Docstoc

sungai podi

Document Sample
sungai podi Powered By Docstoc
					              Makalah
KONFERENSI TEKNIK SIPIL - 2
   Universitas Atma Jaya Yogyakarta



                Topik :
        Mitigasi Bencana
  POTENSI BANJIR BANDANG DI KECAMATAN TOJO, KABUPATEN TOJO UNA-UNA
          PROPINSI SULAWESI TENGAH AKIBAT LUAPAN SUNGAI PODI

                                     Eri Andrian Yudianto, ST., MT.
                                         eri_yudianto@yahoo.com
                             Dosen Jurusan Teknik Sipil pada Institut Teknologi Nasional Malang,
                            dan Staf Ahli Bidang Teknik Sipil Pada P.T. Waindo Specterra Jakarta.


                                                Abstrak
        Di wilayah Sulawesi Tengah sebelah timur sangat berpotensi terjadi banjir bandang.
Pertengahan tahun 2007 telah terjadi banjir bandang hebat yang menenggelamkan 4 kecamatan dan
puluhan desa di Kabupaten Morowali. Selain Kabupaten Morowali, wilayah lainnya yang berpotensi
terjadi banjir bandang adalah Kabupaten Tojo Una-una, dimana kedua wilayah ini berada dalam kaki
lembah gunung yang sama, Kabupaten Morowali di sebelah selatan dan Kabupaten Tojo Una-una di
sebelah utara. Sehingga, apa yang terjadi di Kabupaten Morowali pertangahan tahun 2007 kemarin,
sangat mungkin terjadi lagi terulang di Kabupaten Tojo Una-una di masa mendatang.
        Dari sekian banyak sungai di wilayah Kabupaten Tojo Una-una, yang paling sering terjadi
banjir bandang adalah Sungai Podi. Padahal, vegetasi di sepanjang DAS Podi didominasi oleh hutan
lebat yang relatif belum dijamah. Struktur tanah didominasi oleh batuan lapuk, sedangkan top soil
yang menjadi media tumbuh vegetasi hanya sedalam 1,0 – 2,0 m.
        Banjir bandang terjadi karena kondisi geologi batuan di daerah itu yang lapuk, dan telah terjadi
longsoran gunung dalam volume raksasa (mega landslides) di bagian atas. Profil longsoran yang
terbentuk seperti ceruk dalam atau bejana. Bentuk ceruk itulah yang menyebabkan mengapa Sungai
Podi debitnya sangat fluktuatif, atau cepat banjir. Sehingga, apabila hujan seolah-olah air dan material
hanyutan ditampung dalam bejana raksasa dan dilepaskan ke hilir dalam volume yang besar. Akan
tetapi, hasil pengamatan citra satelit tampak telah terjadi runtuhan susulan tetapi belum terbawa air,
tinggal menunggu waktu saja untuk dibawa turun. Luasan area rawan runtuh ini mencapai + 169,84
Ha. Lereng yang runtuh ini berupa bukit dangan tinggi mencapai + 300m, dengan volume +
509.250.000 m3.
        Perlu dibuatkan sistem informasi manajemen bencana yang terintegrasi dan memberikan
penyuluhan kepada penduduk sekitar tentang bahaya ini. Infrastruktur jlaan dan jembatan perlu
secepatnya direlokasi agar keamanan dan kelancaran transportasi tetap terjaga.


Pendahuluan

        Banjir bandang adalah suatu kondisi luapan air sungai yang disertai material hanyutan dalam
volume yang sangat besar dan dalam kecepatan yang sangat tinggi. Banjir bandang ini akan dengan
mudahnya menghantam apa saja yang menjadi penghalang laluannya dan akan meninggalkan material
hanyutannya ini dimana saja tempat bekas laluannya. Hal inilah yang menjadi masalah, dimana banyak
kerugian materiil maupun nyawa yang dapat terjadi, kersakan dan kehancuran dapat terjadi dimana-
mana.
        Salah satu contoh terjadinya banjir bandang hebat adalah di Kabupaten Morowali, Propinsi
Sulawesi Tengah, pada pertengahan tahun 2007. Dimana pada saat itu menurut data banjir melanda 4
kecamatan dan puluhan desa. Berdasar data, kerugian yang terjadi pada saat itu adalah lebih dari 1000
warga mengungsi dan 67 tewas. Menurut telaah para ahli, penyebab banjir besar saat itu adalah Bila
tindakan ketat pengembalian fungsi hutan dapat dilakukan sehingga resiko terjadinya longsor maupun
banjir dapat dikurangi, tidak halnya dengan kondisi geologi batuan yang lapuk. Kondisi inilah yang
mengancam terjadinya banjir bandang terjadi lagi. Tentunya sangat tidak diinginkan apabila terjadi
banjir seperti ini hingga menimbulkan banyak sekali kerugian harta maupun nyawa.
        Di wilayah Sulawesi Tengah sebelah timur sangat berpotensi terjadi banjir yang disertai
runtuhan tanah dan batuan. Selain Kabupaten Morowali, wilayah lainnya adalah Kabupaten Tojo Una-
una, dimana kedua wilayah ini berada dalam kaki lembah gunung yang sama, Kabupaten Morowali di
sebelah selatan dan Kabupaten Tojo Una-una di sebelah utara. Sehingga, apa yang terjadi di
Kabupaten Morowali pertangahan tahun 2007 kemarin, sangat mungkin terjadi lagi terulang di
Kabupaten Tojo Una-una di masa mendatang.


Sungai Podi

        Dari sekian banyak sungai yang ada di wilayah Kabupaten Tojo Una-una, yang paling sering
terjadi banjir bandang adalah Sungai Podi. Sungai Podi yang berada di antara Kabupaten Poso dan
Tojo-Unauna setiap kali terjadi hujan lebat di bagian hulu selalu meluap serta membawa material
lumpur, bantuan, dan tumbangan pepohonan dengan menutupi badan jalan sangat panjang. Sungai
Podi terletak di Kecamatan Tojo, Kabupaten Tojo Una-una, (Kabupaten baru pemekaran Kabupaten
Poso 2004) Propinsi Sulawesi Tengah. Tepatnya pada koordinat 1o08’40” S dan 121o17’30”T. Sungai
Podi memiliki panjang + 25 km, dan lebar di bagian muara + 30,0 m dan bermuara di Teluk Tomini di
sebelah Utara.
        Tipologi aliran sungai Podi adalah jenis sungai deras dengan debit yang sangat fluktuatif.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, pada saat musim kemarau di bagian hilir lebar sungai hanya +
30,0 m. Tetapi saat hujan berlangsung lebih dari 3 jam saja, sapuan area yang dilewati sungai ini bisa
mencapai + 1000,0 m dengan tinggi air rata-rata di daerah limpasan + 1,0 m dan di alur sungai + 4,0 m
(Gambar 1). Belum didapat data yang akurat mengenai berapa debit sungai saat kering maupun berapa
saat banjir. Hal ini karena memang belum dilakukan mengukuran secara teknis oleh instansi terkait
        Pada gambar 1. dapat dibandingkan perbedaan sungai di hilir, dimana (a) saat tidak ada hujan
dan (b) setelah hujan, tampak arus sungai masih deras. Gambar (b) ini diambil pada pukul 06.00
WITA. Banjir bandang saat itu terjadi karena curah hujan yang tinggi dan berlangsung sejak pukul
14.00 hingga pukul 01.00 WITA.




              (a) Sungai Kondisi Normal                                (b) Sungai Kondisi Banjir
                                 Gambar 1. Sungai Podi Dalam Berbagai Situasi

        Vegetasi di sepanjang DAS Podi didominasi oleh hutan lebat yang relatif belum dijamah.
Aktifitas perladangan penduduk hanya ada di sekitar bantaran sungai bagian hilir. Pada bagian hilir,
sudah berubah bentuk menjadi hamparan pasir kwarsa dan batu akibat material hanyutan banjir
(Gambar 2a). Struktur tanah didominasi oleh batuan lapuk, sedangkan top soil yang menjadi media
tumbuh vegetasi hanya ada sedalam 1,0 – 2,0 m (Gambar 2b).
       (a) Penggunaan Lahan Pada DAS Podi                             (b) Struktur Tanah Pada DAS Podi
                                  Gambar 2. Kondisi Geologi Pada DAS Podi

Posisi Sungai Terhadap Jalan Trans Sulawesi Timur dan Dampaknya

        Sungai Podi memotong jalan Trans Sulawesi Timur di Kecamatan Tojo, Kabupaten Tojo Una-
una. Tepatnya kira-kira 6 Jam perjalanan darat dari Palu ke arah timur, atau sekitar 3 jam dari Poso ke
arah timur. Jalan trans Sulawesi Timur sebagai jalan negara sangatlah penting, dimana jalan ini
menghubungkan Ibukota Propinsi Sulawesi Tengah, Palu dan kota-kota besar di wilayah timur, seperti
Ampana, Pagimana, Luwuk, dan kota-kota lainnya. Sehingga apabila jalan negara ini putus, maka alur
perekonomian melalui jalan darat akan lumpuh. Hingga saat ini, bila terjadi hujan lebat jalan provinsi
di kawasan ini yang merupakan jalan satu-satunya yang menghubungkan Kota Palu dengan dua
kabupaten lain di bagian timur Provinsi Sulteng seringkali putus total, akibat digenangi banjir dan
derasnya air yang melintasi badan jalan.
        Bila terjadi banjir besar, penduduk setempat ikut membantu perjalanan kendaraan di lokasi
banjir dengan ramai-ramai menariknya menggunakan tali tambang agar tidak keluar dari posisi badan
jalan. Cara lain yang dilakukan agar bisa melintas adalah menaikkan kendaraan mobil dan sepeda
motor di atas rakit kayu atau dipanggul yang sudah disiapkan penduduk setempat kemudian ditarik
atau dipanggul beramai-ramai menggunakan tali. Untuk kendaraan roda empat dikenakan tarif Rp. 50
ribu per unit dan sepeda motor Rp. 20 ribu unit. Hal ini tentu semakin membatasi aktifitas transportasi
dan menambah biaya perjalanan (gambar 3).




    (a) Kondisi Jalan Pasca Banjir Ketika                      (b) Inisiatif Warga Dalam Membantu
            Dilewati Kendaraan                                            Kendaraan Lewat
                             Gambar 3. Kondisi Jalan Trans Sulawesi Timur Pasca Banjir

       Hingga saat ini, bila terjadi hujan lebat jalan provinsi ini yang merupakan jalan satu-satunya
yang menghubungkan Kota Palu dengan dua kabupaten lain di bagian timur Provinsi Sulawesi Tengah
seringkali putus total. Bila banjir melanda, sudah dapat dipastikan kendaraan terpaksa berhenti,
menunggu berjam-jam bahakan berhari-hari hingga air surut dan memungkinkan untuk dilalui.
Jembatan yang telah terbangun hanyut terbawa derasnya arus (Gambar 4.a.) dan bangunan pengaman
tebing tergerus tak tersisa (Gambar 4.b.).




          (a) Abutmen Jembatan Hancur                      (b) Bronjong Sebagai Pengaman Tebing Sementara
                                  Gambar 4. Kerusakan Infrastruktur Jalan / Jembatan
Sejarah dan Potensi Bencana Susulan
       Hampir tiap saat hujan, pastilah sungai Podi mengalami banjir bandang dengan membawa
material hanyutan yang sangat banyak dan berarus deras. Sejarah mencatat bahwa awal bencana terjadi
pada musim penghujan Nopember 1990 hingga Januari 1991, dimana jembatan hanyut diterjang banjir.
Lalu pada musim hujan 1995, 2 desa hanyut dan 2 jembatan rusak berat. Pada tahun 1997, 2 jembatan
yang baru dibangun rusak berat bahkan 1 jembatan hanyut (Gambar 4.a.). Pada tahun 2002, jembatan
sebelah timur hanyut, dan digantikan jembatan Bailley hingga saat ini
       Akibat yang ditimbulkan dari banjir bandang rutin Sungai Podi saat ini, meninggalkan jejak di
bagian hilir berupa daerah yang ditutupi oleh material hanyutan pasir, batu mencapai + 92 ha. Material
yang terbawa hingga hilir ini hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan material bawaan yang tercecer
dan tertinggal di sepanjang alur sungai (Gambar 5.a.). Hal ini bisa terjadi karena telah terjadi
longsoran gunung dalam volume raksasa (mega landslides) di bagian atas (Gambar 5.b.)




            (a) Area Terjangan Banjir Bandang                                   (b) Mega Landslides
                             Gambar 5. Akibat Bajir Bandang di Sungai Podi dan Penyebabnya

        Bila ditilik dari akibat yang ditimbulkan, sebenarnya apa yang dihasilkan dari jejak banjir
bandang Sungai Podi ini belumlah berakhir. Karena kejadian banjir bandang selalu berulang tiap kali
hujan, dan material yang terbawa seolah tidak pernah habis. Untuk itu, telah dilakukan pencitraan area
dengan satelit, memanjang ke bagian hulu dan dilakuan pemikiran beberapa hipotesa dugaan, untuk
mencari tahu apa yang telah dan hendak terjadi. Pada Gambar 6. ditunjukkan hasil citra satelit, yang
menunjukkan kondisi Sungai Podi dan lembah-lembah di atasnya. Ternyata di bagian atas sungai telah
terjadi longsoran raksasa yang membentuk ceruk dalam seperti bejana. Bentuk ceruk itulah yang
menyebabkan mengapa Sungai Podi debitnya sangat fluktuatif, atau cepat sekali banjir. Sehingga
apabila hujan, seolah-olah air dan material hanyutan ditampung dalam bejana raksasa dan dilepaskan
ke hilir dalam volume yang besar.




      (a) 3D Citra Satelit Das Sungai Podi                               (b) Luasan Area Banjir Bandang dan
                                                                             Material yang Belum terbawa
                                             Gambar 6. Citra Satelit Das Sungai Podi

        Akan tetapi, masalah belum akan selesai sampai di sini. Dari hasil pengamatan citra satelit
tampak bahwa telah terjadi runtuhan gunung susulan, tetapi belum terbawa air tinggal menunggu
waktu saja untuk dibawa turun. (Gambar 7). Luasan area rawan runtuh ini mencapai 169,84 Ha.
Lereng yang runtuh ini berupa bukit dangan tinggi mencapai 300m, dengan volume 509.250.000 m3 ,
suatu nilai yang fantastis(Gambar 8).




      (a) Citra Satelit 3D Daerah Runtuhan Baru                               (b) Area Rawan Runtuh
                                Gambar 7. Citra Satelit Das Sungai Podi Potensi Longsor Susulan
                               Gambar 7. Citra Satelit Potensi Runtuhan Baru

Kesimpulan
        Melihat beberapa data dan fakta yang telah diberikan, maka tidak ada alasan lain harus diakui
bahwa potensi bencana banjir bandang masih akan terjadi bahkan mungkin akan lebih besar lagi. Perlu
dilakukan sejumlah tindakan untuk menghindari atau meminimalkan kerugian yang dapat terjadi.
Pemerintah daerah harus mampu bekerja sama dengan memberikan perhatian lebih terhadap masalah
ini. Terutamanya untuk menghindari jatuhnya korban di kalangan penduduk, upaya yang dilakukan
adalah memberikan pengertian bahwa daerah yang mereka tinggali terancam. Sewaktu-waktu kejadian
banjir bandang yang lebih besar dapat terjadi.
        Perlu dipikirkan dan dibuatkan skema sistem informasi manajemen bencana terhadap kasus ini,
misalnya siapa pelaksana tanggap darurat, penanggungjawab masalah pengungsi, dimana area untuk
relokasi penduduk, bagaimana nantinya merehabilitasi infrastruktur, dan lainnya. Kalau perlu dipasang
beberapa peralatan monitoring di sepanjang alur sungai Podi sebagai telemetri sebagaimana layaknya
tindakan preventif bencana gunung api. Sehingga, bila terjadi banjir bandang, dapat diketahui beberapa
menit sebelimnya. Masih ada kesempatan penduduk di wilayah hilir untuk menyelamatkan diri.
        Mengenai jalan lintas Trans Sulawesi Timur, sudah tidak layak kalau mempertahankan trase
jalan yang ada. Tindakan pembuatan tanggul, pembuatan jembatan, check dam di hulu, atau apapun,
selama tetap di trase jalan yang lama akan percuma. Karena, kecepatan air yang sangat tinggi dan
material hanyutan yang besar akan menghantam apa saja. Karena apa yang terjadi di DAS Podi pada
dasarnya adalah proses alamiah pembentukan Alluvial Fan, pembentukan permukaan bumi yang baru.
Upaya yang aman tetapi sedikit mahal adalah memindahkan trase jalan yang baru dengan menggeser
jalan yang ada ke sisi selatan naik ke pegunungan, lalu dibuatkan jembatan yang menyeberangi Sungai
Podi (Gambar 8).
                          Gambar 8. Usulan Trase Jalan dan Jembatan Baru



Referensi

Andrian E., 2007, Materi Presentasi dan Dokumentasi Penyusunan Rencana Umum Tata Ruang
        Wilayah Kabupaten Tojo Una-una Propinsi Sulawesi Tengah
BAPPEDA Tojo Una-Una, 2007, Rangkuman Eksekutif Rencana Umum Tata Ruang Wilayah
        Kabupaten Tojo Una-una Propinsi Sulawesi Tengah.
Waindo Specterra, PT., 2007, Data-data dan Citra Satelit Kabupaten Tojo Una-una, Jakarta.
www.antara.co.id/arc/2007/7/25/sungai-podi-meluap-jalan-poros-palu-luwuk-terputus
www.gatra.com/2007-08-04/artikel.php?id=106656
www.media-indonesia.com/berita.asp?id=139664

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags: free, documents
Stats:
views:77
posted:7/9/2012
language:
pages:8
Description: These all my public document, and that is free