analisis dokumentasi Askep by widyapertiwi

VIEWS: 346 PAGES: 82

									ANALISIS DOKUMENTASI ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN
   GAGAL JANTUNG DENGAN MENGGUNAKAN STANDART
     NANDA, NOC DAN NIC DI IRNA PENYAKIT DALAM
          RSUD WATES KABUPATEN KULON PROGO
             DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA




                     Skripsi
Untuk memenuhi sebagian syarat memperoleh derajat
   sarjana keperawatan universitas Gadjah Mada




                  Diajukan oleh
                  S U M A R S I
               03/167772/EIK/00305




         PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
  FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA
               Y O G Y A K A R T A
                       2004
                     LEMBAR PENGESAHAN




                           Skripsi

   ANALISIS DOKUMENTASI ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN
      GAGAL JANTUNG DENGAN MENGGUNAKAN STANDART
        NANDA, NOC DAN NIC DI IRNA PENYAKIT DALAM
             RSUD WATES KABUPATEN KULON PROGO
                DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA



                        Diajukan Oleh

                        S U M A R S I
                     03/167772/EIK/00305


              Telah diseminarkan dan diujikan
               Pada tanggal, 22 desember 2004



  Penguji I             Penguji II          Penguji III



Sri Setiyarini,SKp     Syahirul.A,SKp    Heny Suseani.P,SKp
NIP: 140 310 310                          NIP: 132 230 595




                       Mengetahui
                          Dekan
  u.b Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan
      Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
                  Y o g y a k a r t a




          dr.Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc.,Phd
                   NIP: 131 860 994
                              KATA PENGANTAR

         Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan

Yang     Maha    Esa,     karena      limpahan       kasih   sayang    dan

karuniaNya        kepada       penulis    sehingga        Skripsi     yang

berjudul        “Analisis      Pelaksanaan          Asuhan   Keperawatan

pasien    gagal    jantung       di   RSUD    Wates     Kabupaten     Kulon

Progo, DIY” ini dapat terselesaikan dengan baik.

         Skripsi       yang    disusun       guna    memenuhi     sebagian

syarat memperoleh derajat Sarjana Keperawatan Fakultas

Kedokteran Universitas Gadjah Mada ini dapat disusun

dengan baik berkat bimbingan, bantuan dan dukungan dari

berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima

kasih kepada yang terhormat :

1. dr.    Sunartini,       SpAk,      Ph.D,    selaku    Ketua    Program

  Studi         Ilmu       Keperawatan         Fakultas         Kedokteran

  Universitas Gadjah Mada.

2. dr. Moerlani M. Dahlan, Sp.PD, Direktur RSUD Wates

  yang telah menugaskan penulis untuk Tugas Belajar di

  PSIK FK UGM dan memberikan ijin kepada penulis untuk

  melakukan penelitian di RSUD Wates.

3. Kepala Ruang beserta seluruh rekan perawat di ruang

  Penyakit        Dalam       RSUD    Wates    yang     telah    membantu

  terlaksananya penelitian ini.
4. Ibu     Sri     Setiyarini,   SKp,   selalu        pembimbing    I

  penelitian.

5. Bapak    Syahirul     Alim,   SKp,   selalu    pembimbing       II

  penelitian.

6. Ibu     Heny     Suseani   Pangastuti,      SKp,     Terimakasih

  masukannya.

7. Suamiku Papa Phithut dan anakku Fito, Riyo, yang

  selalu memberiku semangat sehingga Skripsi ini dapat

  terselesaikan.

8. Anakku ke-3 Dimas yang usil, lucu dan selalu aja

  merengek minta dibuatin pesawat kalau penulis sedang

  ngetik, Terimakasih sayang kamu Motivasi ibu dengan

  keluguanmu.

9. Atmo Ob, Fika, Nunik, Mely, Ma’e, Flo, Jupri dan

  semua Rekan-rekan mahasiswa PSIK FK UGM yang telah

  memberikan dukungan kepada penulis.

10.   Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu-

  persatu.

         Penulis Menyadari bahwa Skripsi ini masih jauh

dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang

bersifat         membangun    sangat    kami     harapkan      demi

kesempurnaan Sripsi ini.

                                                       Hormat kami,

                                                            Penulis
                         DAFTAR ISI

                                                  Hal

HALAMAN JUDUL                                     i

LEMBAR   PENGESAHAN                               ii

KATA PENGANTAR                                    iii

DAFTAR ISI                                        v

DAFTAR TABEL                                      viii

INTISARI                                          ix

BAB I PENDAHULUAN
         A. Latar Belakang                        1

         B. Rumusan Masalah                       7

         C. Manfaat Penelitian                    7

         D. Tujuan    Penelitian                  8

         E. Keaslian Penelitian                   9

BAB II TINJUAN PUSTAKA
         A. Gagal Jantung                         10

             1. Definisi gagal jantung            10

             2. Etiologi dan faktor resiko        10

             3. Mekanisme kompensasi              12

             4. Patofisiologi, tanda dan gejala   14

             5. Klasifikasi gagal jantung         16

             6. Diagnosa gagal jantung            16

             7. Komplikasi                        17

             8. Pengobatan                        17
       B. Diagnosa NANDA, NOC dan NIC           19

          1. NANDA (North American Diagnosis

                   Association)                 19

          2. NOC (Nursing Outcome

            Classification)                     24

          3. NIC   (Nursing     Interventions

            Classification)                     25

       C. Asuhan Keperawatan Pasien

          Gagal Jantung                         28

          1. Pengkajian                         28

          2. Pengkajian Gagal Jantung           28

          3. Diagnosa NANDA pada pasien

            Gagal Jantung                       30

          4. NOC dan NIC pada pasien

            Gagal Jantung                       31

       D. Landasan Tiori                        40

       E. Kerangka Konsep Penelitian            42

       F. Pertanyaan Penelitian                 43

BAB III METODOLOGI PENELITIAN                   44

       A. Jenis dan Rancangan Penelitian        44

       B. Populasi dan Subyek Penelitian        44

       C. Variabel Penelitian                   45

       D. Definisi Operasional                  45

       E. Pengumpulan data                      47
         F. Pelaksanaan penelitian         50

         G. Analisa Hasil penelitian       51

         H. Keterbatasan penelitian        52

BAB IV   HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN   54
         A. Hasil penelitian               54

         B. Pembahasan                     60

BAB V    PENUTUP
         A. Kesimpulan                     69

         B. Saran                          69

  DAFTAR PUSTAKA                           x

  LAMPIRAN                                 xii
                    DAFTAR TABEL



                                                Halaman

Tabel 1 Distribusi Frekuensi   karakteristik     55
        pasien gagal jantung     berdasarkan
        jenis kelamin dan umur IRNA Penyakit
        Dalam RSUD Wates bulan Agustus 2004

Tabel 2 Distribusi    Frekuensi     Diagnosa     56
        Keperawatan yang sesuai dan yang
        Tidak sesuai NANDA     pada   Pasien
        Gagal jantung di IRNA Penyakit Dalam
        RSUD Wates bulan Agustus 2004

Tabel 3 Distribusi Frekuensi kriteria hasil      57
        yang sesuai dan yang tidak sesuai NOC
        pasien   gagal    jantung     di IRNA
        Penyakit Dalam RSUD     Wates   bulan
        Agustus 2004

Tabel 4 Distribusi   Frekuensi     Intervensi    59
        keperawatan   yang   sesuai dan yang
        tidak sesuai NIC pasien gagal jantung
        di IRNA Penyakit Dalam RSUD     Wates
        bulan Agustus 2004
                         INTISARI

        Pasien gagal jantung meskipun tidak menempati
urutan pertama penyakit dengan kelainan kardivaskuler,
tetapi selalu menimbulkan masalah serius jika tidak
mendapat penanganan yang komprehensif. Prognosis gagal
jantung buruk, dengan mortalitas 5 tahun berkisar dari
26 – 75%. Hampir 16% dari penderita akan mengalami
gagal jantung kembali dalam 6 bulan setelah serangan
pertama. Kematian pasien gagal jantung disebabkan
kejadian iskemik umum. Asuhan keperawatan sebagai
Standard pelayanan keperawatan professional perlu terus
ditingkatkan      mengingat    profesi    perawat    sebagai
pemdamping pasien selama 24 jam. Peningkatan Mutu
Asuhan Keperawatan dapat menggunakan Standard diagnosa
NANDA, Nursing Outcome Classification (NOC) dan Nursing
Intervention Classification (NIC), karena NANDA, NOC
dan NIC dapat diterima dan mendukung semua bagian
proses keperawatan serta dapat diterima disemua area
keperawatan.
        Tujuan penelitian untuk memperoleh gambaran
tentang     pelaksanaan     Asuhan   Keperawatan      pasien
gagal    jantung    dengan menggunakan     Standard   NANDA,
NOC dan NIC di RSUD Wates Kulon Progo.
        Penelitian ini adalah penelitian deskriptif
dengan pendekatan Cross sectional. Penelitian dilakukan
selama satu      bulan   di IRNA     Penyakit Dalam dengan
total sampling (16 pasien gagal jantung yang dilakukan
ASKEP dan didokumentasikan). Metode pengumpulan data
yang digunakan       adalah    observasi dengan mengamati
ASKEP     pasien     gagal jantung      dengan menggunakan
pedoman observasi.
        Hasil penelitian menunjukkan jumlah diagnosa
keperawatan yang sesuai NANDA adalah 17%, Kriteria
hasil    yang   sesuai   NOC    adalah   53,38%,   sedangkan
Intervensi keperawatan yang sesuai NIC adalah 45,76%.
Pemberian ASKEP dengan menggunakan Standart diagnosa
NANDA, NOC dan NIC belum bisa diterapkan di RSUD Wates.
       Di RSUD Wates Kulon Progo Asuhan Keperawatan
yang diberikan pada pasien gagal jantung masih belum
sesuai diagnosa NANDA, NOC dan NIC.



Kata kunci: gagal jantung, Asuhan Keperawatan, diagnosa
            NANDA, NOC, NIC.
                                  BAB I

                            PENDAHULUAN

                      A. LATAR BELAKANG MASALAH



         Gagal jantung terjadi bila abnormalitas fungsi

jantung     menyebabkan         kegagalan       memompa    darah    dalam

jumlah    yang    cukup    untuk       kebutuhan    metabolisme,     atau

mempertahankan curah jantung hanya dengan peningkatan

tekanan     pengisian      (Mckelvie,       2002).      Insidens    gagal

jantung meningkat sesuai umur. Pada mereka yang berusia

kurang dari 65 tahun, insidensnya 1 per 1000 laki-laki

pertahun dan 0,4 per 1000 perempuan pertahun. Pada yang

berusia lebih 65 tahun, insidensnya 11 per 1000 laki-

laki     pertahun    dan    5     per    1000    perempuan      pertahun.

Prevalensi gagal jantung diastolik di masyarakat tidak

diketahui.       Prevalensi       gagal     jantung       dengan    fungsi

sistolik terjaga pada pasien di RS dengan klinis gagal

jantung bervariasi dari 13 sampai 74%. Kurang dari 15%

orang    yang    lebih     muda    dari    65    tahun     dengan   gagal

jantung     memiliki       fungsi        sistolik       normal,     dimana

prevalensinya       sekitar      40%    pada    orang    usia   lebih   65

tahun (Mckelvie, 2002).
         Prognosis       gagal       jantung          buruk,          dengan

mortalitas 5 tahun               berkisar      dari 26 sampai 75%.

Hampir 16% dari penderita akan mengalami gagal jantung

kembali dalam 6 bulan setelah serangan pertama. Di USA,

hal ini merupakan penyebab utama masuknya pasien usia

lebih 65 tahun ke RS. Kematian penderita gagal jantung

disebabkan oleh kejadian iskemik umum. Kematian tiba-

tiba,    utamanya       disebabkan    oleh     aritmia       ventrikuler,

yang bertanggung jawab bagi 25 sampai 50% dari semua

kematian,      dan      merupakan    penyebab      paling      umum     dari

kematian       pada     penderita     gagal    jantung.        Mortalitas

tahunan        pasien      dengan     gagal        jantung      diastolik

bervariasi      dalam     penelitian        observasi        antara     1,3

sampai 17,5%. (Mckelvie, 2002).

         Di    Indonesia      meskipun      data    mengenai     penyakit

gagal jantung belum ada laporan pasti, tetapi penderita

kardivaskuler setiap tahunnya terus bertambah, salah

satu    penyebabnya       adalah    hipertensi      pada     pria     13,9%,

wanita    16    %,    komsumsi      makanan    yang     berlebih      serta

kurang gerak fisik pada pria 16,6 %, pada wanita 17%

(http=//www.swara.net/id/view-headline.php?ID=730,2004)

         Dirumah      Sakit      Jantung    Harapan     Kita,       sebagai

Pusat Jantung Nasional pasien yang dirawat dengan gagal

jantung dalam tiga bulan terakhir adalah 355 pasien
dari total pasien 1877 atau mencapai presentasi 18,9%

(Medikal record, RS Jantung Harapan Kita, 2003).

          Di    RSUD     Wates     Kulon     Progo    jumlah        kunjungan

pasien    gagal       jantung     pada    tahun     2002    berjumlah        109

kasus    dengan         jumlah     kematian    12     kasus       dari     total

kunjungan 6968 pasien, pada tahun 2003 meningkat 118

kasus     dengan       jumlah     kematian    14     kasus        dari    total

kunjungan 7368 pasien (Medikal record RSUD Wates).

         Penanganan        gagal jantung memerlukan kerjasama

dari    seluruh       professi     kesehatan,        baik    dokter,        ahli

gizi, ahli pisioterapis, dan perawat. Kemampuan perawat

dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan

gagal jantung          sesuai standar yang berlaku dari Rumah

Sakit     bersangkutan          sangat    perlu     terus     ditingkatkan

mengingat        perawat    adalah         pendamping       pasien selama

24 jam.

         Standart Asuhan Keperawatan sebagai pedoman dan

sebagai dasar evaluasi pelaksanaan Asuhan Keperawatan

telah          dipenuhi    oleh     Pemerintah        dengan        Keputusan

Menteri Kesehatan RI. No. 660/MENKES/SK/IX/1987, yang

dilengkapi       surat     Edaran        Direktur    Jendral        Pelayanan

Medik No. 105/Yan.Med/RS/Medik/I/1988 tentang Penerapan

Standart       Praktek              Keperawatan            bagi          Perawat

Kesehatan        di     Rumah      Sakit      dan     Standart            Asuhan
Keperawatan yang diberlakukan melalui SK Dirjen Yanmed

No.YM.00.03.2.6.7637          tahun      1993.    Berdasarkan        ketiga

keputusan     tersebut,       dinyatakan         bahwa     semua     tenaga

perawat perlu memperhatikan serta menerapkan standart

praktek     keperawatan          untuk      mempermudah           penerapan

standart    tersebut,      sehingga        alat    pengukur        kualitas

lebih     obyektif,      valid    dan     realible.        Tetapi     dalam

pelaksanaannya        masih      belum     sesuai        dengan     harapan

dikarenakan perawat masih               banyak yang belum memiliki

persepsi yang sama dalam penerapannya, terutama dari

segi    pendokumentasian         karena    tidak    adanya        pormulasi

kesamaan    bahasa    yang      tersusun    dalam    Standart        Asuhan

Keperawatan. Faktor penghambat tersebut                      sampai saat

ini belum        ditemukan        pemecahannya. Di RSUD               Wates

mulai    tahun    2000    sampai      sekarang       setiap        semester

selalu        mengadakan         evaluasi           Standart         Asuhan

keperawatan di seluruh            bangsal rawat jalan dan rawat

Inap, hasilnya             56     sampai         71,43 % (data Seksi

Keperawatan RSUD Wates Kulon Progo, 2003).

         The North American Nursing Diagnosis Association

(NANDA) merupakan klasifikasi pertama yang dimulai pada

tahun 1973 sampai dengan saat ini dan diakui sebagai

klasifikasi keperawatan pertama. Diagnosa keperawatan

merupakan         dasar           untuk     menentukan        intervensi
keperawatan untuk             mencapai hasil yang diharapkan dan

dapat dipertanggungjawabkan oleh perawat (NANDA 2001).

         Tahun       1987    Pusat        Klasifikasi       Keperawatan       di

Universitas          Iowa     mengenalkan          Nursing         intervention

Classification (NIC) dan tahun 1991 mengenalkan Nursing

Outcome Classification (NOC), dimana NIC dan NOC ini

diakui     lebih        efektif        dan     efisien        dalam        bahasa

diagnostik       yang       akan     dikembangkan          menjadi    standart

intervensi       dan    kreteria          hasil.     NIC     dan     NOC   dapat

dipergunakan bersama dengan diagnosa NANDA.

         NIC adalah Standart bahasa intervensi yang dapat

digunakan       di    semua    area       keperawatan        dan     spesialis.

Intervensi           keperawatan           merupakan        tindakan        yang

berdasarkan          kondisi        klinik     dan     pengetahuan           yang

dilakukan perawat untuk membantu pasien memcapai hasil

yang diharapkan (Mc Closkey&Bulechek, 1996). NIC memuat

intervensi       fisiologi          dan    psikososial.        Intervensinya

untuk    perawatan          penyakit,      pencegahan        penyakit      serta

peningkatan kesehatan.


          NOC adalah mendefinisikan status klien setelah

dilakukan intervensi keperawatan (Johnson&Mass, 2001).

Standart    kriteria         hasil        dikembangkan       untuk    mengukur

hasil    dari    tindakan          keperawatan      yang     digunakan      pada
semua area keperawatan dan semua klien. NOC mempunyai

tujuh     domain     yaitu;     fungsi    kesehatan,       fisiologi

kesehatan,        kesehatan    psikososil,       pengetahuan      dan

perilaku     kesehatan,       persepsi    kesehatan,       kesehatan

keluarga dan kesehatan masyarakat.


        Penggunaan standart bahasa dapat diterima untuk

mempermudah       administrasi      dan   pengambilan      keputusan

(ANA, 1995). Sistem NANDA, NOC dan NIC dapat diterima

dan mendukung semua bagian proses keperawatan, kecuali

pengkajian. NANDA, NOC dan NIC didukung oleh penelitian

dan menfasilitasi perawatan lanjutan pada semua area

keperawatan.       NANDA       juga    telah    menyetujui      suatu

Taxanomi     di    dalam    International       Classification     of

Disease    (ICD-10),       World      Health    Organitation,     dan

kategori yang diidentifikasi NANDA secara umum telah

diterima oleh para perawat, tetapi membutuhkan validasi

dan perluasan lebih jauh. Tetapi sampai saat ini NANDA,

NOC, dan NIC masih belum ada yang mengembangkan sebagai

pedoman     Standart       Asuhan     Keperawatan     yang      dapat

dipergunakan       untuk    menstandarisasi      bahasa     terutama

dalam penerapan di Rumah Sakit.                 Hal ini mendorong

penulis    untuk    melakukan      penelitian    tentang    analisis

dokumentasi       Asuhan   Keperawatan    pasien    gagal    jantung
dengan menggunakan standart            NANDA, NOC dan NIC di IRNA

Penyakit Dalam RSUD Wates Kulon Progo, DIY.


                           B. RUMUSAN MASALAH


         Berdasarkan          uraian       pada    latar      belakang

diatas     maka    rumusan       masalah    pada    penelitian     ini

adalah “ Bagaimana              dokumentasi asuhan keperawatan

pasien     gagal     jantung     dengan     menggunakan       standart

NANDA, NOC dan NIC di          IRNA Penyakit Dalam Rumah         Sakit

Umum     Daerah        Wates         Kulon Progo, DIY ?”.


                           C. MANFAAT PENELITIAN


1. Bagi Rumah Sakit

  Memberikan        masukan     kepada Rumah Sakit dalam upaya

  peningkatan        pelayanan         keperawatan     dan     sebagai

  dasar untuk menentukan kebijakan penggunaan metode

  Asuhan          Keperawatan        profesional     yang     memiliki

  standarisasi bahasa sehingga Asuhan Keperawatan yang

  diberikan lebih efektif dan efisien.


2. Bagi Organisasi Profesi Keperawatan


  Sebagai         wacana     untuk     membuat     Standart     Asuhan

  Keperawatan         dengan mengembangkan         NANDA,      NOC dan

  NIC,      serta     meningkatkan       wawasan     perawat     dalam
  memberikan Asuhan Keperawatan terutama pada pasien

  dengan Gagal Jantung.


3. Bagi Klien

  Mendapatkan     Asuhan    Keperawatan         yang   sesuai    dengan

  masalah yang dialami.


4. Bagi Penulis


  Penelitian     ini     merupakan       suatu     pengalaman      yang

  berharga   untuk      melakukan       penelitian      dalam    bidang

  keperawatan     dan     dapat    lebih          memahami      tentang

  Diagnosa     NANDA, NOC dan NIC.


                        D. TUJUAN PENELITIAN


1. Tujuan Umum


  Memperoleh      gambaran,       tentang        dokumentasi asuhan

  keperawatan pasien gagal jantung dengan menggunakan

  standart      NANDA, NOC        dan     NIC     di IRNA Penyakit

  Dalam Rumah Sakit Umum Daerah            Wates       Kulon Progo.


2. Tujuan Khusus


  a. Untuk      mengetahui diagnosa         keperawatan         menurut

     NANDA pada pasien dengan gagal jantung.
  b. Untuk    mengetahui NOC pada pasien dengan gagal

     jantung.


  c. Untuk    mengetahui NIC pada pasien dengan gagal

     jantung.


                  E. KEASLIAN PENELITIAN


      Sepengetahuan penulis, penelitian yang dilakukan

oleh penulis belum pernah diteliti oleh peneliti lain.

Terbukti dari hasil studi pendahuluan dari internet,

jurnal,   kepustakaan   oleh   peneliti   belum   menemukan

tentang penelitian serupa.
                                BAB. II

                       TINJAUAN PUSTAKA

                          A.GAGAL JANTUNG



1. Definisi gagal jantung

          Gagal jantung terjadi bila abnormalitas fungsi

jantung     menyebabkan      kegagalan        memompa    darah      dalam

jumlah    yang    cukup    untuk     kebutuhan    metabolisme,       atau

mempertahankan curah jantung hanya dengan peningkatan

tekanan pengisian. Secara klinis ditandai dengan sesak

napas,    intoleransi       kerja,    retensi     cairan,     dan    daya

tahan hidup yang buruk. (McKelvie, 2002).



2. Etiologi dan faktor resiko
          Menurut    Barbara,       (1996),      Penyebab    kegagalan

jantung dapat dikatagorikan kepada tiga penyebab yang

menentukan sroke volume (isi sekuncup); Kontraktilitas

kardiak, prelod dan afrter load, atau bisa juga karena

kondisi    yang     mengurangi      daya   pengisian.       Sebab-sebab

kegagalan        jantung     bisa      diklasifikasikan          sebagai

berikut:


   a. Kerusakan        langsung        pada    jantung      (berkurang

         kemampuan         berkontraksi)          infark      myocard,
      myocarditis        myokarial       fibrosis,           anurysma

      ventrikuler


   b. Ventrikuler        overlod      atau      terlalu        banyak

      pengisian dari ventrikel;

          1) Volume      overload      (kebanyakan           preload)

             regurgitasi    dari     aorta    atau    defek    septum

             ventrikuler.

          2) Overload     tekanan      (kebanyakan          pengisian

             akhir):      stenosis      aorta        atau      arteri

             pulmonal,    hipertensi     sistemik,       hipertensi

             pulmonary


   c. Keterbatasan pengisian sistolik ventrikuler ,

      perikarditis       konstriktif     atau        cardiomyopati,

      atau   aritmi     kecepatan    yang     tinggi,    tamponade,

      mitral stenosis.

     Penyakit arteri koroner merupakan penyebab gagal

jantung   yang   paling     umum.      Penyebab       lain    berupa

hipertensi    dan      kardiomiopati         kongestif       dilatasi

idiopatik.   Setelah     penanganan     hipertensi,         munculnya

hipertrofi ventrikel kiri merupakan faktor resiko bagi

terjadinya gagal jantung. Faktor resiko lain seperti

merokok, hiperlipidemia, dan Diabitus militus. Penyebab

umum disfungsi diastolik ventrikuler adalah penyakit
arteri    koroner     dan     hipertensi       sistemik.       Penyebab

lainnya adalah kardiomiopati hipertrofi, kardiomiopati

restriktif     atau     infiltratif      dan      penyakit         jantung

vaskuler (katup).


3.Mekanisme kompensasi


         Menurut sumber www.medicastore.com.(2004), tubuh

memiliki beberapa mekanisme kompensasi untuk mengatasi

gagal jantung, yaitu:


  a. Mekanisme      respon     darurat    yang      pertama        berlaku

     untuk     jangka       pendek    (beberapa       menit        sampai

     beberapa       jam),     yaitu     reaksi      fight-or-flight.

     reaksi ini terjadi sebagai akibat dari pelepasan

     adrenalin            (epinefrin)         dan       noradrenalin

     (norepinefrin)         dari   kelenjar      adrenal      ke    dalam

     aliran darah; noradrenalin juga dilepaskan dari

     saraf. Adrenalin dan noradrenalin adalah sistem

     pertahanan tubuh yang pertama muncul setiap kali

     terjadi     stress      mendadak.     Pada     gagal      jantung,

     adrenalin      dan     noradrenalin      menyebabkan          jantung

     bekerja lebih keras, untuk membantu meningkatkan

     curah jantung dan mengatasi gangguan pompa jantung

     sampai     derajat      tertentu.     Curah      jantung         bisa
  kembali normal, tetapi biasanya disertai dengan

  meningkatnya dan bertambah kuatnya denyut jantung.

  Pada     seseorang     yang      tidak    mempunyai       kelainan

  jantung dan memerlukan peningkatan fungsi jantung

  jangka      pendek,      respon        seperti     ini      sangat

  menguntungkan, tetapi pada penderita gagal jantung

  kronis, respon ini bisa menyebabkan peningkatan

  kebutuhan       jangka        panjang        terhadap       sistem

  kardiovaskuler        yang    sebelumnya        sudah    mengalami

  kerusakan.      Lama-lama      peningkatan        kebutuhan       ini

  bisa menyebabkan menurunnya fungsi jantung.


b. mekanisme perbaikan lainnya adalah penahanan garam

  (natrium)     oleh       ginjal,       untuk      mempertahankan

  konsentrasi      natrium      yang     tetap,     tubuh     secara

  bersamaan     menahan         air.     Penambahan         air    ini

  menyebabkan      bertambahnya          volume      darah        dalam

  sirkulasi     dan     pada     awalnya       memperbaiki        kerja

  jantung. Salah satu akibat dari penimbunan cairan

  ini    adalah       peregangan        otot      jantung     karena

  bertambahnya     volume       darah.     Otot    yang     teregang

  berkontraksi        lebih     kuat,      hal     ini     merupakan

  mekanisme jantung yang utama untuk meningkatkan

  kinerjanya    dalam      gagal    jantung.       Tetapi    sejalan
     dengan memburuknya gagal jantung, kelebihan cairan

     akan dilepaskan dari sirkulasi dan berkumpul di

     berbagai    bagian     tubuh,   menyebabkan          pembengkakan

     (edema). Lokasi penimbunan cairan ini tergantung

     kepada     banyaknya       cairan     di     dalam    tubuh    dan

     pengaruh gaya gravitasi. Jika penderita berdiri,

     cairan     akan     terkumpul       di     tungkai     dan     kaki

     jika penderita berbaring, cairan akan terkumpul di

     punggung    atau    perut,    sering       terjadi    penambahan

     berat badan sebagai akibat dari penimbunan air dan

     garam.


  c. mekanime    utama     lainnya       adalah    pembesaran       otot

     jantung (hipertrofi). Otot jantung yang membesar

     akan memiliki kekuatan yang lebih besar, tetapi

     pada   akhirnya     bisa    terjadi      kelainan     fungsi    dan

     menyebabkan semakin memburuknya gagal jantung.



4. Patofisiologi, tanda dan gejala

      Menurut    Barbara,        (1996),      cardiac     output    yang

tidak adekuat memicu beberapa respon kompensasi yang

berusaha untuk mempertahankan ferfusi organ-organ tubuh

yang vital. Respon awal adalah stimulus kepada saraf

simpati yang menimbulkan dua pengaruh utama:
  a. Meningkatan          kecepatan        dan   kekuatan        kontraksi

       myocardium.

  b. Vasokontriksi perifer, mengeser arus darah arteri

       ke organ-organ yang kurang vital, seperti kulit

       dan    ginjal   dan   juga     ke    organ-organ      yang    lebih

       vital,seperti       otak.    Kontriksi      vena    meningkatkan

       arus    balik      dari     vena     kejantung.      Peningkatan

       peregangan      serabut     otot     myocardium     memungkinkan

       kontraktilitas.       Pada     permulaan     respon       berdampak

       pada      cardiac         output,         namun      selanjutnya

       meningkatkan kebutuhan oksigen untuk myocardium,

       meregangkan        serabut-serabut        myocardium        dibawah

       garis kemampuan kontraksi. Bila orang tidak berada

       dalam     status     kekurangan       cairan      untuk     memulai

       peningkatan      volume      ventrikel     dapat     mempercepat

       preload dan kegagalan komponen-komponen.

       Gejala-gejala kegagalan jantung merupakan dampak

dari   cardiac     output    dan    kongesti      yang    terjadi     pada

sistem pulmonal atau kedua-duanya. Sedangkan tanda dan

gejala gagal jantung kongestif menurut Barbara,                     (1996)

adalah:

  a. Tanda dan gejala yang disebabkan oleh penurunan

       cardiac     output;       Lelah,      angina,      cemas,     bunyi
     jantung S3, oliguri, penurunan aktifitas GI, kulit

     dingin, pucat

  b. Tanda dan gejala yang disebabkan oleh kongesti

     balik     dari     ventrikel       kiri;   Dyspnea,   batuk,

     orthopnea,         rales     paru-paru,       hasil     X-ray

     memperlihatkan kongesti paru-paru

  c. Tanda dan gejala yang disebabkan oleh kongesti

     balik ventrikel kanan; Edema perifer , Distensi

     vena leher,hati memebesar, peningkatan CVP


5. Klasifikasi gagal jantung

  Gagal    jantung     menurut    New    York   Heart   Assocition

  terbagi atas empat kelas fungsional yaitu:

  a. Timbul     gejala sesak pada aktifitas fisik            yang

     berat

  b. Timbul gejala sesak pada aktifitas sedang

  c. Timbul gejala sesak pada aktifitas ringan

  d. Timbul gejala sesak pada aktifitas sangat ringan



6. Diagnosa

           Menurut     Sumber    www.medicastore.com.      (2004),

  diagnosis    biasanya     ditegakkan      berdasarkan    gejala-

  gejala     yang     terjadi,   untuk     memperkuat   diagnosis
  dilakukan         pemeriksaan         fisik,     yang       biasanya

  menunjukkan:

  a.Denyut nadi yang lemah dan cepat

  b.Tekanan darah menurun

  c.Bunyijantung abnormal

  d.pembesaran jantung

  e.pembengkakan vena leher

  f.cairan di dalam paru-paru

  g.pembesaran hati

  h.penambahan berat badan yang cepat

  i.pembengkakan perut atau tungkai.

          Foto     rontgen     dada     bisa    menunjukkan      adanya

pembesaran       jantung     dan   pengumpulan    cairan    di    dalam

paru-paru. kinerja jantung seringkali dinilai melalui

pemeriksaan ekokardiografi (menggunakan gelombang suara

untuk     menggambarkan       jantung)    dan    elektrokardiografi

(menilai aktivitas listrik dari jantung). pemeriksaan

lainnya     bisa     dilakukan        untuk    menentukan     penyakit

penyebab gagal jantung

7. Komplikasi

  Syok kardiogenik

8. Pengobatan

          Menurut     Mckelvie,       (2002),    pengobatan       gagal

jantung meliputi:
a.Terapi Non Obat-obatan, Suatu tinjauan sistematik

  menemukan   bahwa     pendekatan   multidisipliner       pada

  nutrisi,     konseling      pasien,      dan     pendidikan

  menurunkan angka MRS, dapat memperbaiki kualitas

  hidup, dan meningkatkan pengetahuan pasien.

b.Latihan, maksud latihan adalah untuk memperbaiki

  kapasitas   fungsional     dan   kualitas      hidup.   Salah

  satu     Randomized      Controlled      Trial      terbaru

  menemukan     bahwa      latihan      secara     signifikan

  menurunkan masalah kardiak yang merugikan.

d. Terapi Obat dan Invasif meliputi:

     a. ACE Inhibitor

     b. Penghambat Reseptor Angiotensin II

     c. Otat-obat Inotropik Positif

     d. Penghambat Beta

     e. Antagonis Reseptor Aldosteron

     f. Terapi Obat Antiaritmia

     g. Defibrillator Jantung Yang Diimplantasi

     h. ACE Inhibitor pada pasien Resiko tinggi gagal

         jantung.
      B. DIAGNOSA KEPERAWATAN NANDA, NOC dan NIC

1. Diagnosa NANDA

  a. Definisi

     Menurut     NANDA     definisi       diagnosa       keperawatan

     adalah penilaian klinik mengenai respon individu,

     keluarga,      dan      komunitas          terhadap         masalah

     kesehatan atau proses kehidupan yang aktual dan

     potensial    (hasil     konferensi      NANDA      ke   9    tahun

     1990). Diagnosa keperawatan mengatakan bagaimana

     keadaan    pasien    pada    saat    ini     dan   mencerminkan

     perubahan-perubahan         pada    kondisi    klien.       Istilah

     diagnosa keperawatan digunakan sebagai verba dan

     nomina. Sebagai Nomina dalam kaitan dengan karya

     NANDA,    yaitu   sebuah     label    yang     disetujui       oleh

     NANDA      yang      mengidentifikasi          masalah         atau

     kebutuhan    pasien    yang    spesefik.       Merupakan      alat

     untuk menggambarkan masalah kesehatan yang dapat

     ditangani    oleh     perawat;       dapat    berupa     masalah

     fisik, sosiologis dan psikologis. Sebagai Verba

     merupakan    proses     mengidentifikasi           masalah    atau

     kebutuhan pasien yang spesifik digunakan dengan

     beberapa    perawat     sebagai       tahapan       kedua     dari

     proses keperawatan.
b.    Keuntungan          Penggunaan     label       diagnosa       dalam

     asuhan keperawatan

            meskipun      belum      komprehensif,       daftar      label

     diagnosa        keperawatan       dari      NANDA       saat     ini

     menentukan       atau   menyaring       aktivitas      keperawatan

     professional.        Menurut     Doenges    (2000)      keuntungan

     penggunaan label diagnosa keperawatan adalah:

     1)    Memberikan     bahasa      yang    umum   bagi    perawat    ;

           meningkatkan       komunikasi        yang      lebih      baik

           diantara     perawat,       antara    shift      dan     unit,

           penyedia       perawatan         kesehatan       lain,     dan

           lingkungan perawatan yang berbeda – beda.

     2)    Meningkatkan      identifikasi       tujuan      yang    tepat

          ; membantu dalam memilih intervensi keperawatan

          yang    benar      untuk     mengatasi        masalah      atau

          kebutuhan       yang      telah      diidentifikasi          dan

          memberikan pedoman untuk evaluasi.

     3)    Memberi     informasi       yang     tajam;      mengurutkan

          sejumlah     pekerjaan       yang     memerlukan          asuhan

          keperawatan dan dapat berfungsi sebagai dasar

          untuk   system     klasifikasi        pasien,      menentukan

          kebutuhan staf dan sebagai dokumentasi untuk

          memberikan justifikasi untuk pembayaran.
  4)     Dapat     menciptakan       standar       untuk     praktik

       keperawatan ; memberikan pondasi untuk program

       jaminan     kualitas,        alat     untuk     mengevaluasi

       praktik keperawatan, dan suatu mekanisme untuk

       menghitung        biaya     asuhan     keperawatan          yang

       diberikan.

  5)     Memberi     dasar       peningkatan       kualitas;       para

       klinisi,     administrator,         pendidik,       dan     para

       peneliti     dapat        mencatat,     menvalidasi        atau

       mengubah     proses        pemberian       perawatan,       yang

       kemudian akan memajukan profesi keperawatan.

c. tipe diagnosa keperawatan

   Ada tiga tipe diagnosa keperawatan NANDA (2001)

  yaitu:

  1) Diagnosa       keperawatan        aktual        yaitu       respon

       manusia    saat    ini     terhadap    kondisi      kesehatan

       atau   proses      kehidupan        yang      didukung      oleh

       sekelompok    batasan       karakteristik        (tanda      dan

       gejala) dan termasuk          factor yang        berhubungan

       (etiologi) yang mempunyai kontribusi terhadap

       perkembangan atau pemeliharaan kesehatan.

  2) Diagnosa Keperawatan Resiko, yaitu menunjukkan

       respon manusia yang dapat timbul pada seseorang

       atau kelompok yang rentan dan ditunjang dengan
     faktor     resiko     yang    memberi       kontribusi    pada

     peningkatan kerentanan.

  3) Diagnosa      keperawatan           Kesejahteraan        yaitu;

     menguraikan      respon      manusia     terhadap      tingkat

     kesehatan     pada     individu      atau     kelompok    yang

     mempunyai potensi peningkatan derajat kesehatan

     lebih tinggi.

e. Komponen Pernyataan Diagnosa Keperawatan

  Menurut     NANDA       tahun   2001,     komponen      diagnosa

  keperawatan adalah:

  1) Problem (Masalah atau kebutuhan) adalah nama

     atau label diagnosa yang diidentifikasi dari

     daftar NANDA.

  2) Faktor     resiko/factor        yg    berhubungan        adalah

     penyebab atau alasan yang dicurigai dari respon

     yang telah diidentifikasi dari pengkajian.

  3) Definisi     karakteristik           (tanda    dan     gejala)

     adalah   manifestasi         yang    diidentifikasi       dalam

     pengkajian yang menyokong diagnosa keperawatan.

e. Pemberi Sifat untuk label diagnosa, yaitu:

  1) Akut             : berat tetapi durasi singkat

  2) Perubahan        : suatu perubahan dari dasar

  3) Kronik           :    bertahan       dalam     waktu      lama,

     berulang, konstan.
 4) Menurun          :     Sedikit,      kurang     dalam       ukuran

   jumlah, derajat.

 5) Defisien         :     Tidak      adekuat      dalam       jumlah,

   ukuran      dan       derajat,    defektif,      tidak       cukup,

   Tidak lengkap.

 6) Deplesi : hilang sebagian ada keseluruhan, habis

 7) Disfungsional: abnormal, fungsi tidak sempurna.

 8) Gangguan:terganggu, terhenti, dipengaruhi oleh.

 9) Kelebihan        :     Ditandai      dengan     jumlah        atau

   kuantitas         yang        lebih     besar        dari      yang

   diperlukan,            yang      diinginkan         atau       yang

   bermanfaat

10) Meningkat : lebih besar dalam jumlah , ukuran

   dan derajat.

11) Kerusakan    :       membuat     buruk,     melemah,        rusak,

   menurun, memburuk

12) Tidak efektif : tidak menghasilkan efek yang

   diharapkan

13) Intermiten       :    berhenti       dan   mulai     lagi     pada

   interval tertentu, periodik,                siklik

14) Potensial            terhadap        peningkatan            (untuk

   penggunaan             diagnosa         kesejahteraan)            ;

   peningkatan didefinisikan sebagai membuat labih
          besar, meningkatkan kualitas, atau lebih dari

          yang diinginkan.

2. NOC (Nursing Outcome Classification)

          nursing      Outcome     Classification          menggambarkan

respon pasien terhadap tindakan keperawatan (Johnson

and Mass 1997 cit.www.Minurse.org). NOC mengevaluasi

hasil     pelayanan      keperawatan         sebagai       bagian     dari

pelayanan      kesehatan.        Standar     kriteria      hasil    pasien

sebagai     dasar      untuk     menjamin        keperawatan       sebagai

partisipan penuh dalam evaluasi klinik bersama dengan

disiplin ilmu kesehatan lain.

        Klasifikasi       berisi     190     kriteria       hasil     yang

diberi label, definisi dan indikator atau ukuran untuk

menentukan kriteria hasil yang diterima.

Manfaat     standarisasi         bahasa    NOC     dalam    keperawatan

menurut www.nursing.uiowa, yaitu :

          1) Memberikan label – label dan ukuran – ukuran

               untuk   kriteria     hasil     yang     konfrehensif      ,

               sebagai hasil dari intervensi keperawatan.

          2) Mendefinisikan kriteria hasil yang berfokus

               pada pasien dan dapat digunakan perawat –

               perawat dan disiplin ilmu lain.

          3)    Memberikan       informasi    kriteria       hasil    yang

               lebih   spesifik     dari     status    kesehatan      yang
            umum. Ini memberikan secara langsung untuk

            mengidentifikasi        masalah      ketika      ukuran

            status    kesehatan     umum   diluar    rentang   yang

            dapat diterima.

       4)     Memberikan        kriteria     hasil    yang     cepat

            penerimaan sepanjang rentang kriteria hasil

            yang diinginkan.

       5) Menggunakan skala umtuk mengukur kriteria

            hasil yang memberikan informasi kuantitatif

            tentang kriteria hasil pasien yang diterima

            dalam organisasi atau sistem manajemen.

       6) Memfasilitasi identifikasi pernyataan faktor

            resiko      untuk      kelompok      populasi.       Ini

            merupakan     langkah     yang     dibutuhksn      dalam

            pengkajian variasi kriteria hasil.


3. NIC (Nursing Intervention Classification)

       NIC    menggambarkan        perawatan     yang     dilakukan

  perawat, NIC digunakan          perawat pada semua spesialis

  dan semua area keperawatan (Mc.Closkey, Bulecheck,

  1996).

   a. Keuntungan NIC

      Menurut        Mc.Closkey     and      Bulecheck,      (1996)

      keuntungan NIC adalah sebagai berikut:
 1)    Membantu     menunjukkan     aksi     perawat       dalam

      system pelayanan kesehatan.

 2) Menstandarisasikan dan mendefinisikan dasar

      pengetahuan    untuk     kurikulum         dan    praktik

      keperawatan.

 3)    Memudahkan    memilih      intervensi      keperawatan

      yang tepat.

 4) Memudahkan        komunikasi,tentang               perawatan

      kepada      perawat      lain,        dan        penyedia

      pelayananan kesehatan lain.

 5) Memperbolehkan          peneliti       untuk         menguji

      keefektifan dan biaya perawatan.

 6) Membantu        pendidik       untuk         mengembangkan

      kurikulum    yang   lebih    baik     dengan       praktik

      klinis.

 7) Memudahkan pengajaran pengambilan keputusan

      klinis bagi perawat baru.

 8) Membantu         tenaga        administrasi            dalam

      merencanakan     staff      dan      peralatan        yang

      dibutuhkan lebih efektif.

 9) Meningkatkan              perkembangan                system

      reimbursement untuk pelayanan perawatan.

10) Memudahkan       pengembangan          dan      penggunaan

      system informasi perawatan.
   11) Mengkomunikasikan kealamiahan perawat kepada

       publik.

b. Kelebihan NIC

   Menurut     Mc.Closkey       and     Bulecheck,      (1996)

   kelebihan NIC adalah sebagai berikut:

    1) Komprehensif.

    2) Berdasarkan riset.

    3) Dikembangkan    lebih    didasarkan      pada    praktik

       yang ada.

    4) Merefleksikan     pada         praktik    klinik     dan

       penelitian saat ini.

    5) Mempunyai      kemudahan         untuk     menggunakan

       struktur       organisasi         (Domain,        Kelas,

       Intervensi, aktivitas).

    6) Menggunakan bahasa yang jelas dan penuh arti

       klinik.

    7) Dikembangkan oleh tim riset yang besar dan

       bermacam-macam tim.

    8) Menjadi dasar pengujian.

    9) Dapat diakses melalui beberapa publikasi

   10) Dapat dihubungkan Diagnosa Keperawatan NANDA

   11) Dapat     dikembangkan     bersama       NOC    (Nursing

       Outcomes Classification).

   12) Dapat diakui dan diterima secara nasional.
          C. ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GAGAL JANTUNG

1.Pengkajian

          Pengkajian         dikutip         dari      GORDON       (1987),

Pengumpulan data terdiri dari dua format; data dasar

keperawatan         dan      pengkajian        focus.        Data      dasar

keperawatan        untuk,      mempersempit           kemungkinan       yang

universal. Sedangkan pengkajian focus keperawatan harus

berfokus     kepada        pengumpulan       data     yang     membenarkan

diagnosa     keperawatan.          Sistem     Gordon     mengenai       pola

kesehatan fungsional memeberikan format yang istimewa

dan   relevan      untuk    pengumpulan       data     keperawatan      yang

terdiri     dari     11     item    yaitu     persepsi       sehat,     pola

nutrisi, pola eleminasi, pola aktifitas, pola tidur,

pola kognitif, pola persepsi diri, pola peran, pola

seksual,     pola    koping,        dan     pola    nilai.    Selain    itu

penkajian fisik pola fungsi sistem tubuh serta hasil

pemeriksaan     penunjang          selalu     perlu    untuk    dicermati

untuk memperkuat diagnosa keperawatan yang tepat.



2. pengkajian pasien gagal jantung

  a. Identitas pasien dan keluarga /penanggungjawab

  b. Riwayat kesehatan sekarang adanya sesak napas,

       cepat lelah, otopneu, PND, kardiomegali, gallop,
    peningkatan JVP, edema ekstremitas, dyspneu of

    effort, hepatomegali, efusi pleura, tachikardi.

c. Riwayat     kesehatan       dahulu      atau     adanya     faktor-

   faktor pemyebab terjadinya gagal jantung perlu

   dikaji secara rinci seperti hipertensi, penyakit

   katup jantung bawaan, infark miocard atau gagal

   ginjal.

d. Pemeriksaan fisik per sisten dari ujung rambut

   sampai ujung kaki, terutama perhatikan tentang

   adanya peningkatan JVP, bising arteri karotis,

   pernapasan, bunyi jantung, abdomen dan extremitas

   tentang adanya oedema, kelembaban dan temperatur

   serta pola fungsional.

e. Perlu     juga     memperhatikan          hasil       pemeriksaan

    penunjang       seperti     laboratorium         ,   EKG     untuk

    mengetahui adanya gambaran LBBB, kelainan ST/T

    pelebaran       atrium     kiri     (menunjukan          disfungsi

    ventrikel kiri kronik), gel Q (infark), kelainan

    segmen ST/T (iskemia), Hipertropi ventrikel kiri

    dan gelombang T ke balik (menunjukan stenosis

    orta   dan      penyakit    jantung      hiperensi),aritmia,

    deviasi      aksis   kekanan      (     disfungsi        ventrikel

    kanan).      Perhatikan     dan       cermati    foto      rontgen

    thorak        adanya        edema        alfeoral,           edema
        insterstiales        efusi     pleura,         pelebaran     vena

        pulmonalis,       kardiomegali.            Perhatikan         juga

        tentang      kateterisai,          echocardiogram,           radio

        nuklir,     CT    scanning     dan        magnetic    resonance

        imaging.


3. Diagnosa   NANDA, pada pasien gagal jantung

  a. Penurunan       cardiac     output          b.d    perubahan     isi

       sekuncup (perubahan preload, perubahan afterload,

       perubahan kontrktilitas)

  b. Kelebihan      volume    cairan       b.d    gangguan    mekanisme

       pengaturan

  c. Kerusakan      pertukaran       gas    b.d    perubahan    membran

       kapiler alveoli

  d. Resiko       untuk   kerusakan        integritas        kulit    b.d

       perubahan      sirkulasi        dan        perubahan        status

       metabolik

  e. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan

       tubuh b.d gangguan absorpsi zat-zat gizi sekunder

       terhadap penurunan curah jantung

  f.    Intoleransi aktifitas b.d kelemahan

  g.    Cemas b.d perubahan status kesehatan
4. NOC dan NIC yang sesuai dengan diagnosa keperawatan

   pada pasien gagal jantung

  a.Penurunan        cardiac    output     b.d      perubahan     isi

    sekuncup (perubahan preload, afterload, perubahan

    kontraktilitas).

     NOC:

     Pompa jantung efektif;

     Indikator: tanda-tanda vital dalam batas normal,

     oedem ekstremitas berkurang, JVP 5+3 dalam batas

     normal,    tidak     ada    keluhan       sesak   napas    saat

     beraktifitas, perfusi perifer adekuat.

     NIC:

     Cardiac care;

       1) monitor      tanda-tanda       vital,    bunyi     jantung,

            frekuensi dan irama jantung

       2) Monitor      parameter     hemodinamik       dan   perfusi

            perifer

       3) Catat urine output

       4) pantau EKG 12 lead

       5) Fasilitasi       bedrest       dan      lingkungan    yang

            tenang

       6) Posisikan       pasien   supinasi        dengan    elevasi

            kepala 30 derajat dan elevasi kaki

       7) Berikan makanan dalam komposisi lunak
     8) Anjurkan untuk mencegah valsava maneuver

     9) Berikan oksigen 3-5 liter/menit

    10) Kelola/berikan         terapi     lasix,       captopril,

         vasodilator sesuai program

b. Resiko    kelebihan     volume       cairan   b.d     gangguan

  mekanisme pengaturan.

  NOC:

  Cairan tubuh balance;

  Indikator: status hemodinamik stabil (JVP 5+3),

  balance     cairan     tercapai,      bunyi    napas    bersih,

  tanda-tanda vital dalam batas normal, tidak ada

  odema.

  NIC:

  Monitoring cairan;

      1) Monitor       intake ,output cairan tiap 24 jam

      2) Ajarkan       pada    keluarga    tentang     pengukuran

            intake dan output cairan

      3) Monitor status hemodinamik

      4) Ukur tanda-tanda vital tiap 4 jam

  Manajemen cairan;

      1) Pertahankan posisi supinasi 30 derajat

      2) Buat    ukuran       untuk   balance    cairan    secara

            ketat (intake sama dengan output)
      3) Pertahankan diet rendah garam dan jelaskan

         pada pasien manfaatnya

      4) Beri cairan sesuai kebutuhan

      5) Kaji distensi leher dan pembuluh perifer

      6) Kelola    lasix,   aspar       K,    Captopril       sesuai

         dosis

c. Kerusakan   pertukaran   gas    b.d       perubahan       membran

  kapiler alveoli.

  NOC:

  Stastus pernapasan atau pertukaran udara edekuat

  NIC:

  Monitoring respirasi;

      1) Monitor     rata-rata,     kedalaman         dan      usaha

         napas

      2) Catat    gerakan   dada,        kesimetrisan          dada,

         penggunaan otot tambahan dan retraksi otot

         supraklavikula dan interkostal

      3) Palpasi kesamaan ekspansi paru

      4) Auskultasi      bunyi      napas,           catat      area

         penurunan/ketidakadekuatan             ventilasi        dan

         adanya bunyi datang

      5) Monitor     Analisa      Gas        Darah    (AGD)      dan

         perubahan nilai AGD, nadi oksimetri
      6) Anjurkan dan monitor kemampuan pasien batuk

            efektif dan napas dalam

      7) Monitor dispnea dan kejadian-kejadian yang

            meningkatkan      dan   memperburuk     terjadinya

            dispnea

      8) Kelola       pengobatan     dan    berikan        sesuai

            indikasi; lasix, aminopilin

  Membantu ventilasi;

      1) Pelihara airway pasien

      2) Posisi untuk mengurangi dispnea

      3) Posisi       untuk    memudahkan      ventilasi     atau

            perfusi

      4) Bantu rubah posisi yang sesuai

d. Resiko    untuk    kerusakan     integritas     kulit     b.d

  perubahan sirkulasi dan perubahan status metabolik

  NOC:

  Mempertahankan integritas kulit

  NIC:

  Manejemen tekanan;

      1) Tempatkan kasur yang sesuai

      2) Monitor      kulit    adanya   area    kemerahan     dan

            pecah-pecah

      3) Monitor aktifitas dan mobilitas pasien

      4) Monitor status nutrisi pasien
      5) Monitor sumber atau area yang tertekan

      6) Jaga sprei dalam keadaan bersih dan kering

      7) Berikan pelembab pada kulit yang kering dan

           pecah-pecah

      8) Berikan bedak pada punggung

  Pencegahan sirkulasi;

      1) Lakukan        penilaian       menyeluruh     tentang

           sirkulasi;     cek   nadi,     edema,     pengisian

           kapiler, warna, dan temperatur ekstremitas

      2) Tidak melakukan infus pada ekstrimitas yang

           tertekan

e. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan

  tubuh b.d gangguan absorpsi zat-zat gizi sekunder

  terhadap penurunan curah jantung

  NOC:

  Status     nutrisi:     intake       makanan   dan   cairan

  terpenuhi

  NIC:

  terapi gizi;

      1) Monitor      makanan   atau    cairan   ingesti   dan

           hitung masukan kalori dengan tepat

      2) Monitor ketidakpatenan dari diet

      3) Kolabori penentuan diet rendah garam

      4) Tentukan pilihan makanan yang sesuai
   5) Berikan      makanan     komposisi       lunak    yang

      berprotein       tinggi,     berkalori        tinggi,

      minuman dan makanan siap komsumsi

   6) Sajikan makanan dengan gaya yang menarik,

      dalam suasana santai dan menyenangkan

   7) Berikan perawatan mulut

   8) Bantu   pasien    dalam    posisi    duduk    sebelum

      makan atau disuapi

   9) Ajarkan pasien dan keluarganya tentang diet

      yang telah ditentukan

  10) Beri    kesempatan      pasien   atau     keluarganya

      untuk mencatat diet yang ditentukan

Monitoring gizi;

   1) Monitor   tingkat      energi,   rasa    tidak    enak,

      keletihan dan kelemahan

   2) Monitor jenis dan jumlah latihan

   3) Timbang berat badan pasien

   4) Monitor      Albumin,      protein       total,     Hb,

      Ht,elektrolit

Monitor tanda-tanda vital;

   1) Monitor    tekanan      darah,   suhu,     pernapasan

      dengan tepat

   2) Monitor irama dan kecepatan jantung

   3) Monitor sianosis, pucat
f. Intoleransi aktifitas b.d kelemahan

  NOC:

  Toleransi aktifitas dan penyimpanan energi

  NIC:

  tepapi aktifitas;

      1) kaji kemampuan pasien melakukan aktifitas

         yang sesuai dengan keadaan umum

      2) Evaluasi     motivasi        dan    keinginan     pasien

         untuk meningkatkan aktifitas

      3) Jelaskan pada pasien manfaat beraktifitas

         secara bertahap

      4) Bantu dalam pemenuhan aktifitas perawatan

         diri jika pasien belum dapat mentoleransi

         aktifitas

      5) Orientasikan        pasien     beraktifitas       secara

         bertahap sesuai toleransi

      6) Tetap sertakan oksigen/ O2 selama aktifitas

      7) Bantu      pasien     mengidentifikasi            pilihan

         aktivitas

      8) Berikan     reinforcement          pada   paien    untuk

         peningkatan aktifitas
  Manajemen energi;

      1) Rencanakan       aktifitas     pada     saat     pasien

           mempunyai      energi      yang      cukup      untuk

           melakukannya

      2) Berikan         periode        istirahat         selama

           beraktifitas

      3) Catat      respon         kardiopulmonal       setelah

           melakukan aktivitas

  Manajemen nutrisi;

      1) Monitor       intake   nutrisi      untuk   memastikan

           kecukupan sumber-sumber energi

      2) Tingkatkan komposisi diet kalori dalam diet

           (kaloborasi dengan ahli gisi)

g. Cemas b.d perubahan status kesehatan

  NOC:

  Koping

  NIC:

  Mengurangi kecemasan;

      1) Tenangkan klien

      2) Tanyakan       perilaku     yang    diharapkan     dari

           klien

      3) Jelaskan      semua    prosedur     termasuk   sensasi

           yang dirasakan selama dilakukan prosedur
   4) Gali pemahaman klien tentang stressor yang

      dialami

   5) Berikan     informasi     yang     aktual      tentang

      diagnosa, tindakan dan prognosa penyakit

   6) Dampingi klien untuk meningkatkan rasa aman

      dan mengurangi kecemasan

   7) Bina hubungan saling percaya dengan klien

   8) Motivasi       klien       untuk      mengungkapkan

      perasaan, persepsi dan rasa takut

   9) Identifikasi tingkat perubahan kecemasan

  10) Anjurkan     klien     untuk   menggunakan      tehnik

      relaksasi

Tehnik menenangkan (calming technique);

   1) Mempertahankan kontak mata

   2) Temani klien untuk duduk dan berbicara

   3) Motivasi klien untuk napas dalam

   4) Identifikasi     orang     yang    terdekat     dengan

      klien yang dapat hadir untuk membantu klien

   5) Berikan      medikasi      anti     anxiety,      bila

      diperlukan

   6) Anjurkan     klien     untuk   menggunakan      metode

      mengurangi kecemasan
        Meningkatkan koping;

           1) Nilai        penyesuian     diri      klien terhadap

                perubahan gambaran diri

           2) Nilai     pemahaman       klien     terhadap       proses

                penyakit

           3) Kaji dan diskusikan respon alternatif pada

                situasi cemas

           4) Kembangkan atmosfir penerimaan

           5) Bantu klien untuk mengembangkan penerimaan

                secara obyektif terhadap kejadian

           6) Berikan informasi yang aktual berhubungan

                dengan diagnosis, treatmen dan prognosis

           7) Berikan       pilihan     yang     realistik    tentang

                aspek perawatan



                           D. LANDASAN TEORI

        Gagal    jantung    meskipun     tidak    menempati      urutan

terbesar    penyakit    tetapi    membutuhkan       penanganan      dan

perawatan yang komprehensif, mengingat gagal jantung

jika    tidak    ditangani     secara    cepat     dan   tepat    akan

mengakibatkan syok kardiogenik dan berakibat kematian.

        Peran     perawat      adalah     memberikan         pelayanan

keperawatan yang bermutu dan bertanggung jawab dalam

upaya           peningkatan           kesehatan,          pencegahan
perawatan/pengobatan,          rehabilisasi     kepada     individu,

keluarga    dan     masyarakat    dengan    menggunakan     Standar

asuhan keperawatan yang komprehensip dan profesional.

Mengingat perawat dalam          menjalankan       tugasnya selama

24 jam berada di samping pasien, sehingga peningkatan

mutu      standar     asuhan      keperawatan       harus       terus

ditingkatkan.

        Standar     asuhan     keperawatan      sebagai      pedoman

perawat    dalam     memberikan    asuhan     keperawatan       telah

diakui keberadaanya oleh pemerintah. Oleh karena itu

perlu dilakukan perbaikan mutu melalui penelitian dan

pengembangan agar diperoleh hasil yang memuaskan bagi

klien baik sebagai individu, keluarga dan masyarakat.

        Peningkatan mutu standar asuhan keperawatan dapat

dilakukan dengan menggunakan standarisasi bahasa yang

dapat diterima disemua area dan spesialis keperawatan.

NANDA, NOC dan NIC dapat digunakan untuk mempermudah

perawat    dalam     memberikan    asuhan     keperwatan        karena

bahasa dokumentasinya telah diakui dan terstandar di

semua area perawatan.

        Untuk     memperbaiki     standar    asuhan      keperawatan

dapat   dikembangkan     dengan    NANDA,    NOC   dan    NIC   tidak

berdasarkan diagnosa medis tapi bisa berdasarkan klas,

domain dan intervensi yang sesuai dengan kelainannya.
                  E.KERANGKA KONSEP


                      Pasien Gagal Jantung




  Pengobatan              Asuhan              Pelayanan
                       keperawatan              umum &
                                              Keperawatan


                       Pengkajian




               Menetapkan                     Tujuan &
                diagnosa                      kriteria
              keperawatan/                   hasil/ NOC
                  NANDA



   Evaluasi         Implementasi             Intervensi/
                                                 NIC




Keterangan :

                : tidak diteliti

                : diteliti
                  F. PERTANYAAN PENELITIAN



1. Bagaimanakah         penerapan     dokumentasi     asuhan

  keperawatan       pasien    gagal      jantung      dengan

  menggunakan diagnosa NANDA, NOC dan NIC?

2. Seberapa   besar    penerapan    diagnosa   yang   sesuai

  NANDA?

3. Seberapa besar kriteria hasil yang sesuai dengan

  NOC?

4. Seberapa   besar    intervensi     yang   dibuat   sesuai

  dengan NIC?
                             BAB III

                      METODOLOGI PENELITIAN

              A.JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN



         Penelitian   ini   termasuk   penelitian     deskriptif,

dengan     pendekatan    cross     sectional.     Penelitian    ini

dilakukan dengan mengamati pelaksanaan kegiatan perawat

dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien gagal

jantung      dengan     melihat     hasil    dari     dokumentasi

keperawatan.



           B.POPULASI DAN SUBYEK PENELITIAN
1. Populasi

  Populasi penelitian ini adalah semua pasien gagal

  jantung     yang     diberikan    asuhan      keperawatan    oleh

  perawat dan didokumentasikan di IRNA Penyakit Dalam

  Rumah Sakit Umum Daerah Wates, Kulon Progo .

2. Sampel

  Sampel ditentukan atau dipilih secara total sampling

  didasarkan      pada      pertimbangan        peneliti      dengan

  kriteria sebagai berikut:

  a. Kriteri inklusi

          1) Dokumentasi pasien gagal jantung yang telah

             lengkap.
          2) Dokumentasi pada pasien gagal jantung yang

            tanpa komplikasi.

  b. Kriteria      eksklusi     adalah       Pasien      gagal     jantung

     pada anak.

Penentuan     jumlah       sampel    dengan     semua     pasien     gagal

jantung    yang    memenuhi     kriteria       inklusi    yang     dirawat

pada Agustus 2004 dilakukan penelitian.



                   C. VARIABEL PENELITIAN

Variabel    penelitian        ini     adalah     dokumentasi        asuhan

keperawatan       pasien    gagal     jantung    dengan        menggunakan

standart NANDA, NOC dan NIC.



                   D. DEFINISI OPERASIONAL

  1. Dokumentasi           Asuhan     Keperawatan        adalah      suatu

     dokumentasi           kegiatan     perawat        yang      diberikan

     kepada          pasien          gagal       jantung           sebagai

     pertanggungjawaban             keperawatan,      dengan      komponen

     yang      digunakan        mencakup        tiga      aspek     yaitu

     Komunikasi,           Proses      perawatan         dan      Standart

     keperawatan.

  2. Asuhan keperawatan adalah pelayanan keperawatan

     profesional            didasarkan         ilmu       dan       tehnik
   keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-

   spiritual yang komprehensif yang diberikan oleh

   perawat kepada pasien dengan gagal jantung, dari

   pasien masuk sampai dengan keluar.

3. Perawat    adalah      perawat yang melaksanakan asuhan

   keperawatan     pada    pasien     gagal   jantung        yang

   bertugas        di Ruang Penyakit Dalam Rumah Sakit

   Umum Daerah Wates.

4. Diagnosa      keperawatan        menurut      NANDA     adalah

   kumpulan diagnosa keperawatan yang disusun oleh

   North     American     Nursing     Diagnosis     Association

   (NANDA) berdasarkan taxonomy II dikeluarkan tahun

   2001-2002. Data berupa data nominal; sesuai NANDA

   atau tidak sesuai NANDA

5. NOC (Nursing Outcome Classification) berdasarkan

   tim   riset    Universitas     IOWA   adalah    penggolongan

   kriteria      hasil    untuk     pencapaian    tujuan     dari

   diagnosa keperawatan. Data berupa data nominal;

   sesuai NOC atau tidak sesuai NOC

6. NIC     (Nursing        Intervention       Classification)

   berdasarkan     tim    riset   Universitas      IOWA    adalah

   suatu daftar intervensi diagnosa keperawatan yang

   menyeluruh       yang      dikelompokkan         berdasarkan
   alphabet yang menguraikan aktivitas                  keperawatan

   dibagi menjadi 7 bagian serta 30 kelas.

                 E. PENGUMPULAN DATA

1. Teknik pengumpulan data

  Pengumpulan      data    dalam        penelitian     ini     melalui

   observasi dengan melakukan pengamatan dokumentasi

   Asuhan     Keperawatan        pada     pasien      dengan     gagal

   jantung     untuk    memperoleh         data     yang     bersifat

   kuantitatif. Observasi dilakukan oleh dua orang

   observer    yang    membantu     peneliti       dengan      minimal

   pendidikan      DIII     keperawatan               dan        tidak

   bekerja di ruangan tempat penelitian.

2. Alat Penelitian

   Dalam penelitian ini menggunakan formulir NANDA,

   NOC   dan     NIC      yang    digunakan        untuk       melihat

   dokumentasi     tindakan       perawat       dan    dibandingkan

   dengan standar yang disusun dalan ceklist. Adapun

   ceklist yang digunakan oleh peneliti adalah :

     a. Formulir       diagnosa         NANDA     digunakan      untuk

         mengumpulkan data diagnosa keperawatan yang

         sesuai NANDA pada pasien dengan gagal jantung

         terdiri dari 7 item, yaitu penurunan cardiac

         output,   kelebihan       volume       cairan,      kerusakan

         pertukaran       gas,    ketidakseimbangan            nutrisi
  kurang dari kebutuhan tubuh, resiko kerusakan

  integritas        kulit,       intoleransi        aktifitas,

  cemas.      Data dikumpulkan dengan cara observer

  melakukan      pengamatan        diagnosa       keperawatan

  yang terdokumentasi dan membandingkan                   dengan

  standar          yang    ada     dalam     formulir       ini.

  Ceklistnya berupa ya atau tidak, dikatakan ya

  kalau sesuai dengan nilai 1 dikatakan tidak

  jika     tidak     sesuai/tidak         didokumentasikan,

  dengan nilai nol.

b. formulir    NOC     digunakan     untuk       mengumpulkan

  data     tentang kriteria hasil yang sesuai NOC

  terdiri dari 7 item. Data dikumpulkan dengan

  cara observer melakukan pengamatan                  tentang

  kriteria      hasil     yang     terdokumentasi            dan

  membandingkan        dengan standar        yang ada dalam

  formulir      ini.      Ceklistnya       berupa    ya     atau

  tidak, dikatakan ya kalau sesuai dengan nilai

  1   dikatakan      tidak    jika   tidak       sesuai/tidak

  didokumentasikan, dengan nilai nol.

c. formulir     NIC     digunakan    untuk       mengumpulkan

  data     tentang      intervensi     keperawatan          yang

  sesuai       NIC     terdiri     dari     96   item.      Data

  dikumpulkan       dengan    cara   observer        melakukan
              pengamatan          tentang   intervensi    keperawatan

              yang       terdokumentasi           dan   membandingkan

              dengan standar        yang ada dalam formulir ini.

              Ceklistnya berupa ya atau tidak, dikatakan ya

              kalau sesuai dengan nilai 1 dikatakan tidak

              jika       tidak    sesuai/tidak      didokumentasikan,

              dengan nilai nol.

  3. Uji Reabilitas/uji kesepakatan observer

       Dalam    melakukan uji reabilitas menggunakan rumus

       H.J.X    Fernandes         yang    telah   dimodifikasi   oleh

       Arikunto, yaitu:

       KK =        2S

               N1 + N2

       Keterangan:

       KK   = Koefisien kesepakatan

               S        = sepakat, jumlah kode yang sama untuk

               obyek yang sama

       N1   = jumlah kode dibuat pengamat I

       N2   = jumlah kode yang dibuat oleh pengamat II

Peneliti melakukan uji kesepakatan tiga kali berturut-

turut dengan dua pengamat dengan intrument penelitian

yang    telah        peneliti      susun.     Sebelumnya      peneliti

melakukan          pengamatan      dulu     terhadap     dokumentasi

keperawatan        yang    akan   diamati    oleh    kedua   pengamat.
Hasil pengamatan peneliti digunakan sebagai standart.

Hasilnya pada uji ketiga sebagai berikut (dapat dilihat

lebih jelas di lampiran 13) Dalam Uji Reabilitas                       pada

intrumen    diagnosa        NANDA     hasilnya       adalah     1,     pada

intrumen    NOC    adalah     0,85,    sedang    pada       intrumen    NIC

adalah 0,78, sehingga dapat disimpulkan bahwa instrumen

reliable atau dapat dipercaya.


                  F. PELAKSANAAN           PENELITIAN

 1. Tahap observasi, dilakukan sejak tanggal 1 agustus

    sampai        dengan      30      Agustus       2004.     Pengamatan

    dilakukan        setiap ada pasien gagal jantung yang

    diberi        asuhan     keperawatan      dan    didokumentasikan

    serta         memenehui        kriteria      inklusi.         Sebelum

    dilakukan        pengamatan       observer      memastikan       bahwa

    diagnosa medis pasien adalah gagal jantung dengan

    melihat diagnosa yang ditulis dokter distatus list

    pasien, kemudian observer mengamati apakah Asuhan

    Keperawatan            yang     diberikan       didokumentasikan,

    setelah         dokumentasi         dianggap        lengkap        maka

    dilakukan pengamatan.

 2. Tahap pengolahan Data

       a. Data         tentang             diagnosa           keperawatan

            dikumpulkan,          direkapitulasi        dan    dimasukan
           dalam    tabel      distribusi        frekuensi       untuk

           mengetahui prosentasinya. Kemudian              dianalisa

           untuk    mendapatkan       gambaran    seberapa       besar

           diagnosa keperawatan yang sesuai NANDA.

       b. Data     tentang      Kriteria    hasil     dikumpulkan,

           direkapitulasi       dan    dimasukan     dalam       tabel

           distribusi        frekuensi      untuk         mengetahui

           prosentasinya.      Kemudian      dianalisa           untuk

           mendapatkan gambaran seberapa besar kriteria

           hasil yang sesuai NOC.

       c. Data      tentang           intervensi       keperawatan

           dikumpulkan,      direkapitulasi         dan    dimasukan

           dalam    tabel      distribusi        frekuensi       untuk

           mengetahui prosentasinya. Kemudian              dianalisa

           untuk    mendapatkan       gambaran    seberapa       besar

           intervensi keperawatan yang sesuai             NIC.


             G. ANALISA HASIL            PENELITIAN

           Data    yang      diperoleh    dilakukan       pengecekan

data dengan memeriksa isi instrumen pengumpulan data.

Kemudian    data      dianalisa        menggunakan         statistik

deskriptif. Data Diagnosa Keperawatan, kriteria hasil

dan intervensi keperawatan, yang sesuai dengan standart

NANDA, NOC, dan NIC, dihitung jumlah dan prosentasinya.
Prosentasi dimaksudkan untuk mengetahui berapa persen

diagnosa NANDA, NOC dan NIC yang                   sesuai, dihitung

dengan rumus:

        P= Jumlah scor yang didapat X 100%
                  Jumlah x bobot

      Hasil yang diperoleh kemudian ditafsirkan dengan

skala ordinal dengan kalimat yang bersifat kwalitatif

yaitu: Kurang dari 40% tidak sesuai

       40 – 49% kurang sesuai

       50 – 76% sesuai

       76 – 100% sangat sesuai



                     H. KETERBATASAN PENELITIAN

 1.   Metode   ini    hanya    dapat     digunakan     pada     pasien

      gagal    jantung       sedangkan     untuk     pasien     dengan

      diagnosa medis lain tidak dapat karena                  di RSUD

      Wates belum menggunakan Standart NANDA, NOC dan

      NIC.

 2.   Penelitian       ini     hanya      mengamati     dokumentasi

      keperawatan      saja     seharusnya     mengamati        sampai

      implementasi      perawatan      sehingga      hasilnya     akan

      lebih valid.

 3.   Penelitian ini hanya memiliki validitas internal

      yaitu hanya dapat diterapkan pada pasien gagal
     jantung    yang    dirawat      Di    IRNA    Penyakit    Dalam

     RSUD Wates.

4.   Pada Nursing outcome classification dan Nursing

     intervention      classification      belum    dilakukan    per

     diagnosa    atau    masih     dilakukan      terpisah    sesuai

     intrumen yang peneliti tetapkan              yaitu NANDA, NOC

     dan NIC.

5.   Penelitian     hanya      dilakukan   dalam    waktu    sebulan

     Seharusnya penelitian dilakukan dalam kurun waktu

     yang   lama,      sehingga     peneliti      dapat   melakukan

     pengamatan        lebih      cermat    sehingga        hasilnya

     bermakna.
                                 BAB IV

              HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

         Penelitian     dilakukan       selama     satu    bulan    sejak

tanggal 1 – 30 Agustus 2004 di IRNA Penyakit Dalam RSUD

Wates     Kabupaten      Kulon     Progo,        DIY.     Sampel     yang

diobservasi     selama     satu     bulan    penelitian        sebanyak

16   pasien      gagal     jantung        yang     dilakukan       Asuhan

Keperawatan dan didokumentasikan. Berikut ini adalah

hasil      penelitian      yang         meliputi:         karakteristik

responden,    dignosa     keperawatan,        kriteria      hasil     dan

intervensi    keperawatan        yang     sesuai    dan    yang     tidak

sesuai     dengan     NANDA       (North      American       Diagnosis

Association), NOC (Nursing Outcome Classification) dan

NIC (Nursing Intervention Classification).



                      A. Hasil penelitian

1. Karkteristik responden

        Karakteristik responden yang dirawat dengan gagal

jantung di IRNA Penyakit Dalam RSUD Wates dapat dilihat

pada tabel berikut:
Tabel 1 Distribusi Frekuensi karakteristik pasien gagal
        jantung berdasarkan jenis kelamin dan umur di
        IRNA    Penyakit   Dalam    RSUD   Wates bulan
        Agustus 2004
   Karakteristik           Frekuensi         Prosentasi (%)
       sampel
Jenis kelamin :
     Laki-laki                 8                   50
     Perempuan                 8                   50
Umur :                         0                    0
       31 – 35                 1                  6,25
       36 – 40                 0                    0
       41 – 45                 0                    0
       46 – 50                 4                   25
       51 – 55                 3                  18,75
       56 – 60                 1                  6,25
       61 – 65                 3                  18,75
       66 – 70                 2                  12,5
       71 – 75                 2                  12,5
       76 – 80                 0                    0
       81    -
Sumber: data rimer

        Dari data tersebut terlihat bahwa jenis kelamin

laki-laki dan perempuan berimbang yaitu           8 orang (50%).


        Sedangkan berdasarkan kisaran umur, pasien yang

berumur 36 – 40 tahun sebanyak 1 orang (6,25%), 51 –55

tahun     4 orang (25%), 56 – 60 tahun 3 orang (18,75%),

61 –65 tahun 1 orang (6,25%), 66 – 70 tahun 3 orang

(18,75%), 71 – 75 tahun 2 orang (12,5%), 76 – 80 tahun

2 orang (12,5%).


2.Diagnosa Keperawatan NANDA

        Diagnosa keperawatan yang sesuai dan yang tidak

sesuai    NANDA   pasien   gagal   jantung   di   IRNA    Penyakit

Dalam RSUD Wates dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2 Distribusi Frekuensi Diagnosa keperawatan yang
        sesuai dan yang tidak sesuai NANDA pasien gagal
        jantung di IRNA Penyakit Dalam RSUD Wates bulan
        Agustus 2004
                         Frekuensi                       Prosentasi (%)
Diagnosa NANDA             Sesuai               Tidak     Sesuai   Tidak
                            NANDA              sesuai      NANDA  sesuai
                                                NANDA              NANDA
Penurunan      cardiac          5                11        4,46     9,8
output
Kelebihan       volume          0                16         0          14,3
cairan
Kerusakan pertukaran            4                12        3,6         10,71
gas
Resiko      kerusakan           0                16         0          14,3
integritas kulit
Ketidakseimbangan               3                13       2,67         11,6
nutrisi kurang
Intoleransi aktifitas           5                11       4,46         9,8
Cemas                           2                14        1,8         12,5

Jumlah                      19                   93        17           83
Jumlah total     NANDA                  112                      100
dari 16 pasien
Sumber: data primer

         Dari data tersebut terlihat bahwa dari 16 pasien

gagal jantung dengan total diagnosa NANDA 112 diagnosa

(masing-masing   pasien    ada          7    diagnosa),    yang    sesuai

NANDA 17%, dan    yang    tidak         sesuai NANDA 83%, Dari 17%

yang sesuai Penurunan Cardiac output sebanyak 5 atau

4,47%,    intoleransi    aktifitas              5       sekitar     4,47%,

kerusakan   pertukaran    gas       4       sekitar   3,58%,     Kebutuhan

nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh 3 sekitar 2,68%,

Cemas 2 sekitar 1,78%. (Lihat lampiran 9).
3. Nursing outcome classification (NOC)

     Kriteria hasil yang sesuai dan yang tidak sesuai

Nursing   outcome   classification       (NOC)   pasien       gagal

jantung   (16   pasien)   dari   7     NANDA   dengan   NOC     112

(masing-masing pasien 7 NOC) di IRNA Penyakit Dalam

RSUD Wates dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3 Distribusi Frekuensi kriteria hasil yang sesuai
         dan yang tidak sesuai NOC pasien gagal jantung
         di IRNA      Penyakit Dalam RSUD Wates bulan
         Agustus 2004
                             Frekuensi     Prosentasi (%)
 Nursing      outcome    Sesuai      Tidak Sesuai Tidak
 classification            NOC      sesuai   NOC   sesuai
 (NOC)                                NOC             NOC
 Pompa        jantung      13           3   11,60     2,7
 efektif
 Cairan         tubuh       3          13   2,67    11,60
 balance
 Status pernapasan/        16           0   14,3       0
 pertukaran     udara
 adekuat
 Mempertahankan             4          12   3,37    10,71
 integritas kulit
 Status      nutrisi:       4          12   3,37    10,71
 intake makanan dan
 cairan terpenuhi
 Toleransi aktifitas        5          11   4,46     9,81
 dan      penyimpanan
 energi
 Mengurangi                 2          14    1,8     12,5
 kecemasan
 Jumlah                    59          53   53,38   46,62

Jumlah total NOC                 112                    100


Sumber: data primer
          Dari     data     tersebut    terlihat     bahwa       Kriteria

hasil     yang sesuai NOC 53,38 %, dan yang tidak sesuai

NOC 46,62%. Dari jumlah tersebut yang terbanyak adalah

Status    pernapasan        16   atau   (14,29     %),   berarti     dari

jumlah    pasien     16   semua    sesuai    NOC    pada   NOC     status

pernapasan, status nutrisi kurang 15 atau ( 13,40 %),

pompa jantung efektif 13 atau ( 11,60 %), dan yang

terendah     dan    sangat        tidak      sesuai      NOC       adalah

kecemasan yaitu 2 (1,79 %).(untuk lebih jelas lihat

hasil observasi dilampiran 10).



4. Nursing Intervention Classification (NIC)

        Intervensi Keperawatan yang sesuai dan yang tidak

sesuai Nursing intervention classification (NIC) pasien

gagal jantung (16 pasien) dari 7 NOC di IRNA Penyakit

Dalam RSUD Wates seluruhnya berjumlah 1536 NIC, dapat

dilihat    pada     tabel    distribusi     frekuensi      NIC    sebagai

berikut:
Tabel   4 Distribusi Frekuensi Intervensi Keperawatan
         yang sesuai dan yang tidak sesuai NIC pasien
         gagal jantung di IRNA Penyakit Dalam RSUD
         Wates bulan Agustus 2004
       NIC (Nursing           Frekuensi   Prosentase (%)
       Intervention        Sesuai Tidak Sesuai Tidak
     Classifiction)          NIC   sesuai   NIC   sesuai
                                     NIC            NIC
Cardiac care (10 NIC)        103     57    6,70    0,49
Monitoring cairan(4 NIC)      20     44    1,30    2,86
Manajemen cairan (7 NIC)      49     63    3,19    4,10
Monitoring       respirasi    53     75    3,45    4,88
(8 NIC)
Membantu         ventilasi    64      0    4,16      0
(4 NIC)
Berikan          manajemen    72     56    4,68    3,64
tekanan (8 NIC)
Pencegahan       sirkulasi    25      7    1,62    0,45
(2 NIC)
Terapi gizi (10 NIC)          96     64    6,25    4,16
Monitoring gizi ( 4 NIC)      25     39    1,62    2,53
Monitor TTV (3 NIC)           35     13    2,27    0,84
Terapi aktifitas (8 NIC)      35     93    2,27    6,05
Manajemen energi (3 NIC)      11     37    0,71    2,40
Manajemen          nutrisi    32      0    2,08      0
(2 NIC)
Mengurangi       kecemasan    42     118   2,73    7,68
(10 NIC)
Tehnik         menenangkan    26     70     1,7    4,55
(6 NIC)
Meningkatkan        coping    15     97    0,97    6,31
(7 NIC)

 Jumlah                          703          833   45,76   54,24
 Jumlah total NIC                      1536              100
Sumber: data primer

        Dari   data   tersebut   terlihat       bahwa   Intervensi

Keperawatan    yang sesuai NIC          45,76% dan yang tidak

sesuai NIC 54,23 %, (hasil dilampiran 12 dan 13).
                               B. Pembahasan

1. Diagnosa Keperawatan NANDA

        Di IRNA Penyakit Dalam RSUD Wates dalam memberikan

Asuhan Keperawatan, belum menggunakan atau belum sesuai

standart diagnosa NANDA, ini             dapat dilihat dari tabel

hasil pengamatan 16 pasien gagal jantung, masing-masing

pasien         mempunyai   7    diagnosa     NANDA,         total      112

diagnosa , yang terdokumentasi keperawatan dan sesuai

NANDA seluruhnya hanya 19 atau               17 %, sehingga         dapat

dikatakan       tidak   sesuai    NANDA.     Ini    dapat     disebabkan

karena    RSUD     Wates   memang    belum    menggunakan      Standart

NANDA. Tetapi meskipun belum menggunakan Standart NANDA

tingkat     kemampuan      perawat       dalam      membuat    Diagnosa

Keperawatan juga masih rendah meskipun dengan                  Standart

Asuhan      Keperawatan.         Dalam     pengambilan         keputusan

terutama merumuskan diagnosa keperawatan pasien memang

tidak          mudah,       diperlukan           kemampuan          dalam

menginterprestasikan data yang tepat, kemampuan dalam

melihat    respon-respon        patologis     dan    psikologis      dari

pasien     serta    kopetensi       pendidikan      keperawatan      yang

memadai    ,    sehingga    diagnosa     keperawatan        yang    muncul

sesuai dengan kondisi pasien sebenarnya.                Hal ini dapat

saja terjadi mengingat tingkat pendidikan perawat yang

masih sangat variatif di tingkat pelayanan. Terbukti
dengan diagnosa yang sering dibuat oleh perawat dan

yang didokumentasikan adalah sesak napas, nafsu makan

turun, gangguan otot jantung. Selain itu belum semua

perawat     memahami     pentingnya       langkah-langkah       dalam

membuat diagnosa keperawatan dan juga belum semuanya

mampu dalam menginterprestasikan data.              Meskipun format

dokumentasi    keperawatan        sudah    berdasarkan       Standart

Asuhan Keperawatan, tetapi            dalam     membuat diagnosa

keperawatan    yang    terdokumentasi       masih    belum    sesuai

Standart yang ada.

        Nursalam (2001) menyatakan langkah-langkah dalam

diagnosa    keperawatan    dapat     dibedakan      menjadi    empat

yaitu klasifikasi dan analisa data, interpretasi data,

validasi    data,     perumusan     diagnosa    masalah.      Dengan

tujuan      pencatatan      diagnosa        keperawatan         yaitu

memyampaikan masalah pasien yang dapat dimengerti oleh

semua     perawat,     mengenali      masalah-masalah         pasien,

mengenali perkembangan tindakan perawatan.

        NANDA (1994) di Toxonomi of Nursing Diagnosis I

mengolongkan    dan    merumuskan     standar    lebel    diagnosa,

definisi      karakteristik,        dan     intervensinya        yang

merupakan daftar masalah dan memungkinkan perawat untuk

menangani. Tetapi di IRNA Penyakit Dalam hal ini belum

bisa terwujud mengingat belum semua perawat memahami
langkah-langkah        dalam    merumuskan       masalah     atau    dalam

membuat diagnosa keperawatan               sesuai respon patologis

dan psikologis yang muncul pada pasien.



2. Nursing outcome classification (NOC)

          Berdasarkan tabel hasil observasi kriteria hasil

yang sesuai NOC maka dapat dikatakan bahwa dari 16

pasien gagal jantung yang diberi Asuhan Keperawatan,

terdapat 59 kreteria hasil yang sesuai NOC ( 53,38                     %),

sehingga dapat dikatakan sesuai NOC.                    Ini disebabkan

karena     meskipun      kemampuan        perawat       dalam      membuat

diagnosa keperawatan kurang sesuai, tetapi kemampuan

dalam     membuat     kriteria        hasil   sudah       sesuai    karena

ternyata    di   Standart      Asuhan     Keperawatan       banyak    yang

sesuai     dengan     NOC.     Tetapi    perawat      terkadang      dalam

membuat     dokumentasi         kriteria      hasil       sering     hanya

berdasar kebiasaan pada pengalaman dalam mengobservasi,

memonitor, dan mengevaluasi pasien belum berdasar pada

profesionalisme keperawatan.

          Doenges    (1993),     menyatakan       Hasil     pasien    yang

diperkirakan        didefinisikan       sebagai     hasil     intervensi

keperawatan      dan     respon-respon           pasien     yang     dapat

dicapai,     diinginkan        oleh     pasien    dan     atau     pemberi

asuhan, dapat dicapai dalam periode waktu yang telah
ditentukan,       situasi    dan    sumber-sumber       tertentu      yang

ada. Hasil yang diinginkan ini merupakan langkah yang

dapat diukur mengarah pada tujuan-tujuan saat pasien

pulang yang telah ditetapkan sebelumnya. Hasil pasien

yang     diperkirakan yang baik harus spesifik, realistik,

dapat diukur, menunjukan kerangka waktu pencapaian yang

pasti, mempertimbangkan keinginan dan sumber pasien.

Tetapi     dari    hasil     penelitian        ini   menunjukan      bahwa

meskipun    hasil     yang     sesuai    NOC     53,83%,     tapi    belum

menunjukkan kearah yang profesionalisme seperti diatas.

Selain     itu    kegiatan-kegiatan          yang     mengarah      kepada

peningkatan       profesionalisme         perawat       seperti      audit

kasus, pembahasan kasus, penyegaran ilmu masih belum

dilakukan.       Menurut    laporan     dari    Hansten    dan    Wasburn

(cit.    Nurdjanah     1999)    bahwa    untuk       memberikan     asuhan

keperawatan         yang       baik      diperlukan          ketrampilan

professional       termasuk        pengetahuan       keperawatan      yang

memadai. Selain itu menurut Shortridge (cit. Gaffar,

1999), perawat agar menjadi sebuah profesi yang mantap

harus    selalu     meningkatkan        kompetensi      yang     dimiliki

dengan      falsafah        long      life      education,       termasuk

pengembangan       ilmu     pengetahuan        selama     menjalalankan

pekerjaanya. Kedudukan perawat dalam memberikan Asuhan
keperawatan      seharusnya      bersifat        komprehensif      dan

profesionalisme.



3. Intervensi keperawatan NIC

        Berdasarkan      tabel     hasil   observasi      Intervensi

keperawatan yang sesuai NIC maka dapat dikatakan bahwa

dari 16 pasien gagal jantung (NIC masing-masing pasien

96 jadi jumlah NIC total 1536), terdapat 668 Intervensi

Keperawatan    yang    sesuai    NIC    703     (45,76%),   sehingga

dapat   dikatakan      kurang    sesuai    NIC.     Ini   disebabkan

karena di RSUD Wates belum menggunakan NIC, meskipun

sebenarnya    intervensi        keperawatan       yang    ada    dalam

Standart Asuhan Keperawatan banyak yang sesuai dengan

NIC,    tetapi      perawat      belum         membuat    intervensi

keperawatan sesuai Standart Asuhan Keperawatan. Hal ini

disebabkan perawat dalam memberikan Asuhan Keperawatan

masih cenderung bersifat Fungsional/rutinitas seperti

pengobatan    dan   prosedur     pengobatan,       mencegah     reaksi

fisiologis, memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit,

mengganti     linen,     memberi       diet,     mendokumentasikan,

mengukur tanda-tanda vital, atau kegiatan keperawatan

baik mandiri maupun kolaborasi masih berdasarkan metode

fungsional. Meskipun di RSUD Wates sudah menggunakan

Metode Tim dalam kebijakannya, tetapi realitasnya masih
berdasarkan fungsional. Hal ini dapat saja                              terjadi

karena    kurangnya         kesadaran        perawat,    perawat       bekerja

hanya berdasar rutinitas dan kurangnya jumlah perawat

yang   professional.

       Hasil       penelitian      WHO       (1997)    menyebutkan       bahwa

perawat       di   Asia     Tenggara     kebanyakan          masih     dibebani

tugas-tugas         non     keperawatan        seperti       clerical     work,

penyiapan menu makan, pelayanan farmasi serta adanya

tumpang tindih peran perawat antara lulusan SPK dan

AKPER. Keadaan ini memyebabkan kegiatan perawat lebih

banyak digunakan untuk memenuhi kegitan tak langsung

dibandingkan              dengan         kegiatan       keperawatan        yang

langsung ke pasien.

       Menurut Penelitian Agus,JK (2003), Perawat di IRNA

Penyakit       Dalam       RSUD      Wates     masih     dibebani       dengan

kegiatan non keperawatan seperti kebersihan ruangan,

menyiapan air untuk mandi, menyiapkan diit pasien, bon

obat     di    apotik.       Selain      itu     perawat       juga      banyak

memerlukan         waktu     untuk     administrasi          pasien    seperti

mengurus      administrasi         pasien      pulang    yang     memerlukan

waktu yang cukup lama. Mengingat kegiatan keperawatan

langsung yang terbanyak dilakukan oleh perawat adalah

kegiatan       yang       bersifat     rutinitas       dan     lebih    banyak

mengarah ke aspek kolaboratif seperti pengobatan dan
prosedur pengobatan, memberikan nutrisi melalui infus.

Sedangkan kegiatan lainnya yang merupakan tugas mandiri

keperawatan     seperti       penyuluhan,     memenuhi     kebutuhan

emosional     dan     spiritual     yang    seharusnya     memiliki

proporsi yang lebih besar justru lebih jarang dilakukan

oleh perawat. Hal ini dapat dilihat pada lampiran tabel

NIC yang memuat intervensi dalam mengatasi cemas, dari

pasien 16 jumlah masing-masing              intervensi 23/pasien

dengan total 368 intervensi, hanya terdapat 83 (22,55%)

intervensi yang sesuai, sehingga bisa dikatakan kurang

sesuai NIC. Atau jika dihitung secara kumulatif NIC

dalam   7   diagnosa     keperawatan     pada   16    pasien    dengan

total NIC 1536, hanya 83 (5,40%) suatu intervensi yang

sangat rendah untuk tingkat kecemasan pasien.

          Selain itu      di IRNA penyakit Dalam pendidikan

perawat masih       sangat    variatif, DIII keperawatan/AKPER

(7 orang) dengan SPK/ SPR hampir seimbang serta tenaga

pekarya      kesehatan       yang   juga     melakukan     kegiatan

keperawatan     (Agus,JK      2003).       Disini        diperlukan

penjenjangan dalam tingkat pendidikan keperawatan dan

pengaturan     tentang       perbedaan     kopetensi     pendidikan.

Yaitu penjenjangan dari tingkat spesialis keperawatan,

ners/sarjana        Keperawatan,       Akper/DIII      Keperawatan,

Pekarya     ataupun    Penjenang    Kesehatan.       Sehingga   tidak
semua perawat yang ada ditatanan pelayanan kesehatan

sama saja hak dan kewajibannya dalam memberikan Asuhan

Keperawatan pada Klien. Padahal menurut Undang-Undang

Kesehatan      Nomor    23     Tahun   1992      Tindakan   keperawatan

hanya    boleh    dilakukan       oleh    seseorang      yang   memiliki

kemampuan dan kewenangan berdasarkan ilmu yang dimiliki

yang    diperoleh      melalui    pendidikan        keperawatan.       Oleh

karena itu perlu ditinjau kembali uraian tugas (job

description)       yang jelas tentang pembagian tugas dari

masing-masing tenaga agar tidak terjadi tumpang tindih

pekerjaan      antara        pekarya      kesehatan      dan    perawat.

Sehingga kemampuan perawat dalam menginterprestasikan

data dalam membuat diagnosa keperawatan bisa tepat, NOC

sesuai yang akan dicapai pasien dan kemampuan perawat,

juga    NIC    benar-benar       sesuai    dengan     masalah      pasien,

sehingga      Asuhan    Keperawatan       yang    diberikan     baik   dan

memiliki bahasa sama dalam pendokumentasiannya. Karena

ilmu yang diperoleh dari jenjang pendidikan keperawatan

yang    memadai,       bukan    berdasar      kebiasaan     yang    tidak

memiliki dasar kebenaran yang jelas. Padahal NIC atau

intervensi keperawatan seharusnya mengacu pada masalah

yang dihadapi pasien bukan sekedar diberikan tindakan

yang    rutinitas      seperti     mengukur       TTV,   memberi    diet,

memberikan O2, menyuntik atau memberikan tablet oral
sesuai   intruksi,     mengganti    linen,      yang    semua    itu

dilakukan monoton. Seperti contoh diet siang kalau dari

gizi jam 11.00 WIB tanpa menunggu kesiapan pasien jam

berapa    akan      makan   siang     tetap     jam    11.00     WIB

dihidangkan.

         Standart    Asuhan   Keperawatan       pada    intervensi

keperawatan masih banyak            yang kurang sesuai         NIC ,

karena   perawat    dalam   melakukan   kegiatan       masih   belum

komprehensif dan professional. Ini dimungkinkan perawat

belum mengenal NIC dalam pemaknaan bahasanya, meskipun

di   Standart      Asuhan   Keperawatan       banyak    yang    sama

bahasanya dengan NIC.
                                BAB V

                        KESIMPULAN DAN SARAN

                           A. Kesimpulan



        Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan

hal-hal sebagai berikut:

1. Diagnosa Keperawatan yang sesuai NANDA 17%, Kriteria

     hasil yang sesuai NOC        53,58% dan Intervensi yang

     sesuai NIC 45,76%.



                             B. Saran

        Dari hasil penelitian diatas ada beberapa saran

sebagai berikut:

1.   Perlu   diadakan      pertemuan    rutin    untuk   mengadakan

     audit kasus dengan menggunakan standart NANDA, NOC

     dan NIC     sehingga perawat bisa lebih komprehensif

     dalam memeberikan Asuhan Keperawatan pada pasien.

2. Penerapan Asuhan Keperawatan sebaiknya dijalankan

     secara professional dengan cara pengawasan melalui

     program monitoring, supervisi, dan supporting dari

     pimpinan    keperawatan     agar    perawat    tidak     bekerja

     berdasarkan kebiasaan dan monoton.

3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang tidak

     hanya     mengamati     dokumentasi        keperawatan     saja,
     tetapi     sampai    pada     mengamati      implementasi

     keperawatan.

4.   Perlu    dilakukan   penelitian   lebih   lanjut     tentang

     kualitas asuhan keperawatan di seluruh Rumah Sakit

     di   Indonesia   dengan     menggunakan   Standart    Asuhan

     Keperawatan dengan pendekatan NANDA, NOC dan NIC.
                    DAFTAR PUSTAKA



Agus,JP,. 2003, Kebutuhan Tenaga Perawat Berdasarkan
     Analisis Pelaksanaan Kegiatan Perawat di IRNA
     Penyakit Dalam RSUD Wates Kulon Progo, Skripsi,
     Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Gadjah
     Mada, Yogyakarta.

Arikunto,S., 1998,   Manajemen   Penelitian,   Edisi-2,
     PT Rineka Cipta, Jakarta

Arikunto,S., 2002, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan
     Praktek, Edisi-5, PT Rineka Cipta, Jakarta

Barbara, CL., 1996, Perawatan Medikal Bedah      (Suatu
     Pendekatan proses keperawatan), Bandung

Carpenito, L.J., 2000, Diagnosa Keperawatan Aplikasi
     pada Praktek Klinis, alih bahasa: Tim PSIK UNPAD
     Edisi-6, EGC, Jakarta

Departemen Kesehatan, 1989, Standar Praktek Keperawatan
     bagi    Perawat   Kesehatan,    Dirjen   Pembinaan
     Kesehatan Masyarakat Jakarta

Departemen Kesehatan, 1993, Standar Asuhan Keperawatan,
     Dirjen Pelayanan Medik Depkes, Jakarta

Doenges,M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C., 1993,
     Rencana Asuhan Keperawatan untuk perencanaan dan
     pendukomentasian   perawatan    Pasien, Edisi-3,
     Alih bahasa; Kariasa,I.M., Sumarwati,N.M., EGC,
     Jakarta

Gaffar, L.J., 1999, Pengantar Keperawatan Profesional,
     Editor Yasmin Asih, EGC: Jakarta

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1996, Buku
     Ajar Kardiolgi, Jakarta

Hudak&Gallo., 1997, Keperawatan Kritis, Edisi-4, EGC,
     Jakarta

Joel, W.H., 1997, Buku Saku Kardiologi, Edisi-3, EGC,
     Jakarta
Johnson and mas, 2001, Cit.www.minurse.org

McKelvie,R.S., Gagal Jantung, alih bahasa, Wita,T.,
     Edisi-1 Januari 2002, Jurnal American Family
     Physicion

McCloskey&Bulechek,   1996,    Nursing    Interventions
     Classifications, Second    edisi,   By Mosby-Year
     book.Inc,Newyork

NANDA, 2001-2002, Nursing Diagnosis: Definitions and
     classification, Philadelphia, USA

Nurdjanah,s. 1999, Karakteristik dan Pola Penggunaan
     Waktu Kerja Perawat pada RANAP RSUD Tarakan,
     Tesis,   Program  Pasca   Sarjana   Minat  Utama
     Manajement Rumah Sakit, Universitas Gadjah Mada,
     Yogykarta

Nursalam, 2002, Manajemen Keperawatan (Aplikasi dalam
     Praktek Keperawatan Profesional), Salemba Medika,
     Jakarta

Nursalam, 2001, Proses     dan Dokumentasi Keperawatan
     (Konsep&Praktik), Salemba Medika, Jakarta

Swara-Net.htm., 15 maret 2004, Ramipil Terapi Terbaru
     Pengobatan Gagal Jantung

University IOWA., NIC and NOC Project., 1987, Nursing
     Interventions Classifications, Philadelphia, USA

University IOWA., NIC and NOC Project., 1991, Nursing
     outcome Classifications, Philadelphia, USA

www.changjaya.abad., 2003, Waspadai bila berhenti napas
     sejenak di saat tidur

www.Geocities.com.htm., Penyakit koronari jantung

www.interna.fkui.ac.id.htm., Kedaruratan Hipertensi
      pada Penyakit Jantung

www.Medicastore.com. 2004

http=//www.swara.net/id/view-headline.php?ID=730,2004,
     Ramipril terapi pengobatan terbaru gagal jantung.

								
To top