KEHAMILAN DENGAN LETAK LINTANG

					KEHAMILAN DENGAN LETAK LINTANG



Letak lintang adalah suatu keadaan di mana janin melintang di dalam uterus dengan kepala
pada sisi yang satu sedangkan bokong berada pada sisi yang lain. Pada umumnya bokong
berada sedikit lebih tinggi daripada kepala janin, sedangkan bahu berada pada pintu atas
panggul.1 Kelainan letak pada janin ini termasuk dalam macam-macam bentuk kelainan
dalam persalinan (distosia). Distosia adalah kelambatan atau kesulitan persalinan. Dapat
disebabkan kelainan tenaga (his), kelainan letak dan bentuk janin, serta kelainan jalan lahir.2

Angka kejadian letak lintang sebesar 1 dalam 300 persalinan. Hal ini dapat terjadi karena
penegakkan diagnosis letak lintang dapat dilihat pada kehamilan muda dengan menggunakan
ultrasonografi.3 Pemeriksaan USG juga bermanfaat dalam menegakkan adanya plasenta
previa.6

Beberapa rumah sakit di Indonesia melaporkan angka kejadian letak lintang antara lain:
RSUP Dr. Pirngadi, Medan 0,6%; RS Hasan sadikin, Bandung 1,9%; RSUP Dr. Cipto
Mangunkusumo selama 5 tahun 0,1% dari 12827 persalinan; sedangkan Greenhill menyebut
angka 0,3% dan Holland 0,5 – 0,6%.1

Dengan ditemukannya letak lintang pada pemeriksaan antenatal, sebaiknya diusahakan
mengubah menjadi presentasi kepala dengan versi luar. Persalinan letak lintang memberikan
prognosis yang jelek, baik terhadap ibu maupun janinnya. Faktor – faktor yang
mempengaruhi kematian janin pada letak lintang di samping kemungkinan terjadinya letak
lintang kasep dan ruptura uteri, juga sering akibat adanya tali pusat menumbung serta trauma
akibat versi ekstraksi untuk melahirkan janin.1

II.1. DEFINISI

Letak lintang adalah bila dalam kehamilan atau dalam persalinan sumbu panjang janin
melintang terhadap sumbu panjang ibu (termasuk di dalamnya bila janin dalam posisi
oblique).

Letak lintang kasep adalah letak lintang kepala janin tidak dapat didorong ke atas tanpa
merobekkan uterus.4

II.2. INSIDENSI

Angka kejadian letak lintang berkisar antara 0,5 – 2 %. Dari beberapa rumah sakit pendidikan
di Indonesia dilaporkan : Medan 0,6 %, Jakarta 0,1 % (1948), Bandung 1,9 %. Grenhill
melaporkan 0,3 %.5

II.3. ETIOLOGI5

Penyebab dari letak lintang sering merupakan kombinasi dari berbagai faktor, sering pula
penyebabnya tetap merupakan suatu misteri. Faktor – faktor tersebut adalah :

⁂ Fiksasi kepala tidak ada, karena panggul sempit, hidrosefalus, anensefalus, plasenta previa,
dan tumor – tumor pelvis.
⁂ Janin sudah bergerak pada hidramnion, multiparitas, anak kecil, atau sudah mati.

⁂ Gemelli (kehamilan ganda)

⁂ Kelainan uterus, seperti arkuatus, bikornus, atau septum

⁂ Lumbar skoliosis

⁂ Monster

⁂ Pelvic kidney dan kandung kemih serta rektum yang penuh.

Sebab terpenting terjadinya letak lintang ialah multiparitas disertai dinding uterus dan perut
yang lembek.1

II.4. DIAGNOSIS5

(1) Inspeksi

Perut membuncit ke samping

(2) Palpasi

- Fundus uteri lebih rendah dari seharusnya tua kehamilan

- Fundus uteri kosong dan bagian bawah kosong, kecuali kalau bahu sudah masuk ke dalam
pintu atas panggul

- Kepala (ballotement) teraba di kanan atau di kiri

(3) Auskultasi

Denyut jantung janin setinggi pusat kanan atau kiri.

(4) Pemeriksaan dalam (vaginal toucher)

- Teraba tulang iga, skapula, dan kalau tangan menumbung teraba tangan. Untuk menentukan
tangan kanan atau kiri lakukan dengan cara bersalaman.

- Teraba bahu dan ketiak yang bisa menutup ke kanan atau ke kiri. Bila kepala terletak di kiri,
ketiak menutup ke kiri.

- Letak punggung ditentukan dengan adanya skapula, letak dada dengan klavikula.

- Pemeriksaan dalam agak sukar dilakukan bila pembukaan kecil dan ketuban intak, namun
pada letak lintang biasanya ketuban cepat pecah.
II.5. MEKANISME PERSALINAN1,4,5

Anak normal yang cukup bulan tidak mungkin lahir secara spontan dalam letak lintang. Janin
hanya dapat lahir spontan, bila kecil (prematur), sudah mati dan menjadi lembek atau bila
panggul luas.

Beberapa cara janin lahir spontan

a. Evolutio spontanea

(1) Menurut DENMAN

Setelah bahu lahir kemudian diikuti bokong, perut, dada, dan akhirnya kepala.
(2). Menurut DOUGLAS

Bahu diikuti oleh dada, perut, bokong dan akhirnya kepala.

b. Conduplicatio corpore

Kepala dan perut berlipat bersama – sama lahir memasuki panggul. Kadang – kadang oleh
karena his, letak lintang berubah spontan mengambil bangun semula dari uterus menjadi letak
membujur, kepala atau bokong, namun hal ini jarang terjadi. Kalau letak lintang dibiarkan,
maka bahu akan masuk ke dalam panggul, turun makin lama makin dalam sampai rongga
panggul terisi sepenuhnya oleh badan janin. Bagian korpus uteri mengecil sedang SBR
meregang. Hal ini disebut Letak Lintang Kasep = Neglected Transverse Lie

Adanya letak lintang kasep dapat diketahui bila ada ruptura uteri mengancam; bila tangan
dimasukkan ke dalam kavum uteri terjepit antara janin dan panggul serta dengan narkosa
yang dalam tetap sulit merubah letak janin.

Bila tidak cepat diberikan pertolongan, akan terjadi ruptura uteri dan janin sebagian atau
seluruhnya masuk ke dalam rongga perut.

Pada letak lintang biasanya :

- ketuban cepat pecah

- pembukaan lambat jalannya

- partus jadi lebih lama

- tangan menumbung (20-50%)

- tali pusat menumbung (10%)
Keterangan :

VL : Versi Luar

VE : Versi Ekstraksi

II.6. PROGNOSIS

Meskipun letak lintang dapat diubah menjadi presentasi kepala, tetapi kelainan – kelainan
yang menyebabkan letak lintang, seperti misalnya panggul sempit, tumor panggul dan
plasenta previa masih tetap dapat menimbulkan kesulitan pada persalinan. Persalinan letak
lintang memberikan prognosis yang jelek, baik terhadap ibu maupun janinnya.1

♦ Bagi ibu

Bahaya yang mengancam adalah ruptura uteri, baik spontan, atau sewaktu versi dan ekstraksi.
Partus lama, ketuban pecah dini, dengan demikian mudah terjadi infeksi intrapartum.5
♦ Bagi janin

Angka kematian tinggi (25 – 49 %), yang dapat disebabkan oleh :

(1) Prolasus funiculi

(2) Trauma partus

(3) Hipoksia karena kontraksi uterus terus menerus

(4) Ketuban pecah dini5

II.7. PENATALAKSANAAN

a. Pada kehamilan

Pada primigravida umur kehamilan kurang dari 28 minggu dianjurkan posisi lutut dada, jika
lebih dari 28 minggu dilakukan versi luar, kalau gagal dianjurkan posisi lutut dada sampai
persalinan.

Pada multigravida umur kehamilan kurang dari 32 minggu posisi lutut dada, jika lebih dari 32
minggu dilakukan versi luar, kalau gagal posisi lutut dada sampai persalinan.4

b. Pada persalinan

Pada letak lintang belum kasep, ketuban masih ada, dan pembukaan kurang dari 4 cm, dicoba
versi luar. Jika pembukaan lebih dari 4 cm pada primigravida dengan janin hidup dilakukan
sectio caesaria, jika janin mati, tunggu pembukaan lengkap, kemudian dilakukan embriotomi.
Pada multigravida dengan janin hidup dan riwayat obstetri baik dilakukan versi ekstraksi, jika
riwayat obsterti jelek dilakukan SC. Pada letak lintang kasep janin hidup dilakukan SC, jika
janin mati dilakukan embriotomi.4

DAFTAR PUSTAKA

1. Martohoesodo, S dan Hariadi, R. 1999. Distosia karena Kelainan Letak serta Bentuk
Janin dalam Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka sarwono Prawirohardjo. Jakarta

2. Mansjoer, A dkk. 2001. Kelaianan pada Persalinan dalam Kapita Selekta Kedokteran 3th
eds, jilid pertama. Media Aesculapius FKUI. Jakarta

3. Bowes, W. 2006. Management of The Fetus in Transverse Lie. www. Uptodate.com

4. Dasuki, D. 2000. Distokia dalam Standar Pelayanan Medis RSUP Dr. Sardjito 2nd eds,
cetakan 1. Medika FK UGM. Yogyakarta.

5. Mochtar, D. 1998. Letak Lintang (Transverse Lie) dalam Sinopsis Obstetri : Obstetri
Fisiologi, Obstetri Patologi 2ndeds. EGC. Jakarta.

6. Llweilyn. Jones, D. 2001. Kelainan Presentasi Janin dalam Dasar – dasar Obsteri &
Ginekologi. Hipokrates. Jakarta
Sumber: http://medlinux.blogspot.com/2009/02/kehamilan-dengan-letak-lintang.html

BAB I

PENDAHULUAN

Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang di dalam uterus dengan kepala
pada sisi yang satu sedangkan bokong berada pada sisi yang lain

Letak lintang merupakan salah satu malpresentasi janin yang dapat menyebabkan kelambatan
atau kesulitan dalam persalinan. Letak lintang merupakan keadaan yang berbahaya karena
besarnya kemungkinan risiko kegawatdaruratan pada proses persalinan baik pada ibu maupun
janin.

Pada penelitian yang dilakukan di RSUP Dr.Pirngadi, Medan dilaporkan angka kejadian letak
lintang sebesar 0,6 %; RS Hasan Sadikin bandung 1,9 %; RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo
selama 5 tahun 0,1 % dari 12.827 persalinan; sedangkan Greenhill menyebut angka 0,3 %
dan Holland 0,5-0,6 %.

Bila persalinan letak lintang dibiarkan tanpa pertolongan akan dapat menyebabkan kematian
baik pada ibu maupun janin. Ruptur uteri, perdarahan dan infeksi berakibat fatal bagi ibu
sedangkan pada janin bisa terjadi prolapsus umbilikus, asfiksia hingga berlanjut pada
kematian janin.

Letak lintang terjadi rata-rata pada 1 dari 322 kelahiran tunggal (0,3%) baik di Mayo Clinic
maupun di University of Iowa Hospital (Cruikshank dan White, 1973; Johnson, 1964). Di
Parkland Hospital, dijumpai letak lintang pada 1 dari 335 janin tunggal yang lahir selama
lebih dari 4 tahun. Janin letak lintang seringkali ditemukan dengan pemeriksaan USG pada
awal gestasi. Angka kejadian meningkat jika janinnya prematur.

Beberapa Rumah sakit di Indonesia melaporkan angka kejadian letak lintang, antara lain:
RSUP Dr.Pirngadi, Medan 0,6 %; RS Hasan Sadikin Bandung 1,9 %; RSUP Dr.Cipto
Mangunkusumo selama 5 tahun 0,1 % dari 12.827 persalinan; sedangkan Greenhill menyebut
angka 0,3 % dan Holland 0,5-0,6 %.

Sehingga dengan adanya insidensi letak lintang yang cukup tinggi sebagai tanaga kesehatan
khususnya bidan haruslah mengetahui seluk beluk dari letak lintang tersebut sehingga dapat
mendeteksi lebih dini jika terjadi kelainan letak lintang.
BAB II

TINJAUAN TEORI

   1. a. Definisi

Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang di dalam uterus dengan kepala
pada sisi yang satu sedangkan bokong pada sisi yang lain. Pada umumnya bokong berada
sedikit lebih tinggi daripada kepala janin, sedangkan bahu berada pada pintu atas panggul.
Punggung janin dapat berada di depan (dorsoanterior), di belakang (dorsoposterior) atau di
bawah (dorsoinferior).



   1. b. Etiologi

Penyebab paling sering adalah kelemahan otot uterus dan abdomen. Kelaianan letak paling
sering terjadi pada wanita paritas tinggi (grande multipara). Faktor lain yang mendukung
terjadinya letak lintang adalah plasenta previa, selain itu juga ada beebrapa faktor yang
mendukung terjadinya letak lintang yaitu: kehamilan ganda, polihidramnion, abnormalitas
uterus, pengkerutan pelvis, fibroid uterus yang besar.
   1. c. Diagnosis

Letak lintang mudah didiagnosis dalam kehamilan dari bentuk uterus, terlihat melebar, lebih
menonjol ke salah satu bagian abdomen, engan TFU rendah. Palpasi akan teraba kepala janin
pada salah satu sisi dan bokong pada sisi yang lain, tetapi tidak ada bagian presentasi yang
berada di pelvis. Pada palpasi kepala janin atau bokong ditemukan di salah satu bagian fossa
iliaca. USG dapat digunakan untuk memastikan dignosis untuk mendeteteksi kemungkinan
penyebab.




   1. d. Proses Persalinan

Setelah ketuban pecah, jika persalinan berlanjut, bahu janin akan dipaksa masuk ke dalam
panggul dan tangan yang sesuai sering menumbung. Setelah terjadi sedikit penurunan, bahu
tertahan oleh tepi atas panggul, dengan kepala di salah satu fossa iliaca dan bokong pada
fossa iliaca yang lain. Bila proses persalinan berlanjut, bahu akan terjepit kuat di bagian atas
panggul. Uterus kemudian berkontraksi dengan kuat dalam upayanya yang sia-sia untuk
mengatasi halangan tersebut. Setelah beberapa saat, akan terbentuk cincin retraksi yang
semakin lama semakin meninggi dan semakin nyata. Keadaan ini disebut sebagai letak
lintang kasep. Jika tidak cepat ditangani dengan benar, uterus akhirnya akan mengalami
ruptur dan baik ibu maupun bayi dapat meninggal.

Bila janin amat kecil (biasanya kurang dari 800 gram) dan panggul sangat lebar, persalinan
spontan dapat terjadi meskipun kelainan tesebut menetap. Janin akan tertekan dengan kepala
terdorong ke abdomen. Bagian dinding dada di bawah bahu kemudian menjadi bagian yang
paling bergantung dan tampak di vulva. Kepala dan dada kemudian melewati rongga panggul
secara bersamaan, dan bayi dapat dikeluarkan dalam keadaan terlipat (conduplicati corpore)



   1. e. Komplikasi

Letak lintang merupakan keadaan malpresentasi yang paling berat dan dapat menimbulkan
berbagai komplikasi pada ibu dan janin. Komplikasi akan bertambah berat jika kasus letak
lintang telambat didiagnosa. Pada ibu, dapat terjadi dehidrasi, pireksia, sepsis, perdarahan
antepartum, perdarahan pos partum, ruptur uteri, kerusakan organ abdominal hingga
kematian ibu. Pada janin, dapat terjadi prematuritas, bayi lahir dengan apgar skor yang
rendah, prolapsus umbilikus, maserasi, asfiksia hingga kematian janin .
   1. f. Penatalaksanaan



Apabila pada pemeriksaan antenatal ditemukan letak lintang, sebaiknya diusahakan menjadi
presentasi kepala dengan versi luar. Sebelum melakukan versi luar harus dilakukan
pemeriksaan teliti ada atau tidaknya panggul sempit, tumor dalam panggul, atau plasenta
previa, sebab dapat membahayakan janin dan meskipun versi luar berhasil, janin mungkin
akan memutar kembali. Untuk mencegah janin memutar kembali, ibu dianjurkan
menggunakan korset dan dilakukan pemeriksaan antenatal ulangan untuk menilai letak janin.
Ibu diharuskan masuk rumah sakit lebih dini pada permulaan persalinan, sehingga apabila
terjadi perubahan letak, segera dapat ditentukan prognosis dan penanganannya. Pada
permulaan persalinan, masih dapat diusahakan mengubah letak lintang janin menjadi
presentasi kepala asalkan pembukaan masih kurang dari 4 cm dan ketuban belum pecah.

Pada primigravida, jika versi luar tidak berhasil sebaiknya segera dilakukan seksio sesaria.
Sikap ini berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

1. Bahu tidak dapat melakukan dilatasi pada serviks dengan baik, sehingga pada primigravida
kala I menjadi lama dan pembukaan serviks sukar menjadi lengkap

2. Karena tidak ada bagian besar janin yang menahan tekanan intra-uterin pada waktu his,
maka lebih sering terjadi ketuban pecah sebelum pembukaan serviks sempurna dan dapat
mengakibatkan terjadinya prolapsus funikuli

3. Pada primigravida versi ekstraksi sulit dilakukan.

Pertolongan persalinan letak lintang pada multipara bergantung kepada beberapa faktor.
Apabila riwayat obstetri yang bersangkutan baik, tidak didapat kesempitan panggul, dan janin
tidak seberapa besar, dapat ditunggu dan diawasi sampai pembukaan lengkap untuk
melakukan versi ekstraksi. Selama menunggu harus diusahakan supaya ketuban tetap utuh
dan melarang ibu meneran atau bangun. Apabila ketuban pecah sebelum pembukaan lengkap
dan terdapat prolapsus funikuli, harus segera dilakukan seksio sesaria. Jika ketuban pecah,
tetapi tidak ada prolapsus funikuli, maka bergantung tekanan dapat ditunggu sampai
pembukaan lengkap kemudian dilakukan versi ekstraksi atau mengakhiri persalinan dengan
seksio sesaria. Dalam hal ini, persalinan dapat diawasi untuk beberapa waktu guna
mengetahui apakah pembukaan terjadi dengan lancar atau tidak. Versi ekstraksi dapat
dilakukan pula pada kehamilan kembar, apabila setelah bayi pertama lahir, ditemukan bayi
kedua berada dalam letak lintang.

Pada letak lintang kasep, bagian janin terendah tidak dapat didorong ke atas, dan tangan
pemeriksa yang dimasukkan ke dalam uterus tertekan antara tubuh janin dan dinding uterus.
Demikian pula ditemukan lingkaran Bandl yang tinggi. Berhubung adanya bahaya ruptur
uteri, letak lintang kasep merupakan kontraindikasi mutlak melakukan versi ekstraksi. Bila
janin masih hidup, hendaknya dilakukan seksio sesaria dengan segera

Versi dalam merupakan alternatif lain pada kasus letak lintang. Versi dalam merupakan
metode dimana salah satu tangan penolong masuk melalui serviks yang telah membuka dan
menarik salah satu atau kedua tungkai janin ke arah bawah. Umumnya versi dalam dilakukan
pada kasus janin letak lintang yang telah meninggal di dalam kandungan dengan pembukaan
serviks lengkap. Namun, dalam keadaan tertentu, misalnya pada daerah-daerah terpencil, jika
dilakukan oleh penolong yang kompeten dan berpengalaman, versi dalam dapat dilakukan
untuk kasus janin letak lintang yang masih hidup untuk mengurangi risiko kematian ibu
akibat ruptur uteri. Namun, pada kasus letak lintang dengan ruptur uteri mengancam,
korioamnionitis dan risiko perdarahan akibat manipulasi uterus, maka pilihan utama tetaplah
seksio sesaria.



   1. g. Prognosis

Meskipun letak lintang dapat diubah menjadi presentasi kepala, tetapi kelainan-kelainan yang
menyebabkan letak lintang, misalnya panggul sempit, tumor panggul dan plasenta previa,
masih tetap dapat menimbulkan kelainan pada persalinan. Faktor-faktor yang mempengaruhi
kematian ibu dan janin pada letak lintang, disamping kemungkinan terjadinya letak lintang
kasep dan ruptura uteri, juga sering akibat adanya tali pusat menumbung serta trauma akibat
versi ekstraksi untuk mengeluarkan janin.

Prognosis pada kehamilan letak lintang sangat dipengaruhi oleh riwayat pemeriksaan
kehamilan, kecepatan penegakkan diagnosa dan sarana-prasarana kesehatan yang ada.
Semakin lambat diagnosa letak lintang ditegakkan, maka kemungkinan bayi akan tetap
berada dalam posisi lintang pada saat persalinan akan semakin besar. Sebagai perbandingan
jika diagnosa dibuat pada UK 20-25 minggu, ± 2,6 % akan tetap pada posisi lintang dan jika
diagnosa dibuat pada UK 36-40 minggu, ± 11,8 % akan tetap pada posisi lintang (4). Di
negara dengan sarana-prasarana yang sudah maju, angka kematian ibu dan janin pada kasus
letak lintang sudah cukup rendah. Namun, pada negara tertinggal, berbagai komplikasi masih
terjadi akibat tidak adanya fasilitas seksio sesaria (10).

Angka kematian ibu sekitar 0-2 % ( RS Hasan Sadikin Bandung, 1966). Sedangkan angka
kematian janin sekitar 18,3 % (RS Hasan Sadikin) dan 23,3 % (RS Umum Pusat Prop.
Medan). Angka ini kira-kira sama dengan yang didapatkan oleh Wilson santara tahun 1935-
1950. Tetapi dengan meningkatnya frekuensi seksio sesaria pada letak lintang, pada tahun
1951-1956 Wilson melaporkan angka kematian janin sangat menurun menjadi 5,6 % .

Berdasarkan penelitian WHO pada tahun 2004, rerata angka kematian akibat malposisi dan
malpresentasi janin di negara-negara berkembang, seperti Brazil, Nikaragua, Ekuador dan
Meksiko, sebesar 1,3 % .




BAB III

ASUHAN KEBIDANAN DENGAN KELAINAN LETAK LINTANG

Ny ‘R’ Usia 34 Tahun G4P2Ab1Ah2 UK 29 Minggu

dengan Kelainan Letak Lintang
DATA SUBJEKTIF

    1. Keluhan Utama

Seorang ibu hamil dengan umur kehamilan 29 minggu mengeluh perut sebelah kiri sering
terasa nyeri seperti ada tekanan dari dalam, dan bila diraba sedikit menonjol, sedangkan
perutnya sebelah kanan sering terasa ada gerakan janin (ditendang-tendang).

    1. Riwayat Obstetri

Hamil Persalinan                                                            Nifas
      Tgl    UK         Jenis      Penolong Komplikasi          JK   BB     Lakta   Kompli
Ke    lahir             persalinan          Ibu    Bayi                     si      kasi
                                                                     (gr)
1      1997 aterm Spontan            bidan       tdk     tdk    P    3200 2 th      Tdk
2      2000 Abortus
3      2002 aterm Spontan            bidan       tdk     tdk    L    3300 1,5 th    tdk
4      Hamil saat ini



DATA OBJEKTIF

    1. Keadaan umum : baik                   kesadaran   : Compos Mentis
    2. Status emosional : stabil
    3. Tanda vital

Tekanan darah      : 110/80 mmHg

Nadi               : 82 kali/menit

Pernafasan         : 20 kali/menit

Suhu               : 36,60C

    1. BB/TB               : 60 kg/158 cm
    2. Abdomen

Bentuk             : Melintang, perut membuncit ke samping

Bekas Luka         : Tidak ada

Strie Gravidarum : Ada

Palpasi Leopold    :

Leopold I    : Kosong

Leopold II   : Kiri : Bulat, keras ,melenting,
Kanan : Kurang Bulat, lunak, kurang melenting

Leopold III : Kosong

Leopold IV : Belum dilakukan

TFU               : 1 Jari dibawah pusat

Mc Donald         : 20 cm

Osborn test       :Tidak Dilakukan

TBJ               : (20-11) x 155 = 1395 gram

Auskultasi DJJ    :

Punctum maksimum : Setinggi pusat disebelah kiri

Frekuensi             : 144 x/ menit



ASSESMENT

   1. Diagnosa Kebidanan

Ny ‘R’ Usia 34 Tahun G4P2Ab1Ah2 UK 29 Minggu dengan kelaianan letak lintang.

   1. Masalah

Ibu mengatakan ibu mengalami nyeri tekan di perut sebelah kiri dan terasa gerakan janin di
sebelah kanan.



   1. Kebutuhan

KIE tentang kelainan letak lintang dan komplikasinya

KIE cara mengatasi kelainan letak lintang



   1. Diagnosa potensial

Ibu berpotensi dehidrasi, pireksia, sepsis, perdarahan antepartum, perdarahan post partum,
ruptur uteri, kerusakan organ abdominal hingga kematian ibu, sedangkan pada janin dapat
menyebabkan prematuritas, BBLR, prolapsus umbilikus, maserasi, asfiksia hingga kematian
janin.
   1. Masalah Potensial

Tidak ada



   1. Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien
   2. Mandiri

Tidak ada



   1. Kolaborasi

Kolaborasi dengan dr. Hasan, Sp.OG bagian kebidanan RSUP dr. Sarjito untuk pemeriksaan
USG untuk memastikan letak lintang dan mengetahui penyebabnya.



   1. Merujuk

Merujuk ke dr. Hasan, Sp.OG bagian kebidanan RSUP dr. Sarjito untuk penanganan lebih
lanjut.



PLANNING (30 Maret 2010, 17.00 WIB)

   1. Menjelaskan kepada ibu tentang kondisinya saat ini.

Ibu mengerti tentang kondisinya saat ini

   1. Menjelaskan kepada ibu tentang posisi janin ibu yang kemungkinannya janin ibu
      letaknya melintang berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan.

Ibu memahami tentang posisi janinnya saat ini.

   1. Memberi contoh dan menganjurkan ibu untuk melakukan kneechest atau posisi lutut
      dada, setiap hari minimal 2 kali sehari selama ± 5 menit, untuk mengembalikan posisi
      bayinya menjadi presentasi kepala.

Ibu bersedia untuk melakukan kneechest sesuai yang telah dianjurkan.

   1. Menjelaskan kepada ibu tentang komplikasi bagi ibu dan janin yang bisa ditimbulkan
      dari kelainan letak lintang.
Ibu mengerti tentang komplikasi yang bisa ditimbulkan dari kelainan letak lintang dan akan
berhati-hati.

   1. Menganjurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan USG (pada dokter ahli kebidanan
      yang telah ditunjuk oleh bidan) untuk memastikan letak janin dan mengetahui
      penyebab dari letak lintang.

Ibu bersedia untuk melakukan pemeriksaan USG.

   1. Merujuk ibu ke dr. Hasan Sp.OG bagian kebidanan RSUP dr. Sardijo untuk
      penanganan selanjutnya.

Ibu bersedia dirujuk ke dr. Hasan, Sp.OG bagian kebidanan RSUP dr. Sardjito untuk
dilakukan penanganan selanjutnya.

   1. Menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang dua minggu lagi atau jika ada keluhan.

Ibu bersedia datang dua minggu lagi atau jika ada keluhan.
DAFTAR PUSTAKA

Wiknjosastro, H. (Ed.). 2007. Ilmu Kebidanan (kesembilan ed.). Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

http://sembiring-jo.blogspot.com/2009/11/persalinan-letak-lintang.html. Jumat, 26 Maret
2010, 16.00 WIB

http://askepasbid.wordpress.com/tag/letak-lintang/ Jumat, 26 Maret 2010, 16.02 WIB

KELAINAN LETAK
LETAK LINTANG



 Letak lintang adalah letak janin dengan posisi sumbu panjang tubuh janin memotong atau tegak

lurus dengan sumbu panjang Ibu. Pada letak oblik biasanya hanya bersifat sementara, sebab hal ini

merupakan perpindahan letak janin menjadi letak lintang atau memanjang pada persalinan.



Pada letak lintang, bahu biasanya berada di atas pintu atas panggul sedangkan kepala terletak pada

salah satu fosa iliaka dan bokong pada fosa iliaka yang lain kondisi seperti ini disebut sebagai

presentasi bahu atau presentasi akromion. Posisi punggung dapat mengarah ke posterior, anterior,

superior, atau inferior, sehingga letak ini dapat dibedakan menjadi letak lintang dorso anterior dan

dorso posterior

ETIOLOGI
Penyebab letak lintang adalah :
1. Dinding abdomen teregang secara berlebihan disebabkan oleh kehamilan multivaritas pada ibu
hamil dengan paritas 4 atau lebih terjadi insiden hampir sepuluh kali lipat dibanding ibu hamil
nullipara. Relaksasi dinding abdomen pada perut yang menggantung akibat multipara dapat
menyebabkan uterus berali kedepan. Hal ini mengakibatkan defleksi sumbu panjang janin menjauhi
sumbu jalan lahir, sehingga terjadi posisi

oblik atau melintang
2. Janin prematur, pada janin prematur letak janin belum menetap,
    perputaran janin sehingga menyebabkan letak memanjang
    3. Placenta previa atau tumor pada jalan lahir. Dengan adanya placenta atau
    tumor dijalan lahir maka sumbu panjang janin menjauhi sumbu jalan lahir.



4. Abnormalitas uterus, bentuk dari uterus yang tidak normal menyebabkan janin tidak dapat engagement

    sehingga sumbu panjang janin menjauhi sumbu jalan lahir



5. Panggul sempit, bentuk panggul yang sempit mengakibakan bagian presentasi tidak dapat masuk kedalam

    panggul (engagement) sehingga dapat mengakibatkan sumbu panjang janin menjauhi sumbu jalan lahir.

    DIAGNOSIS


1. Mudah ditegakkan bahkan dengan pemeriksaan inspeksi saja. Abdomen biasanya melebar kearah samping

    dan pundus uteri melebar di atas umbilikus

    2. Pemeriksaan abdomen dengan palpasi perasat leopold mendapatkan hasil :
    a.Leopold 1 pundus uteri tidak ditemukan bagian janin
    b.Leopold II teraba balotemen kepala pada salah satu fosa iliaka dan
    bokongpada fosa iliaka yang lain
    c.Leopold III dan IV tidak ditemukan bagian janin, kecuali pada saat



    persalinan berlangsung dengan baik dapat teraba bahu didalam rongga panggul. Bila pada bagian depan

    perut ibu teraba suatu dataran kerasyang melintang maka berarti punggung anterior. Bila pada bagian perut

    ibu teraba bagian – bagian yang tidak beraturan atau bagian kecil janin berarti punggung posterior



    3. Pada pemeriksaan dalam teraba bagian yang bergerigi yaiti tulang rusuk pada dada janin diatas pintu

    atas panggul pada awal persalinan. Pada persalinan lebih lanjut teraba klavikula.posisi aksilla

    menunjukkan kemana arah bahu janin menghadap tubuh ibu. Bila persalinan terus berlanjut bahu janin

    akan masuk rongga panggul dan salah satu lengan sering menumbun (lahir terlebih dahulu) kedalam

    vagina dan vulva

    PENATALAKSANAAN
    a. Pada kehamilan
  Pada primigravida umur kehamilan kurang dari 28 minggu dianjurkan posisi lutut dada, jika lebih dari

28 minggu dilakukan versi luar, kalau gagal dianjurkan posisi lutut dada sampai persalinan.



Pada multigravida umur kehamilan kurang dari 32 minggu posisi lutut dada, jika lebih dari 32 minggu

dilakukan versi luar, kalau gagal posisi lutut dada sampai persalinan.

b. Pada persalinan



  Pada letak lintang belum kasep, ketuban masih ada, dan pembukaan kurang dari 4 cm, dicoba versi luar.

Jika pembukaan lebih dari 4 cm pada primigravida dengan janin hidup dilakukan sectio caesaria, jika janin

mati, tunggu pembukaan lengkap, kemudian dilakukan embriotomi. Pada multigravida dengan janin hidup

dan riwayat obstetri baik dilakukan versi ekstraksi, jika riwayat obsterti jelek dilakukan SC. Pada letak

lintang kasep janin hidup dilakukan SC, jika janin mati dilakukan embriotomi

PROSES PERSALINAN


Pada letak lintang presistenul (letak lintang yang menetap) dengan umur kehamilan aterm, persalinan tidak

mungkin dapat terjadi secara normal pervaginam, kecuali badan dan kepala janin dapat masuk kedalam

rongga panggul secara bersamaan. Apabila tidak dilakukan tindakan yang tepat, janin dan ibu dapat

meninggal.



  Pada saat ketuban sudah pecah, bila ibu tidak ditolong dengan tepat, maka bahu janin akan masuk

kedalam panggul dan tangan yang sesuai akan menumbung. Kemudian terjadi penurunan panggul sebatas

PAP. Sedangkan bokong dan kepala tedapat pada fosailiaka.
  Kontraksi uterus semakin kuat dalam upayanya mengatasi halangan pada PAP. Namun usaha uterus

dalam meningkatkan kontraksi tidak membuahkan hasil. Semakin meningkat kontraksi uterus maka lama

kelamaan terbentuk cincin retraksi yang semakin lama semakin tinggi,




akhirnya terjadi lingkaran bandl sebagai tanda akan terjadi ruptura uteri. Keadaan ini disebut letak lintang

kasep. Apabila penanganan ini tidak mendapatkan penanganan gawat darurat semestinya maka akan terjadi

ruptura uteri, ibu dan janin dapat meninggal.



  Apabila panggul ibu cukup besar dan janin sangat kecil, meskipun kelainan letak lintang menetap,

persalinan spontan dapat terjadi. Pada keadaan ini kepala terdorong keperut ibu dengan adanya tekanan

pada janin. Tampak di vulva bagian dinding dada dibawah bahu menjadi bagian yang bergantung. Kepala

dan dada secara bersamaan melewati rongga panggul. Dalam keadaan terlipat (conduplication corpore)

janin dilahirkan.



Sumber: http://www.scribd.com/doc/29079365/LETAK-LINTANG

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1854
posted:6/30/2012
language:Malay
pages:19