PANDUAN PRAKTIS PUASA RAMADHAN by ayahshita06

VIEWS: 27 PAGES: 6

									                         PANDUAN PRAKTIS PUASA RAMADHAN

                      Bolehkah mencicipi makanan ketika sedang berpuasa?
                     Bolehkah mencium istri di siang hari bulan Ramadhan?
                                     Berapa besarnya fidyah?
                Pertanyaan tersebut sering muncul pada saat bulan Ramadhan tiba.
                       Simak tatacara ibadah puasa Ramadhan berikut ini.

Yang diwajibkan berpuasa :
     Muslim, berakal, baligh, sehat, muqim (tidak bepergian), tidak sedang haid / nifas bagi
     wanita.
     Maka orang kafir, gila, anak-anak, orang sakit, musafir, wanita haid/nifas, tua renta serta
     hamil atau menyusui, mereka tidak wajib berpuasa.

Kewajiban-kewajiban dalam berpuasa :
    Berniat puasa karena Allah SWT sebelum terbit fajar (subuh), tidak melakukan sesuatu
    yang dapat membatalkan puasa dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari,
    meninggalkan perkataan dusta serta perbuatan sia-sia dan keji

Yang membatalkan puasa :
Makan dan minum dengan sengaja, suntikan yang mengandung makanan, muntah karena
kesengajaan, jima’ (hubungan seks suami-istri), keluar mani karena perbuatan disengaja seperti
onani, ciuman dan lain-lain, keluarnya darah haid atau nifas, murtad (keluar dari Islam).

Yang boleh dilakukan ketika berpuasa :
Masuk waktu subuh dalam keadaan junub, bersiwak atau bersikat gigi di waktu pagi, siang atau
sore, berkumur atau menghirup air dengan hidung asalakan tidak berlebihan, mencium istri asal
bisa mengendalikan diri dan tidak kelebihan yang bisa meneyebabkan keluarnya mani, mencium
bau-bauan, mengeluarkan darah seperti berbekam dan lain-lain, suntikan yang tidak mengandung
makanan , transfusi darah, mencicipi makanan selama tidak sampai di tenggorokan, bercelak dan
memakai tetes mata, mandi atau mengguyur air ke kepala.

Yang wajib dilakukan ketika halangan berpuasa :
   a. Bila tidak berpuasa karena haid, nifas, sakit yang ada harapan sembuh, atau berpergian maka wajib
      baginya mengganti puasa (qadha') di luar Ramadhan sejumlah hari yang ditinggalkannya, tanpa
      harus bersambung atau harus berurutan.
   b. Bila tidak berpuasa karena hamil atau menyusui, dimana ia khawatir atas diri dan atau anaknya
      maka wajib baginya satu di antara dua pilihan: Jika memungkinkan maka ia mengganti puasanya
      (qadha') di hari yang lain, tapi jika tidak memungkinkan, maka ia membayar fidyah. Fidyah
      tersebut berupa makanan pokok (beras, dll.) Sebanyak kurang lebih 600 gr (6 Ons) untuk setiap
      harinya, atau yang senilai itu yang diperuntukan bagi fakir miskin.
   c. Bila tidak berpuasa karena sudah tua renta atau sakit yang tidak dapat diharapkan
      kesembuhannya, maka ia wajib membayar fidyah.
   d. Bila orang tersebut tidak bisa mneunaikan kewajibannya hingga tiba Ramadhan berikutnya, maka
      ia wajb membayar fidyah.
   e. Begitu juga orang yang mati yang mempunyai tanggungan qada' puasa Ramadhan, maka
      wajib bagi walinya (kerabatnya) membayar fidyah sebagai ganti dari puasanya tersebut.
      Berbeda dengan tanggungan puasa nadzar maka, sebagai gantinya pihak wali wajib
        berpuasa untuknya.


Jangan lupa melengkapi puasa Ramadhan dengan amalan mulia berikut:
1.   Menggiatkan shalat tarawih (qiam ramadhan),
2.   Membaca/tilawah al-Qur'an,
3.   Memperbanyak shadaqah/infaq,
4.   Memberi hidangan buka puasa (ifthar),
5.   Memperbanyak do'a,
6.   I'tikaf di masjid,
7.   Membayar zakat fithrah,
8.   Ibadah umrah ke Tanah suci.



                 MENGGAPAI LAILATUL QADR
Setiap Muslim sudah sepatutnya berkeinginan kuat dan
bersungguh - sungguh meraih keutamaan "lailatul qadr".
        Jangan seperti anggapan sebagian orang yang merasa tidak butuh dengan pahala atau
keutamaan yang dijanjikan Allah dengan dalih ikhlas atau tidak ada pamrih
sedikitpun.
Allah Ta'ala Berfirman : " S e s u n g g u h n y a K a m i t e l a h menurunkannya (AI-
Qur'an) pada malam qadr. Tahukah kamu (Muhammad), apakah malam lailatul qadr itu? Malam
qadr lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu para malaikat dan (malaikat) Jibril turun
dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh dengan keselamatan /
kesejahteraan hingga waktu fajar tiba. "(QS Al-Qadr : 1-5 )

Apakah Lailatul Qadr itu?
   Lailatul Qadr berarti malam kemulyaan (lailatusy saraf). Allah sendiri yang menamakan
malam itu dengan Lailatul Qadr, karena besarnya keutamaan yang ada pada malam tersebut
dibanding malam-malam lainnya.

Apakah keutamaan malam Lailatul Qadr?
1. Allah pertamakali menurunkan Al-Qur'an pada malam tersebut. (QS Ad-Dukhan : 3)
2. Allh SWT mengagungkan keadaannya dengan disebutkannya nama tersebut dalam Al-
    Qur'an, bahkan menjadikannya nama surah, yakni surah Al-Qadr, dan Dia menunjukkan
    keagungan-Nya dengan berfirman, "Tahukah kamu (Muhammad), apakah lailatul qadr itu?”
    (QS Al-Qadr :2)
3. Bahwa, beribadah di malam tersebut lebih baik atau lebih besar nilainya dari seribu blan.
   (Al-Qadr : 3)
4. Pada malam tersebut, para malaikat pada umumnya dan Jibril khususnya turun ke bumi
    dengan izin Allah seraya membawa berbagai rahmat, barakah dan sakinah (ketenangan)
    untuk hamba-hamba-Nya.
5. Malam tersebut diliputi keselamatan dan ketentraman hingga fajar tiba.
   Rasulullah Shalallahu'alaihi Wasallam J u g a t e l a h m e n e r a n g k a n s e b a g i a n
keutamaan dari Lailatul Qadr, Sebagaimana sabda beliau, "Barang siapa qiam / beribadah
pada malam qadr, maka telah diampuni dosa-dosanya yang lalu." (HR AlBukhari dan
Muslim dari Abu Hurairah RA)
Kapan Waktunya?
   Lailatul Qadr hanya terjadi pada bulan Ramadhan setiap tahun. Tetapi para ulama berbeda
mengenai waktu persisnya. Sebagian besar berpendapat bahwa Lailatul Qadr terjadi pada
puluhan malam terakhir, berdasarkan hadits dari Abu sa'id al-Khudriy, bahwa Rasulullah SAW
bersabda, "... Carilah ia (Lailatul Qadr) pada sepuluh malam terakhir," (HR Al-Bukari dan
Muslim). Lebih spesifik lagi para ulama para ulama berpendapat bahwa ia terjadi pada malam-
malam ganjil dari sepuluh malam terkhir itu. (HR Al-Bukhari)
   Selebihnya, tidak ada ketentuan yang lebih jauh dan lebih detail mengenai waktunya. Suatu
kali Lailatul Qadr terjadi pada malam ke dua puluh tujuh (HR Muslim dari Abu Said RA).
Hikmahnya adalah agar Kaum muslimin bersungguh-sungguh mendapatkannya dengan
beribadah pada semua malam yang ada, sehingga lebih banyak lagi amal shalih yang dikerjakan
dan tentunya lebih banyak pula balasan kebaikan yang diperolehnya.

Bagaimana Strategi Meraih Lailatul Qadr ?
1. Lebih bersungguh-sungguh beribadah atau beramal pada sepuluh hari terakhir Ramadhan
   dibandingkan kesungguhannya di luar itu. (HR Al-Bukhari dan Muslim dari `A'isyah RA)
2. Mengencangkan kain sarungnya (menjauhi istrinya). (HR Al-Bukhari dan Muslim)
3. Menghidupkan malam-malam sepuluh hari terakhir dengan shalat tahajjud/ tarawih, baca
    Al-Qur'an, dzikir atau ibadah-ibadah lainya. (HR Al-Bukhari dan Muslim)
4. Membangunkan keluarganya: istri, anak-anak, pembantu atau anggota lainnya). (HR Al-
   Bukhari dan Muslim)

Kenapa tidak sekalian i'tikaf?
    Ya, mengapa tidak? I'tikaf adalah berdiam di masjid dalam keadaan suci dengan niat dan
dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Beri'tikaf membuat konsentrasi, fokus, dan terputus
(sementara) dari kesibukan duniawi. Dengan sengaja memilih tempat strategic, yaitu dirumah-
Nya (masjid), bisa lebih khusyu' beribadah kepada Allah. Dalam keadaan beri'tikaf maka
amalan-amalan menggapai Lailatul Qadr bisa lebih mudah dilaksanakan. Insya Allah.
Tentunya ada fiqh tersendiri yang harus dipahami, baik menyangkut syarat-syaratnya, rukun-
rukun maupun hal-hal yang membatalkanya.
Apa yang dilakukan ketika mengetahui datangnya Lailatul Qadr?
   Ummul mu'minin `A'isyah RA pernah menanyakan hal ini kepada sang suami, Rasulullah
SAW, beliau menjawab, "Ucapkanlah (do'a): Allahumma inaka `afuwwun tuhibbul
'qfwa fa’fu'anniy (Ya Allah, Sesungguhnya Engkau adalah pemberi ma'af, Maka
ma'afkalah [dosa-dosa] dariku)". (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
SHOLAT TARAWIH NABI & PARA SHAHABAT
Sholat tarawih adalah bagian dari nafilah (tathawwu). Mengerjakannya disunnahkan secara
berjama’ah pada bulan Ramadhan, dan sunnah muakkad. Disebut tarawih, karena setiap selesai
dari empat rakaat, para jama’ah duduk untuk istirahat.
   Tarawih adalah bentuk jama' dari tarawihah. Menurut bahasa berarti jalsah (duduk).
Kemudian duduk pada bulan Ramadhan setelah selesai dari empat raka'at disebut tarwihah,
karena dengan duduk itu, orang-orang bisa istirahat dari lamanya melaksanakan qiyam
Ramadhan. Bahkan para salaf bertumpu pada tongkat, karena terlalu lamanya berdiri. Dari situ,
kemudian setiap empat raka'at, disebut tarwihah, dan kesemuanya disebut tarawih secara majaz.
   Aisyah RA. ditanya, "Bagaimana shalat Rasul pada bulan Ramadhan?" Dia menjawab,
"Beliau tidak pernah menambah di Ramadhan atau di luarnya lebih dari 11 raka'at. Beliau
shalat empat rakaat, maka jangan ditanya tentang bagusnya dan lamanya, kemudian
beliau shalat 3 rakaat" (HR. Bukhari)
   Kata Tsumma (kemudian), adalah kata penghubung yang memberi makna berurutan, dan
adanya jeda waktu.
   Rasulullah SAW shalat empat rakaat dengan dua kali salam, kemudian beristirahat. Hal ini
berdasarkan keterangan dari Aisyah RA, "Adalah Rasulullah SAW melakukan shalat pada waktu
setelah selesainya shalat Isya' hingga fajar, sebanyak 11 raka'at, dan melakukan witir dengan
satu raka'at (HR. Muslim)
   Juga berdasarkan keterangan Ibn Umar RA bahwa seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah,
bagaimana shalat malam itu? "Beliau menjawab,"Yaitu dua raka'at dua raka'at, maka apabila
kamu khawatir shubuh, berwitirlah dengan satu raka'at." (HR. Bukhari).
   Dalam hadits Ibn Umar yang lain disebutkan, "shalat malam dan siang dua rakaat dua
raka'at. (HR Ibn Abi Syaibah).

FADHILAH SHALAT TARAWIH
1. Hadits Abu Hurairah ra. :
   "Barangsiapa melakukan qiyam (lail) pada bulan Ramadhan, karena iman dan mencari
pahala, maka diampuni untuknya apa yang telah lalu dari dosanya."
   Maksud qiyam Ramadhan, secara khusus, menurut Imam Nawawi adalah shalat tarawih.
Hadits ini memberitahukan, bahwa shalat tarawih itu bisa mendatangkan maghfirah dan
bisa menggugurkan semua dosa; tetapi dengan syarat karena bermotifkan iman; membenarkan
pahala-pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala tersebut dari Allah. Bukan karena
riya' atau sekedar adat kebiasaan.
   Hadits ini dipahami oleh para salafush shalih, termasuk oleh Abu Hurairah sebagai
anjuran yang kuat dari Rasulullah untuk melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih, tahajjud,
dan lain-lain)
2. Hadits Abdurrahman bin Auf :
    “Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan dimana Allah mewajibkan puasanya, dan
sesungguhnya aku menyunnahkan qiyamnya, dan sesungguhnya aku menyunnahkanqiyam untuk
untuk orang-orang Islam. Maka barangsiapa berpuasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan karena
iman dan mencari pahala, maka ia (pasti) keluar dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari ia
dilahirkan oleh ibunya. (HR. Ahmad, Ibnu Majah. Al Bazzar, Abu Ya'la dan Abdur Razaq
meriwayatkannya dari Abu Hurairah)
3. Hadits Abu Dzar :
    "Barang siapa qiyamul lail bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya (pahala)
qiyam satu malam (penuh)." (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi. Ibn Majah, -Nasa'i, dan lain-lain,
Hadits shahih), "
    Hadits ini sekaligus juga memberikan anjuran, agar melakukan shalat tarawih secara
berjamaah dan mengikuti imam hingga selesai.

SHALAT TARAWIH PADA ZAMAN NABI
   Nabi telah melaksanakan dan memimpin shalat tarawih. Bahkan beliau menjelaskan
fadhilahnya, dan menyetujui jama'ah tarawih yang dipimpin oleh sahabat Ubay bin Ka'ab.
Berikut ini adalah dalil-dalil yang menjelaskan, bahwa shalat tarawih secara berjama'ah disun-
nahkan oleh Nabi, dan dilakukan secara khusyu' dengan bacaan yang panjang.
1. Hadits Nu'man bin Basyir ia berkata: Kami melaksanakan qiyamullail (tarawih) bersama
Rasulullah ; pada malam 23 bulan Ramadhan, sampai sepertiga malam. Kemudian kami
shalat lagi bersama beliau pada malam 25 Ramadhan (berakhir) sampai separoh malam.
Kemudian beliau memimpin lagi pada malam 27 Ramadhan sampai kami menyangka
tidak akan sempat mendapati sahur. (HR. Nasai, Ahmad, Al Hakim, shahih).

2. Hadits Abu Dzar, ia berkata: Kami puasa, tetapi Nabi tidak memimpin kami untuk
melakukan shalat (tarawih), hingga Ramadhan tinggal tujuh hari lagi, maka Rasulullah SAW
mengimami kami shalat, sampai lewat sepertiga malam. Kemudian beliau tidak keluar lagi pada
malam ke enam. Dan pada malam ke lima, beliau memimpin shalat lagi sampai lewat separoh
malam. Lalu nkami berkata kepada Rasulullah SAW “Seandainya engkau menambah lagi untuk
kami sisa malam kita ini?”’ maka beliau bersada, "Barang siapa shalat (tarawih) bersama imam
sampai selesai, maka ditulis untuknya shalat satu malam (suntuk)."
    Kemudian beliau tidak memimpin shalat lagi, hingga Ramadhan tinggal tiga hari. Maka
beliau memimpin kami shalat pada malam ketiga. Beliau mengajak keluarga dan istrinya.
Beliau mengimami sampai kami khawatir tidak mendapat falah, saya (perawi) bertanya, apa itu
falah? Dia (Abu Dzar) berkata, "Sahur." (HR Nasai, Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Daud, Ahmad,
shahih).

3. Tsa'labah bin Abi Malik Al Qurazhi berkata, "Pada suatu malam, di malam Rama-
dhan, Rasulullah keluar rumah, kemudian beliau melihat sekumpulan orang di sebuah pojok
masjid sedang melaksanakan shalat. Beliau lalu bertanya, "Apa yang sedang mereka lakukan?"
Seseorang menjawab, "Ya Rasulullah, sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak
membaca Al Qur'an, sedang Ubay bin Ka'ab ahli membacaAl Qur'an, maka mereka shalat
(ma'mum) dengan shalatnya Ubay. Beliau lalu bersabda, "Mereka telah berbuat baik dan telah
berbuat benar." Beliau tidak membencinya."(HR Abu Daud dan Al Baihaqi),
SHALATTARAWIH PADA ZAMAN KHULAFA'UR RASYIDIN
1. Para sahabat Rasulullah, shalat tarawih di masjid Nabawi pada malam-malam Ramadhan
   secara awza'an (berpencar-pencar). Orang yang bisa membaca Al Qur'an ada yang
   mengimami 5 orang, ada yang 6 orang, ada yang lebih sedikit dari itu, dan ada yang
   lebih banyak. Az Zuhri berkata. Ketika Rasulullah wafat, orang-orang shalat tarawih dengan
   cara seperti itu. Kemudian pada masa Abu Bakar, caranya tetap seperti itu; begitu pula awal
   khalifah Umar.
2. Abdurrahman bin Abdul Qari’ berkata, “Saya keluar ke masjid bersama Umar pada bulan
    Ramadhan. Ketika itu orang-orang berpencaran : ada yang shalat dengan jama’ah yang kecil
    (kurang dari sepuluh orang). Umar berkata. ‘Demi Allah, saya melihat (berpandangan)
    seandainya mereka saya satukan di belakang satu imam, tentu lebih utama.' "Kemudian
    beliau bertekad dan mereka di bawah pimpinan Ubay bin Ka'ab. Kemudian saya keluar
    lagi bersama beliau pada malam lain. Ketika itu orang-orang sedang shalat di
    belakang imam mereka. Maka. Umar berkata, "ini adalah sebik-baik hal baru." Dan shalat
    akhir malam nanti lebih utama dari shalat yang mereka kerjakan sekarang. 'Peristiwa ini
    terjadi pada tahun 14 H.

3. Umar RA mengundang para qari' pada bulan Ramadhan, lalu memberi perintah
   kepada mereka agar yang paling cepat bacaannya membaca 30 ayat (± 3 halaman),
   dan yang sedang agar membaca 25 ayat, adapun yang pelan membaca 20 ayat (+ 2
   halaman).

4. Al A'raj (seorang tabi'in Madinah, wafat ll7 H) berkata. "Kami tidak mendapati orang-
   orang, melainkan mereka sudah melaknat orang kafir (dalam do'a) pada bulan
   Ramadhan. "ia berkata. Sang qari' (imam) membaca surat Al Baqarah dalam 8 raka'at. Jika
   ia telah memimpin 12 raka'at, (maka) barulah orang-orang merasa kalau imam
   meringankan."

5. Abdullah bin Abi Bakr berkata, "Saya mendengar bapak saya berkata, "Kami sedang pulang
   dari shalat (tarawih) pada malam Ramadhan. Kami menyuruh pelayan agar cepat-cepat
   menyiapkan makanan, karena takut tidak mendapat sahur."
6. Saib bin Yazid (Wafat 91H) berkata, "Umar memerintah Ubay bin Ka'ab dan Tamim Ad
    Dari agar memimpin shalat tarawih pada bulan Ramadhan dengan 11 raka'at. Maka sang
    qari' membaca dengan ratusan ayat, hingga kita bersandar pada tongkat karena sangat
    lamanya berdiri. Maka kami tidak pulang dari tarawih, melainkan sudah di ujung fajar.

								
To top