Docstoc

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN KELOLAAN DI RUANG SERUNI RSAB HARAPAN KITA JAKARTA

Document Sample
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN KELOLAAN  DI RUANG SERUNI RSAB HARAPAN KITA JAKARTA Powered By Docstoc
					LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN KELOLAAN
    DI RUANG SERUNI RSAB HARAPAN KITA JAKARTA



A. Riwayat Singkat
  Bayi Ny.R, jenis kelamin perempuan, umur 6 hari masuk Ruang Perina
  Seruni   tanggal 01 Desember 2010 dengan diagnosa risiko infeksi dan
  hiperbilirubinemia, tanggal dikaji 06 Desember 2010. Bayi Ny.R lahir di
  RSAB Harapan Kita tanggal 01 Desember 2010 jam 07.39 WIB melalui
  operasi Sectio Secaria pada usia kehamilan 37 minggu atas indikasi ketuban
  pecah dini. Bayi lahir dengan APGAR 8 pada 1 menit pertama dan 9 pada 5
  menit. Berat badan lahir 2675 gr dan panjang lahir 46 cm. Pada hari ke 2
  dilakukan pemeriksaan bilirubin dengan hasil 12.4, dan terus meningkat
  hingga 14.7 pada hari ke 5. Kulit ikterik pada seluruh badan. Bayi diberikan
  fototerapi.


B. Pato-flow
  Terlampir
C. Pengkajian
  Terlampir
D. Rencana Keperawatan
  Terlampir
E. Implementasi
  Terlampir
F. Evaluasi
  Terlampir
G. Identifikasi   Masalah     dan    Solusi   Terkait   Pemberian    Asuhan
  Keperawatan
  1. Masalah
      Bayi A mengalami hiperbilirubinemia dengan nilai bilirubin tertinggi
      14.9 pada hari ke 4.
  2. Solusi
      Penatalaksanaan     secara    umum      pada   bayi   yang   mengalami
      hiperbilirubinemia dengan terapi sinar adalah :
      a. Tempatkan bayi dalam inkubator yang telah disiapkan untuk
          dilakukan terapi sinar
      b. Lepaskan pakaian bayi
      c. Pasang alat penutup mata yang dapat memantulkan cahaya, jaga agar
          tidak sampai menutupi hidung
      d. Atur jarak bayi dari sumber sinar sekitar 45 cm
      e. Perhatikan suhu bayi dan suhu inkubator, temperatur dimonitor
          setiap 2 jam.
      f. Ubah posisi bayi setiap 2-3 jam agar penyinaran dapat berlangsung
          secara merata
      g. Berikan waktu untuk disusui oleh ibunya, matikan inkubator saat
          bayi disusui diluar inkubator.
      h. Siapkan tambahan ekstra cairan (ASI) bila diperlukan sebanyak 10-
          20% kebutuhan tubuh untuk menghindari dehidrasi.
      i. Monitor kulit terhadap komplikasi selama terapi sinar
      j. Pertahankan bayi dalam posisi fleksi dengan dikelilingi selimut yang
          digulung untuk memberikan kehangatan dan kenyamanan
      k. Timbang berat badan setiap hari.
H. Identifikasi Praktik Berdasarkan Pembuktian Ilmiah
  1. Kasus
     Tindakan untuk menurunkan kadar bilirubin adalah dengan memberikan
     terapi sinar.


  2. Evidence Based Practice
     Light Therapy (Terapi Sinar)
           Terapi sinar merupakan suatu alat yang memancarkan sinar,
     mengandung ultra violet, bersifat fluorescence. Alat ini terbuat dari
     rangkaian lampu TL yang memiliki panjang gelombang tetentu, dapat
     masuk melalui pori-pori kulit bayi dan mempengaruhi kadar bilirubin
     dalam darah. Terdapat dua warna dalam terapi sinar yaitu fluorescence
     biru dan putih, akan tetapi keduanya memiliki fungsi dan tujuan yang
     sama. Terapi sinar dapat menimbulkan dekomposisi bilirubin dari dari
     suatu senyawa tetra pirol yang sulit larut dalam air menjadi senyawa
     dipirol yang mudah larut dalam air, dan dikeluarkan melalui urin dan
     feses sehingga kadar bilirubin menurun. Selain itu pada terapi sinar
     ditemukan pula peninggian konsentrasi bilirubin indirek dalam cairan
     empedu duodenum dan menyebabkan bertambahnya pengeluaran cairan
     empedu ke dalam usus sehingga peristaltik usus meningkat dan bilirubin
     akan keluar bersama feses.
           Indikasi dilakukan terapi sinar adalah :
     a. Terjadi peningkatan kadar bilirubin darah indirek lebih dari 10 mg%
         pada bayi cukup bulan.
     b. Pencegahan terutama pada bayi yang kurus, bayi kecil yang
         cenderung mengalami peningkatan kadar bilirubin pada tingkat
         berbahaya terutama pada bayi prematur murni dan bayi dengan
         penyakit hemolisis.
     c. Bayi yang berumur 4 hari tanpa masalah medis dan memiliki ikterik
         non hemolitic disertai kadar bilirubin 15 mg% agar tidak terjadi
         peningkatan terus menerus.
     d. Bila Coomb Test (+) segera setelah lahir.
     Bayi Ny.R dilakukan terapi sinar karena memiliki salah satu indikasi di
     atas sebagai upaya pencegahan terjadinya peningkatan kadar bilirubin
     lebih tinggi lagi, hal ini sesuai dengan hasil penelitian dari Yaseen et al
     (2005) bahwa terapi sinar dapat mencegah terjadinya peningkatan
     bilirubin pada bayi dengan Tes Coombs (+) dan Inkompatibiliti ABO
     pada 48 jam pertama, namun untuk selanjutnya makna secara klinik
     tidak terlalu bermakna kecuali pada bayi yang memiliki kadar bilirubun
     serum total 8 mg% pada 24 jam pertama kehidupan dapat mencegah
     peningkatan bilirubin setelah 48 jam kehidupan.


I. Identifikasi Implementasi Aspek Etik dan Legal Terkait Klien dan
  Keluarga
  1. Kasus
     Bayi Ny.R dirawat terpisah dari ibunya karena bayi harus dirawat dalam
     inkubator dan diberikan terapi sinar. Namun meski terpisah ibu bayi
     tetap memberikan ASI eksklusif baik secara langsung maupun tidak
     langsung dengan diperah dan disimpan dalam botol di lemari es. Ibu
     telah menyimpan persediaan ASI yang cukup banyak, namun ibu
     mengatakan bahwa beberapa kali bayinya sering diberi susu formula,
     padahal bayinya memiliki riwayat alergi dengan susu formula.


  2. Analisa
          Pemberian susu formula pada bayi merupakan pelanggaran
     terhadap hak bayi untuk memperoleh ASI. Perawat harus berperan untuk
     memotivasi ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif, upaya yang
     dapat dilakukan adalah dengan memberikan kesempatan pada ibu untuk
     menyusui    bayinya    secara   langsung    saat   jam   kunjungan    atau
     mempersilahkan ibu untuk memerah ASI dan menyimpannya dalam
     botol di lemari es sehingga perawat dapat memberikan ASI secara tidak
     langsung melalui cawan.
          Penyimpanan ASI dalam botol di lemari es ini, memerlukan sikap
     yang cermat dan hati-hati dari perawat. Risiko kesalahan yang dapat
         terjadi adalah tertukarnya ASI antar bayi atau perawat tidak mengetahui
         penyimpanan botol ASI sehingga ASI tidak diberikan pada bayi dan
         akhirnya bayi memperoleh susu formula. Hal ini dialami oleh Bayi Ny.R
         yaitu Nyonya R sudah menyimpan botol ASI dalam lemari es namun
         perawat tidak memberikan ASI tersebut pada bayinya.
                Tindakan memberikan susu formula ini dapat melanggar hak anak
         dan menimbulkan kerugian pada bayi karena bayi Ny.R memiliki
         riwayat alergi susu formula. Hali ini bertentangan dengan prinsip etik
         pelayanan keprawatan karena semua pelayanan yang diberikan
         seharusnya tidak boleh menimbulkan kerugian (mal eficience) bagi bayi
         karena pemberian susu formula dapat menimbulkan mencret pada bayi,
         dan perawat harus menghargai (respect) terhadap pilihan yang diambil
         oleh ibu untuk tetap memberikan ASI eksklusif pada bayinya.


Daftar Pustaka

Ball, J and Bindler, R. (2003). Pediatric nursing caring for children. New Jersey :
Prentice Hall

Mandleco, B & Potts, N.(2007). Caring for children and their families. New York
: Thomson Delmar Learning

Mali, P.H. (2004). Nurse’s responsibilities in phototherapy. Nursing journal of
india, 95(1) : 19-20

Potter, P.A., Perry A.G. (2006). Buku ajar fundamental keperawatan, konsep,
proses, dan praktik (terjemahan). Jakarta : EGC

Wong,D.L., Eaton,M.H., Wilson,D., et al.(2009).Wong’s essentials of pediatric
nursing, 6th ed. St.Louis : Mosby Year Book

Yaseen, H., Khalaf, M., Rashid, N., Darwich, M. (2005). Does prophylactic
phototherapy prevent hyperbilirubinemia in neonates with ABO incompatibility
and positive coomb’s test. Journal of perinatology, 25 : 590-594
             LAPORAN KEGIATAN HARIAN
     DI RUANG SERUNI RSAB HARAPAN KITA JAKARTA



A. Kasus

   Bayi Ny.R mengalami hiperbilirubinemia. Salah satu intervensi yang dapat
   dilakukan untuk memeriksa nilai bilirubin adalah melalui pemeriksaan lab
   bilirubin dengan mengambil darah melalui pembuluh darah vena.


B. Analisa

   Pemeriksaan     yang dapat      dilakukan untuk       menegakkan diagnosa
   hiperbilirubin adalah
   1. Visual
     Metode visual memiliki angka kesalahan yang tinggi, namun masih
     dapat digunakan apabila tidak ada alat. Pemeriksaan ini sulit diterapkan
     pada neonatus kulit berwarna, karena besarnya bias penilaian. Secara
     evidence pemeriksaan metode visual tidak direkomendasikan, namun
     apabila terdapat keterbatasan alat masih boleh digunakan untuk tujuan
     skrining dan bayi dengan skrining positif segera dirujuk untuk
     diagnostik         dan        tata       laksana        lebih       lanjut.
     WHO dalam panduannya menerangkan cara menentukan ikterus secara
     visual, sebagai berikut:
     a. Pemeriksaan dilakukan dengan pencahayaan yang cukup (di siang
           hari dengan cahaya matahari) karena ikterus bisa terlihat lebih parah
           bila dilihat dengan pencahayaan buatan dan bisa tidak terlihat pada
           pencahayaan yang kurang.
     b. Tekan kulit bayi dengan lembut dengan jari untuk mengetahui
           warna di bawah kulit dan jaringan subkutan.
     c. Tentukan keparahan ikterus berdasarkan umur bayi dan bagian
           tubuh yang tampak kuning. (tabel 1)
         Tabel 1. Perkiraan Klinis Tingkat Keparahan Ikterus
   Usia               Kuning Terlihat Pada    Tingkat Keparahan Ikterus

   Hari pertama       Bagian          tubuh Berat
                      manapun
   Hari Kedua         Lengan dan tungkai
   Hari ketiga        Tangan dan kaki

  Bila kuning terlihat pada bagian tubuh manapun pada hari pertama dan
  terlihat pada lengan, tungkai, tangan dan kaki pada hari kedua, maka
  digolongkan sebagai ikterus sangat berat dan memerlukan terapi sinar
  secepatnya. Tidak perlu menunggu hasil pemeriksaan kadar bilirubin
  serum untuk memulai terapi sinar.


  Tabel 2. Pemeriksaan Kramer
   Derajat                                                     Perkiraan
   ikterus      Daerah ikterus                                 kadar
                                                               bilirubin
   I            Kepala dan leher                               5,0 mg%
   II           Sampai badan atas (di atas umbilikus)          9,0 mg%
                Sampai badan bawah (di bawah
   III          umbilikus) hingga tungkai atas (di atas        11,4 mg/dl
                lutut)
   IV           Sampai lengan, tungkai bawah lutut             12,4 mg/dl
   V            Sampai telapak tangan dan kaki                 16,0 mg/dl

2. Bilirubin serum
  Pemeriksaan bilirubin serum merupakan baku emas penegakan
  diagnosis ikterus neonatorum serta untuk menentukan perlunya
  intervensi lebih lanjut. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam
  pelaksanaan pemeriksaan serum bilirubin            adalah tindakan ini
  merupakan tindakan invasif yang dianggap dapat meningkatkan
  morbiditas neonatus. Umumnya yang diperiksa adalah bilirubin total.
  Sampel serum harus dilindungi dari cahaya (dengan aluminium foil)
  Beberapa senter menyarankan pemeriksaan bilirubin direk, bila kadar
  bilirubin total > 20 mg/dL atau usia bayi > 2 minggu.
 3. Bilirubinometer Transkutan
     Bilirubinometer adalah instrumen spektrofotometrik yang bekerja
     dengan prinsip memanfaatkan bilirubin yang menyerap cahaya dengan
     panjang gelombang 450 nm. Cahaya yang dipantulkan merupakan
     representasi      warna       kulit   neonatus      yang     sedang     diperiksa.
     Pemeriksaan bilirubin transkutan (TcB) dahulu menggunakan alat yang
     amat dipengaruhi pigmen kulit. Saat ini, alat yang dipakai
     menggunakan        multiwavelength       spectral    reflectance      yang      tidak
     terpengaruh pigmen. Pemeriksaan bilirubin transkutan dilakukan untuk
     tujuan            skrining,           bukan             untuk           diagnosis.
     Briscoe dkk. (2002) melakukan sebuah studi observasional prospektif
     untuk mengetahui akurasi pemeriksaan bilirubin transkutan (JM 102)
     dibandingkan dengan pemeriksaan bilirubin serum (metode standar
     diazo). Penelitian ini dilakukan di Inggris, melibatkan 303 bayi baru
     lahir    dengan    usia   gestasi     >34     minggu.      Pada    penelitian     ini
     hiperbilirubinemia dibatasi pada konsentrasi bilirubin serum >14.4
     mg/dL (249 umol/l). Dari penelitian ini didapatkan bahwa pemeriksaan
     TcB dan Total Serum Bilirubin (TSB) memiliki korelasi yang bermakna
     (n=303, r=0.76, p<0.0001), namun interval prediksi cukup besar,
     sehingga TcB tidak dapat digunakan untuk mengukur TSB. Namun
     disebutkan pula bahwa hasil pemeriksaan TcB dapat digunakan untuk
     menentukan        perlu       tidaknya      dilakukan      pemeriksaan         TSB.
     Umumnya pemeriksaan TcB dilakukan sebelum bayi pulang untuk
     tujuan skrining. Hasil analisis biaya yang dilakukan oleh Suresh dkk.
     (2004) menyatakan bahwa pemeriksaan bilirubin serum ataupun
     transkutan secara rutin sebagai tindakan skrining sebelum bayi
     dipulangkan tidak efektif dari segi biaya dalam mencegah terjadinya
     ensefalopati hiperbilirubin.
4.   Pemeriksaan Bilirubin Bebas dan CO
     Bilirubin bebas secara difusi dapat melewati sawar darah otak. Hal ini
     menerangkan mengapa ensefalopati bilirubin dapat terjadi pada
     konsentrasi           bilirubin             serum           yang             rendah.
         Beberapa metode digunakan untuk mencoba mengukur kadar bilirubin
         bebas. Salah satunya dengan metode oksidase-peroksidase. Prinsip cara
         ini berdasarkan kecepatan reaksi oksidasi peroksidasi terhadap
         bilirubin. Bilirubin menjadi substansi tidak berwarna. Dengan
         pendekatan bilirubin bebas, tata laksana ikterus neonatorum akan lebih
         terarah.
         Seperti telah diketahui bahwa pada pemecahan heme dihasilkan
         bilirubin dan gas CO dalam jumlah yang ekuivalen. Berdasarkan hal ini,
         maka pengukuran konsentrasi CO yang dikeluarkan melalui pernapasan
         dapat digunakan sebagai indeks produksi bilirubin.




Daftar Pustaka


Gomella TL, Cunningham MD, Eyal FG, Zenk KE. (2004). Neonatology,
   management, procedures, on call problems disease and drugs. New York :
   Lange Books/Mc Graw-Hill

Khosim S, Indarso F, Irawan G, Hendrarto TW. (2006). Buku acuan pelatihan
   pelayanan obstetri neonatal emergensi dasar. Jakarta : Depkes RI

Martin CR, Cloherty JP. (2004). Neonatal hyperbilirubinemia. Dalam: Cloherty
   JP, Stark AR, eds. Manual of neonatal care; edisi ke-5. Boston : Lippincott
   Williams & Wilkins

Khosim MS, Surjono A, Setyowireni D, et al. (2004). Buku panduan manajemen
   masalah bayi baru lahir untuk dokter, bidan dan perawat di rumah sakit.
   Jakarta : IDAI, MNH-JHPIEGO, Depkes RI.

Rennie MJ, Roberton NRC. (2002). A manual of neonatal intensive care. London
   : Arnold

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:313
posted:7/4/2012
language:Malay
pages:9
Description: ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN KELOLAAN DI RUANG SERUNI RSAB HARAPAN KITA JAKARTA