Docstoc

Contoh skripsi BK Bab 2

Document Sample
Contoh skripsi BK Bab 2 Powered By Docstoc
					                                                                              12




                                      BAB II

                              KAJIAN PUSTAKA

A. Minat Siswa dalam Memanfaatkan Layanan Bimbingan dan Konseling

  1. Minat

    a. Pengertian Minat

             Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata “minat” memiliki arti

       kesukaan (kecenderungan hati) kepada sesuatu, keinginan. Jadi, harus

       ada sesuatu yang ditimbulkan, baik dari dalam dirinya maupun dari luar

       untuk menyukai sesuatu. Sedangkan Winkel (2006:91) menyatakan

       bahwa minat adalah kecenderungan yang agak menetap dan subjek

       merasa tertarik pada bidang atau hal tertentu dan merasa senang

       berkecimpung dalam bidang itu.

             Selanjutnya,    Bimo     Walgito    (dalam   Prasetyono,   2008:51)

       menjelaskan bahwa:

                  ”Minat adalah suatu keadaan dimana seseorang mempunyai
             perhatian terhadap suatu objek, disertai dengan keinginan untuk
             mengetahui dan mempelajari, dan akhirnya dibuktikan lebih lanjut
             dengan objek tertentu”.

             Hilgard (dalam Slameto, 2010) memberi rumusan tentang minat

       adalah sebagai berikut : “interest is persisting tendency to pay attention

       to and enjoy some activity or content”. Minat adalah kecenderungan yang

       tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan.

             Sedangkan      Crow    dan   Crow   (dalam   Prasetyono,   2008:54)

       menjelaskan bahwa minat merupakan kekuatan pendorong yang


                                           12
                                                                              13




menyebabkan seseorang menaruh perhatian pada orang lain atau objek

lain. Sementara itu, Hurlock (dalam Prasetyono, 2008)                       juga

mengutarakan pendapat bahwa minat merupakan sumber motivasi untuk

melakukan apa yang mereka inginkan.

     Krapp, Hidi, dan Renninger (dalam Pintrich dan Schunk, 2002:290)

membagi definisi minat secara umum menjadi tiga, yaitu :

1)    Minat       pribadi,   diartikan   sebagai     karakteristik   kepribadian

      seseorang yang relatif stabil, yang cenderung menetap pada diri

      seseorang. Minat pribadi biasanya dapat langsung membawa

      seseorang pada beberapa aktifitas atau beberapa topik yang

      spesifik. Minat pribadi dapat dilihat ketika seseorang menjadikan

      sebuah aktifitas atau topik sebagai pilihan untuk hal yang pasti,

      secara umum menyukai topik atau aktifitas tersebut, menimbulkan

      kesenangan pribadi serta memiliki arti penting bagi seseorang

      tersebut.

2)    Minat situasi, merupakan minat yang sebagian besar dibangkitkan

      oleh kondisi lingkungan

3)    Minat dalam ciri psikologi, merupakan interaksi dari minat pribadi

      seseorang       dengan     ciri-ciri   minat    lingkungan.     Renninger

      menjelaskan bahwa minat pada definisi ini tidak hanya pada karena

      seseorang lebih menyukai sebuah aktivitas atau topik, tetapi karena
                                                                         14




       aktifitas atau topik tersebut memiliki nilai yang tinggi dan

       mengetahui lebih banyak mengenai topik atau aktifitas tersebut.

      Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa minat

  adalah kekuatan pendorong dan perhatian seseorang terhadap sesuatu hal

  atau aktivitas sehingga seseorang menjadi termotivasi, mengetahui dan

  mempelajari, serta mengikuti kegiatan tersebut dengan perasaan senang.

b. Aspek-aspek Minat

      Menurut Pintrich dan Schunk (2002:293), aspek-aspek minat yaitu:

  1) Sikap umum terhadap aktivitas (general attitude toward the activity)

      Sikap umum maksudnya adalah sikap yang dimiliki oleh individu,

      yaitu perasaan suka atau tidak suka terhadap aktivitas.

  2) Pilihan spesifik untuk menyukai aktivitas (specific preference for or

      liking the activity). Individu akan memutuskan pilihannya untuk

      menyukai aktivitas tersebut

  3) Merasa senang dengan aktivitas (enjoyment of the activity), yaitu

      perasaan senang individu terhadap segala sesuatu yang berhubungan

      dengan aktivitasnya.

  4) Aktivitas tersebut mempunyai arti atau penting bagi individu

      (personal importance or significance of the activity to the

      individual). Individu merasa bahwa aktivitas yang dilakukannya

      sangat berarti
                                                                        15




  5) Berpatisipasi dalam aktivitas (reported choice of or participation in

      the activity). Individu akan berpartisipasi dalam aktivitas tersebut

      karena menyukainya.

      Berdasarkan uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa aspek-

  aspek minat yaitu perasaan suka terhadap aktivitas, memutuskan pilihan

  untuk menyukainya, aktivitas tersebut mempunyai arti penting bagi

  individu, serta berpartisipasi dalam aktivitas tersebut.

c. Unsur-unsur Minat

      Menurut Munawar Isnaeni (dalam Melati, 2007) menyatakan bahwa

  seseorang dikatakan berminat terhadap sesuatu bila individu memiliki

  beberapa unsur, antara lain:

  1) Perhatian

     Sesorang dikatakan berminat apabila individu disertai adanya

     perhatian, yaitu kreativitas jiwa yang tinggi yang semata-mata tertuju

     pada suatu obyek. Maka seseorang yang berminat pada sesuatu obyek

     yang pasti perhatiannya ditujukan pada obyek kegiatan tersebut.

  2) Kesenangan

     Perasaan senang terhadap suatu objek baik orang ataupun benda akan

     menimbulkan minat pada diri seseorang. Orang akan merasa tertarik

     kemudian pada gilirannya timbul keinginan yang menghendaki agar

     objek tersebut menjadi miliknya.
                                                                        16




      Berdasarkan uraian tersebut, diketahui bahwa unsur minat terdiri dari

  dua hal yaitu perhatian dan kesenangan.

d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat

      Anne, Super, dan Crites (dalam Qym, 2009) berpendapat bahwa

  minat dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi, pemilihan penjurusan

  (Vokational), jenis kelamin, umur, pengalaman, dan keturunan.

      Menurut Slameto (2003) berpendapat bahwa faktor-faktor yang

  mempengaruhi minat dibagi menjadi dua, yaitu faktor intern dan faktor

  ekstern.

  1. Faktor intern/faktor dari dalam, terdiri dari :

     a) Faktor Jasmaniah

        Faktor jasmaniah ini terdiri dari dua faktor yaitu faktor kesehatan

        dan faktor tubuh. Bila keadaan psikis atau fisik seseorang baik,

        maka minatnya akan baik pula. Begitu pula sebaliknya, bila

        kesehatan dan tubuh seseorang tersebut mengalami gangguan,

        maka minatnya akan berkurang.

     b) Faktor Psikologis

        Faktor psikologis dapat dibedakan menjadi dua faktor, yaitu

        perhatian dan intelegensi. Faktor perhatian adalah aktivitas

        kesadaran yang ditujukan kepada suatu obyek tertentu. Sedangkan

        faktor intelegensi merupakan kemampuan dasar seseorang,
                                                                           17




      sehingga kurangnya kemampuan dasar ini akan mengakibatkan

      seseorang sukar untuk mengerjakan suatu kegiatan.

2. Faktor ekstern/faktor dari luar, terdiri dari :

   a) Faktor dari keluarga

      Faktor dari keluarga diantaranya yaitu cara orang tua mendidik

      anak, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah, keadaan

      ekonomi keluarga, perhatian orang tua, dan latar belakang

      kebudayaan.

   b) Faktor dari sekolah

      Faktor dari sekolah diantaranya adalah hubungan dengan guru,

      hubungan dengan siswa, dan hubungan dengan guru pembimbing

      yang profesional.

   c) Faktor dari masyarakat

      Faktor dari masyarakat diantaranya kegiatan seseorang dalam mass

      media,    teman-teman      bergaul,    dan     bentuk   kehidupan   dari

      masyarakat.

    Sedangkan Crow dan Crow (dalam Permata, 2008) menyatakan ada

tiga faktor yang mempengaruhi minat, yaitu:

a) Faktor dorongan atau keinginan dari dalam (inner urges), yaitu

   dorongan atau keinginan yang berasal dari dalam diri seseorang

   terhadap sesuatu akan menimbulkan minat tertentu.
                                                                       18




  b) Faktor motif sosial (social motive), yaitu motif yang dikarenakan

       adanya hasrat yang berhubungan dengan faktor dari diri seseorang

       sehingga menimbulkan minat tertentu.

  c)    Faktor emosional (emotional motive), yaitu motif yang berkaitan

       dengan perasaan dan emosi yang berupa dorongan-dorongan, motif-

       motif, respon-respon emosional, dan pengalaman-pengalaman yang

       diperoleh individu.

        Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor-

  faktor yang mempengaruhi minat adalah faktor internal (jasmaniah dan

  psikologis), faktor eksternal (dari keluarga, sekolah, dan masyarakat),

  faktor sosial ekonomi, pemilihan jurusan (vocational), jenis kelamin,

  umur, pengalaman, keturunan, serta status sosial.

e. Cara Meningkatkan Minat

        Menurut Efendi (dalam Qym, 2009) minat dapat ditumbuhkan

  dengan cara :

  1) Membangkitkan suatu kebutuhan, misalnya kebutuhan untuk

        menghargai, keindahan, dan mendapatkan penghargaan

  2) Menghubungkan dengan pengalaman-pengalaman yang lampau

  3) Memberikan kesempatan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik,

        karena mengetahui kesuksesan yang diperoleh akan menimbulkan

        kepuasan.
                                                                       19




        Slameto (2003:180) menyatakan bahwa untuk membangkitkan minat

    siswa pada subyek yang baru adalah dengan menggunakan minat-minat

    siswa yang telah ada. Selanjutnya, Tanner & Tanner (dalam Slameto,

    2003) menyarankan agar para pengajar juga berusaha membentuk minat-

    minat baru pada diri siswa. Ini dapat dicapai dengan jalan memberikan

    informasi pada siswa mengenai hubungan antara suatu bahan pelajaran

    yang akan diberikan dengan bahan pengajaran yang lalu, menguraikan

    kegunaannya bagi siswa di masa yang akan datang.

        Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa cara untuk

    menumbuhkan dan meningkatkan minat yaitu dengan membangkitkan

    suatu kebutuhan, memberi informasi pada siswa dengan menghubungkan

    pengalaman-pengalaman masa lalu dan yang berguna bagi masa yang

    akan datang, serta memberikan kesempatan kepada individu untuk

    mendapatkan hasil yang lebih baik karena mengetahui kesuksesan akan

    menimbulkan kepuasan.



2. Layanan Bimbingan dan Konseling

  a. Pengertian Layanan Bimbingan dan Konseling

          Nursalim dan Suradi (2002:09) menyatakan bahwa suatu kegiatan

    bimbingan dan konseling disebut layanan apabila kegiatan tersebut

    dilakukan melalui kontak langsung dengan sasaran layanan (klien), dan
                                                                     20




secara langsung berkenaan dengan permasalahan ataupun kepentingan

tertentu yang dirasakan oleh sasaran layanan itu.

        Kegiatan yang merupakan layanan itu mengemban fungsi tertentu

dan pemenuhan fungsi tersebut serta dampak positif layanan yang

dimaksudkan diharapkan dapat secara langsung dirasakan oleh sasaran

(klien) yang mendapat layanan tersebut.

        Sedangkan bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang

didalamnya terkandung beberapa makna. Shertzer dan Stone (dalam

Salahudin, 2010) mengemukakan bahwa guidance berasal dari kata guide

yang mempunyai arti to direct, pilot, manager, or steer. Artinya

menunjukkan,       mengarahkan,        menentukan,   mengatur,     atau

mengemudikan.

        Prayitno dan Erman Amti (2004:99) mengemukakan bahwa

bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang

yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-

anak,    remaja,   maupun    dewasa.     Sedangkan   Winkel   (2005:27)

mendefinisikan bimbingan sebagai proses pemberian bantuan atau

pertolongan kepada individu dalam hal memahami diri sendiri,

menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri, menghubungkan

pemahaman tentang dirinya sendiri dengan lingkungan, memilih,

menentukan, dan menyusun rencana sesuai dengan konsep dirinya dan

tuntutan lingkungan.
                                                                     21




      Berdasarkan pengertian diatas, dapat dipahami bahwa bimbingan

pada prinsipnya adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh

orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu dalam hal

memahami diri sendiri, menghubungkan pemahaman tentang dirinya

sendiri dengan lingkungan, memilih, menentukan, dan menyusun rencana

sesuai dengan konsep dirinya dan tuntutan lingkungan.

      Adapun Shertzer dan Stone (dalam Nurihsan, 2006) menyatakan

bahwa counseling is an interaction process with facilitaties meaningful

understanding of self and environment and result in the establishment

and/or clarification of goals and values of future behavior. Konseling

adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat

pribadi antara konselor dan konseli, agar konseli mampu memahami diri

dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan

berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan

efektif perilakunya.

      Adapun konseling menurut Prayitno dan Erman Amti (2004:105)

adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara

konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang

sedang mengalami suatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada

teratasinya masalah yang dihadapi klien. Sejalan dengan itu, Winkel

(2006:34) mendefinisikan konseling sebagai serangkaian kegiatan paling

pokok dari bimbimgan dalam usaha membantu konseli/klien secara tatap
                                                                      22




  muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri

  terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus.

        Berdasarkan pengertian konseling tersebut, dapat dipahami bahwa

  konseling adalah upaya membantu individu yang sedang mengalami

  masalah secara tatap muka agar konseli mampu memahami dirinya dan

  lingkungannya, mampu membuat keputusan, dan dapat mengambil

  tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan.

        Jadi, yang dimaksud dengan layanan bimbingan dan konseling

  adalah suatu kegiatan yang dilakukan melalui kontak langsung atau tatap

  muka untuk membantu individu yang sedang mengalami masalah agar

  individu tersebut dapat memahami dirinya sendiri dan lingkungannya,

  memillih, dan membuat keputusan, serta dapat mengambil tanggung

  jawab sendiri terhadap berbagai persoalan.

b. Tujuan Bimbingan dan Konseling

        Tujuan umum pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya

  sejalan dengan tujuan pendidikan itu sendiri karena bimbingan dan

  konseling merupakan bagian integral dari sistem pendidikan. Pada

  undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional

  disebutkan bahwa tujuan pendidikan adalah terwujudnya manusia

  Indonesia seutuhnya yang cerdas, yang beriman dan taqwa kepada Tuhan

  Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan

  keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap
                                                                         23




  dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan

  (Salahudin, 2010:22).

        Sedangkan Prayitno dan Erman Amti (2004:114) menyatakan

  bahwa tujuan umum bimbingan dan konseling adalah untuk membantu

  individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap

  perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti kemampuan

  dasar dan bakat-bakatnya), berbagai latar belakang yang ada (seperti latar

  belakang keluarga, pendidikan, status sosial ekonomi), serta sesuai

  dengan tuntutan positif lingkungannya.

        Sedangkan tujuan khusus bimbingan dan konseling adalah

  membantu siswa untuk mencapai tujuan-tujuan perkembangan yang

  meliputi aspek pribadi, sosial, belajar, dan karir.

        Jadi, dapat disimpulkan bahwa tujuan bimbingan dan konseling

  adalah membantu individu untuk mengembangkan diri secara optimal

  serta mencapai tujuan-tujuan perkembangan yang meliputi aspek pribadi,

  sosial, belajar, dan karir.

c. Fungsi Bimbingan dan Konseling

      Pelayanan bimbingan dan konseling mengemban sejumlah fungsi

  yang hendak dipenuhi melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan

  konseling. Menurut Dewa Ketut Sukardi dan Kusmawati (2008:07)

  fungsi-fungsi tersebut adalah :
                                                                        24




1) Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan

    menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu

    sesuai   dengan     kepentingan    pengembangan      peserta    didik.

    Pemahaman itu meliputi :

     Pemahaman tentang diri peserta didik, terutama oleh peserta didik

     sendiri, orang tua, guru pada umumnya, dan guru pembimbing

     (konselor)

     Pemahaman       tentang   lingkungan   peserta   didik    (termasuk

     didalamnya lingkungan keluarga dan sekolah), terutama oleh

     peserta didik sendiri, orang tua, guru pada umumnya, dan guru

     pembimbing (konselor)

     Pemahaman tentang lingkungan “yang lebih luas” (termasuk

     didalamnya informasi pendidikan, informasi jabatan/pekerjaan, dan

     informasi sosial dan budaya/nilai-nilai), terutama oleh peserta didik

2) Fungsi pencegahan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan

    menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari

    berbagai permasalahan yang mungkin timbul, yang akan dapat

    mengganggu, menghambat, ataupun menimbulkan kesulitan dan

    kerugian-kerugian tertentu dalam proses perkembangannya.

3) Fungsi pengentasan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang

    akan menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai

    permasalahan yang dialami oleh peserta didik.
                                                                                 25




4) Fungsi pemeliharaan dan pengembangan, yaitu fungsi bimbingan

    dan     konseling    yang    akan         menghasilkan        terpelihara   dan

    terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik

    dalam     rangka     perkembangan          dirinya    secara     mantap     dan

    berkelanjutan.

   Sedangkan menurut Yusuf dan Nurihsan (2008:16-17), fungsi

bimbingan dan konseling adalah:

1) Fungsi pemahaman, yaitu membantu peserta didik (siswa) agar

    memiliki     pemahaman       terhadap         dirinya       (potensinya)    dan

    lingkungannya       (pendidikan,     pekerjaan,       dan     norma    agama).

    Berdasarkan      pemahaman         ini,    individu     diharapkan      mampu

    mengembangkan potensi dirinya secara optimal dan menyesuaikan

    dirinya dengan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.

2) Fungsi preventif. Melalui fungsi ini konselor memberikan bimbingan

    kepada siswa tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau

    kegiatan yang membahayakan dirinya.

3) Fungsi pengembangan. Dalam fungsi ini konselor senantiasa

    berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang

    memfasilitasi perkembangan siswa.

4) Fungsi perbaikan (penyembuhan), yaitu fungsi bimbingan dan

    konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan

    upaya pemberian bantuan kepada siswa yang telah mengalami
                                                                    26




    masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun

    karir.

5) Fungsi penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam

    membantu individu memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau

    program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang

    sesuai dengan minat, bakat, keahlian, dan cirri-ciri kepribadian

    lainnya.

6) Fungsi adaptasi, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam

    membantu para pelaksana pendidikan khususnya konselor, guru, atau

    dosen untuk mengadaptasikan program pendidikan terhadap latar

    belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan individu

    (siswa).

7) Fungsi penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam

    membantu individu (siswa) agar dapat menyesuaikan diri secara

    dinamis dan konstruktif terhadap program pendidikan, peraturan

    sekolah, atau norma agama.

    Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa fungsi

bimbingan dan konseling itu meliputi fungsi pemahaman, fungsi

pencegahan,     fungsi   pengentasan,      fungsi   pemeliharaan   dan

pengembangan, fungsi perbaikan (penyembuhan), fungsi penyaluran,

fungsi adaptasi, dan fungsi penyesuaian.
                                                                      27




d. Jenis-jenis Layanan Bimbingan dan Konseling

      Ada sejumlah layanan dalam bimbingan dan konseling di sekolah,

  diantaranya sebagai berikut:

  1) Layanan Orientasi

      Menurut Sukardi dan Kusmawati (2008:56) layanan orientasi yaitu

  layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan konseli

  memahami lingkungan (seperti sekolah) yang baru dimasuki konseli,

  untuk mempermudah dan memperlancar berperannya konseli di

  lingkungan yang baru. Sedangkan Prayitno dan Erman Amti (2004:255)

  memberi definisi layanan orientasi sebagai layanan bimbingan yang

  dilakukan untuk memperkenalkan siswa baru dan atau seseorang

  terhadap lingkungan yang baru dimasukinya.

      Berdasarkan kedua pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa

  layanan orientasi adalah layanan bimbingan dan konseling yang

  ditujukan untuk memperkenalkan siswa baru terhadap lingkungan yang

  baru dimasukinya untuk mempermudah dan memperlancar berperannya

  konseli di lingkungan yang baru tersebut.

      Hasil yang diharapkan dari layanan orientasi adalah mempermudah

  siswa dalam menyesuaikan diri terhadap pola kehidupan sosial, kegiatan

  belajar, dan kegiatan lain yang mendukung keberhasilan siswa.
                                                                    28




2) Layanan Informasi

    Menurut Nursalim dan Suradi (2002:22) layanan informasi adalah

kegiatan bimbingan yang bermaksud membantu siswa untuk mengenal

lingkungannya, yang sekiranya dapat dimanfaatkan untuk masa kini

maupun masa yang akan datang. Menurut Prayitno dan Erman Amti

(2004:259) layanan informasi merupakan layanan bimbingan dan

konseling yang bermaksud memberikan pemahaman kepada individu-

individu yang berkepentingan tentang berbagai hal yang diperlukan

untuk menjalani suatu tugas atau kegiatan.

    Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa layanan

informasi adalah suatu layanan bimbingan dan konseling yang

bermaksud membantu siswa untuk mengenal lingkungannya, memberi

pemahaman tentang berbagai hal yang dapat dimanfaatkan untuk masa

kini maupun masa yang akan datang. Pemahaman yang diperoleh melalui

layanan informasi digunakan sebagai bahan acuan dalam meningkatkan

kegiatan    dan     prestasi   belajar,      mengembangkan   cita-cita,

menyelenggarakan kehidupan sehari-hari, dan mengambil keputusan

(Nursalim dan Suradi, 2002).

    Tujuan layanan ini adalah agar individu memiliki pengetahuan

(informasi) yang memadai, baik tentang dirinya maupun tentang

lingkungannya, lingkungan perguruan tinggi, masyarakat, serta sumber-

sumber belajar termasuk internet. Informasi yang diperoleh individu
                                                                        29




sangat diperlukan agar individu lebih mudah dalam membuat

perencanaan dan mengambil keputusan (Nurihsan, 2006:19).

3) Layanan Penempatan/penyaluran

    Menurut           Sukardi   dan   Kusmawati        (2008:61)   layanan

penempatan/penyaluran adalah layanan bimbingan dan konseling yang

memungkinkan peserta didik (klien/konseli) memperoleh penempatan

dan penyaluran yang tepat (misalnya penempatan/penyaluran dalam

kelas, kelompok belajar, jurusan, program studi, program latihan,

magang, kegiatan kokurikuler atau ekstrakurikuler) sesuai dengan

potensi, bakat, dan minat, serta kondisi pribadinya.

    Sedangkan Nursalim dan Suradi (2002:30) memberi arti layanan

penempatan/penyaluran adalah serangkaian kegiatan bimbingan dalam

membantu siswa agar dapat menyalurkan/menempatkan dirinya dalam

berbagai program sekolah, kegiatan belajar, penjurusan, kelompok

belajar, pilihan pekerjaan, kegiatan ekstrakurikuler, program latihan,

pendidikan yang lebih tinggi sesuai dengan bakat, minat, kemampuan,

serta kondisi fisik dan psikis.

    Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa layanan

penempatan/penyaluran adalah suatu layanan bimbingan dan konseling

yang memungkinkan peserta didik dapat penempatan dan penyaluran

yang tepat sesuai dengan potensi, bakat, minat, kemampuan, serta kondisi

fisik serta psikis.
                                                                         30




    Tujuan layanan penempatan/penyaluran adalah agar setiap siswa

dapat menempati posisi yang sesuai dengan kemampuan dan bakat

minatnya, baik dalam kegiatan belajar di sekolah maupun kegiatan

persiapan ke dunia kerja.

4) Layanan Pembelajaran/penguasaan Konten

    Menurut Nursalim dan Suradi (2002:80) layanan pembelajaran yaitu

layanan     bimbingan    dan   konseling     yang    memungkinkan     siswa

mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, materi belajar

yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta berbagai

aspek tujuan dan kegiatan lainnya yang berguna bagi kehidupan dan

perkembangan.

    Senada dengan pendapat diatas, Sukardi dan Kusmawati (2008:62)

mendefinisikan layanan pembelajaran adalah layanan bimbingan dan

konseling     yang      memungkinkan       peserta   didik   (klien/konseli)

mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang

baik, materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan

belajarnya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan lainnya.

    Jadi, yang dimaksud dengan layanan pembelajaran/penguasaan

konten adalah layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan

siswa mengembangkan diri yang berkaitan dengan sikap dan kebiasaan

belajar yang baik, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan lainnya yang

berguna bagi kehidupan dan perkembangan.
                                                                    31




5) Layanan Konseling Individu

    Menurut Sukardi dan Kusmawati (2008:62) layanan konseling

individu yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan

peserta didik (klien/konseli) mendapatkan pelayanan langsung tatap

muka (secara perorangan) dengan guru pembimbing (konselor) dalam

rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang

dideritanya.

    Sedangkan Prayitno dan Erman Amti (2004:288) menyatakan bahwa

konseling individu merupakan pelayanan khusus dalam hubungan

langsung tatap muka antara konselor dan klien, dimana masalah klien

dicermati dan diupayakan pengentasannya sedapat-dapatnya dengan

kekuatan klien sendiri.

    Jadi, konseling individu adalah layanan bimbingan dan konseling

yang memungkinkan peserta didik mendapatkan layanan tatap muka

dengan konselor dalam rangka pembahasan dan pengentasan masalah

klien dengan kekuatan klien sendiri.

6) Layanan Konseling Kelompok

    Menurut Shertzer dan Stone (dalam Nursalim dan Suradi, 2002),

konseling kelompok merupakan suatu proses dimana seorang konselor

terlibat di dalam suatu hubungan dengan sejumlah klien pada waktu yang

sama. Gazda (dalam Nursalim dan Suradi, 2002) mengemukakan

pengertian konseling kelompok sebagai suatu proses interpersonal yang
                                                                       32




dinamis dengan memusatkan kepada kesadaran pikiran dan perilaku,

serta berdasarkan fungsi-fungsi terapi yang bersifat memberi kebebasan,

berorientasi    terhadap   kenyataan,   katarsis,   saling   mempercayai,

memelihara, memahami, dan mendukung.

    Sukardi dan Kusmawati (2008:79) memberi arti bahwa konseling

kelompok merupakan konseling yang diselenggarakan dalam kelompok,

dengan memanfaatkan dinamika kelompok yang terjadi di dalam

kelompok itu.

    Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa

konseling kelompok adalah suatu proses interpersonal yang dinamis

dimana seorang konselor terlibat di dalam suatu hubungan dengan

sejumlah klien pada waktu yang sama dengan memusatkan kepada

kesadaran pikiran dan perilaku, serta berdasarkan fungsi-fungsi terapi

yang bersifat memberi kebebasan, berorientasi terhadap kenyataan,

katarsis, saling mempercayai, memelihara, memahami, dan mendukung,

dan dengan memanfaatkan dinamika kelompok.

7) Layanan Bimbingan Kelompok

    Menurut Gazda (dalam prayitno dan Erman Amti, 2004) bimbingan

kelompok merupakan kegiatan informasi kepada sekelompok siswa

untuk membantu mereka menyusun rencana dan keputusan yang tepat.

Sedangkan menurut Winkel (dalam Nursalim dan Suradi, 2002)
                                                                        33




  bimbingan kelompok adalah pelayanan bimbingan yang diberikan kepada

  lebih dari satu orang pada waktu yang bersamaan.

      Sukardi dan Kusmawati (2008:78) mendefinisikan bimbingan

  kelompok yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan

  sejumlah   peserta   didik   (konseli)   melalui    dinamika   kelompok,

  memperoleh berbagai bahan dari narasumber tertentu (terutama dari guru

  pembimbing/konselor) dan/atau membahas secara bersama-sama pokok

  bahasan (topik) tertentu yang berguna untuk menunjang pemahaman dan

  kehidupannya sehari-hari dan/atau untuk perkembangan dirinya baik

  sebagai individu maupun sebagai pelajar, dan untuk pertimbangan dalam

  pengambilan keputusan dan atau tindakan tertentu.

      Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa bimbingan

  kelompok adalah layanan bimbingan dan kelompok yang diberikan

  kepada lebih dari satu orang individu dalam waktu yang bersamaan untuk

  memperoleh berbagai bahan dari narasumber tertentu dan membahasnya

  secara bersama-sama untuk menunjang pemahaman dan kehidupan

  sehari-hari, dan untuk perkembangan individu ataupun membantu dalam

  menyusun rencana dan membuat keputusan.

e. Minat Siswa dalam Memanfaatkan Layanan Bimbingan dan

   Konseling

          Apabila seseorang menaruh perhatian terhadap sesuatu, maka

   minat akan menjadi motif yang kuat untuk berhubungan secara lebih
                                                                     34




aktif dengan sesuatu yang menarik minatnya. Minat akan semakin

bertambah jika disalurkan dalam suatu kegiatan. Keterikatan dengan

kegiatan tersebut akan semakin menumbuhkembangkan minat. Jadi,

dapat dikatakan bahwa minat merupakan kecenderungan yang agak

menetap dan subjek merasa senang berkecimpung dalam bidang itu

(Winkel dalam Prasetyono, 2008:51). Minat dapat dikatakan sebagai

dorongan kuat bagi seseorang untuk melakukan segala sesuatu dalam

mewujudkan      pencapaian    tujuan   dan   cita-cita   yang   menjadi

keinginannya.

       Berdasarkan hasil wawancara dengan guru bimbingan dan

konseling serta siswa SMA Unggulan BPPT Al-Fattah didapatkan data

bahwa siswa SMA Unggulan BPPT Al-Fattah memiliki minat yang

rendah dalam dalam memanfaatkan berbagai layanan BK di sekolah.

Hal ini ditunjukkan dengan kurangnya partisipasi aktif siswa di kelas,

enggan dan malu untuk berbagi masalah yang mereka hadapi dengan

guru BK, serta persepsi negatif tentang bimbingan dan konseling di

sekolah yang masih melekat kuat dalam diri siswa. Akibatnya, hal ini

dapat mengganggu proses belajarnya di sekolah, tidak terselesaikannya

masalah yang mereka hadapi.

       Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi minat individu yaitu

faktor internal (jasmaniah dan psikologis), faktor eksternal (dari

keluarga, sekolah, dan masyarakat), faktor sosial ekonomi, pemilihan
                                                                    35




jurusan (vocational), jenis kelamin, umur, pengalaman, keturunan, serta

status sosial. Terbentuknya minat karena adanya dorongan dari

perasaan senang dan adanya perhatian terhadap sesuatu. Dengan kata

lain, proses terjadinya minat didahului oleh perasaan senang dan

perhatian terhadap suatu obyek, sehingga terjadi kecenderungan untuk

berbuat sesuatu atas obyek tersebut. Sedangkan minat individu dapat

ditingkatkan melalui beberapa cara, yaitu dengan membangkitkan suatu

kebutuhan, memberi informasi pada siswa dengan menghubungkan

pengalaman-pengalaman masa lalu dan yang berguna bagi masa yang

akan datang, serta memberikan kesempatan kepada individu untuk

mendapatkan hasil yang lebih baik karena mengetahui kesuksesan akan

menimbulkan kepuasan.

       Berdasarkan teori Pintrich dan Schunk (2002) aspek-aspek

minat itu meliputi perasaan suka atau tidak suka terhadap aktivitas,

individu akan memutuskan pilihannya untuk menyukai aktivitas

tersebut, perasaan senang individu terhadap segala sesuatu yang

berhubungan dengan aktivitasnya, individu merasa bahwa aktivitas

yang dilakukannya sangat berarti, dan individu akan berpartisipasi

dalam aktivitas tersebut.

       Aktivitas yang dimaksud dalam aspek-aspek minat tersebut

adalah serangkaian kegiatan layanan bimbingan dan konseling yang

dapat diikuti oleh siswa. Adapun yang dimaksud dengan layanan
                                                                      36




bimbingan dan konseling yaitu suatu kegiatan yang dilakukan melalui

kontak langsung atau tatap muka untuk membantu individu yang

sedang mengalami masalah agar individu tersebut dapat memahami

dirinya sendiri dan lingkungannya, memillih, dan membuat keputusan,

serta dapat mengambil tanggung jawab sendiri tehadap berbagai

persoalan. Kegiatan layanan bimbingan dan konseling ini meliputi tujuh

layanan pokok, yaitu layanan orientasi, layanan informasi, layanan

penempatan dan penyaluran, layanan pembelajaran/penguasaan konten,

layanan konseling individu, layanan konseling kelompok, serta layanan

bimbingan kelompok.       Tujuan pemberian layanan ini adalah agar

individu   dapat      merencanakan     kegiatan    penyelesaian    studi,

perkembangan karir serta kehidupannya di masa yang akan datang,

mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya

seoptimal mungkin, menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan,

lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya, serta mengatasi

hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan

lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.

       Jadi, dapat disimpulkan bahwa minat dalam memanfaatkan

layanan bimbingan dan konseling adalah keadaan dimana siswa

memiliki   perasaan     senang,   perhatian,   timbul   perasaan   untuk

membutuhkan layanan bimbingan dan konseling, timbul dorongan

untuk memanfaatkan layanan serta proses bimbingan dan konseling
                                                                          37




        secara sukarela untuk membantunya dalam merencanakan kegiatan

        penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupannya di masa

        yang akan datang, mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang

        dimilikinya seoptimal mungkin, serta menyesuaikan diri dan mengatasi

        hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan

        lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.



B. Diskusi Kelompok

  1. Pengertian Diskusi Kelompok

       Menurut Suyanto (dalam Nursalim dan Suradi, 2002) diskusi kelompok

    adalah tehnik bimbingan kelompok yang dilaksanakan dengan maksud agar

    para siswa anggota kelompok mendapat kesempatan untuk memecahkan

    masalah secara bersama-sama. Senada dengan pendapat diatas, Surya

    (dalam Nursalim dan Suradi, 2002) menyatakan diskusi kelompok

    merupakan suatu tehnik dalam bimbingan kelompok yang murid-muridnya

    mendapat kesempatan memecahkan masalah bersama-sama.

       Sedangkan menurut Tim MKDK (1991:61), diskusi kelompok adalah

    suatu cara membimbing lewat kelompok dengan jalan mendiskusikan suatu

    masalah bersama-sama guna mencari pemecahan dari masalah tersebut.

    Hasibuan (2004:88) berpendapat bahwa diskusi kelompok adalah suatu

    proses yang teratur dengan melibatkan sekelompok siswa dalam interaksi
                                                                          38




  tatap muka kooperatif yang optimal dengan tujuan berbagi informasi atau

  pengalaman, mengambil keputusan atau memecahkan suatu masalah.

     Sedangkan Sukardi (1987:495) menyatakan bahwa diskusi kelompok

  adalah suatu bentuk pendekatan yang kegiatannya bercirikan suatu

  keterikatan pada suatu pokok masalah atau pertanyaan, dimana anggota-

  anggota atau peserta diskusi itu secara jujur berusaha untuk memperoleh

  kesimpulan     setelah    mendengarkan         dan   mempelajari,    serta

  mempertimbangkan pendapat-pendapat yang dikemukakan.

     Dari uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa diskusi kelompok

  adalah suatu tehnik dalam bimbingan kelompok yang dimaksudkan agar

  anggota kelompok mendapat kesempatan untuk memecahkan masalahnya,

  memperoleh informasi, saling tukar pendapat dan pengalaman serta untuk

  mendapatkan kesimpulan setelah mendengarkan dan mempelajari, serta

  mempertimbangkan pendapat-pendapat yang dikemukakan.

2. Tujuan Pelaksanaan Diskusi Kelompok

     Menurut Tim MKDK (1991:62) tujuan diskusi kelompok adalah :

  a) Memberi kesempatan pada setiap peserta untuk mengambil suatu

      pelajaran dari pengalaman-pengalaman teman-teman peserta yang lain

      dalam mencari jalan keluar suatu masalah

   b) Memberikan suatu kesadaran bagi setiap peserta, bahwa setiap orang itu

      mempunyai masalah sendiri-sendiri. Apabila ada persamaan masalah
                                                                        39




    yang diutarakan oleh salah satu anggota, hal ini akan dapat memberikan

    keringanan beban batin bagi anggota yang kebetulan masalahnya sama

c) Mendorong individu yang tertutup dan sukar mengutarakan masalahnya

    untuk berani mengutarakan masalahnya

d) Kecenderungan mengubah sikap dan tingkah laku tertentu, setelah

    mendengarkan pandangan, kritikan atau saran dari teman anggota

    kelompok.

   Senada dengan uraian tersebut, menurut Winkel (dalam Nursalim dan

Suradi, 2002) tujuan dari diskusi kelompok adalah membahas bersama

masalah yang dihadapi.

   Sukardi (1987:495) menyatakan bahwa tujuan penggunaan diskusi

kelompok yang ingin dicapai adalah :

a) Menanamkan/ mengembangkan ketrampilan dan keberanian untuk

    mengemukakan pendapat sendiri secara jelas dan terarah

b) Mencari kebenaran secara jujur melalui pertimbangan- pertimbangan

    pendapat yang mungkin saja berbeda yang satu dengan yang lainnya

c) Belajar menemukan kesempatan pendapat melalui musyawarah karena

    masalahnya telah dimengerti dan bukan karena paksaan atau terpaksa

    menerima karena kalah dalam pemungutan suara

d) Para siswa mendapatkan informasi yang berharga dari teman- temannya.

   Berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa

tujuan dari diskusi kelompok adalah untuk mengembangkan kesadaran
                                                                           40




  tentang diri sendiri dan orang lain, mengembangkan ketrampilan dan

  keberanian untuk mengemukakan pendapat, mendapatkan informasi dari

  teman-teman dan pemimpin diskusi, memberikan suatu kesadaran bagi

  setiap peserta bahwa setiap orang mempunyai masalah sendiri-sendiri,

  kecenderungan mengubah sikap dan tingkah laku tertentu, setelah

  mendengarkan pandangan, kritikan atau saran dari teman anggota

  kelompok.

3. Kelebihan dan Kelemahan Diskusi Kelompok

  a) Kelebihan Diskusi Kelompok

         Sukardi (1987:512) mengemukakan beberapa kelebihan dari teknik

    diskusi kelompok, yaitu:

    1.   Mendidik anggota kelompok untuk mengemukakan pendapat sendiri

         di hadapan orang banyak

    2.   Mendidik anggota kelompok untuk bertukar pikiran

    3.   Memberikan    kesempatan     kepada    anggota    kelompok     untuk

         mendengarkan, mempertimbangkan, dan menetapkan atau memilih

         salah satu pendapat yang dinilai benar dari berbagai pendapat yang

         telah didengarnya

    4.   Anggota   kelompok    agar   belajar   berpikir   matang     sebelum

         mengemukakan suatu pendapat
                                                                    41




5.   Mendidik anggota kelompok agar bersedia menerima secara jujur

     pendapat orang lain yang tidak sama dengan pendapatnya sendiri

     tetapi yang ternyata secara ilmiah benar

6.   Mendidik anggota kelompok agar tidak merasa malu atau rendah diri

     jika ternyata harus mengakui pendapat orang lain yang benar

     sedangkan pendapat dirinya ternyata salah

7.   Anggota kelompok dapat memperoleh keterangan atau informasi

     dari berbagai sudut pandang

8.   Mendidik anggota kelompok untuk lebih menahan emosi, tegang-

     menegang dan saling menghargai

9.   Mengembangkan dan membina rasa tanggung jawab sehubungan

     dengan pendapat yang dikemukakan atau diterima

10. Pendapat yang diterima yang didasarkan atas hasil pemikiran dan

     pertimbangan bersama akan lebih dapat dipercaya kebenarannya

     karena telah dipikirkan oleh beberapa orang

11. Dengan mendengarkan keterangan- keterangan dari berbagai sudut

     pandang, maka pengetahuan anggota kelompok mengenai topik yang

     sedang didiskusikan akan bertambah luas dan mendalam

12. Arus komunikasi sifat dua arah

13. Menghilangkan kebiasaan untuk menerima pendapat atas dasar

     bujukan atau paksaan. Hal itu dimungkinkan karena sebelum suatu
                                                                    42




    pendapat diterima, terlebih dahulu telah didengar alasan yang

    dikemukakan dari beberapa sudut pandang

14. Lebih banyak memberikan kesempatan untuk berpikir dan

    berpendapat.

    Sedangkan menurut Hasibuan (1991:103-104) kelebihan diskusi

kelompok adalah:

 1. Hasil keputusan kelompok lebih kaya

 2. Anggota kelompok sering dimotivasi oleh kehadiran anggota

    kelompok lain

 3. Anggota-anggota yang pemalu lebih bebas mengemukakan pendapat

 4. Anggota kelompok lebih merasa terikat dalam melaksanakan

    keputusan kelompok, karena mereka terlibat di dalam proses

    pengambilan keputusan

 5. Dapat meningkatkan pemahaman terhadap diri sendiri ataupun

    pemahaman terhadap orang lain.

    Berdasarkan dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa

kelebihan   diskusi   kelompok   adalah   melatih   anggota   kelompok

mengeluarkan pendapat, bertukar pikiran, saling keterbukaan, saling

menghormati, saling menanamkan kepercayaan antar anggota, melatih

anggota kelompok mengambil keputusan, meningkatkan kemampuan

anggota kelompok untuk berinteraksi, meningkatkan pemahaman diri
                                                                           43




  sendiri dan orang lain, anggota kelompok kaya akan pengetahuan dan

  informasi baru.

b) Kelemahan Diskusi Kelompok

       Menurut Sukardi (1989:514) kelemahan diskusi kelompok adalah:

  1.   Tidak mudah untuk memilih dan menetapkan suatu pokok untuk

       didiskusikan. Itu semua harus disesuaikan dengan spesialis bidang

  2.   Diskusi yang mendalam memerlukan waktu yang cukup panjang

  3.   Apabila suasana diskusi sudah mulai hangat dan anggota kelompok

       bertambah keberaniannya untuk mengemukakan pendapatnya, maka

       biasanya sulit sekali untuk membatasi bertambah luas dan dalamnya

       pembahasan topik diskusi

  4.   Tidak semua anggota kelompok mampu berani mengeluarkan

       pendapat. Ada     diantara mereka yang terkadang merasa tidak

       percaya diri

  5.   Anggota kelompok yang fasih berbicara, ada kemungkinan terlalu

       mendominasi diskusi dan yang lain akan menjadi pasif

  6.   Banyak anggota kelompok akan mempengaruhi giliran kesempatan

       untuk mengutarakan pendapat. Hal ini berhubungan dengan jatah

       waktu yang tersedia dan terbatas

  7.   Rasa permusuhan yang timbul dari kegiatan persaingan baik secara

       individual maupun kelompok mungkin saja tumbuh dan berkembang
                                                                             44




          menjadi suatu yang bersifat negatif dan merugikan rasa persatuan

          atau kekeluargaan yang sebenarnya.

          Sedangkan      menurut   Hasibuan    (2004:89)   kelemahan    diskusi

     kelompok adalah:

     1.   Memerlukan waktu yang lebih banyak

     2.   Dapat memboroskan waktu, terutama jika terjadi hal-hal yang

          negatif, seperti pembicaraan yang berlarut-larut, pengarahan yang

          kurang tepat

     3.   Anggota yang pendiam dan pemalu sering tidak mendapat

          kesempatan mengemukakan pendapat

     4.   Jika pemimpin kurang bijaksana, diskusi hanya didominasi oleh

          orang-orang tertentu

          Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kelemahan

     diskusi kelompok adalah membutuhkan waktu yang relatif lama, jika

     terjadi hal-hal yang negatif diskusi sulit berjalan dengan lancar, dominasi

     pada anggota kelompok yang terlalu aktif, munculnya rasa permusuhan,

     bertambah meluasnya topik bahasan, serta anggota kelompok yang pasif

     tidak mendapat kesempatan mengeluarkan pendapat.

4. Bentuk-bentuk Diskusi Kelompok

     Bentuk-bentuk diskusi kelompok menurut Dewa Ketut Sukardi

  (1987:496) yaitu:
                                                                         45




a. Dilihat dari jumlah anggota

   Jika dilihat dari jumlah anggota, diskusi kelompok berbentuk kelompok

   besar dan kelompok kecil. Kelompok besar berjumlah 20 orang atau

   lebih. Sedangkan kelompok kecil berjumlah kurang dari 20 orang,

   biasanya sekitar 2-12 orang.

b. Dilihat dari pembentukan

   Jika dilihat dari pembentukannya, diskusi kelompok berbentuk formal

   dan informal. Dalam bentuk formal, proses pembentukannya sengaja

   dibentuk    untuk     diskusi   kelompok. Sedangkan   informal,   proses

   terbentuknya secara spontan dan tanpa direncanakan.

c. Dilihat dari tujuan

   Jika dilihat dari tujuan diskusi kelompok ada dua macam, yaitu

   pemecahan masalah dan terapi anggota. Pemecahan masalah memiliki

   ciri utama menekankan pada hasil diskusi, sedangkan terapi anggota

   menekankan pada proses diskusi.

d. Dilihat dari waktu diskusi

   Jika dilihat dari waktu dalam diskusi, diskusi kelompok ada dua

   bentuknya, maraton dan singkat/regular. Maraton dilakukan secara terus

   menerus tanpa jeda waktu selama 5-12 jam, sedangkan singkat/regular

   dilakukan 1-2 jam dan dilakukan secara berulang-ulang.
                                                                         46




  e. Dilihat dari masalah yang dibahas

     Jika dilihat dari masalah yang dibahas, diskusi kelompok ada dua macam

     yaitu sederhana dan kompleks/rumit. Sederhana mempunyai ciri utama

     masalah yang dipecahkan relatif mudah, sedangkan kompleks/rumit

     masalah yang dipecahkan cukup sulit.

  f. Dilihat dari aktifitas kelompok

     Jika dilihat dari aktifitas kelompok, diskusi kelompok ada dua macam,

     yaitu terpusat pada pemimpin dan demokratis (terbagi ke semua

     anggota). Diskusi yang terpusat pada pemimpin cenderung anggotanya

     yang kurang aktif akan tetapi pemimpin yang lebih aktif. Sedangkan

     demokrasi, anggota dan pemimpin sama-sama aktif dalam memberikan

     saran dan pendapat.

     Jadi, dapat disimpulkan bahwa bentuk-bentuk diksusi kelompok yaitu

  dapat dilihat dari jumlah anggota, pembentukan, tujuan, masalah yang

  dibahas, serta dari aktifitas kelompok.

5. Langkah-langkah Pelaksanaan Diskusi Kelompok

      Cara pelaksanaan diskusi kelompok menurut Tim MKDK (1991:62)

  yaitu:

  a. Mempersiapkan ruang diskusi, lengkap dengan kursi dan sarana yang lain

  b. Anggota kelompok siap ditempat masing-masing (ideal 6-7 orang,

     boleh10 orang)
                                                                           47




c. Perkenalan antar anggota masing-masing. Dalam perkenalan tersebut

  dapat/boleh diadakan tanya jawab tentang identitas anggota dan ditutup

  dengan permainan kelompok untuk menuju “kunci akrab”

d. Dipimpin konselor membuat suatu kesepakatan bersama (janji bersama-

  sama) bahwa anggota kelompok tidak dibenarkan membocorkan masalah

  yang dibahas kelompok (azas kerahasiaan) dan setiap anggota kelompok

  berjanji untuk membantu setiap masalah yang dikemukakan oleh teman

  anggota kelompok.

e. Kesempatan mengutarakan masalah anggota kelompok, dengan terlebih

  dahulu masalah siapa yang diutamakan dan bagaimana tanggapan serta

  jalan pemecahannya.

f. Pengakhiran diskusi dengan cara : 1) himbauan ada follow up atau tindak

  lanjut   kepada klien/anggota kelompok       yang masalahnya sudah

  didiskusikan; 2) bila perlu menentukan waktu untuk diskusi berikutnya.

    Sedangkan      menurut   Hasibuan   (2004:90)   hal-hal   yang   perlu

diperhatikan dalam perencanaan dan persiapan diskusi kelompok adalah

sebagai berikut:

a. Pemilihan Topik

  Topik yang dipilih hendaknya sesuai dengan tujuan yang akan dicapai

  dan minat serta kemampuan siswa.
                                                                         48




b. Penyiapan Informasi Pendahuluan

   Sediakan informasi pendahuluan yang berhubungan dengan topik diskusi

   agar para siswa memiliki latar belakang pengetahuan yang sama,

   kegiatan ini dapat berupa memberikan artikel atau menyaksikan film.

c. Penyiapan Diri Sebaik-baiknya sebagai Pemimpin Diskusi

   Guru harus benar-benar siap sebagai sumber informasi, sebagai motivator

   hingga kemudian mampu memberikan penjelasan.

d. Penetapan Besar Kelompok Siswa

   Idealnya besar kelompok yang efektif berkisar antara 5-9 orang.

e. Pengaturan Tempat Duduk

   Tempat duduk harus diatur agar antar anggota-anggota kelompok dapat

   saling tatap muka.

    Sukardi (1987:504) menyatakan bahwa pengelolaan diskusi kelompok

meliputi :

a. Persiapan

   Selain mempersiapkan topik, tujuan, waktu, dan tempat diskusi, hal lain

   yang perlu diperhatikan adalah besarnya kelompok (jumlah anggota) dan

   pengaturan tempat duduk.

b. Pelaksanaan

   Dalam pelaksanaan diskusi kelompok pembimbing perlu lebih dahulu

   menguasai-menguasai tehnik-tehnik pemecahan masalah agar tidak
                                                                         49




     terjadi situasi kritis, dengan cara melatih atau mengamati dengan

     seksama situasi diskusi kelompok.

c. Tindak lanjut

     Keputusan yang diambil dalam diskusi kelompok harus dapat

     direalisasikan. Pembimbing perlu melatih dan membiasakan siswa untuk

     mengambil keputusan yang sederhana tetapi dapat terealisasikan.

      Dari beberapa pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa langkah-

langkah pelaksanaan diskusi kelompok meliputi:

a.    Tahap Persiapan

      Mempersiapkan topik, tujuan, waktu, tempat diskusi, sarana dan

      fasilitas yang dibutuhkan saat melakukan diskusi kelompok.

b.    Tahap Peralihan

      Perkenalan pemimpin diskusi dan para anggota kelompok dan pada

      tahap ini pemimpin diskusi dapat bertanya tentang kesiapan anggota

      kelompok untuk memulai kegiatan diskusi kelompok.

c.    Tahap Kegiatan

      Pemimpin/    anggota    kelompok    mengutarakan     topik   kemudian

      membahasnya secara mendalam dan tuntas.

d.    Tahap Pengakhiran

      Menyimpulkan hasil dari diskusi kelompok dan pemimpin kelompok

      dapat membuat janji untuk pertemuan berikutnya
                                                                              50




C. Penerapan Diskusi Kelompok untuk Meningkatkan Minat Siswa dalam

   Memanfaatkan Layanan Bimbingan dan Konseling

      Minat adalah kecenderungan jiwa (afektif) dan perhatian seseorang

   terhadap suatu hal, sehingga seseorang menjadi termotivasi dan tumbuh rasa

   senangnya terhadap hal tersebut (Prasetyono, 2008:54). Seseorang yang

   memiliki minat terhadap subjek tertentu akan cenderung untuk memberikan

   perhatian yang lebih besar terhadap hal tersebut. Selain itu, minat dapat pula

   ditunjukkan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas tertentu.

      Fenomena di SMA Unggulan BPPT Al-Fattah Lamongan menunjukkan

   banyaknya siswa kelas X yang kurang berminat dalam memanfaatkan

   berbagai layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Hal ini dapat dilihat

   pada partisipasi aktif siswa ketika mendapatkan layanan informasi di kelas.

   Mereka cenderung acuh atau tidak peduli. Menurut beberapa siswa banyak

   teman mereka yang bermain handphone (HP) ketika guru BK memberikan

   informasi tentang bimbingan dan konseling di kelas. Mereka juga

   beranggapan bahwa BK di sekolah adalah tempat siswa yang melakukan

   pelanggaran, mendapatkan poin hukuman, serta tempat siswa yang

   mempunyai masalah pribadi. Selain itu, beberapa siswa kelas X merasa

   enggan memanfaatkan bimbingan dan konseling di sekolah karena mereka

   merasa takut dan malu untuk berbagi masalah yang mereka hadapi dengan

   guru BK. Mereka merasa takut bahwa rahasianya akan diketahui oleh guru-

   guru yang lain. Di SMA Unggulan BPPT Al-Fattah juga tidak ada jam masuk
                                                                       51




kelas untuk BK. Jadi, guru BK hanya memanfaatkan jam mata pelajaran

sejarah untuk memberikan informasi tentang bimbingan dan konseling

kepada siswa. Akibatnya, penyampaian informasi ini tidak bisa maksimal.

Kurangnya minat siswa dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan

konseling ini dapat berakibat pada tidak adanya motivasi berprestasi bagi

siswa, dapat mengganggu proses belajarnya di sekolah serta tidak

terselesaikannya masalah yang dihadapinya.

  Layanan bimbingan dan konseling merupakan proses pemberian bantuan

yang diberikan oleh seorang tenaga ahli yang terlatih (konselor) kepada

siswa atau individu melalui kontak langsung dengan klien dalam rangka

menemukan pribadi dan penyesuaian diri, sehingga dapat mengatasi

masalahnya sendiri untuk kehidupan yang sukses dan bahagia. Siswa yang

tidak mau memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling dapat berakibat

pada tidak terselesaikannya permasalahan yang dialaminya. Siswa yang

memiliki minat rendah dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan

konseling ini perlu untuk mendapatkan bimbingan, salah satunya adalah

melalui bimbingan kelompok dengan tehnik diskusi kelompok. Adapun yang

dimaksud dengan diskusi kelompok adalah tehnik dalam bimbingan

kelompok yang dilaksanakan dengan maksud agar para siswa anggota

kelompok mendapatkan kesempatan memecahkan masalah bersama-sama

(Suyanto dalam Nursalim dan Suradi, 2002).
                                                                        52




  Melalui penerapan diskusi kelompok ini, siswa yang memiliki minat

rendah dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah

diharapkan akan bersedia untuk mendengarkan ide-ide, pengalaman, serta

saran-saran dari anggota kelompok yang lain sehingga mereka mendapatkan

gambaran yang jelas tentang bagaimana manfaat serta peran bimbingan dan

konseling di sekolah yang sebenarnya.

  Pelaksanaan diskusi kelompok ini dilaksanakan dalam empat tahap, yaitu

tahap persiapan, tahap peralihan, tahap kegiatan, dan tahap pengakhiran.

Dalam tahap persiapan, pemimpin diskusi mempersiapkan topik, tujuan,

waktu, tempat diskusi, sarana dan fasilitas yang dibutuhkan saat melakukan

diskusi kelompok. Dalam tahap peralihan ini dilakukan perkenalan pemimpin

diskusi dan para anggota kelompok. Pada tahap ini pemimpin diskusi dapat

bertanya tentang kesiapan anggota kelompok untuk memulai kegiatan diskusi

kelompok. Sedangkan dalam tahap ketiga atau tahap kegiatan pemimpin/

anggota kelompok mengutarakan topik kemudian membahasnya secara

mendalam dan tuntas. Dalam tahap pengakhiran ini kegiatannya adalah

menyimpulkan hasil dari diskusi kelompok dan pemimpin kelompok dapat

membuat janji untuk pertemuan berikutnya.

  Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan diskusi

kelompok untuk meningkatkan minat siswa dalam memanfaatkan layanan

bimbingan dan konseling di sekolah adalah kecenderungan jiwa (afektif,

perasaan) dan perhatian seseorang untuk tertarik, berpartisipasi, dan mau
                                                                                 53




    menggunakan layanan bimbingan dan konseling untuk memecahkan

    masalahnya, memperoleh informasi, saling tukar pendapat dan pengalaman

    serta untuk mendapatkan kesimpulan setelah mendengarkan dan mempelajari,

    serta mempertimbangkan pendapat-pendapat yang dikemukakan.

       Dengan demikian, siswa yang pada awalnya enggan untuk memanfaatkan

    berbagai layanan bimbingan dan konseling di sekolah akan mau untuk

    berpartisipasi, menyukai, dan mau memanfaatkan berbagai layanan BK untuk

    membantu mereka dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya serta

    berbagai permasalahan yang dihadapi oleh peserta didik.



D. Penelitian yang Relevan

       Ada beberapa penelitian terdahulu yang digunakan untuk mendukung

  penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Beberapa penelitian tersebut yaitu:

  1.   Penelitian yang dilakukan oleh Silvi Kurnia Sari (2007) yang berjudul

       “Pemberian Layanan Informasi tentang Bimbingan dan Konseling untuk

       Meningkatkan Minat Siswa dalam Memanfaatkan Pelayanan Bimbingan

       dan Konseling (Studi di SMA Negeri 2 Sumenep)”. Penelitian ini

       menggunakan angket dan wawancara sebagai metode pengumpul data.

       Penelitian yang dilakukan kepada 244 siswa kelas X ini diketahui

       sebanyak 35 siswa menunjukkan kurang berminat dalam memanfaatkan

       pelayanan bimbingan dan konseling
                                                                           54




          Kemudian siswa tersebut diberikan perlakuan berupa pemberian

     layanan informasi tentang bimbingan dan konseling selama enam kali

     pertemuan. Hasil penelitian ini menunjukkan ada perbedaan yang

     signifikan antara minat siswa dalam memanfaatkan pelayanan bimbingan

     dan konseling antara sebelum dan sesudah diberikan informasi tentang

     bimbingan dan konseling

2.   Penelitian yang dilakukan oleh Ratri Ebri Ambarsari (2009) tentang

     “Meningkatkan Minat Memanfaatkan Layanan Bimbingan dan Konseling

     di Sekolah Siswa Kelas X SMA Negeri 20 Surabaya Melalui Layanan

     Pemberian Informasi”. Metode yang digunakan sebagai alat pengumpul

     data dalam penelitian ini berupa angket yang diberikan kepada 32 siswa

     sebagai subjek penelitian. Hasil pre-test menunjukkan siswa yang

     berminat sebanyak 4 orang, siswa yang kurang berminat sebanyak 27

     orang, sedangkan siswa yang tidak berminat sebanyak 1 orang.

     Selanjutnya diberikan perlakuan berupa pemberian layanan informasi

     selama lima kali pertemuan pada bulan Mei-Juni 2009. Setelah diberikan

     perlakuan, diketahui ada perbedaan yang signifikan pada skor minat siswa

     dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling antara sebelum

     dan sesudah menerima layanan pemberian informasi

3.   Penelitian yang dilakukan oleh Nuri Handayani (2008) yang berjudul

     “Penerapan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Diskusi Kelompok untuk

     Meningkatkan Motivasi BelajarSsiswa Kelas X-UJP SMK Negeri 4
                                                                         55




    Surabaya”.   Penelitian   ini   menggunakan   angket   sebagai   metode

    pengumpul data. Subjek dalam penelitian ini adalah 10 siswa kelas X-UJP

    (Usaha Jasa Pariwisata) yang memiliki motivasi belajar rendah. Subjek

    penelitian kemudian diberikan perlakuan berupa bimbingan kelompok

    dengan tehnik diskusi kelompok sebanyak enam kali pertemuan pada

    bulan Mei-Juni 2008. Setelah diberikan perlakuan, diketahui ada

    perbedaan yang signifikan dalam skor motivasi belajar sebelum dan

    sesudah pemberian bimbingan kelompok dengan tehnik diskusi kelompok.



    Pada beberapa penelitian terdahulu, metode yang digunakan untuk

meningkatkan minat siswa dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan

konseling di sekolah adalah melalui pemberian layanan informasi. Sedangkan

dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah melalui penerapan diskusi

kelompok . Adapun alasan penerapan tehnik ini adalah selain siswa

mendapatkan informasi tentang bimbingan dan konseling di sekolah, siswa

juga dapat memecahkan masalah dengan saling bertukar pendapat, serta

pengalaman dari sesama anggota kelompok.
                                                                              56




E. Kerangka Berpikir

      Minat merupakan kecenderungan jiwa (afektif) dan perhatian seseorang

  terhadap suatu hal, sehingga seesorang menjadi termotivasi dan tumbuh rasa

  senangnya terhadap hal tersebut (Prasetyono, 2008). Rendahnya minat siswa

  akan berdampak pada terganggunya proses belajarnya di sekolah, tidak adanya

  motivasi berprestasi, serta tidak terselesaikannya permasalahan yang mereka

  hadapi.

      Fenomena di SMA Unggulan BPPT Al-Fattah Lamongan menunjukkan

  bahwa sekitar 80% siswa yang kurang berminat dalam memanfaatkan layanan

  bimbingan dan konseling. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya kunjungan siswa

  ke ruang BK untuk mencari informasi ataupun melaksanakan konseling dengan

  konselor sekolah. Selain itu, mereka juga enggan berpartisipasi ketika guru BK

  memberikan informasi di kelas. Menurut beberapa siswa, mereka enggan

  melaksanakan konseling karena takut masalahnya akan diketahui orang lain

  karena ruang BK dianggap sebagai tempat yang kurang aman untuk berbagi

  cerita. Selain itu, citra BK sebagai tempat menghukum siswa yang melakukan

  pelanggaran atau polisi sekolah masih melekat dalam diri siswa.

      Maka dari itu, siswa perlu mendapatkan penanganan agar memiliki minat

  yang tinggi dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah,

  mengetahui arti, peran, serta fungsi yang sebenarnya dari BK. Salah satu

  kegiatan yang dapat dilakukan adalah melalui pelaksanaan diskusi kelompok,

  karena bimbingan melalui aktifitas kelompok lebih efektif, peran individu lebih
                                                                                57




aktif, juga memungkinkan terjadinya pertukaran pemikiran, pengalaman,

rencana, dan penyelesaian masalah (Nurihsan, 2006:24). Penerapan diskusi

kelompok ini akan diberikan kepada siswa kelas X-1 yang teridentifikasi

mempunyai minat yang rendah dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan

konseling. Penentuan subyek ini berdasarkan pemberian angket yang telah

diberikan kepada siswa kelas X-1 sebagai subyek penelitian.

    Diskusi kelompok ini dilakukan dengan saling berbagi tentang berbagai

hal yang berkaitan dengan bimbingan dan konseling di sekolah seperti

bagaimanakah BK yang sebenarnya di sekolah, berbagai layanan dalam

bimbingan dan konseling, serta manfaatnya bagi siswa. Melalui diskusi

kelompok, siswa anggota kelompok akan mendapatkan informasi dari teman-

teman dan pemimpin diskusi, saling bertukar pendapat dan pengalaman.

Dengan    demikian,   mereka    akan      mendapatkan       pemahaman      tentang

bagaimanakah peran dan fungsi dari BK yang sebenarnya, sehingga persepsi

negatif, keengganan untuk memanfaatkan berbagai layanan bimbingan dan

konseling tidak ada lagi di dalam diri siswa. Sehingga mereka bersedia untuk

memanfaatkan berbagai layanan dalam BK untuk membantu segala

permasalahan   yang    mereka   hadapi.    Mereka    juga     diharapkan    untuk

mengembangkan      kesadaran    tentang    diri   sendiri    dan   orang     lain,

mengembangkan keterampilan dan keberanian untuk mengemukakan pendapat,

mendapatkan informasi dari teman-teman dan pemimpin diskusi, memberikan

suatu kesadaran bagi setiap peserta bahwa setiap orang mempunyai masalah
                                                                          58




sendiri-sendiri, cenderung mengubah sikap dan tingkah laku tertentu setelah

mendengarkan pandangan, kritikan atau saran dari teman anggota kelompok.

Seperti yang dikatakan oleh Sukardi (1987:495) bahwa diskusi kelompok

adalah suatu bentuk pendekatan yang kegiatannya bercirikan suatu keterikatan

pada suatu pokok masalah atau pertanyaan, dimana anggota-anggota atau

peserta diskusi itu secara jujur berusaha untuk memperoleh kesimpulan setelah

mendengarkan dan mempelajari, serta mempertimbangkan pendapat-pendapat

yang dikemukakan.

    Diskusi kelompok ini dilaksanakan selama enam kali pertemuan dalam

empat tahap, yang meliputi tahap persiapan, tahap peralihan, tahap kegiatan,

dan tahap pengakhiran. Dalam tahap persiapan, pemimpin kelompok

mempersiapkan topik, tujuan, waktu, tempat diskusi, sarana dan fasilitas yang

dibutuhkan saat melakukan diskusi kelompok. Kegiatan dalam tahap peralihan

adalah perkenalan pemimpin diskusi dan para anggota kelompok dan

pemimpin diskusi dapat bertanya tentang kesiapan anggota kelompok untuk

memulai kegiatan diskusi kelompok. Dalam tahap ketiga atau tahap kegiatan,

pemimpin/ anggota kelompok mengutarakan topik kemudian membahasnya

secara mendalam dan tuntas. Dalam tahap kegiatan ini, para anggota kelompok

saling bertukar pengalaman, berbagi informasi-informasi baru, belajar

mengungkapkan perasaan yang dialami maupun memahami perasaan yang

dirasakan orang lain tentang bagaimanakah BK di sekolah dan berbagi

pandangannya, sehingga dapat mengurangi konflik yang terjadi dan mampu
                                                                          59




menerima serta memberi dukungan kepada orang lain. Pada tahap ini para

anggota kelompok juga saling memberi tanggapan, saran, maupun kritik atas

apa yang diungkapkan oleh anggota kelompok yang lain. Dengan demikian,

anggota kelompok akan mendapatkan kesimpulan dan pemahaman baru

tentang BK di sekolah, sehingga akan timbul perasaan senang dan tidak takut

lagi untuk berpartisipasi dan terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan

dengan layanan bimbingan dan konseling. Sedangkan dalam tahap pengakhiran

kegiatan yang dilakukan adalah menyimpulkan hasil dari diskusi kelompok dan

pemimpin kelompok dapat membuat janji untuk pertemuan berikutnya

    Dengan demikian, melalui pelaksaan diskusi kelompok ini diharapkan

siswa akan memiliki minat yang tinggi dan mau memanfaatkan berbagai

layanan bimbingan dan konseling di sekolah, mau berpartisipasi, mempunyai

perasaan senang terhadap aktivitas yang dilakukannya, serta merasa bahwa

aktivitas tersebut sangat berarti untuknya.
                                                                             60




     Uraian kerangka berpikir tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

                           Minat     yang
                           tinggi

                                                        Minat siswa yang tinggi dalam
Minat Siswa                                             memanfaatkan layanan BK:
                                                         Menyukai           aktivitas
                                                           tersebut
                           Minat     yang                Mau berpartisipasi
                           rendah                        Merasa aktifitas yang
                                                           dilakukannya         sangat
                                                           berarti
                                                         Merasa senang dengan
                                                           segala sesuatu yang
                                                           berhubungan dengan
                                                           aktifitasnya


          Diskusi Kelompok bertujuan:
          Menanamkan/mengembangkan
           keberanian untuk berpendapat
         Mendapatkan informasi
         Kecenderungan mengubah sikap
           dan tingkah laku setelah
           mendapatkan pandangan, kritikan
           atau saran
          Tahap Pelaksanaan:
          Persiapan
          Peralihan
          Kegiatan
          Pengakhiran




                                    Bagan 2.1

                            Kerangka Berpikir
                                                                     61




F. Hipotesis

       Berdasarkan permasalahan dan kajian pustaka diatas, maka dapat

  dirumuskan hipotesis sebagai berikut :

       ” Diskusi kelompok mampu meningkatkan minat siswa kelas X dalam

  memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling di SMA Unggulan BPPT Al-

  Fattah Lamongan”

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: Contoh, skripsi
Stats:
views:538
posted:7/9/2012
language:
pages:50