Docstoc

Contoh skripsi BK Bab 4

Document Sample
Contoh skripsi BK Bab 4 Powered By Docstoc
					                                BAB IV


              HASIL ANALISIS DATA PENELITIAN


A. Persiapan penelitian

      Sebelum melaksanakan penelitian, ada beberapa hal yang harus

   dipersiapkan. Hal-hal tersebut meliputi penetapan masalah serta judul

   penelitian, penyusunan proposal penelitian, seminar proposal, penentuan

   lokasi penelitian, permohonan izin penelitian, serta uju coba instrumen.

   1. Penetapan masalah dan judul penelitian

      Menurut Sandjaja dan Heriyanto (2006:44) langkah pertama dalam

      melaksanakan penelitian adalah menemukan masalah yang akan

      diteliti. Jika ada kesenjangan antara teori dengan kenyataan yang ada,

      maka permasalahan tersebut dapat diteliti. Masalah tersebut kemudian

      dirumuskan untuk mempertajam pokok permasalahannya.

      Adapun masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah minat

      siswa dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling di SMA

      Unggulan BPPT Al-Fattah Lamongan. Permasalahan ini ditemukan

      dari hasil studi pendahuluan di SMA tersebut. Melalui konsultasi

      dengan dosen pembimbing skripsi, maka permasalaha tersebut dapat

      diangkat sebagai bahan untuk diteliti.

      Berdasarkan latar belakang permasalahan yang ada di lapangan maka

      ditetapkan judul penelitian tersebut adalah penerapan diskusi

      kelompok untuk meningkatkan minat siswa kelas X dalam
   memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling di SMA Unggulan

   BPPT Al-Fattah Lamongan.

2. Menyusun proposal penelitian

   Kegiatan yang harus dilalui sebelum melaksanakan penelitian adalah

   menyusun proposal penelitian. Adapun sistematika dalam penyusunan

   proposal penelitian adalah:

   a. Pendahuluan

      1) Latar belakang masalah

      2) Rumusan masalah

      3) Tujuan penelitian

      4) Manfaat penelitian

      5) Definisi, asumsi, dan keterbatasan

   b. Kajian pustaka

   c. Metode penelitian

   d. Daftar pustaka

3. Seminar proposal

   Setelah menyusun proposal penelitian, langkah selanjutnya adalah

   seminar proposal. Dalam seminar ini akan didapatkan masukan-

   masukan dari       dosen   penguji   dan dosen   pembimbing untuk

   memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada dalam proposal

   penelitian. Jika proposal tersebut selesai direvisi, maka siap

   ditunjukkan ke lokasi penelitian.
   4. Lokasi penelitian

      Penelitian ini dilaksanakan di SMA Unggulan BPPT Al-Fattah

      Lamongan yang berada di dalam Yayasan Pondok Pesantren Al-Fattah

      Lamongan. Sekolah tersebut dipilih sebagai lokasi penelitian dengan

      pertimbangan sebagai berikut:

      a. Hasil studi pendahuluan diketahui sekitar 80% siswa kelas X yang

          menunjukkan kurang berminat dalam memanfaatkan layanan

          bimbingan dan konseling di sekolah.

      b. Adanya izin dari kepala sekolah dan konselor di SMA Unggulan

          BPPT Al-Fattah Lamongan untuk mengadakan penelitian terkait

          permasalahan tentang BK yang ada di sekolah tersebut.

   5. Permohonan izin penelitian

      Surat permohonan izin penelitian didapatkan dari Fakultas Ilmu

      Pendidikan   untuk    mengajukan   permohonan     izin   mengadakan

      penelitian di SMA Unggulan BPPT Al-Fattah Lamongan pada tanggal

      23 Mei 2011 dan diserahkan ke sekolah pada tanggal 25 Mei 2011.

   6. Uji coba instrumen

      Uji coba instrumen dilakukan pada siswa kelas X-1 dan X-2 IPA

      Unggulan SMA Matholiul Anwar Lamongan.

B. Pelaksanaan Penelitian

   Setelah melaksanakan persiapan penelitian, maka penelitian dilakukan

   pada bulan Mei-Juni 2011 di SMA Unggulan BPPT Al-Fattah Lamongan.
Penyusunan jadwal penelitian ini disesuaikan dengan jadwal siswa kelas

X-1 SMA Unggulan BPPT Al-Fattah Lamongan agar tidak mengganggu

kegiatan belajar mengajar dan UAS (Ujian Akhie Sekolah) yang sedang

berlangsung. Penyusunan jadwal penelitian ini dibantu oleh konselor

sekolah.

Adapun jadwal kegiatan penelitian di SMA Unggulan BPPT Al-Fattah

dapat diuraikan sebagai berikut:

                                   Tabel 4.1

                       Jadwal Kegiatan Penelitian

No         Hari, Tanggal           Uraian Kegiatan                  Keterangan
1.         Rabu, 25 Mei 2011       Menyerahkan                 surat SMA Unggulan
                                   permohonan izin penelitian       BPPT Al-Fattah
                                                                    Lamongan
2.         Kamis, 26 Mei 2011       Menyerahkan               surat SMA Matholiul
                                      permohonan        izin    uji Anwar
                                      validitas    di          SMA Lamongan
                                      Matholiul            Anwar
                                      Lamongan
                                    Uji validitas di kelas X-1
                                      dan X-2 Unggulan IPA
                                      SMA Matholiul Anwar
                                      Lamongan
3.         Minggu, 29 Mei 2011     Pengambilan data pre-test di Di ruang kelas
                                                                    X-1
                                   kelas X-1 SMA Unggulan

                                   BPPT Al-Fattah Lamongan
   4.       Selasa, 31 Mei 2011        Perlakuan I                 Di ruang kelas
                                                                   XII-2
   5.       Sabtu, 4 Juni 2011         Perlakuan II                Di ruang kelas
                                                                   XII-2
   6.       Selasa, 7 Juni 2011        Perlakuan III               Di ruang kelas
                                                                   XII-2
   7.       Kamis, 9 Juni 2011         Perlakuan IV                Di ruang kelas
                                                                   XII-2
   8.       Sabtu, 11 Juni 2011        Perlakuan V dan pemberian D ruang kelas
                                       post-test                   XII-1



C. Penyajian Data

   1. Data hasil angket awal (pre-test)

        Pemberian angket awal (pre-test) bertujuan untuk mengetahui skor

        minat siswa dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling.

        Angket awal ini diberikan kepada 26 siswa kelas X-1 SMA Unggulan

        BPPT Al-Fattah Lamongan dan kemudian didapatkan data 5 orang

        siswa yang terindikasi mempunyai minat rendah dalam memanfaatkan

        layanan bimbingan dan konseling. Adapun hasil pre-test dapat dilihat

        dalam tabel sebagai berikut:
                                 Tabel 4.2
                            Skor Angket Pre-test

  No.        Nama        Skor                   No.        Nama       Skor

    1                                           14
             ARY          90                               MJN         114
    2                                           15
             DAW         107                                AS         119
    3                                           16
              IDS         81                                FL         122
    4                                           17
              AM         110                                MH         127
    5                                           18
             MHA         100                                 SI        110
    6                                           19
              JBS        121                               MTN         134
    7                                           20
             RAA         108                               KAU         126
    8                                           21
              MR          85                                HH         111
    9                                           22
             RHA         116                               WHP         120
   10                                           23
             VAP         101                                MM         120
   11                                           24
             AFP         137                                ZE          33
   12                                           25
             YAK          82                                AL          81
   13                                           26
             DSF         134                               ANH          83



    Berdasarkan tabel diatas, diketahui 5 siswa yang memiliki skor rendah dari

hasil pre test, yaitu IDS, ZE, AL, ANH, dan YAK. Skor ini menunjukkan

adanya minat yang rendah dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan

konseling, sehingga lima siswa tersebut menjadi subyek penelitian.
              Pengambilan siswa yang memiliki skor rendah diambil dengan

        menggunakan      rumus Standar Deviasi. Hasil perhitungan mean (x) dan

        Standar Deviasi dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

                                           Tabel 4.3
                              Perhitungan Mean dan Standar Deviasi

 No.          Nama           X (Skor)       Mean (x¯)             X - x¯    (X - x‾)2
  1           ARY               90          106, 615             -16,615     276,058
  2           DAW              107          106, 615              0,385        0,148
  3            IDS              81          106, 615             -25,615     656,128
  4            AM              110          106, 615              3,385       11,458
  5           MHA              100          106, 615              -6,615      43,758
  6            JBS             121          106, 615             14,385      206,928
  7           RAA              108          106, 615              1,385        1,918
  8            MR               85          106, 615             -21,615     467,208
  9           RHA              116          106, 615              9,385       88,078
 10           VAP              101          106, 615              -5,615      31,528
 11           AFP              137          106, 615             30,385      923,248
 12           YAK               82          106, 615             -24,615     605,898
 13           DSF              134          106, 615             27,385      749,938
 14           MJN              114          106, 615              7,385       54,538
 15             AS             119          106, 615             12,385      153,388
 16             FL             122          106, 615             15,385      236,698
 17            MH              127          106, 615             20,385      415,548
 18             SI             110          106, 615              3,385       11,458
 19           MTN              134          106, 615             27,385      749,938
 20           KAU              126          106, 615             19,385      375,778
 21            HH              111          106, 615              4,385       19,228
 22           WHP              120          106, 615             13,385      179,158
 23            MM              120          106, 615             13,385      179,158
 24             ZE              33          106, 615             -73,615    5419,168
 25            AL               81          106, 615             -25,615     656,128
 26           ANH               83          106, 615             -23,615     557,668
Total                                                                      13070,148
 Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa:

 a. Mean

   Mean

   Mean

   Mean = 106,615

 b. Standar Deviasi

    Perhitungan SD dari data hasil penelitian adalah sebagai berikut:


   SD 
             
            X  x   2


               




       = 22, 421

      Dari hasil perhitungan SD di atas diketahui bahwa nilai SD = 22,421.

Untuk mengetahui jenjang nilai tinggi, sedang, dan rendah, terlebih dahulu

menentukan batas antara skor tinggi dan rendah. Perhitungan untuk

mengetahui batas antara skor tinggi, sedang, dan rendah adalah sebagai

berikut:

Skor Tinggi = (Mean + 1SD) ke atas

Skor Tinggi = (106,615 + 22,421)

            = 129,036 ke atas

Skor Sedang = (Mean – 1SD) sampai (Mean +1SD)
     Skor Sedang = (106,615- 22,421) sampai (106,615 + 22,421)

                           = 84,194 sampai 129,036

     Skor Rendah = (Mean – 1SD) ke bawah

     Skor Rendah = (106,615- 22,421) ke bawah

                           = 84,194 ke bawah

    Kelima siswa yang memiliki skor rendah dalam memanfaatkan layanna

bimbingan dan konseling dapat digambarkan dalam histogram hasil pre-test

berikut ini:

                     100
                      80
        Skor siswa




                      60
                      40
                                                                            Pre-test
                      20
                       0
                            IDS       YAK         ZE             AL   ANH
                                               Nama Siswa


                                          Histogram 4.1
                                       Hasil Analisis Pre-test


             Dari hasil perhitungan SD dan batas skor antara tinggi, sedang, dan

    rendah, maka dapat ditetapkan pengkategorian skor angket minat siswa dalam

    memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling dengan rincian sebagai

    berikut:
                                 Tabel 4.4
                        Pedoman Pengkategorian Skor

No.             Kategori                  Jenjang Nilai

 1.              Tinggi                     130 – 137
 2.              Sedang                      85 – 129
 3.              Rendah                      33 – 84



 2. Perlakuan


     Dalam penelitian ini, perlakuan yang diberikan kepada siswa untuk

meningkatkan minatnya dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan

konseling adalah dengan kegiatan diskusi kelompok. Penerapan diskusi

kelompok dilaksanakan sebanyak lima kali pertemuan untuk hasil yang

maksimal. Adapun langkah-langkah yang dilaksanakan dalam setiap

pemberian perlakuan diskusi kelompok adalah sebagai berikut:

a.    Tahap Persiapan

      Mempersiapkan sarana dan fasilitas yang dibutuhkan saat melakukan

      diskusi kelompok.

b.    Tahap Peralihan

      Pada tahap ini pemimpin diskusi bertanya tentang kesiapan anggota

      kelompok untuk memulai kegiatan diskusi kelompok.

c.    Tahap Kegiatan
      Pemimpin/anggota        kelompok    mengutarakan   topik   kemudian

      membahasnya secara mendalam dan tuntas.

d.    Tahap Pengakhiran

      Menyimpulkan hasil dari diskusi kelompok dan pemimpin kelompok

      dapat membuat janji untuk pertemuan berikutnya.

     Adapun uraian dalam pemberian perlakuan adalah sebagai berikut:

a. Pertemuan pertama

  Hari/ tanggal           : Selasa, 31 Mei 2011

  Pokok bahasan           : Perkenalan, rasionalisasi diskusi kelompok, dan

                              membahas pengetahuan siswa tentang bimbingan

                              dan konseling

  Tujuan                 :

  1) Membentuk hubungan

  2) Menciptakan keakraban diantara anggota kelompok diskusi serta

      peneliti

  3) Agar siswa mengetahui dan memahami tujuan dari kegiatan diskusi

      kelompok

  4) Agar peneliti mengetahui sejauh mana pengetahuan dan pemahaman

      siswa tentang BK di sekolah

  Kegiatan                :

  (1) Peneliti melakukan pembentukan hubungan (perkenalan) dengan

       mengumpulkan lima siswa yang menjadi subyek penelitian. Peneliti
      dan subjek membentuk lingkaran dengan posisi subyek menghadap

      konselor.

  (2) Peneliti menjelaskan pengertian dari diskusi kelompok kepada lima

     siswa serta tahap-tahapnya, dan diharapkan mampu memahami dan

     mempraktekkannya.

  (3) Peneliti bertanya kepada siswa tentang BK untuk menggali

     pengetahuan mereka tentang bimbingan dan konseling di sekolah.

  (4) Peneliti bertindak sebagai pemimpin sekaligus pembimbing dalam

     kegiatan diskusi kelompok.

b. Pertemuan kedua

  Hari/ tanggal        : Sabtu, 4 juni 2011

  Pokok bahasan        : Permasalahan yang dihadapi siswa di sekolah serta

                           solusi yang didapatkan selama ini

  Tujuan               : Siswa lebih terbuka dan mau berbagi dengan

                           anggota kelompok, serta mengetahui peran BK di

                           sekolah

  Kegiatan             :

  1) Peneliti bertanya kepada subyek tentang masalah-masalah yang sering

    dialami siswa di sekolah.

  2) Peneliti bertanya kepada subyek tentang solusi yang didapatkan terkait

    masalah yang dialami
  3) Anggota kelompok saling menyampaikan pendapat terkait masalah

    yang pernah dialami dan solusi yang didapatkan

  4) Peneliti menyimpulkan pendapat masing-masing anggota kelompok dan

    mengaitkannya dengan peran BK di sekolah

  5) Peneliti bertindak sebagai pemimpin sekaligus pembimbing dalam

    kegiatan diskusi kelompok

c. Pertemuan ketiga

  Hari/ tanggal        : Selasa, 07 Juni 2011

  Pokok bahasan        : Hambatan dan permasalahan yang dihadapi

                           terkait dengan BK.

  Tujuan               : Siswa saling berbagi dan menemukan solusi yang

                           berkaitan dengan bimbingan dan konseling.




  Kegiatan             :

  1) Masing-masing anggota kelompok mengungkapkan alasan mereka

      enggan memanfaatkan layanan BK yang ada di sekolah

  2) Anggota kelompok saling berbagi pengalaman terkait dengan BK di

      sekolah

  3) Anggota kelompok saling bertukar fikiran serta memberi saran

  4) Peneliti bertindak sebagai pemimpin sekaligus pembimbing dalam

      kegiatan diskusi kelompok.
d. Pertemuan keempat

  Hari/ tanggal        : Kamis, 09 Juni 2011

  Pokok bahasan        : Ruang lingkup bimbingan dan konseling

  Tujuan               : Agar siswa lebih memahami tentang bimbingan

                           dan konseling.

  Kegiatan             :

  1) Peneliti mengulas tentang pokok bahasan pada pertemuan sebelumnya

  2) Peneliti menjelaskan tentang ruang lingkup BK yang meliputi arti,

    fungsi, tujuan, serta berbagai layanan dalam bimbingan dan konseling

  3) Anggota kelompok menyampaikan pendapatnya mengenai topik yang

    dibahas, saling bertanya, dan bertukar pikiran

  4) Peneliti bertindak sebagai pemimpin sekaligus pembimbing dalam

    kegiatan diskusi kelompok

e. Pertemuan kelima

  Hari/ tanggal        : Sabtu, 11 Juni 2011

  Pokok bahasan        : Pengakhiran kegiatan diskusi kelompok dan

                           pemberian post-test

  Tujuan               : Untuk mengetahui kesan-kesan dan manfaat yang

                           diperoleh   masing-masing   anggota   kelompok

                           selama mengikuti kegiatan diskusi kelompok.

  Kegiatan             :

  1) Menyimpulkan dari keseluruhan kegiatan diskusi kelompok
2) Menyampaikan kesan selama mengikuti diskusi kelompok

3) Menyampaikan manfaat yang diperoleh selama mengikuti diskusi

    kelompok

3. Data hasil angket akhir (post-test)

        Setelah diberikan perlakuan diskusi kelompok pada kelimat siswa

   yang memiliki minat rendah dalam memanfaatkan layanan bimbingan

   dan konseling di sekolah, maka kegiatan selanjutnya adalah

   mengadakan post-test yaitu menyebarkan kembali angket kepada siswa

   untuk mengetahui skor siswa setelah diberikan perlakuan. Data yang

   diperoleh dari hasil post- test adalah sebagai berikut:

                                 Tabel 4.5
                          Hasil Analisis Post-test
   No      Subyek Penelitian           Skor                  Kategori

   1.      IDS                           105                 Sedang

   2.      YAK                           103                 Sedang

   3.      ZE                            111                 Sedang

   4.      AL                            133                 Tinggi

   5.      ANH                           113                 Sedang



   Berdasarkan hasil analisis angket post-test tersebut dapat digambarkan

   dalam histogram sebagai berikut:
                     140
                     120
                     100


        Skor siswa
                      80
                      60
                      40                                                         Post-test
                      20
                       0
                             IDS     YAK       ZE         AL          ANH
                                            Nama Siswa


                                        Histogram 4.2
                                    Hasil Analisis Post-test

4. Data hasil angket awal (pre-test) dan data hasil angket akhir (post-test)

   Setelah mendapatkan data pre-test dan post-test, maka langkah

   selanjutnya adalah membandingkan antara hasil angket awal dan akhir.

   Adapun perbandingannya dapat dilihat dalam tabel dan histogram

   berikut ini:

                                           Tabel 4.6

                              Hasil Analisis Pre-test dan Post-test

   No                  Subyek Penelitian         Skor Pre-test        Skor Post-test

   1.                  IDS                       81                   105

   2.                  YAK                       82                   103

   3.                  ZE                        33                   111

   4.                  AL                        81                   133

   5.                  ANH                       83                   113

   Jumlah                                        360                  565
                   Rata-rata                            72                   113




             140
             120
             100
Skor Siswa




             80
             60                                                                    Pre-test
             40                                                                    Post-test
             20
              0
                        IDS       YAK        ZE           AL           ANH
                                          Nama Siswa



                                          Histogram 4.3
                               Hasil Analisis Pre-test dan Post-test
 D. Pembahasan Hasil Analisis Data

              1. Analisis data individual

                   a.    IDS (Subyek 1)

                         Skor angket pre-test yang didapatkan IDS adalah 81 yang

                         termasuk dalam kategori rendah. Hasil angket ini menunjukkan

                         bahwa IDS merasa ragu untuk datang ke ruang BK karena takut

                         dianggap sebagai anak yang nakal. Selain itu, jika mengikuti

                         diskusi kelompok, IDS tidak mendengarkan pendapat dari teman-

                         temannya, serta enggan bertanya kepada guru BK informasi

                         tentang jurusan. Dalam pelaksanaan diskusi kelompok terungkap

                         bahwa ketidaktertarikan IDS terhadap BK adalah karena masih
melekatnya persepsi negatif terhadap peran BK di sekolah, yaitu

sebagai tempat menghukum siswa yang bermasalah. IDS tidak

mau berhubungan dengan BK juga karena takut diolok-olok

temannya dan dianggap sebagai siswa yang nakal.

Setelah dilakukan diskusi kelompok selama lima kali pertemuan,

IDS menyatakan bahwa dirinya sudah tidak takut lagi untuk

datang ke ruang BK untuk berkonsultasi atau bertanya tentang

informasi yang dia butuhkan, jika diadakan diskusi kelompok dia

juga akan mendengarkan pendapat dari teman-temannya, serta

jika guru BK mengadakan kegiatan konseling kelompok dia

menyatakan siap mengikutinya karena menurutnya pasti banyak

manfaatnya. Hasil skor post-test IDS juga menunjukkan

perubahan sebesar 24 angka, dari 81 menjadi 105 dan termasuk

dalam kategori sedang. Perubahan skor IDS antara pre-test dan

post-test dapat dilihat pada grafik berikut ini:

 120
 100
  80
  60
                                                     Perubahan skor
  40
  20
   0
              Pre-test                Post-test


                               Grafik 4.1

                         Analisis Individual IDS
b.   YAK (Subyek 2)

     Hasil skor pre-test yang didapat YAK sebesar 82 dan termasuk

     kategori rendah. Dari hasil angket diketahui bahwa YAK juga

     ragu-ragu untuk datang ke ruang BK, enggan berkonsultasi

     kepada guru BK jika mempunyai masalah ataupun tentang

     jurusan yang sesuai serta cara mengatasi kesulitan belajar yang

     dialaminya. Dari hasil diskusi kelompok juga terungkap bahwa

     hal ini disebabkan karena masih merasa takut dengan BK di

     sekolah, takut dianggap siswa yang nakal jika berhubungan

     dengan BK. Kurangnya sosialisasi tentang BK juga menjadikan

     persepsi negatif siswa tentang BK di sekolah masih melekat kuat.

     Setelah mengikuti diskusi kelompok selama lima kali pertemuan,

     YAK menyatakan bahwa dia juga sudah tidak takut lagi untuk

     datang ke ruang BK dan berkonsultasi kepada guru BK.

     Menurutnya, berkonsultasi kepada guru BK akan mendapatkan

     solusi yang lebih baik daripada bercerita kepada teman. Hasil

     angket post-test juga menunjukkan adanya perubahan skor

     sebesar 21 angka, dari 82 menjadi 103 dan termasuk kategori

     sedang. Perubahan skor YAK antara pre-test dan post-test dapat

     dilihat pada grafik berikut ini:
       120
       100
        80
        60
                                                                    perubahan skor
        40
        20
         0
                     pre-test             Post-test



                                  Grafik 4.2

                           Analisis Individual YAK



c.   ZE (Subyek 3)

     Skor angket pre-test yang didapatkan ZE adalah 33 dan termasuk

     kategori   rendah.     Berdasarkan   hasil       angket   pre-test,   ZE

     menunjukkan ketidaktertarikan yang besar dengan BK. Hal ini

     dapat dilihat dari hasil angket yang banyak tidak terisi serta

     sikapnya yang acuh atau tidak peduli pada saat awal pelaksanaan

     diskusi kelompok. Selain itu, hasil angket juga menunjukkan

     bahwa ZE enggan datang ke ruang BK untuk berkonsultasi, serta

     tidak memperhatikan guru BK ketika memberi materi di kelas.

     Dalam pelaksanaan diskusi kelompok, terungkap bahwa ZE

     enggan datang ke ruang BK secara sukarela karena takut

     dianggap sebagai siswa yang nakal. Dia juga merasa bosan

     dengan cara guru BK dalam menyampaikan materi di kelas.
Setelah pelaksanaan diksusi kelompok selama lima kali

pertemuan, ZE menyatakan akan berkonsultasi kepada guru BK

jika mempunyai masalah, berkonsultasi tentang jurusan yang

sesuai dengan dirinya agar tidak salah pilih. ZE juga tidak takut

lagi dianggap sebagai siswa yang nakal jika berhubungan dengan

BK. Dia menyatakan akan lebih maksimal memanfaatkan BK di

sekolah karena ternyata mempunyai banyak manfaat. Hal ini juga

terlihat dari pengisian angket post-test yang menunjukkan

kenaikan skor sebesar 78 angka, dari skor awal 33 menjadi 111.

Berikut ini grafik yang menunjukkan perubahan skor antara pre-

test dan post-test:

 120

 100

  80

  60
                                                        Perubahan skor
  40

  20

    0
               Pre-test                Post-test


                                Grafik 4.3

                          Analisis Individual ZE
d.   AL (Subyek 4)

     Skor angket pre-test yang didapatkan AL adalah 81 dan termasuk

     dalam kategori rendah. Berdasarkan angket yang telah diisi

     diketahui bahwa AL juga merasa ragu untuk datang ke ruang BK

     seperti teman-temannya yang lain, tidak memperhatikan guru BK

     ketika memberi materi di kelas, serta enggan berkonsultasi

     kepada guru BK jika mempunyai masalah.

     Dalam diskusi kelompok terungkap bahwa AL juga mempunyai

     alasan yang sama mengapa dia ragu untuk datang ke ruang BK

     dan berkonsultasi dengan guru BK, yaitu takut dianggap sebagai

     siswa yang nakal oleh teman-temannya. Terbatasnya jam masuk

     kelas untuk BK menjadikan AL kurang mengetahui apa saja

     kegiatan yang diadakan oleh BK.

     Setelah mengikuti diskusi kelompok selama lima kali pertemuan,

     AL mengaku sudah tidak ragu lagi untuk berhubungan dengan

     guru BK serta tidak takut lagi dianggap sebagai siswa yang nakal

     oleh teman-temannya. Dia lebih memilih berkonsultasi tentang

     masalahnya kepada guru BK daripada dengan teman-temannya

     karena lebih bisa menyimpan rahasia dan memberi solusi lebih

     baik. Jika guru BK menyampaikan materi, dia juga akan

     mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan tidak sibuk dengan

     kegiatan yang tidak berarti. Hasil pengisian angket post-test AL
     juga menunjukkan perubahan sebesar 52 angka, yakni dari 81

     menjadi 133 yang termasuk dalam kategori tinggi. Perubahan

     skor AL antara pre-test dan post-test dapat dilihat pada grafik

     berikut ini:

      140
      120
      100
       80
       60                                                    Perubahan skor
       40
       20
         0
                    Pre-test                 Post-test


                                     Grafik 4.4

                               Analisis individual AL



e.   ANH (Subyek 5)

     ANH mendapatkan skor angket pre-test sebesar 83 dan termasuk

     dalam kategori rendah. Hasil angket ini menunjukkan bahwa

     ANH juga sama seperti teman-temannya yang lain, yakni ragu

     untuk datang dan berkonsultasi kepada guru BK karen atakut

     dianggap sebagai siswa nakal oleh teman-temannya. Dia juga

     merasa tidak nyaman mengikuti diskusi kelompok yang diadakan

     oleh guru BK, serta tidak mendengarkan ketika guru BK

     menyampaikan informasi di kelas.
Setelah mengikuti diskusi kelompok selama lima kali pertemuan,

ANH mengakui sudah tidak ragu untuk berhubungan dengan guru

BK dan tidak takut lagi dianggap sebagai anak yang nakal. Dia

juga merasa senang dan nyaman mengikuti diskusi kelompok,

bahkan bersedia mengajak teman-temannya untuk mengikutinya.

Jika guru BK menyampaikan materi di kelas, ANH berjanji tidak

akan sibuk dengan urusannya sendiri. Hal ini juga terlihat dari

pengisian angket post-test yang menunjukkan perubahan skor dari

83 menjadi 113 dan termasuk kategori sedang. Berikut ini grafik

yang menunjukkan perubahan skor ANH antara pre-test dan post-

test:

 120
 100
   80
   60
                                                        Perubahan skor
   40
   20
    0
             Pre-test             Post-test

                          Grafik 4.5
                    Analisis Individual ANH
2. Analisis kelompok

   Analisis kelompok terhadap data yang telah terkumpul dilakukan

   setelah subyek penelitian diberikan pre-test, perlakuan dengan diskusi

   kelompok, serta memberikan post-test.

   Penelitian ini menggunakan teknik statistik untuk menjawab rumusan

   masalah atau untuk menguji hipotesis. Sesuai dengan judul penelitian,

   maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:

   a. Hipotesis alternatif (Ha) : ada perbedaan minat siswa kelas X

      dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling di SMA

      Unggulan BPPT Al-Fattah Lamongan antara sebelum dan sesudah

      diberikan diskusi kelompok.

   b. Hipotesis nol (Ho) : tidak ada perbedaan minat siswa kelas X

      dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling di SMA

      Unggulan BPPT Al-Fattah Lamongan antara sebelum dan sesudah

      diberikan diskusi kelompok.

      Untuk menguji benar tidaknya hipotesis yang diajukan, maka

      dilakukan analisis statistik non parametrik dengan Uji Tanda (Sign-

      test).   Analisis   data   hasil   pre-test   dan   post-test   dengan

      menggunakan Uji Tanda dapat dilihat pada tabel berikut ini:

                                    Tabel 4.7

                      Analisis Hasil Pre-test dan post-test
                            Pre-test   Post-test     Arah
No           Nama                                                    Tanda
                             (X B)      (X A)      Perbedaan
1.            IDS              81        105        XA > XB               +

2.           YAK               82        103        XA > XB               +

3.            ZE               33        111        XA > XB               +

4.            AL               81        133        XA > XB               +

5.           ANH               83        113        XA > XB               +



     Tabel diatas menunjukkan banyaknya tanda (+) adalah 5, sehingga

     X (banyaknya tanda yang sedikit) adalah 0 dengan taraf α (taraf

     kesalahan) sebesar 5% (0,05). Berdasarkan pada tabel binominal

     dengan N=5 dan X=0, diperoleh р (kemungkinan harga dibawah

     Ho) = __________. Bila taraf α sebesar 0,05 berarti nilainya lebih

     besar dari________, maka Ho ditolak. Jadi, berdasarkan analisis

     data tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol (Ho) dalam

     penelitian ini yang berbunyi “tidak ada perbedaan minat siswa

     kelas X dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling di

     SMA Unggulan BPPT Al-Fattah Lamongan antara sebelum dan

     sesudah diberikan diskusi kelompok” ditolak dan hipotesis

     alternatif (Ha) yang berbunyi “ada perbedaan minat siswa kelas X

     dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling di SMA

     Unggulan BPPT Al-Fattah Lamongan antara sebelum dan sesudah
                     diberikan diskusi kelompok” dapat diterima. Hal ini menunjukkan

                     bahwa ada perubahan yang positif terkait minat siswa dalam

                     memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling setelah diberikan

                     diskusi kelompok.

                     Perbedaan dan peningkatan skor minat siswa dalam memanfaatkan

                     layanan bimbingan dan konseling antara pre-test dan post-test

                     dapat dilihat dalam grafik berikut ini:




             140
             120
             100
Skor siswa




             80
                                                                            Pre-test
             60
                                                                            Post-test
             40
             20
              0
                    IDS        YAK          ZE         AL      ANH



 E. Pembahasan Hasil Penelitian

              Berdasarkan hasil angket pre-test diketahui ada 5 siswa yang memiliki

              minat rendah dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling di

              sekolah. Untuk meningkatkan minat siswa tersebut diberikan perlakuan

              berupa diskusi kelompok. Hal ini dimaksudkan agar siswa mampu

              memanfaatkan berbagai layanan BK untuk membantu menyelesaikan

              permasalahan yang dihadapinya di sekolah, baik masalah pribadi, sosial,
maupun yang terkait dengan kegiatan belajar mengajar. Setelah pemberian

perlakuan, hasil yang didapatkan yaitu meningkatnya minat siswa dalam

memanfaatkan layanan BK di sekolah yang diukur kembali dengan

menggunakan angket post test. Hal ini dapat diketahui dari hasil Uji tanda

dimana nilai p = ________ harga yang lebih kecil dari nilai α = 0,05 yang

berarti Ho ditolak dan Ha diterima. Ini diartikan bahwa ada perbedaan

minat siswa kelas X dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan

konseling di sekolah.

Pada saat pelaksanaan diskusi kelompok, semua siswa yang menjadi

subyek penelitian mampu melaksanakan setiap tahapan kegiatan dengan

baik, sehingga terjadi perubahan yang positif pada diri konseli. Hal ini

dapat dilihat dari hasil skor pre-test dan post-test dengan menggunakan

angket minat dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling. IDS

mengalami peningkatan skor dari 81 menjadi 105, YAK juga mengalami

peningkatan skor dari 82 menjadi 103, ZE mengalami peningkatan yang

signifikan dari 33 menjadi 111, AL mengalami peningkatan skor dari 81

menjadi 133, dan ANH mengalami peningkatan skor dari 83 menjadi 113.

Sikap konseli selama mengikuti kegiatan diskusi kelompok sangat

kooperatif dan aktif. Mereka terlihat antusias dan menunjukkan rasa ingin

tahu yang besar untuk lebih mengenal BK yang ada di sekolah. Hasibuan

(2004:88) berpendapat bahwa diskusi kelompok adalah suatu proses yang

teratur dengan melibatkan sekelompok siswa dalam interaksi tatap muka
kooperatif   yang   optimal   dengan   tujuan   berbagi   informasi   atau

pengalaman, mengambil keputusan atau memecahkan suatu masalah.

Sedangkan menurut TIM MKDK (1991:62) tujuan diskusi kelompok

adalah: 1) memberi kesempatan pada setiap peserta untuk mengambil

suatu pelajaran dari pengalaman-pengalaman peserta lain dalam mencari

jalan keluar suatu masalah; 2) memberikan suatu kesadaran pada setiap

peserta, bahwa setiap orang itu mempunyai masalah sendiri-sendiri; 3)

mendorong individu yang tertutup dan sukar mengutarakan masalahnya,

untuk berani mengutarakan masalahnya; 4) kecenderungan mengubah

sikap dan tingkah laku tertentu, setelah mendengarkan pandangan kritikan

atau saran dari teman anggota kelompok.

              Pada uraian di atas dijelaskan bahwa salah satu tujuan dari

kegiatan diskusi kelompok adalah memberikan suatu kesadaran pada

setiap peserta, bahwa setiap orang itu mempunyai masalah sendiri-sendiri.

Oleh karena itu, melalui diskusi kelompok ini diupayakan agar siswa

merubah pemikiran dan pandangan mereka tentang BK di sekolah, dari

sesuatu yang menyeramkan dan dijauhi menjadi sesuatu yang bersahabat

dan memberi banyak manfaat. Hal ini dapat diperoleh melalui kegiatan

saling bertukar pikiran, mendengarkan pandangan, pengalaman, kritikan

atau saran dari teman anggota kelompok, sehingga mampu memecahkan

masalah bersama dan mengambil keputusan
Kegiatan diskusi kelompok ini dilaksanakan sebanyak lima kali

pertemuan. Pada pertemuan pertama adalah pembinaan hubungan untuk

membentuk keakraban antar anggota kelompok. Selain itu, pada

pertemuan ini juga menggali pengetahuan siswa tentang bimbingan dan

konseling. Pada pertemuan ini mereka masih memperlihatkan pandangan

negatif dan rasa takut dengan BK di sekolah. Hal ini karena wajah BK

sebagai polisi sekolah dan tempat siswa yang nakal masih melekat kuat

dalam diri mereka.     Pada pertemuan kedua sampai kelima merupakan

kegiatan inti untuk membantu siswa agar mempunyai minat untuk

memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling melalui diskusi bersama-

sama tentang topik-topik yang sesuai dengan keadaan yang mereka alami.

Pemilihan topik ini diarahkan agar siswa lebih memahami bagaimana

bimbingan dan konseling yang sebenarnya. Sehingga nantinya akan timbul

ketertarikan pada diri siswa untuk lebih memahami peran dan fungsi BK

di sekolah setelah mendengar pandangan, kritikan atau saran dari anggota

kelompok yang lain. Pada akhirnya diharapkan para siswa bersedia

memanfaatkan berbagai layanan dalam BK         untuk membantu dalam

menyelesaikan masalah pribadi, sosial, maupun dalam kegiatan belajar

mengajar di sekolah.

Dalam pertemuan kedua, mereka sudah mulai membuka diri dan terlihat

antusias untuk bisa mengetahui manfaat yang dapat mereka peroleh dari

BK. Dengan membahas masalah yang sering mereka alami di sekolah,
mereka menjadi tahu bagaimanakah sebenarnya siswa yang dibawa ke

guru BK. Pada pertemuan ketiga, mereka saling bercerita tentang

pengalaman ketika SMP dan SMA terkait dengan BK. Dengan saling

berbagi pengalaman, mereka bisa saling membuka pikiran dan bisa mulai

memahami bagaimana peran BK di sekolah. Pada pertemuan keempat,

konselor memberi penjelasan tentang berbagai layanan BK, fungsi serta

asas dalam BK. Konselor menghubungan berbagai layanan tersebut

dengan kegiatan di sekolah, seperti kegiatan MOS dengan layanan

orientasi. Dengan demikian, diharapkan siswa akan lebih mengerti,

memahami, serta mau memanfaatkan BK di sekolah sebagai salah satu

sarana dalam membantu kelancaran dan keberhasilan belajarnya. Pada

pertemuan terakhir, mereka sudah bisa menghilangkan image negatif

tentang BK dan terlihat bersemangat untuk mengikuti berbagai kegiatan

yang akan diadakan oleh guru BK. Setelah mengikuti diskusi kelompok,

mereka menjadi lebih tahu bagaimana wajah dan peran bimbingan dan

konseling, terutama guru BK di sekolah. Mereka juga sudah tidak takut

lagi untuk berkonsultasi dengan guru BK jika mempunyai masalah pribadi

ataupun membutuhkan informasi yang menunjang peningkatan prestasi

belajarnya di sekolah.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa diskusi kelompok

dapat dijadikan sebagai alternatif bantuan bagi siswa yang memiliki minat
rendah dalam memanfaatkan berbagai layanan bimbingan dan konseling di

sekolah.

Pada penelitian ini tidak menggunakan kelompok kontrol sebagai

pembanding dari kelompok subyek yang diberikan perlakuan. Selain itu,

dalam pemberian perlakuan dengan diskusi kelompok memungkinkan

tidak terungkapnya berbagai variabel yang berhubungan dengan minat

siswa dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah,

misalnya latar belakang siswa yang takut terhadap BK diluar persepsi

tentang BK sebagai polisi sekolah. Oleh karena itu, pada penelitian

selanjutnya yang terkait dengan penerapan diskusi kelompok diharapkan

menggunakan kelompok pembanding untuk memeprkuat hasil penelitian

dan memperhatikan variabel-variabel lain yang terkait sehingga hasil

penelitian lebih akurat.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: Contoh, skripsi
Stats:
views:893
posted:7/9/2012
language:
pages:32