Docstoc

Artikel bebas perpustakaan kampus

Document Sample
Artikel bebas perpustakaan kampus Powered By Docstoc
					                                                                                                 1


    IMPLEMENTATION OF COGNITIVE RESTRUCTURING STRATEGY IN
REDUCING STRESS DUE TO FAMILY DISHARMONY ON STUDENTS OF X CLASS
              TKR SMK NEGERI 1 BUDURAN SIDOARJO

                                        Arif Ramandhani

                                          ABSTRACT

    This study aims is exam and compare an implementation of cognitive restructuring strategy
in reducing stress due to family disharmony on students of X class TKR SMK negeri 1 buduran
sidoarjo before and after a given cognitive restructuring strategy.

   The subject of this study was six students of class X TKR SMK Negeri 1 Buduran, Sidoarjo
who have high levels of stress due to family disharmony. Data collection methods used in this
study was questionnaires. The first questionnaire was used to measure family disharmony and
the second questionnaire was used to measure stress level due to family disharmony.

This study is use pre and post test one group design. Data analysis technique used is non
parametric statistical analysis using wilcoxon rank test level. Result on analysis showed that the
research hypothesis which has said in implementation cognitive restructuring strategy in
reducing stress due to family disharmony on students of class X TKR SMK Negeri 1 Buduran,
Sidoarjo is acceptable. This is proven by the significant different on either pre test or post test
score. This study show that there is a positive effect of the implementation strategy of cognitive
restructuring on the students who are stress due to family disharmony.

Key words: Strategy of cognitive restructuring, stress due to family disharmony
                                                                                              2


     PENERAPAN STRATEGI PENGUBAHAN POLA BERPIKIR (COGNITIVE
  RESTRUCTURING) UNTUK MENGURANGI STRES AKIBAT DISHARMONISASI
 KELUARGA PADA SISWA KELAS X TKR SMK NEGERI 1 BUDURAN SIDOARJO



                                       Arif Ramandhani

                                          ABSTRAK

   Penelitian ini bertujuan untuk menguji penerapan strategi pengubahan pola berpikir untuk
menurunkan stres akibat disharmonisasi keluarga pada siswa kelas X TKR SMKN 1 Buduran,
Sidoarjo.
   Subyek pada penelitian ini adalah 6 siswa dari siswa kelas X TKR SMK Negeri 1 Buduran
Sidoarjo yang memiliki tingkat stres yang tinggi akibat disharmonisasi keluarga. Pengambilan
subyek dilakukan dengan menggunakan angket, yaitu angket disharmonisasi keluarga sebagai
angket pertama dan angket stres akibat disharmonisasi keluarga sebagai angket kedua.
   Penelitian ini menggunakan rancangan pre test dan post tes one group desain. Metode
pengumpulan data yang digunakan adalah angket. Angket tersebut digunakan untuk mengukur
tingkat stres akibat disharmonisasi keluarga.
   Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis statistik non-parametric dengan
menggunakan uji jenjang bertanda wilcoxon. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa
hipotesis penelitian yang berbunyi strategi pengubahan pola berpikir dapat mengurangi stres
akibat disharmonisasi keluarga pada siswa kelas X TKR SMK Negeri 1 Buduran Sidoarjo dapat
diterima. Hal ini terbukti dengan adanya perbedaan yang signifikan antara skor pre test dan skor
post test. Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh positif pemberian strategi pengubahan pola
berpikir, yaitu stres pada siswa akibat disharmonisasi keluarga dapat dikurangi.

Kata kunci : Strategi pengubahan pola berpikir, stres akibat disharmonisasi keluarga
                                                                                              3


                                        PENDAHULUAN

       Stres akibat disharmonisasi keluarga dapat difahami sebagai reaksi atau respon tubuh

yang muncul akibat adanya tekanan dan mempengaruhi kemampuan seseorang untuk beradaptasi

terhadap stressor yang berupa kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak bahagia. Stres

pada anak-anak yang berasal dari lingkungan keluarga yang tidak harmonis disebabkan karena

mereka selalu berfikir negatif, tidak produktif dan tidak percaya diri.

       Salah satu alternatif bantuan untuk menghilangkan pikiran negatif tersebut, dengan

menggunakan strategi pengubahan pola berpikir. Alasan penggunaan strategi ini karena

Cognitive Restructuring tidak hanya membantu klien belajar mengenal dan menghentikan

pikiran-pikiran negatif atau merusak diri, tetapi juga mengganti pikiran-pikiran tersebut dengan

pikiran yang positif. “Strategi Cognitive Restructuring memusatkan perhatian pada upaya

mengidentifikasi dan mengubah pikiran-pikiran atau pernyataan diri negatif dan keyakinan-

keyakinan klien yang tidak rasional.” (Cormier dan Cormier, 1985: 405).

   Berdasarkan latar elakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat dikemukakan

rumusan masalah sebagai berikut : “Apakah strategi pengubahan pola berpikir dapat menurunkan

stres akibat disharmonisasi keluarga pada siswa kelas X TKR SMKN 1 Buduran, Sidoarjo?”

   Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah menguji penerapan

strategi pengubahan pola berpikir untuk menurunkan stres akibat disharmonisasi keluarga pada

siswa kelas X TKR SMKN 1 Buduran, Sidoarjo.

Stres Akibat Disharmonisasi Keluarga

       Stres adalah     reaksi atau respon tubuh yang muncul akibat adanya tekanan dan

mempengaruhi kemampuan seseorang untuk beradaptasi terhadap stressor. Stressor dalam
                                                                                             4


penelitian ini adalah disharmonisasi keluarga. Disharmonisasi dapat diartikan sebagai keadaan

keluarga yang tidak harmonis atau tidak bahagia.

   Seperti dikemukakan oleh Gunarsa (1993), keluarga terdiri dari beberapa orang, secara

otomatis akan terjadi interaksi antar anggotanya. Interaksi dalam keluarga juga akan menentukan

dan berpengaruh terhadap keharmonisan atau sebaliknya, tidak bahagia (disharmonis). Gunarsa

(1993) juga menyatakan, keluarga bahagia atau ideal adalah keluarga yang seluruh anggotanya

merasa bahagia yang ditandai oleh berkurangnya ketegangan, kekacauan dan merasa puas

terhadap seluruh keadaan dan keberadaan dirinya yang meliputi aspek fisik, mental, emosi dan

sosial. Ciri-ciri keluarga yang tidak harmonis dapat dilihat dari:

    a.   Adanya pengalihan tanggungjawab sebagai orang tua.

         Memberi nafkah, menjadi teman, panutan,dan guru serta memberi rasa aman dan kasih

         sayang yang seharusnya diberikan orang tua pada anak, kemudian dibebankan kepada

         pihak lain seperti kepada pembantu, sekolah atau keluarga yang lain.

    b.   Sikap dari orang tua yang berlebihan atau tidak pada porsinya.

         Sikap orang tua yang terlalu melindungi, terlalu membebaskan anak, terlalu keras dalam

         mendidik anak dan membebani anak dengan ambisi/ keinginan orang tua.

    c.   Banyaknya kata-kata negatif yang diucapkan orang tua kepada anak.

         Mengucapkan kata-kata kasar dan kotor dalam berkomunikasi dengan anak.

    d.   Tidak adanya “Quality time” antara orang tua dan anak.

         Orang tua tidak menyediakan waktu khusus disela-sela kesibukan mereka untuk

         bertukar pikiran, berkumpul, dan bercerita dengan anak.

    e.   Orang tua yang tidak memiliki sikap terbuka terhadap anaknya.
                                                                                            5


        Sikap dimana orang tua mau mendengarkan dan menerima masukan-masukan dari anak.

        (Christian, 2009).

       Dari pernyataan di atas, stres akibat disharmonisasi keluarga dapat difahami sebagai

reaksi atau respon tubuh yang muncul akibat adanya tekanan dan mempengaruhi kemampuan

seseorang untuk beradaptasi terhadap stressor yang berupa kondisi keluarga yang tidak harmonis

dan tidak bahagia.

Strategi Pengubahan Pola Berpikir (Cognitive Restructuring)

       Menurut Cormier ( 1985: 405) strategi pengubahan pola berpikir adalah strategi yang

memusatkan perhatian pada upaya mengidentifikasi dan mengubah pikiran-pikiran atau

pernyataan diri negatif dan keyakinan-keyakinan klien yang tidak rasional.

       Ahli lain menyatakan bahwa Cognitive Restructuring adalah terapi yang mempergunakan

pendekatan terstruktur, aktif, direktif, dalam upaya merubah pernyataan diri negatif menjadi

pernyataan diri yang positif. (Gunarsa, 2004: 227)

       Dari berbagai pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa strategi pengubahan pola

berpikir adalah strategi yang mempergunakan pendekatan terstruktur, aktif, direktif pada upaya

mengidentifikasi pikiran negatif dan keyakinan yang tidak rasional yang cenderung

melumpuhkan kreativitas serta menghambat dalam mengambil tindakan.

Metode Penelitian

       Berdasarkan rumusan masalah penelitian, maka penelitian ini termasuk penelitian

kuantitatif dan jenis penelitian ini adalah     eksperimen semu (Quasi Experiment) dengan

menggunakan model one group pre-test and post-test design. Penelitian ini diberikan kepada

satu kelompok saja tanpa kelompok pembanding. Kelompok eksperimen pada penelitian ini akan

diberikan tes awal (pre-test) dengan menggunakan angket, kemudian diberikan treatment
                                                                                                            6


dengan strategi pengubahan pola berpikir selama jangka waktu tertentu, setelah itu diberikan tes

akhir (post-test) melalui angket yang sama dengan angket yang diberikan pada saat tes awal.

Skema Quasi experiment dengan model one group pre test post test design adalah sebagai

berikut:

                   Pre test                    Treatment                       Post test

                      T1                            X                           T2



        Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Buduran, Sidoarjo, adapun subyek dalam

penelitian ini adalah siswa kelas X SMKN 1 Buduran, Sidoarjo yang mempunyai tingkat stres

yang tinggi akibat disharmonisasi keluarga.

        Variabel dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu strategi pengubahan pola berpikir

(variabel bebas) dan stres akibat disharmonisasi keluarga (variabel terikat).

        Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan adalah angket. Penulis

menggunakan dua angket, yang pertama adalah angket disharmonisasi keluarga dan yang kedua

adalah angket stres akibat disharmonisasi keluarga. Kedua angket tersebut menggunakan jenis

angket tertutup. Berikut ini akan dijelaskan kisi-kisi angket disharmonisasi keluarga dan angket

stres akibat disharmonisasi keluarga setelah dilakukan uji validitas dan reliabilitas.

Kisi-kisi Angket Disharmonisasi Keluarga

    Variabel                  Indikator                 Deskriptor                       No. item
                                                                                     +             -
Disharmonisasi          1.     Adanya          Memberi nafkah, menjadi          -             6, 11, 16,
keluarga.                      pengalihan      teman, panutan,dan guru serta                  20, 25, 27,
Merupakan                      tanggung        memberi rasa aman dan kasih                    28
kondisi keluarga               jawab sebagai   sayang pada anak yang
yang tidak                     orang tua.      kemudian dibebankan kepada
harmonis dan                                   pihak lain seperti kepada
tidak bahagia.                                 pembantu, sekolah atau
                                               keluarga yang lain
                                                                                                                     7


     Variabel               Indikator                        Deskriptor                       No. item
                                                                                          +            -
                      2.   Sikap orang tua          Sikap orang tua yang terlalu     2, 7, 12,      24
                           yang berlebihan          melindungi, terlalu              17, 21
                           atau tidak pada          membebaskan anak, terlalu
                           porsinya.                keras dalam mendidik anak
                                                    dan membebani anak dengan
                                                    ambisi/ keinginan orang tua.

                      3.   Banyaknya kata-          Mengucapkan kata-kata kasar      -              13, 18
                           kata negatif yang        dan kotor dalam
                           diucapkan orang          berkomunikasi dengan anak
                           tua kepada anak.

                      4.   Tidak adanya             Tidak menyediakan waktu          -              4, 9, 19
                           “quality time”           khusus disela-sela kesibukan
                           antara orang tua         orang tua untuk bertukar
                           dengan anak.             pikiran, berkumpul, dan
                                                    bercerita dengan anak.

                      5.   Orang tua yang           Sikap dimana orang tua mau       -              5, 10, 15
                           tidak memiliki           mendengarkan dan menerima
                           sikap terbuka            masukan-masukan dari anak.
                           kepada anak.



 Kisi-kisi Angket Stres Akibat Disharmonisasi Keluarga

    Variabel                 Aspek                  Indikator              Deskriptor                 No. item
                                                                                                    +          -
Stres akibat          Gejala fisik pada        1. Insomnia.          Merupakan                  1, 64, 69, 24, 44
disharmonisasi        individu yang                                  ketidakmampuan             71, 72
keluarga.Adalah       mengalami stres                                seseorang          untuk
reaksi atau respon    akibat                                         mencukupi kebutuhan
tubuh yang muncul     disharmonisasi                                 tidur    baik     secara
akibat adanya         keluarga.                                      kualitas         maupun
tekanan dan                                                          kuantitas yang dapat
mempengaruhi                                                         dilihat dari kesulitan
kemampuan                                                            untuk     tidur,    atau
seseorang untuk                                                      kesulitan untuk tetap
beradaptasi                                                          tertidur dan terbangun
terhadap stressor                                                    dari tidur, namun
yang berupa                                                          merasa belum cukup
kondisi keluarga                                                     tidur.
yang tidak
harmonis dan tidak                             2.   Nafsu makan      Keadaan tidak adanya       2, 65, 70       57
bahagia yang dapat                                  berkurang.       keinginan untuk
dilihat dari adanya                                                  makan walaupun ada
pengalihan                                                           rasa lapar.
tanggungjawab
sebagai orang tua,                             3.   Menangis         Merupakan aktivitas        3               -
baik kepada                                         berlebihan       mengeluarkan air mata
pembantu rumah                                                       sebagai reaksi atas
tangga, babysitter,                                                  tersentuhnya hati oleh
                                                                                                                8


    Variabel                Aspek               Indikator           Deskriptor                   No. item
                                                                                             +              -
sekolah atau                                                   sebuah kejadian secara
keluarga yang lain,                                            berlebihan.
sikap dari orang
tua yang                                   4.   Mencelakakan   Sebuah bentuk fisik       4, 27, 46     -
berlebihan atau                                 diri.          merusak secara
tidak pada                                                     langsung dan disengaja
porsinya (Misalkan                                             untuk membahayakan
terlalu melindungi,                                            tubuh.
terlalu bebas,
terlalu keras                              5.   Bermimpi       Merupakan       masalah   5, 28         -
bahkan ambisi                                   buruk          psikologis yang dapat
orang tua yang                                                 dipengaruhi        oleh
dibebankan pada                                                kondisi    fisik, dan
anak), banyaknya                                               pengalaman        alam
kata-kata negatif                                              sadarnya.
yang diucapkan
orang tua kepada                           6.   Letih          Keadaan        dimana     6, 29, 59     -
anak, tidak adanya                                             seseorang merasa tidak
“Quality time”                                                 bertenaga.
antara orang tua
dan anak sehingga                          7.   Gelisah        Suatu keadaan dimana      7             30
anak “kekurangan”                                              individu tidakmampu
kenangan indah                                                 untuk tetap diam atau
akan orang tuanya,                                             tenang.
orang tua yang
tidak memiliki                             8.   Detak nadi     Menunjukkan kontraksi     8, 31, 48     -
sikap terbuka                                   meningkat      jantung per menit yang
terhadap anaknya.                                              melebihi batas normal
                                                               dilihat dari usia dan
                                                               aktivitas yang sedang
                                                               dikerjakan.

                      Gejala perilaku      1.   Gagal di       Tidak berhasil meraih     9, 49,        -
                      pada individu yang        sekolah        prestasi di sekolah,      60, 66
                      mengalami stres                          baik di dalam kegiatan
                      akibat                                   belajar atau kegiatan
                      disharmonisasi                           lain yang ada di
                      keluarga.                                sekolah.

                                           2.   Agresif        Segala bentuk perilaku    10, 33,       61
                                                               yang dimaksudkan          50
                                                               untuk menyakiti
                                                               seseorang baik secara
                                                               fisik maupun mental.

                                           3.   Berbohong      Mengatakan sesuatu        11, 34        -
                                                               yang tidak sesuai
                                                               dengan kenyataan.
                                                                                                      9


Variabel        Aspek             Indikator               Deskriptor                   No. item
                                                                                   +              -
                             4.   Mencuri           Mengambil milik           51             -
                                                    orang lain tanpa ijin,
                                                    biasanya dilakukan
                                                    dengan sembunyi-
                                                    sembunyi.

                             5.   Sering            Salah    satu bentuk      13, 35         52
                                  melamun           fantasi yang digunakan
                                                    seseorang         untuk
                                                    melarikan diri dari
                                                    kesulitan-kesulitannya.

                             6.   Menggunakan       Mengkonsumsi obat-        36             -
                                  obat terlarang.   obat berbahaya/
                                                    NAPZA (Narkotika,
                                                    Alkohol, Psikotropika
                                                    dan Zat adiktif
                                                    lainnya) yang mampu
                                                    merubah perasaan,
                                                    fungsi mental dan
                                                    prilaku seseorang.

                             7.   Fight             Adalah melawan atau       15             37
                                                    menghadapi situasi
                                                    menekan (stressor).

                             8.   Flight            Adalah menghindari        16, 38         -
                                                    situasi menekan
                                                    (stressor).

           Gejala emosi pada 1.   Menarik diri      Merupakan percobaan       17, 39         -
           individu       yang    dari              untuk       menghindari
           mengalami      stres   lingkungan        interaksi dengan orang
           akibat                                   lain,       menghindari
           disharmonisasi                           hubungan        dengan
           keluarga.                                orang lain.

                             2.   Tidak             Tidak        memiliki     18             -
                                  memiliki          keinginan yang ingin
                                  harapan           diwujudkan.

                             3.   Merasa bodoh      Merasa tidak memiliki     19, 40         -
                                  dan tidak         pengetahuan dan tidak
                                  berguna           bermanfaat bagi orang
                                                    lain dan lingkungan.

                             4.   Ketakutan         Keseganan,                20             -
                                  yang              kekhawatiran      dan
                                  berlebihan        kegelisahan      yang
                                                    berlebihan dan terus-
                                                    menerus terjadi.
                                                                                                    10


   Variabel              Aspek            Indikator          Deskriptor                No. item
                                                                                     +          -
                                     5.   Marah         Sikap emosional yang     21, 41,      -
                                                        muncul akibat reaksi     54, 67
                                                        alam bawah sadar yang
                                                        terjadi secara spontan
                                                        dan pada umumnya
                                                        digunakan untuk
                                                        ekspresi penolakan.

                                     6.   Cemas         Merupakan suatu          42          -
                                                        perasaan subyektif
                                                        mengenai ketegangan
                                                        mental yang
                                                        menggelisahkan
                                                        sebagai reaksi umum
                                                        dari ketidakmampuan
                                                        mengatasi suatu
                                                        masalah atau tidak
                                                        adanya rasa aman.
                                                        Perasaan yang tidak
                                                        menentu ini pada
                                                        umumnya tidak
                                                        menyenangkan.

                 Gejala kognisi pada 1.   Konsentrasi   Menurunnya daya          23, 55,     43
                 individu       yang      menurun       pemusatan pemikiran      63
                 mengalami      stres                   kepada suatu objek
                 akibat                                 tertentu.
                 disharmonisasi
                 keluarga



       Uji validitas menggunakan rumus korelasi product moment dari Karl Pearson dengan

rumus sebagai berikut:

       rxy =          N∑XY − (∑X) (∑Y)

               √{N∑X2 − (∑X2)}{N∑Y2 −(∑Y2)}

       Keterangan :

       rxy      = koefisien relasi X dan Y2

       ∑XY      = jumlah hasil kali dari X dan Y

       X2       = kuadrat dari variabel X

       Y2       = kuadrat dari variabel Y
                                                                                    11


N           = jumlah responden

            Sedangkan untuk menghitung reliabilitas digunakan rumus Alpha dengan

bantuan statistical product and service solution (SPSS) 16 for windows dengan rumus

sebagai berikut:




Keterangan :
         = Reliabilitas Instrumen
K        = Banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal
∑σ²b = Jumlah varian butir
∑σ²t     = Jumlah varian total


Hasil dan Pembahasan

    Berdasarkan hasil angket disharmonisasi keluarga, dapat diketahui 9 siswa mengalami

disharmonisasi keluarga. 9 siswa yang memiliki skor disharmonisasi keluarga paling

tinggi ini akan diberikan angket yang kedua, yaitu angket stres akibat disharmonisasi

keluarga. Angket ini bertujuan untuk pengukuran awal (pre test). Berdasarkan hasil pre

test dapat diketahui 6 siswa kelas X TKR SMK Negeri 1 Buduran, Sidoarjo yang

mengalami stres yang tinggi akibat disharmonisasi keluarga.

       No.             Nama Subyek                     Skor
       1.                   TM                          146
       2.                   FI                          144
       3.                   HH                          142
       4.                   RK                          143
       5.                   DF                          144
       6.                   IL                          145
                                                                                  12


       Setelah diketahui siswa yang memiliki tingkat stres yang tinggi akibat

disharmonisasi keluarga, selanjutnya siswa tersebut akan diberikan perlakuan dengan

strategi pengubahan pola berpikir. Perlakuan diberikan secara kelompok berdasarkan

tahapan strategi pengubahan pola berpikir. Pemberian perlakuan dilakukan di ruang

bimbingan dan konseling kelompok SMK Negeri 1 Buduran, Sidoarjo. Pemberian

perlakuan akan dilakukan oleh peneliti.

           Setelah subyek mendapatkan perlakuan berupa strategi pengubahan pola

berpikir, maka selanjutnya dilakukan pengukuran akhir (post test) kepada 6 siswa yang

mempunyai skor stres yang tinggi akibat disharmonisasi keluarga dengan menggunakan

angket yang sama pada waktu dilakukan pre test.

       Hasil angket post-test di atas menunjukkan tingkat stres akibat disharmonisasi

keluarga siswa kelas X TKR SMK Negeri 1 Buduran, 6 responden yang masuk dalam

kategori memiliki tingkat stres yang tinggi akibat disharmonisasi keluarga pada hasil

post-test ini menunjukkan penurunan setelah dilakukan treatmen menggunakan strategi

pengubahan pola berpikir.

     No.          Nama                    Skor          Kategori
    1.             TM                      141           Sedang
    2.              FI                     140           Sedang
    3.             HH                      139           Sedang
    4.             RK                      140           Sedang
    5.             DF                      139           Sedang
    6.             IL                      140           Sedang


       Adanya penurunan tingkat stres akibat disharmonisasi keluarga juga diperkuat

oleh hasil analisis non parametric dengan uji jenjang bertanda wilcoxon. Berikut ini

sajian datanya:
                                                                                                13


                                                                                 Tanda
                    Pre test   Post test       Beda
No       Subjek                                             Jenjang              Jenjang
                     (Xi)        (Yi)         (Yi-Xi)
                                                                             +           -
1.        TM         146         141              -5          5              -         -5
2.         FI        144         140              -4          3              -         -3
3.        HH         142         139              -3          1,5            -        -1,5
4.        RK         143         140              -3          1,5            -        -1,5
5.        DF         144         139              -5          5              -         -5
6.         IL        145         140              -5          5              -         -5
                                                                      ∑      0         21



     Berdasarkan tabel hasil perhitungan di atas, diketahui bahwa nilai                       yang

diperoleh adalah 0 kemudian             dibandingkan dengan               dengan taraf signifikan

5% dan N=6, dari tabel T kritis untuk uji jenjang bertanda Wilcoxon bahwa nilai

       adalah 0 . Jika          ≤          berarti      ditolak dan         diterima. Dari hasil

penelitian di atas, diketahui bahwa           =          (0 = 0) maka hipotesis penelitian

diterima yaitu “Strategi pengubahan pola berpikir dapat menurunkan stres akibat

disharmonisasi keluarga pada siswa kelas X TKR SMK Negeri 1 Buduran Sidoarjo”.


Simpulan Saran

        Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa terdapat

perbedaan yang signifikan pada skor stres akibat disharmonisasi keluarga                     antara

sebelum dan sesudah penggunaan strategi pengubahan pola berpikir. Hal ini berarti ada

penurunan stres akibat disharmonisasi keluarga antara sebelum dan sesudah penggunaan

strategi pengubahan pola berpikir. Dengan demikian strategi pengubahan pola berpikir

dapat mengurangi stres akibat disharmonisasi keluarga.
                                                                                     14


       Saran diberikan bagi petugas bimbingan dan bagi peneliti lain. Melalui hasil yang

telah dicapai tersebut, diharapkan konselor dapat mempergunakan strategi pengubahan

pola berpikir sebagai salah satu strategi dalam bimbingan dan konseling untuk mengatasi

masalah siswa yang mengalami stres, khususnya stres yang disebabkan karena adanya

disharmonisasi keluarga

       Penggunaan metode pengumpulan data pada penelitian ini terbatas pada

penggunaan angket dan pemberian perlakuan dengan strategi pengubahan pola berpikir

yang hanya dilakukan dalam 6 kali pertemuan. Dibutuhkan waktu yang lebih banyak

dalam melaksanakan perlakuan dengan menggunakan strategi pengubahan pola berpikir,

sehingga memungkinkan tercapainya tujuan untuk mengurangi tingkat stres akibat

disharmonisasi keluarga secara optimal. Pemberian perlakuan dalam penelitian ini

dilakukan dengan berkelompok, diharapkan bagi peneliti lain agar memberikan strategi

pengubahan pola berpikir secara individu.
                                                                                          15


                                       DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : PT. Rineka
     Cipta

Chritian.         2009.        Ciri-ciri         calon        keluarga        “bermasalah”.
      (Online).(http://www.sabdaspace.org/ciri_ciri_calon_keluarga_bermasalah. diakses pada
      16 Februari 2011)


Cormier, W.H. Cormier, L.S. 1985. Interviewing Strategies for Helpers Fundamental Skill and
    Behavioral Interventions.2 ed. Monterey, California: Publishing Company


Gunarsa, Singgih D. 2003.Azas-Azas Psikologi Keluarga Idaman. Jakarta, Gunung Mulia.


Gunarsa, Singgih D. 2004. Dari Anak Sampai Usia Lanjut: Bunga Rampai Psikologi Anak.
     Jakarta: BPK


Hawari, Dadang. 2008. Manajemen Stres, Cemas dan Depresi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:57
posted:7/9/2012
language:
pages:15