Docstoc

asas perjanjian asuransi

Document Sample
asas perjanjian asuransi Powered By Docstoc
					Nama        : Fany Febriany

Kelas       : 4B                             Tugas 2 Hukum Komersial

NIM         : 08179306




Asas-asas Perjanjian Dalam Asuransi:

   1. Asas indemnitas adalah satu asas utama dalam perjanjian asuransi, karena
      merupakan asas yang mendasari mekanisme kerja dan memberi arah tujuan dari
      perjanjian asuransi itu sendiri. Perjanjian asuransi mempunyai tujuan utama dan
      spesifik ialah untuk memberi suatu ganti kerugian kepada pihak tertanggung oleh
      pihak penanggung. Dalam prinsip indemnity terkandung pengertian bahwa apabila
      obyek yang diasuransikan terkena musibah sehingga menimbulkan kerugian maka
      penanggung atau lembaga asuransi akan memberi ganti rugi kepada tertanggung
      sesuai dengan prinsip indemnity (indemnitas). Tertanggung tidak berhak memperoleh
      ganti rugi lebih besar daripada kerugian yang diderita. Metode pembayaran/pengganti
      kerugian bervariasi tergantung dari kerugian yang diderita oleh tertanggung Namun
      demikian khusus untuk perjanjian asuransi jiwa tidak tepat dikatakan sebagai suatu
      perjanjian indemnity, sebab penanggung atau lembaga asuransi akan membayar
      penuh uang asuransi yang telah diperjanjikan tanpa memandang berapa kerugian
      yang nyata telah terjadi.



   2. Asas kepentingan yang dapat diasuransikan merupakan asas utama kedua dalam
      perjanjian asuransi/pertanggungan. Maksudnya adalah bahwa pihak tertanggung
      mempunyai keterlibatan sedemikian rupa dengan akibat dari suatu peristiwa yang
      belum pasti terjadinya dan yang bersangkutan menjadi menderita kerugian. Berarti
      tertanggung dalam perjanjian asuransi mempunyai suatu kepentingan yang dapat
      diasuransikan. Orang dikatakan memiliki insurable interest atas obyek yang
      diasuransikan bila orang tersebut menderita kerugian keuangan seandainya terjadi
      musibah atas obyek tersebut. Apabila terjadi musibah atas obyek yang diasuransikan
      dan terbukti bahwa orang tersebut tidak memiliki kepentingan keuangan atas obyek
      tersebut, maka orang tersebut tidak berhak menerima ganti rugi. Untuk asuransi jiwa,
      insurable interest harus ada pada saat membeli asuransi.



   3. Asas kejujuran yang sempurna dalam perjanjian asuransi, lazim juga dipakai istilah-
      istilah lain yaitu: iktikad baik yang sebaik-baiknya. Asas kejujuran ini sebenarnya
      merupakan asas bagi setiap perjanjian, sehingga harus dipenuhi oleh para pihak yang
      mengadakan perjanjian. bahwa setiap tertanggung berkewajiban memberitahukan
      secara jelas dan teliti mengenai segala fakta penting yang berkaitan dengan obyek
      yang diasuransikan serta tidak mengambil untung dari asuransi. Prinsip ini juga
      berlaku bagi perusahaan asuransi, yaitu kewajiban menjelaskan risiko yang dijamin
      maupun yang dikecualikan secara jelas dan teliti.



   4. Asas subrogasi bagi penanggung meskipun tidak mempengaruhi sah atau tidaknya
      perjanjian asuransi, perlu dibahas, karena merupakan salah satu asas perjanjian
      asuransi yang selalu ditegakkan pada saat-saat dan keadaan tertentu dalam rangka
      menerapkan asas pertama perjanjian asuransi ialah dalam rangka tujuan pemberian
      ganti rugi ialah asas indemnitas. Prinsip ini berkaitan dengan suatu keadaan dimana
      kerugian yang dialami tertanggung merupakan akibat dari kesalahan pihak ketiga
      (orang lain). Prinsip ini memberikan hak perwalian kepada penanggung oleh
      tertanggung jika melibatkan pihak ketiga. Dengan kata lain, apabila tertanggung
      mengalami kerugian akibat kelalaian atau kesalahan pihak ketiga, maka XYZ, setelah
      memberikan ganti rugi kepada tertanggung, akan mengganti kedudukan tertanggung
      dalam mengajukan tuntutan kepada pihak ketiga tersebut. Prinsip ini tidak terdapat
      dalam asuransi jiwa.



Syarat-syarat Perjanjian Asuransi:

   1. Adanya peristiwa yang tidak tertentu, yaitu adanya kejadian-kejadian yang tidak akan
      diketahui kapan akan terjadi. Misalnya kita tidak mengetahui kapan mobil kita akan
      mengalami kecelakaan. Oleh sebab itu maka hal ini disebut sebagai peristiwa yang
      tidak menentu dan mobil dapat dijadikan sebagai objek asuransi.



   2. Hubungan sebab akibat, dimana objek yang diasuransikan mengalami cacat dalam
      peristiwa yang memiliki hubungan sebab akibat. Misalnya mobil yang kecelakaan
      karena ditabrak oleh pengemudi lainnya. Hal ini lah yang disebut dengan hubungan
      sebab-akibat. Akan tetapi dalam kasus ini perlu diperjelas bahwa kecelakaan mobil
      tersebut tidak akan diganti rugi oleh pihak asuransi jika pihak yang menabrak telah
      mengganti atas kerugian objek asuransi tersebut.



   3. Apakah ada yang memberatkan risiko, dimana terdapat risiko yang lebih tinggi pada
      objek asuransi. Misalnya objek asuransi tersebut berada dalam lingkungan yang
      memilliki risiko yang lebih tinggi sementara di dalam perjanjian asuransi, objek
      asuransi tersebut tidak dikatakan demikian, maka pihak asuransi tidak akan mengganti
      kerugian atas objek tersebut.
4. Apakah ada cacat atau keburukan atau sifat kodrat dari barang, dimana objek yang
   diasuransikan memiliki sifat yang mudah cacat. Misalnya suatu objek asuransi
   memang telah mengalami cacat sebelumnya, akan tetapi pihak tertanggung
   melaporkan kepada pihak asuransi agar mengganti rugi atas objek asuransi tersebut.
   Maka pihak asuransi tidak akan mengganti rugi atas objek asuransi tersebut.



5. Kesalahan tertanggung, dimana pihak tertanggung melakukan kelalaian terhadap
   objek asuransinya. Misalnya kebakaran rumah terjadi karena kelalaian pihak
   tertanggung yang lupa mematikan kompor sehingga terjadilah kebakaran. Maka pihak
   asuransi tidak akan mengganti kerugian dari objek asuransi ini.



6. Nilai yang diasuransikan, dimana objek yang di asuransikan setara dengan nilai dari
   barang tersebut. Misalnya nilai dari objek yang diasuransikan tersebut adalah sebesar
   seratus juta rupiah dan diasuransikan selama 2 tahun, maka pihak tertanggung akan
   membayar polis dengan jumlah seratus juta dalam waktu dua tahun.

				
DOCUMENT INFO
Tags:
Stats:
views:695
posted:7/4/2012
language:Indonesian
pages:3