Docstoc

Kebijakan BI TKS Bank

Document Sample
Kebijakan BI TKS Bank Powered By Docstoc
					           STIM NITRO Makassar


              KEBIJAKAN BI TKS
              UMUM 13/1/PBI/2011
                   DALAM
               MENINGKATKAN
                 PRAKTEK
               IMPLEMENTASI
             MANAJEMEN RISIKO


FANY FEBRIANY
08179306
                                 2011
lilspace4dreams.wordpress.com

Pengertian Tingkat Kesehatan Bank

 Tingkat Kesehatan Bank adalah hasil penilaian kualitatif atas berbagai aspek yang
berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja suatu Bank atau UUS melalui:

   1. Penilaian Kuantitatif dan Penilaian Kualitatif terhadap faktor-faktor permodalan,
   kualitas aset, rentabilitas, likuiditas, sensitivitas terhadap risiko pasar; dan

   2. Penilaian Kualitatif terhadap faktor manajemen.

  Secara sederhana dapat dikatakan bahwa bank yang sehat adalah bank yang dapat
menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik. Dengan kata lain, bank yang sehat adalah
bank yang dapat menjaga dan memelihara kepercayaan masyarakat, dapat menjalankan
fungsi intermediasi, dapat membantu kelancaran lalu lintas pembayaran serta dapat
digunakan oleh pemerintah dalam melaksanakan berbagai kebijakannya, terutama
kebijakan moneter. Dengan menjalankan fungsi-fungsi tersebut diharapkan dapat
memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat serta bermanfaat bagi
perekonomian secara keseluruhan.

 Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik, bank harus mempunyai modal yang
cukup, menjaga kualitas asetnya dengan baik, dikelola dengan baik dan dioperasikan
berdasarkan prinsip kehati-hatian, menghasilkan keuntungan yang cukup untuk
mempertahankan kelangsungan usahanya, serta memelihara likuiditasnya sehingga dapat
memenuhi kewajibannya setiap saat. Selain itu, suatu bank harus senantiasa memenuhi
berbagai ketentuan dan aturan yang telah ditetapkan, yang pada dasarnya berupa
berbagai ketentuan yang mengacu pada prinsip-prinsip kehati-hatian di bidang perbankan.

  Penilaian tingkat kesehatan bank di Indonesia sampai saat ini secara garis besar
didasarkan pada faktor CAMEL (Capital, Assets Quality, Management, Earning dan
Liquidity). Seiring dengan penerapan risk based supervision, penilaian tingkat kesehatan
juga memerlukan penyempurnaan. Saat ini BI tengah mempersiapkan penyempurnaan
sistem penilaian bank yang baru, yang memperhitungkan sensitivity to market risk atau
risiko pasar. Dengan demikian faktor-faktor yang diperhitungkan dalam system baru ini
nantinya adalah CAMEL. Kelima faktor tersebut memang merupakan faktor yang
menentukan kondisi suatu bank. Apabila suatu bank mengalami permasalahan pada salah
satu faktor tersebut (apalagi apabila suatu bank mengalami permasalahan yang
menyangkut lebih dari satu faktor tersebut), maka bank tersebut akan mengalami
kesulitan.




                                                                                      fany febriany
lilspace4dreams.wordpress.com

  Sebagai contoh, suatu bank yang mengalami masalah likuiditas (meskipun bank
tersebut modalnya cukup, selalu untung, dikelola dengan baik, kualitas aktiva produktifnya
baik) maka apabila permasalahan tersebut tidak segera dapat diatasi maka dapat
dipastikan bank tersebut akan menjadi tidak sehat. Pada waktu terjadi krisis perbankan di
Indonesia sebetulnya tidak semua bank dalam kondisi tidak sehat, tetapi karena terjadi
rush dan mengalami kesulitan likuiditas, maka sejumlah bank yang sebenarnya sehat
menjadi tidak sehat.

 Meskipun secara umum faktor CAMEL relevan dipergunakan untuk semua bank, tetapi
bobot masing-masing faktor akan berbeda untuk masing-masing jenis bank. Dengan
dasar ini, maka penggunaan factor CAMEL dalam penilaian tingkat kesehatan dibedakan
antara bank umum dan BPR.



Latar Belakang

  Bank Indonesia kini menerapkan peraturan baru yaitu mewajibkan seluruh bank umum
mengumumkan tingkat kesehatan keuangan ke publik. Hal ini diatur dalam Peraturan
Bank Indonesia (PBI) No 13/1/PBI/2011 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank
Umum. Kebijakan ini sekaligus mencabut aturan sebelumnya, yakni PBI No
6/10/PBI/2004.

  Perubahan kompleksitas usaha dan profil risiko, penerapan Pengawasan secara
konsolidasi, serta perubahan pendekatan penilaian kondisi Bank yang diterapkan secara
internasional mempengaruhi pendekatan penilaian Tingkat Kesehatan Bank.

 Dalam rangka meningkatkan efektivitas penilaian tingkat kesehatan bank untuk
menghadapi perubahan-perubahan tersebut, diperlukan penyempurnaan penilaian tingkat
kesehatan bank dengan pendekatan berdasarkan risiko.



Pembahasan

  Selama ini penilaian tingkat kesehatan bank umum yang ada di Indonesia belum
terintegrasikan, dengan ada Risk Base profile maka penilaian terhadap tingkat kesehatan
bank menjadi lebih terintegrasikan. Hal ini akan mempermudah pengawasan dengan cara
bank melakukan penilaian sendiri Tingkat Kesehatan Bank dan hasil self assesment
Tingkat Kesehatan Bank yang telah mendapat persetujuan dari Direksi wajib disampaikan



                                                                             fany febriany
lilspace4dreams.wordpress.com

kepada Dewan Komisaris. Selanjutnya, hasil self assesment dimaksud wajib disampaikan
kepada Bank Indonesia.

   Adapun indikator dalam penilaian tingkat kesehatan bank yang baru adalah profil resiko,
good corporate governance, rentabilitas, dan permodalan bank. Dikhususkan pada profil
resiko, ada delapan hal yang termasuk di dalamnya, antara lain resiko kredit, pasar,
likuiditas, operasional, hukum, strategis, kepatuhan dan reputasi bank. Periode penilaian
tingkat kesehatan bank dilakukan paling kurang setiap semester (untuk posisi akhir bulan
Juni dan Desember) serta dilakukan pengkinian sewaktu-waktu apabila diperlukan.

 Namun untuk penilaian Tingkat Kesehatan Bank secara konsolidasi, penilaian terhadap
masing-masing faktor dilakukan secara konsolidasi antara Bank dengan Perusahaan Anak
dengan memperhatikan karakteristik usaha Perusahaan Anak dan pengaruhnya terhadap
Bank secara konsolidasi. Selain itu penetapan peringkat masing-masing faktor secara
konsolidasi dilakukan dengan memperhatikan signifikansi atau materialitas pangsa
Perusahaan Anak terhadap Bank secara konsolidasi dan/atau permasalahan Perusahaan
Anak yang berpengaruh secara signifikan terhadap Bank secara konsolidasi.

  Untuk diketahui, Perusahaan Anak adalah perusahaan yang dimiliki dan/atau
dikendalikan oleh Bank secara langsung maupun tidak langsung, baik di dalam negeri
maupun di luar negeri, yang memenuhi kriteria sebagaimana dimaksud dalam ketentuan
Bank Indonesia mengenai penerapan manajemen risiko secara konsolidasi bagi Bank
yang melakukan pengendalian terhadap perusahaan anak Bank wajib melaksanakan
kegiatan usaha berdasarkan prinsip kehati-hatian dan prinsip syariah dalam rangka
menjaga atau meningkatkan Tingkat Kesehatan Bank. Komisaris dan Direksi Bank wajib
memantau dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar Tingkat Kesehatan
Bank dapat dipenuhi.

  Keseluruhan dari indikator tersebut dianalisis secara komprehensif dan terstruktur yang
kemudian akan ditetapkan dalam sebuah peringkat. Dalam peringkat tersebut diberikan
nilai dari angka 1 sampai 5, dimana penetapan angka peringkat yang makin kecil
menunjukan kesehatan bank yang semakin baik. Namun, dalam hal berdasarkan hasil
identifikasi dan penilaian Bank Indonesia jika ditemukan permasalahan atau pelanggaran
yang secara signifikan mempengaruhi atau akan mempengaruhi operasional dan/atau
kelangsungan usaha Bank, Bank Indonesia berwenang menurunkan Peringkat Komposit
Tingkat Kesehatan Bank. Apabila Faktor Tingkat Kesehatan Bank yang ditetapkan dengan
peringkat 4 atau peringkat 5; Peringkat Komposit Tingkat Kesehatan Bank yang ditetapkan
dengan peringkat 4 atau peringkat 5; Peringkat Komposit Tingkat Kesehatan Bank yang
ditetapkan dengan peringkat 3, namun terdapat permasalahan signifikan yang perlu

                                                                             fany febriany
lilspace4dreams.wordpress.com

diatasi agar tidak mengganggu kelangsungan usaha Bank, maka pengurus bank dan
pemegang saham wajib membuat action plan penyelesaian.

 Penilaian peringkat faktor manajemen ditetapkan dalam 4 (empat) peringkat sebagai
berikut:

   1. Peringkat manajemen A mencerminkan bahwa bank memiliki kualitas tata kelola
   (corporate governance) yang baik dengan kualitas manajemen risiko dan kepatuhan
   yang tinggi terhadap peraturan yang berlaku dan prinsip syariah;

   2. Peringkat manajemen B mencerminkan bahwa bank memiliki kualitas tata kelola
   (corporate governance) yang cukup baik dengan kualitas manajemen risiko dan
   kepatuhan yang cukup tinggi terhadap peraturan yang berlaku dan prinsip syariah;

   3. Peringkat manajemen C mencerminkan bahwa bank memiliki kualitas tata kelola
   (corporate governance) yang kurang baik dengan kualitas manajemen risiko dan atau
   kepatuhan yang rendah terhadap peraturan yang berlaku dan atau prinsip syariah;
   atau

   4. Peringkat manajemen D mencerminkan bahwa bank memiliki kualitas tata kelola
   (corporate governance) yang tidak baik dengan kualitas manajemen risiko dan atau
   kepatuhan sangat rendah terhadap peraturan yang berlaku dan atau prinsip syariah.

  Jika bank tidak memenuhi ketentuan tersebut, maka Bank Indonesia menyiapkan sanksi
teguran tertulis, penurunan kesehatan bank, dan pembekuan kegiatan usaha. Selain itu
Bank Indonesia akan mencantumkan pengurus atau pemilik saham bank dalam daftar
predikat tidak lulus terhadap penilaian kemampuan dan kepatutan.

Faktor yang menggugurkan penilaian tingkat kesehatan bank antara lain

~ Perselisihan Intern

~ Campur Tangan Pihak Luar Bank

~ Window Dressing

~ Praktek Bank dalam Bank

~ Kesulitan yang Mengakibatkan pengunduran dalam Kliring

~ Praktek yang Membahayakan Usaha Bank




                                                                        fany febriany
lilspace4dreams.wordpress.com

 Secara teknis aturan tersebut akan mempermudah Bank Indonesia dalam melakukan
pengawasan bank yang mulai menghadapi permasalahan, karena adanya penilaian
sendiri secara terintegrasi. Bahkan masalah yang ada pada anak perusahaan pun bisa
cepat terdeteksi.

  Kesehatan atau kondisi keuangan dan non keuangan Bank merupakan kepentingan
semua pihak terkait, baik pemilik, pengelola (manajemen) Bank, masyarakat pengguna
jasa Bank, Bank Indonesia selaku otoritas pengawasan Bank, dan pihak lainnya. Kondisi
Bank tersebut dapat digunakan oleh pihak-pihak tersebut untuk mengevaluasi kinerja
Bank dalam menerapkan prinsip kehati-hatian, kepatuhan terhadap ketentuan yang
berlaku dan manajemen risiko. Perkembangan industri perbankan, terutama produk dan
jasa yang semakin kompleks dan beragam akan meningkatkan eksposur risiko yang
dihadapi Bank. Perubahan eksposur risiko Bank dan penerapan manajemen risiko akan
mempengaruhi profil risiko Bank yang selanjutnya berakibat pada kondisi Bank secara
keseluruhan.

  Perkembangan metodologi penilaian kondisi Bank senantiasa bersifat dinamis sehingga
sistem penilaian tingkat kesehatan Bank harus diatur kembali agar lebih mencerminkan
kondisi Bank saat ini dan di waktu yang akan datang. Pengaturan kembali tersebut antara
lain meliputi penyempurnaan pendekatan penilaian (kualitatif dan kuantitatif) dan
penambahan faktor penilaian.

  Bagi perbankan, hasil akhir penilaian kondisi Bank tersebut dapat digunakan sebagai
salah satu sarana dalam menetapkan strategi usaha di waktu yang akan datang
sedangkan bagi Bank Indonesia, antara lain digunakan sebagai sarana penetapan dan
implementasi strategi pengawasan Bank. Agar pada waktu yang ditetapkan Bank dapat
menerapkan sistem penilaian tingkat kesehatan Bank sebagaimana diatur dalam
Peraturan Bank Indonesia ini, maka perbankan perlu melakukan langkah-langkah
persiapan dalam menerapkan sistem tersebut.




                                                                          fany febriany

				
DOCUMENT INFO
Tags:
Stats:
views:77
posted:7/4/2012
language:
pages:6