Docstoc

Intergumen - Dermatitis

Document Sample
Intergumen - Dermatitis Powered By Docstoc
					                        LAPORAN PENDAHULUAN


A. Pengertian
      Eksim atau dermatitis adalah istilah kedokteran untuk kelainan kulit yang
       ditandai kulit tampak meradang dan iritasi
      Dermatitis merupakan epidermo-dermis dengan gejala subjektif pruritus
       (Kapita Selekta Kedokteran )
      Dermatitis merupakan reaksi inflamasi pada kulit dan didasari factor
       herediter dan lingkungan ( Cory. S Matundang )
       Pengertian umum dari dermatitis adalah suatu reaksi radang terhadap
       banyak rangsang, reaksi ini dapat berasal dari luar ( eksogen ) maupun dari
       dalam (endogen)


B. Etiologi
   Penyebab     dermatitis   kadang–kadang      tidak   diketahui   sebagian   besar
   merupakan respon kulit terhadap agen-agen yang beraneka ragam, misalnya
   1. Zat kimia, protein, bakteri, dan fungus
   2. Alergi terhadap debu, serbuk sari tanaman / bulu hewan
   3. Alergi / toleransi terhadap makanan tertentu
   4. Pemakaian kosmetik dan perhiasan imitasi ( bahan kimia lainnya )
   5. Virus dan infeksi lain


C. Patofisiologi
   Dermatitis merupakan reaksi alergi tipe 4 yakni respon lambat tipe tuberculin
   yang bersifat cell mediated reaksi spesifik memerlukan beberapa jam
   mencapai maksimum. Klinis biasanya baru tampak respon sesudah 24 – 48
   jam. Pada reaksi antara antigen dan antibody terjadi pembebasan berbagai
   mediator farmakologik. Misalnya histamine, serotonin, bradikinin, asetikoline,
   heparin, dan anafilaktosin


D. Manifestasi klinis
   Dimanapun lokasi timbulnya dermatitis, gejala utama yang dirasakan pasien
   adalah gatal. Terkadang rasa gatal sudah muncul sebelum ada tanda
   kemerahan pada kulit. Gejala kemerahan biasanya akan muncul pada wajah,
   lutut, tangan dan kaki. Namun tidak menutup kemungkinan kemerahan
   muncul didaerah lain. Daerah yang terkena akan terasa sangat kering, menebal
   atau keropeng. Pada orang kulit putih daerah ini pada mulanya akan berwarna
   merah muda lalu berubah menjadi coklat. Sementara itu pada orang dengan
   kulit lebih gelap, dermatitis akan mempengaruhi pigmen kulit, sehingga
   daerah dermatitis akan tampak lebih terang atau lebih gelap.
          Subjektif pada tanda-tanda radang akut, terutama pruritus ( sebagai
   pengganti dolor ). Selain itu juga terdapat kenaikan suhu ( kalor ), kemerahan (
   rubor ), edema atau pembengkakan dan gangguan fungsi kulit ( fungsiolesa ).


E. Jenis- jenis Dermatitis
   Adapun jenis-jenis dermatitis yaitu (Mahadi, 2000:7):
     1. Dermatitis atopik
        adalah dermatitis yang terjadi pada orang yang mempunyai riwayat
        atopi.
     2. Dermatitis seboroik
        adalah peradangan kulit yang sering terdapat pada daerah tubuh
        berambut, terutama pda kulit kepala, alis mata, dan muka, kronik dan
        superficial.
     3. Dermatitis statis
        adalah dermatitis yang terjadi akibat adanya gangguan aliran darah vena
        ditungkai bawah.
     4. Dermatitis (ekzema) nonspesifik
        adalah suatu erupsi epidermal yang dapat berlangsung akut, kronik,
        terlokalisir atau generalis.
     5. Dermatitis pomfolik
        adalah dermatitis yang ditandai dengan adanya vesikula yang dalam,
        mengenai telapak tangan, kaki, dan sisi jari-jari.
     6. Dermatitis otosentisisasi
        adalah perluasan yang cepat dari reaksi ekzematus atau vesikuler.
     7. Dermatitis numuler
        adalah dermatitis yang bentuk lesinya bulat seperti uang logam.
    8. Dermatitis xerotik
        adalah dermatitis yang terjadi pada musim dingin dan sering dijumpai
        pada orang tua dan mempunyai predisposisi dapat dijumpai pada laki-
        laki maupun perempuan.
    9. Dermatitis medikamentosa
    10. Dermatitis kontak
        adalah suatu dermatitis yang disertai dengan adaanya spongiosis atau
        edema interseluler pada epidermis karena kulit berinteraksi dengan
        bgahan-bahan kimia yang berkontak atau terpajan pada kulit.
    11. Dermatitis infektif
        adalah suatu eczema yang disebabkan oleh suatu mikroorganisme
        ataupun produknya dan menyembuh bila organismenya sudah diobati.
    12. Dermatofitid
        adalahdermatitis yang terjadi secara sekunder, jauh dari lesi infeksi,
        analog dengan tuberkulid kulit pada tuberculosis.
    13. Dermatitis eksfoliatifa generalisata
        adalah suatu kelainan peradangan yang ditandai dengan eritema dan
        skuama yang hampir mengenai seluruh tubuh.


F. Penatalaksanaan
   Tujuan utama dari pengobatan adalah menghilangkan rasa gatal untuk
   mencegah terjadinya infeksi. Ketika kulit terasa sangat kering dan gatal, lotion
   dan cream pelembab sangat dianjurkan untuk membuat kulit menjadi lembab.
   Tindakan ini biasanya dilakukan saat kulit masih basah, seperti saat habis
   mandi sehingga cream yang dioleskan akan mempertahankan kelembaban
   kulit. Kompres dingin juga diduga dapat mengurangi rasa gatal yang terjadi.
   Salep atau cream yang mengandung kortikosteroid seperti hydri kortison
   dibrikan untuk mengurangi proses inflamasi / peradangan. Untuk kasus-kasus
   yang berat dokter akan memberikan tablet kortikosteroid dan apabila pada
   daerah dermatitis setelagh terinfeksi maka bisa diberikan antibiotika untuk
   membunuh bakteri penyebab infeksi. Pengobatan menurut FKUI yaitu :
  1. Pengobatan secara sistemik
      Pada kasus dermatitis ringan diberi antihistamin atau kombinasi
      antihistamin-anti serotonin, anti bradikinin, anti-SRS-A, dsb. Pada kasus
      berat dapt dipertimbangkan pemberian kortikosteroid.
  2. Pengobatan secara topical
           Prinsip umum terapi topical diuraikan dibawah ini :
          Dermatitis basah ( madidans ) harus diobati dengan kompres terbuka.
           Dermatitis kering ( sika ) diobati dengan krim atau salep
          Makin berat atau akut penyakitnya, makin rendah presentase obat
           spesifik
          Bila dermatitis akut, diberi kompres. Bila subakut, diberi losion (
           bedak kocok ), pasta, krim atau linimentum ( pasta pendingin ). Bila
           kronik diberi salep
          Pada dermatitis sika, bila superficial diberi bedak, losio, krim atau
           pasta. Bila kronik diberi salep. Krim diberikan pada daerah berambut,
           sedangkan pasta pada daerah yang tidak berambut. Penetrasi salep
           lebih besar daripada krim.


G. Pencegahan
  Munculnya dermatitis dapat dihindari dengan melakukan hal-hal sebagai
  berikut :
    1. Menjaga kelembaban kulit
    2. Hindari perubahan suhu dan kelembaban yang mendadak
    3. Hindari berkeringat terlalu banyak / kepanasan
    4. Kurangi stress
    5. Hindari pakaian yang menggunakan bahan yang menggaruk seperti wool
          dan lain-lain.
    6. Hindari sabun dengan bahan yang terlalu keras, deterjen dan larutan
          lainnya.
    7. Hindari factor lingkungan lain yang dapat mencetuskan alergi seperti
          serbuk bunga, debu, bulu binatang dan lain-lain.
    8. Hati-hati dalam memilih makanan yang bias menyebabkan alergi
H. Komplikasi
   Komplikasi yang sering terjadi adalah infeksi sekunder oleh bakteri,
   septikemi, diare, dan pneumonia. Gangguan metabolic mengakibatkan suatu
   resiko hipotermia, dekompensasi kordis, kegagalan sirkulasi perifer dan
   trombophlebitis. Bila pengobatan kurang baik, akan terjadi degenerasi visceral
   yang menyebabkan kematian.
                         ASUHAN KEPERAWATAN


I. Pengkajian
   Menurut Doengus 2000:899
      a. Riwayat kesehatan
         Klien dengan Dermatitis harus dikaji bagaimana kebiasaan hygiene
         sehari-hari(missal: apakah klien menggunakan sabun dan air panas?),
         pengobatan yang telah diberikan, terpapar oleh allergen, lingkungan
         dan riwayat kerusakan kulit.
             1) Adanya riwayat alergi bahan makanan, kosmetik, suhu, dan
                 protein.
             2) Suhu kesehatan keluarga ditanyakan apakah ada anggota
                 keluarga menderita gangguan kulit, dan kapan mulainya.
             3) Kebiasaan aktifitas sehari-hari misalnya lingkungan pasien yang
                 dapat menyebabkan gangguan kulit.
      b. Pemeriksaan fisik
         Inspeksi mengenai warna, jaringan parut, vesikel, lesi, dan kondisi
         vaskularisasi supervisial.
      c. Periksaan penunjang
         Pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk dermatitis, misal:
               Usap kulit(skin swab)
                Dilakukan pada:
                 Pasien eksema yang di RS dengan eksema yang terbuka,
                   terkeskoriasi, atau berkerak untuk menentukan jenis bakteri
                   penyabab dan pengobatan paling tepat.
                 Kecurigaan bahwa infeksi disebabkan oleh bakteri S, auereus
                   yang resisten terhadap pengobatan standar.
               Usap hidung (nasal swab) dari pasien dan orang tua
                Hanya dilakukan jika ada infeksi berulang atau bisul
               Tes alergi pada kulit
                Dilakukan jika:
                 Anak memiliki riwayat gatal, kemerahan, bentol-bentol, atau
                   kambuhnya eksema setelah makan makanan tertentu
                  Anak berusia kurang dari 12 bulan dengan eksema sedang-berat
                      yang tidak membaik dengan pengobatan.
                  Anak yang patuh dengan pengobatan selama 6 minggu, namun
                      tidak menunjukan perbaikan.
                Dermatografisme puth
                Percobaan asetikolin
                Percobaan histamine


II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
   1. Kerusakan integritas kulit b.d terpapar allergen
   2. Resiko infeksi b.d kerusakan jaringan dan peningkatan paparan lingkungan
   3. Gangguan rasa aman : nyeri (gatal) b.d agen injuri atau allergen
   4. Gangguan pola tidur b.d stimulasi yang berlebih ( gatal-gatal)


III. INTERVENSI
   DX I :Kerusan intregritas kulit b.d terpapar alergen.
   Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kerusakan kulit
               dapat dihindari.
   Criteria hasil :
   NOC : Integritas jaringan
           Integritas kulit yang baik bias dipertahankan
           Tidak ada luka atau lesi pada kulit
           Menunjukan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah
           terjadinya cedera berulang.
           Mampu melindungi kulit dan memepertahankan kelembaban kulit dan
           perawatan alami.
   NIC     : Manajemen tekanan
       a. Anjurkan pasien mengenakan pakaian yang longgar
       b. Hindari kerutan pada tempat tidur
       c. Jaga kebersihan kulit agar cepat bersih dan kering
       d. Mobilisasi pasien secara teratur
       e. Monitor kulit akan adanya kemerahan
DX II : Resiko infeksi b.d kerusakan jaringan dan peningkatan paparan
         lingkungan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan resiko infeksi
dapat dihindari
Criteria hasil :
NOC : Control resiko
        Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi.
        Mendeskripsikan proses penularan penyakit, factor yang
        mempengaruhi penularan dan penataksanaannya.
        Menunjukan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi.
        Menunjukan perilaku hidup sehat.
NIC     : Control infeksi
    a. Anjurkan klien untuk mencuci tangan sebelum atau sesudah
        melakukan kegiatan
    b. Gunakan sabun anti mikroba untuk mencuci tangan.
    c. Berikan terapi antibiotic bila perlu ( Infection Protection)
    d. Monitor tanda dan gejala infeksi sitemik dan local
    e. Monitor kerentangan terhadap infeksi
    f. Berikan perawatan kulit
    g. Inspeksi kulit terhadap tanda-tanda infeksi
    h. Instruksikan klien minum antibiotic sesuai resep
    i. Ajarkan pasien ( keluarga) tentang tanda dan gejala infeksi
    j. Laporkan kecurigaan infeksi
    k. Laporkan kultur positif


DX. III :Gangguan rasa nyaman : nyeri (gatal)
Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan rasa gatal pasien
         hilang atau berkurang.
NOC :
DX IV : Gangguan) pola tidur b.d stimulasi yang berlebih ( gatal-gatal)
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidur tercukupi
NOC : Tidur
        Jam tidur cukup
       Pola tidur baik
       Kualitas tidur baik
       Gangguan tidur berkurang
       Vital sign dalam batas normal
NIC    : Perubahan tidur
   a. Kaji pangaruh pengaruh pengobatan terhadap pola tidur
   b. Monitor pola tidur dan jam tidur pasien
   c. Instruksikan pasien untuk mencari factor pendukung gangguan pola
       tidur
   d. Bantu mengurangi stress sebelum tidur
   e. Anjurkan penggunaan obat tidur yang sesuai ketentuan
   f. Ciptakan lingkungan yang mendukung kenyamanan untuk tidur
IV. EVALUASI
    Dx                 Criteria hasil                    Skala penilaian
    1      Integritas kulit yang baik bias
           dipertahankan                          1 = tidak pernah menunjukan
           Tidak ada luka atau lesi pada kulit    2 = jarang menunjukan
           Menunjukan pemahaman dalam proses      3 = kadang menunjukan
           perbaikan kulit dan mencegah           4 = sering menunjukan
           terjadinya cedera berulang.            5 = selalu menunjukan
           Mampu melindungi kulit dan
           memepertahankan kelembaban kulit dan
           perawatan alami.
    2      Klien bebas dari tanda dan gejala
           infeksi.                               1 = tidak pernah menunjukan
           Mendeskripsikan proses penularan       2 = jarang menunjukan
           penyakit, factor yang mempengaruhi     3 = kadang menunjukan
           penularan dan penataksanaannya.        4 = sering menunjukan
           Menunjukan kemampuan untuk             5 = selalu menunjukan
           mencegah timbulnya infeksi.
           Menunjukan perilaku hidup sehat.
    3                                             1 = tidak pernah menunjukan
                                                  2 = jarang menunjukan
                                                  3 = kadang menunjukan
                                                  4 = sering menunjukan
                                                  5 = selalu menunjukan
    4      Jam tidur cukup                        1 = tidak pernah menunjukan
           Pola tidur baik                        2 = jarang menunjukan
           Kualitas tidur baik                    3 = kadang menunjukan
           Gangguan tidur berkurang               4 = sering menunjukan
           Vital sign dalam batas normal          5 = selalu menunjukan
                           DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall,2000.Diagnosa Keperawatan, Alih bahasa Monica

Ester dkk, EGC:Jakarta

Doengoes, Marilyn E dkk, 1998. Rencana Asuhan Keperawatan, edisi 3. Alih

Bahasa 1 Made Karisa,S.Kep dkk, EGC : Jakarta

FKUI.1993. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin Edisi: 2. Jakarta

Harahap, marwali. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hipokrates

______,2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3,Jakarta: Media Aesculapius

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

http://www.google.com
        TUGAS TERSTRUKTUR MATA KULIAH
          KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
 LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASKEP PADA DERMATITIS
            Dosen Pengampu :Munjiati, S.Kp




                         Disusun Oleh:
           1. Anggraeni. C          P. 10220206045
           2. Diah Ika              P. 10220206051
           3. Feri Yudistira        P. 10220206058
           4. Indra Wahyudi         P. 10220206059
           5. Slamet Raharja        P. 10220206073
           6. Yuli Wijayanti        P. 10220206078
           7. Yusetya Novi          P. 10220206079




DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
    POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG
      PROGRAM STUDY KEPERAWATAN
                PURWOKERTO
                         2008
Perioral Dermatitis   Atopik Dermatitis




Atopik Dermatitis
                      Seborrheic Dermatitis




Stasis Dermatitis     Dermatitis pada
                        bagian kaki

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:151
posted:7/9/2012
language:Indonesian
pages:13
widyapertiwi eka widyapertiwi eka
About belejar lbh giat lagi