Imun - Urtikaria
Document Sample


MATERI ASUHAN KEPERAWATAN
“URTIKARI”
DISUSSUN OLEH:
Nama : ISAK MORIN
NIM : GIE007009
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
RPOGRAM SARJANA KEPERAWATAN
PURWOKERTO
2008
MATERI
“URTIKARIA”
URTIKARIA
I. PENGERTIAN
Urtikari ialah reaksi vaskuler di kulit akibat bermacam-macam sebab,
biasanya ditandai dengan edema setempat yang cepat timbul dan
menghilang perlahan-lahan, berwarna pucat dan kemerahan, meninggi di
permukaan kulit, sekitarnya dapat dikelilingi halo. Keluhan subjektif
biasanya gatal, rasa tersengat atau tertusuk. (Siti Aisah, 2005).
Angioedema ialah urtikaria yang mengenai lapisan kulit yang lebih dalam
daripada derinis, dapat di submukosa atau disubkutis, jug dapat mengenai
saluran nafas , salurancerna dan organ kardiovakuler.
Urtikaria (biduran) adalah lesi kulit yang banyak dikenal, yang pada saat
tertentu dapat mengenai sedikitnya 25% dan populasi. Terdapat banyak
bentuk klinis urtikaria, yang mengesankan bahwa akhirnya akan dikenali
berbagai deterininan. Dewasa ini jelas bahwa beberapa jenis urtikaria
mencerminkan proses imunologis (terutama yang melibatkan IgE),
sedangkan yang lain tetap tidak dapat diterangkan sama sekali. Kenyataan
praktis ini harus dihadapi, karena urtikaria di kulit yang disebabkan oleh
reaksi kulit yang diperantarai IgE seringkali dapat menyerupai bidur,
sehingga jika tidak berhati-hati maka semua urtikaria akan dianggap sama
dengan alergi, Secara inikroskopik, sebagian besar lesi urtikaria hanya
rnemperlihatkan adanya edema, berbagai dilatasi pembuluh darah, dan
kadang-kadang terdiri dart netrofil serta eosinofil. Meskipun deinikian,
pada beberapa penderita, lesi yang identik secara makroskopik dapat
niemperlihatkan vaskulitis yang nyata disertai pecahnya dinding pembuluh
darah dan infiltrasi fagosit. Lesi urtikaria yang tampak jelas, meninggi,
pruritik, dan tidak nyeri paling sering terdapat di ekstreinitas proksimal.
Dan urtika itu sendiri jarang berlangsung lebih dari 36 jam. Angioedema
ditandai dengan pembengkakan jaringan subkutan dan submukosa yang
tidak sakit dan sedikit gatal.
Sebagian besar episode urtikaria berlangsung singkat dan bersifat
swasirna, terutama di masa kanak-kanak bila berkaitan dengan infeksi
pernapasan. Namun, pada sebagian kecil orang dewasa (dan jarang pada
anak-anak) urtikaria yang tidak diketahui sebabnya dapat menetap selama
berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Penderita semacam ini harus
dievaluasi untuk mengetahui penyakit serius yang menyebabkan
timbulnya urtikaria; kadang-kadang ditemukan Iimfoma, lupus
eritematosus sisternik, hipertiroidisme, dan neoplasma nonlimfoid.
Walaupun fokus-fokus kronik dan infeksi bakteri dan parasit di usus sering
dicari pada penderita ini, tetapi jarang terbukti menjadi penyebab urtikaria
kronik.
Seperti hanya reaksi anafilaksis, urtikaria saja dapat disebabkan oleh
respons yang diperantarai IgE terhadap alergen protein. Pada kedua
keadaan ini, agen-agen yang terkait biasanya adalah makanan, khususnya
telur, ikan, bermacam-macam kerang, dan kacang-kacangan, termasuk
kacang tanah. Obat dan metabolit obat yang merupakan antigen lengkap
atau yang mampu mengadakan ikatan stabil dengan protein (inisalnya,
derivat penisilin) adalah faktor-faktor yang menyolok pada reaksi urtikaria
tipe I atau reaksi sisteinik Namun, banyak juga obat yang tampaknya
dapat menyebabkan urtikaria melalui mekanisnie yang tidak disertai IgE.
Dalam kelompok ini aspirin mungkin paling sering menjadi penyebab dan
secara non-spesifik dianggap memperburuk keadaan ini pada 30%
penderita urtikaria kronik.
Pada sebagian penderita urtikaria kronik, pengaruh lingkungan dapat
meiniliki peranan yang penting, dan mungkin yang paling sering adalah
udara dingin. Urtikaria dingin terutama menyerang orang dewasa muda
dan dapat timbul disertai dengan menggigil tingkat ringan. Pada beberapa
orang, biduran timbul karena suhu kulit yang menurun, tetapi untuk
kemunculannya umumnya memerlukan pemanasan kembali. Urtikaria
dingin dihubungkan dengan meningkatnya kadar histainin plasma
(inisalnya, dalam darah vena dan ekstreinitas yang menggigil), dan dapat
menyebabkan timbulnya sakit kepala serta hipotensi. Efek ini kadang-
kadang mengakibatkan bencana jika orang yang terserang penyakit ini
mengalaini pingsan waktu berenang dan kemudian tenggelam. Urtikania
dapat juga ditimbulkan oleh pemanasan lokal. Lesi ini langsung timbul
pada beberapa orang dan pada orang lain timbul lambat, dalam beberapa
jam. Pemanasan tubuh total (inisalnya, mandi air panas) juga dapat
memperburuk pruritus dan pembentukan urtika akibat penyebab lainnya.
Selain itu, urtikaria kolinergik adalah suatu keadaan klinis yang nyata,
sehingga pengerahan tenaga fisik, ketegangan emosi, dan lingkungan yang
panas menimbulkan timbulnya banyak pembengkakan kecil yang masing-
masing dikelilingi oleh tepi kemerahan yang lebar. Orang yang terkena
penyakit ini hiasanya memperlihatkan urtika besar atau responis
eritematosa yang luas dan tidak normal terhadap metakolin intradermal,
walaupun makna patogenetik dan respons ini tetap tidak jelas. Dan dalam
waktu yang lama biasanya menyebabkan timbulnya urtika yang khas,
sehingga dapat memastikan diagnosis. Pembentukan urtikaria lokal atau
angioedema dapat juga terjadi setelah terpajan oleh tekanan terus menerus,
berbagai panjang gelombang cahaya, atau rangsang getaran. Sebagian dan
keadaan yang jarang terjadi ini tampaknya bersifat fainilial. Selama itu,
pada urtikaria tertentu yang disebabkan oleh panas, cahaya, atau dingin,
reaktivitas spesifik lokal dapat juga ditimbulkan pada orang normal
dengan meinindahkan IgE serum orang yang terkena penyakit ini. Dewasa
ini, tidak jelas apakah fenomena “Pemindahan Pasif” ini melibatkan reaksi
antibodi-antigen kiasik atau mekanisme-mekanisme lainnya.
Urtikaria yang disebabkan oleh tekanan biasanya terjadi pada orang yang
mendenita dermografisme. Goresan yang kuat akan menimbulkan respons
pembengkakan yang nyata. Denmografisme berlangsung lama pada
sejumlah kecil orang yang normal, tetapi dapat juga bersifat didapat, yang
muncul setelah reaksi obat yang merugikan atau pada penyakit yang
mempermudah terjadinya infiltrasi kulit oleh sel mati. Pada penderita
dermografisme secara khas akan terbentuk pembengkakan pada daerah-
daerah yang tertekan, termasuk bokong dan telapak kaki, maupun di
bawah sabuk, jam tangan, ikat ping-gang, dan pakaian dalam yang ketat.
Angioedema yang menyertai urtikaria akut kadangkadang disalahtafsirkan
sebagai angioedema herediter (HANE), yaitu suatu defek fainilial dalam
pengendalian inflamasi. HANE bermanifestasi sebagai serangan edema
berulang yang mengenai strukturstruktur perifer maupun usus besar dan
laring. Edema usus besar menimbulkan rasa sakit abdomen yang hebat dan
seringkali menyebabkan perlunya laparotoini eksplorasi. Episode ini
jarang timbul sebelum uniur 10 tahun, dan dapat kambuh dalam waktu
yang tidak terbatas, walaupun frekuensinya sering berkurangsetelah
dekade keenam. Sires emosional atau trauma fisik (seringkali agak ringan)
dapat teijadi sebelum terbentuknya edema, tetapi sebagian serangan tidak
diketahui sebabnya. Edema laring merupakan ancaman jiwa yang serius
pada penderita ini, dan analisis keturunan biasanya mengungkapkan
adanya satu atau lebih kejadian dalam tiap keluarga, dan komplikasmnya
adalah kematian yang terjadi akibat asfiksia. Pembengkakan pada keadaan
ini biasanya timbul dalam beberapa jam, lalu menghilang perlahan, dan
tidak disertai urtikaria. Penderita HANE biasanya mempunyai tingkat
aktivitas faktor yang rendah, yang dalam keadaan normal menghambat
komponen pertama dan sistem komplemen (CI) yang telab diaktifkan, dan
juga menghambat komponenkomponen tambahan yang berkaitan dengan
pembekuan, peradangan, dan fibrinolisis. Akibat defisiensi ini, efek Cl
tidak terhambat, dan Cl terus mengaktifkan dan memakai komponen-
komponen awal dan rangkaian ini, yaitu C4 dan C2, yang pada pengujian
tampak meiniliki kadar yang rendah. Meskipun deinikian, pada keadaan
ini faktor-faktor tersebut yang biasanya dicek oleh inhibitor Cl, dan
bertanggung jawab untuk pembengkakan ini tidak diketahui. Tindakan
pengobatan dipusatkan untuk melindungi saluran napas, menghindari
laparotoini yang tidak perlu jika terjadi edema usus, dan pemulihan
keadaan umum. Obat-obat yang tersedia dewasa ini hanya sedikit
bermanfaat pada keadaan akut; namun, penggunaan obat anabolik yang
teratur yang berpotensi androgenik terbatas (inisalnya, danazol,stanozolol)
merangsang sintesis faktor yang kurang dan sangat mengurangi frekuensi
timbulnya serangan.
Beberapa keadaan tambahan dapat mengacaukan penilaian urtikaria dan
angioedema yang lazim tenjadi. Urtikaria yang diperantarai IgE yang
disebabkan bahan karet (rubber latex) menimbulkan masalah, terutama
pada tenaga layanan kesehatan. Pemajanan juga dapat menginduksi
timbulnya gejala pemapasan atau anafilaksis yang nyata. Kadang-kadang,
tusukan dan halus tanaman atau sengatan serangga menyebabkan
timbulnya reaksi lepuh yang mengganggu. Urtikaria papular yaitu papula
yang meninggi dengan pruritus yang kronik seringkali timbul setelah
gigitan serangga, terutama pada tungkai anak-anak, tetapi lesinya yang
menetap dan adanya indurasi (konsistensinya keras) menyebabkan
keadaan ini dapat dikenali dengan mudah. Obat-obatan atau zat kiiniawi
tambahan yang terdapat dalam makanan dan ininuman dapat diidentifikasi
sebagai penyebab timbulnya urtikaria dan sebaiknya dievaluasi secara
hati-hati, meskipun jarang tersedia uji in vitro atau uji kulit yang
memastikan diagnosis. Deinikian juga, dan anamnesis yang lebih rinci
mungkin dapat ditelusuri adanya pengaruh dan faktor makanan, agen-agen
fisik, atau psikogenik, tetapi sering penyebab tidak diketahui.
Oleh karena serangan urtikaria umumnya dapat sembuh sendiri dan durasi
serta keparahannya berbeda-beda, maka makna penanganan terhadap
penderita urtikaria seperti ini sukar dievaluasi. Namun, epinefnin
mempercepat resolusi urtikaria akut dan angioedema. Obat-obatan seperti
difenhidrainin dan hidroksizmn juga bermanfaat untuk keadaan ini,
meskipun alternatif nonsedasi seperti loratadin (Claritmn), feksofenadmn
(Allegra), dan setirizin (Zyrtec) secara umum lebih disukai. Obat-obat ini
dianggap merintangi salah satu reseptor histainine yang disebut sebagai
reseptor H1. obat-obatan ini dapat membantu memulihkan pruritus. Steroid
korteks adrenal bermanfaat pada penderita biduran akut yang berat, tetapi
mungkin gagal untuk mengatasi penyakit yang sudah berlangsung lama
pada dosis yang dapat ditoleree pada urtikaria kronik, pengobatan
antihistaininya optimal dengan atau tanpa obat simpatoinime sangat
bermanfaat. Walaupun penyelidikan berulang pada penderita semacam ini
jarang berhasil, tetapi semua segi penyelidikan harus tetap diperhatikan
untuk menemukan faktor penyebabnya. -( Sylvia A. Price)
-(Korraine M Wilson)
URTIKARIA Urtikaria (kaligata) adalah lesi sementara yang terdiri dari
bentol sentral yang dikelilingi oleh halo enitematosa. Lesi tersendiri adalah
bulat, lonjong. atau berfigurata, dan seringkali menimbulkan rasa gatal.
Urtikania akut dan tiremdiun meiniliki vanasi luas etiologi alergik.
Penyebab sisteinik yang Iangka pada urtikana adalah mastositosis
(urtikania pigmentosa), hipertiroid, keganasan, dan artritis rernatoid
juvenil (JRA). Pada JRA lesi bersamaan dengan puncak demam, dan
berlangsung sementara, walaupun tidak berpindah seperti pada enitema
marginatum
Urtikariafisikal yang umum adalah dermatografisme, urtikaria karena
sinar matahari, urtikaria suhu rendah, dan urtikaria, kohinergik. Pasien
dermatografisme memperlihatkan bentol lincaris setelah tekanan ininor
atau garukan pada kulit. Lesi ini umun terjadi, mengenai kira-kira 5 persen
populasi. Urtikaria karena sinar matahari secara khas terjadi dalam waktu
beberapa menit terpajan sinar matahari dan merupakan tanda kulit pada
satu penyakit sistematik-protoporfiria enitropoietik. Di samping urtikaria,
pasien ini mengalaini pemarutan berlubang-lubang yang tersamar pada
hidung dan tangan Urtikania suhu rendah dicetuskan oleh pemajanan pada
suhu dingin, sehingga daerah yang terpajan biasanya terserang. Pada
beberapa kasus penyakit ini berkaitan dengan protein sirkulasi yang
abnormal—lebih sering knioglobulin dan hemolisin dingin,
knofibnmnogen dan aglutinin dingin. Gejala sisteinik tambahan adalah
sesak napas dan sinkop, sehingga membantu penjelasan perlunya pasien
ini menghindan berenang dalam air yang bersuhu Urtikania kolinergik
dicetuskan oleh panas, latihan jasmani, atau
emosi, dan ditandai oleh bentol kecil disertai “flare” yang besar. Kadang-
kadang disertai sesak napas.
Sementara urtikania adalah akibat edema derinis, maka ederma
subkutan akan menyebabkan gambaran klinis angioedema. Tempat yang
terserang adalah kelopak mata, bibir, lidah, laning, dan saluran makanan
deinikian pula janingan subkutan. Angioedema terjadi sendini saja atau
bergabung dengan untikania, termasuk vaskulitis urtikania dan urtikaria
fisikal. Baik angioedema bentuk didapat maupun herediten (doininan
autosorn) dapat terjadi (lihat Bab 282). dan pada yang tenakhir, urtikaria
jarang terlihat.
Vaskulitis urtikaria adalah penyakit kompleks imun yang sulit dibedakan
dari urtikania saja. Berlawanan dengan urtikaria saja, lesi tersendirinya
cenderung bertahan lebih dan 24 jam, dan biasanya berkembang menjadi
petekia sentral yang dapat diamati bahkan setelah fase untikania berakhir.
Pasien juga lebih mengeluh rasa terbakar dari pada prunitus. Pada biopsi,
terdapat vaskulitis leukositokiastik pada pemhiiluh darah kecil Walaupun
pada kebanyakan kasus vaskulitis urtikaria tidak diketahui penyebabnya,
namun dapat merupakan akibat dan penyakit sisteinik seperti lupus
enternatosus, Sindroma Sjogren, atau defisiensi komplemen herediter. Ada
satu spektrum vaskulitis urtikaria yang berjangkauan mulai dari hanya
gejala kulit sampai dengan multisistem. Tanda dan gejala sistematik yang
paling sering adalah artralgia dan/atau artritis, nefritis, dan nyeri perut
kejang, namun jarang disertai asma dan penyakit paru obstruktif menahun.
Hipokomplemeneinia terjadi pada satu sampai dua pertiga pasien, bahkan
pada kasus idiopatik, Temuan
kulit, sendi, dan ginjal yang serupa terlihat pada prodroma infeksi hepatitis
B, penyakit serum, dan penyakit mirip penyakit serum. (Harrison)
II. ETIOLOGI
Pada penyelidikan ternyata hampir 80% tidak diketahui penyebabnya.
Diduga penyebabnya urtikaria bermacam-macam, diantaranya :
Obat, makanan, gigitan /sengatan serangga bahkan fotosensitifizer, ingenetik,
dan penyakit sisteinik.
III. PATOGENESIS
Sangat penting diketahui mekanisme terjadinya urtikaria, karena hal ini akan
dapat membantu pemeriksaan yang rasional.
Urtikaria terjadi karena vasodilatasi disertai permeabilitas kapiler yang
meningkat, sehingga terjadi transudasi cairan yang mengakibatkan
pengumpulan cairan setempat. Sehingga secara klinis tampak edema setempat
di sertai kemerahan.
FACTOR NON IMUNOLOGIK FACTOR IMUNOLOGIK
bahan kiinia pelepas mediator ( Reaksi tipe i (ige) inhalan, obat,
morfin, kodein ) makanan, infeksi.
Reaksi tipe IV
SEL MAS (kontaktan)
FACTOR FISIK
BASOFIL
( panas, dingin,
trauma, sinar dan
cahaya.) Pengaruh komplemen
AKTIVISASI –komplemen
Efek koligernik Pelapasan mediator Klasik –alternatif (ag –ab,
venom, toksin )
H; SRSA, SERA
TONIN, KININ, PEG, Reaksi tipe II
PAF
Reaksi tipe III
Faktor genetik defisiensi
Vasodilatasi C1esterate inhibitor
permeabilitas kapilar
Alkohol, Emosi, Demam
meningkat
Fainilial cold urticaria
Fainilial heat urticaria
IDIOPATIK ? URTIKARIA
Gambar 22.1 Diagram Factor Imunologik dan Nonimunologik yang
Menimbulkan Urtikaria
Vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas kapiler dapat terjadi akibat
pelepasan mediator –mediator inisalnya :histainin, kinin, serotonin,
slowreacting substance of anaphylaxis (SRSA), dan prostaglandin oleh sel
mast dan atau basofil. Selain itu terjadi pula inhibisi proteinase oleh enzim
proteolitik, inisalnya:kalikrin, tripsin, plasinin, dan hemotripsin di dalam sel
mast.
IV. GEJALA KLINIS
Keluhan subjektif biasanya gatal, rasa terbakar, atau tertusuk. Gejala
Klinis tampak eritema dan edema setempat berbatas tegas, kadang-kadang
bagian tengah tampak lebih kuat. Bentuknya dapat papular seperti pada
urtikaria akibat sengatan serangga,besarnya dapat lentikular, numukular,
sampai plakat. Bila mengenai jaringan yang lebih dalam sampai dalam
inisalnya saluran cerna dan napas disebut angioedema. Pada keadaan ini
jaringan yang lebih sering kena ialah muka, disertai sesak napas, serak, dan
hinitis.
V. PENGOBATAN
Pengobatan yang paling ideal yaitu dengan antiistamin pada urtikaria
sangat bermanfaat, cara kerjanya yaitu dengan menghambat histamine pada
reseptor. Antiistamin dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu antagonis
reseptor H1 dan reseptor H2
Pengolongan antiistamin yaitu sebagai berikut:
a. Antiistamin H1
Kelas / nama generik Nama pabrik
1. Etanolamin / difenhidramin Benadryl
2. Etilendiamin / tripelenamin Pyribenzamine
3. Alkilamin / klofeniramid Chlortrimethon
4. Piperazin/ siklizin Marezine
5. Fenotiazin / prometazin Phenergen
6. Tambahan
hidrokgizin, hidroklorid Atarax
siproheptadin Periactin
b. Antihistamin H2 Cimetidin
Pengobatan dengan cara desensitasi mis dengan cara desensitas mis
dengan cara melakukan sensitisasi air pada suhu 10oC (1-2 menit ) 2 kali
sehari selama 2 -3 minggu.
Pengobatan dengan antienzim mis antiplasmin dimaksudkan untuk
menekan aktivitas plasmin yang timbul pada perubahan plasmin antigen
antibody.
Pengobatan lokal dikulit dapat diberikan secara simtomatik, mis
pruritus didalam bedak atau bedak kocok.
ASKEP PADA SISTEM URTIKARIA
A. PENGKAJIAN
a. Identitas
b. Riwayat Keperawatan
c. Px Fisik
- Keadaan umum : lemah, sesak, gatal-gatal.
- Kepala : wajah terdapat edema (bengkak).
- Mulut : terdapat lesi menonjol yang edematous
- Perut : ada terdapat ganguan pada membran mukosa
pada traktus gastro entestinal.
- Kulit : kemerahan, terdapat ruam.
d. Px Persistem
- Respirasi : terdapat udema laring.
-
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL IALAH :
I Gangguan Rasa Nyaman Nyeri b/d Rasa Tersengat /Tertusuk dan Gatal.
Tujuan :
Tidak nyeri luka infeksi.
Pasien ceria.
Intervensi
Kaji keluhan nyeri, perhatian lokasi, intensitas, frekuensi dan
waktu.
Dorong mengungkapkan perasaan.
Berikan aktivitas hiburan, misal membaca, berkunjung, dan
menonton televisi.
Lakukan tindakan paliatif seperti, mengubah posisi seperti
pergerakan.
Instruksi pasien/dorong untuk menggunakan visualisasi/bimbingan
imajinasi, relaksasi progesif dan teknik napas dalam.
Implementasi :
Sesuai dengan waktu pemberian.
Evaluasi :
Pasien tidak nyeri lagi dan nampak ceria.
II Resiko Tinggi Terhadap Infeksi b/d perawatan yang kurang baik.
Tujuan :
Tidak terjadi infeksi.
Intervensi :
Berikan / solasi / pantau pengunjung sesuai dengan indikasi.
Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas walaupun
menggunakan sarung tangan steril.
Batasi penggunaan alat / prosedur invasif jika memungkinkan.
Gunakan teknik steril pada waktu penggatian penghisapan /
berikan lokasi perawatan yang baik.
Gunakan sarung tangan / pada waktu merawat luka yang terbuka /
antisipasi dari kontak langsung dengan sekresi ataupun ekskresi.
Pantau kecenderungan suhu.
Implementasi :
Sesuai dengan waktu pemberian.
Evaluasi :
Infeksi tidak ada.
III Ganguan Pertukaran Gas b/d Udema Laring.
Tujuan :
Dapat bernapas dengan baik.
Intervensi :
Pertahanan jalan napas paten, tempatkan pasien pada posisi yang
nyaman dengan kepala yang tempat tidur tinggi.
Pantau frekuensi dan kedalaman pernapasan catat penggunaan otot
aksesori /upaya untuk bernapas.
Pengelluaran cairan yang mengisi di jalan napas diperlukan untuk
pergerakan dalam pertukaran gas.
Sering ubah posisi, dorong untuk batuk dan latihan napas dalam.
Memfasilitasi pemeliharaan kepatenan jalan napas, jalan napas
buatan memastikan bahwa gas pernapasan masuk dan keluar paru-
paru.
Implementasi :
Sesuai dengan waktu pemberian
Evaluasi
Bernapas dengan baik.
Shared by: widyapertiwi eka
About
belejar lbh giat lagi
Related docs
Other docs by widyapertiwi
Implementasi dan catatan perkembangan kasus fraktur cruris tertutup post orif dan vasciotomi
Views: 306 | Downloads: 0