ikatan dan
lamanya jahitan dibiarkan di tempat tersebut.




                                                                                                   9
E. MACAM-MACAM BENANG DAN JARUM JAHIT
  1. Macam-macam benang jahit
  Benang jahit untuk pembedahan dikenal dalam bentuk yang dapat diserap Tubuh
  (absorbable) dan tidak diserap oleh tubuh.
  A. Diserap oleh tubuh: catgut, cromic catgut, kelompok polyglactin (misalnya
     Vicryl).
     1) Catgut polos
     -   Dibuat dari pita murni usus binatang yang dipintal menjadi jalinan diukur
         secara elektronik dan kemudian dipulas.
     -   Benang ini sangat popular, tetapi ada kecenderungan digantikan oleh
         benang sintetik yang dapat diserap pada tahun belakangan ini.
     2) Cromic catgut
     -   Dibuat dari pita usus binatang, dipintal menjadi jalinan tepatnya menjadi
         catgut polos.
     -   Dibuat sedemikian rupa sehingga kekuatan dari benang tersebut
         dipertahankan untuk waktu yang lebih lama daripada catgut polos.
     Absorbsi benang dapat melalui 2 mekanisme ialah melalui pencernaan oleh
     enzim jaringan, misalnya Vicryl dan Dexon.
     -   Dexon
         Benang ini tidak menghasilkan reaksi jaringan karena mereka larut, bila
         dibandingkan dengan reaksi jaringan yang terjadi pada calgut.
         Tingkat penyerapannya lebih lambat mungkin membutuhkan waktu
         beberpa minggu.
         Merupakan benang yang ideal untuk semua jahitan subnukleus,
         subkutikular, dan penutupan luka. Melalui proses rejeksi immunologis,
         misalnya pada catgut.
  1. Degradasi
     Asam poliglikolik dan poliglaktin akan mengalami degradasi dengan cara
     hidrolisis dan kehilangan 50% dari daya regangnya dalam 14-20 hari serta
     90% pada minggu ke empat (sebanding dengan chromic catgut).
    Polidioksanon,suatu generasi ketiga benang sintesis yang diserap,kehilangan
    50% keregangannya dalam 5 minggu dan 90% dalam 2 bulan.
2. Kualitas ikatan
    Walaupun cirri-ciri sama dengan sutera tetapi daya ikatnya tidak sebaik
    sutera.Polidioksanon tampak terasa dan digunakan seperti monofilament atau
    polipropilen.
3. Penggunaan pada luka akut
    Benang sintesis yang dapat diserap mungkin baik digunakan untuk luka akut
    karena sedikit menimbulkan reaksi jaringan dan tahan degradasi bila terdapat
    infeksi.Ciri-ciri monofilament polidioksanoon tersebut membuatnya sebagai
    benang jahit ideal yang dapat diserap.


B. Tidak diserap oleh tubuh: sutera, katun, nylon, polypropilena (prolene),
    benang-benang baja yang dibuat dari komponen besi, nikel, dan chronium.
1) Benang sutera
-   Terbentuknya menjadi jalinan yang padat yang dapat diikat dengan mudah.
-   Benang ini sangat populer dan digunakan secara luas dalalm penutupan luka.
2) Polipropilen
-   keuntungannya : lemas, dapat diikat dengan aman dan dapat digunakan
    dengan mudah.
-   Seperti benang monofilamen sintetik lainnya, simpul perlu diperkuat denagn
    simpul tambahan dan sebagai tambahan.
-   Kerusakan yang didapat dari forsep dan pemegang jarum harus dihindarkan
    untuk mencegah putusnya benang.
-   Benang ini sangat halus dan cocok untuk jahitan subkutikular.
Bentuk benang bisa dibuat dalam bentuk monofilamen atau barded multifilamen.
Pada luka infeksi hendaknya jangan dipakai benang-benang yang reaktif
(absorbable) dan yang multifilamen karena bakteri-bakteri yang dapat bersarang
di sela-sela anyaman. Pada keadaan ini lebih baik dipakai benang monofilamen
dan yang tidak dapat diserap.
                                                                              11
3) Baja tahan karat dan penjepit atau Staples logam
       Jahitan baja tahan karat dan penjepit logam telah digunakan bertahun-
tahun karena sifanya kaku.Pada luka terkontaminasi,bahan ini akan meningkatkan
kemungkinan infeksi.Peningkatan ini mungkin disebabkan oleh iritasi mekanis
dari kekuatannya dan bukan karena korosi.Sifat kaku dari benang metalik ini
mempersulit tindakan penjahitan.
       Berjenis-jenis staples kulit disposable dapat digunakan.Konfigurasi staples
ini bervariasi tetapi terutama dirancang untuk menyatukan tepi-tepi luka dengan
sedikit trauma jaringan.Beberapa staples dirancang pada permukaan kulit untuk
menghindari staples mark.Seperti pada plester luka,dengan staples kulit ini sulit
untuk merapatkan kulit secara tepat dan alat ini tidak digunakan untuk keperluan
kosmetik.Karena luka staples tidak mengenai jaringan dermis,maka daya
regangnya tergantung dari keberadaannya.
4) Dakron
       Merupakan     poliester   yang   kurang   menimbulkan     reaksi   jaringan
dibandingkan dengan sutera.Karena koefisien gesekannya tinggi,bahan ini sulit
digunakan untuk menjahit. Luka gesekan yang ditimbulkan dakron terhadap
jaringan ini dapat diatasi dengan melapisinya dengan teflon.
5) Nilon.
       Kurang menimbulkan reaksi pada jaringan bila dibandingkan dengan
dakron dan bila digunakan pada luka kontaminasi akan menimbulkan
kemungkinan infeksi lebih rendah.
a. Benang nilon monofilamen akan kehilangan daya regangnya kurang lebih
sebesar 20% setelah digunakan 1 tahun.Bentuk nilon monofilamen ini cukup kaku
sehingga tidak membentuk simpul dengan baik.
b. Benang nilon multufilamen akan kehilangan daya regangnya setelah 6 bulan
tetapi lebih mudah untuk mengikatnya dibadingkan benang monofilamen.
    Pada luka infeksi hendaknya jangan di pakai benang-benang yang reaktif
       (absorbable) dan yang multifilamen karena bakter-bakteri dapat bersarang
       di sela-sela anyaman.
                                                                               12
         Pada keadaan ini lebih baik dipakai benang monofilamen dan yang tidak
            dapat diserap.
         Jangan mengubur benang dalam luka infeksi karena itu tembuskan jahitan
            dari kulit untuk seluruh tebalnya luka,dan pada saatnya nanti benangnya
            akan diangkat (dibuang).
    3) Macam-macam jarum jahit
       Jarum tajam (cutting)
        Ditandai dengan gambar segitiga.
       Jarum bulat (round)
        Ditandai dengan bulatan.
       Jarum ceper
        Ditandai dengan gambaran bulat sabit.
    Untuk jarum tajam hamper selalu dipakai untuk semua jaringan, kecuali untuk
    organ yang berlubang.
F. MACAM-MACAM PENYEMBUHAN LUKA
a. First intention (primary union= Per primam).
    Pada luka tajam yang bersih dan dijahit tanpa komplikasi nantinya menghasilkan
“hair line scar’.
b. Second intention (second union= Per secondam).
    Ada gap luka yang diisi jaringan granulasi,epitel merambat dari tepi luka ke atas
jaringan granulasi.Penyembuhan berjalan lama hasilnya suatu cicatrix yang jelek dan
kontraksinya banyak.
c. Third intention (delayed suture=Per tertiam).
    Luka yang terjadi karena suatu hal tidak dijahit atau hanya dilakukan jahitan
situasi,misalnya karena sudah lewat waktu kontraminasi atau pada penderita shock
baru 2-3 hari kemudian masih dalam waktu lag phase kalau sudah bersih dan bebas
infeksi dilakukan penjahitan yang sesungguhnya.Menghasilkan cicatrix yang lebih
baik daripada penyembuhan luka per secundam.
d. Penyembuhan dengan cara-cara lain,misalnya diperlukan: skingraft atau flap.


                                                                                  13
   G. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SEMBUHNYA LUKA
A. Faktor Sistemik
1. Usia
          Pada usia lanjut proses penyembuhan luka lebih lama dibandingkan dengan usia
muda.Hal       ini    karena    kemungkinan    adanya    degenerasi,tidak   adekuatnya
pemasukan,menurunnya kekebalan dan menurunnya sirkulasi.
2. Nutrisi
          Pada pasien yang mengalami penurunan tingakat diantaranya serum albumin,total
limfosit dan transferin adalah resiko terhambatnya proses penyembuhan luka.Selain
vitamin A,E,C juga mempengaruhi dalam proses penyembuhan luka.
   -      Kekurangan Vitamin A menyebabkan kekurangan produksi macrophag yang
          konsekuensinya rentan terhadap infeksi,retardasi epitelialisasi dan sintesis
          kolagen.
   -      Kekurangan Vitamin E mempengaruhi pada produksi kolagen.
   -      Kekurangan Vitamin C menyebabkan kegagalan fibrolast untuk memproduksi
          kolagen,mudahnya terjadi infeksi.
3. Insufisiensi vascular.
          Merupakan faktor penghambat pada proses penyembuhan luka.Seringkali pada
kasus luka ekstrimitas bawah seperti luka diabetik dan pembuluh arteri dan atau vena
kemudian decubitus,semuanya akan berdampak pada penurunan atau gangguan sirkulasi
darah.
4. Obat-obatan.
  Terutama pada pasien yang menggunakan terapi steroid,kemoterapi dan imunosupresi.
B.Faktor Lokal
1. Suplai darah.
2. Infeksi
  Infeksi sistemik atau lokal dapat menghambat penyembuhan luka.
3. Nekrosis
  Luka dengan jaringan yang mengalami nekrosis dan eskar akan dapat menjadi faktor
penghambat penyembuhan luka.
4. Adanya benda asing pada luka.
    H. WAKTU PENGANGKATAN JAHITAN
          Pengangkatan     jahitan,cepat/lambatnya   sangat    erat     hubungannya   dengan
baik/buruknya vascularisasi daerah tempat jahitan.Semakin baik vascularisasi semakin
cepat dapat diangkat.
             -   Jahitan di daerah muka dan leher dapat diangkat pada hari ke-4 sampai ke-
                 6,rata-rata hari ke-5.
             -   Jahitan di daerah perut pada hari ke-7 sampai ke-10.
             -   Jahitan di telapak tangan dan jari pada hari ke-10.
             -   Jahiatn pada tungkai atas pada hari ke-10.
             -   Jahitan pada tungkai bawah pada hari ke-14.
          Apabila luka tersebut terjadi infeksi atau terdapat hal-hal yang memperlambat
proses penyembuhan luka,maka pengangkatan jahitan mungkin harus ditunda atau
mungkin pula harus disisipkan drain,dll.
Waktu pengangakatan jahitan
                    Lokasi                                      Waktu(hari)
1.Kelopak mata                                                          3
2. Pipi                                                                 3-5
3. Hidung,dahi,leher.                                                   5
4. Telinga,kulit kepala                                                 5-7
5. Lengan,tungkai,tangan,kaki.                                         7-10+
6. Dada,punggung,abdomen                                               7-10+


    1. Luka-luka dengan regangan kuat.
          Penutupan luka lapis demi lapis berguna untuk mengatasi tekanan kulit yang
          tinggi.Dermis dirapatkan dengan penjahitan biasanya menggunakan benang
          sintesis yang dapat diserap.Jahitan ini tidak boleh mengenai epidermis,karena
          adanya risiko pembentukan kista epitel.Lalu lapisan epidermis dirapatkan dengan
          benang halus yang tidak dapat diserap atau plester.Metode penutupan kulit ini
          sering digunakan untuk laserasi pada wajah.


                                                                                         15
2. Luka dengan regangan lemah.
   Penjahitan perkutan dilakukan untuk luka di tempat lainnya.Untuk mendapatkan
   hasil yang baik,sangat penting untuk meratakan tepi-tepi luka sehingga epidermis
   dapat dirapatkan.Untuk penutupan jenis ini digunakan benang sintesis
   monofilamen yang tidak dapat diserap.Ukuran benang tidak begitu penting,tetapi
   lebih penting adalah kekuatan ikatan dan lamanya benang berada di tempat
   tersebut.Pada hari ke-7 benang tersebut dilepaskan untuk menghindari
   epitelisasi.Bila luka belum menutup rapat,gunakan plester kuit.


I. PROSEDUR PENGANGKATAN JAHITAN


                           MENGANGKAT JAHITAN
A. Pengertian
   Mengangkat jahitan adalah suatu tindakan melepaskan jahitan yang biasanya
   dilakukan hari ke 5-7 (atau sesuai dengan penyembuhan luka yang terjadi).


B. Tujuan
       -     Mempercepat proses penyembuhan luka.
       -     Mencegah terjadinya infeksi akibat adanya corpus alenium.


C. Persiapan Alat
1. Set angkat jahitan steril berisi pinset sirugis 2,anatomis 1,gunting hatting up,lidi
   waten,kasa dalam bak instrumen steril.
2. Bengkok berisi lisol 2-3%                     9. Betadine 10%
3. Kapas bulat.                                  10. Kantung balutan kotor/bengkok.
4. Korentang.
5. Gunting plester.
6. Plester
7. Bensin
8. Alkohol 70%
                                                                                    16
   D. Prosedur Pelaksanaan
   1. Memberitahu dan menjelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan
      dilakukan.
   2. Mendekatkan alat ke pasien.
   3. Membantu pasien mengatur posisi sesuai kebutuhan,sehingga luka mudah
      dirawat.
   4. Perawat mencuci tangan.
   5. Meletakkan set angkat jahit di dekat pasien atau daerah yang mudah dingkau.
   6. Membuka set angkat jahit secara steril.
   7. Memakai sarung tangan.
   8. Membuka balutan dengan hati-hati dan balutan dimasukkan ke dalam kantung
      balutan kotor/bengkok.
   9. Bekas-bekas plester dibersihkan dengan kapas bensin.
   10. Mendesinfeksi sekitar luka operasi dengan alkohol 70% dan mengolesi luka
      operasi dengan betadine 10%.
   11. Melepaskan jahitan satu persatu selang seling dengan cara : menjepit simpul
      jahitan dengan pinset sirurgis dan ditarik sedikit ke atas kemudian menggunting
      benang tepat di bawah simpul yang berdekatan dengan kulit atau pada sisi lain
      yang tidak ada simpul.
   12. Mengolesi luka dan sekitarnya dengan betadine 10%.
   13. Menutup luka dengan kasa steril kering dan diplester.
   14. Merapikan pasien.
   15. Merapikan alat-alat dan mengembalikan ke tempat semula.
   16. Melepas sarung tangan.
   17. Perawat mencuci tangan.
   18. Mencatat pada catatan perawatan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan perawat :
   o Cermat dalam menjaga kesterilan.
   o Mengangkat jahitan sampai bersih tidak ada yang ketinggalan.
   o Peka terhadap privasi klien.
   o Tehnik pengangkatan jahitan disesuaikan dengan tipe jahitan.
                                         BAB III
                                        PENUTUP


KESIMPULAN :
    Penjahitan luka ( hecting )     :
Tindakan menjahit luka ( hecting ) dengan alat yang telah disterilkan dan
membersihkan luka sesuai dengan keadaan luka ( luka bersih dengan Betadin dan
luka kotor dengan H2O2, cairan steril serta Betadin ).Penjahitan luka membutuhkan
beberapa persiapan baik alat, bahan serta beberapa peralatan lain.
    Untuk jahitan kulit dikenal beberapa teknik jahitan simpul, matras vertikal, matras
horizontal, jelujur, jelujur intra dermal.
    Pengangkatan      jahitan,cepat/lambatnya   sangat   erat   hubungannya    dengan
baik/buruknya vascularisasi daerah tempat jahitan.Semakin baik vascularisasi
semakin cepat dapat diangkat.




                                                                                    18
                                DAFTAR PUSTAKA




Http://google.com


Marzoeki, Djohansyah. 1994. Ilmu Bedah Luka dan Perawatannya. Surabaya : Airlangga
University Press.


R.L.Walton. 1994. Perawatan Luka Penderita Perlukaan Ganda. Jakarta : EGC.




                                                                                19

								
To top