Docstoc

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)

Document Sample
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) Powered By Docstoc
					                                        BAB 1
                                    PENDAHULUAN


1.1   Latar Belakang
             Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau Penyakit Demam Berdarah ialah
      penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk
      Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di
      seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter
      di atas permukaan air laut.
             Indonesia masih menduduki peringkat pertama di dunia dalam kasus DHF.
      Peringkat ini sudah menjadi langganan sejak 10 tahun belakangan (Nuricha, 2009). Di
      Asia Tenggara termasuk Indonesia, epidemik Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)
      merupakan problem dan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak-anak.
      Penyakit DHF sampai saat ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan
      masyarakat yang utama di Indonesia. Jumlah penderita dan luas daerah
      penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya mobilitas dan
      kepadatan penduduk. (Djunaedi,2006:vii).
             Di Indonesia penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1968 di
      Surabaya dengan jumlah penderita 58 orang dengan kematian 24 orang. Sejak saat itu
      penyakit DHF cenderung menyebar ke seluruh Indonesia dan mencapai puncaknya
      pada tahun 1988 dengan insiden mencapai 13,45% Per 100.000 penduduk. Keadaan
      ini erat kaitannya dengan meningkatnya mobilitas penduduk dan sejalan dengan
      semakin lancarnya hubungan transportasi. (USU, 2004). Dan insiden-insiden di atas
      tidak juga mengalami penurunan pada tahun-tahun selanjutnya. Data terbaru
      menunjukkan bahwa pada tahun 2009, jumlah penderita DHF sebanyak 77.489 orang
      dan 585 pasien meninggal dunia (Depkes, 2009).
             Oleh karena itu, kami memberikan perlu diadakan pencegahan dini dengan
      mengoptimalkan peran tenaga kesehatan dan meningkatkan kemandirian masyarakat
      dalam rangka pemberantasan penyakit Demam Berdarah.




                                                                                        1
1.2   Tujuan
      1.2.1   Tujuan Umum
              Menjelaskan asuhan keperawatan Komunitas klien dengan DHF
      1.2.2   Tujuan Khusus
              1. Menjelaskan definisi DHF
              2. Menjelaskan etiologi DHF
              3. Menjelaskan patofisiologi DHF
              4. Menjelaskan manifestasi klinis DHF
              5. Menjelaskan pemeriksaan diagnostik DHF
              6. Menjelaskan penatalaksanaan klien dengan DHF
              7. Menjelaskan komplikasi dari DHF


1.3   Manfaat
      1.3.1   Manfaat Teoritis
              1. Mendapat pengetahuan tentang DHF
              2. Mendapat pengetahuan tentang cara menanggulangi DHF
      1.3.2   Manfaat Praktis
      Membantu menurunkan angka kejadian DHF dengan program yang telah ditetapkan




                                                                                    2
                                          BAB 2

                               TINJAUAN PUSTAKA


2.1   Definisi
               Di Indonesia, dengue haemorhagic fever (DHF) biasa dikenal denga nama
      demam berdarah dengue (DBD). DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh virus
      dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita
      melalui gigitan nyamuk aedes aegepty (Christantie Efendy,1995 ).
               Dengue haemorhagic fever ( DHF ) atau demam berdarah dengue adalah suatu
      penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang tergolong arbovirus dan masuk ke
      dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang betina (Suriadi,
      2001).
               Demam dengue adalah penyakit yang terdapat pada anak-anak dan dewasa
      dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi, yang biasanya memburuk setelah
      dua hari pertama terinfeksi virus ( Arif Mansjur : 2001).


2.2   Klasifikasi
               DHF diklasifikasikan berdasarkan derajat beratnya penyakit, secara klinis
      dibagi menjadi 4 derajat (Menurut WHO, 1997) :
      1) Derajat I          :Demam dengan test rumple leed positif.
      2) Derajat II         :Derajat I disertai dengan perdarahan spontan dikulit atau
         perdarahan lain.
      3) Derajat III        :Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah,
         tekanan nadi menurun/ hipotensi disertai dengan kulit dingin lembab dan pasien
         menjadi gelisah.
      4) Derajat IV         :Syock berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah
         tidak dapat diukur.


2.3   Etiologi
               Penyebab DHF adalah Arbovirus (Arthropodborn Virus) melalui gigitan
      nyamuk Aedes (Aedes Albopictus dan Aedes Aegepty). Nyamuk Aedes Aegypt
      bercirikan memiliki garis belang hitam-putih pada tubuhnya dan menggigit pada siang


                                                                                       3
      hari. Satu nyamuk dapat menjangkiti beberapa orang dalam waktu singkat. Seseorang
      dapat terjangkit demam berdarah lebih dari 1 kali (Widoyono, 2008).
             Virus dengue tergolong dalam famili/suku/grup flaviviridae dan dikenal ada 4
      serotipe. Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke-
      II, sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953 –
      1954. Virus dengue berbentuk batang, bersifat termolabil, sensitif terhadap inaktivasi
      oleh dietileter dan natrium dioksikolat, stabil pada suhu 70 °C. Dengue merupakan
      serotipe yang paling banyak beredar (Widoyono, 2008).


2.4   Manifestasi klinis
             Gambaran klinis yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DHF dengan
      masa inkubasi anatara 13 – 15 hari, tetapi rata-rata 5 – 8 hari. Gejala klinik timbul
      secara mendadak berupa suhu tinggi, nyeri pada otot dan tulang, mual, kadang-kadang
      muntah dan batuk ringan. Sakit kepala dapat menyeluruh atau berpusat pada daerah
      supra orbital dan retroorbital. Nyeri di bagian otot terutama dirasakan bila otot perut
      ditekan. Sekitar mata mungkin ditemukan pembengkakan, lakrimasi, fotofobia, otot-
      otot sekitar mata terasa pegal. Eksantem yang klasik ditemukan dalam 2 fase, mula-
      mula pada awal demam (6 – 12 jam sebelum suhu naik pertama kali), terlihat jelas di
      muka dan dada yang berlangsung selama beberapa jam dan biasanya tidak
      diperhatikan oleh pasien.
             Ruam berikutnya mulai antara hari 3 – 6, mula – mula berbentuk makula besar
      yang kemudian bersatu mencuat kembali, serta kemudian timbul bercak-bercak
      petekia. Pada dasarnya hal ini terlihat pada lengan dan kaki, kemudian menjalar ke
      seluruh tubuh. Pada saat suhu turun ke normal, ruam ini berkurang dan cepat
      menghilang, bekas-bekasnya kadang terasa gatal. Nadi pasien mula-mula cepat dan
      menjadi normal atau lebih lambat pada hari ke-4 dan ke-5.
             Bradikardi dapat menetap untuk beberapa hari dalam masa penyembuhan.
      Gejala perdarahan mulai pada hari ke-3 atau ke-5 berupa petekia, purpura, ekimosis,
      hematemesis, epistaksis. Juga kadang terjadi syok yang biasanya dijumpai pada saat
      demam telah menurun antara hari ke-3 dan ke-7 dengan tanda : anak menjadi makin
      lemah, ujung jari, telinga, hidung teraba dingin dan lembab, denyut nadi terasa cepat,
      kecil dan tekanan darah menurun dengan tekanan sistolik 80 mmHg atau kurang.




                                                                                           4
2.5   Patofisiologi
               Patofisiologi primer DBD adalah peningkatan akut permeabilitas vaskuler
      yang mengarah pada kebocoran plasma ke dalam ruang ekstravaskuler, sehingga
      menimbulkan hemokonsentrasi dan penurunan tekanan darah. Volume plasma
      menurun lebih dari 20% pada kasus-kasus berat, hal ini didukung penemuan post-
      mortem meliputi efusi serosa, efusi pleura, hemokonsentrasi dan hipoproteinemia
      (Widoyono, 2008).
               Tidak terjadi lesi destruktif nyata pada vaskuler, menunjukkan bahwa
      perubahan sementara fungsi vaskuler diakibatkan suatu mediator kerja singkat. Jika
      kondisi penderita sudah mulai stabil. ekstravasasi diabsorpsi dengan cepat,
      menimbulkan penurunan hematokrit. Perubahan homeostasis pada DHF melibatkan
      tiga factor yaitu perubahan vaskuler, trombositopeni, dan kelainan koagulasi. Hampir
      semua penderita DHF mengalami peningkatan fragilitas vaskuler dan trombositopeni,
      dan banyak diantara penderita menunjukkan koagulogram yang abnormal (Widoyono,
      2008).
               Ketika nyamuk Aedes aegypti menggigit orang yang sudah terinfeksi virus
      DHF, maka virus dengue masuk ke tubuh nyamuk bersama darah yang diisapnya. Di
      dalam tubuh nyamuk, virus berkembang biak dan menyebar ke seluruh bagian tubuh
      nyamuk, dan sebagian besar berada di kelenjar liur. Selanjutnya waktu nyamuk
      menggigit orang lain, air liur bersama virus dengue dilepaskan terlebih dahulu agar
      darah yang akan dihisap tidak membeku. Pada saat inilah virus dengue ditularkan ke
      orang lain (Soegeng Soegijanto, 2008).
               Di   dalam   tubuh   manusia,   virus   berkembang   biak   dalam   sistem
      retikuloendotelial, dengan target utama virus dengue adalah APC (antigen presenting
      cells) dimana pada umumnya berupa monosit atau makrofag jaringan. Virus
      bersirkulasi dalam darah perifer di dalam sel monosit atau makrofag, sel limfosit B,
      dan sel limfosit T. Antigen yang menempel pada makrofag ini akan mengaktivasi sel
      T-Helper dan menarik makrofag lain untuk memfagosit virus. T-Helper akan
      mengaktifasi sel T-sitotoksik yang akan melisis makrofag yang sudah memfagosit
      virus dan juga akan mengaktifkan sel B yang akan melepas antibody. Ada tiga jenis
      antibody yang telah dikenali yaitu antibody netralisasi, antibody hemaglutinasi, dan
      antibody fiksasi komplemen. Proses ini yang akan menyebabkan terlepasnya
      mediator-mediator yang merangsang terjadinya gejala sistemik yang nampak pada
      manifestasi klinis (Widoyono, 2008).
                                                                                        5
               Kemudian virus akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks
      virus-antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat
      aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a, dua peptida yang berdaya untuk
      melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor meningkatnya
      permeabilitas dinding kapiler pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya
      perembesan plasma ke ruang ekstra seluler (Widoyono, 2008).
               Perembesan plasma ke ruang ekstra seluler mengakibatkan berkurangnya
      volume plasma, terjadi hipotensi, hemokonsentrasi, dan hipoproteinemia serta efusi
      dan renjatan (syok). Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit > 20 %) menunjukkan
      atau menggambarkan adanya kebocoran atau perembesan plasma sehingga nilai
      hematokrit menjadi penting untuk patokan pemberian cairan intravena. Adanya
      kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler dibuktikan dengan ditemukannya cairan
      yang tertimbun dalam rongga serosa yaitu rongga peritoneum, pleura, dan pericard
      yang pada otopsi ternyata melebihi cairan yang diberikan melalui infus (Widoyono,
      2008).
               Setelah   pemberian   cairan   intravena,   peningkatan    jumlah    trombosit
      menunjukkan kebocoran plasma telah teratasi. Pemberian cairan intravena harus
      dikurangi kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah terjadinya edema paru dan gagal
      jantung, sebaliknya jika tidak mendapatkan cairan yang cukup, penderita akan
      mengalami kekurangan cairan yang dapat mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan
      bisa mengalami renjatan. Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan
      timbul anoksia jaringan, metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi
      dengan baik (Widoyono, 2008).
               Pada otopsi penderita DHF, ditemukan tanda-tanda perdarahan hampir di
      seluruh tubuh, seperti di kulit, paru, saluran pencernaan dan jaringan adrenal.


2.6   Pemeriksaan diagnostic
               Pemeriksaan laboratorium pada DHF akan dijumpai:
         1) Ig G dengue positif.
         2) Trombositopenia (100.000/ml atau kurang).
         3) Hemoglobin meningkat > 20 %.
         4) Hemokonsentrasi (hematokrit meningkat).
         5) Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan hipoproteinemia, hiponatremia,
               hipokloremia.
                                                                                           6
         6) Pemeriksaan serologi dengan menggunakan uji HI (Hemaaglutinaion
             Inhibition Test).
         7) Rontgen thorac, akan ditemukan efusi pleura.
             Pada hari ke- 2 dan ke- 3 terjadi leukopenia karena berkurangnya limfosit pada
      saat peningkatan suhu pertama kali, netropenia, aneosinofilia, peningkatan limfosit,
      monosit, dan basofil
         1) SGOT/SGPT mungkin meningkat.
         2) Ureum dan pH darah mungkin meningkat.
         3) Waktu perdarahan memanjang.
         4) Asidosis metabolik.
         5) Pada pemeriksaan urine dijumpai albuminuria ringan.
             Kriteria diagnosis WHO 1997 untuk DHF adalah:
                 1) Kriteria Klinis
                     a. demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas dan berlangsung
                        terus-menerus selama 2-7 hari
                     b. terdapat manifestasi perdarahan
                     c. pembesaran hati
                     d. syok
                 2) Kriteria Laboratoris
                    a. trombositopenia (, 100.000/mm3)
                    b. Hemokonsentrasi (Ht meningkat > 20%)


2.7   Penatalaksanaan
      1. Medik
         -   Pemberian antibiotik bila dikawatirkan infeksi sekunder.
         -   Pemberian obat antipiretik dari golongan asetaminofen
          DHF tanpa Renjatan
             -    Beri minum banyak ( 1 ½ - 2 Liter / hari )
             -    Obat anti piretik, untuk menurunkan panas, dapat juga dilakukan kompres
             -    Jika kejang maka dapat diberi luminal ( antionvulsan ) untuk anak
                  <1th>1th 75 mg Im. Jika 15 menit kejang belum teratasi , beri lagi luminal
                  dengan dosis 3mg / kb BB ( anak <1th>1th diberikan 5 mg/ kg BB.
             -    Berikan infus jika terus muntah dan hematokrit meningkat


                                                                                            7
    DHF dengan Renjatan
       -   Pasang infus RL
       -   Jika dengan infus tidak ada respon maka berikan plasma expander ( 20 -
           30 ml/ kg BB )
       -   Tranfusi jika Hb dan Ht turun
2. Keperawatan
   -   Tirah baring
   -   Diet makanan lunak
   -   Minum banyak (2-2,5 liter/24 jam) dapat berupa susu, teh manis, sirup dan
       beri sedikit oralit, pemberian cairan merupakan hal yang paling peting untuk
       penderita DHF.
   -   Pengawasan tanda - tanda vital secara kontinue tiap jam
   -   Pemeriksaan Hb, Ht, Trombocyt tiap 4 Jam
   -   Observasi intik output
   -   Pada pasienDHF derajat I : Pasien diistirahatkan, observasi tanda vital tiap 3
       jam , periksa Hb, Ht, Thrombosit tiap 4 jam beri minum 1 ½ liter - 2 liter per
       hari, beri kompres
   -   Pada pasien DHF derajat II : pengawasan tanda vital, pemeriksaan Hb, Ht,
       Thrombocyt, perhatikan gejala seperti nadi lemah, kecil dan cepat, tekanan
       darah menurun, anuria dan sakit perut, beri infus.
   -   Pada pasien DHF derajat III : Infus guyur, posisi semi fowler, beri o2
       pengawasan tanda - tanda vital tiap 15 menit, pasang cateter, obsrvasi
       productie urin tiap jam, periksa Hb, Ht dan thrombocyt.
    Resiko Perdarahan
       -   Obsevasi perdarahan : Pteckie, Epistaksis, Hematomesis dan melena
       -   Catat banyak, warna dari perdarahan
       -   Pasang NGT pada pasien dengan perdarahan tractus Gastro Intestinal
    Peningkatan suhu tubuh
       -   Observasi / Ukur suhu tubuh secara periodik
       -   Beri minum banyak
       -   Berikan kompres




                                                                                   8
2.8   Pencegahan
             Tidak ada vaksin yang tersedia secara komersial untuk penyakit demam
      berdarah. Pencegahan utama demam berdarah terletak pada menghapuskan atau
      mengurangi vektor nyamuk demam berdarah.
             Prinsip yang tepat dalam pencegahan DHF ialah sebagai berikut :
      1) Memanfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiah dengan
         melaksanakan pemberantasan vektor pada saat sedikit terdapatnya kasus DHF.
      2) Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vektor pada tingkat
         sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita viremia sembuh secara
         spontan.
      3) Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah penyebaran yaitu di sekolah,
         rumah sakit termasuk pula daerah penyangga sekitarnya.
      4) Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah berpotensi penularan
         tinggi.
             Ada 2 macam pemberantasan vektor antara lain :
      1) Menggunakan insektisida. Yang lazim digunakan dalam program pemberantasan
         demam berdarah dengue adalah malathion untuk membunuh nyamuk dewasa dan
         temephos (abate) untuk membunuh jentik (larvasida). Cara penggunaan malathion
         ialah dengan pengasapan atau pengabutan. Cara penggunaan temephos (abate)
         ialah dengan pasir abate ke dalam sarang-sarang nyamuk aedes yaitu bejana
         tempat penampungan air bersih, dosis yang digunakan ialah 1 ppm atau 1 gram
         abate SG 1 % per 10 liter air.
      2) Tanpa insektisida Caranya adalah :
         -   Menguras bak mandi, tempayan dan tempat penampungan air minimal 1 x
             seminggu (perkembangan telur nyamuk lamanya 7–10 hari).
         -   Insiatif untuk menghapus kolam-kolam air yang tidak berguna
         -   Menutup tempat penampungan air rapat-rapat.
         -   Membersihkan halaman rumah dari kaleng bekas, botol pecah dan benda lain
             yang memungkinkan nyamuk bersarang.
             Hal-hal yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan agar terhindar dari
      penyakit demam berdarah, sebagai berikut:
      1) Melakukan kebiasaan baik, seperti makan makanan bergizi, rutin olahraga, dan
         istirahat yang cukup;


                                                                                      9
       2) Memasuki masa pancaroba, perhatikan kebersihan lingkungan tempat tinggal dan
           melakukan 3M, yaitu menguras bak mandi, menutup wadah yang dapat
           menampung air, dan mengubur barang-barang bekas yang dapat menjadi sarang
           perkembangan jentik-jentik nyamuk, meski pun dalam hal mengubur barang-
           barang bekas tidak baik, karena dapat menyebabkan polusi tanah. Akan lebih baik
           bila barang-barang bekas tersebut didaur-ulang;
       3) Fogging atau pengasapan hanya akan mematikan nyamuk dewasa, sedangkan
           bubuk abate akan mematikan jentik pada air. Keduanya harus dilakukan untuk
           memutuskan rantai perkembangbiakan nyamuk;
       4) Segera berikan obat penurun panas untuk demam apabila penderita mengalami
           demam atau panas tinggi.
       5) Pakailah kelambu ketika tidur, khususnya bila anak-anak atau bayi tidur pada siang hari.
       6) Pastikan orang yang dicurigai terjangkit demam berdarah, dibawa ke klinik.


2.9    Strategi Intervensi Keperawatan Komunitas

       1. Tindakan promosi kepada masyarakat tentang DHF dan cara penularannya
           melalui penyuluhan dan kegiatan pemberian edukasi yang lain.
       2. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD melalui pembuatan
           kebijakan dan rencana strategis penanggulangan penyakit DBD, mengembangkan
           teknologi pemberantasan, mengembangkan pedoman pemberantasan, memberikan
           pelatihan dan bantuan teknis, melakukan penyuluhan dan promosi kesehatan serta
           penggerakan masyarakat
       3. Pertolongan pertama kepada tersangka penderita DBD untuk mempertahankan
           volume cairan dalam pembuluh darah penderita sehingga dapat membantu
           mengurangi angka kematian karena DBD.
       4. Kerjasama lintas sector untuk pemberantasan lebih lanjut pada kasus DHF


2.10   Perumusan Diagnosa Keperawatan Dan Intervensi Komunitas

       1. Resiko peningkatan angka kematian anak-anak berhubungan dengan terjangkitnya
           DBD ditandai dengan setiap tahun lebih dari 100 juta kasus di Indonesia terinfeksi
           dan lebih dari 5 % dari penderita meninggal dunia
       Tujuan umum : meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang cara pencegahan dan
               pengobatan DBD

                                                                                                 10
Tujuan khusus :
a. Menjelaskan bagaimana gejala dan cara penularan penyakit DBD
b. Mendiskusikan bagaimana cara mencegah dan mengobati penyakit DBD
c. Menguraikan dampak/efek penyakit DBD dalam kehidupan
Intervensi            :
a. Mengadakan health promotion (promosi kesehatan) mengenai makan makanan
   bergizi seimbang, berperilaku sehat, meningkatkan kualitas lingkungan untuk
   mencegah terjadinya penyakit misalnya menghilangkan tempat berkembang
   biaknya kuman penyakit, mengurangi dan mencegah polusi udara, menghilangkan
   tempat berkembang biaknya vektor penyakit misalnya genangan air yang menjadi
   tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes Aegepty.
b. Mencegah penyebaran penyakit DBD dengan melakukan kontrol perkembangan
   nyamuk, dengan 3M ( menguras, menutup dan mengubur), memelihara binatang (
   ikan) untuk membunuh larva nyamuk, taburkan insektisida khusus untuk
   membunuh larva nyamuk, bunuh nyamuk dewasa dengan semprot ruangan dengan
   insektisida sebeium tidur, berpartisipasi dalam kegiatan penyemprotan yang
   diberikan oleh tenaga kesehatan.
2. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan rendahnya kesadaran masyarakat
   mencari informasi ditandai dengan penyakit DBD.
Tujuan umum : meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya
                    mencegah penyakit DBD
Tujuan khusus :
a. Menjelaskan akibat penyakit DBD terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat.
b. Menguraikan dampak positif dari pencegahan penyakit DBD
c. Mendiskusikan pentingnya informasi tentang penyakit DBD sebagai alternatif
   pencegahan penyakit malaria
Intervensi            :
a. Mengadakan       penyuluhan   mengenai   makan    makanan   bergizi     seimbang,
   berperilaku sehat, meningkatkan kualitas lingkungan untuk mencegah terjadinya
   penyakit DBD misalnya menghilangkan tempat berkembang biaknya vektor
   penyakit, seperti genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk
   Aedes aegepty.
b. Mengajak masyarakat untuk melakukan kontrol perkembangan nyamuk, dengan
   3M ( menguras, menutup dan mengubur), memelihara binatang             (ikan) untuk
                                                                                  11
   membunuh larva nyamuk, taburkan insektisida khusus untuk membunuh larva
   nyamuk, bunuh nyamuk dewasa dengan semprot ruangan dengan insektisida
   sebeium tidur, berpartisipasi dalam kegiatan penyemprotan yang diberikan oleh
   tenaga kesehatan.


3. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan ditandai dengan di
   Indonesia, sampai tahun 2009, belum ditemukan vaksin untuk penyakit DBD.
Tujuan umum : Masyarakat menunjukkan kecemasan berkurang
Tujuan khusus :
a. Mendiskusikan masalah yang bisa membuat kecemasan masyarakat berkurang
b. Menjelaskan perubahan status kesehatan yang semakin buruk akibat kecemasan
   masyarakat mengenai DBD
Intervensi             :
a. Memberi kesempatan pada masyarakat untuk mengungkapkan perasaannya
b. Memberi penjelasan mengenai obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi
   penyakit DBD
c. Mengajak masyarakat untuk melakukan tindakan pencegahan DBD secara
   bersama-sama.




                                                                              12
                    BAB 3

                   PENUTUP



3.1   Kesimpulan



3.2   Saran




                             13
                                       DAFTAR PUSTAKA



Depkes RI. 2005. Situasi Derajat Kesehatan. http://www.depkes.go.id [diakses pada tanggal
          20 Februari]

Nurbeti, Maftuhah.2009. Demam Berdarah Dengue: Bagaimana Kita Bisa Mengalahkan
          Nyamuk?. www.kesehatan masyarakat.com [diakses pada tanggal 20 Februari]

Anonim. 2009. Demam Berdarah Dengue. Thesifull.com [diakses pada tanggal 20 Februari]

Siregar, Faziah A. 2004. Epidemiologi dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD)
          di Indonesia. Sumatera Utara: Universitas Sumatera Utara.

Soegijanto, Soegeng. 2008. Demam Berdarah Dengue. Ed 2. Surabaya: Airlangga University
          Press.

Widoyono.           2008.   Penyakit   Tropis:      Epidemologi,   Penularan,   Pencegahan    dan
          Pemberantasannya. Semarang: Erlangga

Dinkes Jatim. 2009. Demam Berdarah Dengue (DBD). http://www.dinkesjatim.go.id/berita-
          detail.html?news_id=550 [diakses 5 November 2010]
Eric.                   2010.                Pengasapan                Cegah                 DBD.
          http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1272198601/pengasapan-cegah-dbd [diakses 5
          November 2010]
Kandu,          I     Nyoman.    2004.     Peran     Masyarakat    dalam   Pemberantasan     DBD.
          http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1081228397,52420. [diakses 5
          November 2010]
Rifai, Herman. 2010. DBD Hantui Surabaya, CACAK Terjunkan Tim Pembasmi Nyamuk.
          http://www.walikotaku.com/index_fr.php?url=http://www.walikotaku.com/index_fr.p
          hp&900bc885d7553375aec470198a9514f3&newsid=404. [diakses 5 November 2010]
--,     2010.      Asuhan    Keperawatan     Pada     Klien   Dengan   DHF.     http://www.askep-
          askeb.cz.cc/2010/askep-dhf. [diakses 5 November 2010]




                                                                                               14

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:362
posted:7/6/2012
language:Malay
pages:14
Description: Di Indonesia, dengue haemorhagic fever (DHF) biasa dikenal denga nama demam berdarah dengue (DBD). DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegepty (Christantie Efendy,1995 ).