Docstoc

Kajian Tentang Bisnis Rasulallah SAW

Document Sample
Kajian Tentang Bisnis Rasulallah SAW Powered By Docstoc
					                                MAKALAH

KAJIAN TENTANG BISNIS RASULULLAH SAW DAN PERSAINGAN


  Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam




                            KELOMPOK 2 :
                         Aulia Pratiwi ( 111100048 )

                          Devi Juniarti ( 111100056 )

                        M Wahyu Fadila ( 111100064 )

                   Perbawa Rizky Syarifuddin ( 111100070 )

                       Sufaj Herlambang ( 111100079 )

                       Ulfa Dhia Musyafa ( 111100082 )



                              PRODI/KELAS :

                         ADMINISTRASI BISNIS/B



                          Institut Manajemen Telkom

                             Administrasi Bisnis

                                  2011-2012
Kata Pengantar

Daftar Isi

Bab 1 ; Pendahuluan

   1.1 Latar belakang penulisan makalah

   1.2 Tujuan penulisan

   1.3 Manfaat penulisan

Bab 2 ; Kajian tentang Bisnis Rasulullah Saw dan Persaingan

   2.1 Mengenal Sejarah Bisnis Rasulullah

   2.2 Manajemen Bisnis Rasulullah

   2.3 Etika Bisnis Rasulullah

Bab 3 ; Daftar Pustaka
       Kata Pengantar




       Puji dan syukur kami panjatkan kepada kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan Makalah tentang Analisa “Kajian
tentang Bisnis Rasulullah SAW dan Persaingan” ini dengan sebaik mungkin.

       Makalah ini kami buat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan
Agama Isla, yang diberikan oleh Bapak Deden selaku dosen bidang studi.

       Dalam penyusunan makalah ini ini, tidak lupa kami mengucapkan banyak terimakasih
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaiannya. Serta tidak lupa juga kami
ucapkan terima kasih kepada dosen bidang studi yang telah membimbing kami dalam
pembuatan karya tulis ini.

       Makalah ini sudah pasti kurang dari sempurna, maka untuk itu kami penyusun
mengharapkan kritik serta saran untuk penyempurnaannya.

       Semoga makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi penyusun serta bagi para
pembaca umumnya.




                                                             Bandung, 18 November 2011




                                                                              Penyusun
                                    Bab 1 ; Pendahuluan




1.1 Latar belakang penulisan makalah


       Pembuatan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas yang di tugaskan dosen

mata kuliah pendidikan agama islam. Tugas yang kami buat ini adalah mempelajari materi

“Kajian tentang Bisnis Rasulullah SAW dan Persaingan” dimana materi ini dapat

menjadi referensi bagi kami untuk menjalankan bisnis ala Rasul.


1.2 Tujuan penulisan


       Penulisan makalah ini bertujuan untuk mendapatkan nilai mata kuliah pendidikan

agama islam dan mentuntaskan sebagian tugas dari kajian materi. Selain itu, tugas ini sebagai

pelatihan dalam mengenali dan menganalisis sutau bisnis yang diterapkan Rasulullah selama

hidupnya.


1.3 Manfaat penulisan


   Manfaat dari penulisan ini adalah, kita dapat mengetahui serta mengenal sejarah bisnis
 rasul, manajemen bisnis rasul serta etika-etika yang dijalankan rasul dalam menjalankan
 bisnis.
            Bab 2 ; Kajian tentang Bisnis Rasulullah Saw dan Persaingan



2.1 Mengenal Sejarah Bisnis Rasulullah
       Dalam tataran individu Rasul juga menganjurkan untuk menjadi wiraswastawan
tangguh dan manajer tepercaya. Karier bisnis mengkaji pribadi Muhammad saw kita akan
mendapatkan jiwa entrepreneurship beliau sudah dipupuk sejak usia 12 tahun tatkala
pamannya Abu Thalib mengajak melakukan perjalanan bisnis ke Syam negeri meliputi Syria
Jordan dan Lebanon saat ini. Demikian juga sebagai seorang yatim piatu yang tumbuh besar
bersama pamannya, beliau telah ditempa untuk tumbuh sebagai seorang wirausahawan yang
mendiri.
       Maka ketika pamannya tidak bisa lagi terjun langsung menangani usaha, pada usia 17
tahun Muhammad saw telah diserahi wewenang penuh untuk mengurusi seluruh bisnis
pamannya. Dari usia 17 hingga sekitar 20 tahun adalah masa tersulit dalam perjalanan bisnis
Rasul, karene beliau harus bersaing dengan orang0orang yang lebih dahulu terjun ke
perdagangan regional.
       Usia 20 hingga 25 tahun merupakan titik keemasan entrepreneurship Muhammad
saw, terbukti dengan terpincutnya hati perempuan konglomerat Makkah Khadijah Binti
Khuwalaid yg meminangnya untuk menjadi suami.


2.2 Manajemen Bisnis Rasulullah
       Jauh sebelum Frederick W. Taylor (1856-1915) dan Henry Fayol mengangkat prinsip
manajemen sebagai suatu disiplin ilmu, Nabi Muhammad Saw sudah mengimplementasikan
nilai-nilai manajemen dalam kehidupan dan praktek bisnisnya. Beliau telah dengan sangat
baik mengelola proses, transaksi dan hubungan bisnis dengan seluruh elemen bisnis serta
pihak yang terlihat di dalamnya.
       Bagaimana gambaran beliau mengelola bisnisnya, Prof. Afdhalur Rahman dalam
buku Muhammad Saw A Trader, mengungkapkan, “Muhammad Saw did his dealing honestly
and fairly and never gave his customers to complain. He always kept his promise and
delivered on time the goods of quality mutually agreed between the parties. He always
showed a gread sense of responsibility and integrity in dealing with other people”. Bahkan
dia mengatakan, “His reputation as an honest and truthful trader was well established while
he was still in his early youth”.
        Berdasarkan tulisan Afdhalurrahman di atas, dapat diketahui bahwa Nabi
Muhammad Saw adalah seorang pedagang yang jujur dan adil dalam membuat perjanjian
bisnis. Ia tidak pernah membuat para pelanggannya komplen. Dia sering menjaga janjinya
dan menyerahkan barang-barang yang di pesan dengan tepat waktu. Dia senantiasa
menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar dan integritas yang tinggi dengan siapapun.
Reputasinya sebagai seorang pedagang yang jujur dan benar telah dikenal luas sejak beliau
berusia muda.



2.3 Etika Bisnis Rasulullah


       Agar kegiatan bisnis yang kita lakukan dapat berjalan harmonis dan menghasilkan
kebaikan dalam kehidupan, maka kita harus menjadikan bisnis yang kita lakukan terwarnai
dengan nilai-nilai etika. Salah satu sumber rujukan etika dalam bisnis adalah etika yang
bersumber dari tokoh teladan agung manusia di dunia, yaitu Rasulullah. Beliau telah
memiliki banyak panduan etika untuk praktek bisnis kita, antara lain:

       Kejujuran

       Kejujuran merupakan syarat fundamental dalam kegiatan bisnis. Rasulullah sangat
intens menganjurkan kejujuran dalam aktivitas bisnis. Dalam tataran ini, beliau bersabda,
“Tidak dibenarkan seorang muslim menjual satu jualan yang mempunyai aib, kecuali ia
menjelaskan aibnya.” (HR. Al-Quzwani). “Barang siapa yang menipu kami, maka dia bukan
kelompok kami.” (HR. Muslim).

      Rasulullah sendiri selalu bersikap jujur dalam berbisnis. Beliau melarang para
pedagang meletakkan barang busuk di sebelah bawah dan barang baru di bagian atas.

       Menolong atau memberi manfaat

        Menolong atau memberi manfaat kepada orang lain merupakan kesadaran tentang
signifikansi sosial kegiatan bisnis. Pelaku bisnis menurut Islam, tidak hanya sekedar
mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya, sebagaimana yang diajarkan kaum ekonomi
kapitalis, tetapi juga berorientasi kepada sikap ta’awun (menolong orang lain) sebagai
implikasi sosial kegiatan bisnis. Tegasnya, berbisnis bukan mencari untung material semata,
tetapi didasari kesadaran memberi kemudahan bagi orang lain dengan menjual barang.

       Tidak boleh menipu

       Dalam berbisnis kita dilarang menipu, baik mengurangi takaran, ukuran dan
timbangan yang benar, maupun menipu dengan cara lainnya. Dalam perdagangan, timbangan
atau ukuran yang benar dan tepat harus benar-benar diutamakan. Firman Allah, “Celakalah
bagi orang yang curang, yaitu orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka
minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka
mengurangi.” (QS. 83: 112).
       Tidak boleh menjelekkan bisnis orang lain, agar orang membeli kepadanya

       Rasulullah bersabda, “Janganlah seseorang di antara kalian menjual dengan maksud
untuk menjelekkan apa yang dijual oleh orang lain.” (HR. Bukhari Muslim).

       Tidak menimbun barang (Ihtikar)

        Ihtikar ialah menimbun barang (menumpuk dan menyimpan barang dalam masa
tertentu, dengan tujuan agar harganya suatu saat menja di naik dan keuntungan besar pun
diperoleh). Rasulullah melarang keras perilaku bisnis semacam itu.

       Tidak melakukan monopoli

       Salah satu keburukan sistem ekonomi kapitalis ialah melegitimasi monopoli dan
oligopoli. Contoh yang sederhana adalah eksploitasi (penguasaan) individu tertentu atas hak
milik sosial, seperti air, udara dan tanah dan kandungan isinya seperti barang tambang dan
mineral. Individu tersebut mengeruk keuntungan secara pribadi, tanpa memberi kesempatan
kepada orang lain. Ini dilarang dalam Islam.

       Menjual barang yang halal

Komoditi bisnis yang dijual adalah barang yang suci dan halal, bukan barang yang haram,
seperti babi, anjing, minuman keras, ekstasi, dan sebagainya. Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya Allah mengharamkan bisnis miras, bangkai, babi dan patung-patung.” (HR.
Jabir).

       Bisnis yang dilaksanakan bersih dari unsur riba

       Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, tinggalkanlah sisa-sisa riba jika kamu
beriman.” (QS. 2: 278). Pelaku dan pemakan riba dinilai Allah sebagai orang yang kesetanan
(QS. 2: 275). Oleh karena itu Allah dan Rasulnya mengumumkan perang terhadap riba.

       Suka rela

       Bisnis dilakukan dengan suka rela, tanpa paksaan. Firman Allah, “Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil,
kecuali dengan jalan bisnis yang berlaku dengan suka-sama suka di antara kamu.” (QS. 4:
29).



       Membayar upah sebelum kering keringat karyawan

       Rasulullah bersabda, “Berikanlah upah kepada karyawan, sebelum kering
keringatnya.” Hadis ini mengindikasikan bahwa pembayaran upah tidak boleh ditunda-tunda.
Pembayaran upah harus sesuai dengan kerja yang dilakukan.
        Ada beberapa prinsip dan konsep yang melatarbelakangi keberhasilan Rasulullah
SAW dalam bisnis, prinsip-prinsip itu intinya merupakan fundamental Human Etic atau
sikap-sikap dasar manusiawi yang menunjang keberhasilan seseorang. Menurut Abu
Mukhaladun (1994:14-15) bahwa prinsip-prinsip Rasulullah meliputi Shiddiq, Amanah dan
fatanah. Prinsip-prinsip itu adalah:

1.      Shiddiq

Rasulullah telah melarang pebisnis melakukan perbuatan yang tidak baik, seperti beberapa
hal dibawah ini.

a. Larangan tidak menepati janji yang telah disepakati.

      Ubadah bin Al Samit menyatakan bahwa Nabi SAW bersabda: “berikanlah kepadaku
      enam jaminan dari kamu, aku menjamin surga untuk kamu: 1) berlaku benar manakala
      kamu berbicara, 2) tepatlah manakala kamu berjanji…(HR. Imam Ahmad dikutip dari
      Syeikh Abod dan Zamry Abdul Kadir, 1991: 102)

b. Larangan menutupi cacat atau aib barang yang dijual.

      Apabila kamu menjual, katakanlah: “tidak ada penipuan”. (HR. Imam Bukhari dari
      Abdullah bin Umar r.a. dikutip dari Yusanto dan Muhammad K.W, 2002:112)

     Tidak termasuk umat Nabi Muhammad seorang penjual yang melakukan penipuan dan
     tidak halal rezki yang ia peroleh dari hasil penipuan.

      Bukanlah termasuk umatku, orang yang melakukan penipuan. (HR. Ibnu Majah dan
      Abu Dawud melalui Abu Hurairah dikutip Yusanto dan Muhammad K.W, 2002:112)



      Tidak halal bagi seseorang menjual sesuatu, melainkan hendaknya dia menerangkan
      kekurangan (cacat) yang ada pada barang itu. (HR. Ahmad dikutip dari Alma, 1994:
      62)




2.    Amanah

      Amanah berarti tidak mengurangi apa-apa yang tidak boleh dikurangi dan sebaliknya
tidak boleh ditambah, dalam hal in termasuk juga tidak menambah harga jual yang telah
ditentukan kecuali atas pengetahuan pemilik barang. Maka seorang yang diberi Amanah
harus benar-benar menjaga dan memegang Amanah tersebut, ayat tersebut adalah sebagai
berikut:

      Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-
      gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan
      mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu
      amat zalim dan amat bodoh, (Al-Ahzab: 72)
     Rasulullah memerintahkan setiap muslim untuk selalu menjaga Amanah yang diberikan
kepadaNya. Sabda Nabi akan hal ini yang artinya:

      Tunaikanlah amanat terhadap orang yang mengamanatimu dan janganlah berkhianat
      terhadap orang yang mengkhianatimu. (HR. Ahmad dan Abu Dawud dikutip dari
      Yusanto dan Muhammad K.W, 2002: 105)

      Sikap Amanah mutlak harus dimiliki oleh seorang pebisnis muslim. Sikap Amanah
diantaranya tidak melakukan penipuan, memakan riba, tidak menzalimi, tidak melakukan
suap, tidak memberikan hadiah yang diharamkan, dan tidak memberikan komisi yang
diharamkan. Hadis nabi yang berkenaan dengan hal tersebut yang artinya:

a.    Larangan memakan riba

      Beliau (Nabi SAW) melaknat orang yang memakan riba, orang yang menyerahkannya,
      para saksi serta pencatatnya. (HR. Ibnu Majah dari Ibnu Mas’ud Dikutip dari Yusanto
      dan Muhammad K.W, 2002: 112)

b.    Larangan melakukan tindak kezaliman

       Seorang muslim terhadap sesama muslim adalah haram: harta bendanya,
      kehormatannya, dan jiwanya. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah Dikutip dari Yusanto
      dan Muhammad K.W, 2000: 109)

c.    Larangan melakukan suap

      Laknat Allah terhadap penyuap dan penerima suap di dalam kekuasaan. (HR. Imam
      Abu Dawud dari Hurairah Dikutip dari Yusanto dan Muhammad K.W, 2002: 108)

      Laknat Allah terhadap penyuap dan penerima suap. (HR. Imam Tirmidzi dari Abdullah
      bin Amr Dikutip dari Yusanto dan Muhammad K.W, 2002: 108)




3. Fathanah

     Fathanah berarti cakap atau cerdas. Dalam hal ini Fathanah meliputi dua unsur, yaitu:

a.    Fathanah dalam hal administrasi/manajemen dagang, artinya hal-hal yang berkenaan
     dengan aktivitas harus dicatat atau dibukukan secara rapi agar tetap bisa menjaga
     Amanah dan sifat shiddiqnya.

b.     Fathanah dalam hal menangkap selera pembeli yang berkaitan dengan barang maupun
     harta. Dalam hal fathanah ini Rasulullah mencontohkan tidak mengambil untung yang
     terlalu tinggi dibanding dengan saudagar lainya. Sehingga barang beliau cepat laku. (Abu
     Mukhaladun, 1999: 15, syeikh Abod dan Zambry Abdul Kadir 1991:288).

     Dengan demikian fathanah di sini berkaitan dengan strategi pemasaran (kiat membangun
citra). Menurut Afzalurahman (1997:168) kiat membangun citra dari uswah Rasulullah SAW
meliputi: penampilan, pelayanan, persuasi dan pemuasan.
                           Bab 3 ; Daftar Pustaka



http://al-kahfi.net/muamalah/maulid-dan-manajemen-bisnis-rasulullah-saw/

(Penulis adalah Sekjen Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI), Dosen

Pascasarjana konomi dan Keuangan Syariah I dan Pascasarjana Islamic conomics

and Finance ni ersitas Trisakti dan Pascasarjana Bisnis dan Keuangan Islam

 ni ersitas PARAMADI A dan ni ersitas Islam egeri Jakarta).

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:111
posted:7/3/2012
language:Indonesian
pages:10