Docstoc

Pasir Lepas

Document Sample
Pasir Lepas Powered By Docstoc
					 PENELITIAN STABILITAS LERENG BANTARAN SUNGAI BRANTAS PADA Sta.
                 EMBONG BRANTAS – Sta. POLEHAN

                            H. Eri Andrian Yudianto, I Wayan Mundra
                             Prodi Teknik Sipil Institut Nasional Malang


                                                ABSTRAKSI

          Seiring dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk di Kota Malang maka
kebutuhan akan lahan untuk mendirikan tempat tinggal semakin besar. Di kota Malang sebagai salah satu kota
besar di Propinsi Jawa Timur memiliki beberapa sungai besar yang mengalir di berbagai wilayah. Maka tidak
mengherankan jika semakin banyak orang yang tinggal di daerah bantaran sungai, baik orang-orang yang tinggal
sejak lama ataupun penghuni baru di daerah tersebut. Hal ini perlu diperhatikan mengingat daerah bantaran
sungai rawan terjadi longsor. Pembangunan pemukiman yang tidak mempertimbangkan segi keamanan menjadi
salah satu faktor yang mempegaruhi terjadinya kelongsoran.
          Melihat permasalahan yang ada, salah satu tindakan yang dapat diambil adalah dengan melakukan
penelitian geoteknik tentang stabilitas lereng di bantaran sungai. Dari hasil penelitian akan didapat nilai
parameter-parameter (c = kohesi, dan φ = sudut geser) yang digunakan untuk mengetahui angka keamanan
daerah bantaran sungai tersebut, Syarat Nilai keamanan (FS) yaitu : FS 1,0 berarti aman 1,0 FS 1,5 berarti
cukup aman. Sedangkan untuk FS berarti bantaran tidak aman atau bisa terjadi longsor (sumber: R.F. Craig,
Budi Sosilo S., 1987).
          Dari analisa stabilitas bantaran Sungai Brantas pada Sta. Embong Brantas – Sta. Polehan didapat angka
keamanan, pada titik boring 1, Jl. Juanda Kel. Polehan, Kota Malang, lapis 1 C = 5,0 t/m2, nilai φ = 5,71°, lapis
2 C = 5,0 t/m2, nilai φ = 11,75; nilai FS = 3,381 (aman). Pada titik boring 2, Jl. Permadi, Kel. Polehan, Kota
Malang, lapis 1 C = 1,40 t/m2 nilai φ = 8,75°, lapis 2 C = 2,20 t/m2, nilai φ = 15,33° nilai FS = 1,772 (aman).
Pada titik boring 3, Jl. Muharto, Kel. Polehan, Kota Malang, lapis 1 C = 7,0 t/m2, nilai φ = 6,39° , lapis ke 2 C =
7,6 t/m2, nilai φ = 6,95° nilai FS = 3,330 (aman).
          Dari hasil analisa stabilitas untuk bantaran sungai yang ada di beberapa wilayah kota Malang
diharapkan Masyarakat atau pihak tertentu mengetahui kondisi tanah (stabil, labil, tidak stabil) di daerah
tersebut, sehingga bisa lebih memperhatikan keamanan dan merencanakan struktur bangunan dengan lebih baik.
Sebagai contoh adalah dengan memperbaiki stabilitas lereng dengan cara fisik seperti memasang dinding
penahan (countur weight), bisa juga diperbaiki secara mekanis seperti memadatkan lereng atau memperkecil
ketinggian lereng. Untuk daerah aman juga masih harus memperhatikan faktor-faktor penyebab yang dapat
mempengaruhi stabilitas lereng tersebut.

Kata Kunci : Stabilitas Lereng, Sungai Brantas, Angka Keamanan



PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
         Tingginya tingkat pertumbuhan di wilayah perkotaan menyebabkan meningkatnya
arus urbanisasi. Hal ini menyebabkan pertumbuhan jumlah penduduk di wilayah perkotaan
berkembang secara pesat. Pertumbuhan jumlah penduduk tersebut, maka kegiatan penduduk
yang berlangsung di kota tersebut juga meningkat, kemudian dengan sendirinya memerlukan
tempat tinggal dan lokasi-lokasi tertentu untuk kegiatan yang dilakukannya.
         Sebagai akibat dari pertumbuhan penduduk yang juga disertai dengan peningkatan
perekonomian, maka tingkat kebutuhan tempat tinggal akan meningkat pula. Keadaan ini
harus diimbangi dengan penyediaan sarana dan prasarana lahan pemukiman yang memadai,


                                                                                                                 1
dengan demikian dapat dikatakan bahwa pertumbuhan penduduk akan mempunyai dampak
langsung terhadap kebutuhan sarana dan prasarana tempat tinggal.
       Kota Malang sebagai salah satu pendukung perekonomian Propinsi Jawa Timur dan
juga merupakan Kota terbesar kedua setelah Surabaya adalah Kota yang penduduknya masih
banyak tinggal di daerah lereng bantaran sungai. Jadi tidak mengherankan bila sering terjadi
kelongsoran di sekitar bantaran sungai tersebut. Pembangunan pemukiman yang tidak
mempertimbangkan segi keamanan lahan, akan menjadi faktor penting mempengaruhi
terjadinya kelongsoran.
       Masalah kelongsoran khususnya di Indonesia sering terjadi disebabkan oleh keadaan
geografisnya, yaitu tempat tersebut memiliki curah hujan yang tinggi dan daerah tersebut
berpotensi terjadi gempa. Curah hujan yang tinggi dianggap sebagai faktor utama penyebab
kelongsoran. Padahal sebenarnya kemungkinan longsor akibat hujan ini masih harus dikaitkan
dengan beberapa antara lain: topografi daerah setempat, struktur geologi, sifat kerembesan
tanah, morfologi dan tahap perkembangannya.
         Beberapa contoh kasus kelongsoran yang terjadi adalah pada tahun 2000-2001 telah
terjadi bencana tanah longsor di beberapa daerah di Indonesia, seperti : di Jawa Tengah yaitu
di Purworejo, Kebumen, Wates, Kulon Progo, dan di beberapa daerah di Sumatra yang
mengakibatkan banyak korban jiwa. Kelongsoran lereng terjadi hampir secara serentak dan
diduga kuat disebabkan oleh hujan yang berlangsung terus-menerus di derah-daerah yanag
rawan longsor (sumber ; Hardiyatmo,2001). Contoh yang baru terjadi di Kota Malang adalah
di daerah aliran sungai (DAS) Brantas, tepatnya Jl. Hassanuddin Dalam RT 2 RW 1
Kelurahan Samaan Kecamatan Klojen (sumber : Jawa Pos 24 Februari 2007).
         Dengan adanya kasus seperti contoh di atas tidak menutup kemungkinan bisa terjadi
juga pada daerah-daerah lereng bantaran sungai di Indonesia lainnya, kususnya di Kota
Malang. Kota Malang sendiri terdapat beberapa sungai besar yaitu Sungai Brantas, Sungai
Bango, Sungai Kasin, Sungai Metro, dan banyak sungai-sungai kecil lainya.
         Kondisi daerah bantaran sungai di Kota Malang sendiri dari dulu memang sudah
banyak berdiri bangunan-bangunan pemukiman. Hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran
dan pengetahuan masyarakat tentang pembangunan lahan pemukiman di daerah bantaran
sungai. Selain itu, kurangnya sosialisasi dari pihak instansi pemerintahan sehingga
masyarakat banyak yang membangun rumah di daerah bantaran sungai, padahal daerah
bantaran sungai tersebut tidak layak untuk dihuni.




                                                                                           2
                      Gambar 1 . Rumah di lereng bantaran Sungai Brantas
     Sungai di Kota Malang pada umumnya mempunyai debit yang cukup besar dan alur
yang berkelok tajam. Kondisi tersebut akan lebih kritis pada saat terjadinya musim penghujan,
hal seperti ini memberi peluang besar terjadinya gerusan pada dinding sungai, yang kemudian
mengakibatkan kelongsoran. Selain itu struktur tanah disekitar sungai umumnya adalah
deposit alluvial (tanah gundukan yang masih baru sebagai akibat dari terjadinya
sedimentasi), dimana secara geologi strukturnya masih labil.




                               Gambar 2. Alur Sungai Brantas


                                                                                           3
         Melihat fenomena seperti itu, salah satu tindakan yang diambil adalah dengan
melakukan penelitian geoteknik tentang kuat geser tanah di daerah bantaran sungai,
         Penelitian ini dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan yaitu bahwa lereng
sungai sangat rawan sekali terjadi longsoran. Sedangkan lereng tersebut banyak dijumpai
bangunan dan dihuni masyarakat. Dari lereng-lereng tersebut mungkin ada yang aman dan
ada yang tidak aman untuk dihuni. Di lereng bantaran sungai Brantas rata-rata digunakan
sebagai tempat pemukiman penduduk, itu akan sangat berbahaya sekali apabila terjadi
kelongsoran dan banjir dimusim hujan.
         Mungkin dengan adanya penelitian ini untuk penduduk yang tinggal di sekitar
bantaran sungai setempat kususnya. Dari data hasil penelitian ini kita dapat memperkirakan
faktor kelongsoran yang terjadi. Sehingga faktor kelongsoran yang terjadi bisa diberikan
saran dan cara penanggulangannya.
         Sebagai acuan kedepan diharapkan semua penduduk yang nantinya akan bermukim
atau yang sudah bermukim di daerah bantaran sungai tahu apakah kondisi tanah di daerah
bantaran sungai tersebut stabil atau labil (rawan longsor).


Identifikasi Masalah
         Ditinjau dari beberapa bencana kelongsoran tanah yang sudah terjadi pada daerah
bantaran sungai akhir-akhir ini semuanya disebabkan karena adanya penggerusan dinding
sungai akibat debit air pada saat musim penghujan meningkat, sehingga tanah pada kondisi
tersebut mudah sekali longsor, yang kemudian mengakibatkan kerugian baik material maupun
korban jiwa
       Sungai Brantas merupakan salah satu sungai besar di Kota Malang yang memiliki arus
yang cukup deras dan mempunyai topografi yang curam, dimana lereng-lereng sungai Brantas
banyak dihuni pemukiman penduduk. Permasalahan yang terjadi dari latarbelakang tersebut
dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
-    Lereng-lereng tersebut kemungkinan rawan longsor, apalagi pada musim hujan
     banjirnya cukup besar.
-    Adanya tanah longsor ini sering menimbulkan kerusakan bangunan, misalnya
     pemukiman penduduk hancur, jalan menjadi terputus atau bendungan menjadi runtuh.
       Dari contoh tersebut perlu dilakukan penaggulangan terhadap bahaya longsor.
Penanggulangan dapat dilakukan dengan cara melakukan pengamanan. Untuk mengadakan
pengamanan, langkah pertama perlu diketahui faktor penyebab longsoran tersebut. Pada
prinsipnya longsoran akan terjadi jika stabilitas lereng atau tebing terganggu.


                                                                                        4
       Pada studi yang kami lakukan ini akan memberikan data tentang stabilitas tanah yang
dimiliki daerah bantaran sungai Brantas. Data ini sangat membantu bagi instansi swasta atau
pemerintah serta masyarakat yang bermukim di sekitar daerah bantaran sungai tersebut.
Diharapkan dengan data yang didapat setidaknya bisa diketahui apakah kondisi tanah di
daerah bantaran sungai tersebut stabil atau labil (rawan longsor) apabila akan dibangun
pemukiman. Uji kuat geser yang dilakukan adalah dengan melakukan penyondiran dan boring
pada titik –titik yang telah ditentukan.


Rumusan Permasalahan
Berdasarkan uraian di atas, diperoleh rumusan masalah yaitu :
    1. Apakah nilai-nilai parameter ( c = kohesi, dan ø = sudut geser ) stabilitas lereng
       memenuhi syarat kestabilan?
    2. Apakah lereng tersebut aman atau tidak untuk menahan beban struktur bangunan di
       daerah bantaran sungai?


Maksud dan Tujuan Penelitian
     Berdasarkan identifikasi dan rumusan masalah yang ada, maka penelitian tentang
Stabilitas Lereng Bantaran Sungai Brantas Pada Sta. Embong Brantas – Sta. Polehan
mempunyai maksud dan tujuan adalah :
-    Untuk mengetahui nilai parameter kuat geser dan sudut geser tanah pada lereng bantaran
     Sungai Brantas Pada Sta. Embong Brantas- Sta. Polehan Kota Malang,
-    Untuk mengetahui kondisi tanah lereng bantaran Sungai Brantas Pada Sta. Embong
     Brantas – Sta. Polehan Kota Malang, apakah stabil atau labil (rawan longsor)
-    Menginventarisir dan memetakan hasil penelitian tentang kondisi tanah lereng bantaran
     Sungai Brantas Pada Sta. Embong Brantas – Sta. Polehan, Kota Malang,
-    Menyajikan data siap pakai bagi pihak lain (Instansi, Pribadi) yang membutuhkannya
     tentang Stabilitas Lereng Bantaran Sungai di Kota Malang, sebagai dasar pengetahuan
     tentang pembangunan pemukiman di bantaran lereng sungai.


LANDASAN TEORI
Kuat Geser Tanah
       Kuat geser tanah merupakan perlawanan internal tanah per satuan luas terhadap
keruntuhan atau pergeseran sepanjang bidang geser dalam tanah yang dimaksud. Nilai
kekuatan geser tanah antara lain diperlukan untuk menghitung daya dukung tanah atau untuk


                                                                                         5
menghitung tekanan tanah yang bekerja pada tembok penahan tanah. Untuk menganalisa
masalah stabilitas tanah seperti daya dukung, stabilitas lereng (talud), dan tekanan tanah
kesamping pada tembok penahan tanah, mula-mula kita harus mengetahui sifat-sifat
ketahanan pergeseranya tanah tersebut.
              Kekuatan geser tanah dapat dianggap terdiri dari tiga komponen sebagai berikut :
1.   Geseran struktur karena perubahan jalinan antara butir-butir massa tanah.
2.   Geseran dalam ke arah perubahan letak antara butiran-butir tanah sendiri dan titik-titik
     kontak yang sebanding dengan tegangan efektif yang bekerja pada bidang geser.
3.   Kohesi atau adhesi antara permukaan butir-butir tanah yang tergantung pada jenis tanah
     dan kepadatan butirnya.
              Mohr (1980) menyuguhkan sebuah teori tentang keruntuhan pada material yang
menyatakan bahwa keruntuhan terjadi pada suatu material akibat kombinasi kritis antara
tegangan normal dan geser, dan bukan hanya akibat teganggan normal maksimum atau
tegangan geser maksimum saja. Jadi, hubungan antara tegangan normal dan geser pada
sebuah bidang keruntuhan dapat dinyatakan dalam bentuk berikut

               f   =f(   )

di mana :

          f   = kuat geser tanah rata-rata

              Bila harga batas yang diperoleh ini digambarkan dengan     yang berbeda-beda, maka
diperoleh hubungan antara tegangan normal dan geser (Coulomb ; 1776). Persamaan tersebut
ditulis
               =c+       tan ø
dimana :
                   = tegangan normal
              c = kohesi tanah yang sebenarnya
              ø = sudut geser dalam
                   = tegangan normal yang bekerja
Hubungan di atas disebut juga sebagai kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb
              Bila tegangan normal dan geser pada sebuah bidang dalam suatu massa tanah
sedemikian rupa sehingga tegangan-tegangan tersebut dapat digambarkan sebagai titik A
dalam gambar 2.1.b, keruntuhan tidak akan terjadi pada bidang tersebut. Tetapi bila tegangan
normal dan geser yang bekerja pada suatu bidang lain dapat digambarkan sebagai titik B
(yang tepat berada pada garis keruntuhan), maka keruntuhan geser akan terjadi pada bidang


                                                                                                 6
tersebut. Suatu keadaan kombinasi tegangan yang berwujud titik C tidaklah mungkin terjadi
karena bila titik tersebut tergambar di atas garis keruntuhan, keruntuhan geser pasti sudah
terjadi sebelumnya.




             Gambar 3.. Garis keruntuhan menurut Mohr dan hukum keruntuhan dari
                                       Mohr-Coulomb


Stabilitas Lereng
       Pada permukaan tanah yang tidak horisontal, komponen gravitasi cenderung untuk
menggerakkan tanah ke bawah. Jika komponen gravitasi sedemikian besar sehingga
perlawanan terhadap geseran yang dapat dikerahkan oleh tanah pada bidang longsornya
terlampaui, maka akan terjadi kelongsoran lereng, yaitu tanah dalam zona a b c d e a dapat
menggelincir ke bawah.
       Analisa stabilitas pada permukaan tanah yang miring ini, disebut analisa stabilitas
lereng. Analisa ini sering digunakan dalam perancangan – perancangan bangunan seperti :
jalan kereta api, jalan raya, bandara, bendungan urugan tanah, saluran, dan lain-lainnya.
Umumnya, analisa stabilitas dilakukan untuk mengecek keamaan dari lereng.




                               Gambar 4. Kelongsoran lereng


                                                                                         7
       Tujuan dari perhitungan stabilitas lereng ini adalah untuk menentukan bidang gelincir
kritis, yaitu bidang gelincir dimana akan terjadi kelongsoran. Langkah pertama kita anggap
bahwa akan terjadi kelongsoran melalui bidang gelincir tertentu, kemudian kita hitung gaya
atau momen yang berusaha untuk menggerakan longsoran akibat berat sendiri tanah. Gaya
atau momen yang berusaha untuk menggerakan tanah ini disebut gaya penggerak ( sliding
force ) atau momen penggerak ( turning moment ). Selanjutnya dihitung pula besarnya gaya
atau momen yang berusaha untuk melawan kelongsoran akibat kekuatan geser tanah, dan ini
biasanaya disebut momen lawan ( resisting momen ). Dalam keadaan seimbang, maka kedua
gaya atau momen itu harus sama. Besarnya faktor keamanan terhadap longsoran adalah
perbandingan antara momen lawan dengan momen penggerak.
       Sehubungan dengan keamanan lereng ini, maka ada 3 macam lereng yang harus
mendapat perhatian dalam pekerjaan teknik sipil; macam-macam lereng tersebut adalah :
       a.   Lereng alam ; Lereng ini terbentuk karena proses alam, misalnya lereng bukit
            atau gunung;
       b.   Lereng galian ; Lereng ini dibuat karena ada penggalian dalam tanah asli.
       c.   Lereng timbunan ; Lereng ini dibuat karena ada pekerjaan penimbunan


Analisis Stabilitas Dengan Program XSTABL




                           Gambar 5. Tampilan Software XSTABL
       Program ini digunakan untuk mempermudah dan mempercepat mencari nilai stabilitas
tanah. Dibandingkan dengan cara manual program ini lebih memberikan kemudahan dengan
cara memasukkan input sesuai perintah, setelah itu program akan bekerja untuk mendapatkan
hasil yang diharapkan. Program akan bekerja berulang-ulang sampai mendapatkan nilai yang
paling kritis, dengan cara manual mungkin akan membutuhkan waktu cukup lama untuk
pengerjaanya.


                                                                                          8
       Untuk Input data dalam menjalankan program XSTABL adalah sebagai berikut:
       1.        Gambar kondisi kontur muka tanah.
       2.        Memasukkan nilai parameter tanah hasil uji fisik dan uji teknis.
       3.        Memasukkan beban luar ( jika ada ).
       4.        Pemilihan metode ( metode bishop ).


ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
Nilai Uji Parameter Kuat Geser
        Nilai parameter terdiri dari dua komponen, yaitu kohesi ( c ) dan sudut geser ( φ ).
Berdasarkan hasil survey lapangan dan pengujian sampel tanah di laboratorium, didapat data
seperti dalam tabel di bawah ini :
                                                      Tabel 1. Nilai Parameter Tanah.
                                                                 Boring 1                Boring 2                      Boring 3
        Jenis Data                             Satuan
                                                               1m           2m       1m               2m              1m               2m
Berat isi tanah kering ( d)                     t/m3           1,13         1,41     1,16             1,05        1,13                1,13
                                                     2
Kohesi tanah ( c )                              t/m            5,00         5,00     1,40             2,20        7,00                7,60
Sudut geser dalam (ø)                           (°)            9,09         5,25     6,27             2,27       12,95               10,75
Kadar air ( w )                                  %            44,662       22,836   10,191           13,147      43,656              48,483
Kemiringan lereng                               (°)                    7                       7                              11
Tinggi ( H )                                     M                  12,91                    16,6                             8,04



Analisa Angka Keamanan
        Sebagai contoh perhitungan untuk mencari angka keamanan pada stabilitas lereng,
yaitu pada lokasi 2 di Jl. Permadi Kec. Polehan, Kota Malang, adalah sebagai berikut :
Langkah 1 :
        Dari peta topografi di dapat kontur lokasi lereng Sungai Metro di titik boring 1 terlihat
seperti gambar di bawah ini :
                 (62 ; 425)
      + 425.00


                                                 (48 ; 420)
      + 420.00
                              γ = 1,705 t/m3
                              φ = 1,83 o
                              c = 0,125 t/m2                                                               Boring 1
                                                                                      (26 ; 415)
      + 415.00

                 (62 ; 412)
                                                 (48 ; 411)
                                                                                                                 (12 ; 410)
      + 410.00                                                                        (26 ; 409,5)
                              γ = 1,721 t/m3
                                       o                                                                         (12 ; 407,5)
                              φ = 7,41
                              c = 0,090 t/m2                                                                                    (6 ; 405)
      + 405.00
      + 403.00                                                                                                                                (0 ; 403)




                                                                                                                                                          9
Langkah 2 :
       Untuk mempermudah hitungan secara manual menentukan lokasi pusat lingkaran yang
paling kritis digunakan sudut kemiringan talud yaitu koordinat x dan y ( Cousius, 1978 ),
sehingga didapat kemiringan lereng 20 ˚ dan tinggi titik lokasi boring 6,55 m dari permukaan
air sungai. Perhitungannya adalah sebagai berikut :
Mencari Koordinat Titik O
              0,01 * 6,55
   •   x=                 = 0,18 m
                tan 20
            0,771,68 * 6,55
   •   y=                   = 30,23 m
                tan 20



                                                    cφ = 50
                   tan β ; tan β
                          H
                          Y




                                                                    Y
                                                                      tan β
                                                                    H
                 H
                 X




                                                                              cφ = 0




                                                X
                                                  tan β
                                                H




                                                      ( a) ru = 0

Mencari Angka Keamanan (Fs)
1. Untuk kondisi muka air normal

   •     d=                          =   d * (1 + w)
              1+ w
                                     = 1,22* (1 + 0,39719)
                                     = 1,705 t/m3

   •   L=             *2* *R
            360°
              1,22°
          =         * 2 * * 43,85
               360°
          = 0,933 m


                                                                                         10
        Dari hasil perhitungan di atas maka dapat diketahui bahwa nilai-nilai parameter
stabilitas lereng pada titik boring 1 di Jl Klayatan Gg II, Kel. Bandung Rejosari memenuhi
syarat angka keamanan, dan daerah tersebut aman untuk dihuni atau dikelola.
        Guna mempermudah dan mempercepat perhitungan di titik peneltian selanjutnya di
gunakan bantuan program XSTABL
        Hasil output angka keamanan titik lainnya dapat dilihat di lampiran 3 (data hasil
        XSTABL).
        Untuk jenis tanah pada lokasi dapat di lihat di lampiran 2 ( Borlog )
       Pada penelitian maka diperoleh klasifikasi keadaan tanah dan zona keamanan sebagai
berikut :


Rekomendasi
     Dilihat dari hasil penelitian dan analisa perhitungan untuk angka keamanan yang telah
dilakukan di sepanjang bantaran sungai Metro pada Sta. Sukun – Klayatan Kota Malang,
bahwa lereng bantaran di sepanjang daerah tersebut aman, akan tetapi tidak menutup
kemungkinan akan terjadi longsor. Mungkin hal tersebut dapat dihindari dengan memperkuat
lereng, antara lain dengan menggunakan dinding penahan dan disamping itu ada upaya dari
instansi terkait untuk meyampaikan kepada warga yang bermukim di daerah bantaran sungai
supaya lebih waspada akan bahaya longsor.


Kesimpulan dan Saran
        Berdasarkan penelitian di lapangan dan pengujian sampel tanah di laboratorium serta
perhitungan dapat disimpulkan dan diketahui nilai angka keamanan untuk stabilitas lereng
pada Sta. Embong Brantas - Sta. Polehan sebagai berikut :
Pada Titik Boring 1 di Jl. Juanda, Kel. Polehan, Kota Malang didapat data :
        Tanah Lapis 1, nilai parameter tanahnya sebagai berikut :
        kohesi (c)                    = 5,00 t/m2
        sudut geser dalam ( φ )       = 5,71 º
        Tanah Lapis 2, nilai parameter tanahnya sebagai berikut
        kohesi (c)                    = 5,00 t/m2
        sudut geser dalam ( φ )       = 11,75 º
dari nilai parameter tersebut didapat angka keamanan ( FS ) = 3,381             1,5 ; ini berarti
bahwa zona tersebut aman.



                                                                                              11
Pada Titik boring 2 di Jl. Permadi, Kota Malang, didapat data :
       Tanah Lapis 1, nilai parameter tanahnya sebagai berikut :
       kohesi (c)                     = 1,40 t/m2
       sudut geser dalam ( φ )        = 8,75 º
       Tanah Lapis 2, nilai parameter tanahnya sebagai berikut
       kohesi (c)                     = 2,20 t/m2
       sudut geser dalam ( φ )        = 15,33 º
dari nilai parameter tersebut didapat angka keamanan ( FS ) = 1,772            1,5 ; ini berarti
bahwa zona tersebut aman.
Pada Titik boring 3 di Jl. Muharto, Kel. Polehan Kota Malang, didapat data :
       Tanah Lapis 1, nilai parameter tanahnya sebagai berikut :
       kohesi (c)                     = 7,00 t/m2
       sudut geser dalam ( φ )        = 6,39 º
       Tanah Lapis 2, nilai parameter tanahnya sebagai berikut
       kohesi (c)                     = 7,60 t/m2
       sudut geser dalam ( φ )        = 6,95 º
dari nilai parameter tersebut didapat angka keamanan ( FS ) = 3,330            1,5 ; ini berarti
bahwa zona tersebut aman.


Saran – saran
Melihat data yang didapat dengan adanya batasan yang telah ditetapkan dalam penelitian
stabilitas lereng ini, maka penulis menyarankan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
penelitian selanjutnya, antara lain : selain data-data tentang tanah juga diperlukan data-data
penunjang seperti data geologi, yang dapat dipelajari dari peta geologi atau peta topografi.
       Terlepas dari hal-hal yang telah diuraikan diatas, maka berhasil ata tidaknya suatu
penelitian stabilitas lereng tergantung padaketelitian dan ketepatan data yang akan digunakan.


DAFTAR PUSTAKA
Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum (2002):”Simposium Nasional Pencegahan Bencana
       Sedimen”
Braja M. Das (1998): “Mekanika Tanah Jilid I”, ERLANGGA, Jakarta.
Braja M. Das (1998): “Mekanika Tanah Jilid 2”, ERLANGGA, Jakarta.
G. Djatmiko Soedarmo, Ir. S.J. Edy Purnomo, 1993“ Mekanika Tanah 2” KANISIUS



                                                                                               12
Hary Christady Hardiyatmo (1992): “Mekanika Tanah Jilid I”, PT. GRAMEDIA PUSTAKA
      UTAMA, Jakarta.
Hary Christady Hardiyatmo (2002): “Mekanika Tanah Jilid II”, BETA OFFSET, Yogyakarta.
Hary Christady Hardiyatmo (2002): “Tenik Pondasi 1”, BETA OFFSET, Yogyakarta.
Joseph E. Bowles (1997): “Analisis Dan Desain Pondasi Jilid I”, ERLANGGA, Jakarta.
Joseph E. Bowles (1998): “Analisis Dan Desain Pondasi Jilid II”, ERLANGGA, Jakarta.
P.N.W. Verhoef (1994): “Geologi Untuk Teknik Sipil”, ERLANGA, Jakarta.
Ralp B. Peck, Walter E. Hanson, Thomas H. Thornburn “ Teknik Fondasi “ edisi kedua,
      GAJAH MADA UNIVIRSTY PRESS
R.F.Craig, Budi Susilo S ( 1987 ), “ Mekanika Tanah” edisi ke empat, ERLANGGA, Jakarta
Shierly L. Hendarsin (2003), “Investigasi Rekayasa Geoteknik”, Politeknik Negeri Bandung,
      Bandung
Soemartono, “Dasar– Dasar Interprestasi & Analisa Penyelidikan Geoteknik”, Pekerjaan
      Umum.
Suyono Sosrodarsono dan Kensaku Takeda (1977): “Hidrologi untuk Pengairan”, PT.
      PRADNYA PARAMITA, Jakarta.
Suyono Sosrodarsono dan Kazuto Nakazawa (1988): :Mekanika Tanah & Teknik Pondasi”,
      PT. PRADNYA PARAMITA, Jakarta
Suyono Sosrodarsono dan Kazuto Nakazawa (1988): “Mekanika Tanah dan Teknik Pondasi”,
      PT. PRADNYA PARAMITA, Jakarta.




                                                                                      13

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags: free, documents
Stats:
views:132
posted:7/9/2012
language:
pages:13
Description: These all my public document, and that is free