Docstoc

Petilasan Ardilawet

Document Sample
Petilasan Ardilawet Powered By Docstoc
					                             PETILASAN ARDI LAWET

                 (BANGUNAN MAKAM SYEH JAMBUKARANG)



1   Lokasi                    - Desa : Penusupan

                              - Kec. : Rembang



2   Bentuk Bangunan           Srotong



3   Bahan Bangunan            Dinding kayu, atap ijuk, lantai batu



4   Ukuran Bangunan           Luas areal : 65 m x 30 m

                              Bangunan : 8 m x l4 m x 2,5 m (plt)



5   Didirikan                 Abad 12 M



6   Latar belakang sejarah    Makam dari Syeh Jambukarang Haji Purba
                              penyebar agama Islam pertama di wilayah
                              Purbalingga    sampai    wilayah    eks
                              Karesidenan Banyumas



7   Fungsi sekarang           Untuk ziarah dan pada umumnya
                              masyarakat yang datang untuk minta berkah



8   Keterangan                Bentuk bangunan : punden berundak
A. Identifikasi Obyek
          Situs Ardi Lawet terletak di gunung Lawet, diantara pegunungan di sebelah timur
G.Slamet (3420 m), dalam wilayah Penusupan (sebelah utara), Kecamatan Rembang, Kabupaten
Purbalingga. Jarak tempuh Purbalingga –Lawet melalui Kecamatan Rembang menuju situs Ardi
Lawet sekitar 40 km. Untuk menuju situs Ardi Lawet harus ditempuh dengan jalan kaki
sepanjang 5 km dai Desa Penusupan. Ketinggian situs ini lebih 1320 m. Situs Ardi Lawet ini
banyak difungsikan oleh masyarakat sebagai obyek wisata ziarah dan rekreasi hiking bagi
remaja.
          Situs Ardi Lawet ini telah dicatat sebagai peninggalan purbakala masa klasik Islam di
dalam ensiklopedi van Nederlandsch-Indie yang diterbitkan oleh pemerintah Hindia Belanda
pada tahun 1919 dan tahun 1974 telah diteliti oleh Tim Peneliti gabungan dari Balai Arkeologi
Yogyakarta dan Fakultas Sastra UGM.


B. Bentuk Bangunan
          -   Bangunan makam bercungkup terletak di atas tanah puncak bukit yang disusun
              berundak
          -   Luas bangunan utama 3 x 2 m tinggi 2,5 m, luas tanah 10 x 10 m
          -   Di tingkat bawahnya terdapat Paseban dengan ukuran bangunan 8 x 4 m dan tinggi
              3,4 m, paseban ini digunakan untuk melakukan khalwat para peziarah



C. Arsitektur
Situs Ardi Lawet secara keseluruhan terletak dalam kawasan yang cukup luas dengan rincian
sebagai berikut:
          -   Untuk memasuki kawasan situs, orang harus melalui pintu gerbang yang dibuat
              penduduk setempat dalam bentuk sedeerhana seperti gardu jaga
          -   Gerbang Kyai Kunci berada tepat di belakang gardu jaga yang berfungsi sebagai
              tempat untuk mengucapkan salam bagi para peziarah.
          -   Setelah bangunan ini peziarah akan melewati teras batu tak beraturan dan berkelok-
              kelok
         -   Bangunan selanjutnya adalah Gubug Kyai Santri, yang berupa gubug sederhana,
             disinilah para peziarah menyampaikan maksudnya, misalnya permohonan untuk
             mendapat keturunan.
         -   Gerbang berikutnya, yang terakhir berupa bangunan Paseban yang disebut Gerbang
             Kyai Pakerisan, yaitu merupakan tempat untuk para peziarah yang menginap. Di
             atasnya terdapat bangunan makam bercungkup sebagai titik pusatnya yang terbuat
             dari kayu dan ipik. Jirat makam dan     isan terbuat dari kayu secara sederhana,
             demikian bangunan cungkupnya.


D. Latar belakang sejarah
         Situs Ardi Lawet ini banyak dihubungkan dengan cerita rakyat yang hidup di daerah
sekitarnya, yang menceritakan riwayat hidup Pangeran Jambu Karang di dalam perjalanannya
mencari cahaya (nur) kebenaran dan seorang pemeluk agama Budha yang akhirnya memeluk
Islam. Tokoh Pangeran Jambu Karang ini ada yang menghubungkn dengan tokoh sejarah Haji
Purwa atau Haji Purba. Haji Purwa ini menurut Raflles di dalam bukunya History of java vol 2
adalah salah seorang Pangeran dari dua orang pangeran dari putera Brawijaya Mahisa
Tendreman, Raja Pajajaran.
         Diceritakan salah seorang pangeran tertua Prabu Brawijaya Mahisa Tandreman, yang
bernama Raden Mundingwangi lebih menyukai hidup sebagai pertapa daripada menggantikan
tahta ayahnya. Tahta kerajaan diserahkan kepada kepada adiknya, Taden Mangunsari yang
dinobatkan pada tahun 1112 Caka (1190 M0. Selanjutnya ia mengembara ke arah barat, di
wilayah Banten dan akhirnya bertapa di gunung Jambu Karang.
         Pada saat itulah, menurut cerita, ia mendapat surat dari ayahnya Prabu Mahisa Tadreman
yang isinya antara lain, “barang siapa ingin menjadi raja yang menguasai pulau Jawa dan
bergelar Ratu Pinindita, jika ia masih memiliki sifat keduniawian, sombong dan bersifat sukaria,
maka hentikanlah niatnya. Karena itu wahai puteraku bertapalah engkau di tanah suci yang
mengeluarkan cahaya sebesar lidi yang memancar ke angkasa. Adapun tanah suci terletak di
gunung Mandala Giri”. Demikianlah pesan ayahnya di dalam suranya. Setelah membaca isi surat
itu kemudian Raden Mundingwangi berusaha untuk mencari tempat yang disebutkan dalam
surat.
       Pada suatu hari ia melihat ke arah timur dan melihat cahaya sebesar lidi (Seksada Lanang
Gedene) yang memancar ke angkasa. Maka berangkatlah ia bersama-sama dengan pengawalnya
menuju tempat yang mengeluarkan itu. Perjalanan mereka melewati daearah Sihbon (Cirebon)
terus ke arah timur sampai desa Merata atau Wiradesa, terus ke wilayah Pekalongan yang
akhirnya belok ke arah selatan melalui desa Pasiraman. Pada suatu tempat cahaya itu makin
terbuka dan tampak jelas dan terang. Sehubungan dengan peristiwa itu, maka tempat itu diberi
nama desa Bukareja sebagai kenangan (sekarang berada di wilayah kabupaten Purbalingga
sebelah tenggara). Perjalanan mereka diteruskan ke arah barat dan akhirnya dapat, menemukan
tempat yang mengeluarkan cahaya itu di wilayah Gunung Mahisagiri tepatnya di gunung Prahu
di daerah Lawet sekarang dan ujung cahaya itu berakhir di tanah Munggul di gunung Grantung.
Di tanah Munggul inilah Raden Mundingwangi atau Pangeran Jambu Karang bertapa sesuai
pesan ayahnya.
       Tersebutlah di sisi lain ada seorang mubalig di tanah Arab, terkenal dengan gelar
Pangeran Atas Angin, yang konon mendapat ilham sesudah melaksanakan sholat subuh, bahwa
di sebelah timur terdapat tiga buah cahaya putih yang memancar menjulang sangat tinggi ke
angkasa.
       Beradasarkan ilham itu maka ia bersama dengan 200 orang pengiringnya pergi
meningga;kan tanah Arab ke arah timur. Singkat ceritanya, mereka sampai di Gresik dan
kemudian menyusur daerah pantai sampai di daerah Pemalang dan akhirnya sampailah mereka di
tanah Munggul dan bertemu dengan Pangeran Jambu Karang yang sedang bertapa. Pangeran
Atas Angin mengucapkan salam “Assalamu’aliakum Wr Wb”, akan tetapi Pangeran Jambu
Karang tidak menyahutnya. Kemudian Pangeran Atas Angin bertanya kepada Pangeran Jambu
Karang : “ Siapakah anda ?, Apakah anda seorang pandai dan sakti serta seorang penganut
agama Budha?”. Pangeran Jambu Karang menjawab, “bila anda menduga saya seorang yang
pandai dan sakti kiranya bukan dan dugaan saya seorang penganut Budha, memanglah demikian
“. Siapakah anda sebenarnya ?, Sahut Pangeran Atas Angin. “Saya Pangeran Atas Angin dan
siapa pula anda dan apa perlunya anda berada di sini ? “. Pangeran Jambu Karang menjelaskan,
“Aku sedang melaksanakan tapa sesuai dengan perintah ayahku yaitu bertapa di sebidang tanah
yang mengeluarkan cahaya memancar sebesar lidi ke angkasa. Dan, engkau Pangeran Atas
Angin punya maksud apa dating kemari ?.Pangeran Atas Angin, “Kelak bila Pulau Jawa telah
berkembang menjadi ramai dan banyak tumbuh desa-desa, saya akan menitipkan agama Islam,
apakah anda berkenan mengikuti rencana saya itu ?”. “Saya akan mengikuti rencana anda itu,
apabila anda juga memenuhi permintaan saya “, Jawaban pangeran Jambu Karang, yakni dalam
hal mengadu kesaktian.
        Dalam mengadu kesaktian tersebut Pangeran Jambu Karang kalah dan pangeran Jambu
Karang menerima kekalahan itu dan bersedia dengan ikhlas untuk menganut agama Islam.
Sebagai sratanya Pangeran Jambu karang harus memotong kuku dan rambutnya. Konon
potomgan kuku dan rambutnya ditanam di petilasan Suro di desa Grantung. Selanjutnya untuk
menerima ajaran agama Islam Pangeran Jambu Karang melaksanakan di gunung Mandalagiri,
tepatnya di gunung Kraton tempat yang mengeluarkan cahaya. Sebagai awal pelajarannya
Pangeran Jambu karang diajari berwudlu dan mengucapkan kalimat syahadat. Konon pada saat
wejangan itu dilaksanakan semua gunung yang berada di sekitarnya menundukan puncaknya dan
menghadap ke tempat tersebut, kecuali sebuah gunung yaitu gunung Bengkeng (membangkang).
Setelah tamat menerima wejangan, Pangeran Jambu Karang bergelar Syech Jambu Karang.
Pangeran Atas Angin kemudian pulang ke negerinya ( tanah Arab).

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:129
posted:7/8/2012
language:
pages:5